Anda di halaman 1dari 29

TUGAS

KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA, DAN LINGKUNGAN (K3L)

OLEH :
M. IMAM FADEL
(03031281320007)
MAURA FEMITRI S.
(03031381320007)
LEFIN NASSYA FARISTA
(03031381320023)
FADILAH PERMATA SARI (03031381320031)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

Bab 2

Toksikologi
Dengan adanya berbagai jenis zat kimia yang digunakan dalam proses industri kimia,
seorang sarjana teknik kimia harus dapat mengetahui :

1. Cara masuknya zat beracun ke dalam organisme


2. Cara penghilangan zat beracun dari dalam organisme
3. Efek zat beracun yang dapat ditimbulkan pada organisme, dan
4. Metode pencegahan masuknya zat beracun ke dalamorganisme.
Tiga poin pertama berkaitan erat dengan toksikologi, sedangkan poin terakhir berhubungan
dengan kebersihan industri, topik yang akan dibahas pada Bab 3.
Pada mulanya, toksikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai racun.
Namun, kata racun masih belum cukup mendefinisikan dengan baik. Paracelcus, seorang
investigator toksikologi pada abad ke-15 menyatakan bahwa: Seluruh senyawa adalah racun;
tidak ada zat yang tidak beracun. Adanya dosis yang benar dapat membedakan yang mana
beracun dan yang mana yang tidak. Senyawa yang tidak berbahaya seperti air, dapat berakibat
fatal apabila diberikan kepada organisme dalam dosis yang berlebih. Prinsip dasar dari
toksikologi adalah
Tidak ada senyawa yang beracun, yang ada hanyalah cara yang tidak berbahaya dalam
menggunakan senyawa.
Kini, toksikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu kualitatif dan kuantitatif mengenai efek
berbahaya dari zat beracun yang terdapat pada organisme. Zat beracun dapat menjadi agen fisik
atau kimiawi berupa serbuk, serat, suara, dan radiasi. Contoh dari agen fisik adalah serat
asbestos, senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan kanker.

Peracunan (Toxicity) dari agen fisik dan kimiawi merupakan sifat agen yang dapat
mendeskripsikan efek yang ditimbulkan pada organisme. Bahaya racun (Toxic Hazard) adalah
kemungkinan bahaya yang dapat terjadi pada organisme yang berdasarkan apa yang dihasilkan
dari perpindahan dan faktor fisik lainya. Bahaya racun dari suatu senyawa dapat diatasi dengan
menggunakan teknik kebersihan industri yang tepat. Namun, sifat peracunannya tidak dapat
diubah.

2-1 Bagaimana Zat Beracun Masuk ke dalam Organisme Biologis


Pada organisme orde tinggi, cara masuknya zat kimia pada tubuh dapat ditinjau dengan baik.
Setelah zat beracun masuk ke dalam organisme, zat tersebut akan bergerak menuju aliran darah
dan dibawa menuju organ target. Kerusakan oleh zat beracun akan ditimbulkan pada organ
tersebut. Namun, terdapat kesalahanpahaman bahwa kerusakan oleh zat beracun terjadi di dalam
organ yang memiliki konsentrasi zat beracun yang tinggi. Timbal, contohnya, banyak ditemukan
dalam struktur tulang manusia, namun kerusakan yang terjadi juga ditimbulkan oleh organ
lainnya. Pada zat kimia yang bersifat korosif, bahaya yang ditimbulkan pada organisme dapat
terjadi tanpa melalui proses absorpsi atau perpindahan melalui aliran darah.
Zat beracun dapat masuk ke dalam organisme malalui cara berikut:
1. Penelanan (Ingestion) : melalui mulut dan masuk ke perut
2. Penghirupan (Inhalation) : melalui mulut atau hidung dan masuk ke paru-paru
3. Injeksi (Injection) : melalui luka yang terdapat pada kulit
4. Absorpsi Dermal : melalui membran kulit.
Empat cara tersebut dapat dikendalikan dengan adanya teknik kebersihan industri, sebagaimana
disimpulkan pada Tabel 2-1. Teknik pengendalian ini didiskusikan secara detil pada Bab 3. Dari
keempat cara tersebut, penghirupan dan absorpsi dermal adalah dua cara yang paling sering
dialami di industri. Penghirupan adalah cara yang paling mudah diukur kadar keracunannya
dengan melakukan pengukuran secara langsung dari konsentrasi udara; biasanya penghirupan
terjadi melalui media berupa uap, padatan kecil, dan partikel liquid.

Tabel 2-1

Cara Masuk Zat Beracun dan Metode Pengendalian

Cara Masuk

Organ

Metode Pengendalian

Penelanan

Mulut atau perut

Penerapan

aturan

makan,

minum, dan merokok


Penghirupan

Mulut atau hidung

Ventilasi, respirator, kap, dan

alat pelindung lainnya


Injeksi

Luka pada kulit

Pakaian pelindung

Absorpsi Dermal

Kulit

Pakaian pelindung

Injeksi, penghirupan, dan absorpsi dermal secara umum akan membawa zat beracun masuk
ke aliran darah. Zat beracun yang masuk melalui cara penelanan biasanya diekskresikan melalui
empedu.
Zat beracun yang masuk melalui injeksi dan dermal absorpsi sulit untuk diukur karena
sebagian zat beracun diserap dengan cepat melalui kulit.
Gambar 2-1 menunjukkan perkiraan konsentrasi tingkatan darah dalam fungsi waktu dan
cara masuk yang dilaluinya. Konsentrasi tingkatan darah adalah fungsi parameter dengan jarak
rentang yang lebar, sehingga menghasilkan perbedaan yang cukup besar. Injeksi menghasilkan
konsentrasi tingkatan darah tertinggi, diikuti dengan penghirupan, penelanan, dan absorpsi.
Sitstem Gastrointestinal (GI), kulit, dan sistem respirasi berperan penting dalam berbagai
proses masuknya zat beracun ke dalam tubuh.

Gambar 2-1
Konsentrasi tingkatan
darah yang beracun
pada fungsi jalur
pemasukan racun.
Adanya range
perbedaan yang lebar
merupakan hasil dari
laju proses absorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi.
Sistem Gastrointestinal

Sistem GI memiliki peran penting dalam proses masuknya zat beracun ke dalam tubuh
melalui cara penelanan. Makanan atau minuman adalah medianya. Partikel udara (padat atau
cair) dapat juga masuk ke mucus yang terdapat pada bagian atas sistem respirasi hingga
kemudian ditelan.
Laju dan selektivitas absorpsi oleh sistem GI sangat terikat pada berbagai kondisi. Jenis zat
kimia, berat molekul, ukuran dan bentuk molekul, keasaman, kerentanan untuk menyerang usus,
laju pergerakan melalui sistem GI, dan faktor lainnya dapat mempengaruhi laju absorpsi.
Kulit
Kulit berperan penting dalam proses absorpsi dermal dan injeksi. Cara injeksi tersebut
termasuk absorpsi melalui luka dan injeksi mekanis melalui jarum hipodermik. Injeksi mekanis
terjadi karena tidak layaknya tempat penyimpanan jarum hipodermik di laboratorium.
Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut dengan stratum corneum. Lapisan ini terdiri dari
dead, sel kering yang tahan terhadap racun. Absorpsi juga dapat terjadi melalui folikel rambut
dan kelenjar keringat, namun biasanya diabaikan. Sifat absorpsi kulit bervariasi tergantung
tempat dan tingkat kelembabannya. Adanya air dapat meningkatkan kelembaban kulit dan
menghasilkan permeabilitas serta absorpsi yang tinggi.
Kebanyakan zat kimia tidak diabsorbsi secara langsung oleh kulit. Sebagian kecil zat kimia,
menunjukkan adanya permeabilitas kulit yang baik. Fenol membutuhkan sebagian kecil daerah
kulit untuk menyerap serta dapat menyebabkan kematian.
Kulit pada bagian telapak tangan lebih tebal dari kulit pada bagian tubuh yang lainnya.
Namun, bagian kulit ini menunjukkan adanya porositas yang tinggi, sehingga dapat
menimbulkan potensi absorpsi zat beracun yang paling tinggi.
Sistem Respirasi
Sistem respirasi memegang peranan penting dalam proses masuknya zat beracun melalui
penghirupan.
Fungsi utama sistem respirasi adalah untuk menukar oksigen dan karbondioksida di antara
air dan udara yang masuk. Dalam kurun waktu satu menit, manusia normal dalam keadaan diam

menghirup 250 ml oksigen dan mengeluarkan kurang lebih 200 ml karbon dioksida. Kurang
lebih 8 L udara dinafaskan per menit. Hanya satu fraksi dari total udara di dalam paru-paru yang
ditukar setiap tarikan nafas. Jumlah tersebut semakin menaik dengan adanya aktivitas fisik.
Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian: sistem respirasi atas dan bawah. Sistem
respirasi bagian atas terdiri dari hidung, sinus, mulut, pharynx (bagian diantara mulut dan
esophagus), larynx (kotak suara), dan trakea. Sistem respirasi bagian bawah terdiri dari paru-paru
dan struktur yang berukuran kecil, yaitu bronkus dan alveolus. Pembuluh bronkus membawa
udara segar dari trakea melalui rangkaian pembuluh bronkus menuju alveolus. Alveolus
merupakan kantung udara kecil dimana terjadi pertukaran gas dengan darah. Sekitar 300 juta
alveoli ditemukan pada paru-paru normal. Alveoli memiliki total luas permukaan sekitar 70 m 2.
Kapiler kecil yang terdapat pada dinding alveoli mentransportasikan darah 100 ml darah.
Sistem respirasi bagian atas berfungsi untuk menyaring, memanaskan, dan
melembabkan udara. Udara segar yang dibawa oleh hidung dijenuhkan secara sempurna oleh air
dan diregulasikan ke temperatur yang tepat sampai menuju larynx. Garis mucus menunjang
proses penyaringan.
Sistem bagian atas dan bawah respirasi memberikan respon secara berbeda-beda
terhadap adanya zat beracun. Sistem bagian atas respirasi sangat dipengaruhi oleh zat beracun
yang dapat larut dalam air. Zat ini dapat beraksi atau larut dalam mucus untuk membentuk asam
dan basa. Zat beracun dalam sistem respirasi mempengaruhi alveolus dengan cara memblokir
perpindahan gas atau bereaksi dengan dinding alveolus untuk memproduksi senyawa korosif dan
beracun. Gas fosgen, contohnya, bereaksi dengan air pada dinding alveoli untuk memproduksi
HCl dan karbon monoksida.
Zat beracun yang terdapa pada sistem respirasi bagian atas termasuk hidrogen halida
(hidrogen klorida, hidrogen bromida), oksida (nitrogen oksida, sulfur oksida, natrium oksida),
dan hidroksida (ammonium hidroksida, serbuk natrium dan kalium hidroksida). Zat beracun pada
sistem respirasi bagian bawah termasuk halida (fluorin, klorin, bromin), dan senyawa lainnya
seperti hidrogen sulfida, fosgen, metil sianida, akrolein, serbuk asbestos, silika, dan jelaga.

Serbuk

dan

yang

tidak

zat

dapat larut lainnya


dapat
menyebabkan
kerusakan kinerja
pada

paru-paru.

Partikel

yang

masuk ke alveoli
akan dihilangkan
secara

perlahan-

lahan.

Untuk

serbuk,

berlaku

aturan

sebagai

berikut:

semakin

kecil

partikel

serbuk, semakin jauh partikel tersebut menembus sistem respirasi. Partikel yang memiliki
diameter lebih dari 5m biasanya disaring dengan sistem respirasi bagian atas. Partikel dengan
diameter diantar 2 - 5m biasanya dapat menjangkau sistem bronkus. Partikel yang memiliki
diamter kurang dari 1m dapat menjangkau sistem alveolus.
2-2 Penghilangan Zat Beracun dari Organisme
Zat beracun dapat disingkirkan dengan cara :
- Ekskresi : melalui ginjal, hati, paru-paru, dan organ lainnya
- Detoksifikasi : merubah zat kimia menjadi tak berbahaya dengan biotransformasi
- Penyimpanan : pada jaringan lemak.

Ginjal memiliki fungsi dominan pada proses eksresi dalam tubuh manusia. Organ tersebut
menyingkirkan senyawa yang masuk ke tubuh dengan cara penelanan, penghirupan, injeksi, dan

absorpsi dermal. Zat beracun diesktraksikan oleh ginjal dari aliran darah dan ekskresikan melalui
urin.
Zat beracun yang ditelan dan masuk ke dalam sistem pencernaan diekskresikan oleh hati.
Secara umum, zat kimia memiliki berat molekul lebih besar dari 300 dan dieksresikan oleh hati
dan empedu. Senyawa dengan berat molekul yang lebih rendah masuk ke aliran darah dan
dieksresikan melalui ginjal. Sistem pencernaan cenderung menghilangkan racun tertentu, dimana
senyawa yang masuk melalui penghirupann, injeksi, atau absorpsi dermal akan masuk pada
aliran darah.
Paru-paru juga berperan dalam penyingkiran zat beracun, khususnya zat yang volatil.
Kloroform dan alkohol, contohnya, dieksresikan sebagian dengan cara ini.
Cara ekskresi lainnya dapat dilakukan oleh kulit dengan media keringat, rambut, dan kuku.
Namun, cara ini kurang dominan bila dibandingkan dengan proses ekskresi oleh ginjal, hati, dan
paru-paru.
Hati merupakan organ penting pada proses detoksifikasi. Detoksifikasi terjadi oleh adanya
biotransformasi, dimana zat kimia akan diubah dengan suatu reaksi menjadi senyawa yang tidak
berbahaya. Reaksi biotransformasi dapat terjadi dalam darah, dinding usus, kulit, ginjal, dan
organ lainnya.
Mekanisme terakhir dalam proses eleminasi zat beracun adalah penyimpanan. Proses ini
melibatkan penyimpanan zat kimia pada daerah berlemak, tulang, darah, hati, dan ginjal.
Penyimpanan juga dapat menimbulkan masalah ke depannya bila persediaan makanan pada
organisme berkurang sehingga simpanan lemak akan dimetabolisme; zat kimia yang disimpan
akan dilepas menuju aliran darah dan kemudian menimbulkan kerusakan.
Kerusakan terbesar yang ditimbulkan pada ginjal, hati, atau paru-paru akan merusak
kemampuan organisme untuk mengekskresikan zat beracun.

Tabel 2-2 Macam Respon yang Ditimbulkan terhadap Zat Beracun

Efek ireversibel
Karsinogen menyebabkan kanker
Mutagen menyebabkan kerusakan kromosom
Bahaya Reproduksi menyebabkan kerusakan sistem reproduksi
Teratogen menyebabkan cacat kelahiran
Efek yang dapat bersifat reversibel atau tidak reversibel
Dermatotoksik merusak kulit
Hematotoksik merusak darah
Hepatotoksik merusak hati
Nefrotoksik merusak ginjal
Neurotoksik merusak sistem saraf
Pulmonotoksik merusak paru-paru
2-3 Efek Zat Beracun pada Organisme Biologis
Tabel 2-2 menunjukkan beberapa efek atau respon dari adanya zat beracun.
Masalah yang harus diketahui adalah bagaimana cara menentukan apakah kontaminasi zat
beracun terjadi sebelum adanya gejala besar. Hal ini dapat diketahui melalui uji secara medis.
Hasil dari uji harus dibandingkan dengan ilmu dasar medis, dan harus dilakukan sebelum
terjadinya kontaminasi. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang kimia menerapkan ilmu
dasar pada pegawai barunya sebelum memulai pekerjaannya.
Gangguan sistem respirasi dapat didiagnosa dengan menggunakan spirometer. Seorang
pasien akan menghembuskan nafas secepat dan sekuat mungkin pada alat tersebut. Spirometer
akan mengukur (1) total volum yang dihembuskan (FVC), dalam satuan liter; (2) volume akhir
dipaksakan yang diukur pada satu detik (FEV1), dalam satuan liter per detik; (3) aliran ekspirasi

dipaksakan pada rentang menengah kapasitas vital (FEV 25-75%), diukur dalam liter per detik;
dan (4) rasio FEV1 pada FVC x 100 (FEV1/FVC%) yang diamati.
Pengurangan laju alir ekspirasi menunjukkan adanya penyakit pada bronkus, seperti asma
dan bronkitis. Pengurangan FVC disebabkan karena adanya pengurangan volume paru-paru atau
dada, sebagai dampak dari adanya fibrosis (peningkatan jaringan fibrosa interstisial pada paruparu). Udara yang tertinggal pada paru-paru setelah pengehembusan disebut dengan volume
residu (RV). Peningkatan RV menunjukkan adanya pemburukan alveoli yang dapat disebabkan
oleh emfisema. Pengukuran RV memerlukan uji pelacakan khusus dengan helium.
Kelainan sistem saraf dapat didiagnosa dengan memeriksa kondisi mental pasien, fungsi
saraf terngkoraks, sistem refleksi motorik, dan sistem sensorik. Electroencephalogram (EG)
menguji fungsi bagian otak atas dan sistem saraf.
Perubahan tekstur kulit, pigmentasi, vaskularisasi, dan penampilan rambut serta kuku
menunjukkan adanya kontaminasi dari zat beracun.
Kadar darah dapat juga digunakan untuk menentukan adanya kontaminasi racun.
Pengukuran sel darah merah dan sel darah putih, kadar hemoglobin, dan platelet dapat ditinjau
secara mudah dan murah. Namun, kadar darah biasanya tidak sensitif dengan adanya
kontaminasi zat beracun; perubahan yang menonjol akan terlihat apabila terdapat kontaminasi
dan kerusakan yang parah.
Fungsi ginjal ditentukan melalui berbagai tes yang bermacam-macam yang mengukur
unsur kimia dari urin. Untuk kerusakan ginjal dini protein atau gula ditemukan di urin. Fungsi
hati ditentukan dari berbagai jenis tes kimia terhadap darah dan urin.

2-4 Pembelajaran tentang Toksikologi

Tujuan utama dari studi toksikologi adalah untuk mengukur efek racun pada organisme sasaran.
Bagi kebanyakan studi toksikologi hewan digunakan. biasanya dengan harapan
bahwa hasilnya dapat diekstrapolasikan ke manusia. Setelah efek dari agen
tersangka telah dihitung, prosedur yang tepat ditetapkan untuk memastikan bahwa
agen ditangani dengan benar.
Sebelum melakukan studi toksikologi, item berikut harus diidentifikasi:

1.
2.
3.
4.
5.

Toksik
Target atau tes organisme
Efek atau respon yang akan dimonitor
Kisaran dosis
Periode pengujian

Toksikan harus diidentifikasi sehubungan dengan komposisi kimia dan negara


fisiknya. Sebagai contoh, benzena dapat eksis baik dalam bentuk cair atau uap.
Setiap keadaan fisik yang memasuki tubuh dengan rute yang berbeda dan
membutuhkan studi toksikologi yang berbeda.
Uji organism dapat berkisar dari sel sederhana sampai tunggal melalui hewan yang
lebih tinggi. Pemilihan tergantung pada efek dipertimbangkan dan faktor-faktor lain
seperti biaya dan ketersediaan organisme uji. Untuk studi efek genetik. organisme
sel tunggal mungkin memuaskan. Untuk studi menentukan efek pada organ
tertentu seperti paru-paru, ginjal. atau hati, organisme yang lebih tinggi adalah
suatu keharusan.

Unit dosis tergantung pada metode pengiriman. Untuk zat disampaikan langsung
ke organisme (oleh konsumsi atau injeksi), dosis diukur dalam miligram per gram
agen kilo- berat badan. Hal ini memungkinkan peneliti untuk menerapkan hasil yang
diperoleh dari hewan kecil seperti tikus (pecahan dari satu kilogram berat badan)
kepada manusia (sekitar 70 kg untuk laki-laki dan 60 kg untuk wanita). Untuk zat
udara gas dosis diukur baik bagian per juta (ppm) atau miligram zat per meter kubik
udara (mg / m). Untuk partikulat udara dosis diukur dalam miligram per meter kubik
agen udara (mg / m3) atau jutaan partikel per kaki kubik (mppcf).
Periode pengujian tergantung pada apakah panjang atau jangka pendek efek yang
menarik. Toksisitas akut adalah te efek dari paparan tunggal atau serangkaian
eksposur berdekatan dalam waktu singkat.. Studi toksisitas kronis sulit untuk
dilakukan karena waktu yang terlibat; paling toxi- studi cological didasarkan pada
eksposur akut. Studi toksikologi dapat menjadi rumit dengan latency, eksposur yang
menghasilkan respon tertunda
2-5 Dosis versus Respon
Organisme biologis merespon secara berbeda terhadap dosis yang sama dari
racun a. Perbedaan ini persamaan hasil dari usia, jenis kelamin, berat badan, diet,
kesehatan umum, dan faktor lainnya. Sebagai contoh, mempertimbangkan efek dari
uap iritasi pada mata manusia. Mengingat dosis yang sama dari uap, beberapa
orang hampir tidak akan melihat adanya iritasi (respon yang lemah atau rendah),
sedangkan orang lain akan sangat jengkel (respon tinggi). Pertimbangkan tes
toksikologi dijalankan pada sejumlah besar individu. Setiap individu terkena dosis
yang sama dan respon dicatat. Sebuah plot dari jenis yang ditunjukkan pada
Gambar 2-2 siap dengan data. Fraksi atau persentase orang yang mengalami
respon tertentu diplot. Kurva bentuk yang ditunjukkan pada Gambar 2-2 sering
diwakili oleh distribusi normal atau Gaussian diberikan oleh persamaan.

dimana
f(x) adalah
kemungkinan dari setiap individual yang merasakan respon yang spesifik

x adalah repon

adalah rata-rata
adalah standar deviasi

Gambar 2-2
Standar deviasi dan dan rata-rata mencirikan bentuk dan lokai dari kurva distribusi
normal masing-masing. Mereka diinput dari data asli f(xi) menggunakan persamaan

Di mana n adalah jumlah titik data. Kuantitas 2 disebut varians. Berarti


menentukan lokasi kurva terhadap sumbu x, dan standar deviasi menentukan
bentuk. Gambar 2-3 menunjukkan efek deviasi standar pada bentuk. Sebagai
standar deviasi menurun, kurva distribusi menjadi lebih terasa di sekitar nilai
rata-rata.
Area di bawah kurva dari Gambar 2-2 merupakan persentase individu yang
terkena untuk interval respon tertentu. Secara khusus, interval respon dalam 1
standar deviasi dari mean mewakili 68% dari individu-individu, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2-4a. Sebuah respon antar val of2 standar deviasi
merupakan 95,5% dari total individu (Gambar 2-4b). Area di bawah kurva
mewakili seluruh 100% dari individu-individu.

Contoh 2.1
Tujuh puluh lima orang yang diuji untuk iritasi kulit karena dosis tertentu dari
suatu zat. Tanggapan dicatat pada skala dari 0 sampai 10, dengan 0 menunjukkan
tidak ada respon dan 10 menunjukkan jumlah individu menunjukkan respon khusus
diberikan pada tabel berikut:

a. Buatlah
histogram

plot
dari

jumlah
individual

yang

terkena dampak
berlawanan
dengan repon
b. Tentukan
ratarata dan standar
deviasinya
c. Buat

plot

distribusi normal
di histogram dari data asli
Solusi
a. Histogram ditunjukkan pada figure 2-5. Jumlah individual yang
terafeksi diplotkan berlawanan dengan responnya. Metode alternative adalah
dengan memplotkan persentasi dari individual berlwanan dengan responsnya

b. Rata-rata diinput dengan menggunakan persamaan 2-2

c. Distribusi normal di input dengan menggunakan persamaan 2-1.


Menggantikan rata-rata dan standar deviasi kita menemukan

Distribusi ini di konversikan menjadi fungsi mewakili jumlah individu


yang terkena dengan mengalikan dengan jumlah total individu, dalam hal ini
75. Nilai-

nilai yang sesuai pada Tabel 2-3 dan Gambar 2-5. Adalah

Gambar 2-6.
Kurva dosisrespon. Bar di
sekitar titik
data mewakili
deviasi standar
dalam
menanggapi
dosis tertentu.
Percobaan
Toksikologi
diulang

untuk

sejumlah dosis berbeda, dan normal kurva serupa untuk gambar 2-3. Deviasi standar dan respon
yang berarti ditentukan dari data untuk setiap dosis.
Kurva lengkap dosis-respon yang dihasilkan oleh merencanakan respons berarti setiap dosis
kumulatif. Error bar diambil di di sekitar mean. Hasilnya ditunjukkan dalam gambar 2-6.
Dipermudahkan dengan respon diplot versus logaritma dosis, seperti yang ditunjukkan
dalam gambar 2-7. Gambar ini memberikan baris tegak di tengah kurva respon dibandingkan
dengan kurva respon versus dosis seperti pada gambar 2-6.
Jika respon yang menarik adalah kematian atau lethality, respon versus log dosis kurva dari
gambar 2-7 disebut kurva dosis mematikan.

Gambar
2-7. Respon
versus log
dosis kurva.
Untuk tujuan
perbandingan
dosis

yang

menghasilkan
50% lethality
subjek sering
dilaporkan.
Ini disebut LD50 dosis (dosis mematikan untuk 50% dari subyek). Nilai-nilai lain seperti LD10
atau LD90 kadang-kadang juga dilaporkan. Untuk gas, LC (mematikan konsentrasi) data yang
digunakan.
Jika respon terhadap kimia atau agen kecil dan reversibel (seperti iritasi mata kecil), responlog dosis kurva disebut kurva dosis efektif (ED). Nilai untuk ED50, ED10, dan sebagainya juga
digunakan.

Gambar
2-8.
Berbagai
jenis respon
versus
kurva log
dosis. ED,
dosis efektif

; TD, beracun dosis ; LD, dosis yang mematikan. Untuk gas, LC (konsentrasi letal)
digunakan.
Akhirnya , jika respon untuk agen beracun ( yang tidak diinginkan respons yang tidak
mematikan tetapi tidak dapat diperbaiki , seperti hati atau kerusakan paru-paru ) , tanggapan log
dosis kurva disebut dosis beracun , atau TD kurva.
Hubungan antara berbagai jenis respon-log dosis kurva ditunjukkan dalam gambar 2-8.
Paling sering, respon dosis kurva dikembangkan dengan menggunakan data toksisitas akut.
Data toksisitas kronis biasanya jauh berbeda. Selain itu, data yang rumit dibedakan oleh
kelompok usia, jenis kelamin, dan metode pengiriman. Jika beberapa bahan kimia yang terlibat,
toxicants mungkin berinteraksi additively (efek gabungan adalah jumlah dari efek individu),
sinergis (efek gabungan adalah lebih dari efek individu), potentiately (kehadiran satu
meningkatkan efek yang lain), atau antagonistically (kedua melawan satu sama lain).
2-6 Model untuk Dosis dan Kurva Respon
Respon versus dosis kurva dapat ditarik untuk berbagai macam eksposur, termasuk paparan
panas, tekanan, radiasi, dampak dan suara. Untuk komputasi tujuan respon versus dosis kurva ini
tidak mudah; sebuah persamaan analitis pilihan.

Gambar 2-9. Hubungan antara persentase dan probits. Sumber: D. J. Finney, Probit
Analisis, 3rd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1971), hlm. 23.
Ada banyak metode untuk mewakili kurva. Pertama, respon dosis untuk satu eksposur probit
metode (probabilitas probit unit) sangat cocok, menyediakan setara dengan kurva respon dosis.
Variabel Y probit berkaitan dengan probabilitas P dengan rumus

Persamaan

2-4

menyediakan
hubungan

antara

probabilitas P dan variabel probit Y. Hubungan diplot di gambar 2-9 dan tabel dalam tabel 2-4.

Tabel 2-4 Transformasi dari Persentase untuk Probits

Hubungan probit dari Persamaan 2-4 mengubah bentuk sigmoid dari respon normal terhadap
kurva dosis menjadi garis lurus ketika diplot menggunakan skala probit linear, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2-10.

Gambar 2-10
Transformasi probit
mengubah respon
sigmoidal terhadap
kurva log dosis
menjadi garis lurus

ketika diplot pada skala probit linear. Sumber: D. J. Finney, Analisis Probit, 3rd ed.
(Cambridge: Cambridge University Press, 1971), hlm. 24. Dicetak ulang dengan izin.
Tabel 2-5 berisi berbagai persamaan probit untuk sejumlah jenis eksposur. Itu faktor penyebab
mewakili V. dosis Variabel probit Y dihitung dari

Tabel 2-5. Probit Korelasi untuk Berbagai Eksposur (Variabel penyebab adalah dari
besarnya eksposur.)

Untuk spreadsheet perhitungan ekspresi yang lebih berguna untuk melakukan konversi dari
probits ke.

Persentase diberikan oleh


mana erf adalah fungsi
kesalahan.
Example 2.2
Tentukan persentase orang yang akan mati akibat luka bakar jika variabel probit Y adalah 4.39.
Bandingkan hasil dari Tabel 2-4 dan Persamaan 2-6
Solusi :
Persentase dari Tabel 2-4 adalah 27%. Persentase yang sama dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan 2-6, sebagai berikut:

di

mana

fungsi

kesalahan dari fungsi


matematika
ditemukan

yang
di

spreadsheet, Mathcad, dan program lainnya.


Example 2.3
Eisenberg melaporkan data berikut pada efek puncak ledakan overpressures pada gendang
telinga pecah pada manusia:

Konfirmasi
probit

untuk

korelasi
jenis

eksposur, seperti yang

ditunjukkan pada Tabel 2-5.


Solusi :
Persentase dikonversi menjadi variabel probit menggunakan Tabel 2-4. Hasilnya:

Gambar

2-11

Persentase

yang

terkena

dampak

versus

logaritma

natural dari puncak


overpressure untuk
contoh 2-3.
Gambar

2-

11 adalah plot dari


persentasi yang terkena dampak versus logaritma natural dari puncak overpressure.Ini
menunjukkan bentuk sigmoid klasik dari respon versus kurva dosis log.Gambar 2-12 adalah
sebuah plot dari variable probit (dengan sebuah skala probit linier) versus logaritma natural dari
puncak overpressure.Garis lurus memverifikasi nilai yang dilaporkan dalam table 2-5.Kurva
sigmoid dari gambar 2-11 digambar setelah mengkonversi korelasi probit kembali ke persentase.

Gambar
Probit

2-12
versus

logaritma natural
dari

puncak

overpressure
untuk contoh 23.
Hal56

2-7
Toksisitas
Relatif
Tabel

2-6

menunjukkan table Hodge-Sterner untuk derajat toksisitas.Tabel ini mencakup rentang dosis dari
1.0 mg/kg sampai 15.000 mg/kg.
Racun- racun dibandingkan untuk toksisitas relatif berdasarkan LD, ED, atau kurva TD.
Jika kurva respon dosis untuk kimia A adalah di sebelah kanan kurva respon dosis untuk
senyawa B, maka senyawaA lebih beracun. Perawatan harus diambil ketika membandingkan dua
kurva respon dosis ketika data parsial yang tersedia. Jika lereng kurva setelah substansial, situasi
yang ditunjukkan pada gambar 2-13 mungkin terjadi.jika hanya poin data tunggal tersedia di
bagian atas dari kurva, mungkin tampak bahwa bahan kimia A selalu lebih beracun daripada
kimia B .Data lengkap menunjukkan bahwa bahan kimia B lebih beracun pada dosis rendah.
2-8 Nilai Ambang Batas
Nilai terendah pada respon terhadap kurva dosis disebut dosis ambang. Dibawah dosis ini tubuh
mampu untuk detoksifikasi dan menghilangkan agen tanpa efek yang terdeteksi. Pada
kenyataannya respon hanya identik nol ketika dosis adalah nol, tetapi untuk dosis kecil respon
tidak terdeteksi.
The American Conference of governmental industrial hygienist (ACGIH) telah
membentuk dosis ambang batas, yang disebut nilai ambang batas (TLV), untuk sejumlah besar
bahan kimia. TLV mengacu pada konsentrasi udara yang sesuai dengan kondisi di mana tidak
ada efek samping biasanya diharapkan selama seumur hidup pekerja. Paparan terjadi hanya
selama jam kerja normal, delapan jam per hari dan lima hari per minggu. TLV sebelumnya
disebut konsentrasi maksimum yang diijinkan (MAC).

Ada tiga jenis TLV (TLV-TWA, TLV-STEL, dan TLV-C) dengan definisi yang tepat
diberikan pada tabel 2-7. Lebih banyak TLV-TWA data yang tersedia dari TWA-STEL atau TLVC data.

Gambar
Dua

2-13
senyawa

beracun

dengan

perbedaan
toksisitas relative
pada

dosis

berbeda.Senyawa
lebih berbahaya pada dosis tinggi,dimana senyawa B Lebih beracun pada dosis rendah.
Tabel 2-7 Definisi definisi untuk Nilai Ambang Batas
TLV type
TLV-TWA:

Definisi
Nilai-waktu ambang batas rata-rata tertimbang.
Konsentrasi untuk konvensional 8- jam hari kerja dan 40 jam kerja seminggu,
yang diyakini bahwa hampir semua pekerja dapat berulang kali terkena, hari demi
hari, untuk sebuah pekerjaan selama hidup tanpa efek merugikan.

TLV-STEL:

Nilai-jangka pendek ambang batas pemaparan.


Sebuah 15-menit paparan TWA yang tidak boleh melebihi setiap saat selama hari
kerja, bahkan jika 8 jam TWA adalah dalam TLV-TWA. The TLV-STEL adalah
konsentrasi yang diyakini bahwa pekerja bisa terkena terus menerus untuk waktu
singkat tanpa menderita (1) iritasi, (2) kerusakan jaringan kronis ireversibel, (3)
dosis tingkat ketergantungan racun, atau (4) pembiusan derajat yang cukup untuk
meningkatkan kemungkinan cedera kecelakaan, gangguan penyelamatan diri, atau
mengurangi efisiensi kerja. Paparan di atas TLV-TWA hingga TLV-STEL harus

kurang dari 15 menit, harus terjadi tidak lebih dari empat kali per hari, dan harus
ada setidaknya 60 menit antara eksposur berturut-turut dalam kisaran ini.
TLV-C :

Nilai ambang batas langit-langit.


Konsentrasi yang tidak boleh melebihi selama setiap bagian dari paparan kerja.

TLV yang "dimaksudkan untuk digunakan hanya sebagai pedoman atau rekomendasi
untuk membantu dalam evaluasi dan pengendalian potensi bahaya kesehatan di tempat kerja dan
tanpa penggunaan lain (misalnya, tidak untuk mengevaluasi atau mengendalikan polusi udara
masyarakat; atau untuk memperkirakan potensi beracun terus menerus, eksposur terganggu atau
periode kerja diperpanjang lainnya, maupun untuk membuktikan atau tidak membuktikan
penyakit yang ada atau kondisi fisik individu) ". Selanjutnya, nilai-nilai ini bukan garis-garis
halus antara kondisi yang aman dan berbahaya ".
OSHA telah mendefinisikan dosis ambang sendiri, disebut tingkat paparan diperbolehkan
(PEL). Nilai PEL mengikuti TLV-TWA dari ACGIH erat. Namun, Nilai PEL yang tidak banyak
dan tidak sering diperbarui . TLV sering agak lebih konservatif.
Untuk beberapa racun (terutama karsinogen) eksposur di tingkat manapun tidak
diizinkan. Racun ini memiliki batas nol.
Kuantitas lain yang sering dilaporkan adalah jumlah berbahaya bagi kehidupan dan
kesehatan (IDLH). Eksposur kuantitas ini dan di atas harus dihindari di bawah setiap
sirkumtansi.
TLV yang dilaporkan menggunakan ppm (bagian per juta berdasarkan volume), mg / m ^
3 (miligram per meter kubik uap udara), atau, untuk debu, mg / m ^ 3 atau mppcf (jutaan partikel
per kaki kubik udara ). Untuk uap, mg / m ^ 3 isconverted untuk ppm menggunakan persamaan:
Cppm= Konsentrasi dalam ppm

Dimana

T adalah suhu dalam Kelvin


P adalah tekanan absolute dalam atm, dan
M adalah berat molekul dalam gm/gm-mol
TLV dan PEL nilai untuk berbagai toxicants disediakan dalam Lampiran G.
Harap dicatat bahwa meskipun PELs batas hukum dan TLV pedoman, setiap upaya harus
dilakukan untuk mengurangi konsentrasi paparan kerja sebanyak mungkin.
2-9 National Fire Protection Association (NFPA) Diamond
Metode lain yang digunakan untuk mengkarakterisasi sifat berbahaya dari bahan kimia adalah.
NFPA adalah masyarakat profesional yang didirikan pada tahun 1896 untuk mengurangi
korban jiwa di seluruh dunia dan luka-luka akibat kebakaran dan bahaya lainnya. Fungsi utama
mereka adalah untuk mempromosikan kode konsensus dan standar, termasuk Kode Listrik
Nasional (NEC).

NFPA
diamond

sering

muncul pada wadah


bahan

kimia

dan

kapal penyimpanan.
Tujuan utama dari
berlian

adalah

untuk memberikan cara cepat untuk personil tanggap darurat untuk mengenali bahaya kimia
yang mungkin mereka hadapi selama kebakaran atau darurat lainnya. Namun, juga berguna
untuk operasi rutin di mana bahaya pengakuan penting. NFPA diamond sering ditemukan pada
wadah bahan kimia di laboratorium.
NFPA diamond terdiri dari 4 wilayah yang terpisah ditunjukkan pada gambar 2-14.
Daerah masing-masing sesuai dengan kesehatan, kebakaran, stabilitas, dan bahaya khusus. Di

masa lalu reaktivitas kata itu digunakan bukan stabilitas, tetapi stabilitas kimia adalah deskripsi
yang lebih akurat dari bahaya yang dihadapi personel tanggap darurat selama kebakaran.
Kesederhanaan NFPA diamond adalah bahwa bahaya masing ditandai dengan nomor,
dengan angka 0 mewakili bahaya minimal dan nomor 4 yang mewakili bahaya terbesar. Gambar
2-14 menunjukkan bagaimana nomor ditugaskan.
Lampiran G berisi nomor NFPA untuk berbagai bahan kimia yang umum.