Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan obsesif - kompulsif merupakan sebuah gangguan kecemasan di mana orang


memiliki keinginan yang tidak diinginkan dan diulang, perasaan, ide, sensasi (obsesi) atau
tingkah laku yang membuat mereka selalu ingin melakukan sesuatu (kompulsif). Menurut
Davison & Neale, gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran
seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa
untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan
mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari (Fausiah & Widury, 2007).
Obsesi adalah pikiran-pikiran, bayangan-bayangan atau dorongan - dorongan intrusive
dan kebanyakan tidak masuk akal yang dicoba ditolak atau dieliminasi oleh individu.
Sedangkan kompulsi adalah pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan yang digunakan untuk
menekan obsesi dan membuat individu merasa lega. Gangguan obsesif - kompulsif dapat
dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi dapat
menghabiskan waktu dan mengganggu rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas
sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman atau anggota keluarga.(Durand & Barlow,
2005).
Menurut APA & Taylor, gangguan obsesif - kompulsif dialami 2 % sampai 3 %
masyarakat umum pada suatu saat dalam kehidupan mereka (Nevid, dkk. 2005). Menurut
Skoog, suatu studi di Swedia menemukan bahwa meskipun kebanyakan pasien OCD
menunjukkan perbaikan, banyak juga yang terus berlanjut mempunyai gejala gangguan hidup
ini sepanjang hidup mereka (Nevid, et all.,2005). DSM IV membuat diagnosis gangguan
obsesif kompulsif bila orang terganggu oleh obsesi atau kompulsi yang berulang, atau
keduanya sedemikian rupa sehingga menyebabkan distress yang nyata, memakan waktu lebih
dari satu jam dalam sehari, atau secara signifikan mengganggu hal-hal rutin yang normal,
mengganggu fungsi kerja atau sosial.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Menurut Davison & Neale, gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan
cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan
tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang,
sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan seharihari (Fausiah & Widury, 2007).
Obsesi kompulsi adalah suatu kondisi heterogen yang melibatkan pikiran
distress yang tidak diinginkan dan ritual kompulsif mengenai satu atau beberapa tematema umum seperti kontaminasi, agama, simetri. Dalam DSM-IV TR obsesi
didefinisikan sebagai berikut :
1. Pikiran, impuls, atau bayangan yang berulang-ulang dan menetap yang dialami,
pada suatu saat selama gangguan, dirasakan mengganggu dan tidak sesuai, dan
menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas.
2. Pikiran, impuls, atau bayangan tidak hanya kekhawatiran berlebihan tentang
masalah kehidupan yang nyata.
3. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan
tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
4. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan obsesional adalah hasil
dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran).
Pengertian obsesi menurut Kaplan adalah pikiran, ide atau sensasi yang
muncul secara berulang-ulang. Menurut Davison & Neale, hal-hal tersebut muncul
tanpa dapat dicegah, dan individu merasakannya sebagai hal yang tidak rasional dan
tidak dapat dikontrol (Fausiah &Widury, 2007). Sedangkan kompulsi

menurut

Davison & Neale adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang, dimana
individu merasa didorong untuk menampilkannya agar mengurangi stres. (Fausiah &
Widury, 2007).

Dalam DSM-IV TR mendefinisikan kompulsi sebagai berikut :


a. Perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau
tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati)
yang dirasakannya mendorong untuk melakukan sebagai respon terhadap suatu
obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipenuhi secara kaku.
b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau mengurangi
penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan, akan
tetapi, perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang
realistik dengan apa yang mereka maksudkan untuk menetralkan atau mencegah,
atau secara jelas berlebihan.
Sejalan dengan Fa, dkk; Steketee & Barlow (Durand & Barlow, 2006),
kompulsi dapat berbentuk perilaku (misalnya mencuci tangan, memeriksa keadaan)
atau mental (memikirkan tentang kata-kata tertentu dengan urutan tertentu,
menghitung, berdoa dan seterusnya).
Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gangguan obsesif
kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi oleh gagasangagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk melakukan tindakan
tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya
dalam kehidupan sehari-hari (Fausiah & Widury, 2007).
B. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan
adalah 2-3%. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif
ditemukan pada sebanyak 10% pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut
menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering
keempat setelah fobia, gangguan yang berhubungan dengan zat, dan gangguan
depresif berat (Kaplan & Saddock, 1993).
Untuk orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama mungkin terkena, tetapi
untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan
perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. Secara keseluruhan, kirakira dua pertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang
dari 15% pasien memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Orang yang hidup
sendirian lebih banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang

menikah. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit


hitam dibandingkan kulit putih (Kaplan & Saddock, 1993).
Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh
gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada
pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67% dan untuk fobia
sosial adalah kira-kira 25%. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien
dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, fobia
spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan (Kaplan & Saddock, 1993).
C. ETIOLOGI
1. Faktor Biologis
a. Neurotransmiter
Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat
mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat di dalam
pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan. Data menunjukkan
bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi
sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab
gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas pada saat ini. Penelitian klinis
telah mengukur konsentrasi metabolit serotonin sebagai contohnya, 5hydroxyndoleacetic acid (5-HIAA) di dalam cairan serebrospinal dan afinitas
sertai jumlah tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine(yang
berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah melaporkan
berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien dengan gangguan obsesifkompulsif. Beberapa penelitian telah mengatakan bahwa sistem neurotransmiter
kolinergik dan dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah
dua bidang penelitian riset untuk di masa depan. (Kaplan, 2000)
b. Penelitian pencitraan otak
Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai contoh PET
(positron emission tomography), telah menemukan peningkatan aktifitas
(sebagai contoh, metabolisme dan aliran darah) di lobus frontalis, ganglia
basalis (khususnya kaudata), dan singulum pada pasien dengan gangguan
obsesif kompulsif. Baik tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi

magnetik (MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara


biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Baik penelitian
pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten dengan pengamatan
bahwa prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif
dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu penelitian
MRI baru-baru ini melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks
frontalis. (Kaplan, 2000)
c. Genetika
Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan obsesifkompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang
lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar
dizigotik. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah
menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan
obsesif-kompulsif juga menderita gangguan. (Kaplan, 2000)
d. Data biologis lainnya
Penelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram (EEG) tidur,
dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang menyatakan adanya
kesamaan antara gangguan depresif dan gangguan obsesif-kompulsif. Suatu
insidensi kelainan EEG nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah
ditemukan pada pasien gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian EEG tidur telah
menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif,
seperti penurunan latensi REM (rapid eye movement). Penelitian neuroendokrin
juga telah menemukan beberapa kemiripan dengan gangguan depresif, seperti
nonsupresi pada dexamethasone-suppression test pada kira-kira sepertiga pasien
dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus clonidine (catapres).
(Kaplan, 2000)
2. Faktor Perilaku
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus
yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui
proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang
secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. Jadi, objek dan

pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu
menimbulkan kecemasan atau gangguan. (Kaplan, 2000)
Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa
tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran
obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif
atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Secara bertahap,
karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang
menyakitkan (kecemasan), strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola
perilaku kompulsif yang dipelajari. (Kaplan, 2000)
3. Faktor Psikososial
a. Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesifkompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki
gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian, sifat kepribadian tersebut tidak
diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif.
Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-kompulsif
memiliki sifat obsesional pramorbid. (Kaplan, 2000)
b. Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang
menentukanbentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif-kompulsif;
isolasi, meruntuhkan (undoing), dan pembentukan reaksi. (Kaplan, 2000)
1) Isolasi
Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari
afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi, afek dan
impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen idesional
dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan
afek yang terkait seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya
menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya.
2) Undoing
Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat
lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas, operasi pertahanan

sekunder diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan


yang mengancam keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif menyumbangkan
manifestasi permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan
kecemasan dan mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara
memadai oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting
adalah mekanisme meruntuhkan (undoing). Seperti yang disebutkan
sebelumnya, meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang dilakukan
dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional
akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan.
3) Pembentukan reaksi
Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan
sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar.
Seringkali, pola yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan
dan tidak sesuai.
4) Faktor psikodinamik lainnya
Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif-kompulsif dinamakan
neurosis obsesif-kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase
perkembangan oedipal ke fase psikoseksual anal. Jika pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang
pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang penting, mereka
mundur dari fase oedipal dan beregresi ke stadium emosional yang sangat
ambivalen yang berhubungan dengan fase anal. Adanya benci dan cinta
secara bersama-sama kepada orang yang sama menyebabkan pasien
dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Suatu ciri yang melekat
pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah derajat dimana
mereka terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas dalam isi
gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak di belakangnya. Dengan
demikian, psikogenesis gangguan obsesif-kompulsif, mungkin terletak pada
gangguan dan perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan
dengan fase perkembangan anal-sadistik.
5) Ambivalensi

Ambivalensi

adalah

akibat

langsung

dari

perubahan

dalam

karakteristik kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak
normal selama fase perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta
dan kebencian kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan tersebut
mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukan-tidak melakukan pada
seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan
dengan pilihan.
6) Pikiran magis
Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal,
ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh
regresi. Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan.
Orang merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar
terjadi tanpa tindakan fisik yang menyebabkannya, semata-mata hanya
dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan
memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi pasien gangguan
obsesif-kompulsif.
D. GEJALA KLINIS
Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum:
1. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara bertubi-tubi dan terusmenerus ke dalam kesadaran seseorang.
2. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai manifestasi sentral
dan seringkali menyebabkan orang melakukan tindakan kebalikan melawan
gagasan atau impuls awal.
3. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu dialami sebagai suatu
yang asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk
psikologis.
4. Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau kompulsi tersebut,
orang biasanya menyadarinya sebagai mustahil dan tidak masuk akal.
5. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan suatu
dorongan yang kuat untuk menahannya. (Kaplan, 2000)

Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada dewasa, pada anakanak dan remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan berubah
dengan berjalannya waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki empat pola
gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu obsesi tentang
kontaminasi, diikuti oleh mencuci disertai penghindaran obsesif terhadap objek yang
kemungkinan terkontaminasi. Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari,
sebagai contoh feses, urin, debu atau kuman. Pasien mungkin secara terus-menerus
menggosok kulit tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin
tidak mampu pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Walaupun kecemasan
adalah respon emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti, rasa malu
dan rasa jijik yang obsesif juga sering ditemukan. Pasien dengan obsesi kontaminasi
biasanya percaya bahwa kontaminasi ditularkan dari objek ke objek atau orang ke
orang oleh kontak ringan. (Kaplan, 2000)
Pola kedua yang sering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh pengecekan
yang kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan, seperti lupa
mematikan kompor atau tidak mengunci pintu. Pengecekan tersebut mungkin
menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeiksa kompor. Pasien
memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri yang obsesional, saat mereka selalu
merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu. (Kaplan, 2000)
Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan pikiran semata-mata pikiran
obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut biasanya berupa
pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela oleh pasien.
Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau
ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harfiah
menghabiskan

waktu

berjam-jam

untuk

makan

atau

mencukur

wajahnya.

Penumpukan obsesi dan kompulsi religius adalah sering pada pasien obsesifkompulsif. Trichotillomania (menarik rambut kompulsif) dan menggigit kuku
mungkin merupakan kompulsi yang berhubungan dengan gangguan obsesifkompulsif.
Terdapat juga beberapa gangguan yang biasa merupakan bagian merupakan
bagian dari atau dengan kuat dihubungkan dengan spectrum OCD (gangguan
gangguan obsesif-kompulsif)
1.

Gangguan dismorfik tubuh (body Dysmorphic Disorder)

Pada gangguan ini orang terobsesi dengan keyakinan bahwa mereka buruk rupa
atau bagian tubuh mereka berbentuk tidak normal.
2.

Trikhotilomania
Orang dengan Trikhotilomania terus menerus mencabuti rambut mereka sehingga
timbul daerah-daerah botak.

3.

Sindrom Tourettes
Gejala sindrom Tourettes meliputi gerakan yang pendek dan cepat, tik dan ucapan
kata-kata kotor yang tak terkontrol. (Maramis, 2009)

E. DIAGNOSIS
Diagnosis gangguan kobsesif kompulsif didasarkan pada gambaran klinisnya.
Tidak seperti pasien psikotik, pasien dengan Gangguan obsesif kompulsif biasanya
menunjukkan wawasan dan menyadari bahwa perilaku mereka tidak normal atau tidak
logis. (Smith, 2013)
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV:
1. Salah satu obsesi atau kompulsi
Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang
dialami, pada suatu saat dimana selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak
sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas.
b. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang
berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata.
c. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau
bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan
lain.
d. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan obsesional
adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti
penyisipan pikiran).
Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan
mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang
berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai respon

terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipatuhi secara
kaku.
b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau menurunkan
penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan, tetapi
perilaku atau tindakan mental tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang
realistik dengan apa mereka dianggap untuk menetralkan atau mencegah, atau
jelas berlebihan.
2. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa
obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak
berlaku bagi anak-anak
a. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas, menghabiskan
waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna
mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik) atau
aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya.
b. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas
padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan,
menarik rambut jika terdapat trikotilomania, permasalahan pada penampilan
jika terdapat gangguan dismorfik tubuh, preokupasi dengan obat jika terdapat
suatu gangguan penggunaan zat, preokupasi dengan menderita suatu penyakit
serius jika terdapat hipokondriasis, preokupasi dengan dorongan atau fanatasi
seksual jika terdapat parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan
depresif berat).
c. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang
disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum. Sebutkan jika: Dengan
tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang
tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan atau tidak
beralasan. (Kaplan, 2000)

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:


1.

Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif,


atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu
berturut-turut.

2.

Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas


penderita.

3.

Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:


a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan
meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan
atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.
d. Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls

tersebut harus merupakan

pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).


4.

Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi.
penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala
depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan
pikiran-pikiran obsesif selama episode depresifnya. Dalam berbagai situasi dari
kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala depresif umumnya
dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode
akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang
timbul lebih dahulu. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila
tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul.
Bila dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik menganggap depresi
sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun maka prioritas diberikan
pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.

5.

Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom


Tourette, atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari
kondisi tersebut.

F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan


Pedoman Diagnostik
1. Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau impuls (dorongan
perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien).
2. Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu menyebabkan
penderitaan (distress).
F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif (obsesional ritual)
Pedoman Diagnostik
1. Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci
tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap
berpotensi bahaya terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan. Hal tersebut
dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau
bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut merupakan ikhtiar simbolik
dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut.
2. Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa jam
dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil
keputusan dan kelambanan.
F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif
Pedoman Diagnostik
1. Kebanyakan dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran obsesif serta
tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua hal tersebut samasama menonjol, yang umumnya memang demikian.
2. Apabila salah satu memang jelas lebih dominan,sebaiknya dinyatakan dalam
diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap
pengobatan. Tindakan kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku.
F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya
F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT

F. DIAGNOSIS BANDING
1.

Kondisi medis
Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam diagnosis banding
adalah gangguan Tourette, gangguan tik lainnya, epilepsi lobus temporalis, dan
kadang-kadang komplikasi trauma dan pascaensefalitik. Gejala karakteristik dari
gangguan Tourette adalah tik motorik dan vokal yang sering dan hampir setiap
hari terjadi. (Kaplan, 2000)

2.

Kondisi psikiatrik
Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan
obsesif-kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif,
fobia, dan gangguan depresif. Gangguan obsesif kompulsif biasanya dapat
dibedakan dari skizofrenia oleh tidak adanya gejala skizofrenik lain, oleh kurang
kacaunya sifat gejala, dan oleh tilikan pasien terhadap gangguan mereka.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak memiliki derajat gangguan
fungsional yang berhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif. Fobia
dibedakan dengan tidak adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi.
Gangguan depresif berat kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan obseisf,
tetapi pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif saja tidak memenuhi kriteria
diagnostik untuk gangguan depresif berat. (Kaplan, 2000)
Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan gangguan obsesifkompulsif adalah hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan kemungkinan
gangguan impuls lainnya, seperti kleptomania dan judi patologis. Pada semua
gangguan tersebut pasien memiliki pikiran yang berulang, sebagai contoh
permasalahan tentang tubuhnya, atau perilaku yang berulang sebagai contoh
mencuri. (Kaplan, 2000)

G. TERAPI
1. Farmakoterapi
a. Penggolongan
1) Obat Anti-obsesif kompulsif trisiklik
Contoh: Clomipramine.

2) Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitors)


Contoh: Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Citalopram. (Maslim,
2001)
b. Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome): Sindrom Obsesif Kompulsif.
Butir-butir diagnostik Sindrom Obsesif Kompulsif:
1) Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari mengalami gejala
-gejala obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri berikut:
a) Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls dari diri individu
sendiri;
b) Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan (ego-distonik);
c) Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan atau impuls
tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau
kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau ansietas);
d) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil
dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan /
dielakkan oleh penderita;
2) Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau
menggangu aktivitas sehari-hari (disability).
Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi
seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan kebanyakan
masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya penderita
sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih
baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy). (Maslim, 2001)

Clomipramine. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg


sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap dua
sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak efek
samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu obat trisiklik,
obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi, disfungsi seksual
dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.(Kaplan, 2000).

SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitors). Penelitian tentang Fluoxetine dalam


gangguan obsesif-kompulsif menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk
mencapai manfaat terapeutik. Walaupun SSRI mempunyai efek seperti
overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala, insomnia, mual, dan efek samping
gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan lebih baik daripada obat trisiklik.
Dengan demikian, kadang-kadang SSRI digunakan sebagai obat lini pertama
dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif. (Kaplan, 2000)

Obat lain. Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak berhasil,
banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Obat lain yang dapat
digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor
monoamin oksidase (MAOI = monoamine oxidase inhibitor), khususnya
Phenelzine (Nardil). (Kaplan, 2000)

2. Terapi perilaku
Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan, terapi perilaku sama
efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif. Dengan
demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi terpilih
untuk gangguan obsesif-kompulsif. Terapi perilaku dapat dilakukan pada situasi
rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan perilaku utama pada gangguan obsesifkompulsif adalah pemaparan dan pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan
pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan
pada pasien gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benarbenar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. (Kapalan, 2000)
3. Psikoterapi
Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien
gangguan obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat
keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial. Dengan
kontak yang kontinu dan teratur dengan tenaga yang profesional, simpatik, dan
mendorong, pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut,
tanpa hal tersebut gejalanya akan menyebabkna gangguan. Kadang-kadang jika
ritual dan kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi,
perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan institusi

dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan gejala sampai tingkat


yang dapat ditoleransi. (Kaplan, 2000)
Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena perilaku pasien.
Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada anggota keluarga melalui
dukungan emosional, penentraman, penjelasan dan nasihat tentang bagaimana
menangani dan berespons terhadap pasien. (Kaplan, 2000)
4. Exposure and Response Prevention
Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding) diciptakan oleh Victor
Meyer (1966), dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri pada situasi yang
menimbulkan tindakan kompulsif atau (seperti memegang sepatu yang kotor) dan
kemudian menahan diri agar tidak menampilkan perilaku yang menjadi ritualnya
membuatnya menghadapi stimulus yang membangkitkan kecemasan, sehingga
memungkinkan kecemasan menjadi hilang. (Fausiah & Widury, 2007)
5. Terapi Keluarga (Family therapy)
Terapi keluarga (Majahudin, 1995), merupakan teknik pengobatan yang sangat
penting bila pada keluarga pasien OCD ini didapatkan kekacauan hubungan
dalam keluarga, kesukaran dalam perkawinan, masalah spesifikasi dalam anggota
keluarga atau peran anggota keluarga yang kurang sesuai yang akan mengganggu
keberhasilan fungsi masing-masing individu dalam keluarga termasuk dalam
waktu jangka panjang akan berakibat buruk pada anak OCD.
Seluruh anggota keluarga dimasukkan ke dalam proses terapi, menggunakan
semua data anggota keluarga seperti tingkah laku individu dalam keluarga.
Menilai tingkah laku setiap anggota keluarga yang mempengaruhi tingkah laku
yang baik dan membina pengaruh tingkah laku yang positif dari setiap individu.

6. Cognitive Behavior Therapy


Cognitive Behavior Therapy untuk mengatasi gangguan Obsesif-Kompulsif .

Mendasarkan pada perspektif kognitif dan perilaku, teknik yang umumnya


diterapkan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah exposure with
response prevention. Pasien dihadapkan pada situasi dimana ia memiliki
keyakinan bahwa ia harus melakukan tingkah laku ritual yang biasa dilakukannya
namun mereka cegah untuk tidak melakukan ritual itu. Jika klien dapat mencegah
untuk tidak melakukan ritual tersebut dan ternyata sesuatu yang mengerikannya

tidak terjadi. Hal ini dapat membantu dalam mengubah keyakinan individu akan
tingkah laku ritual. Teknik lain berupa terapi kognitif dimana mengajarkan jalan
terbaik dan efektif untuk merespon pikiran obsesif tanpa perlu sampai ke
kompulsif. (Maslim, 2001)
Leonardo mengatakan (Majahudin, 1995) bahwa teknik terapi perilaku yang
khusus digunakan untuk pasien anak usia lebih tua dan remaja dengan gangguan
OCD adalah latihan relaksasi dan response prevention technique.
Terapi perilaku pada penderita OCD, awalnya mengumpulkan informasi yang
lengkap mengenai riwayat timbulnya gejala OCD, isyarat faktor internal dan
fakto eksternal, serta faktor pencetus akan timbulnya gejala OCD. Kemudian
mengawasi tingkah laku pasien dala menghindari situasi yang menimbulkan
kecemasan, menghindari timbulnya gejala kompulsif dan tingkat kecemasan
pasien saat timbul gejala OCD harus diperiksa secara teliti.
Teknik terapi perilaku yang dianjurkan pada anak dan remaja (Majahudin,
1995) :
a. Latihan relaksasi
Pasien diminta untuk berpikir dan bersikap rileks dan kemudian pasien diminta
untuk memikirkan pikiran obsesi masuk dalam alam sadar. Ketika pikiran
obsesi muncul, maka terapi akan meminta pasien untuk menghentikan
pemikiran itu, misalnya dengan cara memukul maja, atau menarik tali elastic
yang diikatkan pada tangan. Hal ini dilakukan di rumah atau di mana saja.
b. Response prevention technique
Mula-mula didapatkan dulu rangsangan (stimulus) atau pencetus yang
menyebabkan dorongan untuk melakukan tindakan kompulsif. Jika rangsangan
kompulsif muncul maka pasien secara aktif diberanikan untuk melawan
tingkah laku kompulsif, sering dengan mengalihkan perhatian pasien sehingga
tindakan kompulsif tidak mungkin dilakukan misalnya dengan memukul meja.
c. Penurunan kecemasan
Tujuan dari terapi ini untuk menghilangkan kecemasan yang menimbulkan
gejala obsesif dan kompulsif.
Hal ini dilakukan dengan desensitisasi secara sistematik yakni dengan
menghadapkan anak atau remaja pada situasi yang menakutkan (misalnya
pisau, hal-hal yang kotor, pegangan pintu dan sebagainya) secara pelan-pelan
samapai ketakutan dan kecemasan hilang atau tidak ada lagi.

H. PROGNOSIS

Gangguan obsesif-kompulsif merupakan penyakit yang kronik dengan perode


dari gejala-gejala yang seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami
peningkatan. Penderita gangguan ini tidak biasanya sembuh sempurna atau bebas dari
gejala. Walaupun demikian dengan pengobatan, banyak orang yang mengalami
perbaikan. Perbaikan tersebut berupa gejala yang berbeda seperti cara merealisasikan
suatu obsesif yang berbeda. Diagnosis awal dan terapi yang dilakukan secepatnya
akan memberikan hasil yang lebih baik di mana penekanan onset usia dini adalah hal
yang patut untuk segera didiagnosis. Selain itu, mereka yang bergerak di bidang
kesehatan mesti memahami perbedaan antara gangguan obsesif-kompulsif dengan
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang mana untuk jenis gangguan
kepribadian biasanya dimulai pada saat dewasa muda, yaitu umur di atas 20 tahun
sedangkan untuk gangguan obsesif kompulsif biasanya dimulai pada usia anak-anak

BAB III
KESIMPULAN
Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang
dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk
melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu
fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala gejala obsesif atau tindakan kompulsif,
ataukedua duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut turut.
Beberapa

faktor

berperan

dalam

terbentuknya

gangguan

obsesif-kompulsif

diantaranya adalah faktor biologi seperti neurotransmitter dan genetika, faktor psikologi dan
faktor psikososial. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan
gangguanobsesif kompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi), Exposure and
Response Prevention, terapi keluarga dan terapi perilaku.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Benjamin J, Virginia A. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of


Psychiatry. Seventh Edition. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. 2000. p
2569-2580.

2.

Berger FK. Obsessive-Compulsive Disorder. MedlinePlus. 2012 Jul 03. Diakses


pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000929.htm

3.

Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2rd rev. ed. Surabaya:
Airlangga University Press; 2009, 312-313 p.

4.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. 2rd rev. ed. Kusuma M, translator. Jakarta:
Erlangga; 2010, 56-67 p.

5.

Katona C, Cooper C, Robertson M. At a Glance Psikiatri. 4th rev. ed. Noviyanti C


dan Hartiansyah Vidya, translator. Jakarta: Erlangga; 2012, 31 p.

6.

Tomb DA. Buku Saku Psikiatri (Psychiatry). 6th rev. ed. Nasrun MWS, translator.
Yogyakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004, 238-239 p.

7.

Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III. 1st ina. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNIKA Atmajaya;
2001, 76-77 p.

8.

Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropic


Medication). 3rd rev. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNIKA
Atmajaya; 2001, 47-48 p.

9.

Robinson L, Smith M, Segal J. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).


Helpguide. 2013 Apr. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.helpguide.org/mental/obsessive_compulsive_disorder_ocd.htm

10. National Colaborating Centre for Mental Health, National Institute for Health and
Clinical Excellence. Obsessive-Compulsive Disorder: Core interventions in the
treatment of obsessive-compulsive disorder and body dysmorphic disorder.
National Clinical Practice Guideline. 2006; 31: 19-20.
11. Rogge T. Obsessive-Compulsive Personaliy Disorder. MedlinePlus. 2012 Nov 11.
Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000942.htm