Anda di halaman 1dari 12

MANAJEMEN KASUS

EKLAMSIA
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Anestesi Reanimasi
RSUD dr. R. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga

Oleh:
Dinar Deby

Saraswati(067110114)

Dokter Pembimbing Klinik


dr. H. Awal Tunis Yantoro SKM, Sp. An

KEPANITRAAN KLINIK
ILMU ANESTESI REANIMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014
BAB I
STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Diagnosa pro op
Jenis Operasi

: Ny. W
:24 tahun
: perempuan
:G2P1A0
: besar

Tanggal Operasi

:06/01/2015

B. Primary Survey
a. Airway
Clear, malampati skor I, tidak terdapat gigi yang tanggal
b. Breathing
Nafas spontan, tidak terdapat ketinggalan gerak pada dada, simetris,
RR = 20X?Menit
c. Circulation
TD 170/100 mmHg, nadi 88 X/ menit
C. Pemeriksaan Pra Anestesi
1. Anamnesa
a. Keluhan Utama
: Kejang
b. Riwayat Penyakit Sekarang
1 Hari SMRS : Pasien mengeluhkan pusing,

berputar, merasa

kedua kaki tampak bengkak dan berat, mual dan muntah disangkal,
pasien sedang hamil 27 minggu G2P1A0
6 Jam SMRS : Pasien tidak sadarkan diri, oleh keluarga pasien
dibawa ke puskesmas, saat dipuskesmas pasien kejang sebanyak 1
kali durasi kurang lebih 10 menit, jenis kejang fokal, kemudian
langsung dirujuk ke RSUD dr. R. Goeteng Tarunadibrata
SMRS
: Pasien mengeluhkan pusing berputarm kedua kaki
terasa benngkak, pandangan sedikit kabur, kejang (-), mual dan
muntah disangkal
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- Pasien belum pernah mengeluhkan penyakit serupa
- Riwayat IUFD saat kehamilan I
- Riwayat Hepatitis B (+)
- Riwayat Tekanan Darah Tinggi disangkal
- Riwayat DM disangkal
- Riwayat Alergi disangkal
d. Riwayat Menarche
Menarche pertama saat usia 12 tahun, siklus haid teratur dengan
lama hadi 4-7 hari. Keluhan saat haid tidak ada
e. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali dengan suami yang sekarang

f. Riwayat KB
Pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi
g. Kebiasaan dan lingkungan
Pasien jarang berolahraga,

senang

makan-makanan

yang

berminyak.

2. Pemeriksaan Fisik
KU
:Tampak

lemah,

CM

Vital Sign :TD = 150/100, Nadi 88 X/Menit, RR 20X/Menit S 36.9 C (


dilakukan saat pre op)
Mata
: Conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Thorak
: Simetris, Fremitus teraba kanan dan kiri, Vesikuler +/+
Abdomen : Peristaltik normal, nyeri tekan (-), nyeri lepas tekan (-)
Ekstremitas: Akral hangat, edema tungkai (+)
3. Pemeriksaan Penunjang
Hb
: 16.1
Leukosit : 16.100
Gol Darah : A
CT
: 4.30 menit
BT
:4.30 menit
SGPT
: 40
HBSAG : (+)
Urin rutin : protein urin +++ (pos 3)
4. Diagnosis
G2P1A0 hamil 27 minggu dengan Eklamsia
5. Kesimpulan
ASA 4
D. Laporan Anestesi
1. Diagnosa Pra Bedah
G2P1A0 hamil 27 minggu pro SC dengan Eklamsia
2. Rencana Anestesi mulai pukul 10.00
Advice anestesi : Informed consent dan Puasa 8 jam pre operasi
3. Penatalaksanaan Operasi

Golongan
: ASA 4
Posisi
: supine/terlentang
Mulai anestesi
: 10.20 wib
Selesai operasi
: 11.00 wib
Jenis Anestesi
: besar
Teknik anestesi : regional/spinal
Premedikasi
: ceftriaxone 1g
Induksi
: recain 0.5% HCL 12.5 mg
Maintenance
: O2 3L/ menit
Respirasi
: spontan
Cairan durante operasi : RL 1000 mL, widahes 500 mL
4. Pemantauan HR
10.20
TD: 152/100, HR 109, Masuk ruang OK, pemasangan alat,
10.25

inj ondancentron 4 mg.


TD : 150/98 HR 110, Anestesi spinal dengan recain 0.5%

10.35
10.40
10.45
10.50
10.55
11.00

HCL, pemasangan kanul 02


TD 140/90 HR 90, Mulai pembedahan
TD 135/85 HR 93, monitoring
TD 140/87 HR 96 monitoring
TD 145/93 HR 100 monitoring
TD 140/90 HR 97 monitoring
Pembedahan selesai

BAB II
A. Tinjauan Pustaka
1. EKLAMSIA
- Definisi : Eklamsia adalah salah satu penyakit akut pada
kehamilan yang mengakibatkan kejang dikarenakan tingginya
tekanan darah ibu. Usia kehamilan haruslah berada diatas 20
-

minggu.
Etiologi : Eklamsia dapat terjadi apabila pre-eklamsia tidak
tertangani secara dini, sehingga penyebab eklamsia sama
dengan penyebab pre-eklamsia. Terdapat beberapa faktor resiko

: status primigravida, riwayat keluarga pre-eklamsia/ eklamsia,


usia ibu yang berada tidak berada pada usia produktif,
mempunya riwayat HT, riwayat CRD, riwayat DM, dan pada
-

kehamilan gemelli.
Patologi : Perkembangan placenta yang tidak baik di awal
kehamilan Kegagalan sel2 trofoblast menginvasi arteri spiralis
maternal Oxidative stress sehingga dilepaskan mediator
inflamasi dari sel2 trofoblas.stress oksidatif, cketidakmampuan
adapatasi dari sistem sirkulasi tubuh, abnormalitas metabolik
dan terjadinya infeksi semua nya berkontribusi dalam
menjadikan

disfungsi

sel

endotel

sehingga

terjadi

mikroangiopati pada organ (plasenta, ginjal, hepar dan otak)


-

Manifestasi Klinis :
Sebelum terjadi eklamsia, terlebih dahulu menunjukan gejala
pre eklamsia : pusing, nyeri kepala, kejang, nyeri epigastrium.
Diagnosis
Anamnesis : Kejang, pusing, nyeri ulu hati, nausea, vomitus.
Pemeriksaan fisik : Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg , edem
tungkai

Pemeriksaan penunjang : protein urin (+), oliguri, fungsi hepar


dapat terganggu, trombositopenia/normal.
Atau Jika terdapat 1 atau lebih gejala sbb:
Tekanan darah sistolik > 160 mm Hg systolic atau Tekanan
darah diastolik > 110 mm Hg pada 2 kali pemeriksaan

sedikitnya 6 jam setelah pasien bed rest


Proteinuria: > 5 g / 24 jam atau > 3+ / 4 jam pada

pemeriksaan acak
Oliguria: <500 mL dalam 24 jam
Gangguan serebral atau visual
Edema paru atau sianosis
Nyeri epigastrik atau nyeri right upper-quadrant
Gangguan fungsi hepar
Thrombositopenia
Gangguan pertumbuhan janin
Terapi/ Manajemen
Prinsip terapi pada eklamsia
Kontrol kejang : MgSO4 4-6 g selama 15 menit I.V
dicampur larutan 100ml dilanjutkan 2g dalam infus
Koreksi hipoksia : berikan o2
Kontrol tekanan darah : diberikan antihipertensi :

metildopa, nifedipin, labetalol, hidralazine dan doxazosin


Persalinan : saat pasien sudah stabil.
Bed Rest
Komplikasi : HELLP Syndrome, edema cerebral, edema paru,
jaundice, ruptur hepar, kematian janin.

2. Prosedur Anestesi
a. Prosedur dan persiapan anestesi
Tindakan operatif ditujukan untuk menyiapkan keadaan pasien
seoptimal mungkin dalam menghadapi operasi. Persiapan prabedah
menentukan keberjasilan suatu operasi, oleh karena itu persiapan
pra operasi sangatlah penting. Persiapan pra operasi yang kurang
dapat menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan dalam
anestesi dan kegagalan dalam tindakan operasi.
Adanya visite oleh dokter spesialis yang dilakukan sebelum operasi
dilakukan bertujuan untuk menyiapkan kondisi fisik dan mental
dari pasien yang salah satu nya juga adalah saat dokter spesialis

anestesi telah mengetahui pasien maka dapat ditentukan tekhnik


anestesi dan obat-obatan apa yang dipakai menggunakan ASA ,
yang dimana ASA terbagi menjadi 5 kategori yaitu :

Tabel klasifikasi ASA dari status fisik:


Kelas
I

Status fisik
Pasien normal yang sehat

Contoh
Pasien bugar dengan hernia

II

Pasien dengan penyakit sistemik ringan

inguinal
Hipertensi esensial, diabetes

III

ringan
Pasien dengan penyakit sistemik berat yang Angina, insufisiensi pulmoner

IV

tidak melemahkan

sedang sampai berat

(incapacitating)
Pasien dengan penyakit sistemik yang

Penyakit paru stadium lanjut,

melemahkan dan merupakan ancaman

gagal jantung

konstan terhadap kehidupan


Pasien sekarat yang diperkirakan tidak

Ruptur aneurisma aorta, emboli

bertahan selama 24 jam dengan atau tanpa paru massif


E

operasi
Kasus-ksus emergensi diberi tambahan
hurup E ke angka.
Selain menggunakan ASA, seorang spesialis anestesi juga dapat
menggunakan mallampati score yang bertujuan untuk menilai
bagian faring, tonsil pasien sehingga akan memudahkan saat
tekhnik intubasi apabila diperlukan, mallampati score terbagi 4
yaitu : 1. Seluruh bagian tonsil, palatina, uvula, pilar tonsil terlihat
2.hanya bagian uvula yang terlihat

3. hanya ujung uvula yang dapat terlihat


4. tidak ada yang terlihat.
Diperlukan pula anamnesis yang lengkap disertai pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang yang memadai agar spesialis anestesi
dapat memperkirakan besaran dosis yang akan dipakai kemudian
obat-obatan apa saja yang dapat digunakan serta terapi cairan yang
akan dibutuhkan. Persiapan anestesi sebelum dilakukan operasi
adalah dengan mengosongkan isi lambung yaitu dengan puasa 8
jam sebelum operasi dilakukan, bertujuan untuk menghindari
pasien muntah/regurgitasi. Pemberian obat-obatan pre medikasi
biasanya diberikan 1-2 jam sebelum operasi dimulai.
b. Durante Anestesi
Dalam kasus ini, tindakan pembedahan yang akan dilakukan
adalah SC atau sectio caesar sehingga menggunakan tekhnik
anestesi regional/spinal. Induksi yang dipakai adalah recain 0.5%
HCL . obat ini memblok konduksi saraf secara reversible . Obat
menembus saraf dalam keadaan tidak terionisasi tetapi dalam
akson terbentuk molekul ion dan molekul inilah yang memblik
kanal NA serta mencegah terjadinya potensial aksi. Selama operasi
tekanan darah, pernafasan, saturasi o2, hear rate dimonitoring
setiap 5 menit agar mengetahui kondisi pasien sehingga dapat
mengantisipasi

apabila

terjadi

perdarahan

yang

dapat

mengakibatkan syok. Total cairan yang digunakan adalah 500 ML


widehes dan 1000 ML Ringeer Laktat bertujuan selain untuk
mengganti cairan saat puasa sebelum operasi juga untuk
mempertahankan volume cairan ekstrasel agar bertahan lebih lama.
c. Post Operasi
Setelah tindakan operasi selesai, maka pasien di bawa ke ruangan
RR atau recovery room, diruangan inilah pasien dimonitoring
kembali seperti didalam ruang operasi dan di monitoring tingkat
kesadarannya. Monitoring menggunakan GCS dan Bromage Score.

GCS (Glasgow Coma Scale)

Komponen

Respon

Nilai

Keterangan

Eye Opening

Spontaneous

Mata membuka secara spontan

(Pembukaan
Mata)

To Voice

Mata membuka saat direspon oleh suara


atau perintah

To pain

Mata membuka dengan rangsang nyeri

None

Tidak ada response

Oriented

Orientasi baik; contoh pasien dapat


menyebutkan nama, dan menyadari situasi
di sekitarnya

Confused

Pembicaraan membingungkan; tidak dapat


memberikan jawaban yang informatif,
memberikan jawaban yang tidak
berhubungan dengan pertanyaan

Innapropriate speech

Pasien berkata-kata tetapi kacau tidak


dalam susunan kalimat, dapat bersifat

Verbal
Response

10

makian atau teriakan

Motoric
Response

Incomprehensible
speech

Suara yang tidak berarti (keluhan atau


erangan) tetapi bukan suatu kata

None

Tidak ada response

Obeys Command

Secara spontan menggerakkan anggota


badan sesuai perintah

Localizes Pain

Dapat melokalisasikan nyeri atau


melakukan tarikan terhadap sentuhan

Avoidance reaction

Menghindari rangsangan nyeri

Dekortikasi

Reaksi fleksi

Deserebrasi

Reaksi ekstensi

None

Tidak ada response

Bromage Score yaitu


Bernilai 0 jika terdapat gerakan penuh tungkai
Bernilai 1 jika tak mampu ekstensi tungkai
Bernilai 2 jika tak mampu fleksi lutu
Bernilai 3 jika tak mampu fleksi pergelangan kaki
Jika bromage score berniai kurang dari sama dengan 2 maka pasien
boleh dipindahkan.
Pada pasien ini, dipindahkan tidak ke bangsal umum akan tetapi ke
ICU ( Intensive Care Unit) yaitu ruang rawat inap untuk pasien
yang memiliki keperluan perawatan yang intensif dan khusus .
pasien ini memerlukan perawatan khusus karena selain monitoring
tekanan darah yang cenderung tinggi, setelah selesai operasi pasien
juga nampak lemah sehingga diperlukan asupan o2 yang memadai
serta agar apabila terjadi komplikasi pasca operasi maka dapat
langsung ditangani dengan baik.
3. Anestesi Spinal
- Definisi : salah satu tekhnik anestesi regional yang dilakukan
dengan menyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruangan

11

subarachnoid
-

untuk

mendapatkan

analgesia

setinggi

dermatoma tertentu.
Tujuan
: Untuk mendapatkan blok analgesia yang adekuat
Indikasi : Diberikan pada tindakan yang melibatkan tungkai
bawah, panggul, perineum. Pada bedah-bedah khusus seperti
endoskopi, urolog, bedah rektum, perbaikan fraktur tulang

panggul, bedah obsetrik, dan bedah anak


Kontraindikasi: Mutlak : infeksi kulit pada tempat yang akan
dilakukan pungsi lumbal, bakteremia, syok hipovolemik,
koagulopati dan peningkatan TIK
Kontraindikasi Relatif : neuropati, prior spine surgery, LBP,
penggunaan obat-obatan pre op gol AINS, heparin sub kutan
dosis rendah dan pasien yang tidak stabil

Komplikasi

: hipotensi, nyeri saat penyuntikan, nyeri

punggung, sakit kepala, retensi urin, meningitis, cedera


-

pembuluh darah dan saraf, anestesi spinal total.


Keuntungan
: murah, perdarahan lebih

sedikit,

mengurangi respon terhadap stress, menurunkan mortalitas


-

pasca operasi.
Prosedur :
a. Perisiapan pasien
Sama dengan pasien general anestesi yaitu informed
consent, pasang monitor tanda vital, cairan
b. Alat dan obat
Spinal needle G25-29, spuit 3cc/5cc/10cc, lidokain 5%
hiperbarik, efedrin, sulfas atropine (SA), petidine, katapres,
adrenalin, obat emergency.
c. Posisi pasien
Pasien diposisikan duduk dengan kepala menunduk dagu
menempel pada dada sehingga scapula bergeser ke lateral.
Tempat penyuntikan berada di Lumbal garis krista ilika

kanan dan kiri L4/ interspinosus L4-L5


Intruksi post operasi SC spinal
1. Bed rest total 24 jam dengan bantal tinggi, tidak boleh
duduk, boleh miring ke kiri / kanan

12

2. Ukur TD dan nadi 1 jam pertama.


3. Bila tidak mual dan muntah dapat diberikan minum
perlahan
4. Bila nyeri kepala yang sangat hebat segera konsultasi
dengan dokter spesialis anestesi.