Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ANEMIA


Di Ruang Melati RSU Banyumas

Tugas Mandiri
Stase Praktek Keperawatan Medikal Bedah

Disusun oleh :
Dita Hanna Febriani
09/286792/KU/13409

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

A. Konsep Anemia
1. Definisi
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.

Anemia bukan merupakan

penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat


gangguan fungsi tubuh.

Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat

kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.


2. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau
kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah
merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping
proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan
destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan
bilirubin plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti
yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam
plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengkat
semuanya (mis: apabila jumlahnya lebih dari sekita 100 mg/dl), hemoglobin akan
terdifusi dalam glomerolus ginjal dan ke dalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada atau
tidaknya adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan infrmasi
mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien dengan
hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses hemolitik
tersebut.

Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh


penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam sirkulasi darah; 2.
derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara
pematangannya,

seperti

yang

terlihat

hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.

dalam

biopsi;

dan

ada

tidaknya

Pathway

3. Etiologi
Penyebab umum dari anemia:
Perdarahan hebat
Akut (mendadak)
Kecelakaan

Pembedahan
Persalinan
Pecah pembuluh darah
Penyakit Kronik (menahun)
Perdarahan hidung
Wasir (hemoroid)
Ulkus peptikum
Kanker atau polip di saluran pencernaan
Tumor ginjal atau kandung kemih
Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
Berkurangnya pembentukan sel darah merah
Kekurangan zat besi
Kekurangan vitamin B12
Kekurangan asam folat
Kekurangan vitamin C
Penyakit kronik
Meningkatnya penghancuran sel darah merah
Pembesaran limpa
Kerusakan mekanik pada sel darah merah
Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
Sferositosis herediter
Elliptositosis herediter
Kekurangan G6PD
Penyakit sel sabit
Penyakit hemoglobin C
Penyakit hemoglobin S-C
Penyakit hemoglobin E
Thalasemia (Burton, 1990).

4. Klasifikasi anemia:
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1.

Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel


darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a.

Anemia aplastik
Penyebab:
-

agen neoplastik/sitoplastik

terapi radiasi

antibiotic tertentu

obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas,


fenilbutason

benzene

infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang


Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala:
-

Gejala anemia secara umum (pucat, lemah,


dll)

Defisiensi

trombosit:

ekimosis,

petekia,

epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan


susunan saraf pusat.
Morfologis: anemia normositik normokromik

b.

Anemia pada penyakit ginjal


Gejala-gejala:
-

Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10


mg/dl

Hematokrit turun 20-30%

Sel darah merah tampak normal pada apusan


darah tepi

Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun


defisiensi eritopoitin
c.

Anemia pada penyakit kronis


Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis
normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang
normal).

Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis,

tuberkolosis dan berbagai keganasan


d.

Anemia defisiensi besi


Penyebab:
-

Asupan

besi

tidak

adekuat,

kebutuhan

meningkat selama hamil, menstruasi


-

Gangguan absorbsi (post gastrektomi)

Kehilangan darah yang menetap (neoplasma,


polip, gastritis, varises oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)


sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi


Gejala-gejalanya:
-

Atropi papilla lidah

Lidah pucat, merah, meradang

Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut

Morfologi: anemia mikrositik hipokromik

e.

Anemia megaloblastik
Penyebab:
-

Defisiensi

defisiensi

vitamin

B12

dan

defisiensi asam folat


-

Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik


faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan,
agen kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi,
pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

2.

Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah


merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
-

Pengaruh obat-obatan tertentu

Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma


multiple, leukemia limfositik kronik

Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase

Proses autoimun

Reaksi transfusi

Malaria

5. Tanda dan Gejala


- Lemah, letih, lesu dan lelah
- Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
- Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi
pucat.
6. Kemungkinan Komplikasi yang muncul
Komplikasi umum akibat anemia adalah:

- gagal jantung,
- parestisia dan
- kejang.
Komplikasi lainnya:
a. Jantung
Menyebabkan gagal jantung kongestif
b. Paru
Menyebabkan infark paru,pneumonia,pneumonia,pneomokek
c. SSP
Menyebabkan trombosis serebral
d. Genito urinaria
Menyebabkan disfungsi ginjal,pria pismuse.
e. GI
Menyebabkan kolesisfitis,fibrosis hati dan abses hati.
f. Ocular
Menyebabkan ablasia retina,penyakit pembuluh darah perifer, pendarahan
g. Skeletal
Menyebabkan nekrosis aseptic kaput femoris dan kaput humeri, daktilitis (biasanya pada
anak kecil)
h. Kulit
Menyebabkan ulkus tungkai kronis
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hematokrit menurun.Jumlah eritrosit :
menurun, menurun berat (aplastik);
b. MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata)
menurun danmikrositik dengan eritrosit hipokronik, peningkatan. Pansitopenia
(aplastik).
c. Jumlah retikulosit : bervariasi, misal; menurun, meningkat (respons sumsum tulang
terhadapkehilangan darah / hemolisis).Pewarna

sel darah

merah

mendeteksi

perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikantipe khusus anemia).


d. LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan
kerusakan seldarah merah : atau penyakit malignasi.Masa hidup sel darah merah :
berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misal : pada tipeanemia tertentu, sel
darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek.
e. Tes kerapuhan eritrosit : menurun. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah
merah(diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).Jumlah
trombosit : menurun caplastik; meningkat; normal atau tinggi (hemolitik)
f. Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.Bilirubin
serum (tak terkonjugasi): meningkat (hemolitik).
g. Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan
defisiensimasukan/absorpsi
Besi serum : tak ada; tinggi (hemolitik)
BC serum : meningkat

Feritin serum : meningkat


Masa perdarahan : memanjang (aplastik)
LDH serum : menurun
Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine
Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster, menunjukkan
perdarahan akut/kronis.
h. Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam
hidroklorik bebas.
i. Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam
jumlah,ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal:
peningkatan megaloblas,lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik).
j. Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI
(Doenges,1999).
8. Terapi yang Dilakukan
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang
hilang:
1. Anemia aplastik:
- Transplantasi sumsum tulang
- Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal
- Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
- Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
- Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan
untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya,
besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4. Anemia pada defisiensi besi
- Dicari penyebab defisiensi besi
- Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat
ferosus.
5. Anemia megaloblastik
- Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi
disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat
diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
- Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan
selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang
tidak dapat dikoreksi.
- Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam
folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.
9. Penatalaksanaan
Tindakan umum:

Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti

darah

yang hilang.
1. Transpalasi sel darahmerah.
2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.
3.Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen
5.Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
6.Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) :
1) Anemia defisiensi besi
Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang
diberikan adalah ikan, daging, telur, dan sayur.
Pemberian preparat fe
Perrosulfat 3x200mg/hari/per oral sehabis makan
Peroglukonat 3x200mg/hari/oral sehabis makan.
2) Anemia pernisiosa: pemberian vitamin B12
3) Anemia asam folat: asam folat 5 mg/hari/oral
4) Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian
cairan dan transfuse darah
B. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN.
1. Aktifitas / Istirahat
- Keletihan, kelemahan, malaise umum.
- Kehilangan produktifitas, penurunan semangat untuk bekerja
- Toleransi terhadap latihan rendah.
- Kebutuhan untuk istirahat dan tidur lebih banyak
2.
Sirkulasi
- Riwayat kehilangan darah kronis,
- Riwayat endokarditis infektif kronis.
- Palpitasi.
3.
Integritas ego
Keyakinan agama atau budaya mempengaruhi pemilihan pengobatan, misalnya:
penolakan tranfusi darah.
4.
5.
6.

Eliminasi
Riwayat pielonenepritis, gagal ginjal.
Flatulen, sindrom malabsobsi.
Hematemesi, melana.
Diare atau konstipasi
Makanan / cairan
Nafsu makan menurun
Mual/ muntah
Berat badan menurun
Nyeri / kenyamanan

7.
8.
-

Lokasi nyeri terutama di daerah abdomen dan kepala.


Pernapasan
Napas pendek pada saat istirahat maupun aktifitas
Seksualitas
Perubahan menstuasi misalnya menoragia, amenore
Menurunnya fungsi seksual
Impotent

Diagnonsa yang mungkin muncul


NO
1

Diagnosa Keperawatan
Keletihan

Energy

NOC
NIC
Conservation: Energy management:

tindakan

personal

untuk 1. Mendukung verbalisasi

mengatur

energi

untuk perasaan tentang keletihan

memulai

dan 2. Memonitor intake nutrisi

mempertahankan

aktifitas, untuk

dengan kriteria hasil:


istirahat
mengenali

respon

kardiorespiratori

terhadap

4.

menjaga

nutrisi

Memonitor pola tidur

yang pasien dan jumlah waktu

adekuat
4.

Memonitor

keterbatasan aktivitas

energi
3.

sumber

energi yang adekuat

1. keseimbangan aktiftas dan 3.


2.

mejamin

tidur

tidur

siang

untuk

mengembalikan energi
5.
2

Resiko Infeksi

melaporkan

ketahanan

yang adekuat saat beraktifitas


Risk Control
Proteksi Infeksi:
Aksi

personal

mencegah,

untuk 1. tingkatkan cairan dan

menghilangkan, nutrisi

atau mengurangi ancaman 2.


kesehatan

pertahankan

aspetik

dalam

teknik
setiap

1. pasien dapat mengerti tindakan


tentang faktor resiko yang 3. tingkatkan tidur dan
dapat menyebabkan infeksi

istirahat

2. memonitor faktor resiko 4. ajarkan kepada pasien


yang ada dilingkungan

dan

keluarga

cara

3. menghindari keterpaparan menghindari infeksi


terhadap ancaman kesehatan

5. memonitor tanda-tanda

Immune Status

infeksi

1. absolute white blood


3

Ketidakseimbangan
kurang

dari

2. differential white blooed


nutrisi Status
nutrisi
intake Manajemen Nutrisi:

kebutuhan makanan

dan

cairan, 1.

tubuh b.d. ketidakmampuan dengan kriteria hasil:


untuk

mengunyah

mengabsorbsi

atau 1.
nutrisi

nutrisi

status

pasien

dan

Intake makanan peroral kemampuan pasien untuk


yang adekuat

memenuhi

dikarenakan faktor biologis, 2.

Intake NGT adekuat

nutrisi

psikologi

Intake cairan peroral 2. mengidentifikasi alergi

3.

adekuat
4.
5.

menentukan

Intoleransi aktivitas

kebutuhan

atau intoleransi makanan

Intake

cairan

yang 3. memonitor intake nutrisi

adekuat

4. memonitor kehilangan

Intake TPN adekuat

atau penambaan bera badan

Energy

Conservation: Energy management:

tindakan

personal

untuk 1. Mendukung verbalisasi

mengatur

energi

untuk perasaan tentang keletihan

memulai

dan 2. Memonitor intake nutrisi

mempertahankan

aktifitas, untuk

dengan kriteria hasil:


istirahat
mengenali
menjaga
tidur

nutrisi

kardiorespiratori

terhadap

Memonitor pola tidur

yang pasien dan jumlah waktu


tidur

siang

untuk

mengembalikan energi
5.

respon

4.

adekuat
4.

Memonitor

keterbatasan aktivitas

energi
3.

sumber

energi yang adekuat

1. keseimbangan aktiftas dan 3.


2.

mejamin

melaporkan

ketahanan

yang adekuat saat beraktifitas