Anda di halaman 1dari 20

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

BidangStudi
Topik
Sasaran
Tempat
Hari/Tanggal
Waktu
Durasi

: Keperawatan Kritis
: Perawatan paska cedera kepala
: Keluarga pasien ruang ROI Lt.3 RSUD Dr. Soetomo
: Ruang Pertemuan ROI Lt.3 RSUD Dr. Soetomo
: Jumat, 31 Agustus 2015
: 12.30 WIB s.d 13.30 WIB
: 60 menit

1; ANALISA SITUASIONAL
Penyuluh : Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan.
Peserta

: Keluarga pasien ruang ROI Lt.3 RSUD Dr. Soetomo

2; TUJUAN INSTRUKSIONAL
1; Tujuan Instruksional Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan keluarga klien tentang cedera
kepala berat.
2; Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan promosi kesehatan tentang cedera kepala berat,
peserta dapat :
1; Mengetahui dan memahami pengertian cedera kepala berat
2; Mengetahui dan memahami penyebab cedera kepala berat
3; Mengetahui dan memahami tanda dan gejala cedera kepala berat
4; Mengetahui dan memahami akibat cedera kepala berat
5; Mengetahui dan memahami cara penatalaksanaan medis pada cedera
kepala berat
3; MATERI
1; Pengertian cedera kepala berat
2; Penyebab cedera kepala berat
3; Tanda dan gejala cedera kepala berat
4; Akibat pada cedera kepala berat
5; Cara penatalaksanaan medis pada cedera kepala berat
4; METODE
1; Ceramah
5; ALAT DAN MEDIA
1; Flipchart
2; Leaflet
6; KEGIATAN PELATIHAN
NO

TAHAP

KEGIATAN
Penyuluh

Peserta

Petugas

Pembukaan
5 menit

Pelaksanaan 1; Tahappertama: Orientasi


15 menit
Menjelaskan tata cara jalannya
promosi kesehatan
2; Mengkaji pengetahuan klien dan
keluarga tentang pada cedera kepala
berat
3; Tahap kedua: Penyampaian materi
1; Pengertian cedera kepala berat
2; Penyebab cedera kepala berat
3; Tanda dan gejala cedera kepala
berat
4; Akibat cedera kepala berat
5; Cara penatalaksanaan medis pada
cedera kepala berat
Diskusi dan 1; Memberikan kesempatan kepada
Tanya jawab
keluarga klien untuk bertanya seputar
30 menit
cedera kepala berat

Evaluasi
8 menit

5.

Terminasi
2 menit

1; Menyampaikan salam pembuka


2; Memperkenalkan diri
3; Menyampaikan tujuan promosi
kesehatan dengan metode ceramah dan
demonstrasi
4; Kontrak waktu

1; Penyuluh memberikan pertanyaan


singkat tentang cedera kepala berat
2; Menyimpulkan kegiatanpromosi
kesehatan
1; Mengucapkan terima kasih atas peran
serta peserta
2; Menyampaikan salam penutup

1; Menjawab salam
2; Mendengarkan
3; Memperhatikan
4; Menyepakati
kontrak waktu

Moderator

1; Memperhatikan
dan mendengarkan

Pemateri

2; Menjawab
pertanyaan
pemateri
3; Memperhatikan
dan mendengarkan

1; Bertanya seputar
penatalaksanaan
cedera kepala
berat
1; Menjawab
pertanyaan

Moderator

1; Mendengarkan
2; Menjawab salam

Moderator

7; PENGORGANISASIAN
Pembimbing: 1) Pembimbing Pendidikan :
1; Ninuk Dian K, S.Kep., Ns., MANP
2; Harmayetti, S.Kp., M.Kes.
2; Pembimbing Klinik : Sumiati, S.Kep., Ns
Moderator:
Penyaji :
Observer :
Fasilitator :

Arie Erna Afriana, S.Kep.


Imam Tri Sutrisno, S.Kep.
Rafika Rosyda, S.Kep.
Arifin Kolillu Anam, S.Kep.
Wieji Santoso, S.Kep.
Maria Nining Kehi, S.Kep.

Fasilitator da
pemateri

8; DESKRIPSI PENGORGANISASIAN
a; Moderator
1; Mengatur jalannya penyuluhan.
2; Menyampaikan judul materi.
3; Mengatur kontrak waktu.
4; Menjelaskan tujuan umum dan tujuan khusus.
5; Memperkenalkan penyaji materi, fasilitator, member salam pembuka
b; Penyaji
1; Menyajikan materi penyuluhan.
2; Menjawab pertanyaan dari peserta.
c; Observer
Mengamati dan menilai proses penyuluhan.
d; Fasilitator
Menstimulasi peserta yang tidak aktif.

SETTING TEMPAT
Flipchart

Keterangan Gambar :
: Audience
: Moderator
: Penyuluh

: Fasilitator
: Observer

9; EVALUASI
1; Evaluasi struktur
1; Kontrak waktu dan tempat diberikan 1 jam sebelum acara dilakukan
2; Pembuatan satuan acara penyuluhan, leaflet, dan flip chart
3; Peserta di tempat yang telah ditentukan
4; Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan
saat penyuluhan dilaksanakan
5; Tim PKRS
Pembimbing: 1) Pembimbing Pendidikan :
1; Ninuk Dian K, S.Kep., Ns., MANP
2; Harmayetti, S.Kp., M.Kes.
2) Pembimbing Klinik: Sumiati, S.Kep., Ns
Moderator :
Penyaji
:
Observer :
Fasilitator :

Arie Erna Afriana, S.Kep.


Imam Tri Sutrisno, S.Kep.
Rafika Rosyda, S.Kep.
Arifin Kolillu Anam, S.Kep.
Wieji Santoso, S.Kep.
Maria Nining Kehi, S.Kep.

2; Evaluasi proses
1; Pembukaan:
1;
2;
3;
4;

Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri


Menyampaikan tujuan dan maksud dari penyuluhan
Menjelaskan kontrak waktu & mekanisme kegiatan
Menyebutkan materi penyuluhan yang akan diberikan

2; Pelaksanaan:
1; Menggali pengetahuan & pengalaman pasien dan keluarga mengenai
cedera kepala
2; Menjelaskan materi
- Pengertian cedera kepala
- Penanganan cedera kepala saat di tempat kejadian, rumah sakit, dan

pasca rumah sakit


3; Memberikan kesempatan pada peserta untuk menanyakan materi yang
kurang dipahami
4; Menjawab pertanyaan-pertanyaan keluarga pasien
3; Kesesuaian masing-masing penanggung jawab dengan tugasnya
3; Evaluasi Hasil
1; Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
2; Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan
3; Peserta yang datang sejumlah 15 orang atau lebih.
4; Acara dimulai tepat waktu.
5; Peserta dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah
dijelaskan.
6; Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan penyuluh

MATERI PROMOSI KESEHATAN


CEDERA KEPALA
1; Pengertian Cedera Kepala
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatic dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstisial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin, 2008).
Cedera kepala merupakan suatu proses dimana terjadi trauma langsung
atau deselarasi terhadap kepala yang menyebabkan kesusahan tengkorak dan
otak (Pierce, A. G & Neil, R. B., 2006).
Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara
penyakit neurologik yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (60 %
kematian yang disebabkan kecelakaan lalulintas merupakan akibat cedera
kepala). Faktor kontribusi terjadinya kecelakaan seringkali adalah konsumsi
alkohol (Ginsberg, 2005). Risiko utama pasien yang mengalami cedera kepala
adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pebengkakan otak sebagai
respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan TIK (Smetlzer & Bare,
2006).
Klasifikasi cedera kepala berdasarkan mekanisme, berat dan
morfologinya:
Mekanisme

Tumpul
Tembus

Beratnya

Ringan
Sedang
Berat
Fraktur tengkorak
Dasar tengkorak

Morfologi

Lesi intra kranial

Fokal
Difus

2; Penyebab Cedera Kepala


1; Sebagian besar oleh kecelakaan lalulintas
2; Cedera terjatuh

Kecepatan tinggi/tabrak
Kecepatan rendah
Cedera
Cedera tembus
GCS 14-15
GCS 9-13
GCS 3-8
Garis bintang
Depresi-non depresi
Terbuka-tertutup
Dengan/tanpa kebocoran CSF
Dengan/tanpa poros N VII
Epidural
Subdural
Intracerebral
Kontusio ringan
Komosio klasik
Cedera oksondifus

3; Perkelahian
4; Cedera kepala terbuka oleh benda tajam
5; Penganiayaan
3; Tanda dan Gejala Cedera Kepala
Menurut Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz (2009)
orang yang mengalami cedera kepala akut memiliki beberapa tanda dan gejala.
Dengan mengetahui manifestasi klinis dari cedera kepala, dapat dibedakan
antara cedera kepala ringan dan berat. Manifestasi cedera kepala:
Cedera ringan

Dapat menimbulkan hilang kesadaran


Periode konfusi (kebingungan) transien
Somnolen
Gelisah
Iritabilitas
Pucat
Muntah (satu kali atau lebih)
Tanda-tanda progestivitas
Perubahan status mental
Agitasi memuncak
Timbul tanda-tanda neurologik lateral fokal dan
perubahan tanda-tanda vital yang tampak jelas
Cedera berat
Tanda-tanda peningkatan TIK
Perdarahan retina
Paralisis ekstraokular (terutama saraf kranial VI)
Hemiparesis
Kuadriplegia
Peningkatan suhu tubuh
Cara berjalan yang goyah
Papiledema dan perdarahan retina.
Tanda-tanda yang menyertai Cedera kulit (daerah cedera pada kepala)
Cedera lainnya (misalnya pada ekstremitas).

Pada saat merawat pasien dengan cedera kepala, perawat harus mampu
memantau tanda peningkatan TIK. Manifestasi peningkatan TIK dapat dilihat
di table berikut: (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein& Schwartz, 2009)
Bayi

MANIFESTASI KLINIS
Fontanela tegang dan menonjol, kurangnya pulsasi yang
normal
Sutura kranial terpisah
Tanda macewen (suara seperti pot pecah saat di perkusi)
Iritabilitas (bayi menjadi rewel)

Tangisan dengan nada tinggi (high-ptched cry) Peningkatan


lingkaran oksipital
Distensi vena-vena di kulit kepala
Perubahan pola pemberian makan
Menangis ketika digendong atau digoyang
Setting-sun sign (deviasi mata kebawah sehingga masingmasing iris tampak tenggelam dibalik kelopak mata
bawah, dengan sklera putih terbuka diantara iris dan kelopak
mata atas)
Anak-anak dan
Sakit kepala
dewasa
Mual
Muntah-sering tanpa rasa mual
Dipoplia, penglihatan kabur
Kejang
Kepribadian dan
Iritabilitas, gelisah
tanda-tanda
Anak tampak tidak peduli, mengantuk atau tidak memiliki
perilaku
ketertarikan
Kinerja di sekolah menurun
Aktivitas fisik dan kinerja motorik menurun
Peningkatan keluhan keletihan, kelelahan, waktu tidur
bertambah
Penurunan berat badan yang signifikan, kemungkinan
disebabkan oleh anoreksia dan vomittus
Kehilangan ingatan jika tekanan semakin meningkat
Ketidakmampuan untuk mengikuti perintah sederhana
Berkembang menjadi letargi dan keadaan mengantuk
Tanda-tanda lanjut Penurunan tingkat kesadaran
Berkurangnya respon motorik terhadap perintah
Berkurangnya respon sensorik terhadap rangsangan nyeri
Perubahan ukuran dan reaktivitas pupil
Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi
Pernapasan Cheyne-Stokes
Papiledema

4; Akibat Cedera Kepala Berat


Komplikasi utama trauma kepala adalah perdarahan, infeksi, edema
dan herniasi melalui tontronium. Infeksi selalu menjadi ancaman yang
berbahaya untuk cedera terbuka dan edema dihubung kandengan trauma
jaringan. Ruptur vaskula dapat terjadi sekalipun pada cedera ringan; keadaan
ini menyebabkan perdarahan di antara tulang tengkorak dan permukaan
serebral. Kompesi otak di bawahnya akan menghasilkan efek yang dapat
menimbulkan kematian dengan cepat atau keadaan semakin memburuk
(Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).

Telah dilakukan penelitian mengenai kondisi perubahan tingkah laku


pada 6-12 bulan post cedera. Kebanyakan pasien dengan cedera kepala berat
memiliki masalah beraktivitas di lingkungan social disbanding yang
mengalami cedera kepala sedang dan ringan. (Fletcher, Cobbs, Miner, Levin
& Eisenberg, 1990).
5; Penatalaksanaan pada Cedera Kepala
a; Tatalaksana di tempat kecelakaan
BLS atau Bantuan Hidup Dasar merupakan awal respons tindakan
gawat darurat. BLS dapat dilakukan oleh tenaga medis, paramedis maupun
orang awam yang melihat pertamakali korban. Skills BLS haruslah dikuasai
oleh paramedis dan medis, dan sebaiknya orang awam juga menguasainya
karena seringkali korban justru ditemukan pertamakali bukan oleh tenaga
medis.
BLS adalah suatu cara memberikan bantuan/pertolongan hidup dasar
yang meliputi bebasnya jalan napas (Airway/A), pernapasan yang adekuat
(Breathing/B), sirkulasi yang adekuat (Circulation/C).
Urutan penanganan gawat darurat
Penentuan

status

gawat

darurat

dapat

ditentukan

dengan

Pemeriksaaan Primer (Primary Survey) yakni deteksi cepat dan koreksi


segera terhadap kondisi yang mengancam jiwa. Dilakukan dengan prinsip DR-A-B-C (AHA, 2005). Menurut konsensus terbaru American Heart
Association 2010, penanganan dalam Basic Life Support menjadi D-R-C-A-B.
D- danger

(bahaya)

R- response

(respon)

C- circulation (sirkulasi + kontrol perdarahan)


A- airway

(jalan nafas) + servical control

B- breathing (oksigenasi)
Danger

Do No Further Harm, jangan membuat cedera lebih lanjut.

Keamanan merupakan hal pertama yg harus diperhatikan. Prioritasnya adalah


keamanan diri sendiri, lingkungan dan terakhir korban. Betapapun ironisnya,
korban memang menjadi prioritas terakhir, sebab korban memang sudah
cedera dari awal. Prinsipnya jangan menambah cedera pada korban. Langkah :

1; Perkenalkan diri & memakai pelindung diri


2; Membubarkan kerumunan dan memastikan lokasi aman
3; Aktifkan respons emergency panggil ambulan (118) atau polisi
Response
1; Respon panggil : Pak, Pak, bagaimana keadaan Bapak?
2; Respon sentuh: Lakukan dengan menepuk pundak atau pipi (jika keadaan
memungkinkan), jangan menggoyang-goyangkan bahu jika curiga terdapat
cedera tulang belakang.
3; Respon nyeri : tekan daerah antara kuku jari tangan korban dan kulitnya,
atau tekan daerah sternum (taju pedang) korban dengan jari tangan.
Penilaian A-V-P-U

Alert (sadar)
Verbal : disorientasi tapi masih ada respon
Painful : memberi respon pada nyeri
Unresponsif

b; Tatalaksana di Rumah Sakit


Penatalaksanaan penderita cedera kepala ditentukan atas dasar
beratnya cedera dan dilakukan menurut urutan prioritas. Yang ideal
dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari paramedis terlatih, dokter ahli
saraf, bedah asraf, radiologi, anestesi dan rehabilitasi medik.
Pasien dengan cedera kepala harus ditangani dan dipantau terus sejak
empat kecelakaan, selama perjalanan dari tempat kejadian sampai rumah sakit,
diruang gawat darurat, kamar radiologi, sampai ke ruang operasi, ruang
perawatan atau ICU, sebab sewaktu-waktu bisa memburuk akibat aspirasi,
hipotensi, kejang dan sebagainya.
Macam dan urutan prioritas tindakan cedera kepala ditentukan atas
dalamnya penurunan kesadaran pada saat diperiksa: (Japardi, 2002)
a; Pasien dalam keadaan sadar (GCS=15)
Simple head injury (SHI)
Pasien mengalami cedera kepala tanpa diikuti gangguan kesadaran,
dari anamnesa maupun gejala serebral lain. Pasien ini hanya dilakukan
perawatan luka. Pemeriksaan radiologik hanya atas indikasi. Keluarga

dilibatkan untuk mengobservasi kesadaran.


Kesadaraan terganggu sesaat

Pasien mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah cedera kepala


dan pada saat diperiksa sudah sadar kembali. Pemeriksaan radiologik
dibuat dan penatalaksanaan selanjutnya seperti SHI
b; Pasien dengan kesadaran menurun
Cedera kepala ringan/ minor head injury (GCS=13-15)
Kesadaran disoriented atau not obey command, tanpa disertai defisit
fokal serebral. Setelah pemeriksaan fisik dilakukan perawatanluka,
dibuat foto kepala. CT Scan kepala, jika curiga adanya hematom
intrakranial, misalnya ada riwayat lucid interval, pada follow up
kesadaran semakinmenurun atau timbul lateralisasi. Observasi
kesadaran, pupil, gejala fokal serebral disamping tanda-tanda vital.
Urutan tindakan menurut prioritas adalah sebagai berikut:
Cedera kepala sedang (GCS=9-12)
1; Resusitasi jantung paru (airway, breathing, circulation=ABC)
Pasien
dalamkategori
ini bisa
gangguan
kardiopulmoner,
Pasien
dengan
cedera kepala
beratmengalami
ini sering terjadi
hipoksia,
hipotensi dan
oleh karenaakibat
itu urutan
tindakannya
sebagai berikut:
hiperkapnia
gangguan
kardiopulmoner.
Oleh karena itu tindakan
- Periksa dan atasi gangguan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi
pertama
adalah:
- Periksa
singkat atas kesadaran, pupil, tanda fokal serebral dan
1; Jalan nafas (Air way)
organ lain. Fiksasi
leheryang
dan turun
patah tulang
ekstrimitas
Jalan cedera
nafas dibebaskan
dari lidah
ke belakang
dengan posisi
- Foto kepala dan bila perlu bagiann tubuh lain
kepala
ekstensi,kalau
dipasang
pipahematom
orofaringintrakranial
atau pipa endotrakheal,
- CT
Scan kepala perlu
bila curiga
adanya
- Observasi
vital, darah,
kesadaran,
pupil,
defisit
serebral
bersihkan
sisa fungsi
muntahan,
lendir
atau
gigifokal
palsu.
Isi lambung
Cedera kepala berat (GCS=3-8)
dikosongkan
nasograstrik
untuk
aspirasi
Penderita inimelalui
biasanyapipa
disertai
oleh cedera
yangmenghindarkan
multiple, oleh karena
muntahan
itu disamping kelainan serebral juga disertai kelainan sistemik.
2; Pernafasan (Breathing)
Gangguan pernafasan dapat disebabkan oleh kelainan sentral atau perifer.

Kelainan sentral adalah depresi pernafasan pada lesi medula oblongata,


pernafasan cheyne stokes, ataksik dan central neurogenik hyperventilation.
Penyebab perifer adalah aspirasi, trauma dada, edema paru, DIC, emboli
paru, infeksi. Akibat dari gangguan pernafasan dapat terjadi hipoksia dan
hiperkapnia. Tindakan dengan pemberian oksigen kemudian cari danatasi
faktor penyebab dan kalau perlu memakai ventilator.
3; Sirkulasi (Circulation)
Hipotensi menimbulkan iskemik yang dapat mengakibatkan kerusakan
sekunder. Jarang hipotensi disebabkan oleh kelainan intrakranial,
kebanyakan oleh faktor ekstrakranial yakni berupa hipovolemi akibat
perdarahan luar atau ruptur alat dalam, trauma dada disertai tamponade
jantung atau peumotoraks dan syok septik. Tindakannya adalah
menghentikan sumber perdarahan, perbaikan fungsi jantung dan mengganti
darah yang hilang dengan plasma, hydroxyethyl starch atau darah

1; Pemeriksaan fisik
Setalah ABC, dilakukan pemeriksaan fisik singkat meliputi
kesadaran, pupil, defisit fokal serebral dan cedera ekstra kranial.
Hasil pemeriksaan fisik pertama ini dicatat sebagai data dasar dan
ditindaklanjuti, setiap perburukan dari salah satu komponen diatas
bis adiartikan sebagai adanya kerusakan sekunder dan harus segera
dicari dan menanggulangi penyebabnya.
2; Pemeriksaan radiologi
Dibuat foto kepala dan leher, sedangkan foto anggota gerak, dada
dan abdomen dibuat atas indikasi. CT scan kepala dilakukan bila
ada fraktur tulang tengkorak atau bila secara klinis diduga ada
hematom intrakranial.
3; Tekanan tinggi intrakranial (TTIK)
Peninggian TIK terjadi akibat edema serebri, vasodilatasi,
hematom intrakranial atau hidrosefalus. Untuk mengukur turun
naiknya TIK sebaiknya dipasang monitor TIK. TIK yang normal
adalah berkisar 0-15 mmHg, diatas 20 mmHg sudah harus
diturunkan dengan urutan sebagai berikut:
a; Hiperventilasi
Setelah resusitas ABC, dilakukan hiperventilasi dengan
ventilasi yang terkontrol, dengan sasaran tekanan CO2 (pCO2)
27-30 mmHg dimana terjadi vasokontriksi yang diikuti
berkurangnya aliran darah serebral. Hiperventilasi dengan
pCO2 sekitar 30 mmHg dipertahankan selama 48-72 jam, lalu
dicoba dilepas dgnmengurangi hiperventilasi, bila TIK naik
lagi hiperventilasi diteruskan lagi selama 24-48 jam. Bila TIK
tidak menurun dengan hiperventilasi periksa gas darah dan
lakukan CT scan ulang untuk menyingkirkan hematom.
b; Drainase

Tindakan ini dilakukan bila hiperventilasi tidak berhasil. Untuk


jangka pendek dilakukan drainase ventrikular, sedangkan untuk
jangka panjang dipasang ventrikulo peritoneal shunt, misalnya
bila terjadi hidrosefalus
c; Terapi diuretik
Diuretik osmotik (manitol 20%)
Cairan ini menurunkan TIK dengan menarik air dari jaringan
otak normal melalui sawar otak yang masih utuh kedalam
ruang intravaskuler. Bila tidak terjadi diuresis pemberiannya
harus dihentikan.
Cara pemberiannya :
Bolus 0,5-1 gram/kgBB dalam 20 menit dilanjutkan 0,25-0,5
gram/kgBB, setiap 6 jam selama 24-48 jam. Monitor
osmolalitas tidak melebihi 310 mOSm
Loop diuretik (Furosemid)
Furosemid dapat menurunkan TIK melalui efek menghambat
pembentukan

cairan

cerebrospinal

dan

menarik

cairan

interstitial pada edema sebri. Pemberiannya bersamaan manitol


mempunyai efek sinergik dan memperpanjang efek osmotik
serum oleh manitol. Dosis 40 mg/hari/iv.
d; Terapi barbiturat
Terapi ini diberikan pada kasus-ksus yang tidak responsif
terhadap semua jenis terapi yang tersebut diatas.
Cara pemberiannya:
Bolus 10 mg/kgBB/iv selama 0,5 jam dilanjutkan 2-3
mg/kgBB/jam selama 3 jam, lalu pertahankan pada kadar
serum 3-4 mg%, dengan dosis sekitar 1 mg/KgBB/jam. Setelah
TIK terkontrol, 20 mmHg selama 24-48 jam, dosis diturunkan
bertahap selama 3 hari.
e; Steroid
Berguna untuk mengurangi edema serebri pada tumor otak.
Akan tetapi menfaatnya pada cedera kepala tidak terbukti, oleh
karena itu sekarang tidak digunakan lagi pada kasus cedera
kepala.
f; Posisi tidur

Penderita cedera kepala berat dimana TIK tinggi posisi


tidurnya ditinggikan bagian kepala sekitar 20-30, dengan
kepala dan dada pada satu bidang, jangan posisi fleksi atau
leterofleksi, supaya pembuluh vena daerah leher tidak terjepit
sehingga drainase vena otak menjadi lancar.
4; Keseimbangan cairan elektrolit
Pada saat awal pemasukan cairan dikurangi untuk mencegah
bertambahnya edema serebri dengan jumlah cairan 1500-2000
ml/hari diberikan perenteral, sebaiknya dengan cairan koloid
seperti hydroxyethyl starch, pada awalnya dapat dipakai cairan
kristaloid seperti NaCl 0,9% atau ringer laktat, jangan diberikan
cairan yang mengandung glukosa oleh karena terjadi keadaan
hiperglikemia menambah edema serebri. Keseimbangan cairan
tercapai bila tekanan darah stabil normal, yang akan takikardia
kembali normal dan volume urin normal >30 ml/jam. Setelah 3-4
hari dapat dimulai makanan peroral melalui pipa nasogastrik. Pada
keadaan tertentu dimana terjadi gangguan keseimbangan cairan
eletrolit, pemasukan cairan harus disesuaikan, misalnya pada
pemberian obat diuretik, diabetes insipidus, syndrome of
inappropriate anti diuretic hormon (SIADH). Dalam keadaan ini
perlu dipantau kadar eletrolit, gula darah, ureum, kreatinin dan
osmolalitas darah.
5; Nutrisi
Pada cedera kepala berat terjadi hipermetabolisme sebanyak 2-2,5
kali normal dan akan mengakibatkan katabolisme protein. Proses
ini terjadi antara lain oleh karena meningkatnya kadar epinefrin
dan norepinefrin dalam darah danakan bertambah bila ada demam.
Setekah 3-4 hari dengan cairan perenterai pemberian cairan nutrisi
peroral melalui pipa nasograstrik bisa dimulai, sebanyak 20003000 kalori/hari
6; Epilepsi/kejang
Epilepsi yang terjadi dalam minggu pertama setelah trauma disebut
early epilepsi dan yang terjadi setelah minggu pertama disebut late
epilepsy. Early epilelpsi lebih sering timbul pada anak-anak dari

pada orang dewasa, kecuali jika ada fraktur impresi, hematom atau
pasien dengan amnesia post traumatik yang panjang.
7; Neuroproteksi
Adanya waktu tenggang antara terjadinya trauma dengan
timbulnya kerusakan jaringan saraf, memberi waktu bagi kita
untuk memberikan neuroprotektan. Manfaat obat-obat tersebut
masih diteliti pada penderita cedera kepala berat antara lain,
antagonis kalsium, antagonis glutama dan sitikolin.
c; Perawatan di Rumah
Pasien biasanya berbicara pelan dan terganggu. Pahami dan latihlah
pasien berbicara perlahan dan bertahap. Jika mengalami gangguan bicara,
periksakan dan lakukan terapi ke bagian audiology.
Jika mengalami kelumpuhan, lakukan terapi di bagian rehabilitasi
medik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Orang sakit dapat dilatih
gerakan yang telah diajarkan oleh fisioterapist sebelumnya.
Orang sakit dengan cedera kepala seringkali sensitif dan cepat marah
akibat dari faktor otak yang masih terganggu. Pahami kondisi klien dengan
bersikap sabar dan melayani orang sakit. Jika mengalami gangguan emosi atau
tingkah laku serius , periksakan ke bagian psikiatri.
Luka bekas operasi dan bekas cedera harus dikontrol teratur sesuai
jadwal dan dirawat di rumah dengan menjaga agar luka pada kepala tetap
dalam kondisi bersih dari kotoran.
Tidak ada pantangan makan, kecuali pasien dengan alergi atau
penyakit lain seperti kencing manis, tekanan darah tinggi dan sebagainya.Ada
sebagian kasus pasien tidak bisa menelan setelah cedera kepala, pada kondisi
ini, pasien memerlukan alat bantu.

DAFTAR PUSTAKA
Ginsberg, L. (2010). Lecture Notes : Neurology 9th edition. West Sussex:
Blackwell Publishing Ltd.
Fletcher, J. M., Cobbs, L. E., Miner, M. E., Levin, H. S., & Eisenberg, H. M.
(1990). Behavioral changes after closed head injury in children. Journal of
Consulting and Clinical Psychology, 58, 93-98
Japardi, I. (2002). Penatalaksanaan Cedera Kepala Akut. USU Digital Library
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika
Pierce,A. G&Neil, R. B. (2006). Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2006).Brunner &SuddarthsTextbook of MedicalSurgicalNursing. Philadelphia : Lippincott
Wong, D. L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, L. M., & Schwartz, P.
(2009).BukuAjar KeperawatanPediatrik Wong (6th ed.). (E. K. Yudha, D.
Yulianti, N. B. Subekti, E. Wahyuningsih, M. Ester, Penyunt., & N. J.
AgusSutarna, Penerjemah). Jakarta: EGC

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN


RUANG OBSERVASI INTENSIF RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
Kriteria Struktur
a; Kontrak waktu dan
tempat diberikan 1 jam
sebelum acara dilakukan

Kriteria Proses
Pembukaan:
5; Mengucapkan salam
dan memperkenalkan

Kriteria Hasil
a; Peserta antusias
terhadap materi
penyuluhan (

(
)
diri (
)
b; Peserta mendengarkan
b; Pembuatan satuan acara 6; Menyampaikan tujuan
dan memperhatikan
penyuluhan, leaflet, dan
dan maksud dari
penyuluhan (
)
flip chart
(
penyuluhan
c; Peserta yang datang
(
)
)
sejumlah 15 orang atau
7; Menjelaskan kontrak
c; Peserta di tempat yang
lebih. (
)
waktu & mekanisme
telah ditentukan (
)
d; Acara dimulai tepat
d; Pengorganisasian
kegiatan (
)
waktu. (
)
8; Menyebutkan materi
penyelenggaraan
e; Peserta dapat mengikuti
penyuluhan yang akan
penyuluhan dilakukan
kegiatan sesuai dengan
diberikan (
)
sebelum dan saat
aturan yang telah
Pelaksanaan:
penyuluhan
5; Menggali pengetahuan
dijelaskan. (
)
f; Peserta mampu
dilaksanakan.(
)
& pengalaman pasien
menjawab dengan
dan keluarga mengenai
benar 75% dari
cedera kepala (
)
6; Menjelaskan materi
pertanyaan penyuluh (
- Pengertian
cedera
)
kepala
( )
- Penanganan
cedera
kepala saat di tempat
kejadian, rumah sakit,
dan pasca rumah sakit
( )
7; Memberikan
kesempatan

pada

peserta

untuk

menanyakan

materi

yang kurang dipahami


(
)
8; Menjawab pertanyaanpertanyaan

keluarga

pasien (
)
9; Kesesuaian
masing

masing-

penanggung

jawab dengan tugasnya

LEMBAR OBSERVASI SESI TANYA JAWAB PESERTA PENYULUHAN


DI RUANG OBSERVASI INTENSIF RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
No.

Nama Peserta

Pertanyaan

Jawaban

LEMBAR PRESENSI PESERTA PENYULUHAN


RUANG CENDANA RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Nama Peserta

Tanda Tangan

21
22
23
24
25
26
27
28