Anda di halaman 1dari 5

Herawaty

Sabtu, 26 Desember 2009


MALPRAKTEK DITINJAU DARI SEGI ETIKA DAN HUKUM
Thursday, September 24th, 2009
By Yesie Aprillia S.Si.T
A. Pendahuluan
Mengamati pemberitaan media massa akhir-akhir ini, terlihat peningkatan dugaan kasus
malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan kesalahan
diagnosis dokter yang berdampak buruk terhadap pasiennya. Dalam rentang dua bulan terakhir
ini, media massa marak memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/
atau pidana) kepada dokter, tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan
masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik (malpractice)
atau kelalaian medis. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gugatan-gugatan
malpraktik tersebut dan semuanya berangkat dari kerugian psikis dan fisik korban. Mulai dari
kesalahan diagnosis dan pada gilirannya mengimbas pada kesalahan terapi hingga pada kelalaian
dokter pasca operasi pembedahan pada pasien (alat bedah tertinggal di
dalam bagian tubuh), dan faktor-faktor lainnya.
Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-kasus itu terkategori
malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error) dari sang dokter? Untuk diketahui,
sejauh ini di negara kita belum ada ketentuan hukum ihwal standar profesi kedokteran yang bisa
mengatur kesalahan profesi.
Sebenarnya kasus malpraktek bukanlah barang baru. Sejak bertahun-tahun yang lalu, kasus ini
cukup akrab di Indonesia. Makalah ini akan membahas tentang malpraktek ditinjau dari hukum
dan etika.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain:
1. Mengetahui tentang pengerian malpraktek
2. Mengetaui tentang etika dalam praktek dan hukum mengenai malpraktek
3. Memberikan wacana tentang kasus-kasus mal praktek yang terjadi di Indonesia supaya dapat
terhindar dari malpraktek.
C. Perumusan masalah
Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa. Namun,
sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Putusan pengadilan apakah ada kelalaian
atau tidak atau tindakan tersebut merupakan risiko yang melekat pun belum pernah diambil.
Masyarakat hanya melihat dampak dan akibat yang timbul dari tindakan malpraktik tersebut.
Semua bergantung kepada si penafsir masing-masing (keluarga, media massa, pengacara), dan

tidak ada proses hukumnya yang tuntas. Karena itu sangat perlu bagi kita terutama tenaga medis
untuk mengetahui sejauh mana malpraktek ditinjau dari segi etika dan hukum?.
D. Pembahasan
Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media masa. Namun,
sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Tadinya masyarakat berharap bahwa UU
Praktik Kedokteran itu akan juga mengatur masalah malpraktek medik. Namun, materinya
ternyata hanya mengatur masalah disiplin, bersifat intern. Walaupun setiap orang dapat
mengajukan ke Majelis Disiplin Kedokteran, tetapi hanya yang menyangkut segi disiplin saja.
Untuk segi hukumnya, undang-undang merujuk ke KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana) bila terjadi tindak pidana. Namun, kalau sampai diajukan ke Pengadilan tetap terkatungkatung tidak ada kunjung penyelesaiannya, lantas apa gunanya?
Di negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon, masalah dugaan malpraktik medik ini
sudah ada ketentuan di dalam common law dan menjadi yurisprudensi. Walaupun Indonesia
berdasarkan hukum tertulis, seharusnya tetap terbuka putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap menjadi yurisprudensi.
Dan karena masyarakat semakin sadar terhadap masalah pelayanan kesehatan, DPR yang baru
harus dapat menangkap kondisi tersebut dengan berinisiatif membentuk Undang-Undang (UU)
tentang Malpraktik Medik, sebagai pelengkap UU Praktik Kedokteran.
Bagaimana materinya, kita bisa belajar dari negara-negara yang telah memiliki peraturan tentang
hal tersebut. Harapan masyarakat, ketika mereka merasa dirugikan akibat tindakan medis,
landasan hukumnya jelas. Sedangkan di pihak para medis, setiap tindakannya tidak perlu lagi
dipolemikan sepanjang sesuai undang-undang.
Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari
istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas
adalah ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan
perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika sebagai
ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat
fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak ? Peter Singer, filusf kontemporer dari
Australia menilai kata etika dan moralitas sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia
menggunakan keduanya secara tertukar-tukar.
Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya
tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya etika berarti
kewajiban dan tanggung jawab memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat, serta
bertindak dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga
terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil,
profesional dan terhormat.
Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban dan tanggung jawab
khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap organisasi dan staff, terhadap diri sendiri dan
profesi, terhadap pemrintah dan pada tingkat akhir walaupun tidak langsung terhadap
masyarakat. Kriteria wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk
eksekutif lain di rumah sakit.
Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman untuk diterapkan dan
dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai baik dan buruk dalam pelaksanaan dan
pelayanan profesi itu.

Malpraktek meliputi pelanggaran kontrak ( breach of contract), perbuatan yang disengaja


(intentional tort), dan kelalaian (negligence). Kelalaian lebih mengarah pada ketidaksengajaan
(culpa), sembrono dan kurang teliti. Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau
kejahatan, selama tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu
dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum de minimis noncurat lex, hukum tidak
mencampuri hal-hal yang dianggap sepele (hukumonliine.com, 17 April 2004).
Ketidaktercantuman istilah dan definisi menyeluruh tentang malpraktek dalam hukum positif di
Indonesia, ambiguitas kelalaian medik dan malpraktek yang berlarut-larut, hingga referensireferensi tentang malpraktek yang masih dominan diadopsi dari luar negeri yang relevansinya
dengan kondisi di Indonesia masih dipertanyakan, semuanya merupakan Pe-Er besar bagi
pemerintah. Barangkali inovasi cerdas pemerintah guna menangani kasus malpraktek dan
sengketa medik adalah lahirnya RUU Praktik Kedokteran. Akan tetapi, benarkah demikian?
Dalam beberapa pasal, RUU Praktik Kedokteran memang memberikan kepastian hukum bagi
dokter sekaligus perlindungan bagi pasien.
Secara substansial, RUU yang terdiri dari 182 pasal ini memuat pasal-pasal yang implisit dengan
teori-teori pembelaan dokter yang umumnya digunakan dalam peradilan. RUU Praktek
Kedokteran memungkinkan sebuah sistem untuk meregulasi pelayanan medis yang
terstandardisasi dan terkualifikasi sehingga probabilitas terjadinya malpratek dapat dieliminasi
seminimal mungkin. Dengan dicantumkannya peraturan pidana dan perdata serta peradilan
profesi tenaga medis, harapan perlindungan terhadap pasien dapat terealisasi.
Salah satu upaya untuk menghindarkan dari malpraktek adalah adanya informed consent
(persetujuan) untuk setiap tindakan dan pelayanan medis pada pasien. Hal ini angat perlu tidak
hanya ntuk melindungi dar kesewenangan tenaga keehatan seprti doter atau bidan, tetapi juga
diperlukanuntuk melindungi tenaga kesehatan dari kesewenangan pasien yang melanggar batasbatas hukum dan perundang-undangan malpraktek).
Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur antara lain pada peraturan
pemerintah no 18 tahun 1981 yaitu:
1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak
dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan
dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.
2. Semua tindakan medis (diagnostic, terapuetik maupun paliatif) memerlukan informed consent
secara lisan maupun tertulis.
3. Setiap tindakan medis yang mempunyai resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan
tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang
adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta resikonya.
4. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau
sikap diam.
5. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak
diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter/bidan menilai bahwa
informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat
memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberikan informasi kepada
keluarga terdekat dengan pasien, kehadiran seorang perawat/paramedic lain sebagai saksi adalah
penting.
6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan, baik
diagnostic, terapuetik maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat
pula secara tertulis (berkaitan dengan informed consent).

Sumber: http://bidankita.com/?p=210
Diposkan oleh rista blog di 08.35
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2010 (30)

2009 (37)
o Desember (21)

Presiden Minta Etika Politik Diperhatikan

Indosat Pertanyakan Etika Esia

Bank Umum Siap Rebut Pangsa Pasar Mikro

Pendidikan Antikorupsi Untuk Etika Bisnis yang Seh...

Iklan Politik yang Saling Kecam Melanggar Etika

Belajar dari Skandal Akuntansi Amerika Gagalnya Ko...

Duuh! Dokter Membedah Sambil Cengengesan

Etika Saat Bertamu

Etika Komunikasi di Era Digital

Ketua Bapepam : Etika Bisnis Di Pasar Modal Masih ...

Etika Bisnis dalam Perpektif Islam

JIKA PROFIT SEBAGAI TUAN

MALPRAKTEK DITINJAU DARI SEGI ETIKA DAN HUKUM

Etika Bisnis dalam Corporate Code of Conduct

Etika Bisnis

MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN ETIKA BISNIS DALAM


PER...

Etika Bisnis dan Pendidikan

Etika Bisnis : Memburu software ilegal sampai ke d...

Jumlah Uang Palsu (Upal) Meningkat Menjelang Pemi...

Mempertanyakan Etika Bisnis di Saat Krisis

DANA PENSIUN PERHUTANI

o November (11)
o Oktober (4)
o September (1)

2008 (5)

Mengenai Saya

rista blog
Apa iya?? Ga bisa di bilang, tanya ja ma yang sudah kenal...
Lihat profil lengkapku