Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. K DENGAN GANGGUAN
OKSIGENASI : BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF

Oleh :
UCIP SUCIPTO S.Kep

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN FKIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2009
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten,


reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli
tertentu. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya
respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah
baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsure vital dalam
proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel
tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup udara
ruangan dalam setiap kali bernafas. Adanya kekurangan O 2 ditandai dengan
keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian
jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan. Pemberian terapi O 2 dalam
asuhan keperawatan memerlukan dasar pengetahuan tentang faktor-faktor
yang mempengaruhi masuknya O2 dari atmosfir hingga sampai ke tingkat sel
melalui alveoli paru dalam proses respirasi.
Proses respirasi merupakan proses pertukaran gas yang masuk dan
keluar melalui kerjasama dengan sistem kardiovaskuler dan kondisi
hematologis. Oksigen di atmosfir mengandung konsentrasi sebesar 20,9 %
akan masuk ke alveoli melalui mekanisme ventilasi kemudian terjadi proses
pertukaran gas yang disebut proses difusi. Difusi adalah suatu perpindahan/
peralihan O2 dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dimana konsentrasi
O2 yang tinggi di alveoli akan beralih ke kapiler paru dan selanjutnya
didistribusikan lewat darah.
Selain faktor difusi dan pengangkutan O2 dalam darah maka faktor
masuknya O2 kedalam alveoli yang disebut sebagai ventilasi alveolar.
Ventilasi alveolar adalah salah satu bagian yang penting karena O 2 pada
tingkat alveoli inilah yang mengambil bagian dalam proses difusi. Besarnya
ventilasi alveolar berbanding lurus dengan banyaknya udara yang masuk
keluar paru, laju nafas, udara dalam jalan nafas serta keadaan metabolik.
Terapi O2 merupakan salah satu dari terapi pernafasan dalam
mempertahankan okasigenasi jaringan yang adekuat.
Indikasi pemberian utama pemberian O2 ini adalah sebagai berikut :
1. Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah
2. Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap
keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan
serta adanya kerja otot-otot tambahan pernafasan
3. Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk
mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang
adekuat.
B. Tujuan
1. Mengetahui atau memahami tentang gangguan oksigenasi
2. Mampu mengaplikasikan intervensi keperawatan tentang gangguan
oksigenasi (bersihan jalan napas tidak efektif) pada pasien Asma
bronchial

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian

Bersihan jalan nafas tidak efektif adalah ketidakmampuan dalam


membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk menjaga
bersihan jalan nafas.
B. Etiologi
1) Lingkungan

Asap, asap rokok, inhalasi asap, perokok pasif


2) Obstruksi jalan nafas
Spasme jalan nafas, mucus banyak, sekresi yang tertahan, adanya jalan
nafas buatan, benda asing di jalan nafas, sekresi di bronchus, eksudat di
alveoli.
3) Fisiologis
Disfungsi neuromuscular, hyperplasia dinding bronchial, penyakit paru
obstruksi kronik, infeksi, asthma, alergi.
C. Faktor predisposisi

a) Genetik

Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum


diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
2. Faktor presipitasi
a) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, contohnya debu,
bulu binatang
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut, contohnya makanan dan obatobatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit, contohnya
perhiasan, logam
b) Perubahan cuaca, cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin
sering mempengaruhi
c) Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
d) Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab
terjadinya serangan asma.
e) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat, sebagian besar penderita akan
mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olah raga
yang berat.
D. Patofisiologi

Faktor
pencetus:
Allergen
Olahraga
Cuaca
Emosi/Emosi

Respon imun
menjadi aktif

Asma Bronkhial

Pelepasan mediator
Humoral :
Histamine
SRS-A
Serotonin
Kinin
Adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil, sekresi
mucus yang kental dalam
lumen bronkhioulus dan
spasme otot polos.

Manifestasi klinis:
Komplikasi:
Sesak nafas
Status
Mengi
Bersihan jalan napas tidak
asmatikus
Batuk
Kerusakan pertukaran gas

Atelektasis
Nyeri di dada
Risiko
tinggi
terhadap
Hipoksemia
infeksi
Takikardi
Pneumothorak
Pernafasan cepats
dangkal
E. Tanda dan Gejala
Emfisema
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak
ditemukan
Deformitas
gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan
dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot
bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini
adalah sesak nafas, mengi (whezing), batuk, dan pada sebagian penderita ada
yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai
bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul
makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran,
hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal. Serangan asma
seringkali terjadi pada malam hari.
Tanda dan gejala dari bersihan jalan nafas tidak efektif sendiri adalah:
Dispnea, penurunan suara nafas, orthopnea, suara nafas tambahan : (rales,
crakles, ronkhi, wheezing), batuk tidak efektif dan tak dapat batuk, produksi
sputum, sianosis, kesulitan bicara, mata melebar, perubahan ritme dan
frekuensi pernafasan, gelisah.
F.

Pemeriksaan Penunjang
No.
1.

Temuan
3

N. Normal

WBC 9,08 (10 /I)

M= 4,8-10,8

RBC 5,14 (106/I)

F= 9,8-10,8

HGB 14,4 (g/dl)

M= 4,7-6,1

HCT

92,7 (%)

Pemeriksaan
Pemeriksaan darah

MCV 83,1 (FI)


PLT

139 (10 /I)

Differential
Neut 5,67 (103/I)

F= 4,2-5,4 M=
19-18
F= 12-16

Lymph 2,47 (103/I)

M= 42-52

Mono 2,47 (103/I)

F= 37-47

Neut % 62,5 (%)


Cymph 27,2 (%)

150-950

1,8-8
0,9-5,2
0,16-1
50-70
25-90
2.

Pemeriksaan sputum

3.

Pemeriksaan radiologi

4.

Pemeriksaan tes kulit

5.

Elektrokardiografi

6.

Scanning paru

7.

Spirometri

G. Pathway

Asma bronchial
Sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus
Jalan nafas terganggu
Bersihan jalan napas tidak efektif

H. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1) Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekresi di bronchus

DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, K. (1990) Asma Bronchiale, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam,
Jakarta : FK UI.
Brunner & Suddart (2002) Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Jakarta :
AGC.
Crockett, A. (1997) Penanganan Asma dalam Penyakit Primer, Jakarta :
Hipocrates.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) Rencana Asuhan
Keperawatan, Jakarta : EGC.
Guyton & Hall (1997) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo (1997) Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Volume 1,
Jakarta :EGC.
Price, S & Wilson, L. M. (1995) Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, Jakarta : EGC.
Reeves, C. J., Roux, G & Lockhart, R. (1999) Keperawatan Medikal Bedah,
Buku Satu, Jakarta : Salemba Medika.
Sundaru, H. (1995) Asma ; Apa dan Bagaimana Pengobatannya, Jakarta : FK
UI.