Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA DASAR II


I.
II.
III.

JUDUL
Pembuatan Koloid dan Sifat-Sifatnya
TUJUAN
1. Menjelaskkan cara pembuatan koloid
2. Menjelaskan beberapa sifat koloid
DATA PENGAMATAN

a. Pembuatan Koloid Fe(OH)3

Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
50mL
akuades
1. Memasukkan 50 mL
akuades ke dalam gelas
beker 250 mL kemudian
memanaskan
10 teteshingga
FeCl3 & diaduk
mendidih
2. Menambahkan tetes demi
tetes larutan FeCl3 jenuh
sambil diaduk hingga
terbentuk koloid yang
berwarna coklat.
Menyimpan larutan ini
Warna air setelah mendidih + 10 tetes
untuk percobaan
FeCl3 adalah merah kecoklatan
selanjutnya.
b. Pembuatan Koloid secara dispersi
1. Mengambil satu sendok
1.
amilum kemudian
1 sendok amilum
memasukkan ke dalam
gelas beker 50 mL yang
Aduk
berisi 10 mL akuades.
&
Mengaduk campuran
tersebut kemudian
saring
10mL akuades
menyaring.
2. Mengambil satu sendok
amilum kemudian
menggerus sampai halus
1 sendok amilum
2.
dengan mortil.
Menambahkan 10 mL
Adu
akuades sambil diaduk
k&
kemudian menyaring.
sarin
10mL akuades
3. Membandingkan filtrat no.
g
1 dan 2 kemudian ke dalam
masing-masing filtrat
- Filtrate no.1 lebih bening ,warnanya
ditambahkan beberapa tetes coklat kehijauan
larutan I2 dan mengamati
- Filtrate no.2 sedikit keruh ,
perubahan yang terjadi.
warnanya cokelat kehijauan
c. Pembuatan Emulsi
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1. Dalam tabung reaksi bersih
masukkan 1 mL minyak
tanah, tambahkan 10 mL
akuades, lalu kocok dengan
kuat. Perhatikan hasilnya!
2. Letakkan tabung reaksi
tersebut pada rak tabung
1 mL minyak
reaksi kemudian catat
kocok
waktu yang diperlukan
10mL
hingga terjadi pemisahan
D
akuades
kedua zat /erbentuk lapisan
i
kembali.
k
3. Kepada campuran zat
o
tersebut kemudian
c
tambahkan 15 tetes larutan
o
sabun lemak dan kocok
Sabun lemak
k
dengan kuat, letakkan
k
1 mL minyak
campuran tersebut pada rak
10mL

IV.

PEMB
AHAS
AN
Dalam
percobaan
pembuatan
koloid
dan
sifat-sifatnya
terdapat dua
tujuan
percobaan
yaitu
menjelaskan
cara
pembuatan
koloid
dan
menjelaskan
beberapa sifat
koloid.

Prinsip dasar dari percobaan, secara umum koloid adalah campuran yang partikelpartikelnya lebih besar dari partikel larutan dan lebih kecil dari suspense. Koloid juga
bisa dilarutkan sebagai suatu campuran zat heterogen antara dua zat atau lebih dimana
partikel-partikel yang berukuran koloid tersebar merata dalam zat lain. Ciri-ciri dari
koloid memiliki ukuran antara 1-100 nm atau 10 A-2000 A. Koloid memiliki keadaan
terletak antara larutan dan suspense. Koloid merupakan campuran menstabil (seolaholah stabil), tetapi akan memisah setelah waktu tertentu. Ketika disaring koloid tidak
memiliki sisa hasil saringan. Koloid dalam secara makroskopis homogeny namun
secara mikroskopis heterogen. Karena koloid adalah campuran yang heterogen maka
koloid memiliki dua fase. Ciri-ciri dari larutan sejati memiliki ukuran kurang dari 1
nm atau kurang dari 10 A. Larutan sejati secara mikroskopis campuran yang lebih
stabil disbanding koloid dibawah pengaruh gravitasi bumi. Larutan sejati secara
mikroskopis maupun makroskopis bersifat homogeny dan hanya memiliki satu fase.
Larutan tidak meninggalkan sisa/ ampas saat disaring. Karena partikelnya lolos poripori kertas saring , sehingga tidak ada sisa. Ciri-ciri suspense memiliki ukuran lebih
besar dari 100nm atau lebih dari 2000 A. Suspensi sifatnya tidak stabil, karena
campuran dapat memisah dan mengendap hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya
gravitasi bumi dna parikelnya berukuran besar. Suspensi secara mikroskopis maupun
mamkroskopis bersifat heterogen dan memiliki dua fase. Suspensi juga meninggalkan
sisa setelah disaring.
Didalam larutan koloid secara umum, ada dua zat sebagai berikut :
1. Zat terdispiersi, yakni zat pelarut didalam larutan koloid
2. Zat pendispersi, yakni zat pelarut didalam larutan koloid
Berdasarkan fase terdispersi maupun fase pendispersi suatu koloid dibagi
sebagai berikut:
Fase terdispersi
Gas
Gas
Cair
Cair
Ccair
Padat
Padat
Padat

Pendispersi
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat

Nama koloid
Busa
Busa padat
Aerosol cair
Emulsi
Gel
Aerosol padat
Sol
Sol Padat

Contoh
Buih sabun, krim kocok
Batu apung,kasur busa
Kabut,hairspray diudara
Santan,air susu,mayones
Mentega,agar-agar
Debu,asap
Cat,tinta
Tanah,Kaca,lumpur

Berikut macam-macam koloid berdasarkan fasenya:


1. Aerosol
adalah system koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam
gas. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat.
Contoh aerosol padat adalah debu buangan knalpot. Sedangkan bila zat
yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair . Contohnya ialah
hairspray dan obat semprot dll.
2. Sol
Dimana partikel padat terdispersi dalam cairan. Sol dapat dikenal dua
macam berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel padat terhadap cairan
pendispersi sebagai berikut:

a. Sol liofob mempunyai arti takut cairanadalah partikel padat tidak


mengadsorpsi molekul cairan artinya cita, jadi artinya cinta cairan.
Sol liofil merupakan partikel-partikel padat yang akan mengadopsi
molekul cairan sehingga membentuk sifat berlawanan dnegan koloid
liofob. Jika liofob dijadikan pelarut yang diuapkan akan sukar untuk
mengembalikan zat padat itu kembal mennjadi sol dengan cara
menambahkan pendispersian. Contoh : Sol As2S3 dalam air sebagai
koloid liofob.
3. Emulsi
Adalah suatu system kolid dimana dimana zat terdispersi dan medium
pendispersi sama-sama merupakan cairan. Agar terjadi suatu campuran
koloid. harus ditambahkan zat emulgator (zat pengemulsi)
jika air dan minyak kita campur lalu kita kocok akan diperoleh campuran
yang cepat akan memisah menjadi dua bagian atau dua lapisan yaitu
lapisan minyak dan air
Perhatikan pada pencampuran air dengan minyak yang sebelum dikocok
kita beri deterjen atau sabun maka akan terjadi suatu emulsi. Jadi zat
seperti sabun dapat menstabilkan emulsi disebut emulgator (zat
pengemulsi). Contoh lain yang merupakan zat pengemulsi adalah susu
yang merupakan emulsi lemak dalam air dengan kesain atau suatu protein.
4. Gel
Gel tejadi jika medium pendispersidari suatu koloid diabsorpsi dalam
partikel koloid yang padat. Akan tejadi koloid Contoh larutan sabun dalam
air yang pekat dan panas akan menjadi cairan, sebaliknya jika kita
dinginkan akan membentuk gel yang kaku (gel tak kenyal)
Untuk gel yang kenyal dapat diperoleh dengan cara melarutkan koloid
liofil dalam air panas. Jika didinginkan terbentuk suatu partikel partikel
padat akan membentuk gumpalan-gumpalan atau jaringan-jaringan dalam
suatu larutan. Gumpalan gumpalan tersebut akan bertambah besar
mengakibatkan cairan tidak dapat bergerak, selai dan gelatin merupakan
gel kenyal.
Beberapa sifat koloid antara lain :
a. Efek Tyndall
Adalah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel
koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup
besar. Efek tyndall ditemukan oleh John Thyndall (1820-1893) seorang
ahli fisika inggris. Oleh karena itu, disebut efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada
saat larutan sejati disinari cahaya, maka larutan tersebut tdk akan
menghamburkan cahaya, sedangkan pada system koloid, cahaya akan
dihamburkan. Hal ini terjadi karena partkel koloid mempunyai partikel
yang relative besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya
pada larutan sejati, partikel partikelnya relative kecil sehingga hamburan
yang terjadi hanya sedikit.
b. Gerak Brown
Ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi
tidak menentu(gerak acak/tidak beraturan). Jika diamati koloid dibawah

mikroskop ultra, maka akan terlihat bahwa partkel tersebut akan bergerak
membentuk zig-zag. Pergerakan ini dinamakan gerak brown.
Partikel partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerak tersebut dapat
bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, sedangkan pada zat padat hanya
berasiliasi di tempat (tidak termasuk gerak brown). Untuk koloid dengan
medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakkan partikel akan
menghasilkan tumbukan dengan partikel itu sendiri. Tumbukan tersebut
berlangsung dan kesegala arah. Semakin kecil ukuran partikel koloid,
semakin cepat gerak brown yang terjad. Gerak brown juga dipengaruhi
oleh suhu, semakin tinggi suhu maka semakin besar energy kinetic yang
dimiliki partikel medium pendispersinya sehingga menghasilkan tumbukan
yang lebih kuat. Akibatnya gerak brown dari partikel partikel fase
pendispersinya semakin cepat.
c. Adsorbsi
Ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion senyawa lain pada permukaan
partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. Zat yang
diserap disebut fase penyerap dan zat yang mnyerap disebut adsorben.
Peristiwa adsorbs disebabkan gaya tarik molekul pada permukaan
adsorben.
d. Muatan Koloid
Muatan koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan
koloid. Dikenal 2 macam koloi, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid
bermuatan negative.
e. Koagulasi (pengendapan)
Adalah peristiwa pengendapan partikel-partikel koloid sehingga fase
terdispersinya terpisah dari medium pendispersi. Koagulasi disebabkan
hilangnya kestabilan utnuk mempertahankan partikel agar tersebar didalam
medium pendispersinya. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti
pemanasan, pendinginan, pengadukan secara kimmia seperti penambahan
elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi :
1. Perubahan suhu
2. Pengadukan
3. Penambhan ion dengan muatan besar
4. Pencampuran koloid positif dan koloid negatif
f. Koloid pelindung
Ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari
proses koagulasi. Banyak koloid yang harus dipertahankan dalam bentuk
koloid untuk penggunaannya, untuk itu digunakan koloid lain yang dapat
membentuk lapisan disekeliling koloid tersebut. Untuk koloidyang berupa
emulsi dapat digunakan emuglatornya.
g. Dialisi
Ialah pemisahan koloid dan ion-ion pengganngu dengan cara mengalirkan
cairan yang tercamur dengan koloid melalui membrane semi permeable
yang berfungsi sebagai penyaring. Membran semipermeabel ini dapat
dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan
cairan akan terpisah.
h. Elektroforesis

Ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan


menggunakan arus listrik.
Pembuatan koloid dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Cara kondensasi
Adalah cara pembuatan koloid melalui penggabungan partikel kecil
(larutan) menjadi partikel-partikel koloid. Pembuatan dengan cara
kondensasi dapat dilakukan melalui :
a. Reaksi pengendapan
b. Reaksi hidrolisis
c. Reaksi redoks
d. Reaksi pergeseran
e. Reaksi pergantian pelarut
2. Cara dispersi
Adalah cara pemisahan koloid melalui pengubahan partikel besar menjadi
partikel kecil kemudian didispersikan dalam medium pendispersi menjadi
system disperse.
Pembuatan dengan cara disperse dapat dilakukan melalui :
a. Cara mekanik : ukuran partikel disperse diperkecil dengan cara
penggilingan zat padat dengan menghaluskan butiran besar kemudian
diaduk dalam medium pendispersi.
b. Cara peptisasi : pembuatan koloid dengan cara menambahkan ion
sejenis sehingga partikel endapan dipecah.
c. Cara busur bredig
: dilakukan dengan cara mencelupkan 2 kawat
logam (elektroda) yang dialiri kedalam air.
d. Cara ultrasonic
: penghancuran butiran besar dengan ultrasonic
(frekuensi) >20000 HZ
A. PEMBUATAN KOLOID Fe(OH)3
Prinsip kerja pada percobaan ini adalah pertama-tama memasukkan 50 ml akuades
kedalam gelas beker 250 ml kemudian memanaskan hingga mendidih. Selanjutnya
menambahkan tetes demi tetes larutan FeCl3 jenuh sambil diaduk hingga terbentuk
koloid yang berwarna merah cokelat. Larutan ini kemudian disimpan untuk percobaan
selanjutnya.
Pada proses pembuatan koloid Fe(OH)3 ini hasil akhir yang terbentuk berupa sol
Fe(OH)3 dimana secara teori sol merupakan sistem koloid dimana partikel padat
terdispersi dalam zat cair. Cara pembuatan sol Fe(OH)3 ini dilakukan dengan cara
kondensasi melalui reaksi hidrolisis yaitu pembuatan koloid yang dilakukan dengan
mencampurkan suatu zat yang dalam percobaan ini larutan FeCl 3 dengan air, persamaan
reaksinya sebagai berikut:
FeCl3 (aq) + 3 H2O Fe(OH)3 (s) (koloid) + 3HCl
Pada saat sebelum FeCl3 diteteskan pada akuades yang telah mendidih, larutan
FeCl3 berwarna orange kemerahan, namun setelah FeCl3 diteteskan sebanyak 10 tetes
dengan menggunakan pipet tetes kedalam akuades yang mendidih dan diaduk

menggunakan pengaduk terbentuklah koloid berupa sol Fe(OH) 3 yang berwarna merah
kecoklatan.
Untuk membuktikan apakah Fe(OH)3 merupakan koloid ataukah bukan, bisa
dilakukan pengujian, yaitu penghamburan berkas cahaya dari lampu senter oleh Fe(OH) 3,
yang secara teori hal yang terjadi tersebut disebut efek tyndall. Hal ini disebabkan karena
ukuran molekul koloid Fe(OH)3 yang cukup besar. Sehingga dapat menghamburkan sinar
lampu senter. Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil
percobaan sudah sesuai dengan teori.
B. PEMBUATAN KOLOID DENGAN PROSES DISPERSI
Pada percobaan ini prinsip kerjanya yaitu mengambil satu sendok amilum
kemudian memasukkan kedalam gelas beker 50 ml yang telah berisi 10 ml akuades.
Mengaduk campuran tersebut kemudian disaring. Kemudian mengambil satu sendok
amilum kemudian menggerus sampai halus dengan mortir. Menambahan 10 ml akuades
sambil diaduk. Kemudian membandingakn filtrat nomor 1 dan 2 lalu kedalam masingmasing filtrat ditambahkan beberapa tetes larutan I2 dan mengamati perubahan yang
terjadi.
Percobaan ini dilakukan dengan proses dispersi melalui cara mekanik ukuran
partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat padat (yang dalam percobaan
ini yaitu amilum) dengan menghaluskan butiran padat menggunakan alu dan mortir
kemudian diaduk dengan medium pendispersinya dalam percobaan ini yaitu 10 ml
akuades.
Pada filtrat nomor 1 warna larutan menjadi jernih karena butiran amilum bisa
tertahan sempurna pada kertas saring, sedangkan filtrat nomor 2 warna larutan menjadi
keruh karena ukuran partikel amiluk yang sebelumm yang tidak digerus sehingga
memungkinkan untuk bisa melewati kertas saring lebih besar daripada filtrat 2. Hal itu
uga menyebabkan volume filtrat no.2 lebih banyak daripada volume filtrat no.1.
disebabkan juga karena filtrat no.2 berupa koloid yang tidak dapat disaring dengan kertas
saringan atau saringan biasa. Harus menggunakan penyaring ultra.
Pada filtrat no.1 setelah ditetesi larutan I 2 warna berubah dari jernih menjadi
cokelat kehijauan. Sedangkan filtrat no.2 setelah ditambah I 2 menjadi coklat kehijauan
juga lebih pekat.
Pembanding
Digerus
Volume
Warna filtrat
Setelah ditetesi I2

Filtrat no.1
Tidak
Lebih sedikit
Jernih
Warna cokelat kehijauan

Filtrat no.2
Digerus
Lebih banyak
Keruh
Warna coklat kehijauan pekat

Berdasarkan hasil percobaan, dapat dikatakan bahwa percobaan ini sudah sesuai
dengan teori, bahwa penggerusan dapat memperkecil ukuran partikel, sehingga sebagian
partikel-partikel banyak lolos melewati kertas saring menyebabkan kadar amilum dalam
filtrat lebih banyak dan setelah ditetesi I 2, amilum berubah warna dari bening menjadi
cokelat kehijauan. Penambahan I2 pada masing-masing filtrat digunakan untuk
mengetahui adanya amilum dalam larutan, semakin pekat warna cokelat yang dihasilkan,
maka semakin banyak amilum yang terkandung dalam larutan.
C. PEMBUATAN EMULSI
Prinsip kerja dalam percobaan ini adalah pertama dalam tabung reaksi bersih
dimasukkan 1 ml minyak tanah, menambahkan 10 ml akuades, lalu dikocok dengan kuat,
memperhatikan hasilnya. Selanjutnya meletakkan tabung reaksi tersebut pada rak tabung
kemudian mencatat waktu yang diperlukan hingga terjadi pemisahan kedua zat atau
terbentuk lapisan kembali. Kepada campuran zat tersebut kemudian menambahkan 15
tetes larutan sabun lemak dan mengocok hingga kuat. Meletakkan campuran tersebut
pada rak tabung reaksi dan mengamati perubahan yang terjadi setelah selang waktu 1015 menit. Selanjutnya membandingkan dengan hasil pada langkah 2.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu ketika minyak
tanah dimasukkan kedalam maka terjadi pemisahan zat dimana letak minyak tanah
berada dilapisan bawah. Terjadinya pemisahan antara minyak tanah dan akuades ini
dikarenakan perbedaan kepolaran diantara keduanya sehingga sulit untuk bercampur.
Minyak tanah adalah senyawa non polar sedangkan air adalah senyawa polar. Ketika
dilakukan pengocokan terjadi emulsi sementara warnanya keruh dan terdapat sediki buih.
Kemudian terjadi pemisahan dengan akuades barada dilapisan bawah dan minyak berada
dilapisan atas. Waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya 2 lapisan kembali yaitu 18
menit.
Untuk membuat emulsi minyak maka diperlukan suatu zat yang dinamakan zat
emulgator dimana zat emulgator ini berguna untuk menjadikan emulsi dua zat yang
semula tidak bercampur dapat menjadi emulsi. Emulgator yang digunakan pada
percobaan ini adalah sabun lemak. Setelah ditetesi minyak tanah dan air, kemudian
ditetesi 15 tetes sabun lemak dikocok dan didiamkan. Maka akan terbentuk 3 lapisan,
dimana lapisan yang paling atas adalah lapisan buih (sabun), lapisan tengah adalah
lapisan minyak tanah, dan lapisan terbawah adalah air. Waktu yang diperlukan untuk
campuran tersebt kurang lebih 10 menit. Terjadinya yang stabil dikarenakan fungsi dari
emulgator adalh untuk menstabilkan emulsi minyak dan akuades. Ekor sabun yang
bersifat nonpolar menempel pada minyak dan kepala sabun yang bersifat polar

menempel pada air. Waktu yang diperlukan untuk membentuk 3 lapisan yang dibantu
emulgator lebih cepat dibandingkan yang tidak. Ini menunjukkan emulgator juga dapat
mempercepat terbentuknya lapisan suatu campuran.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulakan belum sesuai dengan
teori yang ada, karena seharusnya emulsi ditambah sabun lebih stabil sehingga, untuk
terjadi pemisahan larutan lebih lama, jika dibandingkan dengan larutan yang tidak
ditambah dengan sabun lemak.
D. PEMBUATAN GEL
Prinsip kerja pada pembuatan gel yaitu kedalam gelas beker 200 ml masukkan 5
ml larutan kasein asetat jenuh, kemudian tambahkan segera 20 ml etanol 95%, selang
beberapa saat amati perubahan yang terjadi.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil, yaitu campuran
larutan menjadi agak keruh dan agak kental. Larutan ini tidak bisa menjadi gel secara
sempurna karena larutan yang digunakan jenuh. Pencampuran larutan kalsium asetat
jenuh dengan etanol 95% membentuk gel berwarna putih bening. Hal ini menunjukkan
adanya pembentukan sistem koloid yaitu dengan cara penggantian pelarut, dan termasuk
cara kondensasi.
Ca(CH3COO)2 + C2H5OH CH3COO(C2H5) + Ca(OH)2
E. SIFAT-SIFAT KOLOID
Prinsip kerja percobaan sifat-sifat koloid yaitu memasukkan 2 ml koloid Fe(OH) 2
yang telah dibuat dalam tabung reaksi, kemudian tetes bertetes tambahkan larutan AlCl 3
dan hitung julmah tetesan hingga terjadi proses koagulasi, mencatat pada tabel.
Mengulangi cara yang sama tetapi AlCl3 diganti dengan MgCl2 0,01 M, 0,01 M
kemudian larutan NaCl 0,006 M dan larutan NaCl 0,5 M. Lalu masukkan kedalam dua
gelas beker 100 ml dengan 50 ml dan 10 ml akuades. Kedalam masing-masing gelas
beker beserta isinya, sedangkan yang lain dipanaskan hingga mendidih, kemudian
bandingkan kecepatan koagulasi dengan yang tidak dipanaskan.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil percobaan sebagai berikut:
No.
1
2
3
4
5

Larutan Koloid

Larutan

Fe(OH)3
Fe(OH)3
Fe(OH)3
Fe(OH)3
Fe(OH)3

ditambahkan
AgCl3 0,001 M
MgCl2 0,001 M
MgCl2 0,01 M
NaCl 0,006 M
NaCl 0,5 M

yang Jumlah
elektrolit
32
50
31
30
10

tetes

Dari kelima elektrolit yang ditambahkan, untuk kecepatannya adalah NaCl 0,5
M, MgCl2 0,01 M, NaCl 0,006 M, AlCl 3 0,001 M, MgCl2 0,001. Hal ini disebabkan
karena konsentrasi larutan elektrolit, maka daya tarik antar partikel elektrolit dan
partikel koloid semakin kuat. Sehingga koagelasi berlangsung lebih cepat. Dari ketiga
jenis larutan elektrolit yaitu AlCl3, MgCl2 dan NaCl, larutan dengan muatan negatif
paling besar adalah AlCl3 karena memiliki muatan negatif 3. Kemudian MgCl 2
muatan negatifnya negatif 2 dan NaCl negatif 1. Dengan demikian, percobaan sesuai
teori karena AlCl3 meskipun konsentrasinya kecil namun lebih efektif untuk
mempercepat terjadinya koagulasi dibandingkan dengan MgCl2 yang sama-sama
memiliki konsentrasi 0,001 M
Reaksi yang terjadi pada percobaan sifat-sifat koloid:
Fe(ON)3 (aq) + AlCl3 (aq) FeCl3 (aq) + Al(OH)3 (aq)
2Fe(OH)3 (aq) + 3MgCl2 (aq) 2 FeCl3 (aq) + 3Mg(OH)2 (aq)
Fe(OH)3 (aq) + 3NaCl (aq) FeCl3 (aq) + 3 Na(OH) (aq)
Adanya elektrolit dalam percobaan, elektrolit tersebut seperti AlCl3, MgCl2, dan
NaCl. Suatu koloid yang dalam percobaan berupa sol Fe(OH)3 yang bermuatan negatif
dicampurkan dengan suatu larutan antara lain : AlCl3, MgCl2, dan NaCl. Maka ion ion
negatif masing masing larutan tersebut akan segera ditarik oleh partikel partikel koloid
positif Fe(OH)3. Akibatnya ukuran koloid sangat besar sehingga hterjadi koagulasi.
Secara teori koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel partikel koloid sehingga
fase terdispersinya terpisah dari medium pendispersi. Hilangnya kestabilan untuk
mempertahankan partikel koloid Fe(OH)3 agar tetap tersebar di dalam medium
pendispersi menyebabkan terbentuknya endapan dalam percobaan sifat sifat koloid ini.
Kemudian pada percobaan dimasukkannya akuades 20 ml dan 10 ml pada 2
gelas beker 100 ml, kemudian ditambahkan 1ml larutan AgNO3 encer, 1 ml larutan
CaCl2 encer dan 5 ml larutan HNO3 encer, kemudian salah satu gelas beker dipanaskan
dan yang lain didiamkan. Maka hasilnya, gelas beker yang dipanaskan lebih cepat
mengalami koagulasi daripada yang didiamkan. Waktu yang dibutuhkan untuk gelas
beker yang dipanaskan adalah 1 menit 45 sekon, sementara untuk yang didiamkan 7
menit 59 sekon. Hal ini karena faktor penyebab terjadinya koagulasi adalah perubahan
suhu, semakin tinggi suhu maka koagulasi akan lebih cepat terjadi. Pencampuran larutan
elektrolit ini merupakan pembuatan koloid dengan cara kondensasi dengan
memanfaatkan reaksi pengendapan.

KESIMPULAN
1. Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak diantara larutan
dan suspensi.
2. Berikut perbedaan antara koloid, larutan dan suspensi
N
O
1.
2.

FAKTOR
PEMBEDA
Ukuran
Uji sarig

LARUTAN

KOLOID

SUSPENSI

< 10
Tidak bisa disaring

>2000
Bisa disaring

3.

Kestabilan dibawah
pengaruh gravitasi
Fase campuran
Jenis campuran

Stabil

10 -2000
Tidak bisa disaring
atau disaring
dengan penyaring
ultra
Stabil / semi stabil

4.
5.

3.
4.

5.

6.

7.

Tidak stabil

1 fase
homogen

2 fase
2 fase
Heterogen
heterogen
(mikroskopis)
homogen
(makroskopis)
Cara membuat koloid dibagi menjadi dua yaitu kondensasi dan dispersi.
Kondensasi yaitu cara pembuatan koloid dengan penggabungan partikel partikel larutan
menjadi partikel koloid. Contoh kondensasi : reaksi hidrolisis, reaksi redoks, dan reaksi
metatesis.
Dispersi yaitu cara pembuatan koloid dengan cara pengubahan koloid besar (suspensi)
koloid kecil kemudian di dispersikan dalam medium pendispersi menjadi sisitem
dispersi. Contoh : mekanik, busur breding, dan peptisasi.
Pada percobaan pembuatan koloid Fe(OH)3 di buat dengan cara kondensasi, dengan
reaksi hidrolisis yaitu mereaksikan FeCl3 dengan air. Reaksinya sebagai berikut :
FeCl3 (aq) + 3H2O (l) Fe(OH)3 (koloid) + 3 HCl (aq)
Pada percobaan pembuatan koloid dengan proses dispersi, digunakan amilum padat yang
terlebih dahulu diberi perlakuan digerus menggunakan mortil kemudian di htambahkan
akuades dan disaring. Filtrat yang dihasilkan berupa sistem koloid ndengan ciri ciri
warna putih keruh, jumlah volume lebih banyak dan ketika ditambah I 2 berwarna coklat
kehijauan pekat. Hasil percobaan sebagai berikut :

PEMBANDING
FILTRAT NOMER 1
FILTRAT NOMER 2
Digerus
Tidak
Iya
Volume
Lebih sedikit
Lebih banyak
Warna filtrat
Jernih
Keruh
Waran setelah ditetesi larutan Coklat kehijauan
Coklat kehijauan pekat
I2
Fungsi I2 sebagai indikator adanya amilum dalam filtrat, semakin berwarna coklat larutan
yang dihasilkan maka semakin banyak amilum yang terkandung dalam larutan tersebut.
8. Pada pembuatan emulsi, fungsi dari sabun lemak adalah sebagai emulgator yang berguna
untuk menstabilkan larutan minyak tanah dan akuades.
9. Pada pembuatan gel, harus seimbang perbandingan larutan kalsium asetat jenuh dengan
etanol 95 %, sebab jika tidak maka gel tidak akan terbentuk.

10. Pada percobaan sifat sifat koloid, larutan Fe(OH)3 ditambah larutan elektrolit AlCl3 0,01
M, MgCl2 0,001 M, MgCl2 0,01 M, NaCl 0,006 M, NaCl 0,5 M. Kejadian tarik menarik
antara muatan positif Fe(OH)3 dengan muatan negatif larutan elektrolit mengakibatkan
timbul endapan (koagulasi) dalam hasil percobaan. Faktor faktor yang mempengaruhi
koagulasi dalam percobaan ini :
a. Perubahan suhu
b. Konsentrasi larutan elektrolit
c. Pencampuran koloid muatan (+) dan (-)
Reaksi yang terjadi yaitu :
Fe(OH)3 (aq) + AlCl3 (aq) FeCl3 (aq) + Al(OH)3 (aq)
2 Fe(OH)3 (aq) + 3MgCl2 (aq) 2FeCl3 (aq) + 3Mg(OH)2 (aq)
Fe(OH)3 (aq) + NaCl (aq) FeCl3 (aq) + 3NaOH (aq)
Semuanya terbentuk endapan.
11. Pada percobaan ke dua gelas beker berih 20 ml dengan 10 ml akuades, yang
ditambahkan 1ml larutan AgNO3 encer, 1 ml larutan CaCl2 encer dan 5 ml larutan HNO3
encer, salah satunya dipanaskan dan yang lain didiamkan maka yang dipanaskan akan
menmgalami koagulasi terlebih dahulu.
12. Sifat sifat koloid antara lain dapat mengalami koagulasi, koloid pelindung, efek tyndall,
gerak brown, muatan koloid, adsorbsi, dan dialisis.

DAFTAR PUSTAKA
Keenan. 1984. Kimia Untuk Univesitas Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Nursita. 1989. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM Press.
Ralph, Petrucci. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Sukarjo. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : PT Bima Aksara.
Tim Dosen Kimia Dasar II. 2015. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar II. Surakarata : UNS
Press.