Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI


(IKFR)
SKOLIOSIS

Pembimbing :
dr. Lena Wijayaningrum, Sp.KFR

Penyusun :
Tania Wangunhardjo
Nim 2010.04.0.0007

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

PENDAHULUAN

Skoliosis berasal dari bahasa Yunani yaitu Crookednes atau

kebengkokan.

Skoliosis mempengaruhi ikatan sendi dan otot yang mengenai tulang belakang, yang
menyebabkan tulang belakang, tulang rusuk dan tulang panggul bengkok. Banyak
penyebab yang berbeda dari scoliosis. Sebagian besar deformitas skoliosis adalah idiopatik
(penyebab tidak diketahui). Namun yang lain dapat kongenital disertai dengan gangguan
atau sindroma neuromuscular, atau kompensator dari ketidakcocokan panjang kaki atau
kelainan intraspinal.
Seringkali seseorang dengan skoliosis telah mengalami kondisi ini sejak masa kanakkanak, namun kebanyakan kasus skoliosis tidak terdiagnosa sampai usia 10-14 tahun. Pada
skoliosis, tulang belakang melengkung abnormal dari sisi ke sisi menyerupai bentuk S,
dapat dilihat ketika kelengkungannya semakin parah dan juga mengakibatkan
ketidaknyamanan. Jika kelengkungannya sudah menjadi sangat parah akhirnya dapat
menganggu fungsi pernafasan dan jantung. Juga dapat merusak persendian tulang belakang
serta rasa sakit di masa tua.
Kebanyakan pasien dengan skoliosis diobati tanpa melalui tindakan operasi,
walaupun terkadang operasi dibutuhkan. Pengobatan skoliosis lebih efektif bila penyebab
diketahui lebih dini.
(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)

PEMBAHASAN
I. Anatomi dan Struktur Tulang Belakang
Tulang belakang terdiri dari 7 vertebrae cervicalis yang membentuk daerah tengkuk,
12 vertebrae thoracalis yang membentuk bagian belakang dada, 5 vertebrae lumbalis yang
membentuk daerah lumbal atau pinggang, 5 vertebrae sacralis yang membentuk sacrum
atau tulang kelangkang, dan 4 vertebrae coccygeus yang membentuk tulang ekor.
Masing masing area vertebra mempunyai arah lengkung dalam kondisi yang
normal jika dilihat dari sisi lateral. Lengkung ruas vertebra cervicalis melengkung ke
depan, vertebra thoracalis ke arah belakang, vertebra lumbalis ke depan, dan vertebra
sacralis ke belakang.

Vertebrae cervicalis merupakan vertebrae yang paling kecil dibandingkan ruas tulang
lainnya. Vertebrae thoracalis semakin ke bawah semakin membesar dilihat dari ukurannya
dan terdapat persendian dengan tulang rusuk. Vertebrae lumbalis mempunyai ruas yang
paling besar dibandingkan yang lainnya. Sacrum terletak di bagian bawah dan berbentuk
segitiga. Vertebrae coccygeus terdiri dari 4 atau 5 tulang yang menyatu dan terletak di
paling bawah dari tulang belakang.
3

(http://www.scribd.com/doc/154758229/referat-skoliosis)
II. Definisi Skoliosis
Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung abnormal ke
lateral, yang dapat terjadi pada daerah thorakal, lumbal, dan jarang pada daerah cervical.
Kurva yang terbentuk mungkin cembung ke kanan (lebih sering pada daerah thorakal) atau
ke kiri (lebih sering pada daerah lumbal). Biasanya, kelainan ini disertai dengan adanya
rotasi dari vertebra yang terlibat (Hay,2012).
Skoliosis didefinisikan juga deformitas tulang belakang yang menggambarkan
deviasi vertebra ke arah lateral dan rotasional, yang memiliki sudut cobb lebih dari 10o.
(http://www.scribd.com/doc/154758229/referat-skoliosis)
III. Epidemiologi Skoliosis
Pada suatu populasi, hampir 2%nya mengalami skoliosis. Jika ada salah satu anggota
keluarga yang mengalami skoliosis, kemungkinan terjadinya skoliosis pada anggota
keluarga lain akan semakin besar (sekitar 20%). Dari seluruh kasus skoliosis yang terjadi,
85% di antaranya berupa skoliosis idiopatik. Sekitar 4% dari seluruh anak-anak usia 10
tahun hingga 14 tahun mengalami skoliosis. Dan 40 % sampai 60% di antaranya
ditemukan pada anak perempuan.
(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)
IV. Etiologi Skoliosis
Penyebab skoliosis dibedakan menjadi :
Idiopatik (Behrman,2004)
Skoliosis idiopatik merupakan bentuk skoliosis yang paling banyak
terjadi. Skoliosis ini terjadi pada orang sehat dengan penyebab yang tidak
diketahui.
Skoliosis idiopatik dapat dibedakan menjadi 4 :
- Infantile
: lahir 3 tahun
- Juvenile
: 4 10 tahun
- Adolescent : 11 tahun ke atas
- Adult
: saat sudah tercapai bone maturity

Neuromuskular (Behrman,2004)
Skoliosis yang disebabkan karena gangguan pada sistem saraf dan
penyakit otot (myopathy).
Kelainan pada upper motor neuron contohnya adalah cerebral palsy,
spinocerebellar degeneration, tumor di spinal cord, trauma di spinal cord).

Sedangkan, kelainan pada lower motor neuron contohnya adalah poliomielitis


dan atrofi otot spinal.
Penyakit otot (myopathy) contohnya adalah dunchenne muscular
dystrophy, arthrogryposis.

Kongenital (Behrman,2004)
Skoliosis yang disebabkan karena adanya abnormalitas perkembangan
vertebra selama trimester pertama kehamilan yang menyebabkan deformitas
struktural dari tulang belakang. Skoliosis kongenital ini bisa berupa kegagalan
formasi vertebra parsial atau total (wedge vertebrae / hemivertebrae),
kegagalan segmentasi vertebra parsial atau total (unsegmented bars), atau
kombinasi keduanya.

Sindroma genetik (Behrman,2004)


Anak-anak dengan sindroma tertentu, seperti neurofibromatosis dan
Marfan syndrome mempunyai risiko lebih tinggi mengalami deformitas tulang
belakang.

Degeneratif (Skinner,2003)
Skoliosis degeneratif terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Skoliosis
ini disebabkan oleh perubahan-perubahan pada tulang belakang dengan adanya
pelemahan dari ligamen-ligamen dan jaringan-jaringan lunak lain yang normal
dari tulang belakang digabungkan dengan pembentukan spur yang abnormal
dapat menjurus pada suatu lekukan dari spine yang abnormal.

Compensatory scoliosis (Behrman,2004)


Skoliosis yang terjadi pada orang dengan panjang kaki yang tidak sama.
Perbedaan panjang kaki sekecil 0,5 cm dapat menyebabkan terjadinya
skoliosis.

V. Klasifikasi Skoliosis
Skoliosis diklasifikasikan secara umum menjadi 2, yaitu skoliosis struktural dan nonstruktural.
Skoliosis struktural
Suatu kurvatura lateral spine yang irreversible dengan rotasi yang
menetap. Rotasi ini menyebabkan saat foward bending costa menonjol
membentuk hump di sisi convex. Sebaliknya dada lebih menonjol di
sisi concave. Skoliosis struktural tidak dapat dikoreksi dengan posisi atau
usaha penderita sendiri.
5

Skoliosis struktural dapat disebabkan oleh :


- idiopatik
- neuromuskular
- kongenital

Skoliosis non-struktural
Skoliosis non-struktural dapat disebut juga sebagai skoliosis fungsional
atau skoliosis postural. Skoliosis ini merupakan suatu kurvatura lateral spine
yang reversibel dan cenderung terpengaruh oleh posisi. Di sini tidak ada rotasi
vertebra. Umumnya foward / side bending atau posisi supine / pronasi dapat
mengoreksi scoliosis ini. Skoliosis ini dapat disebabkan oleh berbagai hal ang
membuat tulang belakang cenderung bengkok ke satu sisi.
Skoliosis non-struktural dapat disebabkan oleh :
-

Skoliosis postural : disebabkan karena kebiasaan postur

tubuh yang buruk


Spasme otot dan nyeri : nyeri pada spinal nerve root
(skoliosis skiatik), nyeri pada tulang punggung (inflamasi,

keganasan), nyeri pada abdomen.


Perbedaan panjang tungkai bawah

(http://id.wikipedia.org/wiki/Skoliosis)
(http://www.scribd.com/doc/154758229/referat-skoliosis)

VI. Kurva Skoliosis


Berdasarkan derajat kurvanya, skoliosis dapat dibedakan menjadi 3, yaitu skoliosis
ringan, sedang, dan berat.
Skoliosis ringan : kurva < 20 o
Skoliosis sedang : kurva 20 40 / 50 . Mulai terjadi perubahan struktural

vertebra dan costa.


Skoliosis berat : > 40 /50 . Berkaitan dengan rotasi vertebra yang lebih besar,
sering disertai nyeri, penyakit sendi degeneratif.
Pada sudut > 60 - 70 terjadi gangguan fungsi kardiopulmonal, bahkan
menurunnya harapan hidup.

Kurva skoliosis bisa berbentuk C atau S. Kurva C umumnya di thoracolumbal,


tidak terkompensasi, kemungkinan karena posisi asimetri dalam waktu lama, kelemahan
6

otot, atau keseimbangan duduk yang tidak baik. Kurva S lebih sering terjadi pada
skoliosis idiopatik, di thoracal kanan dan lumbal kiri, dan umumnya struktural.
Berdasarkan letaknya, kurva bisa terjadi di cervical, thorakal, dan lumbal, atau
kombinasi. Lokasi ini ditentukan dari sisi konveksitas kurva dan tinggi apex. Apex kurva
adalah vertebra yang letaknya paling jauh dari garis tengah tulang belakang. Pada kurva
cervical, apex ada di antara C1 C6, kurva cervicothoracic apexnya antara C7 T1, kurva
thorakal apexnya antara T2 T11, kurva thorakolumbal apexnya antara T12 L1, kurva
lumbal apexnya antara L2 L4, dan kurva lumbosakral bila apexnya L5 ke bawah.
Kurva mayor / kurva primer adalah kurva yang paling besar, dan biasanya struktural.
Kurva ini umumnya terjadi pada skoliosis idiopatik terletak antara vertebra T4 - T12.
Kurva kompensatori adalah kurva yang lebih kecil, bisa struktural maupun non-struktural.
Kurva ini membuat bahu penderita sama tingginya. Kurva mayor double jika sepadan
besar dan keparahannya, biasanya keduanya kurva struktural.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Skoliosis)
VII. Manifestasi Klinis Skoliosis
Gejala klinis yang dapat dijumpai pada penderita skoliosis adalah sebagai berikut :
Badan condong ke lateral flexion
Kepala tidak sejajar langsung dengan panggul
Salah satu bahu lebih tinggi dari yang lain
Terdapat penonjolan dari salah satu scapula
Payudara asimetris pada wanita
Salah satu pinggul lebih tinggi dari yang lain
Nyeri punggung
Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60%) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan
(http://www.scribd.com/doc/154758229/referat-skoliosis)

VIII. Diagnosis Skoliosis


Anamnesa :
Skoliosis ringan biasanya tidak menimbulkan keluhan, mungkin hanya
menimbulkan rasa pegal. Pada skoliosis sedang, penderita akan mengalami
penurunan daya tahan dalam posisi duduk atau berdiri berlama-lama. Pada
skoliosis berat akan menyebabkan lengkungnya tulang belakang yang berat,
dapat disertai dengan kesulitan jalan, nyeri punggung, pinggang, paha, dan
sesak (Skinner, 2003).
Pada saat melakukan anamnesa pasien skoliosis, pertanyaan berikut
sebaiknya ditanyakan.
-

Pada umur berapa kelengkungan tulang belakang pertama kali terlihat?


(Penting untuk menentukan prognosis dan derajat keparahan skoliosis)

-Bagaimana keadaan ibunya ketika sedang mengandung dulu?


(apakah ada kelainan atau suatu masalah ketika kehamilan dulu)
-Apakah pasien mengalami perkembangan yang normal ? (developmental
milestone)
(berjalan, berbicara)
-Apakah ada riwayat keluarga yang menderita Skoliosis atau masalah tulang
belakang lainnya?
(karena 20 % akan mewarisi kelainan ini, bila dalam keluarganya ada yang
menderita skoliosis)
-Apakah pasien mengalami nyeri punggung?
(Biasanya Soliosis pada anak atau remaja tidak menimbulkan nyeri.Bila
terdapat nyeri,pemerikan selanjutnya harus dilakukan untuk mengetahui
adanya kelainan-kelainan yang lain.)
(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)

Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
-

Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping.

Badan miring ke salah satu sisi

Bahu kanan dan bahu kiri tidak simetris.


8

Scapula salah satu sisi lebih menonjol

Pinggang yang tidak simetris, salah satu pinggul lebih tinggi atau lebih
menonjol daripada yang lain.

Ketika membungkuk ke depan, terlihat adanya rib hump dan dadanya tidak
simetris.

Ketika memakai baju, perhatikan lipatan baju yang tak rata, batas celana
yang tak sama panjang.

-Untuk Skoliosis yg idiopatik kemungkinan terdapat kelainan yang


mendasarinya, misalnya neurofibromatosis yang harus diperhatikan adalah
bercak caf au lait atau pasien tinggi dengan tungkai yang panjang
mungkin mengalami Marfans syndrome sehingga harus diperiksa lebih
lanjut, atau anak yang pendek dengan dwarfisme.
Palpasi :
-Pemeriksaan spesifik skoliosis : The Adams Forward Bending test
Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pasien dari belakang yaitu
dengan menyuruhnya membungkuk 90 ke depan dengan lengan menjuntai
ke bawah dan telapak tangan berada pada lutut. Temuan abnormal berupa
asimetri ketinggian iga (rib hump) atau otot-otot paravertebra pada satu sisi,
menunjukan rotasi badan yang berkaitan dengan kurvatura lateral. Rib hump
dapat diukur secara langsung dari tingginya atau dengan menggunakan
scoliometer. Deformitas tulang iga dan asimetri garis pinggang tampak jelas
pada kelengkungan 30 atau lebih. Jika pasien dilihat dari depan asimetri
payudara dan dinding dada mungkin terlihat. Tes ini sangat sederhana,
namun hanya dapat mendeteksi kebengkokannya saja, tidak dapat
menentukan secara tepat kelainan bentuk tulang belakang.

(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)

Scoliometer
Scoliometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut
kurvatura. Cara pengukurannya dilakukan dengan posisi pasien membungkuk,
kemudian scoliometer diletakkan pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa
ditekan, kemudian baca angka derajat kurva.

(http://www.scribd.com/mobile/doc/72651186)

Plumb line test :


Tes ini dilakukan dengan menjatuhkan plumb line dari vertebra C7.
Pada orang normal, ujung plumb line akan jatuh di gluteal cleft, sedangkan
pada penderita skoliosis akan terjadi pergeseran ke kanan atau ke kiri dari
gluteal cleft.

10

(http://www.spineuniverse.com/conditions/scoliosis/childhood-testingscoliosis)

Pemeriksaan penunjang
-Foto x-ray AP dan lateral yang mencakup seluruh tulang belakang dengan
posisi berdiri bila memungkinkan. Apabila ada masalah neuromuskular yang
membuat pasien tidak dapat berdiri, foto dapat diambil dalam keadaan
duduk (Skinner, 2003).
-Kurva pada foto x-ray diukur dengan menggunakan metode Cobb.
Metode ini digunakan untuk mengukur sudut kelengkungan dari tulang
belakang . Mengukur sudut Cobb dilakukan dengan menggambar garis
tegak lurus dari lempeng ujung superior dari vertebra paling atas pada
lengkungan. Dan garis tegak lurus dari lempeng akhir inferior vertebra
paling bawah dari lengkungan. Perpotongan dari kedua garis ini
membentuk suatu sudut yang diukur.

(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)
11

IX. Penatalaksanaan Skoliosis


Terapi konservatif (Skinner,2003)
- Skoliosis ringan ( < 10o ) hanya dilakukan observasi, kecuali pada pasien
dengan usia sangat muda dengan skoliosis neuromuskular dan
-

mempunyai risiko tinggi progresivitas kurva.


Skoliosis ringan ( < 20o ) dapat diatasi secara konservatif.
Skoliosis dengan derajat kurva > 20o pada pasien dengan skeletal yang

belum matur memerlukan penggunaan alat penyangga.


Ada beberapa macam penyangga yang dapat digunakan untuk terapi
skoliosis.
1. Milwaukee brace (cervical thoracic lumbar - sacral orthosis)
Alat ini dapat digunakan untuk hampir semua kurvatura. Alat
ini tidak hanya mempertahankan tulang belakang dalam posisi lurus,
tetapi juga mendorong pasien agar menggunakan otot-ototnya sendiri
untuk menyokong dan mempertahankan proses perbaikan tersebut.
Penyangga harus dipakai 16 - 23 jam sehari. Alat penyangga ini harus
terus digunakan sampai ada bukti objektif yang nyata akan adanya
kematangan rangka dan berhentinya pertumbuhan tulang belakang
selanjutnya (Skinner,2003).

2. Boston brace ( thoracic lumbal sacral orthosis )


Suatu penyangga yang memberikan sokongan lumbal atau
torakolumbal yang rendah (terbatas untuk skoliosis dengan apex di
vertebra T8 ke bawah). Penyangga ini digunakan selama 16-23 jam
sehari sampai skeletal penderita matur. Terapi ini bertujuan untuk
mencegah dan memperbaiki deformitas yang tidak dikehendaki oleh
pasien (Skinner,2003).
12

3. Charleston night bending brace


Alat ini hanya digunakan pada waktu malam (saat tidur) kurang
lebih 8 jam per malam. Alat ini akan memberikan tahanan dan
menekuk penderita ke arah yang berlawanan dengan kurvatura
(Skinner,2003).

(http://www.spine-health.com/conditions/scoliosis/types-scoliosis-braces)
-

Fisioterapi :
Pada pasien skoliosis, perlu dilakukan fisioterapi yang meliputi
terapi modalitas dan terapi latihan. Penangganan skoliosis dengan latihan
pada prinsipnya harus mengandung 3 unsur DEF yaitu Derotasi, Elongasi
dan Fleksibilitas. Tujuan latihan ini adalah menguatkan otot stabilisator
trunk, dan secara aktif mengurangi / mengoreksi kurva dan deformitas
lain yang menyertai. Otot yang perlu dilatih ialah otot abdominal, otot
thoracic, lumbar extensor, dan hip extensor. Selain itu, juga dilakukan
elongasi spine dengan cara bergantung pada stall bars atau dengan
memakai invertion traction. Terapi latihan yang dilakukan juga meliputi
latihan peregangan sisi concave, latihan elongasi trunk, latihan
peregangan otot leher, bahu atau hip, latihan penguatan otot sisi convex,
13

latihan deep breathing untuk meningkatkan fungsi paru, dan latihan


derotasi trunk dan lateral fleksi trunk. Pasien juga harus dilatih terapi
postural untuk melakukan postur tubuh yang benar saat berdiri, duduk,
tidur. Kemudian, dapat dilakukan intervensi massage untuk merelaksasi
otot dan mengurangi nyeri.
Terapi modalitas yang dapat diberikan, seperti traksi dan
elektrostimulasi. Elektro Stimulasi diberikan dengan stimulasi
intermittent di sisi convex scoliosis pada paraspinal muscles dan / atau
midaxillary line. Keberhasilan pemakaian elektro stimulasi untuk
mengoreksi skoliosis ringan sedang mencapai 80 % termasuk
mengurangi resiko operasi.

Muscle Exercise

Stall Bar Stretch

Medikamentosa : analgesik untuk mengurangi nyeri bila perlu

(http://en.wikipedia.org/wiki/Scoliosis#Physical_therapy)
(http://klinikskoliosis.wordpress.com/2013/11/18/penanganan-terkinirehabilitasi-medis-dan-fisioterapi-skoliosis/)

Terapi operasi (pembedahan)


14

Terapi pembedahan dilakukan bila sudut kurva lebih dari 40o karena
sudut yang terlalu besar sulit untuk dikontrol dengan alat penyangga (brace)
karena tekanan yang diberikan untuk koreksi harus lebih besar. Selain itu,
sudut kurva yang besar mempunyai risiko untuk mengalami progresivitas,
bahkan pada pasien dewasa. Terapi pembedahan dilakukan ketika terapi
konservatif tidak memungkinkan atau gagal (Skinner,2003).
1. Harringtod rod
Pada terapi pembedahan, biasanya dilakukan penanaman
Harrington rod. Harrington rod adalah satu atau sepasang batangan
logam untuk meluruskan atau menstabilkan tulang belakang dengan
fiksasi internal. Peralatan yang kaku ini terdiri dari pengait yang
terpasang pada daerah mendatar pada kedua sisi tulang vertebrata yang
letaknya di atas dan di bawah lengkungan tulang belakang. Keuntungan
utama dari penggunaan Harrington rod adalah dapat mengurangi
kelengkungan tulang belakang ke arah samping (lateral),
pemasangannya relatif sederhana dan komplikasinya rendah. Kerugian
utamanya adalah setelah pembedahan memerlukan pemasangan gips
yang lama. Seperti pemasangan pada spinal lainnya , Harrington rod
tidak dapat dipasang pada penderita osteoporosis yang signifikan.

(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)
2. Cotrel-Dubousset system
Terapi pembedahan lain yang dapat dilakukan adalah CotrelDubousset system. Cotrell-Dubousset meliputi pemasangan beberapa
batangan dan pengait untuk menarik, menekan, menderotasi tulang
belakang. Alat ini dipasang melintang antara kedua batangan untuk
menjaga tulang belakang lebih stabil.
15

(http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/)
X. Komplikasi Skoliosis
Penderita skoliosis perlu mendapatkan perawatan sedini mungkin. Tanpa perawatan,
tulang belakang menjadi semakin bengkok dan menimbulkan berbagai komplikasi seperti :
1. Kerusakan paru-paru dan jantung.
Komplikasi ini dapat terjadi jika tulang belakang membengkok melebihi 60 derajat.
Tulang rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita
sukar bernafas dan cepat capai. Jantung juga akan mengalami kesukaran memompa
darah. Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan
pneumonia.
2. Sakit tulang belakang.
Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami masalah
sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan menghidap
masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila
penderita berumur 50 atau 60 tahun.
3. Terjepitnya saraf-saraf disepanjang ruas tulang belakang.
Hal ini dapat mengakibatkan kelumpuhan.
(http://www.scribd.com/doc/44564724/MAKALAH-SKOLIOSIS)
XI. Prognosis Skoliosis
Umumnya, prognosis dari skoliosis bergantung pada kecenderungan progresivitas
kurva. Pasien dengan sudut kurva lebih besar mempunyai risiko progresif lebih tinggi
dibandingkan dengan sudut kurva yang lebih kecil. Juga, pasien dengan kurva di vertebra
thoracalis dan kurva primer dobel mempunyai risiko yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kurva tunggal di daerah lumbal. Selain itu, pasien yang belum mencapai maturitas
skeletal juga mempunyai risiko progresif yang lebih tinggi.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Scoliosis#Physical_therapy)
16

Kurva dengan sudut yang kecil dan tidak progresif mungkin dapat menyebabkan
deformitas minor, tetapi biasanya masih dapat ditoleransi dengan baik oleh penderita
selama hidupnya. Penderita harus diedukasi mengenai kemungkinan genetik dari skoliosis,
sehingga sebaiknya anak-anak penderita diperiksa secara rutin. Deteksi awal
memungkinkan terapi yang sederhana, seperti penggunaan alat penyangga bila diperlukan
(Hay, 2012).

17

KESIMPULAN

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung abnormal ke lateral,
biasanya disertai dengan adanya rotasi dari vertebra yang terlibat, yang dapat terjadi pada

daerah thorakal, lumbal, dan jarang pada daerah cervical.


Penyebab skoliosis dapat idiopatik, neuromuskular, kongenital, berkaitan dengan sindroma

genetik, faktor degeneratif, dan kompensasi.


Klasifikasi skoliosis ada 2, yaitu struktural dan non-struktural.
Penatalaksanaan skoliosis meliputi observasi, terapi konservatif ( brace, fisioterapi, dan
medikamentosa), serta terapi pembedahan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Behrman, Richard E.,Kliegman,Robert M., Jenson,Hal B. 2004. Nelson Textbook of
Pediatrics 17th edition.USA : Saunders.
Hay, William W., Levin, Myron J., Deterding, Robin R., Abzug, Mark J., Sondheimer, Judith
M. 2012. Current Diagnosis & Treatmen in Pediatrics 21st edition. USA : McGraw-Hill.
http://bimaariotejo.wordpress.com/2012/07/02/skoliosis/
http://en.wikipedia.org/wiki/Scoliosis#Physical_therapy
http://id.wikipedia.org/wiki/Skoliosis
http://klinikskoliosis.wordpress.com/2013/11/18/penanganan-terkini-rehabilitasi-medis-danfisioterapi-skoliosis/
http://www.scribd.com/doc/44564724/MAKALAH-SKOLIOSIS
http://www.scribd.com/doc/154758229/referat-skoliosis
http://www.scribd.com/mobile/doc/72651186
Skinner, Harry B. 2003. Current Diagnosis & Treatment in Orthopedics 3rd edition. USA :
Appleton & Lange.
http://www.spine-health.com/conditions/scoliosis/types-scoliosis-braces

19