Anda di halaman 1dari 102

Milik Departemen P dan K Tidak Diperdagangkan MANIKMAYA I Alih Aksara dan Alih B

ahasa SRI SUMARSIH Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PROYEK PENERBITAN BUKU S
ASTRA INDONESIA DAE RAH JAKARTA - 1981

MANIKMOYO I I. PUPUH DHANDHANGGULO 01. Konon Mas Ngabei Ronggo di Penambangan ya


ng mengepalai para abdi dalem Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah berhasil
menyusun kisah tentang kedatangan agama Islam di Pulau Jawa. Ceritera ini dimul
a i dari Sis Yanas Nurcahyo, adalah keturunan Nabi Adam sampai dengan Sunan Giri
. 02. Kisah yang disusunnya bersumber dari kitab suci Al Quran, tentang tonasube
(i lmu tasawuf). Ceritera itu diuraikan dalam bentuk ijina dan kias, menunjukkan
sif at : Maha Tunggal, Maha Pengasih dan Penyayang, Pemurah dan Pengampun Tuhan
seru sekalian alam. 03. Ceritera itu ditulis pada hari Sabtu Kliwon tanggal empa
t be las bulan Jumadillawal tahun Ehe, wuku Warigalit, dalam masa kelima, dalam
jangk a windu, Windu Adi. Diberi sasmito sandi (Jawa: Sengkalan) Sirno Ening Swo
ro Tun ggal. Jelasnya tahun 1740. 04. Demikianlah ceritera itu didahului dengan
ucapan Bismiilahir rohman anirohiem. Puji pujian itu berasal dari kitab Barubutu
n, kita b Barubu Laut, dan kitab Barungala. Pertama (kidam) yang perlu diperhati
kan urut urutan (tanayul) doa dan kitab kitab itu jangan sampai terbalik balik,
disertai lafal Illaha Illalloh Muhammad Rasullullah. 05. Sebelum bumi dan langit
dicipta kan maka keadaan alam semesta masih hampa. Dialam yang kosong itu yang
ada hanya lah sekumpulan roh. Kepada sekumpulan roh itu disodorkan janji janji u
ntuk menem puh jalan yang baik. Setelah mendapat perjanjian sebagian diantara ro
h roh itu l alu ada yang menjadi Nur (malaikat). Kemudian Tuhan memerintahkan ke
pada para ma laikat tadi untuk bersujud kepada-Nya. Malaikat lalu menyembah lima
kali kepada Yang Maha Esa. 06. Sejak itulah terjadi kebiasaan malaikat menyemba
h kepada Tuha n. Mereka menjalankan sujud itu dengan pengertian dan mengindahkan
ketentuan dan dalil. Dalam menjalankan sujud itu mereka menjaga kebersihan lahi
r dan batin. D alam menjalankan sujud itu mereka menjaga kebersihan lahir dan ba
tin. Dalam menj alankan sujud jangan sampai terpengaruh soal soal yang kotor bai
k jasmaniah maup un rohaniah. Suatu ketika para malaikat habis menjalankan sujud
dengan khusuknya , mereka lalu menelentang. Dengan kesaktiannya pada waktu mene
lentang itu keluar lah asap yang membubung tinggi. Dan asap akhirnya terjadilah
langit ketujuh ting kat dengan isinya. 07. Langit ketujuh tingkat beserta isinya
itu menunjukkan rua ng lingkup kekuasaan Tuhan. Disinilah merupakan tempat yang
terjaga kesuciannya dan tempat tersimpannya wahyu wahyu Illahi. Ketujuh langit
ini lalu menjadi tera ng dengan adanya matahari, bintang, dan bulan. Disinilah b
ertempat tinggal para malaikat, jin, bidadari. Mereka adalah umat Tuhan Yang Mah
a Agung disana pula te rletak neraka. 08. Setelah ketujuh langit selesai terbent
uk malaikat lalu melaku kan sujud lagi dengan posisi tengkurap. Saat itu lalu te
rbentuk bumi sebanyak tu juh buah lengkap dengan isinya. Dari sikap tengkurap it
u malaikat lalu tidur den gan posisi miring. Saat itu terjadilah lembah, jurang,
tebing, karang. Sesudah i tu malaikat lalu duduk. Sikap ini nengakibatkan terja
dinya gunung gunung. 1

09. Waktu duduk, malaikat itu mengeluarkan keringat. Dan kerigat inilah yang men
jadikan asal mula adanya samudera, mata air, sungai sungai besar, serta telaga.
Semua merupakan sumber dan air hujan. Kemudian kotoran badan (daki) menjadi pen
g huni bumi yang terbagi atas binatang darat dan binatang air. Termasuk binatang
d arat yaitu binatang bangsa burung, binatang melata, serta binatang merayap. 1
0. Kejap kejap mata malaikat menjadikan asal mulanya ada siang dan malam, guruh,
ki lat. Saat perjanjian dan kejapnya malaikat masih rahasia Tuhan Yang Maha Esa
. 11 . Alam arwah itu membutuhkan jangka waktu 70.000 tahun Dalam jangka waktu i
tu te rkumpullah unsur unsur sehingga memungkinkan perubahan sifat keadaan. Dika
la itu Tuhan memfirmankan tentang adanya / lahirnya bumi dan langit lengkap deng
an ane ka macam isinya. Hal itu menurut Al Quran teijadi dalam waktu 6 hari. 12.
Begitul ah kisah terjadinya tujuh buah langit dan tujuh buah bumi beserta isinya
. Panjan g lingkar keliling langit itu diceriterakan bila diukur dengan kecepata
n burung terbang baru akan selesai dalam jangka waktu 1.000 tahun. 13. Salah sat
u diantar a 7 buah langit itu lingkar kelilingnya cukup ditempuh dengan kecepata
n terbang burung yang tanpa berhenti selama 500 tahun. Ruang keagungan dan kemeg
ahan Tuhan dapat dilbaratkan sebagai sorga indah yang berkotak kotak bagaikan ko
tak rumah lebah. Masing masing sorga indah itu luasnya tak dapat dikatakan. Masi
ng masing dijaga oleh bidadari. 14. Bidadari itu mempunyai empat jenis warna pok
ok yaitu h itam, putih, merah, dan kuning. Warna pokok yang satu terhadap yang l
ain saling baur membaur. Yang warna hitam agak keputihan, yang putih agak kemera
h merahan b ercampur kuning, yang merah agak hitam dan putih serta kuning, yang
kuning agak kemerah merahan, putih, hitam, dan merah. 15. Para bidadari itu memp
unyai wajah yang cemerlang seolah olah masing masing memaimerkan keunggulan sina
rnya Lempara n pandangannya bagai meluncurnya siraut (pisau tajam) jatuh. Keliha
tan serba pan tas tiada setitikpun kejelekannya. Tingkah lakunya aneka ragam lem
ah gemulai. Te lah menjadi kebiasaan gerak gerik bidadari itu serba menarik memb
uat para pria m enjadi terpesona. 16. Dan berjuta juta dan puluhan ribu bidadari
itu masing masi ng cantik molek wajahnya para bidadari itu pantas jadi idaman i
stri para manusia yang mendapat anugrah Tuhan masuk kesorga. 17. Masing masing k
otak sorga itu uj udnya berbeda beda. Ada kelompok kotak yang berujud mutiara se
mua. Kelompok kota k mutiara ini memancarkan sinar cerah. Dilain tempat terdapat
kelompok kotak sor ga intan. Pada kelompok ini terdapat tanaman yang batang, da
un, serta pucuknya s emuanya serba intan. Memancarkan sinar yang seperti intan h
abis digosok. 18. Did alam surga keadaannya serba menarik. Dimana mana terdapat
permata mulia. Ada jam rut, mirah, nila widuri, ratna cempaka, beralaskan emas m
urni berseling seling p erak memancarkan sinar aneka warna. Sinar sinar itu seol
ah olah memamerkan seni serinya masing masing. 19. Sungguh mengasyikkan pemandan
gan disana sini terdapat sinar cemerlang Tiada bedanya keadaan siang dan malam d
idalam surga. Nikmat nia n hidup didalam surga. Keadaan seperti itu, baka langge
ng tiada habisnya. Tak ad a tolok banding keindahan surga dibumi ini. 20. Rapal
Laa ilaha illalloh dan Moh ainmad dan wa rosuuluh itu tertulis dalam kitab suci.
Kitab suci itu tersimpan d idalam makful yaitu tempat yang terjaga untuk 2

menyimpan ayat ayat suci. Lokil makful itu tidak dapat dibayangkan sampai berapa
luas tinggi dan dalamya 21. Tentang ujud Tuhan Yang Maha Esa itu tak dapat diga
mbarkan. Hanya dapat dikatakan lengkap penuh sempurna serba maha. Apa yang difi
r mankan terjadi. Dan firman itu tidak pernah tidak ditepati. Sifatnya baka, tid
ak bertambah pun pula tidak menyusut sesuai dengan sajaratil muntoha. 22. Pohon
sa jaratil muntoha besar batangnya lipat tujuh kali besarnya bumi. Daunnya berma
cam macam ada kuning, merah, biru, dhadhu (warna pembauran antara merah dan kuni
ng) , campuran ungu dan kuning, ungu, hijau, hitam, dan putih. Semua daun itu me
manc arkan sinar merah bagaikan mutu manikam yang semua memancarkan keindahan ca
haya. Aneka warna daun itu mengkiaskan sifat tabiat masing masing manusia. 23. A
pabil a daun itu layu, ini mengkiaskan manusia jatuh sakit. Apabila daun menjadi
kerin g mengkiaskan manusia telah tua. Bila daun gugur mengkiaskan manusia meni
nggal, badan rohaniah meninggalkan badan jasmaniah. Arwahmya diterima oleh malai
kat Ngi jrail yang menjaga dibawahnya lalu dilihat dan dipertimbangkan amalnya.
24. Kala u sudah dipertimbangkan segala amal perbuatannya, bagi yang banyak amal
solehnya ditempatkan oleh malaikat Ngijrail di lohkil mahful. Mengenai meningga
lnya manu sia itu ada yang meninggal dalam usia tua, usia muda, masih bayi, dan
meninggal sebelum dilahirkan (abortus). Semua itu diatur oleh kekuasaan Tuhan. T
entang gil iran kematian itu diatur oleh kebijaksanaan Tuhan, digambarkan sebaga
i bunyi ira ma gamelan yang indah. 25. Irama gamelan yang indah membuat gembira
bagi siapa p un yang mendengarkan mengakibatkan badan menjadi segar, dan menghil
angkan rasa l esu, bagaikan rasa nikmatnya wanita yang dirayu oleh pria. Jumlah
malaikat yang mempunyai tugas sendiri sendiri itu amat banyak, berjuta juta bahk
an wendran.(1 endran = 10.000.000). 26. Yang dijadikan utusan Tuhan malaikat Jab
arail, Mingkai l, Ngisrofil, dan Ngijrail Malaikat ditugaskan mengepalai para ma
laikat tersebut . Jajil itu bertempat tinggal disorga. Ia mendapat kepercayaan T
uhan sebagai wak il-Nya. 27. Tujuh bumi dan tujuh langit terjadi berpasang pasan
gan. Tujuh bumi d an tujuh langit itu keadaannya bagaikan kembar. Keadaan atas d
an bawah dari tuju h langit dan tujuh bumi itu sama, begitu juga jarak antaranya
dan susunannya Mas ing masing bumi itu disangga oleh malaikat yang berujud ular
naga. Ular naga itu panjangnya sama dengan jarak ujung bumi sebelah timur hingg
a ujung bumi sebelah barat. 28. Naga itu menyangga bumi dari ujung timur menyusu
r sampai keujung bar at kemudian muncul dan permukaan bumi melambung, melengkung
akhirnya kembali keu jung bumi sebelah timur akibatnya kepala dan ujung ekornya
bertemu. Ular naga it u seolah olah kepalanya memangsa ekornya sendiri. 29. Kon
on naga itu disangga ol eh lembu yang dinamakan lembu Gumarang. Lembu Gumarang i
ni mempunyai 1.000 tandu k dan 1.000 telinga. Jarak antara telinga yang satu den
gan telinga yang lain sam a dengan jaraknya ujung timur dan ujung barat. Lembu i
ni berdiri diatas batu pua lam (kumoloso) yang luasnya sama dengan luas bumi. Ba
tu pualam itu disangga oleh ikan Nun. Ikan Nun itu disangga oleh lautan. Ikan Nu
n memangsa sesama ikan. 30. Ikan kecil yang menjadi mangsanya berdatangan sendir
i seolah olah sudah menjadi takdir Tuhan. 3

31. Bentuk permukaan bumi itu ada bermacam macam, ada yang itu mengeluarkan air
sehingga terjadilah mata air, sungai, dan sungai besar Kesemuanya itu kena cahay
a matahan kelihatan amat indah. Bintang bintang bertebaran diangkasa 32. Disamp
i ng bintang bintang yang bertebaran itu, terdapat pelangi berbentuk lengkung ya
ng ujung pangkalnya dikaki langit seolah olah kepala rusa sedang minum air laut
(b entuk pelangi yang melengkung itu digambarkan seperti rusa yang sedang minum)
. D iangkasa yang luas itu.terdapat juga kilat yang saling bermunculan. 33. Meng
enai jenis binatang : ada binatang hutan, binatang yang hidup dijurang jurang, b
inat ang yang hidup ditebing tebing, binatang yang hidup didalam air. Semua bina
tang itu ujud dan keadaannya bermacam macam. Karena tak terhingga banyak dan rag
amnya maka orang tak mampu menuliskan. 34. Alkisah Tuhan Yang Maha Esa menciptak
an se ekor burung yang besar lagi panjang, warnanya hijau. Burung itu amat tingg
i. Mak anan burung itu telah tersedia, buah buahan yang terdapat didunia. Tumbuh
tumbuh an didunia itu bermacam macam. Yang dimakan burung itu tidak hanya buah
buahan y ang besar saja tetapi kecil sebesar biji sawi pun dimakan juga. Sesudah
semua tu mbuh tumbuhan itu habis dipatuk maka matilah burung itu. 35. Kemudian
Tuhan berf irman kepada Ngijrail agar memasuki mutiara hijau yang sebesar biji s
awi. Ngijra il tidak sanggup alasannya bagaimana. Ia dapat masuk, sebab mutiara
itu tidak be rpintu lagi pula sangat kecil, jauh lebih kecil dari badannya. Seda
ng bila ia se dang merentang sayapnya saja ruang diluar langit dapat terpenuhi.
36. Malaikat N gijrail menukik dari langit sampai dibumi masih bersifat malaikat
. Untuk dapat m elandas kebumi tidak dapat. bila tidak merubah keadaan dirinya y
ang mirip dengan perujudan yang ada dibumi. Apalagi bagaimana hamba dapat masuk
kedalam mutiara yang sebesar biji sawi itu. Jawab Tuhan hanya menekankan agar Ng
ijrail menjalani apa firman-Nya. 37. Karena takut dan patuh menjalani firman Tuh
an akhirnya Ngij rail melaksanakan apa firrnan Tuhan itu. Ia masuk kedalamnya. T
ernyata didalamny a amat luas. Ngijrail segera membentangkan sayapnya, kemudian
terbang berkelilin g. Namun ia tak dapat mencapai dinding mutiara itu. Ia lalu m
elambung keatas, te rnyata tidak juga mencapai tepi bagian atasnya. Ngijrail ama
t menyesal. Karena k epayahan berterbangan itu ia mengurangi kecepatannya. Akhir
nya ia berhenti untuk bersujud menyatakan tobat kepada Tuhan Yang Maha Esa. 4

II. PUPUH ASMORODONO 01. Tuhan Yang Maha Esa menanyakan kepada Ngijrail, apa yan
g nampak didepannya. Jawab Ngijrail bahwa segera ia melihat seekor burung berwa
r na hijau tua sinarnya cemerlang. 02. Warna hijau itu bercampur kuning, biru da
n putih. Tuhan berfirman kepada Ngijrail disuruh segera masuk kedalam perut buru
ng hijau itu. 03. Malaikat Ngijrail segera masuk kedalam perut burung hijau itu.
P erut burung itu amat luasnya andaikata ia terbang sejauh jauhnya tak mungkin
men capai sisi tepinya. 04. Malaikat Ngijrail dalam hati mengagumi Maha Kuasanya
Tuh an yang tak dapat dibayangkan sampai dimana luas dan puncak kekuasaan-Nya.
Keane hannya ia bertempat tinggal dalam sebuah rumah raksasa yang terletak didal
am per ut burung. 05. Malaikat Ngijrail bersujud dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Ia meng hiba hiba minta belas kasihan kepada Tuhan. Tuhan berfirman malaikat Ngi
jrail di suruh masuk kedalam rumah yang terletak didalam perut burung hijau itu.
Malaikat Ngijrail mengindahkan perintah Tuhan tersebut. 06. Tetapi ia tak mampu
mendekat i. Ia pingsan, tubuhnya lemah tak berdaya. Ia menyerah kepada segala m
aksud Tuha n. Tuhan seru sekalian alam berfirman kepada malaikat Ngijrail itu se
mua tidak m enjadi persoalan, kamu tidak bersalah. 07. Didalam rumah raksasa yan
g berwarna h ijau yang terletak didalam burung tersebut malaikat Ngijrail bertan
ya kepada Ill ahi, suara apakah itu gerangan. 08. Tuhan Yang Maha Esa memberi jawa
ban, itu adalah suara insan kamil (manusia sejati). Malaikat Ngijrail menyambung p
ertanyaannya, d i manakah letak insan kamil itu.. Tuhan Yang Maha Esa memberikan j
awaban, ia tidak berada diluar ataupun didalam, tidak dibawah pun dan pula tidak
diatasjauh jara knya tak terhingga. 09. Namun terletak amat dekat dengan kau tet
api tidak bersin ggungan dengan dirimu. Malaikat Ngijrail bertanya, sebelum alam
semesta langit d an bumi ketujuh ini tercipta dimanakah insan kamil itu berada.
10. Tuhan Maha Su ci berfirman kepada malaikat Ngijrail, sebelum segala sesuatu
tercipta (kablaseh i la akada) tak dapat dibayangkan bagaimana keadaan alam ini
, Alam semesta bersi fat hampa tanpa isi. 11. Tuhan Yang Maha Kuasa lalu mencipt
akan bumi dan langit. Sekali berfirman terjadilah apa yang beliau kehendaki. Mal
aikat Ngijrail bertan ya kepada Tuhan Semesta Alam, dimanakah tempat insan kamil
(manusia sempurna). 1 2. Kira kira dala waktu 1.000 tahun malaikat Ngijrail mas
uk kedalam mutiara, mak a Tuhan Yang Maha Esa menghendaki menciptakan Jin untuk
penghuni bumi. 13. Jin i tu mempunyai laskar beratus ratus ribu berpasang pasang
an pria dan wanita. Para Jin itu beranak cucu turun temurun. Ujud raja Jin beser
ta laskarnya itu tidak me nyerupai manusia melainkan bersifat roh halus. Ia bera
sal dan sari api. 14. Semu a Jin itu tabiatnya suka durhaka. Mereka mengingkari
tentang segala kekuasaan Tu han, tak sudi bertaqwa kepada Tuhan. Selama para Jin
itu menghuni bumi dalam wak tu puluhan ribu tahun mereka membiasakan hidup serb
a mewah. 15. Oleh karena itu mereka lalu mendapat murka Tuhan dan dilenyapkan da
ri bumi dengan cara disambar petir sehingga punah beserta anak cucunya Kemudian
Tuhan Yang Maha Esa berhajad hendak menciptakan penghuni bumi lagi Umat baru yan
g diciptakan itu diberi nama Ibnu Jan, berasal juga dan sari api. 5

16. Pengikut Ibnu Jan ada beratus ratus ribu, bersuami istri, beranak cucu turun
temurun, sifatnya masih roh halus. Ibnu Jan amat berwibawa Keadaan kerajaannya
aman sejahtera. Segala sesuatu yang diinginkan lekas ada. 17. Adat kebiasaannya
suka menjalankan perbuatan durhaka, malas bekerja, berbuat sekehendak hatinya, m
engingkari segala sifat kebesaran Tuhan. Mereka mendiami bumi sampai 80.000 tah
u n, kemudian mendapat murka Tuhan. 18. Akibat dari pada murka ini negaranya men
ja di rusak. Ibnu Jan beserta pengikutnya meninggal dilanda air. Sesudah itu yan
g m enjadi raja adalah malaikat Ngijrail yang telah lama mengalami hidup mulia,
temp at tinggalnya disorga. 19. Malaikat Ngijrail sebagai pimpinan para malaikat
ingi n mengetahui keadaan bawah langit. Dengan diantar 700.000 malaikat ia turu
n kebu mi, sampailah ia dibawah langit yang pertama 20. Malaikat Ngijail bertakw
a dihad apan Tuhan hingga 1.000 tahun. Sesudah itu ia minta Izin kepada Tuhan Ya
ng Maha Esa ingin mengetahui keadaan dibawah langit maka ia diiringi oleh pengan
utnya ya ng berjumlah ratusan nbu itu turun kebumi. Kisah sebelumnya malaikat Ng
ijrail it u bertempat tinggal disorga. 21. Genap 1.000 tahun malaikat Ngijrail m
enempati s ebuah bumi ia beserta pengikutnya pindah kebumi yang lain. Selanjutny
a ia pindah kebumi yang lain lagi. Begitulah sampai ketujuh bumi pernah didiami.
Masin masi ng bumi itu didiami selama 1.000 tahun. Maka samapai meliputi bertem
pat tinggal ditujuh bumi makan waktu 7.000 tahun. Masing masing pasangan bumi da
n langit men yambut baik kedatangan Ngijrail beserta pengikutnya. 22. Begitu Ngi
jrail sampai dibumi hatinya amat tertarik keadaan dibumi sehingga keadaan disorg
a terlupakan. Ia pergi mengelilingi bumi melihat lihat hutan rimba. belantara, g
unung gunung dengan lereng serta tebingnya, dan laut samudera. 23. Ia amat terpe
sona kepada t ingkah dan gerak gerik binatang rimba. Mereka berkejar kejaran. Di
samping itu ia masih ingat juga bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. 24. Ngijraj
il suka memper hatikan saat terbenamnya matahari, sinar bulan purnama dan bintan
g bertaburan ya ng gemerlapan diangkasa raya. Kesukaan Ngijrail beserta pengikut
nya mengembara m engelilingi bumi dari arah timur sampai barat telah didatangi s
emua tak ada yang ketinggalan. 25. Sekali peristiwa dalam bepergian mengembara i
tu diantara pengi kutnya ada yang mengingatkan Ngijrail, bahwa telah lama kami s
ekalian meninggalk an sorga, menetap dibumi, jangan jangan dimarahi oleh Tuhan Y
ang Maha Esa. 26. N gijrail menerima baik peringatan dari penganutnya itu. Ia be
rterima kasih atas p eringatan itu. Ia benjanji bila lama perjalanan mereka tela
h 7.000 tahun akan ke mbali kesorga. 27. Para malaikat yang jumlahnya 700.000 it
u sependapat dengan ke hendak dari Ngijrail itu. Mereka patuh mengikuti perintah
Ngijrail sampai dimana pun juga. Alkisah Tuhan Yang Maha Esa menghendaki tercip
tanya manusia pertarna (Adam). 28. Tuhan memerintahkan kepada malaikat Jabarail
mengambil tujuh jenis t anah sebagai bahan untuk menciptakan adanya Adam. Malaik
at Jabarail segera turun kebumi. Pada saat ia menukik kebumi itu bumi bertanya.
29. Pertanyaannya itu me ngapa malaikat Jabarail mengambil tujuh macam tanah seb
agai bahan menciptakan Ad am. Bumi tidak rela jika sebagian dari padanya 6

diambil untuk dijadikan bahan Adam, karena ia tahu bahwa nantinya Adam akan mene
rima murka Tuhan Yang Maha Esa. 30. Jabarail sangat tidak menduga bahwa bumi ti
d ak mau diperlakukan sebagaimana difirmankan Tuhan Yang Maha Esa. Ia segera kem
ba li menghadap Tuhan menyatakan bahwa bumi tidak dapat menerima atas perlakuan
itu . Bila dipaksa juga bumi akan melawan. 31. Tuhan Yang Maha Esa beralih memer
inta hkan kepada Mikail untuk mengambil tujuh macam tanah. Mikail mengindahkan p
erint ah Tuhan itu. Segera ia turun kebumi. Sebelum Mikail mengambil tujuh macam
tanah itu, oleh bumi kepadanya lebih dahulu disodori pertanyaan apa maksud keda
tangan nya itu. 32. Lalu dikatakan bila Mikail mau mengarnbil sebagian dari pada
nya ia amat tidak rela. Kalau toh dipaksa maka ia menjatuhkan laknat. Keadaan in
i menja dikan Mikail tidak berani menjalankan tugasnya. Ia kembali kehadapan Tuh
an melap orkan bahwa bumi amat tidak rela jika sebagian dari padanya diambil mes
kipun pen gambilan itu atas perintah Tuhan Yang Maha Esa. 33. Tuhan Yang Maha Es
a segera b erfirman kepada Ngisrafil memerintahkan agar segera ia kebumi mengamb
il tanah. N gisrafil mengindahkan perintah Tuhan, segera ia turun kebumi. Sebelu
m ia melaksa nakan perintah. Tuhan Yang Maha Esa itu, bumi telah mendahului berk
ata seperti a pa yang pernah ia katakan kepada Mikail dahulu. 34. Ngisrafil sege
ra kembali men ghadap Tuhan, disana ia melaporkan bahwa bumi tidak rela jika seb
agian dari pada nya diambli oleh Ngisrafil. Maka Tuhan beralih memerintahkan kep
ada Ngijroil. II I. PUPUH PANGKUR 01. Tuhan memerintahkan kepada Ngijroil agar t
urun kebumi menga mbil tujuh tanah (jenis tanah) berwarna merah, biru, hijau, da
n merah jambu agak ungu (kapuranta), dadu (warna coklat bercampur kuning contoh
gambar pegunungan dipeta), hitam, dan putih. Ngijroil segera berangkat, tak lama
kemudian sampaila h dibumi. 02. Sebelum Ngijroil mengatakan apa maksud kedatang
annya, bumi telah m endahului bertanya, apa maksudmu hendak mengambil sebagian d
ari padaku, aku sung guh tidak merelakan. Apabila anda memaksanya aku akan mengu
tuk anda. Maka segera kembalilah. 03. Sahut Ngijroil, apa katamu hai bumi aku sek
edar menjalani firman Tuhan. Bagaimana akan menyanggahnya. Andaikata kamu meront
a ronta sekalipun aku sanggup menguasaimu. Segala kekuasaan ada padaku. Bumi tin
ggal diam saja. 04. M alaikat Ngijroil segera mengambil tujuh jenis tanah dibawa
terbang membubung dia ngkasa. Serta Ngijroil sampai dihadapan Tuhan. Tuhan lalu
berfirman, tiadakah kam u dikutuk oleh bumi tatkala mengambil tanah. 05. Malaikat
Ngijroil berdatang semb ah kepada Tuhan bahwa bumi melemparkan banyak kutukan k
epadanya, tetapi tidak di hiraukannya. Terus saja Ngijroil membawa tujuh jenis t
anah bumi. Ternyata bumi t idak angkat bicara. 06. Selanjutnya Tuhan Yang Maha E
sa menetapkan bahwa Ngijrai i nantinya dipercayakan mengambil arwah semua dikela
k kemudian hari apabila mere ka meninggal dunia. 7

07. Lagi pula ia dipercayai mengepalai semua malaikat yang menjaga daun daun saj
aratil muntoha di lokil makful. Jumlah malaekat itu berjuta juta. Itu semua men
j adi anak buah Ngijrail. Mereka semua tergolong rnalaikat pengatur maut. 08. Tu
ju h macam tanah itu yang semula berwarna putih, merah, kapuranta, biru, ungu, h
ija u, dan kuning lalu diremas menjadi satu. Tanah yang semula ada yang kasar, s
edan g dan halus Setelah dicampur dan dilumat lalu berubah bentuknya menjadi men
yerup ai lumpur. 09. Lumpur itu mengandung berbagai unsur yaitu ada unsur angin,
unsur api, unsur bumi, unsur air, dan unsur roh Muhammad. Segala umat Tuhan dik
uasai oleh roh Muhammad. 10. Tuhan Yang Maha Esa memberikan nasihat kepada Ngijr
oil ba hwa manusia itu ditakdirkan didunia dalam keadaan berlain lainan, namun m
ereka d ihadapan Tuhan serta di lokil mahful sama wewenangnya, meskipun diantara
mereka itu jasmaniahnya ada yang ditakdirkan buruk dan pula yang ditakdirkan ba
ik. 11. Orang bangsawan maupun kebanyakan, orang miskin maupun kaya, cerdik maup
un bodoh , tinggi maupun rendah kedudukannya pria maupun wanita, mereka itu juga
sama dih adapan Tuhan. Kemudian adonan yang ujudnya menyerupai lumpur tersebut
lalu diben tuk sedemikian rupa sehingga ninyerupai bentuk tubuh manusia. Jangka
untuk membe ntuk tubuh ini membutuhkan waktu 40 tahun. 12. Ketika adonan lumpur
itu selesai dibentuk menjadi tubuh manusia bertepatan pada hari Jumat. Tubuh manu
sia ini berw ajah sangat tampan. Tinggi badannya mencapai 60 hasta. Kemudian Tuh
an memerintah kan kepada malaikat Ngijroil agar memanggang tubuh itu. 13. Adapun
tempat pemang gangan itu didesa Jolokang yaitu antara Mekah dan tanah Nglaib. M
alaikat Ngijroi l mengindahkan perintah Tuhan itu. Penugasan Tuhan terhadap mala
ikat Ngijroil in i dibantu oleh malaikat Jabarail, Mingkail, dan Ngisrafil. Tubu
h itu mereka bawa kebumi, terus diletakkan di Polongkang serta dijaganya. 14. Tu
buh itu mereka je mur ditengah terik matahari. Alkisah malaikat Ijajil demi mend
engar bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan tujuh Adam yang saat itu sedan
g dijemur lalu ber kata dalam hati 15. Jika demikian Tuhan akan menciptakan bent
uk umat lain disorg a yang nantinya akan menggeser kerajaannya. Dan yang diangka
t menjadi raja tentu nya Adam. Malaikat Ijajil beserta pengikutnya lalu meninjau
bentuk tapel Adam di desa Tolongkang yang terletak diantara Mekah dan Nglaib. 1
6. Malaikat Ijajil tel ah menyaksikan keadaan tapel Adam yang sangat bagus serta
tiada bandingnya dari seluruh isi bumi itu. Ia terus masuk kedalam tapel Adam.
Sampai didalam malaikat Ijajil sempat mengelilingi kesegenap tapel Adam tersebut
. 17. Setelah tubuh itu rata dikeilingi tahulah malaikat Ijajil akan kehebatan i
si tubuh tapel Adam itu . Ijajil melihat bahwa didalam perut tapel Adam tersebut
terdapat sebuah banguna n berbentuk rumah megah. Bangunan itu sangat indah bagi
kan indahnya bunga tanjun g. Oleh Ijajil bangunan itu didekati dan ia berlutut d
isitu, tetapi pada waktu a kan masuk ternyata rumah megah itu tidak berhasil dim
asuki. 18. Oleh karena itu Ijajil lalu keluar dari tubuh tapel Adam tersebut. Ke
tika telah tiba diluar Ijaj il lalu menceniterakan peristiwa yang baru dialami i
tu kepada pengikutnya yaitu 700.000 malaikat. Dikatakan pula kepada para pengiku
tnya bahwa sebagai raja yang pertama kali, dia belum pemah menyaksikan keadaan y
ang seperti itu. 8

19. Isi badan tapel Adam memiliki sifat sifat yang serba lebih dari yang lain. P
adanya memiliki sifat sifat dan sifat besar sampai dengan sifat sekecil kecilny
a . Kemegahannya bagaikan kemegahan tujuh langit, yang menggambarkan keagungan T
uh an. Kemegahan itu sama halnya dengan keagungan lokil mahful (tempat yang inda
h d an terjaga, tempat penyimpanan ayat ayat wahyu Tuhan). 20. Isi tujuh buah la
ngit yang berujud bintang bintang yang bertebaran, matahari, dan bulan merata me
menu hi angkasa. Lagi pula disana terdapat neraka. Itu semua digambarkan sebagat
ruma h megah yang tiada berpintu tidak dapat dimasukkinya bahkan sebelum sampai
didek at bangunan itu badan terasa lunglai tiada berdaya. 21. Jika dipaksakan u
ntuk ma suk, bahkan badan merasa semakin lemah. Pada hemat saya (Ijajil) itulah
dikarena kan kesaktian Illahi. Karena kesaktian itu aku tak mampu mendekatinya.
Ijajil la lu minta pendapat para pengikutnya. 22. Seandainya Tuhan memerintahkan
menyembah kepada Adam apakah kalian mau mengindahkan perintah itu? Mendengar pert
anyaan itu maka para malaikat pengikut Ijajil yang jumlahnya 700.000 itu menjawa
b serentak , Bagaimana kami akan tidak mau menjalaninya, padahal itu memang sudah
kuwajiban dari umat Tuhan. 23. Mau tidak mau perintah Tuhan itu harus dijalankan
. Kata Ijaj il, Bagiku perintah itu tidak akan saya jalankan. Meskipun Tuhan meme
rintahkan de ngan sangat namun tetap tidak akan saya kerjakan, sebab menurut hem
atku perbuata n semacam itu akan menurunkan martabatku. 24. Saya ini terjadi dar
i api. Oleh ka rena itu jika dipaksa menghormat kepada sari bumi tidak akan mung
kin mau. Padaha l bumi itu hanyalah tempat tumbuhnya bermacam macam tumbuh tumbu
han, tempat tert ampungnya bau busuk, anyir dan kotoran. Kesemuanya itu menjadi
pengotor bumi bea ka. Hal itulah yang menjadikan aku tidak mau menghormat Adam,
andaikata dimarahi sekalipun aku tetap tidak mau melakukan. 25. Alkisah Tuhan Yan
g Maha Esa berkena n memerintahkan kepada keempat malaikat yaitu Jabarail, Mikai
l, Ngisrofil dan Ng ijroil agar membawakan nyawa Adam turun kebumi, dan nyawa it
u diletakkan diatast alam emas. 26. Keempat malaikat tersebut lalu segera berang
kat. Begitu sampai di Longkangan nyawa yang mereka bawa itu langsung diletakkan
dekat hidung tapel Ad am. Berkat kekuasaan Tuhan maka tapel Adam itulalu dapat b
ergerak. 27. Selanjutn ya para malaikat tersebut bermaksud akan memasukkan nyawa
tadi pada tubuh Adam. Ketika tubuh Adam akan diangkat oleh malaikat ternyata te
rasa terlalu berat. Ole h karena itu tubuh Adam lalu diangkat oleh dua malaikat,
anehnya tubuh Adam itu terasa semakin bertambah berat sehingga mereka tidak ber
hasil mengangkatnya. 28. Tubuh tapel Adam yang sangat berat itu keadaan bagian d
alamnya sangat sempit. K etika nyawa tadi dipaksa dimasukkan kedalamnya ternyata
tidak dapat. Nyawa berke hendak masuk lewat lubang hidung. Pada waktu nyawa itu
baru menempel lubang hidu ng, tapel Adam itu lalu bersin. 29. Akibat dari bersi
n itu bagian bagian tubuh t apel Adam terlepas, kepala, bahu, telapak tangan, si
ku, pantat, lutut, dan telap ak kaki lepas dari tubuh tapel Adam. Tuhan Yang Mah
a Esa lalu memerintahkan kepa da keempat malaikat untuk memasang / memulihkan ke
mbali tubuh yang terpisah itu tadi. 30. Bagian tubuh yang lepas porak poranda it
u segera dikumpulkan oleh mala ikat, kemudian dipasang lagi sehingga pulih kemba
liseperti sediakala. Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan kepada Adam setelah pulih a
kibat dari bersinnya iti untuk mengucapkan Alhamdulillah. 9

31. pm. 32. Tuhan Yang Maha Kuasa memerintahkan kepada Adam agar mengucap Iyya k
a nabudu waiyya ka nastain. Saat itu tubuh Adam telah menjadi kuat, lengkap denga
n ruas ruasnya. 33. Udara keluar dan masuk melalui hidung, ini dikatakan pernafa
s an. Dengan bernafas itu terjadilah hidup. Adam lalu dinobatkan menjadi Nabi be
rg elar Nabi Adam. Padanya ada segala kekuasaan sejak yang besar sampai dengan k
eku asaan yang terkecil. Nabi Adam dihadap semua malaikat. Tempat mereka menghad
ap a da yang disebelah kanan, disebelah kiri, didepan, dan dibelakang. 34. Para
malai kat terlalu sayang dan hormat kepada Nabi Adam. Mereka mengucapkan tabarak
allahu yang artinya Nabi Adam sangat berguna, dan mereka pandang sebagai Nur Muh
ammad. Tuhan memerintahkan kepada para malaikat agar mereka menganggapnya sebaga
i Nur Muhammad. 35. Ia aku jadikan manusia pertama yang menjadi nenek moyang par
a manu sia seterusnya. Tentang rohnya adalah roh Muhammad yang kedudukannya seba
gai pen gejawantahan Tuhan Yang Maha Esa. 36. Tuhan Yang Maha Esa memerintahkan
kepada J abarail agar mengambil pakaian yang serba gemerlapan. Jabarail segera b
erangkat. Tak lama kemudian Jabarail segera kembali membawa pakaian yang serba c
emerlang. Pakaian tersebut segera dikenakan kepada tapel Adam. 37. Makutho (paka
ian pada kepala sebagai tanda kehormatan) serba keemasan sehingga nampak indah.
Dan makut ho ini terpancarlah cahaya cemerlang. Dikenakan juga bebadhong (pakaia
n yang dip akai sebgai penguat letaknya makutho) yang bertahtakan mutiara mutu ma
nikam, ulur ulur (pakaian semacam pita emas yang dikalungkan pada leher memanjan
g sampai di depan perut) bergelang kelat bahu (sejenis gelang yang diterapkan pa
da lengan at as), anting anting yang dihiasi dengan mutu manikam, dan baju keema
san. 38. Semu a pakaian itu nampak gemerlapan. Ia menggunakan juga kampuh (semac
am kain yang d ibuat sampai empat kali lipat panjang kain biasa, berbentuk seper
ti kain biasa) yang bersulamkan emas sehingga kelihatan sangat indah. Mengenakan
pula alas kaki (selop) yang dihiasi dengan warna yang indah molek (her bumi her
wewehan). Kein dahan serta keagungan pakaian kebesaran itu tak dapat terkatakan
. Begitulah kein dahan pakaian yang dikenakan pada tapel Adam. 39. Semua pakaian
yang dikenakan p ada tapel Adam itu tiada yang menyamai indahnya, baik mengenal
jenis macamnya ma upun mutunya. 10

IV. PUPUH SINOM 01. Tuhan Yang Maha Esa memerintahkan kepada keempat malaikat ag
ar mengumpulkan semua malaikat yang bertempat tinggal diatas tujuh bumi dan tuj
u h langit untuk mengantar Nabi Adam kesorga. 02. Setibanya disorga nan indah Na
bi Adam dipersilakan duduk ditempat yang penuh dengan perhiasan ratna mutu manik
am , cahayanya amat cemerlang. Macam macam mutu manikam itu : ada intan, jamrud,
bi duri, mirah, semua mutu manikam ini memancarkan cahaya sinar gemerlapan. Tak
dap at dikatakan lagi keindahan pakaian yang dikenakan pada tapel Adam itu yang
sina rnya memenuhi ruang tujuh langit. 03. Tuhan Yang Maha Esa bersabda kepada
para m alaikat. Mereka diperintahkan agar mau bersujud kepada Nabi Adam. Dialah
yang ak u kuasakan sebagai waliKu, mengatur segala sesuatu yang ada didalam sorg
a. Adam berkedudukan sebagai nabi. Para malaikat lalu bersujud kepada Adam. 04.
Para mal aikat itu amat patuhnya, mereka terus bersujud kepada Nabi Adam. Demiki
anlah mer eka telah menjalani takwa selama 100 tahun. Hanya malaikat Ijajil saja
yang tak mau melaksanakan perintah Tuhan itu. Memang sikap ingkar ini telah din
iatkan sej ak waktu yang lampau. Ijajil menolak keharusan tunduk kepada Nabi Ada
m. Malaikat Ijajil lalu mendapat murka serta kutuk Tuhan YangMaha Esa. 05. Selan
jutnya Ngij ajil lau berubah ujud. Ia memiliki bentuk yang serba jelek. Mukanya
reot, mata m elotot bila melihat matanya berkedip kedip, sudut matanya serong. K
epalanya meng ecil menjadi sebesar canthing. Dahinya lebar. Pundaknya mengempis.
Daun telingan ya kecil, lehernya besar dan panjang. 06. Dadanya sempit, perut b
uncit, pantat m enonjol, rambut tumbuhnya jarang lagi pula warnanya merah. Jengg
otnya tebal, dag unya runcing. Pangkal lengannya kurus kering, jarinya sebesar p
isang tanduk, kak inya sebesar buah betung. Tubuhnya pendek lagi kecil. Bi!a ber
jalan jalannya mem bungkuk serta serong dan reyot. 07. Kemudian Tuhan berfirman
kepada Ijajil bahwa perubahan ujud itu hendaknya diderita seumur hidup dan turun
teniurun karena a t elah berdosa, yaitu tidak mau menjalani perintah Tuhan Yang
Maha Esa. Lagi pula ia ditakdirkan bahwa kelak dihari kiamat akan masuk neraka j
ahanam. Ia bermaksud akan menyanggah perintah Tuhan itu namun akhirnya ia terpak
sa menyerah. Sejak i tu ia lalu berjanji bahwa untuk selanjutnya akan mengganggu
keturunan Adam. 08. Ijajil memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diizinkan me
ncari teman masuk ner aka. Tuhan Yang Maha Esa mengizinkan permohonan Ijajil itu
, tetapi dengan syarat hanya mereka yang ingkar kepadanya saja yang boleh digang
gu. Sedang mereka yang bertakwa kepada-Nya Ijajil sama sekaii tidak diperkenanka
n mengganggu. Disampin g itu Tuhan memenintahkan bahwa Ijajil tidak diperkenanka
n bertempattinggal bers ama manusia. 09. Untuk Ijajil disediakan tempat tinggal
didalam jurang, didalam lumpur yang sulit didatangi, atau didalam kayu kayuan da
n perbatuan. Semua anak cucu Ijajil adalah kafir, mereka digolongkan iblis lakna
t. Ijajil lalu diasihgka n mereka digolongkan iblis laknat. Ijajil lalu diasingk
an dibawah gunung yang te rletak didalam neraka. 10. Disana ia tetap menjadi raj
a, tentaranya adalah para setan (bekasakan). Para malaikat yang bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa merasa sangat jijik melihat Ijajil setelah mendapat kutuk da
ri Tuhan itu. Sebab saat i tu Ijajil telah 11

berubah ujud menjadi sangat buruk yang tiada bandingnya, dan perubahan ujud mi a
kan diikuti anak keturunannya. 11. a. Para malaikat yang semula menjadi anak bu
a h Ijajil. tidak digolongkan kafir. Mereka ini selalu bersujud. kepada Tuhan me
ny atakan rasa syukur. Dalam jangka waktu 1.000 tahun kemudian para malaikat bek
as pengikut Ijajil ini baru diperkenankan berkumpul dengan para malaikat yaitu g
olo ngan malaikat yang tetap bersujud kepada Tuhan. Kepada bekas pengikut Ijajil
ini masing masing lalu diberi tugas. b. Secara bergiliran para malaikat datang
meng hadap Nabi Adam. Sebenarnya didalam hati Nabi Adam merasa tidak senang kare
na ya ng datang menghadap itu bukan sesama manusia. 12. Untunglah tidak lama kem
udian Nabi Adam mendapat anugerah Tuhan. Tiba tiba beliau menyaksikan bahwa dari
tulan g rusuknya yang terakhir pada lambung sebelah kiri muncul seorang wanita
yang sa ngat cantik. Wanita yang baru saja muncul ini terus duduk disamping Nabi
Adam. S eketika itu Nabi Adam lalu timbul nafsu birahinya. 13. Wanita itu berna
ma Ibu Ha wa kecantikan Ibu Hawa melebihi kecantikan para bidadari yang berada d
isorga, ca haya kulitnya kuning bagaikan warna emas diumpan (digosok). Seketika
itu juga Na bi Adam mengulurkan tangan untuk menjamah wanita, tersebut, akan tet
api dihalang i oleh Jabarail. 14. Jabarail mengatakan bahwa saat itu Ibu Hawa be
lum resmi men jadi istrinya sehingga haram untuk dijamah. Jabarail menyarankan a
gar Ibu Hawa i tu dinikah dahulu. Mendengar saran dari Ijajil itu Nabi Adam lalu
menarik tangan nya kembali. Maka malaikat Jabarail lalu ditunjuk menjadi kaum d
alam pernikahann ya, selanjutnya malaikat Jabarail lalu membimbing akad nikah an
tara Nabi Adam da n Ibu Hawa. 15. Setelah pernikahan itu berlangsung Tuhan lalu
berfirman yang isi nya mengangkat Nabi Adam menjadi raja disorga. Tuhan lalu mer
estui apa yang menj adi maksud dan tujuan Nabi Adam. Nabi Adam dn Ibu Hawa hanya
dikenai satu pantan gan yaitu tidak dilzinkan mengambil buah kuldi. Dan lagi di
peringatkan bahwa mer eka harus tahu bahwa Ijajil selalu akan menjalankan tipu m
uslihat dan godaan. a. Nabi Adam dan Ibu Hawa menerima baik nasehat Tuhan itu. S
elang 1.000 tahun kemu dian Ijajil mendengar berita bahwa Nabi Adam telah meniil
iki seorang istri naman ya Ibu Hawa. Saat itu Ijajil masih dipenjarakan dibawah
gunung. 16. Ijajil sanga t tidak senang setelah mengetahui bahwa Nabi Adam telah
dinobatkan menjadi raja disorga. Ia segera berangkat menuju sorga. Ijajil berma
ksud akan masuk sorga tet api tidak dapat karena tidak ada pintu yang dibuka. Pa
da saat itu hanya ada sebu ah pintu tertutup yang dikunci lagi pula dijaga oleh
seekor burung merak. 17. Bu rung merak itu bertengger diataspintu yang dijaganya
. Kepalanya terkulai keluar sedang ekomya beracla didalam sorga. Melihat itu Ija
jil tak kehabisan akal. Ia l alu merubah ujudnya menjadi ulat tahun dan menjalar
didepan burung merak tadi. U lat itu segera dipatuk oleh merak itu kemudian dit
elan sehingga masuk didalam pe rutnya. 18. Setelah sekian lama Ijajil berada did
alam perutnya maka merak penjag a pintu sorga itu merasa akan berhajad besar. Ke
tika burung merak itu selesai be rhajad, Ijajil ikut serta keluar terbawa bersam
a sama keluarnya tinja. Dibelakan g pintu pertama dari sorga itu terdapat ruang
lapis yang lebih dalam tetapi pint u 12

masuknya tertutup dan dikunci. Ijajil ingin masuk kedalam sorga ruang sebelah da
lam itu. Ia pergi mengelilingi dinding sorga itu tetapi disana tidak terdapat p
i ntu yang terbuka. Yang dijumpai hanya sebuah pintu tertutup yang dijaga oleh s
ee kor naga. Kepala naga itu terkulai diataspintu, lidahnya menjulur keluar berp
ija r meliuk liuk kesana kemari. 19. Taring naga itu mencuat dan rahangnya, kelu
ar d ari mulut. Taring itu sebesar gading gajah, mengeluarkan air berbisa bercuc
uran bagaikan hujan lebat. Sedang matanya membeliak bersinar bagaikan sinar mata
hari pada tengah hari. Menghadapi naga yang demikian itu Ijajil merasa ketakutan
, Ia tidak berani mendekatinya. Maka Ijajil lalu mengucapkan manteranya, adapun
khasi at dari mantera ini dapat menghilang dari pandangan. 20. Sesudah itu Ijaji
l lalu merayap mendekati lubang mulut naga. Ia lalu menghembus hembus mulut naga
itu s ambil memberikan manteranya. Tidak lama kemudian ular naga itu merasa men
gantuk lalu tertidur. Kesempatan ini digunakan oleh Ijajil untuk masuk kedalam m
ulut na ga tersebut selanjutnya lalu masuk kedalam perut. Beberapa lama kemudian
naga it u merasa akan berhajad besar. 21. Naga itu jadi berhajat besar. Bersama
itu Ijaj il ikut serta terbuang keluar. Setelah tiba diluar perut naga, Ijajil
lalu menam pakkan diri lagi dan saat itu ia menyamar sebagai malaikat penjaga so
rga. Diluar dinding sorga ia berkaparan sambil merintih menghiba hiba. Rintihan
tangis ini membuat terkejut para bidadari penghuni sorga. 22. Mereka menjadi keh
eran heran, karena didalam sorga itu pantang terdengar tangis Dalam hati para bi
dadari timb ul pertanyaan siapakah gerangan yang menangis itu. Para bidadari yan
g berdekatan dengan arah sumber tangis itu lalu melongok ingin melihatnya. Semen
tara itu Ibu Hawa pun tertanik juga ingin melihatnya. 23. Setelah berjumpa denga
n yang menan gis, Ibu Hawa lalu bertanya malaikat apakah dia dan kenapa menangis
hingga bergu ling guling. Maka jawab yang sedang menangis itu bahwa ia telah me
ndengar berita bahwa Nabi Adam dan ibu Hawa diasingkan dari sorga serta dikeluar
kan dari istan a Tuhan, Pada waktu berkata itu malaikat Ijajil sambil terisak is
ak meangis. 24. Dikatakan bahwa ia sangat menaruh iba kepada Nabi Adam yang tela
h mendapat kutu k Tuhan tersebut, karena Ibu Hawa dituduh menyeleweng, dengan ma
laikat. Padahal apa yang dituduhkan itu tidak sesuai dengan martabat Ibu Hawa. S
elanjutnya Ijaji l yang menjadi pengadu itu menyatakan bahwa dirinya sangat iba
dan belas kasihan kepada Ibu Hawa. 25. Disamping itu pengadu itu mengatakan pula
bahwa telah tens iar pula jika Ibu Hawa itu terjadi dari tulang rusuk yang tera
khir pada lambung sebelah kiri Nabi Adam. Mendengar cerita pengadu yang demikian
itu hati Ibu Hawa merasa sangat terhina. Karena tidak sempat berpikir panjang m
aka berita itu sem ula terus dipercaya begitu saja. Tetapi akhirnya Ibu Hawa lal
u menanyakan tentan g kesungguhan cenita itu. 26. Pengadu yang sebenarnya adalah
samaran dari Ijajil itu lalu bersumpah apabila ceriteranya itu tidak benar. mud
ah mudahan ia mendap at siksa Tuhan. Kemudian pengadu itu mengatakan bahwa seben
arnya Ia tergolong ma laikat juga. Sumpah pengadu yang demikian itu membuat Ibu
Hawa mempercayai cerit era tersebut karena dianggap tak mungkin pengadu itu meng
ingkari. 27. Dengan ter isak isak sambil menghapus air mata yang mengalir bercuc
uran pengadu itu selanju tnya menyatakan bahwa karena begitu sayangnya ia kepada
13

Ibu Hawa maka Ibu Hawa lalu disuruh mengikuti sarannya. Ibu Hawa disarankan rnak
an buah kuldi. Dikatakan bahwa tindakan itu adalah sebagai sarat untuk menjamin
mempertahankan nama baiknya dihadapan Nabi Adam. Dengan demikian Nabi Adam dan
I bu Hawa akan terhindar dari kedurhakaan. 28. Ibu Hawa menyatakan bahwa saran y
an g dikemukakan itu adalah larangan Tuhan. Bagaimana ia akan melaksanakan saran
it u, karena harus makan buah kuldi. Apalagi Ibu Hawa belum pernah melihat send
iri bagaimana ujud buah kuldi itu. Sambil menghapus air mata dan terisak isak ma
laik at pengadu itu menasehatkan meskipun itu larangan tapi demi sarat untuk men
ghind ari kutuk Tuhan maka hal itu boleh saja dilakukan. 29. Selanjutnya Ibu Haw
a mint a kepastian apakah sarannya itu memang betul. Malaikat pengadu itu lalu m
elanjut kan pembicaraannya. Sambil bersumpah ia mengatakan dengan sungguh sunggu
h bahwa sarannya itu adalah benar. Rupanya hasutan ini dapat mengenai sasaran de
ngan tep at sehingga Ibu Hawa lalu berubah keyakinan. Ibu Hawa lalu timbul keing
inannya u ntuk memakan buah kuldi. Karena tidak tahu dimana buah kuldi itu. Ibu
Hawa lalu bertanya kepada malaikat pengadu tersebut 30. Dengan diantar oleh mala
ikat penga du itu Ibu Hawa terus berangkat. Sampai disana malaikat pengadu lalu
menunjukkan pohon kuldi yang dimaksud. Demi melihat akan buah kuldi Ibu Hawa seg
era bangkit lah seleranya ingin memakannya. 31. Pada waktu berada dibawah pohon
kuldi Ibu Ha wa terus menengadah keatas. Ia lalu meraih kemudian memtik dua biji
buah kuldi. Buah kuldi itu tatkala masih berada dipohon, tingginya sama dengan
tubuh Ibu Haw a. Dengan demikian pada waktu akan memetik, ubun ubun Ibu Hawa dap
at tersentuh b uah kuldi itu. Selanjutnya buah kuldi yang telah dipetik itu lalu
dimakan satu b uah. 32. Bagi Ibu Hawa buah kuldi itu terasa sangat enak rasanya
. Pada waktu bua h kuldi itu telah ditelan dan telah berjalan sampai didada, mak
a tiba tiba Ibu H awa jatuh pingsan. Setelah siuman pada bagian dadanya terdapat
dua tonjolan dagi ng montok yang kemudian dinamakan buah dada. Bentuk buah dada
itu amat indah. Ak hirnya ibu Hawa menyadali bahwa perbuatannya yang baru saja
dilakukan itu adalah haram. Oleh karena itu lalu dicari sarana untuk menyucikan,
rohaniah dan jasman iahnya. Sejak saat itulah laiu terjadi ketentuan wudhu dan
bersuci sebelum menge rjakan sholat. 33. Adapun mulai terjadinya pelanggaran ter
hadap larangan Tuhan i tu dimulai sejak Ibu Hawa menengadah keatas untuk melihat
buah kuldi. Oleh karen a itulah pada waktu berwudhu muka dibasuh tiga kali. Dis
amping itu tangan juga h arus dicuci sebab tangan ini pernah dipakai untuk memet
ik buah kuldi. Adapun asa l mulanya ubun ubun diusap tiga kali pada waktu wudhu,
karena ubun ubun Ibu Hawa itu pernah tersentuh buah kuldi. 34. Telinga diusap t
iga kali karena telinga it u pernah dipergunakan untuk menerima hasutan untuk ma
kan buah kuldi dari iblis, musibat yang menyamar sebagai malaikat sedang menangi
s. Kaki dibasuh tiga kali k arena dalam usaha mengambil buah kuldi maka kaki itu
lah yang dipergunakan berjal an menuju pohon kuldi. Demikianlah asal mulanya men
gapa bagian bagian tersbut dib asuh dulu sebelum menjalankan sholat. 35. Peristiw
a peristiwa lain yang berhubun gan dengan akibat masuknya buah kuldi kedalam tub
uh adalah sebagai berikut. Kare na kecapaian tubuh lalu mengeluarkan keringat pa
dahal tubuh itu pernah kemasukan buah kuldi sehingga 14

badan perlu disucikan (jinabad) Wanita dewasa tiap bulan mengalami haid mengelua
rkan darah yang asal mulanya dari buah kuldi. Sehabis haid seorang wanita wajib
jinabad. Air susu juga berasal dari buah kuldi oleh karena itu sehabis membeii
a ir tetek wajib bagiwanita itu membersihkan teteknya. Nabi Adam selalu mengagun
gk an nama Tuhan, memberikan : zakat fitrah, dan menjalankan ibadah puasa. 36. I
bu Hawa setelah makan sebutir buah kuldi itu lalu pulang sambil membawa buah kul
di yang satunya dan akan diberikan kepada Nabi Adam. Sedang Ijajil yang selama i
tu selalu menyamar sebagai makhluk yang selalu menangis, tiba tiba lalu berubah
mem perlihatkan bentuk aslinya sepeninggal Ibu Hawa. Selanjutnya Ijajil lalu kem
bali kegunung dasar. 37. Ibu Hawa setelah tiba dihadapan Nabi Adam lalu menyerah
kan buah kuldi yang satu itu. Seketika itu Nabi Adam lalu memperingatkan dengan
pert anyaan apakah ibu Hawa telah lupa akan larangan Tuhan pada beberapa waktu y
ang l alu. Sehingga berani mengambil buah kuldi. 38. Ibu Hawa menjawab, bahwa ia
tidak melupakan firrnanTuhan itu. Ibu Hawa lalu menceriterakan tentang adanya m
alaika t yang datang menangis nangis, karena sayangnya kepada Nabi Adam dan ibu
Hawa. M alaikat itu menyeyogyakan agar Nabi Adam dan Ibu Hawa mau makan buah kul
di, untu k menghindari murka Tuhan. 39. Pada waktu menyampaikan pernyataan itu,
malaikat pengadu berkata dengan sungguh sungguh sambil menambah berbagai keteran
gan yang diukuti dengan bersumpah. Dalam menguraikan hal tersebut, malaikat peng
adu menya takan rela dirinya mendapat siksaan Tuhan, apabila pernyataan itu tida
k benar. I a menambahkan penjelasan bahwa ia sendiri telah makan sebuah untuk pe
nangkal mur ka Tuhan . 40. Nabi Adam menerima baik permintaan Ibu Hawa itu. Ia l
alu minta ag ar buah kuldi diserahkan. Nabi Adam lalu memakannya dan dirasakanny
a buah itu sa ngat nikmat. Pada waktu buah itu telah ditelan dan kira kira baru
sampai pada ba gian leher tiba tiba Nabi jatuh pingsan. 41. Sejak itu terjadilah
benjolan pada lehernya yang kemudian benjolan itu dinamakan jakun (kolomenjing)
. Sedang air bu ah kuldi itu berubah menjadi air mani. Tidak antara lama Nabi Ad
am lalu siuman, saat itu Nabi Adam dan Ibu. Hawa lalu mendapat murka Tuhan akiba
tnya pakaian yan g mereka kenakan hilang dari tubuhnya. V. PUPUH MASKUMAMBANG 01
. Keadaan Nabi Ad am dan Ibu Hawa sangat mengibakan sebab sudah tidak berbusana
lagi, sehingga tin gkah mereka serba malu malu. Kemana saja mereka pergi jalanny
a selalu mengungsut . 02. Bila terkena terik sinar matahari tidak ada tempat ber
teduh bagi mereka, l agi pula tidak ada daun untuk penutup auratnya. 03. Pohon p
ohonan selalu mencaci maki kepada Adam dan Hawa. Nabi Adam dan Ibu Hawa tidak di
perkenankan mendekati nya karena telah menjadi orang durhaka. 04. Pohon pohonan
itu mengatakan bahwa N abi Adam dan ibu Hawa terlihat. Dosa karena menuruti hasu
tan iblis. Oleh karena itu akibat buruknya biarlah ditanggung sendiri, jangan sa
mpai melibatkan orang l ain. 15

05. Pohon pohonan itu melarang Nabi Adam dan Ibu Hawa mendekatnya karena dikhawa
tirkan jika akan menularkan dosanya. Karena tak ada yang mau didekati maka kedu
a nya lalu pergi dengan cara mengingsut ingsut. 06. Rupanya lalu ada sebatang po
ho n yang menaruh iba kepada Nabi Adam dan Ibu Hawa namanya pohon Ajir. Pohon in
i m emperbolehkan Nabi Adam dan Ibu Hawa untuk memetik daunnya. 07. Nabi Adam da
n Ib u Hawa lalu mendekat kepada pohon ajir itu. Keduanya terus memetik daun dan
poho n itu kemudian dipergunakan untuk menutup auratnya yaitu antara pusat samp
ai lut ut. 08. Sejak dipetik itu maka daun daun yang lain dan pohon ajir itu lal
u mengg ulung, selanjutnya pohon ajir itu lalu dinamakan pohon cemara. 09. Ada l
agi poho n kayu lain yang menaruh belas kasihan kepada Nabi Adam dan Ibu Hawa ka
rena poho n ini menyaksikan sendiri bahwa kemana pun mereka berjalan selalu tida
k mendapat tempat untuk berteduh. 10. Pohon itu namanya pohon garu, ia memanggil
manggil A dam dan Hawa menyuruh berlindung dibawah rindangnya daun kayu yang am
at lebat it u. 11. Anehnya pada saat Nabi Adam dan Ibu Hawa tiba didekatnya tiba
tiba daun p ohon itu menjadi musna sedang batangnya menjadi mengecil. 12. Tuhan
Yang Maha Su ci memerintahkan Jabarail agar membawa Nabi Adam dan Ibu Hawa turu
n kebumi. 13. Penurunan Nabi Adam dan Ibu Hawa kebumi itu disertai kayu naga mer
ak, kayu gatu, dan kayu ajir 14. Oleh malaikat Jabarail Nabi Adam diturunkan dip
uncak gunung S randil sedang Ibu Hawa diturunkan ditanah Siyem di Merak Naga dit
engah hutan bel antara. 15. Pohon pohon kayu yang diikut sertakan turun kebumi i
tu lalu ditempat kan digunung gunung. Nabi Adam menjadi sangat bertaubat kepada
Tuhan Yang Maha E sa. 16. Gunung Srandil disebut juga tanah Selan. Kelak kemudia
n hari tanah Selan menjadi sebuah negeri yang diberi nama negeri Srandil Selang
Selan. 17. Siang d an malam Nabi Adam selalu menangis memikirkan perpisahannya d
engan istrinya yait u Ibu Hawa yang saat itu tidak diketahui dengan pasti dimana
ia berada. 18. Air mata Nabi Adam yang jatuh bercucuran bagaikan jatuhnya air h
ujan kebumi itu lalu berubah ujud menjadi, mirah (Intan yang berwarna merah), ma
ka diseluruh tanah S elan lalu berserakan yang letaknya tersebar. 19. Mirah mira
h itu kelihatan amat indah. Pada waktu Nabi Adam melihat keangkasa maka ketujuh
buah langit nampak de ngan jelas. 20. Langit itu sama sekali tidak kelihatan seb
agai langit melainkan sebagai lohkil mahful pada sajaratul mustoha. 21. Pada sur
at takdir Adam yang te rtera dalam kitab yang tersimpan di lohkil mahful telah d
isebut nasib Nabi Adam. Disitu disebutkan bahwa Adam akan mengalami luka nestapa
, kesukaran, keprihatin an, dan kemudian sampai juga kebahagiaannya. 22. Disitu
tercatat juga segala kej adian sejak sebelum dilahirkan sampai dengan meninggaln
ya dan kehidupan seseoran g. Dan tertera juga tentang suka dukanya. 23. Nabi Ada
m lalu bersujud ditanah. U ntuk mendapatkan belas kasihan dari Tuhan ia berdoa m
engucapkan ikrar Tuhan Maha Belas Kasihan. 24. Bunyi dari pada doa itu begini :
Sala.mnna ampusana wain lam tagfir, lana patar kamna, lalakumana minalki, sirin
paning. Doa itu kiranya art inya begini. 16

25. Ya Tuhan hamba sendirilah yang telah berbuat khilaf, hamba mohon belas kasih
an dari paduka, Tuhan. Apa bila kami tidak Tuhan karuniai ampun niscaya hamba a
k an celak. 26. Hamba mohon belas kasihan dari paduka Tuhan. Pada saat Nabi Adam
am at tekun bersujud, berdoa karena mendapat murka dari Tuhan itu, yang berakiba
tka n baginya diturunkan kebumi. 27. Peristiwa itu terjadi pada tanggal tiga bul
an M uharam. Sejak itu, siang dan malam Nabi Adam bersujud, berdoa mohon ampun.
28. A lkisah telah 100 tahun Nabi Adam berada dipuncak gunung Srandil tanah Sela
n. Sua tu ketika tepatnya pada saat fajar Nabi Adam sedang melakukan sholat dua
rokaat kemudian salam. 29. Bersamaan waktu itu Tuhan Yang Maha Esa berfirman kep
ada mal aikat Jabarail untuk memberikan ampun kepada Nabi Adam. Disamping itu ma
laikat J abarail diperintahkan mencari Ibu Hawa sampai ketemu. 30. Tersebutlah k
eadaan Ib u Hawa ditanah Siyam. Disana ia sangat menderita siang malam ia kerjan
ya hanya m enagis. Air matanya yang bercucuran itu berjatuhan dibumi, dan beruba
h menjadi m irah. 31. Jabarail diperintahkan oleh Tuhan menjumpai Ibu Hawa untuk
memberikan ampun. Kepada Ibu Hawa Jabarail memberitahukan bahwa Nabi Adam berad
a di Mekah 3 2. Kemudian malaikat Jabarail lalu mengantar Ibu Hawa ke Mekah. Pad
a masa itu ke adaan bumi masih utuh, belum terpisah pisah oleh laut. 33. Dari ti
mur sampai bar at tidak terdapat laut karena semuanya masih berujud daratan. Per
istiwa bumi ter pisah pisah oleh laut terjadi pada jaman Nabi Nuh. Pada waktu it
u terjadi gempa hebat sehingga mengakibatkan tanah terendam air. 34. Sejak adany
a gempa itu bumi lalu terpisah pisah menjadi pulau pulau. Karena kodrat Illahi p
ulau pulau itu a da yang luas dan ada pula yang kecil. 35. Alkisah Nabi Adam dan
Ibu Hawa masing masing telah satu tahun lamanya menempuh perjalanan menuju Meka
h. 36. Keduanya b ertemu dipadang Tarwiyah dikaki gunung Arfat. Pertemuan ini me
mbuat mereka bersy ukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keduanya lalu berpelukan sam
bil menangis. 37. S etelah Nabi Adam dan Ibu Hawa berhasil dikaki gunung Arfat m
aka malaikat Jabarai l meninggalkan mereka VI. PUPUH MEGATRUH 01. Nabi Adam dan
Ibu Hawa menjelajahi tanah Arab bertamasya. Perjalanannya diteruskan kebarat day
a, sampai di Negeri R um lalu keutara sampai dibukit Barjah. 02. Dari Barjah dit
eruskan ke Kasnia Male bar. Sampai disini keduanya lalu berhenti. Berkat rahmat
Tuhan disini mereka men emukan sebuah batu besar yang berongga, mirip dengan seb
uah gua. 03. Pada bagian dalam dari batu itu terdapat alat alat yang diperlukan
dalam kebutuhan hidup. D idalam rongga itu keadaannya sangat indah, berpetak pet
ak halus bagaikan pernah diketam lubang batu itu berpintu. 04. Pinta batu itu be
rbentuk sekeping batu pul a. Bagian atas dan bagian bawah pintu itu seperti ada
engselnya sehingga pintu i tu mudah untuk membuka dan 17

menutupnya. Disebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat air mengalit yang berasa
l dari sebuah kolam yang terletak dibarat pintu tadi. 05. Adapun batu gua itu l
e taknya ditepi sungai yang airnya jernih, didataran pasir yang luas ditengah te
ng ah hutan Dihutan itu terdapat pohon pohon besar yang dihuni binatang rimba. D
isi tulah Nabi Adam dan Ibu Hawa istirahat. 06. Sebagai insan yang takwa kepada
Nabi (Maha Zul) Nabi Adam dan Ibu Hawa lalu menjalankan kewajiban sembahyang. Pa
da s aat Nabi Adam sedang bersujud itu tiba tiba mendekatlah malaikat Jabarail.
Kedat angannya adalah atas perintah Illahi yaitu untuk menyerahkan kembali pakai
an keb esarannya semasa menjadi raja disorga. 07. Pakaian kebesaran itu dalam ke
adaan l engkap, tak ada yang berkurang, dan semuanya masih utuh, ujudnya ada mak
uta, bad hong, anting anting, kelat bau, binggel, kampuh, seluar, dan baju kebes
aran. 08. Tidak ketinggalan pula diserahkan kepada Ibu Hawa pakaian keputrian ya
ng juga d alam keadaan lengkap, Jabarail lalu menyampaikan firman Tuhan yaitu me
ngangkat N abi Adam menjadi raja. 09. Bersamaan itu juga disampaikan anugerah da
ri Tuhan be rupa tanda bukti sebagai raja. Barang ini kelak akan diwariskan kepa
da anak cucu Nabi Adam yang beruntung diangkat menjadi raja. 10. Adapun tanda bu
kti kebesara n sebagai raja itu berupa sepuluh buah kitab. Dipesankan hendaknya
isi dari kita b kitab itu disebar luaskan kepada anak cucu, para pegawai, serta
para hamba sah aya. Dan lagi diamanatkan agar mereka tiap tiap bulan melakukan p
uasa selama tig a hari yaitu pada akhir bulan. 11. Nabi Adam sangat mengindahkan
amanat Tuhan ya ng disampaikan oleh malaikat Jabarail itu. Selesai menyampaikan
amanat dari Tuha n tersebut maka malaikat Jabarail lalu meninggalkan tempat itu
. 12. Dikisahkan b ahwa sesudah itu Nabi Adam tiap tahun berputerakan sepasang b
ayi, yaitu seorang laki laki dan seorang lagi perempuan. 13. Setelah putranya ge
nap empat puluh pas ang Nabi Adam ini berkehendak mengawinkan putra putrinya sec
ara selang seling de ngan tujuan yang kurang baik wajahnya biar mendapat pasanga
n yang baik. Maksud N abi Adam mi ternyata bertentangan dengan kehendak Ibu Hawa
. 14. Ibu Hawa berkehe ndak bahwa putra yang berwajah baik dikawinkan dengan yan
g baik pula, sedang yan g buruk dengan yang buruk pula. Antara Nabi Adam dan Ibu
Hawa sama sama teguh me mpertahankan pendapatnya. 15. Untuk mempertahankan pend
apatnya Ibu Hawa mengguna kan dalih bahwa hanya dia sendirilah yang membina dan
mengasiuh putra putranya p ada waktu masih bayi. Nabi Adam tak pernah membantu p
ekerjaan Ibu Hawa itu. 16. Nabi Adam menanggapi ucapan Ihu Hawa tersebut dengan
kata kata yang enak didenga r. Beliau mengutarakan suatu cerita untuk menentukan
sikap apakah diantara dia b erdua yang pantas menerima karunia Tuhan. Ibu Hawa
meminta hendaknya jangan meny angkal uraian ceriteranya Beginilah centera dari N
abi Adam itu : a. Diceriteraka n bahwa keduanya telah mengeluarkan rahsa (darah)
kama yang kemudian lalu dimasu kkan kedalam suatu tempat yang disebut cupu mani
k Astogino Cupu itu lalu disimpa n dengan balk. Kemudian Tuhan lalu menemui mere
ka yang sedang berselisih paham i tu. 17. Setelah penyimpanan itu genap sembilan
bulan maka cupu manik tersebut la lu dibuka. Ternyata yang berasal dari Nabi Ad
am telah membentuk seorang orok tet api hanya terdiri dari tulang dan otot saja.
18

18. Orok tadi berkelamin laki laki. Sedang yang berasal dari Ibu Hawa tidak menj
adi orok melainkan masih berujud onggokan darah. Pada saat itu juga menghembusl
a h angin sepoi sepoi. Hanya sampai sekianlah perwujudan rahnat Tuhan. 19. Karen
a hembusan angin yang sepoi sepoi itu maka karunia Tuhan untuk Adam lalu menjadi
l engkap ujudnya. Karunia Tuhan untuk Adam tersebut telah ada kulit, daging, da
n o tot darahnya sebingga terjadilah orok yang tampan rupawan. Selanjutnya orok
itu lalu diberi nama Baginda Sis. Sedang karunia Tuhan untuk Hawa tetap saja kea
daan nya. 20. Selanjutnya bertiuplah angin yang kian lama makin deras. Sesudah i
tu la lu datang suara yang tidak diketahul asal dan ujudnya suara itu menggema k
esegal a arah. 21. Tentang sumber suara itu juga tidak menetap tempatnya, dan sa
at data ngnya pada waktu lepas tengah malam. Adakalanya suara itu kedengaran jau
h. Suara tersebut disebut Rijalolah, merupakan suara gaib, dan tidak dapat disak
sikan de ngan indera. Cupu bekas tempat menaruh rahsa kama tersebut akhirnya hil
ang terba wa angin. 22. Setelah cupu itu menghilang lalu datanglah seekor naga,
dinamakan naga Jatingarang, sebenarnya naga itu berasal dari kotoran cupu manik
Astagina y ang telah menghilang itu. Kemana saja Rijalolah itu pergi, naga itu s
elalu menge jar akan memangsanya. 23. Untuk menghindari agar tidak dapat ditangk
ap oleh naga Jatingarang maka Rijalolah menggunakan perisai cupu manik bekas tem
pat tercipta nya Baginda Sis. Cupu tersebut adalah yang semula telah hilang terb
awa angin. Cu pu manik yang selalu dipergunakan sebagai perisai oleh Rijalolah,
itu juga selal u dihembus oleh topan badai dan akhirnya cupu manik itu terjatuh
dibumi. Setelah sampai dibumi cupu itu lalu berubah menjadi orang laki laki dan
perempuan. 24. Yang laki laki keadaan tubuhnya besar lagi tinggi. Tingginya hamp
ir setinggi lan git. Apabila ia melewati samudera meskipun ditempat yang terdala
m maka hanya sam pai dipergelangan saja bagian kakinya yang terendam. 25. Lelaki
yang sangat ting gi itu bernama Nunukkenangon. Ia kemudian menjadi raja besar d
inegeri Jabarin, l etaknya dikaki langit. Bala perjurit raja Nunukkenangon adala
h anak cucunya, yan g badan mereka sebesar gunung. 26. Mereka itu pada umumnya b
erumur panjang hingg a mencapai umur 4.000 tahun. Kelak kemudian hari mereka ini
menjadi musuh nabi. Raja Nunukkenangon menjadi raja hingga akhir hayatnya. Sete
lah raja Nunukkenango n ini meninggal maka jenazahnya oleh malaikat Jabarail lal
u dikalungi gunung yan g telah berlubang. 27. + 28. Ibu Hawa melihat tanda karun
ia Tuhan miliknya telah hilang tak berbekas karena dihembus angin. Kejadian ini
membuat ia lalu menyera h dan mengikuti apa kehendak Nabi Adam yaitu menjodohkan
putra putrinya secara b erseling seling. Sampai sekian berakhirlah cerita Nabi
Adam kepada Ibu Hawa. Lam a kelamaan Nabi Sis menjadi dewasa. Wajahnya tampan, c
erah cahayanya seperti bul an purnama. 28. Warna kulitnya kuning. Pandangan mata
nya jernih dan terang pikir annya cerdik cendekia. 29. Pada suatu ketika ayahand
a Nabi Sis berkata kepadanya memerintahkan agar Nabi Sis mohon benih dari sorga
mulia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nabi Sis mengindahkan perintah ayahnya itu. Ia
lalu pergi kegunung untuk b ersujud. 30. Dalam sujudnya itu dia berdoa kepada T
uhan Yang Maha Esa agar permo honannya dikabulkan. Kemudian Jabarail memerintahk
an kepada bidadari 19

agar membawa benih yang diletakkan diatas talam emas berhiaskan mutu manikam. 31
. Ada bermacam macam biji yang ditaruh diatas talam emas tersebut. Malaikat Jab
a rail menyampaikan salam kedatangannya kepada Nabi Sis. Nabi Sis lalu menyambut
s alam Jabarail itu. Kemudian Jabarail memberikan sebutir buah. 32. Selanjutnya
ma laikat Jabarail mengajak pulang Nabi Sis karena ia ingin bertemu dengan ayah
Nab i Sis. Mereka lalu berangkat. 33. Setelah tiba ditempat yang dituju malaika
t Jab arail lalu memberi salam kepada Nabi Adam. Sesudah itu Nabi Adam lalu memp
ersila kan duduk kepada malaikat Jabarail. 34. Malaikat Jabarail lalu menyatakan
bahwa kedatangannya adalah atas perintah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyerahka
n biji kepada Nabi Sis. Disamping itu pada kesempatan itu pula malaikat Jabarail
juga m enyerahkan bidadari agar dijadikan istri Nabi Sis. Menghadapi peristiwa
ini Nabi Adam lalu mengambil sikap tangannya untuk memegang kepala kemudian bers
ujud kep ada Tuhan Yang Maha Kuasa. 35. Nabi Sis pun lalu mengikuti jejak ayahny
a. Ia men yatakan terima kasihnya kepada Tuhan yang telah berkenan memberi anuge
rah kepada nya. Bidadari itu lalu segera dinikahkan dengan Nabi Sis. Sedang yang
bertindak sebagai kaum adalah malaikat Jabarail. Sejak itu bidadari yang cantik
molek itu telah diserahkan sepenuhnya dari Tuhan kepada Nabi Sis. 36. Mengenai
kerukunan p erkawinan Nabi Sis dengan bidadari itu tidak diceriterakan lebih lan
jut. Sekali penistiwa Tuhan memerintahkan Jabarail untuk menganugerahkan besi da
n baja denga n pengharapan kedua benda itu setelah dicampur akan menjadi senjata
. Dengan senj ata tersebut maka apa yang mereka inginkan akan terkabul. 37. Mala
ikat Jabarail lalu mengajarkan kepada Nabi Adam tentang bagaimana caranya menjad
i pandai besi. Kemudian malailkat Jabarail menyerahkan segala alat alat untuk me
njadi pandai b esi. Nabi Adam lalu mulai menggunakan kecakapannya Sebagai pandai
besi. VII. PUP UH DURMO 01. Nabi Adam telah menjadi pandai besi. Para putranya
membantu melayan i beliau. Dalam melakukan pekerjaan itu malaikat Jabarail berti
ndak sebagai pela tihnya. Api yang dipergunakan dalam pekerjaan itu diambilkan a
pi dari neraka ole h malaikat Jabarail. Sedang sebagai pelengkap persiapan air d
iambilkan air dari tujuh buah laut. 02. Pada waktu belum biasa mereka tidak taha
n mendekat api yang berasal dari neraka itu, sebab api itu sangat panas. Masing
masing anak cucu Ad am lalu diberi tugas tertentu. Ada yang bertugas sebagai tuk
ang membesarkan api, ada yang bertugas sebagai tukang membuat benda benda tajam
(panjak), dan ada la gi yang bertugas mengikir dan menggerinda besi. Sehingga be
si itu dapat menjadi senjata tajam yang diinginkan. 03. Hasil dari pekerjaan itu
ada yang menjadi sab it panjang (kudhi), cangkul, sabit, pangot, pisau, sejenis
pisau (seking), paran g, kampak, gobang, beliung, pahat, penguthik. Sedang pera
latan orang bersawah be rupa besi bajak, cangkul, linggis (sula), dan wangkil. S
etelah semua pekerjaan i tu dapat dilakukan oleh anak cucu Adam maka malaikat Ja
barail lalu pergi. 20

04. Anak cucu Nabi Adam lalu melakukan pertanian. Diantaranya ada yang menanam p
adi huma (padi gogo), ada lagi yang menanam padi sawah. Selain itu mereka juga
m enanam bermacam macam tanaman yang bijinya berasal dari sorga. Setelah semua b
ij i yang berasal dari sorga tersebut telah ditebarkan lalu tumbuhlah bermacam m
aca m tanaman. Diantaranya ada yang menjadi tanaman yang hidup menjalar ditanah
(pol o kesimpar), dan ada pula yang menjadi pohon pohonan yang tidak berumur pan
jang serta buahnya berada diatas(polo gumantung). 05. Dimana saja semua biji itu
dapa t tumbuh, dengan baik. Putra Nabi Adam telah lengkap menjadi delapan puluh
orang , mereka terdiri dan laki laki serta perempuan dan berpasangan. Mereka in
i semua nya telah beranak. Selanjutnya mereka lalu diseyogyakan memilih tempat u
ntuk kel uarganya sesuai dengan keinginan masing masing. 06. Sejak itu ditanah t
anah yang jauh sekalipun telah dihuni oleh anak cucu Nabi Adam. Disana mereka me
mbuat rum ah lengkap dengan halamannya, serta mengadakan sawah ladang untuk dita
nami benih . Mereka lalu membentuk pedukuhan itu makin bertambah banyak sehingga
perlu memb entuk pedukuhan baru. 07. Karena makin bertambahnya desa desa baru.,
Maka Nabi A dam lalu membentuk sebuah negeri, yaitu negeri Kusnia Malebari. Alk
isah, sekali peristiwa Ijajil yang beristana didasar gunung ingin mempersembahka
n putrinya. P utri Ijajil ini sedang menginjak usia remaja. Wajahnya cantik jeli
ta. 08. Untuk mencapai tujuannya itu, Ijajil menampakkan diri sebagai orang tua
bangka. Ia ber pakaian secara pendeta gunung. Pakaiannya serba hijau, kelihatan
amat indah. Ia membawa tongkat ajimat. Pada tongkat itu terdapat senjata tajam,
kecil, serta me ngandung kesaktian (cis). 09. Ijajil lau memerintahkan kepada pu
trinya agar sege ra berbusana dan menghias diri karena akan dipersembahkan kepad
a putra Nabi Adam . Dinasihatkan oleh malaikat Ijajil agar ia pandai membawakan
diri. Sesudah itu lalu berangkatlah malaikat Ijajil mengantar putri remajanya. 1
0. Dalam waktu sek ejap mata saja malaikat Ijajil beserta anaknya telah sampai d
ihadapan Nabi Adam. Ijajil segera memberi salam. Salam Ijajil itu disambut denga
n salam juga oleh N abi Adam. Kemudian Nabi Adam lalu mempersilahkan Ijajil agar
duduk didekatnya. 1 1. Setelah keduanya duduk bersama diatas kursi kebesaran. I
jajil lalu bersembah kepada Nabi Adam. Selanjutnya ia lalu mengutarakan maksud k
edatangannya yaitu un tuk menyerahkan putri remajanya agar diperistri oleh Sis y
aitu putra Nabi Adam. 12. Saat itu Nabi Adam telah tahu apa kehendak Illahi berd
asarkan pendidikan aga ma (amanat tabliq). Diketahui bahwa Sis yang kelak menjad
i wakil Tuhan akan memp unyai keturunan yang memiliki mantera mantera jahat. 13.
Putri haul yang indah i tu telah dipertemukan dengan Sis. Setelah putrinya dini
kah, Ijajil lalu minta di ri kepada Nabi Adam akan kembali ketempatnya yaitu did
asar gunung. 14. Kehidupan perkawinan Sis dengan kedua istrinya yaitu putri Ijaj
il dan bidadari boleh dika takan saling berkasihan. Kedua istri Sis ini lalu ham
il. 15. Setelah genap usia kehamilan maka keduanya lalu melahirkan pada saat pag
i hari bersamaan dengan ter bitnya matahari, putranya lalu dinamakan Yanas. Seda
ng putri Ijajil melahirkan p ada waktu petang hari bersamaan dengan tenggelamnya
matahari, putranya tidak ber ujud bayi melainkan berujud cahaya. 21

16. Nabi Adam sangat gembira atas kelahiran kedua cucunya itu. Cucu yang kedua i
tu diberi nama Nurcahyo. Yanas lahir diantara waktu malam dan siang hari sedang
Nurcahyo lahir pada waktu antara siang dan malam hari. Kedua cucunya itu sangat
dikasih sayangi. 17. Kedua cucu tersebut diasuh oleh kakeknya hingga dewasa. Me
n genai diasuhnya kedua orang cucu itu diceriterakan dalam kitab Ayul Lilin. Pad
a saat itu Nabi Adam menjalani puasa lima kali. 18. Nabi Adam bertakhta menjadi
ra ja dinegeri Malebari hingga 700 tahun, Kemudian digantikan oleh anak, cucu, c
ici t, dan canggah. Dalam jangka waktu 7.000 tahun. Anak cucu Nabi Adam telah be
rkem bang biak hingga banyak sekali jumlahnya. 19. Tersebutlah dalam ceritera ba
hwa s alah seorang putra Nabi Adam ada yang ingkar terhadap peraturan ayahandany
a yait u Abil, yang berwajah tampan. Abil telah membunuh Kabil yang juga putra N
abi Ada m tetapi wajahnya jelek Setelah Kabil terbunuh maka lalu istrinya diambi
l oleh A bil. Perbuatan Abil ini karena hasutan Ijajil. 20. Abil membunuh Kabil
dengan ca ra memukul dengan batu pada bagian kepalanya hingga pecah. Karena perb
uatannya i tu maka Abil lalu mendapat hukuman Tuhan, ia lalu dihimpit bumi. Kemu
dian ada la gi dua pasang putra Nabi Adam yang karena hasutan Ijajil lalu melari
kan diri dar i lingkungan keluarga Nabi Adam. 21. Mereka yang melarikan diri ini
lalu menyemb ah kepada berhala. Selanjutnya ada putra putra Nabi Adam yang lain
, yang mengiku i perbuatan dua pasang putra yang lain tersebut. Dengan demikian
anak cucu Nabi Adam lalu merata ketanah tanah yang terbentang dari timur sampai
barat. Mereka l alu bergolong golong dan mendirikan kerajaan. 22. Suatu ketika T
uhan memerintahk an malaikat Jabarail untuk menyebarkan bermacam macam batu muti
ara yang selanjut nya oleh anak cucu Nabi Adam batu mutiara itu lalu dijadikan p
erhiasan. Penyebar an itu dibuat merata ditanah tanah dari ufuk timur sampai ufu
k barat. 23. Disamp ing itu disebarkan pula bahan baku untuk dijadikan emas, bes
i, dan perak. Bahan bahan baku itu ada yang dijatuhkan digunung gunung, ada yang
dijatuhkan disungai sungai, dan ada lagi yang dijatuhkan dilaut laut. Masing ma
sing negeri mendapat bagian bahan baku yang disebarkan itu. 24. Suatu ketika Nab
i Adam memanggil ked ua orang cucunya yaltu Yanas dan Nurcahyo. Mereka diperinta
hikan naik sorga untu k menggambar keadaan disana lengkap dengan isinya. 25. Ked
uanya diberitahu bahwa untuk kesorga itu jalan yang harus ditempuh adalah melewa
ti sungai Nil dari ara h muara terus menyusur kehulu. Dihulu sungai itulah terle
tak sorga Kedua cucu Na bi Adam itu menyambut baik petunjuk Nabi Adam tersebut.
Mereka lalu berangkat, B egitu tiba disungai Nil mereka lalu menyusur kearah hul
u. 26. Akhirnya perjalana n mereka sampai dipersimpangan sungai Nil. Disini terd
apat dua cabang sungai, ya ng satu kearah kiri sedang yang satunya lagi kearah k
anan Cabang yang kiri alira nnya berasal dan neraka sedang yang kanan alirannya
berasal dari sorga. Kedua cu cu Nabi Adam tersebut berhenti dipersimpangan sunga
i ini. Kemudian Nurcahyo memi nta kepada Yanas agar bersedia menunggu ditempat i
tu. 22

27. Tetapi usul Nurcahyo ini tidak dapat diterima oleh Yanas. Akhirnya Nurcahyo
lalu menyarankan bahwa ia akan menuju arah hulu lewat cabng sungai yang kekiri, s
edang Yanas akan pergi kehulu lewat cabang sungai yang kekanan. Yanas menyetuju
i saran Nurcahyo tersebut. Selanjutnya Yanas lalu mengemukakan pesan bahwa siapa
saja diantara mereka berdua yang lebih dulu tiba kembali agar menunggu dipersim
p angan sungai tersebut, jangan sampai meninggalkan. 28. Nurcahyo menyetujui pes
an kakaknya itu. Sesudah itu mereka lalu berangkat sesuai dengan rencana yang te
la h diatur berdua. Tersebutlah kisah perjalanan Nurcahyo, sejak berpisah dengan
Ya nas. Ia terus bergerak kearah hulu lewat cabang sungai yang kekiri. Dalam ha
ti i a merasa heran kenapa semaikin kehulu airnya semakin terasa panas. kemudian
ia m elihat sebuah gunung yang tinggi dan besarnya seolah olah menyentuh langit
. 29. Puncak dari gunung itu merupakan tutup neraka. Dan puncak gunung yang sang
at bes ar itu keluarlah asap dan asap itu kemudian mengembun ditutup neraka. Emb
un tadi akhirnya mengalir melingkari gunung menjadi sungai. Sekarang Nurcahyo ha
ru tahu mengapa air itu makin kehulu makin bertambah panas karena menjadi kelanj
utan da n tutup neraka diujung sungai Nil. 30. Air itu sangat panas, lebih panas
dari ai r mendidih, serta mengeluarkan asap. Gunung yang sudah diceriterakan it
u. bernam a Selap. Disitu terdapat perbatuan yang amat keras sekeras baja. Karen
a kerasnya batuan itu tidak dapat pecah walaupun dipijit dengan apapun. Puncak g
unung itu selalu kelihatan membara. 31. Air itu melewati tempat dibawah neraka.
Itulah seb abnya keadaannya sangat panas. Nurcahyo merasa bahwa dirinya tak taha
n menderita panas itu sehingga ia lalu mematung dan tak dapat berkata sepatah pu
n. 32. Dice riterakan bahwa Ijajil menjadi maharaja membawahi para raja yang ber
jumlah tujuh juta orang raja, gelarnya Dhatu Muntha. Pada saat Ijajil melihat cu
cunya dalam keadaan kepayahan ia lalu memanggil dari atas. 33. Dalam kata kata p
anggilannya itu Ijajil memberitahu kepada Nurcahyo bahwa ia adalah kakeknya yang
sedang meng harapkan kedatangannya. Nurcahyo demi mendengar suara itu lalu mema
ndang kepunca k gunung. Ia melihat bahwa yang memanggil itu adalah seorang kakek
yang berada d ipuncak gunung. 34. Nurcahyo lalu menanyakan siapakah dia yang be
rada dipuncak g unung didalam api membara itu. Kemudian Nurcahyo menyatakan bahw
a dirinya tidak mampu mendatangi puncak gunung tersebut. Karena pernyataan Nurca
hyo itu maka Ija jil lalu menjulurkan tongkatnya yang dapat memanjang menyentuh
bumi. 35. Nurcahy o segera menyambut tongkat yang dijulurkan itu. Ijajil segera
menarik kembali to ngkat itu sehingga dalam waktu sekejap saja Nurcahyo telah be
rada didepan kakekn ya. 36. Ijajil menyambut kedatangan cucunya sambil memberi s
alam. Sesudah itu la lu memberi tahu bahwa ia adalah kakeknya yaitu ayahnya ibu
Nurcahyo. Dan dicerit erakan pula bahwa dia menjadi raja yang istananya terletak
didasar gunung. 37. I jajil telah mengerti bahwa Nurcahyo dan Yanas ditugaskan
oleh kakeknya (Nabi Ada m) untuk menggambar suasana sorga. Pada waktu sampai dip
ersimpangan sungai Nil m ereka menjadi bimbang, dan kemudian tejadi perselisihan
pendapat.. 38. Akhirnya mereka lalu bersepakat yaitu Nurcahyo akan menempuh jal
an lewat cabang sungai ya ng kekiri sedang Yanas lewat cabang sungai yang kekana
n. Kemudian Ijajil memberi tahukan kepada Nurcahyo bahwa jalan yang ia tempuh 23

itu sesat, yang betul adalah jalan yang ditempuh Yanas. Dengan demikian Nurcahyo
tak mungkin dapat sampai sorga. 39. Demi mendengar pernyataan kakeknya itu Nurc
ahyo menjadi sangat menyesal dan susah hatinya. Ia lalu menundukkan kepalanya s
a mbil menahan keluarnya air mata. Ijajil pada waktu melihat cucunya bersusah ha
ti itu lalu menghibur. 40. Dikatakan bahwa Nurcahyo tidak perlu bersusah hati se
ba b ia akan mendampingnya Dan dijanjikan bahwa Nurcahyo akan diberi pelajaran m
ant era mantera yang berasal dari anugerah Tuhan. 41. Ijajil menceriterakan bahw
a di rinya telah dicipta lebih dahulu sebelum Tuhan mencipta bumi dan langit. Ka
rena Nurcahyo telah menangkap apa yang diuraikan oleh kakeknya itu maka ia lalu
menya takan bahwa dirinya tidak akan menyanggah kehendaknya. Sesudah itu Nurcahy
o lalu diberi pelajaran segala macam ilmu kesaktian Berkat kecerdasannya maka Nu
rcahyo dapat menguasai pelajaran yang diberikan oleh kakeknya itu. 42. Karena pe
lajara n yang diberikan oleh kakeknya itu maka ia mampu terbang, dapat menghilan
g berga nti rupa, dapat masuk kedalam bumi, dapat masuk kedalam air tanpa basah,
dapat m asuk api membara tanpa merasa panas, pendek kata segala kesukaran dapat
diatasi. 43. Selanjutnya Ijajil lalu membuat gambaran sorga. Dalam waktu sebent
ar gambar itu telah jadi dan hasilnya tepat dengan keadaan sorga yang sebenarnya
, sedikit pun tak ada selisihnya. Hal mi bisa terjadi karena Ijajil pernah menja
di raja di sorga. Ijajil lalu menyerahkan keadaan gambar disorga itu kepada Nurc
ahyo. 44. K emudian Ijajil memerintahkan Nurcahyo agar pulang menghadap kakeknya
(Nabi Adam) . Dikatakan bahwa gambar itu tidak berbeda dengan gambar yang dibua
t oleh Yanas. 45. Kepada Nurcahyo dipesankan agar apabila bertemu dengan kakakny
a supaya meng atakan bahwa gambar itu adalah anugerah Tuhan. Diberitahukan pula
bahwa Nurcahyo akan tiba lebih dahulu dipersimpangan sungai Nil, Tetapi Nurcahyo
diminta menun ggu kakaknya disitu agar dapat bersama sama menghadap Nabi Adam.
Nurcahyo mengin dahkan segala nasehat Ijajil tersebut. Ia lalu bersujud. Dalam w
aktu singkat Nur cahyo telah tiba dipersimpangan sungai Nil. 46. Tersebutlah per
jalanan Yanas yan g menuju hulu sungai Nil dengan mengambil jalan cabang sungai
yang kekanan. Wakt u itu telah tiba disorga ia terus menggambar suasana disorga.
47. Yanas bertempa t tinggal diatas dinding jalal sambil memohon pertolongan Tu
han dan mengucapkan rapal yang berbunyi Laillahaillalloh rasululloh. Setelah pek
erjaan menggambar it u selesai Yanas lalu keluar dari sorga. 48. Begitu Yanas ke
luar dari sorga maka ia telah berada dihulu sungai Nil kembali Selanjutnya ia la
lu bergerak kearah hi lir dan akhirnya sampailah ia dipersimpangan sungai Nil Di
situ Yanas tidak melih at adiknya, tetapi ia dapat dengan jelas mendengar suara
dan seseorang yang pada pokoknya memberi salam atas kedatangannya serta menyatak
an telah lama menunggu. 49. Yanas langsung dapat memastikan bahwa suara itu iala
h suara adiknya, Nurcah yo, Yanas lalu menanyakan mengapa Nurcahyo tidak terliha
t. Tiba tiba Nurcahyo la lu menampakkan diri dihadapan Yanas. 50. Seketika itu N
urcahyo lalu dipeluk Yana s. Kemudian. Yanas menanyakan mengapa ia dapat menghil
ang, dan kemudian dapat me nampakkan diri lagi. 24

Nurcahyo lalu menerangkan bahwa ia baru saja bertemu dengan Tuhan Yang Maha Esa.
51. Lebih lanjut Nurcahyo menerangkan bahwa dalam pertemuannya dengan Tuhan itu
ia dianugerahi kesaktian : sehingga ia dapat menghilang, dapat menampakkan diri
kembali, dapat terbang diangkasa, dapat masuk kedalam bumi, dapat masuk dalam a
ir tanpa basah, tahan masuk kedalam api membara tanpa merasakan panas. 52. Yana
s menanggapi ceritera adiknya dengan pernyataan rasa bersukur. Kemudian Yanas me
n anyakan apakah Nurcahyo berhasil juga mendapatkan gambar keadaan sorga, Nurcah
yo menjawab bahwa atas karunia Tuhan maka ia berhasil mendapatkan gambaran keada
an disorga. 53. Selanjutnya Nurcahyo lalu ganti bertanya kepada kakaknya apakah
di a juga tela mendapatkan gambaran keadaan disorga Yanas menjawab bahwa ia tela
h b erhasil sampai disorga serta telah mendapatkan keadaan gambar disana. 54. Ke
mudi an Yanas lalu mengajak adiknya agar mereka berdua bersama sama menghadap ka
kekny a (Nabi Adam) yang selama itu pasti telah menanti nanti kedatangan mereka.
Untuk mempercepat perjalanan menghadap kakaknya itu maka Nurcahyo lalu menawark
an apa bila kakaknya bersedia maka ia akan dibawa terbang. 55. Yanas tidak berke
beatan atas tawaran adiknya itu sehingga Nurcahyo lalu terbang sambil membawa ka
kaknya. Dalam waktu yang pendek mereka telah sampai dihadapan Nabi Adam. VIII. P
UPUH PU CUNG. 01. Yanas dan Nurcahyo bersama sama berdatang sembah kepada kakekn
ya. Seda ng Nabi Adam terus memeluk kedua cucunya itu sambil mengusap usap kepal
anya. 02. Pada waktu memeluk kedua cucunya itu Nabi Adam sambil mengucapkan sala
m atas ke datangannya. Kedua orang cucu itu lalu mengucapkan terima kasih yang s
ebesar bes arnya atas sambutan kakeknya itu. 03. + 04. Kemudian Yanas dan Nurcah
yo lalu dip ersilahkan duduk didepan Nabi Adam, serta disaksikan oleh anak ketur
unan Nabi Ad am yang lain. 04. pm. 05. Selanjutnya Nabi Adam lalu menanyakan ten
tang hasilper jalanannya pada wktu mereka ditugaskan menggambar keadaan disorga.
Mereka menjawa b bahwa berkat doa restu Nabi Adam maka selamatlah perjalanannya
serta berhasil menyelesaikan tugasnya. 06. Kernudian Yanas menceriterakan tentan
g sikap mereka pada waktu tiba dipersimpangan sungai Nil yang akhinya Nurcahyo p
ergi kehulu men empuh cabang yang kekiri sedang ia sendiri menempuh cabang yang
kekanan. 07. Tem yata perjalanan mereka selamat tanpa mengalami halangan satu pu
n. Mereka berdua sampai disorga. Masing masing disana menggambar apa saja yang t
erlihat dengan le ngkap. 08. Yanas menyatakan pula bahwa Nurcahyo setelah sampai
dihulu terus samp ai disorga, Dan disana Nurcahyo dianugerahi Tuhan gambar kead
aan disorga. 09. pm . 10. Saat itu anak keturunan Nabi Adam yang hadir lalu dipe
rsilakan mengamati g ambar sorga tersebut. Mereka lalu duduk memenuhi tempat itu
dengan posisi meling kar sehingga mengelilingi gambar sorga tersebut. 25

11. Kedua buah gambar itu dibuka lebar lebar. Keduanya diamati betul betul dari
bawah Sampai diatasmengenai bentuk dan coraknya. Ternyata gambar itu banyak kemi
ripannya. 12. Pada waktu mengamati gambar surgar milik Janas, mereka melihat ad
a nya sinar memancar amat cemenlang dari gambar tersebut. Mereka lalu duduk meli
ng kar mengelilingi gambar tersebut. 13. Dalam gambar itu terbayang rasa kemegah
an, keagungan (dinding jalal) Tuhan Yang Maha Esa. Dinding jalal itu dapat dihay
ati dari nikmatnya kata kata mutiara yang berbunyi Laa Illahaa Ilalah Mohammadar
Ro sulullah. 14. Karena menghayati susunan kata mutiara itu, maka Nabi Adam dan
ana k cucunya selain mengagungkan asma Tuhan Robbil Alamin. 15. Kemudian Nabi A
dani berkata kepada putranya yaitu Sis. Beliau menyatakan bahwa gambar yang dise
rahka n diperoleh dari Nurcahyo, yaitu putra Sis dari perkawnannya dengan putri
dari I jajil atau Tamimasar Raja digunung dasar. 16. Gambar surga itu hanya mini
p denga n gambar hasil jenih payah yang dicapai oleh Yanas putra Sis, atas perka
winannya dengan bidadari. Kekurangan mengenai tidak lengkapnya gambar surga dari
Nurcahy o (cucu Ijajil) yaitu dari gambar Nurcahyo, tanpa memancarkan sinar gai
b dan tan pa kata mutiara, penyanjung kemegahan, keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
17. Dikata kan bahwa Ijajil memiliki mantera mantera yang berakibat pemilik mant
era itu mam pu menghilang, dapat menampakkan diri lagi, dapat terbang diangkasa,
dapat menye lam dalam air tanpa basah, tidak hangus terkena api, dapat masuk ke
dalam bumi se hingga mampu menimbulkan gempa. Pokoknya semua kepandaian Ijajil t
elah diajarkan kepada Nurcahyo. 18. Selanjutnya Nabi Adam memberitahukah kepada
Sis (putranya) , menurut pengamatan mata hatinya, terhadap langkah langkah yang
ditempuh keyaki nannya sendini, antara Nurcahyo dan Yanas sampai dengan terwaris
kepada anak cuc u, cicit dan seterusnya, kedua belah pihak akan selalu bermusuh
an, berlawanan, b aik langkah maupun pola berfikirnya. 19. Antara Nurcahyo dan Y
anas, meskipun sam a sama putra Sis, namun sampai dengan keturunannya, telah dit
akdirkan kedua bela h pihak akan selalu terjadi selisih pendapat, saling bermusu
han. Nurcahyo putra Sis atas pernikahannya dengan anak Ijajil, dalam upaya mengg
ambar surga mengambi l langkah kekiri. Yanas putra Sis atas perkawinannya dengan
bidadari, mengenai u paya untuk tujuan yang sama, mengambil langkah jalan kekan
an. Maka dalam usahany a selalu bertolak belakang. Hanya dalam suasana surga sej
ati anugerah Illahi, de ngan penghayatan perasaan jujur kedua belah pihak dapat
menikrnati Surga tersebu t. Wallahu Alam bi sawab. 20. Keturunan Nurcahyo yang k
eenam kelak akan menduduk i takhta Kahyangan Jonggring Saloko. Dialah yang nanit
inya akan menentukan nasib (kodrat) manusia dibumi sebagai Wakil dari Sang Hyang
Widi serta bergelar Betar a Guru. 21. Adapun Nurcahyo sampai keturunannya yang
kelima menjalani alam perja njian, mereka tergolong petugas kaum petunjuk. 22. O
leh karena itu Nabi Adam lal u menasehatkan kepada Sis agar merelakan perpisahan
antara Nurcahyo dengan sauda ra saudaranya. 23. Nasihat itu dijawab oleh Nabi S
is bahwa mengenai hal tersebut ia menyerahkan kepada takdir Hyang Widi. Ia menye
tujui nasehat ayahandanya. Kem udian Nabi Adam memberitahu kepada cucunya yaitu
Nurcahyo. 24. Oleh kakeknya Nur cahyo disuruh beijalan kearah timur. Ditempat ya
ng ditunjuk itu terdapat wilayah yang masih kosong, letaknya tidak jauh dari tan
ah Yam. 26

Disanalah ia akan melanjutkan penyelesaian gambar yang telah dianugerahkan Hyang


Widi kepadanya. 25. Nurcahyo diminta mematuhi kehendak Hyang Widi untuk melengk
api gambar sorga miliknya, sebab pada gambar itu belum ada lapal yang isinya me
n gagungkan asma Allah sebagaimana halnya gambar milik Yanas, Nabi Adam memberit
ah u pula bahwa kelak ditempatnya yang baru itu segaa kehendaknya akan terkabul.
26 . Nurchyo terus mengambil gambar miliknya. Sesudah itu ia bersujud kepada ka
kekn ya kemudian ayah bundanya. Dengan Yanas ia berpelukan cukup lama. 27. Sesud
ah it u Nurcahyo lalu pergi. Dalam waktu singkat ia telah sampai digunung dasar.
Saat itu ia sangat bersedih hati karena harus berpisah dengan ayah bunda dan sa
udaran ya. 28. Setelah Nurcahyo pergi Nabi Adam masih duduk diatassinggasana ema
snya ya ng bernama Padmasana, singgasana ini adalah anugerah Tuhan waktu disorga
. 29. Si nggasana ini dihias dengan batu mulia yang menyinarkan cahaya gemerlapa
n sehingg a menrangi segala arah. Cahaya Padmasana ini dapat mengimbangi cahaya
matahari. 30. Diatas Padmasana itu Nabi Adam lalu mengajarkan isi dan sepuluh bu
ah kitab m iliknya kepada para putranya. Selanjutnya pada tiap tiap hari isi dar
i sepuluh k itab tersebut diajarkan kepada anak cucunya sehingga lama kelamaan i
si kitab itu telah mereka kuasai. 31. Kemudian isi dari sepuluh buah kitab itu l
alu disebar luaskan. Nabi Sis diberi lima puluh kitab oleh Tuhan. 32. Sesudah Na
bi Sis mener ima lima puluh buah kitab itu Nabi Adam bermaksud akan turun takhta
. Putra yang ditunjuk menjadi penggantinya yaitu Kayumutu. Sedang Nabi Sis lalu
mendalami aga ma. 33. Tentang cenitera mengenai yang mengambil jalan kekanan yai
tu Yanas, pema hamannya diserahkan kepada para santri. 34. Konon ceniteranya men
genai yang meng ambil jalan lewat jalan kekiri yaitu Nurcahyo, dalam peijalanann
ya telah bentemu dengan kakeknya yaitu Ijajil yang bergelar Prabu Tamimasar. 35.
Nurcahyo lalu b ersujud pada kaki kakeknya sambil menangis. Ia meratap menghiba
hiba. 36. Meliha t cucunya yang sedang susah itu Prabu Tamimasar lalu menghibur
, Nurcahyo diberit ahu bahwa sudah lazim bagi orang yang ingin hidup harus terle
bih dahulu memulai dengan keprihatinan. Begitulah menurut pendapat kakeknya. 37.
Selanjutnya Nurcah yo disarankan agar mentaati amanat kakeknya yaitu Nabi Adam.
Jika amanat itu dil aksanakan mudah mudahan kelak mendapat kebahagiaan sebagai
karunia dari Tuhan. 3 8. Prabu Tamimasar lalu mengajak Nurcahyo ke Lulmat lebih
dahulu. Lulmat adalah tempat air penghidup. Disitulah Nurcahyo akan dimandikan a
gar tidak mengalami ke matian. 39. Kemudian berangkatlah keduanya. Dalam waktu s
ekejap mata saja mereka telah tiba diLulmat. Nurcahyo akan dimandikan dengan air
yang mengakibatkan keb al akan mati. 40. Tatkala sampai di Lulmat itu Ijajil te
rperanjat. Melihat bahwa penjaga Lulmat, yaitu sumber air kebal mati itu, ternya
ta adalah para malaikat bekas anak buahnya. Ia lalu berkata kepada cucunya. 27

41. Ia merasa malu kepada para malaikat yang tunggu disitu. sebab mereka itu ada
lah anak buahnya semasa ia menjadi raja disorga. 42. Oleh karena itu Nurcahyo d
i perintahkan datang sendiri ke Lulmat itu. Ijajil menunjukkan bahwa air yang ha
ru s dipakai untuk mandi itu adalah air yang berwarna berkilau kilauan seperti s
ina r matahari. 43. Ijajil hanya bersedia mengawasi dari tempat ia berdiri itu s
aja. Nurcahyo pun lalu berjalan sendirian menuju tempat air penghidup. Kedatanga
n Nu rcahyo ditempat air penghidupan itu dilihat oleh para malaikat yang tunggu.
44. Mereka melihat adanya perwujudan bercahaya ditepi air yang dijaganya. Para
malai kat itu lalu mendekati. Akan tetapi pada waktu akan dipegang tiba tiba per
wujuda n itu lalu menghindar. 45. Para malaikat lalu menanyakan kepada perwujuda
n yang bercahya itu apa perlunya mandi ditepi Lulmat tersebut, pada hal perwujud
an itu hanya berupa cahaya. Para malaikat itu menduga bahwa perwujudan itu bukan
bintan g, bukan daru, tetapi adalah cahaya manusia belaka. 46. Tetapi andaikata
perwuju dan itu cahaya manusia manakah perlengkapannya yang disebut Nur Muhamma
d yang me mpunyai sinar cerah. Para malaikat itu lalu bertanya siapakah sebenarn
ya dia. 47 . Nurcahyo lalu memberi jawaban bahwa kedatangannya adalah untuk mand
i. Jawaban itu membuat para malaikat tersebut lalu menyerang Nurcahyo sehingga t
erpentallah ia. 48. Pada waktu terpental itu Nurcahyo lalu melepas api yang kemu
dian mengen ai para rnalaikat, dan dengan mudah para malaikat itu terkena api. 4
9. Dengan su ara lantang para malaikat yang tunggu itu menanyakan siapakah nama
dia yang bers ikap terlalu berani itu. Pertanyaan itu terus dijawab bahwa dia be
rnama Nurcahyo . 50. Kemudian Nurcahyo lalu melepas panahnya sehingga timbullah
awan gelap. Tin dakan ini ia lakukan dengan maksud agr para malaikat itu tidak m
engetahui tatkal a Nurcahyo sedang mandi. 51. Para malaikat yang menunggu Lulmat
mengatakan bahwa Nurcahyo sedang memperlihatkan kesaktiannya. Meskipun Nurcahyo
dapat menunjukka n kesaktiannya tetapi para malaikat itu yakin bahwa Nurcahyo t
idak berhasil mand i disitu. 52. Pada waktu para malaikat itu sedang mengepung N
urcahyo hendak mena ngkapnya. Tiba tiba muncullah Ijajil yang kemudian membawa p
ergi cucunya. 53. Pa ra malaikat yang sedang mengepung Nurcahyo itu tak tahu kem
ana menghilangnya Nur cahyo. Dengan demikian mereka tidak berhasil menangkap Nur
cahyo. Mereka lalu per gi kesana kemari untuk mencarinya. Para malaikat tersebut
lalu mengakui akan kes aktian Ijajil. 54. Dengan susah payah para malaikat itu
mencari tetapi tidak ber hasil menemukan dimana tempat Nurcahyo yang sakti itu b
erada. 55. Sementara itu Ijajil telah berhasil memandikan cucunya dengan air pen
ghidupan, dan peristiwa i tu tidak diketahui oleh para malaikat. 56. Sehabis mem
andikan cucunya Ijajil ter us pulang sambil membawa air penghidupan yang diletak
kan dalam cupu manik. Air p enghidupan itu disediakan untuk keturunannya yang ke
empat (canggah). 57. Canggah Ijajil inilah yang kelak akan menyatakan diri sebag
ai Tuhan. Ia akan mampu meng atur kodrat dan menguasai dunia kecil (alam sahir).
Ia akan mengatur keadaan den gan seluas luasnya. 28

58. Keraton canggah Ijajil ini suasananya dibentuk seperti keadaan disorga. Hal
ini sesuai dengan gambar yang pernah diserahkan kepada Nabi Adam. Diharapkan ker
aton itu kelak dapat diwariskan kepada anak cucunya. 59. Istana yang dibentuk m
i rip dengan keadaan sorga itu diberi nama Jonggring seloko. Sedang canggah Ijaj
il tenebut bergeler Betara Guru (Gurunadi). 60. Selanjutnya Nurcahyo lalu dipers
il akan berangkat kearah timur yaitu menuju ketempat yang masih kosong. Sebelum
ber angkat terlebih dulu Nurcahyo menyembah kakeknya. IX. PUPUH JURUDEMUNG 01. D
alam waktu sekejap mata saja Nurcahyo telah sampai ditempat yang dituju. Ia lalu
mas uk kedalam alam Akadiyat. Disana bumi dan langit tidak kelihatan. Suasanany
a tid ak terang, tetapi tidak gelap. 02. Dialam Akadiyat itu tidak diketahui ara
h temp at, tidak diketahui arah selatan, timur, utara, barat, bawah, dan atas. K
eadaan itu terjadi setelah ia (Nurcahyo) mengheningkan ciptanya. Waktu itu ia be
rada di dalam lingkup kekuasaan Hyang Widi. Ia bergelar Prasaguntung. 03. Disitu
ia berk umpul dengan para roh yang sesat jalan, mereka itu termasuk juga umat T
uhan. Tan pa sebab ia menjadi menyala. Nurcahyo segera mengheningkan cipta denga
n sikap me nghentikan kerja panca inderanya, sesudah itu ia melihat cahaya Illah
i yaitu seb agai cahaya mutiara merah, kuning dan biru. 04. Nyalanya memenuhi al
am semesta. Nurcahyo menempati ruang hampa itu sampai seribu tahun. Sesudah itu
Nurcahyo ber putra diberi nama Nuroso. Nurcahyo berkata kepada putranya yaitu Nu
roso. 05. Nur oso diperintahkan agar bertapa mencari wahyu raja. Nuroso menginda
hkan perintah itu lalu bertapa diwilayah lingkup kekuasaan Yang Widi. 06. Setela
h genap seribu tahun Nuroso bertapa ia lalu melihat cahaya Rosullulloh. Selanjut
nya Nuroso lal u berputrakan dua orang semuanya laki laki. Kedua orang itu wajah
nya mirip. Yang Tua bernama Sang Hyang Wenang sedang yang bungsu bernama Sang Hy
ang Wening. 07. Nuroso memerintahkan kepada Sang Hyang Wenang untuk melanjutkan
idam idaman aya hnya dengan jalan bertapa juga. Nuroso berjanji kepada Sang Hyan
g Wenang bahwa s elama menjalani tapa ia akan dijaga dan dilindungi. Kemudian ga
mbar sorga lalu d iserahkan. Selanjutnya Sang Hyang Wenang lalu menjalani tapa,
tetapi pada waktu baru mendapat seratus tahun ia telah menghentikan tapanya. 08.
Kemudian Sang Hya ng Wenang menyuruh adiknya yaitu Sang Hyang Wening agar melan
jutkan tapanya. Dal am melanjutkan tapanya itu adiknya (Sang Hyang Wening) disur
uh ganti nama Sang H yang Wenang. Sang Hyang Wenang (nama baru dan Sang Hyang We
ning) lalu menerima p enyerahan gambar sorga dari kakaknya kemudian melanjutkan
tapa hingga genap seri bu tahun. 09. Sang Hyang Wenang yang asli lalu berganti n
ama Dipoyono karena ia tidak suka menjadi badan halus. Ia menginginkan menjadi b
adan jasmaniah. Nantiny a ia akan mengasuh manusia manusia kekasih dewa. 10. Ia
tidak menampakkan diri s ebagai roh halus (dewa) tetapi menyamar sebagai manusia
yang nantinya berganti n ama Semar Apabila telah cukup waktunya 29

mengasuh para kekasih dewa kemudian ia kembali menjadi badan halus lagi ke Kedew
ataan Sang Hyang Wenang. 11. Kepada semua manusia yang dikasihi Tuhan diizinkan
menjalani kuwajiban sebagai raja. Diceriterakan bahwa Sang Hyang Wenang (nama b
a ru dari Sang Hyang Wening) telah selesai melanjutkan tapa sehingga genap serib
u tahun, kemudian ia berkumpul dengan ayah andanya yaitu Nuroso. 12. Hyang Wenan
g berputra seorang laki laki yang rupawan diberi nama Sang Hyang Wasesa. Sang Hy
an g Wenang memerintahkan kepada Sang Hyang Wasesa agar berusaha mengumpulkan pa
ra nenek moyangnya. 13. Untuk itu Sang Hyang Wasesa diperintahkan bertapa lamany
a s eribu tahun dan dalam keadaan berujud roh halus. Hyang Wasesa lalu mengindah
kan perintah ayahandanya itu yaitu Sang Hyang Wenang. Setelah menerima gambar so
rga Hyang Wasesa lalu mulai tapanya, tempatnya didalam lingkup kekuasaan Yang Ag
ung. 14. Setelah genap seribu tahun tapanya lalu datanglah leluhurnya yaitu Maha
raja Tamimasar dari gunung dasarl). Kedatangan maharaja Tamimasar itu diantar ol
eh b ala tentaranya yang berujud jin sebanyak tujuh juta. 15. Maharaja Tamimasar
memb eritahukan kepada Sang Hyang Wasesa bahwa kedatangannya diperintahkan oleh
Tuhan Yang Maha Esa untuk menyerahkan anugerah. Augerah itu diberikan karena Sa
ng Hya ng Wasesa bermaksud mengumpulkan roh dan para nenek moyangnya. 16. Setela
h tapan ya itu selesai dijalankan maka tak lama kemudian para roh nenek moyangny
a berhas il dapat terkumpul. Pada saat itu Sang Hyang Wasesa lalu mendapat pahal
a yang be rupa kekuasaan Yang Mulia da diberi kekuasaan disisi Tuhan. 17. Hyang
Wasesa dip ercaya menguasai kaum roh tersebut. Oleh kanena itu raja Tamimasar la
lu menyogya kan Hyang Wasesa berganti nama Sang Hyang Wisesaning Tunggal. 18. Ka
rena tehah b erhasil menguasai Yang Tunggal (roh roh) maka raja Tamimasar lalu m
enyerahkan an ugerah dari Yang Agung berujud air penghidupan 2. Air tersebut dim
asukkan didala m suatu tempat (cupu) yang bernama cupu Astagina. Semua umat yang
mempunyai kehe ndak dan keinginan bila meninggal dapat dihidupkan kembali dngan
jalan memercikka n air tersebut kepada umat yang mati itu. 19. Dan siapa saja ya
ng telah minum ai r itu tak akan dapat meninggal, ia akan hidup seterusnya. Apab
ila. ada yang mend erita sakit hingga meninggal dunia bila diperciki air penghid
upan itu akan menja di sehat kembali. 20. Dikatakan bahwa air itu tak akan ada h
abisnya. Hyang Wises a diminta mewariskan air tersebut kepada keturunannya. Beth
ara Guru lalu memerin talikan agar Hyang Wisesa melanjutkan tapanya. 21. Hyang W
isesa Tunggal lalu men gambil sikap bersidekap. Pada keadaan begitu Hyang Suksma
akan melindungi. Begit ulah amanat Hyang Suksma kepada Hyang Wisesa. 22. Hyang
Wisesa mengindahkan aman at tersebut. Sementara itu raja Tamimasar telah menghil
ang bersama sama pengikut nya. Sedang Hyang Wisesa kembali bertapa dengan melepa
s segala panca inderanya, sukmanya diarahkan kehadapan Yang Agung. 23. Perhatian
nya mulai dipusatkan kesan a. Tiba tiba terdengar suara gemuruh, bagaikan suara
guruh dari segala arah yang jumlahnya berpuluh puluh ribu. 30

Sesudah itu lalu terlihat ada sebuah permata sebesar telur yang berwarna putih c
emerlang. 24. Cemerlangnya permata itu tak menjadi pudar tatkala berada diantar
i ksa. Benda itu lalu ditangkap. Kemudian permata itu lalu berubah menjadi tiga
ma cam yaitu menjadi bumi dan langit dengan segala isinya, dan yang ketiga menja
di cahaya. 25. Yang berupa cahaya lalu menjadi citra berkuasa yaitu Hyang Guru a
tau Manikmoyo, dan Manikmoyo adalah pengejawantahan Hyang Wisesa. Oleh Hyang Wis
esa , oleh karena itu segala sesuatu yang dikerjakan dan diciptakan oleh Manikrn
oyo adalah atas nama Hyang Wisesa. 26. Selanjutnya Hyang Wisesa mengatakan bahwa
ia memberikan kepercayaan penuh akan segala pengaturan yang terjadi dibumi dan
dila ngit. X. PUPUH GURISO 01. Tersebutlah Manikmoyo bertanya kepada Hyang Wises
a men genai keadaannya, Ya Pukulun Dewa Yang Maha Kuasa. Mengapa wajah hamba ini
sangat jelek tak ada kebagusannya sedikitpun. Warna hamba yang hitam pekat bagai
kan we delan ini apakah maksudnya? Pertanyaan itu dijawab oleh Hyang Wisesa agar
Manikm oyo menerima saja nasibnya 02. Disarankan agar Manikmoyo jangan kecewa h
ati. Hya ng Wisesa segera memegang gambar pemberian kakekndanya yaitu Nurcahyo.
Oleh Hyan g Wisesa gambar itu lalu diciptakan menjadi permata yang sangat rnulia
Benda itu diserahkan oleh Hyang Wisesa kepada Manikmoyo. Nama benda itu Retno D
umilah art inya permata mulia. 03. Permata itu tidak ada yang menyaimai mutu keb
aikkannya. Apabila permata itu dimanterai maka apa yang diminta oleh pemilik ben
da itu akan terkabul. Retno Dumilah tersebut lalu diletakkan diatasubun ubun Man
ikmoyo. Ada pun warna hitam yang menyerupai wedelan itu merupakan perlambang kel
anggengan (b aka) dan kekuasaan yang ada pada Manikmoyo, sama halnya sifat langg
eng yang ada pada Manikmoyo, sama halnya sifat langgeng yang ada pada bulan dan
mata hari. 04 . Manik noyo dengan rendah hati dan rasa gembira menerima baik sif
at langgeng se bagai sifat matahari dan bulan itu. Manikmoyo bersujud kepada Hya
ng Wisesa sebag ai tanda menyambut baik atas sabdanya itu. Warna hitam menjadi p
etunjuk peringat an bahwa segala yang ada dapat berubah menjadi tidak ada sedang
yang salah dapat berubah menjadi benar. 05. Dan yang benar dapat berubah menjad
i salah. Hati pem berani dapat berubah menjadi penakut, hal yang pasti dapat ber
ubah menjadi samar samar. Sang Hyang Wisesa menyarankan agar Manikmoyo berganti
nama Bethara Semar yang menguasai segala kejadian dibumi. Bethara Semar (Manikmo
yo) lalu diberi pe ndidikan tentang menguasai dan mengatur semua kejadian dibumi
. 06. Kemudian Hyan g Wisesa lalu pergi menghilang sementara itu Hyang Guru (Man
ikmoyo) lalu tinggal seorang diri. Dalam hati Hyang Guru merenung mengenai sempi
tnya bumi dan langit . Oleh karena itu bumi dan langit lalu dipisahkan. Jarak an
tara bumi dan langit tak dapat diukur sejauh mana antaranya. 31

07. Bumi selalu menangis sedang langit merasa sangat haru meihat bumi terapung a
pung ditengah tengah samodra. Jika tertiup dari timur kebarat arahnya, yang dar
i barat ketimur, dan jika ada angin berembus dari lain arah. 08. Bila bumi dihem
b us angin dari selatan dia lalu bergeser keUtara. Bila angin bersama sama datan
g dari segala arah maka bumi bergetar ditengah. Bumi selalu terayun ayun ditenga
h tengah samodra. Melihat itu langit merasa amat iba. Kemudian disusul angin dar
i arah atas bumi. 09. Bersamaan dengan saat itu mengembus pula angin dari bawah
ke atas. Kilatpun berseleweran diangkasa. Lingkup angin yang dan bumi seluas sep
aro h bumi. Bumi selalu terombang ambing, laut bagaikan digoncang, airnya berdeb
uran . 10. Gerakan air laut yang berdeburan itu mengakibatkan air laut menjadi m
asin rasanya. Dengan perubahan air laut menjadi masin itu bumi merasa amat gembi
ra. D isamping itu terjadilah suara yang dahyat mengerikan, cahaya gaib yang ter
jadi d iangkasa (tejo) tidak berjalan. Keadaan siang dan malam tak ada bedanya.
Sang Hy ang Guru berkata kepada tejo dan cahaya agar mau menerima penugasan yang
diberik an oleh Hyang Maha Esa. 11. Tugas yang diberikan ialah untuk menerangi
dunia den gan cara bergantian. Si cahaya akan berturut turut bertambah besar. Bi
la sudah l ima belas kali menerangi bumi penuh sempurnalah besamya. Apabila suda
h tiga pulu h hari sudah sempurnalah tugasnya dan berhenti dalam air untuk selan
jutnya menya mbung tugas berikutnya. 12. Adapun matahari mempunyai tugas berjala
n menyinari b umi pada waktu siang hari. Sedang pada waktu malam bersembunyi did
alam bumi. Hya ng Guru lalu menciptakan sembilan dewa dan para bidadari, wajahny
a bermacam maca m. 13. Mereka itu menjadi penghuni diatasbumi dan diangkasa. Mas
ing masing mempu nyai tugas sendini sendiri. Begitu pula yang mengatur segala se
suatu dibumi adal ah para dewa dan bidadari juga. Yang berkedudukan diarah timur
bernama Yang Maha Dewa, Maha Dewa memuliakan hari pasaran Legi. 14. Hari pasara
n Legi dewa pujaan nya adalah Maha Dewa. Lambang kotanya perak. Lambang burungny
a burung kuntul. La mbang lautnya laut santan. Lambang huruf ha na ca ra ka. Yan
g duduk didunia kede waan Bethara Sambu. Sagnyana kota tembaga. 15. Lambang laut
, laut darah. Lambang burung, burung elang. Hari Pahing, lambangnya huruf da ta
sa wa la. Dewa yang a da disebelah barat Hyang Kamajaya namanya dengan istrinya
Dewi Ratih. Lambang ko tanya kota emas, lambang laut berair madu. Lambangnya bur
ung, burung Kepodhang. 16. Hari pasaran Pon. Lambang hurufnya pa dha ja ya nya.
Dewa yang berada disebe lah utara bernama Hyang Wisnu dengan istri Sri. Lambang
kotanya kota besi. Lamba ng lautnya laut mia. Lambang burungnya burung gagak. 17
. Hari pasaran Wage. Dewa yang ada ditengah tengah dunia bernama Bethara Bayu, p
endampingnya bernama Beth ari Sunthi. Hari pasaran Kliwon. Lambang kotanya, kota
perunggu. Lambang burung, burung gagak. Pantai wedang (air panas) Lambang huruf
nya ada sepuluh buah wa le pa nya ma ma i la pa. 18. Ada disebelah timur Emprit
Anjala menjaga huruf pelen gkap rangkaian sesaji. Dewa pujaannya ada disebelah t
enggara, bernama Hyang Kuwe ra. Lambang hurufnya ha ra sa nya. Yang ada dibarat
daya bernama Maha Yekti, ada dibarat daya Bethara Siwa. 19. Para dewa berjumlah
delapan ditambah Dewa Sang H yang Bayu jumlahnya jadi sembilan. Pada waktu itu p
ulau Jawa kadaannya goyah ter obang ambing oleh air samodra. Yang Guru Nata lalu
tegak berdiri diangkasa. 32

20. Yang Guru Nata terus melecit keatas. Terjadilah langit bersapsap tujuh lapis
. Yang Guru memandang kebawah. Nampak bumi tebal berlapis lapis. Lapis yang per
t ama dijaga oleh Begawan Kusiko. 21. Begawan Kusiko berputra tiga. Yang sulung
be rujud Kowangan. Kedua berujud garangan. Yang bungsu berujud ular. Ketiganya h
idu p didalam bumi. Begawan Kusiko bersebutan juga Yang Dherampalan. Apabila ter
leng ah dari pengawasan ayahnya bagian tubuh ular digerogoti oleh kowangan dan g
arang an 22. Sekali peristiwa pada waktu garangan dan kowangan akan menggerogoti
ular diketahui oleh Yang Dherampalan. Ia sangat marah. Dua anaknya diusir.pergi
. Kepe rgian garangan dan kowangan meninggalkan kata kata pengutuk. Kata kutukan
itu me nyatakan bahwa diriya ular itu akan menjadi mangsanya. . 23. Betul, akhi
rnya ula r menjadi mangsanya kowangan dan garangan. Alkisah lapisan bumi yang ke
enam dija ga oleh Yang Manikoro. Sedang bumi yang ketujuh dijaga oleh Yang Ontob
oga. 24. S emua dewa penjaga ketujuh lapisan bumi itu dikepalai oleh Sang Hyang
Ontoboga. S emua dibawah perintahnya. Isi bumi dan isi laut semuanya dibawah kek
uasaan Hyang Antaboga. 25. Sekali peristiwa Yang Guru Nata amat memikirkan pulau
Jawa yang s elalu goyah, terombang ambing oleh gelombang samudera. Amat iba hat
inya. Segera Yang Guru Nata turun di Pulau Jawa. Pulau Jawa yang selalu tak teta
p letaknya, a kan dibuat kokoh kuat dan tetap letaknya. Ia berdiri tegak menghad
ap kebarat, me ngheningkan cipta, menciptakan adanya gunung. Maka terjadilah dip
antai sebelah b arat sebuah gunung yang amat besar lagi tinggi. Gunung itu diber
i nama Gunung Ja murdipa, tetapi dalam keadaan miring, pada bagian timur sangat
terangkat keatas. 26. Ujung pulau Jawa disebelah timur hampir hampir menyentuh l
angit, Yang Guru sangat kecewa melihat kejadian itu. Yang Guru segera mengumpulk
an para dewa, mem usyawarahkan tentang nasib pulau Jawa. Para dewa lalu melapork
an hasil penelitia nnya. 27. Adapun penyebab pulau Jawa menjadi miring itu, kare
na disebelah barat terdapat sebuah gunung yang sangat besar lagi tinggi, letakny
a ditepi pantai. Ya ng Guru lalu memerintah agar gunung itu dibongkar. 28. Yang
Guru memerintahkan k epada para dewa tersebut agar separo dari gunung tersebut d
iangkat untuk diletak kan diujung sebelah thnur. Para dewa mengindahkan perintah
tersebut. Mereka bera ngkat beramai ramai, laki laki perempuan, menjalankan per
intah yang diberikan ol eh Yang Guru Nata. 33

XI. PUPUH GAMBUH 01. Tersebutlah ada seorang dewa yang oleh Hyang Guru diperinta
hkan tinggal ditempatnya, tidak ikut para dewa yang lain. Dewa itu bemama Empu
R amadi. Ia mendapat tugas membuat alat senjata yang tangguh serta istimewa. 02.
K emudian ada seorang dewa lagi yang tak ikut serta para dewa yang lain, Ia ber
nam a Dremojo. Saat itu ia sedang khidmat menantikan kelahiran putranya. Akhirny
a la hirlah putra yang dinantikan itu yaitu lahir pria yang anggun serta tampan
paras nya. 03. Putra yang baru lahir itu diberi nama Caturkenaka. Oleh ramandany
a kemu dian Caturkenaka diperintahkan agar bertapa. Dalam tapanya itu, dinasehat
kan ole h ramandanya agar mohon kepada Dewa Maha Tunggal untuk dikaruniai seoran
g putra yang tampan perwira. 04. Nasehat ramanda itu diindahkan oleh Caturkenaka
. Akhirn ya permohonannya dikbulkan, ia mendapat anugerah seorang putra yang bagu
s wajahny a, cerah kecerdasannya, halus perasaan hatinya, diberi nama Kanekaputr
a. 05. Pad a suatu hari ayahandanya menyerahkan sebuah pusaka yang diberi nama R
etno Dumila h. Pusaka itu amat keramat Kanekaputra diberi banyak ilmu oleh ayaha
ndanya. Kemu dian ia dinasehatkan kembali ketempat kakeknya, dipusat samodera. 0
6. Disana ia tekun bertapa ia menyerahkan segala jiwa raganya kepada Hyang Widi
Tunggal. Bila ia merasa haus, lapar dan mengantuk, cukup mencium pusaka mustika
saja. Dengan mencium pusaka mustika itu, lapar, dahaga dan kantuknya hilang. 07.
Kasiyat dan pengaruh lain dari pusaka itu, meskipun terendam air, ia tidak akan
basah, bila masuk dalam api yang meruah membara sepanas api neraka, ia tak akan
hangus. 08. Alkisah para dewa telah tiba dikaki gunung Jamurdipa. Para dewa mem
perbincangkan bagaimana mereka akan menyelesaikan tugas dari Yang Guru Nata itu.
Hyang Bromo sanggup menjadi salang. 09. Pembongkaran gunung Jamurdipa dimulai H
yang Wisnu me musatkan perhatian, mengumpulkan segala kekuatan sambil mengatakan
dalam hati ma ntera yang dimiliki (tiwikrama) Tubuhnya menjadi besar dan tinggi
, lebih besar d an lebih tinggi dari gunung Jamurdipa yang hampir menyentuh lang
it itu. 10. Oleh Hyang Wisnu, gunung Jamurdipa dipotong separohnya, ditaruh diat
assalang, sedang pembungkusnya Yang Endra. 11. Yang Bayu dijadikan alat pemukul
yang tidak lekan g dan luntur. Pemikulnya ialah para dewa. Pada saat mulai menga
ngkat potongan gu nung Jamurdipa itu, menggelegarlah suara guruh sebagai tanda p
enghormatan. 12. B ethara Suryo memancarkan sinar cerah, Ia mengamati para dewa
yang mengangkut pot ongan gunung tersebut. Para dewa pengangkut itu ditimpa sina
r matahari yang teri k. Mereka letih kehausan. 13. Mereka melihat air yang kelua
r dari lubang pada la mbung gunung Akibat minum air dari lambung gunung tersebut
para dewa jadi mati t ak ada yang hidup seorang jua. 14. Yang Guru ikut minum a
ir tersebut tetapi tatk ala baru sampai ditenggorokan lalu dimuntahkan kembali.
Ia menyatakan bahwa air itu beracun amat keras. Selanjutnya akibat dari minum ai
r itu pada bagian leher tempat tenggorokan Yang Guru lalu berbelang putih. 34

15. Maka Yang Guru lalu disebut juga Yang Nilokontho, artinya memiliki cacat tub
uh belang pada leher. Sebenarnya air yang diminum oleh para dewa itu bukan air
b iasa melainkan air bisa yang sangat ampuh. 16. Adapun nama air racun tersebut
ia lah Calakutha. Sementara itu Hyang Wisesa turun dipuncak gunung, kedatanganny
a s ambil membawa cupu Astagina. Didalarn cupu itu terdapat air penghidupan Cupu
ter sebut lalu diletakkan diataspuncak gunung. Bau dari air penghidupan itu sem
erbak harum, terbawa angin kesegala tempat. 17. Bau itu mempengaruhi badan sehin
gga t erasa segar Yang Pramesthi Guru berkata dalam hati, kiranya air inilah yan
g dise but tirta Marta Kamandhalu Berkatalah Yang Wisesa kepada Yang Pramesthi,
membena rkan apa yang dipikirkan olehnya. 18. Air itu adalah air yng disebut Tir
ta Marta Kamandhalu. Khasiatnya dapat menghidupkan kembali semua manusia yang ma
ti, yang belum penuh takdir hidupnya. 19. Semua makhluk yang memiliki kehendak d
an keing inan bila minum air tersebut akan kebal dari segala bisa dan kebal dari
segala s akit. 20. Selain itu ada lagi sejenis tumbuh tumbuhan warna batangnya
hitam, ber cabang cabang, yang berkhasiat sebagai obat penghidupan. Nama tumbuh
tumbuhan in i Sambilata. Disitulah jin, setan dan para roh bertempat tinggal. 21
. Raseksa da n riaseksi dan manusia yang mati, bila ditaruh Sambilata diatasnya,
mereka akan hidup kembali. Batang sambilata dapat menjadi alat penghidup umat d
ibumi yang me ninggal 22. Begitu juga semua binatang air, binatang yang hidup da
lam lubang dit ebing tebing, yang sudah mati, bila bagian dari pohon sambilata d
itaruh diatasny a, maka hidup kembalilah semua itu. 23. Para Dewa dan Dewi tak d
apat mati, hidup langgeng, karena mereka telah minum air penghidupan itu. 24. Hy
ang Guru pun seg era menyambut cupu Astagina, meneguk air dari dalamnya. Maka tu
buhnya menjadi se gar karena telah kemasukan rasa manis nan harum. Nyata nyata r
asa itu raja dari segala rasa. 25. Cupu manik Astagina lalu dibawa oleh Hyang Gu
ru. Hati Hyang Pra mesthi amat gembira. Setibanya ditempat para dewa yang telah
meninggal itu, lalu dibukalah cupu itu. 26. Diatas bibir para dewa yang telah me
ninggal itu lalu di tetesi dengan air dari dalam cupu tersebut. Seketika pan Dew
a dan Dewi itu lalu hidup kembali, mereka bergerak bangun, kemudian melanjutkan
tugas masing masing. 27. Mereka bertugas memindahkan sebagian dari gunung Jamurd
ipa keujung bagian t imur pulau Jawa. Dalam perjalanan itu terjadi berulang kali
keguguran dari bagia n gunung yang diusung tersebut. Kemudian dari guguran gugu
ran itu lalu teijadila h gunung baru. 28. Ada runtuhan sebesar buah kemiri, runt
uhan ini kemudian. menj adi sebuah gunung di Banten. Ada lagi runtuhan sebesar t
elur yang kemudian menja di gunung Pajajaran. Gunung ini besar lagi tinggi, keli
hatan dari jauh. 29. Pada waktu meneruskan perjalanan ketimur sampai dekat Cireb
on runtuh lagi sebesar bu ah kemiri yang kermuian menjadi gunung Careme. Kemudia
n beberapa kali berguguran lagi, menjadi gunung gunung didaerah Cirebon. 30. Par
a Dewa berjalan terus. Sam pai didekat Tegal runtuh lagi sebesar gendi yang kemu
dian menjadi gunung terting gi dan terbesar dari gunung gunung yang sudah ada. 3
5

31. Kaki gunung itu disebelah utara meliputi Daerah Tingkat dua Tegal, disebelah
selatan meliputi Kabupaten Banyumas Gunung itu dinamai Gunung Slamet. Gunung di
sampingnya dinamai gunung Pragota. 32. Runtuh lagi dua kali maing masing sebesa
r kepalan tangan. Jatuhnya berdekatan, menjadi dua buah gunung yang mirip, diber
i nama gunung Sundara dan gunung Sumbing. Para Dewa lalu melepaskan lelah di Ked
u . 33. Para Dewa mengeluarkan banyak keringat, mengakibatkan wilayah Kedu menja
di murah air sampai kini. Para Dewa makin merasa letih. Mereka merasakan bahwa d
al am mengangkut beban itu terasa makin berat. 34. Untuk melampaui diatas dapur
tem pat memasak besi untuk dijadikan alat senjata (prapen) milik Empu Ramadi, te
naga para Dewa makin banyak terkuras, hingga mereka amat kelesuan. Adapun tempat
Emp u Ramadi mengerjakan pandai besi ada diudara. 35. Empu Ramadi menggunakan e
mbusa n api dengan kidung, sedang tempat untuk menempa besi menggunakan lutut, u
ntuk m emanasi besi tidak menggunakan bara api, melainkan cukup dipandangi denga
n panda ngan mata yang panasnya tak kalah dibanding dengan api yang sedang memba
ra. Air ludah dipakai sebagai sepuh. 36. Besi yang dijadikan bahan untuk membuat
senjata senjata itu, dari besi pilihan. dinamai besi Bangka Mahanibu. Prapen Em
pu Ramad i telah menghasilkan banyak senjata pusaka yang memiki kesaktian. Semua
itu menj adi senjata para Dewa. 37. Senjata senjata pusaka itu adalah panah Cak
ra, panah Kunta tulup, busur dengan ratusan ribu anak panahnya, dengan segala be
ntuknya, p arang dan popor. 38. Demi para Dewa mengetahui bahwa Yang Ramadi tida
k ikut sert a mengerjakan pemindahan sebagian dari gunung Jamurdipa, mereka data
ng bersama s ama mengerumuni Empu Ramadi. 39. Mereka menghujani pertanyaan atas
anjuran siapa hingga melalaikan tugas tidak ikut serta memindahkan bahagian dari
gunung Yamur dipa itu. 40. Dianggapnya Empu Ramadi hanya mementingkan kebutuhan
sendiri, meng hadapi api yang membara, menggerinda, mengikir menempa besi, tanp
a menghiraukan tugas bersama. Padahal dengan sepenuh tenaga para Dewa telah meng
erjakan peminda han gunung Jamurdipa, sedang Empu Ramadi enak enak ditempatnya.
Keadaan ini memb uat para Dewa panas hatinya. 41. Hyang Condro berkata dengan la
ntang : sebaiknya Empu Ramadi dikenakan hukuman berat. Kemudian Bethara Bayu men
yambung pembicara an itu : tak perlu banyak pikir, dikeroyok saja cukuplah. 42.
Semua alat pekeija annya dirampas, pemiliknya diikat tangannya. Yang Condro mela
ngkah maju, menuju didepan Empu Ramadi. Ia mengatakan siapa yang berani menghasu
t untuk mogok kerja . 43. Mogok kerja untuk bersama sama memindahkan bahagian Gu
nung Jamurdipa. Meng apa Empu Ramadi enak enak bekerja untuk kepentingan pribadi
dirumah, Empu Ramadi lalu balik bertanya : apakah kalian tidak tahu bahwa banya
k tugas yang harus di selesaikan. 44. Para Dewa yang berdatangan itu lalu dipers
ilakan mengamati Yang Cokro dan Yang Citragotra tak sabar lagi, segera menyerang
. Empu Ramadi dilawan bertiga. Yang Tembuni ikut membantu penyerangan. Ternyata
Empu Ramadi betul betu l kuat dan tangguh. 36

45. Bahu Empu Ramadi ditarik kekiri, ditarik kekanan sambil digelut. Keringatnya
keluar dengan membawa rasa panas Serasa panasnya air mendidih, menggelembung ge
lembung bagaikan minyak mendidih. 46. Ramadi segera meloncat Dewa Dewa yang mer
e nggut bahu Empu Ramadi berpelantingan. Ada yang jatuh tertelungkup, ada yang j
at uh tertelentang ada yang jatuh miring. Keempat Dewa lari tunggang langgang. 4
7. Sakri datang dengan amat marah. Empu Ramadi dihantam. Ia membalas menyerang,
ked uanya saling menarik, saling mengangkat, saling menendang, kelihatan sama ku
at. Sakri dilempar jatuh ditempat yang jauh. 48. Dalam keadaan bersempoyongan, S
akri ditangkap lagi. Ia kehabisan tenaga, badannya lemah bagaikan kapuk. Melihat
gel agat itu, Bethara Bayu membantu menyerang. Empu Ramadi ditangkap pada pingg
angny a, diangkat tinggi tinggi lalu dilempar jauh. 49. Setelah jatuh Empu Ramad
i bala s menyerang. Bethara Bayu dapat dipegang ikat pinggangnya, lalu diangkat
tinggi tinggi akhirnya dilemparkan, jatuh ditempat yang jauh. Setelah terjatuh d
itanah, ia lalu mengumpulkan kekuatan dan membalas menyerang. Keduanya menganibi
l cara berkelahi yang lain. Mereka lalu bergulat. Lama kelamaan Bethara Bayu keh
abisan tenaga. 50. Bayu ditekankan kebumi. Ia tertancap kebumi sampai lututnya.
Kini ia tak dapat bergerak lagi, dia dihujani tinju. Tiba tiba Yang Bromo datang
untuk membantu, ia terus merebut Bethara Bayu. 51. Sambil merebut itu, Yang Bro
mo berk ata dengan kasar : Si Empu Ramadi yang hanya seorang diri itu, tidak mun
gkin aka n mengalahkan para Dewa yang sekian banyak. Dengan cara dikeroyok Ramad
i pasti h ancur. Empu Ramadi mendengar kata kata kasar dari Yang Bromo.. XII. PU
PUH DURMO 01. Demi mengerti bahwa akan dikeroyok Empu Ramadi lalu mengambil pana
h. Ia bers eru kepada para dewa agar segera maju, mereka akan disambut dengan an
ak panah ya ng dilepaskan. 02. Ramadi yakin para Dewa akan hancur lebur bagaikan
air. Dia me nyatakan bahwa ia membuat aneka warna senjata itu bukan dari kehend
ak sendiri, m elainkan demi untuk mengindahkan perintah Hyang Pramesthi. Bila su
dah selesai di kerjakan, senjata senjata itu akan diperuntukkan para Dewa. 03. D
ijanjikan oleh Hyang Pramesthi, apabila telah selesai seluruhnya, ia akan dikaru
niai air penghi dupan untuk diminum Khasiat dari air tersebut, dapat menjadikan
awet inuda, keba l terhadap sakit dan kematian. 04. Begitu para Dewa mengetahul
bahwa.Empu Ramadi bekerja itu atas penugasan dari Yang Pramesthi, maka mereka me
nghentikan perkel aiannya, mereka lalu kembali menjalankan tugasnya. 05. Pada sa
at itu gugurlah du a gumpalan masing masing sebesar kepal tangan. Benda itu terj
atuh diatasdapur pe rapian sehingga menutup tungku Empu Ramadi. Kemudian benda i
tu lalu berubah bent uk menjadi dua buah gunung yang berdekatan letaknya. 06. Gu
nung yang disebelah s elatan diberi nama gunung Merapi, sedang yang terletak dis
ebelah utara dinamai M erbabu. Gunung Merapi selalu mengeluarkan asap dan berapi
. Empu Ramadi amat meny esali atas rusaknya dapur perapian 37

beserta tungkunya itu.. Segera ia lalu menciptakan dapur perapian lengkap dengan
tungkunya yang baru. 07. Empu Rarnadi sesudah itu memusatkan cipta dan perasaan
, memanjatkan doa agar dianugerahi seorang putra laki laki. Disamping itu ia me
n gharap kepada Hyang Wasesa agar dikaruniai pamor, baja dan tembaga. Ternyata s
em ua permohonannya terkabul. Putranya lalu diberi nama Bromo Dhedhali. 08. Oleh
ay ahnya, Bromo Dhedhali telah diajarkan kecakapan sebagai pandai besi diangkas
a. L ututnya digunakan sebagai landasan untuk menempa besi. Untuk alat penjepit
memeg ang besi berpijar ia menggunakan jari jari tangan. Alat untuk membuat besi
ia me nggunakan kepalan tangannya. Untuk mengembus membesarkan api digunakan em
busan h idung. 09. Konon sesudah dewasa Empu Bromo Dhedhali beranak seorang laki
laki, d iberi nama Onggojali. Selanjutnya Onggojali beranak seorang laki laki d
iberi nam a Abusaka. Abusaka kemudian menjadi penganut Nabi Muhammad, beragama I
slam. Ia p ergi ke pulau Jawa, menyebar luaskan agama Islam. 10. Abusaka inilah
yang mencip takan hauf Jawa, yang dapat berubah ubah suaranya dipengaruhi oleh t
anda tanda s aksi. Abusaka mempunyai banyak ilmu dan kepandaian, tabiatnya pemur
ah. 11. Terse butlah perjalanan Dewa yang terus ketimur. Kemudian ada lagi sebag
ian tanah yang runtuh yang selanjutnya berubah menjadi gunung lalu diberi nama g
unung Lawu. Ru ntuh lagi sebesar biji kacang yang kemudian menjadi gunung Wilis.
12. Tiba di Ke diri, sisa gunung Jamurdipa itu dipecah pecah dilempar keutara,
ketimur. yang di buang keutara menjadi gunung Muria dan gunung Bancak. 13. Ada y
ang nenjadi gunun g Sokarini, gunung Dhulanan. Ke timur gunung Kelud. Puncaknya
digunung Semeru, g unung tertinggi dan besar. Para Dewa lalu menghadap Yang Pram
esthi. 14. Sang Hya ng Jagad Nata mengumpulkan semua Dewa anak buahnya. Hyang Ja
gad Nata menyatakan pendapatnya ingin membangun sebuah sorga indah. Para Dewa di
perintahkan mengumpu lkan kayu yang bercahaya, aneka batu dan tanah. 15. Maksud
Yang Guru membangun b alai itu untuk melengkapi sebagai kembarannya Balearas. Ba
lai baru itu disebut B alai Marcukundha. Seperti halnya Allah menciptakan surga,
Yang Guru membangun Su rgaloka. 16. Allah menciptakan neraka Yang Pramesthi men
gadakan kawah Candradimu ka. Wahelul neraka diimbangi lumpur panas (endhut Blege
daba). Allah menitahkan S irotol mustakin, Yang Guru mengadakan titian yang peka
gerak (wot ogal agil). 17 . Kayu Sajarotul Muntaha, imbangannya pohon Dewa Daru
dengan bunganya Wijayakusu ma. Daunnya bersinar dengan aneka warna cahaya. 18.
Allah mengadakan para malaek at, Yang Guru mengimbangj mengadakan Bethara. Allah
menciptakan bidadari sebanya k seratus ribu. Yang Guru mengadakan bidadari seba
nyak sakethi (seratus ribu) le bih satu yaitu Dewi Ratih. 19. Sang Hyang Guru in
gin mempersunting seorang Betha ri bernama Uma. Bethari Uma mempunyai tiga sauda
ra dua diantaranya berujud denaw a. Mereka itu adalah Sindubondo, Wuluculung. 20
. Sedang adiknya yang nomer tiga bernama Lembu Andini. Lembu Andini menjadi kend
araan Yang Pramesthi, Dengan demi kian Bethari Uma dengan adik adiknya berjumlah
empat orang. Pada mulanya Bethari adalah Dewa laki 38

laki. Kemaluan Bethara Uma direnggut oleh Hyang Pramesthi sampai putus selanjutn
ya dilempar keantariksa. 21. Diangkasa kemaluan Bethara Uma berubah ujud menjad
i putaran angin yang kuat (cleret tahun). Bila lepas dari pengawasan orang, cler
e t tahun itu menjulur memanjang ditepi langit sampai dibumi mengadakan topan ba
da i disertai hujan. Cleret tahun itu menerjang pohon pohonan dan rumah. Segala
yan g diterjang jadi roboh. 22. Konon Bethara Uma setelah dicabut kemaluannya, o
leh Hyang Pramesthi disabdakan menjadi seorang Bethari yang cantik molek. Tiada
seor ang Dewi yang menandingi kecantikan Bethari Uma. Karena cantik jelitanya it
u, De wi Uma dipersunting oleh yang Guru Nata sebagai permaisuri Raja Dewa. 23.
Bangun an sorga telah selesai dibangun. Bentuknya amat megah. Para Dewa serta pa
ra Bida dari berkumpul dibalai Mercukunda. 24. Dibalai Mercukunda itu para Dewa
mengadak an pesta bujana bersuka ria, bemacam ragam ulah tingkahnya. Akhirnya di
bagi bagi kan mereka minum tirta Kamandalu. 25. Alkisah dalam pestanya itu Hyang
Pramesthi mengamati sungguh sungguh citra Bethari Uma. 26. Dia amat terpesona,
bangkit na fsu birahinya, hingga mengeluarkan air kama (air mani), menjelma menj
adi seorang raksasa sakti, bersifat siluman (jin). Pada saat pesta bojana berjal
an, Wulucul ung melihat para Dewa minum tirta marta Kamandalu, ia ingin juga min
um. Dia turu n dari antariksa menyelinap ditengah tengah para Dewa. Karena asyik
nya para Dewa tidak mengetahui. Segera ia mengambil air itu dan meneguknya. Peri
stiwa itu dik etahui oleh Bethara Candra. 27. Secara berbisik Hyang Candra melap
or kepada Beth ara Wisnu bahwa selain para Dewa, ada seorang raksasa yang mengel
abui mata, berh asil ikut minum air marta Kamandalu. Ia berkeyakinan, bila ini d
ibiarkan terjadi , raksasa itu tak mungkin dikalahkan karena ia kebal terhadap m
ati. Bethara Wisn u segera membidikkan panah Candradeksana. 28. Lepasnya anak pa
nah mengenai sasar an, tepat pada lehernya dan kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Untung air Kamanda lu belum sampai merasuk sampai ketubuh. Maka hanya kepala sa
ja yang masih hidup, badannya lalu mati, berubah jadi lesung (alat penumbuk padi
). 29. Kepala Wulucu lung melejit terbang kelangit. Karena dendamnya, pada segal
a kesempatan ia mengg anggu bulan atau matahari. Ada kalanya matahari atau bulan
ditelan, terjadilah g erhana matahari atau gerhana bulan. Untuk menolong bulan
atau matahari, orang ba nyak memukul mukul lesung yang berirama. 30. Sekali peri
stiwa Yang Guru duduk be rduaan dengan permaisuri Bethari Uma. Sambil merayu Yan
g Guru menasehatkan kepad a Bethari Uma bahwa wajib setiap ikatan suami isteri m
emiliki keturunan sebagai penerus hayat. 31. Lengan Bethari Uma dipegang sambil
dirayu, mencurahkan kata k ata penyalur rasa. Sang Bethari bertangguh belum bers
edia menjalani sanggana, ka rena merasa belum memiliki ilmu wanita sejati. 32. Y
ang Guru memuja muja keayuan Dewi Uma. Diumpamakan Jelita Bethari bagaikan jelit
anya intan, ratna, intan mul ia. Yang Guru sangat menanti limpahan kasih mesra a
smara dari Sang Bethani. 39

XIII. PUPUH MIJIL 01. Hari Sang Bethari jadi agak ketakutan. Sikapnya meronta ro
nta dipembaringan. Betapapun tangkisan oleh Bethari namun perkasaan tak dapat d
i hindari. Kekuatan pria lebih unggul dari kekuatan wanita. Sanggama telah terja
di . 02. Kama pria telah menyembul dari sasana. Ketika terjadinya rasa mulia, da
n r aksa kamani akan menyasar diraksa wadi. Bethari Uma mengelak sehingga raksa
kama dari Yang Pramesthi tidak mengenai sasaran. 03. Kama Hyang Guru jatuh dilau
t, t erjadilah suara menggelegar, terjadilah gara gara alam. Gelombang laut berd
ebura n, berpengaruh sampai di Surgaloka. 04. Balai Marcukunda bergoncang Yang G
uru mi nta laporan dari para Dewa, apa penyebab gara gara alam yang sangat dahsy
at itu. Para Dewa segera memberikan laporan kepada Hyang Pramesthi. 05. Para Dew
a menya takan telah mengadakan pengamatan namun tidak dapat menemukan. Yang Prat
iwi meny atakan bahwa tiada seorang Dewa pun yang dapat menebak apa penyebab gar
a gara it u. 06. Maka Yang Jagad Nata sendirilah bermaksud akan menyelidiki peny
ebab adany a gara gara alam. Akhirnya dapat diketahul, penyebabnya adalah Sang K
amasalah. 0 7. Yang Pramesthi Guru lalu memerintahkan kepada para Dewa membunuh
Sang Kamasal ah. Barang siapa tak mau berusaha membunuh tak akan diakui sebagai
putra Raja De wa. 08. Para Dewa menjunjung tinggi perintah Hyang Pramesthi. Mere
ka berangkat b ersama sama turun kebumi. Tiba disamudera tempat Kamasalah diam,
para Dewa mengh ujani anak panah. 09. Karena dihujani anak panah itu, Kamasalah
yang semula masi h bayi orok, cepat menjadi besar. Semua senjata yang mengenai t
ubuh bayi menamba h kekuatan dan kesaktian, Cakradaksana memperkuat muka. Limpun
g memperkuat sumsu n tulang bahu. Gada memperkuat punggung. Bayi Kamasalah dapat
duduk. 10. Para De wa melihat bayi itu tidak musnah amat heran hatinya Hyang Br
omo melontarkan kata kata penghinaan kepada para Dewa : mengapa kalian mengaku s
akti. Ternyata tak m ampu memusnahkan si bayi. 11. Para Bethara berlari lari tak
mampu menghancurkan si Kamasalah. Bethara Bromo segera memegang senjata alugana
. Namun dalam perkela hian ini Bethara Bromo pun tak dapat unggul. Ia lari tungg
ang langgang dikejar K amasalah. 12. Semua Dewa lari kehadapan Hyang Guru Nata m
engadukan halnya Para B ethara telah tiba dihadapan Hyang Guru Nata. Maka tegur
Hyang Pramesthi : mengap a Dewa sekalian berlari larian. 13. Mereka berdatang se
mbah. kepada Raja Dewa, m engatakan bahwa Kamasalah adalah raksasa yang besar, d
ahsyat lagi sangat sakti. Karenanya mereka tak mampu mengalahkan dan terus lari.
14. Dalam berhadap hadapa n, Kamasalah selalu menantang garang sambil menggeram
geram, hingga para Dewa ta kut melihatnya. Ia selalu menanyakan siapa ayahnya.
Hyang Guru mendengar ceriter a Dewa Dewa itu tertawa kecil, lalu bertanya dimana
kah tempat raksasa tersebut. 15. Pada saat Hyang Pramesthi menerima laporan para
Dewa, diluar gaduh riuh Dewa Dewa yang lain berlari larian naik balai Marcukund
a. 40

16. Kamasalah telah tiba didepan Hyang Pramesthi rambutnya ikal mengijuk terurai
sampai diketiak. Gigi taringnya panjang runcing. Matanya bersinar, seperti sina
rnya matahari. Mukanya berkulit kasar sekasar batu karang. 17. Lubang hidungnya
menyerupai sepasang lubang gua. Ia berjanggut dan berkumis tebal. Dadanya ditum
b uhi rambut panjang. Dipunggungnya tumbuh rambut tebal merata. Bila ditempuh an
gi n suaranya gemeresak seperti suara hujan bersama sama badai. 18. Didepan Hyan
g P ramesthi, Kamasalah menanyakan siapa ayahnya. Suaranya besar mengguntur. Yan
g Gu ru Nata mengatakan dialah yang menguasai segala makhluk hidup dibumi. 19. M
enden gar pemyataan itu Kamasalah bertanya lebih lanjut : bila nyata nyata mengu
asai s emua makhluk, tentu tahu siapa ayahnya. 20. Hyang Pramesthi sanggup membe
ritahuk an siapa ayah Kamasalah, asal dia sanggup tunduk kepada semua kehendak H
yang Pra mesthi. Karnasalah menyanggupi. 21. Hyang Guru menandaskan, yang dirnak
sud tundu k akan segala kehendak, ialah mau menjalani segala perintah, meskipun
bagaimana juga penderitaannya walau sampai mati sekalipun. XIV. PUPUH PANGKUR 01
. Hyang Pr amesthi memberitahu, bila ingin mengerti siapa ayahnya, Kamasalah har
us mau bers ujud dihadapannya. Kamasalah menyanggupi tetapi ia minta janji, bila
tak dapat m enunjukkan Hyang Pramesthi harus mau menjadi mangsanya. 02. Hyang G
uru Nata meng abulkan permintaan Kamasalah, bila tidak dapat menunjukkan dia mau
dimakan. Kama salah berlutut dan bersujud. 03. Yang Jagad Nata cepat menarik ra
mbut Kamasalah, putus dua helai rambutnya, Kamasalah melihat keatas, menampakkan
giginya. Kemud ian dicabut dua buah taringnya, bibiinya disobek. 04. Bisa yang
ada dalam taring dikeluarkan, ditaruh didalam Wadah air Kamandanu. Taring itu be
rubah bentuk jad i senjata limpung, dinamai limpung Jenggala. Dua pusaka itu mas
ing masing beratn ya tujuh kwintal. Dua helai rambut yang putus itu berubah menj
adi batu hitam. 05 . Hyang Guru berkata kepada Kamasalah, ia diberi nama Sang Hy
ang Kala. Kamasalah menerima baik pemberian nama itu. Hyang Guru sedikit marah k
epada Bethari Uma. Sebaliknya Bethari Uma juga agak marah kepada Hyang Pramesthi
. Tengkar mulut ter jadi. 06. Uma ditangkap dan diangkat dalam kedudukan kaki di
atas kepala dibawah. Bethari Uma memekik sambil menangis, air matanya bercucuran
, berjatuhan bagaika n hujan. Dewi Uma berubah wajahnya, jadi raksasa wanita. Ia
berganti nama Bethar i Durga. Bethari Durga dan Bethara Kala diperintahkan oleh
Hyang Pramesthi kelua r dari Jonggring Saloka. 07. Keduanya diperintahkan mendu
duki Nusa Kambangan seb agai tempat tinggalnya hidup damai disana. Karena menaru
h marah, sekali peristiw a Hyang Guru, menyuruh putranya yaitu Bethara Bromo dan
Bethara Wisnu memusnahka n Bethari Durga dan Bethara Kala yang dipandang sebaga
i pengotor bumi. Jangan ke tinggalan Lembuculung beserta pengikutnya diikut sert
akan. 41

08. Para Bethara yang mendapat tugas mengindahkan perintah itu. Mereka menyembah
lalu berangkat ketempat raksasa bertempat tinggal. Ampat puluh orang raksasa be
rhasil dapat ditumpas. 09. Tinggal seorang raksasa yang menyerah. Ia bernama Pu
t hut Jataka. Dia mengambil jalan hidup baru sebagai pendeta, bertapa digunung G
oh karna. Setelah selesai tugasnya, Bethara Bromo dan Bethara Wisnu kembali ke K
ahy angan melaporkan keberhasilan menjalani tugasnya. 10. Pada suatu ketika Yang
Gur u melihat ditengah samodra terdapat sinar cemerlang, lalu bertanya kepada p
ara D ewa : sinar apakah itu gerangan. Para Dewa tak dapat memberi keterangan. 1
1. Hya ng Pramesthi segera menyuruh kepada Bethara Temburu, mengamati apa yang t
erjadi sehubungan dengan cahaya yang terdapat ditengah samodra tersebut. Yang Te
mburu m engindahkan perintah. Ia berangkat menuju kesamodera yang ditunjuk. 12.
Disana B ethara Temburu melihat seorang yang sedang menjalani bertapa. Ia kembal
i menghad ap Hyang Pramesthi. Tiba dihadapan Yang Guru ia memberitahukan bahwa d
isamudera itu terdapat seorang yang sedang bertapa. 13. Yang Temburu menyatakan,
bahwa ora ng pertapa itu meskipun terendam dalam air, badannya tiada basah. Mak
a Hyang Pra mesthi segera memerintahkan kepada para Dewa agar mengusik petapa ya
ng sedang te kun menjalani tapanya itu. Beramai ramai para Bethara dan Bidadari
menuju ketemp at pertapa sakti itu. 14. Perjalanannya berining iring menuju kesa
mudera yang be rcahaya tersebut. Disana ia melihat Sang Tapa duduk hening, membi
su, membatu. 15 . Meskipun telah lama para Dewa ada didepan Sang Tapa, namun sep
atah katapun tia da mendapat tegur sapa. Mereka menganggap pertapa itu bersikap
angkuh. gumam mer eka : adat kebiasaan, dimana pun ada tamu datang, pasti pemili
k rumah menyampaik an tegur sapa. Lebih mulia lagi bila menyajikan kapur sirih.
16. Para Bethara me ngumpat sikap angkuh dari Sang Tapa. Mereka merasa sangat di
hina. Bethara Siwali menyatakan bahwa ia diperintahkan oleh Hyang Jagad Nata dat
ang ditempat Sang Ta pa. 17. Kedatangannya disuruh memintakan obat mujarab untuk
permaisuni Yang Guru Nata yang sedang dalam keadaan gering. Namun Sang Tapa tak
menjawab sepatah kat a pun. Ia dicubit pipi dan mulutnya dari kanan dan dan kir
i. Benganti ganti para Dewa mengajak bicara, namun tak muncul kata sepatah jua.
18. Kemudian Hyang Bro mo marah. Ia mencaci maki, Puthut Jantaka tak mau menerim
a perlakuan baik dari p ara Dewa. Para Dewa mengumpat bahwa Puthut Jantaka menem
pati wilayah kekuasaan H yang Pramesthi tanpa seizin, untuk tempat bertapa. Mere
ka memperingatkan. bahwa tak akan diridoi. Dia menjadi pertapa liar. 19. Hyang S
ambu datang sambil menjin jing gendi penuh air. Sang Tapa diguyur dengan air gen
di itu, tetapi tubuhmya ti dak basah, Hyang Candra marah juga. Ia memegang tongk
at Sang Tapa dipukulnya ber kali kali, namun Sang Tapa tetap membatu, tak ada se
lembar bulu roma pun yang le pas dan kulitnya. 20. Bethara Bayu datang menyerang
, Puthut Jantaka ditangkap, d iangkat tinggi tinggi, diempaskan diatas batu kara
ng. Batu karang batu karang te mpat Puthut Jantaka diempaskan, pecah berantakan
menjadi tujuh bagian, Sang Tapa tetap tak terusik. Hyang Bromo melafalkan manter
a keramat. Lalu datanglah nyala 42

api yang amat besar dan tinggi bagaikan membakar langit. Namun api tak mampu mem
basmi Sang Tapa. 21. Perkiraan para Dewa, pasti Sang Kanekaputra hangus musnah
d itelan api. Api lama kelamaan mereda. Terus mereda, akhirnya padamlah api yang
m engganas itu. Setelah api padam seluruhnya, nampaklah Sang Tapa rnasih utuh d
ala m keadaan tepekur. Sang tapa bertambah cemerlang cahaya, sebagai emas yang h
abis digosok. 22. Para Dewa mengangkat senjata. Ada yang memegang senjata Cakra,
sen jata Kunta, peralu, panah piling, nenggala, tombak, gada, trisula diarahkan
ketu buh Sang Tapa namun tiada yang mengenai tubuh Sang Tapa. 23. Para Bethara
mender ita malu karena tak berhasil mengganggu tapa Puthut Jantaka. Mereka kemba
li meng hadap Hyang Pramesthi, melaporkan bahwa tugas yang diberikan oleh Hyang
Guru tid ak berhasil. Sang Tapa sungguh sakti. 24. Mereka berkesal hati. Banyak
akal usah a untuk menggagalkan tapanya Sang Pertapa, tetapi tetap teguh tak terg
oyahkan si kap Sang Tapa. Kemudian Hyang Pramesthi sendiri berhasrat akan mengga
galkan pend irian dan tujuan Sang Tapa. Segera berangkatlah Hyang Pramesthi. 25.
Tak terceri terakan bagaimana perjalanan Hyang Guru Nata. Sekejap mata, telah t
iba didepan S ang Tapa. Hyang Guru menanyakan : apa yang menjadi tujuan bertapa
itu. Diminta a gar Sang Tapa suka mengatakan. Bila menghendaki kawin, Hyang Guru
akan mengabulk an. 26. Dikatakan oleh Hyang Jagad Nata bahwa padanya memiliki b
anyak putri rema ja yang cantik jelita. Lagi pula mereka rajin rajin bekerja San
g Tapa dipersilak an mengamati dan memilih menurut kepuasan seleranya. Sang Tapa
tetap tak melepas kan tapanya. Yang Guru menyambung penibicaraannya. 27. Dia me
ngutarakan tebakan kehendak dari Sang Tapa yaitu ingin menyamai kedudukan serta
kekuasaan Yang Jaga d Nata. Oleh Hyang Pramesthi : tak mungkin maksud itu dapat
terkabulkan sebab me mang asal kedudukkannya berlainan. 28. Yang Guru Nata menya
takan meskipun Hyang Kaneka Putra bertapa sampai seribu tahun sekalipun tak akan
mungkin menyamai wib awanya. Meskipun ia tak perlu bertapa. Telah ditakdirkan m
enjadi raja dari sernu a Dewa. 29. Tiada yang melebihi tuanya selain teja dan ca
haya wening. Ada lagi y ang lebih tua ialah Sang Hyang Wening Wasesa. Sang Kanek
a Putra tertawa terbahak bahak. Ia menyatakan bahwa semua hal yang diceniterakan
itu, ia telah tahu. 30. Sang Kaneka Putra memberikan salam kepada.Hyang Pramest
hi. Dia telah mengetahui juga bahwa yang berhadapan muka adalah Yang Pramesthi G
uru,yang berkuasa atas s egala Dewa. Kalau hanya tahu mengenai Hyang Wening Wase
sa saja, masih belum semp urna wibawanya. 31. Hyang Kaneka Putra katakan masih k
urang sempurna wibawanya b ila masih senang berbuat salah, tak mengerti bahwa pe
rbuatan itu keliru. Salah p ikiran dan salah perbuatan akan mendapat hukuman dar
i Hyang Wening Wasesa. 32. H yang Kanekaputra mengajukan beberapa pertanyaan men
jajaki pengertian Hyang Jagad Nata. Sewaktu alam semesta masih bersifat alam ham
pa, belum ada isi apa yang ad a lebih dahulu. Dijawab : hanya suara gaib, yaitu
suarajati dari Hyang Wisesa. I tu suatu bukti telah adanya kekuasaan. 33. Siapa
yang berkuasa itu. Yang Praimes thi tak dapat memberikan uraian selanjutnya. Dim
inta oleh Hang Pramesthi mau, me njelaskannya. Ia berkakak kepadanya 43

34. Hyang Kaneka diminta oleh Hyang Pramesthi, suka diajak ke Inderaloka, diperc
ayakan menguasai dan mengatur para Dewa sebagai, imbangan dan kekuasaan Hyang P
r amesthi. Hyang Giri Nata memerintahkan agar patuh dan tunduk kepada Hyang Kane
ka putra. 35. Para Dewa mengindahkan perintah Hyang Pramesthi itu. Hyang Kaneka
men yambung penjelasan : apa yang terjadi dialam semesta ini serba berpasangan.
Maka maksud Hyang Wasesa memberikan kedudukan guna mengimbangi kedudukan Hyang G
iri Nata. 36. Seperti halnya yang terjadi, atas berpasangan dengan bawah, utara
dan selatan, barat dan timur, laut dengan daratan, api dengan air, gelap dengan
tera ng, siang dengan malam, matahari dengan bulan, bintang tak mempunyai pasang
an. 3 7. Laki laki dan perempuan, ayah dengan ibu, kakek dengan nenek, paman den
gan bi bi, cantik dengan buruk, uwak tiada pasangannya. a. Telah menjadi takdir
Hyang W asesa Wening, Sang Kanekaputra menjadi pendamping kekuasaan dari Hyang G
uru Nata . Sang Kanekaputra lalu diajak naik ke Surgalaya. Hyang Kaneka menginda
hkan. 38. Perjalanan Hyang Guru Nata diikuti Sang Kaneka tak dikisahkan. Keduany
a telah s ampai di Balai Marcukunda. Disana Hyang Pramesthi sangat memperhatikan
mengapa t angan Sang Kaneka selalu menggenggam. 39. Bertanyalah Hyang Pramesthi
kepada Hya ng Kaneka, mengapa tangan anda selalu tergenggam. Tak pernah terurai
. Dijawab ol eh Yang Kaneka, bahwa didalam genggamannya terdapat Retna Dumilah,
Retna Dumilah adalah raja dari segala mutu manikam. 40. Keramat dan kesaktian da
ri Retna Dumi lah dapat merubah keadaan, kebal dari lapar dan kantuk, kebal dari
basahnya air, kebal dari panasnya api. Hyang Pramesthi mengharap penyerahan pus
aka Retna Dumi lah, ia ingin mengetahui. 41. Hyang Kaneka memberitahukan bahwa R
etna Dunulah sa kti dan tajam. Ia tak dapat ditangkap. Bila dipegang mudah dapat
lolos, atau men ghancurkan tangan. Hyang Pramesthi minta segera diserahkannya R
etna Dumilah. 42. Sang Kanekaputra segera mengabulkan permintaan Hyang Pramesthi
, Retna Dumilah s egera diserahkan diikuti peringatan agar bersikap hati hati. R
etna Dumilah akan dilempar keatas : diminta Yang Guru supaya menyambut dengan ke
dua belah tanganny a. 43. Dari atas Retna Dumilah meluncur kebawah, lalu disambu
t Hyang Pramesthi d engan kedua belah tangannya, tetapi dapat lolos dari tangkap
an. Lepas dari tanga n Hyang Pramesthi, dapat ditangkap Yang Sambu, tetapi Retna
Dumilah yang ditaruh dalam astagina itu terlepas juga. Berturut turut bergantia
n para Dewa menyambut Astagina/Cupu Astagina tetapi selalu dapat lolos lepas. 44
. Yang Kamajaya menya mbut tetapi segera lolos. Yang Wisnu segera menangkap teta
pi lepas juga. Sang Hy ang Bayu menangkap juga lepas. Hyang Bayu menangkap dari
bawah, lolos, diterima Hyang Bromo lepas lagi. 45. Berturut turut oleh Yang Citr
agatra, Hyang Kuwera, E mprit Anjala, tak ada yang berhasil menangkapnya, terus
saja lepas sampai dibawa h bumi. 46. Sang Hyanq Pratiwi menangkap dari bawah tet
api lepas juga lolos keba wah sampai bumi kedua. Begawan Kusika cepat menangkap
dari bawah tetapi tak dapa t dikuasai sampailah kebumi ketiga. Sang Hyang Gagang
Aking menangkap dari bawah lepas juga terus kebumi keempat. 44

47. Yang Cindula tampil menerima dari bawah, terlepas. Segera ditangkap Hyang Dh
erampalan dari bawa, namun lolos juga, terus menerobos sampai bumi keenam. 48.
D iterima Yang Manikara namun lolos juga sampai bumi ketujuh. Hyang Antaboga men
an gkap mulutnya menganga. Retna Dumilah masuk kemulut Antaboga, mulutnya berbau
ha rum. Cupu berjalan kedalam perut terus keekor. 49. Setiba diekor cupu membuk
a da n bersuara menggelegar, seperti suara benda berat jatuh didalam air. Hyang
Antab oga menutup mulutnya. 50. Tertidurlah Hyang Antaboga. Alkisah sehilangnya
Retno Dumilah, Hyang Pramesthi berkata kepada Hyang Kanekaputra 51. Menanyakan s
elanju tnya bagaimanakah kehendak anda setelah hilangnya Cupumanik Astagina yang
berisi Retno Dumilah. Dijawab ia akan mengadu kepada Sang Hyang Wenang dan akan
dicari walaupun sampai bumi ketujuh. Hyang Pramesthi diajak serta Hyang Pramest
hi meny anggupi. 52. Hyang Guru Nata menyatakan lebih lanjut: sia sia jika kemba
li sebel um menemukan benda yang hilang itu. Hyang Pramesthi bersedia mengikuti
usaha pen carian Cupumanik sampai terdapat. Para Dewa diperintahkan ikut serta s
emua. 53. Perjalanan mereka sangat cepat tiba dibumi kesatu. Yang Pratiwi menyey
ogyakan te rus saja bumi kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam akhirnya sampai
kebumi ketu juh Para Dewa pengikut tetap mengikuti jejak Hyang Guru dan Hyang Ka
nekaputra. 5 4. Setiba dibumi ketujuh Yang Kaneka bertemu dengan Hyang Antaboga
sedang tidur. Yang Antaboga segera dibangunkan. Dengan agak terkejut ia bangun 5
5. Serta sesu dah bangun Hyang Kaneka menyatakan kedatangan para Dewa ini diperu
itahkan oleh H yang Pramesthi menyampaikan kehendak Hyang Wasesa minta nyawa Ant
aboga. Ia sendi ri juga berkepentingan diperintahkan mencari pusaka untuk Hyang
Pramesthi yang b ernama Retno Dumilah. 56. Hyang Kaneka menanyakan: adalah kiran
ya Hyang Antaboga tahu. Jika anda dapat menemukan, akan diberi karunia yang ting
gi nilainya. Ia a kan diangkat mengepalai Dewa Dewa yang ada dibumi ketujuh. 57.
Yang Antaboga ber kata dalam hati: ingin mencoba Dewa ( kesaktian). Maka dijawa
bnya: memang betul Retno Dumilab berada disitu. 58. Dinyatakan Retno Dumilaii ya
ng berada didalam c upu manik Astagina telah bersenyawa dengan dia, tak dapat di
pisahkan. Karena itu bila diminta, harus bersama sama dengan tubuhnya. Karena ia
sendiri tak mampu d atang sendiri di Surgaloka, maka ia minta diangkut oleh par
a Dewa. 59. Yang Kane kaputra berkata dengan marah, menyatakan bahwa semua katan
ya itu tidak nyata. Ma na mungkin para Dewa mengangkat tubuh Antaboga yang seber
at bumi itu. Yang Kanek a minta agar Antaboga berjalan sendiri. 60. Antaboga tia
da menjawab: ia melingka rkan badannya, terus tidur. Tidur pulas seperti meningg
al. Tetapi denyut dan per nafasan masih berjalan terus. Ia telah mengenyampingka
n rasa, karsa, serta rasa takut. 61. Yang Kanekaputra bertanya mengapa ia pura p
ura tidur. Yang Wisnu tahu apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Antaboga itu. Itu
hanyalah cemooh belaka, s ebaiknya dipaksa saja. 62. Yang Kaneka merasa dihina,
panas hatinya. Lalu menyer ahkan kepada para Dewa datang mengeroyok sambil berk
ata perkelahian yang akan te rjadi mudah diatasi, umpama mentimun melawan durian
. 45

XV. SINOM 01. Yang Kaneka mengingatkan kepada para Dewa : Jangan tinggal diam. M
ereka diajak memasuki perut Antaboga, karena tak dapat diangkut. Karena besar d
a n panjangnya, dikatakan: tubuh Antaboga yang melingkar itu dikatakan melingkar
b umi dengan sempurna. 02. Lubang hidungnya ada sembilan puluh buah. Masing mas
ing panjangnya dua bulan perjalanan. Keajaiban takdir tak dapat diduga. Tingkah
lak u para Dewa didalam perut lalu lalang. 03. Mereka menyusur sepanjang tubuh n
tabo ga, mengamati dengan teliti kalau kalau Retno Dumilah disembunyikan dalam t
ubuh, tetapi tiada terdapat. Para Dewa menjadi amat marah. Mereka bemaksud henda
k mem bunuh Sang Antaboga. 04. Karena banyaknya yang ada didalam tubuh Antaboga,
maka rongga tubuh Yang Antaboga jadi penuh sesak. Mereka tak dapat bergerak beb
as bah kan sering terjadi kesalah pahaman antara mereka. Yang Temburu berselisih
dengan Yang Kuwera. Bethara Condro datang melerai. Tetapi lebih dahulu Bethara
Temburu telah terpental 05. Yang Condro berteriak teriak mengatakan ditempat itu
. Retno Dumilah tersembunyi. Para Dewa membantu mencarinya. Yang Antaboga mengge
liat ge liatkan tubuhnya. Para Dewa yang ada dalam perut Antaboga terbalik balik
. Yang T emburu dan Yamadipati berteriak teriak kesakitan. Dalam keributan itu Y
amadipati memijit mijit bulatan kemaluan Temburu, sambil menyerukan : ini dia Cu
pumanik A stagina. Yang Temburu hanya membelalak kesakitan. Bethara Wisnu mengum
pat para D ewa karena berbuat tolol, dapat dipermainkan oleh Antaboga. Para Dewa
merasa mal u. 06. Yang Kanekaputra menghina, kalian tak ada yang memiliki kesak
tian. Yang K aneka menasihatkan agar tubuh Antaboga diangkat bersama sama ke Ind
eraloka. Cara mengangkutnya seperti ketika para Dewa mengangkut gunung Jamurdipa
. 07. Hyang B romo dijadikan salang. Yang Endra dijadikan tali. Bethara Bayu dij
adikan kayu pe mikul. Yang Wisnu yang memikul. Tubuh Antaboga telah diletakkan d
iatas salang, k emudian diangkat bersama. Jalannya amat laju. 08. pm. 09. Perjal
anannya melewati angkasa. Pada saat dipikul itu tubuh Antaboga berangsur angsur
mengecil. Kian l ama makin mengecil, sampai akhirnya tidak nampak, hilang dari p
emandangan. Yang Kanekaputra menjadi sangat marah. 10. Ia merasa dipermainkan ol
eh Antaboga, mera sa dibuat malu. Dia betul betul malu. Hal tersebut akan dilapo
rkan kepada Hyang Pramesthi, akan dilaporkan kejelekan kejelekan yang diperlakuk
an oleh Antaboga. Perjalanan Yang Kaneka amat cepat. Sebentar saja sampailah ia
didepan Yang Jagad Nata. 11. Baru saja Yang Kaneka akan melaporkan kejelekan kej
elekan Antaboga, t ernyata yang akan dilaporkan itu telah menghadap Hyang Prames
thi, kepalanya dija dikan tempat duduk. Dengan menunjuk kepada Yang Antaboga, Ya
ng Kanekaputra menca ci maki. 12. Dikatakan bahwa terlalu berani Antaboga menghi
na dan membuat susah kepada para Dewa. Mungkin dia berperasaan tiada orang sakti
kecuali Yang Antabog a. Yang Pramesthi meredakan kemarahan Yang Kaneka, menyata
kan 46

bahwa Antaboga telah mengakui kesalahannya didepan Hyang Guru Nata. Maka kesalah
an Antaboga itu dimintakan maaf oleh Hyang Pramesthi kepada Hyang Kanekaputra s
e rta para Dewa. 13. Yang Kaneka menghentikan kemarahannya, Hyang Jagad Nata lal
u memerintahkan kepada Antaboga, untuk lekas lekas mengeluarkan Retno Dumilah. A
nt aboga lalu menyerahkan Cupu manik kepada Hyang Pramesthi bagaimanapun juga Hy
ang Jagad Nata membuka cupu itu, tiada juga dapat terbuka. 14. Cupu lalu diserah
kan kepada Yang Kanekaputra, untuk dibukanya. Yang Kanekaputera berusaha membuka
de ngan segala akal dan kekuatannya, nanun Cupu tiada juga terbuka. Sesudah jel
as i a tak dapat membuka Cupu tersebut, lalu diserahkan kepada Bethara Wisnu unt
uk di buka. 15. Berganti ganti para Dewa berusaba membuka Cupu manik dengan sega
la aka l dan upaya, namun tiada juga dapat terbuka. Hyang Pramesthi lalu bertany
a kepad a Yang Kaneka : bagaimana usaha selanjutnya. 16. Jawabnya: karena Cupu i
tu ada p emiliknya maka diserahkan saja kepada Antaboga, biar dia yang membukany
a. Tentu ia dapat : Hyang Pramesthi lalu memerintahkan kepada Antaboga membuka C
upu manik . Antaboga menjawab : bahwa ia sekedar sebagai pemilik saja. Dapat dan
tidaknya membuka cupu itu dia tak dapat memastikan. 17. Hyang Pramesthi diam se
jenak memu satkan segala perhatiannya, mohon kepada Hyang Wasesa Tunggal restu d
apat membuk a Cupu manik. Cupu ditarik diatas telapak tangan lalu diempaskan keb
awah, Cupu h ancur lebur tidak kelihatan. Semusnah Cupu itu, tedapatlah seorang
anak kecil pe rempuan, indah jelita wajahnya. Besar dan usianya biasa orang meng
atakan usia ba ginda putra. 18. Bersamaan dengan hancur leburnya Cupu manik, ter
jadilah sinar i ndah merata diseluruh Balai Marcukunda. Oleh Hyang Pramesthi ana
k perempuan itu diberi nama Dewi Trisnawati. Sehari hari Dewi Tisnawati selalu :
bermain di Balai Marcukunda atau Balai Marakata. 19. Lama kelamaan Dewi Tisnawat
i menginjak usia remaja., Wajahnya kelihatan tambah cantik molek, mengimbangi wa
jah Uma dan Rati h. Sinar wajahnya, cerah cemerlang bagaikan sinar bulan purnama
. Siang dan malam wajah Tisnawati selalu terbayang dirongga mata Yang Jagad Nata
. Dewi Tisnawati dijadikan dayang dayang agar selalu berdampingan dengan Hyang J
agad Nata. 20. Us ia Dyah Tisnawati mencapai empat belas tahun. Hyang Jagad Nata
amat tertarik aka n wajah sang Ayu Tisnawati sehingga lupa kepada Dewi Uma. Set
iap saat Dewi Tisna wati selalu mengganggu lubuk kalbunya, membangkitkan rasa as
mara. Hyang Guru ber maksud meperistri Kusuma Trisnawati. 21. Kata kata yang dit
ujukan kepada Sang Ay u selalu manis semanis madu. Puji sanjung selalu ditujukan
kepada tubuh Sang Rup awan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dyah Trisnawati
menyambut dengan rasa terima kasih sebesar besarnya atas puji sanjung buat diri
nya itu. 22. Bila denga n sungguh sungguh Hyang Pramesthi menghendaki atas dirin
ya, Dyah Trisnawati meng ajukan tiga sarat permohonan. Hyang Jagad Nata menyangg
upi persyaratan apapun ya ng akan disodorkan. Sang Ayu segera menyatakan persyar
atan tersebut. Yaitu : per tama, sandang busana yang tak pernah usang, kedua : j
enis makanan yang bila seka li makan, selamanya tak akan merasa lapar, ketiga :
mohon tabuh tabuhan sembaran gan tetapi selalu mengasyikkan suara rasanya. 47

23. Hyang Pramesthi menyanggupi itu semua. Ia menyuruh Byang Citragatra, memangg
il karma maninya yang berganti ujud menjadi Kalagumarang, yang dipercayakan men
g asuh putera Yang Guru Nata, bernama Yang Kala, menempat di Nusakambangan. 24.
Ya ng Citragatra telah berangkat ke Nusakambangan. Perjalanannya amat laju, dala
m w aktu singkat telah bertemu dengan Yang Kala. Kepada Yang Kalagumarang telah
disa mpaikan pesan Hyang Pramesthi minta kedatanganYang Kala dengan diantar oleh
Kala gumarang. Akhirnya berangkatlah keduanya mengikuti Yang Citragatra menuju
ke Bal ai Marcukuda atau Balai Marakata 25. Setibanya didepan Hyang Pramesthi Gu
ru, Kal agumarang segera berlutut dan bersujud, kepada Hyang Guru Nata. Hyang Ja
gad Nata menerangkan bahwa kepentingan memanggil Kalagumarang itu, akan ditugask
an mengu sahakan mencari pakaian yang tak akan mengalami usang. Kedua mencari ma
kanan yan g sekali dimakan tak akan megalami lapar seterusnya Ketiga mengadakan
tabuhan, a sal tabuhan yang suaranya mengasyikkan. 26. ila usaha ini dapat berha
sil, namany a akan jadi termashur Kalagumarang menyanggupi sebagaimana perintah
Hyang Prames thi. Ia minta diri dan segera berangkat. 27. Sampai diluar Marcu Ma
rakata bertem u dengan para Dewa. Karena dimata para Dewa diketahui bahwa Kalagu
marang itu ada lah mani kotor dari Hyang Pramesthi maka ia sangat dihina Ada yan
g menghantam, a da yang menendang, ada pula yang meludahi. Pakaiannya disobek so
bek. Para Dewa m engutuk semoga dalam perujalanan Kalagumarang berubah ujud menj
adi marga satwa d an tak dapat kembali. 28. Bersamaan dengan kutukan itu datangl
ah deru suara dian gkasa yang dahyat. Serta tahu bahwa Kalagumarang diperintah o
leh Hyang Pramesthi mencari tiga syarat permintaas DyahTisnawati. Bethara Wisnu
turun ke Marcapada menciptakan sebuah negeri dan diberi nama Mendhangkamulan. 29
. Sebagai rajanya b ergelar Baginda Mangukuhan Permaisurinya bernama Darmonastit
i lalu diciptakan la gi manusia laki laki dan perempuan beratus ratus sebagai ha
mba sahaya Raja Mangu kuhan. 30. Yang diangkat sebagai Patih, adiknya sendiri be
rnama Jaka Puring. Sej ak itu berganti alam ke Dewaan menjadi alam manusiawi. Ne
geri Medhangkamulan men jadi negeri yang makmur sejahtera. Lama berdirinya hingg
a seribu tahun. 31. Mula i saat itu dibumi terdapat makhluk berujud insan dan ro
h halus, yaitu jin, roh h alus yang memuliki sifat baik dan roh halus jahat yang
disebut berkasakan. Roh h alus wanita disebut peri prayangan Kerajaan Medhangka
mulan itu kerajaan insani y ang mula mula. Bethara Wisnu lalu menjelma kepada Sr
i Mangukuhan . 32. Sungguh i ndah istana kerajaan Mendhangkamulan. Alam sekitar
negeri masih berujud hutan ri mba belantara. Mengulangi kisah perjalanan Kalagum
arang yang mendapat tugas dari Hyang Pramesti, sampailah ia ditanah Banjaransari
. Dia melihat tubuh gemulai da ri Dewi Sri yang sedang menikmati mandi seorang d
ir ditaman pemandian. Kalagumar ang tak mampu menahan gejolak nafsu asmaranya. 3
3. Betapa ngerinya Dewi Sri meli hat wajah Kalagumauang yang menakutkan itu. Cep
at cepat Dewi Sri lari menuju ket empat Sang Wisnu berada. Karena tergesa gesa l
ari Pakaian Dewi Sri tertinggal di taman tidak dihiraukan. Tiba dihadapan 48

Sang Wisnu, Dewi Sri segera bersujud. Hyang Wisnu minta agar Dewi Sri menceriter
akan apa yang baru saja dialarni. 34. Dewi Sri mulai mengisahkan pengalaman wak
t u sedang mandi ditaman Banjaransari. Pada saat sedang asyiknya. Dewi Sri mandi
d itaman pemandian, tiba tiba seorang raksasa berwajah mengerikan datang mendek
ati degan maksud jahat. Maka dengan tanpa berpikir panjang ia lari, dalam keadaa
n b usana tidak sempuma, karena dikejar oleh rakasa itu. Tengah diceritakan raks
asa tersebut telah datang seraya bertanya. Siapa pemilik rumah itu 35. Dengan pe
nuh rasa ketakutan ia tiba didepan Sang Wisnumurti. Mukanya pucat pasi, tubuhnya
lem ah tak berdaya.Tak lama antaranya disusul kedatangan Kalagumarang, sambil m
enany akan siapa memiliki istri yang cantik jelita yang mandi d taman pemandian
itu ta di. Sang Wisnu menjawab dialah suaminya. 36. Kalagumarang mengatakan ini
merampa s hak istrinya. Sang Wisnu menyatakan tidak berkeberatan asal yang bersa
ngkutan suka menanggapi, bila tidak jangan berani memaksa Kalagumarang minta aga
r SangWi snumurti mau menanyakan keinginan tersebut. 37. Yang Wisnu lalu rnemang
gil Dewi Sri, Setelah menghadap bertanyalah Yang Wisnu, maukah Dewi Sri diperist
ri oleh K alagumarang. Bila mau menerima permintaan tersebut, Dewi Sri akan berb
ahagia kar ena bersuami pria yang ditakuti orang. Dia adalah putraSang Hyang Jag
ad Nata 38. Dewi Sri rnenoak. kehendak Kalagumarang. Dia pantang menyerahkan dir
inya. Bila dipaksa lebih baik ia mati dikalang tanah. Betara Wisnu menyampaikan
pernyataan dari Dewi Sri bahwa ia tak mau menerima kehendak Kalagumarang. 39. Ya
ng Kala men gatakan, telah menjadi kebiasaan, seorang wanita yang diminta meneri
ma akan perk awinan dari seorang pria, meski dalam halrnya mau, tetapi pada peng
utaraannya pu ra pura tidak mau. Sang Wisnu lalu memberi isyarat agar istrinya l
ari menuju ken egeri Mendhangkamulan Disana dinasehatkan supaya merasuk kebadan
permaisuri Bagi nda. 40. Dewi Sri mengindahkan petuah Sang Wisnu. Bethara Wisnu
melenyapkan diri dari pemandangan. Kalagumarang menjadi amat marah. Kemaaa saja
Dewi Sri lari, s elalu saja dikejar oleh Kalagumarang. Hampir saja Dewi Sri dapa
t tertangkap. Bet hara Wisnu tahu akan hal itu. Segera mengambil panah dibidikka
n kepada Kalagumar ang. 41. Selepasnya anak panah itu berubah menjadi akar rotan
, lalu mengikat tub uh Kalagumarang, akhirnya jatuh bergelimpangan. Dalam berlar
i lari itu Dewi Sri mencaci maki, dikatakannya bertabiat seperti babi rusa. Beru
bahlahujud Kalagumar ang bertubuh sebagai babi hutan 42. Ia tak dapat berdiri se
peti manusia melainka n berdiri dan berjalan seperti binatang berkaki empat. Dia
ingin membuktikan mel ihat kedalam air, ingin tahu bagaimana bentuknya sekarang
. Ternyata badannya ber ubah menjadi babihutan. Ia meratap didalam hati. Meskipu
n telah berubah menjadi babi hutan, ia tak akan melepaskan maksudnya. 43. Dewi S
ri tetap dalam pengejara n babi hutan. Tiba di Mendhangkamulan, Dewi Sri lalu me
rasuk kepada tubuh permai suri Baginda. Baginda Mangukuhan, yaitu Dewi Dermanast
iti. Pada saat itu Kalagur narang tak tahu lagi dimana Dewi Sri berada. 44. Dia
mencari kemana mana, meonat loncat untuk melampaui pematang tetapi tidak berhasi
l. Bethara Wisnu segera men gambil.bambu runcing, selalu siap ditangannya. Tatka
la Kalagumarang melompat pem atang. Bambu runcing 49

Bethara Wisnu tepat diarahkan keperutnya. Menyemburlah darah dari perut Gumarang
yang terkena bambu runcing Sang Wisnu. 45. Darah yang menyernbur itu berubah me
njadi aneka serangga, hama tanaman sawah. Ada hama wereng, barmacam macam belal
a ng. Tubuh Gumarang menjadi hama menthek, perusak tanaman tanaman padi yang sed
an g turun buah menghijau 46. Bethara Wisnu lalu merasuk pada tubuh Baginda Mang
uku han. Beliau Raja Jawa yang pertama kali. Alkisah Sang Hyang Guru telah mende
ngar berita bahwa utusannya telah berubah perujudannya. Sang Hyang Guru tidak rn
enar uh sabar hati lagi. 47. Kusuma Tisnawati dihujani banyak ciuman. Kelihatan
gerak geriknya gejala gejolak nafsu sanggama. Kusuma Tisnawati menyampaikan kata
kata pereda nafsu asmara kepada Hyang Guru Nata. Diharap kesabaran dari Hyang J
agad Nata menanti sampai datang utusan yang ditugaskan mencari tiga persaratan.
48. H yang Pramesthi sangat mengharap tanggapan kasih mesra dari Dewi Tisnawati.
Bertu bi tubi Sang Dyah itu diciumi. Dyah Tisnawati mengingatkan ia akan mati d
alam am binan. Hyang Pramesthi bila ia tak dapat menahan nafsunya. KataDewi Tisn
awati be tul betul terjadi. 49. Melihat kejadian itu, Hyang Pramesthi jadi sadar
diri men yesali perbuatannya. Ia lalu memanggil Yang Kanecaputra, diperintahkan
membawa j enazah Dewi Tisnawati ke Marcapada, dinegeri Mendhangkamulan didalam
hutan Krend hawahana. 50. Hutan yang akan dijadikan tempat mengebumikan diperint
ahkan meneba ngi. Batang batang tebangan itu disuruh keringkan oleh Sang Hyang S
urya, selanju tnya Hyang Bromo ditugaskan untuk membakar. Setelah cukup mengetah
ul perintah Hy ang Pramesthi segera berangkat kehutan Krendhawahana, ditempat ya
ng direncanakan untuk mengebumilkan. 51. Hutan telah ditebangi. Ditempat itu dib
uat lubang laha t. Termpat kuburan. Ken Tisnawati diberi berpagar dengan kisi ki
sinya. Setelah c ukup lama jenazah Dewi Tisnawti dikebumikan, ditanah tepat arah
kepala keluarlah kelapa, didekat telapak tangan keluar pisang. 52. Dan gigi tumb
uh jagung, dari r ambut tumbuh padi, dan bulu mata tumbuh palawija dari kaki tum
buh pala kependem (tanaman umbi umbian yang terpendam didalam tanah. 53. Sesudah
dari tubuh Tisnaw ati yang terpendam didalam tanah, turnbuh bermacam rnacam tan
aman pertanian, Hya ng Kanekaputra lalu datang menemui Raja Mangukuhan, menyerah
kan tumbuh tumbuhan yang tumbuh dimakam Tisnawati, dengan anjuran bila buahnya t
elah tua supaya dipe rbanyak penanamannya. Ki Buyut dan Ki Tuwa menjadi petani.
Ki Pancakut menjadi p emuka Raden Jaka Puring menjadi Patih 54. Tumbuh tumbuhan
yang berasal dari tubu h Dewi Sri telah tumbuh tinggi. Dewa yang mengikuti Hyang
Kaneka, dan menanti se belah timur laut bernama Emprit Anjala, sampai sekian la
ma Hyang Kaneka tak memb eri berita. Dalam hati ia berpikir : kemanakah gerangan
kanda Kanekaputra, maka telah cukup lama tidak meninjau. 55. Dia lalu terbang t
inggi. Diantaniksa ia men gamati kebawah nampak sebuah negeri. Negeri itu adalah
negeri Mendhangkamulan. D isana tumbuh bermacam macam tumbuh tumbuhan pertanian
yang telah cukup tua buahn ya. Dari angkasa baunya mernbangkitkan selera Emprit
Anjala segera terbang menuk ik. 50

56. Sampai dibawah, melihat aneka tumbuh tumbuhan, hatinya sangat tertarik. Namu
n pada saat itu Yang Kaneka telah tiada. Emprit Anjala lalu kembali naik ke Kah
y angan. Emprit Peking dan Gelatik pengikut Emprit Anjala ditinggalkannya. Roh D
ew i Sri telah bersama sama Roh Tisnawati merasuk ketubuh permaisuri Baginda Man
guk uhan Dyah Dremanastiti. 57. Alkisah burung Gelatik dan Emprit Peking telaih
turu n, makan buah padi dengan lahapnya. Petani mengetahui itu lalu menghalau, d
ilemp ari dengan batu. Burung burung itu beterbangan lalu hinggap dipohon pohon
diseki tarnya. Dimana terdapat kelengahan si petani mereka turun lagi makan buli
r bulir padi. 58. Ki Cakut melaporkan kerusakan hasil padi karena dimakan oleh b
urung b urung kecil kepada Jaka Puring. Segera JakaPuring datang mernbantu mengh
alau bur ung burung kecil. Dilemparinya dengan batu, tiada yang terkena. Mereka
beterbang an hinggap dipohon pohonan. XVI. DHANDHANGGULA 01. Berulang kali burun
g burung i tu bila dilempari, mereka beterbangan lalu hinggap bertampung dipohon
. Pohon itu dinamai oleh Jaka Puning pohon nanggung berarti bangunan tempat menu
nggu. Bila dilempari mereka terbang lalu hinggap dipohon enau, menanti kelengaha
n petani, k emudian menyerang kembali buah padi. 02. Kalau masih juga menjadi te
mpat penampu ngan burung burung hama padi. Jaka Puring memerintahkan agar bunga
enau itu dira ut, dipancung. Batang enau masih menjadi tempat penampungan burung
burung emprit dan gelatik. Maka petuah Jaka Puring itu diaksanakan serta mayang
enau dipancun g, keluar cairan, lalu dicicip, rasanya manis sekali. Ki Tuwa seg
era memotong ba mbu pada sesisi ruas. Ruas yang lain tidak terpotong. Air yang t
erus menerus dar i mayang enau ditampung didalam tabung bambu. 03. Air mayang ya
ng tertampung dal am tabung itu dibiarkan semalam didalani tabung. Air itu dinam
ai air nira. Tabun g nira itu dibuka sumbatnya, lalu diserahkan kepada Jaka Puri
ng. Bau niranya sem erbak membangkitkan selera Jaka Puring menyatakan supaya nir
a tersebut dipersemb ahkan kepada Baginda. 04. Jaka Puring kembali keistana deng
an membawa nira untuk dipersembahkan kepada Baginda. Jaka Puring berdatang semba
h, menyatakan bahwa y ang diserahkan Baginda itu adalah hasil sadapan dari mayan
g batang nibun dalam w ilayah kerajaan Baginda Mangukuhan. 05. Tabung nira seger
a diterima Baginda, sum bat tabung itu lalu dibuka. Bau nira tersebut semerbak m
enyengat hidung. Raja Ma ngukuhan berkata kepada Yang Kaneka, mempersilahkan mem
bawa minuman dari nira ke Kahyangan untuk Hyang Pramesthi. Yang Kaneka telah men
erimanya, lalu berangkatl ah. Perjalanannya amat cepat bagaikan kilat. 06. Dalam
sekejap mata telah tiba d ihadapan Hyang Pramesthi. Hyang Jagad Nata menyambut
dengan salam kedatangan. Ia menanyakan maksud kedatangannya. Yang Kanekaputra me
ngatakan, bahwa dipersilaka n menyampaikan minuman nira yang ditaruh didalam tab
ung oleh Sri Mangukuhan dari negeri Mendhangkamulan. 07. Hyang Guru Nata menghar
ap penyerahan dari Yang Kane ka. Setelah ditenima Yang Kaneka dimintai tolong, m
embuka tabung tersebut. Pada waktu membuka sumbat, ada yang memercik dibibir Yan
g Kaneka, percikan itu dijila t 51

jilatnya, terasa sangat manis. Ia memberitahukan hal itu kepada Yang Pramesthi,
bahwa rasanya sangat manis. Hati Yang Pramesthi agak masgul. Ia berkata : jangan
lah bertingkah seperti anak kecil. 08. Yang Kaneka berubahlah bentuk tubuhnya.
S emula bagus kemudian menjadi jelek. Bibirnya tebal, gigi tidak rapi, perut bun
ci t pantatnya menonjol kebelakang. Bila berbicara tersendat sendat. Ia sangat t
erk ejut akan perubahan itu. Ia mengambil sebuah cermin. Serta melihat bayangan
tubu hnya didalam cermin amat sedih hatinya. Kemudian mengadu kepada Hyang Prame
sthi. 09. Dikatakannya bahwa perubahan tubuh tidak dapat berubah kembali. Itu su
dah m enjadi takdir Hyang Wasesa. Yang Kaneka diberi ganti nama Yang Narada, art
inya t erdapat ada agak cacat 10. Konon kisahnya, sesudah Dewi Tisnawati jadi de
kat per gaulannya denga Hyang Pramesthi, Dewi Uma merasa dikesampingkan. Ia lalu
merasuk i kepada batang padi. Selanjutnya buah padi menjadi makanan para Raja.
Dalam hat i Dewi Uma iri terhadap kecantikan Dewi Tisnawati. 11. Adapun Dewi Tis
nawati set elah meninggal rohnya merasuk kebatang rumput gajah. Prasukan itu ber
maksud agar buahnya nantinya menjadi makanan para bangsawan. Tetapi malang bagin
ya, hasilny a tidak seperti yang diharapkan. Rumput gajah hanya jadi makanan gaj
ah, kendaraa n para Raja. 12. Alkisah Puthut Jantaka rnempunyai banyak anak, dal
am aneka ujud . Yang sulung berujud tikus, dinamai tikus Jinada, warnanya putih
besarnya sebes ar anjing. Ia merajai segala tikus. Anak yang kedua berujud babi
hutan dinamai T embalung, merajai semua jenis babi. 13. Hamba sahayanya beratus
ratus ribu ekor babi. Anak selanjutnya berujud kera dinamakan Kuthila. Laskarnya
beratus ratus r ibu juga. Adik Kuthila berbentuk kerbau dinamakan Mahesa Danu.
Adiknyalagi beruj ud banteng laki laki dan perempuan. Adik adiknya lagi ada beru
jud kijang, ada be rujud rusa dinamai Kirandhil ada bulus dan kura kura. 14. Sem
uanya kurus kering, disebabkan kurang makan. Siang malam mereka meratap dan mena
ngis kelaparan, sua ra tangisnya hiruk pikuk mengadu kepada ayahnya. Melihat kea
daan itu Puthut Jant aka amat iba hatinya. Anak anaknya dikumpulkan, lalu diberi
nasehat. Didalam hut an yang sesepi itu memang sangat miskin adanya makanan. 15
. Diluar hutan ada seb uah negeri yang amat makmur. Hasil makanan tumpah ruah. d
iseyogyakan kepada anak anaknya supaya mereka mengungsi kesana guna menyambung h
ayat. Mintalah belas ka sihan dari hamba sahaya dinegeri Mendhangkamulan itu. 16
. Dengan suara serentak para satwa, itu menyambut gembira nasihat ayahnya itu. I
a berpesan jangan sekali kali berbuat curang. Makan hasil tanam yang ada tanpa s
eijin mereka itu tidak b enar. Mintalah belas kasihan dari mereka. Nasihat dari
Puthut Jantaka itu akan d iindahkan oleh anak anaknya. Maka berangkatlah mereka
menuju negeri Mendhangkamu lan. 17. Keberangkatannya disertai hujan lebat serta
topan badai. Mereka berjala n berkejar kejaran, amat cepat, secepat kilat. Tiba
dinegeri Mendhangkamulan, te pat waktu tengah malam. Penduduk negeri telah sama
sama tidur nyenyak. Telah men jadi watak dari raksasa dan saat yang sedang kelap
aran, bila melihat makanan mer eka melahap dengan rakus. 18. Tingkah para rakaas
a seenaknya saja, renggut sana, renggut sini, berguling guling, merusakkan tanam
tanaman. Datangnya tikus dan k era serentak masuk kenegeri Mendhangkamulan, sua
ranya bagaikan angin kencang dim usim 52

ketujuh. Udara dalam keadaan mendung kelam. Maka penduduk negeri tidur dengan pu
las. 19. Hanya Ki Tuwa yang terbangun, terkejut mendengar suara menderu deru. I
a segera keluar rumah, membawa. pelita dan parang ditangannya kanan kiri. Betapa
terkejutnya Ki Tuwa ada babi datang menyerang. 20. Ki Tuwa menghindar kekiri sa
m bil mengayunkan parangnya tepat mengenai kepala babi hutan, namun tak mampu me
lu kai bahkan parang Ki Tuwa patah. Dia berteriak teriak minta tolong. Orang ora
ng tetangganya terbangun. Mereka bangkit menuju tempat datangnya teriak, siap de
nga n penyuluh dan senjatanya. Jaka Puring, Ki Buyut, Ki Cakut dan Ki Paniron da
tang membantu. Ada yang membawa canggah, rantai, geranggang (bambu runcing), cul
a, t ornbak. Karena banyaknya penyuluh, terangnya bagaikan siang hari. 21. Semua
bina tang menyerang dengan garangnya. Orang orang Mendhangkamulan banyak yang m
enderi ta luka karena serangan binatang. Ada yang roboh diserang babi hutan. Bin
atang i tu dilawan dengan senjata tetapi tak terluka. Orang orang Mendhangkamula
n lari k etakutan. 22. Ki Buyut berkata kepada Dyan Jaka Puring, mengajak mengun
duri perl awanan, melapor kepada kakanda Baginda. Sungguh bukan tolok bandingnya
, kesaktia n lawan berpuluh puluh bahkan beratus ratus anggota pasukan menderita
luka. Tak mampu pasukan Mendhangkamulan mengimbangi serangan lawan. Akhirnya pa
sukan Jaka Puring mundur. 23. Perjalanan mundur pasukan Mendhangkamulan telah sa
mpai diista na. Jaka Puring berdatang sembah kepada Baginda. Ia menyerahkan diri
kepada Raja karena tak mampu menghancurkan lawan yang berujud aneka satwa segal
a tanaman ya ng ditanam disawah dalam wilayah kerajaan Baginda rusak musnah dise
rang tiga pas ukan dari tiga jenis binatang. Satu pasukan berupa raksasa bertubu
h perkasa. 24. Sepasukan lagi berujud babi hutan. Moncongnya runcing. Bulu badan
nya jarang ber diri tegak. Ekornya hanya kecil pendek, jumlahnya lebih kurang ti
ga ratus. Sepas ukan terakhir bentuknya mirip tubuh manusia, ekornya panjang. Wa
rna bulu badanny a kelabu. Tingkah lakunya cekatan. Jumlahnya beratus ratus, nam
pak mengerikan. 2 5. Satu pasukan dengan dua ribu anggota pasukan. Mereka dipili
h prajurit yang ta ngguh serta lincah, Mereka berpakaian seragam putih. Semua me
miliki keberanian y ang tinggi. 26. Baginda Mangukuhan rnemberikan isyarat kepad
a Jaka Puring menyia gakan pasukan lengkap dengan persenjataannya untuk bertempu
r. Semua pria yang me miliki tubuh yang kuat diwajibkan membela keselamatan nega
ra dari serangan hama tanaman. . 27. Jaka Puring mengindahkan perintah Baginda.
Isyarat perang sudah d ikumandangkan Raja Mangukuhan diikuti para Panglima berge
rak bersama sama anggot a pasukan menyerang musuh yang bersifat aneka satwa dan
raksasa. Derap langkahny a menyerupai alunan gelombang samudera. Gemerincingnya
alat senjata dan derap la ngkah tak dapat digambarkan dahsyatnya. 28. Suara tand
a serangan yang diikuti ge rak terjang sorak sorai pasukan bertalu talu, bagaika
n suara runtuhnya gunung. L awan yang berujud aneka satwa dan raksasa menjadi ga
nas dan garang. Kalian menye rang pasukan dari negeri Mendhangkamulan. Meski sep
erti dihujani dengan senjata tajam, namun tak 53

ada yang mampu melukai tubuh lawan. Banyak anggota pasukan Baginda Mangukuhan ya
ng menderita luka dari amukan lawan. 29. Ada yang menderita uka akibat gigitan
k era, ada yang menderita patah kaki, ada yang terluka dari pagutan tikus, tetap
i para pendenita tersebut belum sampai menemui ajalnya. Mereka mengeluh kesakita
n, mengerang memilukan. Baginda Mangukuhan memberi isyarat mundur. 30. Babi huta
n dan kera terus mengejar. Pasukan Mendhangkamulan mundumya lalu lalang, masuk k
ed alam negeri. Tiba diistana Baginda Mangukuhan mengadakan sidang istimewa deng
an para pemegang pimpinan negara. 31. Akhirnya Jaka Puring ditunjuk oleh Baginda
me nemui penasihat kerajaan ialah Ki Andong Dhadhapan di Medhang Agung dan Ki G
adhi ng Pangukir, minta petunjuk sehubungan dirusaknya tanaman dilingkup wilayah
kera jaan, oleh aneka satwa dan raksasa. Dipesan setibanya di Medhang Agung Jak
a Puri ng menyampaikan salam mesra dari Baginda. Selanjutnya menceriterakan meda
n laga. Aneka satwa dan raksasa itu memiliki kesaktian tinggi, tiada pusaka yang
bertua h dapat melukai mereka, hingga pasukan Mendhangkamulan yang menjaga kese
lamatan negara tak berhasil menumpasnya, bahkan terpaksa mundur ketakutan. Pasuk
an Bagin da banyak menderita luka dari serangan lawan. 32. Jaka Puring menangkap
sabda Ba ginda dengan Khidmat. Sesudah sempurna sabda Baginda diberikan berangk
atiah ia. Dalam perjalanan selalu ia merasa sedih dan haru. Perjalanannya dipere
pat agar l ekas sampai di Mendhang Agung. 33. Tiba disana kedapatan Ki Andong Dh
adbapan sed ang berbincang bincang santai dengan Ki Gadhing Pangukir. Putra Ki A
ndong Dhadha pan yang bernama. Sangkan Turunan ikut menemani. Sedang asyiknya be
rbincang binc ang, datanglah Jaka Puring. Ia menyampaikan salam, disambut dengan
salam juga. J aka Puring dipersilahkan duduk. Setelah duduk sejenak Jaka Puring
menyampaikan s alam rindu dan salam takzim dari Baginda. Kedua penasehat terseb
ut menyambut han gat salam dari Baginda. Dia merasa bangga atas tanggapan yang a
krab dari Baginda . Sangkan Turunan pun menyambut salam kedatangan Jaka Puring.
34. Seterusnya Jak a Puring menyampaikan khabar dari Baginda bahwa semua tanaman
sawah ladang dalam lingkup wilayah kerajaan Mendhangkamulan dirusak oleh aneka
satwa dan raksasa. Hama hama itu amat sakti, tak dapat pasukan Baginda memusnahk
annya. Bahkan banya k hamba sahya dari Mendhangkamulan mendapat luka dari serang
an mereka. 35. Sehub ungan dengan itu, Baginda minta pertolongan bantuan dan pet
unjuk untuk memusnahk an hama tersebut. Hama yang berujud raksasa dan hama yang
berbadan sebagai manus ia, berkepala badak, hitam warnanya. Binatang ini sangat
sakti, kebal akan senja ta tajam. 36. Ada lagi kawanan tikus yang banyaknya tak
terhitung. Ekornya mencu at dapat dia pergunakan sebagai tongkat penopang tubuh.
Kawanan binatang ini ama t rakus. Karena jumlahnya amat besar maka amat cepat k
erusakan tanaman dapat dib uatnya. Itulah sebabnya cepat cepat Jaka Puring diper
intahkan menghadap penaseha t dan tetua kerajaan. Baginda amat sangat menanti tu
run tangan dari para tetua. Baginda sangat menyayangkan nasib penderitaan petani
penjamin persediaan makan n egara. 37. Ki Andong Dhadhapan menerima laporan Jak
a Puring dengan tenang dan pe nuh kesabaran. Ia memberitahukan bahwa sebelum Jak
a Puring datang Ki 54

Andong Dhadhapan dan Ki Gading Pangukir telah mengerti akan kejadian itu. Keduan
ya telah siap membantu memusnahkan malapetaka Negara Mendhangkamulan. Putra Ki
A ndong Dhadhapan bemama. Sangkan Turunan dipanggilnya. Setibanya lalu disuruh o
le h pamannya Ki Gading Pangukir mengantar Jaka Puring pergi ke Babadan, tempat
tin ggal Ki Gading Pangukir. 38. Setelah mencakup pengertian segala pesan Ki Gad
ing Pangukir, berangkatlah keduanya. Mereka berjalan sangat laju. Dalarn waktu s
ingk at telah tiba di Babadan, Keduanya disuruh panggil Wayungyang dari Condromo
wo. D i Babadan setelah bertemu dengan dua orang penganut Ki Gading Pangukir, se
gera m enyampaikan panggilan untuk kalian. 39. Wayungyang memiliki tubuh / bentu
k tubuh Kakkong. Bahunya brojol seperti bentuk leher botol. Perutnya buncit (bes
ar), le her pendek, telinga tegak, selalu mengeluarkan kopok (cairan busuk yang
keluar d ari telinga), dahinya lebar menonjol kedepan. Hidungnya kecil mungil, K
ulitnya m ukanya kasar seperti kulit limau sambal. Berkuncung panjang. 40. Condr
omowo bert ubuh pendek kecil, Tinggi badan kakkong, lehernya panjang, kepalanya
kecil. Kema na saja ia pergi selalu mernbawa sabit diselipkan diantara ikat pigg
ang. Tak per nah dihunus dari punggung, bila tidak penting. kalau habis diasah,
dipertajam de ngan cara diules uleskan diatas kuncung. 41. Setelah jelas ciri ci
ri tubuh dua o rang penganut Ki Gading Pengukir, diberitahukan oleh Ki Andong Dh
adhapan diperin tahkan berangkat. Sebagai bukti bahwa keduanya sungguh sungguh m
enjalankan Ki An idor Dhadhapan dan. Ki Gading Pangukir, ia dierboehkan membawa
talumpak (tombak bertangkai pendek) yang biasa dipergunakan sebagai tongkat (cir
i bentuk tombak / talumpak) tidak diberitahukan. 42. Namun dinyatakan oleh Ki An
dong Dhadhapan ba hwa tangkai dan sarung talumpak masing masing mempunyai tuah w
ibawa. Jaka Puring dan Sangkan berangkat. Dikatakan bahwa Baginda sangat menanti
kedatangannya kem bali. 43. Jaka Puring dan Sangkan Turunan lalu minta doa rest
u, selanjutnya mint a diri. Ki Andong Dhadhapan berpesan : bila menghadapi bahay
a, disuruhnya Jaka P uring melepas sarung talempak diletakkan berdiri tegak dide
pannya. Kepada Sangka n Turunan diberikan seruas bambu. Bila menghadapi mara bah
aya dinasihatkan seger a memukul tabung itu. Dengan segera ia akan datang. 44. J
aka Puring dan Sangkan Turunan mengindahkan segala petunjuk, lalu berangkat. Per
jalanan mereka sangat l aju. Dalam waktu singkat telah tiba kembali di Negara Me
ndhangkamulan. Segera me reka masuk kedalam istana, menghadap Baginda. Pada saat
itu Baginda sedang duduk duduk diberanda istana. 45. Serta melihat kedatangan J
aka Puring dan Sangkan Tu runan, Baginda segera menjemput. Diajaklah keduanya ma
suk kedalam istana. Sesuda h sejenak duduk, Jaka Puring berdatang sembah, menyam
paikan hasil yang ditugaska nnya menemui Ki Andong Dhadhapan. Ia menghadapkan ke
dua orang yang oleh Ki Andon g Dhadhapan dipercayakan membantu memusnahkan hama
yang menyerang tanaman di Men dhangkamulan. 46. Menilik bentuk tubuhnya, Baginda
menyayangkan kedua orang itu dapat berhasil menumpas semua satwa hama. Kedua ta
mu kepercayaan itu segera dibe ri jamuan minuman dan air putih. Wayungyang dan C
ondromowo lalu melahap jamuan B aginda. Selesai minum Baginda memberi perintah p
engumpulan pasukan. 55

47. Pasukan telah siaga lengkap dengan persenjataannya. Baginda lalu datang meny
aksikan pasukan yang telah siaga itu. Segenap pasukan kelihatan gembira seolah
o lah, menanti segera diberangkatkan. Tak lama kemudian lawan yang terdiri aneka
s atwa datang menyerang. Disambut dengan perlawanan yang Sengit oleh pasukan da
ri Mendhangkamulan. 48. Sorak sorai datang bertalu talu dari kedua belah pihak B
abi hutan mengamuk sejadi jadinya. Ia kebal oleh senjata tajam, berkali kali ken
a u jung tombak, tetapi tiada juga terluka. Pada saat itu Ki Wayungyang dan Cond
romo wo sedang minum air kelapa muda. 49. Sri Ratu Dremanastiti melihat pasukan
Mendh angkamulan menderita kerusakan, sedang Ki Wayungyang dan Condromowo sedang
minum air kelapa muda. 50. Sri Ratu Dremanastiti melihat pasukan Mendhangkamula
n mend erita kerusakan, sedang Ki Wayungyang dan Condromowo masih belum kelihata
n membe ri bantuan, maka beliau sangat marah. Dicarinya ketempat Wayungyang minu
m. Serta melihat kedatangan Sri Ratu. Wayungyang menyambut penuh kesopanan. 51.
Sri Ratu yang bersikap marah itu mengata ngatai Wayungyang. Sangat mencela ia ma
in mabuk mabukan saja, sedang kawan kawan banyak menderita luka. Dikatakan tak s
eimbang susah payah Baginda mencari bantuan dari kalian, ternyata ditengah medan
laga ka lian hanya main mabuk mabukan. Ditekankan bila memang tidak sanggup mem
bantu, di suruh kembali, katakanlah Sri Ratu yang memenintahkan kembali. XVII. P
ANGKUR 01. Akibat caci maki dari Sri Ratu, Wayungyang dan Condromowo menangis me
nyesali pe rbuatannya yang telah terjadi. Keduanya bersujud lalu berangkat menyu
sul Baginda . Tiba dimedan laga Wayungyang dan Condromowo amat kasthan melihat k
erusakan pas ukan Mendhangkamulan. 02. Dari kepala sampai merata keseluruh tubuh
disiram deng an air leri (air, yang habis dipakai mencuci beras yang akan ditan
ak). Kakinya d ilumas dengan bahan pelumas (Jawa: dilulur). 03. Akibatnya warnan
ya menjadi kela bu dari kepala sampai sepanjang punggung dan ekor berbelang puti
h. Begitu juga d ari perut, leher dan moncong. Dia beri sebutan Belang Wayungyan
g. 04. Kucing Con dromowo mengambil air kelapa muda, disiramkan dari kepala mera
ta sampai keseluru h tubuh. Badannya lalu dilumas dengan bahan pelumas. Warnanya
menjacli hitam pek at. Dari kepala sampai kesepanjang punggung, perut, ekor dan
mulut berwarna puti h. Dia dijuluki Kucing Condromowo. 05. Belang Wayungyang da
n Kucing Condromowo l alu diperintahkan segera membantu perlawanan. Belang Wayun
gyang lincah lagi ceka tan memburu, babi hutan dengan sebutan Tembalung. Tembalu
ng dikejar keijar, tak dibeni kesempatan istirahat. 06. Babi hutan dapat ditangk
ap, digigit sampai mati . Datang lagi babi hutan yang lain, membantu serangan, t
etapi mendapat perlawana n serangan ganas dari muka dan dari belakang. Akhirnya
babi hutan itu pun mampus juga. Datang menyusul bantuan banyak babi hutan, tetap
i semuanya dapat dimusnah kan oleh Belang Wayungyang. 56

07. Diantaranya ada yang baru saja datang terus diserang sampai menemui ajalnya.
Bangkai babi hutan bertimbun timbun. Tembalung melihat anak pasukannya banyak y
ang menemui ajalnya, ia amat marah. Ia bermaksud membela sampai titik darah pen
g habisan. 08. Belang Wayungyang mengganggu lagi dengan segenap kemampuannya. Ti
ba tiba Tembalung dapat ditangkap moncongnya, digigit kuat kuat akhirnya matilah
d ia. 09. Tembalung beserta anggota pasukan dapat dimusnahkan oleh Belang Wayun
gya ng. Pasukan kera serentak bersama membantu menyerang dari segala arah. Tetap
i su ngguh Belang Wayungyang sangat sakti lagi tangguh ia membalas serangan kese
gala arah. Kepala pasukan kera akhirnya dapat dibunuh. 10. Anggota pasukan kera
menja di kacau balau, ibarat anak ayam kehilangan induknya. Tata pasukan menjadi
tidak karuan. Ada diantaranya yang memanjat diatas batang pohon, kena salak Bel
ang Wa lungyang saja telah jatuh ketanah, menemui ajalnya. 11. Pasukan tikus men
dapat p erlawanan dari kucing. Meskipun jumlah pasukan tikus amat banyak, namun
dapat di lawan dengan mudah oleh Condromowo. Segala gerak geriknya dapat diimban
gi. Akhim ya kepala pasukan tikus dapat ditangkap dan dibunuh. Anak buahnya dike
jar kejar sampai dimanapun juga, banyak ditangkap dan dibunuh. Sisanya lari tung
gang langg ang mengungsi ketempat lain. 12. Pasukan tikus pun dengan mudah dapat
dihancur l eburkan oleh Condromowo. Maka riuh rendah sorak sorai prajurit Mendh
angkamulan m endapat kemenangan atas pasukan aneka satwa yang menjadi hama, peru
sak segala ta naman hamba sahaya Mendhangkamulan setelah selesai penumpasan anek
a satwa yang m enjadi hama tanaman petani Mendhangkamulan, disawah itu juga semu
a pasukan Bagin da dikumpulkan, termauk juga Belang Wayungyang dan Condrornowo 1
3. Baginda meman ggil Jaka Puring ditanyakan : apakah nama ciri bentuk tombak ya
ng oleh Gading Pa ngudkir dipersembahkan kepada Baginda. Jawab oleh Jaka Puring
bahwa Gading Pangu kir tidak memberikan nama tombak tersebut. Hal ini diserahkan
kepada Baginda. 14 . Karena Ki Gading Pangukir sendiri tidak memberi nama tomba
k tersebut, maka Bag indalah yang memberi nama. Tombak itu dinamai Kyai Pecaksoh
ang Deder, amat indah dibuat seperti bambu gading. Penyerahan tombak tersebut di
jadikan lambang keakr aban kekeluargaan terhadap Baginda. Terasa berat tombak it
u bila diagkatnya. 15. Batang tombak dibuat berwarna gading putih kekunang kunin
gan, melambangkan jeja ka yang belum pernah mengkhayalkan nafsu sahwat. 16. Alki
sah, sekali peristiwa P uthut Jantaka sedang duduk termangu mangu, datanglah dua
orang anaknya berujud l embu dan kerbau. Yang tua bernarna Kalamurti, adiknya b
ernama Kalasrenggi. Kedua nya izin dari ayahnya, pergi menyaksikan nasib saudara
saudaranya. 17. Sepanjang berita mereka mendengar bahwa saudara saudaranya tela
h punah terbunuh oleh psuk an dari kerajaan Mendhangkamulan. Bila khabar itu nya
ta, mereka akan menuntut ba las atas kematian saudara saudarnya itu Ayahnya meng
izinkan, tetapi kalian haris waspada. 18. Karena niat terburu nafsu, keduanya ti
dak memperhatikan peringatan ayahnya. Dalam perjalanannya mereka penuh rasa dend
am kesumat. Mendengar salak 57

anjing keduanya bertambah marah. Batu batu yang terdapat menghalang melintang di
angkat tinggi tinggi lalu dihempaskan keperbatuan. Hancur lebur batu batu itu.
K ekuatan Kalamurti amat dahsyat, seolah olah semua tulang belulangnya terdiri d
ar i besi. 19. Batang batang pohon yang terdapat dikiri kanan jalan, dicabuti. H
ati nya amat panas, membara. Konon perjalanan Kalamurti dan Kalasrenggi nyaris t
iba disawah tempat saudara saudaranya bertempur melawan pasukan Mendhakaimulan.
20. Pada saat Baginda dihadap hamba sahaya, datanglah seorang penggawa melaporka
n ba hwa ada dua ekor binatang yang besar lagi tinggi datang. Binatang itu adala
h ker bau dan lembu bertanduk panjang mengerikan. Baginda lalu memberi perintah
kepada Belang Wayungyang dan Condromowo siap menyerangnya. Keduanya menyambut pe
rintah Baginda dengan ikhlas lagi gembira. 21. Setelah mendapat perintah Belang
Wayung yang bersama Condromowo menyerang. Kalamurti dan Kalasrenggi melawan, Way
ungyang dapat diserang dengan tanduk, terpental jauh, datang menyerang kembali,
tetapi dapat disambut dengan tanduk, diayunkan keatas jatuh kebumi, berulang kal
i diper mainkan seperti bola, jatuh kebumi terus diinjak. 22. Wayungyang dan Con
dromowo tak ada kesempatan untuk melawan selalu menjadi permainan oleh Kalamurti
, hingga tidak mempunyai tenaga lagi, letih lesu. 23. Melihat nasib Belang Walun
gyang it u. Condromowo meloncat rnerebut Wayungyang dibawa lari. Keduanya lalu m
andi deng an air kelapa muda, badannya digosok dengan daun buluh. 24. Sesudah ma
ndi dengan leri itu tubuh Wayungyang jadi segar kembali. Kekuatannya pulih kemba
li. Demulk ian juga setelah Condromowo memandikan dengan air kelapa muda tubuhny
a menjadi p ulih kuat. 25. Setelah itu tubuh mereka digosok dengan daun bambu pu
gag (batang pokoknya telah ditebang). Bulu badannya dikibas kibaskan. Bulu Wayun
gyang bergug uran, berubah menjadi anjing yang banyak jumlahnya, berwarna belang
, ada yang be rbelang hitam, putih, lurik. Dan bulu kucing yang rontok berubah m
enjadi kucing yang beratus ratus banyaknya. 26. Semuanya mengatur sebuah pasukan
, bergerak men uju tempat Kalamurti dan Kalasrenggi. Lembu dan kerbau itu mengar
nuk. Menanduk, menginjak injak, menerjang tetapi tak mampu mengakibatkan luka da
n cedera. 27. S erentak bergeraknya pasukan anjing dan kucing kelihatan seperti
merayapnya berat ur ratus ribu semut merah yang mulutnya beracun sedang mendaki
gunung tetapi Jak a Puring cepat mengambil seutas tabung, lalu dipukul pukulnya.
28. Sangkan Turun an mendengar lengking suara, ia merasa terpanggil, segera ber
jalan menuju tempat Jaka Puring. Jaka Puring memberi salam kedatangannya. Sangka
n Turunan bersujud didepannya. 58

XVIII. ASMARADANA 01. Melihat bentuk tubuh nan tampan dan wajah Sangkan Turunan
Baginda tertarik 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. hatinya. Ba
ginda pun berkata dengan lembut menyampaikan permintaan bantuan guna menaklukkan
musuh kerajaan. Sangkan Turunan menerima perintah Baginda dengan ikh las gembir
a serta penuh kesanggupan. Ia menyatakan segala jiwa raganya akan dipe rsembahka
n untuk keselamatan negara. Baginda berkenan mendengar kesanggupan Sang kan Turu
nan. Sangkan Turunan berangkat menuju medan laga. Pada saat akan memulai perlawa
nan kemaluannya diusap usap. Dakar (kemaluannya) mengeluarkan akar sepan jang tu
juh hasta, besarnya tiga jari. Bentuknya lurus halus bagaikan diraut. Ora ng kun
o menamakan benda itu akar dawa. Sekarang orang menamakan rotan wuruk. Rot an wu
ruk memiliki khasiat dapat mempengaruhi kuda jafi penurut. Kedua orang pemu da t
elah siaga berternpur. Rotan wuruk telah siap ditangannya. Terhadap benda it u o
rang kagum melihatnya. Bila tegak berdiri nampak sebagai teja. Bila teretak m el
engkung kelihatan seperti pelangi. Kalau bergerak cepat gemerlapan seperti kil a
t. Apabila diayunkan kesana kemari nampak sebagai kilat sambung menyambung. Kal
amurti melihat dua orang pemuda berdiri tegap, segera menyerang dengan ganas dan
garang. Sedikit pun tidak ada rasa takut. Kalasrenggi ikut juga menyerang. Dala
m serangan itu Kalamurti kena terpukul dengan rotan wuruk kepalanya. Kalasrengg
i menyusul menyerang, juga kena pukul kepalanya. Keduanya jatuh tak bemafas lagi
. Belang Wayungyang dan Condromowo cekatan mengangkut Kalamurti dan Kalasrenggi,
diikat erat erat dengan tambang enau atau nibung, pada pergelangan tangannya. P
u thut Jantaka, seorang biku yang tajam penglihatannya, mengerti bahwa semua ana
kn ya telah punah oleh pasukan Mendhangkamulan hatinya amat sedih. Ia mengaduh k
epa da Dewa, tak sanggup hidup lagi didunia tanpa anak seorang pun. Dia merasa s
ia s ia hidupnya, Puthut Jantaka berjalan tiada menentu arah tujuannya. Hatinya
meran a. Sepanjang perjalanan ia mengumpat akan nasib hidupnya. Perjalanan Ki Pu
thut J antaka tiba disebuah batu raksasa terletak ditengah hutan. Besar batu itu
sepulu h pemeluk orang. Oleh biku sakti itu batu diangkat tinggi tinggi lalu di
empaskan mengenai kepalanya. Batu telah hancur lebur menimbulkan suara gemuruh m
engerika n. Karena kemarahannya seolah olah tubuh Puthut Jantaka lipat kali tamb
ah besar. Mukanya kelihatan kasar seperti batu karang. Matanya bersinar tajam ba
gaikan ma tahari kembar. Taring memanjang. Lubang hidung nampak seperti pintu gu
a berdampi ngan. Jambang kiri kanan bertemu menimbulkan pandangan yang sadis. Bu
lu dada tum buh subur memenuhi dada, perut, sampai kepaha. Bulu jari jari kakiny
a panjang pa njang. Puthut Jantaka kelihatan dahsyat, seperti dahsyatnya raksasa
penjaga pint u masuk surga, Cingkara Bala Upeta.

59

15. Lama lama sampailah Puthut Jantaka didekat Raja Mendhangkamulan. Hamba 16. 1
7. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. sahaya Raja Mangukuhan semuanya t
akut, lari cerai berai. Melihat itu Jaka Puring pergi menyambut dengan membawa t
ombak. Begitu juga Raja Mangukuhan diikuti para kepala pasukan. Belang Wayungyan
g dan Condromowo mengawalnya. Jaka Puring telah siaga, sarung tombaknya berbentu
k naga, mengeluarkan banyak ular. Ular sebesar batang kelapa berkeliaran kesana
sini sambil menyebar bisa. Lidahnya menjulur ke luar menyerupai trisula. Kelihat
an seperti Yang Antaboga, mengerikan hati. Puthu t Jantaka melampiaskan kemaraha
nnya, tingkah lakunya leluasa menakutkan. Rambutn ya yang tebal mengurai, berger
ak meruak ruak ditiup angin. Pasukan Mendhang sang at ketakutan. Ki Tuwa hatinya
berdebar debar menghadapi Puthut Jantaka. Sama hal nya dengan Ki Buyut, ia juga
amat ketakutan. Badannya menggigjl mukanya puat les i. Semua pasukan Mendhang y
ang didatangi Puthut, lari cerai berai krtakutan. Mer eka minta perlindungan San
g Raja. Baginda mengheningkan cipta, minta bantuan dar i Dewa. Bethara Wisnu dat
ang merasuk ketubuh Raja Mangukuhan. Puthut Jantaka yan g datang melampiaskan am
arahnya itu disambut dengan pandangan tajam oleh Baginda . Puthut Jantaka tak ku
asa. menahan pandangan dari Raja Mangukuhan. Ia lari keta kutan. Raja Mangukuhan
datang mengejar, diikuti oleh segala pasukannya. Konon Pu thut Jantaka bersembu
nyi, membenamkan diri didalam pasir. Kemudian tak dapat ter tangkap. Laskar Mend
hang menyebar diluar hutan mencari Puthut Jantaka, namun tia da terdapat. Tunjun
g Randhi terkepung oleh pasukan Mendhangkamujan, akhirnya dap at tertangkap. Kar
ena Puthut Jantaka tak dapat dicari, maka Baginda bermaksud in gin kembali keist
ana. Setelah keturunan Puthut Jantaka dapat dipunahkan, Ki Tuwa senang hatinya.
Ia mencaci maki tindakan Puthut Jantaka dinyatakan tindakannya seperti orang gil
a. . Ki Tuwa berlaga sebagai orang pemberani, jalannya lenggang kangkung. Ia kat
akan bahwaPuthut Jantaka lari terbirit birit takut dikejar oleh nya. Dikatakan P
uthut telah lari masuk hutan, bersembunyi didalam goa. Sombongny a bukan main, i
a katakan bila sudah memuncak maralmya, jangankan hanya seorang s emacam Puthut
Jantaka, bahkan sampai dua orang seperti Puthut Jantaka, Ki Tuwa t akkan mundur
selangkah. Buyut mencemooh kesombongan Ki Tuwa, berlagak sebagai pe mberani. Eje
kannya : sekali saja bettemu pasti dia akan menggigil dan menyerah. Sangkal Ki T
uwa : itu kan baru sekali, kalau sudah dua tiga kali takutnya akan h ilang. Meng
hadapi raksasa saja ia tak takut, apalagi hanya menghadapi Puthut seo rang diri
mengapa menjadi takut. Andaikata ada seribu Puthut Jantaka sekalipun i

a tak akan takut. Begitu congkak kata Ki Tuwa. Jalan Ki Tuwa amat santai. Meliha
t orang orang yang dipasang disawah ia bersikap angkuh. Ki Tuwa tak tahu bahwa
o rang orangan itu ada isinya. Orang orangan ditarik tarik dan terus ditarik sep
an jang pematang. Puthut Jantaka terlepas dari orang orangan. Ki Cakut mengetahu
i p eristiwa itu, sangat ketakutan. Ki Tuwa diminta mau berpaling melihat kebela
kang . Dijawab oleh Ki Tuwa sambil agak masgul. Ia memperingatkan jangan main ma
in me ngganggu orang 60

29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. yang sedang enak berjalan. Ki Bu
yut melanjutkan kata peningatan tahu rasalah nan ti Ki Tuwa menoleh kebelakang.
Bukan main takut Ki Tuwa melihat Puthut Jantaka t elah ada dibelakangnya. Wajahn
ya jadi pucat pasi, tak berdaya. Pasukan Mendhang ramai mengkhabarkan bahwa Ki T
ua si congkak itu telah mati disumbar Puthut Janta ka. Berita itu telah sampai d
imengerti oleh Baginda Mendhangkamulan. Raja Manguk uhan pergi kembali menuji ke
tempat Puthut Jantaka berada. Serta Baginda datang k embali, Puthut Jantaka bera
da serta Baginda datang kembali, Puthut Jantaka jadi cemas hatinya. Berdiri tega
k pun ia tak mampu, apalagi berlari. Ia duduk saja di tempat. Baginda telah tiba
, Ki Tua dapat direbutnya. Tubuh Ki Tua diangkut bersa ma. Puthut Jantaka duduk
mengujur ditanah. Baginda datang menghampiri Puthut Jan taka. Ia dicaci maki, di
a telah berbuat angkuh, mempertunjukkan keberanian didep an umum. Itu brakibat K
i Tua tak sadarkan diri karena ketakutan yang tak terhing ga. Puthut Jantaka ber
sikap honnat lagi takut kepada Baginda, sampai tak berani menatap muka Baginda.
Ia menyatakan sama sekali tak ada maksud berontak melawan Raja. Dia tetap patuh,
bersedia mennjalani segala perintahnya, bersikap sebagai sahaya. Suatu bukti ke
nyataan, dia tidak mau lari. Sebaliknya ia menyambut horma t kepada Raja. Karena
itu berjanji selanjutnya akan patuh setia kepada Baginda. Baginda menghargai si
kap baik dan Puthut Jantaka. Puthut Jantaka tetap diakui se bagai seorang hamba
sahaya yang baik budi, bersikap setia terhadap Baginda. Dia diberi tempat di Lam
ongan, dipercayai menjaga semua lumbung padi agar tiada mend erita kerusakan ata
upun berkurang. Bila terdapat para anak cucu Puthut Jantaka y ang berani menggan
ggu, merusak keselamatan lumbung, ia dibeni wewenang mengetrap kan pidana terhad
ap mereka. Dimana pun anak cucu berbuat curang, baik ditempat p enumbukkan, dilu
ar dapur, dihalaman, ditempat tempat tersembunyi, dijalan raya m aupun ditempat
sampah. Puthut Jantaka diserahi wewenang untuk membereskan. Ia me nyanggupi. Bag
inda mengingatkan kepada hamba sahaya diharap tertib hati hati dal am hal merawa
t beras. Bagi wanita yang sedang menanak nasi, jangan membiarkan na si bercecera
n diatastungku. Bila sedang menumbuk padi jangan dibiarkan beras ber ceceran dil
esung. Bila kebetulan mencuci beras, jangan sampai beras bertebaran, dimana mana
. Jika sedang angi, jangan sampai diiyan, terdapat nasi berceceran. K ecermatan
itu mendatangkan keuntungan. Maka ditekankan: berhati hati dan tertibl ah soal p
erawatan beras maupun padi. Kurang tertib dan hati hatinya perawatan be ras dan
padi akan berakibat mengganasnya hama padi. Ular sawah akan mengganas, m enjelaj
ah merusak tanaman padi. Ia hidup aman ditengah tengah tanaman padi. Sete lah me
ngelilingi sawah sampai merata, ular sawah tidur melingkar dipematang, akh irnya
mati. Kejadian itu diketahui oleh Baginda. Beliau sangat heran mengapa did

alam lumbung terdapat walungsungan ular (kulit ular yang mengelupas dari tubuhny
a) Saat sesudah matinya ular sawah, ditempat dekat bangkai kelihatan terdapat s
e orang wanita berparas cantik, secantik wajah bidadari, berseri bagaikan bulan.
S eolah olah terpisah dari kawan kawannya. 61

XIX. DHANDHANGGULO 01. Wanita itu masih dalam usia remaja. Tubuhnya memiliki ket
inggian yang memadai. Berpakaian serba lengkap. Berjamang (tambahan hiasan pada
kalung) berbentuk bunga jagung. Mengenakan mahkota nan indah, mengenakan penghi
a s telinga berbentuk kuswaraga. Ia mengenakan kain secara belum sempuma sebagai
ma na orang dewa memakai kain (pinjungan). Kain yang dikenakan berasal dari kain
su tera dengan hiasan aneka warna, bersubang emas. Senyum yang tersembul dari b
ibir sungguh manis. 02. Gelang yang dikenakan dibuat daripada emas, berukit ukir
. Su bangnya berbentuk bapang, dihiasi dengan intan berselang seling mirah, mena
mbah sinar keayuan. Baginda Mangukuhan tertegun, terpesona melihatnya. Betul bet
ul in dah paras sang Remaja. 03. Oleh Baginda remaja itu dihampiri seraya menyam
paikan tegur sapa penuh sopan, dengan kata kata yang manis. Baginda menghimbau a
gar ma u diajak bersama masuk keistana. Sang Kusuma Ayu menjawab sambil menyemba
h denga n hormatnya. 04. Ajakan Baginda disambut baik, puteri remaja itu tiada k
eberatan . Ia menandaskan: bila Baginda sungguh sungguh memengingini atas diriny
a dia mem ajukan persaratan, agar Raja bersedia sore dan pagi bercengkerama kesa
wah. 05. H abis menuturkan kata kata itu, putri. remaja musna dari pemandangan.
Baginda ama t menyesal atas peristiwa itu. Karena kecewanya Baginda mengajak ham
ba sahayanya kembali keistana. Setibanya diistana para hamba sahaya diperkenanka
n kembali ke rumah niasing masing. Sesudah itu kerajaan Mendhangkamulan menjadi
aman sentausa . Sangkan Turunan diizinkan kembali ke Medhang Agung. 06. Tak keti
nggalan, Belan g Wayungyang, Condromowo serta semua anak buah yang terjadi dari
bulu, pada saat bertempur dimedan perang, ikut serta semuanya. Alkisah, Bethara
Wisnu serta ist eri Dewi Sri lalu kembali ke Kahyangan. 07. Akhirnya kerajaan Me
ndhang lenyap. P enghuni seisi kerajaan menjadi roh halus. Kerajaan Mendhangkamu
lan mengalami kej ayaan sampai seribu limaratus tahun. 08. Sekali peristiwa Hyan
gGuru Nata bertakh ta diatas singgasana, dihadap oleh para putranya. Dari yang t
ertua Bethara Sambu lalu Bromo, Maha Dewa terakhir Yang Wisnu. Bethara Bromo ber
putra Bremani. Brem ani berputra Tri Trustha. Tri Trustha berputrakan Parikena.
09. Parikena berputr a Manumanasa. Bethara Bromo duduk dibelakang Hyang Pramesth
i Guru. Duduk dihadap an Hyang Jagad Nata adalah Yang Narada. Berturut turut keb
elakang : Yang Endra, Yang Bayu, Yang Candra, Hyang Penyarikan, kemudian Yang Te
mburu. 10. Hyang Giri Nata, mernpersoalkan mengenai Dipoyono yang selalu menggan
ggu para Dewa. Menggan ggu tata tertib. Membandel, tak suka rnengindahkan perint
ah dan petunjuk para De wa. Ia suka mandi mandi dikawah Candradimuka, yang ditak
uti dan disegani. Diperi ntahkan Yang Narada mau memberi peningatan. Yang Narada
tak sanggup memberi peri ngatan, karena itu atas kehendak Sang Hyang Wenang. 62

11. Begitu pula si Dupara, bersikap angkuh, sombong, merasa ialah yang terpandai
. Tabiatnya suka dusta, tidak mengindahkan ketertiban. Bethara Narada menyarank
a n agar Dipoyono dan Dupara diturunkan saja kebumi. 12. Sebaiknya dipisahkan da
ri Kahyangan dan dilepas kedudukannya sebagai Dewa, jadikanlah sebagai manusia b
ia sa. Tentang ini Yang Narada menghimbau agar Bethara Kamajaya merayu supaya re
la turun kemarcapada, mengasuh Manumanasa. 13. Dialah nantinya yang mengadakan k
etu runan sebagai raja dipulau Jawa. Telah tiba saatnya dia turun kemacapada. Me
ngen ai Dupara, Yang Narada menyarankan agar Yang Wisnu yang mengerjakan. Tempat
yang layak untuk Dupara sebaiknya diturunkan ke Atas Angin dinegeri seberang. D
isana ia ditugaskan mengajarkan tentang beberapa ilmu. 14. Hyang Pramesthi sanga
t men yetujui pendapat Yang Narada. Pendapat Yang Narada didukung sepenuhnya ole
h Hyan g Giri Nata. Pertemuan dipandang telah paripurna, lalu diperintahkan buba
ran. Ya ng Wisnu telah ditemui dan diberi tugas oleh Hyang Pramesthi. 15. Dupara
telah d itemui oleh Yang Wisnu. Dia diberi penjelasan, bahwa atas perintah dan
Yang Pram esthi, akan diturunkan kemarcapada ditanah Atas Angin. Disana ia diber
i tugas me nyempurnakan ilmu para brahmana yang kurang sempurna ilmunya. 16. Dup
ara tak dap at berbuat lain kecuali sedia menjalani kehendak Hyang Pramesthi itu
. Yang Wisnu segera menurunnkan Dupara ke Atas Angin. Selesai menyelesaikan tuga
s Yang Wisnu kembali ke Balai Marakata. Adapun Yang Narada menuju ke Kahyangan C
akra Kembang menemui Yang Kamajaya. 17. Disana Bethara Narada menyampaikan penin
tah dari Hya ig Pramesthi, yaitu Yang Kamajaya ditugaskan dapat merayu Dipoyono
untuk bersedi a diturunkan dimarcapada mengasuh Manumanasa. Dialah nantinya yang
berketurunan menjadi raja. Bila ia memajukan permintaan apapun supaya dikabulka
n. 18. Hyang N arada mengatakan, bila selesai menjalankan tugas itu, nantinya di
janjikan Dewi R atih akan dianugerahkan kepada Yang Kamajaya sebagai istri, untu
k balas jasanya. Setelah selesai menyampaikan perintah Yang Narada kembali ke Ka
hyangan Suduk Pe ngudal udal. Yang Kamajaya pergi menemui Dipoyono. 19. Dikataka
nnya bahwa Hyang Pramesthi telah menugaskan padanya bertemu muka, memusyawarahka
n mengenai perset ujuan dari Dipoyono untuk sedia diturunkan dimarcapada mengasu
h Manumanasa seket urunannya. 20. Dinyatakan : dialah yang nantinya akan berketu
runan sebagai raja raja. Dipoyono tak keberatan menerima kuwajiban itu, tetapi i
a memajukan persara tan. Persaratan yang diminta ialah : Hyang Pramesthi harus s
anggup mengabulkan d an mengadakan apa yang diinginkan dan diminta oleh mereka y
ang diasuhnya. 21. Bi la keinginan tidak diizinkan, pemiintaan tidak diadakan ma
ka ia akan naik ke Sur alaya. Suralaya akan diporak perandakan. Hal itu disanggu
pi oleh Hyang Kamajaya. Tetapi Kamajaya memberi saran supaya Dipoyono rela memil
iki wajah dan tubuh tid ak baik, dan menjadi manusia biasa, tidak sebagai Dewa.
22. Dipoyono menyatakan tidak berkeberatan Dipoyono minta diciptakan sesosok tub
uh yang jelek, selanjutn ya ia akan merasuk ketubuh itu. Kamajaya lalu mengambil
dhalung (periuk yang dib uat dan tembaga), dimanterai untuk dijadikan bentuk so
sok tubuh manusia. Sosok t ubuh manusia telah tercipta, segera Dipoyono merasuk
tubuh ciptaan tersebut, yan g jelek ujudnya. 63

23. Dipoyono lalu mengambil nama Semar, karena baik bentuk tubuh dan sifat keada
annya samar samar. Lagak ucapan dan suaranya pun berubah. Melihat segala peruba
h an yang tenjadi pada diri Dipoyono ke Semar itu, Yang Kamajaya tertawa geli. I
a menyetujui perubahan tersebut. 24. Semar minta dua orang teman, kepada Kamajay
a, mereka membapa padanya. Keduanya dapat dijadikan kawan mengasuh. Kamajaya lal
u mengambil kreweng (pecahan periuk) dan solet (alat pengaduk nasi tani) selanju
tn ya diberi mantera Kreweng berubah ujud menjadi orang, diberi nama Nala Gareng
. S edang solet berubah menjadi manusia diberi nama Dawala. 25. Dawala disebut j
uga Petruk, Kanthong Bolong. Yang Kamajaya dapat memenuhi permintaan Ki Semar. D
ua o rang itu diserahkan dan diterima oleh Semar. Setelah itu Yang Kamajaya kemb
ali k e Kahyangan. 26. Di Kahyangan Yang Kamajaya bertemu dengan Manumanasa. Yan
g Kama jaya menyatakan telah diperintah Hyang Pramesthi, menyampaikan berita per
intah H yang Pramesthi, turun ke marcapada. Dia disuruh nantinya meneruskan ketu
runan Ya ng Wenang menjadi raja raja di Jawa. Bagi dia diberikan pengasuh turun
ternurun, bernama Semar. 27. Manumanasa dapat menerima tunjukkan Yang Prarnesthi
, lalu di turunkan ke marcapada, dipuncak gunung Cipto Renggo atau Sapto Arga, d
idataran y ang luas. Ditumbuhi banyak batang kelapa, banyak terdapat mata air. D
isana terda pat banyak pemandangan yang mengasyikkan. Yang Kamajaya sesudah berb
incang binca ng lalu kembali ke Suralaya. 28. Sepergi Hyang Kamajaya kembali, Ma
numasa lalu b ersemadi. Dalam semadinya ia mendapat ilham: mengatakan bahwa ia d
apat menurunka n raja raja bila memilki istri. Maka berkatalah Manumasa kepada S
ernar mengenai ilham itu. Ia meminta agar Semar rnau mencarikan putri sebagai is
trinya. Semar m enyanggupi. 29. Ia pergi kehutan, berusaha rnenghubungi Dewa, mi
nta dikaruniai s eorang wanita yang cantik, yang nantinya akan dijadikan istri M
anumanasa. Dewa l alu menurunkan seorang bidadari yang cantik molek. Tetapi bida
dari itu merasuk t ubuh seekor singa, tiba didepan Semar. 30. Semar terperanjat,
lari tunggang lang gang menuju tempat Manumanasa. Dikatakan dikaki gunung Sapta
Arga ada seekor har imau, mengejar ngejar dia. Diharapkan Manumanasa suka menga
ngkat panah untuk dib idikkan kepada harimau tersebut. Tepat mengenai tubuh hari
mau, hilang musnah bad an singa, datanglah seorang bidadari cantik rupawan. 31.
Bidadari itu pergi meng hampiri Manumanasa. Ia segera disambut dibawa ketempat t
inggalnya. Disana keduan ya mengikuti gejolak ulah asmara. Akhirnya dianugerahi
seorang anak laki laki ya ng anggun tampan, diberi nama Bambang Sekutrem. Kemudi
an bidadari itu kembali ke Keinderaan. 32. Tinggallah Sekutrem bersama ayahnya y
aitu Manumanasa, dan diasu h oleh Semar dengan anak anaknya, Setelah dewasa Seku
trem minta izin ayahnya aka n mengembara menjelajah hutan hutan. Maharsi Manuman
asa mengizinkan. Semar denga n anak anaknya diperintah mengawal. Untuk tiga oran
g itu yang bertindak sebagai pengawal dan penghibur adalah Semar, Nala Gareng, d
an Petruk patuh mengikuti Sak utrem mencari wahyu raja 33. Dalam pengenbaraan me
ncari wahyu itu datanglah Yang Kamajaya menemui Bambang Sakutrem, menyampaikan w
ahyu. Oleh Hyang Pramesthi dis erahkan wahyu raja yang menguasai seluruh Jawa da
n Blambangan sampai Banten, Bal i, Madura dan Palembang dengan pusat kerajaan di
Pulau Jawa. 64

34. Setelah itu Hyang Kamajaya lalu kembali menghadap Hyang Pramesthi, melaporka
n bahwa perintahnya telah selesai dikerjakan. Hyang Pramesthi segera memberi pe
r intah kepada Yang Narada serta diikuti para Dewa, turun ke marcapada menciptak
an para manusia. XX. PANGKUR 01. Para Dewa lalu turun ke marcapada. Masing masin
g menciptakan empat puluh pasangan pria dan wanita. Ada yang cantik, tampan, bur
uk . 02. Ada yang ditempatkan digunung gunung sebagai Maharsi serta penganut yan
g b ertingkat tingkat kecakapan dan ilmunya. Ada puthut, cantrik, manguyu, serta
end ang (wanita kerabat pandita). Ada lagi yang ditempat tinggalkan didesa desa
seba gai petani. Mereka mengambil benih benih dari Mendhangkamulan. 03. Jangka
masa p ada waktu itu disebut Jaman Tirta. Pada jaman itu manusia hidup sealam de
ngan pa ra roh halus. Antara manusia dan roh halus saling dapat berhubungan pera
saan. Me reka yang telah meninggal, rohnya masih dapat bebubungan rasa dan karsa
dengan y ang masih hidup. 04. Orang dibumi dapat berhubungan rasa dengan penghu
ni di Surg aloka. Begitu pula sebaliknya. Hubungan rasa karsa itu dapat diadakan
dengan jal an bersemadi, penghening panca indera, melepaskan segala perasaan da
ri jasmani. 05. Pada Jaman Tirta manusia makan sekali sebulan. Manusia tahan hid
up dalam jan gka seribu tahun. Dari Jaman Tirta disambung Jaman Dupara. Pada jam
an itu manusi a tahan tiidup sampai lima ratus tahun. Manusia makan setengah bul
an sekali. Sam pai saat itu pandangan perasaan manusia peka dan tajam. 06. Sekal
i peristiwa Sak utrem dianugeralii penganut yaitu Puthut, Jejanggan, Cantrik, ma
nguyu dan endang . Sakutrem gembira hatinya. Ia lalu kembali menghadap ayahnya.
07. Sampai ditemp at ayabnya bertapa Sakutrem melapor kepada ayahnya, bahwa ia t
elah dianugerahiol eh Hyang Kaniajaya, bersifat : Puthut, Jejanggan, Cantrik, Ma
nguyu dan endang. 0 8. Sang Maharsi Manumanasa gembira hatinya, mendengar lapora
n dan putranya itu. Sekutrem bertanya kepada ayahnya kepada siapa ia minta jodoh
wanita yang layak m enjadi istrinya. 09. Dijawab oleh ayahnya mintalah petunjuk
kepada Semar. Ikutil ah segala nasihatnya. Sekutrem diajaknya masuk hutan, dise
rtai dua orang anak Ki Semar. 10. Ditengah hutan itu Semar bersmadi mengheningkan
panca indera, meminta kan kepadaDewa, wanita yang pantas menjadi pendamping dan
manusia kesayangan dan asuhannya, yalta Sekutrem. Yang Kamajaya mengabulkan per
mintaan tersebut. Ditur unkan bidadari dalam perujudan ular besar. Tiba didepan
Semar, ular itu menyeran g Semar dengan garang. Semar amat terkejut. Ia lari men
dekati Bambang Sekutrem. 11. Dia mengadu bahwa ada ular besar datang menyerang p
ada saat ia bersemadil. S emar minta agar ular itu dilepasi panah. Ular itu tepa
t terkena anak panah Bamba ng Sekutrem, matilah ia. Dalam sekejap mata bangkai u
lar itu hilang musnah, data nglah seorang bidadari yang molek rupawan. 12. Bidad
ari itu datang menghampiri B ambang Sekutrem. Bidadari itu menyerahkan diri, ber
sedia memenuhi segala kehenda k pria pujaannya. 65

Bambang Sekutrem pulang kembali dengan membawa bidadari karunia Dewa. Kepergiann
ya diikuti oleh Ki Semar dengan anak anaknya. 13. Oleh Manumanasa, anaknya: Sak
u trem dengan bidadari menantunya ditempatkan dibangunan yang terletak disisi pa
de pokannya. Kemauan Sakutrem mendapat seorang anak laki laki, yang tampan wajah
nya . Oleh kakeknya diberi nama Bambang Sakri. Setelah Sakri menjelang dewasa, B
idad ari meninggalkan Sekutrem, kembali ke Inderaloka. 14. Bambang Sakri bertemp
at ti nggal bersama ayahnya, dalam asuhan Semar dengan anak anaknya. Setelah dew
asa Ba mbang Sakri menghimbau kepada ayahnya untuk dicarikan seorang wanita, unt
uk dija dikan istri. Ayahnya lalu menyuruh agar mencari diantara anak putri rema
ja dari para Resi, Pandita, Pertapa, siapakah diantara mereka yang menjadi pilih
annya. 1 5. Bambang Sakri tak dapat menerima anjuran ayahnya itu. Sakutrem tetap
pada pen diriannya, Sakri disuruh mencari sendiri. Akhirnya Sakri meminta diri
kepada aya hnya, pergi masuk hutan disertai Ki Semar, Nala Gareng dan Petruk. 16
. Perjalana n Sakri naik gunung, tunun gunung, masuk jurang naik jurang, menyuru
k nyuruk hut an belukar, bagaikan tingkah ayam jalang ditengah hutan. Malam hari
melupakan ti dur, siang hari tak menghiraukan makan. 17. Alkisah kerajaan Tabel
a Suket rajany a bergelar Raja Partawijaya, seorang raja Agung yang disegani neg
eri negeri teta ngganya. Negeri itu sedang diserang mala petaka wabah penyakit.
Banyak hamba sah aya yang terserang. Diserang pagi sore meninggal, diserang peta
ng paginya mening gal. Baginda Partawijaya amat bersedih hati mengenang penderit
aan rakyatnya. 17a . Baginda mempunyai seorang anak putri bernama Ratna Widawati
, wajahnya cantik j elita. Pada suatu malam ditengah sedang tidur, ia bermimpi b
ertemu dengan seoran g pria jejaka nan tampan rupawan ditengah hutan. Pria itu b
ernama Bambang Sakri. 17b. Setelah mimpinya itu dikabarkan kepada ayahanda Bagin
da. Diterangkan pula dalam mimpinya telah terjadi ulah asmara main sanggama deng
an pria yang terdapat dalam mimpi tersebut. Putri Widawati dengan sangat mendesa
k kepada Baginda agar pemuda itu dicari. 17c. Ditambahkan penjelasan lagi, bahwa
dengan dapat ditemuk annya Bambang Sakri dibawa masuk keistana, malapetaka yang
meraja lela didalam n egeri akan musnah. Menanggapi uraian Ratna Widawati selur
uhnya, Raja Partawija t erbangkit hasratnya untuk mencari. Segera Baginda mengam
bil panah rantai emas, l alu terbang tinggi mengelilingi angkasa. Tiba tiba keli
hatan olehnya ditengah te ngah rimba raya ada teja (nut) Teja itu lalu dihampiri
. Ternyata setelah didekat i cahaya itu lalu lenyap. 18. Bekas tempat menghilang
nya cahaya terdapat Seorang ksatriya yang bagus wajahnya, dihadapannya duduk tig
a orang sahaya kesayanganny a. Baginda tergopoh gopoh menukik, terbang menuju sa
triya yang sedang duduk itu. 18a. Baginda menegur dengan kata kata sopan dan sua
ra lemah lembut. Sang Raja m enyatakan : mengapa kalian berada ditengah hutan be
lantara. Apa maksudnya, siapa namanya, serta dan mana asalnya. 19. Jawabnya : ba
hwa ia tidak mempunyai keingi nan barang sesuatu kecuali mencari jalan kearah ma
ti. Baginda menaruh rasa sanga t sayang. Kasihan orang setampan itu meninggal si
a sia ditengah hutan. Baginda m emberitahukan bahwa beliau adalah raja negeri Ta
bela Suket. 66

20. Sebutannya Sri Partawijaya, banyak negara tetangga yang berlindung dibawah n
aungan negeri Tabela Suket. Baginda mengutarakan bahwa beliau mempunyai putri y
a ng cantik molek parasnya, bernama Ratna Widawati. Pada suatu tengah malam dala
m keadaan tidur nyenyak, tiba tiba ia bermimpi bertemu dengan. seorang satriya n
an bagus. Diminta dengan sangat, ayahnya sudi mencarinya. Ia menyatakan dalam mi
mp inya itu telah teijadi ulah asmara. 21. Menurut ciri ciri yang diterangkan se
mua nya ada pada anda. Oleh sebab itu dengan rendah hati Baginda mengharap agar
Bamb ang Sakri sudi datang melihat dinegeri Tabela Suket. Apabila nantinya Ratna
Wida wati tidak menghendaki, Raja Partawijaya sanggup mengantar kembali ketenga
h rimb a ditempat semula. Bambang Sakri tetap pada pendiriannya, yaitu hanya men
gingink an mati. 22. Raja Tabela Suket tahu maksud sebenarnya yang terkandung da
lam hati Bambang Sakri yaitu ingin uji coba kesaktian. Karena itu segala permint
aan yang disertai rendah hati dan kata kata lemah lembut tiada diindahkan oleh B
anibang Sakri. Maka terjadilah adu kecakapan dan kesaktian. Kata kata jawaban da
ri Bamba ng Sakri dirasa bagaikan membakar telinga. 23. Bambang Sakni akan diter
kam, Sakr i menghindar hingga tangkapan tak mengenai sasaran. Raja Partawijaya k
ena tendan g lalu terjatuh. Belum sempat berdiri telah ditangkap dan dilempar sa
mpai jauh. Sakri melempar Raja Partawijaya dengan ringan, andaikan melempar sele
mbar kapuk. Raja Partawijaya merasa bahwa kecakapan serta kesaktiannya ada dibaw
ah lawan: M aka Baginda lalu rnembidikkan senjata rantai emasnya. 24. Setibanya
diatas istan a, Raja Tabela Suket terbang menukik, mendarat didepan istana. Kemu
dian keempatn ya dibawa masuk keistana. Didalam istana ikatan senjata rantai ema
s dilepas. 24a . Pada waktu Raja Partawijaya masuk istana putri Baginda Ratna Wi
dawati sedang d uduk duduk dilantai. Segera ia dipanggil, Ratna Widawati menghad
ap ayahanda, sam bil bersujud. 24b. Baginda menunjukkan kepada putrinya sambil b
ersabda : inilali putriku yang telah kukabarkan itu. Apabila tidak disukainya, m
aka Raja Partawij aya akan mengantar kembali ketempat semula. Serta Sakri meliha
t wajah Retno Wida wati hatinya sangat terpesona. Sakri amat berterima kasih ata
s kerelaan Baginda rnenyerahkan putrinya. 24c. Sri Baginda memerintahkan supaya
membawa Reno Widawa ti masuk ke kamar peraduan. Apa yang terjadi pada malam itu
tiada dikisahkan. Pa gi harinya Baginda mengadakan pertemuaa di balai Agung. 24d
. Dalam pertemuan itu Baginda rnengumumkan bahwa Bambang Sakri diangkat sebagai
Raja Muda yang nantin ya akan dinobatkan diatas takhta menggantikan ayah mertuan
ya. Pengangkatan itu d ikumandangkan ke negara negara tetangga. Payung tanda Raj
a Muda dikembangkan. Ke ajaiban alam dari mengembangkannya payung itu, wabah yan
g melanda kerajaan Tebel a Suket hilang musnah. Yang menderita sakit cepat menja
di sembuh. 25. Tersebutla h ceritera di Atas Angin, ada Pendita yang terkenal am
at banyak ilmu dan kesakti annya, Banyak para raja yang berguru tentang kekebala
n dan kesaktian, apalagi ul ah keprajuritan. Pendita itu bernama Dupara. 26. Pan
dita Dupara tahu bahwa di Ja wa ada seorang Pandeta termashur, bertempat tinggal
di Ciptorenggo. Pendeta itu bernama Manumanasa. Ia tak mau berguru kepadanya. O
leh sebab itu Pandita Dupara rnasgul hati. 67

27. Pandita Dupara menghasut para raja agar bersama sama menyerang pandita dipul
au Jawa yang bernama Manumanasa karena tak mau tunduk berguru kepada Pandita Du
p ara di Atas Angin. 28. Pandita Dupara mendirikan perguruan yang mengajarkan il
mu kekebalan serta kesaktian. Para raja yang telah berguru kepada Pandita Dupara
, mendukung kehendak. gurunya. Para raja segera menyiapkan pasukan lengkap denga
n persenjataannya. Pada hematnya tak akan mendapat kesukaran menyerang Jawa. 29.
J alannya pasukan berbondong bondong. Sekeliling gunung Cipto Renggo telah dike
pun g ketat. 30. Sang Maharsi Manumanasa tahu bahwa tempat pertapaannya telah si
ap d ijaga untuk diserang, lalu memanggil putranya Sekutrem. Putranya diberi tah
u bah wa pertapaannya Cipto Renggo terancam bahaya, dari serangan Pandita Dupara
beser ta pengikutnya Raja raja dari Atas Angin. 31. Bambang Sakutrem mengindahk
an sega la perintah dan petunjuk ayahandanya. Ia menyiapkan diri dengan pasukan
Cantrik, Puthut, Manguyu serta Jejanggan. Setelah siap semuanya, Sukutrem minta
doa rest u untuk memimpin pasukannya, dibawa turun kekaki gunung Disana kelihata
n bahwa t empatnya telah terkepung musuh yang siap dengan senjata ditangan masin
g masing. 32. Bambang Sakutrem lalu berdiri tegak, mengheningkan cipta memusatka
n pancaind era, mohon bantuari dari Dewa dalam serangan perlawananya terhadap mu
suh. Maka t urunlah hujan batu disegenap penjuru medan pertemputan. Hancur lebur
lah pasukan lawan terkena serangan hujan batu. Tak ada seorang pun yang dapat lo
los dari ser angan hujan batu. 33. Kemudian berturut turut datang menyerang banj
ir besar dan topan badai. Akhirnya Dupara dan segenap pengikutnya hanyut dilanda
banjir dan t erpental diembus topan badai sampai dinegeri masing masing, tiada
seorang pun ya ng ketinggalan. 34. Tersebutlah kisah ceritera mengenai Raja Tebe
la Suket yang s edang tertarik perhatiannya terhadap Sang Maharsi di Cipto Rengg
o, termashur san gat tekun menjalani tapanya. Baginda menetapkan pendiriannya, u
ntuk pergi bergur u. Segera Baginda terbang menuju Cipto Renggo. 35. Dalam perja
lanan Baginda meng alami kebingungan. Tak tahu arah mana yang harus ditempuh. Ba
ginda lalu menukik kebawah, tepat dipertapaan Sang Dupana. Begawan Dupara kebetu
lan sedang duduk du duk. Melihat kedatangnnya seseorang lalu disambut tegur sapa
. 36. Baginda menyat akan bahwa ia adalah Raja Tebela Suket bergelar Partawijaya
. Maksudnya hendak me nuju pertapaan Cipto Renggo dipulau Jawa. Sayang ditengah
perjalanan Baginda men derita kebingungan. Maksud dan tujuan Baginda ingin bergu
ru kepada Sang Begawan Cipto Renggo. Baginda minta petunjuk jalan arah mana yang
harus diternpuh, menuj u pertapaan Cipto Renggo itu. 37. Karena kebingungannya
Baginda datang minta per tolongan. Atas kekhilafan tersebut, Baginda dengan rend
ah hati meminta maaf. San g Begawan mempersilakan berhenti sejenak. 38. Ia memer
intah kepada para sekabat menyiapkan jamuan buat Baginda. Dengan sengaja Begawan
Dupara mementaskan mukjij at keajaiban Hidangan telah tersajikan pindang kambin
g yang telah disajikan diat as piring besar, piring sajian, dapat tegak kembali
dan lari lari. Lalu diganti dengan pindang ayam jantan, juga dapat berdiri lagi
sambil berkokok kokok. 68

39. Melihat peristiwa itu Baginda Tebela Suket tercengang cengang, memuji keajai
ban yang terjadi dipertapaan Dupara. Maka terlontarlah kata kata hinaan ditujuk
a n ke Cipta Rengga. Dikatakan mana ada keajaiban seperti yang terjadi itu terda
pa t di Cipto Rengga. Apalagi disana, adalah daerah pegunungan. Mustahil dapat m
eng imbangi di Atas Angin. 40. Baginda Tebela Sukt, lalu beralih. pandangan, tid
ak j adi berguru di Cipto Rengga, melainkan akan berguru kepada Begawan Dupara.
Tempa t Begawan Dupara, Raja Partawijaya diberi macam macam ilmu kejayaan dan ke
saktia n. 41. Sesudah mengetahui betul betul Raja Partawijaya berguru lahir maup
un bati n kepada Begawan Dupara, maka Dupara lalu memerintahkan Sri Partawijaya
menemui Sang Manumanasa, diminta baginya mau rnenyerah tunduk kepada Begawan Dup
ara. Bil a tidak mau, Raja Partawijaya diizinkan membunuhnya. Dia dipandang meng
ganggu te gak berdirinya pertapaan Dupara. 42. Setelah perintah dan petunjuk dit
erima, ber angkatlah Sri Partawijaya menuju Cipto Rengga. Beralih ceritera tenta
ng Bambang Sekutrem. Sehabis menumpas musuh, bermaksud mencari putranya Bambang
Sakri. 43. Bambang Sakri minta kawin. Oleh ramanda : Sekutrem, diizinkan mencari
sendiri pu tri yang diidamkan. Sakri minta restu dari ayahnya, pergi masuk huta
n. Sekutrem mencari ditengah hutan. Ditengah hutan Sekutrem bertemu dengan Raja
Partawijaya 44. Raja Partawijaya berkakak kepada Sekutrem, Sekutrem beradik kepa
da Raja Part awijaya. Raja Partawijaya menanyakan, adakah penganggapan sebagai s
audara tua it u dapat diterima oleh Sekutrem. Dijawab setuju oleh Sekutrem. Part
awijaya mengha rap semoga keakraban bersaudara itu lestari sampai akhir hayat. X
XI. MEGATRUH 01 . Diulang lagi pertanyaan Raja Tebela Suket Apakah sungguh sungg
uh Sekutrem mau mengulurkan tangan ajakan itu. Dijawab Lahir batin Sekutrem dapa
t menerimanya. 0 2. Perjanjian telah mengikat keduanya. Partawijaya mengutarakan
maksud atas peni ntah Pandita Dupara, datang ke Cipto Rengga, minta agar Mahars
i Manumanasa mau m enyerah kepada Pandita Dupara. 03. Dalam hal ini Sekutrem tid
ak menyetujui sebab itu adalah ayahanda. Namun Partawijaya sudah terlanjur menya
nggupi. Sebab itu i a tak dapat merubah kesanggupan Kalau demikian tak usah data
ng digunung cukup di sini saja. Toh nanti digunung Cipto Renggo tetap akan berha
dapan dengani Sekutre m. 04. Raja Partawijaya siap siap, a menyingsingkan lengan
baju, Sekutrem akan di serangnya. Raja Tebela Suket dikatakan gerak geriknya men
akutkan seperti raksasa . Seketika itu juga Sri Partawijaya berubah sifat menjad
i raksasa, berambut teba l ikal. Ia pun menyesal, menangis sejadi jadinya. Tingk
ah lakunya menggaruk garu k tanah dengan menggunakan tangannya. 05. alu dikataka
n oleh Sekutrem tingkah la ku Partawya menyerupai babi hutan. Berubah lagi tubuh
Tebela Suket menjadi babi hutan. 06. Melihat perubahan bentuk badan yang kedua
kalinya, ia sangat takjub. Ia merasa malu. Baginda Partawijaya menyatakan sangat
bertaubat kepada Sakutrern . Dia mengharap tubuhnya dapat diubah kembali sepert
i semula. 6a. Diharap dengan sangat belas kasihanmu dari Sang Sekutrem agar mau
69

merubah wajah yang sekarang, kembali rnenjadi wajah manusia. Tidak bermoncong. R
aja Partawijaya berpendapat tiada orang lain yang mampu memulihkan kembali berw
a jah manusia keculi Sang Sekutrem. 07. Sekutrem menaruh sangat kasihan terhadap
R aja Partawijaya, setelah berwajah babi hutan. Atas manteranya yang diucapkan,
wa jah Raja Partawijaya berubah menjadi wajah manusia kembali seperti semula. B
agin da sangat berterima kasih. 08. Sekutrem menceriterakan kisah perjalanannya.
Sebe narnya Ia adalah putra dari Maharsi Manumanasa. Ia terpaksa rneninggaikan
ayahan danya, karena mencari putranya bernama Bambang Sakri : Ia telah lama meni
nggalka n pedhepokan. 09. Raja Partawijaya berganti mengkisahkan. Sejak putrinya
bernama Retno Widowati bermimpi sampai dengan Bambang Sakri diangkat sebagai Ra
ja Muda dinegeri Tebela Suket, dengan gelar Prabu Anom. 10. Baginda Partawijaya
menyatak an : kanda tak usah mencari, menyusul ke Tebela Suket. Raja Partawijaya
sendiri akan menjalankan penyerahan rnenantunya Bambang Sakri, putra Sang Sekut
rem juga diikut sertakan putrinya sendiri : Retno Widowati sebagai menantu Resi
Sekutrem. 11. Pertemuan akrab diawali dengan kehangatan telah berakhir. Raja Par
tawijaya minta diri dan minta restu dan Sang Sekutrem. Baginda terbang menuju ne
gerinya. Baginda singgah menemui Begawan Dupara di Atas Angin. 12. Beliau mengis
ahkan apa yang dialami oleh Raja. Meski dalam kekecewaan Dupara tak dapat berbua
t sesuatu pun. Raja Partawijaya kemudian minta diri kepada Pandita Dupara, selan
jutnya ke mbali kenegeri Tebela Suket. 13. Tiba diistana, setelah istirahat seje
nak Bagind a memanggil putrinya : istri Prabu Anom. Baginda menceriterakan segal
a pengalama nnya dalam perjalanan. Sesudah itu Baginda memerintah putrinya supay
a siap siap, ia beserta suaminya akan diantar mengunjungi mertuanya, yaitu Sang
Sekutrem put ra Maharsi di Cipto Renggo. 14. Baginda sendiri bermaksud mengantar
kan putra men antunya berdua kebukit Cipto Renggo. Raja Partawijaya memberi peri
ntah mengatur pasukan guna mengantar Prabu Anom. Pasukan telah siap. Baginda mem
beri isyarat b erangkat. 15. Baginda sendiri ikut serta mengantar ke Cipto Rengg
o. Setelah siap berangkatlah keluarga istana Trebela Suket. Perjalanannya melalu
i angkasa. 16. Perjalanannya laju sebentar kemudian tibalah di Cipto Renggo. Dis
ana dijemput ol eh Sekutrem, kemudian bersama sama menghadap Sang Maharsi Manuma
nasa. 17. Mahars i Manumanasa menyambut dengan hormat kedatangan Raja Trebela Su
ket. Baginda diaj ak duduk bersama. Cucunya berdua duduk bersujud kepada kakekny
a. Sang Maharsi me merintahkan menghidangkan jamuan untuk Bagind. Setelah bersuj
ud Sekutrem dan put ranya, meninggalkan Maharsi. 18. Raja Pantawijaya minta mene
tap sementara dipade pokan, untuk mendapatkan didikan ilmu kecakapan dan kesakti
an. Baginda telah men erima banyak ilmu dan kecakapan. Ilmu mengenai asal mula d
an tujuan kehidupan te lah juga diajarkan. 19. Setelah cukup mendapat ilmu Bagin
da memohon izin serta p ertimbangan Sang Maharsi untuk rnenobatkan Sakri sebagai
Raja dinegeri Trebela S uket. 20. Baginda Partawijaya selanjutnya akan tekun be
rguru. kepada Sang Yogi M anumanasa digunung Cipto Renggo. Mendengar pernyataan
Partawijaya itu 70

Pandita Manumanasa tersenyum, merasa disanjung sanjung. Sang Yogi. menyatakan te


rima kasih. 21. Pandita Manumanasa berkata kepada Raja Partawijaya, minta agar
S akri tetap bertempat tinggal di Jawa. Adapun buat Baginda sendiri dipersilakan
k embali kenegerinya Tebela Suket. Diharap menyebarluaskan ilmunya. 22. Raja Pa
rta wijaya akhirnya menerima baik petunjuk Sang Manumanasa. Baginda menyerahkan
Sakr i beserta istri Ratna Widowati untuk mendapatkan bimbingan dan petunjuk 23.
Bagi nda lalu minta diri kepada keluarga Cipto Renggo, kembali beserta penggawa
lnya k e Tebela Suket. Sakri dan Retno Widowati hidup damai aman sentausa membin
a kerum ah tanggaan. XXII. PUCUNG 01. Hidup Sakri dengan istrinya selalu rukun.
Segala p ersoalan dipecahkan senantiasa dengan musyawarah. Mereka berdua dapat m
enikmati suasana di Cipto Renggo. 02. Alam Cipto Renggo sungguh mengasikkan. Poh
on pohona n berbuah tiada keputusan. Sampai sampai banyak beruntuhan tiada diuru
si. Bunga bungaan pun beraneka warna. 03. Putri Widowati kerap kali turun kesawa
h melihat lihat adanya tanam tanaman yang diusahakan oleh : Cantrik, Manguyu, Ph
uthut, Jaj anggan. 04. Peninjauannya disawah Ratna Widawati selalu diantar oleh
Sakri. Samp ai petang baru mereka pulang. Kemudian dari perkawinan Sakri dan Ret
no Widowati itu dikaruniai seorang putra. 05. Wajahnya anggun. Ayah bundanya san
gat cinta ka sih sayang. Putranya diberi nama Polosoro. Lama lama sampailah Polo
soro mencapai usia dewasa. 06. Sekali peristiwa Manumanasa didatangi dua orang D
ewa yaitu Yan g Sambu dan Yang Kamajaya.. 07. Kedatangan kedua Dewa itu menyampa
ikan panggilan bagi Maharsi Manumanasa, Sekutrem, Sakri dan Retno Widowati agar
pindah ke Inde raloka. 08. Pandita Manumanasa beserta putra, cucu dan menantu Re
tno Widowati me ngindahkan panggilan Dewa. 09. Manumanasa mencurahkan kepercayaa
n penuh kepada S emar untuk membina cicitnya Polosoro. Buruk baik terletak ditan
gan Semar. 10. Se sudah cukup meninggalkan pesan kepada Semar, keempatnya berang
kat naik ke Indera loka. 11. Polosoro tinggal seorang diri di Cipto Renggo. Ayah
bunda dan kakeknya telah tiada. Ia jadi tidak tahan menetap di Cipto Renggo. Di
a mengajak Semar da n anak anaknya turun dari gunung, masuk hutan. 12. Dalam per
jalanan ia menemukan sebuah bekas batang jati yang telah ditebang. Dan tunggak j
ati itu, tumbuh bata ng batang baru. Dia menentukan pendapat, tempat itu akan di
jadikan tempat bertap a. 13. Ki Semar dan anak anaknya menjaga diluar dholog (ba
tang jati yang masih k ecil) yang tumbuh dan tunggak jati tersebut. 14. Tersebut
dalam ceritera, Dewi D urgandini, putri Raja Mardewa, menderita penyakit, badan
nya berbau amis. Ia sang at malu. 71

15. Bersama sama pembantu setianya, Dewi Durgandini meninggalkan istana secara d
iam diam pada tengah malam. Hidupnya mengembara dalam keadaan merana. 16. Perja
l anannya terhalang oleh sungai besar, didekat pantai lama nian Dewi Durgandini
me nunggu ditepi sungai itu. Lama lama kelihatan hanyut sebuah perahu kosong len
gka p dengan pengayuhnya. Perahu itu dikait, lalu diambilnya. 17. Dewi Durgandin
i di sertai embannya naik keatas perahu. Durgandini memegang tongkat pengemudi,
emban yang memegang kayuh. 18. Keduanya menjalankan perahu hilir mudik siang mal
am ti dak tidur. Jika ada orang terhalang dalam perjalanan, dipersilakan naik pe
rahu t anpa dipungut biaya. 19. Begitulah pekerjaan Durgandini tiap hari, member
i perto longan kepada siapa pun yang terhalang perjalanannya. Pada malam harinya
mereka berhenti sambil tafakur, mohon ampun kepada Dewa Maha Tunggal semoga pen
yakitnya dapat sembuh. 20. Bila ternyata penyakitnya tak dapat sembuh, ia rela m
ati dite lan air sungal. Dan penyakitnya itu Dewi Durgandini merasa sangat mende
rita. 21. Alkisah, Polosoro telah lama menjalani tapa diatas tunggak jati. Kemud
ian turun lah dari Inderaloka Hyang Pramesthi Guru bersama Hyang Narada. Kedatan
gan mereka berujud burung pipit jantan betina. Mereka memasang sarang diataskepa
la Sang Ta pa. 22. Rambut Polosoro penuh dengan bahan baku sarang burung pipit b
eterbangan disekitar sarangnya. Dengan mengintip intip Semar berusaha menangkap
sepasang bu rung pipit itu. 23. Pada waktu Semar menangkap burung itu, terperanj
atlah Poloso ro, merasa kepalanya dipegang dan rambutnya ditarik. Polosoro berta
nya kepada Se mar, mengapa ia berbuat begitu. 24. Semar menceriterakan adanya bu
rung pipit yan g bersarang diatas kepala Polosoro serta akan ditangkap, sepasang
burung tersebu t terbang dan hinggap dipohon kesambi. 25. Palasana menghentikan
tapanya ia meng ambil panah. Kedua burung itu dibidiknya. Sebelum anak panah it
u dilepaskan sepa sang burung itu telah terbang pergi. Berulang kali setiap Polo
soro rnembidikkan panah, sebelum anak panah dilepaskan, burung itu telah terbang
pergi ketempat la in. Hati Polosoro jadi penasaran. Kemana saja burung itu terb
ang, selalu diikuti . 26. Lama lama pengejarannya terhalang oleh sungai. Silugan
gga si Burung pipit masih nampak hinggap disehuah pohon diseberang sungai. 27. P
olosoro mondar mandi r mencari perahu yang mau menolong menyeberangi sungai Gang
ga. Tiba tiba Polosor o melihat sebuah perahu segera dipanggil, pengemudinya dim
inta tolong mengantark an diseberang sungai. 28. Pengemudi menyanggupi Polosoro
serta pengikutnya naik diatas perahu. Diatas perahu itu Polosoro mencium bau bus
uk. Ia bertanya bau apa kah yang dirasakan itu. 29. Durgandini menyatakan bau bu
suk itu ditimbulkan oleh penyakit yang mengendap pada tubuhnya. Dewa memberi isa
rat bahwa untuk rnenghi langkan bau busuknya ia harus rela menjadi pengemudi pe
rahu memberi pertolongan menyeberangkan siapa pun yang membutuhkan, nantinya aka
n hilanglah bau busuk yan g terdapat pada tubuhnya. 72

30. Polosoro bersedia usaha menolong menghilangkan penyakit Dewi Durgandini. Dur
gandini dimandikan tiga kali sambil membaca mantera. 31. Kemudian hilanglah bau
busuk yang selama itu mengendap pada tubuh Durgandini. Ia pun berubah wajalmya
m enjadi cantik molek. Cahayanya bagaikan sinar bulan purnama. Bau badannya beru
ba h menjadi harum semerbak. Polosoro tercengang dan kagum melihat perubahan itu
. 3 2. Dalam perahu tersebut Dewi Durgandini menjadi juru mudi, duduk didepan. E
mban sebagai tukang dayung. Polosoro dan pengikutnya duduk ditengah tengah perah
u. 3 3. Polosoro mengamati gerak gerik Dewi Durgandini. Hatinya sungguh terpeson
a. Ti ba ditengah sungai, datanglah air pasang. Perahu menjadi miring kedudukann
ya, ak hirnya terbalik. 34. Sebelum tenggelam Putri Durgandini dapat dikait oleh
Poloso ro, diangkut dibawa menepi. Pada waktu mengangkut ketepi air kama (main)
dari Po losoro jatuh dan hanyut diair. 35. Emban ditangkap Ki Semar dibawa mene
pi. Setib a diseberang sungai kalian beristirahat dibawah batang kesambi, sambil
mencari d ua burung pipit yang mereka buru. Namun burung pipit telah tiada. 36.
Konon bau busuk yang mengendap pada tubuh Dewi Durgandini larut hanyut diair la
lu diperebu tkan oleh ikan ikan sungai dan ikan laut. 37. Menjadi mangsa: badher
, uceng, uda ng, palung, kepiting. Kama yang jatuh diair, menjadi perebutan lima
ekor ikan. 3 8. Dibawah batang kesambi itu Dewi Durgandini bersujud kepada Polo
soro. Karena s angat sedih ia menderita sakit aneh itu, ia mengeluarkan sumpah j
anji. 39. Sumpa h janji itu berbunyi : Barang siapa dapat rnenyembuhkan penyakit
nya, bila seoran g wanita akan dijadikan sahabat. Bila seorang pria ia akan meny
erahkan diri, sed ia menjadi abdi setia, sanggup menjalani perintahnya, meski se
lama hidup sekalip un. 40. Mendengar janji ucapan Durgandini itu, Polosoro bangg
a sekali. Ia tegak berdiri memandang kearah sekitarnya. Dia dapat melihat pemand
angan yang amat lua s. Terdampar dataran luas apalagi subur tanahnya. 41. Keinda
han pandangan disitu sukar mendapat tolok bandingnya. Disebelah selatan disebela
h utara terdapat sam udera. 42. Polosoro berdoa agar sifat hutan rimba itu berub
ah, menjadi tempat ya ng dapat didiami manusia. Juga ia menciptakan sebuah neger
i yang elok. 43. Terka builah apa yang diminta oleh Polosoro. Hutannya berubah m
enjadi negeri serta ist ana dengan bangunan sangat megah. Tiada bangunan istana
semegah negara dan istan a yang diciptakan oleh Polosoro. Benda benda kebesaran
kerajaan lengkap sempuma. 44. Dalam negeri itu banyak terdapat ragam bunga bunga
an. Rumah rumah dibangun berdekatan semua berpagar batu bata. 45. Bangunan Balai
Pagelaran bangunan disek itar alun alu sangat menarik. Dapat dimisalkan Balai J
onggring Salaka diturunkan ke Marcapada. 46. Sesudah istana sempurna diciptakan,
Polosoro mengajak Dewi Du rgandini dan Semar beserta anaknya menyaksikan keadaa
n bangun bangunan istana. K i Semar dan anak anaknya melihat lihat bangunan bang
unan diluar. Dewi Durgandini dipersilakan melihat lihat kamar didalam istana. 47
. Tiba diruang peraduan Dewi Durgandini dipersilakan menikmati keindahan banguna
n, sambil melepaskan lelah. Pada saat melihat lihat keindahan ruang peraduan itu
, Polosoro sempat mengamati bentuk tubuh Dewi Durgandini. 73

Terbangkitlah nafsu birahinya. Dalam kesempatan itu Polosoro dan Dewi Durgandini
menggunakan ulah asmara, main sanggama. 48. Selewatnya saat itu Polosoro pergi
keluar menemui Kyai Semar. Kepada Ki Semar dia minta pertimbangan. 49. Apakah ge
rangan nama yang pantas diberikan untuk negeri yang habis saja diciptakan yang
m emiliki istana indah, didepan terdapat laut dan pelabuhan yang besar, dibagian
b elakang terdapat pegunungan yang indah pemandangannya. 50. Ki Semar menjawab
min ta tangguh sebab lebih dahulu akan mencari orang sebagai saksi pemberian nam
a. K i Semar pergi ketepi Sungal Silugangga. 51. Terdapat disana empat orang lak
i lak i dan seorang wanita. Ki Semar datang menemui kelima orang tersebut. 52. K
elima orang itu menyambut kedatangan Kiai Semar. Mereka menanyakan mengapa seora
ng dir i datang ditepi sungai Gangga. 53. Kyai Semar memberitahukan namanya. Ia
rnenera ngkan berasal dari desa Manatahu sebaliknya Semar bertanya apa maksud ka
lian ber kumpul ditepi sungai Silugangga. 54. Jawabnya : mereka berasal dari dal
am air. M ereka adalah anak anak dan binatang air. Kedatangan mereka ditepi sung
ai, mencar i pertolongan orang yang mampu memberi nama bagi mereka. 55. Apabila
Kyai Semar yang mampu memberi nama mereka masing masing akan mengabdi kepadanya.
Akan berse dia sehidup semati. 56. Mereka akan mengikuti kembali kerumahnya did
esa Manatahu sebagai hamba sahayanya. Kyai Semar rnenyanggupi. Lima orang terseb
ut diminta a gar mengikuti kedesa Manatahu, disana mereka akan diberi nama. 57.
Tak lama kemu dian tibalah kembali Kiai Semar didepan Sang Polosoro, diikuti ole
h lima orang. Polosoro menegur siapakah lima orang pengikut itu, nampak gagah pe
rkasa lagi cak ap cekatan sikapnya. 58. Diterangkan oleh Kiai Semar, kelima oran
g diantaranya s eorang wanita ini berasal dari dalam tirta. Mereka adalah keturu
nan dari ikan, j uga mina tirta. 59. Mereka muncul kedarat untuk mencari keteran
gan, siapakah ger angan yang mampu memberi nama yang layak bagi mereka. Bila ber
hasil mereka akan mengabdi kepadanya. 60. Polosoro rnenyanggupi pemintaan mereka
. Mereka telah pua s atas pemberian nama bagi kalian. Selanjutnya merekapun meng
abdi kepada Sang Po losoro. XXIII. SINOM. 01. Kelima orang itu menyampaikan teri
ma kasih sedalam dal amnya. Sang Begawan minta diceriterakan siapa yang menurunk
an kalian. Maka masin g masing memberikan keterangannya. Yang tertua menyatakan
ibunya adalah ikan bad her. 02. Orang yang kedua menyatakan ibunya adalah seekor
ikan palung. Adiknya l agi ibuny adalah seekor ikan uceng. Sesudah itu menyatak
an bahwa ibunya, adalah ikan hiu, yang terakhir menyatakan bahwa ibunya adalah s
eekor kepiting. Menurut ceritera para ibunya trjadinya mereka : itu pada mulanya
ada seorang putri yang rnengendarai sebuah perahu. Pada waktu perahu itu sampai
ditengah tengah sungai datanglah airbah. Perahunya menjadi terbalik. Dalam pera
hu itu 74

ada seorang penunipang lelaki. Pada kecelakaan itu melompat ia. Air kamanya jatu
h kedalam air. 03. Kama itu bercampur dengan bau busuk, lalu menjadi perebutan
i kan ikan ibu masing masing, sehingga air kama itu habis dimakannya. Sampai sek
ia n ceritera itu disampaikan, Polosoro terasa didalam hati. Ia pun segera menya
tak an bahwa sesungguhnya mereka itu adalah putra dan putri dari Sang Begawan. 0
4. O leh sebab tu oleh Polosoro diminta agar mereka bersujud kepadanya. Setelah
merek a masing masing bersujud, Sang Begawan berkata kepada kalian. Mereka lalu
diberi nama masing masing. Anak dari seekor badher diberi nama Rupakencoko. Anak
dari seekor palung diberi nama Bimokenco. 05. Putra dari seekor uceng diberi na
ma Ken coko. Anak dari seekor hiu diberi nama Rojomolo. Anak dari seekor kepitin
g diber i nama Swagandini. Begawan Polosoro memberikan nama negara yang baru saj
a dicipt akan : Negara Astina. 06. Rupokenco, Bimokenco, Kencoko, Rojomolo bersa
ma sama m enyampaikan hormat dan terima kasih atas pemberian nama itu demikian j
uga Swarga ndini, Mereka sangat. memuji pemberian nama negara itu. Negara Astina
07. Pada t engah mereka berbincang bincang itu datanglah seorang putra raja Mal
dewa yang be rnama Durgandono. Ia duduk menghadap Sang Polosoro dengan hormat la
gi khidmat. M elihat kedatangan Durgandono itu, sebelum ia mengatakan sesuatu le
bih dahulu tel ah dirangkul oleh Durgandini seraya menangis 08. Dewi Durgandini
merangkul adikn ya : Durgandono itu sambil meneriakkan nama adiknya. Melihat per
istiwa itu berta nyalah Polosoro kepada istrinya: mengapa. ia merangkul seorang
tamu itu sambil m enangis. Dijawab oleh Dewi Durgandini bahwa tamu itu adalah ad
iknya bernama Durg andono putra dari Raja Maldewa. 09. Polosoro lalu memberikan
salam kedatangan Du rgandono. Ia menanyakan apa maksudnya datang dinegeri Astina
. Durgandono bersuju d kepada Polosoro lalu mengutarakan apa maksud kedatanganny
a. Ia mencari kakak p erempuannya yang telah pergi meninggalkan istana Maldewa t
idak dengan sepengetah uan ayahandanya. Kepergian kakaknya itu terjadi pada mala
m hari. 10. Para prajur it serta hamba sahaya dinegeri Maldewa telah disebar kes
egala arah untuk mencari kakaknya Dewi Durgandini namun tiada juga berhasil. Kin
i ternyata didapati ada di Negeri Astina. Maka Durgandono menanyakan bagaimana a
wal mulanya. Polosoro me mulai ceriteranya. Paaa waktu yang telah silam, Durgand
ini mengalami pekerjaan s ebagai juru mudi perahu disungal Silugangga. Pada wakt
u itu ia menderita sakit. Tubuhnya berbau busuk (amis). 11. Polosoro memberikan
pengobatan kepada Dewi Dur gandini. Penyakit Dewi Dirgandini berhasil dapat dise
mbuhkan. Bahkan wajahnya be rubah menjadi cantik jelita. Akhirnya Dewi Durgandin
i dipersunting menjadi istri nya. Pada waktu itu Durgandini telah dalam keadaan
hamil. Tibalah saatnya Durgan dini melahirkan seorang putra. Putra itu berwajah
tampan lalu disambut oleh Bega wan Polosoro. 12. Putra itu segera dimandikan ses
udah itu diambil dengan kain. y ang dipakainya. Polosoro berkata kepada Durgando
no ia diserahi dan menjaga tempa t itu bersama kakak perempuannya Durgandini. Be
gitu pula kepada Rupokenco besert a akik adiknya. 75

13. Ia bermaksud akan pergi masuk hutan putranya ikut dlibawa pergi. Dia berusah
a agar jangan sarnpai ada orang yang menyusul. Kyai Semar dan anak anaknya ikut
mengantarkan. Anak bayi itu oleh Polosoro diberi nama: Birowo. Pada usia dewasa
ia bernama Abiyoso. 14. Polosoro melanjutkan bertapa ditengah hutan. Sekali per
i stiwa Polosoro dipanggil oleh Sang Yang Jagad Pratingkah naik ke Inderaloka a b
er pesan kepada Semar : ia diharap sudi mengasuh anak tersebut sampai dewasa. Se
sud ah itu Polosoro meninggalkan Marcapada menuju Suralaya. 15. Polosoro berpesa
n ke padaSemar, jangan sampai memberitahukan mengenai hal kepergiannya itu. Dia
tetap akan membantu dari surga. Semar mengindahkan segala amanat dari Polosoro i
tu. 1 6. Tersebut dalam cenitera Durgandono yang diserahi menempati serta menjag
a ista na karena telah lama meninggalkan ayahnya Raja Maldewa. Durgandono ingin
menengo k ayahnya. Kepergiannya diikuti oleh Durgandini, Bimokenco, Kencoko, Roj
omolo. S edang saudara tertua yaitu Rupokenco diserahi menjaga negeri. 17. Terse
butlah da lam ceritera Negeri Maldewa. Pada waktu itu didatangi oleh pasukan mus
uh. Bersam aan dengan itu datanglah Durgandono bersama sama kakak perempuannya D
urgandini 1 8. Durgandini diantar oleh Bimokenco, Kencoko, Rojomolo. Tiba dihada
pan Raja Mal dewa, Durgandini segera bersujud seraya menangis. Selanjutnya datan
g pula Durgan dono berbakti kepada ayahnya. 19. Raja Maldewa bertanya kepada Dur
gandono, diman akah kakak putrinya Durgandini diketemukan. Lagi pula ditanyakan
siapakah seoran g putri remaja yang datang bersama sama itu. Durgandono lalu men
ceriterakan kisa h lolosnya kakak wanitanya. Ia telah sampai ditepi sungai. 20.
Atas petunjuk Dew a ia menjadi pengemudi perahu disungai itu. Akhirnya kakaknya
diperistrikan oleh Pandita Polosoro. Polosoro lalu menciptakan sebuah istana yan
g diberi nama Asti napura. Kini kakaknya telah berputra seorang anak priya dan d
iberi nama Birowo. 21. Setelah Dewi Durgandini bersalin, Polosoro berkata Durgan
dono : Ia menyerahk an kakak perempuannya. Sedang putranya yang masih bayi itu d
ititipkan kepada Kya i Semar untuk dibinanya. Sesudah itu Polosoro lalu hilang m
usnah. Begitulah ceni teranya. Adapun mereka yang ikut serta ini adalah : Bimake
nco, Kencoko, dan Rojo molo. 22. Sedang yang tertua Rupokenco dipercayakan menja
ga keselamatan Istana A stina. Raja Maldewa menyambut salam kedatangan kepada me
reka yang baru datang. K etiganyan menyambut gembira atas pemberian salam kedata
ngannya. Sehabis makan be rsama itu dipersilakan makan bersama. Baginda Maldewa
bersama sama masuk keistan a. 23. Tersebutlah dalam ceritera, dalam asuhan Kyai
Semar Abiyoso cepat menjadi besar ia telah tahu akan arti ibu. Bertanyalah ia ke
pada Semar siapa dan dimana ibunya. Semar tidak memberikan jawaban atas pernyata
an itu. Hanya mengenai ibun ya ia dapat memberikan jawaban bahwa ibunya ada dine
geri Maldewa. Ia adalah putr i Raja Maldewa bernama Durgandini 24. Abiyoso minta
kepada Kyai Semar agar disus ulka ibunya kenegeri Maldewa Semar minta bertanggu
h. Abiyoso tidak puas akan pen angguhan Kyai Semar itu. Ia menangis sejadi jadin
ya. Abiyoso mencaci maki kepada Kyai Semar. 25. Akhirnya Abiyoso didukung dan di
susulkan kepada ibunya kenegeri Maldewa. Tak lama kemudian tibalah mereka dinege
ri Maldewa. Abiyoso diantarkan 76

masuk dari pintu belakang dan ia dilepaskan sendirian. Kyai Semar berpesan bila
nanti bertemu dengan anak yang mengaku juga ibunya, maka Semar menasehatkan supa
ya melawannya. Mengenai ia sendiri akan menanti tinggal ditempat itu. 26. Alkis
a h mengenai Begawan Sentanu yang telah ditinggalkan mati istrinya, ia bertempat
t inggal disebuah gunung, Istri begawan Sentanu meninggalkan seorang anak laki
lak i yang tampan rupawan, namanya Sentani. Sekali peristiwa putra Begawan Senta
nu i tu menanyakan ibunya. Pada saat itu Sentanu telah mendengar berita bahwa Du
rgand ini putra Raja Maldewa habis bersalin seorang putra. 27. Begawan Sentanu l
alu me mbawa anaknya terbang menuju negeri Maldewa. Setibanya dinegeri Maldewa s
egera m asuk kedalam istana. Sentanu menunjuk kepada Dewi Durgandini sambil meny
atakan d ialah ibunya. Dia menyuruh mendekatinya. Bila ditanyai siapakah dia itu
disuruh menjawab bahwa ia adaah putra dari Polosoro yang telah lama meninggalka
n dirinya masuk kedalam hutan. 28. Begawan Sentanu sanggup mengawasi dari jauh d
itempat i a terbang. Pada waktu lari menuju Dewi Durgandini bersamaan pula Birow
o berusaha mendapatkannya. Setelah tiba didepan Durgandini kedua orang anak itu
ditanyai s iapa namanya dan darimana asalnya. Kedua anak itu mengaku bahwa ia an
ak dari Pol osoro. Dewi Durgandini berdiri dalam kebingungan. 29. Dewi Durgandin
i ragu ragu dalam menentukan, manakah sesungguhnya anaknya sendiri itu. Kedua or
ang anak itu akhirnya berkelahi memperebutkan ibunya. Keduanya saling menyerang,
hantam meng hantam tolak menolak. 30. Dan atas Sentanu mengetahui akan kejadian
itu. Demikia n juga Polosoro dan Kahyangan mengetaui pula hal yang sama Polosor
o segera turun ke Marcapada dan menangkap Begawan Sentanu. Polosoro mengucap jan
gan ikut ikuta n campur tangan melibatkan diri dalam perkelahian anak melawan an
ak. Sentanu dal am keadaan tak berkutik. 31. Ia mengucapkan telah bertaubat dan
minta belas kasi han agar perbuatannya itu dapat diberi ampun. Ia mengakui telah
berbuat salah. S entanu lalu mengajak pulang kembali Sentani ketempatnya. 32. P
olosoro segera dat ang mendekati istrinya. Dewi Durgandini menyambut serta bersu
jud. Polosoro lalu menemui mertuanya ialah Raja Maldewa. Ia menitipkan putranya
Birowo kepada Raja Maldewa. Raja Maldewa menyanggupi. Oleh Polosoro dinyatakan b
ahwa putranya telah disediakan sebuah negeri ialah negeri Astina. 33. Polosoro l
alu pergi meninggal kan Maldewa menuju ke Suralaya. Syahdan Raja Maldewa menaseh
atkan rnengangkat pu tranya menjadi raja di Astinapura. Pengangkatan itu agar di
saksikan oleh Dewi Du rgandini sendiri. Maka keberangicatannya diantar oleh Raja
Maldewa. Keberangkata nnya mengendarai kereta kerajaan. 34. Akhirnya tiba di Ne
geni Astina. Lalu diatu r menurut tata tertib sebagaimana kebiasaan pada saat di
adakan pertemuan agung k erajaan. Raja duduk diatassinggasana, dihadap oleh para
para Menteri serta Maha Patih Baginda Maldewa lalu angkat bicara. 35. Pembicara
annya bersifat pengumuman ditujukan kepada mereka yang hadir dalam pertemuan agu
ng, mengenai penobatan Pr abu Abiyoso sebagai Raja di Astinapura sebagai pejabat
pendamping adalah para cu cu cucunda yaitu yang 77

tertua Rupokenco beserta adik adiknya yaitu BimokencO, Kencoko dan Rojomolo. 36.
Sesudah paripuna ada acara penobatan Raja di Astina itu. Baginda Maldewa kembal
i pulang kenegerinya. Dewi Durgandini tinggal di Negeri Astina bersama putranya
tinggal juga di Negeri Astina bersama putranya. Tinggal juga di Negeri Astina P
a tih dari Maladewa bernama Yudonegoro diangkat sebagai Patih untuk Negeri Astin
a. XXIV. ASMARADANA 01. Polosoro yang telah berada di Kainderan mendengar berita
b ahwa puteranya Abiyoso telah dinobatkan sebagai Raja di Negeri Astina. Sedang
pu tranya itu masih belum berpemaisuri. 02. Maka turunlah Begawan Polosoro dari
Kei nderaan membawa seorang bidadari cantik benama Dewi Satari. Tiba diistana A
stina terdapat Raja Abiyoso sedang duduk duduk bersama saudara saudara. 03. Saud
ara S audara itu adalah : Rupokenco, Bimokenco, Kencoko, dan Rojomolo. Ibunya du
duk ti dak jauh dari mereka. Serta melihat kedatangan Begawan Palasaara mereka l
alu tur un dari tempat duduknya menghormat kedatangan ayahanda. Polosoro dipersi
lahkan d uduk. 04. Dewi Durgandini menyambut dan bersujud lalu berturut turut be
rsujud: B aginda Raja Abiyoso, Rupokenco, Bimakenco, Kencoko. 05. Terakhir Rojom
olo bersuj ud kepada Sang Begawan Polosoro. Setelah Dewi Durgandini, diikuti par
a putranya, Raja Abiyoso, Rupokenco, Bimokenco, Kencoko dan Rojomolo selesai ber
sujud, berb icaralah Begawan Polosoro menyatakan maksud kedatangannya yaitu meny
erahkan seor ang Bidadari yang cantik rupawan, sebagai permaisuri Baginda. 06. S
ang Begawan m emberi perintah kepada Dewi Durgandini agar menerima Dewi Satari s
ebagai putra m enantu. Sesudaah selesai memberi perintah kepada Dewi Durgandini,
lalu berkata k epada putranya, Raja Abiyoso, bersifat amanat. 07. Isi amanat Ra
ja Abiyoso dimin ta mengangkat Bimokenco. Sebagai Raja dinegeri Mandura. Kencoko
sebagai Raja Man daraka dan Rojomolo menjadi Raja diseberang. 08. Bagi Rupokenc
o dinasihatkan sup aya tetap tinggal di Negeni Astina, sebagai penghubung negara
negara Mandura, Ma ndaraka, Wiratha. 09. Semua negara itu berlindung kepada neg
eri Astina. Raja Abi yoso mengindahkan semua yang diamanatkan oleh Begawan Polos
oro, Para putra : ter sebut menduduki negara masing masing sesuai dengan amanat
Begawan Polosoro. 10. Begawan Polosoro telah menciptakan negara negara : Mandura
lengkap dengan perlen gkapannya. Memiliki alun alun yang luas. Juga telah menci
ptakan negara Mandaraka siap dengan istananya lengkap dengan segala alat alatnya
. 11. Rajamala diperint ahkan oleh ayahanda mendirikan negeri sendiri diseberang
. Memiliki pasukan yang lengkap sempuma. Setelah itu selesai dikerjakan semua, m
aka Polosoro lalu mening galkan tempat itu. 12. Polosoro pergi kembahi ke Kahyan
gan. Oleh para putranya : Dewi Durgandini diminta untuk tetap tinggal di Astina
bersama sama raja Abiyoso . Tetapi oleh Begawan Abiyoso tidak diizinkan karena s
udah saatnya dia harus 78

meninggalkan Marcapada menuju ke Suralaya. Para putra tak dapat menahannya. 13.
Begawan Polosoro beserta Dewi Durgandini telah meningalkan Marcapada ke Suralaya
. Tinggallah Raja Abiyoso dengan permaisurinya Dewi Satari. 14. Alkisah Yang Ja
g ad Nata beserta Dewi Uma turun dari Suralaya kenegeri Astina. Yang Jagad Nata
la lu merasuk ketubuh raja Abiyoso. Sedang Dewi Uma merasuk kepada Dewi Satari.
Mak a antara Abiyoso dengan Dewi Satari bangkitlah nafsu birahinya. 15. Abiyoso
sang at terpesona kepada Dewi Satari demikian pula sebaiknya. Lalu terjadilah ul
ah as mara antara Abiyoso dengan Dewi Satari. 16. Setelah terjadi peristiwa itu
Yang G iri Nata serta Dewi Uma lalu bersama sama kembali ke Kahyangan. Sesudah i
tu hami llah Dewi Satari. Setelah cukup jangka waktunya, Dewi Satari melahirkan
seorang bayi dalam keadaan terbungkus. 17. Bayi bungkus itu diambil serta bungku
snya dil epaskan. Terdapat tiga bayi yang lekat menjadi satu. Bayi yang lekat it
u lalu di pisahkan, menjadi tiga orang bayi semuanya laki laki berwajah tampan.
Hanya saya ngnya masing masing mempunyai cacad tubuh. 18. Yang tertua diberi nam
a Dhesthoro to kedua matanya buta. Putra yang kedua diberi nama Pandhu Dewonoto
mempunyai ca cad tubuh tengeng (lehernya tidak berdiri tegak). Wajahnya sangat t
ampan. 19. Ya ng terakhir diberi nama Yomowiduro. Kakinya timpang. Setelah ketig
anya mencapai usia dewasa. Bidadari Satari kembalilah ke Suralaya. 20. Tersebutl
ah dalam cerit era, raja dinegeri Mandura dan Mandaraka masing masing telah berp
utra. Raja Mand ura mempunyai seorang anak putri yang cantik rupawan diberi nama
Kunthibujo. 21. Sekali peristiwa baginda raja Mandura, memanggil seorang pendet
a dari gunung Su domomanik. Pendeta itu dipercayakan mendidik dan memberi pelaja
ran. Ilmu yang di berikan disebut ilmu Rosomulyo. Ilmu itu diberikan untuk memel
ihara keturunan ya ng memiliki wahyu raja. Tetapi untuk memelihara ilmu itu ada
pantangannya yaitu apabila mandi harus dalam keadaan berbusana. 22. Setelah Dewi
Kunthibujo dapat m enguasai ilmu itu, Sang Pendeta lalu kembali kegunung Sudomo
manik. Sekali perist iwa Dewi Kunthibujo ingin mandi. Ia pergi ketempat pemandia
n. 23. Pada waktu Dew i Kunthibujo mandi itu, merendamkan tubuhnya tanpa berbusa
na. Ia lupa akan pesan dari gurunya. Syahdan Sang Hyang Surya yang sedang bertug
as menyinari Macapada, melihat akan mandi Dewi Kunthibujo itu. Ia sangat tertari
k. Air kamanya terlepa s dan mengenai Dewi Kunthibujo itu. 24. Sehabis mandi Dew
i Kunthibujo segera men genakan pakaian kemudian pergi kembali keistana, setelah
peristiwa itu tejadi, m aka hamillah Dewi Kunthibujo, tetapi kejadian itu tidak
disadari. Tiga bulan ses udahnya terjadilah perubahan bentuk tubuh pada diri De
wi Kunthibujo. Hal itu dik etahul oleh Baginda Raja Mandura. 25. Raja Mandura be
rtanya kepada putrinya : si apakah seorang pria yang pernah berhubungan denganny
a. Raja Mandura merasa ditip u oleh putrinya. Maka raja itu amat marah. Dipaksak
an agar putrinya menceriterak an keadaan yang telah terjadi apa adanya. Tetapi p
erintah ramandanya itu ditolak . Selanjutnya dengan gurunya ia belum pernah berh
ubungan dengan seorang pria. 79

26. Ia hanya dapat menceriterakan bahwa sebagai wanita pewaris wahyu raja ia dib
erikan ilmu yang bernama Rosomulyo. Pantangan dari ilmu itu, siapa pun yang mem
i liki ilmu Resomulyo, bila sedang mandi dan merendamkan tubuhnya kedalam air, t
ak diperbolehkan tanpa busana. 27. Tetapi pada suatu ketika ia terlupa mandi tid
ak mengenakan pakaian selembar pun. Ia merendamkan diri didalam air cahaya sang
Su rya mengenai tubuhnya. Sesudah itu ia merasa ada perubahan didalam tubuhnya.
Raj a Mandura segera memanggil Pendeta digunung Sudomomanik. 28. Kemudian datang
lah sang Pendeta menghadap raja Mandura. Kepada Pendeta Sudomomanik Baginda bert
anya agak marah, mengenial Dewi Kunthibujo yang dididiknya, telah hamil tanpa hu
bung an dengan pria. 29. Raja Mandura menyatakan bahwa baginya merasa menderita
sanga t malu. Beliau lalu memerintahkan sang guru agar berusaha melahirkan sang
bayi d ari kandungan, tanpa melalui jalan pelahiran yang wajar. 30. Sang Pendeta
menyan ggupi, ia membacakan sembilan kali manteranya. Kehamilan sang Dewi berub
ah cepat seperti kandungan dalam usia sembilan bulan. 31. Sang Pendeta segera me
ngambil tangkai sirih dipergunakan untuk mengkilik kilik, memancing keluarnya ba
yi lewat telinga. Berhasillah bayi keluar dari kandungan melewati telinga sebela
h kiri. Anak bayi lalu diambil, dimasukkan didalam kendaga emas, selanjutnya dib
uang kes ungai Sulugangga. 32. Sang Dyah kembali menjadi perawan. Sesudah itu. S
ang Pendi ta kembali ke gunung Sudomomanik. Sesudah kejadian itu lewat, Baginda
mengadakan sayembara : barang siapa yang diingini oleh Dewi Kunthi, akan diambil
menantu o leh San Raja. 33. Sayembara pilihan itu diadkan dialun alun. Para put
ra pegawai istana dan putra Adipati berdatangan dialun alun. 34. Sang Putri dudu
k dipanggun g. Mereka yang ingin menunjukkan ketampanannya berduyund uyun pergi
datang, namu n tiada seorang pun yang mengena dihati Dewi Kunthi. 35. Sayembara
itu tidak saj a diikuti oleh para putra didalam negeri, bahkan para raja dari ne
geri seberang pun banyak juga yang datang. Banyak para raja yang mendirikan bang
unan berderet deret dialun alun. 36. Alkisah tiga orang putra dari raja Astina t
elah berusia d ewasa. Dua orang diantara tak dapat mengikuti sayembara, yaitu Dh
esthoroto dan Y omowiduro. Sedang putra yang kedua ialah Pandhudewonoto berjuang
memperluas wila yah. Pandhu Dewonoto adalah putra yang terbagus dan tercakap. 3
7. Kepergian kene geri seberang diikuti oleh Semar dan anak anaknya. Dalam usaha
perluasan pengaru h wilayah kerajaan tak ada negara negara yang mampu mengimban
gi kecakapan serta kesaktian Sang Pandhu. 38. Kembalinya Pandhu Dewonoto keneger
inya, membawa tanda takluk berupa harta benda dan putri. Semua perolehan itu dis
erahkan kepada ayah anda Raja Astina. Kemudian oleh ayahanda semua putri tanda t
akluk itu lalu diser ahkan kembali kepada putranya. 39. Putri putri itu dibawa m
asuk kedalam istana o leh Pandu. Mula mula dibawa masuk ketempatnya kakaknya yan
g tertua. Dipersilakan Dhesthoroto mengambil yang diingini. Putri boyongan itu s
emuanya cantik cantik. 80

40. Dhesthoroto menerima baik tawaran dari adiknya. Karena tak dapat melihatnya
maka diharap, putri putri itu disiapkan didepannya. Dhesthoroto meraba raba waja
h para putri seorang demi seorang. 41. Dhesthoroto menentukan pilihannya kepada
seorang putri dan Plosojenar, bernama Dewi Gendari. Pada hematnya putri itu nan
t inya akan dapat melahirkan banyak anak, maka pilihan dijatuhkan kepadanya. Pan
du Dewonoto menyatakan tidak keberatan, menyerahkan pilihan kakaknya itu. 42. Pa
nd hu Dewonoto pergi menuju ketempatnya. Dewi Gendari, ditinggalkan. Sepergi Pan
dhu Dewonoto hatinya sangat sakit sebab tak dapat menolak perintah Pandhu Dewono
to. Dalam ketidak puasannya. Dewi Gendari melontarkan kata kata kutukan untuk wa
ktu waktu selanjutnya keturunan Dewi Gendari dan Pandhu Dewonoto tak mungkhi ter
jad i kesesuaian pendapat, selamanya akan bermusuhan. 43. Dewi Gendari mengkiask
an p ergaulan keturunan mereka seperti anjing dengan kucing. Setibanya ditempat
Pandh u Dewonoto bertemu dengan adiknya ialah Yomowiduro. Pandhu Dewonoto lalu m
enitip kan para putri boyongan. 44. Ia juga menawarkan kepada Yomowiduro, bila a
da putr i yang dikehendaki, dipersilahkan memungutnya. Ia ingin pergi lagi keneg
eri Mand ura, ingin mengikuti sayembara pilih. Adiknya menyetujui. 45. Keberangk
atan Pand hu diantaroleh Semar serta anak.nya. Konon khabamya Putra Raja Mandara
ka ikut ju ga dalam perlombaan sayembara. Putra raja Mandaraka itu bernama Noros
oma. 46. Pe rjalanan Norosoma telah sampai dinegeri Mandura bersama sama dengan
raja raja da n negeri lain. Mereka mengambil tempat duduk masing masing, ada yan
g duduk diseb elah selatan ada pula yang duduk disebelah utara ringin kembar. De
wi Kunthi meng amati dari atas panggung. 47. Diantara para peserta sayembara pil
ih itu. Norosom alah yang dipandang oleh Dewi Kunthi berkenan dihati. Raja raja
peserta sayembar a merasa kecewa hatinya. Maka sayembara pilih dinyatakan selesa
i. Para raja pula ng kembali kepemondokan masing masing. 48. Norosoma kembali ke
tempat pemondokann ya juga. Ditengah jalan bertemu dengan Pandhu Dewonoto. Ia be
rtanya apa maksud k epergiannya itu. Adakah ingin mengikuti sayembana, dinyataka
n sayembara telah us ai. Maka kepergiannya akan sia sia. Norosoma menyatakan bah
wa pilihannya jatuh p ada dirinya. Pada waktu itu Semar istirahat duduk diatas t
unggak. Ia menasihatka n supaya tidak mau mengindahkan anjuran itu. XXV. DURMO 0
1. Kyai Semar mempering atkan, akan sia sia perbuatannya. Dinyatakan mereka tela
h bersusah payah, menemp uh perjalanan dari Astina sampai Mandura, kalau tak dap
at ikut serta dalam perlo mbaan sayembara, malu bila menjadi tutur kata buruk or
ang banyak. Sebaiknya teru skan saja maksudnya. 02. Pandhu Dewonoto mengucapkan
berterima kasih atas anjura n kakaknya Norosoma. Tetapi Pandhu Dewonoto pendiria
nnya : ingin mengikuti sayem bara. Norosoma merasa tidak senang hatinya. Ia mera
sa bahwa Pandhu bersikap bera ni terhadapnya. 03. Norosoma bertanya : kalau demi
kian Pandhu telah berani menen tang pendapatnya. Pandhu menjawab: terhadap saat
kebenaran ia berani menentang. 81

04. Ia menyatakan bahwa kepergiannya khusus untuk memenuhi sayembara Raja Mandur
a. Karenanya maksud tersebut tak dapat dirintangi. Dan perselisihan pendapat an
t ar keduanya, terjadilah perlawanan. 05. Ikat pinggang Pandhu dapat ditangkap,
ia dilempar jauh jauh. Ia telah datang kembali, dan dapat menangkap Norosoma, ka
ka knya. Norosoma dibanting lalu dilemparkan, jatuh terbalik balik. 06. Norosoma
me rasa kerepotan dalam menghadapi Pandhu itu. Ia segera melafalkan mantera puj
aann ya, bernama Condhobirowo. Dari dadanya keluarlah beribu ribu raksasa. 07. P
ara r aksasa itu mempertunjukkan ulah tingkah aneka ragam berjungkir balik, memb
eliakk an mata, mempertunjukkan sikap mengerikan. Raksasa itu telah tiba didepan
Pandhu Dewonoto. Pandhu tetap tenang, tidak bergerak. 08. Segala gerak gerik Co
ndhobir owo dibiarkan saja. Oleh karena tidak dihiraukan semua tingah lakunya, C
ondobiro wo merasa tidak berhasil membangkitkan nafsu amarah Sang Pandhu. Condho
birowo me njadi tak berdaya, lemah lunglai, merasa tak mampu menghadapi kesaktia
n Pandhu D ewonoto Norosoma berkata : kalau begitu halnya maka Condobirowo disur
uh masuk ke mbali kedalam perut. 09. Mereka mengindahkan perintah Norosoma masuk
kedalam per ut. Pandhu Dewonoto segera menggunakan daya saktinya bernama Guwowi
jaya, dengan mengusap usap dada sambil membaca mantera. 10. Pandhu mampu mengelu
arkan topan b adai. Pada saat badai mengamuk, Pandhu berkata dalam hati, menyuru
h badai menyer ang dan mempermainkan Norosoma diudara. 11. Terjadilah angin tauf
an melanda diri Norosoma diudara, seperti apa yang dikehendaki oleh Pandhu Dewon
oto. Norosoma d ipermainkan oleh angin, seperti halnya angin rnempermainkan bali
ng baling. Noros oma mengeluh berkepanjangan. 12. Dia menyampaikan rasa bertauba
t kepada Pandhu D ewonoto dan minta maaf sedalam dalamnya. Sebagai tanda bertaub
at, bila Sang Pand hu menghendaki, adiknya bernarma Dewi Madrim akan diserahkan.
13. Kegiatan angin Guwawijaya dihentikan. Pandhu Dewonoto menanggapi apa kata N
orosoma, ia minta a gar Norosoma menghadirkan adik Norosoma didepannya. Dia ingi
n tahu bagaimana rau t muka dan perangainya. 14. Dengan kekuatan angin Guwowijoy
o Norosoma diantar sa mpai keistana Mondoroko bertemu dengan ayahanda dan Dewi M
adrim, adiknya. Belum sampai berbincang bincang secara leluasa, Dewi Madrim tela
h digandeng dan dibawa secepat kilat kedepan Pandhu. 15. Sekejap mata Norosoma d
an Dewi Madrim telah t iba didepan Sang Pandhu. Norosoma berkata dan menyerahkan
Madrirn, adik perempua nnya. 16. Dewi Madrim lalu dimasukkan kedalam cupu manik
Astagina oleh Pandhu De wonoto. Norosoma lalu mengajak Pandhu kenegeri Manduro.
Berangkatlah semuanya. 1 7. Dalam waktu dekat Norosoma telah tiba dibangunan pa
nggung mengantarkan Pandhu Dewonoto, seorang satria yang bagus lagi cakap. Melih
at seorang tamu jejaka tam pan yang baru menampakkan diri itu hati Dewi Kunthi j
adi gelisali resah dirundun g asmara. 18. Dewi Kunthi amat tertarik akan wajah P
andhu Dewonoto. Raja Mandura tahu akan perubahan perasaan putrinya. Dewi Kunthi
diajak ayahanda masuk 82

kedalam istana. Pandhu Dewonoto, dipanggil masuk bertemu dengan Dewi Kunthi. 19.
Didalam istana Dyan Pandhu diizinkan masuk bersama dalam ruang peraduan. Kedua
insan yang berlainan jenis itu telah menikmati malam mulia. Pagi harinya Dewi Ku
nthi dan Pandhu dipanggil menghadap Raja Manduro. 20. Pandhu duduk bersujud dih
a dapan Baginda Mandura, lalu disusul Dewi Kunthi berbuat sama. Sesudah itu Raja
M andura lalu keluar dari istana menuju kepagelaran. 21. Dipagelaran Baginda be
rte mu dengan Norosoma. Para raja dan negeri lain telah mendengar berita bahwa D
ewi Kunthi sudah dipersunting oleh Pandhu, maka timbullah rasa iri hati, kemudia
n di ikuti rasa marah. 22. Untuk melampiaskan kemarahannya maka mereka mengamuk
dipag elaran. Mereka membuat gaduh, beramai ramai memukul tanda kesiap siagaan p
erang: gendang, tambur dan gung. Radyan Pandhu lalu mengusap usap dada. sambil m
embaca mentera. 23. Lalu bertiuplah badai Guwowijaya, dimanterai supaya meleland
a Raja raja dari negeri lain serta semua pasukannya. Mereka diembus angin terlem
par sa mpai kenegeri masing masing. 24. Seolah olah angin itu menjalani perintah
Pandhu Dewonoto menyerang raja raja dari luar negeri serta pasukannya. Tak ada
seorang pun yang ketinggalan. Mereka telah tiba ditempat masing masing. Akhirnya
badai menjadi reda. 25. Sesudah tiada negeri yang memusuhi negeri Mandura, Pand
hu dan Norosoma pergi meninggalkan negeri Mandura. Sebetulnya mereka berdua masi
h terja ilin hubungan saudara. Pandhu berkakak kepada Norosoma. 26. Tiba diluar
kota mer eka mengambil persimpangan jalan masing masing. Norosoma mengambil jala
n kearah negeri Mondoroko, Pandhu mengambil jalan kearah Astina. Berpisahlah jal
an keduan ya tidak diceniterakan bagaimana perjalanan mereka. Telah tibalah Pand
hu Dewonot o di Negeri Astina. 27. Ia segera menghadap ayahanda. Dia menyatakan
bahwa telah mengikuti sayembara yang diadakan oleh Baginda Raja Mandura. Pandhu
telah berha sil membawa Kunthi, Putri dari Raja Mandura. 28. Dewi Kunthi yang se
mula dimasuk kan kedalam cupu Astagina lalu dikeluarkan. Ia segera bersujud kepa
da Raja Astin a lalu duduk bersimpuh dihadapan Raja. 29. Baginda Abiyoso bersabd
a kepada putra nya : Pandhu Dewonoto, memerintahkan agar ia mau menduduki takhta
kerajaan Astin a. Raja Abiyoso bermaksud mau meninggalkan takhta, untuk bertapa
digunung Rotawu . Ia ingin mengenyampingkan keduniawian. 30. Pandhu Dewonoto me
nyambut baik aman at ayahanda. Ia ingin menitipkan minyak Tolo yang disimpan dal
am Cupu ratna. Dih arap cupu itu dibawa ketempat ayahanda Abiyoso bertapa. Kelak
bila telah memilik i seorang putra pria diharap Cupu itu diberikan kepada cucun
ya. 31. Khasiat dan minyak Tala bila dilumaskan ketubuh, mengakibatkan orang men
jadi kebal akan sega la senjata. Semua putra laki laki dari Pandhu nantinya dilu
mas dengan air Tala 3 2. Setelah Pandhu Dewonoto menduduki takhta Cupu Ratna ber
isi minyak Tala disera hkan ayahandanya. Dalam acara penobatan Abiyoso mengumumk
an, dari kehendaknya se ndiri yang diangkat sebagai Raja di Astina, adalah putra
nya Pandhu. 83

33. Sesudah dinobatkan. pandu bergelar Pandhu Dewonoto. Dia dipercayakan menggan
tikan kedudukan sebagai Raji Astina. Rupokenco menyetujui atas penobatan untuk
a diknya sebagai raja di Astina. 34. Sehabis pelaksanaan penobatan, Rupokenco me
ng umumkan pertemuan telah paripurna dan rapat dibubarkan. Baginda Pandhu lalu m
asu k kedalam istana. XXVI. KINANTHI 01. Didalam istana Sang Abiyoso memberikan
aman at petunjuk kepada putranya, supaya baik baik mengemudi haluan negara. Dina
sihat kan supaya kasih sayang kepada hamba sahay. 02. Sang Abiyoso mendoakan mud
ah mud ahan Negeni Astina tetap dianugerahi selamat sejahtera. Ia sendhi bertapa
digunu ng, Sang tapa menjalani wadat. 03. Tiba digunung Rotawu Sang Abiyoso men
ekun. ta panya. Puncak gunung Rotawu tempat Abiyoso bertapa itu, merupakan daera
h yang su bur, banyak terdapat mata air Pohon pohonan tumbuh rindang. Disekitar
pertapaany a tumbuh pohon manis jangan. 04. Dewi Kunthi permaisuni Raja Pandhu d
an Dewi Mad rim istri kedua, semua telah hamil. 05. Dewi Gendari yang telah dipe
risteri oleh kakaknya yaitu Sang Dhesthoroto telah berputrakan seratus orang.. Y
ang tertua b ernam Kurupati. Adiknya bernama Dursasana. Adik adik kelanjutannya
tidak lagi di ceriterakan seorang demi seorang. 06. Dikisahkan permaisuri Dewi K
unthi telah ha mil Sesudah sempuma usia hamilnya, lahirlah seorang bayi pria kel
uar dari ubun u bun. Putera Baginda yang baru lahir itu diberi nama Puntodewo. 0
7. Berikutnya la hirlah pula seorang bayi laki laki yang keluar dari lambung. Ba
yi itu kedua bela h ibu jarinya tumbuh kuku raksasa, disebut kuku Ponconoko, dia
diberi nama Broto seno. Sesudah dewa merniliki tubuh, kekar gagah perkasa. 08.
Dewi Kunthi melahir kan lagi seorang bayi laki laki : lahir sebagai biasa bayi l
ahir. Bayi itu berwa jah bagus, diberi nama Bambang Janawi atau Wijanarko. Sesud
ah dewasa ia bertubuh langsing, mempunyai pandangan tenang lagi tajam. Warna kul
itnya kunings ayu. Ma tanya bersinar seperti bintang timur. 09. Dan Dewi Madrim
Pandhu berputra dua or ang anak laki laki kembar. Dua orang bayi itu seorang lah
ir lewat betis kiri seo rang lagi lahir lewat betis kanan. Malang bagi Dewi Madr
im. Sesudah melahirkan d ua orang bayi kembar itu, dia meninggal. Bayi yang pert
ama diberi nama Nakulo, y ang kedua diberi nama Sadewo. 10. Baginda Astina sanga
t cinta kasih sayang kepad a semuua puteranya. Sekali peristiwa Raja Pandhu diti
mpa sakit keras Baginda mer asa maut telah nyaris datang. Sang Pandhu mengharap
kedatangan Dhesthoroto kakan da. 11. Berkatalah Baginda Raja kepada kakanda, ras
a rasanya maut hampir tiba. M aka Baginda menitipkan negeri Astina, sebab semua
para putra masih kecil. Nanti bila putranya telah dewasa harap negeri Astina dis
erahkan kepada para putranya, dalam pengamatan Kunthi. 12. Menurut pandangannya
sebagai pengganti dipercayakan kepada putra yang tertua ialah Puntodewo. Adapun
adik adiknya berkedudukan seba gai Pangeran. 13. Dhesthoroto sanggup menepati am
anat adiknya itu. Sehabis menin ggalkan amanat Baginda mangkatlah. 84

14. Didalam istana penuh ratap tangis para hamba sahaya menyiapkan segala peleng
kap acara pembakaran jenazah. Kayu bakar dan minyak telah tersedia cukup. Sebel
u m jenazah dibakar, terlebih dahulu dihias dengan harum haruman. 15. Upacara pe
rn bakaran jenazah dimulai, pelengkap saji sajian telah lengkap tersedia. Dalam
saa t pembakaran jenazah, mantera mantera dilafalkan sebagai doa semoga arwahnya
dit erima disisi Hyang Maha Esa. Selesai upacara pembakaran sisa pembakaran jen
azah dikumpulkan, diambil, dimasukkan kedalam cupu. 16. Abu sisa pembakaran jena
zah y ang telah dimasukkan kedalam cupu itu dibawa ketempat khusus digunung, seb
agai t empat penyimpan abu semacam itu. Abu Jenazah Raja Pandhu diantar oleh iri
ngan ha mba sahaya Kerajaan Astina menuju kepuncak gunung Cipto Renggo. Disanala
h abu di dalam cupu disemayamkan 17. BerdaSarkan amanat Baginda Pandhu pejabat R
aja di As tina untuk sementara adalah Dhesthoroto. Sekali penstiwa Dhesthoroto m
engadakan rapat kerajaan. Para putra ikut hadir dalam rapat tersebut. Mereka had
ir dengan mengenakan pakaian keperjuritan. 18. Duduk terdepan dihadapan Raja ada
lah Sengku ni lalu disambung para putra Baginda dan para Pegawal Kerajaan. Banya
k hamba sah aya yang ingin menyaksikan adanya rapat kerajaan tersebut. 19. Raja
Dhesthoroto minta Sengkuni datang mendekat. Sengkuni diperintah mengumumkan seca
ra resmi ata s dasar wasiat almarhum Baginda Raja Pandhu Dewonoto pejabat sement
ara dinegen A stina, dengan syarat setelah para putra Pandhu akil balik agar dip
indah alih. Pe ngmuman itu ditujukan kepada segenap pejabat dan pegawai Kerajaan
Astina, pun ju ga untuk diketahui diluar Kerajaan Astina. 20. Segala amanat alm
arhum Baginda Pa ndhu telah diumumkan oleh Sengkuni kepada para pejabat dan putr
a serta hamba sah aya kerajaan. Para pejabat menyambut setuju tiada yang menyang
kal. 21. Kepada Se ngkuni diperintahkan agar Kunthi beserta anak anaknya dikelua
rkan dari istana. O leh Sengkuni mereka ditempatkan ditengah hutan, ditempat yan
g pernah sebagai per tapaan Sakri. 22. Perintah tambahan, Dhursosono dipercayaka
n memimpin pasukakan guna mengasingkan Kunthi dengan putra putranya. 23. Mereka
yang mendapat tugas l alu masuk kedalam menemui Dewi Kunthi, menguraikan apa per
intah baginda Desthoro tho. Dewi Kunthi amat takut. 24. Putra putranya dikumpulk
an. Harya Brotoseno yan g terdapat. Dewi Kunthi serta empat orang putra ditangka
p masuk ketengah hutan y ang telah ditunjuk. Dewi Madrim tidak ikut serta karena
telah mangkat lebih dahu lu. 25. Tempat pengasingan itu disebut Sendhang Suruka
n. Tempat tersebut selalu diawasi dengan ketat secara bergilir. Perintah Raja Dh
esthoroto selesai dikerjak an, Sengkuni dan Dhursosono pun kembali keistana. 26.
Disebutkan dalam ceritera sesudah selesai jalannya rapat kerajaan, Baginda Dhes
thoroto masuk keistana deng an diikuti adik adiknya dengan susah payah mencari B
rotoseno yang lolos dari pen ggerebegan. 27. Akhirnya Brotoseno dengan pengepung
an para Korawa berhasil dapat ditangkap. Beramai ramai para Korawa mengikat lalu
memasukkan Brotoseno dalam a lat perangkap. yang disebut: beronjong, kemudian d
imasukkan ketengah samudera ya ng dalam. 85

28. Tersebut dalam ceritera, Antaboga: penghuni didalam samudera tersebut memili
ki seorang anak wanita, sedang dalam usia remaja. Ia berwajah rupawan, diberi n
a ma Nogogini. 29. Pada suatu malam dalam keadaan tidur Nogogini berimimpi, tela
h melayani ulah asmara dengan seorang pria, satria yang bagus gagah perkasa. Mim
pi nya itu diceriterakan kepada ayahnya. Dia minta kepada ayahnya untuk mencari.
An taboga mencari apa yang diinginkan oleh putrinya keseluruh samudra. Dia meng
enak an pakaian ke Dewaan. 30. Kemudian Brotoseno terdapat. Dia dalam keadaan pa
yah, hampir meninggal, namun nafasnya menunjukkan masih ada tanda tanda hidup. A
ntabo ga memberikan pertolongan. 31. Brotoseno dikeluarkan dari dalam beronjong,
dilep as tali pengikatnya. Sesudah sadar ingatannya, Ia melihiat ada serorang D
ewa. De wa Antaboga memberitahu kepada Brotoseno bahwa ia adalah Dewa penguasa s
amudera, bernama Antaboga. 32. Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Dewi
Nogogin i. Anaknya itu menceriterakan bahwa pada suatu malam bermimpi telah ber
temu deng an seorang satria bagus gagah perkasa. Dia menceriterakan dalam mimpi
itu telah menjalankan sanggama dengan satria yang diceriterakan itu. Brotoseno d
iajaknya p ulang. 33. Perjalanan Hyang Antaboga diikuti oleh Brotoseno telah tib
a kembali d ipusat samudera. Brotoseno telah diketemukan dengan Dewi Nogogini. D
ia diizinkan bertempat tinggal bersama dengan putrinya. Lama kelamaan Dewi Nogog
ini hamil. 3 4. Sesudah lama tinggal disamudera. Brotoseno ingat akan nasib ibun
ya yaitu Dewi Kunthi. Ia membayangkan penderitaan ibunya dengan empat orang putr
anya diasingk an ditengah hutan belantara ketat penjagaannya. 35. Brotoseno mint
a izin mertuan ya, ingin menengok ibu dan adik adiknya dalam pengasingan Hyang A
ntaboga mengizi nkan, bahkan mengantarkan sendiri dalam perjalanan. Perjalananny
a melewati sumur jalatunda sampai didarat. 36. Setibanya didarat Hyang Antaboga
kembali ketempat uya. Brotoseno melanjutkan perjalanannya menuju tempat pengasin
gan. Dengan susah payah serta segala tipu daya, berhasil menemui ibunda serta ad
ik adiknya di Sen dhang Surukan. 37. Pada suatu ketika Raja Dhesthoroto memanggi
l Kurupati : Putra tertua, dia diperintahkan pergi menghadap kakekanda Begawan A
biyoso dipertapaan gunung Rotawu. Maksud perintah itu, mohon minyak Tolo, pening
galan pamannya Pan dhu Dewonoto, dititipkan kepada Begawan Abiyoso. Sesudah jela
s ia menangkap peri ntah kakekanda, berangkatlah Kurupati diiringi oleh adik adi
knya 38. Perjalanan mereka tiba dipertapaan Rotawu lalu masing masing bersujud k
epada kakeknya. Kuru pati menyampaikan pesan dari ayahnya untuk kakeknya, yaitu
disuruh meminta air T olo. Bila kakeknya memberikan akan dibawa kembali ke Astin
a pada waktu itu juga. Ayahnya Raja Dhesthoroto mengatakan kepadanya, minyak Tal
a tersebut titipan dar i pamannya Pandhu Dewonoto. 39. pm. 40. Begawan Abiyoso m
enyatakan bahwa ia tida k menyimpan benda itu. Kurupati tidak percaya akan perny
ataan kakeknya, bahkan s ampat mengata ngatai, 86

bahwa Abiyoso kakeknya berdusta tidak jujur, tidak pantas sebagai seorang Pandit
a berbuat demikian. 41. Kurupati, tetap mendakwa bahwa Abiyoso kakeknya menyimp
a n minyak Tala itu Napsu amarah tak dapat dikendalikan. Kakeknya yang sudah lan
ju t usianya diperlakukan sekehendak hatinya. Ia didorong dorong hingga jatuh be
rju ngkil balik. Kopyah yang ada diatas kepala direbut. Cupu tempat menyimpan mi
nyak Tolo terlempar jatuh. Minyak Tolo yang ada didalamnya dapati diketahui oleh
par a Korawa. 42. Cupu segera dirampas oleh Kurupati. Sedang kopyah penutup kep
ala S ang Begawan dilempar jauh ketempat kakeknya. Sambil melempar kopyah itu, K
urupat i menyerahkan terimalah ii kopyah pendusta, si tua bangka.. 43. Sesudah i
tu Kuru pati serta adik adiknya pergi meninggalkan Sang Begawan kembali keistana
. Tiba d iistana mereka, Cupu segera diserahkan kepada ramanda Raja Dhesthoroto.
Kurupati menceriterakan bagaimana cara perebutan cupu itu. Sampai hati mereka r
nemperlak ukan kakeknya yang telah tua renta. Ia menyatakan kakeknya seorang Pan
dita pendu sta. Kakeknya mengaku tidak tahu menahu tentang Minyak Tala 44. Kakek
nya ditarik tarik tangannya, dibawa lari kencang. Raja Dhesthoroto menenma minya
k Tolo samb il tertawa, mentertawakan pei laku putra putranya terhadap kakeknya
Raja Dhestho roto menasihatkan kepad para putranya, mandi dan berlangir didua te
mpat pertemua n dua sungai. Dikatakan bila kulit seluruh tubuh telah betul betul
bersih, maka minyak Tolo dapat sungguh sungguh masuk kedalam kulit, akibatnya k
esaktian kalia n akan lebih sempurna. 45. Dhesthoroto menjelaskan, pengaruh miny
ak Tolo akan me ndatangkan kesaktian kepada pemakai minyak tersebut. Diharapkan
supaya dia serta adik adiknya dapat memanfaatkan minyak Tolo itu. Kurupati seger
a menguppulkan a dik adiknya. XXVII. PANGKUR 01. Dikhabarkan Begawan Abiyoso per
tapa di Rotawu, s epergi cucunya Kurupati, menderita gering. Geringnya itu akiba
t sebagal seorang tua bangka dibawa lari, diperlakukan sekehendak cucu cucunya y
angrnasih muda beli a. 02. Dewi Kunthi beserta putra putranya berangkat dari Send
hang Surukan menuju ke Rotawu ketempat Sang Tapa. Tiba di Rottawu Dewi Kunthi se
gera bersujud kepad a Sang Tapa, lalu diikuti oleh Puntodewo, berikutnya Arjuno,
kemudian Nakulo dan Sadewo. 03. Brotoseno tak dapat bersujud tanpa berkata sepa
tah pun, kakeknya di junjung tinggi tinggi sambil tegak berdiri. Kernudian perla
han lahan kakeknya di dudukkan kembali. Begitulah cara Brotoseno memberi sembah
sujud. 04. Sang Abiyos o menyampaikan terima kasih atas kunjunganme mereka. Kemu
dian menceriterakan ked atangan Kurupati dengan adik adiknya. Sikapnya tidak sop
an, Atas perintah Dhesth oroto ayahnya, Ia minta minyak Tolo, peninggalan Pandhu
. Karena mereka dirasa ti dak berhak mewarisi, maka tidak diberikan. Dinyatakan
dia tidak tahu menahu. 05. Kurupati dan adik adiknya meraba raba keseluruh tubuh
tiada terdapat Dengan ker as Sang Abiyoso didorong dorong dari depan. Abiyoso j
atuh terlentang. 87

06. Kopiyahnya terjatuh, cupu tempat menyimpan minyak Tolo terpental, lalu diamb
il oleh Kurupati dibawa kenegeri Astina, Sang Abiyoso menyatakan peristiwa ters
e but baharu saja terjadi. Maka diminta Brotoseno mengejar untuk meminta kembali
, diberitahukan kalianlah yang berhak mewarisi. 07. Sang Abiyoso memperingatkan
ja ngan sampai cupu jatuh ketangan Dhesthoroto. Alkisah Kurupati dan adik adikny
a t elah mencari tempat pertemuan dua buah sungai. Disitulah mereka sah melakuka
n ma ndi, jadi bukan sembarang air sungai. Lagi pula mereka mandi harus hingga b
etul betul bersih. 08. Kelima orang cucu Abiyoso, Pandhu mengindahkan perintah k
akekn ya. Sebelum berangkat Abiyoso telah menjelaskan peri laku yang harus dijal
ankan. Brotoseno didepan Dhesthoroto harus menyamar sebagai Kurupati, baik tingk
ah lak u maupun suaranya juga menyamar sebagai Dursosono. 09. Abiyoso mengingatk
an bahw a Dhesthoroto itu buta, maka tak mungkin dia mengetahuinya. Abiyoso berp
esan den gan sungguh sungguh agar jangan sampai dapat dirangkul, itu berbahaya.
Setelah c ukup diberi pesan pesan penting, berangkatlah kelima orang cucunya itu
. Perjalan annya diantar oleh Kyai Semar serta anak anaknya. 10. Perjalanan masu
k istana ma suk pintu belakang. Akhirnya sampailah dihadapan Dhesthoroto. Brotos
eno bertingk ah laku dan bersuara menyamar Kurupati. Ia melaporkan bahwa telah m
andi dan berl angir ditempat sesuai dengan petunjuk Raja Dhesthoroto. 11. Pada s
aat Brotoseno berdatang sembah kepada Raja Dhesthoroto itu, Puntodewo, Arjuno, N
akulo, Sadewo, Semar dan anak anaknya, menyamar mengadakan suara mirip dengan su
ara para Koraw a. Suaranya riuh gaduh, seolah olah suara datang orang banyak. Ra
ja Dhesthoroto menanyakan apakah kalian telah selesai mandi, Brotoseno menjawab
sudah. 12. Miny al Tolo lalu diserahkan Brotoseno yang pada waktu itu menyamar s
ebagai Kurupati menyambut cupu. Dia memberi tahu bahwa penerima cupu bukan Kurup
ati, melainkan B rotoseno. 13. Meskipun merasa bahwa tertipu, namun Raja Dhestho
roto berkata deng an nada pura pura. Baginda menyatakan hal itu bahkan kebetulan
sekali, sehab bag inda telah sangat rindu kepada para putra Pandhu adiknya. Kal
ian telah lama terp isahkan. Dan sebab sangat rindunya Raja Dhesthoroto menyatak
an ingin merangkul t ubuh Brotoseno untuk melampiaskan rindunya, Brotoseno lalu
mengambi batu besar, setinggi tubuhnya, diletakkan didepan Dhesthoroto 14. Sesud
ah itu ia rnundur sel angkah serta berkata kepada uwaknya, mempersilakan merangk
ulnya. Dhesthoroto mel angkah maju dengan maksud ingin merangkul Brotoseno. Namu
n Brotoseno telah mundu r beberapa langkah. Akibatnya Brotoseno tak berhasil dap
at dirangkul, yang dapat dirangkul adalah batu besar setinggi Brotoseno. Karena
terkena rangkul dan Dhes thoroto yang sedang mengenakan kesaktiannya itu, maka b
atu tersebut menjadi hanc ur lebur. 15. Brotoseno tercengang melihatnya. Ia meng
agumi kesaktian uwaknya. B rotoseno melontarkan kata kata pendeta. Dia mengataka
n bahwa uwaknya tidak saja buta mata kepalanya, bahkan mata hatinya pun buta pek
a. Dikatakan uwaknya tak ta hu berbuat kebajikan, tak rnau mensyukuri nikmat yan
g diberikan lain orang. 16. Brotoseno beserta saudaranya lalu minta diri meningg
alkan Negeri Astina menuju k egunung Rotawu. Setibanya didepan kakeknya Brotosen
on menyerahkan cupu tempat me nyimpan minyak Tolo. Sang Abiyoso menerima. 88

Ia memerintah cucu cucunya cepat cepat mandi. Setelah selesai mandi, diharap mer
eka segera kembali, selanjutnya tubuh mereka dilumas dengan minyakTolo. 17. Pun
t odewop beserta adik adiknya mengindahkan semua petunjuk dari kakeknya. Sehabis
m andi mereka cepat cepat kembali. Dipertapaan tubuh mereka masing masing dilum
as dengan minyak Toto. Minyak Tolo telah digunakan tinggal tempat penyimpannya s
aja . Para putra Pandhu behasil memiliki kekebalan dari semua senjata. 18. Alkis
ah p ara Korawa sebanyak seratus orang telah mengindahkan petunjuki petunjuk ram
anda Raja DhesthOroto, yaitu mandi bersih bersih, dimana tempat bertemunya sunga
i den gan laut. Sesudah itu mereka pergi kembali masuk keistana. 19. Diistana pa
ra Kor awa sebanyak seratus orang, bertemu dengan ayahanda. Kurupati meberitahuk
an bahw a para putra telah selesai mensucikan diri. Mereka mengharap segera tubu
nya dilu mas dengan minyak Tolo. 20. Dhesthoroto menyatakan penyesalaannya terha
dap kejad ian yang telah menimpa atas dirinya. Diceriterakan sepergi para Korawa
menyucika n diri mandi ditempat dengan laut, datanglah Brotoseno diiringi Semar
beserta an ak anaknya. Kedatangan mereka membuat suara aneka warna, dibuat miri
p dengan sua ra. BimoSeno datang mendekat menyamar tingkah dan suara Kurupati. D
hesthoroto me nyatakan kena perangkap tipu daya. Minyak Tolo telah diserahkan ke
pada Bimoseno yang menyamar sebagai Kurupati. Dia penyamar Kurupati menyatakan b
ahwa para Kora wa telah selesai menyucikan diri, maka cupu tempat menyimpan miny
ak Tolo diminta . Tanpa ragu ragu cupu diserahkan. 21. Dhesthoroto mengatakan ba
hwa dia tak dapa t mengamati wajah mereka yang dapat diperhatikan hanyalah suara
. Karena tipu day a mereka, maka cupu telah diserahkan Bimoseno. 22. Dhesthoroto
menceriterakan te ntang tipu daya balasan. Ia menyatakan seolah olah tidak terd
apat rasa kemasgula n, bahkan menyatakan rasa rindu kepada para putra Pandhu yan
g sekian lama berpis ah. Ingin dia merangkul Bimoseno. tetapi keinginan ini tida
k tercapai, bahkan me nderita malu. yang dapat dirangkul bukannya Brotoseno, mel
ainkan batu besar seti nggi tubuh Brotoseno. Batu hacur menjadi pasir. 23. Kurup
ati serta adik adiknya, disuruh mengejar para putra Pandhu, merebut kembali cupu
yang telah lepas dari tangan ayahnya. Berangkatlah para Korawa dibawah pimpinan
Sengkuni, mengejar par a Pendhawa, Barisan Kurawa telah hampir tiba dipertapaan
Begawan Abiyoso. Brotos eno melihat gelagat pertapaan Rotawu akan diserang lawa
n. Segera ia menyiapkan d iri untuk melawan. 24. Brotoseno lalu turun kelambung
gunung menghadapi lawan. N akulo dan Sadewo pun turun dari gunung tempat Begawan
Abiyoso bertapa. Kepergian nya diikuti oleh Kyai Semar. Mereka telah tiba dikak
i gunung. Brotoseno telah be rlaadapan dengan Kurupati. Keduanya telah saling me
nantang, Saling mencela. Akhi rnya terjadilah perkelahian hebat. 25. Kurupati te
rlengah, dapat ditinju dengan keras, kena pada pelipisnya. Ia jatuh terkapar, se
gera diangkut mundur. Dhursoso no datang membantu. Ia terlengah dapat ditangkap
disekap erat erat, selanjutnya dilemparkan jauh jauh, jatuh bagaikan diempaskan
ditanah. Dia tak sadarkan diri. 89

26. Para Korawa yang lain datang.rnengeroyok. Namun tak mendatangkan rasa ketaku
tan bagi Brotoseno. Korawa yang datang mengeroyok, seorang demi seorang ditangk
a p dan dilempar. Tiada seorang pun dapat meloloskan diri. 27. Haryo Sengkuni me
ny aksikan rusaknya pasukan Korawa akibat amukan Brotoseno. Ia amat iba hatinya,
la lu minta belas kasihan dari Brotoseno, agar mau meredakan amarahnya. Sengkun
i me nunjukkan korban dari amukan, bergelimpangan disana sini sambil merintih me
ngelu h kesakitan. 28. Sengkuni menyatakan orang berbuat dosa, para putra yang m
enangg ung akibatnya. Sengkuni mengakui dipihaknyalah sesungguhnya sumber kerusu
han. Ol eh karena itu ia memintakan ampun untuk segenap pasukannya. Dia berjanji
akan me narik mundur pasukannya. 29. Mendengan kata pengiba iba dari Sengkuni,
menjadi r edalah kemarahan Brotoseno. Cupu diserahkan kepada Sengkuni. Sengkuni
rnenerima penyerahan cupu tempat menyimpan minyak Tolo. 30. Tutup cupu dibukanya
, ternyata isinya telah habis. Sengkuni mengambil sisa minyak seadanya, dioleska
n pada tub uhnya. Cupu lalu diisi dengan air. Kemudian Sengkuni menarik mundur p
asukannya. Mereka yang menderita kesakitan diangkut dengan tandu. 31. Pasukan As
tina yang d itarik mundur itu perjalanannya telah tiba dinegerinya. Sengkuni lal
u masuk keda lam istana. Ia melaporkan bahwa pengejaran para Pandawa berhasil da
pat dikejar, tetapi perlawanan pun terjadilah. Cupu dapat dirappas, sayang keada
an sudali kos ong. lsinya telah dipakai oleh para Pandawa. 32. Cupu kosong lalu
diserahkan kep ada Raja Dhesthoroto. Baginda amat menyesal lagi marah. Cupu diem
paskan ketanah, Cupu pun jadi hancur. Hati Dhesthoroto bingung tak menentu. Para
Korawa dinaseh atkan kembali. 33. Ceritera beralih mengenai para Pandawa. Sesud
ah Brotoseno ber hasil memundurkan Korawa, ia beserta saudaranya kembali menghad
ap kakeknya. Tiba dipertapaan Brotoseno memberikan laporan kepada Sang Begawan,
hasil penunaian t ugas dari kakeknya Begawan Abiyoso puas hatmya. 34. Istirahat
sejenak, Sang Abiy oso berkata kepada cucunya ia mengutarakan pendapat, kalau ke
adaan seperti yang mereka alami itu berjalan berlarut larut, bagaimana hasil kaj
ian nanti. Ia menas ihatkan agar berani membuka rimba yang terletak disebelah ba
rat dari tempat pert apaan Sang Begawan. Rimba itu disebut hutan Martani. 35. Pa
ra Pandawa menyanggup i perintah kakeknya, mereka lalu berangkat menuju tempat h
utan Martani. Kyai Sem ar dan Dewi Kunthi tak ketinggalan. Mereka lalu membangun
tempat istirahat ditep i sungai didekat pantai. 36. Sesudah tempat peristirahat
an selesai dibangun, pek erjaan membuka hutan dimulai siang hari sehabis mennger
jakan membuka imba, ditem pat itulah mereka beristirahat. Malam hari mereka tidu
r ditempat itu pula. Apa y ang dimakan, adalah umbi umbian yang didapat dari hut
an itu. . 37. Sepanjang cer itera, terdaptlah ceritera tentang Negeri Prnggadani
dan Rajanya bergelar Raja A rimba. Saudaranya ada empat orang. Adikk Raja Arimb
a, seorang wanita, langsing b entuk tubuhnya, cantik paras mukanya Putri itu ber
naaa Arimbi. 38. Adik laki lak i Arimba tiga orang. Adik Arimbi bernama Brojoden
to, adik Brojodento bernarna Br ojolamatan, yang terakhir Brojumustika. 39. Kono
n Raja Arimba mengumumkan sayemb ara. Isi sayembara barang siapa dapat megalahka
n kesaktiannya, adiknya, Dewi Ari mbi akan diserahkan kepada 90

pemenng. Bila tak ada yang mampu mengalahkan. Arimbi dilarang kawin. Rasa berat
hatinya sama berat dengan bila dimadu. 40. Dewi Arimbi amat bersedih hati. Siang
malam berdoa kepada Dewa agar mendapat karunia suami. Hyang Pramesthi memerinta
h Bethara Narada turun kemarcapada membawa berita yang harus disampaikan kepada
Dewi Arimbi. Hyang Narada memberi tahu bahwa calon suami Dewi Arimbi adalah seo
r ang pria bernama Werkudara. Diharap sabar menanti pertemuan itu akan terjadi d
id alam hutan Martani. 41. Werkudoro sedang membuka hutan yang nantinya akan dij
adi kan kota. Dijelaskan saudara tua dari Brotoseno ialah Puntodewo. Berturut tu
rut adiknya yartu Janawi, Nakulo Sadewo. Sesudah lengkap, Hyang Narada memberika
n pe njelasan, segera kembali ke Kahyangan. 42. Sepergi Hyang Narada, adik adik
Arimb i bernama Brojodento, Brojokalpo dan Brojomusthi dikumpulkan 43. Setelah b
erkump ul, mereka diberitahu bahwa Hyang Narada telah menjelaskan bahwa calon su
aminya seorang satria gagah perkasa bernama Brotoseno. Dia sedang membuka hutan
Martani . Pembantu tugas itu adalah empat orang saudaranya. Penjelasan selanjutn
ya ia di wajbkan membantu Dewi Arimbi, minta pendapat dari adik adiknya.. 44. Ad
ik adik A rimbi mendukung bila kakaknya bermaksud ingin membantu pekerijaan Brot
oseno. Dew i Arimbi minta pendapat tentang pemberitahuan kepada kakaknya Raja Ar
imba. Adik adiknya merasa tidak perlu memberi tahu kepada kakanda Raja Prmggodan
i. Menurut hematnya sayembara yang diadakan Raja Arimba merugikan pihak lain, ta
k perlu dip atuhi. 45. Secara diam diam mereka meninggalkan Negeri Pringgadani.
Konon mereka yang membuka hutan Martani itu sedih hatinya. Kalau berhasil meneba
ngi batang d idepan, pohon pohon dibelakangnya pulih kemball dengan subur. Merek
a berhenti di bawah pohon beringin sambil mengenang hasil kerja yang sangat meng
ecewakan itu. 46. Tersebutlah dalam ceritera, kedatangan empat orang raksasa, se
orang diantara nya seorang raksasa perempuan, mereka berhenti didekat kelompok p
utra Pandhu. Pu ntodewo menanyakan dari manakah asalnya, apa pula maksudnya. Pun
todewo menilal r aksasa wanita itu cantik cakap, sayangwajahnya berujud wajah ra
ksasa. 47. Dewi A rimbi menjelaskan mereka berasal dari negeri Pringgadani Rajan
ya ialah saudara t ertuanya bernama Arimba. Kedatangan kalian memenuhi petunjuk
Dewa supaya membant u Brotoseno. Dewa mentakdirkan Brotoseno itulah calon suami.
48. Dewa menyatakan dalam perkawinan dengan Brotoseno nanti akan mendapat anuge
rah seorang putera y ang sakti perkasa. Puntodewo menyerahkan keputusan pendapat
dan Brotoseno sendir i mengenai setuju atau tidak. 49. Brotoseno menjawab tak m
ungkin jadi seorang ma nusia pria kawin dengan seorang raksasa wanita. Ucapan Br
otoseno itu bertujuan a gar Dewi Arimbi mengurungkan keinginan. Ternyata kejadia
n hasil sebaliknya. 50. Brotoseno mengajukan persaratan yang perlu mendapat tang
gapan, pertimbangan dan kesanggupan Brotosen bersedia memperistri kepada Dewi Ar
imbi apabila sanggup dan dapat membersihkan semua batang yang tumbuh dalam rimba
Pringgadani dalam waktu tiga hari. 51. Dewi Arimbi menyanggupi. Adik adiknya di
mintai bantuannya dengan sungguh sungguh. Mereka mencabuti batang batang kayu da
ri udara. Dalam 91

jangka waktu tidak lama, hutan Martani telah merupakan tumpukan batang kayu. Ari
mbi mendatangkan topan badai bersamaan dengan marak api. Batang batang kayu ter
b akar api lalu dilanda topan. Seketika itu juga hutan Martani jadi bersih. Tiad
a sepotohg kayu pun ketinggalan. 52. Syahdan Hyang Pramesthi menyuruh Yang Narad
a turun ke Marcapada membawa Kalimasada untuk kelima bersaudara. Sebagai pemegan
g adalah Puntodewo 53. Selain itu Hyang Pramesthi menganugerahkan juga gada raks
as a pusaka untuk Brotoseno. Sesudah bersih, hutan Martani dari pohon pohon peng
gan ggu pembangunan sebuah kota, maka Dewi Arimbi datang bersujud kepada Puntode
wo. 54. Ia menagih janji yang telah diberikan kepadanya. Puntodewo melanjutkan t
untu tan janji yang telah diberikan kepada Arimbi. Puntodewo menjelaskan : tidak
. bai k : orang mengingkar janji. Brotseno mendengus dengus dan menarik nafas pan
jang, tanda tak puas rasa hatinya. XXVIII. DURMA 01. Hyang Narada datang kembali
. Dia menyampaikan kata kata dan lagi ciri khas dari Yang Narada bila memulai pe
mbicar aan. Genjong waru doyong : janganlah Brotoseno bersedih hati, Hyang Jagad
Nata m emerintah membantu apa yang menjadi kerepotan Arimbi. 02. Selain itu Yan
g Narada ditugaskan menyerahkan Kitab Kalimasada sebagai benda pusaka bagi para
Pandawa, hendaknya dipelihara baik baik. Puntodewo sebagai putra pandu tertua di
percayak an menyimpan pusaka Kalimasada. Dia dinobaatkan menjadi Raja. 03. Sesud
ah dinoba tkan, disarankan memakai gelar RajaYudhistira. Negara yang sedang diba
ngun, kare na semula berujud hutan belantara bernama hutan Martani, diseyogyakan
diben nama Negeri Amarta. Hyang Pramestlu mentakdirkan Dewi Arimbi jadi isteri
Brotoseno. 04. Negeri Amarta selanjutnya akan jadi negara yang berwibawa, berpen
garuh besar kepada negara negara lain. Janaka diangkat sebagi satria mengatur ke
kuatan dan Prajurit Negeri Amarta. Nakulo dan Sadewo dipercayakan menjaga kesela
matan Neger i. 05. Yang Narada lalu memanggil Dewi Arimbi. Ia dimanterai untuk d
iubah sifatn ya menjadi manusia biasa. Karena bentuk badan aslinya memadai maka
ia menjadi se orang putri cantik sempurna. 06. Oleh karena tugas yang diberikan
dan Hyang Giri Nata selesai dikerjakan, maka Yang Narada pergi meninggalkan Nege
ri Amarta menu ju Suralaya. Pertemuan disudahi. 07. Brotoseno kembali keternpatn
ya membawa Dewi Arimbi. Ditempat itu Arimbi dimiminta menyiapkan diri menenima u
lah asmara yang lain sifat kedaannya dengan biasa terjadi. Dijelaskan pada saat
ulah asmara yan g ia jalankan tak akan terdapat cumbu rayu, melainkan akan terja
di adegan adegan uji coba kesaktian. Dewi Animbi mengalami diempaskan dan diinja
k dibumi, hingga berakibat bumi lekuk, diempaskan perbatuan, kebatang kayu yang
besar. Terakhir Dewi Arimbi diempaskan kebetis kiri dan kanan. 08. Namun segala
penderitaan itu dirasa sebagai garam gulai, bumbu yang menambah nikmatnya tidur
Pagi dan sehabis bangun tidur. Dewi Arimbi 92

bangun dari tidurnya. Ia duduk badannya merasa letih lesu. Sehabis mandi, badann
ya merasa segar, kekuatan pulih kembali. 09. Sekali peristiwa Arimbil menemui B
r otoseno minta izin ingin mengunjungi kakaknya Raja Pringgadani. Ia sudah lama
ti dak bertemu, rasa rindu mengendap dilubuk kalbu. Apalagi pada saat berpisah t
ida k memberi khabar kepadanya. Ia membayangkan kakaknya itu tentu bersusah paya
h me ncari. 10. Brotoseno mengizinkaa permintaan dari Arimbi, bahkan ia sanggup
menga ntar, dalam perjalanan. Brotoseno menentukan langkah sebaiknya. Arimbi dip
ersila hkan mengambil jalan lewat udara, sedang ia sendiri akan menempuh jalan d
idarat. Brotoseno yakin bahwa sampainya ditempat yang dituju akan bersamaan wakt
unya. A rimbi menerima baik petunjuk dari Brotoseno. Ia menghadap kakanda Bagind
a Puntod ewo minta izin dan restu akan meninggakan istana pergi melepaskan rindu
terhadap kakanda Baginda Raja Pringgadani. 11. Sri Yudhistira mengizinkan dan m
erestui k eberangkat Dewi Arimbi bersama Brotoseno Semar serta anak anaknya dipe
rintahkan mengiringi perjalanan Brotoseno. Keberangkatan Brotoseno siap membawa
gada raksa sanya. Perjalanan mereka disertai angin ribut. 12. Arimbi telah beran
gkat lebih dahulu bersama sama tiga orang adik laki lakinya, ialah Brojodento, B
rojomusthi dan Brojokalpo. Mereka menghendaki tiba lebih dahulu dari Brotoseno,
dinegeri Pr inggoani, Setibanya di Negeri Pringgodani mereka langsung menghadap
Raja Arimba. 13. tas kedatangan wanita ayu yang turun dari angikasa itu. Raja Ar
imba sangat tertegun. Arimba bertanya : Bidadari apakah yang baru saja datang it
u. Arimbi be rsujud, sesudah itu ia menyatakan bahwa dia adalah Arimbi, adiknya
Dew Arimbi me nceriterakan segala pengalaman dan langkah yang telah dijalankan.
Sebelumnya ia telah minta maaf lebih dahulu karena menjalankan segala sesuatu ta
npa sepengetah uan Raja Arimba. 14. Raja Arimba jadi amat marah. Baginda merasa
tidak dihargai sebagai saudara tua. Kecuali itu merasa dikesampingkan tidak dimi
ntai pertimbang an untuk menentukan sutu langkah yang akan diambil. 15. Dengan s
uara sentak lant ang, Raja Arimba menanyakan dimana suami Arimbi berada. Dijawab
oleh Arimbi masi h ada dalam perjalanan. Ia menjelaskan bahwa jalan yang ditemp
uh berlainan. Dia menempuh jalan diudara sedang Brotoseno menempuh jalan didarat
. 16. Raja Arimba memerintahkan adik adiknya dengan suara lantang, memasang pela
na dipunggung gaja h peliharaan Baginda. Raja Arrimba bemaksud melampiaskan kema
rahannya, menyerang Brotoseno. Dia menggunakan kendaraan gajah itu sebab dia mem
iliki kesaktian bil a pengendaranya mati dalam medan laga dapat hidup kembali ka
rena dilompati tubuh nya. 17. Setelah gajah tersebut siap dengan membawa segala
persenjataan, Baginda naik diataspunggung gajah, kemudian berangkatlah. Jalannya
gajah dipercepat. 18 . Tak lama kemudian bertemulah Raja Arimba dengan seorang
yang bertubuh gagah pe rkasa. Dia berkata dalam hati, kiranya Brotoseno sesuai d
engan yang telah diceri takan adiknya itu. Arimba segera menegur siapa namanya.
Brotoseno melancarkan pe rtanyaan balik siapa nama raksasa itu berani menghentik
an perjalanannya. 19. Ari mba memberi jawaban terhadap pertanyaan balik dari Bro
toseno. Ia menyatakan bahw a dia adalah Raja Negeri Pringgadani bernama Raja Ari
mba, 93

kakak dari Arimbi ia pun mengutarakan namanya. Arimba menyatakan : bila betul Br
otoseno itu suami Arimbi adiknya, dia diajak adu kesaktian sebagai uji coba. 20
. Tantangan Arimba diterima oleh Brotoseno. Brotoseno berkali kali dipukul denga
n bindi, namun tidak dirasakan. Dalam kelengahan, Brotoseno dapat mrebut gada da
r i Raja Arimba. 21. Arimba mendapat serangan balasan dari Brotoseno, menggunaka
n bindi yang lepas dari tangannya, mengenai tubuhnya Arimba jatuh dari punggung
ga jah yang dikendarai, tak sadarkan diri. Melihat kejadian itu gajah kendaraan
cep at cepat melompati tubuh majikannya. 22. Arimba jadi sadar dan segar kembah.
Seg era ia naik diataspunggung gajah lagi. Ia melancarkan serangan balasan. Bro
tosen o menjadi semakin marah ia mengambil bindi sendiri pemberian dari Dewa. Ke
duanya saling menyerang. 23. Lama kelamaan Arimba lengah, terkena. pukulan bindi
dari Brotoseno. Raja Arimba dan gajahnya remuk redam. Brotoseno melanjutkan prj
alanan nya menuju istana Pringgodani. Berita gugumya Raja Arimba melawan Brotose
no ters ebut, telah sampai diistana Pringgodani. Dewi Arimbi menyongsong kedatan
gan Brot oseno. 24. Tiba diistana Brotoseno disambut oleh Arimbi, selanjutnya di
persilahk an duduk bersama Adik adiknya Brojodento, Brojomusti dan Brojokalpo da
tang mengh adap. 25. Dalam bercakap cakap Brotoseno menceriterakan perlawanannya
dengan Raj a Arimba. Atas persetujuan adik adiknya, untuk sementara sebagai Raj
a Pringgodan i ialah Dewi Arimbi didampmgi adik adiknya. Kelak bila Arimbi mempu
nyal putra la ki laki, dialah penerus penjabat Raja di Negen Pringgodani. 26. Se
telah beberapa lama Brotoseno ada di Istana Pringgodani, ia minta kerelaan hati
Dewi Arimbi se rta adik adiknya, pergi menjenguk Puntodewo : kakaknya beserta ad
ik adiknya yang ditinggalkan di Wonomarta yang baru saja dibuka. Dia mengkhawati
rkan keselamata n saudara saudaranya tersebut. 27. Arimbi tidak keberatan melulu
skan pemintaan s uaminya Brotoseno lalu berangkat. Perlanannya tak mendapat kesu
karan. Dalam wakt u singkat telah sampai dihutan Martani. Hutan Martani dengan j
arak luas tiga har i perjalanan itu telah berhasil dibuka dan dijadikan negeri b
ernama Negeri Amart a. 28. Di Negeri Amarta Brotoseno bertemu dengan ibunda Dewi
Kunthi sedang ditem ui kakanda Sri Yudhistira serta adik adiknya. Perkembangan
pembangunan Negeri Am arta amat cepat. Dari hasil pembukaan hutan Martani, penuh
pohon yang ditumbangk an porak peranda, cepat jadi bersih. Akhinnya cepat diban
gun istana lengkap deng an perlengkapannya. Ada alun alun cukup luas, bangunan b
angunan tempat kediaman para pangeran serta pegawai negeri. 29. Terletak dikanan
kiri dan belakang istan a dibangun rumah Pangeran Werkudoro mendiami bangunan y
ang ada diistana, disebut Ki Pangeran Pamenang (Tunggal Pamenang) Janawi menempa
ti bangunan dikiri istana dinamai Pangeran Madukoro. 30. Nakula dan Sadewo ditem
patkan di Kepangeranan Sa wojajar prajurit juga telah disediakan tempat masing m
asing banyak pendatang dar i luar negeri, ingin menetap dinegeri karena tertarik
oleh kemakmuran dan kesubu ran Negara Amarta. 31. Karena kesuburan tanah di Ama
rta, segaia benih yang ditan am dengan baik. Ditempat tempat sisa pembakaran, ta
nah dapat berbuah lebat. Tana man padi 94

berbuah memuaskan. Buah buahan masak ranum diatas. Berjatuhan sendiri. Negeri Am
arta aman sejahtera. 32. Tercenitera Janaka berguru kepada seorang Pandita di S
e lamaya, bernama Kapi Jembawan. Pendita ini amat tajam pengamatan hatinya. Tahu
a kan peristiwa peristiwa jauh sebelum datang. Pendeta tersebut adalah pegawai
dar i Raja Ramawija. 33. Konon ceriteranya, Ramawijaya sesudah menghancurka Nege
ri A lengka, lalu meninggalkan kerajaan, ia bertapa para hamba sahaya hanyak yan
g men gikuti. 34. Pendita Kapi Jembawan mempunyai seorang anak wanita bemama Jem
bawati . Akhirnya Endang Jembawati dipersaudarakan dengan Janaka. Sang Pandita s
angat k asih sayang kepada Arjuna. Banyak kesaktian serta kecakapan telah diajar
kan kepa da Janawi. 35. Konon Noroyono ingin juga berguru kepada Kapi Jembawan..
Ia datan g dipertapaan Selapralaya diikuti adik perempuannya bernama Brotojoyo.
Brotojoyo adalah seorang wanita yang meniiiki wajah cantik jelita. 36. Karena k
etajaman r nataliatinya, Pendeta Jembawan tahu bahwa nantinya Noroyono akan mend
apat wahyu kesaktian dari Bethara Wisnu Murti. Pengertian itu disimpan dalam hat
i Pandita J embawan. 37. Pendita Jembawan menenima baik kedatangan Noroyono deng
an adiknya, Dewi Brotojoyo Noroyono dipersilakan bertempat bersama dengan Arjuno
adiknya. Sa ng Pandita menyatakan bahwa Janawi diisi pengetahuan kecakapan dala
m hal ini kep erjunitan. 38. Sekali penstiwa, sehabis waktu pelajaran Dyah Jembo
wati mengantar kan santapan untuk Noroyono dan Arjuno. Sesudah santapan diterima
oleh Janoko, J embowati pergi kembali. 39. Setelah melihat wajah Jembowati, pad
a saat sekembali nya ditempat. Noroyono tak tahan mengekang rindu asmaranya. Kar
ena menahan rindu nya itu Noroyono jadi lemah lunglai seolah olah tak sadarkan d
iri. Noroyono seti ap waktu terbayang wajah Endang Jembowati mutiara pertapaan S
elopraloyo. 40. Pad a suatu kesempatan Noroyono mengajak saling membantu Arjuno
adalah putra Pandhu Dewonoto, pamannya, suami dari bibi Kunthi, diminta bantuan
memudahkan jalan unt uk mempersunting Endang Jembowati yang sudah dipersaudaraka
n dia. 41. Sebaiknya Noroyono sanggup mempermudah jalan usaha Arjuno untuk mempe
rsunting adiknya Brot ojoyo untuk jadi istrinya. Menanggapi ajakan Noroyono itu
Arjuno menyampaikan se nyum penuh arti. 42. Sebaiknya sejak kedatangannya di Sel
opraloyo. Arjuno telah menaruh perhatian besar terhadapnya, tetapi disimpan dala
m hati rapat rapat. Mak a persetujuan yang dinyatakan bersedia, asal tidak mengi
ngkari janji. Jawab Noro yono : jangan khawatir itu pasti. 43. Pandita Jembawan
telah membau gejolak pera saan Noroyono itu. Dia mengizinkan pergaulan anak wani
tanya dengan Noroyono deng an Jembowati dikukuhkan dengan ikatan perkawinan. Ses
udah dalam perkawinan. Pand ita memberi wejangan mengenai dasar dasar kerukunan
dan dasar dasar usaha kesela matan hidup. 44. Brotojoyo telah disetujui pertunan
gannya dengan Arjuno. Seorang putra lalu minta izin, meanjutkan tujuan, yaitu me
laksanaknakan bertapa. Sang P andita merestui 95

XXIX. SINOM 01. Tersebutlah dalam ceritera, Arjuno menyuruh Brotojoyo masuk keda
lam cincin. Kemudian berangkat menuju ketengah rimba, diikuti Kyai Semar besert
a anak anaknya Disana Arjuno melaksanakan bertapa. Ia berganti nama: Dewa Asmara
. 02. Beralih ceritera mengenai Raja Yudistira yang sudah lama menduduki singasa
n a Negeri Amarta, Baginda amat bersedih hati, karena belum mendapat seorang wan
it a yan pantas menjadi permaisunya. 03. Hyang Narada turun ke Negeri Amarta, me
nde kati Raja Yudhistira. Yang Narada memberi nasehat : Janganah bersedih hati.
Dewa telah mentakdirkan seorang wanita yang layak menjadi permaisurinya. Raja Ne
geri Capaka, mempunyai anak wanita bernama Durpadi. Dia putri rupawan calon perm
aisu ri Baginda. Wanita juga bernama Srikandhi. Adik berikutnya yang laki laki b
emain a Trustho Jumeno. 04. Putra sulung yaitu kakak Durpadi pria bernama Gondom
ono. D ia berbadan gagah perkasa. Gondomono seorang satria sakti. Sukar dicari t
olak ba ndingnya. Pada suatu ketika Gondomono mengadakan sayembara. Isi sayembar
a : bara ng siapa dapat menundukkan kesaktiannya, akan diserahi adiknya. 96