Anda di halaman 1dari 145

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen Keperawatan di Indonesia di masa depan perlu mendapatkan
prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Hal ini berkaitan
dengan tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan
perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap
perubahan yang terjadi di Indonesia.
Profesionalisasi keperawatan merupakan proses dinamis yang mengalami
perubahan dan perkembangan karakteristik sesuai dengan tuntutan profesi dan
kebutuhan masyarakat. Proses profesionalisasi merupakan proses pengakuan terhadap
sesuatu yang dirasakan, dinilai dan diterima secara spontan oleh masyarakat.
Pemberian asuhan keperawatan profesional perlu di tunjang dengan adanya
manajemen keperawatan. Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses
keperawatan sebagai satu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara
professional, sehingga diharapkan keduanya dapat saling menopang.
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam
menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Manajemen keperawatan diaplikasikan
dalam tatanan pelayanan keperawatan nyata yaitu Rumah Sakit dan komunitas
sehingga perawat perlu memahami konsep dan aplikasinya. Konsep yang harus
dikuasai adalah konsep manajemen keperawatan, perencanaan yang berupa strategi
melalui pengumpulan data dengan pendekatan 5 M (Man, Money, Material, Method,
Machine), analisa SWOT dan penyusunan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan
model keperawatan profesional dan melakukan pengawasan serta pengendalian.
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan
sebagai fenomena yang harus direspon oleh perawat. Respons yang ada harus bersifat
kondusif dengan pengelolaan keperawatan dan langkah-langkah konkret dalam
pelaksanaannya. Manajemen Keperawatan di Indonesia di masa depan perlu
mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan. Hal ini bekaitan dengan tuntutan
1

profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan
pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi
di Indonesia.
Rumah Sakit Ulin sebagai Rumah Sakit pusat rujukan di Kalimantan Selatan
dan Tengah sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan tipe A mempunyai beberapa
ruangan yang menjadi ruang percontohan dalam menerapkan model keperawatan
SP2KP. Model asuhan keperawatan profesional yang saat ini sedang dilaksanakan di
Ruang Anak Tulip IIA adalah model asuhan keperawatan profesional dengan metode
SP2KP moduler. Kelebihan dari metode ini adalah metode ini dapat dilaksanakan
karena keterbatasan jumlah dan kualifikasi tenaga perawatan yang layak. SP2KP
yang dilaksanakan di Ruang Anak Tulip IIA belum optimal.
Berdasarkan fenomena tersebut, maka praktikanmencoba mendalami tentang
SP2KP di Ruang Anak Tulip IIA dengan melakukan pengkajian dan implementasi
terhadap permasalahan yang ada.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan praktek profesi manajemen keperawatan, mahasiswa
diharapkan dapat mengerti dan memahami prinsip manajemen keperawatan dan
model pemberian asuhan keperawatan profesional yang sesuai dengan prinsip metode
SP2KP moduleryang telah diterapkan di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek manajemen, mahasiswa diharapkan dapat :
a. Menganalisis lingkungan suatu ruang perawatan dan menghitung kebutuhan
tenaga keperawatan disuatu ruangan perawatan.
b. Melaksanakan peran sesuai dengan model SP2KP.
c. Meningkatkan gairah kerja dan profesionalisme tenaga kesehatan di ruangan.
d. Melakukan supervisi keperawatan bersama tenaga kesehatan yang ada di ruangan.
2

e. Melakukan timbang terima keperawatan bersama tenaga kesehatan yang ada di


ruangan.
f. Melakukan Discharge Planning bersama tenaga kesehatan yang ada di ruangan.
g. Mendokumentasikan asuhan keperawatan dengan menggunakan model problem,
intervensi, dan evaluasi bersama tenaga kesehatan yang ada di ruangan.
h. Melakukan penerapan sentralisasi obat bersama tenaga kesehatan yang ada di
ruangan.
i. Melakukanpenerimaanklienbaru bersama tenaga kesehatan yang ada di ruangan.
j. Menganalisis tingkat keberhasilan setelah pelaksanaan metode managemen yang
diterapkan.
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan suatu ruang rawat sehingga dapat
memodifikasi metode penugasan yang akan dilaksanakan.
b. Mahasiswa dapat mengumpulkan data dalam penerapan model SP2KP moduler
yang diaplikasikan di Ruang Anak Tulip IIA.
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekuarangan penerapan model
SP2KP di Ruang Anak Tulip IIA.
d. Mahasiswa dapat menganalisis masalah dengan metode SWOT dan menyusun
rencana strategi.
e. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dalam menerapkan model SP2KP
moduler di Ruang Anak Tulip IIA.
2. Bagi Perawat
a. Melalui praktek profesi manajemen keperawatan dapat diketahui masalah-masalah
yang ada di Ruang Anak Tulip IIA.
b. Tercapainya

tingkat

kepuasan

kerja

yang

optimal

dan

meningkatkan

profesionalisme perawat.
c. Terbinanya hubungan yang baik antara perawat dengan perawat, perawat dengan
tim kesehatan lain, dan perawat dengan klien serta keluarga.
3

d. Tumbuh dan terbinanya akuntanbilitas dan disiplin diri perawat.


3. Bagi Klien dan Keluarga
a. Klien dan keluarga mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
b. Tingkat kepuasan klien dan keluarga terhadap pelayanan tinggi.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan gambaran tentang pengelolaan ruangan dengan
pelaksanaan model SP2KP moduler.

BAB II
PENGKAJIAN
A. Visi, Misi, dan Motto
2.1.1

Visi Rumah Sakit


Pada tahun 2014 Visi RSUD Ulin Banjarmasin yaitu Terwujudnya Rumah

Sakit Kelas A Pendidikan Berstandar Internasional dan Terpercaya Tahun 2015


2.1.2 Misi Rumah Sakit
Misi RSUD Ulin Banjarmasin adalah :
a.

Menjadi Rumah Sakit kelas A pendidikan.

b.

Meningkatkan Mutu Layanan dan keselamatan klien melalui akreditasi rumah


sakit dan ISO.

c.

Menjadi pusat rujukan medik spesialistik, sub spesialistik dan pusat pelayanan
unggulan.

d.

Menjadi pusat pendidikan, pelatihan, penelitian dan penapisan teknologi


kesehatan.

e.

Meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin.

f.

Meningkatan prasarana dan sarana pelayanan medik secara bertahap sesuai


standar dan Masterplan Rumah Sakit.
2.1.3. Motto Rumah Sakit
SEHAT PRIMA : Siaga, Efektif dan Efisien, Harmonis, Asri, Tertib,
Profesional, Ramah, Inisiatif, Mutu yang diutamakan, Aman dalam pelayanan.
2.1.4. Visi Instalasi Rawat Inap Ruang Anak Tulip IIA
- Melayani dan Merawat Sepenuh Hati
2.1.5. Misi Instalasi Rawat Inap Ruang Tulip IIA
- Meningkatkan mutu asuhan keperawatan anak
- Menggalang persatuan perawat anak
5

- Memfasilitasi kerjasama perawat anak dengan profesi keperawatan

anak

- Meningkatkan mutu perawat anak melalui pendidikan dan pelatihan


2.1.6. Sifat Kekaryaan Ruang Anak Tulip IIA
.........Lingkup garapan Ruang Anak Tulip IIA mempunyai 4 Tim dimana 1 tim
membawahi 2 divisi yaitu, respirologi dan kardiologi, gizi dan neurologi,
gastrointerologi dan infeksi, nefrologi. 4 divisi ini mempunyai 1 supervisor, 4 ketua
tim, dan 2-3 Perawat Associate. Seluruh kinerja divisi diawasi langsung oleh
supervisor guna menjaga mutu pelayanan keperawatan yang meliputi pemenuhan
kebutuhan dasar klien dan keluarga.

B. Pengkajian Manajemen Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)


1. Sumber Daya Manusia (M1)
a. Struktur Organisasi
DIREKTUR RSUD ULIN
dr.BANJARMASIN
Hj. Suciati, M. Kes
WAKIL DIREKTUR MEDIK DAN KEPERAWATAN
Dr.dr. Moh. Isa, Sp. P
KEPALA BIDANG KEPERAWATAN
H. Iswantoro, S.Kp.,MM
KEPALA SEKSI INSTALASI RAWAT INAP
M. Aini, S.Kep.,Ns
KEPERAWATAN INSTALASI RAWAT INAP
H. Alpianoor Pahri, S.Kep
KEPALA RUANG INAP TULIP II A
Hj. Ernie Aprilia, S.Kep.,Ns, MM
SUPERVISOR
Taufik Hidayat, S.Kep, M.Kes
KATIM 1 :
Gustina, AMK
Rg Respirologi/
CardioloAgi :
1.Putriyanti, AMK
2.Noviyanti, AmKeb
3.Mardiyah, AMK

ADMINISTRASI

- Saadah
- Ani

KATIM 2:
Norhasanah, AMK
Rg Gizi/ Neurologi :
Fitriah, AMK
Melda A, AMK

KATIM 3:
Rusma H, AMK
Gastro Interologi/ Infeksi
:
1.Noor Alfiatin N, S.Kep,
Ns
2.Rika Arlita, AMK
3.Rosida Elfah, AMK

CS
- Ikhsan
- Norhasanah

KATIM 4:
Rusma H, AMK
Nefrologi :
1.
2.
3.

Lindawati N,AMKeb
Lailatul , AMK
Rianti, AMK

PEKARYA
-Farid Rozali

Gambar 2.1 Struktur Organisasi di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin

Model pemberian asuhan keperawatan yang digunakan di Ruang Anak Tulip


IIA yaitu model SP2KP dengan metode moduler (Sistem Pemberian Pelayanan
Asuhan Keperawatan Profesional) berdasarkan SK Menkes No. 188.4/0146/KepKUM/2012 yang merupakan perkembangan dari MPKP (Model Praktek Keperawatan
Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama professional antara perawat
primer (PP) dan perawat Asosiate (PA) serta tenaga kesehatan lainnya. Metode
modifikasi tim-primer yang terdiri dari kepala ruangan,supervisor, perawat primer
dan perawat asosiate. Kepala ruangan merupakan seorang yang diberikan wewenang
dan tanggung jawab serta mengelola kegiatan pelayanan keperawatan di satu ruang
rawat dalam hal manajemen ruangan seperti penerapan SP2KP di ruangan. Supervisor
Ruang Anak Tulip IIA berperan sebagai manajer keperawatan di ruangan yang
bertanggung jawab terhadap pemberian asuhan keperawatan yang di berikan kepada
klien di ruangan. Supervisor dan ketua tim merupakan perawat yang bertanggung
jawab dalam pemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada klien.
Supervisor dan ketua tim dibantu oleh perawat pelaksana sebagai anggota tim.

b. Tenaga Keperawatan
Tenaga keperawatan di Ruang Tulip II A seluruhnya berjumlah 17 orang, sudah
termasuk kepala ruangan dan supervisor.
Tabel 2.1. Daftar Tenaga Keperawatan di Ruang II A RSUD Ulin Banjarmasin
No.

Nama

1.

Hj. Ernie Aprilia,


S.Kep, Ns, MM

2.

PNS/Non
PNS
PNS

Jabatan
Kepala
Ruangan

S2

S2
DIII Kep..
DIII Kep.

12 tahun
14 tahun

BLS
BLS

Katim 4
Staf
perawat
Staf
perawat
Sraf
perawat
Staf
perawat
Staf
perawat

S1
DIII Kep.

14 tahun
7 tahun

BLS
BLS

DIII Kep.

15 tahun

BLS

DIII Keb.

10 tahun

BLS

DIII Keb

9 tahun

BLS

S.Kep.,Ns

1 tahun

BLS, BTCLS

Staf
perawat
Staf
Perawat
Staf
Perawat
Staf
perawat
Staf
perawat
Staf
perawat
Staf
perawat

DIII Kep.

10 tahun

BLS

DIII Kep.

8 tahun

BLS

DIII Kep.

8 tahun

BLS

DIII Kep

8 tahun

BLS

DIII Kep.

8 tahun

BLS

DIII Kep.

8 tahun

BLS

DIII Kep.

8 tahun

BLS

Supervisor

PNS
PNS

Katim 2
Katim 3

5.
6.

PNS
PNS

7.

Rusniah, AMK

PNS

8.

PNS

13.

Noviyanti,
AMKeb
Lindawati,
AMKeb
Noor Alfiatin
Ni,mah S.Kep,
Ns
Rosida Elfah,
AMK
Melda Agustina ,
AMK
Mardiah, AMK

14.

Lailatul, AMK

15.

Fitriah, AMK

16.

Rianti, AMK

17.

Rika Arlita,
AMK

10.

11.
12.

c.

PNS
PNS

Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD
Karyawan
BLUD

Pelatihan

22 tahun

PNS

9.

Masa
Kerja
12 tahun

CI, BLS,
BTCLS
BLS, BTCLS

Taufik Hidayat,
S.Kep, M.Kes
Gusnita, AMK
Norhasanah,
AMK
Rusma H, S.Kep
Putriyanti, AMK

3.
4.

Pendidikan

Tenaga Non Keperawatan


9

Tenaga Non keperawatan di Ruang Tulip IIA seluruhnya berjumlah 7 orang


yaitu:
Tabel 2.2 Daftar Non Keperawatan di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No.
1.
2.
3.
4.
5
6.
7.

d.

Status
Kepegawaian
PNS
PNS
PNS
PNS
Non PNS
BLUD
BLUD

Nama
Farid Rozali
Adisti
Reni
Saadah
Ani
Sanah
Ihsan

Pendidikan
SMP
DIII Gizi
S1 Farm Apt
SMA
SMA
SMA
SMA

Masa
Kerja
30 tahun
5 tahun
3 tahun
25 tahun
4 tahun
1,5 tahun
7 tahun

Jabatan
Pekarya
Ahli Gizi
Apoteker
Administrasi
Administrasi
CS
CS

Tenaga Medis
Tenaga medis di Ruang Anak Tulip IIA seluruhnya berjumlah 8 orang yaitu:

Tabel 2.3 Daftar Tenaga Medis di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

e.

Nama
Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A (k)
dr. Meriah Sembiring, Sp.A
dr. Hasni Hasan Basri, Sp.A
dr. Wulandewi, Sp.A
dr. Khairiadi, Sp.A
dr. selli Muljanto, Sp.A
dr. Nurul Hidayah, Sp.A
dr. Arif Budiarto, Sp.A

Jumlah Tenaga Kerja di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
Jumlah tenaga kerja di Ruang Anak Tulip IIA seluruhnya berjumlah orang, dapat

dilihat pada tabel berikut:


Tabel 2.4 Jumlah Tenaga Kerja di Ruang Tulip IIA RSUD ulin
No

Jenis Tenaga Kerja


10

Jumlah (orang)

.
1.
2.

f.
A.
B.
C.
D.
E.

Tenaga Keperawatan
Tenaga Non Keperawatan
Jumlah

17
7
24

Tenaga Mahasiswa Praktik


Mahasiswa Program Profesi Ners PSIK FK Unlam sebanyak 8 orang
Mahasiswa Program Profesi Ners Stikes Muhammadiyah sebanyak 9 orang
Mahasiswa D3 Pandan Harum sebanyak 7 orang
Mahasiswa D4 Kebidanan Sari Mulia sebanyak 5 orang
Mahasiswa Co-ass kedokteran FK Unlam sebanyak 20 orang

Kebutuhan Tenaga Keperawatan


1). Menurut Douglas
Tabel 2.5 Klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan dengan
Metode Douglas (1984)
KLASIFIKASI DAN KRITERIA
Minimal Care (1-2 jam)
Dapat melakukan kebersihan diri sendiri, mandi, ganti pakaian dan minum.
Pengawasan dalam ambulasi atau gerakan.
Observasi Tanda vital setiap shift.
Pengobatan minimal, status psikologi stabil.
Persiapan prosedur pengobatan
Intermediet Care (3-4 jam)
Dibantu dalam kebersihan diri, makan dan minum, ambulasi.
Observasi tanda vital tiap 4 jam.
Pengobatan lebih dari 1 kali.
Pakai foley kateter.
Pasang infuse, intake out-put dicatat.
Pengobatan perlu prosedur.
Total Care (5-6 jam)
Dibantu segala sesuatunya.
Posisi diatur.
Observasi tanda vital tiap 2 jam.
Pakai NGT.
Terapi intravena, pakai suction.
Kondisi gelisah/disorientasi/tidak sadar.

Tabel 2.6 Kebutuhan Tenaga perawat di Ruang Anak Tulip IIA 30 Juni 2015
Tingkat

Jumlah

Jumlah Kebutuhan Tenaga

11

Ketergantungan
Minimal
Parsial
Total
Jumlah

klien

Pagi

Sore

Malam

0
13
1
14

0x0,17= 0
13x0,27=3,51
1x0,36=0,36
3,87=4

0x0,14=0
13x0,15=1,95
1x0,30=0,30
2,25=2

0x0,07=0
13x0,10=1,3
1x0,20=0,20
1,5=1

Total Kebutuhan tenaga perawat perhari :


Pagi
: 3,87
Sore
: 2,25
Malam
: 1,5
Total
: 7,62
Jumlah perawat yang dibutuhkan = 8 orang perhari
Penambahan untuk loss day : 1/3 x 8 orang = 2,66 orang = 3 orang
Jadi total jumlah perawat yang dibutuhkan adalah 8+3 = 11 orang + 1 karu = 12 orang
Keterangan :
8 adalah jumlah total tenaga perawat
3 adalah jumlah tenaga perawat yang lepas dinas
1 adalah perawat yang menjadi kepala ruangan

2). Menurut Gillies


Kebutuhan tenaga perawat adalah secara kuantitatif dapat dirumuskan dengan
perhitungan sebagai berikut :

Keterangan :

A x B x 365
Tenaga Perawat (TP) =
(365-C) x jam kerja/hari

A : Jam efektif/24 jam waktu perawatan yang dibutuhkan klien/hari


B: Rata-rata jumlah klien perhari BOR (60%) x Jumlah tempat tidur
C : Jumlah hari libur (82 hari), 365 = jumlah hari kerja dalam 1 tahun

Jumlah klien sebanyak 21 orang dengan 19 orang kategori minimal care, 2


orang partial care, dan 0 orang total care. Jumlah hari pertahun sebanyak 365 hari
dengan 82 hari libur. Jam kerja perawat 40 jam perminggu dengan 6 hari perminggu
sehingga didapatkan perawat bekerja selama 7 jam perhari.
Tenaga Perawat (TP) = 4x(60%x32)x365

12

(365-82)x7
= 4x19,2x365
283x7
= 28,032= 14,15 orang = 14 orang
1981

Jadi, kebutuhan tenaga menurut Gilies : 14 orang + 1 orang kepala ruangan =


15 orang

Tabel 2.7 Jumlah jam keperawatan langsung


Jenis Perawatan

Lama jam
perawatan
1 jam
3 jam
5 jam

Jumlah klien

Minimal care
Partial care
Total care

0 orang
13 orang
1 orang
Total

Jumlah
0 jam
39 jam
5 jam
44 jam

3). Menurut Lokakarya PPNI


Penentuan kebutuhan tenaga perawat menurut lokakarya PPNI dengan
mengubah satuan hari dengan minggu. Selanjutnya jumlah hari kerja efektif dihitung
dalam minggu sebanyak 41 minggu dan jumlah kerja perhari selama 40 jam per
minggu. PPNI berusaha menyesuaikan lama kerja dan libur yang berlaku di Indonesia
Tenaga Perawat

(A x 52 mg) x 7 hr (TT x BOR)


+ 25%
41 mg x 40 jam

Diketahui jumlah tempat tidur adalah 32 unit, BOR dari Maret sampai April
sebanyak 60% sehingga jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yaitu:
(4 x 52 mg) x 7 hr (32 x 64/100%)
13

Tenaga Perawat =

+ 25%
41 mg x 40 jam
208 x 7 x 20,48

Tenaga Perawat =

+ 25%
1640

= 18,182 + 25%
= 18 + 5 atau 23 orang + 1 orang kepala ruangan = 24 orang

Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan kebutuhan tenaga perawat di


Ruang Anak Tulip IIA yaitu 24 orang. Ruang Anak Tulip IIA saat ini memiliki 17
orang tenaga perawat, itu berarti di ruangan ini kekurangan 7 orang tenaga perawat.
4). Menurut Permenkes No. 340 Tahun 2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit umum tipe A harus memiliki tenaga keperawatan dengan
berpedoman pada perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1
dengan kualifikasi tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan di rumah sakit.
Berdasarkan pedoman tersebut, maka jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan di
Ruang Anak Tulip IIA sebanyak 32 orang tenaga keperawatan. Akan tetapi ditinjau
dari BOR sebanyak 60% maka kebutuhan tenaga keperawatan di Ruang Anak Tulip
IIA : 32 x 60% = 19,2 (19 orang)
g.

Keamanan Klien

1). Angka Kejadian Dekubitus


Tabel 2.8 Angka Kejadian Dekubitus
No

Tanggal Observasi
Juni 2015
29
30

Variabel

Total

Jumlah kejadian dekubitus

Jumlah klien beresiko terjadi


dekubitus

10

10

20

14

Angka kejadian dekubitus =

Jumlah kejadian dekubitus X 100


Jumlah klien berisiko decubitus

Angka kejadian dekubitus =


20

0 X 100 = 0%

2). Angka Kejadian Kesalahan dalam Pemberian Obat


Tabel 2.9 Angka Kejadian Kesalahan dalam Pemberian Obat
N
0
1

5
6

Faktor ketidak sesuaian/


Kesalahan
Salah Klien
Salah nama dan tidak sesuai
dengan identitas
Salah waktu
2.1 Terlambat pemberian obat
2.2 Pemberian obat terlalu
Cepat
2.3 Obat stop tetap dilanjutkan
Salah Cara pemberian/route
3.1 Cara oral
3.2 Intra vena
3.3 Intra Muskuler
3.4 Lain-lain
Salah dosis
4.1 Dosis kurang
4.2 Dosis lebih
Salah obat
Salah dokumentasi

15

Tanggal Obervasi

Total

29
0

30
0

0
0

0
0

0
0

JUMLAH KESALAHAN
JUMLAH KLIEN

0
12

0
14

0
26

Angka Kejadian Dalam Pemberian Obat oleh Perawat


= Jumlah Kesalahan X 100% = 0%
Jumlah Klien

3). Angka Kejadian Klien jatuh


Tabel 2.10 Angka Kejadian Klien Jatuh berdasarkan Skala Humpty Dumpty
Faktor ketidak sesuaian/ Tanggal Observasi Total
N0
Kesalahan
29
30
Jumlah klien jatuh
0
2

Jumlah klien yang


berisiko jatuh adalah
klien baru

12

Angka kejadian klien jatuh =

Angka

kejadian

Patient

14

26

Jumlah klien jatuh X 100 %


= 0%
Jumlah klien yang berisiko jatuh

Safety

di

Ruang

terdokumentasikan secara terperinci. Dari tanggal

Anak

Tulip

29-30 Juni

IIA sudah

2015 pencatatan

patient safety meliputi kejadian dekubitus 0 orang (0%) serta kejadian klien jatuh
tidak ada (0%), serta tidak ada kesalahan dalam pemberian obat (0%).
h.

Sepuluh Penyakit Terbanyak dan 7 Diagnosa Keperawatan di Ruang Tulip


IIA Periode Maret-Mei 2015

16

10 Penyakit Terbanyak Ruang Anak


4%
5%

4%

7%
8%
11%

3%
22%
18%
17%

ALL

AML

THALASEMIA

DHF

EWING SARKOMA

NHL

PNEUMONIA

RETINO BLASTOMA

ANEMIA APLASTIK

ANEMIA HEMOLITIK

Gambar 2.2 Diagram Sepuluh Penyakit Terbanyak Di Ruang Tulip II A


RSUD Ulin Banjarmasin Bulan Maret dan April 2015
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi ruang Anak Tulip IIA
dari bulan Maret-Mei 2015 didapatkan penyakit terbanyak 273 kasus yaitu ALL. Hal
ini menunjukkan bahwa penyakit kasus ALL merupakan penyakit yang terbanyak di
Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin.

10 Penyakit Terbanyak Ruang Anak


DHF
Gastroentritis
Bronchopneumonia
7% 7%

5%

Obs.Vomitus

27%

thalasemia

7%
7%

obs. Febris
9%

11%

18%

KDS/Febris Convulsi
Kejang demam komplit
Pneumonia
PJB

Gambar 2.3 Diagram Sepuluh Penyakit Terbanyak Di Ruang Tulip II A


RSUD Ulin Banjarmasin Bulan Juni 2015

17

7 Diagnosa Keperawatan
Bersihan jalan nafas tidak efektif

Pola nafas

Hipertermi

7%
7%
Resiko kekurangan volume cairan
7%

Resiko
35% infeksi

Nutrisi kurang

7%
Nyeri akut

14%
22%

Gambar 2.4 Diagram 7 Diagnosa Keperawatan Terbanyak Di Ruang Tulip IIA


RSUD Ulin Banjarmasin Tanggal 29 dan 30 Juni 2015
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi Ruang Anak Tulip
IIA tanggal 29- 30 Juni 2015 didapatkan diagnosa keperawatan terbanyak yaitu nyeri
akut.
i. Kepuasan Perawat
Berdasarkan data angket yang disebarkan kepada 2 orang perawat pegawai
BLUD di Ruang Anak Tulip II A pada tanggal 29-30 Juni 2015, didapatkan hasil :
Tabel 2.11 Tingkat motivasi kerja perawat pegawai BLUD
No
1
2
3
4
5
6
7
8

PERNYATAAN
Pemberian insentif tambahan atas suatu
prestasi atau kerja ekstra
Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang
mendukung pelayanan
Tersedianya fasilitas penunjang RS seperti
kamar mandi, tempat parkir, dan kantin
Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan
dengan ventilasi udara, kebersihan dan
kebisingan
Adanya jaminan atas kesehatan / keselamatan
kerja
Perhatian institusi rumah sakit terhadap
saudara
Hubungan antar karyawan dalam kelompok
kerja
Kemampuan dalam berkerjasama antar

18

STP

TP

SP

0%

50%

50%

0%

0%

50%

50%

0%

0%

50%

50%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

9
10
11
12
13
14
15
16
17

karyawan
Sikap teman-teman sekerja terhadap saudara
Kesesuaian antar pekerjaan dan latar
belakang pendidikan saudara
Kemampuan dalam menggunakan waktu
bekerja dengan penugasan yang diberikan
Kemampuan supervisi / pengawas dalam
membuat keputusan
Perlakuan atasan selama bekerja disini
Kebebasan melakukan suatu metode sendiri
dalam penyelesaikan pekerjaan
Kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan atau
pendidikan tambahan
Kesempatan untuk mendapat posisi yang
lebih tinggi
Kesempatan untuk membuat suatu prestasi
dan mendapatkan kenaikan pangkat

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

Hasil kuesioner pada perawat dengan status pegawai BLUD menunjukkan.


Sebanyak 100 % puas pada poin pertanyaan nomer 4-17 , Sebanyak 50% tidak puas
dengan poin pertanyaan 1-3 tentang fasilitas, perlengkapan yang mendukung
pelayanan, dan fasilitas penunjang di Rumah Sakit.
Tabel 2.12 Tingkat Kepuasan Kerja perawat pegawai BLUD
No

Pernyataan
Sangat
setuju

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kondisi kerja
Saya merasa puas dengan kondisi lingkungan kerja
saya
Kondisi kerja sangat menyenangkan dan nyaman
Kebijakan
Saya merasa tidak puas dengan cara rumah sakit
menerapkan kebijakan yang berlaku
Sanksi yang diterapkan oleh rumah sakit tidak
merugikan karyawan
Hubungan antar pribadi
Tingkat kebersamaan diantara rekan kerja lebih
memuaskan saya
Rekan kerja saya dikantor ini menyenangkan
Supervise
Komunikasi dengan atasan sangat baik
Atasan membantu dalam permasalahan yang
menyangkut pekerjaan
Prestasi

19

Jawaban
setuj
Tdk
u
setuju

0%

100%

0%

Sangat
tdk
setuju
0%

0%
0%

100%
100%

0%
0%

0%
0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%
0%

100%
100%

0%
0%

0%
0%

0%

100%

0%

0%

0%

50%

50%

0%

10
11
12
13
14
15
16

17
18

Saya tidak puas dengan prestasi kerja saya saat ini


Saya tidak mendapatkan pengakuan yang selayaknya
atas prestasi kerja saya
Pengakuan
Saya sangat dihargai di tempat kerja
Atasan saya sangat menghargai hasil kerja saya
Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai dengan
jobdescription
Saya tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas saya
selama Jam kerja
Tanggung jawab
Saya merasa puas dengan tingkat tanggung jawab
dalam pekerjaan yang saya emban
Sebagai perawat saya bertanggung jawab atas
pekerjaan yang diberikan kepada saya.
Promosi/Pengembangan karier
Saya puas karena mendapat pelatihan yang sesuai
untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan saya
Kenaikan posisi/ promosi / gaji ditangani dengan adil
dengan memperhatikan masa kerja, kinerja dan
kemampuan

0%

0%

100%

0%

0%

100%

0%

0%

0%
0%

100%
50%

0%
50%

0%
0%

0%

0%

100%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

Sebanyak 50% perawat BLUD menyatakan tidak setuju pada poin pertanyaan
9 dan 13 Saya tidak puas dengan prestasi kerja saya saat ini dan poin Pekerjaan yang
saya lakukan tidak sesuai dengan jobdescription sedangkan pada poin pertanyaan
lain setuju
Sedangkan berdasarkan data angket yang disebarkan kepada 5 orang perawat
pegawai PNS di Ruang Anak Tulip II A pada tanggal 29-30 Juni 2015, didapatkan
hasil:
Tabel 2.13 Tingkat motivasi kerja perawat PNS
No
1
2
3
4

PERNYATAAN
Pemberian insentif tambahan atas suatu
prestasi atau kerja ekstra
Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang
mendukung pelayanan
Tersedianya fasilitas penunjang RS seperti
kamar mandi, tempat parkir, dan kantin
Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan
dengan ventilasi udara, kebersihan dan
kebisingan

20

STP

TP

SP

0%

50%

50%

0%

0%

83,3%

16,6%

0%

0%

66,6%

33,3%

0%

16,6%

50%

33,3%

0%

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Adanya jaminan atas kesehatan / keselamatan


kerja
Perhatian institusi rumah sakit terhadap
saudara
Hubungan antar karyawan dalam kelompok
kerja
Kemampuan dalam berkerjasama antar
karyawan
Sikap teman-teman sekerja terhadap saudara
Kesesuaian antar pekerjaan dan latar
belakang pendidikan saudara
Kemampuan dalam menggunakan waktu
bekerja dengan penugasan yang diberikan
Kemampuan supervisi / pengawas dalam
membuat keputusan
Perlakuan atasan selama bekerja disini
Kebebasan melakukan suatu metode sendiri
dalam penyelesaikan pekerjaan
Kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan kerja melalui pelatihan atau
pendidikan tambahan
Kesempatan untuk mendapat posisi yang
lebih tinggi

17

Kesempatan untuk membuat suatu prestasi


dan mendapatkan kenaikan pangkat
Keterangan :

16,6%

16,6%

66,6%

0%

0%

33,3%

66,6%

0%

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

0%

100%

0%

0%

0%

83,3%

16,6%

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

33,3%

66%

0%

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

0%

100%

0%

16,6%

0%

66,6%

16,6%

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

16%

83,3%

0%

STP : Sangat tidak puas


TP

: Tidak puas

: Puas

SP

: Sangat puas

Hasil kuesioner pada perawat dengan status pegawai PNS menunjukkan


bahwa sebanyak 100 % perawat merasa puas dengan poin pertanyaan 8
Kemampuan bekerjasama antar karyawan. Sebanyak 16,6 % menyatakan merasa
sangat puas dan tidak puas dan dengan poin pertanyaan 5 Adanya jaminan atas
kesehatan / keselamatan kerja dan poin pertanyaan 15 Kesempatan untuk
meningkatkan kemampuan kerja melalui pelatihan atau pendidikan tambahan

21

Tabel 2.14 Tingkat Kepuasan Kerja perawat PNS


N
o
1
2
3

4
5
6
7
8
9

Pernyataan

Kondisi kerja
Saya merasa puas dengan kondisi
lingkungan kerja saya
Kondisi kerja sangat menyenangkan dan
nyaman
Kebijakan
Saya merasa tidak puas dengan cara rumah
sakit
menerapkan kebijakan yang berlaku
Sanksi yang diterapkan oleh rumah sakit
tidak merugikan karyawan
Hubungan antar pribadi
Tingkat kebersamaan diantara rekan kerja
lebih memuaskan saya
Rekan kerja saya dikantor ini menyenangkan
Supervise
Komunikasi dengan atasan sangat baik
Atasan membantu dalam permasalahan yang
menyangkut pekerjaan
Prestasi
Saya tidak puas dengan prestasi kerja saya
saat ini
22

Jawaban
Setuu
Tdk
setuju

Sanga
t
setuju
0%

83,3%

16,6%

Sanga
t tdk
setuju
0%

16,6%

66,6%

16,6%

0%

0%

66,6%

33,3%

0%

0%

66,6%

33,3%

0%

0%

100%

0%

0%

0%
16,6%

100%
50%

0%
33,3%

0%
0%

0%

66,6%

33,3%

0%

0%

50%

50%

0%

10
11
12
13
14
15
16
17

18

Saya tidak mendapatkan pengakuan yang


selayaknya atas prestasi kerja saya
Pengakuan
Saya sangat dihargai di tempat kerja
Atasan saya sangat menghargai hasil kerja
saya
Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai
dengan job Description
Saya tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas
saya selama Jam kerja
Tanggung jawab
Saya merasa puas dengan tingkat tanggung
jawab dalam pekerjaan yang saya emban
Sebagai perawat saya bertanggung jawab
atas pekerjaan yang diberikan kepada saya
Promosi/Pengembangan karier
Saya puas karena mendapat pelatihan yang
sesuai untuk mendukung pelaksanaan
pekerjaan saya
Kenaikan posisi/ promosi / gaji ditangani
dengan adil
dengan memperhatikan masa kerja, kinerja
dan
kemampuan

0%

16,6%

83,3%

0%

0%

66,6%

33,3%

0%

0%

83,3%

16,6%

0%

0%

16,6%

83.3%

0%

0%

16,6%

66,6%

16,6%

16,6%

66,6%

16,6%

0%

16,6%

66,6,%

16,6%

0%

0%

83,3%

16,6%

0%

0%

83,3%

16,6%

0%

Hasil kuesioner pada perawat dengan status pegawai PNS menunjukkan bahwa
sebanyak 100% perawat menyatakan setuju pada poin pertanyaan 6 Rekan kerja
saya dikantor ini menyenangkan, poin 5 Tingkat kebersamaan diantara rekan kerja
lebih memuaskan saya. Dan tidak setuju dengan pertanyaan nomer poin 10 Saya
tidak mendapatkan pengakuan yang selayaknya atas prestasi kerja saya, poin 13
Pekerjaan yang saya lakukan tidak sesuai dengan job Description.
7. Hasil evaluasi persepsi klien/keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan
(Instrumen B) di Ruang Anak Tulip IIA
Instrument B adalah alat ukur untuk mengevaluasi tentang persepsi
klien/keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan dengan cara menyebar kuesioner
kepada klien atau keluarga di Ruang Anak Tulip IIA yang memenuhi kriteria, yaitu
23

sudah di beri tindakan dan bersedia mengisi kuesioner dengan jumlah sampel
sebanyak 10 orang. Pada saat kuesioner diberikan, klien telah di beri penjelasan
mengenai tujuan pengambilan data dan cara pengisian kuesioner.
1) Data Umum
a) Usia
Tabel. 2.15 Rekapitulasi Usia Klien
NO.

Usia

Jumlah

1.

0-5 tahun

10

100

2.

5-11 tahun

3.

12-16 tahun

10

100

Total

Menurut Depkes RI (2009)


Tabel 2.16 Rekapitulasi Usia Orang Tua 29 Juni 2015
NO
.
1.
2.
3.
4.
Total

Usia
<20 tahun
20-40 tahun
40-65 tahun
65-74 tahun

Jumlah

1
8
1
0

10
80
10
0
100

10

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden yaitu 10 orang sebagian


besar usia anak (0-5 tahun) yaitu 10 orang ( 100%) dan sebagian besar usia orang tua
(20-40 tahun) yaitu 8 orang (80%).
b) Pendidikan
Tabel. 2.17 Rekapitulasi Pendidikan Klien 29 Juni 2015
NO
.
1.
2.
3.
4.

Pendidikan
Pra Sekolah
TK/PAUD
SD
SLTP/MTS
Total

Jumlah

10
0
0
0
10

100
0
0
0
100

Tabel 2.18 Rekapitulasi Pendidikan Orang Tua 29 Juni 2015


24

NO
.
1.
2.
3.
4.

Pendidikan
SD
SMP
SMA
S1
Total

Jumlah

5
4
0
1
10

50
40
0
10
100

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden yaitu 10 orang pendidikan


klien pra sekolah yaitu 10 orang (100%) dan pendidikan orang tua sebagian besar SD
yaitu sebanyak 5 orang (50%) .
c) Lama dirawat
Tabel. 2.19 Rekapitulasi Lama di rawat klien 29 Juni 2015
NO
Lama dirawat
.
1.
3-7 hari
2.
> 7 hari
Total

Jumlah

4
6
10

40
60
100

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden dengan lama rawat > 7 hari
yaitu 6 orang (60%) .
d) Pekerjaan
Tabel. 2.2.0 Rekapitulasi Pekerjaan Orang Tua
No
1.
2.
3.
4.
Total

Usia
PNS
ABRI
Swasta
Lain

Jumlah

1
0
7
2
10

10
0
70
20
100

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden bekerja swasta yaitu


sebanyak 7 orang (70%) yaitu.

25

2) Hasil evaluasi persepsi klien/keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan


(Instrumen B), Pada Tanggal 29 Juni 2015.
Tabel.2.21.Hasil evaluasi persepsi klien/keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan
(Instrumen B), Pada Tanggal 29 Juni 2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10
11

Pertanyaan
Apakah perawat selalu memperkenalkan diri
Apakah perawat melarang anda/pengunjung merokok
diruangan
Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu
makan anda/keluarga anda
Apakah perawat pernah menanyakan pantangan dalam hal
makanan anda/keluarga anda
Apakah perawat menanyakan /memperhatikan berapa
jumlah makanan dan minuman yang biasa anda/keluarga
anda habiskan
Apabila anda/keluarga anda tidak mampu makan sendiri
apakah perawat membantu menyuapinya
Pada saat anda/keluarga anda dipasang infus, apakah
perawat selalu memeriksa cairan/tetesanya dan area sekitar
pemasangan jarum infus
Apabila anda/keluarga anda mengalami kesulitan buang air
besar apakah perawat menganjurkan makan buah-buahan,
sayuran, minum yang cukup, banyak bergerak
Pada saat perawat membantu anda/keluarga anda waktu
buang air besar- buang air kecil, apakah perawat memasang
sampiran/selimut, menutup pintu/jendela, mempersilahkan
pengunjung keluar ruangan
Apakah ruangan tidur anda/keluarga anda selalu dijaga
kebersihannya dengan disapu dan dipel setiap hari
Apakah lantai kamar mandi, WC selalu : bersih, Tidak licin,
tidak berbau, cukup terang

26

Jawaban (persentase)
Ya
Tidak
10 %
90 %
100 %

60 %

40 %

10 %

90 %

50 %

50 %

10 %

90 %

80 %

20 %

70 %

30 %

10 %

90 %

70 %

30 %

20 %

80 %

12
13
14
15
16

17
18
19
20
21
22
23
24
25

Selama anda/keluarga anda belum mampu mandi (dalam


keadaan istirahat total) apakah dimandikan oleh perawat
Apakah anda/keluarga anda dibantu oleh perawat jika tidak
mampu: menggosok gigi, membersihkan mulut atau
mengganti pakaian atau menyisir rambut5,4
Apakah alat-alat tenun seperti seprei, selimut dll diganti
setiap kotor
Apakah perawat pernah memberikan penjelasan akibat
dari:kurang gerak, berbaring terlalu lama
Pada saat anda/keluarga anda masuk rumah sakit, apakah
perawat memberikan penjelasan tentang fasilitas yang
tersedia dan cara penggunaannya, peraturan/tata tertib yang
berlaku di rumah sakit
Selama anda/keluarga anda dalam perawatan, apakah
perawat memanggil nama dengan benar
Selama anda/keluarga anda dalam perawatan, apakah
perawat mengawasi keadaan anda secara teratur pada pagi,
sore maupun malam hari
Selama anda/keluarga anda dalam perawatan, apakah
perawat segera memberi bantuan bila diperlukan
Apakah perawat bersikap: sopan, Ramah
Apakah anda/keluarga anda mengetahui perawat yang
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas
Apakah perawat selalu memberi penjelasan sebelum
melakukan tindakan perawatan/pengobatan
Apakah perawat selalu bersedia mendengarkan dan
memperhatikan setiap keluhan anda/keluarga anda
Dalam hal memberikan obat, apakah perawat membantu
menyiapkan/meminumkan obat
Selama anda/keluarga anda dirawat, apakah diberikan
penjelasan tentang perawatan/pengobatan/pemeriksaan
lanjutan setelah anda/keluarga anda diperbolehkan pulang
Total

Rata-rata

100 %

100 %

50 %

50 %

40 %

60 %

20 %

80 %

90 %

10 %

100 %

100 %

100 %

10 %

90 %

70 %

30 %

100 %

30 %

70 %

80 %

20 %

1210

1220

Keterangan :
=

1210

Rating Skala
X 100%

4% - 32%
33% - 68%

1210+1220

> 68%

= 0,497x 100% = 49,7 %= 50%

27

: Tidak Puas
: Cukup Puas
: Puas

Berdasarkan hasil evaluasi melalui kuesioner yang telah dilakukan pada


tanggal 29 Juni 2015 didapatkan kesimpulan bahwa 50 % klien cukup puas
terhadap pelayanan keperawatan, terutama pada poin pertanyaan nomor 17, 19,
20. Klien menyatakan sebanyak 90% perawat memanggil nama klien dengan
benar selama perawatan, 100% perawat segera memberi bantuan bila diperlukan
dan perawat bersikap sopan dan ramah. Sedangkan pada pertanyaan nomer 6 dan
9 untuk ruang anak kurang tepat di berikan karena kliennya mayoritas masih bayi
dan anak-anak dimana mereka masih dalam pengawasan orang tua sehingga
kebutuhan ADL di bantu orang tua, kecuali pada klien dengan kondisi Total care
dimana perlu pengawasan intensif dari perawat dan orang tua.
Berdasarkan hasil evaluasi melalui kuesioner yang telah dilakukan pada
tanggal 29 Juni 2015 didapatkan kesimpulan item yang perlu diperbaiki adalah:
a. Fasilitas Ruangan (Kipas angin, WC)
b. Pembatasan jumlah pengunjung dan yang menunggu klien
c. Perawat sebaiknya menginformasikan kepada klien dan keluarga klien

tentang waktu sholat


Kesan dan Saran klien/keluarga responden
Dari hasil wawancara dan observasi kuesioner dari 12 klien/keluarga, 10
responden menyatakan :
a. Klien/keluarga mengatakan merasa cukup puas dengan pelayanan oleh
perawat
b. Perawat hendaknya lebih care kepada klien/keluarga, kurangnya komunikasi
terapeutik kepada klien/keluarga
c. Perawat hendaknya selalu, bersikap sopan, ramah, dan senyum terhadap
klien/keluarga
d. Fasilitas ruangan seperti WC kurang bagus akan lebih diperhatikan lagi
(kebersihan, penerangan),

hendaknya tersedianya tempat cuci tangan /

piring, ranjang dan lemari yang bersih.

2. Sarana dan Prasarana (M2)


a. Lokasi Denah Ruangan
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang
Anak Tulip IIA di Lantai 2 Tulip RSUD Ulin Banjarmasin.
R.R.Infeksi
R.
Gizi
R.Ruang
Respirasi
Nefrologi
&&kardiologi
Neurologi
& Tulip
Gambar 2.5 Denah
Anak
Gastrointerologi
IIA
Wc
Wc

R.
DM

65 Pintu Keluar
Pintu Masuk

R. Obsevasi
Ruang Mahasiswa
Manajemen
R.

R.
Lift
Karu
Adm

R.
Disk
Nurse
Station
Kons
usi R. Tindakan
Wc
Wc
ultasi

Musholla

Wc

R. Perawat

Wc
Umum
b.

Peralatan dan Fasilitas


Berdasarkan hasil observasi, didapatkan bahwa lingkungan Ruang Anak

Tulip IIA sudah bisa dikategorikan cukup bersih akan tetapi ada beberapa waktu
yang kadang terlihat sedikit sampah yang berserakan didepan ruangan. Rak sepatu

65

sudah cukup per ruangan tetapi beberapa sendal dari keluarga klien masih ada
beberapa berserakan di lantai.
Pada setiap bed klien tampak masih banyak barang-barang dari keluarga
mletakkan dibawah bed klien yang kurang rapi. Pada daerah sekitar Ruang Anak
Tulip IIA saat pengkajian tampak keluarga klien yang berkunjung pada jam
kunjungan terlalu banyak dan tidak masuk bergantian. Kadang keluarga klien
tidur di tempat tidur yang tidak ditempati oleh klien.
Hasil pengkajian Sarana dan prasarana terdapat blok yang kosong bekas
peninggalan hemato-ongkologi yang rencananya dilakukan pembuatan ruang
bermain untuk anak di ruang tulip IIA. Rencana masih dalam tahap pembuatan
proposal.
Keadaan fasilitas seperti WC dan kamar mandi klien sudah mencukupi,
terdapat WC pada setiap blok ruangan, hanya saja kebersihannya kurang terjaga,
masih ada beberapa WC yang terlihat kurang tertata rapi. Berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa klien dan keluarga WC dan kamar mandi sebenarnya
cukup bersih, namun ada beberapa WC yang menimbulkan bau yang tidak enak
setelah dipakai. Hal ini juga di dukung dari hasil observasi pada tanggal 28 Juni
2015, pada blok ruangan observasi dan blok ruangan infeksi & neurologi tercium
bau yang tidak enak. Peralatan seperti pispot tidak ditemukan di setiap WC, akan
tetapi hanya ada 1 WC yang terdapat Urinal. Gambaran umum jumlah tempat
tidur di Ruang Anak Tulip IIA adalah 32 tempat tidur.
c.

Buku kelengkapan administrasi


Berdasarkan

hasil observasi dan wawancara dengan staff adminstrasi

Ruang Anak Tulip IIA dikatakan terdapat Arsip pembayaran klien, Buku Sensus
klien, Buku penyerahan status MR, Buku penyerahan SMF, Buku penyerahan
BPJS, dan Protap pelaksanaan adminstrasi klien.
e. Daftar Inventaris Barang
Data inventaris ruang rawat inap tahun 2015 Ruang Anak Tulip IIA
mengenai perlengkapan alat-alat kantor yang ada di Ruang Anak Tulip IIA seperti
uraian dibawah ini :
Tabel 2.22 Daftar barang alat dan bahan kedokteran dan keperawatan di Ruang
Anak Tulip IIA RSUD ULIN Banjarmasin

65

No

Nama Alat

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Tensi Meter
Stetoskop
Manset Dewasa
Gunting verban
Bak Intrumen Besar
Bak Intrumen Sedang
Bak Intrumen Kecil
Bak Spuit
Nierbeken
Regulator Oksigen
Kereta Oksigen Kecil
Brankar
Masker Oksigen Lengkap
Nasal Kateter Oksigen
Suction pump fortabel
Reflek Hammer
Tromol Gaas
Oksigen Sentral
Ambu Beg
Urinal
Termometer Digital/Raksa
Tourniquet
Buli Buli Panas
Senter
Nebulizer
Ranjang Klien Lama
Standar infuse beroda dan tidak
beroda
Lampu Emergency
Tabung pemadam kecil
Lemari obat emergency
Nebul Mask
Infus Pump
Syringe Pump
Timbangan BB/TB

28
29
30
31
32
33
34

Jumlah Alat
Baik
3
2
3
2
1
2
1
1
2
6
1
1
3
3
1
1
1
24
1
1
1
3
1
1
2
32
32

Ratio Ideal

4
3
1
5
3
1
3

4/ Ruangan
2/ Ruangan
1/ Ruangan
4/ Ruangan
2/ Ruangan
2/ Ruangan
1/ Ruangan

2/ Ruangan
2/ Ruangan
1:1/4
2/Ruangan
2/Ruangan
2/Ruangan
1/Ruangan
2/Ruangan
2/Ruangan
1:1
1/Ruangan
1/Ruangan
2/Ruangan
2/Ruangan
2/Ruangan
1/Ruangan
2/Ruangan
1:1
1/ Ruangan
1:1/2
5/ Ruangan
2/ Ruangan
1/ Ruangan
1/ Ruangan
2/ Ruangan
1:1
1:1

Tabel 2.23 Alat yang tidak termasuk dalam ratio ideal di ruang anak Tulip IIA
RSUD Ulin Banjarmasin
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama Alat
Pinset Anatomis
Pinset Cirugis
Gunting Lancip Bengkok
Klem Arteri
NGT ukuran 5
Surflu ukuran 25
Urine bag
Infus set

65

Jumlah Alat
Baik
1
1
1
2
2
26
1
4

Satuan
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Tabel 2.24 Daftar bahan yang tidak termasuk dalam ratio idel di ruang Anak Tulip
IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Nama Bahan

Jumlah Bahan

Gel lubrication
Betadine
Mayo
Infuse RL
Infuse Nacl
Infuse D5
Infuse D10
Infuse Asering
Infuse D5 Ns
Diazole
KA-EN 1B
KA-EN 3B
Tridex 27B
Sanbe Hest 130
Infusa M-20
FIMA HES 200

1
1
15
5
5
6
6
4
8
7
2
4
4
2
1
1

Satuan
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Kelengkapan alat kesehatan di Ruang Anak Tulip IIA terlihat belum


lengkap, tidak terdapat manset untuk anak dan kurangnya urinalis diruangan,
tempat penataan peralatan masih ada yang tidak rapi dan tersebar di Ners Station
dan di ruang tindakan.

Tabel 2.25 Daftar alat rumah tangga di Ruang Anak Tulip IIA
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah Alat
Baik
2
1
9
3
3
1
1
0
1

Nama barang
Wastafel
Lemari linen
Bak sampah non medis
Bak sampah medis
Tabung pemadam kecil
Brankar
Tempat Spuit
Meja Klien
Lemari obat emergency

65

Ratio Ideal
1:1
1/ Ruangan
4/ Ruangan
2/ Ruangan
5/ Ruangan
2-3/ Ruangan
1/ Ruangan
1:1
1/Ruangan

10
11
12
13

Trolly obat
Kursi Roda
Lemari Klien
Lampu sorot

1
1
32
1

1/Ruangan
2-3/Ruangan
1:1
1/Ruangan

Jumlah Alat
Baik
8
1
1
8
3
1
24
10
3
34

Satuan

Tabel 2.26 Daftar barang rumah tangga


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama barang
Kipas angin baling-baling
Kipas angin putar
Dispenser
TV
Jam dinding
Tempat wudhu
Lampu panjang
Lampu bulat
Kulkas
Lampu

Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah

Sedangkan untuk pengadaan peralatan pelayanan di Ruang Anak Tulip IIA


RSUD Ulin Banjarmasin, ada beberapa peralatan yang kurang seperti jumlah
bantal. Rak sepatu/sendal sudah tersedia cukup lengkap di ruangan, tetapi
keluarga klien masih meletakkan sendal di lantai. Pengelolaan sampah di Ruang
Anak Tulip IIA seperti sampah medis, non medis dan sampah klien sudah cukup
bagus dimana sudah tersedia tempat sampah medis, non medis dan sampah klien.
Pada setiap blok diberikan 2 rak sepatu/sandal sudah cukup bagus. Keadaan kipas
angin di Ruang Anak Tulip IIA sudah mencukupi karena pada setiap blok ruangan
terdapat kipas angin yang dapat berfungsi dengan baik dan setiap blok ruangan
terdapat televisi LED untuk klien mendapat hiburan selama hospitalisasi agar
tidak bosan. Dari 2 wasteful yang terdapat di dalam ruangan semuanya bisa
digunakan, tetapi tampak sedikit kotor karena dipergunakan keluarga klien untuk
mencuci piring dan gelas. Ruangan juga sudah memiliki lemari khusus untuk
meletakkan arsip dan untuk menyimpan obat injeksi.
Tabel 2.27 Daftar alat kantor di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No
1
2
3

Nama barang

Jumlah Alat Baik

Ratio Ideal

1
1
2

1/ Ruangan
2/ Ruangan
2/ Ruangan

Loker perawat
Lemari arsip besi
Lemari obat

65

4
5
6
8
9
10
11
12
13
14
15

Telepon
Papan tulis putih (besar)
Papan tulis putih (kecil)
Kursi besi 1 set
Kursi putar
Lemari kayu
Meja kerja
Kalkulator
Lampu Emergency
Printer
Komputer

1
1
1
14
1
3
11
1
4
3
3

1/ Ruangan
1/ Ruangan
2/ Ruangan
4/ Ruangan
2/ Ruangan
1/ Ruangan
4/ Ruangan
1/ Ruangan
4/ Ruangan
1/ Ruangan
1/ Ruangan

Kelengkapan alat kantor seperti loker perawat lemari arsip besi sudah ada
namun tidak dipergunakan dengan baik, masih terlihat arsip-arsip dan blanko
keperawatan yang kurang tertata rapi. Kursi besi 1 set ada 14 yang keadaannya
masih bagus

Tabel 2.28 Daftar barang linen di Ruang Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No
1
2
3
4

Nama Barang
Kasur busa
Kain sampiran
Seprai biru/putih
Kasur tindakan

Jumlah Alat Baik


32
1
90
2

Ratio Ideal
1:1
2/ Ruangan
1:5
2/Ruangan

Kelengkapan alat tenun yang ada di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin berdasarkan data yang didapatkan saat pengkajian terlihat bahwa
kelengkapan linen pada Ruang Anak Tulip IIA terlihat sudah belum lengkap.
Jumlah sprei yang ada hanya sekitar 4 buah, belum mencukupi standar Depkes,
yaitu 1: 5 atau 1 klien harus memiliki 5 buah seprei dan juga seperti pengadaan
sarung bantal.
Alur Pengelolaan Peralatan
Ruang Anak Tulip IIA

RKBU (Rencana
Kebutuhan Barang)

Alat-alat habis
pakai (alkohol,
perban, kapas dll)

Alat
elektronik
yang rusak

ATK (Alat
Tulis
Kantor)

Alat-alat
medis
65

Logistik

IPS (Instalasi
Pemeliharaan
Sarana)

Pengadaan
kebutuhan
rumah tangga

Alat dan
Kasa

Instalasi
Farmasi

Alat-alat bersifat
sitologi

Jangka
waktu /
bulan

IRNA

Jangka
waktu /
bulan

Jangka
waktu/
tahun

CSSD
Jika
perlu
(harian,

Gambar 2.6 Alur Pengeloloaan Barang Ruang Anak Tulip IIA

65

3. Metode (M3)
a. Penerapan SP2KP
Jika
SP2KPperlu
merupakan model asuhan keperawatan yang dipergunakan untuk
(harian,
kegiatan pengelolaan
asuhan keperawatan disetiap unit ruang rawat di rumah
DIREKSI/KASI KEPERAWATAN (RAWAT INAP)
sakit. Pada aspek proses ditetapkan penggunaan metode modifikasi keperawatan
primer (kombinasi metode tim dan metode keperawatan primer). Komponennya
terdiri dari: perawat, profil klien, sistem pemberian asuhan keperawatan,
kepemimpinan, nilai-nilai profesional, fasilitas, sarana prasarana (logistik) serta
dokumentasi asuhan keperawatan (Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan
DEPKES RI, 2009).
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan di Ruang
Anak tulip IIA RSUD ULIN Banjarmasin, sudah menerapkan Sistem Pemberian
Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP). SP2KP diterapkan di ruang tulip
IIA sejak tahun 2012 namun masih mengalami hambatan karena masih terkendala
sumber daya manusia yang kurang memadai.
Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP) yang
diterapkan di ruang tulip IIA terdiri atas satu supervisor dengan 4 tim yang di
pimpin oleh ketua tim, masing-masing memiliki 2-3 anggota tim perawat
pelaksana.
KEPALA RUANG INAP ANAK TULIP IIA

H. Erni Aprilia, S.Kep.,Ns.,MM


SUPERVISOP

Taufik hidayat
S,Kep. M.MKes

KATIM I
(RESPIROLOGI &
KARDIOLOGI)
GUSNITA, AMK
Putriyanti,AMK
Noviyanti, AMKeb
Mardiyyah, AMK

KATIM II
(GIZI &NEURO)
NORHASANAH,AMK

KATI M III
(GASTRO &INFEKSI)
RUSMA,H.S.KEP

Fitriah,AMK
Melda Agustina,AMK

Noor Alfian
Nimah,S.Kep.Ns
Rika Arlita,AMK
Rosida Elfah,AMK

Gambar 2.6. Struktur Organisasi di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin

65

KATIM IV
(NEVRO)
RUSNIAH,AMK
Lindawati,AMKeb
Lailatul,AMK
Rianti,AMK

b. Penerimaan Klien Baru


Tabel 2.28 Tabulasi data penerimaan klien baru.

65

No

6
7
8
9

10

Pernyataan

Selalu

Apakah saat pertama kali masuk


keruangan ini perawat yang menerima
klien memperkenalkan diri pada klien dan
keluarga?
Apakah perawat yang bertugas saat
menerima klien baru memperkenalkan
siapa perawat yang bertanggung jawab
( kepala ruangan, perawat yang
bertugas.dll) ?
Apakah pernah mendapatkan penjelasan
dari perawat yang bertugas tentang
penyakit yang diderita, terapi yang
diberikan, anjuran atau larangan saat
pertama masuk keruangan ini?
Apakah pernah klien dan keluarga
diperkenalkan dengan dokter dan tenaga
non keperawatan (misal: tenaga
administrasi, ahli gizi dll) ?
Pernahkah klien dan kelurga diberikan
penjelasan tentang :
a. Fasilitas
b. Jam berkunjung
c. Penunggu Klien
1). Penunggu klien adalah keluarga
terdekat klien.
2). Masing-masing klien hanya
boleh ditunggu satupenunggu.
d. Waktu makan klien
e. Tata cara pembayaran jasa rumahsakit
f. Penjelasan tentang sistem
sentralisasi/pengumpulan obat
Pernahkan klien dan keluarga di
perkenalkan dengan lingkungan dan
ruangan (dapur, kamar mandi, ruang dokter
dan ruang perawat, depo obat)?
Pernahkah diberikan anjuran untuk tidak
membawa barang berharga?
Pernahkah diperkenalkan dengan klien lain
yang sekamar (bila ada) ?
Pernahkah keluarga diberikan penjelasan
tentang resiko tertularnya penyakit bagi
keluarga/kerabat yang berkunjung?
Pernahkan perawat yang bertugas
menyarankan untuk menggunakan
masker/penutup hidung bagi
keluarga/kerabat yang berkunjung?

65

Pilihan Jawaban
KadangTidak
kadang
pernah
dilakukan dilakukan

12.5%

87.5%

12.5%

87.5%

50%

50%

37.5%

62.5%

62.5%

37.5%

87.5%

12.5%

75%

25%

12.5%

75%

12,5%

87,5.%

12.5%

12,5%

75%

12,5%

Berdasarkan hasil kuisioner kepada 8 perawat, didapatkan hasil bahwa


pelaksanaan penerimaan klien baru masih kurang, karena dari 10 item yang
ditanyakan rata-rata masih berada pada kategori kadang-kadang dilakukan. Selain
itu, ada satu item yaitu item tentang memperkenalkan klien dengan klien sekamar
lainnya yang sebagian besar tidak pernah dilakukan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan supervisor dan perawat
di ruang Anak Tulip IIA menyatakan bahwa kegiatan proses penerimaan klien
baru masih belum optimal, hal ini dikarenakan masih kurangnya tindakan perawat
untuk memberikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakit klien
terdiri dari memperkenalkan nama perawat, terapi yang akan dijalani, dokter yang
akan menangani, perawat penanggung jawab, tata tertib di ruangan, fasilitas, dan
klien sekamar serta orientasi ruangan dan lingkungan rumah sakit. Selain itu,
penyediaan lembar persetujuan klien dirawat inap juga belum tersedia, serta
kurangnya waktu dan kesempatan perawat melakukan hal tindakan tersebut di
karenakan terlalu banyak pekerjaan dsb.
c.

Timbang Terima

Tabel 2.29 Tabulasi data timbang terima


No
1
2
3
4

5
6
7
8

Selalu
dilakuk
an

Pernyataan
Saat timbang terima perawat
menyiapkan status klien
Perawat telah menyiapkan buku catatan
dan peralatan tulis
Ketua tim dalam keadaan siap
Timbang terima dipimpin oleh kepala
ruangan pada pergantian shift dari
malam ke pagi dari pagi ke sore.
Sedangkan pergantian shift dari sore ke
malam dipimpin oleh ketua tim
Dilaksanakan setiap pergantian shift
Pelaksanaan dimulai dari nurse station
Timbang terima dilanjutkan melihat
langsung kondisi klien
Hal-hal yang sifatnya khusus dicatat
dan di serah terimakan pada perawat
shift berikutnya

Perawat shift berikutnya validasi

65

PilihanJawaban
KadangTidak
kadang
pernah
dilakukan
dilakukan

25%

75%

87,5%

13,5%

75%

25%

2,25%

62,5%

12,5%

75%
62,5%

25%
37,5%

62,5%

37,5%

87,5%

12,5%

75%

75%

data ke klien
10

11

12
13
14
15
16
17
18

19

20

Perawat menyapa klien dan


menanyakan kondisi/ keluhan yang
dirasa saat ini
Waktu untuk timbang terima tidak lebih
dari 10 menit kecuali klien kondisi
khusus
Penyampaian dilakukan singkat dan
jelas
Perawat menyebutkan identitas klien
Perawat menyebutkan diagnosa medis
Perawat menyebutkan data obyektif
Perawat menyebutkan data penunjang
lain
Perawat menyebutkan tindakan
keperawatan yang dilaksanakan
Perawat menyebutkan intervensi
kolaboratif dan juga menyebutkan
persiapan yang perlu dilakukan dalam
kegiatan selanjutnya
Perawat kembali ke nurse station untuk
mendiskusikan hasil validasi data
langsung
Perawat yang memimpin timbang
terima menyebutkan rencana kerja bagi
shift berikutnya dan
mendokumentasikan pelaksanaan
timbang terima di buku laporan oleh
ketua tim

87,5%

12,5%

--

12,5%

87,5%

87,5%

12,5%

87,5%
100%
100%

12,5%
-

--

75%

25%

87,5%

12,5%

--

100%

75%

12,5%

12,5%

75%

12,5%

12,5%

Bedasarkan hasil kuesioner pada 8 perawat di ruang Anak Tulip IIA


diketahui timbang terima sudah dilakukan, hal ini digambarkan oleh banyaknya
presentase yang lebih tinggi pada kategori selalu 87,5% , namun pada point 4
kuesioner timbang terima tidak selalu dipimpin oleh karu 62,5% dan tidak pernah
dilakukan/dipimpin sebesar 12,5%. Pada point 9, validasi data ke klien jarang
dilakukan oleh perawat
Berdasarkan hasil observasi, timbang terima di Ruang Anak Tulip IIA
pelaksanaannya tidak dilakukan dihadapan klien (shift pagi, sore dan malam),
terkadang hanya dilakukan di ners station atau diluar ruangan. Timbang terima
dari shift pagi ke shift siang dan dari shift siang ke shift malam dan shift malam
ke shift pagi biasa hanya dilakukan secara informal di Nurse Station yang tidak
dipimpin oleh supervisor, hal ini dikarenakan ketidakdisiplinannya dalam waktu
tiba dan pulang, validasi data biasanya dilakukan saat melakukan tindakan pada
klien. Berdasarkan hasil observasi, format timbang terima yang baku di uang

65

Anak Tulip IIA belum tersedia, hanya menggunakan catatan tertulis yang tertulis
di status klien.
d. Ronde Keperawatan
Tabel 2.30 Tabulasi data Ronde keperawatan
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10

Pernyataan
Apakah di ruangan ini dilakukan
ronde keperawatan
Penetapan kasus minimal satu hari
sebelum waktu pelaksanaan ronde
Pemberian informed concent
kepada klien atau keluarga
Perawat (ketua tim) menjelaskan
keadaan dan data demografi klien
Perawat (ketua tim) menjelaskan
masalah keperawatan utama
Perawat (ketua tim) menjelaskan
intervensi yang akan dilakukan
Perawat menjelaskan alasan ilmiah
tindakan yang akan diambil
Ronde keperawatan dilakukan
sesuai dengan langkah-langkah
ronde keperawatan
Dalam pelaksanaan ronde
dilakukan tindakan keperawatan
pada masalah prioritas yang telah
ditetapkan
Mendiskusikan hasil temuan dan
tindakan pada klien tersebut serta
menetapkan tindakan yang perlu
dilakukan

PilihanJawaban
Kadangkadang
dilakukan

Tidak
pernah
dilakukan

50%

50%

50%

50%

87,5%

12,5%

25%

75%

37,5%

62,5%

75%

25%

37,5%

62,5%

75%

25%

87,5%

12,5%

87,5%

12,%5

Selalu
dilakukan

Berdasarkan hasil kuesioner pada 8 perawat, kegiatan ronde keperawatan


berbanding sama 50%:50% terlihat dari pertanyaan di item no 1.
Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat ruang tulip IIA, ronde
keperawatan tidak pernah dilakukan. Beberapa perawat yang lain menyatakan
pernah dilakukan ronde keperawatan namun jarang di Ruang Anak Tulip IIA,
ronde dilakukan apabila klien memilih kondisi yang buruk dan memiliki kondisi
keparahan yang sulit diatasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan supervisor diketahui bahwa ronde
keperawatan tidak memiliki format khusus untuk lembar ronde keperawatan,

65

ronde yang biasa dilakukan hanya bersifat diskusi yang kadang tidak
direncanakan tergantung situasi dan kondisi.

e. Sentralisasi obat
Tabel 2.31 Tabulasi data Sentralisasi obat
No

3
4

6
7

PilihanJawaban
KadangTidak
Selalu
kadang
pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan

Pernyataan
Apakah obat yang telah di resepkan dan telah
diambil oleh keluarga diserahkan kepada
perawat dengan menerima lembar serah terima
obat
Apakah perawat menuliskan nama klien,
register, jenis obat, jumlah dan sediaan (bila
perlu) dalam kartu control; dan diketahui
(ditanda tangani) oleh keluarga / klien dalam
buku masuk obat.
Apakah keluarga atau klien selanjutnya
mendapatkan penjelasan kapan / bila mana obat
tersebut akan habis.
Apakah obat yang telah diserahkan selanjutnya
disimpan oleh perawat dalam kotak obat dan
obat yang telah diterima untuk selanjutnya
disalin dalam buku daftar penerimaan obat
Apakah obat obat yang telah disimpan untuk
selanjutnya diberikan olrh perawat dengan
memperhatikan alur yang tercantum dalam buku
daftar pemberian obat dengan terlebih dahulu
dicocokkan dengan terapi di instruksi oleh
dokter dan kartu obat yang ada pada klien
Apakah pada saat pemberian obat , perawat
menjelaskan macam obat, kegunaan, jumlah
obat, dan efek samping.
Apakah sediaan obat yang ada selanjutnya di
cek tiap pagi oleh ketua ruangan/ petugasyang
ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku
masuk obat
Apakah obat yang hampir habis akan di
informasikan pada keluarga kemudian di
mintakan kepada dokter penanggung jawab
klien
Apakah penambahan atau perubahan jenis,
dosis atau perubahan route pemberian obat akan
di masukkan dalam buku masuk obat dan
sekaligus di lakukan perubahan dalam kartu
sediaan obat

65

37,5%

25%

37,5%

37,5%

25%

37,5%

100%

87,5%

12,5%

75%

25%

50%

50%

75%

25%

87,5%

12,5%

87,5%

12,5%

10

Apakah pemberian obat yang bersifat tidak rutin


(sewaktu saja) maka dokumentasi hanya
dilakukan oleh perawat pada buku masuk obat
dan selanjutnya di informasikan pada keluarga
dengan kartu khusus obat

87,5%

12,5%

Berdasarkan hasil kuisioner kepada 8 perawat didapatkan hasil bahwa


sentralisasi obat yang dilaksaakan di ruang Anak Tulip IIA cukup baik dilihat dari
besarnya presentase (>50%) yang memilih pada jawaban selalu dilakukan, hanya
ada beberapa item yang nilainya kurang dari <50% yaitu item 1 dan 2.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, obat-obatan
pada semua perawatan klien di ruang Anak,dikelola langsung di ruang nurse
station. Jenis obat-obatan yang dimaksud meliputi sediaan injeksi dan peralatan
medikasi lainnya kecuali oral. Terlihat dengan adanya lemari tempat peletakkan
obat dan buku rencana injeksi. Dalam pengelolaan obat-obatan klien, obat yang
dimiliki klien di letakkan di loker yang telah diberikan nomor sesuai bed klien.
Begitupun juga dengan spuit milik klien, karena semua spuit klien dimasukkan ke
dalam satu tempat sehingga tidak terdata apakah spuit milik klien sudah habis atau
belum. Sehingga disimpulkan bahwa belum ada buku catatan khusus untuk
penerimaan obat-obatan yang diserahkan klien pada perawat. Hal ini berhubungan
karena masih kurangnya kesadaran mengenai kepentingan melakukan sentralisasi
obat.

65

f. Supervisi Keperawatan
Tabel 2.32 Tabulasi Data Supervisi Keperawatan

No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

PilihanJawaban
KadangTidak
Selalu
kadang
pernah
dilakukan
dilakuka
dilakukan
n

Pernyataan

Supervisor menetapkan kegiatan yang


akan di supervisi
Supervisor menetapkan tujuan
supervisi
Supervisor ikut dalam
pendokumentasian kegiatan pelayanan
bersama-sama ketua tim dan perawat
pelaksana
Supervisor meneliti dokumentasi
status klien
Supervisor mendapatkan hal-hal yang
perlu di lakukan pembinaan
Supervisor memanggil ketua tim dan
perawat pelaksana yang perlu
dilakukan pembinaan
Supervisor mengklasifikasi
permasalahan yang ada
Supervisor memberikan masukan pada
ketua tim dan perawat pelaksana
Supervisor mengevaluasi hasil
bimbingan
Supervisor memberikan reward atau
umpan balik kepada ketua tim dan
perawat pelaksana

50%

50%

50%

37,5%

12,5%

50%

37,5%

12,5%

50%

37,5%

12,5%

50%

50%

12,5%

75%

12,5%

50%

37,5%

12,5%

12,5%

50%

12,5%

50%

37,5%

12,5%

12,5%

75%

12,5%

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan supervisor di ruang


tulip IIA menyatakan bahwa tindakan supervisi yang dilakukan di ruangan masih
bersifat situasional (tidak terjadwal).
Berdasarkan hasil observasi didapatkan bahwa supervisor trnyata belum
aktif melakukan supervisi di ruangan. Supervisor tidak terlibat dalam timbang
terima saat shift pagi serta kegiatan lainnya.

65

g. Discharge planning
Tabel 2.33 Tabulasi Data Discharge planning
N
o

1
2
3
4
5
6
7
8
9

10

Pernyataan
Setiap klien yang mau pulang
dilakukan discharge planning
Setiap klien yang pulang diberikan
health education
Setiap klien yang mau pulang di
ajarkan cara perawatan mandiri di
rumah
Setiap klien pulang paksa
dilakukan discharge planinning
Dorongan untuk melakukan
discharge planning timbul dari diri
anda sendiri
Kepala ruangan memimpin
discharge planning
Pelaksanaan discharge planning
dilakukan kepada klien dan
keluarga
Discharge planning dilakukan
setelah pelunasan administrasi
Discharge planning yang anda
lakukan sesuai dengan prosedur,
kerana berpengaruh pada asuhan
keperawatan
Meskipun perawat sibuk dengan
urusannya, perawat tetap
melaksanakan discharge planning

Pilihan Jawaban
KadangTidak
Selalu
kadang
pernah
dilakukan
dilakukan
dilakukan
75%

25%

75%

25%

62,5%

37,5%

37,5%

62,5%

75%

12,5%

12,5%

50%

37,5%

12,5%

62,5%

37,5%

62,5%

37,5%

87,5%

12,5%

87,5%

12,5%

Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 8 orang perawat,


pelaksanaan discharge planning telah dilakukan sudah berjalan baik dan selalu
diakukan. Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa orang perawat dan hasil
observasi pada klien yang ingin pulang di ruang Anak Tulip IIA, tidak ada
dilakukannya discharge planning, serta pendidikan kesehatan selama perawatan
dan ketika klien pulang. Discharge planning seperti pendidikan kesehatan

65

biasanya di ruang Anak Tulip II A hanya berupa pernyataan secara lisan yang
diakukan oleh dokter muda dan tanpa ada format tertulis, tidak adanya
penggunaan media seperti poster dan leaflet,di karenakan keterbatasan waktu
yang dimiliki dan tidak ada terlampir dalam dokumentasi keperawatan. Hasil
wawancara dengan supervisi didapatkan bahwa belum tersedianya format
discharge planning sehingga apa yang dilakukan belum bisa terdokumentasikan
dengan baik.
h. Dokumentasi Keperawatan
Hasil Evaluasi penerapan SAK
Tabel 2.34 Rekapitulasi hasil evaluasi penerapan SAK di Ruang Tulip I1A RSUD
Ulin Banjarmasin Selama Bulan Juni 2015
Nilai
Askep Yang Dinilai
Persentase
NO
Pengkajian
75 %
1
Diagnosa Keperawatan
53,33 %
2
Perencanaan
83,33 %
3
Tindakan Keperawatan
75 %
4
Evaluasi
50 %
5
Catatan Keperawatan
82 %
6
Rata-rata

69,77 %

Berdasarkan hasil observasi pada 10 status klien menunjukkan penerapan


Standar Asuhan Keperawatan secara keseluruhan sudah cukup baik sesuai dengan
standar penerapan yang ada di RSUD Ulin Banjarmasin yaitu mencapai 82%,
namun dalam hal pembuatan diagnose masih ada kekurangan yaitu sebesar
53.33%. Kemungkinan hal ini dikarenakan kebiasaan dalam penulisan diagnosa
keperawatan tidak berdasarkan PE/PES.
Sgesuai dengan kesepakatan penerapan SAK di RSUD Ulin Banjarmasin,
dokumentasi Keperawatan hanya dilakukan pada 2 lembar format, yaitu lembar
pengkajian sekaligus lembar penegakan diagnosa dan lembat catatan keperawatan
yang terdiri atas isian Subjek (S), Objektif (O), Assessment (A), Planning (P),
Implementation(I), dan Evaluation (E) sesuai konsep. Pada perhitungan yang telah
dilakukan, didapatkan hasil yang menunjukkan SAK belum optimal. Hal ini
dikarenakan kebiasaan dalam penulisan diagnosa keperawatan tidak berdasarkan
PE/PES.

65

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada pendokumentasian asuhan


keperawatan didapatkan hasil pada poin 6 dalam catatan keperawatan aspek no. 2
yaitu Pencatatan dilakukan sesuai dengan tindakan yang dilakukan hal yang
sering tidak dilakukan di status klien, hal ini dikarenakan ruang Anak Tulip IIA
memiliki catatan khusus yang dimiliki oleh ruangan dalam perencanaan dan
tindakan keperawatan. Padahal seharusnya pencatatan tindakan yang dilaksanakan
didokumentasikan di status klien sehingga dokumentasi yang ada lengkap.
Sedangkan pada aspek no. 4 yaitu tentang Setiap melakukan tindakan/kegiatan,
perawat mencantumkan paraf/nama jelas serta tanggal/jam dilakukannya tindakan
sehari-hari dalam hal ini perawat terkadang tidak mencantumkan paraf/nama
pada shift pagi, siang, dan malam serta tidak mencantumkan jam dilakukan
tindakan. Hal ini dikarenakan tidak ada standar operasional pelaksanaan pengisian
format asuhan keperawatan.
.
Pembiayaan (M4-Money)
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari supervisor Ruang Anak Tulip
IIA, diketahui bahwa setiap pembayaran jasa pelayanan sebanyak 5% dimasukkan
ke dalam dana simpanan Ruang Anak Tulip IIA. Selain itu, sebanyak 50% dari
pembayaran bimbingan mahasiswa juga masuk dalam dana tersebut. Dana
simpanan ini digunakan untuk keperluan ruangan dan kepentingan klien yang
mendesak.
Pembiayaan klien sebagian besar dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial), Sedangkan sisanya dari Umum (Biaya Sendiri). Badan Penyelanggara
Jaminan

Sosial

(BPJS)

adalah

badan

hukum

yang

dibentuk

untuk

menyelenggarakan program jaminan kesehatan. BPJS terdiri dari BPJS kesehatan


dan BPJS ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan mulai operasional mulai bulan
januari 2014. Peserta BPJS Kesehatan ada 2 kelompok yaitu PBI (Penerima
bantuan iuran) jaminan kesehatan dan bukan PBI jaminan kesehatan. PBI adalah
peserta jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana
diamanatkan UU SJSN yang iurannnya dibayari pemerintah sebagai peserta
program jaminan kesehatan. Peserta PBI adalah fakir miskin yang ditetapkan oleh
pemerintah dan diatur melalui peraturan pemerintah. Peserta bukan PBI jaminan

65

kesehatan terdiri atas pekerja penerima upah dan anggota keluarganya, pekerja
bukan penerima upah dan anggota keluarganya, dan bukan pekerja dan anggota
keluarganya.

Tabel 2.35 Pembiayaan Klien yang Rawat Inap di Ruang Anak Tulip IIA pada
bulan Maret - Mei 2015
No
.
1
2.
3.
4.
5.
6.

Kelompok Klien
Umum
BPJS Non-PBI
BPJS PBI
Jamkesprov
Jamkesda
Dana pendamping

Jumlah
102
311
51
53
10
7

Tabel 2.36 Jenis Pembayaran di Ruang Anak Tulip IIA


NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Jenis Pembayaran
Ruangan
Visite Dokter
Konsultasi dokter
BAKHP
Gizi
Parsial care anak
Total care anak (24jam)
Kemoterapi
Terapi oksigen (l/m)

Umum
Rp.75.000/ hari
Rp.42.000
Rp.36.250
Rp.5.000
Rp.15.000
Rp.75.000
Rp.200.000
Rp.805.500
Rp.2.100

Jamkesprov
Rp.75.000/ hari
Rp.42.000
Rp.36.250
Rp.5.000
Rp.15.000
Rp.75.000
Rp.200.000
Rp.805.500
Rp.2.100

Pemasaran (M5-Marketing)
1. Keadaan klien
BOR pada serangkaian data sesuai dengan kapasitas tempat tidur klien di
ruang anak Tulip IIA dapat dilihat dari data klien pada bulan Maret Mei 2015
pada Tabel. 2.23
Tabel 2.37 Data Klien Ruang Anak Tulip IIA Periode bulan Maret - Mei 2015
(termasuk Hematologi - Onkologi)

65

BULAN

Jumlah
Hari/Bulan

Jumlah
Tempat
Tidur

Jumlah Hari
Perawatan

Jumlah
Lama
Dirawat

Jumlah
klien
Keluar

Maret

31

42

720

751

207

April

30

42

863

868

168

Mei

31

42

737

668

174

TOTAL

92

42

2330

2287

549

BOR pada serangkaian data sesuai dengan kapasitas tempat tidur klien di
Ruang Anak Tulip IIA selama bulan Maret - Mei 2015 yaitu:
Formula :
BOR

= 60 %

Hal ini menunjukan bahwa nilai parameter BOR di Ruang Anak Tulip IIA
untuk bulan Maret - Mei 2015 adalah 60% dan nilai parameter BOR yang ideal
adalah antara 60-85% (Depkes, 2005).
Tabel 2.37 Data Klien Ruang Anak Tulip IIA Periode bulan Juni 2015 selama 2
hari berdinas
BULAN

Tanggal

Juni

29 Juni 2015

Jumlah
Tempat
Tidur
32

30 Juni 2015
TOTAL

32

65

Jumlah
Hari
Perawatan
14

Jumlah
Lama
Dirawat
85

Jumlah
klien Keluar

15

100

29

185

BOR pada serangkaian data sesuai dengan kapasitas tempat tidur klien di
Ruang Anak Tulip IIA selama 2 hari berdinas di bulan Juni 2015 yaitu:
Formula :
BOR

= 45%
Hal ini menunjukan bahwa nilai parameter BOR di Ruang Anak Tulip IIA
untuk 2 hari berdinas di bulan Juni adalah 45% dan nilai parameter BOR yang
ideal adalah antara 60-85% (Depkes, 2005).
1

ALOS
Nilai ALOS Ruang Anak Tulip IIA pada bulan Maret - Mei 2015 adalah:
ALOS

=
ALOS =

= 5 hari

Jadi rata-rata lama perawatan klien di ruang pada bulan Maret - Mei 2015
Ruang Anak Tulip IIA adalah 5 hari
2

BTO
Nilai BTO Ruang Anak Tulip IIA pada bulan Maret - Mei 2015 adalah :
BTO =
=
BTO =

= 13 Kali

Jadi selama bulan Maret - Mei 2015, BTO Sebanyak 13 kali


3

TOI
Nilai TOI Ruang Anak Tulip IIA pada bulan Maret - Mei 2015 adalah:

65

TOI

TOI =

= 3 hari

Jadi, rata-rata tenggang perputaran dari bulan Maret - Mei 2015 adalah 3
hari
Alur Masuk Klien
Gambar.2.38 Alur Klien Masuk dari Luar Rumah Sakit
Klien datang ke RSUD.
Ulin Banjarmasin

Poliklinik

IGD

TPPO
Ruang Rawat Tulip IIA
PULANG ATAS IJIN DOKTER
PULANG ATAS PERMINTAAN SENDIRI
PINDAH RUANG RAWAT
MENINGGAL
ADMINISTRASI
Ruang asal, kecuali ruang ICU

Gambar 2.39 Alur klien dari dalam rumah sakit

Konsultasi Alih Rawat oleh Dokter

Ruang yang dituju

ICU

Klien Anak

Klien Stabil

(Ruang Anak)

65 Alih Rawat Ruang Anak (Tulip II A)

Produk
Produk unggulan yang ditawarkan Ruang Anak Tulip IIA dalam pelayanan
adalah adanya inovasi terbaru berupa terapi bermain khusus anak yang belum ada
di Rumah Sakit lain di daerah Banjarmasin, dimana setiap klien yang mengikuti
terapi bermain mendapatkan satu buku yang dicetak langsung oleh ruang anak.
Selain itu juga terdapat berbagai macam hiasan dinding untuk desain interior
ruang anak.

Mesin (M6-Machine)
SPO yang tersedia di ruang anak adalah sebagai berikut:
Tabel 2.27 SPO yang ada di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin
No.
1.
2.

Standar Prosedur Operasional (SPO)


SPO penimbangan berat badan
SPO pemberian obat via injeksi

65

3.
4.
5.
6.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.

SPO memasang infus


SPO pemasangan NGT dan pemberian makan lewat sonde
SPO pemasangan kateter
SPO terapi oksigen
SPO oral hygiene
SPO resusitasi jantung paru
SPO penatalaksanaan suction
SPO memasang bidai infuse
SPO memberikan transfusi darah
SPO memasang venflon
SPO fisioterapi dada
SPO latihan batuk efektif
SPO latihan pernapasan dalam
SPO pengukuran intake & output cairan
SPO nebulizer
SPO pengukuran lingkar perut
SPO pemberian obat supositoria
SPO pengambilan darah vena
SPO manajemen nyeri keperawatan
SPO implementasi keperawatan drambuise
SPO implementasi pemasangan infus pump
SPO implementasi keperawatan kemoterapi
SPO persiapan & aplusing obat kemoterapi
SPO menilai tingkat kesadaran menggunakana GCS
SPO implementasi keperawatan mantoux test
SPO persiapan anak pulang

Tabel 2.28 Standar asuhan keperawatan anak


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

ASKEP
SAK aktual/risiko ketidakeektifan bersihan jalan nafas
SAK aktual/risiko kekurangan volume cairan tubuh
SAK hipertermia
SAK aktual/risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
SAK ketidakefektifan pola nafas
SAK nyeri
SAK intoleransi aktifitas
SAK perubahan perfusi jaringan perifer
SAK risiko tinggi infeksi

65

10

SAK kecemasan orang tua

Kegiatan penilaian terhadap kesesuaian pelaksanaan tindakan keperawatan


maupun medis dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) memerlukan lembar
penilaian berupa SPO kegiatan yang dilakukan. Ruang Anak Tulip IIA sudah
memiliki SPO tindakan keperawatan (terlampir).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan supervisor Ruang
Anak Tulip IIA, SPO yang ada di ruangan merupakan SPO yang lama dan belum
direvisi.
Instrumen C
Berdasarkan hasil observasi dari tanggal 29 Juni - 01 Juli 2015, didapatkan
bahwa hasil instrument C tidak dapat dilakukan karena perawat di ruang anak
Tulip IIA tidak ada melakukan tindakan keperawatan seperti nebulizer, pemberian
kompres, pemasangan infuse sesuai dengan 3 diagnosa medis teratas selama
periode bulan Juni dan 3 diagnosa keperawatan teratas selama 3 hari pengkajian.
Tindakan tersebut hanya mahasiswa yang melakukannya atas perintah dari
perawat ruangan sehingga tidak bisa dinilai.
Saran dari hasil observasi selama 3 hari pengkajian, seharusnya perawat
ruangan melakukan sendiri namun apabila mendelegasikan pada mahasiswa
seharusnya mendampingi atau menjelaskan terlebih dahulu SPO yang ada di
ruangan.

BAB III
PERENCANAAN
A. Pengorganisasian
Untuk efektifitas pelaksanaan Sistem Pemberian Pelayanan Perawatan
Profesional dalam menentukan kebijakan-kebijakan internal yang sifatnya umum,
kelompok menyusun struktur organisasi sebagai berikut :
Ketua

: Resvia Arwinda S.Kep

65

Sekretaris

: Rinny Cahyaneng Widhi, S.Kep

Bendahara

: Risa Fariyana, S.Kep

Sie Inventaris

: Devi Indah Permata , S.Kep

Sie Humas

: Elmi, S.Kep

Sie Askep

: Anes Fikri Haekal, S.Kep

Sie PKMRS

: Elfanizar Yusandi, S.Kep

Sie Dokumentasi : Annisa Febriana, S.Kep


Adapun

dalam

pengelolaan

ruang

rawat

maka

diselenggarakan

pengorganisasian dalam pembagian peran sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.

Kepala Ruangan
Supervisor
Perawat Primer
Perawat Associate
Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah pelaksanaan

Sistem Pemberian Pelayanan Perawatan Profesional di ruangan.


Uraian

tugas

masing-masing

berdasarkan

struktur

pengorganisasian

kelompok :
Ketua
1. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan keberhasilan praktek klinik
manajemen keperawatan.
2. Mengkoordinasikan pelaksanaan program dalam manajemen keperawatan.
3. Mengembangkan hubungan antara organisasi ruangan dan pendidikan.
4. Menentukan berbagai kebijakan strategis dalam organisasi.
5. Memutuskan masalah yang berkaitan dengan organisasi.
6. Memimpin rapat organisasi.
7. Menandatangani surat keluar.
8. Mengupayakan penggembalian dana.
9. Memeriksa dan menandatangani buku kas umum.
10. Menyetujui pengeluaran kaaas organisasi.
11. Bertanggung jawab penuh terhadap laporan pelaksanaan kegiatan.
Sekretaris
1. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan administrasi organisasi
( surat menyurat, dokumentasi kegiatan organisasi, lain-lain).

65

2. Merencanakan dan menyiapkan acara rapat pengurus.


3. Bertanggung jawab pada semua bentuk pelaporan.
4. Membuat surat untuk kepentingan keluar.
5. Membuka rapat, mendokumentasikan hasil rapat, dan menutup rapat.
6. Membuat laporan kegiatan organisasi.
7. Memantau keadaan ruangan dan memeriksa buku bantu keuangan.
Bendahara
1. Membukukan dan menyiapkan uang organisasi secara keseluruhan.
2. Bertanggungjawab terhadap pembukuan anggaran belanja organisasi dan
mempertanggungjawabkannya kepada ketua.
3. Melaporkan keadaan keuangan organisasi secara berkala.
4. Mengeluarkan keuangan yang telah mendapat persetujuan dari ketua.
5. Membuat laporan keuangan.
Seksi Inventasis
1. Bertanggungjawab terhadap pengadaan kelengkapan berkas-berkas kegiatan.
2. Membantu kelancaran kegiatan.
3. Melakukan koordinasi dengan sie yang lain.
Seksi Dokumentasi
1. Bertanggungjawab terhadap pencatatan dan pengumpulan data yang ada.
2. Mendokumentasikan setiap kegiatan yang di lakukan.
3. Melakukan koordinasi dengan sie yang lain.

Seksi Humas
1. Bertanggungjawab terhadap kelancaran surat menyurat.
2. Bertanggungjawab terhadap kelancaran diskusi, seminar, maupun diseminasi.
3. Melaporkan sosialisasi seluruh program yang telah ditetapkan kepada
anggota.
4. Menyebarluaskan seluruh informasi yang berkaitan dengan kegiatan
pelayanan keperawatan.
5. Membantu semua kegiatan yang berhubungan dengan orang lain.
Seksi PKMRS

65

1. Membuat SAP sebelum penyuluhan.


2. Memberikan leaflat dan penyuluhan pada klien yang KRS.
3. Melakukan koordinasi dengan sie yang lain.
Seksi ASKEP
1. Bertanggungjawab terhadap Asuhan Keperawatan yang di rencanakan.
2. Mengimplementasikan Asuhan Keperawatan yang telah di buat.
3. Melakukan koordinasi dengan sie yang lain.
B. Strategi Pelaksanaan
1. Model Asuhan Keperawatan
a. Pengertian SP2KP
SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang
merupakan pengembangan dari MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional)
dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama profesional antara perawat primer (PP)
dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya. Pada aspek proses
ditetapkan penggunaan metode modifikasi SP2KP (kombinasi metode tim dan
metode keperawatan primer). Penetapan metode ini didasarkan pada beberapa
alasan sebagai berikut :
1) Pada metode keperawatan primer, pemberian asuhan keperawatan dilakukan
secara berkesinambungan sehingga memungkinkan adanya tanggung jawab
dan tanggung gugat yang merupakan esensi dari suatu layanan profesional.
2) Terdapat satu orang perawat professional yang disebut PP, yang bertanggung
jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan. Pada
MPKP, perawat primer adalah perawat lulusan sarjana keperawatan/Ners.
3) Pada metode keperawataan primer, hubungan professional dapat ditingkatkan
terutama dengan profesi lain.
4) Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena
membutuhkan jumlah tenaga S.Kep/Ners yang lebih banyak karena setiap PP
hanya merawat 4-5 klien dan pada metode modifikasi keperawatan primer,
setiap PP merawat 9-10 klien.
5) Saat ini terdapat beberapa jenis tenaga keperawatan dengan kemampuan yang
berbeda-beda. Kombinasi metode tim dan perawat primer menjadi penting

65

sehingga perawat dengan kemampuan yang lebih tinggi mampu mengarahkan


dan membimbing perawat lain di bawah tanggung jawabnya.
6) Metode tim tidak digunakan secara murni karena pada metode ini tanggung
jawab terhadap asuhan keperawatan terbagi kepada semua anggota tim,
sehingga sukar menetapkan siapa yang bertanggung jawab dan bertanggung
gugat atas semua asuhan yang diberikan dan perawat lain akan susah
mengenali kekhasan klien yang bukan klien kelolaannya.
Apabila ditinjau dari 5 sub sistem yang diidentifikasi oleh Hoffart & Woods
(1996), secara sederhana dapat diartikan sebagai berikut :
a) Nilai-nilai profesional sebagai inti model
Pada model ini, PP dan PA membangun kontrak dengan klien/keluarga sejak
klien/keluarga masuk ke suatu ruang rawat yang merupakan awal dari
penghargaan atas harkat dan martabat manusia. Hubungan tersebut akan terus
dibina selama klien dirawat di ruang rawat, sehingga klien/keluarga menjadi
partner dalam memberikan asuhan keperawatan. Pelaksanaan dan evaluasi renpra,
PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan
asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan PA di bawah tanggung
jawab untuk membina performa PA agar melakukan tindakan berdasarkan nilainilai professional.

b. Pendekatan Manajemen
Model ini memberlakukan manajemen SDM, artinya ada garis komunikasi
yang jelas antara PP dan PA. Performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab
PP. PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan yang harus dibekali dengan
kemampuan manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi manajer
yang efektif dan pemimpin yang efektif.
c. Metode pemberian asuhan keperawatan
Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi
keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. PP
akan mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada
renpra sesuai kebutuhan klien.

65

d. Hubungan professional
Hubungan professional dilakukan oleh PP dimana PP lebih mengetahui
tentang perkembangan klien sejak awal masuk ke suatu ruang rawat sehingga
mampu memberi informasi tentang kondisi klien kepada profesi lain khususnya
dokter. Pemberian informasi yang akurat tentang perkembangan klien akan
membantu dalam penetapan rencana tindakan medik.
e. Sistem kompensasi dan penghargaan
PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan
keperawatan yang professional. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan
kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan
penghargaan berdasarkan prosedur. Kompensasi berupa jasa dapat diberikan
kepada PP dan PA dalam satu tim yang dapat ditentukan berdasarkan derajat
ketergantungan klien. PP dapat mempelajari secara detail asuhan keperawatan
klien tertentu sesuai dengan gangguan/masalah yang dialami sehingga mengarah
pada pendidikan ners spesialis.
Metode modifikasi Perawat Primer-Tim yaitu seorang PP bertanggung jawab
dan bertanggung gugat terhadap asuhan keperawatan yang diberikan pada
sekelompok klien mulai dari klien masuk sampai dengan bantuan beberapa orang
PA. PP dan PA selama kurun waktu tertentu bekerjasama sebagai suatu tim yang
relatif tetap baik dari segi kelompok klien yang dikelola, maupun orang-orang
yang berada dalam satu tim tersebut . Tim dapat berperan efektif jika didalam tim
itu sendiri terjalin kerjasama yang professional antara PP dan PA. selain itu tentu
saja tim tersebut juga harus mampu membangun kerjasama professional dengan
tim kesehatan lainnya.
Peran Managerial dan Leadership
Ketua dalam tim betugas untuk membuat rencana asuhan keperawatan,
mengkoordinir kegiatan semua staf (PA) yang berada dalam tim, mendelegasikan
sebagian tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan pada renpra dan
bersama-sama dengan PA mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Seorang PP harus memiliki kemampuan yang baik dalam membuat renpra
untuk klien yang menjadi tanggung jawabnya. Adanya renpra merupakan

65

tanggung jawab profesional seorang PP sebagai landasan dalam memberikan


asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar. Renpra tersebut harus dibuat
sesegera mungkin pada saat klien masuk dan dievaluasi setiap hari.
PP dituntut untuk memiliki kemampuan mendelegasikan sebagian tindakan
keperawatan yang telah direncanakan pada PA. Pembagian tanggung jawab
terhadap klien yang menjadi tanggung jawab tim, didasarkan pada tingkat
ketergantungan klien dan kemampuan PA dalam menerima pendelegasian. Metode
tim PP-PA dituntut untuk memiliki keterampilan kepemimpinan. PP bertugas
mengarahkan dan mengkoordinasikan PA dalam memberikan asuhan keperawatan
pada kelompok klien.PP berkewajiban untuk membimbing PA agar mampu
memberikan asuhan keperawatan seuai dengan standar yang ada. Bimbingan
tersebut dapat dilaksanakan secara langsung, misalnya mendampingi PA saat
melaksanakan tindakan tertentu pada klien atau secara tidak langsung pada saat
melakukan konferens. PP juga harus senantiasa memotivasi PA agar terus
meningkatkan keterampilannya, misalnya memberikan referensi atau bahan
bacaan yang diperlukan.
Selain terkait dengan bimbingan keterampilan pada PA, sebagai bagian dari
peran kepemimpinan seorang PP, PP seharusnya juga memiliki kemampuan untuk
mengatasi konflik yang mungkin terjadi antar PA. PP harus menjadi penengah
yang bijaksana sehingga konflik bisa teratasi dan tidak mengganggu produktifitas
PA dalam membantu memberikan asuhan keperawatan.
Komunikasi tim melalui renpra, konferensi, dan ronde keperawatan
Komunikasi yang efektif merupakan kunci keberhasilan dalam melakukan
kerjasama profesional tim antara PP-PA. Komunikasi tersebut dapat melalui ;
renpra, konferensi, dan ronde keperawatan yang terstruktur dan terjadwal.
Rencana asuhan keperawatan ( renpra ) selain berfungsi sebagai:
1) Pedoman bagi PP-PA
2) Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu
pengetahuan
Kerjasama profesional PP-PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk
perencanaan asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP

65

pada PA. Berdasarkan renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan


sebagian tindakan keperawatan yang telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu,
sangat sulit untuk tim PP-PA dapat bekerjasama secara efektif jika PP tidak
membuat perencanaan asuhan keperawatan (renpra). Hal ini menunjukan bahwa
renpra sesungguhnya dibuat bukan sekedar memenuhi ketentuan (biasanya
ketentuan dalam menentukan akreditasi rumah sakit). Renpra seharusnya dibuat
sesegera mungkin, paling lambat 1 kali 24 jam setelah klien masuk karena
fungsinya sebagai pedoman dan media komunikasi. Berdasarkan ketentuan tugas
dan tanggung jawab PP tidak sedang bertugas (misalnya pada malam hari atau
hari libur), PA yang sebelumnya telah didelegasikan dapat melakukan pengkajian
dasar dan menentukan satu diagnosa keperawatan yang terkait dengan kebutuhan
dasar klien.Selanjutnya segera setelah PP bertugas kembali maka pengkajian dan
renpra yang telah ada harus divalidasi dan dilengkapi.
Penting juga diperhatikan bahwa renpra yang dibuat PP harus dimengerti oleh
semua PA. Semua anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang
istilah-istilah keperawatan yang digunakan dalam renpra tersebut. Misalnya dalam
renpra, PP menuliskan rencana tindakan keperawatan ; " monitor I/O
( Intake/Output = pemasukan / pengeluaran ) tiap 24 jam".
Maka harus dipahami oleh semua anggota tim yang dimaksud dengan
monitor I/O, contoh lain dalam perencanaan PP menuliskan "berikan dukungan
pada klien dan keluarganya" , maka baik PP dan PA dalam timnya harus memiliki
persepsi yang sama tentang tindakan yang akan dilakukan tersebut. Oleh sebab itu
PP harus menjelaskan kembali pada PA tentang apa yang disusunnya tersebut.
Pendelegasian tindakan keperawatan yang berdasarkan pada renpra, PP
terlebih dahulu harus memiliki kemampuan masing-masing PA.Hal yang tidak
dapat didelegasikan pada PA adalah tanggung jawab dan tanggung gugat seorang
PP (Dunville dan McCuock, 2004).Tindakan yang telah didelegasikan pada PA,
PP tetap berkewajiban untuk tetap memonitor dan mengevaluasi tindakan yang
dilakukan oleh PA.
Komunikasi tim oleh konferensi
Konferensi adalah pertemuan yang direncanakan antara PP dan PA untuk
membahas kondisi klien dan rencana asuhan yang dilakukan setiap hari.

65

Konferensi biasanya merupakan kelanjutan dari serah terima shift. Hal-hal yang
ingin dibicarakan lebih rinci dan sensitif dibicarakan didekat klien dapat dibahas
lebih jauh didalam konferensi. Konferensi akan efektif jika PP telah membuat
renpra, dan membuat rencana apa yang akan dibicarakan dalam konferensi.
Konferensi ini lebih bersifat 2 arah dalam diskusi antara PPPA tentang rencana
asuhan keperawatan dari dan klarifikasi pada PA dan hal lain yang terkait.
Komunikasi tim melalui Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan yang dilakukan dalam tim ini harus dibedakan dengan
ronde keperawatan yang dilakuan dengan clinical manager (cm). Tujuan ronde
keperawatan dalam tim adalah agar PP dan PA bersama-sama melihat proses yang
diberikan.
Kerjasama dengan tim lain
Tim kesehatan lain adalah dokter, ahli gizi, ahli farmasi, fisioterapi, staf
laboratorium dll. Peran PP dalam melakukan kerjasama dengan tim lain tersebut
adalah:
1) Mengkolaborasikan.
2) Mengkomunikasikan.
3) Mengkoordinasikan semua aspek perawatan klien yang menjadi tanggung
jawabnya.
4) PP dituntut untuk memiliki pengetahuan yang memadai baik segi tingkat
pendidikan dalam pengalamannya.
PP bertanggung jawab untuk memberikan informasi kondisi klien yang terkait
dengan perawatannya. PP dapat memberikan informasi yang akurat bagi tenaga
kesehatan lain, sehingga keputusan medis atau gizi misalnya akan membantu
perkembangan klien selama dalam perawatan, agar PP melakukan komunikasi
yang efektif dengan tim kesehatan lain tersebut, maka haruslah disepakati waktu
yang tepat untuk mengkomunikasikan pada tim kesehatan yang lain, misalnya
melalui ronde antar profesional.
Kondisi dimana dokter tidak berada di ruang perawatan dapat menyebabkan
komunikasi langsung sangat sulit dilakukan oleh karena itu komunikasi antar tim
kesehatan dapat juga terbina melalui dokumentasi keperawatan. Dokumentasi
tersebut dibuat oleh PP tetapi sebelumnya harus telah disepakati oleh semua tim

65

kesehatan bahwa dokumentasi yang ada juga dimanfaatkan secara efektif sebagai
alat komunikasi.
Terciptanya komunikasi yang efektif dengan tim kesehatan dari profesi lain,
seorang PP harus memenuhi kepribadian yang baik serta keterampilan
berkomunikasi, misalnya memiliki sikap mampu menghargai orang lain, tidak
terkesan memerintah atau menggurui atau bahkan menyalahkan orang lain dalam
hal ini tim kesehatan dari profesi lain, merupakan kemampuan yang harus dimiliki
PP. Melakukan komunikasi antar profesi ini PP dituntut untuk selalu berpegang
pada etika keperawatan.
Seorang PP harus melakukan tugas mengkordinasikan semua kegiatan yang
terkait dengan pengobatan dan perawatan klien, misalnya dokter menjadwalkan
klien untuk di rontgen dada dan di USG abdoment sekaligus pemeriksaan mata
pada hari yang sama, maka seorang PP harus mampu mengkoordinasikan semua
kegiatan tersebut agar tidak melelahkan dan membingungkan bagi klien dan
keluarganya.
Fokus Pelaksanaan SP2KP Kelompok adalah :
-

Dokumentasi Keperawatan
Timbang Terima
Penerimaan Klien Baru
Supervisi
Ronde Keperawatan
Sentralisasi obat

1. Pengelolaan Tenaga Keperawatan


Pengelolaan tenaga keperawatan merupakan salah satu fungsi utama seorang
pemimpin organisasi termasuk organisasi keperawatan. Keberhasilan suatu
organisasi salah satunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Hal ini
berhubungan erat dengan bagaimana seorang pimpinan mengelola ketenagaan di
Unit kerjanya.
Langkah pengelolaan tenaga keperawatan yaitu :
a. Mengidentifikasi bentuk dan beban pelayanan keperawatan yang akan
diberikan.
b. Menentukan kategori perawat yang akan ditugaskan untuk melaksanakan
pelayanan keperawatan.
c. Menentukan jumlah masing-masing kategori perawat yang dibutuhkan.

65

d.
e.
f.
g.

Menerima dan menyaring untuk mengisi posisi yang ada.


Melakukan seleksi calon-calon yang ada.
Menentukan tenaga perawat sesuai dengan unit atau shift.
Memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas
keperawatan.
Penentuan tenaga

keperawatan

dipengaruhi

oleh

pelayanan

keinginan

untuk

menggunakan tenaga keperawatan yang sesuai. Rasio antara perawat dan klien di
dalam ruangan perawatan adalah 1:1 atau 1:2.Perbandingan perawat ahli dan
terampil diruang adalah 2:1 atau 3:1.
Bedasarkan

analisa

tingkat

ketergantungan

klien

kebutuhan

tenaga

keperawatan Ruang Tulip IIA adalah 17 orang perawat sudah termasuk Kepala
Ruangan, Wakil Kepala Ruangan dan Supervisor.
Rencana pelaksanaan SP2KP adalah berupa mengusulkan penambahan
jumlah perawat secara bertahap setiap tahun melalui penambahan CPNS dan
tenaga honorer.
2. Perkiraan Kebutuhan Tenaga
Penetapan jumlah tenaga keperawatan harus disesuaikan dengan kategori
yang akan dibutuhkan untuk asuhan keperawatan klien disetiap unit. Beberapa
pendekatan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah staf yang dibutuhkan
berdasarkan kategori klien yang dirawat, rasio perwat dan klien untuk memenuhi
standar praktek keperawatan.
Cara menentukan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk setiap unit sebagai
beriku:
a. Rasio perawat klien disesuaikan dengan standar perkiraan jumlah klien
sesuai data.
b. Pendekatan sistem ketenagaan dapat menentukan jumlah optimal yang sesuai
dengan kategori perawat untuk setiap unit serta mempertimbangkan
komponen input-proses-output-umpan balik.
Kebutuhan tenaga dapat ditinjau berdasarkan waktu perawatan langsung,
waktu perawatan tidak langsung, dan waktu pendidikan kesehatan.
3. Pembagian Tenaga Keperawatan dan Penyusunan Jadwal
Penyusunan jadwal dinas merupakan tanggung jawab kepala ruangan atau
pengawas, teatapi lebih diutamakan kepala ruangan karena lebih mengetahui
tingkat kesibukan ruangan dan karakteristik sifatnya. Hal ini akan memudahkan
dalam menerapkan orang yang tepat untuk setiap periode jaga atau shift.

65

Prinsip penyusunan jadwal hendaknya memenuhi beberapa prinsip,


diantaranya harus ada kesinambungan antara kebutuhan unit kerja dan kebutuhan
staf. Prinsip berikutnya, setiap staf harus terlibat dalam siklus atau rotasi pagisore-malam: metode yang dipakai harus sesuai dengan kuantitas staf dalam suatu
unit kerja. Siklus yang digunakan mengikuti metode penugasan yang dipakai, dan
setiap staf harus dapat mencatat hasil dinas, libur dan shift.
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang dibutuhkan
tergantung pada jumlah klien dan derajat ketergantungan klien. Menurut Douglas
(1984) Loverige dan cummings (1996) diklasifikasikan derajat ketergantungan
klien dibagi 3 kategori yaitu :
a. Perawatan Minimal

: 1-2 jam / 24 jam

b. Perawatan Intermediet / Partial

: 3-4 jam / 24 jam

c. Perawatan Total

: 5-6 jam / 24 jam

Nilai standar jumlah perawat per Shif berdasarkan klasifikasi klien :


Jl h minggu dlm 1t h n+cuti+ h aribesar
Lost Day =
x Jmlh perawat yg
Jumla h h ari kerja efektif
diperlukan
Menurut hasil lokakarya keperawatan rumus untuk perhitungan kebutuhan
tenaga keperawatan adalah sebagai berikut :
Jam perawatan 24 jam x 7 ( tempat tidur x BOR )
Hari kerja efektif x 40 jam

+ 25%

Perhitungan Ketenagaan
Perhitungan kebutuhan tenaga perawat di ruang Anak Tulip IIA sebagai
berikut :
Pembagian perawat/shift
Jumlah perawat untuk masing-masing shift. Nursalam (Salemba, Medika,
2002) merekomendasikan, jaga pagi 0,27%, jaga sore 0,15% dan jaga malam
0,07%.
Tabel 3.1 Kebutuhan Tenaga perawat di Ruang Anak Tulip IIA 30 Juli 2015
Tingkat
Jumlah
Jumlah Kebutuhan Tenaga

65

Ketergantunga
klien
Pagi
Sore
Malam
n
Minimal
11
11x0,17 = 1,87
11x0,14=1,54
11x0,07=0,77
Parsial
15
15x0,27=4,05
15x0,15=2,25
15x0,10=1,5
Total
0
0x0,36=0
0x0,30=0
4x0,20=0
Jumlah
26
5,95 = 6
3,79 = 4
2,27 = 2
Total Kebutuhan tenaga perawat perhari :
Pagi
: 5,95
Sore
: 3,79
Malam
: 2,27
Total
: 12,01 = 12 orang perhari
Jumlah perawat yang dibutuhkan = 12 orang perhari
Penambahan untuk loss day : 1/3 x 12 orang = 4 orang
Jadi total jumlah perawat yang dibutuhkan adalah 12 + 4 = 16 orang + 1 karu = 17
orang.
Keterangan :
12 adalah jumlah total tenaga perawat
4 adalah jumlah tenaga perawat yang lepas dinas
1 adalah perawat yang menjadi kepala ruangan

Jadi pembulatan pembagian shift perawat untuk shift pagi 6 orang, shift sore
4 orang dan shift malam 2 orang.
2. Supervisi Keperawatan
a. Latar belakang
Era globalisasi dapat memberikan dampak positif bagi profesi kesehatan
untuk terus berusaha meningkatkan kinerja di berbagai kebutuhan pelayanan
kesehatan secara professional. Sejalan dengan hal tersebut tuntutan masyarakat
akan kualitas pelayanan kesehatan juga makin meningkat. Dalam memberikan
asuhan keperawatan secara professional seharusnya didukung dengan adanya
sumber daya manusia yang bermutu, standar pelayanan, dan fasilitas sesuai
harapan masyarakat. Agar pelayanan keperawatan sesuai dengan harapan
konsumen dan memenuhi standar yang berlaku maka perlu dilakukan pengawasan
atau supervisi terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan. Supervisi adalah teknik
pelayanan yang bertujuan utama adalah mempelajari dan memperbaiki secara
bersama-sama. Kunci sukses supervisi yaitu 3F (fair, feedback dan follow up).
Supervisi merupakan ujung tombak.

65

Dari hasil wawancara dengan supervisor di Ruang Tulip 2A pelaksanaan


supervisi masih bersifat situasional (tidak langsung). Sedangkan berdasarkan hasil
wawancara dengan perawat pelaksana di ruang Tulip 2A mengatakan bahwa tidak
mengetahui pelaksanaan supervisi.
b. Tujuan
Tujuan Umum
Mampu mengaplikasikan supervisi dalam lingkup tanggung-jawab sebagai
tindakan supervisor keperawatan, terutama dalam melakukan supervisi terhadap
perawat (Katim) dalam melakukan asuhan keperawatan

Tujuan Khusus
1) Mampu menyusun, melaksanakan atau menetapkan tujuan supervisi
2) Mampu mempersiapkan instrument tindakan keperawatan
3) Mampu menilai kinerja perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan
4) Mampu memberikan masukan terhadap staf
5) Mampu memberikan follow up terhadap hasil supervisi terhadap staf
6) Mampu melaksanakan dokumentasi hasil supervise.
c. Masalah
Supervisi yang dilakukan belum optimal dimana sifat pelaksanaannya
masih bersifat situasional.
d. Target
1) Supervisi dilakukan secara terorganisir dan rutin dalam kurun waktu tertentu
2) Supervisi dinyatakan melalui petunjuk, peraturan, uraiain tugas dan standar
3) Supervisi terdokumentasikan dengan baik dan benar
e. Program kerja
1)Rencana strategi
-

Mengajukan proposal pelaksanaan supervisi

Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan.

Menentukan materi supervisi keperawatan

Merevisi format supervisi

65

Melaksanakan supervisi keperawatan bersama-sama perawat ruangan.

Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan

2) Kriteria evaluasi
-

Struktur

Menentukan penanggung-jawab supervisi keperawatan

Menyusun konsep supervisi keperawatan

Menentukan materi supervisi

Proses

Melaksanakan supervisi keperawatan bersama perawat ruangan dan


supervisor

Mendokumentasikan hasil pelaksanaan supervisi keperawatan

Hasil

Mahasiswa mampu melaksanakan supervisi secara optimal

Supervisor mengevaluasi hasil supervisi

Supervisor memberikan reward/feed back pada PP dan PA

3)Pengorganisasian
Penanggung-jawab
Waktu

: Rinny Cahyaneng Widhi, S.Kep

: Selama masa role play

3. Timbang Terima
a. Pengertian
Timbang terima (operan) adalah merupakan teknik atau suatu cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan
klien.
b. Tujuan
1) Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien
2) Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas
3)
4)
5)
6)

berikutnya
Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya
Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara paripurna.
Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat.
Akan terjalin suatu hubungan kerjasama yang bertanggung jawab antar

anggota tim perawat.


7) Terlaksananya asuhan keperawatan terhadap klien yang berkesinambungan
c. Manfaat

65

1) Dapat menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindak lanjuti oleh


perawat pada shift berikutnya.
2) Dapat melakukan cross check ulang tentang hal-hal yang dilaporkan dengan
keadaan klien yang sebenarnya.
3) Klien dapat menyampaikan masalahnya secara langsung bila ada yang
belum terungkap.

d. Metode
1)
Perawat yang bertanggung jawab terhadap klien melaporkan langsung
kepada perawat penanggung jawab berikutnya. Cara ini memberikan
kesempatan diskusi yang maksimal untuk kelanjutan dan kejelasan rencana
keperawatan.
2)
Pelaksanaan timbang terima dapat juga dilakukan di ruang perawat
kemudian dilanjutkan dengan berkeliling mengunjungi klien satu persatu
e. Langkah-Langkah
1) Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap
2) Shift yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan halhal apa yang akan disampaikan
3) Perawat primer menyampaikan kepada penanggung jawab shift yang
selanjutnya meliputi :
- Kondisi atau keadaan klien secara umum
- Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan
- Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan
4)
Penyampaian operan diatas (point c) harus dilakukan secara jelas dan
tidak terburu-buru
5)
Perawat primer dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien
f. Prosedur Timbang Terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :
1)Persiapan
- Kedua kelompok sudah dalam keadaan siap
- Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
2)Pelaksanaan
Dalam penerapan sistem SP2KP : Timbang diterima dilaksanakan oleh
Perawat kepada Perawat yang mengganti jaga pada shift berikutnya :
-

Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift / operan


Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima
dengan mengkaji secra komprehensif yang berkaitan tentang masalah

65

keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan


serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan
- Perawat yang melaksanakan timbang terima mengkaji secara penuh
terhadap masalah, kebutuhan dan segenap tindakan yang telah
dilaksanakan serta hal-hal yang penting lainnya selama masa perawatan
( tanggung jawab )
- Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap
sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada

perawat jaga berikutnya


Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :
Identitas klien dan diagnosa medis
Masalah keperawatn yang kemungkinan masih muncul
Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan (secara umum)
Intervensi kolaboratif dan dependensi
Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya, misalnya operasi, pemeriksaan laboraturium / pemeriksaan
penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang

tidak dilaksanakan secara rutin


Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi, tanya
jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang ditimbang terimakan

dan berhak menanyakan mengenai hal-hal yang kurang jelas


Penyampaian pada saat timbang terima secara singkat dan jelas
Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali

pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci
Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku

laporan ruangan oleh perawat primer


3)
Hal-hal yang perlu Diperhatikan
Dilaksanakan tepat waktu pada saat pergantian dinas yang disepakati.
Dipimpin oleh penanggung jawab klien / perawat primer.
Diikuti oleh semua perawat yang telah dan akan dinas.
Adanya unsur bimbingan dan pengarahan dari penanggung jawab.
Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematik dan

menggambarkan kondisi klien pada saat ini serta kerahasiaan klien.


Timbang terima harus berorientasi pada masalaha keperawatan yang ada
pada klien, dengan kata lain informasi yang diberikan berawal dari
masalahnya terlebih dahulu (setelah diketahuimelalui pengkajian), baru
kemudian terhadap tindakan yang telah dilakukan dan belum dilakukan serta
perkembangan setelah dilakukan tindakan.

65

Timbang terima dilakukan didekat klien, menggunakan volume suara yang


pelan dan tegas (tidak berbisik) agar klien disebelahnya tidak mendengarkan
apa yang dibicarakan untuk menjaga privacy klien, terutama mengenai halhal yang perlu dirahasiakan sebaiknya tidak dibicarakan secara langsung di

dekat klien.
Bila ada informasi yang mungkin membuat klien terkejut sebaiknya jangan
dibicarakan didekat klien tetapi diruang perawat.

4) Pengorganisasian

Penanggung-jawab

: Anes Fikri Haekal, S.Kep

Waktu

: Selama masa role play

4. Ronde Keperawatan
a. Definisi
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien
yang dilaksanakan oleh perawat, disamping klien dilibatkan untuk membahas dan
melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus
dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat associate
yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim.
b.
1)
2)
3)
4)
5)

Karakteristik
Klien dilibatkan secara langsung
Klien merupakan fokus kegiatan
Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama
Kosuler memfasilitasi kreatifitas
Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat

primer dalam meningkatkan


6) Kemampuan dalam mengatasi masalah.
c. Tujuan
1) Tujuan Umum
Menyelesaikan masalah klien yang belum teratasi.
2) Tujuan Khusus
- Menumbuhkan cara berpikir secara kritis dan sistematis
- Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari
-

masalah klien.
Meningkatkan validitas data klien.
Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan
Menilai kemampuan justifikasi.
Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.
Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana
keperawatan.

65

asuhan

d.
-

Manfaat
Masalah klien dapat teratasi
Kebutuhan klien dapat terpenuhi
Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional
Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan
Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat dan

benar
e. Kriteria Klien
- Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah
dilakukan tindakan keperawatan
- Klien dengan kasus baru atau langka
f. Metode
- Diskusi
- Demonstrasi
g. Alat bantu
- Sarana diskusi: buku, polpen
- Status/ Dokomentasi keperawatan klien
- Materi yang disampaikan secara lisan
h. Target
Ronde Keperawatan dapat berjalan sesuai dengan alur dan syarat
dilaksanakannya ronde serta dapat terlaksana berkala.
i. Langkah-langkah Ronde Keperawatan
Langkah-langkah yang diperlukan dalam ronde keperawatan adalah sebagai
berikut :
1) Praronde
Menentukan kasus dan topik (masalah yang tidak teratasi dan masalah yang

langka
Menentukan tim ronde
Mencari sumber atau literatur
Membuat proposal
Mempersiapkan klien imformed consent dan pengkajian
Diskusi tentang diagnosis keperawatan, data yang mendukung, asuhan

keperawatan yang dilakukan dan hambatan selama perawatan


2) Pelaksanaan Ronde
Penjelasan tentang klien oleh Perawat primer dalam hal ini penjelasan
difokuskan Pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau

telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan


Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau kepala ruangan

tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan


3). Pasca Ronde

65

Evaluasi, revisi dan perbaikan


Kesimpulan dan rekomendasi

penegakkan

diagnosis;

intervensi

keperawatan selanjutnya
j. Peran Masing-Masing Anggota Tim
1) Peran perawat primer dan perawat pelaksana.
Menjelaskan data klien yang mendukung masalah klien.
Menjelaskan diagnosa keperawatan.
Menjelaskan intervensi yang akan dilakukan.
Menjelaskan hasil yang didapat.
Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.
Menggali masalah-masalah klien yang belum terkaji
2) Peran perawat Konselor
Memberikan justifikasi
Memberikan reinforcement.
Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta
tindakan yang rasional.
Mengarahkan dan koreksi.
Mengintegrasi teori dan konsep yang telah dipelajari.
k. Kriteria Evaluasi
1) Strategi
Menentukan Penanggung jawab Ronde Keperawatan.
Menentukan kasus yang akan dirondekan.
Membuat informconsent kepada klien dan keluarga.
2) Proses
Melaksanakan ronde Keperawatan bersama-sama Kepala Ruangan dan staf

Keperawatan
Penjelasan tentang klien oleh Perawat Primer, dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah Keperawatan dan intervensi yang telah

dilaksanakan, tetapi belum mampu mengatasi masalah klien.


Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
Pemberian masukan solusi tindakan yang lain yang mampu mengatasi

3)
a)
b)
c)

masalah klien tersebut.


Hasil
Klien merasa puas dengan hasil pelayanan
Masalah klien dapat teratasi
Perawat dapat:
Menumbuhkan cara berpikir secara kritis dan sistematis
Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari

masalah klien.
Meningkatkan validitas data klien.
Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan

65

Menilai kemampuan justifikasi.


Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.
Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi

keperawatan.
Dapat dirumuskan tindakan Keperawatan untuk menyelesaikan masalah

rencana

asuhan

klien tersebut.
Hasil diskusi yang disampaikan dapat ditindak lanjuti dan dilaksanakan.
l. Masalah Yang ditemukan di ruang
Perawat diruangan mengatakan tidak pernah melaksanakan ronde
keperawatan selama ini di ruang anak Tulip IIA hanya ronde keperawatan pada
klien yang memiliki kondisi dengan kebutuhan khusus.
Pengorganisasian
Penanggung-jawab
Waktu

:Elfanizar Yusandi, S.Kep

: Selama masa role play

5. Sentralisasi Obat
a Pendahuluan
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang prima
dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus segera direspon oleh perawat.
Respon yang ada harus bersifat kondusif dengan mempelajari langkah-langkah
konkrit dalam pelaksanaannya (Nursalam, 2002). Salah satunya adalah dalam
pengelolaan obat klien. Teknik pengelolaan obat secara sentralisasi merupakan
pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan pada klien diserahkan
sepenuhnya kepada perawat. Pengeluaran dan pembagian obat juga sepenuhnya
dilakukan oleh perawat.
Sentralisasi obat diharapkan dapat diberikannya terapi farmakologi
(pengobatan) secara tepat klien, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara pemberian
sehingga akan memperpendek waktu rawat inap. Sentralisasi obat di ruang anak
tulip IIA dilaksanakan pada obat injeksi yang disimpan oleh petugas ditempat
khusus di ruang perawat dan diberikan menurut jadwal pemberian, sedangkan
obat oral diberikan kepada klien/keluarganya dan perawat hanya memberitahukan
cara pemberiaannya. Resep dari dokter diberikan ke keluarga klien untuk
dibelikan di apotek, setelah mendapatkan obatnya diserahkan ke perawat. Karena
hal tersebut diatas, kelompok A berencana akan mensosialisasikan dan

65

melaksanakan sentralisasi obat yang mencakup obat injeksi maupun oral karena
pengelolaan sentralisasi yang optimal merupakan salah satu usaha untuk
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai kerugian pada
klien. Resistensi tubuh terhadap obat dan resiko resistensi kuman penyakit dapat
terjadi jika konsumsi obat oleh penderita tidak terkontrol dengan baik. Kerugian
lain yang bisa terjadi adalah terjadinya kerusakan organ tubuh atau timbulnya efek
samping obat yang tidak diharapkan. Selain itu penggunaan obat yang tidak tepat
dapat menimbulkan kerugian klien secara ekonomi. Oleh karena itu diperlukan
suatu cara yang sistematis sehingga penggunaan obat benar-benar dapat dikontrol
oleh perawat dan klien/keluarga serta resiko kerugian baik secara material
maupun non material dapat dihindari, pada akhirnya kepercayaan klien terhadap
perawat juga semakin meningkat. Berdasarkan hal tersebut, untuk lebih
mengoptimalkan pelaksanaan keperawatan di ruang anak Tulip IIA, kami akan
melaksanakan sentralisasi obat di ruangan tersebut.
b

Tujuan
1) Tujuan umum

Mengaplikasikan peran perawat primer dalam pengelolaan sentralisasi obat dan


mendokumentasikan hasil pengelolaan sentralisasi obat.
2) Tujuan khusus
-

Mampu meningkatkan pemahaman perawat ruang Tulip IIA dan mahasiswa


dalam menerapkan pemberian obat secara tepat dan benar sesuai dengan
prinsip 6 T dan 1 W ( tepat klien, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu, tepat
cara pemberian, tepat dokumentasi dan waspada efek samping obat) serta
mendokumentasikan hasil pengelolaan.

Mampu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan perawat


ruang Tulip IIA dan mahasiswa dalam mengelola sentralisasi obat

Mampu meningkatkan kepatuhan klien di ruang Tulip IIA dalam


penggunaan obat sesuai dengan program terapi.

Mampu meningkatkan

kepuasan klien dan keluarga atas

asuhan

keperawatan yang diberikan.


-

Meningkatkan kepercayaan klien dan keluarga terhadap perawat dalam


pengelolaan sentralisasi obat.

65

c Manfaat
1) Bagi klien
-

Tercapainya kepuasan klien yang optimal terhadap pelayanan keperawatan

Klien dapat terhindar dari resiko resistensi tubuh terhadap obat

2) Bagi perawat
-

Tercapainya kepuasan kerja yang optimal

Dapat mengontrol secara langsung obat-obatan yang dikonsumsi klien

Meningkatkan kepercayaan klien dan keluarga kepada perawat.

3) Bagi institusi
-

Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan sentralisasi obat

Terciptanya model asuhan keperawatan professional

d
1)
-

Peran
Perawat primer dan perawat associate
Menjelaskan tujuan dilaksanakannya sentralisasi obat.
Menjelaskan manfaat dilaksanakannya sentralisasi obat.
Melakukan tindakan kolaborasi dalam pelaksanaan program terapi.
Melakukan pencatatan dan kontrol terhadap pemakaian obat selama klien

dirawat.
2) Perawat primer lain dan supervisor
- Memberikan perlindungan terhadap klien terhadap tindakan malpraktek
- Menilai kepatuhan klien terhadap program terapi
- Memotivasi klien untuk mematuhi program terapi
e Pelaksanaan
Kegiatan sentralisasi obat akan dilaksanakan pada minggu kedua untuk uji
coba dan aplikasi pada minggu ketiga dan keempat selama mahasiswa praktek di
ruang Tulip IIA. Ruangan yang digunakan dalam mengelola sentralisasi obat
adalah ruang nurse station dan ruang perawatan. Metode yang digunakan adalah
pendekatan secara langsung dengan klien dan keluarga dengan komununikasi
terapeutik untuk meyakinkan klien agar bersedia mengikuti pengelolaan
sentralisasi obat dan menggunakan format penelolaan sentralisasi obat
1) Teknik pengelolaan sentralisasi obat
Teknik pengelolaan sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh
obat yang diberikan kepada klien baik obat oral maupun obat injeksi diserahkan
sepenuhnya kepada perawat. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala
ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan kepada staf yang ditunjuk.
Pengeluaran dan pembagian obat tersebut dilakukan oleh perawat dimana klien

65

atau keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat
tersebut.
Penerimaan obat
-

Resep obat dari dokter yang diserahkan pada klien/ keluarga diberikan pada
depo farmasi. Obat yang telah diresepkan kemudian disediakan oleh depo

farmasi ruangan dan disimpan.


Obat yang telah diterima oleh perawat dicatat di format serah terima obat
dan format pemberian obat oral dan injeksi yang meliputi, identitas klien,
no. Reg, diagnosa medis, nama obat, dosis, rute pemberian, tanggal
penerimaan dan jumlah obat yang diterima dan kemudian diberikan paraf.
Kolom paraf pada format pemberian obat ditanda tangani oleh perawat.
Sementara kolom paraf di format serah terima obat ditandatangani oleh

perawat dan keluarga.


Kemudian obat yang sudah diterima disimpan di dalam kotak obat dan
dikelola oleh perawat.

Pembagian obat
-

Obat-obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat


dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam format pemberian obat
oral/ injeksi dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi yang
diinstruksi dokter (status rekam medik).

Sebelum obat diberikan pada klien, perawat harus melakukan cross check
dengan perawat lain untuk meminimalkan kesalahan dalam pemberian obat.
Kemudian perawat menjelaskan macam obat, manfaat, dosis obat, cara
pemberian, kontra-indikasi dan jumlah obat pada klien/ keluarga. Usahakan
tempat obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi oleh klien dan
observasi adanya efek samping setelah minum obat. Kemudian perawat
yang memberikan obat dan melakukan cross check obat membubuhkan
tanda-tangan pada kolom paraf.

Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap shift oleh perawat yang
bertugas berdasarkan format pemberian obat. Obat yang hampir habis akan
diinformasikan kepada keluarga oleh perawat dan kemudian perawat akan
memintakan resep kepada dokter penanggung jawab klien.

65

Jenis terapi cairan yang telah terpakai dan injeksi yang telah terpakai di catat
dalam lembar pendokumentasian

Penambahan obat baru


-

Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau jadwal


pemberian obat, maka informasi ini akan dimasukkan dalam format
pemberian obat oral/ injeksi dan diinformasikan pada keluarga.

Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja), maka
dokumentasi dilakukan pada format pemberian obat oral / injeksi.

Obat khusus
-

Obat disebut khusus apabila sediaan yang memiliki harga yang cukup
mahal, memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping
yang cukup besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu atau sewaktu
saja.

Pemberian obat khusus dilakukan dengan menggunakan format pemberian


obat oral/ injeksi khusus untuk obat tersebut dan dilakukan oleh perawat
primer.

Informasi yang diberikan kepada klien/keluarga meliputi nama obat,


kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab
pemberian dan tempat obat, sebaiknya diserahkan atau ditunjukkan kepada
keluarga setelah pemberian obat. Usahakan terdapat saksi dari keluarga pada
saat pemberian obat.

Pengembalian obat
Bila klien pulang atau pindah ruangan dan obat masih sisa maka obat
dikembalikan

kepada

klien/keluarga

dengan

klien/keluarga serta tanggal dan waktu penyerahan.


2) Instrumen
a. Surat persetujuan pengelolaan sentralisasi obat
b. Lemari / kotak sentralisasi obat, tempat obat dan baki
c. Buku sentralisasi obat ( buku serah terima obat )

65

ditandatangani

oleh

d. Format pemberian obat oral dan injeksi.


DOKTER
Pendekatan Perawat
KLIEN / KELUARGA

KLIEN / KELUARGA

Surat persetujuan sentralisasi obat dari perawat


Lembar serah terima obat

FARMASI / APOTIK

Buku serah terima / masuk obat


PP / PERAWAT YANG MENERIMA

PENGATURAN DAN PENGELOLAAN OLEH PERAWAT

KLIEN / KELUARGA

Gambar 3.1. Diagram alur pelaksanaan sentralisasi obat (Nursalam, 2002)


Pengorganisasian
Penanggung-jawab

: Risa Fariyana, S.Kep

Waktu

: Selama masa role play

6. Dokumentasi Keperawatan
a. Latar Belakang
Dokumentasi merupakan catatan otentik dalam penerapan manajemen asuhan
keperawatan professional. Perawat professional diharapkan dapat menghadapi
tuntutan tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap segala tindakan yang
dilaksanakan. Kesadaran masyarakat terhadap hukum semakin meningkat
sehingga dokumentasi yang lengkap dan jelas sangat dibutuhkan.

65

Komponen penting dalam pendokumentasian adalah komunikasi, proses


keperawatan dan standar asuhan keperawatan. Efektivitas dan efisiensi sangat
bermanfaaat dalam mengumpulkan informasi yang relevan serta akan
meningatkan kualitas dokumentasi keperawatan.
Salah satu bentuk kegiatan keperawatan adalah dokumentasi keperawatan
professional yang akan tercapai dengan baik apabila sistem pendokumentasian
dapat dilakukan dengan benar. Kegiatan pendokumentasian meliputi keterampilan
berkomunikasi dan keterampilan mendokumentasikan proses keperawatan sesuai
dengan standar asuhan keperawatan.
Konsep solusi terhadap masalah diatas adalah perlu disusunnya standar
dokumentasi keperawatan agar dapat digunakan sebagai pedoman bagi perawat
dengan harapan asuhan keperawatan yang dihasilkan mempunyai efektivitas dan
efisiensi.
b. Tujuan
1) Tujuan umum
Menerapkan sistem dokumentasi keperawatan berkesinambungan di Ruang Anak
2)
-

Tulip IIA Rumah Sakit Umum Daerah Ulin, Banjarmasin.


Tujuan khusus
Mendokumentasikan pengkajian keperawatan dengan tepat dan benar
Mendokumentasikan diagnosis keperawatan dengan tepat dan benar
Mendokumentasikan perencanaan keperawatan dengan tepat dan benar
Mendokumentasikan pelaksanaan keperawatan dengan tepat dan benar
Mendokumentasikan evaluasi keperawatan dengan tepat dan benar
Mendokumentasikan pengelolaan logistic dan obat
Mendokumentasikan HE (health education) melalui kegiatan perencanaan

pulang
Mendokumentasikan timbang terima (pergantian shift / jaga)
Mendokumentasikan kegiatan supervisi
Mendokumentasikan kegiatan penyelesaian kasus melalui

ronde

keperawatan.
c. Manfaat
- Sebagai alat komunikasi antar perawat dan dengan tenaga kesehatan lain.
- Sebagai dokumentasi legal dan mempunyai nilai hukum.
- Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
- Sebagai referensi pembelajaran dalam peningkatan ilmu keperawatan.
- Mempunyai nilai riset penelitian dan pengembangan keperawatan.
d. Pelaksanaan
Kegiatan dokumentasi dilaksanakan pada minggu ke II-IV, secara garis besar
model pendokumentasian PIE meliputi :

65

a.

b.

1. Pengkajian Keperawatan
Pengumpulan data, kriteria :
Legal
Lengkap
Akurat
Relevan
Baru
Pengelompokan data, kriteria :
Data biologis, meliputi hasil dari (1) observasi tanda-tanda vital dan
pemeriksaan fisik melalui Inspeksi, Perkusi, Palpasi, Auskultasi; (2)

pemeriksaan diagnostik/penunjang meliputi laboratorium dan radiologi.


Data psikologis, sosial dan spiritual melalui wawancara dan observasi.
Format pengkajian data awal menggunakan model ROS (review of system)
yang meliputi data demografi klien, riwayat keperawatan, observasi, dan
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang/diagnostik.

2. Diagnosis Keperawatan
Kriteria :
a. Status kesehatan dibandingkan

dengan

norma

untuk

menentukan

kesenjangan.
b. Diagnosis keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan

1)
2)
3)
b.

pemenuhan klien.
c. Diagnosis keperawatan dibuat sesuai dengan wewenang perawat.
d. Komponen diagnosis keperawatan terdiri atas P-E-S.
3. Perencanaan
Komponen perencanaan keperawatan terdiri atas :
Prioritas masalah
Kriteria :
Masalah yang mengancam kehidupan merupakan prioritas utama.
Masalah yang mengancam kesehatan seseorang merupakan prioritas kedua.
Masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga.
Tujuan asuhan keperawatan, memenuhi syarat SMART. Kriteria NOC (Nursing

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Outcomes Criteria) disesuaikan standar pencapaian :


Tujuan dirumuskan secara singkat
Disusun berdasarkan diagnosis keperawatan
Spesifik pada diagnosis keperawatan
Dapat diukur
Dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
Adanya target waktu pencapaian

a.

65

c. Rencana tindakan didasarkan pada NIC (Nursing Intervention Classification).


Jenis rencana tindakan keperawatan mengandung 3 komponen, meliputi DET
tindakan keperawatan :
1) Diagnosis / observasi
2) Pendidikan ksehatan (health education)
3) Tindakan independen, dependen, interdependen.
Kriteria :
1) Berdasarkan tujuan asuhan keperawatan.
2) Merupakan alternatif tindakan secara tepat.
3) Melibatkan klien dan keluarga.
4) Mempertimbangkan latar belakang social budaya klien dan keluarga.
5) Mempertimbangkan kebijakasanaan dan peraturan yang berlaku.
6) Menjamin rasa aman dan nyaman bagi klien.
7) Disusun dengan mempertimbangkan lingkungan, sumberdaya, dan fasilitas
yang ada.
8) Harus berupa kalimat instruksi, ringkas, tegas, dan penulisan menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti.
9) Menggunakan formulir yang baku.
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang
ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal yang
mencakup aspek peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan dengan
mengikutsertakan klien dan keluarga.
Implementasi

keperawatan

berorientasi

pada

15

komponen

dasar

keperawatan yang dikembangkan dengan prosedur teknis perawatan.


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kriteria :
Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan.
Mengamati keadaan bio-psiko-sosial-spiritual klien.
Menjelaskan setiap tindakan keperawatan kepada klien dan keluarga.
Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Menggunakan sumber daya yang ada.
Menunjukkan sikap sabar dan ramah dalam berinteraksi dengan klien dan

g.
h.
i.
j.

keluarga.
Mencuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan keperawatan.
Menerapkan prinsip-prinsip aseptik dan antiseptik.
Menerapkan etika keperawatan.
Menerapkan prinsif aman, nyaman, ekonomis, privasi dan mengutamakan

keselamatan klien.
k. Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan.
l. Merapikan klien dan alat setiap selesai melakukan tindakan.

65

m. Melaksanakan tindakan keperawatan pada prosedur teknis yang telah


ditentukan.
Prosedur keperawatan umum maupun khusus dilaksanakan sesuai dengan
prosedur tetap yang telah disusun.
5. Evaluasi
Dilakukan secara periodic, sistematis, dan berencana untuk menilai
perkembangan klien setelah tindakan keperawatan.
Kriteria :
a. Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi.
b. Evaluasi hasil menggunakan indicator perubahan fisiologis dan tingkah laku
klien.
c. Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan untuk diambil tindakan
selanjutnya.
d. Evaluasi melibatkan klien dan tim kesehatan lain.
e. Evaluasi dilakukan dengan standar (tujuan yang ingin dicapai dan standar
praktik keperawatan)
Komponen evaluasi, meliputi aspek :
a. Kognitif (pengetahuan klien tentang penyakit dan tindakan)
b. Afektif (sikap klien terhadap tindakan yang dilakukan)
c. Psikomotor (Tindakan / prilaku klien dalam upaya penyembuhan)
d. Perubahan biologis (tanda vital, system, dan imunologis)
Keputusan dalam evaluasi setelah dilakukannya tindakan meliputi :
a. Masalah teratasi
b. Masalah tidak teratasi, harus dilakukan pengkajian dan perencanaan
tindakan ulang
c. Masalah teratasi sebagian, perlu modifikasi dari rencana tindakan
d. Timbul masalah baru, lakukan Reassesment.
Pengorganisasian

Penanggung-jawab

: Annisa Febriana, S.Kep

Waktu

: Selama masa role play

7. Discharge Planning
a. Latar Belakang
Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya klien mendapatkan
pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam
proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya
sampai klien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Discharge Planning

65

menunjukkan beberapa proses formal yang melibatkan team atau memiliki


tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok
lainnya (RCP,2001). Perawat adalah salah satu anggota team Discharge Planner,
dan sebagai discharge planner perawat mengkaji setiap klien dengan
mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi
masalah actual dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama klien dan
keluarga, memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara
individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi klien secara
optimal dan mengevaluasi kesinambungan.
Discharge Planning dimulai sejak klien masuk RS hingga klien keluar RS,
yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian klien dalam melakukan
perawatan di rumah serta dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan dalam mmeperbaiki dan mempertahankan status kesehatan.
Discharge planning merupakan suatu proses terintegrasi yang terdiri dari fasefase

yang

ditujukan

untuk

memberikan

asuhan

keperawatan

yang

berkesinambungan. Perencanaan klien pulang bertujuan untuk memandirikan


klien saat di rumah. Dalam pelaksanaan dan pendokumentasian perencanaan
pulang diperlukan komunikasi yang efektif dan tepat antara klien dan perawat
sehingga diharapkan tujuan dari Discharge Planning dapat tercapai.
Discharge

Planning

selama

ini

sudah

dilakukan

tetapi

belum

didokumentasikan sedangkan yang diberikan kepada klien atau keluarga berupa


surat kontrol pengobatan lanjutan dari medis. Rumah sakit belum menyediakan
format discharge planning dan ini menjadi kendala untuk terlaksananya
pelaksanaan discharge planning.

b. Tujuan
Tujuan

umum :

untuk memberikan

asuhan

keperawatan

berkesinambungan.
Tujuan Khusus :
1). Menyiapkan klien secara fisik, psikologis dan sosial.
2). Menyiapkan kemandirian klien.
3). Membantu rujukan klien pada sistem pelayanan yang lain.

65

yang

4). Membantu klien dan keluarga agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan
sikap dalam mempertahankan status kesehatan klien.
c. Manfaat
1. Bagi perawat atau mahasiswa
Dapat melakukan asuhan keperawatan yang terintegrasi
Melatih komunikasi efektif antara perawat dan klien
Perawat dapat melaksanakan perannya misalnya sebagai edukator,
2.

3.

fasilitator.
Bagi institusi
Meningkatkan mutu pelayanan
Memperbaiki dan mempertahankan status kesehatan masyarakat
Bagi klien
Meningkatkan kemandirian klien dalam melakukan perawatan di rumah
Meningkatkan pengetahuan, sikap, serta keterampilan dalam memperbaiki

dan mempertahankan status kesehatan.


d. Metode
Metode yang digunakan yaitu :
1. Diskusi
2. Tanya Jawab
3. Feed Back
e. Media
Media yang digunakan yaitu :
1) Status klien
2) Sarana dan prasarana
3) Alat tulis
4) Kartu Discharge Planning
f. Pelaksanaan Kegiatan
Tabel 3.2 Tahap Pelaksanaan Discharge Planning
Tahap
Persiapan

Kegiatan
PP 1 sudah siap dengan status klien dan
format discharge planning
Menyebutkan masalah klien
Menyebutkan hal-hal yang perlu

Waktu
10

Tempat
Ners

menit

Station

Pelaksana
PP 1

diajarkan pada klien dan keluarga.

Kepala ruangan memeriksa


KaRu

kelengkapan administrasi

65

Tahap
Pelaksanaan

Kegiatan
PP 1 menyampaikan pendidikan

Waktu
30

kesehatan, melakukan demonstrasi dan

menit

Tempat
Bed Klien

Pelaksana
PP 1

rekomendasi :
Diet
Aktivitas dan istirahat
Minum obat teratur
Perawatan diri.
PP 1 menanyakan kembali pada klien

tentang materi yang telah disampaikan

PP 1 mengucapkan terima kasih


Pendokumentasian.
g. Evaluasi
1. Struktur
a. Persiapan dilakukan pada saat klien masuk Ruang Anak Tulip IIA.
b. Koordinasi dengan pembimbing klinik dan akademik
c. Penyusunan proposal
d. Menetapkan kasus.
2. Proses
a. Kelancaran kegiatan
b. Peran serta perawat yang bertugas
3. Hasil
Informasi yang disampaikan dapat diterima oleh klien dan keluar.
Pengorganisasian

Penanggung-jawab

: Devi Indah Permata, S.Kep

Waktu

: Selama masa role play

65

Menyambut kedatangan klien


Orientasi ruangan, jenis klien,
peraturan & denah ruangan.
Memperkenalkan klien pada teman
sekamar, perawat, dokter & tenaga
kesehatan yang lain.
Melakukan pengkajian keperawatan

Klien MRS

Klien
Selama di RS

Klien KRS

Pemeriksaan klinis & pemeriksaan


penunjang yang lain.
Melakukan Asuhan Keperawatan
Penyuluhan kesehatan : penyakit,
perawatan, pengobatan, diet,
aktivitas.
Perencanaan pulang
Program HE :
Pengobatan / kontrol
Kebutuhan nutrisi
Aktivitas dan Istirahat

Penyelesai
an

Perawat
Dokter
Tim

Lain-lain :
Suratkontrol
Resep

Sisa obat

Monitoring oleh petugas kesehatan dan keluarga


Ask
Aske
s

Jamkesmas
/Jamkesda

Umum

Jamsostek/
Pihak III

Jamkesma
s Centre

GambarKasir
3.2 Alur Discharge Planning
8. Penerimaan Klien Baru
a. Pengerti
Penerimaan klien baru merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan
koprehensif melibatkan klien dan keluarga, dimana sangat mempengaruhi mutu,

65

kualitas pelayanan. Pemenuhan tingkat kepuasan klien dapat dimuali dengan


adanya suatu upaya perencanaan tentang kebutuhan asuhan keperawatan sejak
masuk sampai klien pulang. Penerimaan klien baru yang belum dilakukan sesuai
standar maka besar kemungkinan akan menurunkan mutu suatu kualitas
pelayanan yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kepercayaan klien
terhadap pelayanan suatu rumah sakit.
b. Tujuan
Tujuan umum : setelah dilakukan penerimaan klien baru diharapkan klien
baru di Ruang Tulip IIA mampu melakukan adapasi ruangan dengan lebih baik,
sehingga tingkat kecemasan klien dapat berkurang.
Tujuan Khusus
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Menerima dan menyambut kedatangan klien dengan hangat dan terapeutik.


Menjelaskan tentang oreientasi ruangan.
Menjelaskan tentang perawatan (termasuk sentralisasi obat)
Menjelaskan tentang medis (dokter yang enangani dan jadwal kunjungan)
Menjelaskan tentang tata tertib ruangan.
Melakukan/melengkapi pengkajian klien baru.
c. Pengorganisasian
Pelaksanaan penerimaan klien baru:
Tanggal

: Juli - Juli 2015

Pelaksana : Karu/Katim/PA
Tempat

: Ruang tulip IIA

Sasaran

: Klien Baru masuk

Materi

1. Perkenalan diri perawat yang menerima


2. Perkenalan perawat yang bertanggung jawab
3. Penjelasan tentang penyakit klien
4. Perkenalan dengan dokter yang merawat dan tenaga non perawat
5. Memperkenalkan klien dengan klien sekamar
6. mengorientasikan klien/keluarga dengan ruangan
7. Menjelaskan klien cara mencegah penularan penyakit
d. Metode:
1. Penjelasan
2. Diskusi
3. Tanya jawab
e. Media :
1. Lembar klien masuk
2. lembar dokumentasi pengkajian asuhan keperawatan
3. Nursing kit

65

4. Lembar informed Consent Setralisasi Obat


5. Lembar tingkat kepuasan klien
Pengorganisasian
Penanggung-jawab

: Resvia Arwinda, S.Kep

Waktu

: Selama masa role play

f. Pelaksanaan Penerimaan Klien Baru


Tabel 3.3 Tahap pelaksanaan penerimaan klien baru
1. Persiapan1) KARU memberitahu Katim bahwa akan ada klien baru
2) Katim menyiapkan hal-hal yang diperlukan dalam penerimaan
klien baru, diantaranya : Lembar klien masuk RS, Lembar
format pengkajian klien baru, Nursing Kit, Lembar informed
Consent Setralisasi Obat, Lembar tingkat kepuasan klien,
3) Katim meminta bantuan PP mempersiapkan tempat tidur klien
baru
4) KARU menanyakan kembali pada Katim tentang kelengkapan
untuk menerima klien baru.
5) PP mnyebutkan hal-hal yang telah dipersiapkan.

65

2. Pelaksan1) KARU dan Katim menyambut klien dan keluarga dengan


aan

2)

3)
4)
5)
6)
7)

memberi salam serta memperkenalkan diri dan katim pada


klien/keluarga
Katim mengorientasikan tempat dan fasilitas yang ada di ruang
Seruni, kemudian Katim mengisi lembar klien masuk serta
menjelaskan mengenai beberapa hal yang tercantum dalam
lembar penerimaan klien baru.
Di tempat tidur klien, Katim melakukan anamnesa dengan
dibantu oleh PP
Ditanyakan kembali pada klien dan keluarga mengenai hal-hal
yang belum dimengerti.
Katim, klien dan keluarga menandatangani lembar penerimaan
klien baru
Perawat menyerahkan kepada klien lembar kuesioner tingkat
kepuasan klien.
Katim dan PP kembali ke Nurse station.

3. Penutup1) KARU memberikan reward pada Katim dan PP


2) KATIM merencanakan Intervensi keperawatan

Alur Penerimaan Klien Baru


Pr

Kepala ruangan memberitahu Katim akan ada klien


Katim menyiapkan:
1. Lembar klien masuk RS
2. Lembar format pengkajian klien baru
3. Nursing Kit
4. Lembar informed Consent Setralisasi Obat
5. Lembar tingkat kepuasan klien
6. Kartu penunggu klien

Pelaksanaan

Karu, Katim, dan PP menyambut klien baru


Anamnesa klien baru oleh Katim
Katim menjelaskan segala sesuatu yang tercantum
dalam lembar penerimaan klien baru

65
Pasca

Terminasi
Evaluasi
Gambar 3.3 Alur penerimaan klien baru

65

BAB IV
PELAKSANAAN

A. Sumber Daya Manusia (M1)


Pengorganisasian kegiatan praktik mahasiswa Program Profesi Ners PSIK FK
UNLAM Kelompok A Stase Manajemen Keperawatan dilakukan pada tanggal 6 Juli
2015, meliputi pembuatan jadwal rencana kegiatan dan peran harian sebagai Kepala
Ruangan, Supervisor, Ketua Tim, dan Perawat Pelaksanaan, penentuan kamar
kelolaan di Ruang Tulip II A (Ruang Anak), persiapan berkas dan peralatan yang
akan digunakan di Nurse Station. Pembuatan nama bed, pembuatan jadwal dinas,
pembuatan peraturan jadwal dinas, pengorganisasian letak nurse station.
Pelaksanaan Role play penerapan SP2KP oleh mahasiswa di Ruang Tulip II A
dilaksanakan selama 20 hari yaitu pada tanggal 06 Juli 01 Agustus 2015 dengan
pembagian tugas sesuai lampiran. Mahasiswa kelompok A terdiri dari 8 orang
sehingga pembagian peran tiap hari yaitu Kepala Ruangan, Supervisor, Ketua Tim
serta Perawat Pelaksana (Pagi, Siang, dan Malam) dan perawat yang libur setiap hari
2 orang.
Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengelola 4 blok (blok
observasi,infeksius & nefrologi,respirologi & gastrologi, gizi & kardiologi)
.Walaupun mahasiswa manajemen berjumlah 8 orang masih mampu mengelola 4 blok
dengan jumlah bed 24 dengan sistem pembagian dinas yang sudah diterapkan
kelompok. Jam pelayanan untuk dinas pagi 6 jam, dinas siang 7 jam, dan dinas
malam 11 jam pada dinas malam. Rata-rata jam pelayanan keperawatan mahasiswa
yaitu 43 jam/minggu.

B. Sarana dan Prasarana (M2)


Pada pelaksanaan Role play di Ruangan Tulip II A selama 3 minggu mahasiswa
stase manajemen melakukan koordinasi dengan beberapa bidang terkait yaitu :
99

1. Pada tanggal 6 Juli 2015 berkoordinasi dengan kepala ruangan mengenai


proposal rencana pengadaan ruang terapi bermain, membenahi ruangan untuk
ruang terapi bermain, merapikan sarana dan prasarana di ruangan anak Tulip IIA
(pembersihan WC/wastafel oleh pihak terkait, pengelompokkan arsip, blanko dan
formulir klien, pengelompokkan obat-obatan, papan nama bed klien, pengadaan
banner pengelompokan tugas per klien, mengevaluasi jumlah linen diruang anak
tulip IIA, menjalankan penggantian seprei tiap pagi)
2. Pada tanggal 7 juli 2015 melakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam
pembenahan ruangan untuk terapi bermain (memindah bed ke gudang, mengecat
dinding)
3. Pada tanggal 11 Juli 2015 melakukan pengelompokkan arsip, blanko, dan fomulir
untuk klien.
4. Pada tanggal 14 Juli 2015 melakukan koordinasi dengan Cleaning Service dalam
membersihkan WC dan wastafel
5. Pada tanggal 23 juli 2015 melakukaan koordinasi dengan Kepala Ruangan
supervisor ruang Anak Tulip IIA dalam pembuatan banner pembagian tugas dan
klien yang dapat digunakan untuk morning report.
6. Pada tanggal 28 Juli 2015 berkoordinasi dengan pihak laundry dan looper
diruang anak Tulip IIA untuk mengevaluasi jumlah linen yang ada diruangan.
7. Pada tanggal 29 Juli 2015 melakukan pemasangan papan nama bed klien
berkoordinasi dengan mahasiswa dari institusi lain dan menjalankan pergantian
sprei setiap pagi hari.

C. Metode (M3)
1 Penerapan SP2KP
Kegiatan penerapan SP2KP dimulai dengan mengobservasi penerapan SP2KP
yang ada di ruang Tulip II A (Ruang Anak). Setelah itu dilanjutkan dengan
99

mempelajari penerapan SP2KP sesuai dengan teori yang ada. Kemudian


membandingkan penerapan SP2KP di ruangan dengan teori yang ada sehingga dapat
menerapkan SP2KP menurut teori dan juga dapat diterapkan di ruang Tulip II A.
Metode yang diterapkan di ruang Tulip II A adalah SP2KP modifikasi. Dalam
pelaksanaan role play asuhan keperawatan SP2KP mahasiswa yang berpraktik pada
stase manajemen akan berperan sebagai kepala ruangan, supervisor, perawat primer,
dan perawat pelaksana. Setiap harinya, yang bertugas menjadi kepala ruangan,
supervisor, perawat primer, dan perawat pelaksana akan bergiliran secara rutin
sehingga dapat berperan dan bertanggung jawab sesuai perannya. Pembagian tugas
setiap harinya terdiri dari 1 orang kepala ruangan, 1 orang supervisor, 1 perawat
primer, dan 1 orang perawat pelaksana yang berdinas pada 3 shift (pagi, sore dan
malam).
Kegiatan yang dilaksanakan pada role play SP2KP adalah timbang terima,
discharge planning, penerimaan klien baru, supervisi, sentralisasi obat, ronde
keperawatan, dan dokumentasi tindakan keperawatan. Semua kegiatan ini dilakukan
selama 2 minggu ( 06 Juli 01 Agustus 2015) dalam bentuk role play.
2

Timbang Terima
Sebelum dilakukan role play terlebih dahulu dibuat format timbang terima yang

dimodifikasi dengan catatan perkembangan keperawatan dan kolaborasi medic. Pada


tahap pelaksanaan hasilnya cukup efektif tidak menambah beban kerja perawat. Role
play timbang terima di ruang Tulip II A dipimpin oleh mahasiswa stase manajemen
dari tanggal 30 Juli 01 Agustus 2015. Supervisi terjadwal untuk timbang terima
dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2015 pukul 11.00-12.30 WITA di ruang Tulip II A
dengan menyampaikan kondisi dan keadaan klien, hal-hal yang sudah dilakukan
dalam asuhan keperawatan, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan klien yang
belum teratasi dan sudah teratasi, serta hal-hal yang penting yang harus ditindak
lanjuti. Pengorganisasian kegiatan timbang terima sebagai berikut:
Kepala Ruangan

: Anes Fikri Haekal, S.Kep

Supervisor

: Elfanizar Yusandi, S.Kep

Perawat Primer (pagi)

: Resvia Arwinda, S.Kep


99

Perawat Asosiet (pagi)

: Risa Fariyana, S.Kep

Perawat Primer (siang)

: Devi Indah Permata, S.Kep

Perawat Asosiet (malam)

: Annisa Febriana, S.Kep

Pembimbing Akademik

: Ichsan Rizany, S.Kep.,Ns.

Discharge Planning
Role play discharge planning dilakukan dari tanggal 7 Juli 01 Agustus 2015

pada klien yang direncanakan pulang dengan membuat format discharge planning
dan leaflet terlebih dahulu. Dalam proses discharge planning mahasiswa bekerjasama
dengan perawat ruang Tulip II A. Selama discharge planning klien dan keluarga
memperhatikan penjelasan dari perawat dengan sangat baik dan aktif bertanya
khususnya perawatan yang akan dijalani saat di rumah. Pelaksanaan discharge
planning dilakukan oleh ketua tim/perawat primer yang bertugas pada saat itu. Materi
leaflet yang tersedia untuk klien saat dischare planning yakni mengenai
bronkopnuemoni,pneumonia,diare,malnutrisi,PJB (penyakit jantung bawaan), PGK
(penyakit

ginjal

kronik),DBD

(demam

berdarah

dengue),cacar

air,chikungunnya,kejang demam serta penjelasan perawatan saat di rumah, jadwal


minum obat, diet makanan dan minuman serta kontrol ulang/rawat jalan.
Pengorganisasian kegiatan discharge planning sebagai berikut :

Kepala Ruangan

: Anes Fikri Haekal , S.Kep

Supervisor

: Elfanizar Yusandi, S.Kep

Perawat Primer (pagi)

: Resvia Arwinda, S.Kep

Perawat Asosiet (pagi)

: Risa Fariyana, S.Kep

Perawat Primer (siang)

: Devi Indah Permata., S.Kep

Perawat Asosiet (malam)

: Annisa Febriana, S.Kep

Pembimbing Akademik

: Ichsan Rizany, S.Kep.,Ns

Penerimaan Klien Baru


99

Role play penerimaan klien baru dilakukan dari tanggal 06 Juli 01 Agustus
2015 . Sebelumnya telah dibuat format penerimaan klien baru yang digabung dengan
lembar serah terima klien serta dimasukkan poin tentang tata tertib ruangan dan
persetujuan sentralisasi obat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh ketua tim/perawat
primer pada saat penerimaan klien baru, sebelumnya katim/perawat primer dibantu
perawat associate menyiapkan buku status dan lembar format pengkajian klien,
nursing kit, informed consent sentralisasi obat, lembar tata tertib klien dan
pengunjung. Setelah itu katim/perawat primer melakukan pengecekan kelengkapan
penerimaan klien baru. Katim/perawat primer dan keluarga menandatangani lembar
penerimaan klien baru. Perawat yang bertugas dalam kegiatan penerimaan klien baru
adalah :

Kepala Ruangan

: Devi Indah Permata, S.Kep

Supervisor

: Elmi, S.Kep

Perawat Primer (pagi)

: Annisa Febriana, S.Kep

Perawat Asosiet (pagi)

: Resvia Arwinda, S.Kep

Perawat Primer (siang)

: Anes Fikri Haekal., S.Kep

Perawat Asosiet (malam)

: Rinny Cahyaneng Widhi, S.Kep

Pembimbing Akademik

: Ichsan Rizany, S.Kep.,Ns.

Sentralisasi Obat
Pelaksanaan kegiatan sentralisasi obat dilakukan selama kegiatan role play stase

manajemen keperawatan dari tanggal 07 01 Agustus 2015 di ruang Tulip II A.


Metode yang digunakan adalah dengan menandatangani persetujuan sentralisasi obat.
Pelaksanaan kegiatan sentralisasi obat dilakukan dengan cara menyimpan obat sesuai
penomoran bed klien dan diberikan sesuai order medikasi/dokter. Jika obat klien
habis perawat melaksanakan pelaporan ke keluarga klien dan selanjutnya melaporkan
ke dokter untuk mengajukan permohonan resep. Sentralisasi obat yang dilakukan
dengan mengelola obat oral, obat injeksi, terapi cairan dan alat tindakan medik.
Pengorganisasian kegiatan sentralisasi obat sebagai berikut:
Kepala Ruangan

: Anes Fikri Haekal , S.Kep


99

Supervisor

: Elfanizar Yusandi, S.Kep

Perawat Primer (pagi)

: Resvia Arwinda, S.Kep

Perawat Asosiet (pagi)

: Risa Fariyana, S.Kep

Perawat Primer (siang)

: Devi Indah Permata., S.Kep

Perawat Asosiet (malam)

: Annisa Febriana, S.Kep

Pembimbing Akademik

: Ichsan Rizany, S.Kep.,Ns

Supervisi
Kegiatan supervisi dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2015. Sebelum

pelaksanaan terlebih dahulu dilakukan kontrak dengan ketua tim/perawat primer dan
perawat associate. kemudian dibuat format pendokumentasian dan penilaian kegiatan
supervisi. Supervisi dilakukan pada An. A (2bln ) di bed 01 ruang Observasi,
Penilaian supervisi dilaksanakan dari tahap persiapan sampai tahap evaluasi
dengan melakukan penilaian terhadap tindakan keperawatan yang dilakukan oleh
perawat. Kemudian penyampaian hasil kegiatan supervisi berupa pemberian
reinforcement yang positif terhadap kinerja perawat dan penyampain rencana tindak
lanjut supervisi. Pengorganisasian kegiatan supervisi sebagai berikut:

Kepala Ruangan

: Anes Fikri Haekal, S.Kep

Supervisor

: Elfanizar Yusandi, S.Kep

Perawat Primer (pagi)

: Resvia Arwinda, S.Kep

Perawat Asosiet (pagi)

: Risa Fariyana, S.Kep

Perawat Primer (siang)

: Devi Indah Permata, S.Kep

Perawat Asosiet (malam)

: Annisa Febriana, S.Kep

Pembimbing Akademik

: Ichsan Rizany, S.Kep.,Ns.

Ronde Keperawatan
Pelaksanaan Ronde Keperawatan dilakukan pada tanggal 28 Juli 2015 pada

pukul 11.00 12.3-0 WITA pada klien An.N (4 tahun) dengan masalah keperawatan,
nausea, ketidakseksimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, resiko
keterlambatan perkembangan,ansietas pada diagnose marasmus. Kegiatan dihadiri

99

oleh,8 orang mahasiswa pendidikan profesi Ners PSIK FK Unlam yang menjalani
stase manajemen dan sebagian besar konselor yang diundang dapat berhadir.
Pengorganisasian kegiatan ronde keperawatan sebagai berikut:
Kepala Ruangan
Supervisor
Perawat Primer
Perawat Asosiet
Konselor

: Risa Fariyana, S.Kep


: Anes Fikri Haeka., S. Kep
: Rinny Cahyaneng Widhi, S.Kep
: Annisa Febriana, S. Kep
: Hj. Erni Aprilia, S.Kep, Ns.MM
Dr. Hasni Hasan Basr, Sp.A
Ahli Gizi
Apoteker
Pembimbing akademik
: Endang Pertiwiwati,S.Kep., Ns. MARS,
Herry Setiawan, S. Kep Ners
Ichan Rizany, S. Kep Ners
8

Dokumentasi Asuhan Keperawatan


Kegiatan penilaian pendokumentasian asuhan keperawatan dimulai dengan

pengadaan format penilaian pendokumentasian asuhan keperawatan dan pengkajian


terhadap petunjuk teknis penggunaan format penilaian pendokumentasian asuhan
keperawatan. Untuk di Ruang Tulip II A sendiri pengisian dokumentasi keperawatan
sudah baik, diisi bekerjasama dengan mahasiswa dan dipantau oleh perawat yang
berdinas, karena jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka catatan keperawatan dari
status klien yang akan dipertanggungjawabkan..

D. Money (M4)
Mahasiswa berkoordinasi dengan bagian administrasi dan supervisor dalam
mencari

tahu

mengenai

sistem

pembayaran

dalam

Rumah

sakit,

dalam

pelaksanaannya mahasiswa mengetahui bahwa sistem pembayaran di Rumah sakit


meliputi 2 jenis pembayaran, yaitu umum, BPJS PBI dan BPJS non PBI. Untuk
sistem pembayaran secara umum klien benar-benar membayar 100% dari biaya
berobat, untuk sistem pembayaran BPJS Non PBI, menggunakan sistem asuransi
dimana setiap klien melakukan pembayaran Rp 59.500,00 untuk kelas 1, Rp
45.500,00 untuk kelas 2 dan Rp 25.500,00 untuk kelas 3, setiap bulannya kepada
99

pemerintah, kemudian setiap klien mendapatkan hak untuk menerima pembayaran


BPJS secara gratis. Untuk sistem pembayaran BPJS PBI ditanggung sepenuhnya oleh
pemerintah.
E. Mesin (M5)
Dilaksanakan koordinasi pembuatan revisi

SAK

terbaru bersama dengan

Kepala Ruangan dan Supervisor Tulip IIA dengan memakai NANDA NIC NOC yang
terbaru.

BAB V
EVALUASI
A. Sumber Daya Manusia (M1)
Secara struktur organisasi stase manajemen Program Profesi Ners PSIK Unlam
sudah dapat dijalankan sesuai dengantugas pokok masing-masing penanggung jawab
kegiatan. Struktur jabatan yang jelas seperti Ketua Kelompok kerja, Sekretaris,
Bendahara dan penanggung jawab kegiatan. Selama 5 minggu kegiatan proyek
manajemen Program Profesi Ners PSIK Unlam di ruang Anak Tulip IIA, masing99

masing penanggung jawab kegiatan dapat melaksanakan tugas yang menjadi


tanggung jawabnya. Seluruh proses dapat dilaksanakan tepat waktu sesuai dengan
program kerja yang telah ditetapkan dan jadwal yang telah disepakati.
Hasil wawancara dengan beberapa orang perawat di Ruang Anak Tulip IIA
tanggal 25 Juli 2015 menunjukkan bahwa mereka memandang positif kegiatan
Roleplayyang dilakukan mahasiswa sebagai kepala ruangan, supervisor, ketua tim,
dan perawat pelaksana. Perawat ruangan juga berpendapat dengan adanya mahasiswa
banyak dibantu dalam kegiatan keperawatan di ruangan, baik dalam segi perencanaan
maupun diagnosis dan tindakan keperawatan. Beberapa Perawat ruangan memahami
mengenai sistem manajemen keperawatan dimana mahasiswa program profesi Ners
Unlam berperan sebagai role model bagi perawat ruangan dalam penerapan sistem
SP2KP di ruangan.
Jumlah

klien

yang

dirawat

di

Ruang Anak Tulip

IIA

selama

minggudidapatkan nilai minimal BOR yaitu 37,01%. Berdasarkan permenkes No.340


Tahun 2010 tentang klasifikasi Rumah Sakit, didapatkan kebutuhan perawat di
ruangan sebesar 31 orang. Hasil perhitungan tersebut berbeda dengan perhitungan
menurut Lokakarya PPNI didapatkan kebutuhan perawat di ruangan sebesar 18 orang
dan menurut perhitungan Gillies didapatkan jumlah tenaga keperawatan adalah 10
orang dari 17 orang tenaga keperawatan. Adanya mahasiswa keperawatan yang
praktik di ruangan juga membantu pelayanan keperawatan di ruangan. Akan tetapi,
perawat di ruangan lebih banyak melakukan tindakan kolaborasi, seperti pemasangan
infus, injeksi intravena, injeksi subcutan, transfusi darah, pemasangan NGTdan
pemberian makanan berkolaborasi dengan pihak Gizi sehingga tidak banyak waktu
untuk melakukan tindakan independen.
Dari hasil wawancara dengan 12 perawat di ruang Anak Tulip IIA mengenai
daftar tenaga keperawatan (lampiran 3), hampir sebagian perawat berasal dari cpns
dan pendidikannya DIII keperawatan dan DIII kebidanan.
1. Mutu Pelayanan Keperawatan
a. Keamanan Klien

99

Mengenai keamanan klien, berdasarkan hasil observasi untuk angka kejadian


dekubitus selama 3 minggutidak ada klien yang mengalami dekubitus selama
Roleplay berlangsung atau 0% kejadian dekubitus. Berdasarkan hasil observasi
selama 3 minggu tidak ada terjadi kesalahan dalam hal pemberian obat atau 0%
kesalahan, hal ini karena perawat selalu melakukan pengecekan terhadap pemberian
obat kepada klien. Angka kejadian klien jatuh sebanyak 0% di Ruang Anak Tulip IIA
selama 3 minggukarena perawat akan melakukan pengamanan seperti menaikan
pagar bed bagi klien yang memiliki risiko jatuh, dan klien di jaga oleh orang tuanya
karena kebanyakan klien masuk dalam kategori Bayi dan Pra Sekolah.Perawat juga
memberikan edukasi kepada keluarga untuk selalu mengawasi anaknya serta rata-rata
bed klien di ruangan berpagar. (lampiran 3).

1) Kepuasan Klien Berdasarkan Pendidikan


Hasil kuesioner kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIA sebelum Roleplaydan
sesudah Roleplay pada klien berdasarkan tingkat pendidikan orang tua dan klien
dapat dilihat pada gambar berikut:

99

60%
50%
40%
30%

SEBELUM ROLE PLAY

SESUDA H ROLE PLAY

20%
10%
0%
SD (%)

SMP (%)

SMA (%)

PT (%)

Gambar 5.1 Diagram Tingkat kepuasan keluarga/klien di Ruang Anak Tulip IIA
sebelum dilakukan Roleplay dan sesudah Roleplay pada klien berdasarkan tingkat
pendidikan orang tua
120%
100%
80%
60%

SEBELUM ROLE PLAY

SESUDAH ROLE PLAY

40%
20%
0%
PRA SEKOLAH (%)

TK/PAUD (%)

SD (%)

SMP (%)

Gambar 5.2 Tingkat kepuasan keluarga/klien di Ruang Anak Tulip IIA sebelum
dilakukan Roleplay dan sesudah Roleplay pada klien berdasarkan
tingkat pendidikan responden
Gambar di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua klien
sebagian besarberpendidikan SD , sesudah dilakukan Roleplay sebagian besar
memiliki latar pendidikan SMA. Serta pendidikan anak sebelum dilakukan
Roleplaysebagian besar pra sekolah, dan setelah dilakukan Roleplay adalah Pra
Sekolah.
Menurut Notoatmodjo (2005), yang mengemukakan bahwa hasil pendidikan
ikut membentuk pola berpikir, pola persepsi, dan sikap pengambilan keputusan
seseorang. Pendidikan seseorang yang meningkat mengajarkan individu mengambil
keputusan yang terbaik untuk dirinya.
2) Kepuasan Klien berdasarkan jenis pekerjaan

99

Hasil kuesioner kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIAsebelum Roleplaydan


sesudah Roleplay pada klien berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada gambar
berikut:
80%
70%
60%
50%
40%
30%

SEBELUM ROLE PLAY

SESUDA H ROLE PLAY

20%
10%
0%
PNS (%)

ABRI (%)

SWASTA (%)

LAIN-LAIN (%)

Gambar 5.3 DiagramTingkat Kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIAsebelum dilakukan
Roleplay dan sesudah Roleplay pada klien berdasarkan jenis pekerjaan responden

Gambar di atas menunjukkan bahwa pada responden sebelum dan sesudah


dilakukan Roleplaysebagian besar memiliki pekerjaan swasta dan lain-lain
sepertiburuh, petani, dan pedagang.
3) Kepuasan klien berdasarkan lama rawat
Hasil kuesioner kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIA sebelum Roleplaydan
sesudah Roleplay pada klien berdasarkan lama rawat dapat dilihat pada gambar
berikut
90%
80%
70%
60%
50%
40%

SEBELUM ROLE PLAY

SESUDA H ROLE PLAY

30%
20%
10%
0%
3-7 HARI (%)

>7 HARI (%)

Gambar 5.4.Diagram Tingkat kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIA sebelum dilakukan
Roleplay dan sesudah Roleplay pada klien berdasarkan lama rawat

Gambar di atas menunjukkan bahwa pada responden sebelum dilakukan


Roleplayadalah < 7 haridan setelah dilakukan Roleplaypadaklien sebagian besar di
rawat selama 3-7 hari. Lama rawat ( >7 hari) klien setelah dilakukan Roleplay
99

menurun menjadi 15%. Hal ini dikarenakanrata-rata klien yang dirawat di Ruang
Anak Tulip IIA dalam kondisi observasi yang tidak terlalu memerlukan waktu lama
dalam perawatannya.
4) Perbandingan tingkat kepuasan klien sebelum dan sesudah Roleplay pada klien
dapat dilihat pada gambar berikut:

90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

YA

TIDAK

SEBELUM ROLE PLAY

SESUDAH ROLEPLAY

Gambar 5.5 Diagram batang perbandingan tingkat kepuasan klien sebelum dan sesudah
Roleplay pada klien di Ruang Anak Tulip IIA

Rekapitulasi jawaban responden pada klien yang didapatkan dari tanggal 6 Juli
1 Agustus 2015 (selama dilakukan Roleplay) yaitu jawaban ya sebanyak 77% dan
jawaban tidak sebanyak 23%. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan klien
pada klien sebesar 77%.
Dari hasil observasi dengan menggunakan kuesioner, gambar diatas
menunjukan bahwa dibandingkan sebelum Roleplay, tingkat kepuasan klien
meningkat di ruang klien oleh mahasiswa stase manajemen sebagai role model.Itemitem yang meningkat setelah pelaksanaan Roleplay dapat dilihat pada tabel perbedaan
tingkat kepuasan klien sebelum dan sesudah Roleplay (tabel terlampir) Item-item
yang meningkat tersebut antara sebelum dan sesudah Roleplay adalah semua item
pertanyaan kepuasan klien terutama pada poin pertanyaan 1 meningkat 70% yaitu

99

apakah perawat selalu memperkenalkan diri hal dan poin pertanyaan 21 meningkat
75% yaitu Apakah anda/keluarga anda mengetahui perawat yang bertanggung jawab
setiap kali pergantian dinas, karena mahasiswa manajemen selalu memperkenalkan
diri setiap kali pergantian dinas dan saat melakukan tindakan keperawatan.
Poin pertanyaan 3 meningkat hingga 100% Apakah perawat selalu
menanyakan bagaimana nafsu makan anda/keluarga anda karena pada saat klien
baru masuk mahasiswa manajemen menerapkan penerimaan klien baru dengan
memberikan tata tertib yang ada diruangan dan harus dipatuhi oleh semua klien.Poin
pertanyaan 16 meningkat 80 % yaitu Pada saat anda/keluarga anda masuk rumah
sakit, apakah perawat memberikan penjelasan tentang fasilitas yang tersedia dan cara
penggunaannya, peraturan/tata tertib yang berlaku di rumah sakit, poin pertanyaan
ini meningkat karena mahasiswa manajemen menerapkan prosedur penerimaan klien
baru yang dalam pelaksanaanya menjelaskan tentang tata tertib ruangan dan fasilitas
yang tersedia. Poin pertanyaan 24 Dalam hal memberikan obat, apakah perawat
membantu menyiapkan/meminumkan obat meningkat 80% Karena mahasiswa
management menerapkan sentralisasi obat, dimana membantu menyimpan obat
injeksi Klien.. Meningkatnya kepuasan klien di Ruang Anak Tulip IIAtidak lepas dari
tindakan mahasiswa dan perawat yang bekerjasama dalam melakukan timbang
terima, sentralisasi obat, discharge planning, penerimaan klien baru, dan ronde
keperawatan, menjaga kebersihan bersama, menerapkan peraturan yang berlaku di
ruangan dan memberikan asuhan keperawatan yang berkesinambungan sehingga
klien dan keluarga merasa di penuhi kebutuhannya dan sebagai klien mereka merasa
puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh perawat di Ruang Anak Tulip IIARSUD
Ulin Banjarmasin.
Poin pertanyaan 4 Apakah perawat pernah menanyakan pantangan dalam hal
makanan anda/keluarga anda meningkat menjadi 80%, karena selama Roleplay stase
manajemen, perawat yang bertugas selalu menanyakan mengenai pertanyaan pada
poin 4.

99

Poin pertanyaan 6 Apabila anda/keluarga anda tidak mampu makan sendiri


apakah perawat membantu menyuapinya,poin pertanyaan 9 Pada saat perawat
membantu anda/keluarga anda waktu buang air besar- buang air kecil, apakah
perawat memasang sampiran/selimut, menutup pintu/jendela, mempersilahkan
pengunjung keluar ruangan,poin pertanyaan 12 Selama anda/keluarga anda belum
mampu mandi (dalam keadaan istirahat total) apakah dimandikan oleh perawat.
Tidak bisa di lakukan oleh perawat di karenakan klien kebanyakan anak pra sekolah
dan Bayi, sehingga masih dalam pengawasan orang tua, dan semua kebutuhan seperti
personal hygine, ataupun pemenuhan nutrisinya semuanya dalam pengawasan dan di
lakukan langsung oleh orang tua klien.
2. Sepuluh Penyakit Terbanyak Ruang Tulip IIA (Anak)

10 Penyakit Terbanyak Ruang Anak


Kejang Demam

Diare
7%
7%

DHF
4%
7% 4%

11%
Obs. Vomitus

BP

11%
PJB

Pneumonia

GE

obs. Febris

29%

22%
Kista hepar

Gambar 5.6 Diagram Sepuluh Penyakit Terbanyak Di Ruang Tulip II A RSUD Ulin
Banjarmasin 6 Juli s/d 1 Agustus 2015

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi ruang Anak Tulip IIA
sejak 6 Juli - 1 Agustus 2015didapatkan penyakit terbanyak yaitu Kejang Demam.
Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kasus Infeksi dan Neurologi merupakan
penyakit yang terbanyak di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin.

99

3. Tingkat Ketergantungan Klien Ruang Tulip II A


0%
MINIMAL (%)

Gambar 5.7.Diagram Rata-Rata Tingkat Ketergantungan Klien Di Ruang Anak Tulip IIA
RSUD Ulin Banjarmasin Tanggal 29 Juli- 1 Agustus 2015.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil dokumentasi ruang Anak Tulip
IIAdari observasiTanggal 29 Juli- 1 Agustus 2015didapatkan rata-rata tingkat
ketergantungan klien yaitu adalah 85 % perawatan parsial (lampiran 6).
4. Kebutuhan Tenaga Non Keperawatan Ruang Anak Tulip IIA
Tenaga Non keperawatan di Ruang Anak Tulip IIAseluruhnya berjumlah
7orang, yaitu : 1 orang pekarya, 1 orang apoteker, 2 orang administrasi, 2 orang
cleaning service, 1 orang ahli gizi.
5. Instrumen B
1. Hasil Evaluasi Persepsi Klien Terhadap Mutu Asuhan Keperawatan Di Ruang
Anak Tulip IIARSUD Ulin Banjarmasin.
a.

Karakteristik
Dari 20 Responden klien yang diambil sebagai sampel di ruang Tulip Anak

Tulip IIApada tanggal 6 Juli 1 Agustus 2015 didapatkan hasil :

Tabel 5.1. Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat PendidikanOrang Tua


PENDIDIKAN
1.
2.
3.
4.

SD
SLTP
SLTA
PT
JUMLAH

JUMLAH
5
4
9
2
20

99

%
25
20
45
10
100%

Tabel 5.2 Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Klien


PENDIDIKAN
PRA SEKOLAH
TK/PAUD
SD
SLTP
JUMLAH

1.
2.
3.
4.

JUMLAH
17
2
0
1
20

%
85
10
18
5
100%

Tabel 5.3. Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan


No.
1
2
3
4

PEKERJAAN
PNS
ABRI
SWASTA
LAIN-LAIN
JUMLAH

JUMLAH
2
0
15
3
20

%
10
0
75
15
100

Tabel 5.4. Klasifikasi Respoden Bersadarkan Lama Rawat


No.
PEKERJAAN
JUMLAH
1
3-7 HARI
17
2
> 7 HARI
3
JUMLAH
20

%
85
15
100

Hasil kuisioner pada responden klien kelolaan di Ruang Anak Tulip IIAseperti
terlihat pada tabel di atas menunjukan bahwa sebagian besar klien telah dirawat 3-7
hari dengan jumlah klien 17 orang dan responden yang dirawat >7 hari berjumlah3
orang.
Hasil evaluasi persepsi klien/keluarga terhadap mutu asuhan keperawatan
menurut jumlah jawaban ya dan tidak pada setiap kuisioner (instrument B) pada
tanggal 6 Juli-1Agustus 2015 dapat dilihat pada lampiran.
Tabelevaluasi

persepsi

keperawatanterlampir.Berdasarkan

klien/keluarga

terhadap

hasil

tersebut

evaluasi

mutu
maka

asuhan
didapatkan

kesimpulan bahwa rata-rata tingkat kepuasan klien di ruang Anak Tulip IIAsesudah
Roleplay yaitu 77%.
Hambatan dalam pelaksanaan MI (Man) adalah :

99

1. Dalam pelaksanaan kegiatan manajemen keperawatan kadang koordinasi antar


perawat kurang karena kebanyakan perawat diruangan masih belum familiar
dengan system Manajemen keperawatan professional dan saat ini adalah
pertama kalinya Stase manajemen di laksanakan di Ruang anak Tulip IIA.
2. Kebanyakan perawat Di Ruang Anak Tulip IIA perempuan yang sudah
memiliki suami dan anak, sehingga untuk mengikuti pelatihan ataupun
melanjutkan pendidikan mendapat hambatan dalam segi biaya dan pembagian
waktu.
3. Pelaksanaan pembagian klien yang akan dikelola oleh perawat ataupun
mahasiswa yang berdinas saat itu masih banyak dilakukan oleh mahasiswa stase
manajemen.

B. Material (M2)
Sesudah kegiatan Roleplay Manajemen Keperawatan
Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang
Anak Tulip IIA di Lantai 2 Tulip RSUD Ulin Banjarmasin.
Gambar 5.8Denah Ruang Anak Tulip IIA
R.R.
R.
Infeksi
Gizi
Terapi
R. Gudang
&&kardiologi
Bermain
Neurologi

Wc
Wc

Ruang Mahasiswa
Manajemen
R. Obsevasi Musholl
a
R. Respirasi
R.Isolasi &
99Pintu Keluar
Gastrointerologi
R.
R.
Disk
Nurse
Station
Kons
usi R. Tindakan
R.
Lift
Wc
ultasi
Karu
Adm
Pintu Masuk
Wc

R.
Perawat

R. DM

Denah ruang anak tulip IIA terlihat ada perubahan, blok yang sebelumnya
respirologi menjadi blok terapi khusus bermain, dan blok respirologi dipindah ke
samping ners station.
Di ruang Anak Tulip IIA untuk kelengkapan alat inventaris ruang rawat inap
mengenai perlengkapan alat-alat kantor, alat-alat medis, serta kelengkapan alat tenun

99

yang ada di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin sudah cukup dapat
memenuhi kebutuhan di ruangan selama ini.
Selama Roleplay stase manajemen keperawatan yang dilaksanakan dari tanggal
6 juli 2015 1 agustus 2015 beberapa kegiatan yang telah dilakukan untuk
menunjang sarana dan prasarana yang memadai, dimulai dari kolaborasi pembuatan
proposal dengan kepala ruangan tentang pengadaan ruang terapi bermain yang dibuat
selama roleplay, berkolaborasi dengan pihak terkait dalam pembenahan ruangan
untuk ruang khusus terapi bermain, pembenahan sarana dan prasarana dengan
mengelompokkan arsip, blanko, dan formulir untuk klien, melakukan koordinasi
dengan cleaning service untuk membersihkan WC dan wastafel, mengelompokkan
obat-obatan sesuai dengan nama klien, merapikan alat-alat yang kurang rapi
diruangan anak Tulip II A, memasang papan nama klien pada masing-masing bed
klien yang sebelumnya sudah dibuat oleh institusi lain.
Saat evaluasi, untuk proposal sudah dikonsulkan kepada kepala ruangan dan
sudah di ACC, pembenahan untuk ruangan khusus terapi bermain sudah dilakukan
namun hanya sebatas mengecat dinding, untuk pengadaan alat-alat diruang terapi
bermain belum dilakukan karena dari kepala ruangan anak Tulip II A mengkonsulkan
terlebih dahulu dengan pihak terkait. Kemudian untuk WC dan wastafel sudah tidak
ada yang buntu karena dari pihak cleaning service sudah membersihkan dan
memperbaiki. Arsip, blanko dan formulir untuk klien sudah dikelompokkan dan
tersusun rapi. Alat-alat diruangan sudah dirapikan dan papan nama bed tiap klien
sudah terpasang dan tertulis.
Mahasiswa manajemen juga mengevaluasi kelengkapan seprei yang ada di
ruang anak Tulip IIA pada tanggal 28 juli 2015, dari hasil didapatkan jumlah
keseluruhan seprei adalah 181 seprei, untuk seprei tersimpan = 134 seprei
(putih,biru,hijau),untuk seprei yang terpakai = 17 seprei, untuk seprei cadangan = 17
seprei, kotor = 6 seprei, setrika = 6 seprei. Sehingga kelengkapan seprei di ruang anak
sudah sesuai standar depkes yaitu 1:5. Oleh karena itu, kami dari mahasiswa
manajemen mengusulkan pergantian seprei tiap pagi bisa dilaksanakan karena
sebelumnya belum terlaksana dengan baik.
99

Mahasiswa manajemen juga melakukan sosialisasi kepada setiap klien dan


keluarga tentang tata tertib yang ada di ruangan Anak Tulip II A seperti menjaga
kebersihan ruangan, jumlah pengunjung harus dibatasi, meletakkan sendal/sepatu
sesuai dengan tempatnya, dan merapikan barang-barang yang dibawa oleh klien. Saat
evaluasi sepatu dan sendal klien atau keluarga sudah tersusun rapi dan barang-barang
yang dibawa sudah dirapikan.
Selain itu, mahasiswa stase manajemen juga membuat benner daftar pembagian
tugas sesuai klien yang akan memudahkan perawat di ruang Tulip II A dalam
pembagian tugas masing-masing dan berguna juga untuk melakukan morning
meeting. Saat evaluasi, benner yang dibuat sudah bisa dipergunakan oleh ruangan
diharapkan berguna untuk ruangan dan tidak ada hambatan dalam pengadaan benner
ini.
Hambatan dalam kegiatan roleplay ada beberapa yaitu kesulitan dalam
mempertahankan kerapian ruangan seperti arsip, blanko dan formulir yang mulanya
sudah dikelompokan dan dirapikan setelah beberapa hari kemudian tidak rapi lagi dan
tidak terkelompokan lagi. Untuk alat-alat disekitar ners station seperti status klien,
dan lainnya juga kerapian nya belum terjaga. Selain itu, klien atau keluarga yang
kurang mematuhi peraturan di ruangan sehingga mahasiswa menegur terlebih dahulu
baru dari pihak klien atau keluarga meletakkan sepatu/sendal ditempatyang sudah
disediakan.

C. Method (M3)
1. Penerapan SP2KP
Dilakukannya Roleplay terhadap pelaksanaan penerapan SP2KP dari tanggal 6
Juli 1 Agustus 2015 di ruang Anak Tulip IIA. Pembagian tugas dilakukan untuk
penetapan sebagai kepala ruangan 1 orang, supervisor 1 orang, perawat primer 1
orang, dan perawat asosiet1-3 orang untuk tiap pergantian shift (pagi, siang, dan
99

malam). Dukungan yang diberikan selama ini yaitu adanya kemauan dan kerjasama
untuk semua perawat di ruang Tulip IIA.
2. Timbang Terima
Timbang terima sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
Timbang Terima Sebelum Roleplay
150%
100%

Selalu

Kadang-kadang

Tidak pernah

50%
0%
1

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Timbang Terima Sesudah Roleplay


150%
100%

Selalu

Kadang-kadang

Tidak pernah

50%
0%
1

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Gambar 5.9.Diagraam Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan


Roleplay Timbang terima

Roleplay timbang terima dilakukan pada tanggal 6 Juli 2015s/d1 Agustus


2015yang dilakukan dan dipimpin oleh mahasiswa manajemen. Sebelum dilakukan
Roleplay, timbang terima dari shift ke shift dilakukan hanya di kamar perawat tidak
dipimpin kepala ruangan ataupun supervisor hanya antar perawat, dan tidak dilakukan
validasi data ke klien secara langsung pada timbang terima shift pagi, Setelah
memvalidasi data seharusnya biasanya dilakukan morning meetingdengan tujuan
untuk merencanakan kegiatan di shift pagi dan membagi tugas pertanggungjawaban
klien di ruang pertemuan bersama kepala ruangan.

99

Setelah dilakukan Roleplay, timbang terima berdasarkan gambar di atas


diketahui terjadinya peningkatan dalam kegiatan timbang terima terutama pada point
4 dan 20yaitu timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan pada pergantian shift dari
malam ke pagi dari pagi ke sore, sedangkan pergantian shift dari sore ke malam
dipimpin oleh Perawat Primer dan dilaksanakan setiap shift. Hal ini dikarenakan
adanya koordinasi dengan kepala ruangan, suvervisor yang turut membantu dalam
kegiatan timbang terima, serta perawat yang bertugas pada shift tersebut sehingga
timbang terima dapat berjalan sesuai dengan kriteria dan bekelanjutan walaupun
kadang-kadang beberapa timbang terima tidak dipimpin oleh kepala ruangan dan
digantikan oleh supervisor. Timbang terima dilakukan awalnya di Nurse Station dan
kemudian langsung ke klien untuk memvalidasi data.Selama pelaporan timbang
terima sudah disampaikan keluhan klien, diagnosa keperawatan yang muncul,
intervensi yang sudah dilakukan dan belum dilakukan, danpendokumentasian catatan
timbang terima. Hal ini perlu tetap dipertahankan dan ditingkatkan dalam
pelaksanaannya walaupun tidak ada lagi mahasiswa khususnya mahasiswa
manajemen. Pada point 19 sebanyak 1 orang (8%) yang menyatakan setelah
dilakukan validasi data perawat mendiskusikan kembali hasil validasi data langsung.
Evaluasi Timbang Terima
Struktur
1
2
3

Semua perawat untuk pergantian shift sudah siap.


Format timbang terima telah dibuat dengan modifikasi catatan perkembangan.
Sarana dan prasarana yang menunjang timbang terima telah tersedia antara

lain : catatan timbang terima dan kelompok shift timbang terima.


Ketika dilakukan Roleplay, kepala ruangan mahasiswa stase manajemen selalu
memimpin kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift
malam ke shift pagi dan perawat primer memimpin timbang terima yang
dilaksanakan pada pergantian shift pagi ke siang dan shift siang ke malam.

Proses

99

Proses timbang terima pagi dimulai di nurse stationdipimpin oleh kepala


ruangan stase manajemen dan dilaksanakan oleh seluruh perawat yang telah

bertugas maupun yang akan menggantikan shift.


Proses timbang terima siang dan malam dimulai di nurse station dipimpin oleh
perawat primer yang bertugas pada shift tersebut dan diikuti oleh semua
perawat asosiet yang telah bertugas pada shift sebelumnya maupun yang akan

menggantikan shift.
Isi timbang terima mencakup jumlah klien, diagnosis keperawatan, intervensi
yang telah dilakukan maupun yang belum dilakukan dan rencana tindakan pada

hari tersebut.
Setelah timbang terima di nurse station dilanjutkan dengan berkunjung ke

masing-masing bed klien untuk menvalidasi data.


Setiap selesai validasi data pada timbang terima pagi dilanjutkan dengan
morning meeting di ners station untuk membagi tugas pertanggungjawaban
klien pada hari tersebut dan rencana tindakan yang akan dilakukan. Selain itu,
pada saat morning meeting juga disampaikan masukkan dari kepala ruangan,

supervisor, ketua tim dan perawat lainnya.


Perawat primer selalu berperan aktif dalam memimpin validasi data ke bed

klien.
Waktu untuk validasi ke setiap klien tidak lebih dari 3 menit.

Hasil
1 Timbang terima sudah diterapkan di ruangan Tulip IIA
2 Setiap perawat mengetahui perkembangan klien dan komunikasi antar perawat
3

berjalan dengan baik.


Klien dapat dengan aktif menyampaikan perubahan keluhan yang dirasakan

setiap harinya,
Terbina kepercayaan dan kerjasama yang baik antara perawat, klien maupun

5
a
b

keluarga klien.
Hambatan yang ditemukan pada saat penilaian Roleplay timbang terima :
Proses timbang terima menghabiskan waktu yang cukup lama.
Molornya waktu memulai timbang terima karena adanya beberapa orang yang
terlambat.

99

Banyak keluarga klien atau pengunjung saat mengunjungi bed klien untuk

melakukan validasi data.


Dalam kegiatan timbang terima, ketua tim belum melakukan tanda tangan serah

terima pergantian shift.


Dalam melakukan timbang terima biasanya dilakukan di dalam kamar dan tidak
di ners station, dalam validasi data ke klien tidak semua perawat yang ikut
dalam validasi data namun setelah proses berjalan timbang terima dilakukan di
ners station digabung morning meeting.
3. Penerimaan Klien Baru
Penerimaan Pasien Baru Sebelum Roleplay

100.0%
80.0%
Selalu

60.0%

Kadang-kadang

40.0%

Tidak pernah

20.0%
0.0%
1

10

Penerimaan klien baru sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

99

Penerimaan Pasien Baru Sesudah Roleplay


150.0%
Selalu

100.0%

Kadang-Kadang
Tidak Pernah

50.0%
0.0%
1

10

Gambar 5.10.Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah


Pelaksanaan Roleplay Penerimaan Klien Baru
Sebelum dilakukan Roleplay penerimaan klien baru, di ruangan Tulip II A
sebagian besar telah dilakukan dengan baik namun ada beberapa hal yang masih
kurang dilakukan misalnya perkenalan diri perawat, penjelasan fasilitas yang ada di
ruangan, penjelasan aturan ruangan,dan pendokumentasian penerimaan klien baru.
Selain itu,lembar persetujuan klien dirawap inap juga belum tersedia, serta kurangnya
waktu dan kesempatan perawat melakukan hal tindakan tersebut di karenakan terlalu
banyak pekerjaan dsb.
Setelah dilakukan Roleplay terjadi peningkatan dalam beberapa item yaitu poin
1, 2, 3, 5,6,8 dan 10. Hal ini dikarenakan adanya kerjasama antara perawat ruangan
dan mahasiswa sehingga saat perawat ruangan sibuk, mahasiswa dapat membantu
mengenalkan klien dan keluarga tentang fasilitas, tata tertib yang tercantum dalam
format penerimaan klien baru yang telah dibuat. Hal ini diharapkan dapat
dipertahankan agar klien dapat mengenal lingkungan dari ruangan Tulip II A dan
mengenal siapa orang yang merawatnya, sehingga muncul rasa percaya dan

99

kerjasama yang baik antara satu sama yang lain. Pada point 2 sebanyak 1 orang atau
dengan persentasi 11,11% menyatakan tidak pernah memperkenalkan siapa perawat
yang bertanggunjawab (kepala ruangan, perawat yang bertugas, dll). Hal ini
dikarenakan terlalu banyak yang harus disampaikan sehingga biasanya hanya nama
perawat yang bersangkutanyang diperkenalkan. Pada point 8 sebanyak 1 orang atau
dengan persentasi 11,11% menyatakan tidak pernah memperkenalkan klien dengan
klien sekamar. Hal ini karena banyaknya beban kerja perawat sehingga tugas perawat
untuk memperkenalkan teman sekamar terabaikan.
Evaluasi Penilaian Penerimaan Klien Baru
Struktur
1

Telah tersedianya format penerimaan klien baru yang disertai lembar

sentralisasi obat.
Persiapan kegiatan penerimaan klien baru dilakukan dengan pembuatan

proposal kegiatan dan melakukan konsultasi dengan pembimbing lahan.


Kegiatan penerimaan klien baru dilakukan pada klien yang baru dirawat di
ruang Tulip II A, sehingga kegiatan penerimaan klien baru bersifat accidental.

Proses
1

Kegiatan penerimaan klien baru dilakukan pada klien yang masuk ke ruang

Tulip II A.
Penerimaan klien baru pada setiap shift dilakukan oleh peawat primer shift
yang bersangkutan. Penerimaan klien baru dilakukan di bed klien untuk
memberikan penjelasan kepada paseksin dan keluarga tentang penerimaan klien

baru sesuai dengan hal-hal yang tercantum dilembar penerimaan klien baru,
Lembar penerimaan klien baru ditandatangi oleh perawat primer dan klien atau

keluarga.
Keluarga menerima lembaran yang berisi penjelasan mengenai tata tertib

ruangan.
Selama kegiatan Roleplay jumlah penerimaan klien baru sebanyak 48 klien.

Hasil
1

Klien atau keluarga mengenali perawat dan dokter yang bertanggung jawab di
ruangan serta dapat mengenali ruangan dan lingkungan rumah sakit.
99

2
3

Klien atau keluarga memahami tata tertib ruangan dan alur sentralisasi obat.
Klien atau keluarga menandatangi lembar penerimaan klien baru

Hambatan
a
b

Kegiatan penerimaan klien baru bersifat accidential .


Beberapa kegiatan penerimaan klien baru tidak dapat dilakukan langsung saat
klien baru datang ke ruangan. Hal ini dikarenakan waktu kedatangan paseksin
yang tidak memungkinkan dilakukan penerimaan klien baru seperti di waktu
malam hari dan keluarga sibuk membereskan hal-hal terkait persiapan rawat
inap klien.
4 Supervisi
Supervisi sebelum dan sesudah Roleplaydapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 5.11..Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan


Roleplay Suvervisi.

Dari diagram diatas didapatkan penurunan dari data sebelum dan sesudah
Roleplay. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan
perawat ruangan tentang tugas dari supervisor sebelum diadakan Roleplay. Pada saat
Roleplay, perawat ruangan mengerti tentang tugas supervisor sehingga hasil dari
diagram setelah Roleplay mengalami perubahan. Pada point 4 dengan persentasi 0%
menyatakan selalu dilakukan supervisor meneliti dokumentasi status klien. Hal ini
99

dikarenakan tidak dilakukannya pengkoreksian dalam mendokumentasikan status


klien oleh supervisor. Pada point 6 sebanyak 4 orang (33%) menyatakan tidak pernah
supervisi memanggil ketua tim dan perawat pelaksana yang perlu dilakukan
pembinaan. Hal ini dikarenakan supervisor tidak melakukan pembinaan terhadap
ketua tim dan perawat pelaksana. Pada point 7 sebanyak 4 orang atau dengan
persentasi 33% menyatakan tidak pernah supervisor mengklasifikasi permasalahan
yang ada.Kegiatan supervisi dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2015. Sebelum
pelaksanaan terlebih dahuludilakukan kontrak dengan ketua tim/perawat primer dan
perawat associate. kemudiandibuat format pendokumentasian dan penilaian kegiatan
supervisi.Supervisi dilakukan pada An.R (3 bulan) di bed 6 ruang observasi, yaitu
supervisi injeksi intravena.
Penilaian supervisi dilaksanakan dari tahap persiapan sampai tahap evaluasi
dengan melakukan penilaian terhadap tindakan keperawatan yang dilakukan oleh
perawat.Kemudian penyampaian hasil kegiatan supervisi berupa pemberian
reinforcement yang positif terhadap kinerja perawat dan penyampain rencana tindak
lanjut supervisi.
Hal ini dikarnakan supervisi yang dilaksanakan bersifat tidak langsung. Dalam
pelaksanaan kegiatan supervisi pada tanggal 30 Juli 2015, ditemukan berbagai
dukungan dan strategi berupa:
1

Supervisor ruang Anak Tulip IIA mempunyai keterlibatan penuh dalam

kegiatan supervisi
Supervisor menggunakan

keperawatan/kolaborasi
Supervisor berperan aktif dalam setiap perencanaan kegiatan supervisi, proses

supervisi sampai follow back dan follow up supervisi.


Keterlibatan ketua tim secara langsung dalam kegiatan supervisi dan

memberikan evaluasi secara langsung


Perawat yang disupervisi selalu berupaya memperbaiki setiap perbaikan dalam

SOP

dalam

setiap

supervisi

tindakan

evaluasi supervisi.
6 Klien dan keluarga yang kooperatif terhadap kegiatan supervisi yang dilakukan
Berdasarkan hasil observasi selama 26 hari melaksanakan Roleplay, pelaksanaan
supervisi diruangan sesuai dengan hasil kuesioner perawat ruangan.Mahasiswa
99

stase manajemen menilai bahwa kegiatan supervisi diruangan perlu adanya


perbaikan sehingga diharapkan kinerja supervisi di ruang Anak Tulip IIA dapat
terlaksana dengan baik.
Evaluasi Penilaian Supervisi
Struktur
1
2
3

Kegiatan supervisi diawali dengan penyiapan SOP, dan pembuatan proposal.


Kegiatan yang dilakukan adalah injeksi intravena.
Persiapan dokumen-dokumen yang diperlukan oleh supervisor stase manajemen
berupa lembar penilaian supervisi injeksi intravena dan kolom bobot penilaian

dan kolom pelaksanaan item penilaian.


Supervisor dan katim stase manajemen mengikuti jalannya supervisi.

Proses
1

Kegiatan supervisi dilakukan dengan model langsung yaitu melakukan

penilaian langsung terhadap tindakan yang dilakukan.


Rencana kegiatan yang dilakukan adalah pemberian injeksi intra vena pada

klien di blok observasi.


Tahap preinteraksi dilakukan pemantapan kesiapan pada ketua tim stase
manajemen selaku pelaksana tindakan, persiapan alat dan bahan, serta klien

oleh perawat pelaksana


Ketua tim dan supervisor stase manajemen kembali mengevaluasi persiapan

yang dilakukan oleh perawat pelaksana.


Dilakukan orientasi, meliputi kegiatan perkenalan oleh perawat, penyampaian
tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilaksanakan, kontrak waktu dengan
klien, memberikan kepada klien untuk menyampaikan keluhan maupun

pertanyaan, dan pelaksanaan inform concern


Pemberian injeksi intra vena kemudian dilakukan sesuai dengan SOP yang

sudah disediakan.
Dilakukan penyampaian hasil kegiatan supervisi, pemberian reinforcement
yang positif kinerja perawat serta penyampaian rencana tindak lanjut supervisi

Hasil

99

Pada evaluasi kegiatan yang dilakukan oleh supervisor stase manajemen terdapat
beberapa masalah atau kekurangan yang ditemukan pada saat melakaukan
tindakan serta rekomendasi penyelesaian masalah, seperti :
1

Tahap orientasi
Pada kegiatan pemberian injeksi intra vena. Pada tahap orientasi, yaitu perawat

memperkenalkan nama perawat sehingga adanya hubungan yang kooperatif dari


perawat dan klien.
2 Tahap kerja
Pada kegiatan pemberian injeksi intra vena, perawat melakukan lima benar obat
sehingga pemberian injeksi sesuai prosedur pemberian obat
3 Tahap terminasi
Pada tahap terminasi tidak terdapat masalah-masalah yang perlu diatasi
dilakukan penilaian respon perawat terhadap pendokumentasian dan kegiatan
supervisi yang dilakukan.
Hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan supervisi berupa :
1 Adanya keterbatasan kelengkapan alat yang digunakan pada saat kegiatan
2

supervisi.
Adanya koordinasi yang kurang antara PP dan PA, sehingga saat kegiataan
supervisi terlihat kerja samanya kurang.

5. Sentralisasi obat
Sentralisasi obat sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
Sentralisasi Obat Sebelum Roleplay

120.0%
100.0%
80.0%
60.0%

Selalu

Kadang-kadang

Tidak pernah

40.0%
20.0%
0.0%
1

99

10

Sentralisasi Obat Sesudah Roleplay


120.0%
100.0%
80.0%
60.0%
40.0%
20.0%
0.0%

Selalu
Kadang-kadang
Tidak Pernah

10

Gambar 5.12 .Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan
Sentralisasi obat

Roleplay dilakukan di ruang tulip IIA pada tanggal 06 Juli 01 Agustus 2015
oleh mahasiswa manajemen keperawatan. Hasil yang didapatkan terjadi peningkatan
kegiatan sentralisasi obat.SebelumRoleplay dilakukan didapatkan bahwa hanya ada
buku catatan obat injeksidan kegiatan pengaplusan obat oleh perawat ruangan.Setelah
dilakukan Roleplay terjadi peningkatan pada beberapa item terutama pada poin yang
signifikan yaitu terhadap penyimpanan obat-obat klien hal ini dikarenakan adanya
kerjasama antara perawat ruangan dan mahasiswa stase manajemen dalam pembuatan
format sentralisasi obat sehingga sentralisasi obat semakin membaik.
Mahasiswa Stase manajemen selalu melakukan sentralisasi obat dengan
menyimpan obat sesuai loker ruangan klien dan nama klien yang dipergunakan sesuai
dengan cacatan obat yang telah diresepkan dokter ataupun setelah keluarga klien
mengambil obat dari apotik. Masih terdapat beberapa kelemahan yaitu dimana lembar
serah terima obat dan lembar persetujuan sentralisasi obat tidak disiapkan serta
99

perawat ruangan sebagian juga tidak menyimpan obat sesuai dengan loker obat yang
sudah disiapkan.
Diharapkan agar tindakan sentralisasi obat dapat secara terus menerus
dilakukan, sehingga pemberian obat kepada klien dapat dikelola dan diawasi secara
benar sesuai dengan prinsip 12 benar pemberian obat, tidak hanya pemberian obat
yang diawasi saja namun penyimpanan obat dengan benar juga merupakan hal yang
sangat penting. Selain itu, sehubungan dengan penerapan BPJS, kegiatan sentralisasi
obat memberikan keuntungan karena dengan adanya sentralisasi obat, jika ada saat
satu klien yang belum menebus obat, maka klien lain dapat meminjamkan sementara
obat yang dimilikinya. Selain itu, dari pihak rumah sakit menyarankan untuk
perencanaan kolektif dalam pengambilan obat, dimana kartu pengambilan obat dan
resep obat hanya dikelola oleh salah satu petugas setiap ruangan hal ini diharapkan
mengurangi jumlah penunggu klien dan meningkatkan sentralisasi obat sehingga
lebih efektif dan efesien.
Evaluasi Penilaian Sentralisasi Obat
Struktur
1 Pada sentralisasi obat, sarana dan prasarana yang menunjang telah
dipersiapkan, antara lain: lembar informed consent pengelolaan sentralisasi obat
yang digabung dengan format penerimaan klien baru, dan jadwal pemberian
obat, lemari/tempat penyimpanan obat baik obat paseksin maupun persediaan
2

obat oral dan injeksi.


Perawat primer dan perawat asosiet stase manajemen yang berdinas
bertanggung jawab terhadap klien baru/lama yang mendapatkan obat baru yang

belum disentralisaskan.
Adanya mekanisme sentralisasi obat yang jelas.

Proses
1

Pelaksanaan sentralisasi obat dilakukan sesuai dengan tim kelolaan yang telah
ditetapkan. Klien atau keluarga telah diberikan informed consent untuk

dilakukannya sentralisasi obat.


Proses Roleplay sentralisasi obat dipimpin oleh kepala ruangan dan supervisor
stase manajemen serta dilaksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas pada
setiap shift.

99

Pada

saat

peneriman

paseksin

baru,

perawat

primer

yang

melakukanmemberikan lembar persetujuan sentralisasi obat.


Klien atau keluarga mendatangani surat persetujuan untuk dilakukannya
sentralisasi obat.

Hasil
1
2

Klien atau keluarga percaya pada perawat dalam pelaksanaan sentralisasi obat.
Obat dapat diberikan secara tepat dan benar sesuai dengan 12 benar pemberian

obat.
Perawat mudah mengontrol obat apa yang masih tersedia ataupun telah habis
dengan melihat pada loker penyimpanan obat klien, sehingga jika obat

habisdapat meminta langsug untuk diresepkan kembali.


Pendokumentasian pemberian obat dapat dilakukan dengan benar dengan

menggunakan lembar daftar pemberian obat.


5 Sentralisasi obat belum sepenuhnya dilakukan di ruang anak tulip IIA
Hambatan
1. Adanya pembatasan obat dari depo obat yang mana terkadang terjadi
kekurangan sehingga ruangan harus meresepkan kembali
2. Obat yang ditebus bisa datang terlambat.
3. Tidak semua obat yang diresepkan dapat ditebus d rumah sakit.
4. Tidak semua perawat ruangan melaksanakan sentralisasi obat berupa
penyimpanan obat sesuai loker yang sudah disiapkan
5. Tidak adanya format serah terima dan persersetujuan sentralisasi obat sehingga
tidak dilaksanakan

6.

Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

99

Ronde Keperawatan Sebelum Roleplay

100.0%
80.0%
60.0%

Selalu

Kadang-kadang

Tidak pernah

40.0%
20.0%
0.0%
1

10

Ronde Keperawatan Sebelum Roleplay

120.0%
100.0%
80.0%
60.0%
40.0%
20.0%
0.0%

Selalu
Kadang-kadang
Tidak pernah

10

Gambar 5.13.Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan


Roleplay Ronde Keperawatan

Dari hasil diagram di atas dapat dilihat bahwa angka bervariasi untuk ronde
keperawatan, dan dalam pertanyaan pada poin 1 yaitu pertanyaan apakah di ruangan
ini dilakukan ronde keperawatan. Namun hal tersebut berbeda antara kuesioner
dengan hasil wawancara, perawat ternyata belum mengetahui tentang ronde
keperawatan.Hal ini dikarenakan belum adanya kesempatan dari ruangan untuk

99

melakukan ronde keperawatan, dan belum adanya mahasiswa yang berpraktik stase
manajemen.Namun Beberapa perawat di ruang anak mulai memahami informasi
tentang ronde keperawatan dari mahasiswa stase manajemen setelah diakukannya
sosialisasi yang disampaikan oleh dosen akademik.
Ronde keperawatan di ruangan Tulip IIA telah dilaksanakan oleh mahasiswa
praktek stase manajemen pada tanggal 28Juli 2015 untuk pertama kalinya, dan
didapatkan hasil terjadinya peningkatan pada poin 3 (pemberian informed concent), 6
(perawat ketua tim menjelaskan intervensi yang akan dilakukan), 7 (Perawat
menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil), 8 (Ronde keperawatan
dilakukan sesuai dengan langkah-langkah ronde keperawatan).Hal ini dikarenakan
adanya kesempatan dari ruangan untuk melakukan ronde keperawatan.Adanya kasus
yang memerlukan perhatian khusus dari perawat.Beberapa perawat menyayangkan
ketidakikutsertaannya

dalam

pelaksanaan

kegiatan

Roleplay

Ronde

Keperawatan.Ronde keperawatan yang dilakukan menghadirkan Dokter spesialis


Anak yang bertanggung jawab, apoteker, ahli gizi, kabid keperawatan, supervisor,
kepala ruangan dan pembimbing akademik.
Evaluasi penilaian ronde keperawatan
Struktur
1

Persiapan klien untuk dilakukan ronde keperawatan telah dilakukan

sebelumnya.
Pengkajian telah dilakukan terlebih dahulu pada klien yang ditetapkan untuk

ronde keperawatan.
Konsultasi telah dilakukan baik kepada CI lahan ataupun akademik untuk

penetapan kasus.
Informed consent sudah diberikan kepada klien dan keluarga 1 hari sebelum

pelaksanaan ronde keperawatan.


Persiapan tempat telah dilakukan yaitu di ruang pertemuan Ruang Anak Tulip

IIA .
Undangan telah dibagikan kepada para konselor seperti kepala ruangan tulip
IIA, kepala bidang keperawatan, supervisor, dokter, apoteker, dan ahli gizi telah
dilakukan 1 hari sebelem ronde keperawatan dilaksanakan.

Proses
99

Ronde keperawatan dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2015 pukul 11.00-12.00


WITA. Pelaksanaan ronde keperawatan tidak sesuai dengan waktu yang telah

ditetapkan yaitu pukul 09.00 WITA.


Peserta yang berhadir dalam ronde keperawatan sudah sesuai dengan yang
diharapkan dapat berhadir mengikuti ronde keperawatan, namun ada 1 dokter

spesialis yang belum dapat berhadir .


Peserta yang berhadir meliputiDokter spesialis Anak, apoteker, ahli gizi, dan
pembimbing akademik. Semua peserta mengikuti acara sesuai alur ronde.
Kepala ruangan Anak Tulip IIA, Supervisor Ruang Anak Tulip II A, Kepala

bidang Keperawatan, berhadir setelah validasi ke klien di lakukan.


Ketua tim atau perawat yang bertugas tidak mengikuti kegiatan ronde
keperawatan. Ada perwakilan perawat yang datang namun menjelang kegiatan

5
6

diskusi ronde berakhir.


Ronde keperawatan dipimpin oleh kepala ruangan stase manajemen.
Hasil pengkajian dan penyampaian masalah keperawatan yang belum teratasi

7
8

telah dijabarkan terlebih dahulu oleh perawat primer stase manajemen.


Validasi data dilakukan ke bed klien.
Ketika dilakukan kunjungan ke bed klien, dokter spesialis Anak dan dokter
koas datang berhadir. Saat dilakukan validasi data, semuakonselor dari berbagai
paham ilmu (Dokter spesialis, Ahli Gizi, Apoteker) aktif memberikan informasi
terkait kondisi klien dan aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh

klien atau keluarga.


Setelah validasi data, kegiatan dilanjutkan di ruang diskusi dengan melakukan
diskusi yang melibatkan perwakilan keluarga klien yaitu dari PKH (Program

Keluarga Harapan).
10 Semua konselor yang berhadir aktif memberikan saran kepada perwakilan
keluarga klien tersebut.
11 Perwakilan keluarga aktif bertanya dan memberikan informasi serta
pendapatnya terkait kondisi klien.
Hasil
1

Konselor aktif menjawab pertanyaan dan memberikan informasi terkait

masalah yang dihadapi klien.


Klien dan keluarga merasa senang telah dilibatkan dalam kegiatan ronde
keperawatan.
99

Solusi dari permasalahan klien telah didapatkan namun perlu kelanjutan terapi
seperti akan melakukan rujukan ke RS Soetomo dan kombinasi dari ahli gizi

terkait nutrisi yang akan diberikan.


4 Keluarga puas dengan hasil ronde keperawatan.
5 Perwakilan keluarga dari PKH senang karena bisa terlibat dalam kegiatan.
Hambatan
1. Waktu mulai acara terlambat (32 menit) karena menunggu kehadiran dari
konselor.
2. Tidak semua konselor dapat berhadir tepat waktu saat Ronde Keperawatan, dan
ada konselor yang membatalkan kehadiran karena kesibukan yang sifatnya
mendadak.
3. Tidak semua peserta ronde keperawatan memahami jalannya ronde
keperawatan seperti Dokter Spesialis Anak, dan Apoteker karena ronde
keperawatan merupakan inovasi yang belum pernah dilakukan di Ruang Anak
Tulip IIA.
4. Adanya kesulitan yang dihadapi mahasiswa manajemen kepada konselor saat
berkomunikasi.
5. Kurangnya masukan dari segi keperawatan dalam hal perawatan pada klien
yang dilakukan Ronde Keperawatan..

7. Discharge Planning
Discharge planning sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :

99

Discharge Planning sebelum Roleplay


100.0%
80.0%

Selalu

60.0%

Kadang-kadang

40.0%

Tidak pernah

20.0%
0.0%
1

10

Discharge Planning sesudah Roleplay


120.0%
100.0%
Selalu

80.0%

Kadang-kadang

60.0%

Tidak pernah

40.0%
20.0%
0.0%
1

10

Gambar 5.14.Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sebelum dan Sesudah


Pelaksanaan Roleplay Discharge Planning
99

Roleplaydischarge planning di Ruang Tulip IIA dilakukan pada tanggal 6 Juli


1 Agustus 2015. Sebelum dilakukan Roleplayoleh mahasiswa praktek manajemen
diketahui bahwa discharge planning pada klien biasanya hanya berupa penjelasan
secara lisan tanpa ada bukti tertulis dan tanpa disertai media seperti leafletdan hal
tersebut hanya dilakukan oleh dokter muda. Selain itu, di ruangan belum mempunyai
format discharge planning. Setelah adanya Roleplay dari mahasiswa praktek
manajemen dapat terlihat terjadi peningkatan kegiatan discharge planing terutama
pada point5 (dorongan untuk melakukan discharge planning timbul dari perawat
sendiri), 7 (discharge planning dilakukan pada klien dan keluarga) dan 10 (discharge
planning dilakukan meski perawat sibuk dengan urusannya). Hal ini mungkin
dikarenakan sudah tersedianya media seperti leaflet dan format discharge planning
sehingga dapat memudahkan perawat dalam melakukan discharge planning dan
meningkatkan motivasi perawat dalam melakukan discharge planning. Kegiatan
discharge planningselama Roleplay tidak hanya berfokus pada klien tetapi juga pada
keluarga sehingga informasi yang diberikan bukan hanya diketahui klien tetapi juga
diketahui

oleh

keluarga

sebagai

faktor

pendukung

perawatan

klien

dirumah.Discharge planning juga dilakukan setelah pelunasan administrasi, namun


terkadang discharge planning dilakukan bersamaan dengan proses pelunasan
administrasi, ataupun setelah klien dinyatakan boleh puang oleh dokter,

karena

keterbatasan waktu yang dimiliki, terkadang klien dan keluarga ingin bergegas ntuk
segera pulang.
Selain itu sudah tersedianya format discharge planning dan leaflet yang
diberikan kepada klien yang sangat membantu dalam perawatan lebih lanjut ketika di
rumah seperti aktivitas yang boleh dilakukan, perawatan saat dirumah, diit, obat yang
diminum dan kartu kontrol. Stase manajemen PSIK FK UNLAM juga bekerjasama
dengan bagian PKRMS RSUD ULIN dan berkonsultasi dalam hal penyediaan leaflet
agar tetap berlanjut walaupun Stase manajemen PSIK UNLAM sudah tidak berdinas
lagi. Dalam hal pembuatan leaflet sebelumnya sudah dikonsulkan dengan pihak
terkait. Dalam hal penyediaan leaflet ini sangat perlu untuk tetap dipertahankan agar
perawatanlanjutan pada klien dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.
99

Evaluasi Penilaian Discharge planning


Struktur
1
2
3
4

Persiapan dilakukan sebelum kegiatan Roleplay dilaksanakan


Telah tersedianya format discharge planning
Leaflet telah disiapkan
Persiapan dilakukan pada klien dan keluarga yang termasuk dalam

kelolaan manajemen PSIK Unlam yang akan direncanakan pulang sebelumnya.


Tepatnya 15 menit sebelum dilakukan discharge planning dilakukan kontrak

tim

waktu dan tempat kepada klien dan keluarga


Proses
1

Kegiatan discharge planning berjalan dengan lancar, sebelum kegiatan


dilakukan kontrak terhadap klien dan keluarga. Discharge planning dilakukan

sesuai rencana yang telah disusun.


Discharge planning dilakukan pada klien yang direncanakan pulang pada hari

3
4
5

itu.
Pelaksanaan discharge planning dilakukan di ruangan klien.
Pelaksanaan discharge planning diikuti oleh klien dan keluarga klien.
Perawat yang bertugas saat shift tersebut ikut terlibat dalam Discharge
planning, perawat primer memberikan informasi langsung kepada klien dan

6
7

keluarga dibantu perawat asociate.


Discharge planningdilaksanakan sesuai dengan alur yang telah ditentukan
Selama Roleplay jumlah klien yang mendapatkan discharge planning ada 24
orang.

Hasil
1

Informasi yang disampaikan dapat diterima oleh keluarga, namun pada


penyampaiannya ada beberapa hal yang kurang dimengerti karena penggunaan
bahasa sehingga kurang dipahami keluarga, namun setelah diklarifikasi ulang

keluarg dapat lebih memahami informasi tersebut


Keluarga dan klien puas dengan hasil pelaksanaan Discharge planning
99

3
4
5
a
b
c

Keluargaberpartisipasi aktif selama kegiatan discharge planning


Jumlah klien yang pulang 40 orang.
Keluarga antusias memberikan pertanyaan di antaranya berupa :
Perawatan klien ketika dirumah ?
Makanan apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan oleh klien?
Bagaimana cara minum obat ? Bagaimana bila obat habis namun gejala timbul

berulang.
Hambatan
1. Klien langsung pulang saat mengetahui dibolehkan pulang sehingga beberapa
klien tidak bisa dilakukan discharge planning jika harus menunggu administrasi
selesai.
2. Belum adanya leaflet khusus untuk ruangan anak dari bagian rumah sakit,
sehingga dikhawatirkan discharge planning terhenti setelah mahasiwa selesai
melakukan praktik manajemen diruangan karena leaflet yang disiapkan
mahasiswa masih kurang.
3. Masih kurangnya kesadaran beberapa perawat tentang pentingnya pelaksanaan
discharge planning.
4. Adanya kesulitan yang dihadapi mahasiswa karena Discharge planning hanya
dilakukan oleh mahasiswa manajemen tanpa didampingi oleh perawat setempat.
Beberapa perawat menyatakan kesibukannya karena beberapa alasan.

Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan sebelum dan sesudah Roleplay dapat dilihat pada

gambar di bawah ini :

99

100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%

Sebelum Roleplay

30%

Sesudah Roleplay

20%
10%

Ev
al
ua
si

Pe
re
nc
an
aa
n

Pe
ng
ka
jia
n

0%

Gambar 5.15.Diagram Perbandingan Hasil Penilaian Sesudah Pelaksanaan Roleplay


Dokumentasi Keperawatan
Berdasarkan hasil penilaian terhadap 10 asuhan keperawatan klien diketahui
bahwa pendokumentasian sudah cukup baik sebelum pelaksanaan role play, Tingkat
persentase sebelum roleplay didapatkan Pengkajian 75%, Diagnosa Keperawatan
53,33%, Perencanaan 83,33%, Tindakan Keperawatan 75%, Evaluasi 50% dan
Catatan Keperawatan 82%. Setelah dilakukan role play, presentasi Pengkajian
meningkat menjadi 85%,

Diagnosa 66,66%, Perencanaan 83,33 %, Tindakan

Keperawatan 85%, Evaluasi 70% dan Catatan Perkembangan 95%. Terjadi


peningkatan pada pendokumentasian karena evaluasi dan catatan perkembangan
dilakukan sendiri oleh perawat, dan ditulis dengan rapi dan jelas. Hal ini diharapkan
dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk hasil pendokumentasian yang lebih
akurat tentang kondisi pada klien.
Evaluasi Penilaian Dokumentasi Keperawatan
Struktur

99

Persiapan

kegiatan

pendokumentasian

asuhan

keperawatan

meliputi

penggunaan format pengkajian baru yang dibuat oleh Tim mutu RSUD Ulin
Banjarmasin, perumusan diagnosa, pembuatan rencana tindakan termasuk kriteria
tujuan, pelaksanaan tindakan keperawatan, dan evaluasi dalam bentuk catatan
perkembangan yang telah dibuat dalam bentuk format yang telah dikonsultasikan dan
disetujui pembimbing lahan.
Proses
Dokumentasi asuhan keperawatan dilaksanakan pada semua klien yang dirawat
sesuai dengan rencana pengisian yang telah ditetapkan. Dalam pelaksaaan yang
menggunakan format catatan perkembangan ruangan, terdapat kekurangan yaitu tidak
adanya tanda tangan perawat yang menyerahkan dan perawat yang menerima pada
pergantian shift, sehingga kemudian kelompok memodifikasi format catatan
perkembangan untuk mencantumkan hal tersebut. Pelaksanaan kegiatan penilaian
pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan terhadap seluruh dokumen dengan
klien minimal 3 hari perawatan. Dilakukan penilaian pada item pengkajian, diagnose
keperawatan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan catatan keperawatan. Item
pengkajian meliputi 4 poin, diagnosa keperawatan 3 poin, perencanaan 2 poin,
implementasi 3 poin, evaluasi 2 poin dan catatan keperawatan 5 poin.
Hasil
1. Pendokumentasian dilakukan dengan rapi dan jelas
2. Hambatan yang ditemukan:
a. Dalam pembuatan format pendokumentasian mengalami kendala dengan
dilakukannya perbaikan sebanyak 2 kali
b. Sebelum diadakannya rapat dengan kepala bidang keperawatan, proses
pendokumentasian asuhan keperawatan masih dilakukan oleh mahasiswa yang
berdinas

diruang

anak,

akan

tetapi

setelah

rapat

dilakukan

proses

pendokumentasian membaik dan dilakukan sendiri oleh perawat ruangan.


c. Perawat kurang motivasi dalam pendokumentasian.
D. PEMASARAN (M4/MARKETING)
a. BOR
BOR adalah suatu persentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu.
Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat
99

tidur rumah sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (depkes
RI,2005).
BOR pada serangkaian data sesuai dengan kapasitas tempat tidur klien di ruang
Anak Tulip IIA selama bulan 29 Juni 1 Agustus 2015 yaitu:
Formula :

BOR =

Jumlah BOR dalam periode


Jumlah hari dalam periode

Hal ini

962.4
26

= 37.01 %

menunjukan bahwa nilai parameter BOR diruang Anak Tulip

IIAuntuk tanggal 29 Juni 1 Agustus 2015 adalah 37.01% dan nilai parameter BOR
yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes, 2005). Nilai BOR diruang Anak Tulip IIA
berdasarkan nilai perhitungan BOR dibawah nilai ideal, hal ini tejadi karena jumlah
klien sedikit dan bertepatan dengan hari Besar (Hari Raya Idul Fitri), ruang Anak juga
terbagi menjadi 2.
Jumlah BOR ruang Anak Tulip IIAmulai dari tanggal 29 Juni 1 Agustus
2015 dapat diakumulasi karena mahasiswa menghitung sendiri BOR harian selama
dinas stase management dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 5.5.Perhitungan BOR harian ruang Anak Tulip IIA


No
1

Tanggal
29 Juni 2015

BOR

14
32

99

x 100% = 44%

30 Juni 2015

1 Juli 2015

2 Juli 2015

3 Juli 2015

4 Juli 2015

6 Juli 2015

7 Juli 2015

8 Juli 2015

10

9 Juli 2015

11

10 Juli 2015

12

11 Juli 2015

13

12 Juli 2015

14

13 Juli 2015

15

14 Juli 2015

16

15 Juli 2015

17

23 Juli 2015

18

24 Juli 2015

19

25 Juli 2015

20

26 Juli 2015

21

27 Juli 2015

22

28 Juli 2015

15
x 100% = 47%
32
15
x 100% = 47%
32
13
x 100% = 41%
32
16
x 100% = 50%
32
19
x 100% = 59%
32
14
x 100% = 44%
32
16
x 100% = 50%
32
16
x 100% = 50%
32
16
x 100% = 50%
32
9
x 100% = 28%
32
7
x 100% = 21%
32
10
x 100% = 31%
32
11
x 100% = 34%
32
10
x 100% = 31%
32
8
x 100% = 25%
32
7
x 100% = 21%
32
6
x 100% = 18.7%
32
6
x 100% = 18.7%
32
7
x 100% = 21%
32
8
x 100% = 25%
32
15
x 100% = 47%
32

99

23
24
25
26

Dari

16
x 100% = 50%
32
30 Juli 2015
15
x 100% = 47%
32
31 Juli 2015
13
x 100% = 41%
32
1 Agustus 2015
7
x 100% = 21%
32
data BOR diatas didapatkan nilai minimal yaitu 21% dan nilai maksimal
29 Juli 2015

50%, hal ini dikarenakan sedikitnya klien yang masuk tidak melebihi jumlah bed
yang ada di ruangan.
b. ALOS
ALOS adalah suatu gambaran mutu pelayanan yang menggambarkan rata-rata
lama rawat seorang klien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat
efisiensi , juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan , apabila diterapkan
pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut.
Secara umum nilai ALOS yang ideal antara 6-9 hari (depkes,2005).
Nilai ALOS ruang Anak Tulip IIApada bulan Juni hingga Agustus 2015adalah :
ALOS =
ALOS =

JUMLAH LAMA DIRAWAT


JUMLAH PASIEN KELUAR RS (hidup/mati)/ PERIODE
380
= 9.5hari
40

Jadi rata-rata lama perawatan klien di ruang Anak Tulip IIA pada tanggal 29
Juni 1 Agustus 2015adalah 9.5 hari dan nilai parameter ALOS yang ideal adalah 6-9
hari.
Lama rawat inap klien (ALOS) di ruang Anak Tulip IIApada tanggal 29 Juni
1 Agustus 2015 adalah rata-rata 9.5hari. Jumlah klien keluar 40 orang. ALOS
bulanMaret Mei 2015 di ruang Anak Tulip IIA adalah 5 hari, terjadi peningkatan
lama rawat inap klien dari sebelum Roleplay dibandingkan setelah Roleplay yaitu
sebanyak 4.5 hari. Hal ini akan mengakibatkan claim BPJS terganggu dan membuat
keluarga klien mengurus kembali berkas BPJS
99

c BTO
Nilai BTO ruang Anak Tulip IIApada 29 Juni 1 Agustus 2015 adalah :
BTO =
BTO =

HIDUP
)
MAT I
=
JUMLAH TEMPAT TIDUR

JUMLAH PASIEN KELUAR (


40
= 1.25Kali
32

Jadi selama bulan Juni s.d Agustus 2015, BTO Sebanyak 1.25 kali dan nilai
parameter BTO yang ideal selama 3 minggu adalah 2,3-2,8 kali.Hal ini dikarenakan
klien yang berada di ruang Anak Tulip IIA jumlahnya sedikit dibandingkan dengan
jumlah bed di ruangan.
d. TOI
Nilai TOI Ruang Anak Tulip IIA pada 29 Juni 1 Agustus 2015 adalah:

TOI =

( 32 x 26 )309
= 13 hari
40

Jadi, rata-rata tenggang perputaran dari 29 Juni 1 Agustus 2015 adalah 13 hari
1. Instrumen C
Struktur
Kegiatan penilaian terhadap kesesuaian pelaksanaan tindakan keperawatan
dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) meliputi:
a) Melakukan koordinasi dengan perawat ruangan terkait rencana pelaksanaan
penilaian kesesuaian pelaksanaan tindakan keperawatan dengan Standar
Operasional Prosedur (SOP)

99

b) Melakukan penilaian kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan Standar


Operasional Prosedur (SOP)
c) Melakukan skoring terhadap penilaian kesesuaian pelaksanaan tindakan
keperawatan dengan SOP
d) Menyimpulkan hasil skoring terhadap penilaian kesesuaian pelaksanaan
tindakan keperawatan dengan SOP
e) Melakukan dokumentasi hasil skoring

terhadap

penilaian

kesesuaian

pelaksanaan tindakan keperawatan dengan SOP.


Adapun pengorganisasian kegiatan penilaian dokumentasi asuhan keperawatan
yang dilaksanakan yaitu:
Penanggung Jawab: Annisa Febriana, S.Kep
Pembimbing Klinik: Hj. Erni Aprilia, S.Kep, Ns, MM
Pembimbing Akademik: Endang Pertiwiwati, S.Kep, Ns, M. Kep
Pada kegiatan penilaian terhadap kesesuaian pelaksanaan tindakan keperawatan
dengan SOP ruangan, keterlibatan Supervisor ruangan dalam melakukan evaluasi
dapat membantu kegiatan penilaian.
Proses
Tahap pelaksanaan, kegiatan yang dilakukan penilaian yaitu pemasangan infus.
Secara keseluruhan, pelaksanaan tindakan mandiri keperawatan tidak mengalami
kendala yang berarti dalam pelaksanaannya.
Hasil
Berdasarkan tabel, diketahui bahwa rata-rata kesesuaian pelaksanaan tindakan
keperawatan dengan SOP ruangan . Dalam upaya pembuatan SAK terbaru atau
revisi yang telah berkoordinasi dengan Kepala Ruangan dan Supervisor Ruang Anak
Tulip IIA dan sudah diserahkan. Sedangkan untuk penggunaan draf SAK tersebut di
ruangan, masih perlu diproses lebih lanjut.Untuk SOP tetap mengikuti ruangan.

No
41.

Persentase (%)
sebelum
-

Kegiatan
Pemasangan infus
Rata-rata
99

Persentase (%)
sesudah
82.14%
82.14%

Tabel 5.6 Data penilaian terhadap kesesuaian pelaksanaan tindakan keperawatan


dengan SOP ruangan

Berdasarkan tabel diatas pada tindakan pemasangan infus, sebelum


Roleplaytidak bisa dipersentasi dan setelah Roleplay persentasi tindakan menjadi
82.14% hal ini terjadi karena sebelum Roleplay, kurangnya koordinasi antara
mahasiswa stase Manajemen dengan perawat ruangan sehingga tidak bisa dinilai.
Pada hasil setelah Roleplay perawat melakukan tindakan pemasangan infus sebagian
besar sudah sesuai dengan SOP yang berlaku di ruangan.Namun ada beberapa point
yang tidak dilakukan misalnya seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah
melakukan tindakan

99

BAB VI
PENUTUP

A. Simpulan
Dari hasil kegiatan stase manajemen profesi ners PSIK FK UNLAM
Banjarbaru dari tanggal 29 Juni s.d 8 Agustus 2015, didapatkan beberapa simpulan
sebagai berikut:
1. Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin merupakan salah satu ruang
perawatan dengan total kapasitas bed ada 32 bed. Data dari Maret - Mei 2015
BOR ruang Anak Tulip IIA adalah 60% dan ALOS 5 hari. Sedangkan untuk
BOR pada tanggal 29 Juni 1 Agustus 2015 adalah 37.01% dan ALOS 9.5 hari.
2. Kegiatan roleplay dilaksanakan dari tanggal 29 Juni 1 Agustus 2015 dengan
menerapkan SP2KP model modifikasi dengan pelaksanaan unsur-unsurnya
secara menyeluruh.
3. Secara umum, terdapat peningkatan setelah dilakukan kegiatan roleplay
terutama pada kegiatan timbang terima dan ronde keperawatan.
4. Jumlah tenaga keperawatan saat ini berjumlah 17 orang. Jumlah tenaga non
keperawatan (pekarya) saat ini berjumlah 1 orang.
5. Masih banyak tenaga perawat yang lulusan DIII yaitu sebanyak 13 orang dari
17 perawat yang bekerja di Ruang Anak Tulip IIA
6. Tingkat kepuasan klien diruang Anak Tulip IIA berada dalam kategori baik dan
terjadi peningkatan sebelum dilakukan roleplay 50% menjadi 77% pada klien
kelolaan roleplay.
7. Cukup tersedianya alat penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh tenaga
kesehatan dan klien serta keluarga (Musholla, WC, alat kebersihan).

B. Saran
Man (M1)
99

Diharapkan pihak rumah sakit mengupayakan penambahan ketenagaan perawat


sesuai jumlah ideal tenaga perawat berdasarkan rumus dari lokakarya PPNI.
Dengan demikian beban kerja perawat lebih minimal sehingga perawat dapat

bekerja lebih optimal dalam melakukan tugasnya.


Diharapkan supervisor berperan aktif untuk melakukan pembagian klien yang

akan dikelola perawat ataupun mahasiswa yang berdinas pada saat itu.
Diharapkan pihak manajerial dapat memfasilitasi peningkatan jenjang pendidikan

bagi ketua tim yang masih lulusan DIII.


Material (M2)
1. Diharapkan untuk manajemen ruang Anak Tulip IIA untuk menindak lanjuti
sarana dan prasarana (penyediaan alat kesehatan obat emergency, perbaikan
ganggang pintu WC , tombol closed duduk WC, perbaikan kipas angin yang
rusak) yang belum terlaksana untuk mengoptimalkan sarana prasarana yang
sudah ada dan Cleaning Service diharapkan untuk melaksanakan jadwal
kebersihan sesuai dengan jadwal yang dibuat
2. Diharapkan bagi semua perawat di ruang Anak Tulip IIA dan Cleaning service
menjaga sarana dan prasarana yang ada di ruangan.
Method (M3)
1. SP2KP
a. Diharapkan perawat ruangan mampu melaksanaan model yang telah ada.
b. Diharapkan RS menyediakan SDM yang sesuai dengan kebutuhan di ruangan.
2. Penerimaan klien baru
a. Diharapkan diruangan melanjutkan penerimaan klien baru yang sudah di
Roleplay kan oleh mahasiswa stase manajemen.
b. Diharapkan diruangan sudah menyediakan format penerimaan klien baru
terlebih dahulu sebelum klien baru datang keruangan.
3. Timbang terima
a. Diharapkan ruangan melaksanakan kegiatan timbang terima dan morning report
setiap pagi dengan dipimpin oleh kepala ruangan/supervisor bersama perawat
yang bertugas.
b. Diharapkan semua perawat bisa berhadir tepat waktu saat pergantian shift.
c. Diharapkan timbang terima dilakukan di ners station, validasi data di bed klien
kemudian kembali ke ners station untuk mendiskusikan hasil validasi yang akan
dilakukan kemudian.
99

d. Diharapkan

dalam

kegiatan

timbang

terima,

ketua

tim

melakukan

penandatanganan serah terima pergantian shift.


4. Supervisi
a. Diharapkan supervisi dilakukan sesuai dengan SPO yang ada di RS.
b. Diharapkan supervisor melanjutkan supervisi di ruangan baik supervisi
langsung maupun supervisi tidak langsung.
c. Diharapkan supervisor dapat lebih memperhatikan dan melaksanakan uraian
tugas yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit, sehingga kegiatan supervisi
dapat menjadi lebih baik. Kegiatan supervisi sebaiknya perlu dijadwalkan dan
setiap kegiatan yang disupervisi harus didokumentasikan dengan baik, sehingga
peningkatan mutu pelayanan semakin baik.
5. Discharge planning
a. Diharapkan tetap melanjutkan discharge planning sesuai dengan format serta
menggunakan leaflet yang sudah ada.
b. Diharapkan adanya penyediaan leaflet khusus untuk ruang Anak Tulip IIA dari
pihak Rumah Sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
6. Sentralisasi obat
a. Diharapkan sentralisasi obat dilakukan oleh perawat diruangan dengan
menggunakan format persetujuan sentralisasi obat.
b. Diharapkan kedepannya di ruangan dapat menjalankan sentralisasi obat yang
sesuai dengan SPO.
c. Diharapkan di ruangan dapat menyediakan SDM untuk mengambil obat setiap
klien secara kolektif.
7. Ronde keperawatan
a. Diharapkan setelah berjalannya Roleplay ronde keperawatan

ruangan

melanjutkan kegiatan ronde keperawatan untuk klien yang memerlukan


perhatian khusus.
8. Dokumentasi keperawatan
a. Diharapkan penulisan dokumentasi keperawatan di ruangan mencakup asuhan
keperawatan secara keseluruhan seperti: pengkajian, diagnosa (problem dan
etiologi), rencana keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi
keperawtan (SOAP).
b. Diharapkan dalam penulisan dokumentasi mencantumkan tanggal, jam dan
nama perawat yang melaksanakan.
Money (M4)

99

1. Diharapkan dana simpanan ruangan dapat maksimal dipergunakan dalam


membantu keperluan ruangan yang mendesak dan yang harus mengeluarkan dana
banyak pihak rumah sakit mampu mempermudah atau mempercepat keluarnya
dana tersebut agar pelayanan ruangan dapat berjalan maksimal
2. Diharapkan bagian administrasi menyimpan data atau daftar pembiayaan
( Program jaminan kesehatan ) apabila sewaktu waktu keluarga klien ingin
mengetahui informasi lengkap terkait hal tersebut.
Mesin (M5)
1. Diharapkan ruangan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan komite
keperawatan terkait pembaruan atau revisi SPO dan SAK Ruang Tulip IIA dan
dilakukan pengadaan untuk SPO serta SAK yang secara menyeluruh diperlukan
oleh ruangan.
2. Diharapkan perawat ruangan mampu menjalankan SPO yang sudah disiapkan
sebagai acuan atau standar untuk memberikan tindakan keperawatan maksimal
kepada klien
3. Diharapkan dengan adanya pembuatan SAK terbaru oleh mahasiswa stase
managemen PSIK FK UNLAM dapat dipergunakan secara maksimal dalam
menentapkan suatu standar asuhan keperawatan yang lebih tepat.

99