Anda di halaman 1dari 22

PENDEKATAN DIAGNOSTIK PADA PASIEN BATUK DARAH

I. PENDAHULUAN
Batuk darah atau hemoptysis adalah salah satu gejala yang paling penting
pada penyakit paru, pertama karena merupakan bahaya potensial adanya
perdarahan yang gawat yang memerlukan tindakan segera dan intensif, dimana
batuk darah masif yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan angka
kematian yang tinggi. Kedua karena batuk darah hampir selalu disebabkan oleh
penyakit bronkopulmonal.1
Pada umumnya penderita batuk darah telah mempunyai penyakit dasar,
tetapi keluhan yang berasal dari penyakit dasar tadi tidak mendorong penderita
untuk pergi berobat. Penderita baru datang berobat ketika timbul batuk darah,
walaupun darah yang keluar hanya sedikit atau berupa dahak yang bergaris-garis
merah, Batuk darah merupakan keadaan yang menakutkan bagi penderita dan
keluarganya. Akibat ketakutan inilah pendenita akan menahan batuknya, hal ini
akan memperburuk keadaan karena akan timbul penyulit seperti penyumbatan
saluran napas atau sufokasi, asfiksi dan eksanguinasi.1
Penyakit yang mendasari timbulnya batuk darah dapat dicari dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan radiologi. Sering prosedur diagnostik seperti
bronkoskopi, bronkografi dan pulmonary angiography diperlukan untuk
diagnostik definitif .2

II. DEFINISI
Sinonim batuk darah adalah hemoptoe atau hemoptysis. Hemoptysis
berasal dari bahasa Yunani yaitu haima yang berarti darah dan ptysis yang berarti
diludahkan.
Menurut kamus kedokteran Dorland, hemoptysis atau batuk darah adalah
ekspektorasi darah atau mukus yang berdarah. Beberapa penulis seperti Johnston
dan Obraska berpendapat bahwa perdarahan yang terjadi harus berasal dari
saluran napas bagian bawah (dari glottis ke bawah), bukan berasal dari saluran
napas bagian atas atau saluran pencernaan. Jadi perlu dibedakan antara batuk
darah dan muntah darah.3,4
Berdasarkan jumlah darah yang keluar, Pursel membagi batuk darah menjadi :
Derajat 1 : bloodstreak
2 : 1 - 30 cc
3 : 30 - 150 cc
4 : 150 - 500 cc
Massive : 500 - 1000 cc atau lebih.
Johnson membuat pembagian lain menurut jumlah darah yang keluar menjadi :
1. Single hemoptysis yaitu perdarahan berlangsung kurang dari 7 hari.
2. Repeated hemoptysis yaitu perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari dengan
interval 2 sampai 3 hari.
3. Frank hemoptysis yaitu bila yang keluar darah saja tanpa dahak.

III. ETIOLOGI
Berdasarkan penyebab batuk darah, Ingbar membagi sebagai berikut:1
Tabel 1. Etiologi batuk darah menurut prosentasi
Etiologi
Ca Bronkogenik
Bronkiekstasis
TB Paru
Abses Paru
Adenoma

% insiden
10-15%
20%
25-40%
1-6%
1%

Bronkial
Eksaserbasi PPOK 10-20%
Kardiovaskuler
1-7%
AVM
10%

% Kasus dengan % Kasus dengan


batuk darah
batuk darah masif
30-50%
10%
25-45%
30%
5-20%
20%
10-15%
25%
40-55%
10%
Paru
Bronkiektasis
Emboli paru
10% Kistik fibrosis <5%
?
?
Emfisema bulosa
40%
25%
Istrogenik
Bronkoskopi
Swan-Ganz infarction
Ruptur arteri pulmonaris
Aspirasi transtrakeal
Lymphangiograp,ky
Vaskuler
Hipertensi pulmonal
A V malformation
Aneurisma, aorta

Obat / Toksin
Antikoagulan
Penisilamin
Anhidrid trimetalik
Solvents
Kokain
Tabel 2. Penyebab batuk darah
Aspirin
Trombolitik
--------------------------------------------------------------------------------------------------Kardiologi
Lain-lain
Mitral stenosis
Amiloidosis
Trikuspid endokarditis
Bronkolitiasis
Penyakit jantung bawaan
Endometriosis
Hematologi
Benda asing
Koagulopati
Kriptogenik
Septic pulmonary emboli
3

DIC
Trombositopeni
Platelet disfunction
Infeksi
Abses paru
Misetoma
Pneumonia nekTotikan
Parasit
Jamur / tuberkulosa
Virus
Neoplasma
Adenoma bronkial
Karsinoma bronkogcnik
Metastase kanker
Trauma
Cedera dada tajam / tumpul
Ruptur bronkus
Ermboli lemak
Tracheal-innominate
Arteryfistula
Penyakit sistemik
Goodpasteur syndrome
Wegener's granulomatosis
Systemic lupus erythematosus
Vaskulitis
Idinnathir pulmnnarv homosiderosis

(Dikutip dari Ingbar DH. Massive hemoptysis : Assesment and Management).3

Tabel 3. Berdasarkan usia penderita, Pursel membagi batuk darah menjadi :


Usia
Anak-anak dan remaja

Penyakit
- bronkiektasis
- stenosis mitral
- tuberkulosis

Umur 20 - 40 tahun

- tuberkulosis
- bronkiektasis
- stenosis mitral

Umur lebih dari 40 tahun

- karsinoma bronkogen
- tuberculosis
- bronkiektasis

IV. PATOGENESIS
1. Batuk darah pada tuberculosis pada umumnya terjadi oleh karena :
a.

Adanya Rasmussen's aneurysm yang pecah.5,6

Teori dimana terjadi perdarahan aneurisma dari Rasmussen ini telah lama
dianut,

tetapi

beberapa

laporan

otopsi

lebih

membuktikan

terdapat

hipervaskularisasi bronkus yang merupakan percabangan dari arteri bronkialis


lebih banyak merupakan asal dari perdarahan. Setelah berkembangya
arteriografi dapat dibuktikan bahwa pada setiap proses paru terjadi
hipervaskularisasi dari cabang-cabang arteri bronkialis yang berperan
memberikan nutrisi pada jaringan paru bila terdapat kegagalan arteri
pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya untuk pertukaran gas. Oleh karena
itu terdapatnya Rasmussen aneunisma pada kaverna tuberkulosis yang
merupakan asal perdarahan diragukan.
b.

Adanya kekurangan protrombin yang disebabkan oleh toksemia dari baksil

tuberkulosa yang menginfeksi parenkim paru.2

2. Batuk darah pada karsinoma paru.1,7


Terjadi oleh karena erosi permukaan tumor dalam lumen bronkus atau berasal
dari jaringan tumor yang mengalami nekrosis, pecahnya pembuluh darah kecil
pada area tumor atau invasi tumor ke pembuluh darah pulmoner.
3. Batak darah pada bronkiektasis :6
a.

Mukosa bronkus yang sembab mengalarni infeksi dan trauma batuk

menyebabkan perdarahan.
b.

Terjadi anastomose antara pembuluh darah bronchial dan pulmonal dan


juga terjadi aneurisma, bila pecah teriadi perdarahan.

c. Pecahnya pembuluh darah dari jaringan granulasi pada dinding bronkus


yang mengalami ektasis.
4. Batuk darah pada bronkitis kronis (Santiago, 1991; Thompson, 1992) :
Terjadi oleh karena mukosa yang sembab akibat radang, terobek oleh
mekanisme batuk.

5. Batuk darah pada abses paru : 5,6


Pada abses kronik dengan kavitas berdinding tebal yang sukar menutup, maka
pembuluh darah pada dinding tersebut mudah pecah akibat trauma pada saat
batuk.
6. Batuk darah pada mitral stenosis dan gagal jantung kiri akut1:
a.

Bila batuk darah ringan, perdarahan terjadi secara perdiapedesis, karena


tekanan dalam vena pulmonalis tinggi menyebabkan ruptur vena

pulmonalis atau distensi kapiler sehingga butir darah merah masuk ke


alveoli.
b.

Menurut Ferguson, batuk darah terjadi karena pecahnya varises di mukosa

bronkus.
c.

Pada otopsi ternyata ada anastomose vena pulmonalis dan vena bronkialis
yang hebat sehingga tampak seperti varises.

7. Batuk darah pada infark paru:1,5


Pada infark paru karena adanya penutupan arteri, maka terjadi anastomose.
Selain itu juga terjadi reflek spasme dari vena di daerah tersebut, akibatnya
terjadi daerah nekrosis dimana butir-butir darah masuk ke alveoli dan terjadi
batuk darah.
8.

Batuk darah pada Good Pasture syndrome 1,5 :


Terjadi kelainan pada membrana basalis alveolo kapiler yaltu terbentuknya
antibody to glomerular basement membrane (anti GBM Ab) lebih spesifiknya
kolagen tipe IV pada paru sehingga membuat hilangnya keutuhan membrana
basalis epithelial-endotelial dan memudahkan masuknya sel darah merah dan
netrofil masuk ke dalam alveoli.

9.

Batuk darah pada infeksi jamur 1,6


Terjadi friksi pada pergerakan mycetoma dan terjadi pelepasan antikoagulan

serta

enzym proteolitik yang menyerupai tripsin dari jamur.

10. Batuk darah pada batuk keras 1,5:


Sifat khas bahwa darah terletak di permukaan sputum, jadi tidak bercampur
didalamnya.

a. Kelenjar getah bening yang mengapur, waktu batuk terjadi erosi pada
bronkus yang berdekatan.
b. Mungkin bronkolit yang ada pada saat batuk menggeser lumennya.
c. Batuk yang keras dan berulang-ulang merobek mukosa bronkus.
V. DIAGNOSIS
Diagnosis pada batuk darah meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang seperti pemeriksan dahak, radiologik, bronkoskopi dan
bronkografi 1,8,9
Anamnesis meliputi :
1. Membedakan batuk darah dan muntah darah4
Batuk darah

Muntah darah

a. Darah dibatukkan dengan rasa

a. Darah dimuntahkan dengan rasa

mual
panas di tenggorokan.
b. Darah berbuih bercampur udara

b. Darah bercampur sisa makanan

c. Darah segar berwarna merah muda

c. Darah terkena asam lambung

berwama hitam.
d. Darah bersifat alkalis

d. Darah bersifat asam

e. Kadang-kadang terjadi anemia

e. Sering terjadi anemia

f. Tes benzidin negatif

f. Tes benzidin positif

2. Bagaimana batuk darahnya?


Misalnya bila batuk darah disertai sputum yang purulen dicurigai penyakit yang
mendasari adalah infeksi paru. Bila batuk darah tanpa pus dicurigai penyakit

yang mendasari adalah tuberkolosis, karsinoma. atau infark paru. Bila batuk
darah berbau busuk dicurigai abses paru dan bila batuk darah berupa frothy
sputum dicurigai edema paru.
3. Pola batuk darah
Pola batuk darah dapat membantu menentukan penyebab batuk darah.
Misalnya, pasien dengan bronkitis atau bronkiektasis biasanya mengalami
batuk darah berulang. Jika batuk darah terjadi setiap bulan yang berhubungan
dengan saat menstruasi, dicurigai sebagal Catamenial hemoptysis.
4. Anamnesis tentang gejala otolaring, jantung dan paru yang dapat membantu
melokalisir sumber perdarahan.
5. Faktor risiko sebagai kondisi penyebab.
Merokok, usia, trauma dada, riwayat bepergian ke daerah endemis parasit,
virus, jamur atau bakteri tertentu.

6. Gejala lain yang menyertai.


Bila terdapat gejala lain seperti penurunan berat badan disertai batuk darah
dicurigai sebagai karsinoma, bila terdapat riwayat keringat malam, demam
yang tidak tinggi dicunigai sebagai tuberkulosis. Bila batuk darah disertai
hematuri dicurigai sebaga Good Pasture Syndrome.
Pemeriksaan Fisik
1. Periksa tanda vital.

2. Pemeriksaan pada hidung, mulut, faring posterior dan laring termasuk


pemeriksaan laringoskopi.
3. Pemeriksaan leher, dada, jantung dan paru.

Pemeriksaan Laboratorium.
1. Pemeriksaan darah pada perdarahan masif perlu evaluasi Hb dan faal
hemostasis.
2.

Pemeriksaan dahak penting diperiksa sputum BTA pada penderita


tuberkulosa, sitologi sputum pada penderita karsinoma bronkogenik dan
kultur sputum jamur.

3. Pemeriksaan lain tergantung penyakit dasarnya.


Selain pemeriksaan laboratorium, banyak pemeriksaan yang dapat dilakukan
untuk
mendiagnosis batuk darah, antara lain : radiologik, bronkoskopi, bakteriologi,
mikologi dan serologi. Pemeriksaan radiologik meliputi foto thorax
lateral, tomografi, bronkografi dan arteriografi

PA dan

10,11

. Pemeriksaan radiologik yang

cukup penting adalah foto thorax yang dapat mengungkap 65,2% sumber
perdarahan. Sedangkan sebab perdarahan yang sukar dilihat pada pemeriksaan
foto thorax seperti bronkiektasis, dapat dilihat dengan pemeriksaan bronkografi.
Tindakan bronkoskopi sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti untuk
mengetahui asal perdarahan.
Indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :10,11
1. Bila tidak didapatkan kelainan radiologik

10

2. Batuk darah yang berulang-ulang.


3. Batuk darah yang masif, sebagai tindakan terapeutik yaitu membersihkan
gurnpalan darah yang keluar / penghisapan dan untuk menghentikan
perdarahan dengan cara
-

Iced saline lavage

Instilasi topical agent (epinefrin, trombin, trombin-fibrinogen)

Endobronkial tarnponade

Laser fotokoagulasi (Nd YAG Laser= Noodymium Y trium Aluminium


Gernerd Laser atau argon laser).

VI. KOMPLIKASI
Kornplikasi yang dapat mengancarn jiwa penderita adalah asfiksia, sufokasi
dan kegagalan sirkulasi akibat kehilangan banyak darah dalarn waktu singkat.
Kornplikasi lain yang mungkin terjadi adalah penyebaran. penyakit ke sisi paru
yang sehat dan atelektasis. Atelektasis dapat terjadi karena surnbatan saluran
napas sehingga paru bagian distal akan mengalarni kolaps dan terjadi atelektasis.1

Tingkat kegawatan dari batuk darah ditentukan oleh 3 faktor :


1.

Terjadinya asfiksia karena adanya pernbekuan darah dalarn saluran


pernapasan. Pada dasarnya asfiksia tergantung dari :
a. frekuensi batuk darah
b. jumlah darah yang dikeluarkan
c. kecemasan penderita

11

d. siklus inspirasi
e. reflek batuk yang buruk
f. posisi penderita
2.

Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya batuk darah dapat


menimbulkan syok hipovolemik. Bila jumlah perdarahan banyak maka
digolongkan dalam massive hemoptysis. Kriteria massive hemoptysis menurut
Yeoh adalah perdarahan 200 cc dalarn 24 jam sedang menurut Sdeo adalah
perdarahan lebih dari 600 cc dalam 24 jam.

3. Aspirasi pneumonia.
Yaitu infeksi yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari setelah perdarahan.
Aspirasi adalah masuknya bekuan darah ke dalam jaringan paru yang
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Meliputi bagian yang luas dari paru.
b. Terjadi pada bagian percabangan bronkus yang lebih kecil.
c. Disamping perdarahan dapat pula disebabkan oleh masuknya cairan lambung
ke dalam paru karena penutupan glotis yang tidak sempurna.

d. Dapat diikuti sekunder infeksi.


Aspirasi pneumonia merupakan keadaan berat karena saluran napas dan bagian
fungsional paru tidak dapat berfungsi dengan baik.

VII. PENATALAKSANAAN

12

Batuk darah yang kurang / tidak masif dapat ditangani secara konservatif sedang
batuk darah masif memerlukan tindakan yang lebih agresif-intensif seperti
bronkoskopi atau. operasi. Tujuan pokok terapi adalah mencegah tersumbatnya
saluran pernapasan oleh bekuan darah, mencegah kemungkinan penyebaran
infeksi dan menghentikan perdarahan 1
A. Penatalaksanaan Konservatif
1. Menenangkan penderita dan memberitahu penderita agar jangan takuttakut untuk membatukkan darahnya.
2. Penderita diminta berbaring pada posisi bagian paru yang sakit atau sedikit
trendelenburg, terutama bila refleks batuknya tidak adekuat.
3. Jaga agar jalan napas tetap terbuka. Bila terdapat tanda-tanda surnbatan
jalan napas perlu dilakukan pengisapan atau bila diperlukan dilakukan
pemasangan pipa endotrakeal. Pemberian oksigen hanya berarti bila jalan
napas bebas hambatan / sumbatan.
4. Pemasangan IV line atau IVFD untuk penggantian cairan maupun untuk
jalur pemberian obat parenteral.
5. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya pada batuk darah yang
tidak disertai kelainan faal hemostatik.
6. Obat-obat dengan efek sedasi ringan dapat diberikan bila penderita
gelisah. Obat-obat penekan refleks batuk hanya diberikan bila terdapat
batuk yang berlebihan dan merangsang timbulnya perdarahan lebih
banyak.

13

7. Transfusi darah diberikan bila hematrokit turun di bawah nilai 25-30%


atau Hb di bawah 10 gr% sedang perdarahan masih berlangsung.

B. Penatalaksanaan Bedah
Indikasi tindakan bedah menurut Busroh :
1. Batuk darah > 600 cc / 24 jam dan dalam pengamatan batuk darah tidak
berhenti.
2. Batuk darah 250 - 600 cc / 24 jam , Hb < 10 gr% dan batuk darah
berlangsung terus.
3. Batuk darah 250 - 600 cc / 24 jam, Hb > 10 gr% dan dalam. pengamatan 48
jam perdarahan tidak berhenti.
Kriteria operasi menurut Amitana :
1. Perhatikan sumber perdarahan
2. Aspirasi berulang
3. Adanya kavitas penyebab terjadinya perdarahan berulang
4. Faal paru yang minimal sehingga setiap perdarahan menyebabkan ancaman
kematian
Tindakan bedah meliputi :
1. Reseksi paru : lobektomi atau pneumonektomi
2.

Terapi

kolaps

pneumoperitoneum,

pneumotoraks

artifisial,

torakoplasti,frenikolisis
(membuat paralise n. phrenicus).
3. Lain-lain : embolisasi artifisial.

14

Ad 1. Reseksi paru ditujukan untuk membuang sisa-sisa kerusakan akibat


penyakit dasarnya. Macam reseksi :
- pneumonektomi

: reseksi satu paru seluruhnya

- bilobektomi

: reseksi dua lobus

- lobektomi

: reseksi satu lobus

- wedge resection

: reseksi sebagian kecil jaringan paru.

- enukleasi

: bila kelainan patologis kecil dan jinak

- segmentektomi

: reseksi segmen bronkopulmonal.

Berdasarkan foto thorax dan pemeriksaan faal paru, luasnya operasi dapat
ditentukan sebelum operasi. Prinsipnya adalah mempertahankan sebanyak
mungkin jaringan paru yang dianggap sehat. Luas dan jenis lesi (proses inflamasi,
abses atau kavitas) menentukan jenis reseksi yang akan dilaksanakan.12
Ad 2. Terapi Kolaps
Bertujuan untuk mengistirahatkan bagian paru yang sakit dengan cara
membuat kolaps jaringan paru yang sakit tersebut. Pendapat ini benar untuk
kelainan berbentuk kavitas, tetapi cara ini banyak ditinggalkan karena
komplikasinya banyak.
Prosedur yang termasuk dalarn kelompok terapi kolaps

Pneumothorax artificial
Yaitu dengan memasukkan udara ke rongga pleura, kemudian secara bertahap
ditambahkan udara sehingga tercapai kolaps pada jaringan paru yang sakit.
Bila paru kolaps maka bagian tersebut dapat istirahat sehingga mempercepat

15

proses penyembuhan. Bila terdapat adesi dan paru tidak dapat kolaps
dilakukan intrapleural pneumonolysis (operasi Jacoboes) , tetapi sering
terjadi komplikasi perdarahan. Karena sering terjadi empiema setelah
pneumotorak artifisial, tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.
*. Pneumoperitoneum.
Yaitu tindakan memasukkan udara ke rongga peritoneum dengan tujuan
menaikkan
diafragma agar terjadi kolaps pada jaringan paru dengan harapan lesi di apikal
akan menyembuh.
* Paralise nervus phrenicus
Dengan anestesi lokal nervus phrenicus dibebaskan dari perlekatannya di m.
scalenus anterior , kemudian saraf dirusak (crushed) sehingga timbul paralise
diafragma. Akibatnya akan terjadi elevasi diafragma dan diharapkan apeks paru
dapat diistirahatkan sehingga, terjadi proses penyembuhan.
* Torakoplasti
Yaitu suatu bentuk operasi dimana kolaps paru terjadi dengan cara
menghilangkan supporting framework-nya,misalkan dengan membuang tulang
iga dari dinding dada. Indikasi torakoplasti :
Dulu : torakoplasti hampir selalu dilakukan setelah lobektomi atau
pneumonektomi dengan tujuan meminimalisasi kemungkinan terjadinya over
distensi parenkim paru yang tersisa selain itu dead space akan segera menutup
(obliterasi) sehingga resiko terbentuknya fistula bronkopleural dan empiema
dapat dikurangi.

16

Sekarang : Kebutuhan torakoplasti diragukan dan dilakukan bila direncanakan


reseksi lebih dari 1 lobus atau untuk mengatasi komplikasi tindakan reseksi
seperti fistula bronkopleura dan empiema.
Ad. 3 Embolisasi artifisial.2,13
Embolisasi artifisial atau Bronchial Artery Embolization (BAE)
adalah penyuntikan gel- foam atau polivinil alkohol melalui kateterisasi pada
arteri bronkialis. Menurut Ingbar embolisasi berhasil menghentikan
perdarahan 95% . Dengan meningkatnya penggunaan embolisasi arteriografi,
sekarang penggunaan tindakan pembedahan untuk pengelolaan batuk darah
masif mulai ditinggalkan.

VIII. PROGNOSIS
Pada batuk darah idiopatik prognosisnya baik, kecuali jika penderita mengalami
batuk darah yang rekuren.
Pada batuk darah sekunder ada beberapa faktor yang menentukan prognosis,
yaitu:

1. Derajat batuk darah.


Pada single hemoptysis mempunyai prognosis baik, sedang batuk darah yang
profus dan bergumpal-gumpal prognosisnya jelek.
2. Macam penyakit dasar yang menyebabkan batuk darah.
Pada karsinoma bronkogenik prognosisnya jelek.

17

3. Kecepatan dalam penatalaksanaan batuk darah masif


Misalnva tindakan trakeostomi, bronkoskopi atau tindakan bedah pada saat
yang tepat.
Menurut Crocco , pasien dengan batuk darah masif ( 600 mL ) dalam waktu:
-

kurang dari 4 jam mempunyai mortality rate 71%.

- 4 - 16 jam mempunvai mortality rate 22%.


- 16 - 48 jam mempunyai mortality rate 5%.

IX. RINGKASAN
Batuk darah adalah ekspektorasi darah atau mukus yang berdarah.
Perdarahan yang terjadi haruslah berasal dari saluran napas bagian bawah (dari
glotis ke bawah), bukan berasal dari saluran napas bagian atas atau saluran
pencernaan. Jadi harus dibedakan antara batuk darah dan muntah darah.

Batuk darah adalah kondisi umum dengan banyak kausa. yang menjadi
penyebabnya. Penyebab batuk darah dapat dikategorikan menjadi infeksi, tumor
dan kelainan kardiovaskuler. Patogenesis tergantung pada penyakit dasarnya.
Diagnosis batuk darah dibuat dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium (darah, sputum
sitologi, bakteriologi, mikologi dan serologi), bronkoskopi, foto thorax, tomografi,
bronkografi dan arteriografi.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah asfiksia, sufokasi. dan kegagalan
kardiosirkulasi akibat kehilangan banyak darah dalam waktu singkat. Selain itu

18

dapat terjadi penyebaran penyakit ke sisi paru yang sehat. Atelektasis dapat terjadi
karena sumbatan saluran napas sehingga paru bagian distal mengalami kolaps.
Tingkat kegawatan dari batuk darah ditentukan oleh terjadinya asfiksia, jumlah
darah yang keluar dan aspirasi pneumonia.
Penatalaksanaan batuk darah tergantung pada masif tidaknya batuk darah.
Pada batuk darah yang tidak / kurang masif ditangani secara konservatif sedang
pada batuk darah masif memerlukan usaha yang agresif intensif seperti
bronkoskopi atau operasi. Tindakan operasi dapat berupa reseksi paru, terapi
kolaps dan embolisasi arteri bronkialis.
Prognosis baik pada batuk darah idiopatik, kecuali terjadi batuk darah
rekuren sedang pada batuk darah sekunder tergantung dari derajat batuk darah,
macam penyakit dasar yang menyebabkan batuk darah dan kecepatan dalam
bertindak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ingbar DH. Hemoptysis in Medical management ofpulmonary diseases. Ed


by Davis GS. Marcell Decker Inc. New York, 1999; 341-55.
2. Health

communities

com.

Pulmonology

channel,

Hernoptysis.

Feb.27.2002.

19

3. Cahill BC. Massive hemoptysis: assesment and management. Clin Chest


Med, 1994; 15:147.
4. Alsagaff H, Mukty A. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga
University Press, Surabaya, 1995; 301-5.
5. Thompson Ab. Pathogenesis, evaluation and therapy for massive
hemoptysis. Chn Chest Med, 1992; 13: 69.
6. Santiago S, Tobias J, Williams AJ. A reappraisal of the causes of
hemoptysis. Arch Intern Med, 199 1; 151: 2449.
7. Miller RR. Mc Gregor DH. Hemorrhage ftom carcinoma of the lung.
Cancer, 1980;46: 200.
8. Haponik EF, Chin R. Hemoptysis: clinicans perspective. Chest 1990; 97:
469.
9. Primack SL, Miller RR, Muller NL. Diffuse pulmonary hemorrhage :
clinical, pathologic and imaging features. AJR, 1995; 164: 295.
10. Mc Guiness G, Beacher JR, Harkin TJ et al. Hernoptysis : prospective high
resolution CT bronchoscopic correlation. Chest, 1994; 105: 1155.
11. Bookstein JJ et al. The role of bronchial arteriography and therapeutic
embolization in hernoptysis. Chest 1977; 72: 658.
12. Gourin A, Garzon AA. Operative treatment of massive hernoptysis. Ann
Thoracic Surgery. 1978; 18: 52.
13. Remy J. Treatment of hemoptysis by embolization of bronchial arteries.
Diagnosis Radiol,1977; 122: 33.

20