Anda di halaman 1dari 25

LABIRINITIS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Labirintitis adalah sebuah inflamasi pada labirin yang terletak pada telinga sebelah

dalam1,2. Salah satu fungsi dari telinga dalam adalah untuk mengatur keseimbangan. Bila
fungsi ini terganggu secara klinis, akan terjadi gangguan keseimbangan dan pendengaran yang
menghilang secara tiba - tiba dan dapat mengenai satu telinga atau keduanya. Etiologi
labirintitis kebanyakan disebabkan oleh bakteri atau virus 2,. Labirintitis yang disebabkan oleh
proses autoimmune menyebabkan proses iskemia pada pembuluh darah yang bisa
mengakibatkan disfungsi yang menyerupai labirintitis akut .
Labirinitis bakteri sering disebabkan oleh komplikasi intratemporal dari radang telinga
tengah 1,2. Penderita Otitis Media Kronik yang kemudian tiba- tiba mendapat serangan vertigo,
muntah dan kehilangan pendengaran harus waspada terhadap timbulnya labirintitis supuratif.
Bakteri masuk kedalam labirin melalui kanalikuli di dalam tulang, hematogen atau limfogen.
Paling sering melalui destruksi tulang oleh kolesteatom dan merusak labirin vestibuler. Bila
mengenai seluruh labirin disebut labirintitis umum dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf
berat. Jika infeksinya terbatas akan menimbulkan labirintitis lokal dengan gejala vertigo yang
ringan 1.
Kalsifikasi labirintitis terdiri dari labirintitis sirkumkripta, labirintitis difusa yang
terdiri dari serosa dan purulen dan labirintitis laten 2.
Labirintitis virus biasanya mengenai usia 30-60 tahun dan ini jarang diamati pada
anak-anak 2. Meningogenic suppurative labirintitis biasanya mengenai anak-anak yang berusia
lebih dari 2 tahun 2. Otogenic suppurative labirintitis dapat diamati pada orang-orang dari
segala usia2. Serouse labirintitis lebih umum dalam anak kelompok usia, di mana sebagian
besar kedua kasus akut dan kronis otitis media diamati2.

1 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Data epidemiologi labirintitis masih kurang, namun dari beberapa referensi didapatkan
penyebab terbanyak adalah virus. Prevalensi orang dengan pendengaran yang hilang secara
tiba-tiba diperkirakan 1 kasus di 10.000 orang. Satu studi yang melaporkan bahwa 37 pasien
240 menyajikan dengan vertigo posisional disebabkan oleh labirintitis virus 2.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. ANATOMI DAN HISTOLOGI TELINGA
2.1.1 Anatomi
Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan. Telinga
terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam .1,3

2 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

A. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas aurikula,meatus akustikus eksternus dan membran timpani.
Aurikulum disusun oleh tulang rawan elastin yang ditutupi oleh kulit tipis yang melekat
erat pada tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa lembar otot lurik yang
pada manusia rudimenter1,3.
Meatus akustikus eksternus berbentuk tabung dengan panjangnya kira-kira 2,5- 3 cm
manakala diameternya bervariasi yaitu lateral biasanya lebih lebar dari medial.Meatus
akustikus eksternus terdiri dari dua bagian yaitu bagian lateral dan medial.Bagian lateral
adalah pars kartilagenus yaitu 1/3 luar merupakan lanjutan dari aurikulum, mempunyai
rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumenalis serta kulit melekat erat dengan
perikondrium.Bagian medial adalah pars osseus yaitu 2/3 medial merupakan bagian dari
os temporalis, tidak berambut, ada penyempitan di istmus yaitu kira-kira 5 mm dari
membaran timpani1,3.
Membran timpani memisahkan meatus acusticus externus dan telinga tengah.Membran
timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dengan diameter
kira-kira 1 cm. Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan bahgaian bawah pars
tensa.Pars flaksida hanya berlapis dua , yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia.Pars tensa mempunyai satu lapis
lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang
berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler dibagian dalam. Serat inilah yang
3 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

menyebabkan refleks cahaya.Refleks cahaya terletak dikuadran anterior inferior.Bayangan


penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut umbo.Membran timpani
dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosessus longus maleus dan
garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian superioranterior,superior-posterior, inferior-anterior serta inferior-posterior, untuk menyatakan
letak perforasi membran timpani1,3.

B. Telinga Tengah
Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang terletak
di bagian petrosum tulang pendengaran. Ruang ini berbatasan di sebelah posterior dengan
ruang-ruang udara mastoid dan disebelah anterior dengan faring melalui tuba Eustachius.
Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan epitel
selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada pada celah tuba
Eustachius epitelnya selapis silindris bersilia1,3.
Di bagian dalam rongga ini terdapat tiga jenis tulang pendengaran yaitu tulang maleus,
inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum
tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus
tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes melekat pada
tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam. Ada dua otot kecil yang
berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor timpani terletak dalam
saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula ke arah posterior kemudian
mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga timpani dari dinding
medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus. Tendo otot stapedius berjalan
dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior dan berjalan anterior untuk

4 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

berinsersi ke dalam leher stapes. Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam
getaran-getaran berfrekuensi tinggi1,3.

C. Telinga Dalam
Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum tulang
temporalis. Telinga dalam di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa) yang di da-lamnya
terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan perilimf sedangkan labirin
membranasea berisi cairan endolimf1,3.

Labirin tulang terdiri atas tiga komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum, dan
koklea tulang. Labirin tulang ini di sebelah luar berbatasan dengan endosteum, sedangkan
di bagian dalam dipisahkan dari labirin membranasea yang terdapat di dalam labirin tulang
oleh ruang perilimf yang berisi cairan endolimf.Vestibulum merupakan bagian tengah
labirin tulang, yang berhubungan dengan rongga timpani melalui suatu membran yang
dikenal sebagai fenestra ovale. Ke dalam vestibulum bermuara tiga buah kanalis
semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis anterior, posterior dan lateral yang masingmasing saling tegak lurus. Setiap saluran semisirkularis mempunyai pelebaran atau
5 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

ampula. Walaupun ada tiga saluran tetapi muaranya hanya lima karena ujung posterior
saluran posterior yang tidak berampula menyatu dengan ujung medial saluran anterior
yang tidak bermapula dan bermuara ke dalam bagian medial vestibulum oleh krus
kommune. Ke arah anterior rongga vestibulum berhubungan dengan koklea tulang dan
fenestra rotundum.Koklea merupakan tabung berpilin mirip rumah siput. Bentuk
keseluruhannya mirip kerucut dengan dua tiga-perempat putaran. Sumbu koklea tulang di
sebut mediolus. Tonjolan tulang yang terjulur dari modiolus membentuk rabung spiral
dengan suatu tumpukan tulang yang disebut lamina spiralis. Lamina spiralis ini terdapat
pembuluh darah dan ganglion spiralis, yang merupakan bagian koklear nervus akustikus1,3.
Labirin membransea terletak di dalam labirin tulang, merupakan suatu sistem saluran
yang saling berhubungan dilapisi epitel dan mengandung endolimf. Labirin ini dipisahkan
dari labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan perilimf. Pada beberapa tempat
terdapat lembaran-lembaran jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah melintasi
ruang perilimf untuk menggantung labirin membranasea.Labirin membranasea terdiri atas
duktus semisirkularis membranasea,ultrikulus, sakulus dan ductus koklearis1,3.

2.1.2 Fisiologi
A. Pendengaran
Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi tekanan vibrasi udara tertentu dan
menginterpretasikannya sebagai bunyi. Telinga mengkonversi energi gelombang tekanan
6 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

menjadi impuls syaraf, dan korteks serebri mengkonversi impuls ini menjadi bunyi.Bunyi
memiliki frekuensi, amplitude dan bentuk gelombang. Frekuensi gelombang bunyi adalah
kecepatan osilasi gelombang udara per unit waktu. Telinga manusia dapat menangkap
frekuensi yang bervariasi dari sekitar 20 sampai 18,000 Hertz (Hz). Satu hertz adalah satu
siklus per detik.Amplitudo adalah ukuran energi atau intensitas fluktuasi tekanan.
Gelombang bunyi dengan amplitude yang berbeda diinterpretasikan sebagai perbedaan
dalam kekerasan.Ukuran bunyi dalam decibel (dB) 1,2,3.
Gelombang bunyi ditangkap oleh aurikulum dan ditransmisikan ke dalam meatus
aukustikus eksternus kemudian bergerak menuju kanalis akustikus eksternus ke arah
membran timpani.Gelombang bunyi menyebabkan vibrasi membran timpani. Sifat
membrane adalah aperiodis yang tidak memiliki frekuensi alaminya sendiri tetapi
mengambil karakteristik vibrasi yang terjadi1,3.
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit
tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membaran timpani dengan fenestra
ovale.Muskulus stapedius dan tensor timpani berkontraksi secara reflektorik sebagai
respons terhadap bunyi yang keras.Kontraksi akan menyebabkan membran timpani
menjadi tegang osikular lebih kaku dan dengan demikian mengurangi transmisi suara1,2,3.
Energi getar yang telah diamplifikasikan ini diteruskan ke stapes yang akan
menggerakan fenestra ovale sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.Getaran
mennggerakkan membrana Reissner mendorong endolimfa sehingga akan menimbulkan
gerakan relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.Proses ini merupakan
rangsangan mekanik yang menyebabkan defleksi seterosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermutan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel-sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke
dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan
ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran(area 39-40) di lobus temporalis1,3.

7 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

B. Keseimbangan
Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya
tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan
proprioseptif. Reseptor keseimbangan terdiri dari macula yaitu reseptor keseimbangan
statis yang terdapat di utrikulus dan sakulus manakala krista ampularis yaitu reseptor
keseimbangan dinamis yang terdapat pada kanal semisrkular, bereaksi terhadap gerakan
rotasi pada sumbu bidang1,2,3.
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan
endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan silia
menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan masuk ke
dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang
penglepasan neurotransmitter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls sensoris
melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu berkas silia terdorong ke
arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi1,3.
Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik akibat
rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi energi
biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh akibat
percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi
mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung1,3.
8 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

2.1.3 Labirinitis
A. Definisi
Labirinitis adalah infeksi pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan oleh bakteri
atau virus. Labirinitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang
telinga tengah1,2,3.
B. Epidemiologi
Labirinitis lebih sering terjadi setelah infeksi telinga tengah, meningitis , atau infeksi
saluran pernafasan atas. Hal ini juga dapat terjadi setelah trauma, tumor, atau setelah
menelan zat-zat beracun. Hal ini dianggap lebih umum pada wanita dari pada lakilaki.Viral labirinitis adalah bentuk paling umum labirinitis.4 Viral labirinitis biasanya
diamati pada orang dewasa berusia 30-60 tahun dan jarang diamati pada anak-anak.[3] Hal
ini dapat dilakukan perbandingan laki-laki banding perempuan 2:1 sekitar dekade
empat.Pada era pasca-antibiotik, labirinitis bakteria jarang ditemukan.Biasanya terlihat
pada anak-anak di bawah 2 tahun ketika anak-anak paling banyak resiko meningitis.4
C. Etiologi
a) Berikut adalah virus dan bakteria yang berpotensi menyebabkan labirinitis:
Virus Bakteria
Cytomegalovirus
Mumps virus
Rubella virus
Parainfluenza virus
Influenza virus
Adenovirus
Varicella-zooster virus
Herpes simplex virus
S.pneumonia
N.meningitidis
Mycobacteria tuberculosis
Bacteroides species
Proteus species
Moraxella catarrhalis
Streptococus species
Staphylococus species
b) Zat - zat toksik seperti dan obatan-obatan.
D. Klasifikasi
9 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Labirinitis dapat disebabkan oleh virus, bacterial,zat-zat toksik dan obat-obatan.


Labirinitis yang di sebabkan oleh bakterial terdapat dalam dua bentuk labirinitis, yaitu
labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis
serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam
labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus1,2,3.
a) Labirinitis Viral 1,3
Etiologi:
Infeksi saluran pernafasan atas, faktor kongenital yaitu infeksi campak dan rubella
pada trimester pertama atau infeksi cytomegalovirus pada kontraksi uterus setelah
persalinan yang menyebabkan kokleolabirinitis. Infeksi virus ini menjalar secara
hematogen ke telinga dalam.
Gejala klinis:
Menyebabkan gejala vertigo,mual, muntah selama beberapa hari dan minggu.
Labirinitis viral bersifat tidak episodik dan tidak ada gejala gangguan pendengaran
Terapi:
Vestibular suppresent ( diazepam)
Komplikasi:
Komplikasi seperti hidrops endolimfatik dan penyakit Menieres.
Prognosis:
Prognosis baik karena biasanya terjadi pada usia muda dan jira terapi yang diberikan
adekuat.Vertigo boleh sembuh dalam jangka masa satu minggu tetapi gangguan
keseimbangan akan tetap bertahan selepas beberapa bulan jika terdapat stress.
b) LABIRINITIS BAKTERIAL
LABIRINITIS SEROSA DIFUS
Etiologi
Labirinitis serosa difus seringkali terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta atau
dapat terjadi primer pada otitis media akut dengan atau tanpa kolesteatoma dan
reaktivasi otomastoiditis kronis.Masuknya toksin bakteria dan zat-zat yang
diproduksi

secara

difus

melalui

membran

fenestra

ovale

dan

fenestra

rotundum.Infeksi tersebut mencapai endosteum melalui saluran darah. Selain itu,


labirinitis serosa sering terjadi pada operasi telinga dalam misalnya pada
stapedektomi. Labirinitis serosa difus ini adalah satu proses inflamasi yang steril. 4
Pemeriksaan

10 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Kelainan patologi yaitu inflamasi non purulen pada labirin. Pemeriksaan histologik
pada potongan labirin menunjukkan infiltrasi seluler awal dengan eksudat serosa
atau serofibrin.5
Gejala klinis
Gejala dan tanda serangan akut labirinitis serosa difus adalah vertigo spontan dengan
derajat ringan- sedang dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang sakit.
Terdapat juga tuli sensorineural yang bersifat sementara.Kadang-kadang disertai
mual dan muntah, biasanya tidak berat.2
Terapi
Pengobatan pada stadium akut yaitu pasien harus tirah baring total.Harus diberikan
antibiotika yang tepat dengan dosis yang adekuat untuk mengeradikasi bakteria
penyebab.Selain itu utuk mengurangi gejala gangguan keseimbangan diberikan
sedatif ringan.Pada stadium lanjut dari otitis media akut diperlukan dreanase telinga
tengah dan mastoidektomi sederhana.6
Prognosis
Prognosis labirinitis serosa baik, dalam arti menyangkut kehidupan dan kembalinya
fungsi labirin secara lengkap. Tetapi tuli saraf temporer yang berat dapat menjadi tuli
saraf yang permanen bila tidak diobati dengan baik.
LABIRINITIS SUPURATIF AKUT DIFUS
Etiologi
Labirinitis supuratif akut difus dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa
yang infeksinya masuk melalui fenestra ovale dan fenestra rotundum Pada banyak
kejadian, labirinitis ini terjadi sekunder dari otitis media akut maupun kronik atau
mastoiditis.Pada beberapa kasus abses subdural atau meningitis, infeksi dapat
menyebar ke dalam labirin dengan atau tanpa terkenanya telinga tengah, sehingga
menjadi labirin supuratif.Bakteria secara langsung masuk ke dalam membran dan
erosi tulang labirin.4
Pemeriksaan
Pada pemeriksaan histologik didapatkan infiltrsi labirin oleh sel-sel leukosit
polimorfonuklear dan destruksi struktur jaringan lunak.Sebagian dari tulang labirin
nekrosis, dan terbentuk jaringan granulasi yang dapat menutup bagian tulang yang
nekrotik tersebut.Keadaan ini akan menyebabkan osifikasi labirin.5
Gejala klinis
11 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Labirinitis supuratif akut difus , ditandai dengan tuli total pada telinga yang sakit
diikuti dengan vertigo yang berat, mual, muntah, dan nistagmus spontan ke arah
telinga yang sehat. Selama fase akut, posisi pasien sangat khas.Pasien akan
berbaring pada sisi yang sakit, jadi ke arah komponen lambat nistagmus.Posisi ini
akan mengurangi perasaan vertigo.Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan
tuli saraf total permanen. 2
Terapi
Diperlukan tirah baring total selama fase akut, yang dapat berlangsung sampai 6
minggu.Perbaikan

terjadi

bertahap,

mulai

dari

hari

pertama.

Sedatif ringan diperlukan pada periode awal.Fenobarbita 32 mg(1/2 gram) yang


diberikan 3 kali sehari.6
Dosis antibiotika yang adekuat harus diberikan selama suatu periode baik untuk
mencegah komplikasi intrakranial, maupun untuk mengobati labirinitisnya. Harus
dilakukan kultur untuk identifikasi kuman dan untuk tes sensitivitas kuman.
Antibiotika penisilin harus segera diberikan sebelum hasil tes resistensi didapat, jika
alergi terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin, dengan dosis tinggi secara
parenteral. Respons klinik lebih utama dari tes sensivitas kuman dalam menentukan
jenis antibiotika.6
Drenase, atau membuang sebagian labirin yang rusak, dilakukan bila terdapat
komplikasi intrakranial dan tidak memberi respon terhadap pengobatan dengan
antibiotika. 6
Otitis media akut + labirinitis serosa :
Antibiotik intravena
Miringotomi
Otitis media supuratif kronis +kolesteatoma
Pembedahan mastoid dan telinga tengah
Otitis media supuratif kronis dari otitis
Mastoidektomi atau labirinektomi darurat untuk menghentikan komplikasi ke
Intracranial
Labirirnitis sekunder+ meningitis primer
Manajamen meningitis primer
Prognosis
Prognosis baik pada labirinitis supuratif akut difus tanpa komplikasi.
LABIRINITIS KRONIK (LATEN) DIFUS
Etiologi
12 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Labirinitis supuratif stadium kronik atau laten dimulai, segera sesudah gejala
vestibuler akut berkurang.Hal ini mulai dari 2-6 minggu sesudah awal periode akut. 4
Pemeriksaan
Pemeriksaan patologi menunjukkan telinga dalam hampir seluruhnya terisi oleh
jaringan granulasi setelah 10 minggu serangan akut.Jaringan granulasi secara
bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan kalsifikasi.Pembentukan
tulang baru dapat mengisi penuh ruangan-ruangan labirin dalam 6 bulan sampai
beberapa tahun.Tes kalori tidak menimbulkan respons di sisi yang sakit. 5
Gejala klinis
Terjadi tuli total di sisi yang sakit.Vertigo ringan nistagmus spontan biasanya ke arah
telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan .4
Terapi
Terapi lokal ditujukan ke setiap infeksi yang mungkin ada.Drenase labirin dilakukan
apabila terdapat suatu fokus infeksi di labirin atau daerah perilabirin telah menjalar
atau dicurigai menyebar ke struktur intrakranial dan tidak memberi respons terhadap
terapi antibiotika. 5
Labirinitis toksik
Labirinitis toksik dapat disebabkan oleh keracunan zat-zat toksik seperti arsen, zink,
kuinin dan pemakaian obat antibiotik yang ototoksik seperti streptomicin,
aminoglikosida, dan dihydrostreptomicin.Gejala yang timbul seperti vertigo, tinitus dan
tuli.2
E. PATOFISIOLOGI ALAT VESTIBULER
Rangsangan normal akan selalu menimbulkan gangguan vertigo, misalnya pada tes
kalori. Rangsangan abnormal dapat pula menimbulkan gangguan vertigo bila terjadi
kerusakan pada sistem vestibulernya, misalnya orang dengan paresis kanal akan merasa
terganggu bila naik perahu. Rangsanga normal dapat pula menimbulkan vertigo pada
orang normal, bila situasinya berubah, misalnya dalam ruang tanpa bobot.
Sistem vestibuler sangat sensitif terhadap perubahan konsentrasi O 2 dalam darah, oleh
karena itu perubahan aliran darah yang mendadak dapat menimbulkan vertigo. Vertigo
tidak akan timbul bila hanya pada perubahan konsentrasi O2 saja, tetapi harus ada faktor
lain yang menyertainya, misalnya sklerosis pada salah satu dari arteri auditiva interna, atau
salah satu arteri tersebut terjepit. Dengan demikian bila ada perubahan konsentrasi O 2,
13 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

hanya satu sisi saja yang mengadakan penyesuaian, akibatnya terdapat perbedaan elektro
potensial antara vestibuler kanan dan kiri. Akibatnya akan terjadi serangan vertigo.
Perubahan konsentrasi O2 dapat terjadi, misalnya pada hipertensi, spondiloartrosis
servikal. Pada kelaianan vasomotor, mekanisme terjadinya vertigo disebabkan oleh karena
terjadi perbedaan perilaku antara arteri auditiva interna kanan dan kiri, sehingga
menimbulkan perbedaan potensial antara vestibuler kanan dan kiri 3.

14 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Bagan 1.1 Patofisiologi labirintitis (wordpress.com/2009/10/12/kasus)

F. Manifestasi Klinis
Vertigo ( perubahan posisi )
15 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Penurunan fungsi pendengaran secara tiba- tiba tipe koklear ( unilateral atau bilateral,

ringan sampai berat, reversible )


Gangguan Keseimbangan
Nistagmus spontan
Tinitus
Otorrhea
Mual, Muntah
Demam
Flu like sindrome 1,2,3
Gejala klinis mula-mula hanya terdapat gangguan keseimbangan dan tuli saraf ringan.

Pada keadaan yang lebih lanjut terdapat vertigo yang berat yang disertai nausea, dan muntah,
dan terdapat nistagmus horizontal 2.

No sponteous nystagmus

Sponteous nystagmus

Posture and balance control negative

Posture and balance control positive


Nausea, vomiting, sweating,

Nausea vomiting

Sweating, tachycardia

GI disorder

Chest pain

Internal
medicine

Angina, MI

Anxiety

anxiety
Harmonic
vestibular sy
Loss of
tinnitus

Dysharmonic
vestibular sy
hearing,

Numbness,
double
vision,
dysarthria

Cardiology

Psychiatry

Vestibular neuronitis,
Menire disease

Brainstem infarct

Otology

Neurology

Tabel 1.1 Pembagian vertigo (http://aurelthedoctor.blogspot.com/)

G. PROSEDUR DIAGNOSTIK
Gambaran Klinis
1. Anamnesis 1,2,3
16 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Perjelas apa yang pasien maksud dengan vertigo, apakah berpengaruh terhadap
perubahan posisi secara cepat, onset, apakah sering timbul, berapa lama apabila
keluhan vertigo muncul (durasi), aktivitas atau saat tertentu yang membuat keluhan

muncul, tingkat keparahan sehingga kegiatan sehari- hari terganggu.


Terkait dengan gejala diatas ( tinnitus , gangguan pendengaran tiba- tiba ( tuli

sensori neural), sakit kepala , penglihatan ganda , mati rasa , kesulitan menelan )
Gejala penyerta : mual, muntah, demam nyeri pada telinga
Kebiasaan pribadi yang rutin dilakukan yang kira- kira terkait dengan keluhan
penyakit ( minum obatan- obatan yang bersifat ototoksik dalam jangka waktu lama

dan berlebihan, peminum alkohol.


Apabila sifat episodik : Perjelas urutan dari peristiwa , kegiatan awal yang memicu
timbul gejala, tingkat keparahan , amnesia dan sebagainya
2. Pemeriksaan Fisik THT 2
Pemeriksaan Otologik
Melakukan pemeriksaan eksternal untuk tanda-tanda mastoiditis, selulitis.
Memeriksa telinga kanal otitis externa, otorrhea, atau vesikel.
Pemeriksaan telinga menyeluruh dengan otoscope atau mikroskop memungkinkan
diagnosis otitis media dan cholesteatoma. Apabila ditemukan otorrhoea (telinga

discharge) harus menentukan akut atau kronis otitis media dengan mukus membran.
Pasien yang datang dengan kesulitan berjalan ( keseimbngan) biasanya setelah
mendapatkan serangan akut, dengan didapatkan Nistagmus ( gerakan bolak balik

bola mata yang involunter) (+).


Lakukan tes Romberg dan tes keseimbangan lainnya (disdiadokinesis, tes jalan
ditempat, Tes Nylan Barani), biasanya pasien tidak dapat berjalan lurus atau tidak

mampu mempertahankan posisi seimbang dalam jangka waktu yang ditentukan.


Pada Tes fistula dengan menekan tragus atau memompa balon Siegel maka penderita
akan merasa pusing atau rasa berputar, kadang- kadang dengan pemberian obat tetes

telinga akan menimbulkan keluhan vertigo.


Tes menggunakan garpu tala untuk mengetahui kualitas pendengaran ( Tes Rinne, Tes
Weber, Tes Schwabach) untuk membedakan tuli konduktif, tuli sensorineural dan Tes
berbisik untuk mengetahui kuantitas pendengaran. Pada tes garpu tala maka akan di

dapatkan Tuli saraf.


Harus tidak ada bukti defisit neurologis lain seperti kelemahan ekstremitas atas atau
ekstremitas bawah, kelemahan pada wajah.

17 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Fungsi cerebellar harus diperiksa oleh meminta pasien untuk melakukan tunjuk jari
untuk hidung, tumit - tumit, dan gerakan cepat bolak-balik.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologi
Pada radiologik selain tanda- tanda mastoiditis juga tampak fistel labirin pada kanalis
semisirkularis horizontal 1.
2. CT- Scan
Pertimbangan dilakukannya CT-Scan pada kasus labirintitis, sebaikanya dilakukan
sebelum dilakukan pengambilan sampel LCS pada yang dicurigai meningitis akibat infeksi
labirintitis yang berkelanjutan atau infeksi intrakranial yang meluas ke telinga dalam. CT18 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Scan juga berguna untuk membantu mengesampingkan mastoiditis sebagai sebuah penyebab
yang potensial . CT-Scan tulang temporal akan membantu dalam pengelolaan pasien dengan
cholesteatoma dan labirintritis. CT-Scan noncontrast

adalah yang terbaik untuk

menggambarkan fibrosis dan kalsifikasi dari labirin membranous pada orang dengan
labirintritis kronis atau labirintritis ossificans 2 .

Labyrinthitis ossificans in a 10-year-old girl (Hb SS) with SNHL in the right ear. (a)
Axial high-resolution temporal bone CT image shows partial obliteration of the
right lateral semicircular canal (arrow). (b) Axial high-resolution T2-weighted
DRIVE MR image shows the right lateral semicircular canal (arrow). The areas of
high signal intensity normally seen in the canal are absent.

3. MRI
MRI dapat digunakan untuk membantu mencegah neuroma akustik, stroke, abses otak
atau hematoma epidural sebagai potensi penyebab vertigo dan kehilangan pendengaran.
Koklea, depan dan kanal-kanal semicircular meningkatkan pada t1 weighted postcontrast
gambar pada orang dengan akut dan subacute labirintritis. Temuan ini sangat spesifik dan
berkorelasi dengan subjektif penilaian objektif dan beberapa pasien mengalami perbaikan
dalam teknik MRI ini dan dapat dijadikan studi pilihan untuk dicurigai labirintritis 2,3 .
TES LAIN
19 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL
RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

1. Audiometry
Pemeriksaan audiometric berguna untuk memeriksa jenis dan tingkat keparahan
pendengaran dan juga menentukan kira- kira organ yang berpengaruh terhadap gangguan.
Kehilangan Pendengaran dalam kasus ini adalah jenis sensorineural. Namun, pasien dengan
kelaianan malformasi telinga dalam (yaitu, perbesaran vestibular aqueduct) mungkin akan
mempunyai gejala klinis yang sama 2.
Pengujian

vestibular

dengan

electronystagmography, test

rotary kursi,

dan

membangkitkan vestibular potensi myogenic tidak ditunjukkan dalam pengaturan akut.


Namun, tes ini dapat memberikan informasi tambahan pada kompensasi vestibular dan lesi,
pengujian setelah pasien telah pulih dari tahap akut labirintritis 2.
2. Pengujian Vestibular
Tes kalori dan electronystagmogram dapat membantu dalam mendiagnosa kasus-kasus
sulit dan mendirikan prognosis untuk pemulihan.
Orang dengan labirintritis virus memiliki nistagmus dengan respon kalori vestibular
hipofungsi.
Orang dengan suppurative labirintritis (bakteri) memiliki nistagmus dan respons kalori
absen di sisi yang terpengaruh.
Orang dengan serous labirintritis (bakteri) biasanya memiliki hasil electronystagmogram yang
normal, tetapi mereka mungkin memiliki penurunan respons kalori di telinga. Namun,
kehadiran efusi telinga tengah dapat meredam respon kalori dan menyebabkan menemukan
positif palsu 2.
I. DIAGNOSIS BANDING 2,4

Benign paroxysmal positional vertigo

Vestibular neuritis

Menire disease

Perilymph fistula

20 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

J. KOMPLIKASI 1

Kehilangan pendengaran secara permanen, labirintitis yang tidak mendapatkan


pengobatan akan menjadi bertambah buruk dan gejala- gejalanya menjadi menetap
akibat kerusakan permanen pada organ telinga dalam (mengalami pembengkakan,
pembentukan jaringan ikat sehingga akan mengganggu proses pendengaran secara
keseluruhan telinga, kehilangan pendengaran permanen.

Gangguan Keseimbangan, Akibat tidak diobati secara tepat dan tuntas,


komplikasinya dapat juga mempengaruhi pusat keseimbangan secara permanen,
seperti dijelaskan sebelumnya organ vestibuler mengalami peradangan hebat dan terusmenerus sehingga akan terbentuk jaringan granulasi sehingga menghambat
kemampuan koklea dalam mempertahan tubuh agar dapat tetap seimbang 7,8,9.

21 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

K. PENATALAKSANAAN
Terapi lokal harus ditujukan ke setiap infeksi yang mungkin ada. Pemberian antibiotik
jika labyrinthitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Beberapa obat antivirus mungkin berguna
jika kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus. obat-obatan antiemetik dan obat penenang atau
hypnotics membantu mengontrol gejala dan membantu agar pasien tetap tenang selama
serangan Vertigo berlangsung. Antihistamin dapat diberikan jika kondisi berhubungan dengan
alergi. Obat yang menghambat aksi sistem saraf simpatik (anticholinergics) juga dapat
diberikan. Individu mungkin perlu istirahat di tempat tidur selama beberapa hari, Cukup
minum dan membatasi sedikit aktivitas fisik yang berat untuk mempertahankan hidrasi dan
mencegah timbulnya keluhan vertigo 1,2,3.
Drainase bedah atau eksenterasi labirin tidak di indikasikan, kecuali suatu fokus di
labirin atau daerah perilabirin telah menjalar atau dicurigai menyebar ke struktur intrakaranial
dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika. Bila ada indikasi dapat dilakukan
mastoidektomi. Bila dicurigai ada fokus infeksi dilabirin atau di os petrosus, dapat dilakukan
drainase labirin dengan salah satu operasi labirin. Setiap sekuestrum yang lepas harus
dibuang, harus dihindari terjadinya trauma N VII. Bila saraf fasial lumpuh, maka harus
dilakukan dengan kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal, maka harus
diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi.

Jika kehilangan pendengaran secara

permanen maka alat bantu dengar akan bermanfaat 1,2,3.

L. PENCEGAHAN

Menghindari paparan alergen

Menghindari paparan asap rokok (tidak merokok)

Menghindari konsumsi alkohol secara berlebihan

Mengindari taruma kepala atau telinga yang menyebabkan kerusakan pada telinga
dalam

22 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

Hindari makanan yang diproses setengah matang

Hindari dan lebih berhati - hati infeksi saluran nafas atas dan sinusitis yang berulangulang

M. PROGNOSIS 1,2,3
Pemulihan spontan umumnya terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
Fungsi labirin dapat kembali normal tergantung pada kecepatan dan keefektifan dari
pengobatan yang didapat. Gejala vertigo yang berat biasanya akan hilang dalam beberapa hari
sampai 3 minggu, tetapi gangguan keseimbangan mungkin bertahan selama beberapa minggu
atau bahkan berbulan-bulan, terutama bila melakukan gerakan-gerakan cepat. Setelah gejala
labyrinthitis telah diselesaikan, maka resiko terjadinya kekambuhan labirintitis akan sama
dengan individu yang belum pernah menderita labirintitis. Kekambuhan yang terjadi biasanya
lebih ringan. Pada umumnya, prognosis jangka panjang untuk pasien labyrinthitis baik dan
sebagian besar pasien sembuh sempurna.
Dalam beberapa kasus, peradangan dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada labirin,
yang mengakibatkan hilangnya pendengaran secara permanen. Bahkan ketika terjadi
kerusakan permanen, otak masih dapat beradaptasi cukup baik untuk mengatasi gejala dalam
periode hari atau bulan.
Prevalensi terjadinya tuli sensorineural yang terjadi tiba-tiba pada labyrinthitis adalah 10 dari
100.000 individu (Strasnick). Pada pembedahan (myringotomy), hanya dibutuhkan sayatan
kecil di gendang telinga untuk menghindari penumpukan tekanan cairan di telinga, atau jika
penyisipan grommet di gendang telinga (myringotomy tabung) diperlukan untuk memperbaiki
kondisi, hasilnya biasanya sangat baik, dan penyembuhan lengkap terjadi, jika perdengaran
sudah kembali normal dalam waktu satu bulan. Komplikasi dari operasi yang mungkin terjadi
adalah perdarahan, infeksi dan hilangnya pendengaran 1,2,3.

23 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

BAB III
PENUTUP

Labirintitis adalah infeksi pada telinga dalam ( labirin ) yang disebabkan oleh bakteri
atau virus. Labirintitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang
telinga tengah. Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum
(general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis yang terbatas
(labirinitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja. Labirinitis
terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis,
yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis
serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk
labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus. Gejala klinis yaitu
ganguan vestibular, vertigo, nistagmus, mual, muntah serta ganguan fungsi pendengaran
sensorineural. Terapi lokal harus ditujukan keseiap infeksi yang mungkin ada. Drainase bedah
atau eksenterasi labirin tidak di indikasikan, kecuali suatu fokus di labirin atau daerah
perilabirin telah menjalar atau dicurigsi menyebar ke struktur intrakaranial dan tidak memberi
respons terhadap terapi antibiotika. Bila ada indikasi dapat dilakukan mastoidektomi. Terapi
dilakukan secara pengawasan yang ketat dan terus menerus untuk mencegah terjadinya
progresifitas penyakit dan kerusakan vestibulokoklea yang permanen .

24 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai

LABIRINITIS

DAFTAR PUSTAKA
1. Efianty A.S,Nurbaiti I,Jenny B,Ratna D.R: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT,Edisi
2.

6:FKUI;2007.hal118-137
Gulya AJ. Infections of the labyrinth. In: Bailey BJ, Johnson JT, Pillsbury HC, Tardy ME,
Kohut RI, eds. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 2. Philadelphia, Pa: JB
Lippincott;

1993

available

at

https://profreg.medscape.com

(Accessed Augustus 16, 2010.)


3. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies: Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. ECG: Jakarta;
1997. hal: 219-224
4. Woolley AL, Kirk KA, Neumann AM Jr, McWilliams SM, Murray J, Freind D. Risk factors
for hearing loss from meningitis in children: the Children's Hospital experience. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg. May 1999.
5. Schraff SA, Schleiss MR, Brown DK, Meinzen-Derr J, Choi KY, Greinwald JH, et al.
Macrophage inflammatory proteins in cytomegalovirus-related inner ear injury.
Otolaryngol Head Neck Surg. Oct 2007.
6. Kuhweide R, Van de Steene V, Vlaminck S, Casselman JW. Ramsay Hunt syndrome:
pathophysiology of cochleovestibular symptoms. J Laryngol Otol. Oct 2002

25 Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu THT-KL


RSUD Dr. RM Djoelham Binjai