Anda di halaman 1dari 9

Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya

Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang
dialami manusia
2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara,
diolah pula dengan rasio
3. Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu
semakin tinggi nilainya
4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan
dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat
asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan
pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan
harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan
bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1. Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita oyek (informasi,
fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan
yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Teori korispodensi (corespondence theory of truth) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu
kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau
pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaran dengan realitas yang serasi
dengan sitasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu :
1. Statemaent (pernyataan)
2. Persesuaian (agreemant)
3. Situasi (situation)
4. Kenyataan (realitas)
5. Putusan (judgements)
Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). Teori
ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya plato, aristotels dan moore dikembangkan lebih lanjut oleh
Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolatik, serta oleh Berrand Russel pada abad moderen.
Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran
menuru corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anakanak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa
yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak
di dalam tingkah lakunya.
Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral
itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan
dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud
sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide,
kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita, obyek,
nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.

2. Teori Consistency
Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan
eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat
konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat
yang lain.Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenarna bukanlah didasarkan atas
hubungan subyek dengan realitas obyek. Sebab apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide,
kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu
pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa
yang ada di dalam pemahaman subyek lain.
Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam
penelitian pendidikan khsusunya di dalam bidang pengukuran pendidikan.
Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat
melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dankelanjutan yang teliti dan teori korespondensi.
Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedah teori konsistensi merupakan
usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi.
Teori koherensi (the coherence theory of trut) menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya
tidak ada perntentangan, bersifat koheren dan konsisten dengna pernyataan sebelumnya yang telah
dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu
dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima
kebenarannya.
Rumusan kebenaran adalah turth is a sistematis coherence dan trut is consistency. Jika A = B
dan B = C maka A = C
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan
bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan
oleh aliran metafisikus rasional dan idealis.
Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan
George Hegel. Suatu teori dianggapbenar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji.
Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yagn benar atau dengan teori lama yang benar,
maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.
3. Teori Pragmatisme
Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode
project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika
mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika
mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan
kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam
keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan
lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesutu menjadi lebih
jelas dan mampu mengembalikan kontinuitas pengajaran, jika tidak, teori ini salah.
Jika teori itu praktis, mampu memecahkan problem secara tepat barulah teori itu benar. Yang dapat
secara efektif memecahkan masalah itulah teori yang benar (kebenaran).
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu
memliki kebanran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan
(workobility) dan akibat yagn memuaskan (satisfaktor consequence). Oleh karena itu tidak ada
kebenaran yang mutak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya.
Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
2. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen

3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada)


Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsup Amerika tokohnya adalha
Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859).
Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsikuensi, pada
hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsikasi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri,
malainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey bukanlah
mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan
dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan mengerti segala sesuai melalui praktek di dalam
program solving.
4. Kebenaran Religius
Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan antara kesan dengan
realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan maka itu benar.
Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat
objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan
oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
Nilai kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional
dan superindividual. Bahkan bagi kaum religius kebenarn aillahi ini adalah kebenarna tertinggi,
dimnaa semua kebanaran (kebenaran inderan, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis) taraf dan
nilainya berada di bawah kebanaran ini : Agama sebagai teori kebenaran
Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan alat, budi,fakta, realitas dan kegunaan
sebagai landasannya. Dalam teori kebanran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan.
Sebagai makluk pencari kebeanran, manusia dan mencari dan menemukan kebenaran melalui
agama. Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama
atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat
memberikan jawaban atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran.
ONTOLOGI
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang
paling kuno. Awal mula alam pikiran orang Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di
bidang ontology. Pada dasarnya tidak ada pilihan bagi setiap orang pemilihan antara
kenampakan[appearance] dan kenyataan[reality]. Ontologi menggambarkan istilah-istilah
seperti: yang ada[being], kenyataan [reality], eksistensi[existence], perubahan [change],
tunggal [one] dan jamak[many]. Ontologi merupakan ilmu hakikat, dan yang dimasalahkan
oleh ontology adalah:Apakah sesungguhnya hakikat realitas yang adarahasia alam dibalik realitas
itu?
Ontologi membahas bidang kajian ilmu atau obyek ilmu. Penentuan obyek ilmu diawali dari
subyeknya. Yang dimaksud dengan subyek adalah pelaku ilmu. Subyek dari ilmu adalah manusia;
bagian
manusia
paling
berperan
adalah
daya
pikirnya.
Dasar Ontologi Ilmu
Apakah yang ingin diketahui ilmu atau apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Ilmu
membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang
dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan
mempergunakan pancainderanya. Ruang lingkup kemampuan pancaindera manusia dan peralatan
yang dikembangkan sebagai pembantu pancaindera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan
dunia empiris. Dengan demikian obyek ilmu adalah dunia pengalaman indrawi. Ilmu membatasi diri
hanya kepada kejadian yang bersifat empiris.
Pengetahuan keilmuan mengenai obyek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang
disederhanakan. Penyederhanaan ini perlu sebab kejadian alam sesungguhnya sangat kompleks.

Ilmu tidak bermaksud "memotret" atau "mereproduksi" suatu kejadian tertentu dan
mengabstaraksikannya kedalam bahasa keilmuan. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu
terjadi, dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan
bertujuan untuk memeras hakikat empiris tertentu, menjangkau lebih jauh dibalik kenyatankenyataan yang diamatinya yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakan melalui
kenyataan-kenyataan iru. Disinilah manusia melakukan transendensi terhadap realitas.
Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa andaian [asumsi] mengenai obyekobyek empiris. Asumsi ini perlu, sebab pernyataan asumstif inilah yang memberi arah dan landasan
bagi
kegiatan
penelaahan
kita.
ASUMSI EMPIRIS :
Ilmu memiliki tiga asumsi mengenai obyek empirisnya :
1. Asumsi pertama : Asumsi ini menganggap bahwa obyek-obyek tertentu mempunyai
keserupaan satu sama lain misalnya dalam hal bentuk struktur, sifat dsb. Klasifikasi
[taksonomi] merupakan pendekatan keilmuan pertama terhadap obyek.
2. Asumsi kedua: asumsi ini menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan
dalam jangka waktu tertentu (tidak absolut tapi relatif ). Kegiatan keilmuan bertujuan
mempelajari tingkah laku suatu obyek dalam keadaan tertentu. Ilmu hanya menuntut adanya
kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam
jangka waktu tertentu. Dengan demikian memungkinkan kita untuk melakukan pendekatan
keilmuan terhadap obyek yang sedang diselidiki.
3. Asumsi ketiga : Asumsi ini menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang
bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan
urutan/sekuensial kejadian yang sama. Misalnya langit ,mendung maka turunlah hujan.
Hubungan sebab akibat dalam ilmu tidak bersifat mutlak. Ilmu hanya mengemukakan bahwa
"X" mempunyai kemungkinan[peluang] yang besar mengakibatkan terjadinya "Y".
Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang
[probabilistik]. Statistika adalah teori peluang.
EPISTEMOLOGI
Epistemologi mempersoalkan kebenaran pengetahuan. Dalam epistemologi, Oleh sebagian
orang, epistemologi disebut filsafat ilmu. Secara umum dan mendasar, terdapat perbedaan antara
epistemologi dan filsafat ilmu. Secara umum, epistemologi mempersoalkan kebenaran pengetahuan,
sedangkan filsafat ilmu, secara khusus mempersoalkan ilmu atau keilmuan pengetahuan. Dalam hal
ini, terdapat empat jenis kebenaran yang secara umum dikenal orang, yaitu :
Kebenaran Religius, adalah kebenaran yang memenuhi atau dibagun berdasarkan kaidah-kaidah
agama atau keyakinan tertentu disebut juga kebenaran mutlak yang tidak dapat dibantah lagi.
Bentuk pemahamannya adalah dogmatis.
Kebenaran Filosofis, ialah kebenaran hasil perenungan dan pemikiran refleksi ahli filsafat yang
disebut hakikat, meskipun bersifat subjektif dan relatif, namun mendalam karena penghayatan
eksistensial bukan hanya karena pengalaman dan pemikaran intelektual semata. Inti filsafat
adalah berpikir, sedangkan dasarnya adalah rasio.
Kebenaran Estetis, ialah kebenaran yang berdasarkan penilaian indah dan buruk, serta cita rasa
estetis. Artinya keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas yang menimbulkan rasa
senang, tenang dan nyaman.
Kebenaran Ilmiah, yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut
adanya teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran teoritis adalah kebenaran yang
berdasarkan rasio, atau kebenaran rasional, berdasarkan teori-teori yang menunjang

Segala Sesuatu yang Ada (Metafisika)


Ada dua bagian penting dari metafisika, yaitu :
1. Metafisika Umum atau Ontologi. Ontologi mempersoalkan adanya segala sesuatu yang ada.
hal ini berbeda dengan metafisika khusus yang mempersoalkan hakikat yang ada.
2. Metafisika Khusus. Metafisika khusus mempersoalkan hakikat segala sesuatu yang ada.
Secara umum, terdapat tiga kelompok atau hal yang berbeda menurut Langeveld. Oleh
karena itu Langeveld mengemukakan bahwa dalam mempersoalkan hakikat segala sesuatu
terdapat tiga bagian, yaitu:
1) Kosmologi adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan hakikat alam
semesta termasuk segala isinya, kecuali manusia.
2) Antropologi adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan hakikat
manusia.
3) Teologi adalah bagian metafisika khusus yang mempersoalkan hakikat Tuhan.
hal-hal yang dibicarakan didalamnya menyangkut kebaikan, kesucian,
kebenaran, keadilan dan sifat- sifat baik Tuhan lainnya.
AKSIOLOGI
Aksiologi adalah bagian filsafat yang mempersoalkan penilaian, terutama berhubungan
dengan masalah atau teori umum formal mengenai nilai. Aksiologi yang kita kenal dalam dua jenis,
yaitu etika dan estetika.
Etika adalah bagian filsafat yang mempersoalkan penilaian atau perbuatan manusia dari sudut baik
dan jahat. Etika dalam bahasa Yunani, ethos yang artinya kebiasaan, habit atau custom. Maksudnya
hampir tidak ada orang yang tidak memiliki kebiasaan baik atau buruk. Istilah yang lebih tepat
adalah etika baik dan etika jahat.
Estetika merupakan bagian filsafat yang mempersoalkan penilaian atas sesuatu dari sudut indah dan
jelek. Secara umum, estetika disebut sebagai kajian filsafati mengenai apa yang membuat rasa
senang. Tokoh paling terkenal dalam bidang ini ialah Alexander Baumgarten (1714-1762) dalam
disertasinya pada 1735 yang justru dianggap awal diwacanakannya estetika.
ARSIP
Pendahuluan
Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri
sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk
mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada.
Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika
dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan
kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.
Filsafat dipahami sebagai suatu kemampuan berpikir dengan menggunakan rasio dalam
menyelidiki suatu objek atau mencari kebenaran yang ada dalam objek yang menjadi
sasaran. Kebenaran itu sendiri belum pasti melekat dalam objek. Terkadang hanya dapat dibenarkan
oleh persepsi-persepsi belaka, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai universal dalam filsafat.
Kebenaran filsafat untuk dicapai masih banyak membutuhkan seperangkat aturan atau cara yang
menjadi syarat untuk mencapai tujuan, dengan menggunakan perabot-perabot metodologi filsafat

logika, induksi, deduksi, analogi dan komparasi. Perabot itu hanya berperan sebagai alat menuju
kepada sebuah kebenaran, terutama mengenai pemahaman tentang filsafat.
Pembahasan tentang kebenaran menjelaskan sesungguhnya apa yang disebut kebenaran serta
syarat-syarat apa yang menyebabkan suatu pengetahuan dikatakan benar. Kebenaran tidak dapat
begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai tersendiri. Dengan adanya berbagai
macam kategori sebagaimana tersebut di atas, maka tidaklah berlebihan jika pada saaatnya setiap
subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda
tentang suatu kebenaran antara satu dengan yang lainnya.
Jadi, pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar dan bukannya sekedar jawaban
yang bersifat sembarangan saja. Lalu timbulah masalah, bgaimana cara kita menyusun pengetahuan
yang benar?Dalam makalah ini, akan coba kami sajikan tentang keterkaitan antara makna,
kebenaran dan cara memperoleh kebenaran. Ada hal-hal yang merupakan permasalahan hakiki
dalam filsafat, yaitu pertanyaan tentang ada yang benar tetapi tidak bermakna, ada yang bermakna
tetapi tidak benar, dan segalanya banyak tergantung dari cara memperoleh kebenaran, yang akan
memperoleh makna yang benar dan kebenaran yang bermakna. Pertanyaan berikutnya kalau
kebenaran hakiki hanya ada pada Tuhan, bagaimana kedudukan kebenaran yang diperoleh oleh
manusia?Dan apakah makna hanya di dalam konteks kehidupan.

Tujuan
Mengkaji keterkaitan antara makna-kebenaran-cara memperoleh kebenaran

Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah
berkata: Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan
Bradley menjawab; Kebenaran itu adalah kenyataan, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu
tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk
ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyatanyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran)
(Syafii, 1995).
Dalam bahasan ini, makna kebenaran dibatasi pada kekhususan makna kebenaran keilmuan
(ilmiah). Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi
(relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo, 1985:238-239).
Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan
bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian
maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran
sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus
diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni, 1985:235).
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat
akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden, dengan kata lain,
keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat
petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar
jangkauan manusia.

PEMBAHASAN

1. MAKNA
Makna merupakan salah satu unsur sarana ilmiah yang harus dikuasai oleh seorang ilmuwan.
Supaya dalam ilmiahnya mudah dipahami oleh seorang yang menerima dan tidak timbul
kesalahpahaman, dalam komunikasi ilmiah harus jelas dan objektif. Oleh karena itu, istilahistilah yang digunakan harus dimaknai untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh istilah-istilah
tersebut. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah si penerima komunikasi memberi makna lain
yang berbeda dengan makna yang dimaksudkan, lebih-lebih istilah-istilah yang diangkat dari
bahasa biasa ke bahasa ilmiah. Untuk memberikan makna yang baik harus jelas dan singkat
serta mudah dipahami, tidak menggunakan bahasa yang berbelit-belit. Makna hanya ada dalam
konteks kehidupan manusia, karena hanya manusia yang dapat memaknai kebenaran.
2. KEBENARAN
kata kebenaran dapat digunakans ebagai suatu kata benda yang konkret maupun absatrak. Jika
subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proporsinya benar. Proporsi maksudnya
adalah makna yang terkandung dalam suatu pernyataan atau statemen dan jika subjek
menyatakan kebenaran bahwa proporsi yang diuji pasati memiliki kualitas, sifat atau
karakteristik hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu
saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu sendiri. Kriteria kebenaran berkaitan
dengan:
1. Kualitas pengetahuan
Artinya bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui objek
dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa
pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, pengetahuan filsafati, atau pengetahuan agama.

2. Sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang
membangun pengetahuan itu. Apakah ia membangunnya dengan pemikiran
(thinking), penginderaan (sense experience), perasaan (feeling) dan keyakinan atau
kepercayaan (believing). Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya
dibedakan dalam jenis pengetahuan (a) pengetahuan indrawi, (b) pengetahuan akal
budi, (c) pengetahuan intuitif, (d) pengetahuan kepercayaan (otoritif) sehingga
implikasi nilai kebenarannya juga sesuai dengan jenis pengetahuan itu.
3. Nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya
pengetahuan. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek,
manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan itu, subjekkah atau objek.
Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran
yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya
amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau jika objek amat
berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu
alam.

Teori-teori kebenaran:
Teori-teori kebenaran selalu parallel dengan teori-teori pengetahuan yang dibangunnya. Teoriteori kebenaran telah terlembaga itu antara lain:
1. Teori kebenaran koherensi
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan
dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataanpernyataan sebelum dianggap benar.
2. Teori kebenaran korespondensi
Bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi
pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek
yang dituju oleh penyataan tersebut.
3. Teori kebenaran pragmatis
Penganut teori kebenaran pragmatis meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu macam
konsekuensi atau proposisi itu dapat membantu untuk mengadakan penyesuaianpenyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman, pernyataan adalah benar.
4. Teori kebenaran sintaksis
Dalam teori kebenaran sintaksis suatu pernyataan memiliki nilai benar bila pernyataan itu
mengikuti aturan-aturan sintaksis yang berlaku.

5. Teori kebenaran semantis


Teori kebenaran semantis menyatakan proposisi itu mempunyai nilai kebenaran bila
proposisi itu memiliki arti. Arti ini dengan menunjukkan makna sesungguhnya dengan
menunjukkan pada referensi atau kenyataan.
6. Teori kebenaran non deskripsi
Pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat
praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama
untuk menggunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari
7. Teori kebenaran logik yang berlebihan
Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problema kebenaran hanya
merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya suatu pemborosan. Karena pada
dasarnya apa pernyataan yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang
sama yang masing-masing salain melingkupinya.
Segala sesuatu harus diragukan namun segala yang ada dalam hidup ini dimulai dengan meragukan
sesuatu. Misalnya meragukan bahwa bintang-bintang itu api, meragukan baha bintang-bintan itu
bergerak. Karena adanya keraguan yang demikian itu maka kita harus mencari kebenaran dari apa
yang kita ragukan.

3. CARA MEMPEROLEH KEBENARAN


Kebenaran dapat dicari dengan menggunakan seluruh panca indera manusia tentang apa yang
dia pikirkan mengenai hal itu. Itupun harus diselaraskan dengan apa yang dirasakan oleh hatinya
dan sampai dia akhirnya dapat menemukan bahwa akhir dari semua kebenaran itu adalah selalu
kembali kepada Tuhan.
Kebenaran mutlak sebenarnya adalah kebenaran mutlak dalam suatu pendapat. Pada dasarnya
kebenaran mutlak tidak terdapat pada manusia tetapi pada yang memiliki seluruh hidup manusia.
Ada yang mengatakan bawha Saya inilah satu-satunya kebenaran. Mengapa demikian, adalah
karena dia menginginkan semua pendapat itu harus dipatuhi tanpa boleh disangkal lagi. Namun,
mengapa kita ini mengatakan masih mencari kebenaran?Ini karena dalam hati kita ingin
membuktikan benarkah ucapan-