Anda di halaman 1dari 12

26

III. TIPE BIBIT


A.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dimulai dengan
perkecambahan biji. Pada kondisi menguntungkan suatu biji akan
berkecambah. Biji akan berkembang menjadi tumbuhan kecil atau
kecambah (planula). Kecambah akan berkembang menjadi tumbuhan kecil
yang sempurna, yang kemudian tumbuh membesar. Setelah mencapai
masa tertentu, tumbuhan akan berbunga dan menghasilkan buah serta biji.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi pembelahan sel,
pemanjangan sel dan diferensiasi sel. Perkecambahan merupakan proses
metobolisme biji hingga dapat menghasilkan pertumbuhan dari komponen
kecambah (plumula dan radikula). Definisi perkecambahan adalah jika
sudah dapat dilihat atribut perkecambahannya, yaitu plumula dan rdikula
dan keduanya tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu. Setiap biji
yang dikecambahkan ataupun yang diujikan tidak selalu prosentase
pertumbuhan kecambahnya sama, hal ini dipengaruhi berbagai macam
faktor yang mempengaruhi perkecambahan.
Apabila biji tersebut akan dikecambahkan pada medium tanah akan
terjadi suatu peristiwa dimana bibit muncul diatas permukaan tanah.
Terdapat dua tipe pertumbuhan awal dari suatu perkecambahan tanaman
yaitu :
a. Tipe epigeal (epigeous), dimana munculnya radikel diikuti dengan
memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta
kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.
b. Tipe hypogeal (hypogeous) dimana munculnya radikel diikuti dengan
pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan
tanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah
permukaan tanah.
Bibit tipe epigeal ini umumnya terdapat pada dicotiledoneae seperti
bean, alfalfa, clovers, kacang kedelai, kacang tanah yang termasuk

27

legume. Sewaktu perkecambahan bibit tipe hypogeal pada biji graminae,


padi, gandum, jagung, kotiledon disini disebut scutellum tetap tinggal
dalam tanah fungsinya sebagai organ penyerap makanan dari endosperm
dan mengantarkannya kepada embryonic axis yang sedang tumbuh.
2.

Tujuan Praktikum
Praktikum tipe bibit ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan
antara bibit epigeal dan hypogeal.

B.

Tinjauan Pustaka
Pertumbuhan tanaman dimulai dengan perkecambahan biji. Dari saat
itu, kulit biji pecah, tanaman muda mengalami sejumlah proses yang penting
untuk kelangsungan hidupnya. Difusi untuk contohnya, membawa air dari
tanah ke dalam akar tanaman. Fotosintesis memungkinkan tanaman untuk
menggunakan sinar matahari untuk membuat makanan sendiri dan respirasi
menggunakan beberapa makanan yang diproduksi selama fotosintesis untuk
menciptakan energi yang tanaman memerlukan untuk melakukan semua
kegiatan yang diperlukan untuk hidup (Michael 2011).
Bibit yaitu tumbuhan kecil yang dipergunakan untuk produksi. Bibit
berasal dari bukan biji hasil persilangan. Ada tiga cara pembuatan bibit atau
pembiakan vegetatif, yaitu berasal dari batang (cangkok, okulasi, stek) dan
berasal dari bukan dari batang yaitu menggunakan bahan media tumbuh
bukan dari tanah tetapi dari media buatan atau kultur jaringan. Bibit
merupakan salah satu penentu keberhasilan budi daya tanaman. Budidaya
tanaman sebenarnya telah dimulai sejak memilih bibit tanaman yang baik.
Hal ini dapat dimengerti karena bibit merupakan obyek utama yang akan
dikembangkan dalam proses budi daya selanjutnya. Selain itu, bibit juga
merupakan pembawa gen dari induknya yang menentukan sifat tanaman
tersebut setelah berproduksi. Dengan demikian, untuk memperoleh tanaman
yang memiliki sifat tertentu dapat diperoleh dengan memilih bibit yang
berasal dari induk yang memiliki sifat tersebut (Edmond et al. 2001).
Pada bibit dibedakan dengan dua struktur pokok yaitu hipokotil dan
epikotil. Hipokotil adalah bagian batang antara kotiledon dan radikel dari

28

embrio atau bibit muda. Epikotil adalah bagian batang anatara kotiledon
dengan daun pertama dari embrio atau bibit muda. Bagian-bagian yang
terdapat pada bibit yaitu kotiledon, hipokotil, epikotil, radikel, rambut akar,
akar primer, akar lateral dan daun pertama. Akar primer tumbuh dari radikel,
sedangkan akar lateral dan akar rambut tumbuh dari akar primer. Pada
tanaman, yang berfungsi mempertahankan kehidupan dan meneruskan
pertumbuhan selanjutnya adalah akar rambut. Kotiledon pada bibit berfungsi
sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan. Daun yang tumbuh
asalnya adalah dari plumula (Sutopo 2002).
Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal
perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan
memanjang dari epikotil yang menyebabkan plumula keluar menembus kulit
biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Contoh tipe
ini terjadi pada kacang kapri dan jagung. Pada epigeal hipokotillah yang
tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke
permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau
dan jarak. Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk
memperkirakan kedalaman tanam (Setiawan 2004).
Kualitas benih ditentukan antara lain oleh tingkat kemasakan biji yang
dalam proses perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah.
Benih yang berasal dari buah yang masih muda kualitasnya akan jelek, karena
benih akan menjadi tipis, ringan, dan berkeriput apabila dikeringkan serta
daya hidupnya sangat rendah. Dalam hal ini kemungkinan embrio belum
berkembang sempurna dan cadangan makanan pada endosperm belum
lengkap (Arief et al. 2006).
Perkecambahan epigeal adalah perkecambahan yang menghasilkan
kecambah dengan kotiledon terangkat ke atas permukaan tanah. Dalam proses
perkecambahan, setelah radikel menembus kulit benih, hipokotil memanjang
melengkung menembus ke atas permukaan tanah. Setelah hipokotil menembus
permukaan tanah, kemudian hipokotil meluruskan diri dan dengan cara
demikian kotiledon yang masih tertangkup tertarik ke atas permukaan tanah

29

juga. Kulit benih akan tertinggal di permukaan tanah, dan selanjutnya


kotiledon membuka dan daun pertama (plumula) muncul ke udara. Beberapa
saat kemudian, kotiledon meluruh dan jatuh ke tanah. Beberapa contoh benih
dengan perkecambahan epigeal adalah kedelai, kacang tanah, kacang hijau,
dan lamtoro (Meilya 2010).
Perkecambahan hypogeal adalah perecambahan yang menghasilkan
kecambah dengan kotiledon tetap berada di bawah permukaan tanah. Dalam
proses perkecambahan, plumula dan radikel masing-masing menembus kulit
benih. Radikel menuju ke bawah dilindungi oleh koleoriza dan plumula
menuju ke atas dilindungi oleh koleoptil. Setelah kolepotil menembus
permukaan tanah dari bawah mencapai udara, lalu membuka dan plumula
terbebas dari lindungan koleoptil dan terus tumbuh dan berkembang,
sedangkan koleotil sendiri berhenti tumbu. Beberapa contoh benih dengan
perkecambahan epigeal adalah padi, jagung, dan sorgum (Schmidt 2000).
Penyiapan bibit merupakan tahapan penting bagi pengembangan
tanaman hutan dan perkebunan. Pada sisi lain, pertumbuhan dan
perkembangan bibit di tingkat nurseri sangat ditentukan oleh keberhasilan biji
atau benih membentuk semai yang diawali dengan perkecambahan benih.
Secara agronomis, perkecambahan suatu biji (benih) diartikan sebagai semai
yang telah atau mulai muncul di permukaan media tanam, sehingga secara
teknis agronomis perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan
aktif yang menghasilkan pecah kulit biji dan kemudian munculnya semai di
permukaan tanah (Bambang dkk. 2007).

30

C.

Metodologi Praktikum
1.

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum tipe bibit dilaksanakan pada hari Selasa, 30 April 2013
pukul 10.30-13.00 WIB di Laboratorium Ekolologi dan Manajemen
Produksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

2.

Alat dan Bahan


a.

Alat
1)

Cethok

2)

Seedbed / polybag

b.

3.

Bahan
1)

Benih kacang tanah (Arachis hypogaea)

2)

Benih jagung (Zea mays)

3)

Tanah

4)

Pupuk
Cara Kerja

a.

Mengisi seedbed dengan top soil hingga 1/3 bagian

b.

Menanam masing-masing benih pada seedbed dengan


kedalaman 3 cm kemudian disiram

c.

Mengamati pertumbuhan bibit dan menggambar bibit


yang tumbuh serta dibuat bagian-bagiannya pada hari ke-3, 5, dan 7

31

D.

Hasil Pengamatan Dan Pembahasan


1.

Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Tipe Bibit
Komoditas
Tinggi (cm)
Jumlah
Akar
Hari keHari ke3
5
7
7
Jagung
2,5
19 22,5
13
Ulangan 1
Jagung
1,5
16,
21
8
Ulangan 2
5
Jagung
1,5
16, 18,5
7,5
Ulangan 3
5
Kacang
3
8,5
5
Ulangan 1
Kacang
3
6
5
Ulangan 2
Kacang
Ulangan 3
Sumber : Laporan Sementara

Panjang Daun
3
-

Hari ke5
3

7
3

Gambar 3.1 Tipe Bibit Jagung


Sumber : Laporan Sementara

Gambar 3.1 Tipe Bibit Kacang Tanah


Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Bibit ialah tanaman kecil (belum dewasa) yang berasal dari
pembiakan generatif (dari biji), vegetatif, kultur jaringan, atau teknologi
perbanyakan lainnya. Selain itu, bibit juga dapat diperoleh dari kombinasi
cara-cara perbanyakan tersebut. Bibit merupakan salah satu penentu

32

keberhasilan budidaya tanaman. Budidaya tanaman sebenarnya telah


dimulai sejak memilih bibit tanaman yang baik, karena bibit merupakan
obyek utama yang akan dikembangkan dalam proses budidaya
selanjutnya. Selain itu, bibit juga merupakan pembawa gen dari induknya
yang menentukan sifat tanaman setelah berproduksi. Macam-macam tipe
bibit ada dua yaitu tipe bibit hypogeal dan epigeal. Contoh tipe bibit
hypogeal yaitu pada tanaman jagung sedangakan tipe bibit epigeal yaitu
pada kacang tanah.
Perbedaan / karakteristik tipe hipogeal dan epigeal yaitu jarak
tanam bibit hipogeal lebih luas daripada bibit epigeal karena bibit hipogeal
mempunyai tipe akar serabut (perakaran dangkal) yang tumbuh menjalar
ke samping kiri dan kanan. Supaya tidak terjadi kompetisi penyerapan
hara dan air dari dalam tanah serta cahaya (dapat saling menaungi) antar
maka dibuat dengan jarak yang lebar. Dengan demikian kebutuhan setiap
tanaman akan terpenuhi secara sempurna dan tumbuh dengan baik.
Sedangkan untuk bibit epigeal dengan tipe akar tunggang (perakaran
dalam) yang tumbuh tegak ke dalam tanah, jarak tanamnya tidak perlu
dibuat lebar karena mampu menyerap hara dan air dari dalam tanah yang
jaraknya relatif agak dalam/jauh dari permukaan tanah. Mengetahui tipe
perkecambahan suatu bibit bermanfaat untuk mengetahui ciri-ciri dari arah
pertumbuhan biji dan membedakan satu dengan yang lainnya. Selain itu,
akan bermanfaat dalam pengaplikasian di lapangan terutama teknik-teknik
penanaman yang sesuai dengan tipe benih. Penanaman yang tepat akan
menyebabkan benih berkecambah dengan baik menjadi tanaman baru.
Epigeal dan hipogeal merupakan tipe perkecambahan yang dilihat
berdasarkan letak kotiledon. Pada perkecambahan hipogeal, terjadi
pertumbuan memanjang dari epikotil (bakal batang) yang menyebabkan
plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon
tetap berada di dalam tanah. Singkatnya, biji tidak terdorong ke atas dan
tetap berada di dalam tanah. Pada perkecambahan epigeal, Hipokotil
(bakal akar) tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula

33

terdorong ke permukaan tanah. Pada perkecambahan epigeal, kotiledon


berada di atas tanah. Singkatnya, biji terdorong ke atas dan muncul di
permukaan tanah. Sebetulnya kedua tipe perkecambahan ini sama - sama
tumbuh ke atas. Tetapi karena pada tipe epigeal, kotiledon/biji terdorong
ke atas, maka sering disebut pertumbuhan ke atas, sedangkan pada tipe
hipogeal, kotiledon/biji tetap berada di dalam tanah maka sering disebut
pertumbuhan ke bawah. Pendapat ini hanya didasarkan pada letak
kotiledon / biji saja, tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya karena
semua jenis perkecambahan pasti akan tumbuh ke atas, ke arah datangnya
sinar matahari.
Kotiledon (disebut juga kotil atau daun lembaga) adalah bakal
daun yang terbentuk pada embrio. Kotiledon merupakan organ cadangan
makanan pada biji sekelompok tumbuhan, sekaligus organ fotosintetik
pertama yang dimiliki oleh tumbuhan yang baru saja berkecambah.
Walaupun bagi kecambah ia berfungsi seperti daun, kotiledon tidak
memiliki anatomi yang lengkap seperti daun sejati. Fungsi kotiledon bagi
prkembangan biji sangatlah penting, yaitu sebagai sumber cadangan
makanan yang digunakan untuk proses pertumbuhan dari terbentuknya
kecambah sampai tumbuhan tersebut dapat membuat makanannya sendiri
yang ditandai dengan terbentuknya daun yang sempurna dan kotiledonnya
mulai rontok/mengecil. Selama biji berkecambah, energi yang digunakan
untuk proses tersebut berasal dari kotiledon dan ketika telah terbentuk
daun maka cadangan makanan dari kotiledon telah habis terpakai sehingga
kotiledonnya akan mengecil dan rontok. setelah itu fungsi kotiledon
digantikan oleh daun, yaitu sebagai sumber energi melalui fotosintesis.
Tumbuhan dikotil apabila kotiledonnya diambil satu, masih bisa tumbuh
tetapi mungkin pertumbuhannya tidak secepat tumbuhan yang memiliki
dua kotiledon.
Bagian-bagian dari tipe bibit epigeal adalah kotiledon, epikotil,
hipokotil, plumula dan radikel. Bagian-bagian dari tipe bibit hipogeal
adalah kotiledon, plumula dan radikel. Fungsi kotiledon sebagai tempat

34

menyimpan

cadangan

makanan,

alat

untuk

fotosintesis

sebelum

terbentuknya daun, alat untuk mengisap makanan oleh embrio. Fungsi


epikotil sebagai tempat munculnya calon batang yang terletak di atas daun
lembaga. Fungsi hipokotil yaitu tempat munculnya calon batang yang
terletak di bawah daun lembaga. Plumula berfungsi sebagai bagian
tanaman yang akan mengalami perkembangan ke atas untuk membentuk
batang dan daun. Radikula berfungsi sebagai berfungsi sebagai akar dan
diselubungi oleh sarung akar lembaga yang disebut koleoriza. Beberapa
jenis tanaman yang mengalami perkecambahan epigeal dan hipogeal
antara lain:
a.

Epigeal : Kacang tanah, Kacang hijau, Tanaman jarak

b.

Hipogeal : Kacang kapri, Jagung, Padi


Pada praktikum ini menggunakan alat cangkul dan polybag.

Cangkul gunanya untuk mengambil tanah yang akan dimasukkan ke dalam


polybag. Bahan tanam yang digunakan yaitu biji jagung dan biji kacang
tanah. Biji jagung merupakan biji monokotil sedangkan biji kacang tanah
merupakan biji dikotil. Dalam praktikum ini menggunakan biji jagung dan
kacang tanah untuk mengetahui perbedaan tipe bibit dari masing-masing
tanaman tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada tanaman jagung merupakan
tipe bibit hypogeal dan pada tanaman kacang tanah merupakan tipe bibit
epigeal. Hal ini dikarenakan pada tanaman jagung, saat berkecambah
kotiledon tetap berada di dalam tanah sedangkan pada kacang tanah
kotiledon tertarik ke atas permukaan tanah. Tinggi tanaman jagung pada
hari ketiga adalah 2,5 cm pada ulangan pertama dan 1,5 cm pada ulangan
kedua dan ketiga. Tinggi tanaman jagung pada hari kelima adalah 19 cm
pada ulangan pertama dan 16,5 cm pada ulangan kedua dan ketiga.
Panjang akar tanaman jagung pada hari ketujuh adalah 13 cm, 8 cm, dan
7,5 cm. Ketiga tanaman jagung ini memiliki 3 daun yang mulai tumbuh
pada hari kelima. Tanaman kacang tanah yang tumbuh hanya dua. Tinggi
tanaman baru dapat diukur pada hari kelima dengan tinggi tanaman 3 cm

35

untuk ulangan pertama dan kedua. Tinggi tanaman kacang pada hari
ketujuh adalah 8,5 cm dan 6 cm. Kedua ulangan tersebut memiliki panjang
akar yang sama yaitu 5 cm dan memiliki jumlah daun yang sama, yaitu 8
helai.
Bagian-bagian dari benih yang berkecambah adalah radikel,
plumula, daun, kotiledon, batang. Fungsi radikel untuk menyerap bahanbahan makanan yang terdapat di dalam tanah. Fungsi daun untuk proses
transpirasi, respirasi, dan fotosintesis. Fungsi plumula sebagai bagian
tanaman yang akan mengalami perkembangan ke atas untuk membentuk
batang dan daun. Fungsi batang untuk menyokong berdirinya tanaman dan
sebagai jalur transportasi.
Manfaat mengetahui tipe bibit yaitu untuk mengetahui tipe-tipe
perkecambahan pada masing-masing tanaman. Setiap tanaman memiliki
tipe perkecambahan yang berbeda. Selain itu, untuk mengetahui proses
perkecambahan pada biji. Tipe bibit bisa digunakan untuk membedakan
antara tanaman monokotil dan dikotil.
E. Kesimpulan Dan Saran
1.

Kesimpulan
Kesimpulan praktikum tipe bibit ini yaitu :
a. Bibit ialah tanaman kecil (belum dewasa) yang berasal dari pembiakan
generatif (dari biji), vegetatif, kultur jaringan, atau teknologi
perbanyakan lainnya
b. Epigeal dan hipogeal merupakan tipe perkecambahan yang dilihat
berdasarkan letak kotiledon
c. Kotiledon (disebut juga kotil atau daun lembaga) adalah bakal daun
yang terbentuk pada embrio
d. Bagian-bagian dari tipe bibit epigeal adalah kotiledon, epikotil,
hipokotil, plumula dan radikel
e. Berdasarkan hasil pengamatan, pada tanaman jagung merupakan tipe
bibit hypogeal dan pada tanaman kacang tanah merupakan tipe bibit
epigeal.

36

f. Manfaat mengetahui tipe bibit yaitu untuk mengetahui tipe-tipe


perkecambahan pada masing-masing tanaman.
2. Saran
Saran praktikum kedepannya untuk penanaman di polybag tidak
perlu menggunakan cangkul karena media tanam berukuran kecil. Setiap
hari disiram untuk memudahkan proses perkecambahan. Biji yang ditanam
lebih baik lebih dari tiga dalam satu polybag untuk menghindari biji yang
tidak tumbuh.

37

DAFTAR PUSTAKA
Arief, R., S. Saenong, Azrai M., dan Rahmawati. 2006. Pengelolaan benih
Jagung. J. Penelitian Pertanian 25(3): 41-47.
Bambang B.S, Hariyadi, Bambang S. P. 2007. Tinjauan Agro-Morfologi
Perkecambahan Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Jurnal Penelitian
Sain dan Teknologi 2 (12) : 69-76.
Edmond, J. B., T. L. Senn dan F. S. Andrews. 2001. Fundamentals of
Horticulture. Mc Grown Hill Book Company. New York.
Meilya, Nixie. 2010. Fisiologis Benih, Biologi Benih, dan Wawasan Teknologi
Benih. http://meycess.blogspot.com. Diakses 6 Mei 2013.
Michael, A. 2011. Reproduction, Growth, and Ecology. Britannica Educational
Publishing. New York.
Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub
Tropis. Terjemahan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan
Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan. Jakarta.
Setiawan, A. I. 2004. Kiat Memilih Bibit Tanaman Buah. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Grafindo Persada. Jakarta.