Anda di halaman 1dari 9

GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG DISMENOREA DAN PENANGANAN

DISMENOREA PADA SISWI MTS MAARIF NYATNYONO


KABUPATEN SEMARANG
Umi Mustaqimah1), Widayati 2), Puji Pranowowati3)
Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo
Email : up2m@akbidngudiwaluyo
ABSTRAK
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG DISMENOREA DAN PENANGANAN
DISMENOREA PADA SISWI MTS MAARIF NYATNYONO KABUPATEN SEMARANG.
Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting bagi remaja. Perubahan paling awal pada remaja
adalah mulai mengalami menstruasi, yang dapat menimbulkan dismenorea. Dismenorea yang dapat
mengganggu aktivitas belajar serta secara tidak langsung juga dapat menimbulkan penanganan pada
dismenorea. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan November 2012 di MTs.
Nyatnyono Ungaran dari 10 siswi sebanyak 80% (8 siswi) mengalami dismenorea dan hanya 4
siswi yang hanya dapat menjelaskan pengertian tentang nyeri haid dan 8 siswi melakukan
penanganan yang berbeda.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang dismenorea dan
penanganan dismenorea pada siswi MTs. Nyatnyono Ungaran.
Desain penelitian yang digunakan diskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya yaitu
siswi Mts Maarif kabupaten Semarang sejumlah 154 responden. Sampelnya yaitu siwsi yang sudah
menstruasi dan mengalami dismenorea. Pengambilan sampel secara stratified random sampling,
sebesar 61 responden. Variabel pengetahuan tentang dismenorea dan penanganan dismenorea.
Pengumpulan data secara langsung menggunakan kuesioner. Data diolah dengan cara editing,
scoring, coding, tabulating, ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi.
Simpulan penelitian ini adalah sebagian besar pengetahuan diperoleh dengan kategori baik yaitu 49,
2%, sedangkan pada penanganan dismenorea diperoleh penanganan tertinggi yaitu hanya istirahat
sejumlah 23,0%.
Kata kunci
Referensi

: pengetahuan, penanganan dismenorea


: 28 (2003-2010)

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

Umi Mustaqimah1), Widayati 2), Puji Pranowowati3)


Midwifery Academy of Ngudi Waluyo
Email : up2m@akbidngudiwaluyo
ABSTRACT
DESCRIPTIVE STUDY ON KNOWLEDGE ABOUT DYSMENORRHOEA AND
DYSMENORRHOEA MANAGEMENT OF FEMALE STUDENT OF NYATNYONO
ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL SEMARANG REGENCY. Reproductive health is an
important issue for adolescents. The earliest changes in adolescents are starting to menstruate,
which can cause dysmenorrhea. Dysmenorrhoea which can interfere with learning and activities
indirectly can also cause management on dysmenorrhoea. Based on a preliminary study conducted
in November 2012 in the Nyatnyono Islamic Junior High School Semarang regency of 10 students
as much as 80% (8 students) experienced dysmenorrhoea and only 4 girls who only can explain the
meaning of menstrual pain and 8 girls performed different management.
This study aimed to describe the knowledge of dysmenorrhoea and treatment of dysmenorrhoea in
female students of Nyatnyono Islamic Junior High School Semarang regency.
The research used descriptive study design with cross sectional approach. The popolasi was female
student of Nyatnyono Islamic Junior High School Semarang Regency were 154. The sample was
female student who menstruations and experience dysmenorrhea. Sampling used was stratified
random sampling, by 61 respondents. Variable knowledge of dysmenorrhoea and management of
dysmenorrhoea. Collecting data used was primery data using questionnaires. The data were
processed by editing, scoring, coding, tabulating, shown in the frequency distribution table.
Conclusions of this study was the most knowledge gained by either category is 49, 2%, while the
handling of management of dysmenorrhoea obtained the highest number of breaks is only 23,0%.
Keywords
Reference

: knowledge, management of dysmenorrhoea


: 28 (2003-2010)
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kesehatan
reproduksi
adalah
kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang
utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi,
fungsi serta prosesnya (WHO).
Menstruasi merupakan bagian dari
proses reguler yang mempersiapkan wanita
setiap bulannya untuk kehamilan (Keikos,
2007). Kebanyakan wanita tidak merasakan
gejala-gejala pada waktu menstruasi, tetapi
sebagian kecil merasa berat di panggul atau
merasa nyeri (Prawiroharjo, 2007).
Menstruasi yang merupakan salah satu
hal yang bersifat fisiologis, biasanya juga
disertai dengan adanya gangguan yang
2

dinamakan dengan dismenorea. Dismenorea


adalah rasa nyeri pada waktu menstruasi.
Nyeri haid atau dismenorea biasanya terasa
dibagian bawah perut, punggung, bahu,
pinggang dan menyebar ke paha sampai kaki
dismenorea dapat terjadi sebelum, selama dan
sesudah menstruasi dapat bersifat kolik atau
terus menerus (Sastrawinata, 2004).
Dismenorea atau nyeri haid menurut
etiologinya dibagi menjadi dua, yaitu
dismenorea primer dan dismenorea sekunder.
Dismenorea primer biasanya dirasakan oleh
remaja sejak pertama kali haid, nyeri haid ini
disebabkan oleh vaktor fisiologis. Dismenorea
sekunder biasanya terjadi karena adanya
kelainan atau adanya penyakit di kandungan
(William, 2003).
Sekitar 50% dari wanita yang sedang
haid mengalami dismenorea dan 10% nya
mempunyai gejala yang hebat sehingga

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

memerlukannya istirahat di tempat tidur


(Hacker, 2007). Menurut beberapa laporan
internasional prevalensi dismenorea sangat
tinggi dan setidaknya 50% remaja putri
mengalami dismenorea sepanjang tahuntahun reproduktif.
Hasil studi terbaru menunjukan bahwa
hampir 10% remaja yang dismenorea
mengalami absen sekolah dan absen kerja 1-3
hari per bulan atau ketidakmampuan remaja
dalam melakukan tugasnya sehari- hari akibat
nyeri hebat (Poureslami, dkk dalam Sulastri
2006). Hal ini diperkuat oleh Jarret, dkk
dalam Sulastri (2006) tingkatan rasa sakit saat
menstruasi adalah sakit ringan 47,7% dan
sakit berat sebanyak 47%. Selanjutnya untuk
menghilangkan rasa sakit, remaja tersebut
menggunakan obat sendiri tanpa konsultasi
dengan dokter, minum obat analgesik 32,5%,
melakukan kompres dengan air panas 34%
dan yang tersering melakukan istirahat sekitar
92%.
Angka
kejadian
dismenorea
di
Indonesia sebesar 64,25 % yang terdiri dari
54,89 % dismenorea primer dan 9,36 %
dismenorea sekunder. Tidak ada angka yang
pasti mengenai penderita nyeri haid di
Indonesia, namun di Surabaya di dapatkan
1,07 % sampai 1,31 % dari jumlah penderita
datang ke bagian kebidanan (Harunriyanto,
2004).
Berdasarkan studi pendahuluan pada
siswi kelas XI di MTs Maarif Nyatnyono
Ungaran Kabupaten Semarang didapatkan
hasil bahwa dari 10 siswi terdapat 8 siswi
yang mengalami nyeri pada saat menstruasi
dan 4 siswi yang mengerti tentang dismenorea
dengan pengetahuan yang kurang yaitu siswi
tersebut hanya mampu mengetahui pengertian
dan penanganan dismenorea. 8 siswi tersebut
di dapatkan 3 siswi yang mengupayakan
penanganan dismenorea dengan mengoleskan
minyak kayu putih pada daerah nyeri, 2 siswi
yang melakukan penanganan minum obat
pengurang rasa sakit, dan 3 siswi lain
melakukan penanganan dismenorea dengan
istirahat.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul Gambaran pengetahuan tentang
dismenorea dan penanganan dismenorea pada
3

siswi MTs MaArif Nyatnyono Kabupaten


Semarang.
METODE PENELITIAN
Jenis
penelitian
ini
merupakan
penelitian deskriptif yaitu penelitian yang
dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan,
kondisi atau hal lain-lain yang sudah
disebutkan yang hasilnya dipaparkan dalam
bentuk laporan penelitian.
Penelitian telah dilaksanakan pada
bulan Juni 2013 dengan jumlah populasi
seluruh siswi kelas VII dan kelad MTs
Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang
pada bulan Juni 2013. Penelitian ini
menggunakan teknik stratified rondom
sampling.
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini berupa kuesioner pengetahuan
tentang dismenorea. Pertanyaan penelitian
terdiri dari pertanyaan favourable dengan
skor 0 untuk jawaban salah dan skor 1 untuk
jawaban benar.
Analisis data ini peneliti menggunakan
analisis univariate dan dinyatakan dalam
bentuk distribusi frekuensi dan persentase
kemudian dianalisis secara univariat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Penelitian yang dilakukan pada siswi
MTs.
Maarif
Nyatnyono
Kabupaten
Semarang ini, telah dilaksanakan pada tanggal
20 Juni 2013. Penelitian menggunakan
responden sebanyak 61 siswi yang telah
memenuhi kriteria. Kegiatan penelitian
tersebut, didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Gambaran
pengetahuan
tentang
dismenorea pada siswi MTs Maarif
Nyatnyono Kabupaten Semarang.

Tabel 1. Distribusi
Pengetahuan
tentang Dismenorea pada

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

Siswi MTs Maarif Nyatnyono


Kabupaten Semarang
Pengetahuan
N
%
Kurang
10
16,4
Cukup
21
34,4
Baik
30
49,2
Jumlah
61
100,0
Tabel 1. menunjukkan bahwa
sebagian besar pengetahuan tentang
dismenorea tergolong baik yaitu sejumlah
30 siswi (49,2 %) dan responden yang
menunjukkan paling sedikit tergolong
berpengetahuan kurang yaitu sejumlah 10
siswi (16,4 %) .
2. Gambaran Penanganan dismenorea pada
siswi MTs Maarif Nytnyono Kabupaten
Semarang
Tabel 2. Distribusi
Penanganan
Dismenorea pada Siswi MTs
Maarif
Nyatnyono
Kabupaten Semarang
Bentuk penanganan
N
%
1. Minum obat
2
3,3
2. Istirahat (tidur)
14
23,0
3. olahraga
3
4,9
4. kompres hangat
2
3,3
5. pemijatan (masase)
2
3,3
6. minum obat dan istirahat
5
8,2
7. minum obat dan olahraga
1
1,6
8. minum
obat
dan 2
3,3
pemijatan (masase)
9. istirahat
(tidur)
dan 3
4,9
olahraga
10. istirahat
(tidur)
dan 3
4,9
kompres hangat
11. istirahat
(tidur)
dan 9
14,8
pemijatan(masase)
12. olahraga dan kompres 1
1,6
hangat
13. kompres hangat dan 1
1,6
pemijatan (masase)
14. minum obat, istirahat dan 1
1,6
kompres hangat
15. minum obat, istirahat dan 5
8,2
pemijatan (masase)
16. minum obat, olahraga dan 2
3,3
pemijatan (masase)
17. istirahat, kompres hangat 2
3,3
dan pemijatan (masase)
18. minum obat, istirahat, 1
1,6
kompres hangat, dan
4

Bentuk penanganan
pemijatan (masase)
19. minum obat, olahraga,
kompres hangat, dan
pemijatan (masase)
20. istirahat,
olahraga,
kompres hangat, dan
pemijatan (masase)
Jumlah

1,6

1,6

61

100,0

Tabel 2. menunjukkan bahwa


sebagian besar responden menangani
dismenorea dengan hanya beristirahat
(tidur) yaitu sejumlah 14 siswi (23,0 %)
dari 61 siswi, dan sedangkan penanganan
kombinasi yang dilakukan responden
sebagian
besar
ditunjukkan
pada
penangnan istirahat dan tidur yaitu
sejumlah 9 siswi (14,8 %).
Pembahasan
1. Gambaran
pengetahuan
tentang
dismenorea pada siswi MTs Maarif
Nyatnyono Kabupaten Semarang.
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa sebagian besar
pengetahuan
tentang dismenorea pada siswi dalam
kategori baik yaitu 30 dari 61 responden
(49,2 %). Siswi dengan kategori baik pada
tingkat pengetahuan tentang dismenorea,
siswi mampu mengetahui tentang
pengertian, klasifikasi, penyebab dan
penanganan
dismenorea,
yang
ditunjukkan
dengan
kemampuan
responden menjawab 76% -100% jawaban
benar. Hal itu sesuai, dengan teori yang
dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007),
bahwa pengetahuan merupakan hasil dari
tahu untuk terbentuknya tindakan
seseorang yang mencakup kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pengetahuan yang dilihat dari kemampuan
kognitif seseorang mencakup kemampuan
untuk
mengetahui,
memahami,
mengaplikasi, menganalisis, mensintesis
dan mengevaluasi suatu hal.
Pengetahuan
adalah
hasil
penginderaan manusia atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra
yang dimilikinya (mata, hidung, telinga
dan
sebagainya).
Sebagian
besar

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

pengetahuan seseorang diperoleh melalui


indera pendengaran (telinga) dan indera
penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005).
Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui pendidikan, pengalaman
sendiri maupun pengalaman yang didapat
dari orang lain, sehingga pengetahuan
sangat penting untuk membentuk perilaku
seseorang. Perilaku yang
didasari
pengetahuan tersebut lebih permanent
dianut oleh seseorang daripada perilaku
yang
tidak
didasari
pengetahuan
(Notoadmodjo, 2005).
Beberapa
faktor
lain
yang
mempengaruhi
pengetahuan
adalah
tempat tinggal dan sumber informasi.
Tempat tinggal merupakan tempat
menetap
responden
seharihari.
Pengetahuan seseorang akan lebih jika
berada pada lingkungan yang ramai dan
bermacam- macam seperti di perkotaan,
karena di lingkungan yang ramai dan
bermacam- macam mempunyai keluasan
kesempatan untuk melibatkan diri dalam
kegiatan sosial maka wawasan sosial
makin kuat dan mudah mendapatkan
informasi (Hurlock, 2002). Sumber
informasi juga akan mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang, bila
seseorang banyak memperoleh informasi
maka cenderung untuk mempunyai
pengetahuan
yang
lebih
luas
(Notoadmodjo, 2003).
Hasil penelitian ini, pada responden
dengan kategori baik didapatkan karena
pendidikan yang baik serta sumber
informasi
dimana
yang
dapat
mempengaruhi
tingkat
pengetahuan
tersebut. Kategori pengatahuan yang baik
tersebut didapatkan dari penyuluhan
mahasiswa
AKBID
Abdi
Hudasa
Semarang tentang menstruasi dan
masalahnya
di
MTs.
Nyatnyono.
Pengetahuan dengan ketegorikbaik ini
didapatkan karena siswa menangkap
penjelasan dan memperhatikan pendidikan
dan informasi tersebut, sedangkan pada
pengetahuan yang kurang didapatkan
karena kurangnya pada pendidikan, serta
kurangnya informasi tentang pengetahuan
dismenorea. Kategorik pengetahuan yang
kurang tersebut dikarenakan siswa yang
5

tidak dan kurang memperhatikan pada


pendidikan dan informasi penyuluhan
tersebut.
2. Gambaran penanganan dismenorea pada
siswi Mts. Maarif Nyatnyono Kabupaten
Semarang.
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa perilaku kesehatan menurut
Notoatmodjo (2007) adalah bentuk respon
seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit, penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan.
Pernyataan
yang
dikemukakan oleh Notoatmodjo tersebut,
yang
dimaksud
dengan
perilaku
penanganan dismenorea adalah bentuk
respon seseorang terhadap keluhan
dismenorea yang dirasakannya untuk
menangani keluhan tersebut. Beragam
cara penanganan dismenorea telah
dilakukan oleh sebagian besar siswi. Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
penanganan dismenorea dilakukan untuk
mengurangi rasa nyeri agar tidak semakin
parah, sehingga tidak mengganggu
aktifitas sehari-hari. Penanganan yang
dilakukan untuk mengurangi nyeri yaitu
meliputi
beristirahat,
memberikan
pengobatan,
melakukan
pemijatan
(massase) pada daerah yang nyeri,
melakukan olahraga secara rutin, serta
melakukan
pengompresan
dengan
kompres hangat pada daerah yang nyeri.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Kartono (2006), bahwa penanganan yang
kurang tepat membuat remaja putri selalu
mengalaminya
setiap
siklus
menstruasinya.
Berdasarkan hasil penelitian, pada
siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten
Semarang telah melakukan penanganan
dismenorea yang didasarkan pada cara
berfikir dan bersikap positif tentang
keluhan dismenorea yang dialaminya,
sehingga terbentuk perilaku berupa
pemberian kompres hangat, olah raga
teratur dan istirahat, melakukan pemijatan
(massase) pada daerah yang nyeri, dan
pengkonsumsian obat analgetik. Hal itu
sesuai pendapat Wiknjosastro (2007)
bahwa, untuk menurunkan angka kejadian
dismenorea dan mencegah keadaan

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

dismenorea tidak bertambah berat,


beberapa usaha dapat dilakukan seperti
penerangan dan nasihat, pemberian obat
analgesik, terapi hormonal dan terapi obat
nonsteroid
antiprostaglandin
sesuai
dengan petunjuk dokter.
Tabel
2.
pada
penanganan
dismenorea diperlihatkan bahwa sebagian
besar siswi, yaitu sebanyak 14 (23,0 %)
siswi beristirahat untuk menangani
dismenorea yang dirasakan secara
mandiri. Istirahat
tersebut dilakukan
dengan cara tiduran yang berguna untuk
membuat rileks, sehingga mengurangi
rasa nyeri pada daerah perut bagian bawah
dan pinggang sebelah belakang. Hal ini
sesuai dengan pendapat Asmadi (2008)
bahwa
istirahat
dapat
membantu
merilekskan otot-otot dan sistem saraf.
Semakin lama melakukan istirahat maka,
semakin baik dan merasa rileks.
Istirahat dan tidur menurut Asmadi
(2008) merupakan kebutuhan dasar yang
mutlak harus dipenuhi oleh semua orang.
Istirahat dan tidur yang cukup, akan
membuat tubuh baru dapat berfungsi
secara optimal. Istirahat berarti suatu
keadaan tenang, relaks, tanpa tekanan
emosional, dan bebas dari perasaan
gelisah.
Tidur adalah status perubahan
kesadaran ketika persepsi dan reaksi
individu terhadap lingkungan menurun.
Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas
fisik yang minimal, tingkat kesadaran
yang bervariasi, perubahan proses
fisiologis tubuh, dan penurunan respon
terhadap stimulus eksternal. Hal tersebut
didasarkan pada keyakinan bahwa tidur
dapat memulihkan atau mengistirahatkan
fisik setelah seharian beraktivitas,
mengurangi stres dan kecemasan, serta
dapat meningkatkan kemampuan dan
konsenterasi saat hendak melakukan
aktivitas sehari-hari (hidayat, 2003).
Penelitian juga didapatkan hasil
penanganan kombinasi terbanyak terdapat
pada penanganan istirahat (tidur) dan
pemijatan
(masase),
dimana
pada
penanganan ini antara istirahat dan
pemijatan mempunyai makna yang sama
6

yaitu membantu merilekskan otot-otot dan


sistem saraf.
Menurut Bare dan Smeltzer (2001)
penanganan nyeri secara nonfarmakologis
salah satunya yaitu stimulasi dan masase.
Masase adalah stimulus kutaneus tubuh
secara umum. Masase ini dilakukan pada
daerah yang nyeri yang meliputi bagian
bawah perut, punggung, bahu, pinggang,
sampai ke paha. Masase dapat membuat
pasien lebih nyaman karena masase
membuat relaksasi otot.
Penelitian penanganan kombinasi
tertinggi yang didapatkan karena pada
istirahat dan melakukan pemijatan
(masase) didaerah yang nyeri dapat
dilakukan secara bersamaan serta lebih
menghemat biaya dan tenaga, sehingga
penanganan tersebut dapat dilakukan
peribadi.
Tabel pada penanganan dismenorea
diperlihatkan bahwa sebagian terdapat
siswi yang melakukan penanganan dengan
farmakologi, yaitu didapatkan 2 siswi
melakukan penanganan hanya dengan
minum obat. Penggunaan obat analgenik,
obat-obatan anti radang dan diuretik
digunakan untuk merelaksasi uterus.
Menurut Potter dan Perry (2005),
upaya farmakologis yang dapat dilakukan
dengan memberikan obat analgesic hanya
sebagai penghilang rasa sakit. Menurut
Bare & Smeltzer (2001), penanganan
nyeri yang dialami oleh individu dapat
melalui
intervensi
farmakologis,
dilakukan kolaborasi dengan dokter atau
pemberi perawatan utama lainnya pada
pasien. Obat-obatan ini dapat menurunkan
nyeri
dan
menghambat
produksi
prostaglandin dari jaringan-jaringan yang
mengalami trauma dan inflamasi yang
menghambat reseptor nyeri untuk menjadi
sensitive terhadap stimulus menyakitkan
sebelumnya, contoh obat anti inflamasi
nonsteroid adalah aspirin, ibuprofen.
Penelitian
penanganan
tentang
dismenorea diketahui bahwa sebanyak 61
responden (100%) siswi telah melakukan
penanganan untuk menangani dismenorea.
Perilaku tersebut ditunjukkan dari
kesadaran
siswi
untuk
selalu
memperhatikan
rasa
nyeri
yang

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

dirasakannya ketika menstruasi. kesadaran


siswi tersebut, muncullah rasa ketertarikan
untuk mengetahui penyebab dan tindakan
yang dapat dilakukan untuk menangani
keluhan dismenorea yang mereka rasakan
sehingga pada akhirnya mereka dapat
menerima kondisi tersebut. Notoatmodjo
(2007), menyatakan bahwa perilaku
penanganan dismenorea yang dilakukan
oleh para siswi terbentuk karena adanya
suatu
proses
tahapan
awareness
(kesadaran), interest (merasa senang),
evaluation (menimbang-nimbang), trial
(mencoba), adaptation (menerima) pada
diri seseorang.
Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh jarret, dkk yang
terdapat dalam sulastri (2006), yang
menyatakan bahwa ada tingkatan rasa
sakit saat menstruasi yaitu sakit ringan
dan sakit berat, selanjutnya untuk
menghilangkan rasa sakit, remaja tersebut
menggunakan
obat
sendiri
tanpa
konsultasi dengan dokter, minum obat
analgesik 32,5 %, melakukan kompres
dengan air panas 34 % dan yang tersering
melakukan istirahat sekitar 92 %.
Perlunya penjelasan pada remaja tentang
dismenore bahwa dismenorea adalah
gangguan
tidak
berbahaya
untuk
kesehatan, tetapi perlu adanya penanganan
agar tidak menganggu aktivitas, sehingga
perlunya diadakan penjelasan dan diskusi
mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan
ataupun lingkungan. Informasi mengenai
haid atau adanya tabu atau tahayul
mengenai haid perlu di bicarakan,
sehingga remaja putri mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang apa itu
dismenorea dan apa yang harus dilakukan
jika terjadi dismenorea.
Dismenorea adalah nyeri perut yang
berasal dari kram rahim dan terjadi selama
menstruasi (Imew, 2007). Penanganan
adalah proses, cara, perbuatan menangani,
jadi Penanganan dismenorea adalah
perawatan
yang
diberikan
untuk
mengatasi dismenorea pada remaja
maupun dewasa. Proverawati, Misaroh,
dan Wijayanti (2009) menyatakan, bahwa
penanganan dismenorea dapat diberikan
dengan berbagai cara, seperti :
7

a. Pemberian Obat Analgetik


b. Istirahat untuk memberikan rileksasi.
c. Olahraga,
untuk
meningkatkan
kebugaran.
d. Memberikan
terapi
dengan
mengompres bagian perut yang nyeri
dengan menggunakan air hangat yang
dimasukkan ke dalam botol.
e. Pemijatan (massase) pada daerah yang
nyeri seperi perut bagian bawah,
punggung dan sekitar paha.
Perlu diwaspadai jika nyeri haid
terjadi terus menerus setiap bulannya
dalam jangka waktu yang lama, karena
kondisi itu merupakan salah satu gejala
endometritis (penyakit kandungan) yang
mengarah pada dismenorea sekunder.
Berdasarkan kajian teoritis yang
ada, siswi MTs. Maarif Nyatnyono
Kabupaten Semarang telah melakukan
upaya mengurangi nyeri haid sebagai
gangguan
menstruasi
dengan
mengkonsumsi obat pengurang rasa nyeri,
melakukan istirahat dengan tidur, olah
raga teratur, melakukan kompres hangat
pada daerah yang nyeri, serta melakukan
pemijatan (massase) pada daerah yang
nyeri seperti perut bagian bawah,
punggung dan sekitar paha. Menurut
Indriastuti (2009) perilaku sehat tersebut
tidak akan terjadi begitu saja, tetapi
merupakan sebuah proses yang dipelajari
karena individu mengerti dampak positif
atau negatif suatu perilaku yang terkait.
Pengetahuan yang dimiliki siswi tentang
dismenorea
menjadi
landasan
terbentuknya perilaku untuk menangani
dismenorea. Perilaku yang baik dan
sangat baik terlihat dilakukan oleh siswi
yang memiliki pengetahuan yang cukup
dan baik, sedangkan tingkat pengetahuan
yang kurang menjadikan siswi memiliki
perilaku yang berpotensi mengakibatkan
resiko gangguan kesehatan.
Keterbatasan
Peneliti hanya meneliti gambaran
pengetahuan
tentang
dismenorea
dan
penanganan
dismenorea
tanpa
menghubungkan atau mencari faktor yang
dapat mempengaruhi pengetahuan tentang

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

dismenorea dan penanganan dismenorea serta


tidak meneliti seberapa besar pengaruh dari
pengetahuan
tentang
dismenorea
dan
penanganan dismenorea.

Peneliti
mengembangkan
dismenorea.

selanjutnya
penelitian

dapat
tentang

DAFTAR PUSTAKA
PENUTUP
Admin. 2005. Menstruasi dan Penanganan
Dismenorea.
Cermin
Dunia
Kedokteran. No 133/ 2005.

Kesimpulan
Berdasarkan
tujuan
dari
hasil
penelitian gambaran pengetahuan tentang
dismenorea dan penanganan dismenorea pada
siswi MTs. Maarif Nyatnyono Kabupaten
Semarang Tahun 2013, diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pengetahuan tentang dismenorea pada
siswi MTs. Maarif Nyatnyono Kabupaten
Semarang rata-rata baik. Dibuktikan dari
hasil penelitian, diperoleh distribusi
tingkat pengetahuan baik sejumlah 49,2%,
tingkat pengetahuan cukup sejumlah
34,4%, dan tingkat pengetahuan kurang
sejumlah 16,4% .
2. Siswi
MTs.
Maarif
Nyatnyono
Kabupaten Semarang hasil penelitian,
diperoleh
distribusi
penanganan
dismenorea dengan distribusi penangnan
tertinggi yaitu hanya istirahat (tidur)
diperoleh sejumlah 23,0%.
Saran
1. Bagi siswi MTs. Maarif Nyatnyono
Kabuaten Semarang
Bagi siswi MTs. Maarif Nyatnyono
Kabupaten
Semarang
agar
tetap
meningkatkan pengetahuan mengenai
dismenorea
maupun
pengetahuan
tentangkesehatan
reproduksi
remaja
lainnya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Bagi SMPN 1 Pakusari khususnya
bagian unit perpustakaan dapat menambah
fasilitas buku-buku tentang kesehatan
khususnya kesehatan remaja, dan bila
perlu dapat diadakan program pendidikan
kesehatan kepada siswi MTs Maarif
Kabupaten Semarang yang dapat bekerja
sama dengan petugas kesehatan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
8

Akatri, S. 2006. Penuntun Hidup Sehat


Menurut Ilmu Kesehatan Modern.
Surabaya: Airlangga University Press.
Andira Dita. 2010. Seluk Beluk Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jogjakarta :
A*Plus Books.
Anonim, 2004, Dismenore, ONLINE
http://www.Medicastore.com, diakses
tanggal 4 November 2012
Arikunto
Suharsimi.
2004.
Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Asmadi.
2008.
Teknik
Prosedural
Keperawatan : Konsep dan Aplikasi
Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta :
Salemba Medika.
Badziad, A. 2003. Endokrinologi dan
Ginekologi. Edisi ke-2. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas.
Carey, C. S. 2006. Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta: Widya Medika.
Hidayat, A. aziz. 2008. Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia : Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/
22/konsep-dasar-istirahat-dan
tidur/
akses 15 Juli 2013
Hurlock, E.B. 2007. Psikologi Perkembangan
Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
IMCW, 2007, Dismenore (Nyeri Haid),
ONLINE
http://www.MyDinariraq.com, diakses
4 November 2012.

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang

Kartono, K. 2006. Psikologi Wanita


Mengenal Gadis Remaja dan Wanita
Dewasa. Jilid I. Bandung: Mandar
Maju.
Llewellyn Derek, Jones. 2005. Setiap Wanita.
Jakarta: Delapratasa Publising.
Llewellyn, D dan Jones. 2003. Dasar-Dasas
Obstetri dan Ginekologi. Edisi VI.
Jakarta: Hipokrates.
Mansjoer, A. 2005. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi III. Jilid Pertama.
Jakarta: Media Aesculapius.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2006. Kapita
Selekta
Penatalaksanaan
Rutin
Obsgyn Dan KB. Jakarta: EGC.
Mujaddid. 2004. Buku Ajar Penyakit Dalam.
Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Notoatmodjo Soekidjo. 2003. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Permasalahanya. Ed 1, Jakarta: CV
Sagung Seto.
Sulastri, 2006, Perilaku Pencarian Pengobatan
Keluhan Dysmenorrhea pada Remaja
Di Kabupaten Purworejo Propinsi
Jawa Tengah, Tesis, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, ONLINE
http://www.solpro.net.com. Diakses
tanggal 4 November 2012.
Taruna. 2003. Hipoterapi.
http://www.medikaholistik.com/medik
a.html?
xmodule=document_detail&xid=3.
akses 20 Mei 2013
Wiknjosastro, H. 2004. Ilmu Kandungan.
Jakarta:
Pustaka
Sarwono
Prawirohardjo.
Yani,

achir. 2008. Buku Ajar Riset


Keperawatan Konsep Etika dan
Instrumen. Jakarta: EGC

Notoatmodjo Soekidjo. 2005. Metodologi


Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo Soekidjo. 2007. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Obstreti Dan
Genekologi Sosial Jakarta: YBP-SP.
Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Obstreti Dan
Genekologi Sosial Jakarta: YBP-SP.
Soetjiningsih, 2004. Buku Ajar Tumbuh
Kembang
Remaja
dan
9

Gambaran Pengetahuan tentang Dismenorea dan Penanganan Dismenorea


pada Siswi MTs Maarif Nyatnyono Kabupaten Semarang