Anda di halaman 1dari 9

Disusun Oleh :

1.
2.
3.
4.

Daisy Kusumaningtyas
Mariatul Ulfa Mansyur
Rizky Dharana Meidina
N. Elma Rosyada

(125020300111029)
(125020300111034)
(125020301111043)
(125020307111039)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Brawijaya
Tahun Ajaran 2013/2014

1. SIFAT DAN CONTOH KAS DAN SETARA KAS


Kas merupakan harta lancar perusahaan yang sangat menarik dan mudah
untuk diselewengkan. Selain itu banyak transaksi perusahaan yang menyangkut
penerimaan dan pengeluaran kas. Karena itu, untuk memperkecil terjadinya
kecurangan atau penyelewengan yang menyangkut uang kas perusahaan
diperlukan adanya pengendalian intern (internal control) yang baik atas kas dan
setara kas.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Tahun 1994:
a. Yang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas
dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
b. Yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang
dapat dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum
perusahaan.
Contoh dari kas dan setara kas adalah:

Kas kecil (Petty Cash) dalam rupiah maupun mata uang asing.
Saldo rekening giro di Bank dalam rupiah maupun mata uang asing.
Bon sementara (I O U).
Bon-bon kas kecil yang belum direimbursed.
Check tunai yang akan didepositokan.

Yang tidak dapat digolongkan sebagai kas dan setara kas pada neraca adalah:

Deposito berjangka (time deposit).


Check mundur dan check kosong.
Dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu (sinking fund).
Rekening giro yang tidak dapat segera digunakan baik di dalam maupun di
luar negeri misalnya karena dibukukan.
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan

untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi
harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa
menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Karenanya, suatu investasi
baru dapat memenuhi syarat sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo
dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya. Investasi dalam

bentuk saham tidak termasuk setara kas, sebagai contoh, saham preferen yang
dibeli dan akan jatuh tempo serta tanggal penebusan (redemption date) telah
ditentukan. Cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
pengelolaan kas perusahaan. Dalam keadaan tersebut, cerukan termasuk
komponen kas dan setara kas.
2. TUJUAN PEMERIKSAAN AUDIT KAS DAN SETARA KAS
2.1 Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
kas dan setara kas.
Ciri internal control yang baik adalah sebagai berikut:
a. Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara penerima dan pihak
yang mengeluarkan kas dengan pihak yang melakukan pencatatan,
memberikan otorisasi atas pengeluaran dan penerimaan kas dan bank.
b. Pegawai yang membuat rekonsiliasi bank berbeda dengan pegawai yang
membuat buku bank. Rekonsiliasi bank dibuat setiap bulan dan harus direview oleh kepala Bagian Akuntansi.
c. Menggunakan imprest fund system untuk mengelola kas kecil. Dengan
metode ini, kas kecil yang dicadangkan oleh perusahaan bersifat tetap,
kecuali perusahaan menghendaki perubahan jumlah kas kecil, maka harus
dilakukan penyesuaian atas penambahan atau pengurangan jumlah
tersebut.
d. Penerimaan kas, cek dan giro, harus disetor ke bank dalam jumlah
seutuhnya paling lambat keesokan harinya. Utuh berarti semua penerimaan
harus disetorkan, pengeluaran kas tidak boleh dilakukan dengan
penerimaan yang belum disetorkan.
e. Uang kas harus disimpan di tempat yang aman (cash box, brankas, atau
bank).
f. Uang kas harus dikelola dengan baik, sebaiknya tidak disimpan terlalu
banyak di rekening giro, melainkan disimpan dalam deposito berjangka
atau surat berharga yang sewaktu-waktu bisa diuangkan sehingga bisa
menghasilkan bunga atau dividen.
g. Blanko cek dan giro harus disimpan di tempat yang aman supaya tidak
disalahgunakan. Hindari penandatanganan cek dalam bentuk blanko. Saat
pendandatanganan cek, lampirkan bukti pendukung yang lengkap.

h. Sebaiknya cek dan giro ditulis atas nama dan ditandatangani oleh dua
orang untuk menghindari penyalahgunaan.
i. Sebaiknya kasir diasuransikan atau diminta menyerahkan uang jaminan,
untuk meminimalisasi terjadinya kecurangan atau antisipasi terjadinya
kehilangan.
j. Menggunakan kuitansi pre-numberred.
k. Bukti-bukti pendukung pengeluaran kas yang sudah dibayar harus
distempel lunas untuk menghindari double payment.
2.2

Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca per
tanggal neraca benar-benar ada dan dimiliki perusahaan, bukan milik
pribadi direksi atau pemegang saham. Auditor harus melakukan kas

2.3

opname dan mengirim konfirmasi bank.


Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan saldo kas dan
setara kas. Jika perusahaan menyisihkan dana untuk pelunasan obligasi
beserta bunga, atau terdapat saldo rekening giro yang dibekukan karena
perusahaan tersangkut masalah hukum, maka dana dan saldo tersebut tidak
boleh dilaporkan sebagai bagian dari kas di harta lancar. Hal tersebut harus

2.4

dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan.


Untuk memeriksa seandainya ada saldo kas atau setara kas dalam valuta
asing, apakah saldo tersebut sudah dikonversikan dalam rupiah
menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal neraca, atau
apakah selisih kurs yang terjadi sudah dikreditkan atau dibebankan ke laba

2.5

rugi komprehensif tahun berjalan.


Untuk memeriksa apakah penyajiannya di neraca sesuai dengan standar
akuntansi keuangan di Indonesia. Menurut SAK:
a. Kas dan setara kas disajikan di neraca sebagai harta lancar.
b. Kas dan setara kas yang penggunaannya dibatasi dalam
dimasukkan dalam aset lancar hanya jika pembatasan tersbeut
dilakukan untuk menyisihkan dana untuk melunasi kewajiban
jangka pendek, atau jika pembatasan tersebut hanya berlaku selama
satu tahun.
c. Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok
kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek.
d. Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat
digabung dan disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.

3. PROSEDUR PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA KAS


1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan setara kas
Auditor bisa melakukan tanya jawab bersama klien dengan
menggunakan internal control questionnaires. Hasil evaluasi internal
control atas kas dan bank serta transaksi penerimaan dan pengeluran kas
dan bank berupa kesimpulan apakah internal control tersebut berjalan
efektif atau tidak. Jika auditor menyimpulkan efektif, berarti luasnya
pengujian atas kewajaran saldo kas dan setara kas per tanggal neraca bisa
dipersempit, karena kemungkinan terjadinya kesalahan adalah kecil dan
jika kesalahan terjadi akan bisa segera ditemukan oleh pihak perusahaan.
Kemudian auditor harus melakukan compliance test (tes ketaatan)
atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas/bank, untuk membuktikan
apakah internal control berjalan efektif atau tidak. Jika disimpulkan bahwa
internal control lemah, auditor tidak perlu melakukan tes ketaatan, tetapi
langsung melakukan substantive test yang diperluas.
Sebelum melakukan tes ketaatan, perlu disusun audit program
untuk pengujian ketaatan atas transaksi penerimaan atau pengeluaran
kas/bank sebagai berikut:
Penerimaan kas/bank
Ambil sampel bukti penerimaan kas/bank secara random
Periksa apakah bukti penerimaan kas tersebut:
a. Sudah diotorisasi pejabat perusahaan berwenang
b. Lengkap bukti pendukungnya (kwitansi, deposit slip, dll)
c. Mencantumkan nomor perkiraan yang dikredit dengan benar
dan perhitungan matematisnya sudah benar
Periksa apakah posting ke buku besar sudah benar
Tarik kesimpulan hasil compliance test
Pengeluaran kas/bank
Ambil sampel bukti pengeluaran kas/bank secara random
Periksa apakah bukti pengeluaran kas tersebut:
a. Sudah diotorisasi pejabat perusahaan berwenang
b. Lengkap bukti pendukungnya (PR, PO, Supplier Invoice,
kwitansi dari supplier, dll)
c. Mencantumkan nomor perkiraan yang dikredit dengan benar

dan perhitungan matematisnya sudah benar


Periksa apakah posting ke buku besar sudah benar

Tarik kesimpulan hasil compliance test


2. Buat top schedule kas dan setara kas per tanggal neraca
3. Cash count (perhitungan fisik uang kas) per tanggal neraca
Jika klien menggunakan imprest fund system, cash count bisa dilakukan
kapan saja. Tetapi jika digunakan fluctuating fund system maka cash count
sebaiknya dilakukan tidak jauh dari tanggal neraca.
Perbedaan jurnal entry:
Imprest Fund
Fluctuating Fund
a. Pengadaan Petty Cash
DR. Petty Cash xx
DR. Petty Cash
xx
CR. Cash in Bank xx
CR. Cash in Bank
xx
b. Penyaluran kas kecil untuk membayar biaya rutin
No Entry
DR. Biaya Telepon xx
DR. Biaya Transportasi xx
CR. Petty Cash
xx
c. Penerimaan uang dari penjualan tunai
No Entry
DR. Petty Cash
xx
CR. Sales
xx
d. Pengisian kembali Petty Cash dengan membuka cek
DR. Biaya-biaya xx
DR. Petty Cash
xx
CR. Cash in Bank
xx
CR. Cash in Bank
xx
4. Kirim konfirmasi atau dapatkan pernyataan saldo dari kasir
Untuk kas yang berada di cabang jauh dan saldonya tidak besar
tidak perlu auditor secara khusus mengunjungi cabang tersebut untuk
melakukan kas opname. Cukup dikirim surat konfirmasi atau diminta
pernyataan saldo dari kasir.
5. Kirim konfirmasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki
perusahaan
Surat kongirmasi harus tetap dikirim walaupun perusahaan sudah
menerima rekening Koran dari bank karena:
Merupakan standard audit procedures
Yang ditanyakan dalam surat konfirmasi bukan hanya saldo bank

seperti rekening Koran


Rekening Koran dikirim ke klien, sementara jawaban konfirmasi
dikirim langsung ke auditor

6&7. Minta rekonsiliasi bank dan lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi


bank tersebut

Rekonsiliasi bank harus dibuat oleh klien dan tugas auditor adalah
memeriksa kebenaran rekonsiliasi tersebut, serta mengusulkan audit
adjusment jika ditemukan suatu kesalahan.
Prosedur audit yang biasa dilakukan adalah :
1. Cocokkan saldo menurut rekening koran bank dengan rekening koran
bank yang bersangkutan dan jwaban konfirmasi bank
2. Periksa footing dan cross footing
3. Cocokkan saldo menurut pembukuan dengan saldo buku kas/bank dan
buku besar kas/bank
4. Periksa outstanding dan outstanding deposit ke rekening koran bulan
berkutnya. Perhatikan apakah ada check yang outstaning lebih dari 70
hari sehingga perlu dibuatkan jurnal koreksi
5. Periksa biaya administrasi bank dan jasa giro ke rekening koran dan
nota debit/credit dari bank
8.

Review jawaban konfirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian


kredit untuk mengetahui apakah ada pembatasan dari rkening bank
yang dimiliki perusahaaan. Pembatasan tersebut bisa terjadi karena
perusahaan mempunyai masalah hukum sehingga rekeningnya
dibekukan atau karena dijadikan jaminan, bank garansi.
Untuk mengetahui apakah ada pembatasan atau tidak, auditor bisa
menanyakan kepada klien, me-review jawaban konfirmasi bank,
notulen rapat dan perjanjian kredit.
Kemungkinan juga ada saldo kas/bank yang merupakan shinking
fund sehingga tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan rutin
perusahaan, karena dana itu akan digunakan untuk pelunasan obligasi
atau expansi perusahaan.

9.

Periksa interbank transfer 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal


neraca, untuk mengetahui adanya kitting dengan tujuan untuk window
dressing. Check kitting bisa dilakukan jika perusahaan mempunyai
lebih dari satu rekening bank.

Untuk mengetahui ada tidaknya check kitting, auditor harus


memeriksa transfer dari rekening bank perusahaan ke rekening bank
perusahaan yang lainnya dan mencocokkan apakah penambahan saldo
direkening bank yang berasal dari transfer sudah diikuti dengan
pengurangan saldo direkening bank lainnya.
10.

Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment dan


subsequent

collection)

sampai

mendekati

tanggal

selesainya

pemeriksaan lapangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah


ada uncorded liabilities (kewajiban yang belum tercatat) per tanggal
neraca yang baru dibayar di periode berikutnya, baik yang berasal dari
pembelian aset ataupun biaya-biaya perushaan.
Tujuan lainnya untuk mengetahui apakah uang per tanggal neraca
sudh dilunasi diperiode berikutnya, sehingga auditor lebih yakin
mengenai kwajaran saldo utang per tanggal neraca.
11.

Jika ada saldo kas setara kas dalam mata uag asing per tanggal neraca,
periksa apakah saldo tersebut sudah dikonversikan kedalam rupiah
dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca, dan apakah
selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan atau dikreditkan pada laba
rugi tahun berjalan. Kurs tengah BI adalah rata-rata kurs beli dan kurs
jua di Bank Indonesia yang bisa dilihat disurat kabar atau business
news.
Menurut SAK ETAP (IAI;2009;253) :
Entitas harus mencatat transaksimata uang asing, pada pengakuan
awal dalam mata uang fungsional, dengan menggunakan kurs tunai
(spot rate) pada tanggal transaksi antar mata uang asing tersebut.
Tanggal transaksi adalah tanggal dimana transaksi pertama kali
memenuhi syarat pengakuan sesuai dengan SAK ETAP.

12.

Periksa apakah penyajian kas dan setara kas dineraca dan catatan atas
laporan keuangan, sesuai dengan standar akuntansi keuangan di
indonesia (SAK/ETAP/IFRS)

Penyajian di Neraca :
Pada umumnya kas dan setara kas merupakan harta lancar, saldo
deposito berjangka tidak boleh dilaporkan sebagai dari kas dan bank,
jika ada saldo bank bersaldo kredit dengan jumlah yang material,
harus diklarifikasi sebagai utang jangka pendek.
13.

Buat kesimpulan di Top Schedule kas dan setara kas atau dimemo
tersediri mengenai kewajarandari cash on hand in bank, setelah kita
menjalankan seluruh prosedur audit diatas.