Anda di halaman 1dari 12

Anggota

: - Cicilia Indriana Sari (52414405)


- Ranny Vania Hastuti (5D414318)

Kelompok : 7
Kelas

: 1IA26

PANCASILA SEBAGAI IDENTITAS DAN KARAKTER BANGSA

A. Pancasila Sebagai Identitas Nasional


Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasikan nilai-nilai budaya
yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (budaya) dengan ciriciri khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan
kehidupannya(wibisono koento:2005).
Globalisasi diartikan sebagai suatu era atau zaman yang di tandai dengan
perubahan tahanan kehidupan dunia akhirat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi sehingga interaksi manusia menjadi sempit, dunia tanpa ruang.
Paham nasionalisme atau paham kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan
dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas
nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat
perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial.
Integrasi nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu
masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan masyarakatmasyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa.
Integrasi nasional tidak lepas dari pengertian integrasi sosial yang mempunyai
arti perpaduan dari kelompok-kelompok masyarakat yang asalnya berbeda menjadi
suatu kelompok besar dengan cara melenyapkan perbedaan dan jati diri masing-masing.
Dalam arti ini, integrasi sosial sama artinya dengan asimilasi atau pembaharuan.
Revitalisasi Pancasila adalah pemberdayaan kembali kedudukan, fungsi dan
peranan pacasila sebagai dasar nagara, pandangan hidup, ideologi dan sumber nilai-nilai
bangsa Indonesia (Koento W,2005)
1. Karakteristik Identitas Nasional
Situasi dan kondisi masyarakat kita dewasa ini menghadapkan kita pada
suatu keprihatinan dan sekaligus juga mengundang kita untuk ikut bertanggung
jawab atas mosaik Indonesia yang retak bukan sebagai ukiran melainkan membelah
dan meretas jahitan busana tanah air, tercabik-cabik dalam kerusakan yang
menghilangkan keindahan. Untaian kata-kata dalam pengantar merupakan tamsilan,
bahwasannya bangsa indoneia yang dahulu dikenal sebagai het zachste wolk ter
aardedalam pergaulan antar bangsa, kini sedang mengalami (tidak saja krisis
identitas) melainkan juga krisis dalam berbagai dimensi kehidupan yang melahirkan
instabilitas berkepanjangan semenjak reformasi di gulirkan pada tahun 1998 (Koento
W, 2005).
Krisis moneter yang kemudian disusul krisis ekonomi dan politik, yang akarakarnya tertanam dalam krisis moral dan menjalar kedalam krisis budaya,

menjadikan masyarakat kita kehilangan orientasi nilai, hancur dan kasar, gersang
dalam kemiskinan busaya dan kekeringan spritual. Societal terorism muncul dan
berkembang di sana sini dalam fenomena pergolakan fisik, pembakaran dan
penjarahan disertai pembunuhan sebagaimana yang terjadi di Poso,Ambon,dan bom
bunuh diri di berbagai tempat yang di siarkan secara luas baik oleh media massa
didalam maupun di luar negeri. Semenjak peristiwa pergolakan antar etnis di
Kalimantan barat, bangsa Indonesia di forum internasional di lecehkan sebagai
bangsa yang telah kehilangan peradaban.
Kehalusan budi, sopan santun dalam sikap dan perbuatan, kerukunan,
toleransi dan soledaritas sosial, idiealisme dan sebagainya telah hilang hanyut
dilanda oleh derasnya oleh moderisasi dan globalisasi yang penuh paradoks.
Berbagai lembaga kocar kacir semuanya dalam malfungsi. Trust atau kepercayaan
antar sesama baik vertikal maupun horinzontal telah lenyap dalam kehidupan
masyarakat. Identitas nasional kita di lecehkan dan di pertanyakan eksistensinya.
Krisis multidemensi yang sedang melanda masyarakat meyadarkan kita semua
bahwa pelestarian budaya sebagai upaya untuk mengembangkan identitas Nasional
kita telah ditegaskan komitmen konstitusional sebagaimana dirumuskan oleh para
pendiri negara kita dalam pembukaa UUD 1945 yang intinya adalah memajukan
kebuyaan Indonesia. Dengan demikian,konstitusional pengembangan kebudayaan
untuk membina dan mengembangkan identitas nasional kita telah diberi dasar dan
arahnya.
2. Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa inggris, yaitu identity yang memiliki
pengertian harfiah ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang
atau sesuatu yang membedakan dengan yang lain. Dalam term antropologi ,indentitas
adalah sifat khas yang menerangkan dan dengan kesadaran diri pribadi sendiri,
golongan sendiri,kelompok sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini
identitas tidak terbatas pada individu semata tetapi berlaku pula pada kelompok lain.
Sedangkan kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok
kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti
budaya, agaman dan bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan.
Himpunan kelompok-kelompok inilah yanh kemudian disebut dengan istilah identitas
bangsa atau identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok
yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi
atribut-atribut nasional. Kata nasioanl sendiri tidak bisa dilepaskan dari kemunculan
konsep nasionalisme.
Bila dilihat dalam konteks Indonesia, maka identitas nasional itu merupakan
manifestasikan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai
aspek kehidupan dari ratusan sukudihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi
kebudayaan nasional dengan acuan pancasila dn ruhbhinneka tunggal ika sebagai
dasar dan arah pengembangannya. Dengan kata lain, hakikat identitas nasional kita
sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah adalah
pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penataan kehidupan kita dalam arti
luas. Misalnya dalam aturan perundang-undangan atau hukum, sistem pemerintahan
yang diharapkan, nilai-nilai budaya yang tercermin dalam identitas nasional tersebut
bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam pergaulan baik dalam kebekuan
normatif dan dogmatif melainkan sesuatu yang terbuka yang cenderung terus
menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat
pendukungnya. Konsekuensi dan implikasinya, bahwa identitas nasional adalah

sesuatu yang terbuka untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan
fungsional dalam kondisi aktual yang berkembang di masyarakat.
3. Unsur-Unsur Identitas Nasional
Identitas nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk.
Kemajemukan itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu
:
a. Suku bangsa adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askritif (ada
sejak lahir) yang sama coraknya dengan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia
terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang
300 dialek bahasa.
b. Agama, bangsa Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang agamis, agamaagama yang tumbuh dan berkembang di nusantara adalah agama islam,
kristen,katholik,hindu,budha dan kong hu cu. Agama kong hu cu pada masa
orde baru tidak diakui sebagai agama resmi negara namun sejak pemerintahan
presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan.
c. Kebudayaan, adalah pengetahuan manusia sebagai makhuk sosial yang isinya
adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif
digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami
lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk
bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan
lingkungan yang dihadapi.
d. Bahasa merupakan unssurr pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa di
pahami sebagai sistem perlambangan yang secara arbiter dibentuk atas unsurunsur bunyi ucapan manusia dan yang di gunakan sebagai sarana berinteraksi
antar manusia.
Dan unsur-unsur identitas nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya
menjadi 3 bagian, sebagai berikut.
a. Identitas fundamental: yaitu Pancasila yang merupakan falsafah bangsa, dasar
negara, dan ideologi negara.
b. Identitas instrumental : berisi UUD 1945 dan tata perundangannya, bahasa
Indonesia, lambang negara, bendera negara, lagu kebangsaan Indonesia Raya
c. Identitas alamiah: meliputi Negara Kepulauan (archipelago) dan pluralisme
dalam suku, bahasa, budaya dan agama serta kepercayaan (agama).
B. Keterkaitan Globalisasi Dengan Identitas Nasional
Era globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia
era globalisasi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka, telah datang dan mengeser nilainilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut dapat bersifat positif maupun yang bersifat
negatif. Semua ini merupakan ancaman, tantangan dan sekaligus sebagai peluang bagi
bangsa Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek kehidupan.
1. Pengaruh globalisasi
Di era globalisasi pergaulan antarbangsa semakn ketat. Batas antarnegara
hampir tidak ada artinya batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam
pergaulan, antar bangsa yang semakin kental itu, akan menjadi proses alkultural saling
meniru dan saling mempengaruhi antar budaya masing-masing. Hal yang perlu kita
cermati dari proses akulturasi tersebut, biasanya ditandai oleh dua faktor yaitu sebagai
berikut:

a. Semakin menonjolnya sikap individualitis yaitu mengeutamakan kepentingan


pribadi diatas kepentingan dengan azas gotong royong.
b. Semakin menonjolnya sikap mateialistis yang berarti harkat dan martabat
kemanusian diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam memperoleh
kekayaan. Hal ini berakibat bagaimana cara memperoleh menjadi tidak
dipersoalkan lagi, bila hal ini terjadi berarti etika dan moral dikesampingkan.
Arus informasi yang semakin pesan mengakibatkan akses masyarakat terhadap
nilai-nilai asing yang negatif semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung
maka akan berakibat lebih serius, sehingga pada puncaknya mereka tidak bangga
kepada bangsa negaranya.
Pengaruh negatif akibat proses akulturasi tersebut dapat meronsong nilai-nilai
yang telah ada di dalam masyarakat kita, jika semua ini dapat dibendung, maka akan
menganggu ketahanan di segala aspek, bahkan mengarah kepada kreditabilitas sebuah
ideologi. Untuk membendung arus globalisasi yang sangat deras tersebut, kita harus
berupaya untuk menciptakan suatu kondisi (konsepsi)agar ketahanan nasional dapat
terjaga, salah satunya dengan cara membangun sebuah konsep nasionalisme
kebanggsaan yang mengarah kepada konsep identitas nasional.
Dengan adanya globalisasi identitas hubungan masyarakat antara sutu negara
yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian kecenderungan munculnya
kejahatan yang bersifat tran-nasional menjadi semakin sering terjadi. Kejahatankejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah narkotika,pencucian uang,
peredaran dokumen keimigrasian palsu dan terorisme. Masalah-masalah tersebut
berpengaruh terhadap nilai-nilia budaya bangsa yang selama ini dijunjung tinggi
mulai memudar. Hal ini ditunjukkan dengan semakin merajalelanya peredaran
narkotika dan psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan moral bangsa
khususnya bagi generasi penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat di bendung
maka akan menganggu terhadap ketahanan nasional di segala aspek kehidupan bahkan
akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai identitas nasional.
2. Intregasi Nasional Indonesia dan Identitas Nasional
Masalah intregasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan
multidemensional. Untuk mewujudkannya,diperlukan keadilan dan kebijakan yang
ditetapkan oleh pemerintah,dengan tidak membedakan ras,suku,agama, bahasa,dan
sebagainya.Sebenarnya,upaya membagun keadilan, kesatuan dan persatuan bangsa
merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas politik, di samping
upaya lain seperti banyaknya ketertiban pemerintah dalam menentukan komposisi dan
mekanisme parlemen.
Dengan demikian, upaya intregasi nasional dengan strategi yang mantap perlu
terus dilakukan, agar terwujud intregasi bangsa Indonesia yang di inginkan. Upaya
pembangunan dan pembinaan intregasi nasional ini perlu, karena pada hakikatnya
intregasi nasional tidak lain menunjukan tingkat kuatnya persatuan dan kesatuan
bangsa inilah yang dapat menjamin terwujudnya negara yang makmur, aman dan
tentram. Jika melihat komflik yang terjadi di Aceh,Ambon,Kalimantan barat dan
Papua, hal ini merupakan cermin atas terwujudnya intregasi nasional yang di
harapkan.Sedangkan kaitannya dengan identitas nasional, bahwa adanya intrrgasi
nasional dapat menguatkan akar dari identitas nasional yang sedang di bangun.
3. Paham Nasionalisme/Kebangsaan
Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah
menjadi bentuk yang lebih komplek dan rumit. Dimulai dari tumbuhnya kesadaran

untuk menentukan nasib sendiri. Dikalangan bangsa-bangsa yang tertindas


kolonialisme dunia seoerti Indonesia salah satunya, sehingga melahirkan semangat
untuk mandiri dan bebas untuk menentukkan masa depannya sendiri. Dalam suatu
perjuangan perebutan kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai dasar
pembenaran nasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat
mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuag bangsa.
Dasar pembenaran tersebut, selanjutnya mengkritas dalam konsep paham
edelogi kebangsaan tersebut dengan nasionalisme. Dari sinilah kemudian lahir
konsep-konsep turunannya seperti bangsa,negara, dan gabungan keduanya menjadi
konsep negara-bangsa sebagai komponen-komponen yang membentuk identitas
nasional atau kebangsaan sehingga dapat di katakan bahwa paham nasionalisme atau
paham kebangsaan adalah sebuah situasi kejiwaan dimana kesetian seseorang secara
total diabadikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa.
Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan
bersama merebut kemerdekaan dari kecengkeraman kolonial.semangat nasionalisme
diharapkan secara efektif oleh para penganut nya dan dipakai sebagai metode
perlawanan dan alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan. Secara
garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang nasionalisme Indonesia. Sejalan
dengan naiknya pamor seokarno dengan menjadi presiden pertama RI, kecurigaan di
antara para tokoh pergerakan yang telah tumbuh saat-saat menjelang kemerdekaan
menjadi pola ketegangan politik yang lebih permanen, antara negara melalui figur
nasionalis soekarno di satu sisi, dengan para tokoh yang mewakil islam.
4. Paham Nasionalisme Kebangsaan Sebagai Konsep Identitas Nasional
Paham nasionalisme atau paham kebangsaan terbukti sangat efektif sebagai
alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial.semangat
nasionalisme dihadapkan secara efektif oleh para penganutnya dan dipakai sebagai
metode perlawanan, seperti yang di sampaikan oleh larry diamond dan marc f
plattner, bahwa para penganut nasionalisme dunia ketiga secara khas menggunakan
retortika anti kolonialisme dan anti imperalisme. Para pengikut nasionalisme tersebut
berkeyakinan, bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat di wujudkan
dalam sebuah identitas politik atau kepentingan bersama dalam bentuk bangsa.
Dengan demikian, bangsa atau nation merupakan suatu badan wadah yang di
dalamnya terhimpun orang-orang yang mempunyai persamaan keyakinan dan
persamaaan lain yang mereka miliki seperti ras, etnis,agama,bahasa dan budaya.
Unsur persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersamaan atau
untuk menentukan tujuan organisasi politik bersama atau untuk menentukan tujuan
organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitikyang terdiri atas populasi,
geografis, dan pemerintahan yang permanen yang di sebutnegara atau state.
Nation-state atau negara-bangsa merupakan sebuah bangsa yang memiliki
bangunan politik, seperti ketentuan-ketentuan perbatasan teritorial, pemerintahan
yang sah, pengakuan luar negeri dan sebagainya. Munculnya paham nasionalisme
atau paham kebangsaan Indonesia tidak bisa lepaskan dari situasi sosial politik dekade
pertama abad ke-20. Pada waktu itu semangat menentang kolonialisme belanda mulai
bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita bersama untuk merebut kemerdekaan
menjadi semangat umum di kalangan tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk
memformasikan bentuk nasionalisme yang sesuai dengan kondisi masyarakat
Indonesia.
Paham nasionalisme di Indonesia yang di sampaikan oleh soekarno, bukanlah
nasionalisme yang berwatak sempit, tiruan dari barat, atau berwatak chauvinism

nasioanalisme yang di kembangkan soekarno bersifat toleran, bercorak ketimuran dan


tidak agresif sebagaimana nasioanalisme yang di kembangkan di eropa. Selain
mengungkapkan keyakinan watak nasioanalisme yang penuh nilai-nilai kemanusiaan
juga meyakinan pihak-pihak yang berseberangan pandangan bahwa kelompok
nasional dapat berkerja sama dengan kelompok manapun bagi golongan islam
maupun marxis. Sekalipun soekarno seorang muslim tetapi tidak sekedar
mendasarkan pada perjuangan islam. Menurutnya kebijakkan ini merupakan pilihan
terbaik bagi kemerdekaan maupun bagi masa depan seluruh bangsa Indonesia.
Semangat nasionalisme soekarno tersebut mendapatkan respons dan dukungan luas
dari kalangan intelektual muda didikan barat, semisal Syahril dan muhammad Hatta
yang kemudian semakin berkembang paradigmanya sampai sekarang, dengan
munculnya konsep identitas nasional. Sehingga bisa dikatakan bahwa paham
nasionalisme atau kebangsaan disini merupakan refleksi dari identitas nasional.
Adanya perdebatan panjang tentang paham nasionalisme kebangsaan sangat
memprihatinkan. Mereka mempunyai kesepakatan perlunya paham nasionalisme
kebangsaan, namun dalam konteks yang berbeda mengenai masalah nilai atau watak
nasionalisme Indonesia.
C. Revitalisasi Pancasila sebagai Pemerdayaan Identitas Nasional
1. Revilitasasi Pancasila
Revilitasasi pancasila sebagaimana manifestasi identitas nasional, pada
giliranya harus diarahkan juga pada pembinaan dan pengembangan moral, sehingga
moralitas pancasila dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengatasi
krisis dan disentalisasi yang cenderung sudah menyentuh ke semua segi dan sendi
kehidupan.
Harus kita sadari, bahwa moralitas pancasila akan menjadi tanpa makna dan
menjadi sebuahkarikatur, apabila tidak disertai dukungan suasana kehidupan di
bidang hukum secara kondisif. Antara moralitas pancasila akan menjadi subjektivitas
yang satu sama lain akan saling berbenturan. Sebaliknya ketentuan hukum yang
disusun tanpa disertai dasar dan alasan moral, akan melahirkan suatu legalisme yang
represif, kontra-produktif dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri.
Dalam merevitalisasi pancasila sebagai manifestasi identitas nasional,
penyelenggaraan MPK hendaknya dikaitkan dengan wawasan berikut ini.
a. Spritural, untuk meletakkan landasan etik,moral,religius,sebagai dasar dan arah
pengembangan sesuatu profesi.
b. Akademis, untuk menunjukkan bahwa MPK merupakan aspek being yang tidak
kalah pentingnya bahwakan lebih penting daripada aspek having dalam kerangka
penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekedar intrumen melainkan
adalah subjek pembaharuhan dan pencerahan.
c. Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalismenya agar dalam
pergaulan antar bangsa tetap setia pada kepentingan bangsanya, bangga dan
respek kepada jatidirinya bangsanya yang memiliki idelogi sendiri.
d. Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia dan bangsa di masa kini siap
menghadapi dialetikanya perkembangan masyarakat dunia yangterbukamampu
untuk segera beradaptasi dengan perubahan yabg terus menerus terjadi dengan
cepat, dan mampu pula mencari jaln keluarnya sendiri dalam mengalami setiap
tantangan yang dihadapi, sebab dampak dan pengaruh perkembangan iptek yang
bukan lagi hanya sekedar sarana, melainkan telah menjadi suatu yang substantif

yang dalam kehidupan umat manusia bukan hanya sebagai tantangan melainkan
juga peluang untuk berkarya.

2. Pemerdayaan Identitas Nasional


Pemerdayaan identitas nasional perlu kita tempuh melalui revitalisasi
pancasila. Revitalisasi sebagai manifestasi identitas nasional mengandung makna
bahwa pancasila harus kita letakkan dalam keutuhannya dengan pembukaaannya
diexplorasikan dimensi-dimensi yang melekat padanya yang meliputi berikut ini.
a. Reyalitas : dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung didalamnya
dikonsentrasikan cerminan kondisi objektif yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat kamus utamanya,suatu rangkaian nilai-nilai yang bersifat sein im
sollen dan sollen im sein.
b. Idealitas : dalam arti bahwa idelemisme yang terkandung di dalamnya bukan lah
sekedar utopi tanpa makna melainkan di objektifasikan sebagai kata kerja untuk
membangkitkan gairah dan optisme para warga masyarakat guna melihat hari
depan secara profektif, menuju hari esok yang lebih baik, melalui seminar atau
gerakan dengan temarevitalisasi pancasila.
c. Fleksibilitas : dalam arti bahwa pancasila bukan lah barang jadi yang sudah
selesai dan tertutupmenjadi sesuatu yang sakral melainkan terbuka bagi tafsirtafsir yang baru untuk memenuhi kebutuhan zaman yang terus menerus
berkembang.Dengan demikian,tanpa kehilangan hakikinya,pancasila menjadi
tetap aktual,relevan serta fungsionalsebagai tiang-tiang penyanggabagi kehidupan
bangsa dan negara, dengan jiwa dan semangatnya Bhineka Tunggal Ika,
sebagaimana di kembangkan di Pusat Studio Pancasila (di UGM) ,Laboratorium
Pancasila ( di Universitas Malang).
Dengan demikian ,agar identitas nasional dapat di pahami oleh masyarakat
sebagai penerus tradisi dengan nilai-nilai yang di wariskan oleh nenek moyang kita,
maka pemerdayaan nilai-nilai harus bermakna dalam arti relevan, dan fungsional bagi
kondisi yang lagi berkembang dalam masyarakat. Perlu kita sadari, bahwa umat masa
kini hidup di abad ke XXI, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai baru yang tidak
saja berbeda, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai lama sebagaimana di
wariskanoleh nenek moyang dan dikembangkan para pendiri negara kita. Abad XXI
sebagai zaman baru, mengandung arti sebagai zaman dimana umat manusia semakin
sadar untuk berfikir dan bertindak secara baru.
Dengan kemamuan refleksinya,manusia menjadikan rasio sebagai mitos dan
sarana yang handal dalam bersikap dan bertindak memecahkan masalah yang dihadapi
dalam kehidupan. Kesasihan tradisi juga merupakan nilai-nilai spritual yang di anggap
sakral, kini dikritisikan dan di pertanyakan berdasarkan visi dan harapan tentang masa
depan yanglebih baik. Nilai-nilai budaya yang di ajarkan oleh nenek moyang kita
tidak hanya diwarisi sebagai barang yang sudah jadi yang berhenti dalam kebekuan
normatik dan nostalgik, melaikan ahrus di perjuangkan dan terus menerus harus kita
tumbuhkan dalan dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang dan berubah.
Dalam kondisi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang sedang dilanda
oleh arus krisis dan disintegrasi, maka pancasila tidak terhindar dari berbagai macam
gugatan, sinisme, serta pelecehan terhadap kredibilitas dirinya sebagai dasar negara
atau pun sebagai manifestasi identitas nasional. Namun demikian perlu segera kita
sadari, bahwa tanpa suatuplatfromdalam format dasar negara atau ideologi, maka

mustahil suatu negara akan dapat survive menghadapi berbagai tantangan dan
ancaman yang menyertai derasnya arus globalisasi yang melanda ke seluruh dunia.
Melalui revatilitasasi pancasila sebagai wujud pemberdayaan identitas
nasional inilah, maka identitas nasional dalam alur rasional-akademik tidak saja
berlaku dalam segi tekstual, melainkan juga segi konstekstual dieksplorasi sebagai
referensi kritik seterbukaan osial terhadap berbagai penyimpangan yang melanda
masyarakat dewasa ini. Untuk membentuk jati diri, maka nilai-nilai yang ada tersebut
harus di gali dulu, misalnya nilai-nilai agama yang datang dari tuhan dan nilai-nilai
yang lain misalnya gotong royong, pwrsatuan kesatuan, saling menghargai
menghormati hal ini sangat berarti dalam memperkuat rasa nasionalisme bangsa.
Dengan saling mengerti antar satu dengan yang lain, maka secara langsung akan
memperlihatkan jati diri bangsa kita yang akhirnya mewujudkan identitas nasional
kita.
Sementara itu mengembangkan jati diri bangsa dapat dimulai dari nilai nilai
yang harus di kembangkan , yaitu nilai nilai kejujuran , keterbukaan ,berani
mengambil resiko , harus bertanggung jawab terhadap apa yang boleh dilakukan ,
adanya kesepakatan dan terhadap sesama. Untuk itu , perlu perjuangan dan ketekunan
untuk menyatukan nilai , cipta , rasa dan karsa itu ( soemarno soedarsono )
Disinilah letak artinya pentingnya penyelangaraan MPK dalam kerangka
pendidikan tinggi , yaitu untuk mengembangkan dialog budaya dan dialog budaya
yang mengantarkan lahirnya generasi baru yang sadar dan terdidik dengan wawasan
nasional yang menjangkau jauh kemasa depan . MPK harus kita manfaatkan untuk
mengembalikan identitas naional yang dalam pergaulan antarbangsa dahulu, kita
kenal sebagai bangsa yang paling halus atau sopan dibumi het zachste volk ter
aerdr ( wibisono koento ; 2005 ) . nilai nilai budaya tersebut mempunyai asumsi
dasar. Bahwa menjadi bangsa Indonesia tidak sekedar masalah kelahiran saja , tetapi
juga sebuah pilihan yang rasional dan emosional yang otonom.
D. Pancasila Sebagai Karakter Bangsa
1. Pengertian Karakter Bangsa
Istilah karakter dapat diartikan sebagai sistem daya juang ( daya dorong , daya
gerak , dan gaya hidup ) yang berisikan tata nilai kebajikan dan moral yang berpatri
dalam diri manusia . tat nilai itu merupakan peroaduan aktualisasi potensi dari dalam
diri manusia serta internalisasi nilai nilai ahklak dengan moral dari luar ( lingkungan )
yang melandasi pemikiran , silkap , dan prilaku . dengan kata lain , karakter adalah
nilai kebajikan ahlak dan moral yang terpatri dan menjadi nilai instrinsik dalam diri
manusia yang melandasi pemikiran , sikap dan prilakunya .
Karakter bangsa adalah akumulasi atau sinergi dari karakter individu
individu warga bangsa yang berproses secara terus-menerus dan kemudian
mengelompok . karakter bangsa Indonesia merupakan kristilasasi nilai-nilainya
kehidupan nyata bangsa Indonesia yang merupakan perwujudan dan pengalaman
pancasila .
2. Identitas Nasional sebagai Karakter Bangsa
Secara etimologi , identitas berasal dari bahasa inggris , yaitu identity yang
memiliki pengertian ciri-ciri , tanda tanda atau jati diri yang melekat pada seseoran
atau seseuatu yang membedakan dengan yang lain .
Sedangkan kata nasional , merupakan identitas yang melekat pada kelompok
kelompok yang lebih besar dan diikat oleh kesamaan kesamaan, baik pisik seprti

budaya, agama , dan bahasa dan bhasa non fisik , seperti keingginan , cita-cita dan
tujuan , konsep identitas nasional pada akhirnya Kn melahirkan tindkan kelompok .
uang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan pergerakan yang di beri
atribut atribut nasional . kata nasionalsendiri tidak bisa dilepaskan dari kemunculan
konsep nasonalisme .
Manefistasi identitas nasional mengandung makkna , bahwa pancasila
merupakan cara dan pandangan hidup benbangsa . konsep tersebut harus di
eksplorasikan kedalam demensi demensi sebgai berikut :
a. Dimensi realitas
Nilai nilai yang terkandung dalam pancasila harus diwujudkan sebagai
cermin kondisiyang objektif tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sekolah.
b. Dimensi idealitas
Idialisme yang terkandung didalam pancasila , bukan lah sekedar utofia
tampa makna , melainkan nilai-nilai yang hidup ,tumbuh dn berkenbang dalam
masyarakat Indonesia yang dapat membangkitkan optimisme para siswa guna
melihat hari depan secara prospektif , menuju hari esok yang lebih baik .
c. Dimensi fleksibilitas
Pancasila bukanlah barang jadi , yang sudah selesai dan tertutup
menjadi suatu yang sakral , melainkan bagi pemikiran baru untuk memenuhi
jaman yang terus menerus berkembang .
3. Nasionalisme Sebagai Karakter Bangsa
Pada hakikatnya , nasionalisme merupakan paham kebansaan yang tumbuh
karena perasaan perasaan sebnasib dan sepenanggungan yang senantiasa
mendahulukan kepentingan bersama ( nasional ) diatas kepentingan individu atau
kelompok dengan semangat kebangsaan nasinalisme, di harapkan bangsa Indonesia
bangkit dan berstau untuk membangun negeri dengan kekukuatan dan kemampuan
sendiri , serta tetap berpedoman dalam pancasila dan uud 1945 .dalam kontek
pembangunan bangsa , nasionalisme yang di butuhkan adalah sebuah sikap
nasionalisme yang mengutamakan etika , moral agama , keadilan , kadababan , dan
persatuan demokrasi , dan kemanusiaan .
Pertamakali munculnya paham nasionalisme Indonesia , terfokus dalam tiga
hal pokok , yaitu identitas kebangsaan atau keIndonesiaan , identitas primoldial atas
tanah dan air , dan identitas primoldial atas bahsa dan persatuan ( bahasa tercermin
dalam Indonesia ) identitas nasional pada awalnyamerupakan ide dan semangat
gerakan pemuda pemuda yang berhasil mendeklarasikan sumpah pemuda pada
tanggal 28 oktober 1928 saat itu lah pertama kali identitas nasional mumcul secara
tegas . sejak itu kesadran nasinal semakin meluas , kemudian identitas itu mengkriistal
menjadi satu asas dari falsafah negara, yaitu pancasila , khususnya sila persatuan
Indonesia .
Identitas nasional pada hkikatnya merupakan manisfestasi nilai-nilai budaya
yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan adari ratusan suku
bangsa . identitas nasional tersebut dihimpun dalam acuan pancasila dan rohnya
adalah bhinika tunggalika yang menjdai dasar arah perkembngannya . nilai nilai
buday yang tercermin dalam identitas nasional merupakn suatu besifat terbuka dan
berkembang menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyrakat pendukungnya .
4. Nilai Nilai Pembentukan Karakter Bangsa
a. Keimanan dan Ketakwaan

Manusia yang bertakwa adalah manusia yang melaksanakan perintah


tuhan yang maha esa serta menjauhi semua laranganny a. Ia taat melaksanakan
ibadah selalu berbuat amal kebaikan , menjaga hubungan baik dengan
sesamagemar bersedekah danyan jujur .selain itu menjauhkan diri dari perbuatan
dosadan tercela , misalnya berudi , memfitnah , menuri dan minum minuman
keras dan sebagainya.
b. Kejujuran
Kejujuran menumbuhkan sikap danperilaku yang mengedepankan
ketaatan terhadap nilai-nilai dan norma norma yang berlaku sehimgga berkata
dan berbuat apaadanya oleh kelarna itu nilai kejujuran harus terus ditumbuhkan
kembangkan dan di imlpementasikan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa
dan bernegara
c.

Kedisplinan
Kedisplinan merupakan kepatuhan seseorang pada norma dan peraturan
yang berlaku , dengan demikian masyarakat Indonesia sudah memilikikebiasaan
untuk menaati berbagai peratuturan yang berlaku .

d. Keikhlasan
Keiklasan merupakan menumbuhkan sikap dan tindakan setia yang secara
sadar berbuat sesuaii dengan hati nurani tanpa pamrih . keiklasan menurut ajaran
agama dalah bersedia secara sadar mematuhi dan melaksanakn ajaran atau
perintah tuhan serta menjauhi larangan.
e.

Tanggung Jawab
Dalam setiap tugas dan kewajiban selalu diikuti oleh adanya tanggung
jawab baik tanggung jawab secara moral kepada tuhan YME .

f.

Persatuan
Menempatkan persatuan dan persatuan bangsa diatas kepentingan pribadi
atau golongan . persatuan dan kesatuan dikembangkan dengan memajukan
pergaulan atas dasar bhinika tunggal ika .

g.

Saling Menghormati
Sikap saling menghormati sudah mengakar dan membudaya dalam
masyarakat Indonesia m sikap ini sebagai perekat terhadap budaya atau tradisi
budaya yang berbeda diberbagai daerah.
h. Toleransi
Dalam berkehidupan beragama , bangsa Indonesia menganut agama dan
keyakianan yang berbeda beda , agar terpelihara hidup rukun dan damai dalam
pergaulan hidup masyarakat , berbangsa , dan beragama .
i.

Gotong Royong
Gotong royong adalah suatu pekerjaabn yang dilakukan bersama sama ,
tanpa pamrih untuk menyelesaikan , suatu kegiatan yang hasilnya dapat
bermanfaat bagi semua orang yang dilandasi rasa kekeluargaan .

j.

Musyawarah

Musyawarah merupakan prosespengambilan keputusan yang dilakukan


atikenikenal as dasar kesepaktan bersama untuk menyelesaikan suatu
permasalahan .
k. Kerja sama
Kerja sama merupakan ciri khas Indonesia yang diwujudkan dalam
berbagai kehidupan , mulai dari kehidupan keluarga , masyaraat , bangsa dan
negara .
l.

Ramah tamah
Bangsa Indonesia dikenal dengan bangsa Indonesia yang ramah tamah ,
yang diartikan sebagai sifat baik hati , baik budi , santun dalam tutur kata, suka
bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan .

m. Keserasian
Pada dasarnya kesejahteraan sikap tangguh , terus berjuang meskiraan dan
kebahagiaan hidup manusia akan dapat dicapai apabila terdapat keserasian
hubungan antara dirinya dengan tuhan YME .
n. Patriotisme
Patriotisme adalah sikap mental yang dilandasi oleh rasa cinta , siap
membela dan rela berkorban untuk tanah air , bangsa Indonesia dan negara .
o.

Kesederhanaan
Keserdahanaan merupakan sikap mental yang rendah hati dan bersifat
sosial , tingkah laku atau penampilan serta tutur kata selaku bersahaja . sikap
sederhana ini merupakan karakter dari para pejuang bangsa dalam rangka
mewujudkan dan mengisi kemerdekaan .
p. Martabat dan Harga Diri
Martabat merupakan tingkatan harga harkat manusia , kedudukan yang
terhormat .harga diri adalah nilai diri , nilai manusia .
q. Kerja keras
Kerja keras merupakan prilaku ynag mewujudkan upaya sungguhsungguh dalam mencapai sesuatu yang diharapkan .
r.

Pantang Menyerah
Pantang menyerah merupakan sikap tanggguh , terus berjuang meskipun
menghadapi berbagai rintangan dan tantangan .

5. Pembangunan karakter bangsa


Pembangunan karakter dapat dilakukan dengan membentuk kebiasaan (habits
forming) khususnya penanaman kebiasaan baik. Pembangunankarekter sangat
dipengaruhi oleh lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
yang meluas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pembangunan karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dapat
dilakukan dalam berbagai aktivitas, di antara seperti berikut ini.
a. Kepedulian sosial

Orang berkarakter tidak hanya sekedar peduli, tetapi juga mau


mengulurkan tangan dan memiliki sensitivitas sosial, orang yang berkarakter
selalu mengembangkan simpati dan empati terhadap orang lain.
b.

Melindungi dan menjaga hubungan baik


Orang berkarakter akan selalu berusaha untuk melindungi, dan menjaga
hubungan baik dengan orang lain.

c.

Mengembangkan sifat berbagai, bekerja sama lain dan adil


Orang berkarakter akan berusaha untuk berbagi, berkerja sama dan
bersikap adil terhadap orang lain.

d.

Mengedepankan sifat jujur


Orang yang berkarakter senang mengedepankan sikap dan prilaku yang
dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran.

e.

Mengedepankan moral dan etika


Orang yang berkarakter senantiasa mengedepankan moral dan etika dalam
menjalin hubungan dengan sesama.

f.

Mampu mengontrol dan introspeksi diri


Orang yang berkarakter senantiasa mampu mengontrol dan introspeksi
diri dalam sikap dan perilaku dalam menjalin hubungan dengan yang lain.

g.

Pribadi yang suka menolong dan membantu orang lain


Orang yang berkarakter senantiasa mengedepankan perilaku suka
menolong dan membantu orang lain.

h.

Mampu menyelesaikan masalah dan konflik sosial.


Orang yang berkarakter akan selalu berusaha untuk menyelesaikan
masalah atau konflik yang terjadi dengan cara arif dan bijaksana.

Pembangunan karakter dapat dilakukan melalui proses pembelajaran dan pengalaman


dalam menghadapi berbagai rintangan hambatan, rintangan, ancaman dan gangguan dalam
pembanguanan bangsa dan negara. Membangunan karakter dapat menghasilkan jiwa yang
kuat, visi yang jauh ke depan dan jernih, inspiratif dan usaha keras untuk meraih kesuksesan.