Anda di halaman 1dari 3

1.

Pengertian PPDPI
PPDPI adalah salah satu produk peta tematik kelautan yang memanfaatkan
penggabungan data-data parameter oseanografi (suhu permukaan laut, produktivitas
primer, ketinggian permukaan laut, arus, salinitas) baik data dari satelit oseanografi
maupun data-data pada stasiun pengamatan untuk menganalisa daerah potensi
penangkapan ikan.
2. Citra Satelit Modis dan Pengaplikasiannya
MODIS adalah salah satu instrument utama yang dibawa Earth Observing System
(EOS) Terra satellite, yang merupakan bagian dari program antariksa Amerika
Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA). Program ini
merupakan program jangka panjang untuk mengamati, meneliti dan menganalisa
lahan, lautan, atmosfer bumi dan interaksi diantara faktor-faktor ini. Citra MODIS
merupakan citra dengan 36 kanal dengan 3 resolusi spasial yaitu 250m, 500m dam
1km. Data
Data MODIS level-0 merupakan data mentah hasil perekaman satelit yang diterima
secara langsung oleh stasiun penerima di bumi. MODIS level-0 memiliki informasi
berupa kanal yang belum diperkecil. Ukuran datanya lebih besar dibandingkan
dengan data MODIS level-1.
Data MODIS level-1 terdiri dari dua tipe yaitu MODIS level-1A dan MODIS level1B. Data level-1A merupakan data mentah ditambah dengan informasi kalibrasi
sensor dan geolokasi. Geolokasi berisi informasi tentang lintang dan bujur pada setiap
pusat piksel yang beresolusi 1 km. Informasi pada data ini diperkecil dan
dikelompokkan dimana kanal dan sebagian data yang tidak digunakan akan
dihilangkan. Data level-1B memiliki kalibrasi dan geolokasi terhadap koordinat
tengah piksel. Tidak ada koreksi untuk efek bowtie dari MODIS level-1B sehingga
perlu diperhatikan bahwa, pada piksel di pinggir penyiaman (scanning) memilki
cakupan lebih luas serta cakupan piksel yang mengikuti arah penyiaman sebagian
mengalami timpang tindih (duplikasi).
MODIS level-2 dihasilkan dari produk level-1 dimana isi data utama adalah nilai
geofisik untuk setiap piksel, yang berasal dari data level-1 dengan menerapkan
kalibrasi sensor, koreksi atmosfir, dan algoritma bio-optik. Setiap produk level-2 ini
berhubungan dengan cakupan geografis dari produk level 1-A dan disimpan dalam
format HDF.
Sedangkan produk MODIS level-3 adalah terdiri dari kumpulan produk level-2. Citra
satelit Aqua dan Terra MODIS level-3 biasanya sudah terkoreksi radiometric maupun
geometrik. MODIS Terra Vegetation Indices (MODIS13Q1) merupakan salah satu
produk data level-2 dan merupakan komposit data selama 16 hari.
3. Klorofil a
Klorofil-a merupakan salah satu pigmen yang paling dominan terdapat pada
fitoplankton dan berperan dalam proses fotosintesis. Ekosistem bahari di bumi
hampir seluruhnya bergantung pada aktivitas fotosintesis tumbuhan bahari
(Nybakken, 1992). Sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun
berdasarkan kedalaman perairan. Di Laut, sebaran klorofil-a lebih tinggi
konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai.
Tingginya sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan pantai dan pesisir disebabkan
karena adanya suplai nutrient dalam jumlah besar melalui run-off dari daratan,
sedangkan rendahnya konsentrasi klorofil-a diperairan lepas pantai karena tidak

adanya suplai nutrien dari daratan secara langsung. Namun pada daerah daerah
tertentu diperairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofil-a dalam jumlah yang
cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang
dihasilkan melalui proses fisik massa air,dimana massa air dalam mengangkat nutrien
dari lapisan dalam ke lapisan permukaan.
4. SST
Suhu merupakan parameter oseanografi yang paling dominan dalam menentukan area
fishing ground, hal ini didasari pada beberapa jenis ikan pelagis mempunyai
kecenderungan untuk senang berada di rentang suhu tertentu untuk hidup. Hal ini
disebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai
dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Di permukaan
laut, suhu bervariasi secara horizontal sesuai dengan garis lintang dan juga secara
vertikal; sesuai dengan kedalaman laut tersebut. ( Nontji, 1987), menyatakan suhu
merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan
terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya. Ikan
akan hidup pada suhu optimum 20-30C dan akan mengalami stress yang biasanya
diikuti menurunnya daya cerna jika mengalami perubahan suhu dibawak 20 0C atau
diatas 300C ( Trubus edisi 425, 2005 ).
5. Front
Front merupakan salah satu proses oseanografi yang berpengaruh terhadap kondisi
fisika dan biologi suatu perairan. Sedangkan pengaruh kelimpahan klorofil-a menurut
Lalli dan Parson (1994) pada suatu perairan merupakan indikator dari kesuburan
perairan dan produktifitas primer. Dalam penelitian Kunarso (2008) hubungan antara
kelimpahan ikan dengan klorofil-a terlihat indikasi yang lebih jelas, bahwa puncak
panen ikan tuna biasanya pada saat kadar klorofil-a yang tinggi. Menurut Olson
(1994) terdapat banyak variasi kemungkinan front, yaitu thermal front, salinitas front,
klorofil-a front. Thermal front adalah front yang dideteksi dari suhu permukaan laut.
Terjadinya front biasanya berasosiasi dengan kemunculan upwelling. Upwelling
adalah proses penaikan massa air dari bawah ke permukaan yang biasanya membawa
nutrien. Lokasi front yang diikuti oleh melimpahnya klorofil-a dapat mengarah pada
terjadinya upwelling. Menurut Wyktri (1962), Susanto, R.D. et al. (2001), Hendiarti,
N. et al. (2005), wilayah potensial Upwelling yang terjadi di perairan Indonesia adalah
Samudera Hindia Barat Sumatera, Selatan Jawa Bali Nusa Tenggara, Selat Makassar,
Laut Banda, serta Laut Arafura.
6. Cayulla-Cornillon
SIED (Single Image Edge Detection) merupakan salah satu metode otomatis
identifikasi thermal front yang dikembangkan oleh Cayulla dan Cornillon (1992).
Dalam penginderaan jauh metode ini termasuk dalam deteksi tepi. Deteksi tepi (Edge
Detection) adalah pemrosesan citra yang menghasilkan tepi-tepi dari obyek-obyek
citra, tujuannya adalah untuk memperjelas bagian yang ingin didetailkan dalam citra
atau untuk memperbaiki detail citra yang kabur akibat error dari proses akuisisi citra.
Biasanya metode ini digunakan untuk memisahkan dua populasi atau lebih yang
mempunyai perbedaan nilai yang ekstrim. Kahru et al. (1995) sukses menerapkan
metode ini untuk mengetahui distribusi front suhu permukaan laut di Laut Baltic,
selain itu Podesta et al. (1993) juga menerapkan metode ini di Barat Laut Atlantik.
Cayulla dan Cornillon (1995) menjabarkan algoritma Single Image Edge Detection
(SIED) yang dioperasikan menjadi 3 level :

Picture level dimana pada level ini statistik lebih dominan, yaitu menentukan
probabilitas area yang tersegmentasi terutama yang dipengaruhi oleh keberadaan
awan, ini dilakukan dengan komputasi seluruh citra.
Window level, pada level ini adalah mencari statistik dari kemungkinan suhu
permukaan laut front pada seluruh window.
Local level, menentukan statistik pada piksel dengan mempertimbangkan piksel
tetangga. Pada level inilah terdapat kemungkinan edge piksel.