Anda di halaman 1dari 16

RESUME

KEWAJIBAN & EKUITAS PEMILIK


Chapter 8 Buku Accounting Theory Edisi Ke-7, 2010, Karangan Jayne Godfrey, dkk

Disusun oleh:
Akbar Ganiardhi / 03
Fadel Khalif Muhamad / 11
Marietta Kusuma Dewi / 20
Muhamad Try Satria Pranata / 23
Rizka Wulandari / 29
Kelas VIII STAR B

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Teori Akuntansi Program Diploma IV Keuangan
Spesialisasi Akuntansi STAR BPKP Semester VIII T.A. 2014/2015

KEWAJIBAN & EKUITAS PEMILIK

Aset (yang dipegang perusahaan) berasal dari pemilik ataupun pihak lain yang memasok dana
untuk mengakuisisi aset tersebut nilai total aset bergantung pada klaim satu atau beberapa pihak,
umumnya agar dibayarkan uangnya. Ada dua macam klaim (dengan hak yang berbeda), yaitu oleh:
kreditor
disebut kewajiban (liabilities)
menjadi kewajiban entitas pelaporan
memiliki klaim terlebih dahulu atas aset (jika
terjadi likuidasi)
hampir selalu lebih spesifik (dalam hal:
jumlah & waktu pembayarannya)

pemilik
disebut ekuitas pemilik (owners equity)
entitas tidak diwajibkan mentransfer aset kepada
pemilik;
menjadi kewajiban saat dividen diumumkan
(muncul utang dividen/dividends payable)
klaim kemudian (setelah klain terhadap kreditor
dipenuhi)

Dengan demikian, liabilities kewajiban saat ini suatu entitas; owners equity klaim atau
kepentingan residu, namun bukan kewajiban untuk mentransfer aset.
Ada dua teori yang dikemukakan untuk membantu memahami akuntansi, yaitu: Proprietary
Theory (Teori Hak Milik) dan Entity Theory (Teori Entitas/Kesatuan). Teori pertama mendasarkan
pada ide bahwa pemilik menjadi pusat perhatian. Seluruh konsep, prosedur, aturan akuntansi
dirumuskan dengan mengingat kepentingan pemilik. Sebaliknya, teori kedua mengemukakan bahwa
suatu bisnis merupakan sebuah entitas terpisah dan akuntansi mencatat transaksi entitas.
LO 1 PROPRIETARY THEORY (TEORI HAK MILIK)
Kepemilikan (proprietorship/P) menggambarkan kekayaan bersih suatu bisnis, disajikan dalam
persamaan berikut:
P=A-L
di mana kepemilikan (ekuitas pemilik) sama dengan aset (assets/A) dikurangi kewajiban (liabilities/L).
P menunjukkan kekayaan bersih pemilik bisnis. Sprague menyatakan bahwa:
Neraca kepemilikan adalah penjumlahan dari seluruh elemen pada beberapa waktu tertentu
yang merupakan kekayaan beberapa orang atau kelompok orang ... Tujuan keseluruhan
perjuangan suatu bisnis adalah peningkatan kekayaan, yaitu peningkatan hak milik.
Assets menjadi milik pemilik, dan liabilities menjadi kewajiban pemilik pula. Berdasarkan
keterangan ini, tampak bahwa tujuan akuntansi adalah untuk menentukan kekayaan bersih pemilik.
Teori ekonomi perusahaan mengambil pandangan ini, dengan perluasan pada peran pengusahapemilik. Konsep pendapatan (yang meningkatkan kekayaan bersih) dipandang sebagai pengembalian
terhadap enterpreneurship (upaya kewirausahaan).
2

Pendapatan dihasilkan dan beban dikeluarkan akibat dari keputusan dan perilaku pemilik (atau
perwakilan pemilik). Akun pendapatan dan beban merupakan subsidiary account (akun pembantu/
turunan) dari P, yang dipisahkan sementara untuk menentukan keuntungan pemilik. Pendapatan
adalah penambahan kepemilikan; beban adalah pengurangan kepemilikan. Vatter menjelaskan:
Teori double entry (pembukuan berganda) didasarkan pada ide bahwa akun beban dan
pendapatan memiliki karakteristik algebra yang sama dengan kekayaan bersih, misalnya:
akun yang cenderung meningkatkan kekayaan bersih ditambahkan pada sisi kredit, akun
yang cenderung menurunkan kekayaan bersih ditangani secara sebaliknya (menambah sisi
debit).
Sehingga, laba bersih merupakan kenaikan kekayaan pemilik selama periode tertentu. Jika hal
ini merupakan apa yang digambarkan sebagai pendapatan, maka harus mencakup seluruh aspek yang
memengaruhi perubahan kekayaan bersih pemilik selama periode tersebut. Perubahan pada kekayaan
bersih diturunkan dari aktivitas yang menghasilkan pendapatan, berlaku juga pada perubahan nilai
aset. Contoh: nilai intrinsik dari judul surat kabar bisa jadi bertambah dan dapat menarik premi
signifikan kepada pemilik jika terealisasi (terjual). Argumen terkait kasus tersebut: peningkatan
kekayaan bersih pemilik seharusnya diakui, meski perubahan kekayaan tersebut masih belum nyata
hingga surat kabar terjual. Masalah akuntansi yang dihadapi adalah mengukur perubahan nilai yang
belum nyata tersebut.
Kebanyakan, praktik akuntansi saat ini berdasarkan pada teori kepemilikan. Dividen lebih
dianggap sebagai distribusi keuntungan ketimbang beban, karena merupakan pembayaran kepada
pemilik. Di sisi lain, bunga utang maupun pajak pendapatan dianggap sebagai beban karena
mengurangi kekayaan pemilik. Bagi pemilik tunggal maupun persekutuan, gaji yang dibayarkan
kepada pemilik (yang juga bekerja pada perusahaan) tidak dianggap sebagai beban, karena pemilik
dan perusahaan merupakan entitas yang sama/satu kesatuan (tidak dapat membayar dirinya sendiri
sehingga tidak dapat dikurangkan sebagai beban).
Metode ekuitas untuk investasi jangka panjang mengakui kepemilikan atau kepentingan hak
milik dari perusahaan investor. Hal itu mengizinkan perusahaan investor untuk mencatat persentase
bagian laba investee sebagai profit. Dalam laporan keuangan konsolidasi, metode perusahaan induk
adalah berdasarkan teori kepemilikan. Perusahaan induk dipandang memiliki perusahaan anak. Hak
minoritas (dari sudut pandang pemilik perusahaan anak) menggambarkan klaim sekelompok pihak
luar. Perluasan hak minoritas dianggap sebagai pengurangan kepemilikan.
Pandangan modal keuangan lebih tepat menganut teori kepemilikan (ketimbang modal fisik).
Pandangan modal keuangan memperluas investasi keuangan pemilik; pandangan modal fisik berfokus
pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tingkat operasi fisiknya (tanpa memperhatikan
klaim kepemilikan). Pandangan kepemilikan tidak membedakan aset pemilik dengan aset entitas.
Sehingga, seluruh keuntungan perusahaan didistribusikan kepada pemilik. Jika perusahaan
membutuhkan sumber daya tambahan, dananya dapat diperoleh dari sumber daya pribadi pemilik.
3

Modal = jumlah kas yang diinvestasikan pemilik + keuntungan (yang direinvestasi oleh simpanan
dalam perusahaan). Banyak orang mengadopsi pandangan keuangan atas modal, dan hal itu juga
menjadi praktik akuntansi konvensional tradisional.
Pandangan kepemilikan dalam akuntansi dikembangkan saat bisnis masih kecil (saat masih
berbentuk milik pribadi/persekutuan). Dengan munculnya perusahaan, teori ini tidak cukup menjadi
dasar untuk menjelaskan akuntansi perusahaan. Secara hukum, perusahaan merupakan entitas terpisah
dari pemiliknya dan memiliki hak sendiri. Perusahaan (bukan pemegang saham) menguasai aset dan
menanggung kewajiban bisnis. Tidak hanya perusahaan memikul kewajiban bisnis, namun dengan
adanya ciri kewajiban terbatas, logis jika pemegang saham bertanggung jawab atas kewajiban
perusahaan. Jika para pemegang saham dari perusahaan besar ingin menggunakan apa yang dianggap
hak milik dengan menarik (kembali) aset dari itu, mereka akan melanggar hukum. Penarikan kas
(dividen) benar-benar merupakan pendistribusian melalui prosedur legal yang formal.
Akuntabilitas (pertanggungjawaban) terhadap pemilik merupakan fungsi signifikan dari suatu
perusahaan besar, karena adanya gap antara manajemen dengan pemegang saham. Bagi perusahaan
kecil, pemilik mengetahui status keuangan bisnisnya gagasan tentang akuntabilitas/stewardship
tidak begitu berarti. Sebaliknya, pada perusahan, kontak antara pemegang saham dengan urusan terkait
perusahaan sangat minim. Pemegang saham bergantung pada informasi yang dilaporkan oleh
manajemen kepadanya.
Meski demikian, ada kasus-kasus di mana perusahaan besar terkait dengan satu atau beberapa
individu kunci atau sebuah organisasi pengendali, di mana dalam praktiknya, kekayaan pemiliknya
tidak dapat dipisahkan dari organisasi. Dalam kasus tersebut, teori kepemilikan masih relevan.
Entity Theory (Teori Entitas)
Teori entitas dirumuskan sebagai respon atas kekurangan dari pandangan kepemilikan tentang status
hukum terpisah dari suatu perusahaan. Teori ini dimulai dari fakta bahwa perusahaan adalah sebuah
entitas terpisah dengan identitasnya sendiri. Teori ini melampaui asumsi entitas akuntansi mengenai
pemisahan urusan bisnis dan pribadi. Martin menguraikan dua asumsi terkait yang diwujudkan dalam
gagasan sebuah entitas akuntansi, yaitu:
1. Pemisahan untuk tujuan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya;
2. sudut pandang prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.
Meski teori entitas secara khusus cocok untuk akuntansi perusahaan, pendukungnya percaya
teori ini dapat diterapkan pada organisasi milik perseorangan, persekutuan, bahkan nirlaba, asalkan:
-

akun dan transaksi diklasifikasikan dan dianalisis dari sudut pandang entitas sebagai sebuah unit

operasi;
prinsip dan prosedur akuntansi tidak dirumuskan dalam hal kepentingan tunggal, seperti pada

organisasi milik perseorangan.


Paton menyatakan, untuk setiap perusahaan bisnis:

Ini adalah bisnis dengan sejarah keuangan di mana petugas pembukuan dan akuntannya
sedang mencoba mencatat dan menganalisis; buku dan akun merupakan catatan bisnis;
laporan periodik operasi dan posisi keuangan merupakan laporan bisnis.
Entitas bukanlah seseorang dan tidak dapat bertindak dengan sendirinya. Ia adalah sebuah
institusi, meski demikian ia merupakan suatu hal yang sangat nyata, menurut Paton. Keberadaannya
nyata dan terukur, bahlan memiliki kepribadian sendiri. Bagi sebuah perusahaan, sekali modal
sahamnya diterbitkan, kehidupan perusahaan tidak bergantung pada kehidupan pemegang sahamnya.
Dari sudut pandang akuntansi, entitas setiap area kepentingan ekonomi yang keberadaannya
terpisah dari pemiliknya (entitas sebagai unit independen).
Dalam sudut pandang ini, tujuan akuntansi boleh jadi untuk stewardship atau akuntabilitas.
Versi tradisional teori entitas: perusahaan bisnis beroperasi demi keuntungan pemilik ekuitas, penyedia
dana bagi entitas. Sehingga, kepada pemilik ekuitas, entitas harus melaporkan status dan konsekuensi
dari investasi mereka. Interpretasi yang lebih baru memandang entitas seperti berbisnis untuk dirinya
sendiri dan tertarik pada kelangsungan hidupnya sendiri, sehingga entitas bisnis melapor pada pemilik
ekuitas dalam rangka memenuhi persyaratan hukum dan menjaga hubungan baik (dengan pemilik
ekuitas) jika suatu saat nanti dibutuhkan dana lebih.
Pandangan tradisional: pemilik ekuitas rekan bisnis; pandangan yang lebih baru: pemilik
ekuitas orang luar. Keduanya membuat muatan informasi laporan keuangan untuk pengambilan
keputusan (yang mana telah ditekankan dalam beberapa tahun terakhir) dapat dengan mudah dicerna.
Dalam teori ini, fokus persamaan akuntansinya adalah aset dan ekuitas. Kekayaan bersih
pemilik tidak menjadi konsep yang berarti, karena entitaslah yang menjadi pusat perhatian. Pemilik
dan kreditor keduanya dipandang secara sederhana sebagai pemilik ekuitas, penyedia dana. Persamaan
akuntansinya:
Assets = Equities
Neraca menggambarkan aset entitas, di mana Paton merujuknya sebagai penyajian kembali
laporan langsung mengenai nilai entitas, dan ekuitas ia sebut sebagai ungkapan tidak langsung dari
total yang sama. Aset merupakan milik perusahaan, dan liabilitas merupakan kewajiban perusahaan,
bukan pemilik. Telah dikemukakan bahwa karena jumlah yang diinvestasikan oleh pemilik ekuitas
harus diperhitungkan, mengarahkan pada penggunaan biaya historis aset-aset nonmoneter (karena total
pada sisi kanan laporan posisi keuangan harus sama dengan sisi kiri). Setelah menerima dana dari
pemilik ekuitas, perusahaan menginvestasikan dana tersebut dalam bentuk aset. Untuk aset-aset
nonmoneter, nilainya sebesar harga pembelian aslinya. Sayangnya, akuntabilitas tidak memandang
perlu pelacakan nilai asli investasi. Pemilik ekuitas juga tertarik terhadap perubahan nilai investasi
mereka. Current value advocates (nilai pendukung saat ini) menunjukkan teori entitas berasumsi
bahwa investor tidak begitu dekat dengan bisnis untuk membuat sendiri penyesuaian nilai. Sehingga,
akuntabilitas meyiratkan bahwa penyesuaian tersebut (yakni perubahan nilai) harus dilaporkan. Dapat
dikatakan, entitas perlu mengetahui nilai kini asetnya untuk membuat keputusan yang tepat.
5

Dalam pandangan entitas, pendapatan arus masuk aset karena transaksi yang dilakukan
oleh perusahaan; beban biaya aset dan pelayanan lain yang dikeluarkan perusahaan untuk
menghasilkan pendapatan pada periode ybs (mengurangi kekayaan aset entitas). Konsep kepemilikan
berkonsentrasi pada variabel P pada persamaan akuntansi. Konsep entitas berfokus pada sisi lain dari
persamaan tersebut, yaitu A. Hal ini karena aset dipandang sebagai sesuatu yang nyata dikelola oleh
perusahaan, sedangkan ekuitas lebih abstrak, yang berkaitan dengan klaim atas aset suatu cara tidak
langsung (sebagaimana disebutkan Paton) dalam memandang nilai aset.
Aset dan beban pada dasarnya bersifat sama; keduanya menyediakan jasa. Muncul pertanyaan
sederhana, apakah jasa tersebut langsung habis atau disisakan untuk penggunaan di masa depan.
Karakteristik dasar pendapatan adalah menghasilkan lebih banyak aset, sedangkan beban pada
akhirnya mengurangi aset: Dengan demikian, teori akuntansi mestinya menjelaskan konsep
pendapatan dan beban dalam hal perubahan aset perusahaan, bukan meningkat/menurunnya ekuitas
milik pemegang saham.
Laba bersih terutang pada perusahaan. Jika demikian, mengapa laba bersih tersebut ditutup ke
saldo laba, seolah-olah milik pemegang saham? Paton dan Littleton berpendapat bahwa pemegang
saham memiliki klaim residu kontraktual atas aset, dan hal ini menjadi alasan mengapa laba bersih
ditempatkan pada laba ditahan. Pemegang saham memperoleh yang tersisa, setelah kreditor
memperoleh pembayaran saat likuidasi perusahaan [perkembangan versi konvensional teori ekuitas].
Interpretasi yang lebih baru: akun laba ditahan ekuitas perusahaan / investasi dalam dirinya sendiri.
Pembayaran untuk penggunaan uang merupakan beban (karena kreditor maupun pemegang saham
dianggap sebagai pihak eksternal). Sehingga, beban bunga, dividen, maupun pajak pendapatan
merupakan beban bisnis, karena mengurangi nilai ekuitas milik entitas itu sendiri.
Kesimpulan: teori kepemilikan maupun teori entitas keduanya berpengaruh dalam praktik.
Teori akuntansi konvensional berdasarkan pada konsep entitas, dan laporan keuangan mencerminkan
pandangan entitas (fokusnya pada dividen dan earnings per share). Perusahaan memperdagangkan
sahamnya sendiri menunjukkan pasar menerima bahwa mereka adalah entitas yang terpisah. Meski
demikian, pandangan kepemilikan juga berpengaruh, misal: (berdasarkan konsep kepemilikan) beban
bunga dianggap sebagai expense dan dividen sebagai distribusi keuntungan.
LO 2 DEFINISI KEWAJIBAN
Kewajiban adalah elemen kunci dalam akuntansi. Bagaimana mendefinisikan bagaimana
pengakuan dan pengukuran kewajiban dalam akuntansi.
IASB Kerangka Definisi ayat 49 (b) mendefinisikan kewajiban adalah:
Sebuah Kewajiban dimasa kini atas perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu, dimana
ketika jatuh tempo dapat mengakibatkan arus keluar atas sumber daya dari perusahaan yang
mempunyai suatu manfaat ekonomis.

Definisi tersebut mengandung dua komponen arti:


- Keberadaan kewajiban sekarang, membutuhkan penyerahan di masa mendatang
- Hasil dari transaksi masa lampau atau kegiatan lain yang lewat.
Kewajiban Kini (Present Obligation)
Definisi dari The Framework menegaskan bahwa kewajiban sudah diperkirakan akan
mengurangi manfaat ekonomis. Definisi ini berfokus pada kejadian dimasa depan seperti pengorbanan
yang belum dilakukan. Peritmbangan yang mendasarinya adalah kewajiban muncul terkait dengan
pengeorbanan di masa depan.
Paragraf 62 dari The Framework menyatakan bahwa "penyelesaian" dari kewajiban kini dapat
terjadi dalam berbagai cara, misalnya dengan (1) pembayaran tunai, (2) transfer asset lainnya, (3)
penyediaan jasa, (4) penggantian/replacement kewajiban dengan kewajiban lainnya, (5) konversi dari
kewajiban ke ekuitas atau (6) kreditur menghapuskan kewajiban tersebut.
Dari metode penyelesaian kewajiban diatas, hanya poin 1 dan 2 yang melibatkan arus keluar
atas aset yang diakui oleh entitas.
Transaksi Masa Lalu (Past Transaction)
Syarat dari sebuah kewajiban adalah keharusan bahwa kewajiban tersebut merupakan hasil
dari transaksi di masa lalu memastikan bahwa hanya kewajiban muncul di masa kini-lah yang dicatat,
bukan kewajiban yang muncul di masa depan. Tetapi, kondisi dari kejadian di masa lalu mungkin sulit
ditafsirkan. Transaksi masa lalu seperti apakah yang memenuhi persyaratan agar diakui sebagai
kewajiban ? Persyaratan sangat penting dalam menentukan apakah suatu transaksi akan menimbulkan
sebuah kewajiban atau tidak.
Pengakuan Kewajiban (Liability Recognition)
Saat definisi kewajiban terpenuhi, akuntan membutuhkan rules sebagai dasar dalam penentuan
atas pengakuan kewajiban tersebut. Jenis rules yang telah digunakan dahulu mirip dengan yang
digunakan dalam pengakuan aset. 4 rules yang digunakan adalah:
- Kepercayaan pada hukum yang berlaku
- penentuan substansi ekonomis atas suatu event
- kemampuan untuk mengukur nilai kewajiban tersebut
- penggunaan prinsip konservatif.
Jika ada klaim yang berkekuatan hukum resmi, tidak ada keraguan bahwa terdapat sebuah
Kewajiban didalamnya. Walaupun equitable or constructive obligation terdapat di dalam definisi
kewajiban, kebanyakan kewajiban tersebut ditentukan atas dasar klaim yang sah terhadap entitas yang
wajib memenuhi kewajiban tersebut.

Kriteria kedua mensyaratkan bahwa harus ada pertimbangan atas substansi ekonomis atas
suatu transaksi. Apakah muncul kewajiban yang nyata ? seberapa penting pencatatan dan penyajian
event atas kewajiban didalam Balance Sheet kepada user ?
Kriteria ketiga terkait dengan penentuan nilai kewajiban. Untuk beberapa kewajiban, nilai
kewajiban ditentukan berdasarkan contract price, seperti jumlah kas yang dibayarkan untuk barang
dan jasa yang diterima. Tetapi, nilai kewajiban mungkin berbeda dengan nilai nominalnya. Sebagai
contoh, jika kewajiban jatuh tempo lebih dari 12 bulan, kita harus mempertimbangkan time value of
money. Oleh karena itu, perhitungan nilai kewajiban harus berdasarkan present value dari expected
future cash flow, bukan berdasarkan nilai nominalnya.
Berdasarkan sejarah, akuntan menggunakan pedekatan konservatif untuk mengakui aset dan
kewajiban. Secara umum, kewajiban seringkali dicatat terlebih dahulu daripada aset karena lebih
aman apabila aset understated daripada kewajiban yang understated. Tetapi, terdapat masalah dengan
keputusan perusahaan dalam mengadopsi pendekatan konservatif dalam mengukur kewajiban. Di titik
manakah perusahaan dianggap terlalu konservatif, sehingga terdapat bias dalam pengukuran
kewajiban tersebut ? padahal para pembuat keputusan membutuhkan informasi yang netral, tidak bias,
dalam membuat keputusan. Jika sebuah informasi menyesatkan karena perusahaan ingin
memunculkan image tertentu atas laporan keuangannya, akan menyesatkan para decision maker dalam
mengambil keputusan karena keputusan tersebut didasarkan atas informasi yang bias ini. Lain halnya
jika informasi tersebut netral (tidak menyesatkan) keputusan yang diambil pun mungkin berbeda dan
netral.

Kerangka IASB
Kerangka IASB memberikan panduan terkait dengan pengakuan elemen-elemen yang terdapat
di dalam neraca dan laporan laba rugi. Ayat 82 menyatakan bahwa item yang memenuhi definisi harus
diakui jika:
1.

Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa depan berkaitan dengan item yang akan

2.

mengalir ke dalam entitas


Item memiliki cost atau nilai yang dapat diukur dengan andal.
Ayat 91 memberikan pedoman khusus tambahan. Ini menyatakan bahwa kewajiban diakui di

neraca apabila kemungkinan besar tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang memiliki
manfaat ekonomi yang muncul atas hasil dari penyelesaian kewajiban dimasa sekarang dan jumlah
penyelesaian kewajiban tersebut dapat diukur dengan andal. Isu kunci yang harus dipertimbangkan

terkait pengakuan kewajiban adalah (a) terdapat kemungkinan arus keluar atas suatu manfaat
ekonomis dan (b) keandalan pengukuran kewajiban.
Mungkin sulit untuk mengaplikasikan kedua isu kunci tersebut di dunia nyata. Sebagai contoh,
apa maksud dari terdapat kemungkinan? tetapi, mungkin terdapat perbedaan individu dalam
memperkirakan terdapat kemungkinan

atas suatu event, yang akhirnya mengarah kepada

inkonsistensi dalam pengukuran kewajiban.


Apa yang dimaksud dengan andal? Kerangka menyatakan pengukuran yang dapat
diandalkan adalah bebas dari kesalahan material dan bias; lebih lanjut, bahwa item diukur sehingga
setia merupakan apa yang dimaksudkan untuk mewakili (paragraf 31) menyatakan kerangka kerja ini
secara khusus bahwa kewajiban yang tidak dapat termasuk jika mereka tidak dapat diukur dengan
andal. Beberapa orang menganggap bahwa pengukuran yang andal berarti bahwa pengukuran tersebut
dapat diverifikasi. Hal ini berarti pengukuran kewajiban bisa dihubungkan dengan bukti yang objektif
seperti nilai kontrak atau nilai pasar. Tetapi, dalam kebanyakan kasus, akuntan harus menggunakan
judgement dalam melakukan estimasi kewajiban.
LO 3 PENGUKURAN LIABILITAS
Petunjuk untuk melakukan pengukuran liabilitas yang sesuai dengan definisi dan kriteria
pengakuan di dalam kerangka konseptual jumlahnya sangat sedikit. Di dalam IFRS, metode
pengukuran liabilitas yang paling umum digunakan adalah biaya historis (atau biaya historis yang
modifikasi). Pengukuran dengan nilai wajar digunakan pada pengukuran awal untuk transaksi liabilitas
yang berhubungan dengan IAS 17 Lease, IAS 39 Recognition and Measurement of Financial
Instruments, IFRS 2 Share-based Payment, dan IFRS 3 Business Combination.
Liabilitas yang berhubungan dengan financial lease diakui di awal berdasarkan nilai wajar
leasing (dalam hal ini dapat berupa harga pasar dari properti leasing) atau nilai sekarang dari
pembayaran leasing jika lebih rendah. Pada tahun-tahun selanjutnya, liabilitas diukur berdasarkan
metode amortisasi biaya, yaitu biaya pada pengukuran awal (nilai pasar atau nilai sekarang, jika lebih
rendah) disesuaikan setiap tahun untuk menggambarkan estimasi nilainya saat ini. Saldo liabilitas
yang masih beredar berdasarkan metode suku bunga efektif untuk amortisasinya. Pada financial lease,
standar yang ada menjelaskan secara detail nilai dari liabilitas leasing. Tantangan dari hal ini adalah
bagaimana cara mengukur nilai wajar dari liabilitas yang tidak memiliki nilai pasar? Karena pada
umumnya liabilitas bersifat tetap, bukan untuk dijual.
Biaya historis adalah metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran kewajiban setelah
pengukuran awal. Dua contoh penggunaan nilai wajar untuk pengukuran setelah pengukuran awal

adalah kewajiban setelah berakhirnya masa kerja, seperti pensiun, dan provisi jangka panjang. Kedua
liabilitas ini bersifat jangka panjang dan sangat dipengaruhi oleh nilai waktu uang.
Employee Benefits-pension (superannuation) plans
Di banyak negara, pensiun digunakan oleh perusahaan untuk menyediakan manfaat bagi pekerja
yang sudah tidak bekerja kembali. Perusahaan membayar dana pensiun kepada suatu lembaga hukum
terpisah yang memegang aset yang nantinya akan digunakan sebagai pembayaran kepada pekerja yang
pensiun.
Pensiun dapat bersifat contributory (pekerja dan perusahaan berkontribusi untuk dana pensiun)
dan non-contributory (hanya pekerja yang berkontribusi). Untuk defined benefit fund, jumlah dana
yang dibayarkan kepada pekerja setidaknya merupakan sebagian kecil dari gaji rata-rata atau gaji
terakhir yang bersangkutan. Sedangkan pada defined contribution (atau accumulated benefit) fund
jumlah yang dibayarkan kepada pekerja sama seperti jumlah yang telah dikontribusikan sebelumnya.
Dana pensiun dapat berupa fully funded, partially funded, atau unfunded. Fully funded memiliki
kecukupan kas atau investasi yang dapat memenuhi kewajibannya kepada anggota. Sebaliknya,
unfunded plans tidak memiliki kas atau investasi untuk menanggung potensi pembayaran kembali
seperti yang telah direncanakan sebelumnya.
Karena pensiun dikelola oleh entitas legal yang terpisah, maka dapat diasumsikan jika unfunded
commitment dari rencana bukan merupakan liabilitas dari perusahaan yang membayar kepada lembaga
pengelola pensiun tersebut. Namun, pandangan tersebut dapat dibantah dengan pendapat lain yang
menyebutkan bahwa perusahaan memiliki kewajiban untuk memenuhi komitmen unfunded, sehingga
timbul liabilitas. Whittred, Zimmer, dan Taylor mendukung pendapat tersebut. Meskipun secara
beberapa perusahaan tidak mengakui komitmen unfunded sebagai liabilitas, tetapi berdasarkan pada
kerangka konseptual dan IAS 37/AASB 137, sulit untuk mengatakan bahwa komitmen tersebut bukan
merupakan liabilitas.
Provisions and Contingencies
Paragraf 10 IAS 37/AASB 137 menyebutkan bahwa liabilitas kontijensi adalah:
a. Kemungkinan kewajiban yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya dapat
dipastikan hanya dengan terjadinya atau tidak terjadinya peristiwa masa depan yang tidak
dapat dikontrol sepenuhnya oleh entitas, atau
b. Kewajiban saat ini yang muncul dari peristiwa masa lalu tetapi tidak diakui karena:
i.
Tidak mustahil jika ada arus keluar dari sumber daya, yang mendatangkan manfaat
ii.

ekonomi, yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban tersebut, atau


Jumlah kewajiban tidak dapat diukur dengan andal.

10

Paragraf 10 IAS 37/AASB 137 paragraf 14 tentang kriteria pengakuan untuk provisi sesuai
dengan kriteria pada kerangka konseptual untuk pengakuan liabilitas. Yaitu, liabilitas dan provisi boleh
untuk diakui hanya saat ada kewajiban masa kini, dimungkinkan adanya arus keluar dari sumber daya,
yang mendatangkan manfaat ekonomi, yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban tersebut, dan
jumlahnya dapat diukur dengan andal. Liabilitas kontijensi tidak memenuhi kriteria tersebut, sehingga
pada paragraf 27 disebutkan bahwa liabilitas kontijensi tidak diakui dalam laporan keuangan. IAS 37
menjadi salah satu hal yang dibahan oleh IASB dalam Liabilities project, dengan usulan untuk
menghilangkan istilah provisi dan liabilitas kontijensi dan menggantinya dengan non-financial
liability.
IAS 37 membatasi penggunaan dari provisi. Contoh yang dapat dijumpai di perusahaan antara
lain provisi untuk kerugian yang tidak diasuransi (uninsured loss), provisi untuk kemungkinan
kerugian (possible loss), dan provisi untuk penataan kembali (restructuring). Karena tidak ada
kewajiban untuk pihak ketiga/eksternal (komitmen untuk mentransfer sumber daya dari entitas kepada
pihak eksternal yang tidak dapat dihindari), provisi tersebut tidak diperbolehkan oleh kerangka
konseptual atau standar saat ini.
Namun, ada satu kondisi dimana pengguna laporan keuangan ingin tahu tentang potensi
kerugian, untuk evaluasi dan pengambilan keputusan tentang alokasi sumber daya yang terbatas.
Perkiraan masa depan tersebut diperlukan tetapi tidak memiliki kemungkinan yang cukup tinggi untuk
diakui secara formal, sehingga perusahaan dapat mengeluarkannya dari laporan keuangan dengan tetap
mengungkapkan potensi tersebut jika hal itu mampu memengaruhi pengambilan keputusan pengguna
laporan keuangan.
Owners Equity
Ekuitas pemilik adalah konsep dasar akuntansi ketiga yang tergambar dari persamaan akuntansi,
yang menggambarkan aset netto (aset-liabilitas) entitas. Sehingga ekuitas pemilik merupakan hak
pemilik pada aset netto entitas, dimana entitas sudah tidak memiliki kewajiban saat ini yang harus
dibayar. Namun, ekuitas pemilik tidak bermakna kewajiban untuk mentransfer aset, tetapi hak nilai
sisa (residual claim). Sebagai akibat dari sisa ini, jumlah yang ditunjukkan pada neraca
menggambarkan ekuitas yang bergantung tidak hanya pada aset dan liabilitas yang diakui tetapi juga
bagaimana mereka diukur.
Pertanyaan mendasar terkait jumlah ekuitas adalah apakan sebuah item merupakan liabilitas
atau ekuitas bagi entitas, sehingga untuk membedakannya dapat dilihat dari:
a. Hak para pihak yang berkepentingan (the rights of the parties)
b. Substansi ekonomi

11

Hal menurut hukum menjadi pertimbangan yang sangat penting, tetapi bukan satu-satunya dasar
pembeda kreditur dan pemilik. Pada dasarnya, pengertian liabilitas mencakup kewajiban yang
konstruktif dan wajar serta kewajiban hukum itu sendiri. Oleh sebab itu, substansi ekonomi dari item
tersebut perlu dipertimbangkan juga.
Rights of the Parties
Salah satu hak yang diberikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, baik berdasar hukum
maupun kebijakan perusahaan, berkaitan dengan hak prioritas untuk pembayaran (kembali) jika
perusahaan bangkrut. Dalam teori akuntansi, apapun bentuk hukum dari organisasi, entitas diakui
sebagai sebuah unit akuntabilitas atau pertanggungjawaban. Dengan demikian, kreditor memiliki hak
atas entitas, terutama atas asetnya.
Kreditur memiliki hak-hak berikut:
a. Penyelesaian atas hak mereka pada tanggal yang telah ditetapkan melalui transfer aset
(barang atau jasa)
b. Prioritas diatas pemilik pada penyelesaian hak saat likuidasi
Perlu dicatat bahwa hak kreditor terbatas pada jumlah tertentu (yang dapat bervariasi dari waktu
ke waktu, tergantung kesepakatan), sedangkan pemilik hanya memiliki hak sisa, meskipun secara
perjanjian kontraktual dimungkinkan adanya perbedaan tingkatan pemilik yang membedakan prioritas
dalam penerimaan pengembalian modal.
Aspek lain terkait hak kreditor dan pemilik berhubungan dengan penggunaan aset atau peran
dalam operasi perusahaan. Kreditor tidak memiliki hak untuk menggunakan sebagian aset perusahaan
selain yang disebutkan dalam kontrak. Kreditor tidak secara langsung dapat turut campur dalam
pengambilan keputusan pada operasi bisnis, tetapi dapat pula secara kontrak terlibat misalnya
kebijakan bahwa aset tidak dapat dijual tanpa persetujuannya. Di sisi lain, pemilik memiliki hak dan
otoritas dalam operasi bisnis perusahaan.
Substansi Ekonomi
Baik liabilities maupun owners equity sama-sama menggambarkan klaim terhadap entitas.
Semua yang menuntut entitas menanggung risiko kerugian, tetapi karena kreditor berhak melakukan
klaim lebih awal, risikonya tidak sebanyak pemilik. Pemilik harus menanggung seluruh kerugian yang
berasal dari aktivitas perusahaan. Pemilik memikul beban atas risiko bisnis.
Di tiap perusahaan, derajat risiko bagi kreditor dan pemilik bergantung pada hak mereka.
Kunci perbedaan hak tersebut terletak pada kreditor memiliki hak penyelesaian, sedangkan pemilik
memiliki hak untuk berpartisipasi dalam profit (residual profit). Perbedaan keduanya menggambarkan
risiko ekonomi dan metode pengembalian, kreditor menanggung lebih sedikit risiko dan menerima
pengembalian tetap relatif (relatively fixed return) dalam bentuk bunga dan pengembalian pokok.
Sementara pemilik menanggung lebih banyak risiko, oleh karena itu akan menerima tingkat
pengembalian keuntungan variabel yang sering kali lebih besar.
12

Pemilik atau perwakilannya memiliki kontrol terhadap akuisisi, komposisi, penggunaan, dan
pengaturan aset perusahaan. Mereka juga memiliki kontrol terhadap operasional dan bertanggung
jawab dalam menjalankan bisnis untuk bertahan dan memperoleh keuntungan. Secara umum, pemilik
mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab dan kontrol tersebut kepada direktur dan manajer.
Konsep Modal
Akuntansi untuk shareholders equity dipengaruhi oleh ketentuan hukum. Hal ini tercantum
dalam UU perusahaan Inggris, terutama dalam pasal keharusan untuk memelihara modal (capital
maintenance). UU ini menuntut perusahaan untuk memelihara secara utuh modal awal dan modal
berikutnya (dari keuntungan).
Adapun kerangka akuntansi menjelaskan bahwa fungsi kegiatan pemeliharaan modal tidak
hanya dapat mendefinisikan modal sebagai residual interest dari entitas, melainkan juga menjelaskan
konsep modal. Modal dikonsepkan sebagai uang atau purchasing power yang diinvestasikan (financial
capital) atau sebagai kapasitas produksi entitas (physical capital). Lebih lanjut, modal dapat diukur
sebagai nominal mata uang ataupun skala riil (purchasing power).
Tujuan lainnya dari keharusan pemeliharaan modal adalah untuk melindungi kreditor dengan
menyedakan bemper. Contohnya, sebuah entitas memiliki legal capital sebesar $10.000,00. Jika
total aset sebesar $100.000,00, maka nilai laibilitas adalah sebesar $90.000,00.
Jika entitas tersebut dilikuidasi dan carrying amount aset yang direalisasikan hanya sebesar
$80.000,00, maka akan cukup untuk membayar seluruh hak kreditor. Hal ini menjadi mungkin karena
eksistensi modal sebesar $10.000,00. Tanpa modal tersebut, kreditor mungkin tidak akan dibayar/
dilunasi penuh. Modal bukanlah garansi bagi perlindungan kreditor, namun cukup menawarkan
keamanan. Kesadaran akan pentingnya cadangan modal dimulai sejak krisis perbankan dan krisis
likuiditas pada 2007-2008.
Klasifikasi Dalam Owners Equity
Perbedaan antara nilai yang diinvestasikan (contributed capital-CC) dan nilai yang direinvestasikan (earned capital-EC) dianggap sangat bermanfaat bagi akuntan. Rasionalisasi dari
pemisahan tersebut adalah CC terkait transaksi pembiayaan, sedangkan EC berasal dari akifitas profit.
Laba ditahan (retained earnings/unappropriated profits) menjadi bagian dari EC. Retained
earnings mungkin tidak dibatasi/dicadangkan untuk tujuan khusus (karena retained earnings bukanlah
aset dan bukan ditujukan untuk aset tertentu). Namun, pada tahun 1950, Komite AAA (American
Accounting Association) menjelaskan tiga tujuan dari pembatasan retained earnings sebagai berikut:
1. Didesain untuk menjelaskan kebijakan manajerial terkait re-investasi laba;
2. Dimaksudkan untuk membatasi dividen yang diwajibkan oleh hukum/kontrak; dan
3. Menyediakan cadangan untuk mengantisipasi kerugian.
Komite AAA menambahkan bahwa tujuan pencadangan harus tidak mempengaruhi penentuan
profit. Beberapa perusahaan yang tertuduh menggunakan pencadangan sebagai cara untuk mengurangi
nilai yang tersedia untuk dividen, dengan harapan hanya sedikit komplen dari pemegang saham
mengenai tingkat pembayaran dividen.
Pembatasan antara CC dan EC tidak dapat dipertahankan karena transaksi tidak hanya terbagi
kepada dua kategori tersebut. Contohnya, dividen saham yang menggambarkan perubahan dari EC ke
CC.
LO 4 TANTANGAN BAGI PEMBUAT STANDAR

13

Proyek yang sedang ditangani IASB saat ini akan berpengaruh pada definisi, pengakuan, dan
pengukuran dari liabilities, termasuk yang berhubungan dengan kerangka konseptual, instrumen
keuangan, provisi, dan jatah pegawai. Tujuan dari proyek ini adalah untuk melakukan konvergensi
standar IASB dengan US GAAP dan memperbaiki standar yang berlaku terkait identifikasi dan
pengakuan liabilities.
Tantangan yang dihadapi oleh penyusun standar dapat dijelaskan dalam tiga topik utama, yaitu:
1. Perbedaan antar klasifikasi item-item laibilitas dengan ekuitas;
2. Penghilangan laibilitas; dan
3. Menguji pembayaran share-based dan mempertimbangkan efeknya terhadap laibilitas dan ekuitas.
Perbedaan Utang Vs Modal
Saham yang diterbitkan untuk investor merupakan bagian dari ekuitas, sedangkan pinjaman dari
kreditor adalah laibilitas. Pertanyaan muncul dari instrumen campuran (hibrid) yang memiliki
karakteristik keduanya (ekuitas dan laibilitas). Misalnya, saham preferen yang dicatat sebagai modal
(menjadi bagian dari owner equity) namun juga memiliki karakteristik seperti laibilitas, yaitu:

Fixed claim;
Tidak berpartisipasi dalam dividen kecuali telah ditentukan sebelumnya (pre-specified rate) mirip
dengan bunga;
Memiliki prioritas melebihi saham biasa dalam pengembalian modal (setelah laibilitas); dan
Secara umum tidak memiliki hak suara.

IAS 32 menyatakan bahwa substansi dari instrumen keuangan, lebih diakui daripada bentuk
legalnya. Beberapa instrumen keuangan memiliki bentuk legal suatu ekuitas, namun memiliki
substansi laibilitas. Saham preferen yang memberikan mandat penebusan pada nilai dan waktu yang
telah ditentukan, adalah laibilitas keuangan. Begitupula instrumen keuangan yang memberikan hak
kepada pemegangnya untuk mengembalikan instrumen tersebut kepada penerbitnya sejumlah uang
atau aset keuangan, maka disebut juga laibilitas keuangan.
Klasifikasi instrumen keuangan berupa liabilitas atau ekuitas berdampak pada neraca yang akan
mempengaruhi bunga, dividen, keuntungan, dan kerugian tergantung pada sudut pandang instrumen
tersebut terhadap laba bersih. Komponen instrumen keuangan yang melibatkan laibilitas merupakan
bagian dari pendapatan dan beban. Adapun komponen instrumen keuangan yang melibatkan ekuitas
diperlakukan sebagai distribusi keuntungan setelah laba bersih dihitung.
Konsisten dengan teori dan definisi, IAS 32 membutuhkan klasifikasi dari instrumen keuangan
yang berbasis substansi ekonomi, bukan bentuk legal. Konsekuensinya, saham preferen yang dapat
ditebus diklasifikasikan sebagai laibilitas. Begitupula dengan convertible notes, yang menyediakan
hak bagi pemegangnya untuk mengkonversi hutang menjadi saham, masing-masing memiliki
komponen laibilitas dan ekuitas di dalamnya. Oleh karena itu, pengembalian kepada pemegangnya
diklasifikasikan sebagai bunga atau dividen dengan basis pro rata tergantung proporsi surat berharga
yang didefinisikan sebagai hutang maupun saham.
Penyelesaian utang
Utang dapat diselesaikan dengan cara selain dengan melakukan pembayaran langsung atau
pemberian jasa kepada kreditur. Contohnya adalah penghapusan obligasi oleh kreditor yang
membebaskan debitur dari utangnya. Situasi tersebut berhubungan dengan 'set-off and extinguishment
of debt atau 'in-substance defeasance' yang memungkinkan debitur untuk menghapus hutang dari
neraca dan melaporkan aset finansial atau kewajiban finansial bersih hanya jika entitas memiliki hak
14

yang didukung dengan kekuatan hukum yang berlaku untuk melakukan set-off dari nilai yang diakui di
neraca, dan bermaksud untuk (a) menyelesaikan dengan net basis atau (b) merealisasikan aset finansial
dan menyelesaikan kewajiban finansial secara simultan.
Substansi ekonomi dari transaksi yang melibatkan penempatan aset bebas risiko (seperti sekuritas
pemerintah) atau kas pada irrevocable trust (misalnya wali amanat) untuk tujuan pembayaran utang di
kemudian waktu dapat disetarakan dengan penyelesaian utang. Walau begitu, perusahaan (debitur)
secara hukum masih memiliki kewajiban sehingga menghapus kewajiban dari neraca dengan mengoffset-kan aset atau kas pada irrevocable trust berpotensi membuat pengguna laporan keuangan
mengalami bias.
Misalnya Perusahaan A memiliki hutang obligasi dari $ 10.000.000 dijual awalnya pada nilai par
dengan tingkat bunga yang ditetapkan sebesar 8 persen dan umur 10 tahun. Saat ini, karena suku
bunga yang lebih tinggi, nilai pasar obligasi lebih rendah dari nilai jatuh tempo mereka. Perusahaan A
akan membeli obligasi pemerintah dengan nilai nominal sebesar $ 10.000.000 dengan suku bunga
yang ditetapkan sebesar 8 persen dan 10 tahun sisa hidup seharga $7.500.000. Obligasi pemerintah
yang dibeli tersebut akan ditempatkan pada irrevocable trust untuk tujuan melunasi obligasi
perusahaan.

Investasi dalam Obligasi Pemerintah

$ 7.500.000

Kas

Hutang Obligasi

$ 7.500.000

$ 10.000.000

Investasi dalam Surat Utang

$ 7.500.000

Keuntungan Hutang Obligasi

$ 2.500.000

Keuntungan bagi perusahaan adalah :

Hutang dihapus dan, oleh karena itu, utang perusahaan terhadap ekuitas meningkatkan Laba tahun
berjalan meningkat dengan jumlah keuntungan yang Untuk keperluan pajak, keuntungan tersebut
tidak diakui karena perusahaan masih secara hukum diwajibkan untuk membayar obligasi.
Untuk tujuan pajak, bunga dari obligasi pemerintah akan diperhitungkan dengan beban bunga
obligasi perusahaan
Pencabutan izin perusahaan untuk mengelola sisi kewajiban dalam neraca karena akan surat
berharga pada sisi aktiva
Definisi kerangka kewajiban menyiratkan bahwa itu diselesaikan pada saat aktiva atau jasa telah
dialihkan ke entitas lain

Saham Karyawan (pembayaran berbasis saham)


IASB telah memutuskan untuk memperlakukan saham berdasarkan renumerasi sebagai beban.
IFRS 2/AASB 2 Share-based payment membedakan antara pembayaran berbasis saham yang cashsettled dan mereka yang equity-settled. Ketika barang dan jasa yang diterima atau diperoleh dalam
transaksi pembayaran berbasis saham, entitas mencatat kejadian ketika kejadian tersebut equity-settled
15

pembayaran berbasis saham. Jika barang atau jasa yang diterima dalam transaksi pembayaran
diselesaikan saham-saham berbasis, sisi kredit entry/jurnal adalah ekuitas pemilik. Sebaliknya, jika
barang atau jasa yang diterima dalam transaksi yang akan diselesaikan secara tunai cash-settled, kredit
entri yang sesuai adalah kewajiban.

16