Anda di halaman 1dari 36

OBAT – OBAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIDANAN

A. Uterus Tonika
Obat yang kerjanya mempengaruhi kontraksi rahim. Obat – obat uterus tonika :
1. Methylergometrine
a. Nama Generic : Methylergometrine
b. Nama Dagang : - Methergin ( Sandoz )
- Metilat ( Metiska Farme )
- Methovin ( Kimia Farma )
c. Indikasi
Sebagai Stimulan Uterus pada :
• Perdarahan Pasca Persalinan
• Perdarahan Pasca Abortus
d. Cara kerja
1) Mulai kerja cepat IV 40 detik ; IM 7 – 8 ,emit , oral 10 menit
2) Bio Tranformasi dalam hati
3) Ekskresi melalui hati dan ginjal
e. Dosis, cara pemakaian, pemberian
1) Oral 0,2 – 0,4 mg sehari 2 – 4 kali, selama 2 hari
2) IV atau IM 0,2 mg ( 1 ml )
3) IM boleh diulang setelah 2 – 4 jam bila perdarahan hebat
f. Efek Samping
• T/D naik terutama penderita tekanan hypertensi kronis /
preklamsi
• Mual , Muntah
• Penglihatan Kabur
• Sakit Kepala
• Kejang
• Diare
• Gatal
• Kulit Dingin

1
• Nadi Lemah dan Cepat
• Bingung
g. Kontra Indikasi
• Persalinan pada Kala I dan II
• Hipersensitif pada ergo
• Kehamilan
• Penderita Toxemia Gravidarum

2. Oxitocin
Obat yang merangsang kontraksi uterus.
a. Nama Generic : Oxytocin
b. Nama Paten : - Piton S.
- Syntocinon
- Hypophysin
- Piroglandol
c. Kerja oksitoksin
Bersama dengan faktor-faktor lainnya, oksitoksin memainkan peranan
yang sangat penting dalam persalinan dan injeksi ASI. Oksitoksin bekerja
pada reseptor oksitoksik untuk menyebabkan :
• Kontraksi uterus kehamilan aterm yang terjadi lewat kerja
langsung pada otot polos maupun lewat peningkatan produksi
prostaglandin
• Konstriksi pembuluh darah umbilicus
• Kontraksi sel-sel miopitel (refleks ejeksi ASI)
Oksitoksin bekerja pada reseptor hormone antidiuretik (ADH)*
untuk menyebakan :
• Peningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah
(khususnya diastolic) karena terjadinya vasodilatasi.
• Retensi air
Kerja oksitoksin yang meliputi : kontraksi tuba uterine (fallopi)
untuk membantu pengangkutan sperma; luteolisis (involusi korpus

2
luteum); perana neurotransmitter yang lain dalam system saraf pusat.
Oksitoksin disintesis I dalam hipotalamus, kelenjar gonad, plasenta dan
uterus. Mulai dari usia kehamilan 32 minggu dan selanjutnya, konsentrasi
oksitoksin dan demikian pula aktivitas uterus akan lebih tinggi pada
malam harinya.
Pelepasan oksitoksin endogenus di tingkatkan oleh:
• Persalinan. (pelepasanendogenus oksitoksin bersifat pulsatil,
control umpan balik yang positif dari persalinan akan mencapai
puncaknya pada saat terjadi gelombang pelepasan oksitoksin
• Stimulasi serviks, vagina atau payudara
• Estrogen yang beredar dalam darah
• Peningkatan osmolalitas/ konsentrasi plasma (glosarium)
• Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi darah
• Sters. Stress dalam persalinan dapat memicu partus prespitatus
yang di kenal dengan istilah ‘refleks ejeksi fetus’. Sters yang
disebabkan oleh tangisan bayi menstimulasi produksi ASI.
Pelepasan oksitoksin di supresi oleh:
• Alcohol. (hal ini menggangu awal pemberian asi)
• Relaksin
• Penurunan osmolalitas (konsentrasi) plasma
• Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi darah

d. Efek Samping Penggunaan Oxitocin


i. Efek Samping Maternal :
•Stimulasi uterus berlebihan
• Solusio placenta
• perdarahan postpartum
• Emboli cairan amnion
• Trauma
• Hematom pelvis,rupture uterus
• System kardiovaskuler

3
• Kolaps kardiovaskuler
• Hipotensi
• Stroke
• mual dan muntah
• Retensi cairan
• intoksikasi air
• Hipertensi
ii. Efek Samping: Fetal / Neonatal
Asidosis
distrimia jantung
Asfiksia
hipoksia
Trauma lahir
ikterus neonatal
e. Indikasi,
Dosis, Cara Pemakaian, Pemberian
i. Induksi Partus Aterm
Efek Samping :
• Kadang terjadi kontraksi uteri yang menetap dan mengganggu
sirkulasi plasenta.
• Apabila diberikan pada stad I dan II persalinan akan terjadi :
- Kontraksi uterus akan bertambah kuat
- Bagian tubuh bayi akan terdorong ke luar lewat serviks
sehingga timbul bahaya laserasi seviks.
- Dapat terjadi Tuptura Uteri
- Kontraksi tetanik yang terlalu kuat
ii. Mengontrol perdarahan pasca persalinan
Dosis dan Cara pemberian : 0,2 – 0,3 mg IM atau dapat pula
diberikan IV dengan dosis 0,2 mg untuk mendapatkan efek lebih
cepat.
iii. Menginduksi abortus Therapeutic sesudah trimester I kehamilan.

4
Pemberian harus hati – hati pada pasien :
b) Pasien dengan penyakit jantung
c) Paru – paru
d) Ginjal
e) HT
f) Hati
g) Asma
h) Anemia
i) Epilepsi
Kontra Indikasi :
- Penyakit radang pelvis
- Terdapat jaringan perut pada uterus
- Hipersensitif terhadap obat
iv. Uji Oksitosin
Dosis : 0,5 ml unit / menit, kemudian dosis ditingkatkan
perlahan-lahan sampai mencapai kontraksi uterus tiap 3-4 menit.
Cara pemberian : per infus. Hasilnya antara lain :
• Fetal distress :
Bila terjadi pengurangan denyut jantung ketus yang
terlambat (late de celaration) pada setiap kontraksi dengan
kekuatan yang sama. ( hasil Positif ).
• Kontra indikasi
- Mal presentasi
- Placenta previa
- Jaringan ikat akibat SC
- Robekan rahim mengancam
v. Menghilangkan pembengkakan mammae
Dosis dan cara pemberian : Intra nasal 2-3- mnenit sebelum menyusu
• Kewaspadaan dan Kontra Indikas Penggunaan
Oksitosin.
• Pemberian oksitoksin merupakan kontraindikasi
jika uterus sudah berkontraksi dengan kuat atau bila terdapat

5
obstruksimekanis yang menghalangi kelahiran anak seperti
plasenta previa atau disproporsi sefalopelvik. Jika keadaan servik
masih belum siap, pematangan servik harus dilakukan sebelum
pemberian oksitoksin.
• Meskipun sudah lazim di gunakan di banyak klinik
bersalin atau bagian obstetric rumah sakit, namun potensi
oksitoksin dalam mengganggu keseimbangan cairan dan tekana
darah membuat obat ini tidak tepat untuk digunakan pada ibu
hamil dengan pre-eklamsia aau penyakit kardiovaskuler atau
pada ibu hamil yang berusia di atas 3 tahun.
• Pemberian infuse oksitoksin merupakan
kontraindikasi pada ibu hamil yang menghadapi resiko karena
melahirkan pervaginam, misalnya kasus dengan melpresentasi
atau solosio plasenta atau denagn resiko rupture uteri yang
tinggi. Pemberian infuse oksitoksin yang terus-menerus pada
kasus dengan resistensi dan inersia uterus merupakan
kontraindikasi.
• Uterus yang starvasi. Kontraksi otot uterus
memerlukan glukosa maupun oksigen. Jika pasokan keduanya
tidak terdapat pada otot yang berkontraksi tersebut dan keadaan
ini mungkin terjadi karena starvasi atau pemberian oksitoksin
tidak akan adekuat sehingga pemberian oksitoksin secara sedikit
demi sedikit tidak akan efektif. Situasi ini lebih cenderung di
jumpai pada persalinan yang lama.
Farmakokinetik
Oksitosin diabsorsi denagn cepat melalui mukosa mulut
sehingga memungknkan oksitosin diberkan secara tablet hisap. Cara
pemberian nasal atau tablet hisap did / cadangan untuk penggunaan
pasca persalinan, selama kehamilan kadar amino peptidase dalam
plama ( oksitosin atau vasopresinase ) meniongkat 10x dan menurun
setelah persalinan. Enzim mengaktifkan oksitosin dan ADH melalui
pemecahan ikatan peptida enzim meregulasi kosentrasi oksitosin

6
lokal di uterus tetapi sedikit pengaruhn ya terhadap eliminasi kadar
oksitosin dalam plasma.

3. Prostaglandin
Hormon yang disekresikan oleh berbagai jaringan tubuh, misalnya otot uterus.
a. Nama Generik : - Gemeprost
- dinoproston
b. Nama Paten : - gemesprost
- prostin E2 (pharmacia)
c. Indikasi, dosis, cara pemakaian, pemberian
Prostaglandin digunakan untuk mematangkan serviks uterus dan
menyebabkan kontraksi selama induksi persalinan.
i.Efek Samping:
• gastrointestinal
- Nyeri abdomen
- Diare
- mual,muntah
• Hiperstimulasi uterus
- Gangguan pada janin
- rupture uteri
- Nyeri
• Kardiovaskuler
- Distrimia jantung -
hipoksia
- Diuresis - edema paru
- Flushing - pireksia/ menggigil
- Hipertensi - perspirasi
- Hipotensi - takikardia
• System respirasi
- Spasme bronkus
- Tersedak
• System saraf
- Nyeri punggung
- tremor
- Peningkatan tekanan intraokuler
- serangan epilepsy
ii.Kewaspadaan dan Kontra Indikasi
- Asma - risiko rupture uteri yang
- Kelainan TD tinggi
- Penyakit jantung - hipersensitivitas
- Epilepsy - penyakit ginjal

7
- Gangguan pada janin - penyakit hepar
- Galukoma/ kenaikan tekanan - rupture membrane amnion
- Intraokuler
iii.Interaksi :
- Alcohol
- Oksitoksin
- Aspirin/NSAID

B. Obat Hemostatid (Anti Perdarahan)


1. Vitamin K
Vitamin k adalah senyawa yang larut dalam lemak, terutama ditemukan
dalam sayuran berwarna hijua. Kebutuhan diet sangat rendah, karena vitamion
ditambah oleh sintetis nakteri yang mengkontaminasi usu manusia. Ada dua
bentuk vitamin K1 yang ditemukan dalam makanan ( fitonodion ), dan Vit K2
ditemukan dalam jaringan manusia yang disentesis oleh bakteri usus
( menakuinan ).
a. Nama Genetik : Vit K Fitomenadion
b. Nama Patent : Autoplex 2 peba ( aktifasi factor VIII dan IX )
Kaywan, Kavitin
c. Indikasi
Sewaktu aktivitas protrombin terdepresi oleh kelebihan warperin atau
difesiensi Vit K.
Contoh :
- Pasien di RS yang dietnya buruk
- Nutrisi perenteral
- Pembedahan
- Neonatus prematur
d. Cara kerja
Vit K1 Dan K2 memerlukan garam empedu untuk absorsi dari traktus
intestinalis
e. Dosis

8
Diklinik dalam tablet 5 mg dan ampul 50 mg, efeknya tertunda selama
6 jam tetapi lengkap dalam 24 jam sewaktu aktivitas ptotrobin terdepresi
oleh kelebihan warperin atau difesiensi Vit K.
g. Efek samping :
i. Pemberian intravena terlalu cepat :
• Dyspnoe.
• Nyeri dada.
• Nyeri punggung.
• Kematian.
ii. Pemberian oral :
• Depresi fungsi hepar
• Sakit kepala
• Hemolisis pada defisiensi G6PD atauVitamin E (menadiol)
• Mual
iii. Pemberian intramoskuler :
• Perubahn viskositas darah
• Nyeri dan pembengkakan pada tempat penyuntikkan
• Dispenia
• Reaksi hipersensitivitas
• Hipertensi
• Hipotermia
• Takikardia
h. Kontra indikasi :
Kegagalan Hepar parah : Sebab biasanya menyebabkan kehilangan
sintesis protein dan diatesis hemorlogika yang tidak terespson Vit. K.
2. Asam Tranexamat
Asam tranexamat adalah amstat suatu analog asam aminoka proat dan
suatu penghambat fiebenolitik.
a. Nama Genetik : Asam tranexamat
b. Nama Patent : Transamin, Tranexamin.
c. Indikasi :

9
Terapi batu pada hemoilia
Terapi perdarahan karena fibrinolitik
Propilaksis perdarahan ulang dari anuerisma intrakranial.
Perdarahan gastro intestinal pasca bedah.
Perdarahan pasca prostatektomi
d. Dosis
Asam tranexamat lebih kuat EACA sehingga di perlukan dosis
yang lebih rendah. Yang biasa bertanggung jawab bagi penurunan efek
sampingnya. Diberikan peroral dengan dosis pembebanan 15 mg / kg
kemudian 30 mg / kg setiap 6 jam.
e. Efek samping.
• Trombosis intravaskuler akibat penghambatan aktifitas plasminogen.
• Impotensi
• Miopati
• Ketidaknyamanan abdomen, mual.
• Diare.
• Hidung tersumbat.
• Preuritis.
• Eritema.
• Dyspepsia.
• Inhibisi gakulasi
f. Kontra indikasi :
• Kehamilan trimester I dan II ( kecuali bila sangat perlu )
• Bekuan darah ada pos operasi daerah jandung kemih dan
menghambat desolusinya
• Penderita koagulasi intravaskuler desiminata( DIC).
3. Adonan AC
Adonan AC adalah karbosakrom salisilat
a. Nama Genetik : Adona
b. Nama patent : Adona forte, Adona AC
c. Indikasi :

10
Pencegahan dan penghambatan perdarahan kapiler.
d. Cara kerja :
Memperbaiki permeabilitas kapiler.
e. Dosis :
• 5-10 mg karbosokrom secara im 2-4 jam.
• 5-10 mg karbosokrom peroral tiap 2 jam.
• 10-50 mg karbosokrom secara iv beberapa kali / hari
• 5 mg karbosokrom secara S>C 1 x / hari
f. Efek samping : Tidak ada

C. Obat-obat Imunologi
Dalam bidang imunologi, kuman dan racu kuman ( toksi ) disebut sebagai
anti gen. Antigen merupak bagian protein kuman atau protein racun. Bila antigen
untuk mask kedalam tubuh anusia, maka sebagai reaksi tubuh akan membentuk
zat anti. Bila antigen kuman itu. Anti dalm tubuh disebut antibodi. Zat anti
terhadap racun kuman disebut toksin. Pada umumnya tubuh anak tidak akan
mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat adalah jenis kuman
ganas / virulen. Karena itu anak akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Pengertian dasar imunologi :
a. Bila antigen ( kuman, bakteri, virus parasit, racun kuman ) memasuki tubuh,
maka akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti berupa anti
bodi anti toksin.

b. Reaksi tubuh pertama kali, terhadap antigen berlangsung lambat dan lemah
sehingga tidak cukup banyak anti bodi terbentuk.

c. Pada reaksi yang kedua, dan seterusnya tubuh sudah lebih mengenal jenis
antigen tersebut. Maka dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat
anti yang lebih banyak.

11
d. Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang untuk
mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan /
imunisasi ulang untuk rangsangan membuat zat anti kembali.
- Reaksi antigen - antibodi merupakan mekanisme perlawanan tubuh
terhadap penyakit.
- Kadar antibodi tinggi dalam darah menjamin anak terhindar dari
penyakit
- Kadar antibodi yang tinggi diperoleh dengan pemberian imunisasi
- Mempertahankan kadar antibodi yangtinggi, diperlukan imunisasi
ulang dalam waktu tertentu
1. Vaksin
Vaksin adalah bahan yang terbuat dari kuman, komponen kuman atau
racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan. Pemberian vaksin
merangsang tubuh anak membuat antibodi.
Jenis penyakit yang pencegahannya dapat dilakukan dengan imunisasi:
- TBC
- Difteri
- Tetanus
- Polio melitis
- Campak
- Hepatitis B
Vaksin terbuat dari kuman yang telah dilemahakan, zat racunm kuman
( Toksin ) yang telah dilemahkan dan bagian kuman tertentu/ komponen
kuman yang biasanya berupa protein khusus. Contoh Vaksin antara lain :
a. Vaksin terbuat dari kuman yang dimatikan : vaksin bentuk rejan,
vaksin polio jenis salk.
b. Vaksin terbuat dari kuman hidup yang dilemahkan : vaksi BCG,
vaksin polio jenis sabin, vaksin Campak
c. Vaksin yang terbuat dari racun / toksin kuman yang di lemahkan
( toksoid ) : toksoid tetanus dan toksoid difteri
d. Vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman : vaksin hepatitis B
i. Vaksin BCG

12
Pemberian imunisasi BCG unrtuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap penyakit kuman tuberculosis (TBC). Vaksin BCG engandung
kuman BCG ( bacillus calmete guerin ) yang masih hidup telah
dilemahkan
• Cara imunisasi
Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi
baru lahir sampai 12 bulan, tetapi sebaiknya pada umur 0-2 bulan.
Imunisasi BCG cukup diberikan satu kali saja. Pada anak yang
berumur lebih 2 bulan di anjurkan melakukan uji mantoux sebelum
imunisasi BCG. Untuk mengetahui telah terjangkit TBC seandainya
hasilnya positif maka anak tidak selayaknya mendapatkan imunisasi
BCG. Imunisasi BCG biasanya disuntukkan dilengan kanan atas,
bayi perempuan di paha kanan atas dengan dosisnya 0,05 ml.
• Kekebalan
Jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak - anak
akan terhindar dari penyakit TBC. Jika anak yang telah diberikan
imunisasi terjangkit penyakit TBC maka menderita TBC bentuk
ringan. Akanterhindar daru penyakit TBC berat seperti TBC paru
yang parah, TBC tulang, TBC selapu otak yang mengakibatkan cacat
seumur hidup da membahayakan jiwa.
• Reaksi imunisai
Setelah suntik BCG, bayi akan menderita demam. Bila deman
setelah imunisasi BCG umunya disebabkan hal lain sehingga
dianjurkan berkosultasi dengan dokter.
• Efek Samping
Umumya pada imunisasi BCG jarang ditemukan efek
samping mungkin terjadi pembengkkan kelenjar getah bening
setempat yang terbatas dan biasanya sembuh sendiri walaupun
lambat bila suntuikan BCG dilakukan di lengan atas, pemberngkkan
kelenjar terdapat diketiak dan leher bagian bawah suntikan di paha
menimbulkan pembengkakkan kelenjar di selangkangan. Komplikasi

13
pembengkakan kelenjarbiasanya disebabkan karena teknik
penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam
• Kontra Indikasi
Tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCg, kecuali
pada anak yang berpenyakit TBC atau uji montoux positif.
- Pemberian Imunisasi BCG sebaiknya
dilakuaknsedini mungkin dalam waktu beberapa hari setelah
melahirkan
- Cara pemberiuan imunisdasi BCG bagi perorangan
berlainan dengan secara masal
- Imunisasi BCG secara masal tanpa diuji dahuli
montoux, tidak membahayakan
- Imunisasi BCG anak diharapkan akan bebas
terjangkit TBC setidanya terhindar dari penyakit TBC yang berat
dan parah.

• Vaksin DPT ( Difteria, Pertusis, Tetanus )


Pemberian imunisasi untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam
waktu yang bersamaan terhadap penyakit Difteria, Pertusia( batuk Rejan ),
dan tetanus
Penjelasan Penyakit

1. Difteria
Penyakit difteria disebabkan bakteri ( cory nebae tenum diphtheria ).
Sifatnya ganasdan mudah menular. Seorang anak tertular penyakit
inimaka ia berhubunhan lamgsung dengananak penderita difteria atau
pembawa kuman (karier),yaitu dengan terhisap percikan udara yang
mengandung kuman. Anak yang tejangkit penyakit difteria akan
menderita demam tinggi. Selain pada toksi 9amandel) atai
tenggorokan terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput meluas
kebagian tenggorokan sebelah dalam dan menutupi jala nafas,
sehingga seolah-olah tercekik dan susah bernafas.

14
2. Tetanus
Penyakit tetanus masihteradpat di seluruh dunia, karena
kemungkin anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatiuh, luka
tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang
telinga. Luka merupakan tempat masuk kuman tetanus ( clostrianum
tetani).
Kuman ini berkembangn biak dan membentuk racun yang
berbahaya. Dimana merusak sel susunan saraf pusattulang belakang
yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang
khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut
yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar di
buka serta muka yang tampak pucat.

3. Pertusis :
Pertusis / penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal denagn
batuk seratus hari, disebabkan oleh kuman Bordetella Pertusis.
Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita bahkan dapat
menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari satu tahun.
Gejalanya :
~ anak tiba – tiba batuk keras secara terus – menerus,
~ sukat berhenti
~ muka menjadi merah atau kebiruan
~ keluar air mata dan kadang – kadang sampai muntah
Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan
keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara
melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih
denagn wajah yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam
hari.

4) Cara Imunisasi

15
1) Vaksin DPT ( difteri pertusis tetanus )

a. Pengertian : Vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang
dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi

b. Indikasi
Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri pertusis
dan tetanus

c. Dosis : 0,5 ml disuntikan secara Intramuskuler

d. Kekebalan
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteria cukup baik, yaitu
sebesar 80 – 95% dan daya proteksi tetanus sangat baik sebesar 90 –
95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih rendah yaitu 50 –
60%. Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapat imunisasi
pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk
ringan

e. Efek samping

Gejala – gejala yang bersifat sementara seperti : lemas,


demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang – kadang terjadi
gejala berat seperti : demam tinggi, iritabilitas dan meracau yang
biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.

f. Kontra Indikasi
Gejala – gejal keabnormalan otak pada periode bayi baru
lahir atau gejala serius keabnoamalan otak pada saraf merupakan
kontra indikasi pertusis : Anak yang mengalami gejala – gejala parah

16
pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis
kedua, dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT.

2) Vaksin DT ( Difteri dan Tetanus )

a.Pengertian : Vaksin yang mengandung Toxoid difteri dan tetanus


yang telah dimurnikan.
b. Dosis : 0,5 ml disuntikan secara intra muskuler.
c.Indikasi
Untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus.
d. Efek Samping
Gejala – gejala seperti : lemas dan kemerahan pada lokasi
suntikan yang bersifat sementara dan kadang – kadang gejala demam.

e. Kontra Indikasi

Gejala – gejala berat karena dosis pertama DT

3) Vaksin Tetanus Toksoid

a. Pengertian
Vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang telah dimurnikan dan
terabsorsi kedalam 3mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml
digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml vaksin mengandung
potensi sedikitnya 40 IU. Dipergunakan untuk mencegah tetanus pada
bayi yang baru lahir dengan mengimunisasi WUS ( Wanita Usia Subur )
atau ibu hamil, juga untuk pencegahan tetanus pada ibu bayi.

b. Jenis vaksin
Jenis imunisasi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang
digunakan untuk imunisasi aktif ialah toxoid tetanus

17
c. Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus

d. Dosis 0,5 ml.

e. Kekebalan
Daya proteksi vaksin sangat baik, yaitu sebesar 9 – 95%

f. Efek samping
Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan. Gejal – gejala seperti
lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan
kadang – kadang gejala demam

g. Kontra Indikasi
Gejala – gejala berat karena dosis pertama TT

4) Vaksin Polio ( Oral Polio Vaccine = OPV )

a. Pengertian
Vaksin polio Trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe
1, 2 dan 3 (strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan
jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.

b. Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif tehadap poliomyelitis

c. Dosis : 2 tetes per oral

d. Kekebalan
Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95 – 100%

18
e. Efek samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping berupa paralysis
yang disebabkan oleh vaksin sangat jaramg terjadi

f. Kontra Indikasi
Pada individu yang menderita “immune deficiency”. Tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.
Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan
dapat diberikan stelah sembuh.

5) Vaksin Campak.

a. Diskripsi :
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan setiap dosis
( 0,5 ml ) mengandung tidak kurang dari 1000 invective unit virus strain CAM 70
dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamicin dan 30 mcg residu erythromycin.

b. Nama patent : - Vaksin trimovax


- Vaksin MMR ( measles mumps rubella vaccine )

c. Indikasi :
untuk embarian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.

d. Cara pemberian dan dosis :


• Sebelum disuntikan vaksin campak terlebih dahulu harus di larutkan dengan
pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut.
• Dosis pemberian 0,5 ml disuntikan secara subcutan pada lengan kiri atas, pada
usia 9-11 bulan. Dan ulang ( booster ) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up
campaign campak pada anak sekolah dasar kelas 1-6.

e. Efek samping :

19
Hingga 15 % asien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3
hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.

f. Kontraindikasi :
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang di
duga mendarita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma.

6) Vaksin Hepatitis B

a. Diskripsi :
Vaksin Hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah dinaktifasikan
dan bersifat non-infectious, berasal dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi
menggunakan teknologi DNA rekombinan.

b. Nama patent :
- Bimugen => vaksin hepatitis B 5 mcg
- Engerix => vaksin hepatitis B 20 mcg
- Hepa => B vac

c. Indikasi :
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang dissebabkan oleh virus
Hepatitis B.

d. Cara pemberian dan dosis :


• Sebelum digunakan vaksin harus di kocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen
• Vaksin disuntikan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian
suntikan secara intra musculer, sebaiknya pada anterolateral paha.
• Pemberian sebanyak 3 dosis.
• Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan
interval minimum 4 minggu (1 bulan)

20
e. Efek samping :
Reaksi lokal seperti rasa sakit. Kemerahandan pembengkakan di sekitar tempat
penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2
hari.

f. Kontraindikasi :
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin
lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang di sertai
kejang.

4) Serum

a. Pengertian secara umum :


Serum adalah cairan darah setelah dihilangkan sel-sel darahnya dan dipisahkan
fibrinnya, yang sudah mengandung antibodies spesifik dalam kadar tinggi dan di
peroleh dengan menyuntikan suatu antigen tertentu ke dalam jaringan seekor
hewan maupun pada manusia.

b. Macam-macam serum
 Anti Tetanus Serum ( ATS )

1) ATS adalah serum yang berasal dari kuda atau manusia, dan mengandung
anti bodies untuk menetralisir toxin clostridum tetani, tanpa mempengaruhi basil-basil
tetanusnya sendiri.

2) Nama patent :
• Serum kuda anti tetanus ( 1500 u perdosis )
• Tetanus anti toxin globulin refined ( 10.000 u dan 20.000 u ).
• Hypertest ( tetanus )

3) Indikasi

21
• Sebagai profilaksis pada luka-luka yang dalam, terkena debu jalanan,
akibat benda berkarat dan terkontaminasi kuman anaerob.
• Untuk menimbulkan kekebalan pasif terhadap penyakit tetanus.

4) Dosis :
 Pengobatan : 3.000 – 6.000 u, 10.000 – 20.000 si.
 Profilaksis : anak  4 u / kg bb
: dewasa 250 – 500

5) Efek samping :
Dapat timbul reaksi alergi terhadap serum hewan (hipersensitasi).

6) Kontra indikasi : tidak ada.

 Anti Difteri serum (ADS).

a. ADS adalah fraksi globulin yang telah dipekatkan dari serum kuda yang
telah dikebalkan secara aktif terhadap eksotoxin dari basil difteri.

b. Nama patent : Anti Toksin Diptheria. ( Bio Farma ).

c. Indikasi : untuk terapi difteri

d. Dosis :
 Profilaksi, dewasa  3.000 – 5000 si
 Pengobatan, dewasa  10.000 – 20.000 si, 20.000 – 120.000 unit.
Tergantung dari keparahan dan lamanya penyakit.

e. Efek samping
 Hipersensitivity terhadap serum hewan.

22
 Kepekaan bawaan ( idion sikrasi ) terhadap produk – produk
metabolisme bakteri.
 Reaksi – reaksi alergi  serum sicknees maupun shock anafilatik.

f. Kontra indikasi : tidak ada.

 Anti Bisa Ular (ABU).

a. ABU adalah serum anti venin, yang diperoleh dari kuda yang telah
dikebalkan secara aktif terhadap bisa ular, terutama bisa ular yang mempunyai efek neuro
toksik dan hemotolik.

b. Nama patent : Serum kuda anti bisa ular ( bio farma ).

c. Indikasi :
Untuk pengobatan terhadap gigitan ular beracun, yakni terhadap ular
berbisa, bungarus ( ular weling ), dan ankystrodon ( ular tanah ).
Cara kerja : ABU bekarja untuk melawan gejala envenomasi.

d. Dosis :
1) 3 – 5 vial / hari
2) 5 ml / hari

e. Efek samping : Hipersensitivitas terhadap serum hewan.

f. Kontra indikasi : Tidak ada.

 Serum Anti Rabies ( SAR ).

a. SAR adalah serum kuda / manusia yang telah dikebalkan dengan virus fixe
rabies.

23
b. Nama patent :
Hiperab  1 g 615 – 18 % human protein.

c. Indikasi :
Dianjurkan untuk segala pemaparan gigitan / cakaran oleh carnivora,
terutama kelelawar, musang, rubah, coyote, racoon, meskipun binatang
tersebut tampak sehat.

d. Dosis :
- 0,5 ml per kg berat badan, tiap ml mengandung 100 si ( bio farma ).
- 500 unit / 20 kg berat badan.
- 20 iu / kg berat badan.

e. Efek samping :
Hipersensitivitas terhadap serum hewan.

f. Kontra indikasi :
Tidak dianjurkan untuk individu yang menunjukan respon antibodi yang
berasal dari profilaksis pra pemaparan.

D. Penggunaan Obat - Obat Inhalasi

Gas N2O, seperti entonox umumnya tersedia pada semua ruang partus rumah
sakit di inggris preparat gas ini akan menghasilkan analgesia intermiten pada
saat timbulnya kontraksi uterus(his) (Clyburn & Rosen, 1993). Reynolds
(1993a) menganjurkan pemberian hanya pada masa transisi, kala dua persalinan,
penjahitan perineum dan sementara menunggu analgesia epidural untuk
memberikan hasil yang paling efektif. Sejumlah penelitian memperlihatkan
bahwa ibu hamil menemukan efek analgesic yang lebih efektif pada pemakaian
preparat gas N2O dibandingkan meperidin (petidin) atau mesin TENS, tetapi
efek analgesic gas tersebut kurang efektif ketimbang efek analgesic yang

24
dihasilkan oleh analgesia epidural. Farmakologi gas N2O yang dijelaskan disini
berlaku langsung pada gas entonox yang digunakan di Inggris.
 Efek gas N2O pada reproduksi
Ada kemungkinan bahwa pajanan akibat kerja terhadap gas N2O yang lama
dapat mengganngu kesuburan pria atau wanita dan meningkatkan
insidensabortus spontan serta partus premature. Pemberian gas N2O dengan
takaran analgesic yang rendah dapat memberi efek teratogenik pada rodensia,
tetapi hasil penelitian ini belum di konfirmasikan pada manusia. Penngunaan
atau pajanan gas N2O pada kehamilan trimester pertama dapat membahayakan
kesehatan janin, kendati pemberiannya bukan merupakan kontraindiksi absolute
seperti pada keadaan pascatrauma.

E. OPIOID

Obat-obat golongan opioid seperti meperidin(petidin) digunakan secara luas


dalam persalinan. Istilah opioid dipakai untuk menyatakan setiap preparat yang
bekerja pada reseptor opioid tubuh yang normalnya akan bereaksi terhadap
endorphin dan enkefalin. Jadi morfin, diamorfin, meperidin, meptazinol, kodein,
buprenorfin(temgesic), pentazosin(fortral) dan antagonis morfin sepertinalokson
(narcan) semua merupakan opioid. Tanpa adanya bukti yang mendukung
pengguanaan opioid tertentu, kerapkali pemilihan opioid yang akan diberikan
dilakukan berdasarakan freferensi institusi.

Penggunaan opioid

Opioid digunakan dalam persalinan , prabedah, intrabedah,


pascabedah, dan dalam perawatan intensif untuk menghasilkan analgesia sedasi
serta pengurangan rasa cemas. Opioid dapat mengurangi hyperventilasi yang
ditimbulkan oleh rasa nyeri dan mempertahankan karbon dioksida pada
konsentrasi yang mendekati normal. Berbagai preparat opioid dengan dosis
rendah dijual sebagai obat bebas di inggris untuk mengendalikan gejala batuk
atau diare pada segala usia.

25
F. Obat anastesi local

Obat-obat anastesi local di kembangkan dari kokain yang digunakan untuk


pertama kalinya dalam kedokteran gigi dan oftalmologi pada abad ke-19. kini
kokain sudah digantikan dengan lignokain(lidokain), bupivakain(marcain),
perilokain dan ropivakain. Prilokain terutama digunakan dalam preparat
tropical.

1. Penggunaan anastesi local


Obat-obat anastesi local memiliki peranan yang penting dalam meredakan
rasa nyeri untuk jangka waktu yang singkat. Dalam kebidanan, obat-obat
tersebut diberikan lewat beberapa cara:
• Topical, misalnya pada pemasangan infuse
• Subkutan/intradermal pada penjahitan luka
• Infiltrasi di sekeliling serabut saraf yang tunggal, misalnya blok
anastesi pudendus
• Epidural, pada permukaan durameter bagi persalinan atau sexio
caesarea
• Spinal(intratekal), kedalam cairan serebrospinal pada ruangan
subaraknoid (intratekal) bagi persalinan atau sexio caesarea.

2. Efek samping obat anastesi local

Pemberian obat anstesi local mempunyai efek samping yang


potensial sama tanpa bergantung pada cara pemberiannya. Akan tetapi, bila
takaran no0rmal di gunakan untuk pemberian topical dan intradermal,
masalah ini lebih jarang ditemukan. Bidan terutama harus memahami efek
samping obat anastesi local ketika obat ini diberikan lewat jalur epidural
atau spinal atau bila obat anastesi local tersebut secara tidsak sengaja di
suntikkan kedalam pembuluh vena.

26
Efek samping obat anastesi local berhubungan dengan kerjanya,
khususnya kemampuannya untuk menghambat hantaran inpuls dalam
jaringan yang dapat tereksitasi. Obat-obat anastesi local akan menyekat
saluran cepat ion natrium pada semua jaringan penghantar impuls yaitu:
•System saraf pusat
•Jantung dan system kardiofaskuler
•System saraf ferifer
•System saraf simpatik
•Otot polos-uterus, kandung kemih, usus
•Otot skelet

G. Zat Besi

a. Nama generik : - senyawa FE sorbitol

b. Nama patent : - Jectofer ( AstraZeneca)

Zat besi merupakan mineral yang diperlukan oleh semua system biologi di
dalam tubuh. Besi merupakan unsur esensial untuk sintesis hemoglobin,sintesis
katekolamin,produksi panas dan sebagai komponen enzim-enzim tertentuyang
diperlukan untuk produksi adenosine trifosfat yang terlibat dalam respirasi sel.

Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat mengganggu metabolisme energi
sehingga dapat menyebabkan menurunnya kemampuan kerja organ-organ
tubuh. Buntut-buntutnya dapat memengaruhi perkembangan janin. Kekurangan
zat besi umumnya ditandai dengan wajah pucat, rasa lemah, letih, pusing,
kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran tubuh, menurunnya kekebalan dan
gangguan penyembuhan luka.

Mengapa banyak ibu hamil kekurangan zat besi? Sebab, memasuki trimester
kedua dan ketiga ibu mengalami "hemodilusi" (pengenceran). Hal ini terjadi
karena ibu hamil memproduksi cairan lebih banyak sehingga kebutuhan akan

27
sel darah merahnya juga bertambah. Kondisi ini bisa dianalogikan sebagai sirop
dan air. Sirop ibarat sel darah merah dan air ibarat cairan dalam tubuh ibu. Bila
dalam keadaan normal, untuk membuat sirop dibutuhkan satu gelas air putih
dan dua sendok makan sirop. Namun dalam keadaan hamil karena airnya
bertambah banyak maka siropnya (sel-sel darah) pun mestinya ditambah.

Jadi tak perlu heran bila banyak ibu hamil pada trimester kedua dan ketiga
membutuhkan lebih banyak zat besi. Banyak wanita di Indonesia mengalami
kekurangan zat besi, sehingga kadar hemoglobinnya rendah. Hal ini tentu
berpengaruh pada kualitas kesehatan ibu dan janin.

Jumlah zat besi yang dibutuhkan semasa kehamilan berbeda per trimesternya.
Pada trimester pertama, tambahan akan zat besi belum dibutuhkan. Kondisi ini
menguntungkan bagi ibu hamil yang mengalami mual dan muntah karena
mengonsumsi zat besi biasanya dapat memperparah kondisi ini.

Namun memasuki trimester II, kebutuhan akan zat besi menjadi 35 mg per
hari per berat badan (sama dengan mengonsumsi segenggam kacang hijau, atau
setengah genggam daun ubi). Kemudian bertambah menjadi 39 mikrogram per
hari per berat badan pada trimester ketiga (sama dengan mengonsumsi 1 potong
tempe). Untuk memenuhi kebutuhan itu makanlah bahan makanan yang kaya
akan zat besi, seperti, daging, hati, telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan, dan
sayuran hijau

Ekstra zat besi sangat diperlukan pada kehamilan. Kebutuhan zat besi
pada kehamilan dengan janin tunggal adalah:

• 200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sel darah merah.

• 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya.

• 150-200 mg untuk kehilangan eksternal.

• 30-170 mg untuk tali pusat dan plasenta.

28
• 90-310 mg untuk menggantikan darah pada saat melahirkan.

Dengan demikian total kebutuhan zat besi pada kehamilanberkisar antara


580-1340 mg,dan 440-1050 diantaranya akan hilang pada tubuh ibu pada saat
melahirkan. Untuk mengatasi kehilangan ini ibu hamil memerlukan antara 3,5-4
mg zat besi per hari. Kebutuhan ini aka meningkat secara signifikan dalam
trimester terakhir,yaitu dari rata-rata 2,5 mg/hari pada awal kehamilan menjadi
6,6 mg/hari. Karena itu pemenuhan kebutuhan pada kehamilan memerlukan
mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorpsi zat besi. Meskipun
absorpsi zat besi meningkat cukup besar pada kehamilan.

H. Asam Folat

a. Nama generik : Asam Folat

b. Nama patent : Preconceive

Asam folat termasuk kelompok vitamin B yang bermanfaat untuk mengurangi


NTD (Neural Tubes Defects) atau kelainan susunan saraf pusat. Disarankan
dikonsumsi semenjak masa persiapan atau sebelum kehamilan karena
pembentukan susunan saraf pusat akan dimulai di awal kehamilan. Tak perlu
khawatir, karena kelebihan asupan ini akan dibuang secara otomatis. Jumlah
asam folat yang dibutuhkan selama kehamilan adalah 600 mikrogram per hari
per orang. Jadi ada tambahan sebanyak 200 mikrogram per hari per orang
dibanding manusia dewasa yang tidak hamil. Sumber asam folat antara lain
brokoli, gandum, kacang-kacangan, jeruk, stroberi, dan bayam. Namun, karena
mengonsumsi makanan tersebut belum menjamin terpenuhinya kebutuhan ini
maka ibu hamil tetap dianjurkan mendapat asupan suplemen asam folat.

 Sumber alami Asam Folat

29
* sayuran berwarna hijau, seperti bayam dan brokoli.
* buah-buahan, seperti jeruk, semangka, nanas, dan avokad.
* daging sapi
CATATAN:
Daging sapi memiliki kandungan AF yang tinggi. Sementara kandungan AF
pada sayur dan buah-buahan relatif rendah sehingga tidak akan mencukupi
kebutuhan.

 Gejala kekurangan Asam Folat


* cepat letih
* tekanan nadi cepat
* sering gemetar
* mudah sesak napas
* dan gangguan pencernaan seperti anoreksia.
Yang bersangkutan juga biasanya mengalami gangguan pigmentasi, seperti
bercak-bercak kecokelatan pada kulit. Akan tetapi gejala-gejala ini memang tidak
khas karena penyakit atau gangguan lain semisal anemia defisiensi zat besi pun
menunjukkan gejala yang kurang lebih sama. Satu-satunya pemeriksaan yang
akurat adalah pemeriksaan laboratorium di awal kehamilan. Dokter akan
memeriksa kadar Hb untuk mendeteksi apakah si ibu hamil mengalami anemia
atau tidak. Jika ya, akan ditelusuri lagi penyebab anemianya, apakah karena
defisiensi zat besi, vitamin B12, atau AF. Jika faktor ketiga yang menjadi
masalah, dokter akan meresepkan suplemen Asam Folat tambahan yang harus
dikonsumsi setiap hari sesuai dosis.

 Jika kelebihan Asam Folat


Kelebihan AF pada dasarnya tidak menimbulkan masalah berarti. Seperti
halnya vitamin C, bila kadarnya berlebih, tubuh akan membuangnya lewat air
seni. Lagi pula hingga saat ini belum ditemukan efek toksik (racun) dari AF
terhadap kesehatan, meskipun ibu meminum AF di atas 1 miligram per hari.
Kendati ada beberapa ibu yang mengeluhkan efek samping saat mengonsumsi AF

30
di atas 1 miligram setiap hari, seperti mual, muntah, pusing, susah tidur, dan
sebagainya. Namun gejala ini sangat jarang terjadi dan bersifatindividual.

I. Kontrasepsi
Berbagai metoda kontrasepsi dikenal dan dikembangkan dalam
usaha mengendalikan ledakan penduduk baik secara oral dengan memanfaatkan
hormon dalam berbagai bentuk pil, AKDR, barrier, kontrasepsi jangka panjang,
sterilisasi maupun metoda tradisional.

Kontrasepsi hormonal

Hormon steroid kontrasepsi terutama tersedia dalam bentuk oral


meskipun sediaan implantasi subkutan dan insersi vagina juga dikembangkan. Per
oral hormon kontrasepsi yang digunakan mungkin dalam bentuk pil kombinasi,
sekuensial, mini atau paska senggama dan bersifat reversibel. Kontrasepsi oral
kombinasi merupakan campuran estrogen sintetik seperti etinilestradiol dan satu
dari beberapa steroid C19 dengan aktivitas progesteron seperti noretindron. Pada
umumnya mengandung dosis estrogen dan progestogen yang tetap,digunakan
selama 21 hari dan diikuti 7 hari tanpa kontrasepsi. Kômbinasi ini sangat efektif
dengan tingkat kehamilan 0,11,0% pada wanita pemakai tetap tahunan.

a. Kontasepsi PerOral

Kontrasepsi oral kombinasi (KOK) menghambat ovulasi dan


menginduksi perubahan lendir serviks dan endometnium sehingga transport
sperma dan implantasi embrio menjadi sulit. Sediaan tiga fasa yang mengandung
estrogen dan progestogen perdarahan sangat bervariasi sehingga mempengaruhi
popularitasnya.
Jenis – jenis Pil kontrasepsi
a. Nama dagang : Femodene, microgynon 30, Eugynon 30, Minulet.
o Pil kombinasi

31
Sejak pertengahan tahun 60-an etinilestradiol merupakan estrogen
dalam hampir semua KOK, tetapi dengan kadar yang makin lama makin
kecil. Sediaan sekuensial umumnya mengandung< 35 µg. Sebaliknya
dalam usaha untuk meminimalkan efek samping androgenik yang
menyertai, tipe progestogen sintetik telah diubah. Progestogen yang
terbaru yang disebut generasi ke-3 (desogestrel, gestoden, norgestimat)
sangat poten kemampuannya untuk inhibisi ovulasi dan transformasi
endometrium sehingga tidak mendukung kehamilan.
o Pil mini
Hanya mengandung progestogen dan merupakan satu-satunya alternatif
hormon dari pemakaian KOK, diberikan 1 dd selama 28 hari siklus
menstruasi dengan proteksi kehamilan pada penggunaan yang benar ±
97%. Dapat diperkirakan efek sampingnya lebih sedikit, tetapi
berhubungan dengan insiden tinggi gangguan menstruasi khususnya
perdarahan tak teratur.Progestogen tidak berefek pada pembekuan darah
atau agregasi trombosit dan merupakan pilihan untuk wanita dengan
hipertensi. Per-injeksi, medroksiprogesteron asetat, bisa digunakan dan
memberikan metoda kontrasepsi yang sangat efektif serta aman.
o Pil pasca senggama
Konsep metoda kontrasepsi sesudah hubungan intim bukanlah hal yang
baru dan cukup menarik. Dosis tinggi estrogen tunggal (misalnya 25 mg
dietilstilbestrol sehani selama 5 hari) atau kombinasi dengan progestogen
(100 µg etinilestradiol dan 1 mg levonorgestrel 2 kali sehani dengan
selang waktu 12 jam) dapat mengurangi risiko kehamilan setelah
hubungan intim yang tidak dijaga dengan efek samping mual dan
gangguan siklus menstruasi. Kenyataan bahwa obat harus digunakan
dalam waktu 72 jam setelah senggama, di samping penyalahgunaannya
untuk menggugurkan kandungan, kurang mendukung penggunaannya.

b. Kontrasepsi dengan injeksi

32
Injeksi biasanya diberikan tiap 8-12 minggu dari bekerja dengan menghambat
ovulasi, mengentalkan lendir serviks serta mengubah endometrium sehingga
menyulitkan implantasi. Amenorrhoea atau episode perdarahan tidak teratur dan
tidak dapat diduga merupakan masalah yang paling umum pada injeksi dan
merupakan alasan utama untuk penghentian pemakaiannya. Injeksi dapat
melindungi terhadap penyakit inflamasi pelvik dengan mengubah lendir serviks
selain terhadap kanker endometrium dan serviks. Sedangkan implantasi
subdermal progestin efektif untuk 35 tahun dengan efek samping sama dengan
injeksi, hanya saja implant dapat dikeluarkan bila kom-
plikasi serius.

33
MACAM – MACAM OBAT KEBIDANAN

34
nO. NAMA PATEN NAMA GENERIC FUNGSI

1. Anvormer B6 - Piratiasina 8 Untuk mengatasi mual dan


MACAM – MACAM
klorteofilinat 40OBAT
mg KEBIDANAN
muntah pada Trimester I
- B6 30 mg

2. Primperon Metaklopramida Untuk mual dan muntah pada Ibu


Hamil

3. Novabevit Thiamin ( B1 ) Vitamin untuk menambah stamina


pada ibu hamil

4. Folavit Asam Volat Untuk pertumbuhan Janin dan


menjaga kesehatan tubuh

5. Fitolac Ekstra daun katuk Untuk mempelancar ASI

6. Herbalacta - Vitex trifolia fructus Untuk memperpanjang masa


akstrak Reproduksi ASI
- Vitex Agnus costus
fructus

7. Osteocal - Kalsium Karbonat Untuk membantu kekurangan


- Amylum maydis kalsium pada Ibu Hamil
- Avicel
- Povidon
- Sakarin Natrium
- Magnesium Stearat

8. Premania - Ferro fumarat 360 Suplemen vitamindan mineral


mg, untuk anemia misalnya anemia
- asam folat 1,5mg, pada masa kehamilan dan laktasi.
- viatamin –B12,
- Ca- karbonat 250
mg
35

9. Premaston Allilestrenol 5mg Untuk menguatkan kandungan


36