Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam sunnah-sunnah Fitrah Allah telah memilihkan kepada
nabi-nabi, dan memerintahkan kita dan menjadikannya sebagai siar atau
lambang dan ciri yang banyak dilakukan untuk mengenal pengikutnya.
Sunnah-sunnah fitrah yaitu berkhitan, mencukur bulu kemaluan,
mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memendekkan kumis.
Menggunting bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong
kuku, memendekkan kumis, itu disunnatkan tiap minggu demi menjaga
kebersihan dan menyenangkan hati.
Siwak dapat diartikan kayu yang bisa dipakai untuk menggosok
gigi dengan kayu tersebut atau dengan setiap benda kesat yang dapat
dipakai untuk membersihkan gigi.

BAB II
A. Rumusan Masalah
- Ada beberapa sunnah-sunnah fitrah
- Pengertian berkhiran
- Pengertian bersiwak (gosok gigi)

BAB III
PENTINGNYA KESEHATAN
A. Fitrah (Kebersihan Badan)

Artinya :
Hadist Abu Hurairah dari Nabi SAW, dimana beliau bersabda
Fitrah itu ada lima, atau lima (perbuatan) termasuk fitrah, yaitu
khitan, mencukur bulu sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak,
memotong kuku, dan menggunting kumis.
Al Bukhari mentahrijkan hadist ini dalam Kitab Pakaian bab
tentang menggunting kumis.1
1. Sunnah-sunnah Fitrah
Allah telah memilihkan buat nabi-nabi A.S. itu sunnah-sunnah
dan memerintahkan kita buat mengikuti mereka dalam hal-hal tersebut
yang dijadikannya sebagai syiar atau pelambang dan sebagai ciri yang
banyak dilakukan, untuk mengenal para pengikut masing-masing dan
memisahkan mereka dari golongan lain.
Ketentuan-ketentuan ini dinamakan sunnah fitrah, dan
keterangannya adalah sebagai berikut :
a. Berkhitan : yaitu memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan
untuk menjaga agar disana tidak berkumpul kotoran, juga agar
dapat menahan kencing dan supaya tidak mengurangi kenikmatan
dalam bersenggama.

Berkhitan ini adalah sunnah yang telah lama sekali, maka dari Abu
Hurairah ra.

Artinya :
Telah bersabda Rasulullah : Ibrahim al Khalil itu berkhitan
setelah mencapai usia 80 tahun, dan ia berkhitan itu
dengan itu dengan atau di al qadum. (HR. Bukhari) 2
Mashab Jumhur hukumnya wajib, sedang Syafii memandangnya
sunat pada hari ketujuh, berkata Syaukani : tidak ada diterima
waktu penentuan begitupun dalil yang menyatakan bahwa itu
wajib.
b. Mencukur bulu kemaluan dan mencabut bulu ketiak
Kedua-duanya merupakan sunnah yang dapat dilakukan dengan
menggunting atau memotong, mencabut atau mencukur.
c. Memotong kuku, memendekkan kumis atau memanjangkannya.
Kedua-duanya sama-sama berdasarkan riwayat yang sah.
Umpamanya dalam hadist Ibnu, Umar ada tersebut sebagai
berikut:
Artinya :
Bahwa Nabi SAW telah bersabda : yang demikianlah
kaum musyrikin: melebatkan jenggot dan memanjangkan
kumis
Sementara dalam hadist Abu Hurairah r.a. dikatakan :

Artinya :
Telah bersabda Nabi SAW : lima perkara berupa fitrah,
yaitu memotong bulu kemaluan, berkhitan, memotong
kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku (HR.
Jamaah)
Jadi tiada terdapat ketentuan, dan mana diantara
keduanya yang patut disebut sunnah.
Tetapi prinsipnya ialah agar kumis itu tiada terlalu panjang
hingga menyangkut makanan dan minuman, dan supaya kotoran
tidak beertumpuk di sana.
Menggunting bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak,
memotong kuku atau memanjangkan kumis itu, disunnatkan tiap
minggu demi menjaga, menyempurnakan kebersihan dan
menyenangkan hati karena terdapatnya rambut di badan
menyebabkan kejengkelan dan kegelisahan.
Membiarkan semua ini diberi kesempatan selama 40 hari
tak ada alasan untuk memperpanjangnya lagi setelah itu. Dasar
hadist Anas r.a. :

Artinya :
Kami diberi tempo oleh Nabi SAW dalam memotong
kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak,
menggunting bulu kemaluan agar tidak dibiarkan lebih dari
40 malam (HR. Ahmad, Abu Daud, dll)
B. Bersiwak (Gosok Gigi)

Artinya :
Hadist Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
seandainya aku tidak khawatir mempersulit ummatku, atau
mempersulit manusia, niscaya aku akan memerintahkan mereka
menggosok gigi setiap shalat.
Al Bukhari mentahrijkan hadist ini dalam Kitab Jumah bab
tentang gosok gigi pada hari Jumah.

Artinya :
Hadist Abu Musa dimana ia berkata : saya datang kepada Nabi
SAW, lalu saya dapatkan beliau sedang menggosok gigi dengan
kayu siwak di tangannya, dengan mengeluarkan suara uk,uk
sedang kayu siwak itu berada di dalam mulutnya seakan-akan
tumpah.
Al Bukhari mentahrijkan hadist ini dalam Kitab Wudlu bab
tentang gosok gigi.
a. Menggosok gigi atau siwak
Siwak dapat diartikan kayu yang bisa dipakai untuk
menggosok gigi, bisa juga menggosok gigi itu sendiri, yakni menyikat
gigi dengan kayu tersebut, atau dengan setiap benda yang kesat yang
dapat dipakai untuk membersihkan gigi.
Bahkan sebaik-baiknya yang dipakai ialah kayu arak yang
berasal dari Hejas, karena diantara khasiatnya ialah menguatkan gusi
dan menghindarkan penyakit gigi, menguatkan pencernaan dan

melancarkan buang air kecil, walaupun sunnah dapat hasil dengan


apa juga yang dapat menghilangkan kuning gigi dan membersihkan
mulut seperti sikat gigi dan lain-lain.
Diterima dari Abu Hurairah r.a.

Artinya :
Bahwa Rasulullah SAW bersabda : kalau tidaklah akan
memberatkan ummatku, tentu kusuruh mereka menggosok
gigi setiap berwudhu. (HR. Malik, Syafii, Baihaqi dan Hakim).

Menggosok gigi itu disunnatkan pada setiap ketika, tetapi amat


diutamakan sekali pada waktu :
1.
2.
3.
4.
5.

Ketika berwudhu
Ketika hendak shalat
Ketika hendak membaca Quran
Ketika bangun tidur, dan
Ketika berbaunya mulut.

KESIMPULAN
1. Fitrah itu ada lima yaitu khitan, mencukur bulu disekitar kemaluan,
mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan menggunting kumis.
2. Berkhitan adalah memotong mencukur bulu kemaluan untuk menjaga
agar tidak berkumpul kotoran dan agar tidak menahan kencing.
3. Dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan
menggunting bulu kemaluan agar tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.
4. Siwak atau gosok gigi yaitu kayu yang bisa dipakai untuk menggosok gigi,
atau setiap benda yang dapat dipakai untuk menggosok gigi.
5. Menggosok gigi disunnatkan pada setiap ketika diutamakan sekali pada
lima waktu:
a. Ketika berwudhu
b. Ketika hendak shalat
c. Ketika hendak membaca Al-Quran
d. Ketika bangun tidur
e. Ketika berbaunya mulut.

D
I
S
U
S
U
N

OLEH
KELOMPOK VII

SITTI UMRAH
NASRIB

: NIM 08.11.0046
: NIM 08.11.004

STAI DDI MAJENE