Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Karsinoma mamae atau kanker payudara merupakan salah satu masalah
utama kesehatan perempuan di dunia, terutama di negara berkembang seperti
Indonesia. Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on
Cancer (IARC) Th. 2002, kanker payudara menempati urutan pertama dari
seluruh kanker pada wanita (insidens rate 38 per 100.000 wanita), kasus baru
yang ditemukan sebesar 22,7% dengan jumlah kematian 14% per tahun dari
seluruh kanker pada wanita di dunia.1
Menurut Martin dkk (1999) dari National Center for Health Statistics,
keganasan adalah penyebab kematian nomor dua terbanyak pada wanita usia 25
sampai 44 tahun, dan yang tersering adalah keganasan pada sistem darah dan
getah bening, tiroid, payudara, serviks ovarium, dan kolon, serta melanoma.2,3
Karsinoma mamae adalah neoplasma maligna yang paling sering dijumpai
pada wanita, dengan angka insidens semakin meningkat sesuai umur sejak tahun
1940. Hampir 1 dari setiap 10 wanita Amerika akhirnya akan terkena. 2,4,5
Belakangan ini insiden karsinoma mamae seluruh dunia cenderung
meningkat,

sedangkan

mortalitas

cenderung

menurun.

Penyebab

pasti
1

meningkatnya insiden belum jelas, ada yang berpendapat berkaitan dengan


meningkatnya taraf hidup dan perubahan pola hidup. Penyebab utama
menurunnya mortalitas karsinoma mamae mencakup intervensi terhadap faktor
risiko karsinoma mamae, meluasnya penapisan masal dengan foto mamae serta
kemajuan terapi karsinoma mamae.6

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui gejala klinis,
diagnosis, penatalaksanaan serta prognosis karsinoma mamae.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel
pada payudara. Munculnya sel kanker tersebut terjadi sebagai hasil dari mutasi
atau perubahan yang tidak normal pada gen yang bertanggungjawab menjaga
pertumbuhan sel dan menjaganya tetap normal (sehat).7
2.2 Anatomi
Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada bagian lateral
atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah aksilla, disebut
penonjolan Spence atau ekor payudara.8
Kelenjar mamae wanita sebagian besar terletak anterior otot pektoralis
mayor, sebagian kecil dari bagian latero-inferiornya terletak di depan otot seratus
anterior. Batas superior, inferior terletak di antara sela iga ke 2-6 atau 3-7, batas
medial adalah linea parasternal, batas lateral adalah linea aksilaris anterior,
kadang kala mencapai linea aksilaris media. Beberapa kelenjar mamae memiliki
kutub latero-superior berekstensi hingga fossa aksila, membentuk kauda aksilar
dari kelenjar mamae, disebut juga eminensia aksilaris.6
Sentrum dari kelenjar mamae adalah papilla mamae, sekelilingnya terdapat
lingkaran areola mamae. Kelenjar mamae memiliki 15-20 lobuli, tiap lobules
merupakan satu system tubuli laktiferi. System tubuli laktiferi dapat di bagi
menjadi sinus laktiferi, ampula duktus laktiferi, duktus laktiferi besar, sedang,
kecil, terminal dan asinus serta bagian lainnya.6

Gambar
1.

Anatomi payudara pada wanita


Pasokan arteri dari rami perforantes medial arteri mamaria interna (pertama
melalui ruang interkostal keempat), arteri torakalis lateral cabang dari arteri
aksilaris di sebelah lateral dari otot pektoralis mayor, dan cabang pektoral dari
arteri akromiotorakalis sebelah medial otot.4
Vena dapat di bagi menjadi dua kelompok, superficial dan profunda. Vena
superficial terletak di subkutis, mudah tampak, bermuara ke vena mamaria
interna atau vena superficial leher. Vena dalam berjalan seiring dengan arteri
yang senama.6
Persarafan kulit payudara diatur oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri dipersarafi oleh saraf simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis
dan mati rasa pasca bedah, yakni n.interkostobrakialis dan n.kutaneus brakius
medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas.
4

Pada diseksi aksila, saraf ini sedapat mungkin disingkirkan sehingga tidak terjadi
mati rasa di daerah tersebut.8
Saraf n. pektoralis yang memberikan persarafan pada m.pektoralis mayor
dan minor, n.torakodorsalis yang mensarafi m.latisimus dorsi dan n.torakalis
longus yang mensarafi m.serratus anterior sedapat mungkin dipertahankan pada
mastektomi dengan diseksi aksila.8
Penyaluran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi
ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula
penyaliran yang ke kelenjar interpektoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50
(berkisar dari 10 sampai 90) buah kelenjar getah bening yang berada di
sepanjang arteri dan vena brakhialis. Saluran limfe dari seluruh payudara
menyebar ke kelompok anterior aksila, kelompok sentral aksila, kelenjar aksila
bagian dalam, yang lewat sepanjang v.aksilaris dan yang berlanjut langsung ke
kelenjar servikal bagian kaudal dalam fossa supraklavikuler.8
Jalur limfe yang lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain
menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke
aksila kontralateral, ke m.rektus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis
ke hati, pleura, dan payudara kontralateral.8
2.3 Etiologi dan Faktor Resiko
Jenis Kelamin
Jenis kelamin wanita adalah salah satu faktor predisposisi. Insiden
karsinoma mamae pada lelaki hanya 1% dari kejadian pada perempuan.8
Usia
Seperti pada banyak jenis kanker, insidens menurut usia naik sejalan
dengan bertambahnya usia. Semakin lanjut usia, resiko semakin tinggi. Selain
5

itu, kehamilan pertama pada usia lanjut juga merupakan faktor resiko karsinoma
mamae.8
Genetika molekular
Gen dominan autosomal BRCA-1 dan BRCA-2 terdapat pada 2% dari
keseluruhan kanker payudara tetapi pada pasien usia muda berusia <40 tahun
dengan riwayat keluarga yang kuat (lebih dari satu anggota keluarga derajat
pertama yang terkena) terhadap kanker payudara atau ovarium, gen-gen tersebut
ditemukan pada 50-80%. Dari pasien-pasien kanker payudara, 10% memiliki
bentuk heterozigot untuk gen ataksia-teleangiektasia (A-T), sebuah gen reparasi
DNA resesif autosomal yang ditemukan pada 0,5-15% dari populasi umum.9
Riwayat keluarga dan pribadi
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita kanker
payudara dua sampai tiga kali lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara
kandungnya menderita kanker payudara. Kemungkinan ini lebih besar bila ibu
atau saudara kandung itu menderita kanker bilateral atau kanker pada
premenopause. Selain itu, wanita yang pernah ditangani karsinoma mamaenya,
memang mempunyai resiko tinggi mendapat karsinoma di payudara lain.8,9
Hormon
Pertumbuhan kanker payudara sering dipengaruhi oleh perubahan
keseimbangan hormon. Hal ini terbukti pada hewan coba dan pada penderita
karsinoma mamae. Perubahan pertumbuhan tampak setelah penambahan atau
pengurangan hormone yang merangsang atau menghambat pertumbuhan
karsinoma mamae. Misalnya, pada wanita yang diangkat ovariumnya di usia
muda lebih jarang ditemukan kanker payudara. Akan tetapi, hal itu tidak
membuktikan bahwa hormone seperti estrogen dapat menyebabkan karsinoma
6

mamae pada manusia. Namun, menarke yang cepat dan menopause yang lambat
ternyata disertai dengan peninggian resiko. Resiko terhadap karsinoma mamae
lebih rendah pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia lebih muda.
Laktasi tidak mempengaruhi resiko. Kemungkinan resiko meninggi terhadap
adanya kanker payudara pada wanita yang menelan pil KB dapat disangkal
berdasarkan penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun.8
Virus
Pada air susu ibu ditemukan (partikel) virus yang sama dengan yang
terdapat pada air susu tikus yang menderita karsinoma mamae. Akan tetapi,
peranannya sebagai faktor penyebab pada manusia tidak dapat dipastikan.8
Sinar ionisasi
Pada hewan coba terbukti adanya peranan sinar ionisasi sebagai faktor
penyebab kanker payudara. Dari penelitian epidemiologi setelah ledakan bom
atom atau penelitian pada orang setelah pajanan sinat Rontgen, peranan sinar
ionisasi sebagai faktor penyebab pada manusia lebih jelas.8
Diet dan gizi
Berbagai studi kasus menunjukkan diet tinggi lemak dan kalori berkaitan
langsung dengan timbulnya karsinoma mamae. Terdapat data menunjukkan diet
tinggi lemak dan kalori berkaitan langsung dengan timbulnya karsinoma mamae.
Terdapat data menunjukkan orang yang gemuk sesudah usia 50 tahun berpeluang
lebih besar terkena kanker mamae. Terdapat laporan, bahwa minum bir dapat
meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh, wanita yang setiap hari bir 3 kali ke
atas berisiko karsinoma mamae meningkat 50-70%. Penelitian lain menunjukkan

diet tinggi selulosa, vitamin A dan protein kedele dapat menurunkan insiden
karsinoma mamae.6
2.4 Tanda dan Gejala
Benjolan di payudara biasanya mendorong penderita untuk ke dokter.
Benjolan ganas yang kecil sukar dibedakan dengan benjolan tumor jinka, tetapi
kadang dapat diraba benjolan ganas yang melekat pada jaringan sekitarnya. Bila
tumor telah besar, perlekatan lebih jelas. Konsistensi kelainan ganas biasanya
keras. Pengeluaran cairan dari puting biasanya mengarah ke papiloma atau
karsinoma intraduktal, sedangkan nyeri lebih mengarahke kelainan fibrokistik.8
Adanya retraksi puting dan cekungan kulit (skin dimpling), perubahan kulit
jeruk (peau dorange) karena edem kulit akibat obstruksi limfatik serta KGB
aksila yang teraba juga merupakan gambaran klinis karsinoma mamae.10
2.5 Klasifikasi stadium
Pada klasifikasi TNM, T artinya tumor, N = nodule (kelenjar yang
membesar regional), M = metastase jauh, dibedakan TIS, T1, T2, T3 dan
seterusnya.
T
TX : Tumor primer tidak dapat ditentukan
TIS adalah tumor in situ, ialah tumor sebelum invasi (tanpa infiltrasi).
T0
Tumor primer tidak di jumpai
T1
Tumor 2 cm atau kurang
T1a
tidak ada perlengketan/infiltrasi ke fascia pektoralis/otot
T1b

pektoralis.
dengan perlengketan/infiltrasi

ke

fascia

pektoralis/otot

pektoralis.
T2

Tumor 2cm - 5cm

T2a
T2b
T3

tidak ada perlengketan ke fascia pektoralis/otot pektoralis.


dengan perlengketan ke fascia pektoralis/otot pektoralis.

Tumor lebih besar dari 5cm


T3a
T3b

tanpa perlengketan ke fascia pektoralis/otot pektoralis.


dengan perlengketan ke fascia pektoralis/otot pektoralis.

Perlengketan sedikit ke kulit (dimpling) atau retraksi puting susu bisa saja timbul
pada T1, T2, T3.
T4

Tumor dengan besar berapa saja dengan infiltrasi ke dinding toraks


atau kulit
T4a

dengan fiksasi ke dinding dada

T4b

dengan edema, infiltrasi atau ulserasi kulit, atau kulit yang


berbiji-biji.

N
NX

Kelenjar regional tidak bisa di ditentukan

N0

tidak teraba kelenjar limfe yang dapat digerakkan

N1

teraba di ketiak homolateral kelenjar limfe yang dapat digerakkan.

N2

N1a

kelenjar limfe yang diduga bukan metastase

N2b

kelenjar limfe yang diduga metastase

kelenjar limfe ketiak homolateral, berlekatan satu sama lain (paket)


atau melekat ke jaringan sekitarnya.

N3

kelenjar limfe infra dan supraklavikular homolateral.

M
9

MX

Tidak dapat ditentukan metastasis jauh

M0

Tidak ada metastase jauh.

M1

ada metastase jauh ditambah infiltrasi kulit sekitar payudara.

Tingkat T N M
Stadium I

Stadium II

Stadium III

Stadium IV

T1a

N0

(N1a)

M0

T1b

N0

(N1a)

M0

T0

N1b

M0

T1a

N1b

M0

T1b

N1b

M0

T2a

N0

(N1a)

M0

T2b

N0

(N1a)

M0

T2a

N1b

M0

Setiap T3

dengan N apa saja,

M0

T4

dengan N apa saja,

M0

dengan N2,

M0

T dengan N apa saja,

M1

Klasifikasi klinik apa pun yang akan dipakai kira-kira semua sama, tetapi
klasifikasi T M N lebih terinci. Pengukuran yang paling akurat tentang besarnya
tumor ialah dengan limfografi, karena dengan perabaan tumor selalu lebih besar
dari sebenarnya.8,11

2.6 Diagnosis
10

Anamnesa
Anamnesa didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap.
Adanya tumor ditentukan sejak berapa lama, cepat atau tidak pembesarannya,
disertai rasa sakit atau tidak. Biasanya tumor pada proses keganasan mempunyai
ciri dengan batas yang ireguler dan umumnya tanpa rasa nyeri serta dapat
tumbuh progresif.12
Anamnesa yang lain adalah menyangkut faktor resiko dan status hormonal
penderita. Adanya faktor resiko pada seseorang diharapkan agar lebih waspada
terhadap kelainan yang ada pada payudara.12
Pemeriksaan fisik
Mencakup pemeriksaan fisik menyeluruh (sesuai pemeriksaan rutin) dan
pemeriksaan kelenjar mamae.
1. Inspeksi
Amati ukuran, simetri kedua mamae, perhatikan apakah ada benjolan tumor
atau perubahan patologik kulit (misal cekungan, kemerahan, udem, erosi,
nodul satelit dll). Perhatikan kedua papilla mamae apakah simetri, ada
retraksi, distorsi, erosi, dan kelainan lain.
2. Palpasi
Umumnya dalam posisi baring, juga dapat kombinasi duduk dan baring.
Waktu periksa rapatkan keempat jari, gunakan

ujung dan perut jari

berlawanan arah jarum jam atau searah jarum jam palpasi lembut, dilarang
meremas mamae. Kemudian dengan lembut pijat areola mamae, papilla
mamae, lihat apakah keluar sekret. Jika terdapat tumor, harus secara rinci
periksa dan catat lokasi ukuran, konsistensi, kondisi batas, permukaan,
mobilitas, nyeri tekan, dari massa itu. Ketika memeriksa apakah tumor
melekat ke dasarnya, harus meminta lengan pasien sisi lesi bertolak pinggang,
11

agar m.pektoralis mayor berkerut. Jika tumor dan kulit atau dasar melekat,
mobilitas terkekang, kemungkinan kanker sangat besar. jika terdapat sekret
papilla mamae, harus buat sediaan apus untuk pemeriksaan sitologi.
Pemeriksaan kelenjar limfe regional baik posisi duduk. Ketika memeriksa
aksila kanan, dengan tangan kiri topang siku kanan pasien, dengan ujung jari
kiri palpasiseluruh fosa aksila secara berurutan. Waktu memeriksa fosa aksila
secara berurutan. Waktu memeriksa fosa aksila kiri sebaliknya. Setelah itu,
periksa kelenjar supraklavikular.6

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan rasiologis: mamografi. Gambaran pada mamografi: irregular,

berspikula, massa radioopak dengan mikrokalsifikasi.


Penilaian sitologis: FNAC atau core biopsy.
Biopsi payudara; biopsi eksisi kadang dibutuhkan untuk diagnosis.
Pemeriksaan penunjang stadium untuk kasrsinoma yang telah terbukti:
rontgen toraks, DPL, fosfatase alkali, -glutamil traspeptidase, kalsium serum(menunjuk adanya metastasis ke hati atau tulang); jika secara klinis ada
indikasi: scan isotop tulang (isotop bone scan), scan ultrasonografi hati, CT
scan otak.10

2.7

Diagnosis banding.6,13
1. Fibroadenoma mamae
2. Hyperplasia kistik kelenjar mamae
3. Kistosarkoma filoides
4. Galaktokel
5. Mastitis

2.8 Penatalaksanaan
12

Sebelum merencanakan terapi kanker payudara, diagnosa klinis dan


histopatologik serta tingkat penyebarannya harus dipastikan terlebih dahulu.
Diagnosa klinis harus sama dengan diagnosa histopatologik. Atas dasar diagnosis
tersebut, termasuk tingkat penyebaran penyakit, disusunlah rencana terapi
dengan mempertimbangkan manfaat dan resiko setiap tindakan yang diambil.
Bila bertujuan kuratif, tindakan radikal yang berkonsekuensi mutilasi harus
dikerjakan demi kesembuhan. Aka tetapi, bila tindakannya paliatif, alasan non
kuratif menentukan terapi yang di pilih.8
Pembedahan
Pada karsinoma mamae dini (tidak terdapat bukti penyebaran jauh saat di
diagnosis), terapi lokal: lumpektomi + radioterapi payudara atau mastektomi
sederhana. Sedangkan pada karsinoma mamae lanjut (terdapat penyebaran jauh
saat di diagnosis), terapi lokal bertujuan untuk mengontrol rekurensi lokallumpektomi/mastektomi/radioterapi.10
Pasien yang pada awal terapi termasuk stadium 0, I, II dan sebagian
stadium III disebut kanker mamae operabel. Pola operasi yang sering di pakai
adalah:
1.

Mastektomi radikal: tahun 1980 Halsted pertama kali merancang dan


memopulerkan operasi radikal kanker mamae, lingkup reseksinya
mencakup kulit berjarak 3 cm dari tumor, seluruh kelenjar mamae,

13

m.pektoralis mayor, m.pektoralis minor dan jaringan limfatik dan lemak


subskapular, aksilar secara kontinu enblok direseksi. Konsep dari operasi
radikal ini telah menjadi tonggak penting dalam bidang bedah tumor,
meletakkan fondasi bagi konsep operasi radikal terhadap tumor padat
lainnya.
2.

Mastektomi radikal modifikasi: lingkup reseksi sama dengan teknik


radikal, tapi mempertahankan m.pektoralis mayor dan minor (model
Auchincloss) atau mempertahankan m.pektoralis mayor, mereseksi
m.pektoralis minor (model Patey). Pola operasi ini memiliki kelebihan
antara lain memacu pemulihan fungsi pasca operasi, tapi sulit
membersihkan kelenjar limfe aksilar superior. Dewasa ini, mastektomi
radikal modifikasi disebut sebagai mastektomi radikal standar, luas
digunakan secara klinis.

3.

Mastektomi total: hanya membuang seluruh kelenjar mamae tanpa


membersihkan kelenjar limfe. Model operasi ini terutama untuk karsinoma
mamae in situ atau pasien usia lanjut.

4.

Mastektomi segemental plus diseksi kelenjar limfe aksilar: secara umum


ini disebut dengan operasi konservasi mamae (BCT). Biasanya dibuat dua
insisi terpisah di mamae dan aksila. Mastektomi segmental bertujuan
mereseksi sebagian jaringan kelenjar mamae normal tepi tumor, di bawah

14

mikroskop tak ada invasi tumor di tempat irisan. Lingkup diseksi kelenjar
limfe aksilar biasanya juga mencakup jaringan aksila dan kelenjar limfe
aksilar kelompok tengah.
5.

Mastektomi segmental plus biopsi kelenjar limfe sentinel: metode reseksi


segmental sama dengan di atas. Kelenjar limfe sentinel adalah terminal
pertama metastasis limfogen dari karsinoma mamae, saar operasi dilakukan
insisi kecil di aksila dan secara tepat mengangkat kelenjar limfe sentinel,
dibiopsi, bila patologik negatif maka dilakukan diseksi kelenjar limfe
aksilar.6
Untuk terapi karsinoma mamae terdapat banyak pilihan pola operasi, yang

mana yang terbaik masih kontroversial. Secara umum dikatakan harus


berdasarkan stadium penyakit dengan syarat dapat mereseksi tuntas tumor,
kemudian baru memirkan sedapat mungkin konservasi dan kontur mamae.6
Bila dilakukan pengangkatan mamae, pertimbangkan kemungkinan
rekonstruksi

mamae

dengan

implantasi

prostesis

atau

cangkok

flap

muskulokutan. Implantasi prostesis atau rekonstruksi mamae secara cangkok


dapat dilakukan sekaligus dengan bedah kuratif atau beberapa waktu setelah
penyinaran, kemoterapi adjuvan, atau rehabilitasi penderita selesai. Jika hal ini
tidak mungkin atau tidak dipilih, usahakan prostesis eksterna, yaitu prosteisi

15

buatan yang disangga kutang. Bentuk dan beratnya disesuaikan dengan bentuk
dan berat payudara di sisi lain.8
Pada stadium I dan II selain dapat dilakukan mastektomi radikal atau
modifikasi mastektomi radikal. Bila terdapat metastasis dilanjutkan dengan
radiasi regional dan kemoterapi adjuvan. Dapat pula dilakukan mastektomi
simpleks (seluruh jaringan payudara diangkat tetapi otot dibawah payudara
dibiarkan utuh dan disisakan kulit yang cukup untuk menutup luka bekas operasi)
yang harus diikuti dengan radiasi. Pada T2N1 dilakukan mastektomi radikal dan
radiasi lokal di daerah tumor dan KGB regional. Untuk setiap tumor yang
terletak pada kuadran sentral atau medial payudara harus dilakukan radiasi pada
rantai KGB regional. Alternatif lain pada tumor yang kecil dapat dilakukan
teknik breast conserving therapy, berupa satu paket

yang terdiri dari

pengangkatan tumor saja, ditambah diseksi aksila dan radiasi kuratif (ukuran
tumor < 3 cm). Metode ini dilakukan dengan eksisi, reseksi segmental, reseksi
parsial, kwadranektomi, atau lumpektomi biasa, diikuti dengan diseksi KGB
aksila secara total. Syarat teknik ini adalah:

Tumor primer tidak lebih dari 2 cm

N1b kurang dari 2 cm

Belum ada metastasis jauh

Tidak ada tumor primer lainnya

16

Payudara kontralateral bebas kanker

Payudara bersangkutan belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya


(kecuali lumpectomi)

Tidak dilakukan pada payudara yang kecil karena hasil kosmetiknya tidak
terlalu menonjol

Tumor primer tidak terlokasi di belakang puting susu.


Pada stadium IIIa dilakukan mastektomi radikal ditambah kemoterapi

adjuvan, atau mastektomi simpleks ditambah radioterapi pada tumor dan KGB
regional.13
Pada stadium yang lebih lanjut , lakukan tindakan paliatif dengan tujuan:
1.

Mempertahankan kualitas hidup pasien agar tetap baik

2.

Tidak mempercepat atau menunda kematian

3.

Menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang mengganggu.


Perawatan paliatif pun dilakukan berdasarkan stadium, yaitu Pada stadium

IIIb dilakukan biopsi insisi, dilanjutkan dengan radiasi. Bila relaps, tambahkan
dengan pengobatan hormonal dan kemoterapi.13
Pada stadium IV; (1) pada pasien premenopouse dapat dilakukan
ooforektomi bilateral. Bila respon positif, berikan aminoglutetimid atau tamofen.
Bila relaps/ respon negatif, berikan kemoterapi.13
Radioterapi
17

Radioterapi untuk kanker payudara bisa digunakan sebagai terapi kuratif


dengan mempertahankan payudara, dan sebagai terapi tambahan atau terapi
paliatif.8
Radioterapi kuratif sebagai terapi tunggal lokoregional tidak begitu efektif,
tetapi sebagai terapi tambahan untuk tujuan kuratif pada tumor yang relatif besar
berguna.8
Radioterapi paliatif dapat dilakukan dengan hasil baik untuk waktu terbatas
bila tumor sudah tak mampu angkat (nonoperable) secara lokal. Tumor disebut
tak mampu angkat bila mencapai tingkat T4, misalnya ada perlekatan pada
dinding dada atau kulit. Pada penyebaran di luar daerah lokoregional, yaitu diluar
lokasi payudara dan aksila, bedah payudara tidak berguna karena penderita
payudara tidak dapat sembuh.8
Biasanya seluruh payudara dan kelenjar aksila dan supraklavikula di
radiasi. Akan tetapi, penyulitnya adalah pembengkakan lengan karena limfudem
akibat rusaknya kelenjar supraklivikula. Jadi radiasi harus dipertimbangkan pada
karsinoma mamae yang tak mampu angkat atau jika ada metastase.8
Kemoterapi
Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang digunakan bila ada
penyebaran sistemik, dan sebagai terapi adjuvan.8
Kemoterapi adjuvan diberikan kepada

pasien yang pada pemeriksaan

histopatologik pasca bedah mastektomi ditemukan metastase dusebuah atau


18

beberapa kelenjar. Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastasis yang


biasanya terdapat pada pasien yang kelenjar aksilanya sudah mengalami
metastase. Obat yangdiberikan adalah kombinasi siklosfosfamid, metotrexat, dan
5-fluorourasil (CMF) selama enam bulan pada perempuan usia premenopouse,
sedangkan pada pasien postmenopouse duberikan terapi adjuvan hormonal
berupa pil antiestrogen.8
Kemoterapi paliatif dapat diberikan kepada pasien yang telah mengalami
metastase sistemik. Obat yang dipakai secara kombinasi antara lain CMF atau
vinkristin dan adriamisin (VA), atau 5 fluorourasil, adriamisin (adriablastin),
siklofosfamid (FAC).8
Terapi Hormonal
Indikasi pemberian terapi hormonal adalah bila penyakit menjadi sistemik
akibat metastase jauh. Terapi hormonal diberikan secara paliatif sebelum
kemoterapi karena efek terapinya lebih lama dan efek sampingnya kurang, tetapi
tidak semua kanker payudara peka terhadap terapi hormonal. Hanya kurang 60%
yang bereaksi baik dan penderita yang mempunyai harapan memberi respon
yang dapat diketahui dari uji reseptor estrogen pada jaringan tumor.8
Terapi

hormonal

paliatif

dapat

dilakukan

pada

penderita

yang

premenopouse dengan cara ovarektomi bilateral atau dengan pemberian


antiestrogen, seperti tomoksifen atau aminoglutetimid.8

19

Terapi hormon diberikan sebagai ajuvan kepada pasien pascamenopouse


yang uji reseptor estrogennya positif dan pada pemeriksaan histopatologik
ditemukan kelenjar aksila yang merupakan metastase. Obat yang dipakai adalah
sediaan antiestrogen tamoksifen; kadang-kadang menghasilkan remisi selama
beberapa tahun. Estrogen tidak dapat diberikan karena efek samping terlalu
berat.8
Terapi biologis
Overekspresi onkogen berperan penting dalam timbul dan berkembangnya
tumor, antibodi monoklonal yang dihasilkan melalui teknik transgenetik dapat
menghambat perkembangan tumor. Herseptin berefek terapi nyata terhadap
karsinoma mamae dengan overekspresi gen cerbB-2 (HER-2). Herseptin adalah
suatu antibodi monoklonal hasil teknologi trasgenik yang berefek anti protein
HER-2 secara langsung. Dewasa ini ditemukan ia tidak hanya menyekat sinyal
pertumbuhan dalam sistem HER-2 tapi juga menghasilkan efek sitotoksik yang
dimediasi sel dan bergantung antibodi, sehingga berefek antitumor. Semakin
banyak bukti mendukung herseptin sebagai suatu cara penting untuk terapi
karsinoma mamae metastasik dengan overekspresi HER-2. Apakah dipakai
tunggal atau dalam kemoterapi kombinasi, efek klinisnya memuaskan, termasuk
dalam meningkatkan survival.6

2.9 Pencegahan

20

Mencegah karsinoma mamae dapat dimulai dari menghindarkan faktor


penyebab, kemudian juga menemukan kasus dini sehingga dapat dilakukan
pengobatan kuratif.8
Pemeriksaan payudara sendiri oleh seorang wanita sebulan sekali sekitar
hari ke-8 menstruasi dapat di anjurkan. Pemeriksaan oleh dokter bila ada yang di
curigai, dan bila seseorang tergolong dalam risiko tinggi, diperlukan pada waktu
tertentu, terutama bila usianya di atas 35 tahun.8
Orang sehat di keluarga dengan risiko tinggi atas terjadinya karsinoma
mamae

atas

dasar

mutasi

onkogen,

seperti

BRCA1,

BRCA2

dapat

mempertimbangkan ,\mastektomi bilateral preventif.8


2.10

Prognosis
Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis. Tapi yang paling jelas dan
berpengaruh terbesar atas prognosis adalah kelenjar limfe dan stadium. Kanker
payudara dini: angka harapan hidup 5 tahunan untuk penderita stadium I adalah
95% dan untuk stadium II adalah 80%, dengan angka kekambuhan lokal sekitar
6% menggunkan pengobatan adjuvant seperti di anjurkan.4,6
Prognosis untuk penyakit stadium III telah meningkat dari 20% menjadi
40% pada 5 tahun dengan adanya pengobatan adjuvant. Kebanyakan penderita
ini dapat menerima kemoterapi praoperasi. Penyakit stadium IV masih
mempunyai harapan hidup 5 tahunan kurang dari 10 tahun.4

21

BAB III
KESIMPULAN

1. Karsinoma mamae atau kanker payudara merupakan salah satu


masalah utama kesehatan perempuan di dunia, terutama di negara
berkembang seperti Indonesia.
2. Etiologi dan faktor risiko karsinoma mamae adalah jenis kelamin,
usia, genetika molekuler, riwayat keluarga dan pribadi, hormon, virus,
sinar ionisasi, diet dan gizi.
3. Diagnosis karsinoma mamae ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
4. Penatalaksanaan karsinoma mamae dengan pembedahan, kemoterapi,
radioterapi, terapi hormonal dan terapi biologis.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan. Deteksi Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara


(online); 2008. (http://www.depkes.go.id/index.php?Itemid=1, diakses tanggal
04 April 2010)
2. Cuningham, FG. dkk. Karsinoma Payudara. Dalam: Obstetri William Jilid I
Edisi 21. Jakarta: EGC. 2005 hal 1615-1617

3. Gwyn KM, Theriault RL. Breast Cancer During Pregnancy The University of
Texas
MD
Anderson
Cancer
Center
(online).
2000.
(www.mdanderson.org/Diseases/BreastCancer/pregnancy/, di akses tanggal 04
April 2010)
4. Schwartz S, dkk. Karsinoma. Dalam: Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah
Edisi 6. Jakarta: EGC. 2000 hal 230
5. Brandon, et al. Pregnancy and Breast Cancer in The John Hopkins Manual of
Gynecology and Obstetrics 2nd Edition. Lippincott Williams and Wilkins
Publishers. 2002. Page 58
6. Desen Wan, Tienhua R, Yixin Z, dkk. Karsinoma mamae . Dalam Buku Ajar
Onkologi Klinis Edisi 2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
2008. Hal 366-382

7. Anonymous. Kanker Payudara: Penyebab, Gejala dan Pengobatan (online);


2009.
(http://www.alhamsyah.com/2009/01/11/kanker-payudara-gejala-dan
pengobatannya/, di akses tanggal 04 April 2010)
8. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Payudara. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi
2. Jakarta: EGC. 2000 hal 394-402
9. Davey P. Kanker Payudara. Dalam: At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
2006 hal 173-174

23

10. Pierce, Grace, Borley N. Kanker Payudara. Dalam At a Glance Ilmu Bedah
Edisi Ketiga. Erlangga. 2007. Hal. 130-131s
11. Wiknjosastro, H. dkk. Karsinoma Mamae. Dalam Ilmu Kebidanan Edisi
Ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007 hal
582-583
12. Asrul. Hubungan Antara Besar Tumor (T1-T3) dan Tipe Histopatologi
Kanker Payudara dengan Adanya Metastase pada Kelenjar Getah Bening
Aksila (online). 2008. (http://www.library.usu.ac.id/download/fk/bedahasrul.pdf, di akses tanggal 04 April 2010)
13. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta: Media Aesculapius FKUI, 2000.
Hal. 283-287

24