Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA INGUINALIS LATERALIS ( HIL )


KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Pengertian
Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang keluar dari rongga peritonium melalui
anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian
hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis, dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari
anulus inguinalis eksternus, apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum
dan terjadi perlengketan (Sjamsuhidajat, 2009).
Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus atau
lateralis menyelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga perut melalui anulus inguinalis
externa atau medialisis (Arif Mansjoer dkk, 2010).
B. Etiologi
1. Faktor congenital
Pada pria terdapat suatu processus yang berasal dari peritoneum parietalis, yang dalam
masa intra uterin merupakan guide yang diperlukan dalam desenskus testikulorm,
processus ini seharusnya menutup. Bila testis tidak sampai ke skrotum, processus ini
tetap akan terbuka, atau bila penurunan baru terjadi 1 2 hari sebelum kelahiran,
processus ini belum sempat menutup dan pada waktu lahir masih tetap terbuka.
2. Faktor utama
Terjadi setelah operasi sebagai akibat gangguan penyembuhan luka.
3. Faktor umur dan jenis kelamin
Orang tua lebih sering daripada anak muda, pria lebih banyak dari pada wanita.
4. Faktor adipositas
Pada orang gemuk jaringan lemaknya tebal tetapi dinding ototnya tipis sehingga mudah
terjadi hernia.
5. Faktor kelemahan muskulo aponeurosis
Biasanya ditemukan pada orang kurus.
6. Faktor tekanan intra abdominal

Ditemukan pada orang-orang dengan batuk yang kronis, juga pada penderita dengan
kesulitan miksi seperti hypertrofi prostat, gangguan defekasi, serta pada orang yang
sering mengangkat berat.
C. Patofisiologi
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah factor congenital
yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu kehamilan yang dapat
menyebabkan masuknya isi rongga pertu melalui kanalis inguinalis faktor yang kedua
adalah faktor yang dapat seperti hamil, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan
factor usia, masuknya isi rongga perut melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka
akan menonjol keluar dari annulus ingunalis ekstermus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan
akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis berisi talis perma pada laki-laki, sehingga
menyebakan hernia. Hernia ada yang dapat kembali secara spontan maupun manual juga
adayang tidak dapat kembali secara spontan ataupun manual akibat terjadi perlengketan
antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan
kembali. Keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga
aktivitas akan terganggu. Jika terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan
mencekik sehingga terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala illeus yaitu
gejala abstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan
menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan iskemik. Isi hernia ini akan
menjadi nekrosis. Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang
akhirnya dapat menimbulkan abses local atau prioritas jika terjadi hubungan dengan
rongga perut. Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltikusus yang bisa
menyebabkan konstipasi. Pada keadaan strangulate akan timbul gejala illeus yaitu perut
kembung, muntahdan obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul lebih berat dan kontinyu,
daerah benjolanmenjadi merah.

D. Manifestasi Klinik
1. Pada orang dewasa
a. Laki-laki

1) Benjolan di daerah inguinal dapat mencapai skrotum.


2) Benjolan timbul bila berdiri atau mengejan dan bila berdiri lama/mengejan kuat
maka benjolan makin membesar.
3) Terasa nyeri bila terjadi incarserata dan terasa kram apabila benjolannya besar.
b. Wanita
Benjolan dapat mencapai labium majus.
2. Pada anak-anak
Bila menangis, timbul benjolan pada abdomen bagian bawah, dapat mencapai skrotum
atau labium majus, bila berbaring benjolan akan hilang karena isi kantong hernis masuk
ke dalam kavum abdomen.
E. Komplikasi
1. Perlekatan / hernia akreta
2. Hernia irreponibel
3. Jepitan vaskularisasi terganggu iskhemi gangrene nekrosis
4. Infeksi
5. Obstipasi obstruksi / konstipasi
6. Hernia incarserata Illeus
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
2. Rontsgen
3. EKG
4. USG

G. Penatalaksanaan
Pengobatan konservatif terbatas mulai tindakan melakukan reposisi. Dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Indikasi
operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari
herniotomi dan hernioplastik. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia
sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Pada
hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis. (R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong . 2010).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 2000) adalah meliputi :
1. Sirkulasi
Gejala

Riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit

vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).


2. Integritas ego
Gejala

Perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple,

misalnya financial, hubungan, gaya hidup.

Tanda:

Tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi

simpatis.
3. Makanan / cairan
Gejala

Insufisiensi

pancreas/DM,

(predisposisi

untuk

Hipoglikemi

/ketoasidosis); malnutrisi (termasuk obesitas); membrane mukosa yang kering


(pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4. Pernapasan
Gejala

Infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

Alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;

5. Keamanan
Gejala

Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ;


Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia
malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obatobatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda:
Menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala

Pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,

kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic,


antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau
obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang
mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri
pasca operasi).
B. Diagnosa Keperawatan & Intervensi Keperawatan
1. Pra Operatif
a. Ansietas bd kurang pengetahuan tentang prosedur tindakan OP
b. Nyeri akut bd peningkatan tekanan pada canal inguinal
No

Diagnosa Kep

Tujuan dan KH

Intervensi

Ansietas bd

Setelah dilakukan tindakan - Bantu pasien untuk mengidentifikasi

kurangnya

perawatan selama 1x 30

pengetahuan

menit ansietas berkurang/

tentang prosedur terkontrol dengan kriteria


tindakan OP

hasil :
- Pasien tidak tampak cemas
- Pengetahuan
pasien
bertambah
persiapan/prosedur
operasi
- Klien kooperatif
setiap

Nyeri akut bd
peningkatan
tekanan pada
canal inguinal

tindakan

situasi yang mencetuskan ansietas


- Beri pengertian pada pasien tentang
persiapan/prosedur pra operasi
- Jelaskan kepada pasien setiap tindakan
yang akan dilakukan

tentang
pra
dalam
yang

diberikan petugas
Setelah dilakukan tindakan - Kaji karakteristik nyeri
- Berikan informasi tentang terjadinya
perawatan selama 1x 24 jam
nyeri
nyeri terkontrol dengan
- Anjurkan untuk menahan batuk
kriteria hasil :
- Kurangi rangsangan atau penekanan
- Nyeri berkurang/terkontrol
pada daerah abdomen
- Skala nyeri 3-4
- Ajarkan
dan
motivasi
untuk
melakukan relaksasi nafas dalam jika
nyeri timbul
- Kurangi
aktivitas

yang

dapat

menimbulkan nyeri

2. Intra Operatif
a. Ansietas bd krisis situasi
b. Risiko kekurangan volume cairan bd tindakan pembedahan dan anestesi (adanya
program puasa dan lavement)
No
1

Diagnosa Kep
Ansietas

Tujuan dan KH

bd Setelah

krisis situasi

Intervensi

dilakukan- Identifikasi tingkat kecemasan


- Beri informasi prosedur dan prognosis
tindakan
perawatan
tindakan
ansietas
berkurang/
- Motivasi pasien untuk relaksasi nafas dalam
terkontrol
dengan- Motivasi pasien untuk berdoa
- Monitor TTV

kriteria hasil :
- Pasien tidak tampak
cemas
- Pasien

mengerti

tindakan yang akan


dilakukan
- Klien
kooperatif
dalam

setiap

Risiko

tindakan

kekurangan

diberikan petugas

yang

- Monitor tekanan darah dan nadi


- Monitor dan pertahankan intake dan output
volume cairan
Setelah
dilakukan
cairan
bd
tindakan
tindakan
perawatan- Kaji keluaran urine dan perdarahan
pembedahan
kekurangan volume- Kolaborasi pemasangan DC
dan
anestesi
cairan tidak terjadi
(adanya
dengan kriteria hasil
program puasa - Tidak terjadi syok
dan lavement)
hipovolemik
- TD
dalam
batas
normal
3. Post Operatif
a. Nyeri akut bd terputusnya kontinyuitas jaringan
b. Hambatan mobilitas fisik bd ansietas

No
1

Diagnosa Kep

Tujuan dan KH

Intervensi

Nyeri akut bd Setelah dilakukan tindakan - Monitor keluhan nyeri


- Berikan posisi yang nyaman bagi
terputusnya
keperawatan selama 2x24
klien
kontinyuitas
jam nyeri dapat berkurang
- Motivasi klien untuk relaksasi nafas
jaringan
dengan kriteria hasil:
dalam saat nyeri timbul
- Klien mengatakan nyeri
- Kolaborasi
medis
pemberian
berkurang
analgetik
- Skala nyeri berkurang sampai
3
- Klien tampak rileks
- Klien dapat miring, duduk

dan berdiri tanpa keluhan


nyeri
- Klien mampu menggunakan
teknik
2

Hambatan
mobilitas
bd ansietas

relaksasi

nafas

dalam saat nyeri timbul


Setelah dilakukan tindakan - Beri pengetahuan tentang pentingnya
fisik keperawatan

selama

2x24

jam Hambatan mobilitas fisik


dapat teratasi dengan kriteria
hasil:
- Klien dapat mobilisasi secara
bertahap

(miring

kiri,

duduk di tempat tidur)


- Klien
dapat
melakukan
aktivitas dengan bantuan
minimal

mobilisasi
- Kaji tingkat kemampuan klien untuk
beraktivitas
- Bantu pemenuhan ADL klien dengan
bantuan yang minimal
- Motivasi pada klien untuk mobilisasi
bertahap, yaitu dari miring kiri,
duduk di tempat tidur dan duduk
ditepi bed
- Anjurkan pada

keluarga

untuk

membantu pemenuhan kebutuhan


klien

DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marylinn E, 2000. Moorhouse Mary Frances, geissler Alice. Rencana Asuhan
Keperawatan, (Edisi 3), Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Mansjoer, A, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, Media Aesculapius, Jakarta.
Setiawan, 2012. Hernia Inguinalis. (online), (http://setiawanaj.blogspot.com/ diakses tanggal
20 Nopember 2012).
Sjamsuhidajat, Wim De Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, penerbit EGC,
Jakarta.