Anda di halaman 1dari 29

4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar keperawatan


2.1.1 Pengertian
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan formal dalam bidang
keperawatan, yang program pendidikannya telah disahkan pemerintah (PPNI,
1999). Perawat profesional adalah perawat yang mengikuti jenjang pendidikan
tinggi keperawatan minimal D III Keperawatan yang disebut perawat profesional
pemula.
Keperawatan adalah model pelayanan profesional dalam memenuhi
kebutuhan dasar yang diberikan individu baik sehat maupun sakit yang
mengalami gangguan fisik, psikis dan sosial agar dapat mencapai derajat
kesehatan yang optimal (Nursalam, 2003).
Keperawatan adalah suatu kegiatan yang berfokus kepada pemenuhan
kegiatan individu baik yang mampu atau tidak mampu melakukan perawatan
mandiri sehingga individu tersebut mempertahankan atau melakukan perawatan
mandiri (Dorothea Orem, 1978 dikutip H. Zaidin Ali, 1999).
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada kiat dan ilmu
keperawatan, berbentuk pelayanan biopsikososial spiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat
maupun yang sakit mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (Lokakarya
Nasional, 1983)

Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan


diperlukan alat ukur yaitu standar asuhan keperawatan yang baku dan disahkan
melalui kesepakatan oleh tenaga perawatan. Standar menurut Donabedian
(dikutip, Anwar 1994) adalah rumusan tentang penampilan atau nilai yang
diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah
ditetapkan.
Standar menurut Rowland (dikutip, Anwar 1994) adalah spesifikasi dari
fungsi atau tujuan yang harus dipenuhi oleh suatu sarana pelayanan agar pemakai
sarana pelayanan dapat memperoleh keuntungan yang maksimal dari pelayanan
yang diselenggarakan. Standar asuhan keperawatan berfungsi sebagai pedoman
maupun tolak ukur dalam pelaksanaan praktik keperawatan, apakah praktik
asuhan keperawatan sudah dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai professional,
etika dan tanggung jawab.
Standar keperawatan menurut: American Nurse Association, memberikan
kriteria tertulis tentang evaluasi keperawatan. Perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan, dan standar praktik keperawatan mengijinkan untuk:
1. Mempertahankan praktiknya jika kebutuhan muncul.
2. Mengadakan penelitian untuk meningkatkan praktik keperawatan.
3. Mengukur asuhan keperawatan yang diberikan pada klien terhadap standar
praktik untuk kualitas dan kelayakan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat

maupun sakit yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (Lokakarya


Nasional, 1983).
Asuhan keperawatan adalah suatu rangkaian kegiatan pada praktek
keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien di berbagai tatanan
pelayanan kesehatan, dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia (PPNI,
1999). Kegiatan tersebut menggunakan metodologi proses keperawatan,
berpedoman pada standar, serta dilandasi etik dan etika keperawatan.
Pada dasarnya standar asuhan keperawatan adalah penegasan atau
penjabaran dari standar praktik keperawatan Standar asuhan keperawatan
menggambarkan tingkat kompeten dari asuhan yang diberikan melalui proses
keperawatan, mencakup: pengkajian, diagnosis, perencanaan dan implementasi
serta evaluasi (Goodner. B & Skidmore.L 1995).
Doenges, et al. (1993) membedakan standar asuhan keperawatan menjadi 6
tahap dengan memisahkan identifikasi hasil dari tahap perencanaan. Adapun
standar asuhan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, identifikasi hasil,
perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Di Indonesia telah dijabarkan oleh PPNI (1999) dalam bentuk standar
praktek keperawatan profesional. Standar tersebut mengacu kepada langkahlangkah proses keperawatan yang juga dipakai sebagai tahapan standar asuhan
keperawatan, terdiri dari

5 standar yaitu: Pengkajian, diagnosa keperawatan,

perencanaan, implementasi dan evaluasi.


Standar keperawatan dapat digunakan sebagai target atau ukuran untuk
menilai penampilan. Jika standar memberi arah dan panduan langsung pada
perawat dalam melakukan asuhan keperawatan, maka penampilan kerja yang ada

pada program evaluasi. Standar juga dapat digunakan sebagai alat kontrol, artinya
hasil evaluasi dibandingkan dengan standar yang ada (Keliat, 1993. dikutip
Hamid, 2000).
Di Indonesia kebutuhan adanya standar asuhan keperawatan sebagai
pedoman dan dasar evaluasi pelaksanaan standar asuhan keperawatan, telah
dipenuhi

pemerintah

dengan

keputusan

menteri

kesehatan

RI

No.660/MenKes/SK/IX/1987, yang dilengkapi dengan surat edaran Direktur


Jenderal Pelayanan Medik No.YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993 tentang berlakunya
standar asuhan keperawatan di rumah sakit dan PERMENKES No.1239/2001
tentang registrasi dan praktik keperawatan profesional di Indonesia.
Ilmu keperawatan akan selalu berkembang mengikuti perubahan-perubahan
yang terjadi dalam bidang kesehatan yang sebenarnya bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan dari klien ataupun masyarakat. Standar asuhan keperawatan tidak harus
baku untuk selamanya melainkan sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali dan
disesuaikan dengan perkembangan IPTEK kesehatan/keperawatan, serta sistem
nilai masyarakat (Depkes RI 1997).
2.1.2 Lingkup Standar Asuhan Keperawatan
Pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah pelayanan yang memuaskan
setiap pemakai jasa layanan kesehatan. Menurut Azwar (1994). Kualitas adalah
kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan. Pelayanan asuhan keperawatan yang
sesuai standar, terdiri dari:
1. Pengkajian
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan
keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan individu.

Menurut Allen (1998), pengkajian adalah kegiatan untuk mengumpulkan


data, memvalidasi data yang didapat dari hasil observasi, wawancara, konsultasi
dan pemeriksaan.
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyer et al, 1996)
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan
pasien baik fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengumpulan data dalam pengkajian:
1) Tipe data
a) Data subyektif
Data subyektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai sesuatu
pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak
dapat ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui suatu
interaksi atau komunikasi (Nursalam, 2003).
b) Data obyektif
Data obyektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur (Iyer et
al, 1996).
Kriteria struktur (Pokja PPNI, 2001):
1) Metode pengumpulan data yang digunakan dapat menjamin:
a. Pengumpulan data yang sistematis
b. Diperbaharui data dalam pencatatan yang ada

c. Kemudahan mendapatkan data


d. Terjaganya kerahasiaan
2) Tatanan praktek mempunyai sistem pengumpulan data keperawatan yang
merupakan bagian integral dari sistem pencatatan pengumpulan data pasien.
3) Sistem pencatatan berdasarkan proses keperawatan. Singkat, menyeluruh,
akurat dan berkesinambungan.
4) Sistem pengumpulan data yang merupakan bagian integral dari sistem
pencatatan kesehatan pasien. Praktek mempunyai sistem pengumpulan data
keperawatan yang menjadi bagian dari sistem pencatatan kesehatan pasien.
Ditatanan praktik tersedia sistem pengumpulan data yang memungkinkan
diperoleh kembali jika diperlukan.
5) Tersedianya sarana dan lingkungan yang mendukung.
Kriteria proses:
1) Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan
fisik dan mempelajari data penunjang.
2)

Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang terkait, tim kesehatan, rekan
medis dan catatan lain.

3) Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:


a. Status kesehatan saat ini
b. Status kesehatan klien masa lalu
c. Status fisiologi, psikologis, sosial dan spiritual
d. Respon terhadap terapi
e. Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal
f. Resiko masalah potensial

10

Kriteria hasil:
1.

Data dicatat dan dianalisa sesuai dengan standard dan format yang ada.

2.

Data yang dihasilkan akurat, terkini dan relevansi sesuai kebutuhan


pasien.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon
manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
Pernyataan atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian tentang status
kesehatan klien. Menurut Gordon (1987) diagnosis keperawatan adalah diagnosis
yang dibuat oleh professional, menggambarkan tanda dan gejala yang
menunjukan masalah kesehatan yang dirasakan klien.
NANDA menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik
tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan
aktual ataupun potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk
mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat.
Menurut Nursalam 2003, tujuan diagnosa keperawatan untuk mengidentifikasi ;
1. Masalah dimana adanya respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit.
2. Faktor-faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah (etiologies).
3. Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.

11

Kriteria struktur (Pokja PPNI, 2001)


1) Tatanan praktek memberi kesempatan:
a. Teman sejawat, pasien untuk melakukan validasi diagnosis keperawatan.
b. Adanya mekanisme pertukaran informasi tentang hasil penelitian dalam
menetapkan diagnosis keperawatan yang tepat.
c. Untuk dipakai sumber-sumber dan program pengembangan professional
yang terkait.
d. Adanya pencatatan yang sistematis tentang diagnosis pasien.
Kriteria proses:
1) Proses diagnosa terdiri dari analisis, interpetasi data, identifikasi masalah klien
dan perumusan diagnosa keperawatan.
2) Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari masalah (P), penyebab (E),
gejala (S) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).
3) Bekerjasama dengan klien, orang terdekat klien, petugas kesehatan lain untuk
memvalidasi diagnosa keperawatan.
4) Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data terbaru.
Kriteria hasil:
1) Diagnosa keperawatan divalidasi oleh pasien bila mungkin.
2) Diagnosis keperawatan yang dibuat diterima oleh teman sejawat sebagai
diagnosis yang relevan dan signifikan.
3) Diagnosis didokumentasikan untuk memudahkan perencanaan, implementasi,
evaluasi dan penelitian.

12

3. Perencanaan keperawatan
Perawat mengembangkan rencana tindakan keperawatan untuk mencapai
tujuan yang diharapkan, dengan rasional perencanaan dikembangkan berdasarkan
diagnosis keperawatan, membuat kriteria hasil, menulis instruksi keperawatan dan
menulis rencana asuhan keperawatan. Tujuan perencanaan adalah untuk
mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan klien. Tahapan
perencanaan keperawatan adalah menentukan prioritas diagnosa keperawatan,
penetapan sasaran (goal ) dan tujuan (objektif), menentukan kriteria evaluasi dan
merumuskan intevensi keperawatan.
Tujuan rencana tindakan keperawatan dapat dibagi menjadi dua (Carpenito,
2000);
1) Tujuan administratif
a. Untuk mengidentifikasi fokus keperawatan kepada klien atau kelompok
b. Untuk membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi keperawatan
yang lainnya
c. Untuk menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan evaluasi
keperawatan
d. Untuk menyediakan kriteria klasifikasi klien
2) Tujuan klinik
a. Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan
b. Mengkomunikasikan dengan staf perawat; apa yang diajarkan, apa yang
diobservasi, dan apa yang dilaksanakan
c. Menyediakan kriteria hasil (outcomes) sebagai pengulangan dan evaluasi
perawatan

13

d. Rencana tindakan yang secara spesifik secara lansung bagi individu,


keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya untuk melaksanakan tindakan
Kriteria stuktur (Pokja PPNI, 2001):
1) Sarana yang dibutuhkan untuk mengembangkan perencanaan.
2) Adanya mekanisme pencatatan, perencanaan sehingga dapat digunakan
kembali dikomunikasikan perencanaan.
Kriteria proses:
1) Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan dan rencana
tindakan keperawatan.
2) Bekerja sama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
3) Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
4) Mendokumentasikan rencana keperawatan.
Kritera hasil:
1) Tersusunnya suatu rencana asuhan keperawatan pasien.
2) Perencanaan mencerminkan penyelesaian terhadap diagnosis keperawatan.
3) Perencanaan tertulis dalam format yang singkat dan mudah didapat.
4) Perencaan menunjukan bukti adanya pencapaian tujuan.

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik (Iyer et al, 1996)
Menurut Nettina (1996), meliputi pengkoordinasian aktivitas pasien,
keluarga, anggota tim kesehatan lain, mendelegasikan intervensi keperawatan
dengan

mempertimbangkan

kemampuan

dan

keterbatasan

anggota

tim

14

keperawatan, mengawasi bentuk intervensi keperawatan serta mencatat respon


pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Tahap pelaksanan
dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada nursing order
untuk membantu kien untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan kewenangan dan tanggung
jawab perawat secara professional sebagaimana terdapat dalam standar praktek
keperawatan (Nursalam, 2003).
1) Independen
Tindakan independent adalah suatu tindakan yang dilaksanakan oleh perawat
tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
2) Interdependen
Interdependen tindakan keperawatan menjelaskan suatu kegiatan yang
memerlukan suatu suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya.
3) Dependen
Tindakan dependen berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis.
Tindakan

tersebut

menandakan

suatu

cara

dimana

tindakan

medis

dilaksanakan.
Kriteria struktur (Pokja PPNI, 2001):
1) Sumber daya untuk melakukan kegiatan.
2) Pola ketenagaan yang sesuai dengan kebutuhan.
3) Ada mekanisme untuk mengkaji dan merevisi pola ketenagaan secara
periodik.
4) Pembinaan dan peningkatan ketrampilan mekanisme keperawatan.
5) Sistem konsultasi keperawatan.

15

Kriteria proses:
1) Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
2) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk meningkatkan status
kesehatan klien.
3) Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah klien.
4) Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksana keperawatn dibawah
tanggung jawabnya.
5) Menjadi koordinator pelayanan dan advokasi terhadap klien untuk
mencapai tujuan kesehatan.
6) Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan fasilitasfasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
7) Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep dan
ketrampilan asuhan diri serta membantu klien untuk memodifikasi
lingkungan yang digunakannya.
8) Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan dan tindakan keperawatan
berdasarkan respon klien.
Kriteria hasil:
1 Terdokumentasinya tindakan keperawatan dan respon klien secara
sistematis dengan mudah diperoleh kembali.
2 Tindakan keperawatan dapat diterima oleh klien.
3 Ada bukti-bukti yang terukur tentang pencapaian tujuan.

16

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan
yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Menurut Nettina (1996), evaluasi adalah menentukan keberhasilan tindakan
keperawatan dan kebutuhan akan perubahan rencana keperawatan meliputi:
a) Pengumpulan data pengkajian
b) Membandingkan perilaku pasien yang diharapkan dengan kenyataan yang
ada
c) Melakukan evaluasi bersama pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya
d) Mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan dalam menentukan tujuan
dan rencana keperawatan.
Standar asuhan keperawatan perlu dipelajari, dihayati dan harus dilakukan
sungguh-sungguh dalam setiap praktek keperawatan, juga menjadi pedoman bagi
setiap pelaksana asuhan keperawatan, ini akan memberikan harapan untuk
terciptanya pelayanan keperawatan yang professional.
Tujuan dari evaluasi:
1) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan
yang ditetapkan)
2) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan
untuk mencapai tujuan)
3) Meneruskan rencana tindakan keperawatan (Klien memerlukan waktu
yang lebih lama dalam mencapai tujuan) (Iyer et al, 1996)

17

Kriteria struktur (Pokja PPNI, 2001):


1)

Sarana dan lingkungan yang mendukung untuk terlaksananya proses


evaluasi.

2)

Adanya akses informasi yang dapat digunakan perawat dalam


penyempurnaan perencanaan.

3)

Adanya supervise dan konsultasi untuk membantu perawat melakukan


evaluasi secara efektif dan mengembangkan alternative perencanaan
yang tepat.

Kriteria proses:
1)

Menyusun rencana evaluasi hasil tindakan secara komprehensif, tepat


waktu dan terus menerus.

2)

Menggunakan

data

dasar

dan

respon

klien

dalam

mengukur

perkembangan kearah pencapaian tujuan.


3)

Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan sejawat dan klien.

4)

Bekerja sama dengan klien, keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan


keperawatan.

5)

Mendokumentasikan hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.

6)

Melakukan supervise dan konsultasi klinik.

Kriteria hasil:
1)

Diperolehnya hasil revisi data, diagnosis, rencana tindakan berdasarkan


evaluasi.

2)

Klien berpatisipasi dalam proses evaluasi dan revisi rencana tindakan.

3)

Hasil evaluasi digunakan untuk mengambil keputusan.

18

4)

Evaluasi tindakan terdokumentasikan sedemikian rupa yang menunjukan


kontribusi terhadap efektifitas tindakan keperawatan dan penelitian.

2.1.3 Tujuan standar asuhan keperawatan


Standar asuhan keperawatan merupakan komitmen profesi keperawatan dan
disusun dengan tujuan untuk:
a) Mengadakan pengukuran yang minimal sama bagi asuhan keperawatan
dimanapun dilakukan.
b) Memberikan

pedoman

bagi

perawat

untuk

melakukan

tindakan

keperawatan, dengan menerapkan kriteria-kriteria bagi setiap tindakan.


c) Memberi pedoman bagi pengelola keperawatan dalam mengevaluasi
proses dan tindakan keperawatan yang dilaksanakan.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1997), dalam standar
asuhan keperawatan aspek keamanan pasien mendapat perhatian dengan
ketentuan tentang pencegahan terjadinya kecelakaan dan hal-hal lain yang tidak
diinginkan seperti: menjaga keselamatan pasien yang gelisah di tempat tidur,
mencegah infeksi nasokomial,

mencegah kecelakaan pada penggunaan alat

elektronika, mencegah kecelakaan pada penggunaan alat yang mudah meledak,


serta mencegah kekeliruan pemberian obat.
Kenyamanan dan kepuasan klien merupakan aspek yang utama, hal itu dapat
dicapai apabila falsafah keperawatan dan tujuan keperawatan serta kriteria-kriteria
dalam standar intervensi keperawatan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan
klien yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab serta sesuai dengan
standar asuhan keperawatan.
1) Falsafah keperawatan

19

Falsafah keperawatan dalam standar asuhan keperawatan adalah setiap


tenaga keperawatan berkeyakinan, bahwa:
a) Manusia adalah individu yang memiliki kebutuhan biopsikososial,
spiritual yang unik. Kebutuhan ini harus selalu dipertimbangkan dalam
setiap pemberian asuhan keperawatan kepada klien.
b) Keperawatan adalah bantuan bagi umat manusia yang bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan secara optimal kepada semua yang
membutuhkan dengan tidak membedakan bangsa, suku, ras, agama
disetiap tempat pelayanan kesehatan.
c) Tujuan asuhan keperawatan dapat dicapai melalui usaha bersama dari
semua anggota tim kesehatan dan pasien/keluarga.
d) Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan proses
keperawatan yang dilakukan secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan
akan kesehatan dalam ruang lingkup biopsikososial, spiritual.
e) Perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat, memiliki kewenangan
untuk melakukan asuhan keperawatan secara utuh berdasarkan dari standar
asuhan keperawatan.
f) Pendidikan keperawatan berkelanjutan harus dilakukan secara terus
menerus untuk pertumbuhan dan perkembangan staf dalam pelayanan
keperawatan.
2) Tujuan Keperawatan
Adapun yang dimaksud dengan tujuan asuhan keperawatan dalam standar
asuhan keperawatan disini adalah:

20

a) Memberi bantuan yang paripurna dan efektif kepada semua yang


memerlukan pelayanan kesehatan sesuai dengan sistem kesehatan
nasional.
b) Menjamin bahwa semua bantuan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
pasien dan mengurangi/menghilangkan kesenjangan.
c) Mengembangkan standar asuhan keperawatan yang ada.
d) Memberi kesempatan kepada semua tenaga kesehatan/keperawatan untuk
mengembangkan tingkat kemampuan profesional.
e) Memelihara hubungan kerja yang efektif dengan semua anggota tim
kesehatan.
f) Melibatkan pasien dalam perencanaan dan pelaksanaan pelayanan
keperawatan.
g) Menciptakan

iklim

menunjang

proses

mengajar

dalam

kegiatan

pendidikan bagi perkembangan tenaga keperawatan.


h) Menunjang program pendidikan berkelanjutan bagi pertumbuhan dan
perkembangan pribadi tenaga keperawatan.
2.1.4 Aspek hukum standar asuhan keperawatan
Seperti yang telah diuraikan dalam tujuan, aspek hukum di Indonesia
sehubungan dengan pelaksanaan perawatan yang sesuai dengan standar asuhan
keperawatan sudah memiliki kekuatan hukum yang kuat.
Standar asuhan keperawatan yang telah diberlakukan didalam tatanan
pelayanan keperawatan dapat digunakan sebagai kontrol oleh klien terhadap
pelaksanaan standar asuhan keperawatan, misalnya perilaku perawat terhadap
pasien, sesama tim keperawatan maupun tim kesehatan lain. Apabila terdapat

21

permasalahan dari perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan maka klien


dapat mengajukan tuntutan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Perawat harus memberikan tindakan keperawatan kepada klien sesuai
dengan standar asuhan keperawatan. Hal ini merupakan tindakan pelaksanaan
tindakan oleh perawat berdasarkan pengalaman dan pendidikannya yang telah
didapa (Cazalas dikutip: Nursalam, 2001). Kesalahan dalam pelaksanaan standar
praktik keperawatan bisa sebagai suatu kealpaan (negligence) tugas perawat. Ada
4 hal yang berhubungan dengan negligence, yaitu:
1) Klien menjadi tanggung jawab perawatan yang bersangkutan.
2) Perawat tidak melakukan tugas yang diemban.
3) Tindakan keperawatan yang menyebabkan perlukaan atau kecacatan
kepada klien.
4) Perlukaan atau kecacatan disebabkan oleh tindakan negligence (lupa dan
kesalahan yang tidak disengaja).
2.2

Konsep dasar perilaku


Lawrence green (1991) menganalisa perilaku manusia dari tingkat

kesehatan. Dikatakan bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi


oleh dua factor yaitu factor perilaku (behaviour causes) dan factor non perilaku
(non behaviour causes). Perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:
1)

Faktor dasar/perediposisi (predisposing faktor) yang mencakup dalam


pengetahuan, sikap, kebiasaan, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai social
dan unsur-unsur lainyang terdapat dalam diri individu dan masyarakat serta
factor demografi (umur, jenis kelamin)

22

2)

Faktor pendukung (enabling factor) meliputi pendidikan, status social, status


ekonomi, pekerjaan, sumber daya atau potensi masyarakat seperti
lingkungan fisik dan sarana yang tersedia.

3)

Faktor pendorong (reinforcing factor) meliputi sikap dan perilaku dari orang
lain misalnya teman, orang tua, tokoh masyarakat serta petugas kesehatan.
Model diatas dapat digambarkan sebagai berikut
B=f (PF, EF, RF
Keterangan B : Behavior
PF : Predisposing Factor
EF : Enabling Factor
RF : Reinforcing Faktor
Prilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan aktivitas

organisme yang bersangkutan. Jadi prilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu
aktivitas daripada manusia itu sendiri. Oleh sebab itu prilaku manusia mempunyai
bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian
dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir,
persepsi, dan emosi juga merupakan prilaku manusia. Jadi prilaku adalah apa yang
dikerjakan organisme tersebut baik dapat diamati secara langsung atau tidak
langsung (Notoatmodjo, 2003). Secara teori perubahan perilaku atau sesesorang
menerima atau mengadopsi sesuatu melalui tiga tahap:

2.2.1 Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi pada panca

23

indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, raba dan raba.
Sebagian pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan
dan kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang (over behavior), (Notoadmojo, 2003). Menurut Sudirman
(1987) dijelaskan bahwa pengetahuan berkaitan erat dengan perilaku manusia
yaitu sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya,
Menurut Depdikbud (1998), pengetahuan adalah hasil tahu dan hal ini
terjadi setelah manusia mengadakan penginderaan terhadap obyek tertentu.
Pengetahuan merupakan jenjang yang paling rendah dalam kemampuan kognitif
meliputi: penginderaan tentang hal-hal yang bersifat khusus atau universal, dalam
hal ini tekanan utama pada pengenalan kembali, fakta, prinsip, proses dan pola.
pengetahuan dikembangkan melalui logika, intuisi, pengalaman, terutama
kejadian kejadian yang sama berulang dan dipengaruhi oleh pendidikan dan
sosialisasi (Cristopher Johns, 1992).
Pengetahuan yang tercakup dalam kognitif mempunyai enam tingkatan
(Notoatmodjo, 1993)
1.

Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari

atau rangsangan

yang telah diterima. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyampurkan, menguraikan, mendefinisikan dan menyatukan.

24

2. Memahami (comprehention)
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi
harus

dapat

menjelaskan,

menyebutkan

contoh,

menyimpulkan,

meramalkan, terhadap obyek yang dipelajari.


3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini
dapat diartikan sebagai aplikasi penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip dalam konteks atau situasi lain.
4. Analsis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau

suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu


stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis

adalah

suatu

kemampuan

untuk

meletakan

atau

menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk keseluruhan yang


baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi-formulasi yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi penilaian
terhadap materi atau obyek. Penilaian-penilaian tersebut berdasarkan suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau ketentuan yang telah ada.

25

Menurut Dorothy E. Johnson 1997, menyebutkan: pengetahuan tentang ilmu


keperawatan sangat diperlukan agar pelayanan keperawatan yang akan diberikan
kepada klien mempunyai tujuan jelas dan efektif. Pengetahuan tersebut
memberikan dasar konseptual dan rasional terhadap metode pendekatan yang
dipilih untuk mencapai tujuan-tujuan keperawatan yang spesifik dan tepat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (1997) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang yaitu:
1) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian,
kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup
(Notoatmodjo, 1993). Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
seseorang tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka
seseorang cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang laian
maupun dari media masa, semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan seseorang tentang kesehatan (IB Matra, 1994).
2) Pengalaman
Pengalaman belajar dalam bekerja yang berkembang memberikan
pengetahuan dan keterampilan profesional serta pnegalaman belajar
selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil
keputusan yang merupakan manifestasi dan keterpaduan menalar secara
ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang
keperawatan (Jones dan Back, 1996).

26

3) Umur
Dua sikap tradisional mengenai ujalannya perkembangan selama
hidup:
Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai
dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah
pengetahuannya.
Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua
karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental.
Dapat diperkirakan IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya
usia khusunya pada beberapa kemampuan yang lain seperti misalnya
kosakata dan pengetahuan umum. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ
seseorang akan menurun cukup cepat sejak bertambahnya usia (Maicom H
dan Steve H, 1995)

2.2.2 Sikap
Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk
bertindak sesuai dengan sikap dan obyek tadi (Heri Purwanto,1999), jadi sikap
senantiasa terarah terhadap suatu hal, suatu obyek, tidak ada sikap yang tanpa
obyek. Sikap dapat terarah pada benda-benda, peristiwa, pandangan-pandangan,
norma serta nilai-nilai. Menurut Charles Abraham (1997) dalam buku psikologi
untuk perawat alih bahasa Leoni Sally. Hal:26, menyatakan: sikap itu bersifat
sosial dalam arti kita menyesuaikan dengan orang lain dan kelihatannya itu
menuntut perilaku kita sehingga kita bertindak sesuai sikap yang kita ekspresikan.
Ciri-ciri sikap adalah:

27

1) Sikap bukan dibawa dari sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan seseorang dalam hubungan dengan obyeknya.
Sifat ini membedakan dengan sifat motif-motif biogenesis seperti lapar,
haus dan kebutuhan akan istirahat.
2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan karena itu
pula sikap dapat berubah-ubah pada seseorang, bila terdapat keadaan atau
syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang lain.
3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu
terhadap suatu obyek. Dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau
berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu dan dapat
dirumuskan dengan jelas.
4) Obyek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga
merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
Notoatmodjo, 1993 sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap
obyek. Adapun tingkatannya sebagai berikut :
a.

Menerima (receiving)
Bahwa seseorang atau subyek mau dan memperhatikan stimulus yang
diberikan (obyek)

b.

Merespon (responding)
Subyek

memberikan

jawaban

apabila

ditanya,

mengerjakan

dan

menyelesaikan tugas yang diberikan yang berarti orang tersebut menerima ide
sebagai stimulus.
c.

Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

28

d.

Bertanggung Jawab (responsible)


Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah diperolehnya dengan segala
resiko.
5. Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat-sifat inilah
yang membedakan sikap dari kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan
yang dimiliki seseorang.

Sikap dapat dibentuk atau berubah melalui empat macam cara:


1. Adopsi
Merupakan kejadian-kejadian dan peristiwa yang terjadi berulang dan
terus menerus, lama kelamaan akan diserap ke dalam diri individu dan
mempengaruhi terbentuknya suatu sikap.
2. Eferensiasi
Berkembangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman sejalan dengan
bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang terjadi dianggap sejenis,
sekarang dipandang lepas dari jenisnya. Obyek tersebut dapat terbentuk
pula sikap tersendiri.
3. Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai
pengetahuan yang berhubungan dengan suatu hal tertentu.
4. Trauma
Pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan dan meninggalkan kesan yang
mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang
traumatis dapat juga menyebabkan membentuknya suatu sikap, namun
pembentukan sikap ini tidak terjadi begitu saja melainkan melewati suatu

29

proses tertentu, melalui kontak sosial terus menerus antara individu


dengan individu lain di sekitarnya.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya sikap
a) Faktor Intern
Merupakan faktor yang terdapat dalam diri seseorang yang bersangkutan,
seperti selektifitas. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsangan dari
luar melalui persepsi, oleh karena kita harus memilih rangsangan mana
yang akan kita dekati, dan mana yang harus dijauhi. Pilihan ini ditentukan
oleh motif-motif dan kecenderungan dalam diri.
b) Faktor Eksterm
Merupakan faktor diluar manusia itu sendiri, yaitu: sifat obyek yang
dijadikan sasaran sikap, kewibawaan orang yang menggunakan suatu
sikap, sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap,
mediakomunikasi yang digunakan dalam penyampaian sikap, dan situasi
pada saat sikap dibentuk.

2.2.3 Praktek atau tindakan (practice)


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt
Behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara
lain adalah fasilitas.

30

Praktek mempunyai beberapa tingkatan:


1. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil adalah Merupakan praktek tingkat pertama.
2. Respon Terpimpin (Guided Respon)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai
dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.
3. Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebisaan, maka
ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.
4. Adopsi (Adopsion)
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni
dengan wawancara terhadap kegiatan yang telah dilakukan beberapa
jam, beberapa hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga
dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi
tindakan atau kegiatan responden.

31

2.3 Kerangka konsep penelitian


Faktor dasar/
prediposisi
Pengetahuan
Sikap
-

Kebiasaan
Kepercayaan
Keyakinan
Nilai sosial

Faktor pendukung

Faktor Pendorong

Pendidikan

Rekan

Status sosial

Petugas kesehatan

Ekonomi

lain

Pekerjaan

Keluarga

Sumber daya

PERAWAT

Standar Asuhan Keperawatan


Pengkajian
Diagnosa
Perencanaan
Pelaksanaan
evaluasi

Penerapan Standar Asuhan


Keperawatan

= Diteliti

= Tidak diteliti

Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap


Perawat Tentang Standar Asuhan Keperawatan Dengan Penerapan.
Asuhan Keperawatan di RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka
Raya

32

Kerangka konseptual diatas menggambarkan adanya faktor-faktor


yang berhubungan dengan perawat selaku pelaksana asuhan keperawatan
didasarkan pada konsep prilaku (Lawrence green, 1991), dimana pelaksanaan
asuhan keperawatan dipengaruhi oleh faktor dasar/prediposisi yang meliputi
pengetahuan, sikap, kebiasaan, kepercayaan, keyakinan dan nilai sosial. Faktor
pendukung meliputi pendidikan, status sosial, ekonomi, pekerjaan dan sumber
daya. Faktor pendorong meliputi rekan, petugas kesehatan lain dan keluarga.
Faktor-faktor diatas dimasukan dalam konsep pelaksanaan standar asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi

2.4

Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian (Nursalam, 2003). Hipotesis pada penelitian ini adalah ada
hubungan tingkat pengetahuan dan sikap perawat tentang standar asuhan
keperawatan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Ruang Penyakit Dalam
RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.