Anda di halaman 1dari 12

RUTE PEMAKAIAN PARENTERAL

INTRAVENA --- Intravena Bolus


Intravena Drips/ Infusi

Tanpa proses absorpsi


Respons klinik cepat

Terapi asma akut


Dosis Tepat
Cp dapat diramalkan
Injeksi IV bolus 1 2
hindari - C tinggi pada jaringan perfusi tinggi
- hindari terjadi pengendapan
Ex. injeksi diazepam dg pembawa
propilenglikol, etanol

RUTE PEMAKAIAN PARENTERAL

Intravena Drips/ Infusi


Sesuai untuk obat dengan
- waktu paro pendek
- indeks terapi sempit
Ex. Oksitosin, dopamin, teofilin, lidokain

Intra Arteri

Langsung ke organ sasaran


Memaksimalkan C pada area yang dituju
pelepasan ke sirkulasi sistemik minimal
Tx carcinoma
C jaringan tumor >>----Jar lain <<
Ex. 5 fluoro urasil

RUTE PEMAKAIAN PARENTERAL

Intrathecal/ lumbar
Obat langsung masuk CSF
>> obat tidak mudah menembus sawar darah otak
pemberian sistemik----CCCSF rendah--- tidak
efektif
Ex. antibiotika
antineoplastik

Subkutan

Keuntungan
Abs segera- lar aqueous
Terhidar kerusakan GIT
Dapat untuk suspensi
Perlu sedikit training

Kerugian
Tidak dpt untuk vol.besar
Potensial nyeri- kerusakan
jaringan
Variasi abs. tempat injeksi
Perlu sedikit training

RUTE PEMAKAIAN PARENTERAL

Subkutan
perfusi darah << otot

absorpsi lebih lambat

Determinan absorpsi luas area

Jaringan subkutan sedikit longgar


>> jaringan penghubung -- mencegah penyebaran lateral

Enzim hyaluronidase
memecah matriks jaringan penghubung :
Mukopolisakarida
Penyebaran lebih luas
Absorpsi lebih baik

Pe absorpsi : pemijatan
Pemanasan
vasodilator

Efek prolonged release

implant : hormon testoteron, estrogen

Disappearance of I125-insulin from


subcutaneous injection
at different sites. Data from Koivisto & Felig, Ann Intern
Med 92:59, 1980.

110
100
% of initial counts

Sites for SC injection

Abdomen
Arm
Leg

90
80
70
60
50
40
0

30

60

90

Time (minutes)

120

Postprandial rise in plasma glucose after insulin injection at


different sites. Data from: Koivisto & Felig, Ann Intern Med 92:59-61, 1980.
Abdomen

Arm

Leg

Rise in plasma glucose (mg/dl)

120
100
80
60
40
20
0
0

50

100
Time (min)

150

Intramuskular
Bahaya << dibanding IV

Rasa sakit, iritasi << subkutan


Absorpsi : Obat ---jaringan otot--- cairan sekitar---darah
Faktor faktor
Vaskularisasi
Ionisasi
Kelarutan dalam lemak
Osmolalitas
Obat lain yang digunakan bersamaan ---

Tempat injeksi
Viskositas besar ----- absorpsi lambat
- gliserin, sesame oil, PEG
Sediaan larutan, suspensi

ISOTONI, ISOHIDRIS

vasokontriktor
vasodilator

Plasma phenytoin concentrations in patients during


oral and IM administration
IM

oral

Phenytoin Concentration
(mcg/mL)

oral

20

40

Days
Redrawn from: Wilder et al. Clin Pharmacol Ther 16:507-513, 1974.

60

Peak plasma cephradine concentrations


(mcg/mL) after IM administration to different
sites in male and female subjects
Injection site
deltoid
vastus lateralis
gluteus maximus

Males
11.7
9.8
11.1

Females
10.2
9.4
4.3

Data from: Vukovich et al. Clin Pharmacol Ther 18:215, 1975.

PARENTERAL
Sediaan :

Tonisitas larutan
hipertonis/hipotonis
aglutinasi/hemolisis eritrosit
kerusakan vaskular- trombosis vena
terutama infus jangka panjang
pH
Bebas mikroorganisme-pirogen
Keuntungan
OOA cepat
Do tepat
Cp dapat diramalakan
Px tidak sadar
Obat absorpsi GIT kecil
Obat tidak stabil GIT
Bebas FPM

Kerugian
Perlu trained staff
Tidak disukai Px - sakit
Mahal
Infeksi-bakteri, pirogen
OBAT MASUK TAK DAPAT DITARIK
ANAPHYLACTIC SHOCK