Anda di halaman 1dari 23

PENGANTAR ARSITEKTUR LANSKAP

SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN ARSITEKTUR LANSKAP


Arsitektur Lanskap ------------------ Frederick Law Olmsted (1858)
Program Pendidikan Arsitektur Lanskap --------------------- Universitas Harvard, Amerika
Serikat (1901)
Arsitektur Lanskap di Indonesia:
1. Dibutuhkan dan dilaksanakan saat Asean Games pada tahun 1962.
2. Berdiri Akademi Arsitektur Pertanaman DKI Jakarta yang bergabung dengan Fakultas
Arsitektur lanskap Trisakti.
PENGERTIAN DASAR ARSITEKTUR LANSKAP
Lanskap merupakan bentang alam, mendesain atau merancang dalam suatu gambar,
taman, maupun bangunan. Arsitektur Lanskap merupakan gabungan dari ilmu dan seni.
Menurut pengertian ilmu tentang arsitektur lanskap, ilmu memiliki nilai fungsi atau kegunaan
sebagai efisiensi, lestari, nyaman dan sehat. Sedangkan menurut pengertian seni tentang
arsitektur lanskap, seni memiliki nilai estetika atau keindahan sebagai komposisi, harmonis
dan serasi. Arsitektur Lanskap merupakan seni dan ilmu menganalisa, merencanakan desain,
manajemen, perlindungan dan rehabilitasi suatu lahan.
DEFINISI ARSITEKTUR LANSKAP MENURUT PARA AHLI
1. Menurut Garret Eckbo
Arsitektur Lanskap adalah bagian dari kawasan lahan yang dibangun atau dibentuk
oleh manusia (di luar bangunan, jalan dan utilitas) sampai ke alam bebas yang dirancang
terutama sebagai ruang untuk tempat tinggal manusia.
2. Menurut Hubbard dan Theodora Kimball
Arsitektur Lanskap merupakan suatu seni yang berfungsi untuk menciptakan dan
melestarikan keindahan lingkungan di sekitar tempat hidup manusia, guna mencapai

kenyamanan dan kesehatan yang sangat penting bagi moralitas, kesehatan dan kebahagiaan
manusia.
3. Menurut Norman T. Newtown
Arsitektur Lanskap merupakan seni dan pengetahuan yang mengatur permukaan bumi
dengan ruang-ruang serta segala sesuatu yang ada di atas bumi untuk mencapai efisiensi,
keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan bagi umat manusia.
4. Menurut Zain Rachman
Arsitektur Lanskap adalah seni perencanaan (planning) dan perancangan (design)
serta pengaturan daripada lahan penyusunan benda-benda alam maupun benda-benda buatan
manusia melalui penggunaan gabungan antara ilmu pengetahuan dan budaya dengan
memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya,
sehingga pada akhirnya tercipta penyajian lingkungan yang fungsional dan estetis sehingga
dapat memenuhi secara optimal kebutuhan jasmani dan rohani makhluk hidup di sekitarnya.
Ditekankan fungsional dan estetis karena merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan dalam suatu perencanaan dan perancangan.
5. Menurut Hadi Susilo Arifin
Arsitektur Lanskap adalah seni dan ilmu dalam penataan dan pengubahan
pemandangan alam di atas suatu luasan lahan untuk memperoleh efek keindahan dan fungsi
kegunaan yang sesuai dengan yang diinginkan.
TUJUAN ARSITEKTUR LANSKAP
1. Meningkatkan keindahan, keselarasan, kenyamanan dan keamanan lingkungan.
2. Menyelamatkan dan memperbaiki lingkungan.
3. Membantu dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam memanfaatkan kebutuhan
lahan secara efisien tanpa merusak sumber daya alam dalam menunjang kehidupan
social dan ekonomi.
4. Menciptakan tempat yang lebih baik dari sebelumnya sesuai keinginan.
RUANG LINGKUP ARSITEKTUR LANSKAP

Arsitektur Lanskap berperan aktif dalam berbagai proyek dari skala besar maupun
skala kecil.
Skala besar Arsitektur Lanskap berperan sebagai:
1. Perancangan tapak daerah industri
2. Studi perancangan regional
3. Perancangan kawasan rekreasi atau tamasya.
Sedangkan skala kecil dari Arsitektur Lanskap berperan sebagai:
1. Taman lingkungan
2. Taman kantor
3. Taman rumah
RUANG LINGKUP PEMIKIRAN DAN TANGGUNGJAWAB AKTIVITAS
ARSITEKTUR LANSKAP
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Masalah perancangan daerah konservasi, preservasi dan pelestarian yang dinamis.


Masalah pencemaran, gangguan pemandangan, gangguan suara dan sampah.
Masalah erosi, ekologi, masalah sumber daya alam.
Masalah pengembangan tempat-tempat bersejarah.
Masalah ruang terbuka.
Masalah pembangunan perkotaan yang berkembang.
Masalah jalur lalu lintas dan pembangunan linier sepanjang jalur jalan.
Masalah reklamasi tanah, masalah pantai dan perikehidupan pantai.
Masalah hutan serta satwa liar yang berkurang.
Masalah kependudukan.

ARSITEK LANSKAP
Arsitek Lanskap adalah seorang (ahli) atau insan profesional yang mendapat
pendidikan melalui akademi atau universitas dalam bidang ilmu dan seni arsitektur lanskap
dan aktif dalam kegiatan perencanaan lanskap, perancangan lanskap dan perancangan tapak.
Ada tiga tipe aktivitas bagi seorang arsitek lanskap antara lain:
1. Penilaian dan perencanaan kawasan lahan.
a. Memiliki suatu dasar ilmu pengetahuan alam dan ekologi untuk mengevaluasi
secara sistematis lahan yang luas dari segi kecocokan atau kemampuan lahan
untuk tiap kemungkinan penggunaan masa depan.
b. Melibatkan sekelompok para ahli atau pakar di bidangnya.

c. Memiliki hasil berupa rencana tata guna lahan dan kebijaksanaankebijaksanaan, yaitu pengaturan jalur jalan, penunjukan lokasi industri serta
konservasi nilai-nilai tanah dan air.
2. Perancangan tapak.
a. Proses analisa, sintesa tapak dan persyaratan-persyaratan untuk kegunaan
tapak.
b. Elemen-elemen lanskap dan fasilitas ditempatkan pada tapak sesuai dengan
fungsinya.
3. Perancangan detail lanskap berupa usaha seleksi dan ketepatan penggunaan
komponen atau elemen-elemen lanskap.
Seorang arsitek lanskap yang baik harus memenuhi kriteria-kriteria berikut:
1. Memiliki dasar pengetahuan dan praktek mengenai tanaman serta cara penggunaan
yang tepat.
2. Memiliki dasar pengetahuan geologi, klimatologi, ekologi, sosiologi, budaya dan
ekonomi.
3. Memiliki pengertian dan tingkat pemahaman umum tentang arsitektur bangunan, ilmu
4.
5.
6.
7.

teknik sipil, tata kota dan tata daerah.


Mempunyai kesadaran biologis dan ekologis.
Terlatih secara baik dalam menggambar (mendesain/sketsa) rencana.
Mampu memberi petunjuk perencanaan pembangunan prasarana maupun sarana.
Mempunyai daya penalaran ilmiah yang tinggi, berwatak dan berjiwa sosial.

PROFESI ARSITEKTUR LANSKAP


Profesi arsitektur lanskap sebagai pengendali alam untuk masa depan kehidupan
manusia. Adapun organisasi-organisasi dalam arsitektur lanskap yaitu:
1. I F L A (International Federation Of Landscape Architects)
Merupakan suatu lembaga organisasi profesi yang menghimpun organisasi

profesi arsitektur lanskap dari seluruh belahan dunia.


Berpusat di Versailles, Perancis.
Awalnya disebut The Institute Of Landscape Architects. Didirikan oleh Sir

Geoffrey Alan Jellicoe di Cambridge, Australia.


2. A F E L A (Asian Forum Of Educators In Landscape Architecture)
Merupakan organisasi yang dibentuk dengan tujuan sebagai wadah pertukaran
hal-hal yang berhubungan dengan akademik, peneliti dan mahasiswa arsitektur
lanskap di benua Asia.

Aktivitas yang dilakukan antara lain Simposium Internasional setiap tahun,


program pertukaran pengajar/peneliti maupun mahasiswa serta kegiatan

publikasi.
3. I A L I (Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia)
Sebagai wadah untuk mengembangkan ilmu dan mempererat persaudaraan

sesama anggota
Terbentuk dan berdiri pada tahun 1978, dipelopori oleh Ir. Zain Rachman dan

Dr. Sumarno Sostroatmodjo.


Organisasi ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan ilmu dan seni
serta profesi arsitektur lanskap di Indonesia. Selain itu, memiliki tujuan lain
yaitu membentuk sarana untuk mempererat kerjasama antara masyarakat
arsitektur lanskap di Indonesia dan mengadakan kerjasama dengan lembaga
dan badan pemerintah maupun badan non pemerintah, di dalam (internal)
maupun di luar (eksternal) untuk kepentingan pengembangan profesi arsitektur

lanskap.
I A L I menjadi anggota dalam I F L A.

Adapun skop profesi tentang arsitektur lanskap antara lain:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Desain lanskap.
Perencanaan tapak.
Perencanaan kota atau tata perkotaan.
Perencanaan lanskap regional.
Perencanaan taman dan area rekreasi.
Perencanaan pengembangan lahan.
Studi desain dan perencanaan ekologikal.
Perlindungan dan reklamasi sejarah.
Sosial dan aspek perilaku.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM BIDANG ARSITEKTUR


LANSKAP
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam arsitektur lanskap terdiri atas dua bagian, yaitu faktor
internal (manusia) dengan faktor eksternal (lingkungan).
a. Faktor internal (manusia).
Perencanaan dan perancangan yang baik merupakan hasil dari suatu proses yang
memperhatikan sifat manusia dan alam.

Seorang arsitek lanskap dalam mendesain dituntut untuk memperhatikan


kebutuhan-kebutuhan manusia dengan persepsi lingkungan dengan harapan

menciptakan lingkungan yang lebih memuaskan.


Dalam mendesain, dituntut dan dibutuhkan perpaduan antara imajinasi dan

pertimbangan akal sehat dari arsitek lanskap.


Arsitek lanskap membuat asumsi-asumsi tentang kebutuhan manusia, membuat
perkiraan aktivitas atau perkiraan bagaimana manusia berperilaku, bagaimana

manusia bergerak dalam lingkungannya.


Pertimbangan tidak hanya melayani kebutuhan pemakai secara fungsional,
rasional, ekonomis, dan tepat dipertanggungjawabkan, tetapi lingkungan juga
harus dapat mengakomodasi kebutuhan pengguna akan ekspresi emosionalnya
termasuk bersosialisasi dengan sesamanya.
Contoh penerapan/aplikasi faktor internal arsitektur lanskap:

Penandaan lingkungan yang dilakukan arsitek lanskap melalui karyanya dapat

diinterpretasikan berbeda dengan penggunanya.


Bentuk-bentuk armatur lampu yang diduga pengguna sebagai tempat sampah
yang mengakibatkan sampah berserakan di dalam armatur maupun di sekitar

lampu.
Tempat sampah didesain berbentuk cerobong kapal diduga pengguna sebagai
arsitek atau pengguna.

Dalam perancangan, ada tiga kategori yang menyangkut tentang faktor-faktor internal
atau manusia tentang arsitektur lanskap antara lain: Faktor fisik, faktor fisiologis dan faktor
psikologis.
a. Faktor fisik.
Berkenaan dengan hubungan antara bentuk dan ukuran fisik seseorang dengan
lingkungannya. Analisis pada pengukuran dan sikap tubuh, gerakan dan
pertumbuhan rata-rata tubuh dapat menghasilkan ketentuan dari berbagai
bagian bangunan dan rancangan pertanaman. Misalnya, sebuah pintu harus
dibuat cukup tinggi agar memungkinkan orang-orang melewati tanpa
membungkuk. Contoh yang lain seperti pada kursi taman harus berada pada
ketinggian dan bentuk sandaran yang tepat agar terasa nyaman. Pertimbangan

faktor fisik manusia digunakan untuk menentukan spesifikasi dimensi fisik


tempat aktivitas maupun fasilitas yang dibutuhkan. Prinsipnya adalah
menyamankan aktivitas manusia dan untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan. Faktor fisik pada arsitektur lanskap berhubungan atau berkaitan
erat dengan antropometri manusia, dimana antropometri manusia merupakan
suatu perbedaan karakteristik kelompok pemakai akan menentukan ukuranukuran yang digunakan pada proses desain. Misalnya, kebutuhan ruang untuk
anak usia 2 tahun sangat berbeda dengan orang dewasa.
b. Faktor fisiologis.
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis manusia timbul dari hubungan timbal balik
antara kondisi biologis seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Kebutuhankebutuhan tersebut antara lain makanan, udara, air, gerak badan, perlindungan
dari kondisi yang tidak menguntungkan. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
manusia dipenuhi melalui penyediaan makanan yang bergizi, penyediaan
udara yang kaya akan oksigen maupun air bersih serta mengusahakan gerak
badan dengan udara segar dan sinar matahari. Suatu lingkungan yang buruk
dapat menyebabkan suatu ketakutan dan ketegangan emosi yang berbahaya
bagi seseorang. Diperlukan suatu tingkat keselamatan fisik atau keamanan
tertentu di dalam lingkungan. Misalnya, pagar-pagar dipasang di sekeliling
kolam renang, pegangan-pegangan disepanjang jalur tangga dan jembatan,
atau trotoar dan peraturan lalu lintas pada jalur jalan raya.
c. Faktor psikologis.
Kebutuhan-kebutuhan psikologis terkait dengan latar belakang budaya,
pengalaman dan kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan dan papan).
Dalam memahami perilaku pada manusia, diperlukan informasi akan
kebutuhan dasar dan penggeraknya. Menurut Maslow (1954), ada beberapa
macam kebutuhan psikologis sekaligus sebagai hierarki kebutuhan psikologis
dari yang terkuat hingga terlemah dapat diurutkan antara lain:

Physiological needs (kebutuhan fisiologi). Kebutuhan fisiologi ini untuk


mencukupi kebutuhan akan lapar dan dahaga.

Safety needs (kebutuhan keamanan). Perlindungan dari bahaya fisik dan


kesempatan mengurangi tekanan fisik dari pihak lain, dalam rangka untuk

membentuk privasi dan untuk kepentingan orientasi di lingkungan perkotaan.


Affiliation needs (kebutuhan afiliasi atau sosialisasi). Meliputi kebutuhan untuk
bergabung dalam suatu kelompok. Di perkotaan, afiliasi tidak secara teritorial lagi

tetapi berdasarkan kegemaran (hobi).


Esteem needs (kebutuhan kebanggaan). Kepuasan memperoleh penghargaan,

berkaitan dengan kemampuan mempersonalisasikan terhadap lingkungannya.


Actualization needs (kebutuhan aktualisasi). Kebutuhan untuk menunjukkan diri,
sesuai dengan kapasitas orang. Terkait dengan upaya untuk mengontrol dan

mengatur lingkungannya.
Cognitive/aesthetic needs (kebutuhan kognitif atau estetika). Kebutuhan akan
keindahan dan menambah pengetahuan maupun pembelajaran.

b. Faktor eksternal (lingkungan).


Lingkungan merupakan suatu ekosistem kompleks yang berada di luar individu dan
mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tempat atau wilayah. Lingkungan yang
hidup terdiri atas tiga macam, yaitu lingkungan alamiah, lingkungan buatan dengan
lingkungan sosial.
a. Lingkungan alamiah, terdiri dari:

Lingkungan biotik (makhluk hidup), berupa vegetasi/ persebaran tumbuhtumbuhan dan tanaman, satwa/ binatang dan manusia. Vegetasi dan satwa (flora
dan fauna) merupakan elemen penting dalam lanskap, terutama pada lanskap
alami.

Lingkungan abiotik (benda mati), berupa iklim, geologis dan tanah, topografi dan
kemiringan lahan, hidrografis dan hidrologis maupun drainase. Iklim merupakan
hasil dan sejumlah faktor-faktor utama tetapi yang saling mempengaruhi, meliputi
curah hujan, suhu udara, kelembaban, radiasi matahari, uap air dan angin.
Pengetahuan informasi dan data mengenai kondisi geologis dan tanah sangat
penting diketahui karena keduanya mendukung kelangsungan aktivitas kehidupan
serta tatanan yang direncanakan pada suatu tapak. Topografi dan kemiringan lahan
merupakan bentukan dasar permukaan lahan atau struktur topografis suatu tapak

selain merupakan penentu luasan areal untuk suatu kepentingan atau suatu
aktivitas yang akan direncanakan atau dikembangkan, juga merupakan sumber
daya visual dan estetika yang sangat mempengaruhi lokasi, berbagai tata guna
lahan serta berbagai fungsi, interpretasi, dan lain-lain. Hidrografis dan hidrologis
merupakan ketersediaan (dalam jumlah, kualitas, dan distribusi) dan kelestarian
air dan bagian-bagian air tidak hanya merupakan salah satu faktor yang penting.
Sedangkan sistem drainase dibuat untuk mengumpulkan dan menyalurkan air
hujan dan air bawah permukaan tanah.
b. Lingkungan buatan, merupakan seluruh bangunan dan benda buatan lainnya di dalam
tapak lanskap.
c. Lingkungan sosial, dimana terdapat lingkungan yang didiami atau dihuni oleh
manusia yang memiliki nilai-nilai sosial dalam meningkatkan kesejahteraan, budaya,
etika, moral dan kepedulian terhadap sesama manusia pada suatu perancangan sebuah
bangunan di dalam tapak lanskap.
TAMAN (DEFINISI, PERANAN DAN FUNGSINYA)
Taman merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsurunsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Peranan dan fungsi taman dalam
arsitektur lanskap antara lain:
1. Taman sebagai bentuk ekosistem mini.
Merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup,
dalam hal ini berupa lingkungan alam, lingkungan buatan dan lingkungan sosial yang saling
mempengaruhi.
2. Taman sebagai tatanan lingkungan.
Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan atau
bentuk. Pembangunan berwawasan lingkungan memiliki perencanaan dalam menggunakan,
memanfaatkan, maupun mengelola sumber daya secara bijak dan berkesinambungan untuk
meningkatkan kualitas hidup, termasuk kesejahteraan manusia.
3. Taman sebagai bagian tatanan lingkungan.
Berupa sembilan fungsi taman sebagai tatanan lingkungan, diantaranya fungsi estetis
(estetika atau keindahan), fungsi hidrologis (tata air), fungsi klimatologis (iklim, cuaca, suhu
dan tata udara), fungsi edaphis (lingkungan hidup satwa atau keanekaragaman

hewan/binatang), fungsi ekologis (persebaran lingkungan maupun saling ketergantungan


antar makhluk hidup), fungsi protektif (faktor kenyamanan berupa angin, cahaya dan
kelembaban), fungsi produktif (hasil atau produksi), fungsi edukatif (bernuansa pendidikan,
pengetahuan, pemahaman dan ilmu) serta fungsi higienis (terjamin). Taman sebagai bagian
dari tatanan lingkungan dapat memberikan kesan berupa perpaduan antara soft material
dengan hard material yang memberikan nilai estetika yang baik. Selain itu, terdapat hubungan
saling ketergantungan, misalnya dalam rantai makanan antara tikus, ular, elang dengan
bakteri pengurai dan proses penyerbukan pada bunga.
4. Taman sebagai sarana koleksi flora dan fauna di kawasan perkotaan.
Flora dan fauna nasional dan maskot daerah merupakan bagian dari kekayaan
keanekaragaman hayati makhluk hidup. Banyak tumbuhan liar (gulma/tanaman penggangu)
memiliki nilai estetika yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias di lingkungan
perkotaan.
ELEMEN-ELEMEN PADA TAMAN
Elemen pada taman terdiri dari dua bagian, yaitu soft material dengan hard material.
1. Soft material, merupakan elemen yang dominan, terdiri dari:
a. Pohon
b. Perdu
c. Semak
d. Penutup tanah (mulsa)
e. Rumput.
Soft material berfungsi sebagai:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pelindung atau naungan


Masalah/problem kebisingan/proteksi bising atau suara yang mengganggu
Pengarah (mengarahkan ke suatu tempat atau tujuan)
Pembatas (membatasi suatu lahan atau areal tertentu)
Pemecah angin (pohon, semak dan perdu)
Penghalang pandang
Proteksi terhadap bau (memakai pengharum untuk menghilangkan bau yang
tidak sedap atau menyengat).

2. Hard material, merupakan elemen selain vegetasi (selain dari persebaran dan
keanekaragaman tumbuhan atau tanaman), yang dimaksud disini adalah benda-benda
yang dirancang membentuk sebuah taman, terdiri dari:
a. Bangunan
b. Gazebo (rumah taman)

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Kursi atau bangku taman.


Kolam ikan
Pagar taman
Pergola (perambat tanaman)
Fasilitas tempat sampah
Air mancur taman
Lampu taman

Hard material berfungsi sebagai:


a. Penambah suasana untuk meningkatkan nilai-nilai estetika atau keindahan
b. Dapat membangkitkan jiwa seni seseorang
c. Sebagai tempat untuk meningkatkan rasa kenyamanan, keamanan dan
kenikmatan
d. Menambah pengetahuan
e. Sebagai tempat bertamasya, rekreasi atau objek wisata.
ASAL MULA (SEJARAH) KONSEP TAMAN
Asal mula terbentuknya konsep taman (bahasa Inggrisnya: Garden) berasal dari
bahasa Ibrani. Gan, berarti melindungi atau mempertahankan. Oden, berarti kesenangan,
kenikmatan atau kegembiraan. Menurut pengertiannya, Garden merupakan sebidang tanah
atau lahan berpagar atau pertahanan yang digunakan untuk kesenangan dan kegembiraan.
Taman memiliki nilai simbolis, yaitu hubungan timbal balik antara manusia dan alam
(lingkungannya) serta sebagai karya seni. Hubungan antara manusia dan alam terbentuklah
simpiose mutualistik, maksudnya adalah alam diolah manusia dengan berbagai kepentingan
sesuai kebutuhan-kebutuhan seperti pertanian, perkebunan, penghutanan, pemukiman,
agrowisata dan lain-lain. Salah satu kebutuhan manusia adalah mengolah lingkungan
pemukiman supaya lebih asri, sejuk/teduh, indah, teratur, nyaman, bersih dan sehat dalam
menata suatu taman (lingkungan hidup). Lanskap dan sikap atau pandangan hidup manusia
yang berbeda pada suatu tempat, areal, wilayah atau daerah akan menghasilkan rancangan
taman yang berbeda. Hal tersebut terdiri dari dua kriteria, yaitu:
1. Western Part, merupakan taman geometric dan formal yang dicirikan oleh pagar atau
tembok, saluran irigasi atau kanal dan penanaman berbaris teratur. Misalnya: Taman
Mesopotamia, Taman Mesir dan Taman Eropa.
2. Eastern Part, merupakan taman berbentuk alami yang memiliki unsur-unsur
pembentuk taman yaitu air, batu dan bukit. Kesederhanaan dan keharmonisan alami

merupakan inti dari Taoism yang diterapkan dan diaplikasikan di dalam rancangan
taman. Misalnya: Taman Cina dan Taman Jepang.

KONSEP HUBUNGAN MANUSIA DAN ALAM TENTANG TAMAN


Ada dua konsep hubungan antara manusia dan alam mengenai taman, yaitu:
1.

Konsep Barat.

Berakar dari mitos Taman Firdaus telah membawa manusia pada pandangan Hidup Manusia
adalah Untuk Menguasai Alam. Manusia mempunyai wewenang serta kekuasaan terhadap
alam dan berhak berbuat apa saja terhadap alam.
2.

Konsep Timur.

Manusia hidup bersama dan bersatu dengan alam secara langsung.


Menurut E.A. Gutkind dalam Laurie (An Introduction To Landscape Architecture) mencatat
empat tahapan perubahan sikap manusia terhadap lingkungannya, yaitu:
1.

Tahap pertama.

Pola hubungan aku-engkau, yang ditandai dengan adanya rasa takut terhadap kekuatankekuatan alam yang tak terduga, disertai dengan keinginan untuk memperoleh perlindungan
dan rasa aman. Manusia mempunyai hubungan langsung dengan lanskap tempat mereka
bekerja dan bertempat tinggal.
2.

Tahap kedua.

Ditandai dengan tumbuhnya kepercayaan diri yang membawa mereka lebih mampu
beradaptasi dengan lingkungan sesuai dengan kebutuhan yang bermacam-macam. Pola
hubungan aku-engkau masih dipertahankan manusia bekerja secara bersama dengan alam dan
didasarkan pengertian mereka terhadap proses alam. Lanskap dipandang sebagai sumber daya
dan hasil panen setiap tahun sangat bergantung pada pengolahan dan pemeliharaan.
3.

Tahap ketiga.

Adalah situasi masyarakat berteknologi maju. Tahap ini merupakan tahap penyerbuan dan
penaklukan. Penyesuaian yang dilakukan pada tahap kedua berubah menjadi eksploitasi dan
pemborosan sumber daya alam. Hubungan dengan alam berubah menjadi aku-dia, yang
ditandai dengan pemujaan terhadap benda buatan manusia dan perluasan. Pada wilayah

perkotaan dilakukan penggundulan hutan daerah pedalaman, penggalian bahan mineral dan
pencemaran sungai. Hal ini melemahkan kesadaran akan hubungan total manusia dan alam.
4.

Tahap keempat.

Terletak pada masa depan (perencanaan dan pencerahan tentang masa depan). Sikap aku-dia
tampak berubah menjadi pengertian yang diperbaharui kepada pemahaman cara kerja alam
yang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan. Sikap yang baru ini bergantung kepada
pengetahuan ekologi serta konservasi terhadap sumber daya yang tidak dapat diperbaharui.
TAMAN DAN PERIODE HISTORIS
Periode historis taman terdiri dari periode antik (klasik), periode abad pertengahan
(medieval), periode renaissance dan periode modern.
1.

Periode Antik (Klasik).

Terjadi pada masa sebelum masehi. Taman pada periode ini ditandai dengan pola simetris dan
tertutup. Tanaman yang digunakan adalah tanaman yang dapat dimakan atau dikonsumsi
hasilnya serta untuk bahan baku obat (herbal) dan aromaterapi (parfum).
Contoh taman pada periode antik: Taman Babylonia, Taman Mesir, Taman Persia dan Taman
Periode Klasik (Taman Yunani dan Taman Romawi).
2.

Periode Abad Pertengahan (Medieval).

Belangsung sekitar abad ke 7 sampai abad ke 15. Berhubungan erat dengan perkembangan
agama Kristen (Umat Nasrani). Ciri periode ini adalah Monastert Garden atau Cloister
Garden dan memiliki seni bangunan model Gothik. Taman pada periode ini ditandai dengan
pola taman berbentuk simetrik dan tertutup sama halnya dengan pola taman periode antik
atau klasik. Tanaman yang digunakan adalah tanaman untuk obat (herbal) untuk konsumsi
dengan tanaman hias, seperti tanaman bunga untuk ritual (upacara) dan bersifat simbolik.
Contoh taman pada periode abad pertengahan: Taman Bunga Madonna Lily merupakan
Lambang Bunda Maria.
3.

Periode Renaissance.

Periode ini berlangsung sekitar abad ke 15 sampai abad ke 20 masehi, terutama di benua
Eropa. Periode ini merupakan penghidupan kembali bentuk-bentuk dan aspirasi klasik. Kata
Renaissance jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Lahir Kembali. Taman
pada periode ini ditandai dengan pola taman berbentuk simetrik dan geometrik tetapi sudah

agak terbuka elemen utamanya, berupa air sebagai elemen bentuk kolam dan bentuk lain
dengan tanaman yang digunakan, yaitu berupa bentuk hutan atau kelompok tanaman.
Contoh taman pada periode Renaissance: Taman Italia, Taman Perancis dan Taman Inggris.
4.

Periode Modern.

Dimulai pada abad 20 masehi dengan bentuk taman yaitu mempertimbangkan unsur manusia
sebagai pengguna taman dan disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Termasuk dalam
kategori taman berskala manusia.
Contoh taman pada periode Modern: Taman Rumah Tinggal, Taman Kota, Taman
Lingkungan dan Taman Bermain Anak-Anak.
Tinjauan historis berbagai taman sangat penting untuk berbagai alasan, karena tiap tipe taman
merupakan suatu pencerminan hubungan antara manusia dengan alam. Selain itu, dapat
memperoleh gambaran atau pandangan dari berbagai jenis taman besar yang pernah ada
sebelumnya.
PROSES PERENCANAAN DAN PERANCANGAN LANSKAP
Dalam arsitektur lanskap, ada empat proses atau langkah-langkah dalam melakukan
perencanaan (planning) dan perancangan (design) dalam bidang lanskap, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Proses perencanaan lanskap.


Perhitungan RAB (Rencana Anggaran Biaya).
Pelaksanaan.
Pemeliharaan.

Untuk mewujudkan taman yang baik harus didahului dengan perencanaan (planning).
Rencana yang tertib adalah rencana yang terdokumentasikan dalam bentuk tertulis, bentuk
atau struktur, gambar atau lukisan, atau gabungan tertulis dengan terlukis. Merencana
merupakan suatu kegiatan pemecahan masalah dan proses pengambilan keputusan. Secara
ringkas dikatakan bahwa merencana adalah proses pemikiran dari suatu ide atau gagasan ke
arah suatu bentuk yang nyata. Dalam bidang Arsitektur Lanskap, merencana merupakan suatu
tindakan menata dan menyatukan berbagai penggunaan lahan berdasarkan pengetahuan
teknis lahan atau areal dan kualitas estetiknya guna mendukung fungsi yang akan
dikembangkan.
Komponen utama perencanaan lanskap antara lain:
1.

Proses alam. Berupa geologi, tanah hidrologi, topografi, iklim, vegetasi, margasatwa,
dengan hubungan-hubungan ekologis.

2.
3.
4.

Proses sosial. Berupa budaya, etika, moral dan faktor fisiologis.


Metodologi. Berupa tahapan dan proses, sistem dan identifikasi konflik.
Teknologi. Berupa alat/peralatan, teknik analisis, grafis, sketsa, proporsi dan sistem

5.

notasi.
Nilai-nilai. Berupa nilai pendidikan (ilmu pengetahuan/bimbingan) dan nilai seni.

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN DALAM ARSITEKTUR LANSKAP


Menurut pengertian dalam Arsitektur Lanskap, perencanaan (planning) adalah proses yang
dinamis dan meningkat untuk memecahkan berbagai permasalahan atau persoalan yang
ditemukan pada tapak serta merumuskan dan menjabarkan daerah-daerah fungsional dan
termasuk dalam proses untuk pengambilan keputusan. Sedangkan perancangan (design)
menurut arsitektur lanskap adalah perluasan dari perencanaan yang berkenaan dengan seleksi
komponen-komponen rancangan, bahan-bahan, tumbuh-tumbuhan dan kombinasikombinasinya sebagai pemecahan masalah yang ditemukan pada perencanaan. Antara
perencanaan dan perancangan berkaitan dengan proses yang saling berhubungan yang terdiri
atas tahapan-tahapan kegiatan. Diawali dari inventarisasi dan diakhiri oleh desain (menurut
Gold) atau diawali dengan inventarisasi dan diakhiri oleh pemeliharaan (menurut Zain
Rachman).
Dalam bidang Arsitektur Lanskap, perencanaan dan perancangan memiliki tahapan-tahapan
kegiatan yang dapat dijabarkan secara umum sebagai berikut:
Persiapan (tapak dan perlengkapan)-----Inventarisasi (fisik, sosial dan ekonomi)-----Analisis
(analisis tapak, hambatan dan kesempatan, potensi dan program pengembangan)-----Sintesis
(alternatif-alternatif)-----Perencanaan-----Perancangan-----Pelaksanaan-----Pemeliharaan----Tujuan Perencanaan.
Menurut Gold, proses perencanaan dan perancangan terdiri dari tahapan-tahapan kegiatan
yang diawali dengan persiapan-----inventarisasi-----analisis-----sintesis-----perencanaan----perancangan-----dan diakhiri dengan desain. Sedangkan menurut Zain Rachman, proses
perencanaan dan perancangan terdiri dari tahapan-tahapan kegiatan yang diawali dengan
persiapan-----inventarisasi-----analisis-----sisntesis-----perencanaan-----perancangan-----dan
diakhiri dengan pemeliharaan.
Secara umum, proses perencanaan (planning) dan perancangan (design) dapat dijelaskan
melalui tahapan berikut:
1.

Persiapan.

Dilakukan perumusan tujuan, program, informasi mengenai keinginan dan pembuatan


kesepakatan (kontrak). Penyiapan sumber daya, bahan dan alat untuk keperluan lapang (field)
maupun di ruang kerja atau studio (desk). Kegiatan yang dilakukan dalam proses persiapan
antara lain jadwal kerja kegiatan perencanaan, rencana biaya pelaksanaan kegiatan
perencanaan dan produk perencanaan yang akan dihasilkan.
2.

Inventarisasi.

Dilakukan pengumpulan data awal, survei lapang (praktek lapangan), wawancara,


pengamatan, perekaman dan lain-lain. Inventarisasi terdiri dari empat aspek utama, yaitu:
a. Aspek fisik dan biofisik, yang diletakkan pada peta dasar berupa:
Ukuran
Bangunan atau konstruksi
Drainase
Topografi
Tanah
Tanaman
Wildlife (marga satwa)
Iklim atau geografi
View (pemandangan).
b. Aspek sosial dan budaya, berupa:
Jumlah dan usia user (pemakai)
Tingkat pendidikan
Faktor kesukaan dan pantangan
Faktor kebutuhan
Pengaruh adat, kepercayaan dan lain-lain.
c. Aspek ekonomi, berupa:
Faktor pendanaan dan pembiayaan
Sustainabilitas dari lanskap.
d. Aspek teknik, berupa:
Peraturan
Undang-Undang.
Inventarisasi berasal dari existing condition (keadaan awal). Intensitas interaksi perancang
dengan tapak harus tinggi untuk menjamin presisi. Inventarisasi lebih mudah bila didukung
oleh peralatan pendukung yang modern.

3. Analisis.
Merupakan tahap penilaian terhadap masalah atau persoalan dan hambatan serta potensi yang
dimiliki oleh tapak.
Kegiatan analisis memiliki tujuan, sasaran dan fungsi yang diperoleh dari:
a. Data secara kualitas deskriptif, berupa:
Potensi tapak
Kendala tapak
Amenities (kesenangan, kenikmatan atau fasilitas-fasilitas) tapak
Danger signals (tanda bahaya) tapak.
b. Data secara kuantitatif, yang digunakan dalam penentuan batas daya dukung
tapak.
4. Sintesis.
Merupakan masalah atau persoalan yang dicari solusinya, sedangkan potensi dikembangkan
dan dioptimalkan. Sintesis dapat diperoleh dari konsep perencanaan tata letak/rencana tapak
(site planning) yang berperan dalam mengolah input dari sintesis yang hasilnya berupa
alternatif-alternatif perencanaan. Selain itu, juga berperan dalam membagi ruang dan daerah
fungsional.
5. Konsep.
Merupakan pengembangan dari hasil-hasil analisis-sintesis (alternatif terpilih). Konsep dapat
memberikan rincian spesifik fungsi komponen atau elemen-elemen lanskap atau bahkan jenis
yang akan digunakan. Konsep terdiri atas konsep dasar dan konsep pengembangan (konsep
tata ruang, konsep tata hijau, konsep sirkulasi, konsep fasilitas, konsep utilitas dan
sebagainya).
6. Perencanaan (planning).
Tahap pengembangan konsep yang dinyatakan sebagai rencana lanskap (landscape plan),
yang dapat disajikan dalam bentuk rencana lanskap total atau rencana tapak (site plan).
7. Perancangan (design) atau desain.
Berisi elemen-elemen yang sudah harus spesifik dalm hal jumlah, ukuran, jenis, warna dan
lain-lain. Hasil dari desain berupa rancangan lanskap detail (gambar tampak dan potongan,

rancangan penanaman, konstruksi, instalasi dan sebagainya) serta uraian-uraian tertulis


(RAB/Rencana Anggaran Biaya). Desain berfungsi sebagai bestek (gambar kerja). Dalam
sebuah desain, yang harus diperhatikan yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Skala atau perbandingan


Teknik atau cara menggambar/mendesain
Penggunaan simbol yang digunakan
Diterima secara umum
Gambar pendukung: tampak, potongan, axonometric dan perspektif.
Elemen-elemen yang spesifik, berupa jumlah, ukuran, warna, jenis, proporsi,
bentuk, titik, garis, ruang dan lain-lain.

PERHITUNGAN RAB (RENCANA ANGGARAN BIAYA)


Perhitungan RAB dapat diperoleh dari biaya per satuan unit/elemen (teliti) dengan biaya per
satuan luas (taksiran).
Harga satuan pekerjaan, terdiri dari bahan (harga satuan bahan dan analisis bahan) dan upah
(harga satuan upah dan analisis upah) dapat dirumuskan:
Harga Satuan Pekerjaan = Bahan + Upah
Rencana Anggaran Biaya (Estimate Real of Cost) diperoleh berdasarkan rumus:
RAB = Zigma (Volume x Harga Satuan Pekerjaan)
Jumlah dari harga masing-masing hasil perkalian volume dengan harga satuan pekerjaan yang
bersangkutan.
1.

Bahan.

Biaya atau harga bahan terdiri dari harga bahan dan biaya instalasi atau penanaman. Biaya
bahan berhubungan dengan jenis dan dimensi.
Misalnya: Menanam pohon bibit setinggi 50 cm berbeda biayanya dengan menanam pohon
jadi setinggi 2 meter, meskipun jenisnya sama.
2.

Tenaga kerja.

Besarnya jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam
satu satuan pekerjaan. Tenaga kerja berhubungan atau berkaitan dengan Hari Orang Kerja
(HOK).
Misalnya: Kegiatan pembersihan lahan:
2 HOK pekerja dan 1 HOK mandor, mengandung pengertian bahwa 2
HOK bekerja bersama-sama dengan 1 HOK mandor yang akan
menghasilkan 1 m2 lahan yang bersih. Jadi, dapat dirumuskan:

Lama bekerja
1 HOK =

x1
Lama rata-rata bekerja dalam 1 hari

Keterangan: Laki-laki 1, perempuan 0,8 dan anak-anak 0,5


Biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam hal, seperti:
a. Panjangnya jam kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jenis
pekerjaan.
b. Keadaan tempat pekerjaan.
c. Keterampilan (skill) dan keahlian tenaga kerja yang bersangkutan.
Cara yang baik untuk menaksir tenaga kerja adalah dengan menaksir jumlah jam kerja yang
diperlukan untuk tiap jenis pekerjaan yang dipisahkan dari upah buruh, kemudian hasilnya
dikalikan dengan upah per jam atau per hari.
3.

Harga Satuan Pekerjaan

Harga satuan pekerjaan dapat diperoleh dari jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja
berdasarkan perhitungan analisis.
Daftar harga satuan bahan:

Palem raja
Helikonia
Portulaca
Rumput

Rp 250.000/pohon
Rp 10.000/tanaman
Rp 3.000/tanaman
Rp 5.000/m2

Daftar harga satuan upah:

4.

Pekerja
Mandor

Rp 10.000/hari
Rp 25.000/hari

Analisis bahan

Menghitung banyaknya atau volume masing-masing bahan serta besarnya biaya yang dapat
dibutuhkan.
Contoh:
10 pohon palem @ Rp 250.000 = Rp 2.500.000
440 helikonia
Dst
5.

@ Rp 10.000 = Rp 4.400.000
Jumlah

Analisis upah

= Rp 6.900.000

Menghitung banyaknya tenaga yang diperlukan serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
pekerjaan tersebut.
Contoh:
2 HOK pekerja @ Rp 10.000 = Rp 20.000
1 HOK mandor @ Rp 25.000 = Rp 25.000
Jumlah

= Rp 45.000

Contoh soal:
Suatu taman/lahan ditanami 1 beringin, 1 mangga, 1 lily paris, 1 bayam merah, 1 rumpu
peking, dan 1 paving block. Pekerjaan penanaman: Masing-masing dikerjakan dan diawasi
oleh mandor (beringin=1,5 cm; T=1,5 m, mangga=1 cm; T=1 m, lily paris=25 cm dan bayam
merah=25 cm). Pekerja dan mandor adalah laki-laki. Harga beringin Rp 45.000/pohon,
mangga Rp 20.000/pohon, lily paris Rp 750/rumput, bayam merah Rp 8.000/m2, rumput
peking Rp 7.500/m2 dan paving block Rp 15.000 m2. Upah pekerja Rp 25.000 dan mandor
Rp 30.000. Hitunglah harga satuan pekerjaan dan total harganya!
Jawab:
Uraian

Satuan

Harga satuan

Jumlah harga

1,00 beringin

pohon

Rp 45.000

Rp 45.000

0,25 pupuk kandang

zak

Rp 4.500

Rp 1.125

0,05 pekerja

hari

Rp 25.000

Rp 1.250

0,01 mandor

hari

Rp 30.000

Rp 300

Alat bantu

ls

Beringin
1,5 cm ; T = 1,5 m

Mangga
1 cm ; T = 1 m
1,00 mangga

pohon

Rp 20.000

Rp 20.000

0,05 pupuk urea

kg

Rp 1.000

Rp 50

0,25 pupuk kandang

zak

Rp 4.500

Rp 1.125

0,05 pekerja

hari

Rp 25.000

Rp 1.250

0,01 mandor

hari

Rp 30.000

Alat bantu

ls

Rp 300

Lily paris
25 cm
1,00 lily paris

rumput

Rp 750

Rp 750

0,03 pekerja

hari

Rp 25.000

Rp 750

0,006 mandor

hari

Rp 30.000

Rp 180

Alat bantu

ls

Bayam merah
25 cm
1,00 bayam merah

m2

Rp 8.000

Rp 8.000

0,09 pekerja

hari

Rp 25.000

Rp 2.250

0,018 mandor

hari

Rp 30.000

Rp 540

Alat bantu

ls

Rumput peking
1,00 rumput peking

m2

Rp 7.500

Rp 7.500

0,05 pupuk kandang

zak

Rp 4.500

Rp 225

0,05 pekerja

hari

Rp 25.000

Rp 1.250

0,01 mandor

hari

Rp 30.000

Rp 300

Alat bantu

ls

Paving block
1,00 paving block

m2

Rp 15.000

Rp 15.000

0,05 lapisan pasir

m3

Rp 25.000

Rp 1.250

1,00 upah pasang

m2

Rp 3.500

Rp 3.500

Alat bantu

ls

Total Biaya: Sub Total A x B x C


a.
b.
c.
d.

Overhead cost: 15 % x Total Biaya


Biaya perencana: 10 % x Total Biaya
Jasa Pemborong: 10 % x Total Biaya
Biaya Akhir: Total Biaya + a + b + c

UNSUR-UNSUR DESAIN

Unsur desain disebut juga dengan elemen-elemen desain. Unsur desain meliputi titik, garis,
bentuk, tekstur, warna, aroma, suara dan ruang. Beberapa unsur mungkin tampak lebih tegas,
dan yang lain mungkin tampak samar-samar. Beberapa unsur mungkin sangat dominan, dan
yang lain hanya penunjang. Beberapa unsur menunjukkan gambaran dan arti tertentu,
sedangkan unsur lain hanya sebagai pelengkap. Walaupun demikian, semua unsur ini harus
saling berkaitan, saling menyokong dan memperkokoh integrasinya secara keseluruhan.
1.

Titik.

Sebuah titik menandakan suatu posisi di dalam ruang. Disebut titik karena ukurannya kecil
(nisbi), bentuknya akan tampak besar jika terletak pada bingkai acuan kecil dan sebaliknya.
Adanya unsur titik berdiri sendiri di dalam ruang akan menarik perhatian pengamat, tetapi
seandainya terjadi pengulangan terhadap titik terjadi pengurangan perhatian pengamat. Titik
dapat dimanfaatkan sebagai penarik perhatian (vocal point). Titik dapat digunakan untuk
menunjukkan ujung-ujung sebuah garis, persilangan antara dua buah garis, pertemuan ujungujung garis pada sudut-sudut sebuah bidang atau volume dan titik pusat sebuah bidang atau
lapangan.
Sebuah titik tidak memiliki dimensi. Untuk menyatakan letak sebuah titik dalam suatu ruang
atau di permukaan tanah, sebuah titik harus diproyeksikan menjadi unsur linier seperti tiang,
menara, monument dan sebagainya. Titik di taman dapat dicerminkan oleh tiang bendera di
tengah hamparan rumput. Hamparan rumput yang pendek dan berkesan luas akan
memperkuat pandangan orang pada tiang bendera. Titik juga dapat merupakan pertemuan
antara beberapa jalur jalan setapak, terlebih di titik pertemuan itu diletakkan pada elemen
taman yang vertikal.
2.

Garis.

Dua titik yang dihubungkan akan membentuk garis atau beberapa titik yang disusun secara
berurutan juga akan membentuk garis. Garis dapat menjadi batas pandangan, dimana
pandangan orang akan dibawa sesuai arah garis untuk diarahkan pada sasaran tertentu. Garis
dapat memberikan kesan tertentu bagi orang yang melihatnya. Pada dasarnya, garis dapat
dibedakan menjadi dua tipe garis dan masing-masing mempunyai sifat, karakter dan kesan
yang berbeda, yaitu:
a. Garis lurus (geometrik), terdiri dari:
Garis vertikal.
Sifat atau watak dari garis vertikal yaitu memberikan aksentuasi pada ketinggian,
tegak dan gagah, memiliki kesan yang kaku, formal, tegas dan serius. Garis

vertikal mudah dikenal dengan bentuk-bentuk seperti tiang listrik, tiang lampu,
tegakan pohon kelapa, cerobong asap, atau benda-benda yang berdiri tegak
meninggi.
Garis horizontal.
Garis horizontal memberikan aksentuasi terhadap dimensi lebar, santai dan
tenang. Bila ruang luar didominasi oleh unsur garis horizontal, ruang akan
berkesan lebar, membesar, meluas dan lapang, serta cocok untuk halaman yang
sempit.

Garis diagonal.

Karakter garis diagonal yaitu dinamis, bergegas, mendekatkan jarak dan


sensasional. Garis diagonal sering dipergunakan atau dimanfaatkan untuk suatu
maksud yang meminta perhatian atau sebagai daya tarik visual.
b. Garis lengkung (organik).
Karakter dari garis lengkung adalah dinamis, riang, lembut, alami dan
memberikan pengaruh yang gembira. Garis lengkung banyak dimanfaatkan bagi
pembentukan ruang pada suatu daerah rekreasi atau tamasya. Garis lengkung
berombak dengan garis dan warna yang lembut akan memberikan pengaruh
suasana yang romantis.