Anda di halaman 1dari 3

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

Gangguan keseimbangan cairan


Dalam keadaan normal, cairan tubuh berada dalam keseimbangan. Oleh karena
suatu sebab, keseimbangan cairan tubuh dapat mengalami gangguan. Secara
garis besar, gangguan keseimbangan cairan tubuh terbagi dua yakni edema
(hipervolemik) dan dehidrasi (hipovolemik).
a. Edema (hipervolemik)
Edema adalah penimbunan cairan berlebihan di antara sel-sel tubuh atau di
dalam berbagai rongga tubuh (Robbins dan Kumar 1995). Edema disebut
juga dengan efusi, asites. Penamaan penimbunan cairan ini bergantung pada
lokasi di mana edema itu terjadi. Edema dapat terjadi secara lokal maupun
umum. Edema lokal disebut juga edema pitting, sedangkan edema umum
disebut edema anasarka.
Edema diakibatkan oleh peningkatan tenaga yang memindahkan cairan
dari intravaskuler ke interstitial. Perpindahan cairan secara normal, menurut
hukum Starling, diatur oleh tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik didalam
dan diluar vaskuler. Bersarnya tekanan hidrostatik pada ujung arteriola
sekitar 35 mmHg, sedangkan pada ujung venula sekitar 12-15 mmHg.
Tekanan osmotik koloid plasma sebesar 20-25 mmHg.
Tekanan hidrostatik kapiler dipengaruhi antara lain oleh besarnya tekanan
dari jantung dan jumlah cairan di intravaskuler. Sedangkan tekanan osmotik
koloid ditentukan oleh albumin. Tekanan hidrostatik bersifat mendorong
cairan keluar melintasi membran kapiler. Sifat tekanan osmotik koloid adalah
menarik air dari luar. Tekanan hidrostatik intravaskuler dan tekanan osmotik
koloid interstitial cenderung menggerakan cairan keluar melalui dinding
kapiler, sedangkan tekanan hidrostatik interstitial dan tekanan osmotik koloid
intravaskuler cenderung menggerakan cairan masuk kedalam. Pada kondisi
normal, Tekanan hidrostatik dikapiler terus-menerus cenderung memaksa
cairan dan zat terlarut didalamnya keluar melalui pori-pori kapiler masuk ke
dalam ruang interstitial. Tetapi sebaliknya, tekanan osmotik koloid cenderung
menyebabkan gerakan cairan dengan osmosis dari ruang interstitial kedalam
darah. Tekanan osmotik koloid inilah yang mencegah keluarnya volume
cairan secara terus menerus dari darah kedalam ruang interstitial.
Edema akan terjadi apabila tekanan hidrostatik intravaskuler meningkat,
tekanan osmotik koloid plasma menurun, dan gangguan aliran limfe. Ketiga
keadaan tersebut merupakan penyebabprimer edema yang bukan
disebabkan oleh reaksi radang.
54

Bikarbonat (HCO3-), dan sebagainya. Elektrolit dikelompokkan menjadi dua


yaitu kation dan anion. Kation adalah ion-ion yang membentuk muatan
positif dalam larutan (Horne dan Swearingen 2001). Elektrolit kation
diantaranya adalah natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca2+), dan
magnesium (Mg2+). Kerja ion-ion kation ini mempengaruhi transmisi
neurokimia dan transmisi neuromuskular, yang mempengaruhi fungsi otot,
irama dan kontraktilitas jantung, perasaan (mood) dan perilaku, serta fungsi
saluran pencernaan (Potter dan Perry 2006). Sedangkan anion adalah ion-ion
yang membentuk muatan negatif dalam larutan (Horne dan Swearingen
2001). Anion utama adalah klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), dan fosfat (PO3-).
Kerja ion-ion anion memengaruhi keseimbangan dan fungsi cairan, elektrolit,
dan asam basa (Potter dan Perry 2006).
Elektrolit dalam tubuh pun tidak selalu dalam keadaan seimbang. Ada
kalanya elektrolit mengalami ketidakseimbangan. Ada beberapa contoh
ketidakseimbangan elektrolit yang sering ditemukan antara lain :
a. Natrium/Sodium
Natrium merupakan kation penting dalam ekstraseluler dimana jumlah
cairan ekstraseluler dikontrol oleh jumlah natrium yang terdapat di
dalamnya. Natrium sebagai besar direabsorbsi dari tubulus renalis, yang
disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Natrium diekskresikan dalam
bentuk keringat. Oleh karenanya, natrium banyak yang terbuang bila
banyak keringat yang keluar, sehingga kebutuhan natrium menjadi lebih
besar.
1) Defisit natrium (hiponatremia)
Konsentrasi normal dari natrium dalam tubuh sekitar 138-145 mEq/I.
Bila natrium hilang dari cairan tubuh, maka cairan menjadi hipotonis.
Kehilangan natrium dari kompartemen intravaskuler dapat
menyebabkan cairan dari darah berdifusi keruang interstitial.
Akibatnya natrium di interstitial dicairkan. Kehilangan natrium dapat
terjadi pada orang berkeringat berlebihan karena suhu lingkungan,
demam, olahraga, muntah, diare, pengeluaran cairan melalui saluran
gastrointestinal, dan sebagainya. Gejala yang muncul pada klien yang
mengalami hiponatremia diantaranya sakit kepala, kelemahan otot,
fatigue, apatis, mual, muntah, kejang perut, shock, kekacauan mental,
dan koma.
2) Kelebihan natrium (hipernatremia)
Natrium dalam serum lebih dari 145 mEq/I dikenal sebagai
hipernatremia. Hipernatremia terjadi karena tubuh lebih banyak
kehilangan air daripada kehilangan natrium, kebanyakan intake
natrium, terlalu banyak makan tablet garam, dan infus NaCl yang
terlalu cepat.
57

Seseorang yang mengalami hipernatremia akan menunjukan gejala-gejala


klinis antara lain : selaput lendir kering lengket, output urine sedikit, turgor kulit
keras seperti karet, kegelisahan mental, takikardia, dan bahkan dapat
menyebabkan kematian. Hipernatremia akan menekan fungsi jantung dimana
menyebabkan kontraksi jantung meningkat sehingga menyebabkan takikardi.
b. Kalium/Potasium
Kalium merupakan kation utama dari sel yang diperlukan untuk
mempertahankan volume cairan intraseluler. Kadar normal kalium dalam
serum sekitar 3,5-5,0 mEq/I pengaturan konsentrasi kalium dalam tubuh
dilakukan oleh ginjal yang dipengaruhi oleh aldesteron, apabila terjadi
hiperkalemia, makan konsentrasi aldesteron meningkat yang mempengaruhi
ginjal untuk mengekskresi lebih banyak. Sebaliknya apabila hipokalemia
maka aldesteron yang diekskresipun sedikit akibatnya ginjal akan meretensi
kalium sehingga kalium yang dibuang melalui ginjal berkurang. Natrium
diabsorbsi oleh tubulus ginjal sedangkan kalium diekskresi oleh ginjal
sementara tubuh masih memerlukannya.
1) Defisit kalium (hipokalemia)
Bila kadar kalium kurang dari 3,5 mEq/I dikenal sebagai hipokalemia.
Penyebabnya kekurangan kalium antara lain intake kalium yang kurang
peningkatan aktifitas, kehilangan kalium lewat traktusgastrointestinal,
kehilangan akibat di euretik dan sebagainya.
2) Hiperkalemia
Kadar dalam serum lebih daro 5,0 mEq/I disebut hiperkalemia.
P;enyebabnya anatara lain intake kalium yang berlebihan, gagal ginjal,
kalium masuk kealiran darah dari sel yang cedera dan asidosismetabolik.