Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

DATA DAN ANALISA


4.1 Data HasilPercobaan
Data
SebelumPercobaan
Standarpengujian
Standar specimen
Panjang specimen awal (mm)
Gauge length awal, Lo (mm)
Diameter awal, Do (mm)
LuasSpesimenawalAo (mm2)
SaatPercobaan
BebanLumer, Py (kN)
L saat yield (mm)
BebanmaksimumPu (kN)
L saatpatah (mm)
SesudahPercobaan
PanjangSpesimenAkhir (mm)
Gauge length akhir L1 (mm)
Diameter Akhir D1 (mm)
LuasSpesimenAkhir A1 (mm2)
Yield Strength ( kg/mm2 )
Elongation (%) atau (mm/mm)
Reduction Area (%)

Alumunium

BAJA AISI 1040

JIS Z 2241
JIS Z 2201
249
49,5
14,3
160,6

JIS Z 2241
JIS Z 2201
247,925
50,5
13
132,732

43,453
5
59
10,1

73,805
9,8
93
13

262,5
59,6
9,15
65,755

262,7
63,5
9,2
66,476

20%
59,05%

25,7%
49,92%

4.2 HasilPerhitungan
4.2.1 TabelHasilPerhitunganAlumunium

4.3 AnalisaPembahasan
4.3.1 Fenomena PengujianTarik

Tegangan - Regangan Teknik


0.400
0.350

0.300
0.250
0.200
0.150
0.100
0.050
0.000

Gambar 4.1 Grafik Teknik Alumunium


Pada uji tarik (diambilhasiluntukspesimen Alumunium) terdapat daerah elastis
yang dibatasi oleh titik proporsional dimana pada tegangan bernilai 0,302 kg/mm2
dan regangan 0,101 mm/mm. Titik Yield merupakan titik dimana terjadi
pertambahan panjang pada beban tarik yang konstan pada waktu sesaat. Daerah
yang beradasetelah titik yield hingga fracture (patah)merupakan daerah plastis.
Titik
Ultimate,
yaitutitikdimanasuatu
material
mampumenerimabebantarikmaksimum, untuk spesimen Alumunium berada pada
tegangan 0,367kg/mm2 dan regangan 0,182 mm/mm. Setelah melewati titik
ultimate,
spesimen
mengalami
necking
(penguranganluaspenampangterpusatpadaspecimen
secarasignifikan)
karena
adanya pembebanan yang melebihi ultimate strength, hingga spesimen mengalami
fracture. Fracture pada Spesimen Alumuniumterjadisaat tegangan 0,214 kg/mm2
dan regangan sebesar 0,283 mm/mm.

4.3.2 Grafik Perbandingan Teknik dengan Sebenarnya


4.3.2.1 Perbandingan Grafik Teknik Alumunium dengan Baja

0.800
0.700
0.600
0.500
Tegangan (kN/mm2) 0.400
0.300

Alumunium
Besi

0.200
0.100
0.000
0

10 15 20 25

Regangan mm/mm

Gambar 4.2 Grafik Perbandingan Tegangan dan Regangan Teknik Alumunium


dan AISI 1040.
Pada grafik di atas menunjukkan perbandingan nilai hasil uji tarik
dari spesimen Alumunium dan AISI 1040. Pada titik yield, nilai tegangan pada
Alumunium yaitu 0,302 kN/mm2lebih rendah dibandingkan AISI 1040 yang
sebesar 0,5678kN/mm2. Pada titik puncak (maksimum), nilai tegangan UTS
Alumuniumyaitu 0,367kN/mm2 lebih rendah dibandingkan Baja yang sebesar
0,7006kN/mm2. Darigrafikdapatdiketahui sifat dari kedua spesimen terhadap
beban tarik.. Modulus elastisitas (gradien garis linier) AISI 1040 lebih besar dari
Alumunium yaitu sebesar 14,11 kN/mm2 sedangkan Alumunium sebesar 2,99
kg/mm2. hal ini mununjukkan bahwa AISI 1040lebih kakudari Alumunium.
Setelah UTS, kedua spesimen mengalami necking hingga terjadi patah. Padabeban
yang sama(misaldiambiltitikpadategangan 0,3kN/mm2) di daerahelastis,
Pertambahan panjang (l) Alumunium lebih besar dari pada AISI 1040, hal ini
menunjukkan Alumunium lebih ulet dibanding AISI 1040. Sedangkan
ketangguhan suatu material yang dapat dilihat dari luasan daerah di bawah grafik
pada gambar 4.2,terlihat AISI 1040 lebih tangguh dibandingkan Alumunium.

4.3.2.1 Perbandingan Grafik Teknik dengan Sebenarnya Alumunium

0.700
0.600
0.500
0.400

Tegangan (kN/mm2)

0.300

Teknik

0.200

Sebenarnya

0.100
0.000

0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3

Regangan (mm/mm)

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Tegangan dan Regangan Teknik dan Sebenarnya
Alumunium
Grafik diatas menjelaskan perbandingan grafik teknik dengan
sebenarnya pada spesimen aluminium. Pada grafik teknik, nilai tegangan dan
regangan naik secara proporsional hingga mencapai titik yield dengan nilai
tegangan 0,302 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,101 mm/mm. Kenaikan nilai
secara proporsional juga terjadi pada grafik sebenarnya dengan nilai
tegangan yield sebesar 0,33 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,096 mm/mm.
Setelah itu grafik teknik naik lagi secara tidak proporsional dan
mencapai titik puncak pada titik ultimate strength dengan nilai tegangan sebesar
0,367 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,182 mm/mm. Sedangkan pada grafik
sebenarnya nilai tegangan dan regangan mencapai puncak pada titik ultimate
strength dengan nilai tegangan sebesar 0,43 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,167
mm/mm. Lalu tegangan pada grafik teknik mengalami penurunan hingga
fracture menjadi sebesar 0,214 kg/mm2 sedangkan regangan mencapai 0,283
mm/mm. Sedangkan pada grafik sebenarnya, tegangan terus mengalami
kenaikan hingga fracture dengan nilai tegangan sebesar 0,52 kg/mm2 dan
regangan sebesar 0,249 mm/mm.
Perbedaan antara grafik teknik dan sebenarnya mulai terlihat
sebelum mencapai yield. Pada grafik teknik, tegangan mengalami penurunan
setelah beban maksimum, sedangkan pada grafik sebenarnya nilai tegangan
terus naik hingga mengalami fracture. Hal ini disebabkan karena pada grafik
sebenarnya, luas spesimen yang digunakan adalah luas spesimen sebenarnya. Luas
spesimen mengalami penurunan seiring meningkatnya pemanjangan spesimen.
Sedangkan pada grafik teknik luas spesimen yang digunakan adalah luas
spesimen awal sebelum pembebanan.

4.3.2.2 Perbandingan Grafik Teknik dengan Sebenarnya AISI 1040

Baja
1.4
1.2
1
0.8

sebenarnya

Teganagn (kN/mm2) 0.6

teknik

0.4
0.2
0

0.05

0.1

Regangan (mm/mm)

Gambar 4.4 GrafikPerbandingan Tegangan dan Regangan Teknik dan


Sebenarnya AISI 1040
Grafik diatas menjelaskan perbandingan grafik Teknik dengan
sebenarnya pada spesimen AISI 1040. Pada grafik teknik nilai tegangan dan
regangan naik secara proporsional hingga mencapai titik yield dengan nilai
tegangan sebesar 0,5678kg/mm2 dan regangan sebesar 0,04275 mm/mm.
Kenaikan nilai secara proporsional juga terjadi pada grafik
sebenarnya dengan nilai tegangan sebesar 0,59205 kg/mm2 dan regangan sebesar
0,04187 mm/mm.
Setelah itu grafik teknik naik lagi secara tidak proporsional
kemudian mencapai titik ultimate strenth dengan nilai tegangan sebesar 0,7006
kg/mm2 dan regangan sebesar 0,0706 mm/mm.Tegangan pada Grafik teknik
mengalami penurunan dari titik puncak sampai ke titik fracture pada tegangan
sebesar 0,5839 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,09495 mm/mm. Sedangkan grafik
sebenarnya naik lagi hingga mecapai tiitik ultimate strenght dengan nilai
tegangan sebesar 0,7007 kg/mm2 dan regangan sebesar 0,707 mm/mm. Grafik
terus mengalami kenaikan sampai fracture dengan nilai tegangan sebesar 1,1658
kg/mm2dan regangab sebesar 0,09071 mm/mm.
Pada daerah elastis atau pada saat grafik mengalami kenaikan secara
proporsional, hampir tidak ada perbedaan antara teknik dan
sebenarnya. Perbedaan mulai terlihat menjelang titik yield, dimana grafik
sebenarnya terus mengalami kenaikan. Perbedaan disebabkan karena pada grafik

sebenarnya, luas spesimen mengalami penurunan seiring meningkatnya


pemanjangan spesimen. Sedangkan pada grafik teknik luas spesimen yang
digunakan adalah luas spesimen awal sebelum pembebanan dianggap tetap.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
a. Setelah dilakukan uji tarik pada spesimen alumunium dan baja
SS400 didapatkan data sebuah grafik P-L yang kemudian dapat
dikembangkan menjadi grafik tegangan-regangan. Grafik
tersebut menunjukkan beberapa kondisi yang berbeda di setiap
kenaikan
tegangannya.
Diantaranya
garis
linier
yang
menunjukkan kenaikan tegangan-regangan yang konstan.
Kondisi ini merupakan kondisi proposional. Pada garis
proposional spesimen mengalami deformasi secara elastis.
Setelah itu terjadi yield yang merupakan titik dimana terjadi
pertambahan panjang saat beban tetap. Setelah melewati titik
yield spesimen mengalami deformasi plastis sampai batas UTS.
UTS merupakan daerah dimana pemberian beban maksimum.
Setelah UTS spesimen mengalami necking dan kemudian putus.
b. Selain pengaruh dari jenis spesimen, pada perpanjangan dan
reduksi area juga terpengaruh oleh beban tarik, semakin besar
beban yang diberikan maka perpanjangan dan reduksi area akan
semakin besar kondisi ini berlaku ketika spesimen belum
mengalami UTS. Pada kondisi setelah UTS spesimen terus
mengalami perpanjangan dan reduksi area meskipun beban
berkurang. Dengan mengetahui beban tarik, maka kita dapat

mengetahui besar kekuatan mulur (yeild), modulus elastisitas


dan ketangguhan suatu spesimen.

5.2 SARAN
a. Mesin yang digunakan sebaiknya mesin yang lebih teliti
sehingga memiliki angka kepresisisan yang lebih baik
b. Grader datang tepat waktu, sehingga praktikum dapat
dilaksanakan tepat waktu.