Anda di halaman 1dari 4

Kotoran Manusia Sebagai Bahan Penyubur Tanah

Oleh: Patrick Mwalukisa dan Santaran S. Oinam *

Foto: Santaram S. Oinam

Kotoran manusia/feses umumnya dianggap kotor, menjijikkan, dan tidak sehat. Pendeknya: tidak bermanfaat.
Padahal feses memiliki potensi sebagai bahan penyubur tanah karena kaya N, P, dan K. Feses, sesungguhnya
adalah sumber daya, bukan sampah.

Jamban kering dengan dua penampungan yang banyak


dipakai di Vietnam.

emanfaatan feses sebagai pupuk bahkan sudah


dimulai sejak tahun 1908 di Cina. Saat itu, Dewan
Kota Shanghai menjual hak mengumpulkan feses kepada
seorang pengusaha Cina seharga 31.000 keping emas.
Feses seberat 78.000 ton dikumpulkan dengan prosedur
khusus, untuk dibawa ke pedesaan dan dijual sebagai
pupuk kepada petani. Pemanfaatan feses juga terjadi di
Jepang pada masa itu. Jumlah total yang diaplikasikan
di seluruh tanah pertanian Jepang bahkan mencapai
23.850.295 ton, atau rata-rata 1,75 ton per 4.000 meter
persegi lahan.

24 Juni 2008

Kotak 1.
Menyempurnakan Daur Makan di Alam
Feses yang sudah menjadi kompos
atau humus memberikan beberapa efek
positif ketika diaplikasikan ke tanah.
Ia adalah bahan pelembab tanah yang
aman. Pupuk ini mampu meningkatkan
kemampuan tanah mengikat air dan
meningkatkan kesehatan tanaman lewat
kandungan unsur hara yang dimilikinya.
Pupuk feses sedikit berbeda dibanding
kompos. Ia berwarna lebih terang dan
partikelnya lebih besar. Pupuk feces yang
sudah jadi tidak akan menarik datangnya
lalat dan menyebabkan polusi karena
tidak berbau.

16

Praktik ini juga dilakukan sejak dulu di Vietnam Utara.


Petani biasa memanfaatkan feses segar untuk memupuk
sawah mereka. Praktik ini memang kurang sehat
sebab berisiko menularkan penyakit. Karena itu, tahun
1956 Dinas Kesehatan setempat memulai kampanye
penggunaan jamban kering dengan dua penampungan.
Pemakaian jamban ini dimaksudkan agar bakteri patogen
yang ada dalam feses mati sebelum diaplikasikan
sebagai pupuk. Kampanye ini diikuti program pendidikan
kesehatan yang dilaksanakan terus menerus dalam jangka
panjang.
Sumber Daya Terbatas dan Sulitnya Akses
Pemanfaatan feses sebagai bahan penyubur tanah
(lihat Kotak 1) adalah solusi efektif bagi daerah bersumber

Feses Sebagai Komoditas


Melintas benua, praktik ini
juga dilakukan di sejumlah negara
di Afrika. Tahun 1988 di Desa
Mbebe, Distrik Ileje, Tanzania,
dilaksanakan Ileje Food Crop
Production, program hasil kerja
sama pemerintah dan lembaga
swadaya masyarakat. Tujuan
utamanya adalah mengajarkan
metode pertanian esien sumber
daya kepada petani. Pemakaian
pupuk organik diperkenalkan guna
mendongkrak produksi serealia
yang merosot dan dipersalahkan
sebagai penyebab tingginya gizi
buruk dan tingkat kematian di
bawah 5 tahun.

daya terbatas dan sulit memperoleh input pertanian.


Alasan ini juga yang mendorong masyarakat di Lembah
Lahaul, Pegunungan Himalaya, India, untuk membuat
kompos dari kotoran manusia. Selain lokasi desa yang
sangat terpencil, iklim yang tak bersahabat juga membuat
petani di sana mengembangkan cara budi daya yang unik.
Ketidaksuburan tanah merupakan hambatan besar
bagi pertanian berkelanjutan di daerah ini. Lapisan
humusnya hilang dan unsur hara banyak tercuci akibat
tingginya curah salju, salju longsor, tanah longsor, dan
erosi. Rumput dan tanaman penutup tanah sulit tumbuh
sehingga tidak mungkin memelihara ternak untuk
menghasilkan pupuk kandang dalam jumlah cukup bagi
pertanian. Tak ada jalan lain, petani harus menggunakan
feses sebagai pupuk penyubur tanaman. Sebelum
pemanfaatan ini memasyarakat, masalah terbesar yang
dihadapi adalah bagaimana menghilangkan rasa jijik.

Pupuk Feses di Negara Barat


Tak hanya di negara Asia dan Afrika, pemanfaatan
feses sebagai pupuk ternyata juga dilakukan di negara
barat. Penduduk di sana menyebutnya sebagai jamban
kompos. Konstruksi jamban yang khusus, memungkinkan
dilakukannya panen feses setelah beberapa tahun.
Model jamban kompos yang dipakai di Swedia disebut
clivus, sementara di Norwegia dinamai komidi putar.
Sejumlah aplikasi lapangan ini tentunya menjadi
bukti nyata bahwa feses memang memiliki potensi untuk
dimanfaatkan sebagai bahan penyubur tanah. Praktik
ini ibarat menyempurnakan daur makan di alam. Alam
menghasilkan bahan pangan, kita memakannya, dan
kotoran kita kembalikan ke alam. Selain itu, faktor murah
dan mudah didapat bisa dipertimbangkan sebagai
keunggulan pupuk feses dibanding pupuk kimia.

17

24 Juni 2008

Kini, tantangannya justru penggunaan jamban modern


yang semakin populer. Jamban modern diperkenalkan
karena jamban tradisional dianggap kurang sehat.
Akibatnya petani kini kesulitan mendapat bahan baku
sehingga jumlah petani yang mengaplikasikan pupuk feses
makin berkurang.

Petani yang memiliki ternak


membuat pupuk kandang,
sementara yang tidak memiliki
menggunakan pupuk hijau seperti
orok-orok dan kompos. Salah
satu petani lantas mencoba
menggunakan feses sebagai
pupuk. Ia menguras jambannya
yang sudah berumur 3 tahun dan
menggunakannya untuk memupuk
tanaman jagung. Hasilnya ternyata
baik. Petani mencatat kenaikan
panen yang signikan dari
penggunaan feses sebagai pupuk.
Sejumlah petani yang melihat hasil ini, akhirnya tertarik
untuk mencoba. Tahun berikutnya, jumlah petani yang
menggunakan feses meningkat. Bahkan petani mulai
membeli isi jamban lama sebesar 8001.000 shilling
Tanzania (sekitar Rp 10.000) per lubang. Feses pun
menjadi sebuah komoditas berharga.

Jamban kompos clivus yang banyak dipakai di Swedia

Tantangan terbesar dari pemanfaatan feses sebagai


pupuk adalah faktor kesehatan. Karena itu, rekomendasi
dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai teknis
penanganan pupuk feses yang aman bisa dijadikan bahan

Jamban kompos di Norwegia yang disebut komidi putar

pembelajaran. Selain itu harus dipastikan bahwa bakteri


patogen di dalam feses sudah mati. Sejumlah faktor yang
bisa mematikan bakteri patogen bisa dilihat di Kotak 2.

Panduan WHO Mengenai Penanganan Pupuk Feses yang Aman


Jika feses dan bahan organik lain diproses menjadi
kompos pada suhu ruang, hasil akhir proses tersebut
tidak berbau dan baik dipakai sebagai bahan penyubur
tanah. Untuk meminimalkan risiko kesehatan dari
penggunaan feses, WHO mengeluarkan sejumlah
rekomendasi.

24 Juni 2008

Jika sulit mencapai suhu tinggi pada penyimpanan/


penimbunan, WHO merekomendasikan waktu
simpan yang lebih lama. Penyimpanan selama satu
setengah sampai dua tahun dengan suhu 220C
akan menghilangkan bakteri penyebab penyakit dan
mengurangi virus serta protozoa parasit sampai di
bawah tingkat berisiko.
WHO juga merekomendasikan langkah
pencegahan untuk mengurangi risiko kesehatan. Ini
mencakup pemakaian pelindung pribadi seperti sepatu
bot, sarung tangan, masker, dan tidak menggunakan

18

peralatan yang dipakai menangani feses untuk


keperluan lain. Selain itu, anak-anak harus dijauhkan
dari tempat penyimpanan, pemrosesan, atau lokasi
penggunaan pupuk.
Pupuk feses sebaiknya diberikan dengan cara
aplikasi dekat tanah. Maksudnya, pupuk dimasukkan
ke dalam tanah dan kemudian ditimbuni tanah sampai
tertutup rapat.
Terakhir WHO menyebutkan bahwa kebersihan
rumah dan pribadi sangat penting. Selain menerapkan
teknologi yang tepat, masyarakat juga perlu melakukan
praktik kebersihan yang baik. Jika rekomendasi ini
diikuti maka secara umum risiko bagi masyarakat
yan mengumpulkan dan mengunakan feses (maupun
yan mengonsumsi produk hasil pemupukan) akan
dikurangi sampai tingkat aman.

Teknik Pengolahan Feses Menjadi Pupuk


Secara garis besar, ada tiga teknik pengolahan feses
yang memberikan hasil kurang lebih sama.
1. Pengeringan
Feses dipisahkan dari urine dan disimpan dalam
penampungan sampai mengering. Urine juga bisa dipakai
sebagai pupuk cair. Namun sebelum dipakai, urine harus
disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih
enam bulan untuk mematikan bakteri patogen yang
dikandungnya.
2. Pengomposan
Feses (dan urine) disimpan dalam penampungan dan
dicampur dengan sampah rumah tangga, sampah kebun,
atau bahan organik lain. Campuran ini akan mengalami
pembusukan dan terurai. Setelah 68 bulan biasanya
sudah bisa dipanen sebagai kompos.
3. Pengomposan dengan tanah
Feses (dan urine) disimpan dalam penampungan yang
sudah diisi tanah terlebih dulu. Setiap ada tambahan
feses segar, tumpukan baru ini ditimbun dengan tanah
biasanya juga ditambahkan abu dapur. Setelah 34 bulan
biasanya seluruh patogen pada feses sudah mati dan
feses siap dipakai sebagai pupuk.

Kami Tunggu Tulisan Anda!


*) artikel dituliskan kembali oleh Shintia D. Arwida.
Santaram S. Oinam
G.B. Pant Institute of Himalayan Environment & Development, North-East
Unit, Vivek Vihar, Itanagar 791 113, Arunachal Pradesh, India.
E-mail: oinamsantaram1@rediffmail.com
Patrick M. Mwalukisa
Kepala Departemen Pertanian Organisasi Pembangunan Perdesaan Ileje,
PO BOX 160 Ileje, Tanzania

Tulisan bisa berupa ringkasan hasil


penelitian, pengalaman terkait LEISA dalam
aspek produksi, teknologi tepat guna, dan
pemasaran. Apabila Anda bukan penulis,
editor Majalah SALAM akan membantu
menyunting tulisan Anda. Panjang tulisan
minimal 1200 kata dan sebaiknya disertai
ilustrasi berupa foto, sketsa, tabel, dan grak.
Sebagai imbalan, Majalah SALAM
menyediakan honorarium Rp 200.000 per
1000 kata yang dimuat. Penulis sebaiknya
menyertakan nomor rekening bank untuk
keperluan transfer honorarium.

24 Juni 2008

Referensi:
-Drangert, J.O., 1998. Urine blindness and the use of nutrients from
human excreta in urban agriculture. GeoJournal, 45: 201-208.
-Jonsson, H., A.R. Stinzing, B. Vinneras, dan E. Salomon, 2004.
Guidelines on the Use of Urine and faeces in Crop Production.
EcoSanRes., 1-35.
-Kuniyal, J.C., S.C.R. Vishvakarma, dan G.S. Singh, 2004.
Changing crop biodiversity and resource use efciency of traditional
versus introduced crops in the cold desert of the northwestern
Indian Himalaya: a case of Lahaul valley.
Biodiversity and Conservation 13 (7): 1271-1304.
-Mashauri, D.A., M.A Senzia, 2002. Reuse of nutrients from ecological
sanitation toilets as a source of fertiliser.
(www.2.gtz.de/ecosan/download/CESMA2002-mashuari.pdf)
-Oinam, S.S., Y.S. Rawat, R.S. Khoiyangbam, K. Gajananda,
J.C. Kuniyal, dan S.C.R. Vishvakarma, 2005.
Land use and land cover changes in Jahlma watershed of the
Lahaul valley, cold desert region of the northwestern Himalaya, India.
Journal of Mountain Science, 2 (2): 129-136.
-Winbald U & Simpson-Hebert M (editors): Ecological sanitation-revised
and enlarged edition. SEI, Stockholm Sweden, 2004.
-Esrey, S.A, Andersson, I., Hillers, A., Sawyer, R. 2001.
Closing The Loop: Ecological sanitation for food security.
Publication on Water Resources No.18.
Swedish International Development Cooperation Agency.
-King, F.H.. 1911. Farmers of Forty Century.
Democrat Printing CO. Madison

Redaksi menerima tulisan dari pembaca


di seluruh tanah air. Silakan tuliskan
pengalaman, kesuksesan, penemuan,
pembaruan, dan masalah-masalah yang
Anda hadapi dalam pekerjaan atau
lingkungan, untuk dibagi dengan kami dan
pembaca lainnya. Anda dapat mengirimkan
artikel ke alamat redaksi atau email kami.

19