Anda di halaman 1dari 499

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

MATERI PELATIHAN GURU


IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
SMA/MA DAN
SMK/MAK
SEJARAH INDONESIA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN


KEBUDAYAAN
2013
Pendahuluan | 1

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh:
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusis Pendidikan dan Kebudayaan
dan Penjaminan Mutu Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2013

Copyright 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Hak cipta dilindungi undang-undang

Pendahuluan | 2

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
SAMBUTAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt, Kurikulum 2013
secara terbatas mulai dilaksanakan tahun 2013 pada sekolah-sekolah yang
memenuhi persyaratan dan ditetapkan secara selektif. Kurikulum 2013
merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya untuk merespon
berbagai tantangan tantangan internal dan eksternal.
Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir,
penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi,
penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar dapat
menjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan.
Pengembangan kurikulum menjadi amat penting sejalan dengan kontinuitas
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya serta perubahan
masyarakat pada tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan.
Aneka kemajuan dan perubahan itu melahirkan tantangan internal dan
eksternal yang di bidang pendidikan pendidikan. Karena itu, implementasi
Kurikulum 2013 merupakan langkah strategis dalam menghadapi globalisasi
dan tuntutan masyarakat Indonesia masa depan.
Pengembangan Kurikulum 2013 dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip
utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan.
Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui
kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran
harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari
kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh
kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses
pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini
menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi
Kurikulum 2013.
Mudah-mudahan implementasi Kurikulum 2013 ini bisa berjalan dengan baik.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah mendedikasikan dirinya dalam
mempersiapkan Kurikulum 2013, saya mengucaplkan banyak terima kasih.
Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia.

Menteri
Pendidikan
Kebudayaan

dan

Pendahuluan | 3

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Muhammad Nuh

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya Modul
Bahan Ajar Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Modul bahan ajar ini
merupakan bahan ajar wajib dalam rangka pelatihan calon instruktur, guru inti,
dan guru untuk memahami Kurikulum 2013 dan kemudian dalam proses
pembelajaran di sekolah.
Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 20132014 melalui pelaksanaan terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang
sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013
dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
(SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah
Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016
diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai
dengan Kelas XII.
Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga
kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu
dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya
Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan
(BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi
Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas.
Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK,
kepala sekolah SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII
SMP untuk 9 mata pelajaran, dan guru Kelas X SMA/SMK untuk 3 mata
pelajaran. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan
PMP telah menyiapkan 14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013,
sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang pendidikan. Modul ini
diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013.
Saya mengucpkan terima kasih dan penghargaan atas partisipasi aktif kepada
pejabat dan staf di jajaran BPSDMPK dan PMP, dosen perguruan tinggi,
Pendahuluan | 4

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

konsultan, widyaiswara, pengawas, kepala sekolah, dan guru yang terlibat di


dalam penyusunan modul-modul tersebut di atas.

Jakarta, Juni 2013


Kepala Badan PSDMPK-PMP

Syawal Gultom
NIP.196202031987031002

Pendahuluan | 5

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

DAFTAR ISI

SAMBUTAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN


BAGIAN I PENDAHULUAN

A.

Tujuan Umum Pelatihan

B.

Indikator Umum Ketercapaian Tujuan

C.

Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai

D.

Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan

E.

Tahapan, Nara Sumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi


Kurikulum 2013

F.

Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk Guru,


Kepala Sekolah, dan Pengawas

G.

Penilaian

H.

Panduan Narasumber dan Fasilitator

I.

Kode Etik Narasumber

J.

Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013

K.

Sistematika Modul

11

BAGIAN II SILABUS PELATIHAN

12

A.

Silabus Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset

13

B.

Silabus Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013

16

C.

Silabus Materi Pelatihan 2: Elemen Perubahan Kurikulum


2013

20

D.

Silabus Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran

26

E.

Silabus Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing

30

BAGIAN II MATERI PELATIHAN

33

A.

Materi Pelatihan: Perubahan Mindset

34

B.

Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013

59
Pendahuluan | 6

SMA/MA DAN SMK/MAK

C.

D.

E.

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

1.1 Rasional

64

1.2 Elemen Perubahan Kurikulum

71

1.3 SKL, KI, KD, dan Silabus Mata Pelajaran

77

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013

147

Materi Pelatihan 2 : Analisis Materi Ajar

151

2.1Konsep Pendekatan Scientific

157

2.2 Model-model Pembelajaran

214

2.3 Konsep Penilaian Autentik

268

2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa

291

Materi Pelatihan 3 : Model Rancangan Pembelajaran

301

3.1 Penyusunan RPP

331

3.2 Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil


Belajar

339

Materi Pelatihan 4 : Praktik Pembelajaran Terbimbing

342

4.1 Simulasi Pembelajaran

347

4.2 Peer Teaching

356

Pendahuluan | 7

SMA/MA DAN SMK/MAK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

GAMBARAN STRUKTUR MATERI PELATIHAN GURU IMPLEMENTASI


KURIKULUM 2013

BAGIAN 1:
PENDAHULUAN

BAGIAN 2:
SILABUS

Tujuan Umum Pelatihan


Indikator Umum KetercapaianTujuan
Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai
Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan
Tahapan, Narasumber, dan Peserta Pelatihan
Struktur Pelatihan
Penilaian
Panduan Narasumber dan Fasilitator
Kode Etik Narasumber
Panduan Penggunaan Materi Pelatihan
Sistematika Materi Pelatihan

Silabus
Silabus
Silabus
Silabus
Silabus

Perubahan Mindset
Konsep Kurikulum 2013
Analisis Materi Ajar
Model Rancangan Pembelajaran
Praktik Pembelajaran Terbimbing

Materi Pelatihan 0: Perubahan Mindset


Materi Pelatihan 1: Konsep Kurikulum 2013
Rasional
Elemen Perubahan
SKL, KI, KD
Strategi Implementasi

BAGIAN 3:
MATERI PELATIHAN

Materi Pelatihan 2: Analisis Materi Ajar


Konsep Pendekatan Scientific
Model-model Pembelajaran
Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar
Analisis Buku Guru dan Buku SIswa

Materi Pelatihan 3: Model Rancangan Pembelajaran


Penyusunan RPP
Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar
Materi Pelatihan 4: Praktik Pembelajaran Terbimbing
Simulasi Pembelajaran
Peer Teaching
Pendampingan

Pendahuluan | 8

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

BAGIAN I
PENDAHULUAN

Sejarah Indonesia | 1

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

BAGIAN I
PENDAHULUAN
Modul Pelatihan ini disiapkan untuk digunakan para Narasumber Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013 sesuai dengan kelas, mata pelajaran dan jenjang
pendidikan.
Narasumber yang dimaksudkan adalah Narasumber Nasional,
Instruktur Nasional, Guru Inti, Kepala Sekolah Inti, dan Pengawas Sekolah Inti.
Modul ini memberi panduan bagi para pengguna mengenai (1) Tahapan
Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013; (2) Struktur Pelatihan Implementasi
Kurikulum 2013; (3) Panduan Narasumber; (4) Panduan Penilaian; (5)
Bahan/Materi Pelatihan untuk masing-masing Mata Pelatihan. Bahan/Materi
Pelatihan yang dimaksud meliputi hand-out, lembar kerja/worksheet, bahan
tayang baik dalam bentuk slide power point maupun rekaman video.
Sesuai dengan Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan
Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) telah
menetapkan jenjang atau tahapan pelatihan, sasaran pelatihan, dan struktur
pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk tahun kalender 2013.

A. Tujuan Umum Pelatihan


Tujuan Umum Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 adalah sebagai
berikut.
1. Guru mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi
lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian Kurikulum 2013.
2. Kepala sekolah mampu mengerahkan sumber daya yang dimiliki dalam
rangka menjamin keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013.
3. Pengawas sekolah mampu memberikan bantuan teknis secara benar
kepada sekolah dalam mengatasi hambatan selama implementasi
Kurikulum 2013.

B. Indikator Umum Ketercapaian Tujuan


Hasil monitoring dan evaluasi implementasi Kurikulum 2013 pada akhir
Tahun Ajaran 2013/2014, menunjukkan di bawah ini.
1. Tujuh puluh persen (70%) guru kelas I, IV, VII, X mampu melaksanakan
tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses
pembelajaran, dan penilaian Kurikulum 2013.

Sejarah Indonesia | 2

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

2. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013 tidak


mengalami hambatan biaya, sarana, sumber daya manusia, dan
kebijakan sekolah.
3. Tujuh puluh persen (70%) sekolah pelaksana Kurikulum 2013
mendapatkan bantuan secara benar dari pengawas sekolah selama
implementasi Kurikulum 2013.

C. Kompetensi Inti Peserta yang Harus Dicapai


Berdasarkan Indikator Ketercapaian Tujuan, maka berikut ini kompetensi
inti yang harus dicapai peserta setelah mengikuti pelatihan.
1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013.
2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum
2013.
3. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kurikulum 2013
(rasional, elemen perubahan, SKL, KI dan KD, serta strategi
implementasi).
4. Memiliki keterampilan menganalisis keterkaitan antara Standar
Kompetensi Kelulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar
(KD), Buku Guru, dan Buku Siswa.
5. Memiliki keterampilan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP)
dengan mengacu pada Kurikulum 2013.
6. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan pendekatan
Scientific secara benar.
7. Memiliki keterampilan mengajar dengan menerapkan model
pembelajaran Problem Based Learning, Project Based Learning, dan
Discovery Learning.
8. Memiliki keterampilan melaksanakan penilaian autentik dengan benar.
9. Memiliki keterampilan berkomunikasi lisan dan tulis dengan runtut,
benar, dan santun.

D. Hasil Kerja Peserta Selama Pelatihan


Setelah selesai mengikuti pelatihan, guru, kepala sekolah, dan pengawas
sekolah mampu mewujudkan hasil kerja secara kolektif berikut ini.
1. Analisis SKL, KI, KD untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban
tugasnya, selama 1 semester.
2. Analisis buku siswa dan buku guru untuk jenjang dan mata pelajaran
sesuai beban tugasnya, selama 1 semester.

Sejarah Indonesia | 3

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

3. Contoh RPP untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai beban tugasnya,
selama 1 semester.
4. Contoh instrumen penilaian untuk jenjang dan mata pelajaran sesuai
beban tugasnya, selama 1 semester.

E. Tahapan, Narasumber, dan Peserta Pelatihan Implementasi


Kurikulum 2013
Sasaran akhir dari pelatihan ini adalah guru, kepala sekolah dan pengawas.
Mengingat jumlah sasaran akhir pelatihan sangat besar dan sebaran
sasaran akhir pelatihan sangat luas, maka pelatihan ini menerapkan
strategi pelatihan bertahap atau berjenjang.
Tahapan atau jenjang
pelatihan, narasumber yang akan bertugas, serta sasaran peserta dapat
dijelaskan pada diagram berikut ini :

Narasumber: Narasumber Nasional


PELATIHAN INSTRUKTUR NASIONAL
Peserta: Instruktur Nasional

Narasumber: Instruktur Nasional


PELATIHAN GURU INTI

Narasumber: Instruktur Nasional

Narasumber: Instruktur Nasional

PELATIHAN KEPALA SEKOLAH INTI PELATIHAN PENGAWAS INTI

Peserta: Guru Inti

Peserta: Kepala Sekolah Inti

Peserta: Pengawas Inti

Narasumber: Guru Inti

Narasumber: Kepala Sekolah Inti

Narasumber: Pengawas Inti

PELATIHAN GURU KELAS/MAPEL PELATIHAN KEPALA SEKOLAH


Peserta: Guru Kelas/Mapel/BK

Peserta: Kepala Sekolah

PELATIHAN PENGAWAS
Peserta: Pengawas

Diagram 1. Tahapan Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Tahapan pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat pada


diagram 1 di atas. Diagram tersebut menunjukan terdapat 3 tahap
pelatihan yaitu:Pelatihan Tingkat Nasional, Tingkat Provinsi, dan Tingkat
Kabupaten/Kota. Secara keseluruhan terdapat 7 jenis pelatihan, yakni:
Pelatihan Instruktur Nasional, Pelatihan Guru Inti, Pelatihan Kepala Sekolah

Sejarah Indonesia | 4

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Inti, Pelatihan Pengawas Inti, Pelatihan Guru Kelas/ Mapel, Pelatihan Kepala
sekolah, dan Pelatihan Pengawas.

Sejarah Indonesia | 5

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

F. Struktur Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, untuk


Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah

Tabel 1: Struktur Pelatihan Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah


SD/MI
N
o

MateriPelatihan

SMP/MTs

Kelas I

Kelas
IV

IPA

IPS

Lainny
a

SMA/S
MK/MA

0.

PERUBAHAN MINDSET

1.

KONSEP KURIKULUM 2013

1.
1

Rasional

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

1.
2

Elemen Perubahan

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

0,5

1.
3

SKL, KI dan KD

1.
4

Strategi Implementasi

2.

ANALISIS MATERI AJAR

12

12

12

12

12

12

2.
1

Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu

Konsep Pembelajaran IPA Terpadu

Konsep Pembelajaran IPS Terpadu

2.
2

Konsep Pendekatan Scientific

2.
3

Model Pembelajaran

2.
4

Konsep Penilaian Autentik pada Proses


dan Hasil Belajar

2.
5

Analisis Buku Guru dan Buku Siswa


(Kesesuaian, Kecukupan, dan
Kedalaman Materi)

3.
3.
1

MODEL RANCANGAN
PEMBELAJARAN

Penyusunan RPP

Sejarah Indonesia | 6

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

3.
2

Perancangan Penilaian Autentik

4.

PRAKTIK PEMBELAJARAN
TERBIMBING

4.
1

Simulasi Pembelajaran

4.
2

22

22

22

22

22

22

Peer Teaching

14

14

14

14

14

14

PENDAMPINGAN

TES AWAL DAN TES AKHIR

52

52

52

52

52

52

TOTAL

G. Penilaian
Seusai pelatihan, panitia pelatihan akan mengumumkan hasil penilaian
peserta. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu:
1. sikap
2. pengetahuan, dan
3. keterampilan
Penilaian autentik diterapkan di dalam pelatihan ini.
yang diterapkan di dalam penilaian ini meliputi:
1.
2.
3.
4.

Metode penilaian

tes awal;
tes akhir;
portofolio; dan
pengamatan.

Setiap calon instruktur nasional, guru inti, kepala sekolah inti, dan
pengawas inti dinyatakan lulus apabila mencapai nilai 75 dan memiliki
kewenangan untuk melatih.

H. Panduan Narasumber dan Fasilitator


Narasumber memainkan peran yang sangat penting untuk menjadikan
suatu pelatihan yang menarik dan menyenangkan. Jumlah narasumber
yang akan bertugas sebanyak 3 (tiga) orang selama proses pelatihan.

Sejarah Indonesia | 7

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

Narasumber membagi tugas secara bersama-sama dengan prinsip


keadilan. Ketika seorang narasumber bertugas memberikan materi
pelatihan, maka narasumber lainnya berperan sebagai fasilitator yang
membantu dalam menyiapkan perangkat pelatihan, memberikan
penjelasan tambahan, dan melakukan penilaian kepada peserta.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang narasumber
adalah berikut ini.
1. Memahami isi modul sesuai bidang yang ditugaskan.
2. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan modul dan mematuhi urutan
dalam skenario pelatihan yang telah disusun.
3. Memberikan contoh panutan bagi peserta, baik dalam hal disiplin,
berperilaku, cara memberikan pertanyaan, cara memberikan umpan
balik, memberikan motivasi, maupun penguasaan materi pelatihan.
4. Memanggil nama peserta untuk mengurangi ketegangan.
5. Mengurangi penjelasan definisi, menjawab pertanyaan, dan memberikan
konfirmasi, tetapi wajib melibatkan peserta secara aktif dalam mencari,
menggali data, menganalisis alternatif temuan, memecahkan masalah,
mengambil keputusan atau simpulan.
6. Memotivasi peserta untuk mengambil kesimpulan sendiri, menanyakan
argumentasinya mengapa peserta mengambil simpulan itu, menguatkan
dan menekankan simpulan itu.
7. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta baik lakilaki maupun perempuanyang memiliki keterbatasan berbicara, yang
minoritas, yang pendiam, yang tua, dan sebagainya.
8. Mengaktifkan peserta untuk menjawab pertanyaan peserta lain.
9. Menghindari hal-hal berikut ini.
a.
b.
c.
d.

Menjawab pertanyaan yang tidak dipahami maksudnya.


Menjawab pertanyaan yang tidak diketahui jawabnya.
Menjawab pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Terpancing dalam perdebatan dengan peserta yang
mengakibatkan habisnya waktu.

dapat

e. Berperan sebagai orang yang serba tahu.


10.Mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab peserta sesering mungkin
(jangan pertanyaan yang sulit dijawab atau terlalu mudah dijawab
peserta).

Tugas Narasumber yang Berperan sebagai Fasilitator


1. Menyiapkan alat, sumber, dan media belajar yang diperlukan.
2. Membagi bahan pelatihan kepada peserta sesuai haknya.

Sejarah Indonesia | 8

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

3. Melaksanakan penilaian terdiri atas: tes awal, tes akhir,, dan penilaian
proses, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
4. Mencatat kehadiran peserta sebagai bagian dari bahan penilaian.
5. Menyerahkan laporan tertulis setiap selesai melakukan pelatihan.

I. Kode Etik Narasumber


Setiap fasilitator pelatihan wajib menyetujui dan menerapkan kode etik
berikut ini.
1. Menghormati kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan implementasi Kurikulum
2013.
2. Mengacu pada
berperilaku.

prinsip-prinsip

andragogi

dalam

bersikap

dan

3. Menjaga kerahasiaan semua alat penilaian yang akan digunakan.


4. Memberlakukan peserta secara adil dan tidak diskriminatif.
5. Melakukan penilaian secara objektif.

J. Panduan Penggunaan Materi Pelatihan Kurikulum 2013


Jenis bahan dan lembar kerja untuk masing-masing materi pelatihan dapat
dilihat berikut ini. Beberapa dokumen pelatihan digunakan sebagai acuan
untuk beberapa materi pelatihan sebagaimana tercermin dalam
pengkodean bahan pelatihan.
Tabel 2. Daftar dan Pengkodean Materi Pelatihan

NO.
0.

MATERI PELATIHAN
PERUBAHAN MINDSET
Bahan Tayang

1.

KODE

Tantangan Indonesia dalam Abad ke21

PPT-0.1

KONSEP KURIKULUM 2013


Video

Tayangan Paparan Kurikulum 2013


oleh Mendikbud

Bahan Tayang

Perubahan Mindset

PPT-1.1

Rasional dan Elemen Perubahan

PPT-1.2

SKL, KI, KD

PPT-1.3

V-1.1

Sejarah Indonesia | 9

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

NO.

MATERI PELATIHAN

KODE

Strategi Implementasi
Hand-Out

PPT-1.4

Naskah Kurikulum 2013

HO-1.1/1.2/1.4

Contoh Analisis Keterkaitan antara


SKL, KI, dan KD

HO-1.3

SKL, KI, dan KD


Lembar
Kerja/Rubrik
2.

HO-1.3/2.4/3.1/3.2

Analisis Keterkaitan SKL, KI, KD

LK-1.3

ANALISIS MATERI AJAR


Video

Pembelajaran Sejarah

V-2.1/4.1

Model-model Pembelajaran
Bahan Tayang

Hand-Out

V-2.3

Konsep Pendekatan Scientific

PPT-2.1-1

Model Pembelajaran Project Based


Learning

PPT-2.2-1

Model Pembelajaran Problem Based


Learning

PPT-2.2-2

Model Pembelajaran Discovery


Learning

PPT-2.2-3

Konsep Penilaian Autentik pada


Proses dan Hasil Belajar

PPT-2.3

Analisis Buku Guru dan Siswa

PPT-2.4

Konsep Pendekatan Scientific

HO-2.1-1

Contoh Penerapan Pendekatan


scientific dalam Pembelajaran
Sejarah.

HO-2.1-2

Model Pembelajaran Project Based


Learning

HO-2.2-1

Model Pembelajaran Problem Based


Learning

HO-2.2-2

Model Pembelajaran Discovery


Learning

HO-2.2-3

Konsep Penilaian Autentik

HO-2.3

Contoh Penerapan Penilaian Autentik


pada Pembelajaran Sejarah.
Lembar

Analisis Buku Guru

HO-2.3/3.2
LK-2.4-1

Sejarah Indonesia | 10

SMA/MA DAN SMK/MK

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

NO.

MATERI PELATIHAN

KODE

Analisis Buku Siswa

LK-2.4-2

Kerja/Rubrik

Rubrik Penilaian Hasil Analisis Buku


Guru dan Siswa
3.

R-2.4

MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN


Bahan Tayang

Rambu-rambu Penyusunan RPP


Mengacu pada Standar Proses dan
Pendekatan Scientific

PPT-3.1-1

Panduan Tugas Menelaah Rancangan


Penilaian pada RPP yang Telah
Dibuat
Hand-Out

Lembar
Kerja/Rubrik
4.

SKL, KI, dan KD

PPT-3.2
HO-1.3/2.4/3.1/3.2

Rambu-rambu Penyusunan RPP


Mengacu pada Standar Proses dan
Pendekatan Scientific

HO-3.1-1

Contoh RPP Pembelajaran Sejarah.

HO-3.1-2

Contoh Penerapan Penilaian Autentik


pada Pembelajaran Sejarah.

HO-2.3/3.2

Telaah RPP

LK-3.1/3.2

Rubrik Penilaian Telaah RPP

R-3.1/3.2

PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING


Video

Video Pembelajaran Sejarah.

Bahan
Tayang

Strategi Pengamatan Tayangan


Video

Lembar
Kerja/Rubrik

V-2.1/4.1
PPT-4.1

Panduan Tugas Praktik Pelaksanaan


Pembelajaran Melalui Peer-Teaching

PPT-4.2-1

Instrumen Penilaian Pelaksanaan


Pembelajaran Sejarah.

PPT-4.2-2

Analisis Pembelajaran pada


Tayangan Video

LK-4.1

Rubrik Penilaian Analisis


Pembelajaran pada Tayangan Video

R-4.1

Instrumen Penilaian Pelaksanaan


Pembelajaran Sejarah

LK-4.2

Rubrik Penilaian Pelaksanaan

R-4.2

Sejarah Indonesia | 11

Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013

SMA/MA DAN SMK/MK

NO.

MATERI PELATIHAN

KODE

Pembelajaran

Keterangan:
V
PPT
HO
LK
R

:
:
:
:
:

Video
Powerpoint Presentation
Hand-Out
Lembar Kerja
Rubrik

Catatan Pengkodean:
1. PPT-1.3 artinya bahan presentasi ini digunakan saat menyampaikan
Materi Pelatihan 1 (Konsep Kurikulum), Submateri 3 (SKL,KI,KD)
2. HO-1.3/2.1/2.4/3.1/3.2 artinya hand-out ini digunakan sebagai acuan
untuk beberapa materi pelatihan yaitu sebagai berikut:
-

Materi Pelatihan 1, submateri 3;


Materi Pelatihan 2, submateri 1 dan 4;
Materi Pelatihan 3, submateri 1 dan 2.

K. Sistematika Modul
Modul pelatihan implementasi kurikulum ini dibagi dalam tiga bagian
berikut ini.
Bagian I : Pendahuluan
Bagian II : Silabus Pelatihan
Bagian III

Materi Pelatihan

Sejarah Indonesia | 12

BAGIAN II
SILABUS

Sejarah Indonesia | 13

SILABUS
PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM
2013
JENJANG: SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Sejarah Indonesia | 14

TAHUN 2013

Sejarah Indonesia | 15

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


MATERI PELATIHAN:
0. PERUBAHAN MINDSET
ALOKASI WAKTU:
2 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH INDONESIA

N
O
0.1

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

Tantangan
1. Memiliki
Indonesia
sikap yang
dalam Abad
terbuka
ke-21
untuk
menerima
Kurikulum
2013

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

1. Menunjukkan 1 Tanya jawab


tentang
sikap
tantangan
menerima
Indonesia
secara
dalam Abad
terbuka
ke-21.
terhadap
perubahan
2 Curah
2. Memiliki
pendapat
Kurikulum
keinginan
membanding
dalam rangka
yang kuat
kan antara
menghadapi
untuk
berpikir
tantangan
mengimple
berbasis
Indonesia
mentasikan
kendala
dalam Abad
Kurikulum
(constraintke-21.
2013.
based
thinking)
dengan
2. Menunjukkan
berpikir
sikap
berbasis
menghargai
kesempatan
perubahan
(opportunity-

ASPEK

TEKNIK

Sikap
Menerima,
menghargai
dan
merespon
positif
perubahan
Kurikulum
da serta
berpartisipa
si aktif
dalam
kegiatan
materi
pelatihan.

Pengamat
an

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN
Lembar
Pengamat
an Sikap

JENIS
Bahan
Tayang

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
Tantangan
Indonesia
dalam Abad
ke-21
(PPT-0.1)

Sejarah Indonesia | 16

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR
kurikulum.

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

based
thinking)

3. Merespon
secara positif 3 Mendiskusikan
cara baru
terhadap
dalam belajar.
cara baru
dalam
4 Mendiskusikan
belajar.
6 pendorong
utama
teknologi
4. Berpartisipasi
pendidikan
yang harus
aktif dalam
diperhatikan
kegiatan
materi
5 Tanya jawab
pelatihan
tentang
perubahan
keterampilan
mindset.
berpikir
tingkat tinggi
(higher order
thinking skill).

Sejarah Indonesia | 17

WAKT
U (JP)

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


MATERI PELATIHAN:
1. KONSEP KURIKULUM
ALOKASI WAKTU:
4 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH

N
O
1.1

SUBMATERI
PELATIHAN
Rasional

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN
Memahami
secara utuh
rasional
Kurikulum
2013.

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

1. Menerima
1.
Mengam
rasional
ati dan
pengembang
menyimak
an Kurikulum
tayangan
2013 dalam
paparan
kaitannya
tentang
dengan
Kurikulum
perkembanga
2013 oleh
n masa
Mendikbud.
depan.
2.
Menyim
2. Menjelaskan
ak dan
rasional
melakukan
pengembang
tanya jawab
an Kurikulum
tentang
2013 dalam
paparan
kaitannya
rasional
dengan
Kurikulum
perkembanga
2013 dalam
n masa
kaitannya
depan.
dengan
perkembanga
3. Menjelaskan
n kurikulum
permasalahan
di Indonesia.

ASPEK
Sikap
Menerima
latar
belakang
alasan
perubahan
Kurikulum
2013.
Pengetah
uan
Memahami
secara utuh
rasional
kurikulum
2013 .

TEKNIK
Pengamat
an

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
JENIS
MEN
Lembar
1Video
Pengamat
an Sikap

2Bahan
Tayang
Tes
Tertulis

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

3Hand-out

DESKRIPSI
Tayangan
Paparan
Kurikulum
2013 oleh
Mendikbud
(V-1.1)
Rasional
Kurikulum
2013
(PPT-1.1)
Naskah
Kurikulum
2013
(HO1.1/1.2/1.4)

Sejarah Indonesia | 18

WAKT
U (JP)
0,5

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
KEGIATAN
PELATIHAN

INDIKATOR
Kurikulum
2006 (KTSP). 3.
4. Mengidentifik
asi
kesenjangan
kurikulum
antara kondisi
saat ini
dengan
kondisi ideal.
5. Menjelaskan
alasan
pengembang
an kurikulum.

1.2

Elemen
Perubahan
Kurikulum
2013

Memahami
secara utuh
elemen
perubahan
Kurikulum
2013.

1 Menerima
empat
elemen
perubahan
Kurikulum
2013 yang
mencakup:
SKL, SI,
Standar
Proses, dan
Standar
Penilaian.

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

WAKT
U (JP)

Menyim
pulkan
rasional
Kurikulum
2013 yang
mencakup
permasalaha
n kurikulum
2006 (KTSP),
kesenjangan
kurikulum
antara kondisi
saat ini
dengan
kondisi ideal,
serta alasan
pengembang
an kurikulum.

1 Menyimak dan
melakukan
tanya jawab
tentang
empat
elemen
perubahan
Kurikulum
2013 dalam
kaitannya
dengan
perkembanga
n kurikulum.

Sikap
Menerima
empat
elemen
perubahan
Kurikulum
2013

Pengamat
an

Pengetah
uan
Memahami
elemen
perubahan

Tes
Tertulis

Lembar
1Bahan
Pengamat
Tayang
an Sikap
2Hand-out
Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

Elemen
Perubahan
Kurikulum
2013
(PPT-1.2)
Naskah
Kurikulum
2013
(HO1.1/1.2/1.4)

Sejarah Indonesia | 19

0,5

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR
2 Menjelaskan
empat
elemen
perubahan
Kurikulum
2013 yang
mencakup:
SKL, SI,
Standar
Proses, dan
Standar
Penilaian.

KEGIATAN
PELATIHAN

2 Menyimpulkan
empat
elemen
perubahan
Kurikulum
2013.

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

WAKT
U (JP)

Kurikulum
2013 dan
hubungann
ya dengan
kompetensi
yang
dibutuhkan
pada masa
depan.

3 Menjelaskan
empat
elemen
perubahan
kurikulum
dalam
hubungannya
dengan
kompetensi
yang
dibutuhkan
pada masa
depan.
1.3

SKL, KI dan
KD

Memahami
keterkaitan
antara SKL,
KI, dan KD
pada
Kurikulum

1 Bekerja sama 1 Menyimak


dalam
paparan SKL,
menganalisis
KI, dan KD.
keterkaitan
SKL, KI, dan 2 Memberi
KD.
contoh

Sikap
Bekerja
sama
dalam
kelompok
dengan

Pengamat
an

Lembar
1Bahan
Pengamat
Tayang
an Sikap
2Hand-Out

SKL, KI, dan


KD
(PPT-1.3)
a. SKL, KI,
dan KD

Sejarah Indonesia | 20

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN
2013.

PENILAIAN
INDIKATOR

2 Menganalisis
keterkaitan
antara SKL,
KI, dan KD.

KEGIATAN
PELATIHAN
analisis
keterkaitan
SKL, KI, dan
KD.
3 Menganalisis
keterkaitan
SKL, KI, dan
KD melalui
diskusi
kelompok
pada format
yang sudah
disediakan
(Tiap
kelompok
menganalisis
keterkaitan
SKL, KI, dan
KD yang akan
dijadikan
dasar dalam
membuat
RPP)
4 Mempresentasi
kan hasil
diskusi
kelompok.

ASPEK

TEKNIK

baik dan
benar
Keterampi
lan
Terampil
menganalis
is
keterkaitan
SKL, KI, dan
KD
Pengetah
uan
Kemampua
n
memahami
konsep
SKL, KI, dan
KD serta
keterkaitan
antara
ketiga
kompetensi
tersebut.

Penugasa
n

Tes
Tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

Rubrik
penilaian
hasil
analisis
keterkaita
n SKL, KI
dan KD
(R-1.3)
3Lembar
Kerja
Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

DESKRIPSI
(HO-1.3/
2.4/
3.1/3.2)
b. Contoh
Analisis
Keterkaitan
antara SKl,
KI, dan KD
(HO-1.3)
Analisis
Keterkaitan
SKL, KI, dan
KD
(LK-1.3 )

5 Menilai hasil
kerja
kelompok
Sejarah Indonesia | 21

WAKT
U (JP)

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

Sikap
Berkomunik
asi dengan
bahasa
yang
santun,
sistematis,
dan
komunikatif
dalam
meyampaik
an ide-ide.

Pengamat
an

Pengetah
uan
Memahami
elemenelemen
penting
strategi
implementa
si
Kurikulum
2013.

Tes
Tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

WAKT
U (JP)

lain.

1.4

Strategi
Implementas
i Kurikulum
2013

Memahami
1 Berkomunikasi 1 Diskusi kelas
secara utuh
dengan
untuk
strategi
bahasa yang
mengidentifik
implementasi
runtut dan
asi elemenKurikulum
komunikatif
elemen
2013.
untuk
penting
mengidentifik
strategi
asi elemenimplementasi
elemen
Kurikulum
penting
2013.
strategi
implementasi 2 Merangkum
Kurikulum
dan
2013.
menyimpulka
n hasil diskusi
2 Mengidentifikas
kelas.
i elemenelemen
3 Mengkomunika
penting
sikan hasil
strategi
diskusi kelas.
implementasi
Kurikulum
2013.

Lembar
1Bahan
Pengamat
Tayang
an Sikap
2Hand-out

Strategi
Implementasi
Kurikulum
(PPT-1.4)
Naskah
Kurikulum
2013
(HO1.1/1.2/1.4)

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


MATERIPELATIHAN:

2. ANALISIS MATERI AJAR


Sejarah Indonesia | 22

ALOKASI WAKTU:
12 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH INDONESIA

N
O
2.1

SUBMATERI
PELATIHAN
Konsep
Pendekatan
Scientific

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

Mendeskripsik 1. Menerima
1. Mengamati
an konsep
konsep
tayangan
pendekatan
pendekatan
video
scientific
scientific dan
pembelajaran
dalam
menghargai
Sejarah.
pembelajaran
pendapat
Sejarah.
orang lain.
2. Mengkaji
pendekatan
2. Menjelaskan
scientific
konsep
berdasarkan
pendekatan
tayangan
scientific
video melalui
diskusi
3. Menjelaskan
kelompok.
penerapan
pendekatan 3. Mendiskusika
scientific
n contohdalam
contoh
pembelajaran
penerapan
Sejarah.
pendekatan
scientific
dalam
pembelajaran
Sejarah.
4. Mempresenta

ASPEK

TEKNIK

Sikap
Menerima
konsep
pendekata
n scientific
dan
mengharg
ai
pendapat
orang lain.

Pengamat
an

Pengetah
uan
Konsep
pendekata
n scientific
dan
penerapan
-nya dalam
pembelaja
ran
Sejarah.

Tes
tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
JENIS
MEN
Lembar
1. Video
pengamat
an sikap

DESKRIPSI
Pembelajaran
Sejarah
(V-2.1/4.1)

2. Bahan
Tayang

a. Konsep
pendekata
n scientific
(PPT-2.1-1)
b. Contoh
penerapan
pendekata
n scientific
dalam
pembelajar
an Sejarah
(PPT-2.1-2)

3. Hand
out

a. Konsep
pendekata
n scientific
(HO-2.1-1)
b. Contoh
penerapan
pendekata
n scientific
dalam

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

WAKT
U (JP)

Sejarah Indonesia | 23

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

si kan hasil
diskusi
kelompok.

2.2

Model
Pembelajara
n

Membedakan 1. Mengidentifik 1. Mengamati


Model
asi
tayangan 3
Pembelajaran
karakteristik
jenis model
Project Based
model
pembelajaran
Learning,
pembelajaran
(Project
Problem
Project Based
Based
Based
Learning.
Learning,
Learning, dan 2. Mengidentifik
Problem
Discovery
asi
Based
Learning.
karakteristik
Learning, dan
model
Discovery
pembelajaran
Learning).
Problem
Based
2. Mengidentifik
Learning.
asi
3. Mengidentifik
karakteristik
asi
3 model
karakteristik
pembelajaran
model
.
pembelajaran
Discovery
3. Mengidentifik
Learning.
asi
penerapan
Pendekatan
Scientific
pada 3 model

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
pembelajar
an Sejarah
(HO-2.1-2)

Sikap
Menyadari
manfaat
penerapan
tiga model
pembelaja
ran
Pengetah
uan
Karakterist
ik Project
Based
Learning,
Problem
Based
Learning,
dan
Discovery
Learning.
Keteramp
ilan
Menganali
sis,

membedaka

Focus
Group
Discussio
n

Tes Tulis

Unjuk
kerja

Panduan
FGD

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

Rubrik
penilaian
hasil kerja

1. Video

2. Bahan
Tayang

3. Hand
out

Contoh
Pembelajara
n dengan 3
model
pembelajara
n
(V-2.3)
a. Project
Based
Learning
(PPT-2.3.1)
b. Problem
Based
Learning
(PPT-2.3-2)
c. Discovery
Learning
(PPT-2.3-3)
a. Project
Based
Learning
(HO-2.3.1)
b. Problem
Based

Sejarah Indonesia | 24

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN
pembelajaran

2.3

Konsep
Penilaian
Autentik
pada Proses
dan Hasil
Belajar

Mendeskripsik 1. Menerima
an konsep
penerapan
penilaian
konsep
autentik pada
penilaian
proses dan
autentik di
hasil belajar
sekolah/
madarasah
dan
menghargai
pendapat
orang lain.

1. Menyajikan
kegiatan
interaktif
untuk
menyamakan
persepsi
tentang jenis
dan bentuk
tes dalam
penilaian
autentik.

2. Menjelaskan 2. Mendiskusika
konsep
n konsep
penilaian
penilaian
autentik pada
autentik pada
proses dan
proses dan
hasil belajar.
hasil belajar.
3. Mempresenta
si kan hasil
diskusi
kelompok.

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

n,

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
Learning
(HO-2.3-2)
c. Discovery
Learning
(HO-2.3-3)

mengaitka
n.

Sikap
Menerima
penerapan
konsep
penilaian
autentik di
sekolah/
madrasah
dan
mengharg
ai
pendapat
orang lain.

Pengamat
an

Pengetah
uan
Konsep
penilaian
autentik
pada
pembelaja
ran
Sejarah.

Tes
tertulis

Lembar
1. Bahan
pengamat
Tayang
an sikap

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

2. Hand
out

a. Konsep
penilaian
autentik
pada
proses dan
hasil
belajar
(PPT-2.3)
b. Contoh
penerapan
penilaian
autentik
pada
pembelajar
an Sejarah
(PPT2.3/3.2)
a. Konsep
penilaian
autentik
pada
proses dan
hasil
belajar
(HO-2.3)

Sejarah Indonesia | 25

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
b. Contoh
penerapan
penilaian
autentik
pada
pembelajar
an Sejarah
(HO2.3/3.2)

2.4

Analisis
1.
Menga 1. Ketelitian dan 1.
Peserta
Buku Guru
nalisis
keseriusan
pelatihan
dan Buku
kesesuaian
menganalisis
menilai buku
Siswa
isi buku
kesesuaian
guru dan
(Kesesuaian,
guru dan
buku guru
buku siswa.
Kecukupan,
buku siswa
dan siswa
dan
dengan
dengan SKL, 2.
Diskusi
Kedalaman
tuntutan
KI, dan KD.
kelompok
Materi)
SKL, KI, dan
membahas
KD.
2. Mengidentifik
hasil
asi
penilaian
kesesuaian isi
buku guru
buku guru
dan buku
dan buku
siswa.
siswa dengan
tuntutan SKL, 3.
Mencer
KI, dan KD.
mati format
analisis buku
guru dan
buku siswa.

Sikap
Teliti dan
serius
dalam
bekerja
baik
secara
mandiri
maupun
berkelomp
ok.
Keteramp
ilan
Terampil
menganali
sis buku
guru dan
siswa.

Pengamat
an

Lembar
1. Bahan
pengamat
Tayang
an sikap
2. Handout

Penugasa
n

Rubrik
Penilaian 3. Lembar
Hasil
Kerja
Analisis
Buku
Guru dan
Buku
Siswa
(R-2.4)

Analisis buku
guru dan
buku siswa
(PPT-2.4)
SKL, KI, dan
KD
(HO-1.3/2.4/
3.1/3.2)
a. Analisis
Buku Guru
(LK-2.4-1)
b. Analisis
Buku Siswa
(LK-2.4-2)

4. Menganalisis
Sejarah Indonesia | 26

N
O

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

SUBMATERI
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

kesesuaian
buku guru
dan buku
siswa dengan
tuntutan SKL,
KI, dan KD
dalam diskusi
kelompok.
2.

Menga 3. Menganalisis
nalisis buku
kecukupan
5.
Mendes
guru dan
dan
kripsikan
buku siswa
kedalaman
kecukupan
dilihat dari
materi buku
dan
aspek
guru dan
kedalaman
kecukupan
buku siswa.
materi buku
dan
guru dan
kedalaman
buku siswa
materi.
4. Menganalisis
secara
kesesuaian
kelompok.
proses,
pendekatan 6. Menganalisis
scientific,
kesesuaian isi
serta strategi
buku dengan
evaluasi yang
standar
diintegrasika
proses,
n dalam
pendekatan
buku.
scientific,
serta strategi
evaluasi yang
diintegrasika
n dalam buku
3.
Mengu 5. Menjelaskan
melalui
Sejarah Indonesia | 27

WAKT
U (JP)

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

asai secara
utuh materi,
struktur,
dan pola
pikir
keilmuan
materi
pelajaran.

secara utuh
diskusi
materi,
kelompok.
struktur, dan
pola pikir
7. Membaca isi
keilmuan
materi,
materi
struktur, dan
pelajaran
pola pikir
yang
keilmuan
terdapat
materi
dalam buku
pelajaran
4.
Mengu
siswa.
yang
asai
terdapat
penerapan
dalam buku
materi
6. Menerapkan
siswa melalui
pelajaran
materi
belajar
pada
pelajaran
mandiri.
bidang/
yang
ilmu lain
terdapat
8. Membuat
serta
dalam buku
contohkehidupan
guru dan
contoh
sehari-hari.
buku siswa
penerapan
pada bidang/
materi
ilmu lain
pelajaran
serta
yang
kehidupan
terdapat
sehari-hari.
dalam buku
guru dan
5.
Mema
buku siswa
hami
pada bidang/
strategi
ilmu lain
menggunak
serta
an buku
7. Menjelaskan
kehidupan
Sejarah Indonesia | 28

WAKT
U (JP)

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN
guru dan
buku siswa
untuk
kegiatan
pembelajar
an.

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

strategi
sehari-hari
penggunaan
secara
buku guru
berkelompok.
dan buku
siswa untuk 9. Mempresenta
kegiatan
si kan hasil
pembelajaran
analisis buku
.
guru dan
buku siswa
(perwakilan
kelompok).
10. Menyimpulka
n strategi
penggunaan
buku guru
dan buku
siswa untuk
kegiatan
pembelajaran
.

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


MATERI PELATIHAN:
3. MODEL RANCANGAN PEMBELAJARAN
ALOKASI WAKTU:
8 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH
Sejarah Indonesia | 29

WAKT
U (JP)

N
O
3.1

SUBMATERI
PELATIHAN
Penyusunan
RPP

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

Menyusun
1. Menunjukkan 1. Peserta
RPP yang
sikap
pelatihan
menerapkan
tanggung
menilai RPP
pendekatan
jawab dan
yang dibawa
scientific
kreatif dalam
oleh peserta
sesuai model
menyusun
lain.
belajar yang
RPP.
relevan
dengan
2. Mendiskusika
mempertimba 2. Mengidentifik
n rambungkan
asi ramburambu
karakteristik
rambu
penyusunan
peserta didik
penyusunan
RPP yang
baik dari
RPP.
mengacu
aspek fisik,
pada Standar
moral, sosial,
Proses dan
kultural,
pendekatan
emosional,
scientific.
maupun
intelektual
3. Menyusun
3. Menyusun
RPP yang
RPP yang
sesuai
sesuai
dengan SKL,
dengan SKL,
KI, dan KD;
KI, dan KD;
Standar
Standar
Proses; dan
Proses; dan
pendekatan
pendekatan
scientific.
scientific
secara
berkelompok
(terutama KD

ASPEK

TEKNIK

Sikap
Tanggung
jawab dan
kreatif
dalam
menyusun
RPP

Pengamat
an

Keteramp
ilan
Menyusun
RPP yang
mengacu
pada
Standar
Proses dan
pendekata
n scientific

Penugasa
n

Pengetah
uan
RPPyang
menerapk
an
pendekata
n scientific

Tes
Tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
JENIS
MEN
Lembar
1. Bahan
Pengamat
Tayang
an Sikap

Rubrik
Penilaian
Telaah
RPP
(R3.1/3.2)

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

2. Hand
out

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
a. Ramburambu
penyusuna
n RPP
mengacu
pada
Standar
Proses dan
pendekata
n scientific
(PPT-3.1-1)
b. Panduan
tugas
telaah RPP
(PPT-3.1-2)

a. SKL, KI, dan


KD (HO1.3/2.4/
3.1/3.2
b. Ramburambu
penyusunan
RPP
mengacu
pada
Standar
Proses dan
pendekata
n scientific
3. Lembar
(HO-3.1-1)
Sejarah Indonesia | 30

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

awal
4. Menelaah
semester I)
RPP yang
disusun
4. Mendiskusika
kelompok lain
n format
telaahRPP .

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS
Kerja

WAKT
U (JP)

DESKRIPSI
c. Contoh RPP
Sejarah
(HO-3.1-2)
Telaah RPP

(LK-3.1/3.2)

5. MenelaahRPP
yang disusun
kelompok lain
sesuai format
telaah RPP.
6. Merevisi RPP
berdasarkan
hasil telaah.
7. Mempresenta
si-kan hasil
RPP yang
sudah direvisi
(sampel)
3.2

Perancangan
Penilaian
Autentik
pada Proses
dan Hasil
Belajar

Merancang
1. Menunjukkan 1. Mendiskusika
penilaian
sikap
n dan
autentik pada
tanggung
melakukan
proses dan
dan
tanya
hasil belajar
kreatifdalam
jawabtentang
menyusun
penilaian
rancangan
autentik
penilaian
dalam bentuk
autentik.
tes dan

Sikap
Tanggung
jawab
dankreatif
dalam
menyusun
rancangan
penilaian
autentik.

Pengamat
an

Lembar
1. Bahan
Pengamat
Tayang
an Sikap

a. Contoh
penerapan
penilaian
autentik
pada
pembelajar
an Sejarah
(PPT2.3/3.2)

Sejarah Indonesia | 31

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN
nontes.

2. Mengidentifik 2. Mendiskusika
asi kaidah
n tentang
perancangan
kaidah
penilaian
merancang
autentik pada
penilaian
proses dan
autentik
hasil belajar.
berbentuk
tes dan
nontes,
termasuk
3. Mengidentifik
portofolio.
asi jenis dan
bentuk
3. Mengkaji
penilaian
penerapan
pada proses
penilaian
dan hasil
autentik
belajar sesuai
dalam
karakteristik
pembelajaran
mata
Sejarah
pelajaran
melalui
Sejarah.
contoh.

ASPEK
Keteramp
ilan
Merancang
penilaian
autentik
Pengetah
uan
Penerapan
penilaian
autentik
pada
pembelaja
ran
Sejarah.

TEKNIK

Penugasa
n

Tes
Tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

Rubrik
Penilaian
Telaah
RPP
(R3.1/3.2)
Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

2. Hand
out

DESKRIPSI
b. Panduan
tugas
menelaah
rancangan
penilaian
pada RPP
yang telah
dibuat
(PPT-3.2)
a. SKL, KI, dan
KD
(HO1.3/2.4/
3.1/3.2)
b. Contoh
penerapan
penilaian
autentik
pada
pembelajar
an Sejarah
(HO2.3/3.2)

4. Menelaah
rancangan
4. Menelaah
penilaian
rancangan
autentik pada
penilaian
proses dan
autentik pada
hasil belajar
RPP yang
yang ada
telah
dalam RPP.
disusun.
Sejarah Indonesia | 32

WAKT
U (JP)

N
O

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETENS
I PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRU
MEN

JENIS

DESKRIPSI

5. Merevisi
rancangan
penilaian
pada RPP
yang telah
disusun
berdasarkan
hasil telaah.
6. Mempresenta
si kan
rancangan
penilaian
proses dan
hasil belajar
yang sudah
direvisi
(sampel)

Sejarah Indonesia | 33

WAKT
U (JP)

SILABUS PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

MATERIPELATIHAN:
4. PRAKTIK PEMBELAJARAN TERBIMBING
ALOKASI WAKTU:
22 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN: SEJARAH

NO
4.1

SUBMATERI
PELATIHAN
Simulasi
Pembelajaran

KOMPETEN
SI PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

Mengkaji
1. Ketelitian dan 1. Mengamati
pelaksanaan
keseriusan
tayangan
pembelajara
dalam
video
n yang
menganalisis
pembelajaran
menerapkan
simulasi
pendekatan
pembelajaran
scientific
.
(mengamati,
menanya,
2. Menganalisis 2. Melalui
mencoba,
simulasi
diskusi,
mengolah,
pembelajaran
menganalisis
menyaji,
melalui
tayangan
menalar,
tayangan
video
mencipta)
video
pelaksanaan
dengan tetap
pembelajaran
pembelajaran
memperhatik
.
dengan fokus
an
pada
karakteristik
penerapan
peserta didik
pendekatan
baik dari
scientificdan
aspek fisik,
penilaian
moral, sosial,
autentik.
kultural,
emosional,
3. Mengkonfirm

ASPEK

TEKNIK

Sikap
Ketelitian
dan
keseriusan
dalam
menganali
sis
simulasi
pembelaja
ran

Pengamat
an

Keteramp
ilan
Menganali
sis
pembelaja
ran pada
tayangan
video.

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRUM
JENIS
EN
Lembar
1. Video
Pengamata
n Sikap
2. Bahan
Tayang

Penugasa
n

Tes
Tertulis

Rubrik
Penilaian
Analisis
3. Lembar
pembelajar
Kerja
an pada
tayangan
video
(R-4.1)

DESKRIPSI
Pembelajaran
Sejarah
(V-2.1/4.1)
Strategi
pengamatan
video
pembelajaran
(PPT-4.1)
Analisis
pembelajaran
pada
tayangan
video
(LK-4.1)

Tes
Objektif
Pilihan
Ganda

Pengetah
uan
Sejarah Indonesia | 34

WAKT
U (JP)
8

NO

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETEN
SI PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

maupun,
intelektual.

KEGIATAN
PELATIHAN
asipenerapan
pendekatan
scientific
dan penilaian
autentik
mengacu
pada
tayangan
video
pembelajaran
.

3. Merevisi RPP
sehingga
menerapkan
pendekatan
scientific dan 4. Merevisi RPP
penilaian
sesuai
autentik
dengan hasil
untuk
analisis
kegiatan
tayangan
peer
video
teaching.
pembelajaran
.

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRUM
EN

JENIS

DESKRIPSI

WAKT
U (JP)

Prinsipprinsip
pendekata
n scientific
dan
penerapan
penilaian
autentik
dalam
pembelaja
ran
Sejarah.

5. Mempresenta
si kan contoh
RPP untuk
kegiatan
peer
teaching.
4.2

Peer
Teaching

Melaksanaka 1. Kreatif dan


n
komunikatif
pembelajara
dalam
n yang
melakukan

1. Menginforma
sikan
panduan
tugas praktik

Sikap
Kreatif dan
komunikati
f dalam

Pengamat
an

Lembar
1. Bahan a. Panduan
Pengamata
Tayang
tugas
n Sikap
praktik
pelaksanaa
Sejarah Indonesia | 35

14

NO

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETEN
SI PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

menerapkan
peer
pelaksanaan
pendekatan
teaching.
pembelajaran
scientific
melalui peer
(mengamati,
teaching.
menanya,
mencoba,
2. Melaksanaka 2. Menjelaskan
mengolah,
n peer
garis besar
menyaji,
teaching
instrumen
menalar,
yang
penilaian
mencipta)
menerapkan
pelaksanaan
dengan tetap
pendekatan
pembelajaran
memperhatik
scientific dan
an
penilaian
3. Mempersiapk
karakteristik
autentik
an
peserta didik
menggunaka
pelaksanaan
baik dari
n RPP yang
peer
aspek fisik,
telah
teaching
moral, sosial,
disusun.
berdasarkan
kultural,
RPP yang
emosional,
telah
maupun,
disusun.
intelektual.
4. Mempraktikk
an
pembelajaran
melalui peer
teaching
3. Menilai
secara
pelaksanaan
individual.
peer
teaching
5. Menilai
peserta lain.
kegiatan

ASPEK

TEKNIK

melakukan
peer
teaching
Keteramp
ilan
Melaksana
-kan
pembelaja
ran yang
menerapk
an
pendekata
n
scientific.
Pengetah
uan
Prinsipprinsip
pendekata
n scientific
dan
penerapan
penilaian
autentik
dalam
pembelaja
ran
Sejarah.

Penugasa
n

Tes
Tertulis

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRUM
EN

JENIS

DESKRIPSI

n
pembelajar
an melalui
Rubrik
peer
penilaian
teaching
pelaksana
(PPT-4.2-1)
an
b. Instrumen
pembelajar
penilaian
an
pelaksanaa
(R-4.2)
2. Lembar
n
Tes
Kerja
pembelajar
Objektif
an
Ganda
(PPT-4.2-2)
Instrumen
penilaian
pelaksanaan
pembelajaran
(LK-4.2)

Sejarah Indonesia | 36

WAKT
U (JP)

NO

SUBMATERI
PELATIHAN

KOMPETEN
SI PESERTA
PELATIHAN

PENILAIAN
INDIKATOR

KEGIATAN
PELATIHAN

ASPEK

TEKNIK

BAHAN PELATIHAN
BENTUK
INSTRUM
EN

JENIS

DESKRIPSI

peer
teaching
menggunaka
n instrumen
penilaian
pelaksanaan
pembelajaran
6. Melakukan
refleksi
terhadap
pelaksanaan
peer
teaching.

Sejarah Indonesia | 37

WAKT
U (JP)

BAGIAN III
MATERI PELATIHAN
1. PERUBAHAN MINDSET
2. KONSEP KURIKULUM 2013
3. ANALISIS MATERI AJAR
4. MODEL RANCANGAN
PEMBELAJARAN
5.

PRAKTIK PEMBELAJARAN

38 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN


MINDSET

39 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET

A. KOMPETENSI
Peserta pelatihan dapat:
1. Memiliki sikap yang terbuka untuk menerima Kurikulum 2013.
2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikan Kurikulum
2013.

B. LINGKUP MATERI
1. Tantangan Indonesia dalam Abad ke-21 (Mengapa Kita Harus Berubah).
2. Berpikir Berbasis Kendala (Constraint-Based Thinking) dan Berpikir
Berbasis Kesempatan (Opportunity Based)
3. Cara Baru dalam Belajar
4. Enam Pendorong Utama Teknologi Pendidikan yang Harus Diperhatikan.
5. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill).

C. INDIKATOR
5. Menunjukkan sikap menerima secara terbuka terhadap perubahan
Kurikulum dalam rangka menghadapi tantangan Indonesia dalam Abad
ke-21.
6. Menunjukkan sikap menghargai perubahan kurikulum.
7. Merespon secara positif terhadap cara baru dalam belajar.
8. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan materi pelatihan perubahan mindset.

D. PERANGKAT PELATIHAN
1. Bahan Tayang: Tantangan Indonesia dalam Abad 21 (Mengapa Kita Harus
Berubah)
2. ATK

40 | SEJARAH INDONESIA

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN

MATERI PELATIHAN:

PERUBAHAN MINDSET

ALOKASI WAKTU:

2 JP (@ 45 MENIT)

JENJANG:

SMA/SMK, MA/MAK

MATA PELAJARAN:
TAHAPAN
KEGIATAN

SEJARAH INDONESIA
DESKRIPSI KEGIATAN

PERSIAPAN

Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat


pembelajaran, seperti LCD Projector, Laptop, File,
Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media
pembelajaran lainnnya.

KEGIATAN
PENDAHULU
AN

Pengkondisian Peserta
Perkenalan

WAKT
U

15
Menit

Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi,


indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan
pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset
Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika
agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja
sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN
INTI

Perubahan Mindset

60
Menit

Tanya jawab tentang tantangan Indonesia dalam Abad


ke-21 (mengapa kita harus berubah).

15
Menit

Curah pendapat untuk membandingkan berpikir


berbasis kendala (Constraint-Based Thinking) dan
Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based).

15
menit

Mendiskusikan cara baru dalam belajar.

10
Menit

Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi


pendidikan yang harus diperhatikan dilanjutkan
dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir
tingkat tinggi (higher order thinking skill)

20
Menit

41 | SEJARAH INDONESIA

KEGIATAN
PENUTUP

Membuat rangkuman materi pelatihan Perubahan


Mindset.

15
Menit

Refleksi dan umpan balik tentang proses


pembelajaran.
Fasilitator mengingatkankan peserta agar membaca
referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran

MATERI PELATIHAN: PERUBAHAN MINDSET

Langkah Kegiatan Inti


Pengkondis
ian Peserta
dilanjutkan
Tanya
Jawab

Curah
Pendapat

Diskusi

Diskusi
Dilanjutka
n Tanya
Jawab

30 Menit

15 Menit

10 Menit

20 Menit

Pengkondisian Peserta dilanjutkan Tanya Jawab


Perkenalan, fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi, indikator, alokasi waktu,
dan skenario kegiatan pembelajaran materi pelatihan Perubahan Mindset. Fasilitator
memotivasi peserta, mengajak berdinamika agar saling mengenal, serius, semangat, dan
bekerja sama saat proses pembelajaran berlangsung. Tanya jawab tentang Tantangan
Indonesia dalam Abad ke-21 (mengapa kita harus berubah).

Curah Pendapat
Curah pendapat untuk membandingkan berpikir berbasis kendala (ConstraintBased Thinking) dan Berpikir berbasis kesempatan (Opportunity Based).

Diskusi
Diskusi cara baru dalam belajar

42 | SEJARAH INDONESIA

Diskusi, Tanya Jawab, dan Penutup


Mendiskusikan enam pendorong utama teknologi pendidikan yang harus
diperhatikan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang keterampilan berpikir
tingkat tinggi, diakhiri membuat rangkuman, refleksi, dan umpan balik.

43 | SEJARAH INDONESIA

44 | SEJARAH INDONESIA

45 | SEJARAH INDONESIA

46 | SEJARAH INDONESIA

47 | SEJARAH INDONESIA

48 | SEJARAH INDONESIA

49 | SEJARAH INDONESIA

50 | SEJARAH INDONESIA

51 | SEJARAH INDONESIA

52 | SEJARAH INDONESIA

53 | SEJARAH INDONESIA

54 | SEJARAH INDONESIA

55 | SEJARAH INDONESIA

56 | SEJARAH INDONESIA

57 | SEJARAH INDONESIA

58 | SEJARAH INDONESIA

59 | SEJARAH INDONESIA

60 | SEJARAH INDONESIA

61 | SEJARAH INDONESIA

62 | SEJARAH INDONESIA

63 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP


KURIKULUM 2013
1.1 Rasional
1.2 Elemen Perubahan Kurikulum
1.3 SKL, KI, KD, dan Silabus Mata
Pelajaran Sejarah SMA/MA dan
SMK/MK
1.4

Strategi Implementasi Kurikulum 2013

64 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN 1: KONSEP KURIKULUM

A. KOMPETENSI
Peserta pelatihan dapat:
1. memahami secara utuh rasional Kurikulum 2013;
2. memahami secara utuh elemen perubahan Kurikulum 2013;
3. memahami keterkaitan antara SKL, KI, dan KD pada Kurikulum 2013; dan
4. memahami secara utuh strategi implementasi Kurikulum 2013.

B. LINGKUP MATERI
1.

Rasional Kurikulum 2013

2.

Elemen Perubahan Kurikulum 2013

3.

Standar Nasional Pendidikan


a. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
b. Standar Isi yang berisi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar
(KD)
c. Standar Proses
d. Standar Penilaian

4.

Strategi Implementasi Kurikulum 2013

C. INDIKATOR
1. Menerima rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya
dengan perkembangan masa depan.
2. Menjelaskan rasional pengembangan Kurikulum 2013 dalam kaitannya
dengan perkembangan masa depan.
3. Menjelaskan permasalahan Kurikulum 2006 (KTSP).
4. Mengidentifikasi kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dengan
kondisi ideal.
5. Menjelaskan alasan pengembangan kurikulum.
6. Menerima empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup: SKL,
SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.
7. Menjelaskan empat elemen perubahan Kurikulum 2013 yang mencakup:
SKL, SI, Standar Proses, dan Standar Penilaian.
8. Menjelaskan empat elemen perubahan kurikulum dalam hubungannya
dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan.

65 | SEJARAH INDONESIA

9. Menganalisis keterkaitan SKL, KI, dan KD.


10. Mengidentifikasi strategi implementasi Kurikulum 2013.

D. PERANGKAT PELATIHAN
1. Video tentang Rasional Kurikulum 2013 oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan
2. Bahan Tayang
a. Rasional Kurikulum 2013
b. Elemen Perubahan Kurikulum 2013
c. Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi (Kompetensi Inti /KI ,
dan Kompetensi Dasar /KD)
d. Strategi Implementasi Kurikulum 2013
3. Lembar Kerja Analisis SKL, KI, dan KD
4. Dokumen Bahan Bacaan
a. Rasional Kurikulum 2013
b. Elemen Perubahan Kurikulum 2013
c. Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti /KI, dan
Kompetensi Dasar /KD.
d. Strategi Implementasi Kurikulum 2013
5. ATK

66 | SEJARAH INDONESIA

SKENARIO KEGIATAN PEMBELAJARAN


MATERI PELATIHAN: 1. KONSEP KURIKULUM
ALOKASI WAKTU:
4 JP (@ 45 MENIT)
JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
MATA PELAJARAN:
SEJARAH INDONESIA
TAHAPAN
KEGIATAN

DESKRIPSI KEGIATAN

PERSIAPAN

Dilakukan dengan mengecek kelengkapan alat


pembelajaran seperti LCD Projector, Laptop, File,
Active Speaker, dan Laser Pointer, atau media
pembelajaran lainnya.

KEGIATAN
PENDAHUL
UAN

Pengkondisian Peserta
Perkenalan

WAKT
U

15
Menit

Fasilitator menjelaskan nama, tujuan, kompetensi,


indikator, alokasi waktu, dan skenario kegiatan
pembelajaran materi pelatihan Konsep Kurikulum.
Fasilitator memotivasi peserta, mengajak berdinamika
agar saling mengenal, serius, semangat, dan bekerja
sama saat proses pembelajaran berlangsung.
KEGIATAN
INTI

1.1 Rasional

25
Menit

Penayangan Video Mendikbud tentang Paparan


Kurikulum 2013 dengan menggunakan V-1.1.

10
Menit

Pemaparan
oleh
fasilitator
tentang
Rasional
Kurikulum 2013 dengan menggunakan PPT-1.1.

10
Menit

Tanya jawab tentang Rasional Kurikulum 2013 yang


mencakup: permasalahan kurikulum 2006 (KTSP),
kesenjangan kurikulum antara kondisi saat ini dan
kondisi ideal, serta alasan pengembangan kurikulum.

5 Menit

1.2 Elemen Perubahan Kurikulum

20
Menit

Pemaparan
oleh
fasilitator
tentang
Elemen
Perubahan Kurikulum yang mencakup SKL, SI, Standar
Proses, dan Standar Penilaian dan hubungannya
dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan

10
Menit

67 | SEJARAH INDONESIA

dengan menggunakan PPT-1.2.

KEGIATAN
PENUTUP

Tanya jawab tentang Elemen Perubahan Kurikulum,


kemudian fasilitator menyimpulkannya.

10
Menit

ICE BREAKER

5
Menit

1.3 SKL, KI, dan KD

60
Menit

Pemaparan oleh fasilitator tentang SKL, KI, dan KD


dengan menggunakan PPT-1.3

10
Menit

Memberi contoh analisis keterkaitan antara SKL, KI,


dan KD dengan menggunakan HO-1.3.

5 Menit

Diskusi kelompok untuk menganalisis keterkaitan


SKL, KI, dan KD yang akan dijadikan dasar untuk
membuat RPP dengan menggunakan LK-1.3.

30
Menit

Presentasi hasil diskusi kelompok, sementara


kelompok lainnya memberi komentar/ tanggapan dan
menilai hasil kerja kelompok.

15
Menit

1.4 Strategi Implementasi Kurikulum 2013

45
Menit

Pemaparan
oleh
fasilitator
tentang
Strategi
Implementasi Kurikulum 2013 dengan menggunakan
PPT-1.4.

10
Menit

Diskusi kelas tentang elemen-elemen penting


Strategi Implementasi Kurikulum 2013, kemudian
merangkum dan menyimpulkan hasil diskusi.

25
Menit

Mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok.

10
Menit

Membuat rangkuman materi pelat ihan Konsep


Kurikulum.

15
Menit

Refleksi dan umpan balik tentang proses pelatihan.


Fasilitator mengingatkan peserta agar membaca
referensi yang relevan.
Fasilitator menutup pembelajaran

68 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN :

1.1 RASIONAL

Langkah Kegiatan Inti


Pemaparan
oleh
Fasilitator
dengan
mengguna
kan PPT-1.1
dan PPT1.2

Tanya
Jawab

10 Menit

10 Menit

Pemaparan
Fasilitator menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang
mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana
pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain,
perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat
komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu
(geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA) dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013
yang mencakup:
a. Alasan pengembangan kurikulum.
b. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum
sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar).
c. Manfaat adanya perubahan kurikulum.

Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

69 | SEJARAH INDONESIA

70 | SEJARAH INDONESIA

71 | SEJARAH INDONESIA

72 | SEJARAH INDONESIA

73 | SEJARAH INDONESIA

74 | SEJARAH INDONESIA

75 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN :

1.2 ELEMEN PERUBAHAN KURIKULUM

Langkah Kegiatan Inti


Pemaparan
oleh
Instruktur
dengan
mengguna
kan PPT-1.1
dan PPT1.2

Tanya
Jawab

10 Menit

10 Menit

Pemaparan
Instruktur menyampaikan materi Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum yang
mencakup: 4 standar, tematik terpadu untuk SD kls 1 dan 4, TIK merupakan sarana
pembelajaran yang dipergunakan sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain,
perubahan pendekatan pembelajaran yaitu Scientific Approach, bahasa sebagai alat
komunikasi dan carrier of knowledge, penetapan platform untuk mata pelajaran tertentu
(geografi untuk IPS, Biologi untuk IPA) dengan menggunakan PPT-1.2.

Tanya Jawab
Diskusi dan tanya jawab terkait dengan Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013
yang mencakup:
a. Alasan pengembangan kurikulum.
b. Identifikasi perubahan yang penting dalam kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum
sebelumnya (struktur kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar).
c. Manfaat adanya perubahan kurikulum.

Kemudian fasilitator menyimpulkannya.

76 | SEJARAH INDONESIA

77 | SEJARAH INDONESIA

78 | SEJARAH INDONESIA

79 | SEJARAH INDONESIA

80 | SEJARAH INDONESIA

81 | SEJARAH INDONESIA

MATERI PELATIHAN 1.3: SKL, KI, DAN KD

Langkah Kegiatan Inti

Pemaparan
oleh
Instruktur

Memberi
Contoh
Analisis
Keterkaitan
SKL, KI, KD

Kerja
Kelompok

Presentasi
Hasil
Kelompok

10 Menit

5 Menit

30 Menit

15 Menit

Pemaparan
Instuktur memberikan
1.3/2.1/2.3/3.1/3.2

materi

SKL,

KI,

dan

KD

dengan

menggunakan

PPT-

Kerja Kelompok
Peserta dibagi menjadi 5 kelompok, setiap kelompok diberi tugas menganalisis
keterkaitan SKL, KI, KD masing-masing mapel selama 1 tahun yang akan
dijadikan dasar untuk membuat RPP dengan menggunakan LK 1.3. Masingmasing kelompok mengerjakan KD yang berbeda agar peserta mendapat bahan
hasil analisis semua KI dan KD selama 1 tahun kelas VII.

Presentasi Hasil Kerja Kelompok


Masing-masing kelompok memaparkan hasil kerja kelompok. Peserta yang akan
memaparkan akan ditunjuk oleh Intruktur. Sementara kelompok lainnnya
memberi komentar/ tanggapan dan menilai hasil kerja kelompok lainnya.

Memberi Contoh
Instruktur memberikan contoh analisis keterkaitan antara SKL, KI, dan KD dengan
menggunakan HO-1.3

82 | SEJARAH INDONESIA

83 | SEJARAH INDONESIA

84 | SEJARAH INDONESIA

85 | SEJARAH INDONESIA

86 | SEJARAH INDONESIA

87 | SEJARAH INDONESIA

D1.3/2.1/2.4/3.1/3

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN


SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK
A.

Pendahuluan

Pendidikan sebagaimana yang dinyatakan di dalam Undang-Undang Nomor 20


Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 angka 1 adalah:
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Paradigma pendidikan tersebut selanjutnya dirumuskan ke dalam fungsi dan
tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menetapkan bahwa: pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa; bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi parameter utama untuk
merumuskan standar nasional pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada
Pasal 35 sebagai berikut:

(1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan,
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan
penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
(2) Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum,
tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.
(3) Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan
pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi,
penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan.
(4) Ketentuan mengenai standar nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Fungsi standar nasional pendidikan adalah untuk penjaminan dan pengendalian


mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
Standar Kompetensi Lulusan merupakan salah satu dari 8 (delapan) standar
nasional pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Pasal 35 Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang akan menjadi acuan bagi
88 | SEJARAH INDONESIA

pengembangan
nasional.

kurikulum

dalam

rangka

mewujudkan

tujuan

pendidikan

B. Tujuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah


Penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang
dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang
Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan membangun landasan
bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang:
a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan
berkepribadian luhur;
b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif;
c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan
d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

C. Cakupan Kompetensi Lulusan


Penetapan pendekatan kompetensi lulusan didahului dengan mengidentifikasi
apa yang hendak dibentuk, dibangun, dan diberdayakan dalam diri peserta didik
sebagai jaminan yang akan mereka capai setelah menyelesaikan pendidikannya
pada satuan pendidikan tertentu.
Pendekatan kompetensi lulusan menekankan pada kemampuan holistik yang
harus dimiliki setiap peserta didik. Hal itu akan membawa implikasi terhadap apa
yang seharusnya dipelajari oleh setiap individu peserta didik, bagaimana cara
mengajarkan, dan kapan diajarkannya.
Cakupan kompetensi lulusan satuan pendidikan berdasarkan elemen-elemen
yang harus dicapai dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel 1: Kompetensi Lulusan Berdasarkan Elemen-Elemen Yang Harus Dicapai
DOMAIN

Elemen

SMP

SMA-SMK

Proses

Menerima + Menjalankan + Menghargai +


Menghayati + Mengamalkan

Individu

beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung


jawab, peduli, santun), rasa ingin tahu, estetika,
percaya diri, motivasi internal

Sosial

toleransi, gotong royong, kerjasama, dan


musyawarah

Alam

pola hidup sehat, ramah lingkungan, patriotik, dan


cinta perdamaian

Proses

Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah +

SIKAP

KETERAMPILAN

SD

89 | SEJARAH INDONESIA

DOMAIN

Elemen

SD

SMP

SMA-SMK

Menyaji + Menalar + Mencipta

PENGETAHUAN

Abstrak

membaca, menulis, menghitung, menggambar,


mengarang

Konkret

menggunakan, mengurai, merangkai,


memodifikasi, membuat, mencipta

Proses

Mengetahui + Memahami + Menerapkan +


Menganalisa + Mengevaluasi

Obyek

ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya

Subyek

manusia, bangsa, negara, tanah air, dan dunia

Cakupan kompetensi lulusan satuan pendidikan secara holistik dapat dilihat


dalam tabel di bawah ini.
Tabel 2: Kompetensi Lulusan Secara Holistik
DOMAIN

SIKAP

KETERAMPILAN

PENGETAHUAN

SD
SMP
SMA-SMK
Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati +
Mengamalkan
pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial, alam sekitar, serta dunia dan
peradabannya
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah + Menyaji
+ Menalar + Mencipta
pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang efektif
dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret
Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa +
Mengevaluasi
pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban

90 | SEJARAH INDONESIA

Dari tabel di atas, cakupan kompetensi lulusan secara holistik dirumuskan


sebagai berikut:
Dari tabel diatas, cakupan kompetensi lulusan secara holistik dirumuskan
sebagai berikut :
1. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Sikap:
Manusia yang memiliki pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri,
dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya.
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: menerima,
menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan.
2. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Keterampilan:
Manusia yang memiliki pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret.
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: mengamati,
menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, dan mencipta.
3. Kemampuan Lulusan dalam Dimensi Pengetahuan:
Manusia yang memiliki pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban
Pencapaian pribadi tersebut dilakukan melalui proses: mengetahui,
memahami, menerapkan, menganalisa, dan mengevaluasi.
Perumusan kompetensi lulusan antarsatuan pendidikan mempertimbangkan
gradasi setiap tingkatan satuan pendidikan dan memperhatikan kriteria sebagai
berikut:
a.
b.
c.

perkembangan psikologis anak,


lingkup dan kedalaman materi,
kesinambungan, dan

d.

fungsi satuan pendidikan

D. Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan


Kompetensi
lulusan
satuan
pendidikan
SD/MI/SDLB/Paket
A,
SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMK/MAK/Paket C diuraikan masing-masing
berikut ini.
1. Standar Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A
Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A adalah manusia
keterampilan, dan pengetahuan sebagai berikut:

yang

memiliki

sikap,

Tabel 3: Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/PAKET A


DIMENSI

KOMPETENSI LULUSAN

SIKAP

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang


beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung

91 | SEJARAH INDONESIA

jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan


lingkungan sosial dan alam di sekitar rumah, sekolah,
dan tempat bermain.
KETERAMPILAN

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan


kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan
yang ditugaskan kepadanya.

PENGETAHUAN

Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam


ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan
rumah, sekolah, dan tempat bermain.

2. Standar Kompetensi Lulusan SMP/MTs/SMPLB/Paket B


Lulusan SMP/MTs/SMPLB/Paket B adalah manusia yang memiliki sikap, keterampilan,
dan pengetahuan sebagai berikut:

Tabel 4: Kompetensi Lulusan SMP/MTs/SMPLB/ PAKET B


DIMENSI

KOMPETENSI LULUSAN

SIKAP

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang


beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung
jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan
pergaulan dan keberadaannya.

KETERAMPILAN

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan


kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan
yang dipelajari di sekolah atau sumber lain yang
sama dengan yang diperoleh dari sekolah.

PENGETAHUAN

Memiliki pengetahuan faktual, konseptual dan


prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan
kejadian yang tampak mata.

3. Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/Paket C


Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/Paket C adalah manusia yang memiliki sikap, keterampilan,
dan pengetahuan sebagai berikut:

Tabel 5: Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/ Paket C


DIMENSI
SIKAP

KOMPETENSI LULUSAN
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang
beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung
jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan

92 | SEJARAH INDONESIA

dirinya sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan


dunia.

KETERAMPILAN

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan


kreatif dalam ranah abstrak dan konkret terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri.

PENGETAHUAN

Memiliki pengetahuan prosedural dan metakognitif


dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya
dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian.

93 | SEJARAH INDONESIA

HO1.3/2.1/2.4/3.1/3.2

MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA


KELOMPOK WAJIB
1. Pengertian

a. Sejarah adalah ilmu tentang asal usul dan perkembangan masyarakat dan
bangsa yang berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa di
masa kini.
b. Pendidikan Sejarah merupakan suatu proses internalisasi nilai-nilai,
pengetahuan, dan keterampilan kesejarahan dari serangkaian peristiwa
yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan
mendukung terjadinya proses belajar siswa.
c. Sejarah Indonesia merupakan kajian mengenai berbagai peristiwa yang
terkait dengan asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat
dan bangsa Indonesia pada masa lampau untuk menjadi pelajaran dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Sejarah Indonesia dapat juga
dimaknai sebagai kajian tentang kemegahan/keunggulan dan nilai-nilai
kejuangan bangsa Indonesia untuk ditransformasikan kepada generasi
muda sehingga melahirkan generasi bangsa yang unggul dengan penuh
kearifan.
d. Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan mata pelajaran kelompok A
(wajib) yang diberikan pada jenjang pendidikan menengah ( SMA/ MA dan
SMK/MAK ). Mata pelajaran Sejarah Indonesia memiliki arti strategis dalam
pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta
dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan
dan cinta tanah air.
2. Rasional
Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dengan pendidikan sejarah. Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan
mata pelajaran wajib di jenjang pendidikan menengah (SMA/MA, SMK/MAK).
Sejarah memiliki makna dan posisi yang strategis, mengingat:
a.

Manusia hidup masa kini sebagai kelanjutan dari masa lampau sehingga
perlajaran sejarah memberikan dasar pengetahuan untuk memahami
kehidupan masa kini, dan membangun kehidupan masa depan;

b. Sejarah mengandung peristiwa kehidupan manusia di masa lampau untuk


dijadikan guru kehidupan: Historia Magistra Vitae ;
c.

Pelajaran Sejarah adalah untuk membangun memori kolektif sebagai


bangsa untuk mengenal bangsanya dan membangun rasa persatuan dan
kesatuan;

94 | SEJARAH INDONESIA

d. Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban


bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia
yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air (Permendiknas No. 22
Tahun 2006 tentang Standar Isi).

Mata pelajaran Sejarah Indonesia dikembangkan atas dasar :


a. Semua wilayah/daerah memiliki kontribusi terhadap perjalanan Sejarah
Indonesia hampir pada seluruh periode sejarah;
b. Memandang masa lampau sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan
kekuatan untuk membangun semangat kebangsaan dan persatuan;
c. Setiap periode Sejarah Indonesia memiliki peristiwa dan atau tokoh di
tingkat nasional dan daerah serta keduanya memiliki kedudukan yang
sama penting dalam perjalanan Sejarah Indonesia;
d. Memiliki tugas untuk memperkenalkan peristiwa sejarah yang penting dan
terjadi di seluruh wilayah NKRI dan seluruh periode sejarah kepada
generasi muda bangsa;
e. Pengembangan cara berpikir sejarah (historical thinking), konsep waktu,
ruang, perubahan, dan keberlanjutan menjadi keterampilan dasar dalam
mempelajari Sejarah Indonesia.
3. Tujuan
Mata pelajaran Sejarah Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut :
a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya konsep waktu
dan tempat/ruang dalam rangka memahami perubahan dan keberlanjutan
dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia;
b. Mengembangkan kemampuan berpikir historis (historical thinking) yang
menjadi dasar untuk kemampuan berpikir logis, kreatif, inspiratif, dan
inovatif;
c. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap
peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa
lampau;
d. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap diri sendiri,
masyarakat, dan proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah
yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan
datang;
e. Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari
bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air,
melahirkan empati dan perilaku toleran yang dapat diimplementasikan
dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dan bangsa;
f. Mengembangkan perilaku yang didasarkan pada nilai dan moral yang
mencerminkan karakter diri, masyarakat dan bangsa; dan
g. Menanamkan sikap berorientasi kepada masa kini dan masa depan.

4. Ruang Lingkup
95 | SEJARAH INDONESIA

Mata pelajaran Sejarah Indonesia membahas materi yang meliputi zaman :


a. Praaksara;
b. Hindu-Buddha;
c. Kerajaan-kerajaan Islam;
d. Penjajahan bangsa Barat;
e. Pergerakan Nasional;
f. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan;
g. Demokrasi Liberal;
h. Demokrasi Terpimpin;
i.
j.

Orde Baru; dan


Reformasi.

5. Kompetensi yang Dikembangkan


Kompetensi yang dikembangkan di dalam pembelajaran sejarah Indonesia,
yaitu;
Kelas

Kompetensi Tertinggi

Menganalisis keterkaitan antara dua atau lebih faktor

Menganalisis untuk menentukan pokok pikiran


(konsep/teori)

Mengevaluasi berdasarkan kriteria internal

Mengevaluasi berdasarkan kriteria standar (eksternal


yang berlaku secara umum)

Mencipta ( originalitas )

XI

XII

6. Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan Asesmen


a. Prinsip-prinsip Pembelajaran
1)

Umum:
a) Mengamati: melihat, mengamati, membaca,
menyimak baik tanpa maupun dengan alat.

mendengar,

b) Menanya:
mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai yang
bersifat hipotesis;
diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri
sehingga menjadi kebiasaan.
c)

Mengumpulkan data:

96 | SEJARAH INDONESIA

menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan yang


diajukan;
menentukan
sumber
data
(benda,
dokumen,
buku,
eksperimen);
mengumpulkan data.

d) Mengasosiasi :
menganalisis data dalam bentuk membuat
menentukan hubungan antardata/kategori;
menyimpulkan dari hasil analisis data.

97 | SEJARAH INDONESIA

kategori,

e) Mengkomunikasikan:
menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan,
tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya.
2) Khusus: Prinsip-prinsip Pembelajaran Sejarah.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran sejarah
di SMA/MA, SMK/MAK adalah : (Hasan, 2011)
a) Mengembangkan proses pembelajaran untuk mengembangkan
kemampuan dan keterampilan di semester awal (pertama dan
kedua) sehingga peserta didik memahami konsep-konsep utama
sejarah,
menguasai
keterampilan
dasar
sejarah,
dan
memantapkan penggunaan konsep utama dan keterampilan dasar
ketika mereka mempelajari berbagai peristiwa sejarah di semestersemester berikutnya (semester ketiga keenam);
b) Setiap peristiwa sejarah dirancang sebagai kegiatan pembelajaran
satu semester dan bukan kegiatan satu pokok bahasan. Untuk itu
maka peserta didik secara kelompok atau individual dapat memilih
mempelajari satu atau lebih peristiwa sejarah secara mendalam.
Hasil pendalaman tersebut dipaparkan di depan kelas sehingga
peserta didik lain memiliki pengetahuan dan pemahaman peristiwa
sejarah lainnya secara garis besar berdasarkan laporan kelas
peserta didik;
c)

Proses pembelajaran sejarah memberi kesempatan kepada


peserta didik untuk menggunakan berbagai sumber seperti buku
teks, buku referensi, dokumen, narasumber, atau pun artefak serta
memberi kesempatan yang luas untuk menghasilkan her or his
own histories (Borries, 2000);

d)

Peserta didik diberi kebebasan dalam memilih peristiwa sejarah


nasional untuk setiap strands dan peristiwa sejarah daerah yang
terkait dengan strands yang dibahas. Sejak awal tahun, guru
sejarah di SMA/MA, SMK/MAK sudah harus menentukan berapa
banyak peristiwa sejarah tingkat nasional dan tingkat daerah yang
harus dipelajari peserta didik dalam satu rancangan keseluruhan
pendidikan sejarah.

b. Prinsip-Prinsip Asesmen:
Prinsip-prinsip asesmen dalam mata pelajaran Sejarah pada SMA/MA,
SMK/MAK, antara lain:
1) Menentukan aspek dari hasil belajar Sejarah yang sudah dan belum
dikuasai
peserta didik sesudah suatu proses pembelajaran;
2) Umpan balik bagi peserta didik untuk memperbaiki hasil belajar yang
kurang atau
belum dikuasai;

98 | SEJARAH INDONESIA

3) Umpan balik bagi guru untuk memberikan bantuan bagi peserta didik
yang
mengalami masalah dalam penguasaan pengetahuan, kemampuan,
nilai, dan sikap.
4) Umpan balik bagi guru untuk memperbaiki perencanaan pembelajaran
berikutnya.

5) Aspek-aspek yang dinilai/dievaluasi mencakup:


pengetahuan dan pemahaman tentang peristiwa sejarah;
kemampuan mengkomunikasikan pemahaman mengenai peristiwa
sejarah dalam bahasa lisan dan tulisan;
kemampuan menarik pelajaran/nilai dari suatu peristiwa sejarah;
kemampuan menerapkan pelajaran/nilai yang dipelajari dari
peristiwa sejarah dalam kehidupan sehari-hari;
kemampuan melakukan kritik terhadap sumber dan mengumpulkan
informasi dari sumber;
kemampuan berfikir historis dalam mengkaji berbagai peristiwa
sejarah dan peristiwa politik, sosial, budaya, ekonomi yang timbul
dalam kehidupan keseharian masyarakat dan bangsa;
memiliki semangat kebangsaan dan menerapkannya dalam
kehidupan kebangsaan.
7. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

KELAS

: X
KOMPETENSI INTI

1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR
1.1. Menghayati keteladanan para
pemimpin dalam mengamalkan ajaran
agamanya.
1.2. Menghayati keteladanan para
pemimpin dalam toleransi antar umat
beragama dan mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari

99 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

2. Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur,
disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif, dan proaktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

2.1. Menunjukkan sikap tanggung jawab,


peduli terhadap berbagai hasil budaya
pada zaman praaksara, Hindu-Buddha
dan Islam.

3. Memahami, menerapkan,
dan menganalisis
pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora
dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban
terkait fenomena dan
kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk
memecahkan masalah.

3.1. Memahami dan menerapkan konsep


berpikir kronologis (diakronik),
sinkronik, ruang dan waktu dalam
sejarah.

2.2. Meneladani sikap dan tindakan cinta


damai, responsif dan pro aktif yang
ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam
mengatasi masalah sosial dan
lingkungannya.
2.3. Berlaku jujur dan bertanggungjawab
dalam mengerjakan tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah.

3.2. Memahami corak kehidupan


masyarakat pada zaman praaksara.
3.3. Menganalisis asal-usul nenek
moyang bangsa Indonesia (Proto,
Deutero Melayu dan Melanesoid).
3.4. Menganalisis berdasarkan tipologi
hasil budaya Praaksara Indonesia
termasuk yang berada di lingkungan
terdekat.
3.5. Menganalisis berbagai teori tentang
proses masuk dan berkembangnya
agama dan kebudayaan Hindu-Buddha
di Indonesia.
3.6. Menganalisis karakteristik kehidupan
masyarakat, pemerintahan, dan
kebudayaan pada masa kerajaankerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
serta menunjukkan contoh bukti-bukti

100 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR
yang masih berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini.
3.7. Menganalisis berbagai teori tentang
proses masuk dan berkembangnya
agama dan kebudayaan Islam di
Indonesia.
3.8. Menganalisis karakteristik kehidupan
masyarakat, pemerintahan dan
kebudayaan pada masa kerajaankerajaan Islam di Indonesia dan
menunjukan contoh bukti-bukti yang
masih berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini.

4. Mengolah, menalar, dan menyaji


dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

4.1. Menyajikan informasi mengenai


keterkaitan antara konsep berpikir
kronologis (diakronik ) , sinkronik,
ruang, dan waktu dalam sejarah .
4.2. Menyajikan hasil penalaran mengenai
corak kehidupan masyarakat pada
zaman praaksara dalam bentuk tulisan.
4.3. Menyajikan kesimpulan-kesimpulan
dari informasi mengenai asal-usul
nenek moyang bangsa Indonesia (Proto,
Deutero Melayu dan Melanesoid) dalam
bentuk tulisan.
4.4. Menalar informasi mengenai hasil
budaya Praaksara Indonesia termasuk
yang berada di lingkungan terdekat dan
menyajikannya dalam bentuk tertulis.
4.5. Mengolah informasi mengenai proses
masuk dan perkembangan kerajaan
Hindu-Buddha dengan menerapkan
cara berpikir kronologis, dan
pengaruhnya pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini serta
mengemukakannya dalam bentuk
tulisan.

101 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR
4.6. Menyajikan hasil penalaran dalam
bentuk tulisan tentang nilai-nilai dan
unsur budaya yang berkembang pada
masa kerajaan Hindu-Buddha dan
masih berkelanjutan dalam kehidupan
bangsa Indonesia pada masa kini.
4.7. Mengolah informasi mengenai proses
masuk dan perkembangan kerajaan
Islam dengan menerapkan cara berpikir
kronologis, dan pengaruhnya pada
kehidupan masyarakat Indonesia masa
kini serta mengemukakannya dalam
bentuk tulisan.
4.8. Menyajikan hasil penalaran dalam
bentuk tulisan tentang nilai-nilai dan
unsur budaya yang berkembang pada
masa kerajaan Islam dan masih
berkelanjutan dalam kehidupan bangsa
Indonesia pada masa kini.

KELAS

: XI
KOMPETENSI INTI

1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya
102 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI DASAR

1.1. Menghayati nilai-nilai persatuan dan


keinginan bersatu dalam perjuangan
pergerakan nasional menuju

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR
kemerdekaan bangsa sebagai karunia
Tuhan Yang Maha Esa terhadap bangsa
dan negara Indonesia.

2. Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur,
disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif, dan proaktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

2.1. Mengembangkan nilai dan perilaku


mempertahankan harga diri bangsa
dengan bercermin pada kegigihan para
pejuang dalam melawan penjajah.

2.2. Meneladani perilaku kerjasama,


tanggung jawab, cinta damai para
pejuang dalam mewujudkan cita-cita
mendirikan negara dan bangsa
Indonesia dan menunjukkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
2.3. Meneladani perilaku kerjasama,
tanggung jawab, cinta damai para
pejuang untuk meraih kemerdekaan dan
menunjukkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
2.4. Meneladani perilaku kerjasama,
tanggung jawab, cinta damai para
pejuang untuk mempertahankan
kemerdekaan dan menunjukkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
2.5. Berlaku jujur dan bertanggungjawab
dalam mengerjakan tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah.

3. Memahami, menerapkan, dan


menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif
berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora
dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta
103 | SEJARAH INDONESIA

3.1. Menganalisis perubahan, dan


keberlanjutan dalam peristiwa sejarah
pada masa penjajahan asing hingga
proklamasi kemerdekaan Indonesia.
3.2. Menganalisis proses masuk dan
perkembangan penjajahan bangsa
Barat (Portugis, Belanda, Inggris) di
Indonesia.
3.3. Menganalisis strategi perlawanan

KOMPETENSI INTI
menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah.

KOMPETENSI DASAR
bangsa Indonesia terhadap penjajahan
bangsa Barat di Indonesia sebelum dan
sesudah abad ke-20.
3.4. Menganalisis persamaan dan
perbedaan pendekatan dan strategi
pergerakan nasional di Indonesia pada
masa awal kebangkitan nasional,
Sumpah Pemuda dan sesudahnya
sampai dengan Proklamasi
Kemerdekaan.
3.5. Menganalisis peran tokoh-tokoh
nasional dan daerah dalam perjuangan
menegakkan negara Republik
Indonesia.
3.6. Menganalisis dampak politik, budaya,
sosial-ekonomi dan pendidikan pada
masa penjajahan Barat dalam
kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
3.7. Menganalisis peristiwa proklamasi
kemerdekaan dan maknanya bagi
kehidupan sosial, budaya, ekonomi,
politik, dan pendidikan bangsa
Indonesia.
3.8. Menganalisis peristiwa pembentukan
pemerintahan pertama Republik
Indonesia dan maknanya bagi
kehidupan kebangsaan Indonesia masa
kini.
3.9. Menganalisis peran Bung Karno dan
Bung Hatta sebagai proklamator serta
tokoh-tokoh proklamasi lainnya.
3.10.
Menganalisis perubahan dan
perkembangan politik masa awal
kemerdekaan.
3.11.
Menganalisis perjuangan
bangsa Indonesia dalam upaya
mempertahankan kemerdekaan dari
ancaman Sekutu dan Belanda.

104 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI INTI

4. Mengolah, menalar, dan


menyaji dalam ranah konkret
dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari
yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif,
serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah
keilmuan.

KOMPETENSI DASAR

4.1. Mengolah informasi tentang peristiwa


sejarah pada masa penjajahan bangsa
Barat berdasarkan konsep perubahan
dan keberlanjutan, dan menyajikannya
dalam bentuk cerita sejarah.

4.2. Mengolah informasi tentang proses


masuk dan perkembangan penjajahan
bangsa Barat di Indonesia dan
menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.
4.3. Mengolah informasi tentang strategi
perlawanan bangsa Indonesia terhadap
penjajahan bangsa Barat di Indonesia
sebelum dan sesudah abad ke-20 dan
menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.
4.4. Mengolah informasi tentang
persamaan dan perbedaan pendekatan
dan strategi pergerakan nasional di
Indonesia pada masa awal kebangkitan
nasional, pada masa Sumpah Pemuda,
masa sesudahnya sampai dengan
Proklamasi Kemerdekaan dan
menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.
4.5. Menulis sejarah tentang satu tokoh
nasional dan tokoh dari daerahnya yang
berjuang melawan penjajahan kolonial
Barat.
4.6. Menalar dampak politik, budaya,
sosial-ekonomi dan pendidikan pada
masa penjajahan Barat dalam
kehidupan bangsa Indonesia masa kini
dan menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.
4.7. Menalar peristiwa proklamasi
kemerdekaan dan maknanya bagi
kehidupan sosial, budaya, ekonomi,
politik, dan pendidikan bangsa Indonesia

105 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR
dan menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.
4.8. Menalar peristiwa pembentukan
pemerintahan pertama Republik
Indonesia dan maknanya bagi
kehidupan kebangsaan Indonesia masa
kini dan menyajikannya dalam bentuk
cerita sejarah.
4.9. Menulis sejarah tentang perjuangan
Bung Karno dan Bung Hatta.
4.10. Menalar perubahan dan
perkembangan politik masa awal
proklamasi dan menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.11. Mengolah informasi tentang
perjuangan bangsa Indonesia dalam
upaya mempertahankan kemerdekaan
dari ancaman, Sekutu, Belanda dan
menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.

106 | SEJARAH INDONESIA

KELAS XII
KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

1. Menghayati dan
1.1.
mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya

Mengamalkan hikmah kemerdekaan


sebagai tanda syukur kepada Tuhan
YME, dalam kegiatan membangun
kehidupan berbangsa dan bernegara

2. Menghayati dan
2.1.
mengamalkan perilaku jujur,
disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi
2.2.
atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai
2.3.
cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

Meneladani perilaku kerjasama,


tanggung jawab, cinta damai para
pejuang dalam mempertahankan
kemerdekaan dan menunjukkannya
dalam kehidupan sehari-hari.

3. Memahami, menerapkan,
3.1.
menganalisis dan
mengevaluasi pengetahuan
faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif
dalam berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
3.2.
budaya, dan humaniora
dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan
3.3.
prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya
untuk memecahkan masalah.
3.4.
107 | SEJARAH INDONESIA

Berlaku jujur dan bertanggungjawab


dalam mengerjakan tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah.
Menunjukkan sikap peduli dan proaktif
yang dipelajari dari peristiwa dan para
pelaku sejarah dalam menyelesaikan
permasalahan bangsa dan negara
Indonesia.

Mengevaluasi upaya bangsa Indonesia


dalam menghadapi ancaman
disintegrasi bangsa terutama dalam
bentuk pergolakan dan pemberontakan .

Mengevaluasi peran tokoh Nasional dan


Daerah yang berjuang mempertahankan
keutuhan negara dan bangsa Indonesia
pada masa 1948 1965.

Mengevaluasi perkembangan
kehidupan politik dan ekonomi bangsa
Indonesia pada masa Demokrasi Liberal.

Mengevaluasi perkembangan kehidupan

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR
politik dan ekonomi bangsa Indonesia
pada masa Demokrasi Terpimpin.

3.5.

Mengevaluasi kehidupan politik dan


ekonomi bangsa Indonesia pada masa
Orde Baru.

3.6.

Mengevaluasi kehidupan politik dan


ekonomi bangsa Indonesia pada masa
awal Reformasi.

3.7.

Mengevaluasi peran pelajar, mahasiswa,


dan tokoh masyarakat dalam perubahan
politik dan ketatanegaraan Indonesia.

3.8.

Mengevaluasi kontribusi bangsa


Indonesia dalam perdamaian dunia
diantaranya : ASEAN, Non Blok, dan Misi
Garuda.

3.9.

Mengevaluasi perubahan demokrasi


Indonesia dari tahun 1950 sampai
dengan era Reformasi.

4. Mengolah, menalar, menyaji, 4.1.


dan mencipta dalam ranah
konkret dan ranah abstrak
terkait dengan
pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah
secara mandiri serta
bertindak secara efektif dan
kreatif, dan mampu
menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.
4.2.

108 | SEJARAH INDONESIA

Merekonstruksi upaya bangsa Indonesia


dalam menghadapi ancaman disintegrasi
bangsa terutama dalam bentuk
pergolakan dan pemberontakan (antara
lain: PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi
Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI)
dan menyajikannya dalam bentuk cerita
sejarah.

Menulis sejarah tentang tokoh nasional


dan daerah yang berjuang
mempertahankan keutuhan negara dan
bangsa Indonesia pada masa 1948
1965.

KOMPETENSI INTI

109 | SEJARAH INDONESIA

KOMPETENSI DASAR
4.3.

Merekonstruksi perkembangan
kehidupan politik dan ekonomi bangsa
Indonesia pada masa Demokrasi Liberal
dan menyajikannya dalam bentuk
laporan tertulis.

4.4.

Melakukan penelitian sederhana tentang


kehidupan politik dan ekonomi bangsa
Indonesia pada masa Demokrasi
Terpimpin dan menyajikannya dalam
bentuk laporan tertulis.

4.5.

Melakukan penelitian sederhana tentang


kehidupan politik dan ekonomi bangsa
Indonesia pada masa Orde Baru dan
menyajikannya dalam bentuk laporan
tertulis.

4.6.

Melakukan penelitian sederhana tentang


kehidupan politik dan ekonomi bangsa
Indonesia pada masa awal Reformasi dan
menyajikannya dalam bentuk laporan
tertulis.

4.7.

Menulis sejarah tentang peran pelajar,


mahasiswa dan tokoh masyarakat dalam
perubahan politik dan ketatanegaraan
Indonesia.

4.8.

Menyajikan hasil telaah tentang


kontribusi bangsa Indonesia dalam
perdamaian dunia diantaranya : ASEAN,
Non Blok, dan Misi Garuda serta
menyajikannya dalam bentuk laporan
tertulis.

4.9.

Membuat studi komparasi tentang ide


dan gagasan perubahan demokrasi
Indonesia 1950 sampai dengan era
Reformasi dalam bentuk laporan tertulis.

110 | SEJARAH INDONESIA

SILABUS SMA/MA/SMK/MAK
Mata Pelajaran
Kelas
: X
Kompetensi Inti :

: Sejarah Indonesia (Wajib)

1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya


2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

Kompetensi Dasar
1.1 Menghayati keteladanan
para pemimpin dalam
mengamalkan ajaran
agamanya.
1.2 Menghayati keteladanan
para pemimpin dalam
toleransi antar umat

111 | SEJARAH INDONESIA

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Observasi:
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam

3 mg x 2 jp

Sumber
Belajar

beragama dan
mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari
2.1 Menunjukkan sikap
tanggung jawab, peduli
terhadap berbagai hasil
budaya pada masa pra
aksara, Hindu-Buddha
dan Islam
2.2 Meneladani sikap dan
tindakan cinta damai,
responsif dan pro aktif
yang ditunjukkan oleh
tokoh sejarah dalam
mengatasi masalah
sosial dan
lingkungannya

2.3 Berlaku jujur dan


bertanggungjawab
dalam mengerjakan
tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
3.1 Memahami dan
menerapkan konsep
berpikir kronologis
(diakronik), sinkronik,
ruang dan waktu dalam

Cara Berfikir
Mengamati:
Kronologis dan
membaca buku
Sinkronik
teks tentang cara
dalam

112 | SEJARAH INDONESIA

Buku Sejarah
Indonesia kelas
X.
Buku-buku lainya

Kompetensi Dasar
sejarah
4.1 Menyajikan informasi
mengenai keterkaitan
antara konsep berpikir
kronologis
( diakronik ), sinkronik,
ruang dan waktu dalam
sejarah

Materi Pokok
mempelajari
Sejarah

Pembelajaran
berfikir
kronologis,
sinkronik, dan
konsep waktu
dan ruang dalam
sejarah

Cara berfikir
kronologis
dalam
mempelajari
sejarah
Menanya:
Cara berfikir
sinkronik dalam
berdiskusi untuk
mempelajari
mendapatkan
sejarah
pendalaman
Konsep ruang
pengertian
dan waktu
tentang cara
berfikir
kronologis,
sinkronik, dan
konsep waktu dan
ruang dalam
sejarah

Mengeksplorasi
kan:
mengumpulkan
informasi terkait
dengan
pertanyaan
mengenai cara
berfikir

113 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
proses
mengumpulkan
data, analisis
data dan
pembuatan
laporan.

Portofolio::
menilai laporan
peserta didik
tentang cara
berfikir
kronologis,
sinkronik, ruang
dan waktu dalam
sejarah.

Tes tertulis:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam memahami
dan menerapkan
cara berfikir
kronologis,

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar
Internet (jika
tersedia)

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
kronologis,
sinkronik, konsep
ruang dan waktu
dari sumber
tertulis, sumber
lainnya dan atau
internet.

Mengasosiasikan:
menganalisis hasil
informasi yang
didapat dari
sumber tertulis
dan atau internet
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
keterkaitan
antara cara
berfikir
kronologis,
sinkronik dengan
konsep ruang
dan waktu
dalam sejarah.

Mengomunikasi
kan:
114 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
sinkronik serta
keterkaitannya
dengan konsep
ruang waktu dalam
sejarah.

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Observasi:
mengamati
kegiatan
peserta didik
dalam proses
mengumpulkan,
menganalisis
data dan
membuat
laporan.

8 mg x 2 jp

Sumber
Belajar

hasil analisis
kemudian di
laporkan dalam
bentuk tulisan
tentang
keterkaitan
antara cara
berfikir
kronologis,
sinkronik dengan
konsep ruang
dan waktu dalam
sejarah.

3.2 Memahami corak


kehidupan masyarakat
pada zaman praaksara
3.3 Menganalisis asal-usul
nenek moyang bangsa
Indonesia (Proto,
Deutero Melayu dan
Melanesoid)
3.4 Menganalisis
berdasarkan tipologi
hasil budaya Praaksara
Indonesia termasuk
yang berada di
lingkungan terdekat.

Indonesia Zaman Mengamati:


Praaksara: awal
membaca buku
kehidupan
teks dan melihat
Manusia
gambar-gambar
Indonesia.
tentang aktifitas
kehidupan
Kehidupan
masyarakat
masyarakat
zaman praaksara,
Indonesia
peta persebaran
Asal-usul nenek
asal-usul nenek
Moyang bangsa
moyang bangsa
Indonesia
Indonesia dan
Kebudayaan
peninggalan hasil
zaman
kebudayaan pada
praaksara
zaman praaksara.

115 | SEJARAH INDONESIA

Portofolio:

Buku Sejarah
Indonesia
kelas X.
Buku-buku
lainya
Internet (jika
tersedia)
Gambar
aktifitas
kehidupan
manusia
praaksara
Gambar hasilhasil

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
Menanya:

4.2 Menyajikan hasil


penalaran mengenai
corak kehidupan
masyarakat pada zaman
praaksara dalam bentuk
tulisan.
4.3 Menyajikan kesimpulankesimpulan dari
informasi mengenai
asal-usul nenek moyang
bangsa Indonesia (Proto,
Deutero Melayu dan
Melanesoid) dalam
bentuk tulisan.
4.4 Menalar informasi
mengenai hasil budaya
Praaksara Indonesia
termasuk yang berada di
lingkungan terdekat dan
menyajikannya dalam
bentuk tertulis.

116 | SEJARAH INDONESIA

berdiskusi untuk
mendapatkan
klarifikasi
tentang
kehidupan
masyarakat
zaman
praaksara,
persebaran asalusul nenek
moyang bangsa
Indonesia dan
peninggalan hasil
kebudayaan pada
zaman
praaksara.

Mengeksplorasi
kan:
mengumpulkan
informasi terkait
dengan
pertanyaan
mengenai
masyarakat
Indonesia zaman

Penilaian
menilai
portofolio
peserta didik
tentang zaman
praaksara di
Indonesia.

Tes
tertulis/lisan:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
memahami dan
menganalisis
konsep tentang
Indonesia pada
zaman
praaksara

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

peninggalan
kebudayaan
praaksara
Peta
penyebaran
nenek
moyang
bangsa
Indonesia

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
praaksara melalui
bacaan,
pengamatan
terhadap sumbersumber
praaksara yang
ada di museum
atau
peninggalanpeninggalan yang
ada di lingkungan
terdekat

Mengasosiasika
n:
menganalisis
informasi dan
data-data yang
didapat baik dari
bacaan maupun
dari sumbersumber lain yang
terkait untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
Indonesia pada
zaman praaksara.
Mengomunikasik

117 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

an:
hasil analisis
kemudian
disampaikan
dalam bentuk
laporan tertulis
tentang
Indonesia pada
zaman praaksara.

3.5 Menganalisis berbagai


teori tentang proses
masuk dan
berkembangnya agama
dan kebudayaan HinduBuddha di Indonesia.

Indonesia
Mengamati:
Zaman HinduBuddha: Silang membaca buku
teks dan melihat
Budaya Lokal
gambar-gambar
dan Global
tentang
Indonesia pada
Tahap Awal

zaman Hindu3.6 Menganalisis


Buddha.
Teori -teori masuk
karakteristik kehidupan
dan
masyarakat,
berkembangnya
pemerintahan dan
Menanya:
Hindu-Buddha
kebudayaan pada masa
kerajaan-kerajaan Hindu- Kerajaan-kerajaan
berdiskusi untuk
Hindu-Buddha
Buddha di Indonesia dan
mendapatkan
Bukti-bukti
menunjukan contoh
klarifikasi tentang
Kehidupan
bukti-bukti yang masih
kehidupan
pengaruh Hinduberlaku pada kehidupan
masyarakat
Buddha yang
masyarakat Indonesia
Indonesia pada
masih ada pada
masa kini.
zaman Hindusaat ini

118 | SEJARAH INDONESIA

Observasi:
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
mengumpulkan,
menganalisis
data dan
membuat
laporan.

Portofolio:
menilai portofolio
peserta didik
tentang

12 mg x 2 jp

Buku Sejarah
Indonesia kelas
X.
Buku-buku lainya
Internet ( jika
tersedia)
Gambar hasil-hasil
peninggalan
zaman HinduBuddha
Peta letak
kerajaankerajaan Hindu
Buddha di
Indonesia

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
Buddha.

4.5 Mengolah informasi


mengenai proses masuk
dan perkembangan
kerajaan Hindu-Buddha
dengan menerapkan
cara berpikir kronologis,
dan pengaruhnya pada
kehidupan masyarakat
Indonesia masa kini
serta
mengemukakannya
dalam bentuk tulisan.
4.6 Mengolah informasi
mengenai proses
masuk dan
perkembangan kerajaan
Islam dengan
menerapkan cara
berpikir kronologis, dan
pengaruhnya pada
kehidupan masyarakat
Indonesia masa kini
serta
mengemukakannya
dalam bentuk tulisan.

Mengeksplorasi
kan:
mengumpulkan
informasi terkait
dengan
pertanyaan
tentang
Indonesia pada
zaman HinduBuddha melalui
bacaan, internet,
pengamatan
terhadap sumbersumber sejarah
yang ada di
museum dan
atau
peninggalanpeninggalan yang
ada di lingkungan
terdekat

Mengasosiasika
n:
menganalisis
informasi dan

119 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
Indonesia pada
zaman HinduBuddha

Tes
tertulis/lisan:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
menganalisis
konsep tentang
Indonesia pada
zaman HinduBuddha.

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

data-data yang
didapat baik dari
bacaan maupun
dari sumbersumber terkait
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
Indonesia pada
zaman HinduBuddha.

Mengomunikasi
kan:
hasil analisis
kemudian
dilaporkan dalam
bentuk tertulis
tentang
Indonesia pada
zaman HinduBuddha.
3.7 Menganalisis berbagai
teori tentang proses
masuk dan
berkembangnya agama
dan kebudayaan Islam di
Indonesia.

Zaman
Mengamati:
Perkembangan
membaca buku
Kerajaanteks dan melihat
Kerajaan Islam
gambar-gambar
di Indonesia
tentang zaman
Teori-teori masuk

120 | SEJARAH INDONESIA

perkembangan
kerajaan-kerajaan

Observasi:
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan

12 mg x 2 jp

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas
X.
Buku-buku lainya
Internet ( jika
tersedia)
Gambar hasil-hasil

Kompetensi Dasar
3.8 Mengidentifikasi
karakteristik kehidupan
masyarakat,
pemerintahan dan
kebudayaan pada masa
kerajaan-kerajaan Islam
di Indonesia dan
menunjukan contoh
bukti-bukti yang masih
berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia
masa kini.
4.7 Menyajikan hasil
penalaran dalam bentuk
tulisan tentang nilai-nilai
dan unsur budaya yang
berkembang pada masa
kerajaan Hindu-Buddha
dan masih berkelanjutan
dalam kehidupan bangsa
Indonesia pada masa
kini.

Materi Pokok

Pembelajaran

dan
Islam di
berkembangnya
Indonesia
Islam
Kerajaan-kerajaan
Islam
Menanya:
Bukti-bukti
Kehidupan
berdiskusi untuk
pengaruh Islam
mendapatkan
yang masih ada
klarifikasi tentang
pada saat ini
zaman
perkembangan
kerajaan-kerajaan
Islam di
Indonesia.

4.8 Menyajikan hasil


penalaran dalam bentuk
tulisan tentang nilai-nilai
dan unsur budaya yang
berkembang pada masa
kerajaan Islam dan
masih berkelanjutan

121 | SEJARAH INDONESIA

Mengeksplorasi
kan:
mengumpulkan
informasi terkait
dengan
pertanyaan dan
materi tentang
zaman
perkembangan
kerajaan-kerajaan
Islam di
Indonesia melalui
bacaan, internet,
pengamatan
terhadap sumber-

Penilaian
data, analisis
data dan
pembuatan
lapora.

Portofolio:
menilai portofolio
peserta didik
tentang
perkembangan
kerajaan-kerajaan
Islam di
Indonesia.

Tes tertulis/lisan:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
menganalisis
konsep tentang
perkembangan
kerajaan-kerajaan

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar
peninggalan
zaman Islam
Peta letak
kerajaankerajaan Islam di
Indonesia

Kompetensi Dasar
dalam kehidupan bangsa
Indonesia pada masa
kini

Materi Pokok

Pembelajaran
sumber sejarah
yang ada di
museum dan
atau
peninggalanpeninggalan yang
ada di lingkungan
terdekat.

Mengasosiasika
n:
menganalisis
informasi dan
data-data yang
didapat baik dari
bacaan maupun
dari sumbersumber terkait
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang zaman
perkembangan
kerajaan-kerajaan
Islam di
Indonesia.

Mengomunikasi
kan:
122 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
Islam di Indonesia

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
hasil analisis yang
telah dilakukan
kemudian
dilaporkan dalam
bentuk tulisan
tentang zaman
perkembangan
kerajaan-kerajaan
Islam di
Indonesia.

123 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia (Wajib)


Kelas
: XI
Kompetensi Inti
:
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama,
toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas
berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan
dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar
1.1 Menghayati nilai-nilai
persatuan dan keinginan
bersatu dalam
perjuangan pergerakan
nasional menuju
kemerdekaan bangsa
sebagai karunia Tuhan
Yang Maha Esa
terhadap bangsa dan

124 | SEJARAH INDONESIA

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar
negara Indonesia.
2.1 Mengembangkan nilai
dan perilaku
mempertahankan harga
diri bangsa dengan
bercermin pada
kegigihan para pejuang
dalam melawan
penjajah.
2.2 Meneladani perilaku
kerjasama, tanggung
jawab, cinta damai para
pejuang dalam
mewujudkan cita-cita
mendirikan negara dan
bangsa Indonesia dan
menunjukkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
2.3 Meneladani perilaku
kerjasama, tanggung
jawab, cinta damai para
pejuang untuk meraih
kemerdekaan dan
menunjukkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
2.4 Meneladani perilaku

125 | SEJARAH INDONESIA

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Observasi :
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan
data, analisis
data, dan
pembuatan
laporan.

12 mg x 2 jp

Sumber
Belajar

kerjasama, tanggung
jawab, cinta damai
para pejuang untuk
mempertahankan
kemerdekaan dan
menunjukkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
2.5 Berlaku jujur dan
bertanggungjawab
dalam mengerjakan
tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
3.1 Menganalisis
perubahan, dan
keberlanjutan dalam
peristiwa sejarah pada
masa penjajahan asing
hingga proklamasi

kemerdekaan Indonesia.

Perkembangan
Mengamati :
Kolonialisme dan
membaca buku
Imperialisme
teks tentang
Barat
pertumbuhan dan
perkembangan
Perubahan, dan
kolonialisme dan
keberlanjutan
imperialisme
dalam peristiwa
Barat dan
sejarah pada
3.2 Menganalisis proses
strategi
masa penjajahan
masuk dan
perlawanan
asing hingga
perkembangan
bangsa Indonesia
proklamasi
penjajahan bangsa
terhadap
kemerdekaan
Barat ( Portugis, Belanda
penjajahan
Indonesia
dan Inggris ) di
bangsa Barat di
Proses masuk dan
Indonesia.
Indonesia
perkembangan
sebelum dan
penjajahan

126 | SEJARAH INDONESIA

Portofolio:
menilai laporan

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas
Xi.
Buku-buku lainnya
Internet ( jika
tersedia)
Gambar aktifitas
imperialisme dan
kolonialisme Barat
di Indonesia.
Gambar-gambar
bentuk
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat..

Kompetensi Dasar
3.3 Menganalisis strategi
perlawanan bangsa
Indonesia terhadap
penjajahan bangsa
Barat di Indonesia
sebelum dan sesudah
abad ke-20.
4.1 Mengolah informasi
tentang peristiwa
sejarah pada masa
penjajahan Bangsa
Barat berdasarkan
konsep perubahan dan
keberlanjutan, dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.2 Mengolah informasi
tentang proses masuk
dan perkembangan
penjajahan Bangsa
Barat di Indonesia dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.

Materi Pokok

Pembelajaran

Bangsa Barat di
sesudah abad keIndonesia
20.
Strategi
Menanya:
perlawanan
bangsa Indonesia
berdiskusi untuk
terhadap
penjajahan
mendapatkan
Bangsa Barat di
klarifikasi tentang
Indonesia
pertumbuhan
sebelum dan
dan
sesudah abad keperkembangan
20.
kolonialisme dan
imperialisme
Barat dan
strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat di
Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20.

4.3 Mengolah informasi


tentang strategi
perlawanan bangsa
Indonesia terhadap

127 | SEJARAH INDONESIA

Mengeksplorasik
an:

mengumpulkan
informasi
terkait
dengan

Penilaian
peserta didik
tentang
pertumbuhan dan
perkembangan
kolonialisme dan
imperialisme Barat
dan strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan bangsa
Barat di Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20.

Tes tertulis:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
menganalisis
tentang
pertumbuhan
dan
perkembangan
kolonialisme dan

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar
Peta lokasi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap bangsa
Barat.

Kompetensi Dasar
penjajahan Bangsa
Barat di Indonesia
sebelum dan sesudah
abad ke-20 dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.

Materi Pokok

Pembelajaran
pertanyaan
mengenai
pertumbuhan
dan
perkembangan
kolonialisme dan
imperialisme
Barat dan
strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat di
Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20, melalui
bacaan, internet
dan sumbersumber lain.
Mengasosiasikan:
menganalisis
informasi yang
didapat dari
sumber tertulis
dan atau
internet serta

128 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
imperialisme
Barat dan
strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat di
Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
sumber lainya
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
pertumbuhan
dan
perkembangan
kolonialisme dan
imperialisme
Barat dan
strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat di
Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20.
Mengomunikasik
an:
hasil analisis yang
telah dilakukan
selanjutnya
dibuat laporan
dalam bentuk
tulisan tentang
pertumbuhan
dan

129 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Observasi :
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan
data, analisis
data dan
pembuatan
laporan.

12 mg x 2 jp

Sumber
Belajar

perkembangan
kolonialisme dan
imperialisme
Barat dan
strategi
perlawanan
bangsa Indonesia
terhadap
penjajahan
bangsa Barat di
Indonesia
sebelum dan
sesudah abad ke20.
3.4 Menganalisis persamaan Pergerakan
Mengamati:
dan perbedaan
Nasional
pendekatan dan strategi Indonesia
membaca buku
pergerakan nasional di
teks tentang
Indonesia pada masa
strategi
Strategi
awal kebangkitan
pergerakan,
pergerakan
nasional, Sumpah
tokoh-tokoh
nasional di
Pemuda dan
pergerakan
Indonesia
sesudahnya sampai
nasional dan
pada.masa awal
dengan Proklamasi
dampak
kebangkitan
Kemerdekaan.
penjajahan Barat
nasional,
dalam kehidupan
Sumpah
bangsa Indonesia
Pemuda, dan
3.5 Menganalisis peran
masa kini.
sesudahnya
tokoh-tokoh Nasional
sampai dengan
dan Daerah dalam
Menanya:
Proklamasi
perjuangan menegakkan
Kemerdekaan.

130 | SEJARAH INDONESIA

Portofolio:
menilai laporan

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas
XI.
Buku-buku lainya
Internet ( jika
tersedia)
Gambar aktifitas
pergerakan
nasional
Indonesia
Gambar gambar
tokoh pergerakan
nasional
Indonesia

Kompetensi Dasar
negara Republik
Indonesia.

Materi Pokok

3.6 Menganalisis dampak


politik, budaya, sosialekonomi dan pendidikan
pada masa penjajahan

Barat dalam kehidupan


bangsa Indonesia masa
kini.
4.4 Mengolah informasi
tentang persamaan dan
perbedaan pendekatan
dan strategi pergerakan
nasional di Indonesia
pada masa awal
kebangkitan nasional,
pada masa Sumpah
Pemuda, masa
sesudahnya sampai
dengan Proklamasi
Kemerdekaan dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.5 Menulis sejarah tentang
satu tokoh nasional dan
tokoh dari daerahnya
yang berjuang melawan

131 | SEJARAH INDONESIA

Pembelajaran

Tokoh-Tokoh
berdiskusi untuk
Nasional dan
mendapatkan
Daerah dalam
klarifikasi
Perjuangan
tentang strategi
Menegakkan
pergerakan,
Negara Republik
tokoh-tokoh
Indonesia
pergerakan
nasional dan
Dampak politik,
dampak
budaya, sosialpenjajahan Barat
ekonomi dan
dalam kehidupan
pendidikan pada
bangsa Indonesia
masa
masa kini.
penjajahan
Barat dalam
Mengeksplorasik
kehidupan
bangsa
an:
Indonesia masa
kini
mengumpulkan

informasi
terkait

dengan strategi
pergerakan,
tokoh-tokoh
pergerakan
nasional dan
dampak
penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia
masa kini melalui
bacaan, internet

Penilaian
peserta didik
tentang strategi
pergerakan,
tokoh-tokoh
pergerakan
nasional dan
dampak
penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia
masa kini.

Tes tertulis:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
menganalisis
tentang strategi
pergerakan,
tokoh-tokoh
pergerakan
nasional dan
dampak
penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar
penjajahan kolonial
Barat
4.6 Menalar dampak politik,
budaya, sosial-ekonomi
dan pendidikan pada
masa penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia masa
kini dan menyajikannya
dalam bentuk cerita
sejarah.

Materi Pokok

Pembelajaran
dan sumbersumber lainnya.
Mengasosiasikan:
menganalisis
informasi dan
data-data yang
didapat baik dari
bacaan maupun
dari sumbersumber terkait
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang strategi
pergerakan,
tokoh-tokoh
pergerakan
nasional dan
dampak
penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia
masa kini.
Mengomunikasik
an
hasil analisis dan
evaluasi
selanjutnya

132 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
masa kini.

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

dilaporkan dalam
bentuk tulisan
yang terkait
dengan strategi
pergerakan,
tokoh-tokoh
pergerakan
nasional dan
dampak
penjajahan Barat
dalam kehidupan
bangsa Indonesia
masa kini.
3.7 Menganalisis peristiwa
proklamasi
kemerdekaan dan
maknanya bagi
kehidupan sosial,
budaya, ekonomi,
politik, dan pendidikan
bangsa Indonesia.
3.8 Menganalisis peristiwa
pembentukan
pemerintahan pertama
Republik Indonesia dan
maknanya bagi
kehidupan kebangsaan
Indonesia masa kini.

Proklamasi
Kemerdekaan
Indonesia
Peristiwa
proklamasi
kemerdekaan
Pembentukan
pemerintahan
pertama
Republik
Indonesia
Tokoh proklamator
Indonesia

Mengamati:
membaca buku
teks dan melihat
gambar-gambar
tentang peristiwa
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
dan tokoh-tokoh
proklamator
Indonesia.

mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan
data, analisis
data dan
pembuatan
laporan.

Menanya:
berdiskusi untuk

133 | SEJARAH INDONESIA

Observasi :

Portofolio:

6 mg x 2 jp

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas XI.
Buku-buku lainya.
Internet ( jika
tersedia )
Sumber lain yang
tersedia
Gambar-gambar
peristiwa sekitar
proklamasi
kemerdekaan dan
pembentukan
pemerintahan
pertama RI
Gambar-gambar
tokoh- tokoh yang
berperanan
penting dalam

Kompetensi Dasar
3.9 Menganalisis peran
Bung Karno dan Bung
Hatta sebagai
proklamator serta tokohtokoh proklamasi
lainnya.
4.7 Menalar peristiwa
proklamasi
kemerdekaan dan
maknanya bagi
kehidupan sosial,
budaya, ekonomi,
politik, dan pendidikan
bangsa Indonesia dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.8 Menalar peristiwa
pembentukan
pemerintahan pertama
Republik Indonesia dan
maknanya bagi
kehidupan kebangsaan
Indonesia masa kini dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.9 Menulis sejarah tentang
perjuangan Bung Karno

134 | SEJARAH INDONESIA

Materi Pokok

Pembelajaran
mendapatkan
klarifikasi
tentang
peristiwa
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
dan tokoh-tokoh
proklamator
Indonesia.

Mengeksplorasi
kan:

mengumpulkan
informasi
terkait

peristiwa
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
dan tokohtokoh
proklamator
Indonesia
melalui bacaan
dan atau

Penilaian
menilai laporan
peserta didik
tentang
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
pertama
Republik
Indonesia, serta
peran tokoh
proklamator
dalam
proklamasi.

Tes tertulis:
menilai
kemampuan
peserta didik
dalam
mengevaluasi
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar
proklamasi
kemerdekaan RI

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
internet, serta
sumbersumber
lainnya.

dan Bung Hatta

Mengasosiasika
n:

135 | SEJARAH INDONESIA

menganalisis
informasi dan
data-data yang
didapat dari
bacaan maupun
dari sumbersumber terkait
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
peristiwa
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
dan tokoh-tokoh
proklamator
Indonesia
melalui bacaan,
internet, serta
sumber-sumber

Penilaian
pertama
Republik
Indonesia, serta
peran tokoh
proklamator
dalam
proklamasi.

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Penilaian

Alokasi
Waktu

Observasi :
mengamati
kegiatan peserta
didik dalam
proses
mengumpulkan
data, analisis
data dan

5 mg x 3 jp

Sumber
Belajar

lainnya.

Mengomunikasi
kan:
hasil analisis
kemudian
dilaporkan dalam
bentuk tulisan
yang berisikan
tentang
peristiwa
proklamasi
kemerdekaan,
pembentukan
pemerintahan
pertama, tokohtokoh
proklamator
Indonesia.
3.10 Menganalisis
perubahan dan
perkembangan politik
masa awal
kemerdekaan

Perjuangan
Mempertahanka
n Kemerdekaan
dari Ancaman
Sekutu dan
Belanda

3.11 Menganalisis
Perubahan dan
perjuangan bangsa
Indonesia dalam upaya
perkembangan

136 | SEJARAH INDONESIA

Mengamati:

membaca buku
teks dan melihat
gambar-gambar
tentang
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas XI.
Buku-buku lainya.
Internet ( jika
tersedia )
Sumber lain yang
tersedia

Kompetensi Dasar
mempertahankan
kemerdekaan dari
ancaman Sekutu dan
Belanda.
4.10 Menalar perubahan
dan perkembangan
politik masa awal
proklamasi dan
menyajikanya dalam
bentuk cerita sejarah.
4.11 Mengolah informasi
tentang perjuangan
bangsa Indonesia
dalam upaya
mempertahankan
kemerdekaan dari
ancaman Sekutu,
Belanda dan
menyajikanya dalam
bentuk cerita sejarah.

Materi Pokok

Pembelajaran

pihak Sekutu
politik masa
dan Belanda.
awal
kemerdekaan
Perjuangan
Menanya:
bangsa
Indonesia
berdiskusi untuk
dalam upaya
mendapatkan
mempertahank
klarifikasi
an
tentang peristiwa
kemerdekaan
ancaman
dari ancaman
terhadap
Sekutu, dan
kemerdekaan
Indonesia dari
Belanda

137 | SEJARAH INDONESIA

pihak Sekutu dan


Belanda.

Mengeksplorasi
kan:

mengumpulkan
informasi terkait
dengan
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu
dan Belanda.

Penilaian
pembuatan
laporan tentang
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu dan
Belanda.

Portofolio:
menilai laporan
peserta didik
tentang
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu dan
Belanda.

Tes Tertulis:
menilai
kemampuan
peserta didik

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran

Mengasosiasika
n:
menganalisis
informasi dan
data-data yang
didapat dari
bacaan maupun
dari sumbersumber terkait
untuk
mendapatkan
kesimpulan
tentang
peristiwa
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu dan
Belanda.

Mengomunikasi
kan:
hasil analisis
kemudian
dilaporkan dalam
bentuk tulisan
yang berisi

138 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian
dalam
mengevaluasi
peristiwa
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu dan
Belanda

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Kompetensi Dasar

Materi Pokok

Pembelajaran
tentang
peristiwa
ancaman
terhadap
kemerdekaan
Indonesia dari
pihak Sekutu dan
Belanda.

139 | SEJARAH INDONESIA

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber
Belajar

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia (Wajib)


Kelas
: XII
Kompetensi Inti
:
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif
dalam berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya
di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif,
dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

140 | SEJARAH INDONESIA

Kompetensi Dasar
1.2 Mengamalkan hikmah
kemerdekaan sebagai
tanda syukur kepada
Tuhan YME, dalam
kegiatan membangun
kehidupan berbangsa
dan bernegara.
2.1 Meneladani perilaku
kerjasama, tanggung
jawab, cinta damai
para pejuang dalam
mempertahankan
kemerdekaan dan
menunjukkannya
dalam kehidupan
sehari-hari
2.2 Berlaku jujur dan
bertanggungjawab
dalam mengerjakan
tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
2.3 Menunjukan sikap
peduli dan proaktif
yang dipelajari dari
peristiwa dan para
pelaku sejarah dalam
menyelesaikan

141 | SEJARAH INDONESIA

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

permasalahan bangsa
dan negara Indonesia.
3.1 Mengevaluasi upaya
bangsa Indonesia
dalam menghadapi
ancaman disintegrasi
bangsa terutama
dalam bentuk
pergolakan dan
pemberontakan
3.2 Mengevaluasi peran
tokoh Nasional dan
Daerah yang Berjuang
Mempertahankan
Keutuhan Negara dan
bangsa Indonesia
pada masa 1948
1965

Perjuangan
Mengamati:
Bangsa
melalui
Indonesia
menyimak
dalam
penjelasan
Mempertaha
guru,
membaca
nkan
buku,
Integrasi
melihat fotoBangsa
foto, film
Indonesia
dokumenter,
browsing di
dalam
internet (jika
Mempertaha
tersedia)
nkan
tentang
Integrasi
perjuangan
bangsa
Bangsa dan
Indonesia
Negara RI.

4.1 Merekonstruksi upaya Upaya bangsa


bangsa Indonesia
Indonesia
dalam menghadapi
dalam
ancaman disintegrasi
menghadap
bangsa terutama
i ancaman
dalam bentuk
disintegrasi
pergolakan dan
bangsa
pemberontakan
terutama
(antara lain:PKI

dalam

142 | SEJARAH INDONESIA

dalam
mempertah
ankan
integrasi
bangsa dan
negara RI.

Menanya:
berdiskusi

Tugas:
menilai
tugas
individu
(menga
mati,
menanya
,
pengump
ulan
data,
asosiasi,
komunik
asi).

Observa
si:
mengam
ati
kegiatan
peserta

8 mg x 2 jp

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas XII
Buku-buku lainnya.
Internet (jika
tersedia)
Gambar-gambar
tentang
perjuangan
bangsa Indonesia
dalam
mempertahankan
kemerdekaan
Film dokumenter
Peta Indonesia

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

bentuk
pergolakan
dan
pemberonta
kan
Tokoh nasional
dan daerah
yang
4.2. Menulis sejarah
berjuang
tentang tokoh nasional
dan daerah yang
mempertah
berjuang
ankan
mempertahankan
keutuhan
keutuhan negara dan
negara dan
bangsa Indonesia
bangsa
pada masa 1948Indonesia
1965.
pada masa
1948 -1965
Madiun 1948, DI/TII,
APRA, Andi Aziz, RMS,
PRRI, Permesta, G-30S/PKI) dan
menyajikannya dalam
bentuk cerita sejarah.

143 | SEJARAH INDONESIA

Pembelaja
ran

Penilai
an

untuk
mendapatka
n klarifikasi
tentang
perjuangan
bangsa
Indonesia
dalam
mempertah
ankan
integrasi
bangsa dan
negara RI.

didik
dalam
proses
mengum
pulkan
data,
analisis
data dan
pembuat
an
laporan.

Mengekspl
orasikan:
mengumpulka
n informasi
yang terkait
dengan
perjuangan
bangsa
Indonesa
dalam
mempertah
ankan
integrasi
bangsa dan
negara RI
kemerdekaa
n melalui

Portofol
io:
laporan
yang
dibuat
peserta
didik
tentang
perjuang
an
bangsa
Indonesi
a dalam

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

bacaan atau
pengamata
n terhadap
sumber
sejarah.

mempert
ahankan
integrasi
bangsa
dan

Mengasosia
sikan:
mengevaluasi
informasi
dan datadata yang
didapat dari
bacaan
maupun dari
sumbersumber
terkait
tentang
perjuangan
bangsa
Indonesa
dalam
mempertah
ankan
integrasi
bangsa dan
negara RI

144 | SEJARAH INDONESIA

negara
RI.

Tes
tertulis:
menilai
kemamp
uan
peserta
didik
dalam
mengeva
luasi
tentang
tentang
perjuang
an
bangsa
Indonesi

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

kemerdekaa
n.

a dalam
perjuang
an
bangsa
Indonesi
a dalam
mempert
ahankan
integrasi
bangsa
dan
negara
RI

Mengomuni
kasikan:
hasil evaluasi
kemudian
dilaporkan
dalam
bentuk
tulisan yang
berisi
tentang
perjuangan
bangsa
Indonesa
dalam
mempertah
ankan
integrasi
bangsa dan
negara RI
kemerdekaa
n.
3.3 Mengevaluasi
perkembangan
kehidupan politik,

145 | SEJARAH INDONESIA

Indonesia
pada masa
Demokrasi

Mengamati:
melalui

Tugas:
menilai

Alokasi
Waktu

6 mg x 2 jp

Sumber Belajar

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas XII
Buku-buku lainnya.

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok
Liberal dan
Demokrasi
Terpimpin

sosial dan ekonomi


bangsa Indonesia pada
masa Demokrasi
Liberal.

3.4 Mengevaluasi
perkembangan
kehidupan politik,
sosial dan ekonomi
bangsa Indonesia
pada masa Demokrasi
Terpimpin.
4.3 Merekonstruksi
perkembangan
kehidupan politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada masa
Demokrasi Liberal dan
menyajikannya dalam
bentuk laporan
tertulis.

Perkembangan
kehidupan
politik, sosial
dan ekonomi
bangsa
Indonesia
pada masa
Demokrasi
Liberal.
Perkembangan
kehidupan
politik, sosial
dan ekonomi
bangsa
Indonesia
pada masa
Demokrasi
Terpimpin.

4.4 Melakukan penelitian


sederhana tentang
kehidupan politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada masa

146 | SEJARAH INDONESIA

Pembelaja
ran
menyimak
penjelasan
guru,
membaca
buku,
melihat
foto-foto,
film
dokumenter
, browsing
di internet
(jika
tersedia)
tentang
perubahan
dan
perkembang
an
politik,sosial
dan
ekonomi
masa
Demokrasi
Liberal dan
Demokrasi
Terpimpin.

Menanya:
berdiskusi
untuk
mendapatka

Penilai
an
tugas
individu
(menga
mati,
menanya
,
pengump
ulan
data,
asosiasi,
komunik
asi).

Observa
si,
mengam
ati
kegiatan
peserta
didik
dalam
proses
mengum
pulkan
data,

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar
Internet (jika
tersedia)
Gambar-gambar
tentang
demokrasi Liberal
dan Terpimpin
Film dokumenter
Peta Indonesia

Kompetensi Dasar
Demokrasi Terpimpin
dan menyajikannya
dalam bentuk laporan
tertulis.

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

n klarifikasi
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa
Demokrasi
Liberal dan
Demokrasi
Terpimpin.

analisis
data dan
pembuat
an
laporan.

Mengekspl
orasikan:
mengumpulka
n informasi
yang terkait
dengan
materi
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa
Demokrasi
Liberal dan
Demokrasi

147 | SEJARAH INDONESIA

Portofol
io:
menilai
laporan
yang
dibuat
peserta
didik
tentang
perubaha
n dan
perkemb
angan
politik,
sosial
dan
ekonomi
masa
Demokra

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

Terpimpin
melalui
bacaan,
pengamatan
terhadap
sumber
sejarah,
buku, fotofoto, film
dokumenter
, dan
internet
(jika
tersedia).

si Liberal
dan
Demokra
si
Terpimpi
n.

Mengasosia
sikan:
mengevaluasi
data-data
hasil
wawancara,
membaca
buku,
melihat
foto-foto,
menonton
film
dokumenter
dan
browsing di
internet

148 | SEJARAH INDONESIA

Tes
tertulis:
menilai
kemamp
uan
peserta
didik
dalam
mengeva
luasi
tentang
perubaha
n dan
perkemb
angan
politik,
sosial

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa
Demokrasi
Liberal dan
Demokrasi
Terpimpin.

dan
ekonomi
masa
Demokra
si Liberal
dan
Demokra
si
Terpimpi
n

Mengomuni
kasikan:

hasil evaluasi
dilaporkan
ke dalam
bentuk
tulisan yang
isinya
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik
dan
ekonomi
masa
Demokrasi
Liberal dan
Demokrasi
Terpimpin.

149 | SEJARAH INDONESIA

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

3.5 Mengevaluasi
kehidupan politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada masa
Orde Baru.
3.6 Mengevaluasi
kehidupan politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada masa
awal Reformasi.

Materi
Pokok

Kehidupan
Mengamati:
Bangsa
Indonesia di melalui
menyimak
Masa Orde
penjelasan
Baru dan
guru,
membaca
Reformasi

Kehidupan
politik dan
ekonomi
bangsa
Indonesia
pada masa
3.7 Mengevaluasi peran
Orde Baru.
pelajar, Mahasiswa

Kehidupan
dan tokoh masyarakat
politik dan
dalam perubahan
ekonomi
politik dan
bangsa
ketatanegaraan
Indonesia
Indonesia
pada masa
awal
Reformasi.
4.5 Melakukan penelitian
Peran pelajar,
sederhana tentang
mahasiswa
kehidupan politik dan
dan tokoh
ekonomi bangsa
masyarakat
Indonesia pada masa
dalam
Orde Baru dan
perubahan
menyajikannya dalam
politik dan
bentuk laporan
ketatanegara

150 | SEJARAH INDONESIA

Pembelaja
ran

buku,
melihat
foto-foto,
film
dokumenter
, browsing
di internet
(jika
tersedia)
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa Orde
Baru dan
awal
Reformasi
serta peran
mahasiswa,
pelajar, dan
pemuda

Penilai
an

Tugas:
menilai
tugas
individu
(menga
mati,
menanya
,
pengump
ulan
data,
asosiasi,
komunik
asi)

Observa
si:
mengam
ati
kegiatan
peserta
didik
dalam

Alokasi
Waktu

8 mg x 2 jp

Sumber Belajar

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas XII
Buku-buku lainnya
Internet (jika
tersedia)
Gambar-gambar
tentang masa Orde
Baru dan
Reformasi
Film dokumenter
Peta Indonesia

Kompetensi Dasar
tertulis.
4.6 Melakukan penelitian
sederhana tentang
kehidupan politik dan
ekonomi bangsa
Indonesia pada masa
awal Reformasi dan
menyajikannya dalam
bentuk laporan
tertulis.

4.7 Menulis sejarah


tentang peran pelajar,
mahasiswa dan tokoh
masyarakat dalam
perubahan politik dan
ketatanegaraan
Indonesia.

151 | SEJARAH INDONESIA

Materi
Pokok
an Indonesia

Pembelaja
ran

Penilai
an

dalam
berbagai
peristiwa
yang terjadi
pada masa
tersebut.

proses
mengum
pulkan
data,
analisis
data dan
pembuat
an
laporan.

Menanya:
berdiskusi
untuk
mendapatka
n klarifikasi
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa Orde
Baru dan
awal
Reformasi
serta peran
mahasiswa,
pelajar, dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang terjadi

Portofol
io:
menilai
laporan
yang
dibuat
peserta
didik
tentang
perubaha
n dan
perkemb
angan
politik,
sosial

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

pada masa
tersebut.

dan
ekonomi
masa
Orde
Baru dan
awal
Reformas
i serta
peran
mahasis
wa,
pelajar,
dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang
terjadi
pada
masa
tersebut.

Mengekspl
orasikan:
mengumpulka
n informasi
lanjutan
terkait
dengan
pertanyaan
dan materi
tentang
perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa Orde
Baru serta
peran
mahasiswa,
pelajar, dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang terjadi
pada masa
tersebut

152 | SEJARAH INDONESIA

Tes
tertulis:

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran
melalui
bacaan,
pengamatan
terhadap
sumber
sejarah,
buku, fotofoto, film
dokumenter
, dan
internet.

Mengasosia
sikan:
mengevaluasi
data-data
hasil
wawancara,
membaca
buku,
melihat
foto-foto,
menonton
film
dokumenter
dan
browsing di
internet
(jika
tersedia)ten
tang

153 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an
menilai
kemamp
uan
peserta
didik
dalam
mengeva
luasi
tentang
perubaha
n dan
perkemb
angan
politik,
sosial
dan
ekonomi
masa
Orde
Baru dan
awal
Reformas
i serta
peran
mahasis
wa,
pelajar,

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

perubahan
dan
perkembang
an politik,
sosial, dan
ekonomi
masa Orde
Baru dan
awal
Reformasi
serta peran
mahasiswa,
pelajar, dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang terjadi
pada masa
tersebut.

dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang
terjadi
pada
masa
tersebut

Mengomuni
kasikan:
hasil evaluasi
dilaporkan
dalam
bentuk
tulisan yang
isinya
tentang
perubahan

154 | SEJARAH INDONESIA

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Tugas:

6 mg x 2 jp

dan
perkembang
an politik,
sosial dan
ekonomi
masa Orde
Baru dan
awal
Reformasi
serta peran
mahasiswa,
pelajar, dan
pemuda
dalam
berbagai
peristiwa
yang terjadi
pada masa
tersebut.
3.8 Mengevaluasi
kontribusi bangsa
Indonesia dalam
perdamaian dunia
diantaranya ; ASEAN,
Non Blok dan Misi
Garuda.

Kontribusi
Bangsa
Indonesia
dalam
Perdamaian
Dunia.

Kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
155 | SEJARAH INDONESIA
4.8 Menyajikan hasil
telaah tentang
kontribusi bangsa

Mengamati
:
menyimak
penjelasan
guru,
membaca
buku,
melihat
foto-foto,
film
dokumenter

menilai
tugas
individu
(menga
mati,
menanya
,
pengump

Buku Paket
Sejarah
Indonesia kelas
XII
Buku-buku
lainnya.
Internet (jika
tersedia)
Gambar-gambar
tentang
kontribusi
bangsa

Kompetensi Dasar
Indonesia dalam
perdamaian dunia
diantaranya ; ASEAN,
Non Blok, dan Misi
Garuda serta
menyajikannya dalam
bentuk laporan
tertulis.

Materi
Pokok
perdamaian
dunia
diantaranya
; ASEAN,
Non Blok
dan Misi
Garuda.

Pembelaja
ran
, browsing
di internet
(jika
tersedia)
tentang
kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
perdamaian
dunia.

Menanya:
berdiskusi
untuk
mendapatka
n klarifikasi
tentang
kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
perdamaian
dunia.

Mengekspl
orasikan:
mengumpulka

156 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an
ulan
data,
asosiasi,
komunik
asi)

Observa
si:
mengam
ati
kegiatan
peserta
didik
dalam
proses
mengum
pulkan
data,
analisis
data dan
pembuat
an
laporan

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar
Indonesia dalam
perdamaian
dunia.

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran
n informasi
terkait
dengan
materi
tentang
kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
perdamaian
dunia
melalui
bacaan,
pengamata
n terhadap
sumber
sejarah,
buku, fotofoto, film
dokumenter
, dan
internet.

Mengasosia
sikan:
mengevaluasi
data-data
hasil
wawancara,
membaca
buku,

157 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an

Portofol
io:
laporan
yang
dibuat
peserta
didik
tentang
kontribus
i bangsa
Indonesi
a dalam
perdamai
an dunia.

Tes
tertulis:
menilai
kemamp
uan
peserta
didik

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran
melihat fotofoto,
menonton
film
dokumenter
dan
browsing di
internet
tentang
kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
perdamaian
dunia.

Mengomuni
kasikan:
hasil evaluasi
kemudian
disampaikan
dalam
bentuk
tulisan yang
berisi
tentang
kontribusi
bangsa
Indonesia
dalam
perdamaian

158 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an
dalam
mengeva
luasi
kontribus
i bangsa
Indonesi
a dalam
perdamai
an dunia.

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Penilai
an

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Tugas:

6 mg x 2 jp

Buku Paket Sejarah


Indonesia kelas
XII
Buku-buku lainnya
Internet (jika
tersedia)
Gambar-gambar
perubahan
demokrasi
Indonesia 1950
sampai dengan
era Reformasi
Film dokumenter

dunia.
3.9 Mengevaluasi
perubahan demokrasi
Indonesia dari tahun
1950 sampai dengan
era Reformasi.
4.9 Membuat studi
komparasi tentang ide
dan gagasan
perubahan demokrasi

Indonesia 1950 sampai


dengan era Reformasi
dalam bentuk laporan
tertulis.

Perubahan
Mengamati:
Demokrasi
melalui
Indonesia
menyimak
1950 sampai
penjelasan
dengan Era
guru,
membaca
Reformasi
Perubahan
demokrasi
Indonesia
1950 sampai
dengan era
Reformasi.

buku,
melihat fotofoto, film
dokumenter,
browsing di
internet (jika
tersedia)
tentang
Perubahan
demokrasi
Indonesia
1950
sampai
dengan era
Reformasi.

Menanya:
berdiskusi
untuk
mendapatka
n klarifikasi

159 | SEJARAH INDONESIA

menilai
tugas
individu
(menga
mati,
menanya
,
pengump
ulan
data,
asosiasi,
komunik
asi)

Observa
si,
mengam
ati
kegiatan
peserta
didik

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran
tentang
perubahan
demokrasi
Indonesia
1950
sampai
dengan era
Reformasi.

Mengekspl
orasikan:
mengumpulka
n informasi
yang terkait
dengan
pertanyaan
dan materi
tentang
perubahan
demokrasi
Indonesia
1950
sampai
dengan era
Reformasi
melalui
bacaan,
pengamatan
terhadap
sumber
sejarah,

160 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an
dalam
proses
mengum
pulkan
data,
analisis
data dan
pembuat
an
laporan.

Portofol
io:
laporan
yang
dibuat
peserta
didik
tentang
perubaha
n
demokra
si di
Indonesi
a tahun

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran
buku, fotofoto, film
dokumenter
, dan
internet.

Mengasosia
sikan:
mengevaluasi
data-data
hasil
wawancara,
membaca
buku,
melihat
foto-foto,
menonton
film
dokumenter
dan
browsing di
internet
tentang
perubahan
demokrasi
Indonesia
1950
sampai
dengan era
Reformasi.

161 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an
1950
sampai
era
Reformas
i

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

Kompetensi Dasar

Materi
Pokok

Pembelaja
ran

Mengomuni
kasikan:
hasil evaluasi
dilaporkan
dalam
bentuk
tulisan
tentang
perubahan
demokrasi
Indonesia
1950
sampai
dengan era
Reformasi.

162 | SEJARAH INDONESIA

Penilai
an

Alokasi
Waktu

Sumber Belajar

LEMBAR KERJA

LK
1.3

ANALISIS KETERKAITAN SKL, KI, dan KD


SEJARAH INDONESIA KLS X

PETUNJUK KEGIATAN ANALISIS SKL, KI DAN KD


Kompetensi
Kurikulum 2013

: Memahami keterkaitan antara SKL, KI dan KD pada

Tujuan Kegiatan

: Menganalisis keterkaitan SKL, KI dan KD

Kelompok Kerja

1. Bacalah substansi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Tahun 2013!


2. Bacalah dan komparasikan dengan SKL Tahun 2006 (Permendiknas Th 2006)!
3. Bacalah KI mata pelajaran Sejarah SMA Kelas X!
4. BacalahKD mata pelajaran Sejarah SMA Kelas X!
5. Analisislah Lingkup Materi dari setiap KD dengan mengacu silabus mata
pelajaran!
6. Tulislah aktivitas/ kegiatan belajar siswa untuk mencapai kompetensi tersebut
dengan mengacu silabus mata pelajaran!
7. Tentukan teknik dan instrumen penilaiannya dengan mengacu silabus mata
pelajaran!
8. Setelah selesai masukkan dalam Lembar Kerja Analisis Keterkaitan SKL, KI, dan KD
Sejarah SMA Kelas X yang sudah disiapkan!

163 | SEJARAH INDONESIA

10.

LK
1.3

9. LEMBAR KERJA
ANALISIS KETERKAITAN SKL, KI, dan KD

11.
12.MATA PELAJARAN : SEJARAH INDONESIA
13.KELAS
:X
14.MATERI AJAR
:

20.
16.
17.
18.

24.

28.30.

29.
36.

164 | SEJARAH INDONESIA

37.

31.

32.

33.

38.

39.

40.

20.
16.
17.
18.

25.

165 | SEJARAH INDONESIA

20.
16.
17.
18.

26.
27.

42.

43.

166 | SEJARAH INDONESIA

45.

46. 47.

48.

49.

20.
16.
17.
18.

44.

167 | SEJARAH INDONESIA

20.
16.
17.
18.

51.

168 | SEJARAH INDONESIA

53.

55.

56.57.

20.
16.
17.
18.

52.

169 | SEJARAH INDONESIA

20.
16.
17.
18.

54.
58.

59.

170 | SEJARAH INDONESIA

60.

CONTOH ANALISIS KETERKAITAN ANTARA SKL, KI DAN KD


61.
62.
63.
64.

Mata Pelajaran
Kelas
Materi Ajar

: SEJARAH
: X
: Akulturasi Hindu Buddha
69.

71.
67.

74.

75.
1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran
agama yang
dianutnya

171 | SEJARAH INDONESIA

68.

78. 1.2 Menghayati


keteladanan para
pemimpin dalam
toleransi antar umat
77.
beragama dan
mengamalkannya
dalam kehidupan
sehari-hari

79.

81.

83

69.

71.
67.

68.

80.

82.
2. Mengembangkan
perilaku (jujur, disiplin,
tanggung jawab,
peduli, santun, ramah
lingkungan, gotong
76. royong, kerjasama,
cinta damai, responsif
dan pro-aktif) dan
menunjukan sikap
sebagai bagian dari

172 | SEJARAH INDONESIA

2.1 Menunjukkan sikap


tanggung jawab, peduli
terhadap berbagai hasil
budaya pada masa pra
aksara, Hindu-Buddha
dan Islam
87.
88.
89.
90.

119.
147. Mencerm
ati :
148.
1. Wujud
akulturasi
budaya masa
Hindu-Buddha
di Indonesia
berupa bahasa
dan religi/

15

69.

71.
68.

67.

solusi atas berbagai


permasalahan bangsa
dalam berinteraksi
secara efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam serta dalam
menempatkan diri
sebagai cerminan
bangsa dalam
pergaulan dunia.
86.

173 | SEJARAH INDONESIA

91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.

kepercayaan
120.
2. Wujud
121. akulturasi
budaya masa
Hindu-Buddha
di Indonesia
berupa
organisasi
sosial
kemasyarakata
n
122.
3. Wujud
123. akulturasi
124.
budaya masa
125.
126. Hindu-Buddha
127. di Indonesia
128. berupa sistem

15
15
15
15
15
15
15
16
16
16
16
16
16

69.

67.

149.

16
16
16
16
17
17
17
17
17
17
17
17
17
17
18
18
18

68.

110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
2.3 Berlaku jujur dan
bertanggung-jawab
dalam mengerjakan
tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
117.
118.

174 | SEJARAH INDONESIA

71.

129. pengetahuan
130. dan peralatan
131. hidup
132.
4. Wujud
133.
akulturasi
134.
135. budaya masa
136. Hindu-Buddha
137. di Indonesia
138. berupa
139. kesenian
140.
5. Gambar
141. peninggalan
142.
Hindu-Buddha
143.
144. di Indonesia
yang tidak
terpelihara

69.

67.

150.

18

68.

145.
146.

175 | SEJARAH INDONESIA

71.

18
18

69.

71.
67.

68.

151.

186.

187.
3. Memahami dan
menerapkan
pengetahuan faktual,
konseptual,
prosedural dalam ilmu
188. pengetahuan,
teknologi, seni,
budaya, dan
humaniora dengan
wawasan
kemanusiaan,
kebangsaan,

176 | SEJARAH INDONESIA

3.7 Mengidentifikasi
karakteristik
kehidupan
masyarakat,
pemerintahan dan
kebudayaan pada
masa kerajaankerajaan HinduBuddha di Indonesia
dan menunjukkan
contoh bukti-bukti
yang masih berlaku

193.

195.

20

69.

71.
68.

67.

kenegaraan, dan
peradaban terkait
fenomena dan
kejadian, serta
menerapkan
pengetahuan
prosedural pada
bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan
bakat dan minatnya
untuk memecahkan
masalah.
190.

177 | SEJARAH INDONESIA

pada kehidupan
masyarakat Indonesia
masa kini.
191.

192.

196.
197.

69.

71.
67.

68.

198.
199.

189.

178 | SEJARAH INDONESIA

69.

67.

203.

204.
4. Mengolah, menalar,
dan menyaji dalam
ranah konkret dan
ranah abstrak terkait
dengan
pengembangan dari
yang dipelajarinya di
sekolah secara
mandiri, dan mampu
menggunakan metoda
sesuai kaidah
keilmuan.

179 | SEJARAH INDONESIA

71.

219.

221

68.

4.4 Menyajikan hasil


analisis dalam bentuk
tulisan tentang nilainilai dan unsur budaya
yang berkembang
pada masa kerajaan
Hindu-Budda dan
masih berkelanjutan
dalam kehidupan
bangsa Indonesia pada
masa kini.
206.

207.

208.
209.

69.

71.
67.

68.

22

210.
211.

180 | SEJARAH INDONESIA

69.

71.
67.

68.

212.
213.

205.

214.

181 | SEJARAH INDONESIA

69.

71.
67.

68.

215.

216.
217.

182 | SEJARAH INDONESIA

69.

71.
67.

183 | SEJARAH INDONESIA

68.

223.
MATERI PELATIHAN 1.4:
STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM
2013
224.
225.

Langkah Kegiatan Inti

226.

227.

231.

234.

236.

238.

240.

241.
242.
243.

Pemaparan

244. Paparan oleh fasilitatortentang Strategi Implementasi Kurikulum 2013 dengan


menggunakan PPT-1.4

245.
246.

Diskusi Kelas

247. Mendiskusikan elemen penting dalam implementasi kurikulum 2013, meliputi


berikut ini.
1.
2.

Peran guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru BK.


Dukungan manajemen sekolah atau kultur sekolah dalam mensukseskan
pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2013.
3.
Dukungan dinas pendidikan kabupaten dan organisasi profesi dalam
implementasi kurikulum 2013.
248.
249.

Membuat Rangkuman

250.
Instruktur merangkum semua materi
pelatihan Konsep Kurikulum yang telah
disampaikan selama 4 JP sebagai kegiatan
penutup.
251.

252.

184 | SEJARAH INDONESIA

253.

254.
255.

256.
257.

185 | SEJARAH INDONESIA

258.
259.
260.
261.

262.

186 | SEJARAH INDONESIA

263.

264.
265.

266.

187 | SEJARAH INDONESIA

267.

268.
269.
270.
271.

188 | SEJARAH INDONESIA

272.
273.
274.
275.
276.
277.

MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS MATERI


AJAR (12 JP)

278.

2.1 Konsep Pendekatan Scientific

279.

2.2 Model Pembelajaran


2.3 Konsep Penilaian
280. Autentik
BAGIAN

III

2.4 Analisis Buku Guru dan Siswa


281.

282.
283.
284.

Sejarah Indonesia |

285.

MATERI PELATIHAN 2: ANALISIS


MATERI AJAR
286.

A. KOMPETENSI

287.

Peserta pelatihan dapat:

1. mendeskripsikan konsep pendekatan scientific dalam pembelajaran;


2. membandingkan model-model pembelajaran;
3. mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil
belajar;
4. menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan
SKL, KI, dan KD;
5. menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan
dan kedalaman materi;
6. menguasai secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi
pelajaran;
7. menguasai penerapan materi pelajaran pada bidang/ ilmu lain serta
kehidupan sehari-hari; dan
8. memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk
kegiatan pembelajaran.
288.
B. LINGKUP MATERI
1. Konsep Pendekatan Scientific
2. Model-model Pembelajaran
3. Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Pembelajaran
4. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa (Kesesuaian,Kecukupan, dan Kedalaman
Materi)
289.
C. INDIKATOR

1. Menerima konsep pendekatan scientific dan menghargai pendapat orang lain.


2. Menjelaskan konsep pendekatan scientific.
3. Menjelaskan penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran.
4. Mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran project based learning,
problem based learning, dan discovery learning.

5. Menerima penerapan konsep penilaian autentik

di sekolah/ madrasah dan

menghargai pendapat orang lain.

6. Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.


7. Menganalisis kesesuaian buku guru dan siswa dengan SKL, KI, dan KD secara
teliti dan serius.

Sejarah Indonesia |

8. Mengidentifikasi kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan
SKL, KI, dan KD.

9. Menganalisis kecukupan dan kedalaman materi buku guru dan buku siswa.
10. Menganalisis kesesuaian proses, pendekatan belajar , serta strategi evaluasi
yang diintegrasikan dalam buku.

11. Menjelaskan secara utuh materi, struktur, dan pola pikir keilmuan materi
pelajaran yang terdapat dalam buku siswa.

12. Menerapkan materi pelajaran yang terdapat dalam buku guru dan buku siswa
pada bidang/ ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.

13. Menjelaskan strategi penggunaan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan
pembelajaran.
290.
D. PERANGKAT PELATIHAN

1. Video Pembelajaran
2. Bahan Tayang
a. Konsep Pendekatan Scientific
b. Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Sejarah
c. Model Pembelajaran Project Based Learning
d. Model Pembelajaran Problem Based Learning
e. Model Pembelajaran Discovery Learning
f.

Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar

g. Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Sejarah


h. Analisis Buku Guru dan Buku Siswa

3. Lembar Kerja
4. Hand-Out
a. Konsep Pendekatan Scientific
b. Contoh Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Sejarah
c. Model Pembelajaran Project Based Learning
d. Model Pembelajaran Problem Based Learning
e. Model Pembelajaran Discovery Learning
f.

Konsep Penilaian Autentik

g. Contoh Penerapan Penilaian Autentik pada Pembelajaran Sejarah

5. ATK
291.
292.

Sejarah Indonesia |

293.

SKENARIO KEGIATAN
PEMBELAJARAN

294.
MATERI PELATIHAN: 2. ANALISIS
MATERI AJAR
295.
ALOKASI WAKTU:
12 JP (@ 45
MENIT)
296.
JENJANG:
SMA/MA,
SMK/MAK
297.
MATA PELAJARAN:
SEJARAH
INDONESIA
298.
299.

300.

DESKRIPSI
KEGIATAN

301.

302.

303.
Dilakukan
dengan
mengecek
kelengkapan
alat
pembelajaran, seperti
LCD Projector, Laptop,
File, Active Speaker,
dan
Laser
Pointer,
atau
media
pembelajaran lainnya.

304.

305.

306.
Pengkondisian
Peserta

307.

309.

Perkenalan

312.
Fasilitator
menjelaskan nama,
tujuan, kompetensi,
indikator, alokasi
waktu, dan skenario
kegiatan
pembelajaran materi
pelatihan Analisis
Materi Ajar.
315.
Fasilitator
memotivasi
peserta
agar serius, antusias,
teliti,
dan
bekerja
sama
saat
proses
Sejarah Indonesia |

pembelajaran
berlangsung.
317.

318.
2.1
Konsep
Pendekatan
Scientific

319.

321.
Penayangan
Video pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan menggunakan
V-2.1/4.1.

322.

324.
Diskusi
kelompok
untuk
mengkaji pendekatan
scientific
yang
mengacu
pada
tayangan
video,
dilanjutkan
dengan
paparan materi oleh
fasilitator
tentang
konsep
pendekatan
scientific
dengan
menggunakan
PPT2.2-1
dan
contoh
penerapan
pendekatan scientific
dalam
pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan menggunakan
PPT-2.2.2
yang
disisipkan
dalam
kegiatan
diskusi
tersebut.

325.

327.
Diskusi
kelompok
tentang
konsep
pendekatan
scientific
dengan
menggunakan HO-2.11 dan contoh-contoh
penerapan
pendekatan scientific
dalam
pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan
mengacu
pada hand out HO-2.1-

328.

Sejarah Indonesia |

2.
330.
2.3 Modelmodel
Pembelajaran
333.
Mengamati
tayangan tiga jenis
model pembelajaran
(Project Based
Learning, Problem
Based Learning, dan
Discovery Learning).

331.

335.

334.

337.
Menerapkan
Focus Group
Discussion untuk
mengidentifikasi
karakteristik tiga
model pembelajaran.

339.

338.

341.
Kerja
kelompok untuk
mengidentifikasi
penerapan
Pendekatan Scientific
pada tiga model
pembelajaran.

342.

344. 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses


dan Hasil Pembelajaran

345.

347.
Kegiatan
interaktif
untuk
menyamakan persepsi
tentang
jenis
dan
bentuk
penilaian
autentik.

348.

350.
Diskusi tentang
konsep
penilaian
autentik pada proses
dan hasil belajar.

351.

353.
Presentasi
hasil diskusi kelompok

354.

356.

357.

Paparan
Sejarah Indonesia |

materi
Konsep
Penilaian
Autentik
pada Proses dan Hasil
Belajar
dengan
menggunakan bahan
tayang PPT-2..2 dan
Contoh
Penerapan
Penilaian
Autentik
pada
Pembelajaran
Sejarah
Indonesia
menggunakan bahan
tayang PPT-2.2/3.2.
359. ICE BREAKER

360.

362. 2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa


(Kesesuaian,

364.

363.

Kecukupan, dan Kedalaman Materi)

366. Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan


bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian,
kecukupan, dan kedalaman materi.

367.

369.
Diskusi
kelompok
hasil
penilaian
buku
dilanjutkan
dengan
pemaparan
materi
tentang Analisis Buku
Guru dan Buku Siswa
dengan menggunakan
PPT-2.3
yang
disisipkan
dalam
kegiatan
diskusi
tersebut.

370.

372.
Menyimpulkan
hasil
diskusi
dan
menyampaikan format
lembar
kerja
yang
telah disiapkan.

373.

375.
Kerja
kelompok
untuk
menganalisis
kesesuaian buku guru
dan
buku
siswa
dengan tuntutan SKL,

376.

Sejarah Indonesia |

KI, dan KD dengan


menggunakan LK-2.31 dan LK -2.3-2.
378. ICE BREAKER

392.

379.
381.
Diskusi
kelompok
untuk
menganalisis
kesesuaian
proses,
pendekatan scientific,
serta strategi evaluasi
yang
diintegrasikan
dalam buku.

382.

384.
Kerja
kelompok
untuk
membuat
contohcontoh
penerapan
materi pelajaran yang
terdapat dalam buku
guru dan buku siswa
pada bidang/ ilmu lain
serta
kehidupan
sehari-hari.

385.

387.
Presentasi
hasil
kerja
kelompok.

388.

390.
Menyimpulkan
materi analisis buku
oleh fasilitator.

391.

393.
Membuat
rangkuman materi
pelatihan Analisis
materi Ajar.

394.

396.
Refleksi dan
umpan balik tentang
proses pembelajaran.
399.
Fasilitator
mengingatkan peserta
agar membaca
referensi yang
relevan.
Sejarah Indonesia |

402.
Fasilitator
menutup
pembelajaran
404.

405.
406.
407.
408.
409.
410.
411.
412.
413.
414.
415.
416.
417.
418.
419.
420.

421.
422.
423.
424.

Materi Pelatihan 2.1: Konsep


Pendekatan Scientific
Langkah Kegiatan Inti

429.

431.

432.
433.

Diskusi Kelompok
Sejarah Indonesia |

1.

Mengkaji pendekatan scientific yang mengacu pada tayangan


video.

2.

Mengidentifikasi
disampaikan pada tayangan video.

3.

konsep

pendekatan

scientific

yang

Membuat urutan aktivitas pada pendekatan scientific.


434.

435.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok

1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya, kelompok lain dapat


dijadikan pembahas dan penanya.
2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.
3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

436.

Paparan Materi

437.
Fasilitator
menyampaikan
Konsep
Pendekatan Scientific dengan menggunakan
PPT-2.2.1 dan Contoh Penerapan Pendekatan
Scientific
dalam
Pembelajaran
dengan
menggunakan PPT-2.2-2 yang disisipkan dalam
kegiatan diskusi.
438.

Diskusi Kelompok

439.
Diskusi
kelompok
Contoh-contoh
Penerapan
Pendekatan
Scientific
dalam
Pembelajaran, tugas diskusi kelompok sebagai
berikut.
1.

Membuat contoh
menggunakan pendekatan scientific.

2.

pembelajaran

salah

satu

KD

dengan

KD yang ditetapkan adalah KD semester 1.

440.

Pemaparan Hasil Diskusi Kelompok

1. Masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusinya, kelompok lain dapat


dijadikan pembahas dan penanya.
2. Instruktur memberikan masukan terhadap hasil diskusi kelompok.
3. Pada akhir diskusi instruktur menyimpulkan hasil diskusi kelompok.
441.
442.
443.
444.
445.

Sejarah Indonesia |

446.
447.

448.
449.

450.
451.
452.
453.

Sejarah Indonesia |

454.

455.

456.
457.

Sejarah Indonesia |

458.
459.
460.
461.

462.
463.
464.
465.
466.
467.
468.
469.
470.
471.
472.
473.
474.
475.
476.

477.

Sejarah Indonesia |

478.

479.

480.
481.
482.
483.
Sejarah Indonesia |

484.
485.
486.

487.

488.

489.
490.
Sejarah Indonesia |

491.
492.
493.
494.

495.

496.

Sejarah Indonesia |

497.

Sejarah Indonesia |

498.

499.
500.
Sejarah Indonesia |

501.
502.
503.
504.
505.
506.
507.

508.
509.
510.
511.
Sejarah Indonesia |

512.

513.

514.

Sejarah Indonesia |

515.

516.

517.

Sejarah Indonesia |

518.

519.
520.

Sejarah Indonesia |

521.

522.

Sejarah Indonesia |

523.

524.

525.

Sejarah Indonesia |

526.

527.

Sejarah Indonesia |

528.

529.

Sejarah Indonesia |

530.

531.

Sejarah Indonesia |

532.

533.

Sejarah Indonesia |

534.

535.
536.

537.

Sejarah Indonesia |

538.

539.

540.

Sejarah Indonesia |

541.

542.
543.

Sejarah Indonesia |

544.

545.
546.

547.

Sejarah Indonesia |

548.

549.

550.

Sejarah Indonesia |

551.

552.

Sejarah Indonesia |

553.

554.
555.

556.

Sejarah Indonesia |

557.

558.

559.

Sejarah Indonesia |

560.

561.

Sejarah Indonesia |

562.
563.

HO.2.1-

2.2. MODEL MODEL PEMBELAJARAN


564.
565.
PENDEKATAN ILMIAH DALAM
PEMBELAJARAN
566.
A. Esensi Pendekatan Ilmiah
567.
Proses pembelajaran dapat dipadankan
dengan suatu proses ilmiah. Karena itu
Kurikulum
2013
mengamanatkan
esensi
pendekatan
ilmiah
dalam

pembelajaran.Pendekatan
ilmiah
diyakini
sebagai titian emas perkembangan dan
pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan
atau proses kerja yang memenuhi kriteria
ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan
pelararan
induktif
(inductive
reasoning)ketimbang
penalaran
deduktif
(deductivereasoning).
Penalaran
deduktif
melihat fenomena umum untuk kemudian
menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya,
penalaran induktif memandang fenomena atau
situasi spesifik untuk kemudian menarik
simpulan
secara
keseluruhan.
Sejatinya,
penalaran induktif menempatkan bukti-bukti
spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.
Metode
ilmiah
umumnya
menempatkan
fenomena unik dengan kajian spesifik dan
detail untuk kemudian merumuskan simpulan
umum.

Sejarah Indonesia |

A. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau


beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau
mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat
disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada
bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan
prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.Karena itu, metode ilmiah umumnya
memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau
ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian
memformulasi, dan menguji hipotesis.
B. Pendekatan Ilmiah dan Nonilmiah dalam Pembelajaran
568.
Pembelajaran
berbasis
pendekatan
ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan
dengan
pembelajaran
tradidional.
Hasil
penelitian
membuktikan
bahwa
pada
pembelajaran tradisional, retensi informasi dari
guru sebesar 10 persensetelah 15 menit dan
perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25
persen.
Pada
pembelajaran
berbasis
pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru
sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari
dan
perolehan
pemahaman
kontekstual
sebesar 50-70 persen.
569.
570.
Proses pembelajaran dengan berbasis
pendekatan ilmiah harus dipandu dengan
kaida-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan
ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan,
penalaran, penemuan, pengabsahan, dan
penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan
demikian,
proses
pembelajaran
harus
dilaksanakan
dengan
dipandu
nilai-nilai,
prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses
pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi
kriteria seperti berikut ini :

Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau


fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran
tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng
semata.

Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif gurupeserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran
subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis,


analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan
masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
Sejarah Indonesia |

Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik


dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang
lain dari substansi atau materi pembelajaran.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami,


menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan
objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.

Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang


dapatdipertanggung-jawabkan.

Tujuan pembelajaran dirumuskan


menarik sistem penyajiannya.

secara sederhana, jelas,

dan

571.
572.
Proses pembelajaran harus terhindar
dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah yang
meliput
iintuisi,
akal
sehat,prasangka,
penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir
kritis.

Intuisi.
573.
Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang
kemunculannya bersifat irasional dan individual. Intuisi juga
bermakna kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang
atas dasar pengalaman dan kecakapannya. Istilah ini sering juga
dipahami sebagai penilaian terhadap sikap, pengetahuan, dan
keterampilan secara cepat dan berjalan dengan sendirinya.
Kemampuan intuitif itu biasanya didapat secara cepat tanpa melalui
proses panjang dan tanpa disadari. Namun demikian, intuisi sama
sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik.
574.
Akal sehat.
575.
Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat
selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat
menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar.
Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata
menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkanmereka dalam
proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.
576.
Prasangka.
577.
Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh
semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat
kuat dipandu kepentingan seseorang (guru, peserta didik, dan
sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat
didomplengi
kepentingan
pelakunya,
seringkali
mereka
menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas.
578.
Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat
berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis
atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik.
Sejarah Indonesia |

Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak


percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta
didik.
579.

Penemuan coba-coba.
580.
Tindakan atau aksi
coba-coba
seringkali
melahirkan
wujud
atau
temuan
yang
bermakna.
Namun
demikian,
keterampilan
dan
pengetahuan
yang
ditemukan dengan caracobacoba selalu bersifat tidak
terkontrol,
tidak
memiliki
kepastian,
dan
tidak
bersistematika baku. Tentu
saja, tindakan coba-coba itu
ada manfaatnya bahkan mampu mendorong kreatifitas.Karena itu,
kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta
dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan
kepastian jawaban.
581.
Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba
tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer
laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang
menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi
tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol
dengan lambang seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer
laptop itu bisa menyala.
582.
Berpikir kritis.
583.
Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang,
khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik
diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang
bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya
dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu
tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil esperimen
yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas
pikiran yang logis semata.
584.
C. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah
585.
586.
Proses pembelajaran pada Kurikulum
2013 untuk semua jenjang dilaksanakan
dengan menggunakan pendekatan ilmiah.
Proses pembelajaran harus menyentuh tiga
ranah,
yaitu
sikap,
pengetahuan,
dan
keterampilan. Dalam proses pembelajaran
berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap
menggamit transformasi substansi atau materi
ajar agar peserta didik tahu
tentang
mengapa.
587.
Sejarah Indonesia |

588.
Ranah
keterampilan
menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu tentang bagaimana. Ranah
pengetahuan
menggamit
transformasi
substansi atau materi ajar agar peserta didik
tahu
tentang
apa.Hasil
akhirnya
adalahpeningkatan dan keseimbangan antara
kemampuan untuk menjadi manusia yang
baik(soft skills) dan manusia yang memiliki
kecakapan dan pengetahuan untuk hidup
secara layak (hard skills)dari peserta didik
yang meliputi aspek kompetensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.
589.

590.
Kurikulum 2013 menekankan pada
dimensi
pedagogik
modern
dalam
pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan
ilmiah.
591.
Pendekatan ilmiah (scientific appoach)
dalam pembelajaran semua mata pelajaran
meliputi
menggali
informasi
melaui
pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian
mengolah data atau informasi, menyajikan
data atau informasi, dilanjutkan dengan
menganalisis,
menalar,
kemudian
menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata
pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat
mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu
tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada
kondisi seperti ini, tentu saja proses
pembelajaran harus tetap menerapkan nilainilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari
nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan
ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.
592.

1. Mengamati
593.
Metode
mengamati
mengutamakan
kebermaknaan
proses
pembelajaran
(meaningfull learning). Metode ini memiliki
keunggulan
tertentu, seperti menyajikan
media obyek secara nyata, peserta didik
Sejarah Indonesia |

senang
dan
tertantang,
dan
mudah
pelaksanaannya.
Tentu
saja
kegiatan
mengamati dalam rangka pembelajaran ini
biasanya memerlukan waktu persiapan yang
lama dan matang, biaya dan tenaga relatif
banyak, dan jika tidak terkendali akan
mengaburkan
makna
serta
tujuan
pembelajaran.
594.
Metode mengamati sangat bermanfaat
bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik.
Sehingga
proses
pembelajaran
memiliki
kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode
observasi peserta didik menemukan fakta
bahwa ada hubungan antara obyek yang
dianalisis dengan materi pembelajaran yang
digunakan oleh guru.
595.
Kegiatan
mengamati
dalam
pembelajaran dilakukan dengan menempuh
langkah-langkah seperti berikut ini.

Menentukan objek apa yang akan diobservasi


Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan
diobservasi
Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer
maupun sekunder
Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk
mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti
menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan
alat-alat tulis lainnya.

596.
Kegiatan observasi
dalam proses
pembelajaran
meniscayakan
keterlibatan
peserta didik secara langsung. Dalam kaitan
ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan
peserta didik dalam observasi tersebut.

Observasi biasa (common observation). Pada observasi biasa untuk


kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang
sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik
sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang
diamati.
597.
Observasi terkendali (controlled observation).
Seperti halnya observasi
biasa, padaobservasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta
didiksama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi
yang diamati.Merepa juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku,
objek, atau situasi yang diamati.
598.
599.
Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada
observasi terkendalipelaku atau objek yang diamati ditempatkan pada ruang
atau situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan
observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen atas diri
pelaku atau objek yang diobservasi.
600.
Observasipartisipatif (participant observation). Pada observasipartisipatif,
peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang
Sejarah Indonesia |

601.

diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam


penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini
mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau
objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan
menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan bermukim
langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu
pula untuk mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibakan
diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.

602.
Selama proses pembelajaran, peserta
didik dapat melakukan observasi dengan dua
cara pelibatan diri. Kedua cara pelibatan
dimaksud
yaitu observasi berstruktur dan
observasi tidak berstruktur, seperti dijelaskan
berikut ini.

Observasiberstruktur.
Pada observasi berstruktur dalam rangka proses
pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin
diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di
bawah bimbingan guru.
Observasitidak berstruktur. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam
rangka proses pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid
mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Dalam kerangka
ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori
secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang diobservasi.
603.

604.
Praktik observasi dalam pembelajaran
hanya akan efektif jika peserta didik dan guru
melengkapi diri dengan dengan alat-alat
pencatatan dan alat-alat lain, seperti: (1) tape
recorder, untuk merekam pembicaraan; (1)
kamera, untuk merekam objek atau kegiatan
secara visual; (2) film atau video, untuk
merekam kegiatan objek atau secara audiovisual; dan (3) alat-alat lain sesuai dengan
keperluan.
605.
606.
Secara lebih luas, alat atau instrumen
yang digunakan dalam melakukan observasi,
dapat berupa daftar cek (checklist), skala
rentang (rating scale), catatan anekdotal
(anecdotal record), catatan berkala, dan alat
mekanikal (mechanical device). Daftar cek
dapat berupa suatu daftar yang berisikan
nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor
yang akan diobservasi. Skala rentang , berupa
alat untuk mencatat gejala atau fenomena
menurut tingkatannya. Catatan anekdotal
berupa catatan yang dibuat oleh peserta didik
dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar
biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek
yang diobservasi.
607.
Alat mekanikal berupa alat mekanik
yang dapat dipakai untuk memotret atau
merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang
ditampilkan oleh subjek atau objek yang
diobservasi.
Sejarah Indonesia |

608.
Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan
oleh guru dan peserta didik selama observasi
pembelajaran disajikan berikut ini.

Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk
kepentingan pembelajaran.
Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau
situasi yang diobservasi. Makin banyak dan hiterogensubjek, objek, atau
situasi yang diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu
dilakukan.
Sebelum obsevasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya
menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.
Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam,
dan sejenisnya,
serta bagaimana membuat catatan atas perolehan
observasi.
609.

2. Menanya

610.
Guru yang efektif mampu menginspirasi
peserta didik untuk meningkatkan dan
mengembangkan ranah sikap, keterampilan,
dan
pengetahuannya.
Pada
saat
guru
bertanya, pada saat itu pula dia membimbing
atau memandu peserta didiknya belajar
dengan
baik.
Ketika
guru
menjawab
pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula
dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi
penyimak dan pembelajar yang baik.
611.
Berbeda
dengan
penugasan
yang
menginginkan tindakan nyara, pertanyaan
dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan
verbal. Istilah pertanyaan tidak selalu dalam
bentuk kalimat tanya, melainkan juga dapat
dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya
menginginkan tanggapan verbal. Bentuk
pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat
yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya:
Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!
612.

a. Fungsi bertanya

Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang
suatu tema atau topik pembelajaran.
Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta
mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan
ancangan untuk mencari solusinya.
Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas
substansi pembelajaran yang diberikan.
Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan
pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan
menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi,
berargumen,
mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima
pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan
toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam
merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
Sejarah Indonesia |

Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan


berempati satu sama lain.
613.

b. Kriteria pertanyaan yang baik

Singkat dan jelas.


614.Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor
yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan
terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda
terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih
singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.
615.
Menginspirasi jawaban.
616.Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat
penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun
semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial
kemasyarakatan. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul, jika
suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama?Dua kalimat
yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru
untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.
617.
Memiliki fokus.
618.Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan?
Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta
memunculkan satu jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya
menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan
sumber daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif
jawaban lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai
jawaban. Pertanyaan yang luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya:
Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini
dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.
619.
Bersifat probing atau divergen.
620.Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta
didik harus rajin belajar?(2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar
cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh
peserta didik dengan Ya atau Tidak. Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut
jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya, yang
kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.
621.
Bersifat validatif atau penguatan.
622.Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik
yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas
pertanyaan itu dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan
atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik
telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan
pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang
berbeda, namun sifatnya menguatkan.
623.Contoh:

624.
625.
o
o
o
o
o
o

Guru: mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan?


Peserta didik I: karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang
bekerja.
Guru: siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?
Peserta didik II: karena lebih banyak diam ketimbang bekerja, orang yang
malas tidak produktif
Guru : siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?
Peserta didik III: orang malas tidak bertindak aktif, sehingga kehilangan
waktu terlalu banyak untuk bekerja, karena itu dia tidak produktif.
Sejarah Indonesia |

626.

Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.


627.Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu
yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan
kata-kata. Karena itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya
menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik
untuk menjawab pertanyaan itu.
628.
629.Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa
menjawah dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya.
Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa
motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama
guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia
mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.
630.
Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
631.Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan
tuntunan tingkat kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan
yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi,
seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah
kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti pemahaman, penerapan,
analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa,
mengapa, bagaimana, dan seterusnya.
632.
633.
Merangsang proses interaksi.
634.Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana
menyenangkan pada diri peserta didik.Dalam kaitan ini, setelah
menyampaikan pertanyaan, guru memberikan kesempatan kepada peserta
didik mendiskusikan jawabannya. Setelah itu, guru memberi kesempatan
kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan
jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti ini memposisikan
guru sebagai wahana pemantul.
635.

c. Tingkatan Pertanyaan
636.
Pertanyaan guru yang baik dan benar
menginspirasi peserta didik untuk memberikan
jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus
memahami kualitas pertanyaan, sehingga
menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa
yang akan disentuh, mulai dari yang lebih
rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot
pertanyaan yang menggambarkan tingkatan
kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih
tinggi disajikan berikut ini :
637.
638.
639.
640.
Sejarah Indonesia |

641.
642.
643.
644.
645.
646.

647.
Tingkat
an

650.
Kognitif
yang
lebih
rendah

648.
S
ubtingkat
an
Pengetahuan
(knowledge)

Pemahaman
(comprehensio
n)

Penerapan
(application

653.
Kognitif
yang
lebih

Analisis
(analysis)

654.

649. Kata-kata
pertanyaan

kunci

Apa...
Siapa...
Kapan...
Di mana...
Sebutkan...
Jodohkan
atau
pasangkan...
Persamaan kata...
Golongkan...
Berilah nama...
Dll.
Terangkahlah...
Bedakanlah...
Terjemahkanlah...
Simpulkan...
Bandingkan...
Ubahlah...
Berikanlah
interpretasi...
Gunakanlah...
Tunjukkanlah...
Buatlah...
Demonstrasikanlah...
Carilah hubungan...
Tulislah contoh...
Siapkanlah...
Klasifikasikanlah...
Analisislah...
Kemukakan
buktibukti
Mengapa
Identifikasikan
Tunjukkanlah
sebabnya
Berilah alasan-alasan
Sejarah Indonesia |

tinggi

Sintesis
(synthesis)

Evaluasi
(evaluation)

Ramalkanlah
Bentuk
Ciptakanlah
Susunlah
Rancanglah...
Tulislah
Bagaimana kita dapat
memecahkan
Apa yang terjadi
seaindainya
Bagaimana kita dapat
memperbaiki
Kembangkan
Berilah pendapat
Alternatif mana yang
lebih baik
Setujukah anda
Kritiklah
Berilah alasan
Nilailah
Bandingkan
Bedakanlah

657.
3. Menalar
a. Esensi Menalar
658.
Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan
pendekatan
ilmiah
yang
dianut
dalam
Kurikulum 2013
untuk
menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik
tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif
daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis
atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan
berupa pengetahuan.
659.
660.
Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski
penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini
merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari
reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena
itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum
2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi
atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk
pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan
beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan
memori.
661.
Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak,
pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalamanpengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi
dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal
sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk
pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari
kesamaan antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.
662.
Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran pembelajaran akan
berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan
peserta didik. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R).
Sejarah Indonesia |

Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang


kemudian dikenal dengan teori asosiasi.
663.
Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh
Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon
(S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses
belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap,
bukan secara tiba-tiba. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam
proses pembelajaran.

Hukum efek (The Law of Effect), di mana intensitas hubungan antara


stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi
oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Jika akibat dari hubungan S-R
itu dirasa menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan mengalami
penguatan.
664.
Sebaliknya, jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan,
maka perilaku peserta didik akan melemah. Menurut Thorndike, efek dari
reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat
perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak
menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Ini bermakna bahwa
reward akan meningkatkan perilaku peserta didik, tetapi punishment belum
tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.
665.
Hukum latihan (The Law of Exercise). Awalnya, hukum ini terdiri dari
duajenis, yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike.
Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau
membentuk perilaku. Pertama, Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan
semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Kedua, Law of
Disuse, yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih
atau dilakukan berulang-ulang. Menurut Thorndike, perilaku dapat dibentuk
dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Memang, latihan berulang
tetap dapat diberikan, tetapi yang terpenting adalah individu menyadari
konsekuensi perilakunya.
666.
Hukum kesiapan (The Law of Readiness). Menurut Thorndike, pada
prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak
menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar
individunya. Dalam proses pembelajaran, hal ini bermakna bahwa jika
peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan, maka mereka akan
merasa puas. Sebaliknya, jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan
belajar terpaksa dilakukan, maka mereka akan merasa tidak puas bahkan
mengalami frustrasi.
667.
668.
Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B.F.
Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan.
Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas
perilaku itu akan diulangi.
669.

670.
Merujuk
pada
teori
S-R,
proses
pembelajaran akan makin efektif jika peserta
didik makin giat belajar. Dengan begitu, berarti
makin tinggi pula kemampuannya dalam
menghubungkan S dengan R. Kaidah dasar
yang digunakan dalam teori S-R adalah berikut
ini.

Kesiapan (readiness). Kesiapan diidentifikasi berkaitan langsung dengan


motivasi peserta didik. Kesiapan itu harus ada pada diri guru dan peserta
didik. Guru harus benar-benar siap mengajar dan peserta didik benar-benar
Sejarah Indonesia |

siap menerima pelajaran dari gurunya. Sejalan dengan itu, segala sumber
daya pembelajaran pun perlu disiapkan secara baik dan saksama.
Latihan (exercise). Latihan merupakan kegiatan pembelajaran yang
dilakukan secara berulang oleh peserta didik. Pengulangan ini
memungkinkan hubungan antara S dengan R makin intensif dan ekstensif.
Pengaruh (effect). Hubungan yang intensif dan berulang-ulang antara S
dengan R akan meningkatkan kualitas ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuan peserta didik sebagai hasil belajarnya. Manfaat hasil belajar
yang diperoleh oleh peserta didik dirasakan langsung oleh mereka dalam
dalam dunia kehidupannya.
671.

672.
Kaidah atau prinsip pengaruh dalam pembelajaran berkaitan
dengan kemamouan guru menciptakan suasana, memberi penghargaan,
celaan, hukuman, dan ganjaran. Teori S S ini memang terkesan robotik.
Karenanya, teori ini terkesan mengenyampingkan peranan minat,
kreativitas, dan apirasi peserta didik.

Oleh karena tidak semua perilaku belajar atau pembelajaran dapat dijelaskan
dengan pelaziman sebagaimana dikembangkan oleh Ivan Pavlov, teori
asosiasi biasanya menambahkan teori belajar sosial (social learning) yang
dikembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura, belajar terjadi karena proses
peniruan (imitation). Kemampuan peserta didik dalam meniru respons
menjadi pengungkit utama aktivitas belajarnya. Ada empat konsep dasar
teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura.
Pertama, pemodelan (modelling), dimana peserta didik belajar dengan cara
meniru perilaku orang lain (guru, teman, anggota masyarakat, dan lain-lain)
dan pengalaman vicarious yaitu belajar dari keberhasilan dan kegagalan
orang lain itu.
Kedua, fase belajar, meliputi fase memberi perhatian terhadap model
(attentional), mengendapkan hasil memperhatikan model dalam pikiran
pebelajar (retention), menampilkan ulang perilaku model oleh pebelajar
(reproduction), dan motivasi (motivation) ketika peserta didik berkeinginan
mengulang-ulang perilaku model yang mendatangkan konsekuensikonsekuensi positif dari lingkungan.
Ketiga, belajar vicarious, dimana peserta didik belajar dengan melihat
apakah orang lain diberi ganjaran atau hukuman selama terlibat dalam
perilaku-perilaku tertentu.
Keempat, pengaturan-diri (self-regulation), dimana peserta didik mengamati,
mempertimbangkan, memberi ganjaran atau hukuman terhadap perilakunya
sendiri.
673.

674.
Teori asosiasi ini sangat efektif menjadi
landasan menanamkan sikap ilmiah dan
motivasi pada peserta didik berkenaan dengan
nilai-nilai
instrinsik
dari
pembelajaran
partisipatif. Dengan cara ini peserta didik akan
melakukan peniruan terhadap apa yang nyata
diobservasinya dari kinerja guru dan temannya
di kelas.
675.
676.
Bagaimana aplikasinya dalam proses
pembelajaran?
Aplikasi
pengembangan
aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan
daya menalar peserta didik dapat dilakukan
dengan cara berikut ini.

Guru menyusun bahan pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai
dengan tuntutan kurikulum.
Sejarah Indonesia |

Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas
utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas dengan disertai
contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari
yang sederhana (persyaratan rendah) sampai pada yang kompleks
(persyaratan tinggi).
Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan
diamati
Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki
Perlu dilakukan pengulangan dan latihan agar perilaku yang diinginkan dapat
menjadi kebiasaan atau pelaziman.
Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang nyata atau otentik.
Guru mencatat semua kemajuan peserta didik untuk kemungkinan
memberikan tindakan pembelajaran perbaikan.

677.

b. Cara menalar

678.
Seperti telah dijelaskan di muka,
terdapat dua cara menalar, yaitu penalaran
induktif dan penalaran deduktif. Penalaran
induktif merupakan cara menalardengan
menarik simpulan dari fenomena atau atributatribut khusus untuk hal-hal yang bersifat
umum. Jadi, menalar secara induktif adalah
proses penarikan simpulan dari kasus-kasus
yang bersifat nyata secara individual atau
spesifik menjadi simpulan yang bersifat
umum.Kegiatan menalar secara induktif lebih
banyak berpijak pada observasi inderawi atau
pengalaman empirik.
679.
680.
Contoh:

Singa binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara melahirkan.


Harimau binatang berdaun telinga, berkembangbiak dengan cara
melahirkan.
Ikan Paus binatang berdaun telinga berkembangbiak dengan melahirkan.
Simpulan: Semua binatang yang berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan.
681.

682.
Penalaran deduktif merupakan cara
menalar dengan menarik simpulan dari
pernyataan-pernyataan atau fenomena yang
bersifat umum menuju pada hal yang bersifat
khusus. Pola penalaran deduktif dikenal
dengan pola silogisme. Cara kerja menalar
secara deduktif adalah menerapkan hal-hal
yang umum terlebih dahulu untuk kemudian
dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang
khusus.
683.
684.
Ada tiga jenis silogisme, yaitu silogisme
kategorial, silogisme hipotesis, silogisme
alternatif. Pada penalaran deduktif tedapat
premis, sebagai proposisi menarik simpulan.
Penarikan simpulan dapat dilakukan melalui
dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung.
Sejarah Indonesia |

Simpulan secara langsung ditarik dari satu


premis,sedangkan simpulan tidak langsung
ditarik dari dua premis.
685.
Contoh :

Kamera adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk


beroperasi
Telepon genggam adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik
untuk beroperas.
Simpulan: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi.
686.

4. Analogi dalam Pembelajaran

687.
Selama proses pembelajaran, guru dan
pesert didik sering kali menemukan fenomena
yang bersifat analog atau memiliki persamaan.
Dengan demikian, guru dan peserta didik
adakalamua menalar secara analogis. Analogi
adalah
suatu
proses
penalaran
dalam
pembelajaran dengan cara membandingkan
sifat esensial yang mempunyai kesamaan atau
persamaan.
688.
Berpikir analogis sangat penting dalam
pembelajaran,
karena
hal
itu
akan
mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti
halnya penalaran, analogi terdiri dari dua jenis,
yaitu analogi induktif dan analogi deduktif.
Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.
689.
690.
Analogi
induktifdisusun
berdasarkan
persamaan yang ada pada dua fenomena atau
gejala. Atas dasar persamaan dua gejala atau
fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang
ada pada fenomena atau gejala pertama
terjadi juga pada fenomena atau gejala kedua.
Analogi induktif merupakan suatu metode
menalaryang
sangat
bermanfaat
untuk
membuat suatu simpulan yang dapat diterima
berdasarkan pada persamaan yang terbukti
terdapat pada dua fenomena atau gejala
khusus yang diperbandingkan.
691.
692.
Contoh:
693.
Peserta didik Pulan merupakan pebelajar
yang tekun. Dia lulus seleksi Olimpiade Sains
Tingkat Nasional tahun ini. Dengan demikian,
tahun ini juga,Peserta didik Pulan akan
mengikuti kompetisi pada Olimpiade Sains
Tingkat Internasional. Untuk itu dia harus
belajar lebih tekun lagi.
694.
695.
Analogi
deklaratif
merupakan
suatumetode menalaruntuk menjelaskan atau
menegaskan sesuatu fenomena atau gejala
yang belum dikenal atau masih samar, dengan
Sejarah Indonesia |

sesuatu yang sudah dikenal.Analogi deklaratif


ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru,
fenomena, atau gejala menjadi dikenal atau
dapat diterima apabila dihubungkan dengan
hal-hal yang sudah dketahui secara nyata dan
dipercayai.
696.
697.
Contoh:
698.
Kegiatan
kepeserta
didikan
akan
berjalan baik jika terjadi sinergitas kerja antara
kepala sekolah, guru, staf tatalaksana,
pengurus organisasi peserta didik intra
sekolah, dan peserta didik. Seperti halnya
kegiatan belajar, untuk mewujudkan hasil yang
baik diperlukan sinergitas antara ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.
699.

5. Hubungan Antarfenomena
700.
Seperti halnya penalaran dan analogi,
kemampuan menghubungkan antarfenomena
atau gejala sangat penting dalam proses
pembelajaran,
karena
hal
itu
akan
mempertajam daya nalar peserta didik. Di
sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik
dituntut
mampu
memaknai
hubungan
antarfenonena
atau
gejala,
khususnya
hubungan sebab-akibat.
701.
702.
Hubungan sebab-akibat diambil dengan
menghubungkan satu atau beberapa fakta
yang satu dengan datu atau beberapa fakta
yang lain.Suatu simpulan yang menjadi sebab
dari satu atau beberapa fakta itu atau dapat
juga menjadi akibat dari satuatau beberapa
fakta tersebut.
703.
Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam
ranah penalaran induktif, yang disebut dengan
penalaran induktif sebab-akibat. Penalaran
induksi sebab akibat terdiri dri tiga jenis.
704.

Hubungan sebabakibat. Pada penalaran hubungan sebab-akibat, hal-hal


yang menjadi sebab dikemukakan terlebih dahulu, kemudian ditarik simpulan
yang berupa akibat.
705.
Contoh:
706.
Bekerja keras, belajar tekun, berdoa, dan tidak putus asa adalah
faktor pengungkit yang bisa membuat kita mencapai puncak kesuksesan.
Hubungan akibatsebab. Pada penalaran hubungan akibat-sebab, hal-hal
yang menjadi akibat dikemukakan terlebih dahulu, selanjutnya ditarik
simpulan yang merupakan penyebabnya.
707.
Contoh :
708.
Akhir-ahir ini sangat marak kenakalan remaja, angka putus
sekolah, penyalahgunaan Nakoba di kalangan generasi muda, perkelahian
antarpeserta didik, yang disebabkan oleh pengabaian orang tua dan
ketidaan keteladanan tokoh masyarakat, sehingga mengalami dekandensi
moral secara massal.
Sejarah Indonesia |

Hubungan sebabakibat 1 akibat 2. Pada penalaran hubungan sbab-akibat


1 akibat 2, suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat
yang pertama menjadi penyebab, sehingga menimbulkan akibat kedua.
Akibat kedua menjadi penyebab sehingga menimbulkan akibat ketiga, dan
seterusnya.
709.
Contoh:
710.
Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, hidupnya terisolasi.
Keterisolasian itu menyebabkan mereka kehilangan akses untuk melakukan
aktivitas ekonomi, sehingga muncullah kemiskinan keluarga yang akut.
Kemiskinan keluarga yang akut menyebabkan anak-anak mereka tidak
berkesempatan menempuh pendidikan yang baik. Dampak lanjutannya,
bukan tidak mungkin terjadi kemiskinan yang terus berlangsung secara
siklikal.
711.

6. Mencoba

712.
Untuk memperoleh hasil belajar yang
nyata atau otentik, peserta didik harus
mencoba atau melakukan percobaan, terutama
untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada
mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik
harus memahami konsep-konsep IPA dan
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta didik pun harus memiliki keterampilan
proses untuk mengembangkan pengetahuan
tentang
alam
sekitar,
serta
mampu
menggunakan metode ilmiah dan bersikap
ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah
yang dihadapinya sehari-hari.
713.
714.
Aplikasi
metode
eksperimen
atau
mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan
berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas
pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1)
menentukan tema atau topik sesuai dengan
kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
(2) mempelajari cara-cara penggunaan alat
dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;
(3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan
hasil-hasil
eksperimen
sebelumnya;
(4)
melakukan dan mengamati percobaan; (5)
mencatat
fenomena
yang
terjadi,
menganalisis,
dan
menyajikan
data;(6)
menarik simpulan atas hasil percobaan; dan
(7)membuat laporan dan mengkomunikasikan
hasil percobaan.
Sejarah Indonesia |

715.
716.
Agar pelaksanaan percobaan dapat
berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya
merumuskan tujuan eksperimen yanga akan
dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid
mempersiapkan
perlengkapan
yang
dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan
tempat dan waktu (4) Guru menyediakan
kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid
(5) Guru membicarakan masalah yanga akan
yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi
kertas
kerja
kepada
murid
(7)
Murid
melaksanakan eksperimen dengan bimbingan
guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja
murid dan mengevaluasinya, bila dianggap
perlu didiskusikan secara klasikal.
717.
718.
Kegiatan
pembelajaran
dengan
pendekatan eksperimen atau mencoba
dilakukan melalui tiga tahap, yaitu,
persiapan,
pelaksanaan,
dan
tindak
lanjut. Ketiga tahapan eksperimen atau
mencoba dimaksud dijelaskan berikut ini.

a. Persiapan

Menentapkan tujuan eksperimen


Mempersiapkan alat atau bahan
Mempersiapkan tempat eksperimen sesuai dengan jumlah peserta didikserta
alat atau bahan yang tersedia. Di sini guru perlu menimbang apakah peserta
didik akan melaksanakan eksperimen atau mencoba secara serentak atau
dibagi menjadi beberapa kelompok secara paralel atau bergiliran
Memertimbangkanmasalah
keamanan
dan
kesehatan
agar
dapat
memperkecil atau menghindari risiko yang mungkin timbul
Memberikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapatahapan yang harus dilakukan peserta didik, termasuk hal-hal yang dilarang
atau membahayakan.
719.
720.

b. Pelaksanaan
721.
Selama proses eksperimen atau mencoba, guru ikut membimbing dan
mengamati proses percobaan. Di sini guru harus memberikan dorongan dan
bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik agar
kegiatan itu berhasil dengan baik.
Selama proses eksperimen atau mencoba, guru hendaknya memperhatikan
situasi secara keseluruhan, termasuk membantu mengatasi dan
memecahkan masalah-masalah yang akan menghambat kegiatan
pembelajaran.
722.

c. Tindak lanjut
1)
2)
3)
4)

Peserta didik mengumpulkan laporan hasil eksperimen kepada guru


Guru memeriksa hasil eksperimen peserta didik
Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil eksperimen.
Guru dan peserta didik mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama
eksperimen.
Sejarah Indonesia |

5) Guru dan peserta didik memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan
alat yang digunakan

723.
D. Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif

724.
Apa
yang
dimaksud
dengan
pembelajaran
kolaboratif?
Pembelajaran
kolaboratif merupakan suatu filsafat personal,
lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran
di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya
merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup
manusia yang menempatkan dan memaknai
kerjasama sebagai struktur interaksi yang
dirancang secara baik dan disengaja rupa
untuk memudahkan usaha kolektif dalam
rangka mencapai tujuan bersama.
725.

Pada

pembelajaran

kolaboratif

kewenangan
guru
fungsi
guru
lebih
bersifat direktif
atau
manajer
belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang
harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif
diposisikan
sebagai satu falsafah peribadi, maka ia
menyentuh tentang identitas peserta didik
terutama jika mereka berhubungan atau
berinteraksi dengan yang lain atau guru.
Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik
berinteraksi
dengan
empati,
saling
menghormati, dan menerima kekurangan atau
kelebihan
masing-masing.
Dengan
cara
semacam ini akan tumbuh rasa aman,
sehingga
memungkin
peserta
didik
menghadapi aneka perubahan dan tntutan
belajar secara bersama-sama.
726.
Hasil penelitian Vygotsky membuktikan
bahwa ketika peserta didik diberi tugas untuk
dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaikbaiknya ketika bekerjasama atau berkolaborasi
dengan temannya. Vigotsky merupakan salah
satu pengagas teori konstruktivisme sosial.
Pakar ini sangat terkenal dengan teori Zone of
Sejarah Indonesia |

Proximal Development atau ZPD. Istilah


Proximal yang digunakan di sini bisa
bermakna next. Menurut Vygotsky, setiap
manusia (dalam konteks ini disebut peserta
didik) mempunyai potensi tertentu. Potensi
tersebut dapat teraktualisasi dengan cara
menerapkan ketuntasan belajar (mastery
learning). Akan tetapi di antara potensi dan
aktualisasi peserta didik itu terdapat terdapat
wilayah abu-abu. Guru memiliki berkewajiban
menjadikan wilayah abu-abuyang ada pada
peserta didik itu dapat teraktualisasi dengan
cara belajar kelompok.
727.
Seperti
termuat
dalam
gambar,
Vygostsky mengemukakan tiga wilayah yang
tergamit dalam ZPD yang disebut dengan
cannot yet do, can do with help, dan can
do alone. ZPD merupakan wilayah can do
with helpyang sifatnya tidak permanen, jika
proses
pembelajaran
mampu
menarik
pebelajar dari zona tersebut dengan cara
kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif.
728.
Ada
empat
sifat
kelas
atau
pembelajaran
kolaboratif.
Dua
sifat
berkenaan dengan perubahan hubungan
antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga
berkaitan dengan pendekatan baru dari
penyampaian
guru
selama
proses
pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi
kelas atau pembelajaran kolaboratif.
729.

1. Guru dan peserta didik saling berbagi informasi.


730.
Dengan
pembelajaran
kolaboratif,
peserta didik memiliki ruang gerak untuk
menilai dan membina ilmu pengetahuan,
pengalaman personal, bahasa komunikasi,
strategi dan konsep pembelajaran sesuai
dengan teori, serta menautkan kondisi
sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di
sini, peran guru lebih banyak sebagai
pembimbing dan manajer belajar ketimbang
memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.
Sejarah Indonesia |

731.

Contoh:

732.
Jika guru mengajarkan topik hidup
bersama secara damai. Peserta didik yang
mempunyai pengalaman yang berkaitan
dengan topik tersebut berpeluang menyatakan
sesuatu pada sesi pembelajaran, berbagi idea,
dan
memberi
garis-garis
besar
arus
komunikasi antar peserta didik. Jika peserta
didikmemahami dan melihat fenomena nyata
kehidupan
bersama
yang
damai
itu,
pengalaman dan pengetahuannya dihargai
dan
dapat
dibagikan
dalam
jaringan
pembelajaran mereka. Mereka pun akan
termotivasi untuk melihat dan mendengar. Di
sini peserta didik juga dapat merumuskan
kaitan antara proses pembelajaran yang
sedang dilakukan dengan dunia sebenarnya.
733.
2. Berbagi tugas dan kewenangan.
734.
Pada
pembelajaran
atau
kelas
kolaboratif,
guru
berbagi
tugas
dan
kewenangan dengan peserta didik, khususnya
untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan
peserta didik menimba pengalaman mereka
sendiri,
berbagi strategi dan informasi,
menghormati
antarsesa,
mendoorong
tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam
pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk
dan menggalakkan mereka mengambil peran
secara terbuka dan bermakna.
735.

Guru sebagai mediator.


736. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai
mediator atau perantara. Guru berperan membantu menghubungkan
informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta
didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara
bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.

Kelompok peserta didik yang heterogen.

Sejarah Indonesia |

737. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh


dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di
kelas.
Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan
kemampuan dan keterampilan mereka, berbagi informasi,serta
mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik
lainnya. Dengan cara seperti ini akan muncul keseragaman di dalam
heterogenitas peserta didik.
738.
739.

Contoh Pembelajaran Kolaboratif

740. Guru ingin mengajarkan tentang konsep, penggolongan sifat,


fakta, atau mengulangi informasi tentang objek. Untuk keperluan
pembelajaran ini dia menggunakan media sortir kartu (card sort).
Prosedurnya dapat dilakukan seperti berikut ini.

Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau
contoh yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang
yang memiliki kartu dengan katagori yang sama.
Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama menyajikan
sendiri kepada rekanhya.
Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh peserta didik,
buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut
yang dirasakan penting.
741.

3. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif


742.
Banyak merode yang dipakai dalam
pembelajaran atau kelas kolaboratif. Beberapa
di antaranya dijelaskan berikut ini.

JP = Jigsaw Proscedure
743.
Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai
anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai
suatu pokok bahasan. Agar masing-masing peserta didik anggota
dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan
materi yang menyeluruh. Penilaian didasari pada rata-rata skor tes
kelompok.
744.

STAD = Student Team Achievement Divisions

Sejarah Indonesia |

745.
Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa
kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak
saling membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan
berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula
keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan
individu peserta didik lainnya. Penilaian didasari pada pencapaian
hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik.
746.

CI = Complex Instruction
747.
Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek
yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains,
matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Fokusnya adalah
menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai
anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya
digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan
dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen.
Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
748.

TAI = Team Accelerated Instruction


749.
Metodeini merupakan kombinasi antara pembelajaran
kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara
bertahap, setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soalsoal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu
dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal
tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap peserta didik
mengerjakan soal-soal berikutnya. Namun jika seorang peserta didik
belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia
harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan
soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasari
pada hasil belajar individual maupun kelompok.
750.

CLS = Cooperative Learning Stuctures.


751.
Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok
dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang
peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.
Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila
jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah
ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah
Sejarah Indonesia |

ditetapkan sebelumnya, kedua peserta didik yang saling berpasangan


itu berganti peran.
752.

LT = Learning Together
753.
Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan
peserta didik yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok
bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar
tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
754.

TGT = Teams-Games-Tournament
755.
Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya
sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota
kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta
didik.
756.

GI = Group Investigation
757.
Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk
merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan
masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan
dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut
bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas.
Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.
758.
759.

AC = Academic-Constructive Controversy
760.
Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut
kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang
dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik
bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok
lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan
pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis,
pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan
Sejarah Indonesia |

keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota


maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
761.

CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition


762.
Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode
pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan
tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling
menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara
tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
763.

a. Pemanfaatan Internet
764.
Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam
pembelajaran atau kelas kolaboratif. Karena memang, internet
merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan akses dan
ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Saat ini internet telah
menyediakan diri sebagai referensi yang murah dan mudah bagi
peserta didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia.
765.
Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan
denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial.
Masa depan adalah milik peserta didik yang memiliki akses hampir ke
seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang mampu
memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin.
766.
767.
768.
769.

Sejarah Indonesia |

770.

Daftar Pustaka

771.
772. Allen, L. (1973). An Examination of the Ability of Third Grade
Children from the Science Curriculum Improvement Study to
Identify Experimental Variables and to Recognize Change. Science
Education, 57, 123-151.
773.
774. Padilla, M., Cronin, L., & Twiest, M. (1985). The Development
and Validation of the Test of Basic Process Skills. Paper Presented
at the Annual meeting of the National Association for Research in
Science Teaching, French Lick, IN.
775.
776. Quinn, M., & George, K. D. (1975). Teaching Hypothesis
Formation. Science Education, 59, 289-296. Science Education, 62,
215-221.
777.
778. Thiel, R., & George, D. K. (1976). Some Factors Affecting the
use of the Science Process Skill of Prediction by Elementary School
Children. Journal of Research in Science Teaching, 13, 155-166.
779.
780. Tomera, A. (1974). Transfer and Retention of Transfer of the
Science Processes of Observation and Comparison in Junior High
School Students. Science Education, 58, 195-203.
781.
782.

Sejarah Indonesia |

783.

HO.2.1-

784.
785.
786.

787.

Contoh penerapan pendekatan scientific dalam


pembelajaran Sejarah
788.
789. Sebelum

A.

membicarakan

Pengantar
mengenai

pendekatan

ilmiah

(scientific), perlu dipahami lagi mengenai metode ilmiah. Pada umumnya


seseorang selalu ingin memperoleh pengetahuan. Pengetahuan dapat
merupakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan tidak ilmiah. Suatu
pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. Metode
ilmiah pada dasarnya memandang fenomena khusus (unik) dengan
kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan.
Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian
(penemuan). Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of
inquiry)

harus

berbasis

pada

bukti-bukti

dari

objek

yang

dapat

diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang


spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat rangkaian
kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan eksperimen,
kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Sebenarnya apa yang
kita bicarakan dengan metode ilmiah merujuk pada: (1) adanya fakta, (2)
sifat bebas prasangka, (3) sifat objektif, dan (4) adanya analisa. Dengan
metode ilmiah seperti ini diharapkan kita akan mempunya sifat.
790. Selanjutnya secara sederhana pendekatan ilmiah merupakan
suatu cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan
prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Ada juga yang
mengartikan pendekatan ilmiah sebagai mekanisme untuk memperoleh
pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis. Pendekatan ilmiah ini
memerlukan langkah-langkah pokok:
1) Mengamati
Sejarah Indonesia |

2)
3)
4)
5)

Menanya
Menalar
Mencoba
Membentuk jejaring
791. Langkah-langkah

pembelajaran

terhadap

di

atas

boleh

dikatakan

pengetahuan

ilmiah

yang

pertimbangan-pertimbangan

logis

dikehendaki

mengenai

adalah

jawaban

dalam

sejarah.

fakta-fakta

sebagai

diatur

oleh

Karena

yang

sejarah,

maka

pendekatan dengan langkah-langkah tersebut dikatakan sangat erat


dengan metode ilmiah.
792.
793.

B.

Pembelajaran

Langkah-langkah
Sejarah

dengan

Pendekatan Ilmiah
794. Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 dilaksanakan
menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran menyentuh tiga
ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses
pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit
transformasi
substansi

atau

materi

agar

ajar

peserta
tahu

didik
mengapa.

Ranah
keterampilan
menggamit
transformasi
substansi

atau

materi

agar

peserta

ajar

didik

tahu
795.
Sejarah Indonesia |

796.
797.
798.
799.
800.
801.
802.
803.
804.
805.
806.

bagaimana.

Ranah

pengetahuan

menggamit transformasi substansi atau


materi ajar agar peserta didik tahu apa.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan
keseimbangan antara kemampuan untuk
menjadi manusia yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan
pengetahuan untuk hidup secara layak
(hard

skills)

meliputi

dari

peserta

aspek

didik

kompetensi

yang
sikap,

keterampilan, dan pengetahuan.


807. Kurikulum

2013

menekankan

pada

dimensi

pedagogik

modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.


Pendekatan
sebagaimana

ilmiah

(scientific

dimaksud

meliputi

approach)
mengamati,

dalam

pembelajaran

menanya,

mencoba,

mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata


pelajaran. Pendekatan ilmiah pembelajaran sejarah disajikan berikut ini.
1. Mengamati
Sejarah Indonesia |

808.
809. Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses
pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan
tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik
senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan
mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu
persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan
jika

tidak

terkendali

akan

mengaburkan

makna

serta

tujuan

pembelajaran.
810. Dalam pembelajaran sejarah, pengamatan dilakukan pada
objek sejarah yang berupa situs sejarah. Oleh karena sejarah itu adalah
sesuatu yang sudah terjadi, dalam pembelajaran bisa ditampilkan dalam
bentuk media; media video, gambar dan seterusnya. Dalam tema
akulturasi Hindu Buddha, misalnya dapat ditampilkan gambar candi
Borobudur, candi Prambanan. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran
dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.
811.
a. Menentukan objek apa yang akan diobservasi
b. Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang
akan diobservasi
c. Menentukan

secara

jelas

data-data

apa

yang

perlu

diobservasi, baik primer maupun sekunder


d. Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
e. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan
untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
f. Menentukan

cara

dan

melakukan

pencatatan

atas

hasil

observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape


recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
812.
813. Secara lebih luas, alat atau instrumen yang digunakan dalam
melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang
(rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan
Sejarah Indonesia |

alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek dapat berupa suatu


daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang
akan diobservasi. Skala rentang , berupa alat untuk mencatat gejala atau
fenomena menurut tingkatannya. Catatan anecdotal berupa catatan
yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan
luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.
Alat mekanikal berupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret
atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek
atau objek yang diobservasi.
2. Menanya
814. Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk
meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia
membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik.
Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia
mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang
baik. Artinya guru dapat menumbuhkan sikap ingin tahu siswa, yang
diekspresikan dalam bentuk pertanyaan. Misalnya: Kenapa bentuk candi
Borobudur dan Prambanan itu tidak sama? Apakah seni bangun candi itu
asli Indonesia atau ada pengaruh dari luar? Diusahakan setelah ada
pengamatan, yang bertanya bukan guru, tetapi yang bertanya peserta
didik. Berikut tip-tip fungsi bertanya:
815.

Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian

peserta

didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.

Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar,


serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.

Mendiagnosis

kesulitan

belajar

peserta

didik

sekaligus

menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.

Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada


peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan
pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
Sejarah Indonesia |

Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara,


mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis,
sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Mendorong
berargumen,

partisipasi

peserta

mengembangkan

didik

dalam

kemampuan

berdiskusi,

berpikir,

dan

menarik simpulan.

Membangun

sikap

keterbukaan

untuk

saling

memberi

dan

menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta


mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.

Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta


sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.

Melatih

kesantunan

dalam

berbicara

dan

membangkitkan

kemampuan berempati satu sama lain.


816.
817.

Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif

yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini.
818.

Sejarah Indonesia |

819.

Pengetahuan
822.
(knowledge)
Kogni

821. Kata-kata kunci


820.
pertanyaan
Subtin

Apa...
Siapa...
Kapan...
Di mana...
Sebutkan...
Jodohkan atau
pasangkan...
Persamaan kata...
Golongkan...
Berilah nama...
Dll.
Pemahaman
Terangkahlah...
(comprehension) Bedakanlah...
Terjemahkanlah...
Simpulkan...
Bandingkan...
Ubahlah...
Berikanlah interpretasi...
Penerapan
Gunakanlah...
(application
Tunjukkanlah...
Buatlah...
Demonstrasikanlah...
Carilah hubungan...
Tulislah contoh...
Siapkanlah...
Klasifikasikanlah...
Analisis
Analisislah...
825.
(analysis)
Kemukakan bukti-bukti
Mengapa
Kogni
826.
Identifikasikan
Tunjukkanlah sebabnya
Berilah alasan-alasan

Sejarah Indonesia |

821. Kata-kata kunci


820.
pertanyaan
Subtin

819.

Sintesis
(synthesis)

Evaluasi
(evaluation)

829.

Ramalkanlah
Bentuk
Ciptakanlah
Susunlah
Rancanglah...
Tulislah
Bagaimanakita dapat
memecahkan
Apa yang terjadi
seaindainya
Bagaimana kita dapat
memperbaiki
Kembangkan
Berilah pendapat
Alternatif mana yang
lebih baik
Setujukah anda
Kritiklah
Berilah alasan
Nilailah
Bandingkan
Bedakanlah
830.

831.
3. Menalar
832.

Istilah

menalar

dalam

kerangka

proses pembelajaran dengan pendekatan


ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013
untuk menggambarkan bahwa guru dan
peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik
tekannya tentu dalam banyak hal dan
situasi peserta

didik

harus

lebih

aktif

daripada guru. Penalaran adalah proses


berfikir yang logis dan sistematis atas
fakta-kata empiris yang dapat diobservasi
Sejarah Indonesia |

untuk

memperoleh

pengetahuan.
merupakan

simpulan

Penalaran
penalaran

berupa
dimaksud

ilmiah,

meski

penakaran nonilmiah tidak selalu tidak


bermanfaat.
a. Cara menalar
833.

Seperti telah dijelaskan di muka, terdapat dua cara menalar,

yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif


merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena
atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi,
menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari
kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik
menjadi simpulan yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara
induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau
pengalaman empirik. Dalam pembelajaran sejarah, peristiwa sejarah
bersifat unik. Oleh karena itu karena keunikannya itulah, maka tidak
bisa ditarik kesimpulan/digeneralisasi. Yang dapat digeneral adalah
gejalanya

saja.

Ada

lagi

cara

menalar

kontekstual,

yang

menganggap bahwa bahwa peristiwa sejarah harus diambil benang


merahnya dengan peristiwa kekinian/kontemporer.
834.
835.

Sejarah Indonesia |

836.

Contoh:

Deduktif: bangsa Indonesia tidak mau dijajah bangsa


asing,

buktinya

ada

perlawanan/perang

Diponegoro,

Hasannudin, Pattimura
Induktif:

diberbagai

Diponegoro,

daerah

Hasannudin,

ada

perlawanan/perang

Pattimura,

pertanda

bahwa

bangsa Indonesia tidak mau dijajah.


Unik:

perlawanan/perang

Diponegoro,

Hasannudin,

Pattimura itu tidak sama satu sama lain, karena pada


peristiwa itu memiliki latar belakang dan setting yang
berbeda. Jadi ketiga perlawanan/perang itu tidak sama
satu dengan yang lain.
Kontekstual:

peristiwa

menggambarkan

akan

Tanjung

Priok

yang

dibongkarnya

makam

ulama,

menemui protes besar dari masyarakat, mestinya tidak


perlu

terjadi.

Karena

meletusnya

perlawanan/perang

Diponegoro karena Belanda mau membuat jalan, dimana


jalan yang akan dibuat itu melewati makam leluhur
Diponegoro.
837.
b. Analogi dalam Pembelajaran
838.

Selama proses pembelajaran, guru dan pesert didik sering

kali menemukan fenomena yang bersifat analog atau memiliki


persamaan. Dengan demikian, guru dan peserta didik adakalanya
menalar secara analogis. Analogi adalah suatu proses penalaran
dalam pembelajaran dengan cara membandingkan sifat esensial
yang mempunyai kesamaan atau persamaan.
839.
840.

Berpikir analogis sangat penting dalam pembelajaran, karena

hal itu akan mempertajam daya nalar peserta didik. Seperti halnya
penalaran, analogi terdiri dari dua jenis, yaitu analogi induktif dan
analogi deduktif. Kedua analogi itu dijelaskan berikut ini.
841.
Sejarah Indonesia |

842.

Analogi induktif disusun berdasarkan persamaan yang ada

pada dua fenomena atau gejala. Atas dasar persamaan dua gejala
atau fenomena itu ditarik simpulan bahwa apa yang ada pada
fenomena atau gejala pertama terjadi juga pada fenomena atau
gejala kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode menalar
yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu simpulan yang
dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat
pada dua fenomena atau gejala khusus yang diperbandingkan.
843.
844.

Contoh:

845.
846.

Hakekat Pergerakan Nasional bagi peserta didik adalah jiwa

nasionalisme dan ketekunan dalam belajar. Peserta didik adalah


generasi muda yang harus memiliki jiwa nasionalisme dan harus
giat belajar.
847.
848.

Analogi deklaratif merupakan suatu metode menalar untuk

menjelaskan atau menegaskan sesuatu fenomena atau gejala yang


belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah
dikenal. Analogi deklaratif ini sangat bermanfaat karena ide-ide
baru, fenomena, atau gejala menjadi dikenal atau dapat diterima
apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah diketahui secara
nyata dan dipercayai.
849.
850.

Contoh:

851.

Proklamasi

kemerdekaan

bangsa

Indonesia

dapat

dilaksanakan karena adanya sinergitas, saling menghargai, sikap


pantang menyerah antara golongan muda dan golongan tua. Begitu
pula tercapainya suatu prestasi disekolah tidak terlepas dari
sinergitas, saling menghargai, sikap pantang menyerah dari dewan
guru, peserta didik, dan seluruh stake holder sekolah.
852.
c. Hubungan Antar fenomena
Sejarah Indonesia |

853.
854.

Seperti

halnya

penalaran

dan

analogi,

kemampuan

menghubungkan antar fenomena atau gejala sangat penting dalam


proses pembelajaran, karena hal itu akan mempertajam daya nalar
peserta didik. Di sinilah esensi bahwa guru dan peserta didik
dituntut mampu memaknai hubungan antar fenomena atau gejala,
khususnya hubungan sebab-akibat.
855.
856.

Hubungan sebab-akibat diambil dengan menghubungkan

satu atau beberapa fakta yang satu dengan datu atau beberapa
fakta yang lain. Suatu simpulan yang menjadi sebab dari satu atau
beberapa fakta itu atau dapat juga menjadi akibat dari satu atau
beberapa fakta tersebut.
857.
858.

Penalaran sebab-akibat ini masuk dalam ranah penalaran

induktif, yang disebut dengan penalaran induktif sebab-akibat.


Penalaran induksi sebab akibat terdiri dari tiga jenis.
859.

Hubungan sebabakibat. Pada penalaran hubungan sebabakibat, hal-hal yang menjadi sebab dikemukakan terlebih
dahulu, kemudian ditarik simpulan yang berupa akibat.
860.
861.

Contoh:

862.
863.

Sehubungan adanya pembuatan jalan oleh Belanda

yang melewati makam leluhur Diponegoro, maka pecahlah


perang Diponegoro melawan Belanda 1825 1830.
864.

Hubungan akibatsebab. Pada penalaran hubungan akibatsebab, hal-hal yang menjadi akibat dikemukakan terlebih
dahulu,

selanjutnya

ditarik

simpulan

yang

merupakan

penyebabnya.
865.
Sejarah Indonesia |

866.

Contoh :

867.
868.

Perang Diponegoro 1825 1830 melawan Belanda,

sampai-sampai Belanda mengalami kerugian besar, dan nyaris


dikalahkan, disebabkan Belanda membuat jalan yang melewati
makam leluhur Diponegoro.
869.

Hubungan sebabakibat 1 akibat 2. Pada penalaran hubungan


sebab-akibat 1 akibat 2, suatu penyebab dapat menimbulkan
serangkaian akibat. Akibat yang pertama menjadi penyebab,
sehingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua menjadi
penyebab

sehingga

menimbulkan

akibat

ketiga,

dan

seterusnya.
870.
871.

Contoh:

872.

Perjuang

bangsa

Indonesia

melalui

Pergerakan

Nasional, mengakibatkan diproklasikan kemerdekaan. Akibat


proklamasi kemerdekaan datanglah Sekutu yaitu Inggris dan
Belanda datang ke Indonesia . Kedatangan Sekutu yang
berkeinginan menjaga status quo, tentu tidak diharapkan oleh
pemuda Indonesia, terjadilah perang.
873.

Mencoba

874.
875. Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik,
peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama
untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran sejarah,
misalnya, peserta didik harus memahami kaitan fakta-fakta sejarah yang
dikaitkan

dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus

memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan fakta


sejarah, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah
untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Sejarah Indonesia |

876. Kegiatan ini merujuk pada semboyan kuno: historia vitae


magistra , belajar sejarah agar bijaksana. Hal ini dimaksudkan bahwa
belajar sejarah, seseorang yang mempelajari sejarah, termasuk peserta
didik, diharapkan dapat mengambil pelajaran, dapat mengambil hikmah
untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari dari peristiwa sejarah. Semua
peristiwa sejarah tentu memiliki nilai yang dapat member inspirasi untuk
mengembangkan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Sebut saja dari peristiwa perkelaian antar pelajar yang akhir-akhir ini
sering terjadi. Perkelaian itu sebenarnya sudah tidak baik, karena tidak
hanya melanggar aturan, tetapi bahkan melanggar norma kehidupan.
Melanggar aturan, melanggar norma kehidupan adalah sesuatu yang
harus dihindari, harus dicegah, jangan sampai peserta didik sekarang
terkena virus negative tersebut. Jadilah peserta didik yang taat aturan,
memiliki

martabat

yang

menjunjung

tinggi

kemanusiaan,

dapat

merefleksikan kehidupan yang positif dalam kehihudupan sehari-hari dan


memiliki daya piker yang cerdas.
877.

Jejaring Pembelajaran atau Pembelajaran Kolaboratif


878.
879.

Apa

yang

dimaksud

dengan

pembelajaran

kolaboratif?

Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari


sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi
esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang
menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang
dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha
kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.
880.
881.

Pada

pembelajaran

kolaboratif

kewenangan

guru

lebih

bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang


harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu
Sejarah Indonesia |

falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik


terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain
atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi
dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau
kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa
aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan
dan tntutan belajar secara bersama-sama.
882.

Dalam kapasitas pembelajaran dewasa ini peserta didik

dengan sangat mudah memperoleh informasi kapan saja dan dimana


saja. Pada suatu segmen bisa terjadi kekurangan pemahaman guru ada
pada kelebihan peserta didik, tetapi tentu saja banyak segmen
kekurangan peserta didik ada pada kelebihan guru. Begitu seterusnya
improvisasi pembelajaran terus terjadi atas kolaborasi peserta didik,
guru, kepala sekolah, dan tenaga administrasi sekolah, serta komite.
883.
884.

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif.

Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan


peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari
penyampaian

guru

selama

proses

pembelajaran.

Sifat

keempat

menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.


885.

Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Dengan


pembelajaran kolaboratif,

peserta didik memiliki ruang gerak

untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman


personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep pembelajaran
sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya
dengan situasi pembelajaran. Di sini, peran guru lebih banyak
sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi
instruksi dan mengawasi secara rijid.
Sejarah Indonesia |

886.
887.

Contoh:

888.
889.

Jika guru mengajarkan topik hidup bersama secara

damai. Peserta didik yang mempunyai pengalaman yang


berkaitan

dengan

topik

tersebut

berpeluang

menyatakan

sesuatu pada sesi pembelajaran, berbagi idea, dan memberi


garis-garis besar
peserta

didik

kehidupan

arus komunikasi antar peserta didik. Jika

memahami

bersama

yang

dan

melihat

damai

itu,

fenomena

nyata

pengalaman

dan

pengetahuannya dihargai dan dapat dibagikan dalam jaringan


pembelajaran mereka. Mereka pun akan termotivasi untuk
melihat dan mendengar. Di sini peserta didik juga dapat
merumuskan kaitan antara proses pembelajaran yang sedang
dilakukan dengan dunia sebenarnya.
890.
a. Berbagi tugas dan kewenangan. Pada pembelajaran atau kelas
kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta
didik, khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan
peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri,

berbagi

strategi dan informasi, menghormati antarsesa, mendoorong


tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan
kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil
peran secara terbuka dan bermakna.
b. Guru

sebagai

mediator.Pada

pembelajaran

atau

kelas

kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara.


Guru berperan membantu menghubungkan informasi

baru

dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika

Sejarah Indonesia |

mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara


bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.
c. Kelompok peserta didik yang heterogen. Sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang
sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas. Pada
kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan
dan keterampilan mereka, berbagi informasi,serta mendengar
atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya.
Dengan cara seperti ini akan muncul keseragaman di dalam
heterogenitas peserta didik.
891.
892.

Contoh Pembelajaran Kolaboratif


893.

894.

Guru

ingin

mengajarkan

tentang

konsep,

penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi tentang


objek. Untuk keperluan pembelajaran ini dia menggunakan
media sortir kartu (card sort).

Prosedurnya dapat dilakukan

seperti berikut ini.

Kepada peserta didik diberikan kartu indeks yang memuat


informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih
katagori.

Peserta

didik

diminta

untuk

mencari

temannya

dan

menemukan orang yang memiliki kartu dengan katagori


yang sama.

Berikan kepada peserta didik yang kartu katagorinya sama


menyajikan sendiri kepada rekanhya.

Selama

masing-masing

katagori

dipresentasikan

oleh

peserta didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point)


dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
Sejarah Indonesia |

895.
b. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif
896.
897.

Banyak merode yang dipakai dalam pembelajaran atau

kelas kolaboratif. Beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.

JP = Jigsaw Proscedure. Pembelajaran dilakukan dengan


cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi
tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan.
Agar

masing-masing

peserta

didik

anggota

dapat

memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan


dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasari

pada

rata-rata skor tes kelompok.


898.

STAD = Student Team Achievement Divisions.Peserta didik


dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling
membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang
akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh
terhadap

keberhasilan

individu

peserta

didik

lainnya.

Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual


maupun kelompok peserta didik.
899.

CI = Complex Instruction.Titik tekan metode ini


pelaksanaan

suatu

proyek

yang

berorientasi

adalam
pada

penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika,


dan

ilmu

pengetahuan

menumbuhkembangkan

sosial.

ketertarikan

Fokusnya

adalah

semua

peserta

Sejarah Indonesia |

didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan.


Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang
bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara
para

peserta

didik

yang

sangat

heterogen.

Penilaian

didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.


900.

TAI = Team Accelerated Instruction. Metodeini merupakan


kombinasi

antara

pembelajaran

kooperatif/kolaboratif

dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap


peserta didik sebagai anggota kelompok diberi soal-soal
yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah
itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok.
Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar,
setiap peserta didik mengerjakan soal-soal berikutnya.
Namun

jika

seorang

peserta

didik

belum

dapat

menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus


menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap
tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal.
Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun
kelompok.
901.

CLS = Cooperative Learning Stuctures. Pada penerapan


metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan
anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang peserta
didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.
Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh
tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau
skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang
waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua
peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran.
Sejarah Indonesia |

902.

LT = Learning Together. Pada metode ini kelompokkelompok


beragam

sekelas

beranggotakan

kemampuannya.

Tiap

peserta

kelompok

didik

yang

bekerjasama

untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu


kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set
lembar

tugas.

Penilaian

didasarkan

pada

hasil

kerja

kelompok.
903.

TGT = Teams-Games-Tournament. Pada metode ini, setelah


belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu
kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain
sesuai
Penilaian

dengan
didasari

tingkat
pada

kemampuan
jumlah

nilai

masing-masing.
yang

diperoleh

kelompok peserta didik.


904.

GI = Group Investigation. Pada metode ini semua anggota


kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian
beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi.
Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan
siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana
perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian
didasari pada proses dan hasil kerja kelompok.

905.

AC = Academic-Constructive Controversy. Pada metode ini


setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk
berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan
berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama
Sejarah Indonesia |

anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok


lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian
dan

pengembangan

kualitas

pemecahan

masalah,

pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi,


kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan
pada

kemampuan

setiap

anggota

maupun

kelompok

mempertahankan posisi yang dipilihnya.


906.

CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition.


Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode
pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca,
menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para
peserta didik saling menilai kemampuan membaca, menulis
dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam
kelompoknya.
907.

c.

Pemanfaatan Internet
908.
909.

Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam

pembelajaran atau kelas kolaboratif.

Karena memang,

internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan


akses dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah. Saat
ini internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang
murah dan mudah bagi peserta didik atau siapa saja yang
hendak mengubah wajah dunia.
910.
911.

Penggunaan

internet

disarakan

makin

mendesak

sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara


Sejarah Indonesia |

eksponensial. Masa depan adalah milik peserta didik yang


memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan
mereka

yang

mampu

memanfaatkan

informasi

diterima

secepat mungkin.
912.
913.
914.
915.

Materi Pelatihan 2.2:

Model Pembelajaran

916.
917.

Langkah Kegiatan Inti

918.

924.

926.

928.

929.
930.
931.
Mengamatitayangantigajenis
model
pembelajaran
(Project
Based
Learning,
Problem
Based
Learning,
danDiscovery
Learning).
932.
Menerapkan
Focus
Group
Discussion
untuk
mengidentifikasi
karakteristik tiga model pembelajaran.
933.
Kerjakelompok untuk mengidentifikasi
penerapan Pendekatan Scientific pada tiga
model pembelajaran.
934.

935.
936.
937.
938.
Sejarah Indonesia |

939.
940.
941.
942.
943.
944.
945.
946.
947.
948.

PPT-2.2-2

949.
950.

Sejarah Indonesia |

951.

952.

Sejarah Indonesia |

953.

954.
955.

Sejarah Indonesia |

956.

957.

Sejarah Indonesia |

958.

959.

Sejarah Indonesia |

960.

961.

Sejarah Indonesia |

962.

963.

964.

Sejarah Indonesia |

965.

966.
967.

Sejarah Indonesia |

968.

969.

970.
971.
972.
973.
974.
975.
976.
Sejarah Indonesia |

977.
978.
979.
980.

981.
982.
983.
984.
985.
986.
987.
Sejarah Indonesia |

988.
989.
990.
991.
992.
993.
994.
995.
996.
997.
998.
999.

HO2.2-2

1000.

1001.
1002.
1003.
1004.
1005.
1006.
1007.

1008. MODEL
PEMBELAJARAN
Sejarah Indonesia |

BERBASIS
MASALAH/
1009. PROBLEM
BASED LEARNING
1010.
1011.
1012.
1013.
1014.
1015.
1016.

1017. KEMENTERIAN PENDIDIKAN


DAN KEBUDAYAAN
1018. 2013
1019.
1020.

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS


MASALAH
1021.
(PROBLEM BASED LEARNING)
1022.
1023.
1024.
1025.
1026.
1027.
1028.
1029.
1030.
1031.
Problem Based Learning (PBL) adalah
kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam
kurikulumnya, dirancang masalah-masalah
Sejarah Indonesia |

yang menuntut peserta didik mendapat


pengetahuan penting, yang membuat mereka
mahir dalam memecahkan masalah, dan
memiliki model belajar sendiri serta memiliki
kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses
pembelajarannya menggunakan pendekatan
yang sistemik untuk memecahkan masalah
atau menghadapi tantangan yang nanti
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
A. Konsep/Definisi

1032.

Definisi

1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran


yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk
belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta
didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).
1033.
2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang
menantang peserta didik untuk belajar bagaimana belajar, bekerja secara
berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang
diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada
pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum
peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah
yang harus dipecahkan.

1034.
Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya
pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan
pemecahan masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah
keterampilan peserta didik dalam pencapaian materi pembelajaran.
1035.
Berikut ini lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah (PBL).
1) Permasalahan sebagai kajian.
2) Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman.
3) Permasalahan sebagai contoh.
4) Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses.
5) Permasalahan sebagai stimulus aktivitas autentik.

1036.
Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran
berbasis masalah dapat digambarkan berikut ini.
1037.
Guru
s
e
b
a
g

1038.

Sejarah Indonesia |

1039
Mas

ai
P
el
at
ih

Asking about thinking (bertanya


tentang pemikiran).

Memonitor pembelajaran.

Probbing ( menantang peserta


didik untuk berpikir ).

Menjaga agar peserta didik terlibat.

Mengatur dinamika kelompok.

Menjaga berlangsungnya proses.

1040.
adalah:

Peserta yang aktif. o

Terlibat langsung
dalam
pembelajaran.

Membangun
pembelajaran.

Menarik untuk
dipecahkan.
Menyediakan
kebutuhan yang ada
hubungannya dengan
pelajaran yang
dipelajari.

Tujuan dan hasil dari model pembelajaran berbasis masalah ini

1) Keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah

1041. Pembelajaran
berbasis
masalah
ini
ditujukan
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

untuk

2) Pemodelan peranan orang dewasa.

1042. Bentuk pembelajaran berbasis masalah penting menjembatani gap


antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih
praktis yang dijumpai di luar sekolah. Berikut ini aktivitas-aktivitas
mental di luar sekolah yang dapat dikembangkan.

PBL mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas.

PBL memiliki elemen-elemen magang. Hal ini mendorong pengamatan dan


dialog dengan yang lain sehingga peserta didik secara bertahap dapat memi
peran yang diamati tersebut.

PBL melibatkan peserta didik dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang


memungkinkan mereka menginterpretasikan dan menjelaskan fenomena
dunia nyata dan membangun femannya tentang fenomena itu.

3) Belajar Pengarahan Sendiri (self directed learning)


Sejarah Indonesia |

1043. Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada peserta didik.


Peserta didik harus dapat menentukan sendiri apa yang harus dipelajari,
dan dari mana informasi harus diperoleh, di bawah bimbingan guru.
1044.
1045.
1046.

Pendekatan PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut ini.

a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena


memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.
b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para
peserta didik ke diri dan panutannya.
c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa
dengan situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas
otentik dan menghasilkan sikap profesional.
d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan
keinginan peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan,
sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang
mandiri.
e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta
didik menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah
pembelajaran berdasarkan pengalaman.
f.

Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan


pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar
pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja
kelompok, dan self-management.

g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan


yang memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan
dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat,
disesuaikan dengan pengetahuan para peserta didik.
i.

proyek

harus

Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.


1047.

B. Fakta Empirik
Pembelajaran

1048.

Keberhasilan

Pendekatan

dalam

Proses

dan

Hasil

Kelebihan Menggunakan PBL

Sejarah Indonesia |

1049.
(1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta
didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka
mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha
mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin
bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan
situasi di mana konsep diterapkan.
1050.
(2) Dalam situasi PBL, peserta didik mengintegrasikan
pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya
dalam konteks yang relevan.
1051.
(3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
menumbuhkan inisiatif peserta didik didik dalam bekerja, motivasi
internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan
interpersonal dalam bekerja kelompok.
1052.
Metoda ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan
bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut :
1. peserta didik memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang
berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang
dijumpainya;
2. peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi
terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering
disebut student-centered;
3. peserta didik mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif.
1053.
PBL.

Berikut adalah beberapa hasil penelitian berkaitan dengan model

1. Wagiran, dkk, 2010, Pengembangan Pembelajaran Model Problem Based


Learning Dengan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dalam
Matadiklat Measuring Bagi Peserta didik SMK (Hibah Bersaing Perguruan
Tinggi), 2010: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
1054. Penelitian dirancang dalam tiga tahap dalam kurun waktu 3 tahun.
Pada tahun pertama penelitian bertujuan untuk merancang, membuat
dan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer berikut
perangkatnya dalam mendukung model pembelajaran PBL-PBK. Pada
tahun kedua, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan menguji
model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup luas sekaligus melihat
efektivitasnya. Pada tahun ketiga, penelitian ini memfokuskan pada
tahap sosialisasi model pembelajaran PBL-PBK dalam lingkup yang lebih
luas.
1055. Penelitian dirancang menggunakan pendekatan Research and
Development
Sumber data dalam penelitian ini meliputi kalangan
industri permesinan, perumus kebijakan, kepala sekolah, guru, peserta
Sejarah Indonesia |

didik, dan ahli pendidikan. Penerapan model direncanakan di 5 SMK


dengan metode eksperimen. Data dikumpulkan dengan teknik observasi,
wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara
kuantitatif yaitu deskriptif, dan komparatif.
1056. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah diperolehnya
kompetensi
Measuring
dan
diperolehnya
media
pembelajaran
berbantuan komputer dalam mendukung pembelajaran PBL-PBK yang
teruji. Hasil evaluasi ahli tentang kualitas media dilihat dari sisi materi
menunjukkan skor 3,38 (dalam kategori baik), dari kualitas tampilan
menunjukkan skor 3,04 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi
pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: konsistensi sebesar
2,92 (cukup baik), format sebesar 3,13 (baik), pengorganisasian sebesar
3,25 (baik), bentuk dan ukuran huruf sebesar 2,63 (cukup baik).
1057. Hasil uji kelayakan(ujicoba) kepada peserta didik menunjukkan
bahwa kualitas media dilihat dari sisi materi menunjukkan skor 3,28
(dalam kategori baik), dari kualitas tampilan dan daya tarik
menunjukkan skor 3,30 (dalam kategori baik), sedangkan dari sisi
pengorganisasian materi penunjukan skornya adalah: sebesar 3,22 (baik)
Dengan demikian media berbantuan komputer dalam matadiklat
measuring layak untuk diterapkan.
1058. Media berbantuan komputer yang disusun telah memenuhi aspek
kelayakan baik dari segi teoritis maupun dari segi empiris. Tedapat tiga
pola implementasi pembelajaran menggunakan media berbantuan
komputer yaitu: (a) sebagai media tayamg, (b) sebagai media
pendukung praktek, dan (c) sebagai media pembelajaran individual dan
interaktif.
2. Dian Mala Sari, Pebriyenni ., Yulfia Nora, 2013, Peningkatan Partisipasi
dan Hasil Belajar Peserta didik Kelas IVB dalam Pembelajaran IPS Melalui
Model Problem Based Learning di SDN 20 Kurao Pagang, Faculty of
Education, Bung Hatta University
1059. Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya partisipasi peserta didik
kelas IVB pada pembelajaran IPS. Yang berdampak terhadap rendahnya
hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan
peningkatan partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dalam
pembelajaran IPS melalui model PBL di SDN 20 Kurao Pagang. Jenis
penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara
partisipan.
1060. Subjek penelitian ini peserta didik kelas IVB SDN 20 Kurao Pagang.
Instrumen penelitian yang digunakan lembar observasi partisipasi
peserta didik, lembar observasi aktivitas guru, tes hasil belajar dan
catatan lapangan. Hasil penelitian diketahui bahwa partisipasi dalam
menjawab pertanyaan meningkat dari 52,5 % di siklus I menjadi 70%, di
siklus II. Partisipasi peserta didik menanggapi jawaban meningkat dari
40% di siklus I menjadi 65% di siklus II, dan partisipasi peserta didik
Sejarah Indonesia |

dalam presentasi meningkat dari 27,5% di siklus I menjadi 67,5% di


siklus II. Hasil belajar peserta didik siklus I meningkat dari 57,25%
menjadi 72,75% di siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar
yang ditentukan 70%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
partisipasi dan hasil belajar peserta didik kelas IVB dapat ditingkatkan
melalui model PBL dalam pembelajaran IPS di SDN 20 Kurao Pagang.
C. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran

1061.
Pembelajaran suatu materi pelajaran dengan menggunakan PBL
sebagai basis model dilaksanakan dengan cara mengikuti lima langkah PBL
dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya disesuaikan dengan mata
pelajaran yang bersangkutan.
1. Konsep Dasar (Basic Concept)

1062. Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar,


petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam
pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih
cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta
yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran. Lebih jauh, hal ini
diperlukan untuk memastikan peserta didik memperoleh kunci utama
materi pembelajaran, sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh
peserta didik seperti yang dapat terjadi jika peserta didik mempelajari
secara mandiri. Konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan
dalam bentuk garis besar saja, sehingga peserta didik dapat
mengembangkannya secara mandiri secara mendalam.
2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)

1063. Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau


permasalahan dan dalam kelompoknya, peserta didik melakukan
berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming yang dilaksanakan dengan
cara semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan
tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan
muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok
memiliki hak yang sama dalam memberikan dan menyampaikan ide
dalam diskusi serta mendokumentasikan secara tertulis pendapat
masing-masing dalam kertas kerja.
1064. Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang
dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud
dan artinya. Jika ada peserta didik yang mengetahui artinya, segera
menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat
dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan
kelompok. Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan
dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu dalam permasalahan
kelompok.
1065. Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang
lebih fokus. Ketiga, menentukan permasalahan dan melakukan
pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari referensi penyelesaian
Sejarah Indonesia |

dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihanpilihan yang diambil peserta didik. Jika tujuan yang diinginkan oleh
fasilitator
belum
disinggung
oleh
peserta
didik,
fasilitator
mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada akhir langkah
peserta didik diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja
yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan
pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk
memastikan setiap peserta didik mengikuti langkah ini, maka
pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

1066. Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing peserta didik


mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang
diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis
yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar
dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama,
yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan
pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan
di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu
dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan
dapat dipahami.
1067. Di luar pertemuan dengan fasilitator, peserta didik bebas untuk
mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam
pertemuan tersebut peserta didik akan saling bertukar informasi yang
telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun.
Peserta didik juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan,
sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap
permasalahan yang dihadapi.
4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)

1068. Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi


dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan
berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk
mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan
kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara
peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.
1069. Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap peserta didik
menyampaikan
hasil
pembelajaran
mandiri
dengan
cara
mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk mendapatkan
kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno
(kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan
kesimpulan akhir, dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap
peserta didik mengikuti langkah ini maka dilakukan dengan mengikuti
petunjuk.
5. Penilaian (Assessment)

Sejarah Indonesia |

1070. Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan


(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap
penguasaan
pengetahuan
yang
mencakup
seluruh
kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian
tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian
terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu
pembelajaran,
baik
software,
hardware,
maupun
kemampuan
perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap
dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi
dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran
dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut
ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
D. Contoh Penerapan

1071.
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta
didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih
dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang
muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk
berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah
mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan
mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
1072.
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh
pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di
berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga
dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan
kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik
diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang
sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang
harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar
kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
1073.

Tabel 1: Tahapan-Tahapan Model PBL

1074.
FAS
E
F
A
S
E
1076.

1075.
PER
ILAKU
GURU

Fase 1

1077.
Orientasi peserta
didik kepada masalah.

Menjelaskan tujuan pembelajaran,


menjelaskan logistik yg dibutuhkan.

Memotivasi peserta didik untuk terlibat


aktif dalam pemecahan masalah yang
dipilih.

1078.

Fase 2

1079.

Mengorganisasikan

1080.
Membantu peserta didik
mendefinisikan danmengorganisasikan
Sejarah Indonesia |

1074.
FAS
E
F
A
S
E

1075.
PER
ILAKU
GURU

peserta didik.

tugas belajar yang berhubungan dengan


masalah tersebut.

1081.

1083.
Mendorong peserta didik
untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah.

Fase 3

1082.
Membimbing
penyelidikan individu dan
kelompok.
1084.

Fase 4

1085.
Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya.
1087.

Fase 5

1088.
Menganalisa dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah.

1086.
Membantu peserta didik
dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang sesuai seperti laporan,
model dan berbagi tugas dengan teman.
1089.
Mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari
/meminta kelompok presentasi hasil
kerja.

1090.
1091.
1092.
1093.

Fase 1: Mengorientasikan Peserta Didik pada Masalah


1094.
Pembelajaran
dimulai
dengan
menjelaskan
tujuan
pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam
penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru harus
menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik
dan juga oleh guru. serta dijelaskan bagaimana guru akan
mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk
memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam
pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu
dilakukan dalam proses ini, yaitu sebagai berikut.
1. Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar
informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki
masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik
yang mandiri.
2. Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai
jawaban mutlak benar, sebuah masalah yang rumit atau
Sejarah Indonesia |

kompleks mempunyai
bertentangan.

banyak

penyelesaian

dan

seringkali

3. Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), peserta didik


didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi.
Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu,
namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau
dengan temannya.
4. Selama tahap analisis dan penjelasan, peserta didik akan didorong
untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh
kebebasan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau
teman sekelas. Semua peserta didik diberi peluang untuk
menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide
mereka.
1095.
1096.

Fase 2: Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar


1097.
Di samping mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah, pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar
berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan
kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat
memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompokkelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan
memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip
pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat
digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen,
pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya
tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan
mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja
dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
1098.
Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah
dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta
didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas
penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini
adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam
sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat
menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

1099.

Fase 3: Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok


1100.
Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi
permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun
pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni
pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan
memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi
merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus
mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan
melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka
Sejarah Indonesia |

betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya


adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk
menciptakan dan membangun ide mereka sendiri.
1101.
Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia
seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir
tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai
pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
1102.
Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan
memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki,
selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk
hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama pengajaran pada fase
ini, guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ideidenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus
mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berpikir tentang
kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang
kualitas informasi yang dikumpulkan.
1103.
Fase 4: Mengembangkan dan Menyajikan Artifak (Hasil
Karya) dan Mempamerkannya
1104.
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil
karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis,
namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan
pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari
situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian
multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat
berpikir peserta didik. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan
hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan
lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta
didik lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya yang dapat menjadi
penilai atau memberikan umpan balik.
1105.

Fase 5: Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah


1106.
Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini
dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan
mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan
dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta
peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang
telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.
1107.

E. Sistem Penilaian

1108.
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap
penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran
yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester
(UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Sejarah Indonesia |

1109.
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat
bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan
perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap
dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi
dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam
pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh
guru mata pelajaran yang bersangkutan.
1110.
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic
assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan
kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis
untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka
pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan
dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.
1. Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap
usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin
dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.
2. Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan
penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.

1111.

Penilaian yang relevan dalam PBL antara lain berikut ini.

1. Penilaian kinerja peserta didik.

1112. Pada penilaian kinerja ini, peserta didik diminta untuk unjuk kerja
atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu,
seperti
menulis
karangan,
melakukan
suatu
eksperimen,
menginterpretasikan jawaban pada suatu masalah, memainkan suatu
lagu, atau melukis suatu gambar.
2. Penilaian portofolio peserta didik.

1113. Penilaian portofolio adalah penilaian berkelanjutan yang


didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan
kemampuan peserta didik dalam suatu periode tertentu. Informasi
perkembangan peserta didik dapat berupa hasil karya terbaik peserta
didik selama proses belajar, pekerjaan hasil tes, piagam penghargaan,
atau bentuk informasi lain yang terkait kompetensi tertentu dalam suatu
mata pelajaran.
1114. Dari informasi perkembangan itu peserta didik dan guru dapat
menilai kemajuan belajar yang dicapai dan peserta didik terus berusaha
memperbaiki diri. Penilain dengan portofolio dapat dipakai untuk
penilaian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif. Penilaian
kolaboratif dalam PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self
assesment) dan peer assesment.
1115. Self assessment adalah penilaian yang dilakukan oleh peserta
didik itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya
dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai oleh peserta didik itu
sendiri dalam belajar. Peer assessment adalah penilian dimana peserta
Sejarah Indonesia |

didik berdiskusi untuk memberikan penilaian upaya dan hasil


penyelesaian tugas-tugas yang diselesaikan sendiri maupun teman
dalam kelompoknya.
3. Penilaian Potensi Belajar

1116. Penilaian yang diarahkan untuk mengukur potensi belajar peserta


didik yaitu mengukur kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan
bantuan guru atau teman-temannya yang lebih maju. PBL yang memberi
tugas-tugas pemecahan masalah memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan dan mengenali potensi kesiapan belajarnya.
4. Penilaian Usaha Kelompok

1117. Menilai usaha kelompok seperti yang dlakukan pada pembelajaran


kooperatif dapat dilakukan pada PBL. Penilaian usaha kelompok
mengurangi kompetisi merugikan yang sering terjadi, misalnya
membandingkan peserta didik dengan temannya. Penilaian dan evaluasi
yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah
menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh peserta didik sebagai hasil
pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersamasama.
1118. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan peserta
didik tersebut, penilaian ini antara lain: 1). assesment kerja, 2).
assesment autentik dan 3). portofolio. Penilaian proses bertujuan agar
guru dapat melihat bagaimana peserta didik merencanakan pemecahan
masalah, melihat bagaimana peserta didik menunjukkan pengetahuan
dan keterampilannya.
1119. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa
yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian
masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan
perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka di
samping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model
pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan peserta
didik dapat secara aktif mengembangkan kerangka berpikir dalam
memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar
(learning how to learn).
1120. Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan peserta
didik akan mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi
pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang
menekankan kebutuhan peserta didik untuk menyelidiki lingkungannya
dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna.
1121. Tahap evaluasi pada PBM terdiri atas tiga hal : 1. bagaimana
peserta didik dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses 2.
bagaimana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui
masalah 3. bagaimana peserta didik akan menyampaikan pengetahuan
hasil
pemecahan
akan
masalah
atau
sebagai
bentuk
pertanggungjawaban mereka belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian
Sejarah Indonesia |

atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam,


misalnya secara lisan atau verbal, laporan tertulis, atau sebagai suatu
bentuk penyajian formal lainnya. Sebagian dari evaluasi memfokuskan
pada pemecahan masalah oleh peserta didik maupun dengan cara
melakukan proses belajar kolaborasi (bekerja bersama pihak lain).
1122.
1123.
1124.
1125.
1126.
1127. Daftar Pustaka
1128.
1129.
Albanese, M.A. & Mitchell, S.. (1993). Problem Based Learning: a Review
of The Literature on Outcomes and Implementation Issues. Journal of Academic
Medicine
1130.
1131.
Barrows, H.S. & Tamblyn, R.M.. (1980). Problem Based Learning: an
Approach to Medical Education. New York: Springer Publishing
1132.
1133.
Dahlan, M.D. (1990). Model-Model Mengajar . Bandung: Diponegoro.
Sugiyono, Prof. Dr. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta

1134.

1135.
Das Salirawati, 2009, Penerapan Problem Based Learning Sebagai Upaya
Meningkatkan Kemampuan Peserta Didik Dalam Memecahkan Masalah, Makalah

1136.

1137.
Duch, J. Barbara. (1995). Problems: A Key Factor in PBL. [Online]. Tersedia
: http://www.udel.edu/pbl/cte/spr96-phys.html. [21 Juli 2010].
1138.
1139.
Glazer, Evan. (2001). Problem Based Instruction. In M. Orey (Ed.),
Emerging Perspectives on Learning, Teaching, and Technology [Online]. Tersedia:
http://www.coe.uga.edu/epltt/ProblemBasedInstruct.htm. [17 Juni 2005].
1140.
1141.
Ibrahim, M dan Nur. (2005). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya:
University Press
1142.
1143.
Karim, S., et al. (2007). Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis
Masalah untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Fisika serta Mengembangkan
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Kecakapan Ilmiah. Proposal Hibah
Kompetitif UPI 2007. Bandung: Tidak diterbitkan
1144.
1145.
Major, Claire,H dan Palmer, Betsy. 2001. Assessing the Effectiveness of
Problem-Based Learning in Higher Education: Lessons from the Literature.
[Online]. Tersedia : http://www.rapidintellect.com/AE Qweb/mop4spr01.htm [14 Juli
2010]
1146.
Sejarah Indonesia |

1147.
Melvin L. & Silberman. (1996). Active Learning: 101 Strategies to Teach
any Subject. USA: Allyn & Bacon
1148.
1149.
Mudjiman, Haris. 2006. Belajar Mandiri. Surakarta: Lembaga
Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS
(UNS Press)
1150.
1151.
Nurhadi. (2004). Kurikulum 2004:
Grasindo

Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta:

1152.
1153.
Proyek DUeLike Universitas Indonesia. (2002). Panduan Pelaksanaan
Collaborative Learning & Problem Based Learning. Depok: UI
1154.
1155.
Jambi

Siburian, Jodion. 2010. Model Pembelajaran Sains, Jambi: Universitas

1156.
1157.
Sudjana, D. (1982). Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Bandung :
Lembaga Penelitian IKIP Bandung
1158.
1159.
Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru Pembelajaran, Jambi: Gaung
Persada Press

1160.
1161.
1162.
1163.
1164.
1165.

1166.

Sejarah Indonesia |

1167.

1168.

1169.

Sejarah Indonesia |

1170.

1171.

Sejarah Indonesia |

1172.

Sejarah Indonesia |

1173.

1174.

1175.

Sejarah Indonesia |

1176.

HO-2.21

1177.
1178.

1179.
1180.
1181.
1182.
1183.
1184.
1185.

1186. MODEL
PEMBELAJARAN
BERBASIS PROYEK/
1187. PROJECT
BASED LEARNING
1188.
1189.
1190.
1191.
1192.
1193.
1194.
1195.
Sejarah Indonesia |

1196.

1197. KEMENTERIAN PENDIDIKAN


DAN KEBUDAYAAN

Sejarah Indonesia |

A. KONSEP/DEFINISI
1198.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL)
adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan
sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian,
interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai
bentuk hasil belajar.
1199.
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar
yang
menggunakan
masalah
sebagai
langkah
awal
dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan
pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis
Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang
diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan
memahaminya.
1200.
Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan
pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta
didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai
subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab,
secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama
sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya.
PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia
nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
1201.
Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya
belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan
kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi)
dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan
melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis
Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia
nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
1202.
Pembelajaran
Berbasis
Proyek
dapat
dikatakan
sebagai
operasionalisasi konsep Pendidikan Berbasis Produksi yang dikembangkan di
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk
menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat
membekali peserta didiknya dengan kompetensi terstandar yang dibutuhkan
untuk bekerja dibidang masing-masing. Dengan pembelajaran berbasis
produksi peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja
yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model pembelajaran yang
cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.

1203.
berikut:

Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik sebagai

1. peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;


2. adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta
didik;
Sejarah Indonesia SMA | 270

3. peserta didik mendesain proses untuk


permasalahan atau tantangan yang diajukan;

menentukan

solusi

atas

4. peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan


mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
5. proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
6. peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah
dijalankan;
7. produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
8. situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
1204.
Peran instruktur atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek
sebaiknya sebagai fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk
mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan
inovasi dari siswa.
1205.
Beberapa hambatan dalam implementasi metode Pembelajaran
Berbasis Proyek antara lain berikut ini.
1. Pembelajaran Berbasis Proyek memerlukan banyak waktu
disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek.

yang

harus

2. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah
biaya untuk memasuki system baru.
3. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional ,dimana instruktur
memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit,
terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan, sehingga kebutuhan listrik
bertambah.
1206.
Untuk itu disarankan menggunakan team teaching dalam proses
pembelajaran, dan akan lebih menarik lagi jika suasana ruang belajar tidak
monoton, beberapa contoh perubahan lay-out ruang kelas, seperti: traditional
class (teori), discussion group (pembuatan konsep dan pembagian tugas
kelompok), lab tables (saat mengerjakan tugas mandiri), circle (presentasi).
Atau buatlah suasana belajar menyenangkan, bahkan saat diskusi dapat
dilakukan di taman, artinya belajar tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas.

1207.

B. FAKTA EMPIRIK KEBERHASILAN


1208.
Kelebihan dan kekurangan pada penerapan
Berbasis Proyek dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pembelajaran

1. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek


a. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong
kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu
untuk dihargai.
b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Sejarah Indonesia SMA | 271

c. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan


problem-problem yang kompleks.
d. Meningkatkan kolaborasi.
e. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi.
f.

Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber.

g. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik


dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumbersumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
h. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
i.

Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan


menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan
dengan dunia nyata.

j.

Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik


maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
1209.

2. Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek


a. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
b. Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
c. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana
instruktur memegang peran utama di kelas.
d. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
e. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan
informasi akan mengalami kesulitan.
f.

Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.

g. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda,


dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan

1210.
Untuk mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek
di atas seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi
peserta didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik
dalam menyelesaikan proyek, meminimalis dan menyediakan peralatan
yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar, memilih lokasi
penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak
waktu dan biaya, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses
pembelajaran.
1211.
Pembelajaran Berbasis Proyek ini juga menuntut siswa untuk
mengembangkan keterampilan seperti kolaborasi dan refleksi. Menurut
studi penelitian, Pembelajaran Berbasis Proyek membantu siswa untuk
meningkatkan keterampilan sosial mereka, sering menyebabkan absensi
Sejarah Indonesia SMA | 272

berkurang dan lebih sedikit masalah disiplin di kelas. Siswa juga menjadi
lebih percaya diri berbicara dengan kelompok orang, termasuk orang
dewasa.
1212.
Pelajaran berbasis proyek juga meningkatkan antusiasme untuk
belajar. Ketika anak-anak bersemangat dan antusias tentang apa yang
mereka pelajari, mereka sering mendapatkan lebih banyak terlibat dalam
subjek dan kemudian memperluas minat mereka untuk mata pelajaran
lainnya. Antusias peserta didik cenderung untuk mempertahankan apa
yang mereka pelajari, bukan melupakannya secepat mereka telah lulus tes.
1213.
1214.

Sejarah Indonesia SMA | 273

C. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL
1215.
Langkah langkah pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek
dapat dijelaskan dengan diagram sebagai berikut.
1216.
1217.

1
PENENTUAN
PERTANYAAN
MENDASAR

6
EVALUASI
PENGALAMAN

2
MENYUSUN
PERECANAAN PROYEK

3
MENYUSUN JADWAL

5
MENGUJI HASIL

4
MONITORING

1218.
1219.
Diagram 1. Langkah
Pembelajaran Berbasis Proyek

langkah

Pelaksanaan

1220.
1221.
Penjelasan Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek
sebagai berikut.
1. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).

1222. Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu


pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam
melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan
realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan
untuk para peserta didik.
2. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project).

1223. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan


peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan
merasa memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang
aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam
menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan
berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan
yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Sejarah Indonesia SMA | 274

1224. Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun


jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap
ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek,
(2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta
didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta
didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan
proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan
(alasan) tentang pemilihan suatu cara.
1225.
4. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and
the Progress of the Project)

1226. Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor


terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek.
Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada
setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor
bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring,
dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas
yang penting.
5. Menguji Hasil (Assess the Outcome)

1227. Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam


mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi
kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik
tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik,
membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran
berikutnya.
6. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

1228. Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik


melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah
dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun
kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan
perasaan
dan
pengalamanya
selama
menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan
diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses
pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan
baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan
pada tahap pertama pembelajaran.
1229.
Peran
guru dan
peserta didik
Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut.

dalam

pelaksanaan

1. Peran Guru
a. Merencanakan dan mendesain pembelajaran.
b. Membuat strategi pembelajaran.
c. Membayangkan interaksi yang akan terjadi antara guru dan siswa.
Sejarah Indonesia SMA | 275

d. Mencari keunikan siswa.


e. Menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian.
f. Membuat portofolio pekerjaan siswa.
2. Peran Peserta Didik
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir.


Melakukan riset sederhana.
Mempelajari ide dan konsep baru.
Belajar mengatur waktu dengan baik.
Melakukan kegiatan belajar sendiri/kelompok.
Mengaplikasikanhasil belajar lewat tindakan.
Melakukan interaksi sosial (wawancara, survey, observasi, dll).

1230.
1231.

SISTEM PENILAIAN

1232.
Penilaian pembelajaran dengan metoda Pembelajaran Berbasis
Proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran
berbasis proyek. Penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek dapat
menggunakan teknik penilaian yang dikembangkan oleh Pusat Penilaian
Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu penilaian proyek
atau penilaian produk. Penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Penilaian Proyek
a. Pengertian

1233.
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap
suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.
Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian
data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui
pemahaman,
kemampuan
mengaplikasikan,
kemampuan
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada
mata pelajaran tertentu secara jelas.
1234.
Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu
dipertimbangkan yaitu:
1) Kemampuan pengelolaan
1235. Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari
informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta
penulisan laporan.
2) Relevansi

Sejarah Indonesia SMA | 276

1236. Kesesuaian
dengan
mata
pelajaran,
dengan
mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan dalam pembelajaran.
3) Keaslian
1237. Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil
karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa
petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
b. Teknik Penilaian Proyek

1238.
Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses
pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu
menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti
penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan
penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga
dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat
menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun
skala penilaian.
1239.

Sejarah Indonesia SMA | 277

1240.
1241.
1242.

Contoh Teknik Penilaian Proyek

1243.
1244.

Mata Pelajaran

1245.

Nama Proyek

1246.

Alokasi Waktu

1247.

Guru Pembimbing :

1248.
1249.

Nama :

1250.

NIS

1251.

Kelas :

1252.

1256.

a.
b.
1259.

1254.
ASPEK

1255.

1257.
PERENC
ANAA
N:

1258.

1260.
PELAKSA
NAAN
:

1261.

Persiapan
Rumusan Judul

a.
b.

Sistematika Penulisan
Keakuratan Sumber Data /
Informasi
c.
Kuantitas Sumber Data
d.
Analisis Data
e.
Penarikan Kesimpulan
1262.
1263.
LAPORA
N
PROY
EK :

1264.

Sejarah Indonesia SMA | 278

a.
b.

Performans
Presentasi / Penguasaan
1266.

TOTAL SKOR

1267.
1268.
1269.
1270.
Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan , proses
pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu
memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan
penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist.
1271.

2. Penilaian Produk
a. Pengertian

1272.
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses
pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi
penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk
teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni
(patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu,
keramik, plastik, dan logam. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga)
tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu:
1) Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik
dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan,
dan mendesain produk.
2) Tahap
pembuatan
produk
(proses),
meliputi:
penilaian
kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan
bahan, alat, dan teknik.
3) Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk
yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
b. Teknik Penilaian Produk

1273.
Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau
analitik.
1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk,
biasanya dilakukan pada tahap appraisal.
2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya
dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua
tahap proses pengembangan.
Sejarah Indonesia SMA | 279

1274.
1275.
1276.
1277.

Mata Ajar

1278.

Nama Proyek

1279.

Alokasi Waktu

1280.

Nama Peserta didik :

1281.

Kelas/SMT

Contoh Penilaian Produk

:
1282.

1284.
Taha
pa
n
1287.
Tahap
Pe
re
nc
an
aa
n
Ba
ha
n
1290.
Tahap
Pr
os
es
Pe
m
bu
at
an
a.
Persiapan Alat dan Bahan
b.
Teknik Pengolahan
c.
K3 (Keselamatan kerja,
Keamanan dan Kebersihan)
1293.

1285.

1288.

1291.

1294.

Sejarah Indonesia SMA | 280

Tahap
Ak
hir
(H
asi
l
Pr
od
uk
)
a.
b.

Bentuk Fisik
Inovasi
1295.
TO
TAL
SKOR
1297.

1298.

1296.

Catatan :

1299.
*) Skor diberikan dengan rentang skor 1 sampai dengan
5, dengan ketentuan semakin lengkap jawaban dan ketepatan
dalam proses pembuatan maka semakin tinggi nilainya.
1300.
1301.
1302.
1303.
1304.
1305.
1306.
1307.
1308.
1309.
1310.
1311.
1312.
1313.
1314.
1315.
Sejarah Indonesia SMA | 281

1316.
1317.
1319.

1318.

Daftar Pustaka

1320.
Alexander, D. (2000). The learning that lies
between play and academics in afterschool
programs. National Institute on Out-of-School Time.
Retrieved from http://www.niost.org/

1321.
1322.

1324.

1326.
1327.

Publications/papers.
1323.
Admin.Metode
Pembelajaran
Berbasis
Proyek (Project Based Learning) [online]. Diakses
di
http://digilib.sunanampel.ac.id/files/disk1/151/hubptain-gdl-ellyikasus7509-3-babii.pdf (17 Oktober 2011).
1325.
Barron, B., & Darling-Hammond, L. (2008).
Teaching for meaningful learning: A review of
research on inquiry-based and cooperative
learning. Retrieved from http://www.edutopia.

org/pdfs/edutopia-teaching-for-meaningful-learning.pdf.

1328.
Buck Institute for Education. Introduction to
Project Based Learning. [Online]. Diakses di
http://www.bie.org/images/uploads/general/20fa7d
42c216e2ec171a212e97fd4a9e.pdf (18 Oktober
2011).

1329.
1330.
Daniel K. Schneider. 2005. Project-based
learning.
[Online].
Diakses
dihttp://edutechwiki.unige.ch/en/Projectbased_learning (18 Oktober 2011).

1331.
1332.
Florin, Suzanne. 2010. The Success of
Project Based Learning. [Online]. Diakses di
http://www.brighthub.com/education/k12/articles/90553.aspx (18 Oktober 2011)

1333.
1334.
Grant, M. (2009, April). Understanding
projects in projectbased learning: A students
perspective. Paper presented at Annual Meeting of
the American Educational Research Association,
San Diego, CA.
1335.
1336.
Lucas, George .(2005). Instructional Module
Project
Based
Learning.
http://www.edutopia.org/modules/PBL/whatpbl.php.
Diakses tanggal 13 Juli 2010.
1337.
1338.
Markham, T. (2003). Project-Based Learning
Handbook (2nd ed.). Novato, CA: Buck Institute for
Education.
1339.
Sejarah Indonesia SMA | 282

1340.
Research summary: Project-based learning
in middle grades mathematics. Retrieved from
http://www.nmsa.org/Research/ResearchSummarie
s.
1341.
1342.
ResearchSummaries/ProjectBasedLearningi
nMath/tabid/1570/Default.aspx.

1343.

1344.
Savery, J. R. (2006). Overview of problembased learning: Definitions and distinctions. The
Interdisciplinary Journal of Problem-Based
Learning, 1(1), 920. Journal of Problem-Based
Learning, 3(1), 1243.

1345.
1346.
1347.
1348.
1349.
1350.
1351.
1352.
1353.

1354.

1355.

Sejarah Indonesia SMA | 283

1356.

1357.

1358.

Sejarah Indonesia SMA | 284

1359.

1360.

1361.

Sejarah Indonesia SMA | 285

1362.

1363.

1364.

Sejarah Indonesia SMA | 286

1365.

1366.

1367.

Sejarah Indonesia SMA | 287

1368.

1369.

1370.

1371.

Sejarah Indonesia SMA | 288

1372.

1373.

1374.

Sejarah Indonesia SMA | 289

1375.

1376.

Sejarah Indonesia SMA | 290

1377.

1378.
1379.

1380.
1381.
1382.
1383.
1384.
1385.
1386.
Sejarah Indonesia SMA | 291

1387.
1388.
1389.
1390.
1391.
1392.
1393.
1394.
1395.
1396.
1397.

HO-2.23

Sejarah Indonesia SMA | 292

1398.
1399.
1400.

1401.
1402.
1403.
1404.
1405.
1406.
1407.

1408. MODEL
PEMBELAJARAN
PENEMUAN
1409. (DISCOVERY
LEARNING)
1410.
1411.
1412.
1413.
1414.
1415.
1416.
1417.
Sejarah Indonesia SMA | 293

1418. KEMENTERIAN PENDIDIKAN


DAN KEBUDAYAAN
1419. 2013
1420.
1421.
1422.

MODEL PEMBELAJARAN
PENEMUAN
(DISCOVERY LEARNING)
1423.

A. Definisi/ Konsep

1. Definisi

Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai


proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran
dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri.
Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: Discovery Learning can be defined as
the learning that takes place when the student is not presented with subject
matter in the final form, but rather is required to organize it him self
(Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Dasar ide Bruner ialah pendapat
dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar
di kelas.
1424. Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery
Learning, di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari
dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41). Metode Discovery
Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui
proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan
(Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat,
terutama
dalam
penggunaan
proses
mentalnya
untuk
menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan
melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan
dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan
discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig
conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik,
2001:219).
1425. Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai
prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving.
Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada
Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep
atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya
dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang
diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa
Sejarah Indonesia SMA | 294

oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil


rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan
keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam
masalah itu melalui proses penelitian.
1426. Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan
menyelesaikan masalah. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak
jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan
pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam
bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong
untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan
dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau
membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka
pahami dalam suatu bentuk akhir.
1427. Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning
secara
berulang-ulang
dapat
meningkatkan
kemampuan
penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan metode
Discovery Learning, ingin merubah kondisi belajar yang pasif
menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher
oriented ke student oriented. Mengubah modus Ekspositori siswa
hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke
modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri.
2. Konsep
Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya metode Discovery Learning
merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep,
yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Sebagaimana
teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery,
bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori, atau
lebih sering disebut sistem-sistem coding. Pembentukan kategorikategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam
arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara
obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events).
1428. Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi
memiliki lima unsur, dan siswa dikatakan memahami suatu
konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu,
meliputi: 1) Nama; 2) Contoh-contoh baik yang positif maupun
yang negatif; 3) Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak; 4)
Rentangan karakteristik; 5) Kaidah (Budiningsih, 2005:43). Bruner
menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua
kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses
berpikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan mengkategori
meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh
Sejarah Indonesia SMA | 295

(obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan


menggunakan dasar kriteria tertentu.
1429. Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi
aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya
perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu
lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap
eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning
Environment, yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan
eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau
pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan
seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat
berjalan dengan baik dan lebih kreatif.
1430. Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif
harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan
pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam
berpikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan
tingkat perkembangannya.
1431. Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi
melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara
lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic. Tahap
enaktive, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya
untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam
memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan
motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan
sebagainya. Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek
atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar
melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan
(komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki
ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi
oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam
memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol
bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.
1432. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak
simbol. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya,
semakin dominan sistem simbolnya. Secara sederhana teori
perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah
anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke
depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan
beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive.
Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada
Sejarah Indonesia SMA | 296

gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk


menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih,
85:2001).
1433. Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru
berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat
guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan
belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman, 2005:145). Kondisi
seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher
oriented menjadi student oriented.
1434. Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang
menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan
muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang
scientis, historin, atau ahli matematika. Dalam metode Discovery
Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa
dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun
informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis,
mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat
kesimpulan-kesimpulan.
1435. Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti
bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk
mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti
mereka. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode
Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada
kesempatan-kesempatan dalam belajar yang
lebih mandiri.
Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman
melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya
(Budiningsih, 2005:41).
1436. Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode
Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru
memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi
seorang problem solver, seorang scientist, historian, atau ahli
matematika. Melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya,
menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi
dirinya.
1437. Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai
metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial
(pemulaan) mengajar, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang
dari pada metode-metode mengajar lainnya. Hal ini tak berarti
Sejarah Indonesia SMA | 297

bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan


setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang
diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar
diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri.
B. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil
Pembelajaran
1438.
Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan, penerapan pendekatan
Discovery Learning dalam pembelajaran memiliki kelebhihan-kelebihan
dan kelemahan-kelemahan.

1439.
1. Kelebihan Penerapan Discovery Learning
a. Membantu
siswa
untuk
memperbaiki
dan
meningkatkan
keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha
penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang
tergantung bagaimana cara belajarnya.
b. Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan
ampuh karena
1440.
menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
c. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan
1441.
berhasil.
d. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan
sesuai dengan kecepatannya sendiri.
e. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri
dengan melibatkan
1442.
akalnya dan motivasi sendiri.
f. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya,
karena
1443.
memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang
lainnya.
g. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif
mengeluarkan gagasan1444.
gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa,
dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
h. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena
mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.

1445.
i.
Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide
lebih baik.
1446.
j.
Membantu dan mengembangkan ingatan dan
transfer kepada situasi proses
1447.
belajar yang baru.
1448.
k.
Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas
inisiatif sendiri.
1449.
l.
Mendorong siswa berpikir intuisi dan
merumuskan hipotesis sendiri.
1450.
m. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsic.
1451.
n. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
1452.
o. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa
menuju pada pembentukan
1453.
manusia seutuhnya.
1454.
p. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
Sejarah Indonesia SMA | 298

1455.
q. Kemungkinan
siswa
belajar
dengan
memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
1456.
r.
Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan
individu.
1457.
2. Kelemahan Penerapan Discovery Learning
a. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk
belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan
abstrak atau berpikir atau mengungkapkan hubungan antara
konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya
akan menimbulkan frustasi.
b. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak,
karena
1458.
membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka
menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
c. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar
berhadapan
1459.
dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan caracara belajar yang lama.
d. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan
pemahaman, sedangkan
1460.
mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi
secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
e. Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk
mengukur gagasan
1461.
yang dikemukakan oleh para siswa
f. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang
akan ditemukan
1462.
oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

1463.

C. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses


Pembelajaran
1464.
Berikut ini langkah-langkah dalam mengaplikasikan model
discovery learning di kelas.
1465.
Langkah Persiapan Metode Discovery Learning
1466. a. Menentukan tujuan pembelajaran.
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat,
gaya
1467.
belajar, dan sebagainya).
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif
(dari
1468.
contoh-contoh generalisasi).
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi,
1469.
tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari
yang
1470.
konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke
simbolik.
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
1471.
1. Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning
1472. Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode
Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus
dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai
berikut:
Sejarah Indonesia SMA | 299

1473.
a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
1474. Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu
yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak
memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
1475.
1476. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi
interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa
dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan
stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa
pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian
seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus
kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi
dapat tercapai.

1477.
b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)
1478. Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan
pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah
2004:244), sedangkan menurut
permasalahan yang dipilih itu
selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis,
yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas
pertanyaan
yang
diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis
permasasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna
dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan
suatu masalah.

1479.

1480.
c. Data Collection (Pengumpulan Data)
1481. Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan
kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah,
2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis.
1482.
1483. Dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca
literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan
uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa
belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan
dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak
disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang
telah dimiliki.
1484.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
1485. Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik
melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua
informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya,
Sejarah Indonesia SMA | 300

1492.

semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu


dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).
1486.
1487. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/
kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu
mendapat pembuktian secara logis
1488.
e. Verification (Pembuktian)
1489. Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi
dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing
(Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses
belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori,
aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
1490.
1491. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang
ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu
kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
1493.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
1494. Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik
sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan
hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka
dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah
menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi
yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan
kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman
seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari
pengalaman-pengalaman itu.
1495.
1496.
1497.

D. Sistem Penilaian
1498.
Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat
dilakukan dengan menggunakan tes maupun nontes, sedangkan penilaian
yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau
penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian
kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat
menggunakan tes tertulis.
Jika bentuk penilaiannya
menggunakan
penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa, maka pelaksanaan
penilaian dapat menggunakan contoh-contoh format penilaian seperti
tersebut di bawah ini.
1499.

1. Penilaian Tertulis
1500. Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban
yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam
menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk
menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti
Sejarah Indonesia SMA | 301

memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. Ada


dua bentuk soal tes tertulis, yaitu berikut ini.
1501.
1. Soal dengan memilih jawaban.
a. pilihan ganda
b. dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
c. menjodohkan
1502.
2. Soal dengan mensuplai-jawaban.
a. isian atau melengkapi
b. jawaban singkat
c. soal uraian
1503. Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban
benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang
hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan
mengingat (pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan
untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan
ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak
mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya
memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak
mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan
menerka.
1504. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak
belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan
jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya
dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan
peserta didik yang sesungguhnya.
1505. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang
menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan
mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari,
dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan
tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan katakatanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan,
misalnya
mengemukakan
pendapat,
berpikir
logis,
dan
menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang
ditanyakan terbatas.
1506.
1507. Dalam menyusun instrumen
dipertimbangkan hal-hal berikut:

penilaian

tertulis

perlu

a. materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;


b. konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan
tegas.
Sejarah Indonesia SMA | 302

c. bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat


yang menimbulkan
1508. penafsiran ganda.
1509.
1510.
2. Penilaian Diri
1511. Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik
penilaian, subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya
sendiri berkaitan dengan, status, proses dan tingkat pencapaian
kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu.
1512. Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai
aspek penilaian, yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif
dan psikomotor. Dalam proses pembelajaran di kelas, berkaitan
dengan kompetensi kognitif, misalnya: peserta didik dapat diminta
untuk menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir
sebagai hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu, berdasarkan
kriteria atau acuan yang telah disiapkan.
1513. Berkaitan dengan kompetensi afektif, misalnya, peserta
didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan
perasaannya terhadap suatu obyek sikap tertentu. Selanjutnya,
peserta didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan
kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Berkaitan dengan
kompetensi psikomotorik,
peserta didik dapat diminta untuk
menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya
sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang telah
disiapkan.
1514. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif
terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan
penggunaan teknik ini dalam penilaian di kelas sebagai berikut:
a.

dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena


mereka diberi kepercayaan
1515.
untuk menilai dirinya sendiri;
b. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena
ketika mereka
1516.
melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi
terhadap kekuatan dan kelemahan
1517.
yang dimilikinya;
c. dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk
berbuat jujur, karena
1518.
mereka dituntut untuk jujur dan obyektif dalam
melakukan penilaian.
1519.
1520.
1521.
1522.
1523.
1524.
1525.
Sejarah Indonesia SMA | 303

3.

Penilaian Sikap

1526.
1527.
Sikap

Contoh Format Penilaian

1528.
1529.
_________
1530.
_________
1531.

Mata Pelajaran : _________


Kelompok

Semester

: _________

Kelas

:
:

1534.

Sko
r

1538.
1545.
1553.
1561.
1569.
1577.
1585.
1593.
1600.
4.

1546.
1554.
1562.
1570.
1578.
1586.
1594.

1540.
1547.
1555.
1563.
1571.
1579.
1587.
1595.

1548.
1556.
1564.
1572.
1580.
1588.
1596.

1543.

1549.
1557.
1565.
1573.
1581.
1589.
1597.

1550.
1558.
1566.
1574.
1582.
1590.
1598.

1551.
1559.
1567.
1575.
1583.
1591.
1599.

Format Penilaian Kinerja


1601.

Contoh Format Penilaian Kinerja

1602.
Nama Siswa:
Kelas:
1603.
1604.
1605.
NO

1613.
1.

1618.

Tanggal:

1606.
Kemampuan

Tingkat

1609.
1

1610.
2

1611.
3

1612.
4

1619.

1620.

1621.

1622.

1614.
1615.
2.
1616.
Sejarah Indonesia SMA | 304

1617.
3.
1623.

1624.
Jumlah

1626.

1627.

1628.

1625.
1630.

Kriteria Penskoran

Kriteria Penilaian

1.Baik Sekali 4
10 12
A
2.Baik
3
7 9 B
3.Cukup
2
46
C
4.Kurang
1
3D
1631.
A: Pengelompokan yang dilakukan siswa sangat baik,
uraian yang dijabarkan rinci dan
1632.
diperoleh dengan menggunakan seluruh indra disertai
dengan gambar-gambar atau
1633.
diagram.
1634.
B: Pengelompokan yang dilakukan siswa baik, uraian yang
dijabarkan kurang rinci dan
1635.
diperoleh dengan menggunakan sebagian besar indra
dengan gambar-gambar atau
1636.
diagram.
1637.
C: Pengelompokan yang dilakukan siswa cukup baik, uraian
yang dijabarkan tidak rinci dan diperoleh dengan menggunakan
sebagian kecil indra dengan gambar-gambar atau diagram.
1638.
D: Pengelompokan yang dilakukan siswa kurang baik,
uraian yang dijabarkan kurang sesuai dan diperoleh dengan
menggunakan sebagian besar indra dengan gambar-gambar atau
diagram.
1639.
1640. 5.Penilaian Hasil Kerja Siswa
1641.

1642.
Input
1643.

Nama Siswa:
Kelas:
1644.
Prose
s

Tanggal:

1645.
Out
Put/Ha
sil

1648.

1646.
ilai

1647.
Daftar Pustaka

1649.
Dahar, RW., 1991.
Jakarta: Penerbit Erlangga.

Teori-Teori

Belajar.

1650.
Sejarah Indonesia SMA | 305

1629.

1651.
Holiwarni, B., dkk., 2008. Penerapan
Metode
Penemuan
Terbimbing
pada
Mata
Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa Kelas IV SDN 016 Pekanbaru Kota (Laporan
Penelitian). Pekanbaru: Lemlit UNRI

1652.

1653.
http://darussholahjember.blogspot.com
/2011/05/aplikasi-metode-discoverylearning.html (diunduh 23 Mei 2013).

1654.
1655.
http://ebookbrowse.com/pengertianmodel-pembelajaran-discovery-learningmenurut-para-ahli-pdf-d368189396 (diunduh
23 Mei 2013).

1656.
1657.
http://prismabekasi.blogspot.com/2012
/10/definisi-belajar-menurut-para-ahli.html
(diunduh 23 Mei 2013)
1658.
1659.
Jurnal Geliga Sains 3 (2), 8-13, 2009
Program Studi Pendidikan Fisika FKIP
Universitas Riau ISSN 1978-502X.
1660.
1661.
Rizqi, 2000. Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran
Penemuan Terbimbing (Guide-Discovery Learning)
yang Mengintegrasikan Kegiatan Laboratorium
untuk Fisika SLTP Bahan Kajian Pengukuran. Tesis,
UNESA (tidak dipublikasikan).
1662.
1663.
Syamsudini , 2012. Aplikasi Metode
Discovery Learning dalam Meningkatkan
Kemampuan Memecahkan Masalah, Motivasi
Belajar dan Daya Ingat Siswa.
1664.
1665.
Syah, M., 1996. Psikologi Pendidikan Suatu
Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
1666.
1667.

1668.

Sejarah Indonesia SMA | 306

1669.

Materi Pelatihan 2.3:


Konsep Penilaian
Autentik pada Proses dan Hasil
Pembelajaran
1670.
1671.

Langkah Kegiatan Inti

1672.

1677.

1678.

1680.

1682.

1683.
1684.
1685.
Kegiatan
interaktif
menyamakan persepsi tentang
bentuk penilaian autentik.

untuk
jenis dan

1686.
Diskusi materi
Konsep Penilaian
Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.
1687.
Paparan materi Konsep Penilaian
Autentik pada Proses dan Hasil Belajar dengan
menggunakan bahan tayang PPT-2.3
1688.
Paparan materi Contoh Penerapan
Penilaian Autentik pada Pembelajaran dengan
menggunakan bahan tayang PPT-2.3/3.2.
1689.
1690.
1691.
1692.
1693.
1694.
1695.
1696.
1697.
Sejarah Indonesia SMA | 307

1698.

1699.

1700.
1701.
1702.
1703.
1704.
1705.
1706.

Sejarah Indonesia SMA | 308

1707.
1708.
1709.
1710.
1711.
1712.
1713.

Sejarah Indonesia SMA | 309

1714.

Sejarah Indonesia SMA | 310

1715.

1716.
1717.

Sejarah Indonesia SMA | 311

1718.

1719.

1720.

Sejarah Indonesia SMA | 312

1721.

1722.

Sejarah Indonesia SMA | 313

1723.

1724.

Sejarah Indonesia SMA | 314

1725.

1726.
1727.
1728.
1729.
1730.
1731.
1732.
1733.
1734.
Sejarah Indonesia SMA | 315

1735.

1736.

Sejarah Indonesia SMA | 316

1738.
1739.
1740.
1741.
1742.
1743.
1744.

1745.
1746.
1747.
1748.
1749.
1750.
1751.
1752.

Sejarah Indonesia SMA | 317

1753.

1754.

1755.
1756.
1757.
1758.
1759.
1760.
1761.
Sejarah Indonesia SMA | 318

1762.

1763.

Sejarah Indonesia SMA | 319

1764.

1765.

Sejarah Indonesia SMA | 320

1766.

1767.

Sejarah Indonesia SMA | 321

1768.

1769.

1770.

Sejarah Indonesia SMA | 322

1771.

HO2.3-1

1772. PENILAIAN AUTENTIK PADA


PROSES DAN HASIL BELAJAR
1773.
A. Definsi dan Makna Asesmen Autentik
1774.
Asesmen autentik adalah pengukuran
yang bermakna secara signifikan atas hasil
belajar peserta didik untuk ranah sikap,
keterampilan,
dan
pengetahuan.
Istilah
asesmen merupakan sinonim dari penilaian,
pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah
autentik merupakan sinonim dari asli, nyata,
valid, atau
reliabel.
Dalam
kehidupan
akademik keseharian, frasa asesmen autentik
dan penilaian autentik sering dipertukarkan.
Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian
autentik, tidak lazim digunakan.
1775.
Secara konseptual asesmen autentik
lebih
bermakna
secara
signifikan
dibandingkan dengan
tes pilihan ganda
terstandar sekali pun. Ketika menerapkan
asesmen autentik untuk mengetahui hasil dan
prestasi
belajar
peserta
didik,
guru
menerapkan kriteria yang berkaitan dengan
konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati
dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
1776.
Untuk mendapatkan pemahaman cukup
komprehentif
mengenai
arti
asesmen
autentik, berikut ini dikemukakan beberapa
definisi. Dalam American Librabry Association
asesmen autentik didefinisikan sebagai proses
evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi,
motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada
aktifitas yang relevan dalam pembelajaran.
1777.
Dalam Newton Public School, asesmen
autentik diartikan sebagai penilaian atas
produk dan kinerja yang berhubungan dengan
pengalaman kehidupan nyata peserta didik.
Wiggins mendefinisikan asesmen autentik
Sejarah Indonesia SMA | 323

sebagai upaya pemberian tugas kepada


peserta didik yang mencerminkan prioritas
dan tantangan yang ditemukan dalam
aktifitas-aktifitas pembelajaran,
seperti
meneliti, menulis, merevisi dan membahas
artikel, memberikan analisa oral terhadap
peristiwa, berkolaborasi dengan antarsesama
melalui debat, dan sebagainya.
1778.
B. Asesmen Autentik
Kurikulum 2013

dan

Tuntutan

1779.
Asesmen autentik memiliki relevansi
kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam
pembelajaran
sesuai
dengan
tuntutan
Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam
ini mampu menggambarkan peningkatan hasil
belajar peserta didik, baik dalam rangka
mengobservasi,
menalar,
mencoba,
membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen
autentik cenderung fokus pada tugas-tugas
kompleks atau kontekstual, memungkinkan
peserta didik untuk menunjukkan kompetensi
mereka dalam pengaturan yang lebih
autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat
relevan dengan pendekatan tematik terpadu
dalam pembejajaran, khususnya jenjang
sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang
sesuai.
1780.
Kata lain dari asesmen autentik adalah
penilaian kinerja, portofolio, dan penilaian
proyek.
Asesmen autentik adakalanya
disebut penilaian responsif, suatu metode
yang sangat populer untuk menilai proses dan
hasil belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri
khusus, mulai dari mereka yang mengalami
kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat
khusus, hingga yang jenius. Asesmen autentik
dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu
tertentu seperti seni atau ilmu pengetahuan
pada umumnya, dengan orientasi utamanya
pada proses atau hasil pembelajaran.

Sejarah Indonesia SMA | 324

1781.
Asesmen
autentik
sering
dikontradiksikan dengan penilaian yang
menggunkan standar tes berbasis norma,
pilihan ganda,
benarsalah, menjodohkan,
atau membuat jawaban singkat. Tentu saja,
pola penilaian seperti ini tidak diantikan
dalam proses pembelajaran, karena memang
lzim digunakan dan memperoleh legitimasi
secara akademik. Asesmen autentik dapat
dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau
guru bekerja sama dengan peserta didik.
Dalam asesmen autentik, seringkali pelibatan
siswa sangat penting. Asumsinya, peserta
didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih
baik ketika mereka tahu bagaimana akan
dinilai.
1782.
Peserta
didik
diminta
untuk
merefleksikan dan mengevaluasi kinerja
mereka sendiri dalam rangka meningkatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan
pembelajaran serta mendorong kemampuan
belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen
autentik guru menerapkan kriteria yang
berkaitan dengan konstruksi pengetahuan,
kajian keilmuan, dan pengalaman yang
diperoleh dari luar sekolah.
1783.
Asesmen
autentik
mencoba
menggabungkan kegiatan guru mengajar,
kegiatan
siswa
belajar,
motivasi
dan
keterlibatan peserta didik, serta keterampilan
belajar. Karena penilaian itu merupakan
bagian dari proses pembelajaran, guru dan
peserta didik berbagi pemahaman tentang
kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus,
peserta didik bahkan berkontribusi untuk
mendefinisikan harapan atas tugas-tugas
yang harus mereka lakukan.
1784.
Asesmen autentik sering digambarkan
sebagai penilaian atas perkembangan peserta
didik, karena berfokus pada kemampuan
mereka berkembang untuk belajar bagaimana
belajar tentang subjek. Asesmen autentik
Sejarah Indonesia SMA | 325

harus
mampu
menggambarkan
sikap,
keterampilan, dan pengetahuan apa yang
sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik,
bagaimana
mereka
menerapkan
pengetahuannya, dalam hal apa mereka
sudah atau belum mampu menerapkan
perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar
itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa
yang sudah layak dilanjutkan dan untuk
materi apa pula kegiatan remidial harus
dilakukan.
1785.
C. Asesmen Autentik dan Belajar Autentik

1786.
Asesmen Autentik menicayakan proses
belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston
belajar autentik mencerminkan tugas dan
pemecahan masalah yang dilakukan oleh
peserta didik dikaitkan dengan realitas di luar
sekolah atau kehidupan pada umumnya.
Asesmen semacam ini cenderung berfokus
pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual
bagi peserta didik, yang memungkinkan
mereka
secara
nyata
menunjukkan
kompetensi
atau
keterampilan
yang
dimilikinya. Contoh asesmen autentik antara
lain
keterampilan
kerja,
kemampuan
mengaplikasikan atau menunjukkan perolehan
pengetahuan tertentu, simulasi dan bermain
peran, portofolio, memilih kegiatan yang
strategis,
serta
memamerkan
dan
menampilkan sesuatu.
1787.
Asesmen
autentik
mengharuskan
pembelajaran yang autentik pula. Menurut
Ormiston belajar autentik mencerminkan
tugas
dan
pemecahan
masalah
yang
diperlukan dalam kenyataannya di luar
sekolah. Asesmen Autentik terdiri dari
berbagai
teknik
penilaian.
Pertama,
pengukuran langsung keterampilan peserta
didik yang berhubungan dengan hasil jangka
panjang pendidikan seperti kesuksesan di
tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugasSejarah Indonesia SMA | 326

tugas yang memerlukan keterlibatan yang


luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga,
analisis proses yang digunakan untuk
menghasilkan respon peserta didik atas
perolehan
sikap,
keteampilan,
dan
pengetahuan yang ada.
1788.
Dengan demikian, asesmen autentik
akan bermakna bagi guru untuk menentukan
cara-cara terbaik agar semua siswa dapat
mencapai hasil akhir, meski dengan satuan
waktu yang berbeda. Konstruksi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan dicapai
melalui penyelesaian tugas di mana peserta
didik telah memainkan peran aktif dan kreatif.
Keterlibatan
peserta
didik
dalam
melaksanakan tugas sangat bermakna bagi
perkembangan pribadi mereka.
1789.
Dalam pembelajaran autentik, peserta
didik
diminta
mengumpulkan
informasi
dengan pendekatan saintifik, memahahi
aneka
fenomena
atau
gejala
dan
hubungannya
satu
sama
lain
secara
mendalam, serta mengaitkan apa yang
dipelajari dengan dunia nyata yang luar
sekolah. Di sini,
guru dan peserta didik
memiliki tanggung jawab atas apa yang
terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang
mereka ingin pelajari, memiliki parameter
waktu yang fleksibel, dan bertanggungjawab
untuk tetap pada tugas. Asesmen autentik
pun mendorong peserta didik mengkonstruksi,
mengorganisasikan,
menganalisis,
mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan
mengevaluasi informasi untuk kemudian
mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
1790.
Sejalan dengan deskripsi di atas, pada
pembelajaran autentik, guru harus menjadi
guru autentik. Peran guru bukan hanya
pada proses pembelajaran, melainkan juga
pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan
pembelajaran autentik, guru harus memenuhi
kriteria tertentu seperti disajikan berikut ini.
Sejarah Indonesia SMA | 327

1. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik


serta desain pembelajaran.
2. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara
mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumberdaya memadai bagi
peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
3. Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan
mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
4. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat
diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar tembok sekolah.
1791.
Asesmen autentik adalah komponen
penting dari reformasi pendidikan sejak tahun
1990an. Wiggins (1993) menegaskan bahwa
metode penilaian tradisional untuk mengukur
prestasi,
seperti
tes
pilihan
ganda,
benar/salah, menjodohkan, dan lain-lain telah
gagal mengetahui kinerja peserta didik yang
sesungguhnya. Tes semacam ini telah gagal
memperoleh gambaran yang utuh mengenai
sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta
didik dikaitkan dengan kehidupan nyata
mereka di luar sekolah atau masyarakat.
1792.
Asesmen hasil belajar yang tradisional
bahkan
cenderung
mereduksi
makna
kurikulum, karena tidak menyentuh esensi
nyata dari proses dan hasil belajar peserta
didik. Ketika asesmen tradisional cenderung
mereduksi makna kurikulum, tidak mampu
menggambarkan kompetensi dasar, dan
rendah daya prediksinya terhadap derajat
sikap, keterampilan, dan kemampuan berpikir
yang diartikulasikan dalam banyak mata
pelajaran atau disiplin ilmu; ketika itu pula
asesmen autentik memperoleh traksi yang
cukup kuat. Memang, pendekatan apa pun
yang dipakai dalam penilaian tetap tidak luput
dari kelemahan dan kelebihan. Namun
demikian, sudah saatnya guru profesional
pada semua satuan pendidikan memandu
Sejarah Indonesia SMA | 328

gerakan memadukan potensi peserta didik,


sekolah, dan lingkungannya melalui asesmen
proses dan hasil belajar yang autentik.
1793.
Data asesmen autentik digunakan
untuk berbagai tujuan seperti menentukan
kelayakan
akuntabilitas
implementasi
kurikulum dan pembelajaran di kelas tertentu.
Data asesmen autentik dapat dianalisis
dengan metode kualitatif, kuanitatif, maupun
kuantitatif. Analisis kualitatif dari asesmen
otentif berupa narasi atau deskripsi atas
capaian hasil belajar peserta didik, misalnya,
mengenai
keunggulan
dan
kelemahan,
motivasi,
keberanian
berpendapat,
dan
sebagainya. Analisis kuantitatif dari data
asesmen autentik menerapkan rubrik skor
atau daftar cek (checklist) untuk menilai
tanggapan
relatif
peserta
didik
relatif
terhadap kriteria dalam kisaran terbatas dari
empat
atau
lebih
tingkat
kemahiran
(misalnya: sangat mahir, mahir, sebagian
mahir, dan tidak mahir). Rubrik penilaian
dapat berupa analitik atau holistik. Analisis
holistik memberikan skor keseluruhan kinerja
peserta didik, seperti menilai kompetisi
Olimpiade Sains Nasional.
1794.
D. Jenis-jenis Asesmen Autentik

1795.
Dalam rangka melaksanakan asesmen
autentik yang baik, guru harus memahami
secara jelas tujuan yang ingin dicapai. Untuk
itu, guru harus bertanya pada diri sendiri,
khususnya berkaitan dengan: (1) sikap,
keterampilan, dan pengetahuan apa yang
akan dinilai; (2) fokus penilaian akan
dilakukan, misalnya, berkaitan dengan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan; dan (3)
tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai,
seperti
penalaran, memori, atau proses.
Beberapa jenis asesmen autentik disajikan
berikut ini.
Sejarah Indonesia SMA | 329

1796.
1. Penilaian Kinerja
1797. Asesmen autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta
didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yangg akan dinilai. Guru
dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan
unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan
kriteria penyelesaiannya. Dengan menggunakan informasi ini, guru dapat
memberikan umpan balik terhadap kinerja peserta didik baik dalam
bentuk laporan naratif mauun laporan kelas. Ada beberapa cara berbeda
untuk merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
a. Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau
tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang
harus muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
b. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan
dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan
oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari
laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik
memenuhi standar yang ditetapkan.
c. Skala penilaian (rating scale). Biasanya digunakan dengan
menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik
sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
d. Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru
dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu,
dengan tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari
memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil
atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya, namun tidak cukup
dianjurkan.
1798. Penilaian kinerja
memerlukan
pertimbangan-pertimbangan
khusus. Pertama, langkah-langkah kinerja harus dilakukan peserta didik
untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis
kompetensi tertentu. Kedua, ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja
yang dinilai. Ketiga, kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan
oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran.
Keempat, fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator
esensial yang akan diamati. Kelima, urutan dari kemampuan atau
keerampilan peserta didik yang akan diamati.
Sejarah Indonesia SMA | 330

1799. Pengamatan atas kinerja peserta didik perlu dilakukan dalam


berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan
tertentu. Untuk menilai keterampilan berbahasa peserta didik, dari aspek
keterampilan berbicara, misalnya, guru dapat mengobservasinya pada
konteks yang, seperti berpidato, berdiskusi, bercerita, dan wawancara.
Dari sini akan diperoleh keutuhan mengenai keterampilan berbicara
dimaksud. Untuk mengamati kinerja peserta didik dapat menggunakan
alat atau instrumen, seperti penilaian sikap, observasi perilaku,
pertanyaan langsung, atau pertanyaan pribadi.
1800. Penilaian-diri (self assessment) termasuk dalam rumpun penilaian
kinerja. Penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta
didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan
status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya
dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan
untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

Penilaian ranah sikap. Misalnya, peserta didik diminta mengungkapkan curahan


perasaannya terhadap suatu objek tertentu berdasarkan kriteria atau acuan
yang telah disiapkan.

Penilaian ranah keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai


kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya oleh dirinya berdasarkan
kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Penilaian ranah pengetahuan. Misalnya, peserta didik diminta untuk menilai


penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dari
suatu mata pelajaran tertentu berdasarkan atas kriteria atau acuan yang telah
disiapkan.

1801. Teknik penilaian-diri bermanfaat memiliki beberapa manfaat


positif. Pertama, menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Kedua,
peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya. Ketiga,
mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik berperilaku jujur.
Keempat, menumbuhkan semangat untuk maju secara personal.
2. Penilaian Proyek

1802. Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan


penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik
menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa
investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek bersentuhan dengan
aspek pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain.
1803. Selama mengerjakan sebuah proyek pembelajaran, peserta didik
memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan sikap, keterampilan,
Sejarah Indonesia SMA | 331

dan pengetahuannya. Karena itu, pada setiap penilaian proyek,


setidaknya ada tiga hal yang memerlukan perhatian khusus dari guru.
a. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan
mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas
informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
b. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
c. Orijinalitas atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau
dihasilkan oleh peserta didik.

1804. Penilaian proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan


produk proyek. Dalam kaitan ini serial kegiatan yang harus dilakukan
oleh guru meliputi penyusunan rancangan dan instrumen penilaian,
pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan. Penilaian
proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek, skala penilaian, atau
narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk poster atau
tertulis.
1805. Produk akhir dari sebuah proyek sangat mungkin memerlukan
penilaian khusus. Penilaian produk dari sebuah proyek dimaksudkan
untuk menilai kualitas dan bentuk hasil akhir secara holistik dan
analitik. Penilaian produk dimaksud meliputi penilaian atas kemampuan
peserta didik menghasilkan produk, seperti makanan, pakaian, hasil
karya seni (gambar, lukisan, patung, dan lain-lain), barang-barang
terbuat dari kayu, kertas, kulit, keramik, karet, plastik, dan karya logam.
Penilaian secara analitik merujuk pada semua kriteria yang harus
dipenuhi untuk menghasilkan produk tertentu. Penilaian secara holistik
merujuk pada apresiasi atau kesan secara keseluruhan atas produk yang
dihasilkan.
1806.
3. Penilaian Portofolio

1807. Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak


yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia
nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik
secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan
refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
1808. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang
didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan
kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi
tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran
yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau informasi lain yang
releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut
oleh topik atau mata pelajaran tertentu.Fokus penilaian portofolio
Sejarah Indonesia SMA | 332

adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok


pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan
oleh guru, meski dapat juga oleh peserta didik sendiri.
1809. Memalui
penilaian
portofolio
guru
akan
mengetahui
perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil
karya mereka dalam menyusun atau membuat karangan, puisi, surat,
komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literatur, laporan
penelitian, sinopsis, dan lain-lain. Atas dasar penilaian itu, guru dan/atau
peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan
pembelajaran.
1810. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkahlangkah seperti berikut ini.
a. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
b. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang
akan dibuat.
c. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah
bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
d. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat
yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
e. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
f.

Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama


dokumen portofolio yang dihasilkan.

g. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian
portofolio.

1811.
4. Penilaian Tertulis

1812. Meski konsepsi asesmen autentik muncul dari ketidakpuasan


terhadap tes tertulis yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya,
penilaian tertulis atas hasil pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes
tertulis terdiri dari memilih atau mensuplai jawaban dan uraian. Memilih
jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih jawaban terdiri dari pilihan
ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat.
Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban singkat
atau pendek, dan uraian.
1813. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik
mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi
yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin
bersifat komprehentif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.
Sejarah Indonesia SMA | 333

1814. Pada tes tertulis berbentuk esai, peserta didik berkesempatan


memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan temantemannya, namun tetap terbuka memperoleh nilai yang sama. Misalnya,
peserta didik tertentu melihat fenomena kemiskinan dari sisi pandang
kebiasaan malas bekerja, rendahnya keterampilan, atau kelangkaan
sumberdaya alam. Masing-masing sisi pandang ini akan melahirkan
jawaban berbeda, namun tetap terbuka memiliki kebenarann yang
sama, asalkan analisisnya benar. Tes tersulis berbentuk esai biasanya
menuntut dua jenis pola jawaban, yaitu jawaban terbuka (extendedresponse) atau jawaban terbatas (restricted-response). Hal ini sangat
tergantung pada bobot soal yang diberikan oleh guru. Tes semacam ini
memberi kesempatan pada guru untuk dapat mengukur hasil belajar
peserta didik pada tingkatan yang lebih tinggi atau kompleks.
1815.

1816.

Daftar Pustaka

1817.
1818. Ibrahim, Muslimin. 2005. Asesmen Berkelanjutan: Konsep
Dasar, Tahapan Pengembangan dan Contoh. Surabaya: UNESA
University Press Anggota IKAPI
1819.
1820.
Coutinho, M., & Malouf, D. (1993). Performance Assessment and
Children with Disabilities: Issues and Possibilities. Teaching Exceptional Children,
25(4), 6367.

1821.

1822.
Cumming, J. J., & Maxwell, G. S. (1999). Contextualizing Authentic
Assessment. Assessment in Education, 6(2), 177194.

1823.

1824.
Dantes, Nyoman. 2008. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian
Proses dan Produk Dalam Pembelajaran yang Berbasis Kompetensi (Makalah
Disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha

1825.

1826.
Gatlin, L., & Jacob, S. (2002). Standards-Based Digital Portfolios: A
Component of Authentic Assessment for Preservice Teachers. Action in Teacher
Education, 23(4), 2834.

1827.
1828.
Grisham-Brown, J., Hallam, R., & Brookshire, R. (2006). Using Authentic
Assessment to Evidence Children's Progress Toward Early Learning Standards.
Early Childhood Education Journal, 34(1), 4551.

1829.

1830.
Salvia, J., & Ysseldyke, J. E. (2004). Assessment in Special and Inclusive
Education (9th ed.). New York: Houghton Mifflin.

1831.

1832.
Wiggins, G. (1993). Assessment: Authenticity, Context and Validity. Phi
Delta Kappan, 75(3), 200214.
1833.
1834.
Sejarah Indonesia SMA | 334

HO-2.3

1835.

1836.
CONTOH PENERAPAN PENILAIAN
AUTENTIK PADA PEMBELAJARAN SEJARAH
1837.
A. Penilaian Kinerja

1838. Penilaian otentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta


didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru
dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan
unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk
menentukan kriteria penyelesaiannya. Dalam tema akulturasi budaya
Hindu Buddha, peserta didik bisa diminta untuk membuat tulisan:
Bentuk Budaya Hasil akulturasi Hindu Buddha; Toleransi dalam
Kehidupan
1839. Cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
1. Daftar cek (checklist).
2. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
3. Skala penilaian (rating scale).
4. Memori atau ingatan (memory approach).
1840.
B. Penilaian Proyek

1841. Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan


penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik
menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa
investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan
penyajian data. Peserta didik secara kelompok atau perorangan dapat
diminta untuk melakukan penelitian sederhana berkaitan dengan situs
sejarah yang ada dilingkungan mereka, yang dikaitkan dengan peran
masyarakat dalam pelestarian peninggalan sejarah
1842. Tiga hal yang perlu diperhatian guru dalam penilaian proyek:
1. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan
mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna
atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2. Kesesuaian

atau

pengembangan

relevansi

sikap,

materi

keterampilan,

pembelajaran
dan

dengan

pengetahuan

yang

dibutuhkan oleh peserta didik.


Sejarah Indonesia SMA | 335

3. Keaslian

sebuah

proyek

pembelajaran

yang

dikerjakan

atau

dihasilkan oleh peserta didik.


C. Portofolio

1843.
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak
yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia
nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik
secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan
refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
1844.
Misalnya, hasil karya mereka dalam menyusun atau membuat
karangan, kliping, gambar candi, foto situs sejarah atau peristiwa sejarah,
lukisan sejarah, resensi buku/ literatur kesejarahan, laporan penelitian
sejarah, dan lain-lain.
1845.
Penilaian portofolio dilakukan
dengan menggunakan langkah-langkah
seperti berikut ini.
1. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
2. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio
yang akan dibuat.
3. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah
bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
4. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada
tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
5. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
6. Jika

memungkinkan,

guru

bersama

peserta

didik

membahas

bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.


7. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian
portofolio.
1846.
D. Penilaian Tertulis
1847.
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai
menuntut peserta didik mampu mengingat,
memahami, mengorganisasikan, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan
sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.
Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin
bersifat komprehentif, sehingga mampu
menggambarkan ranah sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didik.
Sejarah Indonesia SMA | 336

1848.

1849.

Sejarah Indonesia SMA | 337

1850.

Daftar Pustaka

1851.
1852. Ibrahim, Muslimin. 2005. Asesmen Berkelanjutan: Konsep
Dasar, Tahapan Pengembangan dan Contoh. Surabaya: UNESA
University Press Anggota IKAPI
1853.
1854.
Coutinho, M., & Malouf, D. (1993). Performance Assessment and
Children with Disabilities: Issues and Possibilities. Teaching Exceptional Children,
25(4), 6367.

1855.

1856.
Cumming, J. J., & Maxwell, G. S. (1999). Contextualizing Authentic
Assessment. Assessment in Education, 6(2), 177194.

1857.

1858.
Dantes, Nyoman. 2008. Hakikat Asesmen Otentik Sebagai Penilaian
Proses dan Produk Dalam Pembelajaran yang Berbasis Kompetensi (Makalah
Disampaikan pada In House Training (IHT) SMA N 1 Kuta Utara). Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha

1859.

1860.
Gatlin, L., & Jacob, S. (2002). Standards-Based Digital Portfolios: A
Component of Authentic Assessment for Preservice Teachers. Action in Teacher
Education, 23(4), 2834.

1861.
1862.
Grisham-Brown, J., Hallam, R., & Brookshire, R. (2006). Using Authentic
Assessment to Evidence Children's Progress Toward Early Learning Standards.
Early Childhood Education Journal, 34(1), 4551.

1863.

1864.
Salvia, J., & Ysseldyke, J. E. (2004). Assessment in Special and Inclusive
Education (9th ed.). New York: Houghton Mifflin.

1865.

1866.
Wiggins, G. (1993). Assessment: Authenticity, Context and Validity. Phi
Delta Kappan, 75(3), 200214.
1867.
1868.
1869.

Sejarah Indonesia SMA | 338

1870.
1871.

1872.

Materi Pelatihan : 2.4 Analisis Buku


Guru dan Buku Siswa
1873.
1874.

Langkah Kegiatan Inti

1880.

1883.

1885.

1887.

1889.

1903.

1905.

1890.
1891.

1892.

1894.

1899.

1901.
1906.
1907.

Menilai Buku

1908.
Peserta menilai buku dengan bimbingan
fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian,
kecukupan, dan kedalaman materi.
1909.

Diskusi Kelompok

1910.
Diskusi kelompok hasil penilaian buku
dilanjutkan
dengan
pemaparan
materiAnalisis Buku Guru dan Buku Siswa
dengan
menggunakan
PPT-2.4
yang
disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.
1911.

Simpulan

Sejarah Indonesia SMA | 339

1912.
Menyimpulkan
hasil
diskusi
dan
menyampaikan format lembar kerja yang
telah disiapkan.
1913.

Kerja Kelompok

1914.
Kerja
kelompok
menganalisis
kesesuaian buku guru dan buku siswa dengan
tuntutan
SKL,
KI,
dan
KD
dengan
menggunakan LK-2.4-1 dan LK -2.4-2.
1915.
1916.
1917.

Diskusi Kelompok

1918.
Diskusi kelompok untuk menganalisis
kesesuaian proses, pendekatan belajar, serta
strategi evaluasi yang diintegrasikan dalam
buku.
1919.

Kerja Kelompok

1920.
Kerja kelompokmembuat contoh-contoh
penerapan materi pelajaran yang terdapat
dalam buku guru dan buku siswa pada bidang/
ilmu lain serta kehidupan sehari-hari.
1921.

Presentasi

1922.
Presentasi hasil kerja masing-masing
kelompok.
1923.

Simpulan

1924.
Fasilitatormenyimpulkan materi analisis
buku.
1925.
1926.
1927.

Sejarah Indonesia SMA | 340

1928.

1929.

1930.
1931.

Sejarah Indonesia SMA | 341

1932.

1933.

Sejarah Indonesia SMA | 342

1934.

1935.

1936.

Sejarah Indonesia SMA | 343

1937.

1938.
1939.
1940.
1941.
1942.
1943.
1944.
1945.

1946.
1947.

Sejarah Indonesia SMA | 344

LK2.4-1
1948.
1949.

LEMBAR KERJA

ANALISIS BUKU GURU


1950.

1951.

PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR


KERJA ANALISIS BUKU GURU

LK-2.4-2

1952.
1953.

Kompetensi

Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan
pembelajaran.

Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI,
dan KD.

Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan
kedalaman materi.
1954.

1955.

Tujuan

1. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL, KI dan KD.


2. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik.
3. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan
penialain autentik.
4. Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis .
1956.

1957.

Panduan Kegiatan

1. Kerjakanlah secara berkelompok!


2. Pelajari format Analisis Buku Sswa!
3. Siapkan SKL, KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran!
4. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu!
5. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang
tersedia!
6. Berdasarkan hasil analisis, tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut!
a. Jika sesuai dengan kebutuhan, buku bisa digunakan dalam pembelajaran.
b. Jika kurang/tidak sesuai, Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi
tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut.

1958.
1959.
1960.
Sejarah Indonesia SMA | 345

1961.
1962.

1964.

1963.
LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU
GURU
1965.

1966. Judul buku


: ....................................................................................................
1967. Kelas
: ....................................................................................................
1968. Jenjang
: ....................................................................................................
1969. Tema/Topik
: ....................................................................................................
1970.
1972.
AS

1973.
H

1974.

1982.
Kes

1983.

1984.

1985.

Sejarah Indonesia SMA | 346

1986.

1972.
AS

1973.
H

1974.

1988.
Kes

1989.

1990.

1991.

1992.

1994.
Kes

1995.

1996.

1997.

1998.

Sejarah Indonesia SMA | 347

1972.
AS

1973.
H

1974.

2000.
Kes

2001.

2002.

2003.

2004.

2006.
Kec

2007.

2008.

2009.

2010.

Sejarah Indonesia SMA | 348

1972.
AS

1973.
H

1974.

a. cakupan
konsep/materi
esensial; dan
b. alokasi waktu.
2012.
Ked

2013.

2014.

2015.

Sejarah Indonesia SMA | 349

2016.

1972.
AS

1973.
H

1974.

a. Pola pikir keilmuan;


dan
b. Karakteristik siswa
c. Keakuratan Fakta dan
Konsep
2018.
Pen

2019.

2020.

2021.

2022.

2024.
Pros

2025.

2026.

2027.

2028.

Sejarah Indonesia SMA | 350

1972.
AS

2030.
Peni

1973.
H

2031.

2032.

2033.

Sejarah Indonesia SMA | 351

1974.

2034.

1972.
AS

1973.
H

1974.

2035.
2036.
2037.
2038.

2039.
2040.
2041.
2042.
2043.
2044.
2045.

LK2.4-2

LEMBAR KERJA

ANALISIS BUKU SISWA


2046.

2047.
2048.

PETUNJUK PENGISIAN LEMBAR


KERJA ANALISIS BUKU SISWA

LK-2.4-2

Kompetensi

1. Memahami strategi menggunakan buku guru dan buku siswa untuk kegiatan
pembelajaran.
Sejarah Indonesia SMA | 352

2. Menganalisis kesesuaian isi buku guru dan buku siswa dengan tuntutan SKL, KI,
dan KD.
3. Menganalisis buku guru dan buku siswa dilihat dari aspek kecukupan dan
kedalaman materi.
2049.

2050.

Tujuan

1. Menganalisis kesesuaian isi buku siswa dengan SKL, KI dan KD.


2. Menganalisis keterpaduan antar mata pelajaran atau antar konsep/topik.
3. Menganalisis kesesuaian isi buku dengan konsep pendekatan scientificdan
penialain autentik.
4.

Merencanakan tindak lanjut dari hasil analisis .


2051.

2052.

Panduan Kegiatan

1. Kerjakanlah secara berkelompok!


2. Pelajari format Analisis Buku Sswa!
3. Siapkan SKL, KI dan KD sesuai jenjang pendidikan dan mata pelajaran!
4. Cermatilah buku siswa yang sesuai dengan materi ajar yang Anda ampu!
5. Lakukanlah analisis terhadap buku tersebut dengan menggunakan format yang
tersedia!
6. Berdasarkan hasil analisis, tuliskan tindak lanjut hasil analisis sebagai berikut!
a. Jika sesuai dengan kebutuhan, buku bisa digunakan dalam pembelajaran.
b. Jika kurang/tidak sesuai, Anda disarankan untuk memberikan rekomendasi
tindak lanjut yang harus dikerjakan guru sebagai pengguna buku guru tersebut.
2053.
2054.
2055.
2056.
2057.

2059.

2058.
LEMBAR KERJA ANALISIS BUKU
SISWA
2060.

2061.
Judul buku
: ..............................................................................................
......
2062.
Kelas
: ..............................................................................................
......
Sejarah Indonesia SMA | 353

2063.
Jenjang
: ..............................................................................................
......
2064.
Tema/Topik
: ..............................................................................................
......
2065.
2068.
HA

2069.
TIND

2067.
ASPE

2077.
Keses

2078.

2079.

2080.

2081.

2083.
Keses

2084.

2085.

2086.

2087.

2089.
Keses

2090.

2091.

2092.

2093.

Sejarah Indonesia SMA | 354

2068.
HA

2069.
TIND

2067.
ASPE

2095.
Keses

2096.

2097.

2098.

2099.

2101.
Kecuk

2102.

2103.

2104.

2105.

2107.
Kedala

2108.

2109.

2110.

2111.

c. cakupan
konsep/materi
esensial; dan
d. alokasi waktu.

Sejarah Indonesia SMA | 355

2068.
HA

2069.
TIND

2067.
ASPE

d. Pola pikir keilmuan;


dan
e. Karakteristik siswa
2113.
Penera

2114.

2115.

2116.

2117.

2119.
Penilai

2120.

2121.

2122.

2123.

Sejarah Indonesia SMA | 356

2068.
HA

2069.
TIND

2067.
ASPE

2124.
2125.

2126.
2127.
2128.
2129.
2130.
2131.
2132.

R2.4

RUBRIK

PENILAIAN HASIL ANALISIS


BUKU

2133.

GURU DAN SISWA

2134.
2135.
Rubrik penilaian analisis buku guru dan
buku siswa digunakan fasilitator untuk menilai
hasil analisis peserta terhadap buku guru dan
Sejarah Indonesia SMA | 357

buku siswa sesuai dengan mata pelajaran


yang diampu.
2136.
Langkah-langkah
analisis.

penilaian

hasil

1. Cermati format penilaian analisis buku guru atau buku siswa serta hasil analisis
peserta yang akan dinilai!
2. Berikan nilai pada setiap aspek yang dianalisis sesuai dengan penilaian Anda
terhadap hasil analisis peserta menggunakan rentang nilai sebagai berikut!

3. KRITERI
A

1.

6. Hasil
analisis
tepat,
tindak
lanjut
logis dan
bisa
dilaksana
kan

4.

8.

9. Hasil
analisis
tepat,
tindak
lanjut
kurang
logis

11.

12.Hasil
analisis
kurang
tepat,
tindak
lanjut
logis
15.Hasil
analisis
kurang
tepat,
tindak
lanjut
tidak
logis

13.

2137.

Sejarah Indonesia SMA | 358

3. Setelah selesai penilaian masing-masing komponen, jumlahkan nilai seluruh


komponen sehingga menghasilkan nilai hasil analisis buku guru/siswa.

2138.
2139.

Sejarah Indonesia SMA | 359

2140.
2141.
2142.

MATERI PELATIHAN 3 : MODEL


2143. PEMBELAJARAN
RANCANGAN
3.1.

Penyusunan RPP

3.2.
Perancangan Penilaian
Autentik pada Proses dan Hasil
Belajar

Sejarah Indonesia | 360

2144.

Sub materi Pelatihan 3: Model


Rancangan Pembelajaran
2145.

A. KOMPETENSI

2146.

Peserta pelatihan dapat:

1. menyusun RPP yang menerapkan pendekatan scientific sesuai model belajar


yang relevan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik baik dari
aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, maupun intelektual; dan
2. merancang penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
2147.
B. LINGKUP MATERI

1. Penyusunan RPP.
2. Perancangan Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Belajar.
2148.
C. INDIKATOR
1. Menunjukkan sikap tanggung jawab dan kreatif dalam menyusun RPP.
2. Mengidentifikasi rambu-rambu penyusunan RPP.
3. Menyusun RPP yang sesuai dengan SKL, KI dan KD; Standar Proses; dan
pendekatan scientific.
4. Menelaah RPP.
5. Menunjukkan sikap tanggung dan kreatif dalam menyusun rancangan
penilaian autentik.
6. Mengidentifikasi kaidah perancangan penilaian autentik pada proses dan hasil
belajar.
7. Menelaah contoh penerapan penilaian autentik pada pembelajaran.
8. Menelaah rancangan penilaian autentik pada proses dan hasil belajar yang
ada dalam RPP.
9. Merevisi rancangan penilaian pada RPP yang telah disusun.
2149.
D. PERANGKAT PELATIHAN
1. Bahan Tayang
a. Rambu-rambu Penyusunan RPP Mengacu pada Standar Proses dan
Pendekatan scientific dengan mengggunakan PPT-3.1 oleh fasilitator yang
disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.
b. Panduan tugas telaah RPP.
c. Panduan tugas menelaah rancangan penilaian pada RPP.
2. Lembar KerjaTelaah RPP
Sejarah Indonesia | 361

3. ATK

2150.
2151.
2152.

Kode RPP

2153.

HO-3.1

2154. RENCANA PELAKSANAAN


PEMBELAJARAN
2155.
(RPP)
2157.
2158.
2159.
2160.

2161.
2162.
2163.

2156.
Satuan Pendidikan
: Sekolah Menengah Atas
Kelas/Semester : X / I
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Topik
: Kehidupan masyarakat, pemerintahan
dan kebudayaan pada masa kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha di Indonesia
Pertemuan ke- : 2

A. Kompetensi Inti
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun,
ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.
3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
2164.
B. Kompetensi Dasar
1.1 Menghayati keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaran
agamanya
1.2 Menghayati keteladanan para pemimpin dalam toleransi antar umat
beragama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari
2.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli terhadap berbagai hasil budaya
pada masa pra aksara, Hindu-Buddha dan Islam
2.4 Berlaku jujur dan bertanggung-jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari

Sejarah Indonesia | 362

pembelajaran sejarah
3.8 Mengidentifikasi karakteristik kehidupan masyarakat, pemerintahan dan
kebudayaan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dan
menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini
4.5Menyajikan hasil analisis dalam bentuk tulisan tentang nilai-nilai dan unsur
budaya yang berkembang pada masa kerajaan Hindu-Budda dan masih
berkelanjutan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada masa kini
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menunjukkan nilai-nilai syukur pada ciptaan Tuhan YME berupa peninggalan
hasil budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia
2. Menunjukkan nilai-nilai toleransi antar umat beragama dengan saling
menghargai peninggalan hasil budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia
3. Menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap peninggalan hasil budaya HinduBuddha di Indonesia
4. Menunjukkan sikap peduli terhadap peninggalan hasil budaya Hindu-Buddha
di Indonesia
5. Menunjukkan sikap jujur dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran
sejarah
6. Menunjukkan sikap tanggungjawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
7. Menjelaskan konsep akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia
8. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
bahasa
9. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
religi/kepercayaan
10. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
organisasi sosial kemasyarakatan
11. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
sistem pengetahuan
12. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
peralatan hidup/teknologi
13. Mendeskripsikan wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa
kesenian
14. Melaporkan kehidupan masyarakat, pemerintahan dan kebudayaan pada
masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
2165.
D. Tujuan Pembelajaran

2166.
Melalui diskusi, mengamati dan
membaca referensi siswa dapat:
1. Menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap peninggalan hasil budaya masa
Hindu-Buddha di Indonesia
2. Menunjukkan sikap peduli terhadap peninggalan hasil budaya Hindu-Buddha
di Indonesia
3. Menunjukkan sikap jujur dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran
sejarah
4. Menunjukan sikap tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari
pembelajaran sejarah
5. Mendeskripsikan wujud akulturasi budaya di Indonesia
6. Melaporkan bentuk kehidupan masyarakat, pemerintahan dan kebudayaan

Sejarah Indonesia | 363

pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia


2167.
E. Materi Ajar
1. Nilai-nilai syukur pada ciptaan Tuhan YME berupa peninggalan hasil budaya
masa Hindu-Buddha di Indonesia
2. Sikap tanggung jawab terhadap peninggalan hasil budaya Hindu-Buddha di
Indonesia
3. Sikap peduli terhadap peninggalan hasil budaya Hindu-Buddha di Indonesia
4. Sikap jujur dalam mengerjakan tugas dari pembelajaran sejarah
5. Sikap tanggungjawab dalam mengerjakan tugas dari pembelajaran sejarah
6. Konsep akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia
7. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa bahasa
8. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa religi/kepercayaan
9. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa organisasi sosial
kemasyarakatan
10. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa sistem pengetahuan
11. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa peralatan
hidup/teknologi
12. Wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa kesenian
2168.
F. Alokasi Waktu
2169.
2 x 45 menit
2170.
G. Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran
2171.
Pendekatan: Saintifik
2172.
Strategi
: Cooperative Jigsaw
2173.
Metode
: Ceramah, diskusi, tanya jawab dan penugasan
2174.
H. Kegiatan Pembelajaran

2175. Kegia
tan
2178. Penda

huluan

2180. Inti

2176. Deskripsi

Memberikan salam
Menanyakan
kepada
siswa
kesiapan
dan
kenyamanan untuk belajar
Menanyakan kehadiran siswa
Mempersilakan salah satu siswa memimpin doa
Tanya jawab materi sebelumnya mengenai Teori
tentang proses masuk dan berkembangnya agama
dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia
Menyampaikan tujuan pembelajaran melalui power
point
Menayangkan gambar Candi Borobudur dan Candi
Prambanan melalui power point serta melakukan tanya
jawab singkat
Siswa mendapatkan penjelasan tentang proses
pelaksanaan teknik Jigsaw

2177. A
lokasi
waktu
2179. 1
0 menit

2181. 6
0 menit

Sejarah Indonesia | 364

2175. Kegia
tan

2182. Penut

up

2177. A
lokasi
waktu

2176. Deskripsi
Siswa dibagi ke dalam 6 kelompok yang
beranggotakan 5-6 orang (kelompok awal)
Setiap kelompok mendapatkan tugas:
6. Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di
Indonesia berupa bahasa dan religi/kepercayaan
7. Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di
Indonesia
berupa
organisasi
sosial
kemasyarakatan
8. Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di
Indonesia berupa sistem pengetahuan dan
peralatan hidup
9. Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di
Indonesia berupa kesenian
10. Gambar peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia
yang tidak terpelihara
Masing-masing siswa yang memiliki wacana/tugas
yang sama berkumpul dalam satu kelompok (Kelompok
ahli)
Setiap siswa mencatat hasil diskusi dan kembali ke
kelompok awal
Dalam kelompok awal dilaporkan hasil diskusi
kelompok ahli dan semua anggota kelompok mencatat
hasil kelompok ahli
Laporan hasil kerja kelompok dengan cara guru
menunjuk secara acak untuk melaporkan hasil
diskusi kelompok, sampai semua masalah selesai
dibahas
Siswa yang lain menanggapi
Klarifikasi/kesimpulan siswa dibantu oleh guru
menyimpulkan materi kehidupan masyarakat,
pemerintahan dan kebudayaan
pada masa
kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
Evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan
pembelajaran
Siswa melakukan refleksi tentang pelaksanaan
pembelajaran
Siswa membuat tugas kehidupan masyarakat,
pemerintahan dan kebudayaan
pada masa
kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia dalam
bentuk makalah (tugas kelompok dikumpulkan 2
minggu yang akan datang)

2183. 2

0 menit

Sejarah Indonesia | 365

2175. Kegia
tan

2177. A
lokasi
waktu

2176. Deskripsi
Mengucapkan salam

I.

2184.
Penilaian Hasil Belajar
a. Tes
1.
Uraian (terlampir)
2.
Pilihan Ganda (terlampir)
2185.
b. Non Tes
1. Lembar pengamatan kerja kelompok (terlampir)
2. Lembar pengamatan presentasi (terlampir)
3. Membuat makalah tentang kehidupan masyarakat, pemerintahan dan
kebudayaan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
(kriteria penilaian terlampir)
2186.
Format penulisan makalah:
2187.
BAB I
Pendahuluan
2188.
BAB II
Isi
2189.
BAB III
Penutup
a. Kesimpulan
b. Saran

2190.
2192.
J.

Daftar Rujukan
2191.
Catatan:
Makalah diketik dengan menggunakan huruf Arial, 12, spasi 1,5,
print-out kertas A4, maksimal 15 lembar.

Sumber Belajar :
Buku sumber Sejarah SMA X
- Djoened Poesponegoro, Marwati, dan Nugroho Notosusanto. 2009. Sejarah
Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
- Mulyana, Slamet. 1979. Nagara Kretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta:
Bhratara.
- Soekmono, R. 1985. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2.
Yogyakarta: Kanisius.
- Yamin, Muhammad. 1966. Lukisan Sedjarah. Djakarta: Djambatan.
White board/papan flanel
Power point
LCD
Internet
Kartu pembelajaran
Peta Sejarah

2193.
2194.
2195.
2196.
2197.

Mengetahui,
,
2013
Kepala Sekolah,
Guru Mapel,
Sejarah Indonesia | 366

2198.
2199.
2200.
2201.
2202.

2203.

NIP.

)
(

NIP.

Sejarah Indonesia | 367

2204.
2205.

Lampiran

Ringkasan Materi
2206.
Akulturasi adalah bertemunya dua kebudayaan
yang berbeda melebur menjadi satu menghasilkan
kebudayaan
baru
tetapi
tidak
menghilangkan
kepribadian/sifat kebudayaan aslinya. Hal ini berarti
kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk ke Indonesia tidak
diterima seperti apa adanya, tetapi diolah, ditelaah dan
disesuaikan dengan budaya yang dimiliki penduduk
Indonesia, sehingga budaya tersebut berpadu dengan
kebudayaan asli Indonesia menjadi bentuk akulturasi
kebudayaan Indonesia Hindu- Buddha.

Gambar 1: Prasasti Yupa masa


Kerajaan Kutai

2207.
Wujud akulturasi tersebut dapat Anda simak
pada uraian materi unsur-unsur budaya berikut ini:

Bahasa
2208. Wujud akulturasi dalam bidang bahasa,
dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa
Sansekerta yang dapat ditemukan sampai sekarang.
Bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan
bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Sansekerta
pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu
bertulis) peninggalan kerajaan Hindu Buddha pada
abad 5 7 M, contohnya prasasti Yupa dari Kutai dan
prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi
untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta
di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno seperti yang
ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan
Sriwijaya 7 13 M. Untuk aksara, dapat dibuktikan
adanya penggunaan huruf Pallawa, kemudian
berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan
huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat
dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo (Malang) yang
menggunakan huruf Jawa Kuno.

Gambar 2: Prasasti Tugu masa


Kerajaan Tarumanegara
Prasasti Yupa dan Tugu
menggunakan Huruf Pallawa dan
Bahasa Sanksekerta
Sumber: wikipedia.org

Gambar 3. Perkembangan huruf di


Indonesia
Sumber:

harmanza.wordpress.com

Religi/Kepercayaan
2209. Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum
agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang
berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme. Dengan masuknya agama
Hindu Buddha ke Indonesia, Masyarakat Indonesia mulai
menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan
Buddha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami sperpaduan
dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain

Sejarah Indonesia | 368

mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah bagian


dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua
kepercayaan yang berbeda menjadi satu. Agama
Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia,
berbeda dengan agama Hindu Buddha yang dianut
oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan
tersebut dapat dilihat dalam upacara ritual yang
diadakan oleh umat Hindu atau Buddha yang ada di
Indonesia.
Contohnya,
upacara
Nyepi
yang
dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut
tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India.

Organisasi Sosial Kemasyarakatan

Gambar 4. Upacara Nyepi di Bali


sebagai salah satu wujud akulturasi
budaya berupa Religi/kepercayaan
umat Hindu di Indonesia

www.mediaindonesia.com

2210. Wujud akulturasi dalam bidang organisasi


sosial
kemasyarakatan
dapat dilihat dalam
organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia setelah masuknya
pengaruh
India.
Dengan
adanya
pengaruh
kebudayaan
India
tersebut,
maka
sistem
pemerintahan yang berkembang di Indonesia
adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh
seorang raja secara turun temurun.
Gambar 5. Pembagian Kasta
2211. Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai
sebagai
wujud akulturasi budaya
dewa atau dianggap keturunan dewa yang
Hindu
di
Indonesia dalam bidang
keramat, sehingga rakyat sangat memuja raja
sosial kemasyarakatan
tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya
raja-raja yang memerintah di Singosari seperti
Sumber: fannyndep.blogspot.com
Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan pada
masa Majapahit, R. Wijaya diwujudkan sebagai Ha
rahari (dewa Syiwa
dan Wisnu jadi satu).

2212. Pemerintahan raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan


turun-temurun seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip
musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak
mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi di kerajaan
Majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana.
2213. Wujud akulturasi selain dalam sistem pemerintahan juga terlihat
dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat
berdasarkan sistem kasta. Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu
terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria (golongan
Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta Sudra
(golongan rakyat jelata). Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau
dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan
kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan

Sejarah Indonesia | 369

dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian,


karena di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.

Sistem Pengetahuan
2214. Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu
perhitungan waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam
kepercayaan Hindu. Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan
365 hari dan perbedaan tahun saka dengan tahun masehi adalah 78
tahun sebagai contoh misalnya tahun saka 654, maka tahun masehinya
654 + 78 = 732 M.
2215. Di samping adanya pengetahuan tentang kalender Saka, juga
ditemukan
perhitungan
tahun
Saka
dengan
menggunakan
Candrasangkala. Candrasangkala adalah susunan kalimat atau gambar
yang dapat dibaca sebagai angka. Candrasangkala banyak ditemukan
dalam prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan menggunakan kalimat
bahasa Jawa salah satu contohnya yaitu kalimat Sirna ilang kertaning
bhumi apabila diartikan sirna = 0, ilang = 0, kertaning = 4 dan bhumi =
1, maka kalimat tersebut diartikan dan belakang sama dengan tahun
1400 saka atau sama dengan 1478 M yang merupakan tahun runtuhnya
Majapahit .

Peralatan Hidup dan Teknologi


2216. Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi
terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut
memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi
di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena
candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi pembuatannya
melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu
sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk
melaksanakan pembuatan arca dan bangunan. Dilihat dari bentuk dasar
maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar
bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak, yang
merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang
berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi bangunan candi
itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut. Perkataan
candi berasal dari kata Candika Grha yang merupakan salah satu nama
dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk
memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang
terkemuka. Di samping itu, dalam bahasa kawi
candi berasal dari kata Cinandi artinya yang
dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam
candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan
berbagai macam benda yang menyangkut lambang
jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
Gambar
6. Candi |Jago,
Malang,
Sejarah
Indonesia
370
Jawa Timur
Sumber; koleksi Labdik Sejarah
PPPPTK PKn dan IPS

2217. Dengan demikian fungsi candi


Hindu di Indonesia adalah untuk
pemujaan
terhadap
roh
nenek
moyang atau dihubungkan dengan
raja yang sudah meninggal. Hal ini
terlihat
dari
adanya
lambang
jasmaniah raja sedangkan fungsi
candi di India adalah untuk tempat
pemujaan terhadap dewa, contohnya
seperti candi-candi yang terdapat di
kota Benares merupakan tempat
pemujaan terhadap dewa Syiwa.
2218. Candi
Jago
(gambar
6)
merupakan
tempat
pendharmaan
Wisnuwardhana yang memerintah
tahun 1248 1268. Dilihat dari
gambar
candi
tersebut,
bentuk
dasarnya adalah punden berundakundak dan pada bagian bawah
terdapat kaki candi yang di dalamnya
terdapat sumuran candi, di mana di
dalam
sumuran
candi
tersebut
tempat menyimpan pripih (lambang
jasmaniah raja Wisnuwardhana).

Gambar 7. Candi Borobudur, Jawa


Tengah
Sumber: id.wikipedia.org

2219. Candi yang bercorak Buddha fungsinya sama dengan di India


yaitu untuk memuja Dyani Bodhisattwa yang dianggap sebagai
perwujudan dewa. Candi Borobudur (gambar 7) adalah candi Buddha
yang terbesar di Indonesia merupakan salah satu peninggalan kerajaan
Mataram dilihat dari 3 tingkatan, pada tingkatan yang paling atas
terdapat patung Dyani Buddha. Patung-patung Dyani Buddha inilah yang
menjadi tempat pemujaan umat Buddha. Di samping itu juga pada bagian
atas, juga terdapat atap candi yang berbentuk stupa.
2220. Untuk candi Buddha di India hanya berbentuk stupa, sedangkan
di Indonesia stupa merupakan ciri khas atap candi-candi yang bersifat
agama Buddha. Dengan demikian seni bangunan candi di Indonesia
memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya mengambil intinya
saja dari unsur budaya India sebagai dasar ciptaannya dan hasilnya tetap
sesuatu yang bercorak Indonesia.

Kesenian
2221. Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa,
seni sastra dan seni pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud
akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul),

Sejarah Indonesia | 371

gambar timbul pada candi tersebut banyak


menggambarkan
suatu
kisah/cerita
yang
berhubungan dengan ajaran agama Hindu ataupun
Buddha.
2222. Dari relief-relief tersebut apabila diamati
lebih lanjut, ternyata Indonesia juga mengambil
kisah asli cerita tersebut, tetapi suasana kehidupan
yang digambarkan oleh relief tersebut adalah
Gambar 8. Relief Candi Borobudur
suasana kehidupan asli keadaan alam ataupun
Sumber:
masyarakat Indonesia. Dengan demikian terbukti
arumsekartaji.wordpress.com
bahwa Indonesia tidak menerima begitu saja budaya India, tetapi selalu
berusaha menyesuaikan dengan keadaan dan suasana di Indonesia.
2223. Untuk wujud akulturasi dalam seni sastra dapat dibuktikan
dengan adanya suatu ceritera/kisah yang berkembang di Indonesia yang
bersumber dari kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki dan kitab
Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa. Kedua kitab tersebut merupakan
kitab kepercayaan umat Hindu. Tetapi setelah berkembang di Indonesia
tidak sama proses seperti aslinya dari India karena sudah disadur kembali
oleh pujangga-pujangga Indonesia, kedalam bahasa Jawa kuno. Dan,
tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah dengan hadirnya tokoh
punokawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng. Bahkan dalam
kisah Bharatayuda yang disadur dari kitab Mahabarata tidak
menceritakan perang antar Pendawa dan Kurawa, melainkan
menceritakan kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan Jenggala.
2224. Di samping itu juga, kisah Ramayana maupun Mahabarata
diambil sebagai suatu ceritera dalam seni pertunjukan di Indonesia yaitu
salah satunya pertunjukan Wayang. Seni pertunjukan wayang merupakan
salah satu kebudayaan asli Indonesia sejak zaman prasejarah dan
pertunjukan wayang tersebut sangat digemari terutama oleh masyarakat
Jawa. Wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari
pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata
yang berasal dari budaya India, tetapi tidak sama persis dengan aslinya
karena sudah mengalami perubahan. Perubahan tersebut antara lain
terletak dari karakter atau perilaku tokoh-tokoh ceritera misalnya dalam
kisah Mahabarata keberadaan tokoh Durna, dalam cerita aslinya Dorna
adalah seorang maha guru bagi Pendawa dan Kurawa dan berperilaku
baik, tetapi dalam lakon di Indonesia Dorna adalah tokoh yang
berperangai buruk suka menghasut.
2225.
Evaluasi Hasil

2226.

Soal Uraian

1. Mengapa terjadi akulturasi bahasa pada saat perkembangan masa Hindu-Buddha


di Indoneia?

Sejarah Indonesia | 372

2. Mengapa terjadi akulturasi religi/kepercayaan pada saat perkembangan agama


Hindu-Buddha di Indonesia?
3. Apa wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa organisasi
sosial kemasyarakatan!
4. Apa wujud akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa sistem
pengetahuan!
5. Bagaimana proses akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa peralatan
hidup/teknologi!
6. Bagaimana proses akulturasi masa Hindu-Buddha di Indonesia berupa kesenian!
7. Bagaimana sikap anda sebagai seorang pelajar apabila ada peninggalan HinduBuddha di Indonesia yang tidak terpelihara?
2227.
2228.
Kunci Jawaban
1. Perkembangan tingkat berfikir manusia merupakan hasil proses adaptasi dengan
lingkungan alam, sosial dan budaya. Unsur-unsur kebudayaan yang datangnya
dari luar ikut berperanan dalam proses perkembangan tradisi kebudayaan. Unsur
kebudayaan India yang membawa perubahan terhadap kehidupan bangsa
Indonesia adalah bahasa dan tulisan. Dimana ketika bangsa Indonesia mulai
mengenal tulisan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta, maka sejak saat itulah
sudah mulai memasuki jaman sejarah. Dari bahasa dan tulisan bangsa Indonesia
sudah dapat meninggalkan tradisi-tradisinya secara tertulis.
2229.
Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia dalam
bentuk bahasa dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang
dapat ditemukan sampai sekarang. Bahasa Sanksekerta banyak berkembang di
wilayah India bagian selatan. Penggunaan bahasa Sansekerta di Indonesia pada
awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan
Hindu Buddha pada abad 5 7 M. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya
bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno. Untuk aksara, dapat
dibuktikan adanya penggunaan huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi
huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis.
2. Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama HinduBuddha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada
Animisme dan Dinamisme. Dengan masuknya agama Hindu Buddha ke
Indonesia, masyarakat Indonesia mulai menganut/mempercayai agama-agama
tersebut. Agama Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia sudah
mengalami perpaduan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau
dengan kata lain mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah bagian dari proses
akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu.
Agama Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan
agama Hindu Buddha yang dianut oleh masyarakat India.
3. Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat
dalam:
2230.
a.
Organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh India. Dengan adanya
pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh
seorang raja secara turun temurun (konsep dewaraja). Raja di Indonesia ada
yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat,
sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut. Pemerintahan Raja di
Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan
Sejarah Indonesia | 373

ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah.


Sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan
masyarakat berdasarkan sistem kasta. Sistem kasta menurut kepercayaan
Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria (golongan
Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta Sudra
(golongan rakyat jelata). Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai
oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang
ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek
kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian, karena di Indonesia kasta
hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
4. Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan
waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu.
Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan
tahun saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya
tahun saka 654, maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M. Di samping adanya
pengetahuan tentang kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka
dengan menggunakan Candrasangkala. Candrasangkala adalah susunan kalimat
atau gambar yang dapat dibaca sebagai angka. Candrasangkala banyak
ditemukan dalam prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan menggunakan
kalimat bahasa Jawa.
5. Kemajuan teknologi sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan
budaya masyarakat. Sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara bangsa
Indonesia sudah memiliki teknologi yang tinggi khususnya dalam pembuatan alat
kehidupan baik yang terbuat dari batu atau logam. Setelah adanya pengaruh
Hindu, teknologi semakin maju, misalnya pembuatan candi. Jika dibandingkan
dengan candi-candi di India maka candi di Indonesia jauh lebih megah dan kokoh
seperti candi Borobudur, candi Prambanan. Dengan demikian, bangsa Indonesia
memiliki pengetahuan teknologi yang sudah tinggi.
2231.
Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi
terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang
mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia
tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena candi di Indonesia
hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis
yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang
memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
2232.
Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut
terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden
berundak-undak, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan
Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi
bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut.
Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama
dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk
memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang
terkemuka.
2233.
Di samping itu, dalam bahasa kawi, candi berasal dari kata
Cinandi artinya yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi
bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang
menyangkut lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
2234.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk
pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang
sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan

b.

Sejarah Indonesia | 374

fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya
seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan
terhadap dewa Syiwa.
6. Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa, seni sastra dan
seni pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari
relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak
menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama
Hindu ataupun Buddha. Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut,
ternyata Indonesia juga mengambil kisah asli cerita tersebut, tetapi suasana
kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah suasana kehidupan asli
keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia.
7. Cara menghargai peninggalan sejarah:
a.
Turut menjaga agar benda-benda peninggalan sejarah
tidak dirusak. Benda-benda peninggalan sejarah harus diamankan dari
tangan-tangan jahil.
b.
Mengunjungi museum, candi, makam pahlawan, istana
dan lain-lain termasuk salah satu cara menghargai peninggalan sejarah.
c.
Benda-benda peninggalan sejarah adalah kekayaan
negara. Kita harus menggunakan secara benar. Benda-benda itu boleh
digunakan untuk keperluan penelitian. Benda-benda peninggalan sejarah juga
boleh dikunjungi. Benda-benda peninggalan sejarah bukan milik pribadi. Kita
tidak memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Misalnya, kita tidak boleh
memperjualbelikan benda-benda peninggalan sejarah.

2235.
2236.

Soal Pilihan Ganda

1. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia


dalam bidang bahasa adalah ... .
A. Nisan Malik as Saleh
B. Negara Krtagama
C. Inkripsi Yupa
D. Pararaton
E. Kronik
2. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia
dalam bidang religi/kepercayaan adalah ... .
A. Upacara Ngaben
B. Upacara Nyepi
C. Prasasti Tugu
D. Prasasti Yupa
E. Candi
3. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia
dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan adalah ... .
A. Upacara Nyepi
B. Upacara Ngaben
C. Konsep Dewaraja
D. Konsep Kepala Suku
E. Raja sebagai kepala pemerintahan
2237.
2238.

Sejarah Indonesia | 375

2239.
4. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia
dalam bidang sistem pengetahuan adalah sistem kalender ... .
A. Candrasengkala
B. Masehi
C. Islam
D. Cina
E. Saka
5. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia
dalam bidang peralatan hidup/teknologi adalah ... .
A. Candi
B. Relief
C. Kalender Saka
D. Konsep Dewaraja
E. Konsep Macapat
6. Contoh bentuk akulturasi budaya peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia
dalam bidang kesenian ... .
A. Konsep Dewaraja
B. Kalender Saka
C. Gamelan
D. Candi
E. Relief
7. Sejak masa kerajaan Hindu-Buddha sampai sekarang yang dikenal menerapkan
konsep negara kesatuan adalah ... .
A. Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya
B. Sriwijaya, Majapahit, Republik Indonesia
C. Singosari, Majapahit, Republik Indonesia
D. Mataram Kuno, Majapahit, Republik Indonesia
E. Mataram Kuno, Mataram Islam, Republik Indonesia
8. Pengaruh kehidupan masa Hindu-Buddha di Indonesia dihubungkan dengan
kehidupan masyarakat pada masa sekarang yang dapat diterapkan adalah ... .
A. Toleransi
B. Peperangan
C. Chauvinisme
D. Separatisme
E. Diskriminasi
9. Kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian peninggalan masa Hindu-Buddha
di Indonesia.
I.
Mengunjugi museum
II.
Menjual kepada kolektor benda purbakala
III.
Menjadikan situs sebagai obyek penelitian
IV.
Melaporkan ke polisi apabila mengetahui pencurian arca
V.
Menyimpan dirumah
2240.
Berdasarkan data diatas, yang termasuk peran siswa dalam menjaga
peninggalan masa Hindu-Buddha di Indonesia ditunjukkan pada nomer ... .
A. I, II dan III
B. I, II dan IV

Sejarah Indonesia | 376

C. I, III dan IV
D. II, III dan IV
E. II, IV dan V
10. Apabila kamu melihat seseorang dengan sengaja mencoret-coret dinding candi
Prambanan yang bermaksud meninggalkan kenangan, maka yang kamu lakukan
adalah ... .
A. Menegur
B. Menasehati
C. Membiarkan
D. Ikut mencoret
E. Melaporkan kepada petugas
2241.
2242.
Kunci Jawaban
1.
C
2.
B
3.
C
4.
E
5.
A
6.
E
7.
B
8.
A
9.
C
10.
E
2243.
2244.
Evaluasi Pembelajaran (Proses)

Sejarah Indonesia | 377

2245.
2246.
2247.
2248.

Lembar Pengamatan
Rubrik kegiatan Diskusi
2251.
Aspek
Pengamata
n

2260.
2268.
2278.
2288.
2298.

2255.
Ket.

2264.
2265. 2266.

2267.

2269. 2270.
2271. 2272. 2273.
2274. 2275. 2276.
2279. 2280.
2281. 2282. 2283.
2284. 2285. 2286.
2289. 2290.
2291. 2292. 2293.
2294. 2295. 2296.
2299. 2300.
2301. 2302. 2303.
2304. 2305. 2306.
2308.
2309. Keterangan Skor :
2310.
Masing-masing kolom diisi dengan kriteria
2311.
4 = Baik Sekali
2312.
3 = Baik
2313.
2 = Cukup
2314.
1 = Kurang
2315.
Skor perolehan
2316.
Nilai
=
X 100
2317.
Skor Maksimal (20)
2318.
Kriteria Nilai
2319.
A=
80 100
:
Baik Sekali
2320.
B=
70 79
:
Baik
2321.
C=
60 69
:
Cukup
2322.
D=
60
:
Kurang
2323.
2324.

2277.
2287.
2297.
2307.

Sejarah Indonesia | 378

2325.
2326.

Rubrik Penilaian Presentasi


2329.

Aspek Penil
aian
2344.

2348.

2349.

2350.

2351.

2352.

2353.

2354.

2355.

2345.

2346.

2347.

2356.

2357.

2358.

2359.
2360. 2361.
2362. 2363. 2364. 2365.
2366. 2367.2368.2369
2370.
2371. 2372.
2373. 2374. 2375. 2376.
2377. 2378.2379.2380
2381.
2382. 2383.
2384. 2385. 2386. 2387.
2388. 2389.2390.2391
2392.
2393. Keterangan Skor :
2394.
Masing-masing kolom diisi dengan kriteria
2395.
4 = Baik Sekali
2396.
3 = Baik
2397.
2 = Cukup
2398.
1 = Kurang
2399.
Skor perolehan
2400.
Nilai
=
X 100
2401.
Skor Maksimal (20)
2402. Kriteria Nilai
2403.
A=
80 100
:
Baik Sekali
2404.
B=
70 79
:
Baik
2405.
C=
60 69
:
Cukup
2406.
D=
60
:
Kurang
2407.
2408.
2409.
Format Penilaian Makalah
2410.
2411.
Indikat
or
2413.2414.
Menunjukkan dengan tepat isi :
Latar belakang
Rumusan masalah
Tujuan penulisan.
2416.
Ketepatan pemilihan gambar
2417.
Orisinalitas makalah
Mendeskripsikan kehidupan masyarakat,
pemerintahan dan kebudayaan pada masa
kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha
di
Indonesia
Struktur/logika penulisan disusun dengan
jelas sesuai metode yang dipakai
Bahasa yang digunakan sesuai EYD dan
komunikatif

Sejarah Indonesia | 379

2415.

2418.

2410.
2411.

Indikat
or

Daftar
pustaka
yang
dapat
dipertanggungjawabkan (Ilmiah)
Menghindari sumber (akun) yang belum
dikaji secara ilmiah
2419.
Kesimpulan
sesuai
dengan
rumusan
masalah
Saran relevan dengan kajian, dan berisi
pesan
untuk
peningkatan
kepedulian
terhadap hasil peninggalan sejarah HinduBuddha di Indonesia
2421.
2422.

2424.
Kriteria Penilaian untuk masing-masing
indikator:
2425.
Sangat sesuai
Sesuai
Cukup
Kurang

4
3
2
1

2426.
2427.
2428.
2429.

2430.
2431.
2432.
2433.

Skor perolehan
Nilai

X 100
Skor Maksimal (48)

Sejarah Indonesia | 380

2420.

2423.

2434. Kartu Pembelajaran


2435.

2436.
KARTU
PEMBELAJARAN I
2437.
Petunjuk Mengerjakan
1. Amati gambar disamping
2. Baca artikel dibawah
3. Jawab permasalahannya

2438.
2439.

Gambar 1: Prasasti Yupa


Kerajaan Kutai

Akulturasi

2440.
Akulturasi
adalah
bertemunya dua kebudayaan
yang
berbeda
melebur
menjadi satu menghasilkan
kebudayaan baru tetapi tidak
Prasasti Tugu masa Kerajaan
menghilangkan
Tarumanegara
kepribadian/sifat kebudayaan
Prasasti Yupa dan Tugu
menggunakan Huruf Pallawa
aslinya.
Hal
ini
berarti
dan Bahasa Sanksekerta
kebudayaan
Hindu-Buddha
Sumber: wikipedia.org
yang masuk ke Indonesia
tidak diterima seperti apa
adanya,
tetapi
diolah,
ditelaah
dan
disesuaikan dengan budaya yang dimiliki
penduduk
Indonesia,
sehingga
budaya
tersebut berpadu dengan kebudayaan asli
Indonesia
menjadi
bentuk
akulturasi
kebudayaan Indonesia Hindu- Buddha. Wujud
akulturasi tersebut dapat Anda simak pada
uraian materi unsur-unsur budaya berikut ini:
2441.

Bahasa

2442.
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa,
dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa
Sansekerta yang dapat ditemukan sampai
sekarang. Bahasa Sansekerta memperkaya
perbendaharaan
bahasa
Indonesia.
Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya
banyak ditemukan pada prasasti (batu
bertulis) peninggalan kerajaan Hindu
Buddha pada abad 5 7 M, contohnya
prasasti Yupa dari Kutai dan prasasti
peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi
untuk perkembangan selanjutnya bahasa
Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu
Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti
Sejarah Indonesia | 381

peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 13 M.


Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya
penggunaan
huruf
Pallawa,
kemudian
berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi)
dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini
dapat dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo
(Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno.
2443.

Religi/Kepercayaan

2444.
Sistem
kepercayaan
yang
berkembang
di
Indonesia sebelum agama
Hindu-Buddha
masuk
ke
Indonesia
adalah
Upacara Nyepi di Bali sebagai
kepercayaan
yang
salah satu wujud akulturasi
berdasarkan pada Animisme
budaya berupa
dan
Dinamisme.
Dengan
Religi/kepercayaan umat
Hindu di Indonesia
masuknya agama Hindu
Sumber:
Buddha
ke
Indonesia,
www.mediaindonesia.com
Masyarakat Indonesia mulai
menganut/mempercayai
agama-agama
tersebut. Agama Hindu dan Buddha yang
berkembang di Indonesia sudah mengalami
perpaduan dengan kepercayaan animisme
dan dinamisme, atau dengan kata lain
mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah
bagian dari proses akulturasi, yang berarti
perpaduan dua kepercayaan yang berbeda
menjadi satu. Agama Hindu dan Buddha yang
berkembang di Indonesia, berbeda dengan
agama Hindu Buddha yang dianut oleh
masyarakat
India.
Perbedaaan-perbedaan
tersebut dapat dilihat dalam upacara ritual
yang diadakan oleh umat Hindu atau Buddha
yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara
Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu
Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh
umat Hindu di India.
2445.

Permasalahan Pembelajaran I

2446.
Berikanlah penjelasan wujud akulturasi
budaya
dalam
bidang
bahasa
dan
religi/kepercayaan, serta berikan contohnya
pada peninggalan-peninggalan masa HinduBuddha di Indonesia.
Sejarah Indonesia | 382

2447.
2448.
2449.

KARTU PEMBELAJARAN II
Petunjuk Mengerjakan

1. Amati gambar disamping


2. Baca artikel dibawah
3. Jawab permasalahannya
2450.

2451.
Organisasi
Kemasyarakatan

Sosial

2452.
Wujud
akulturasi
dalam bidang organisasi
sosial
kemasyarakatan
dapat
dilihat
dalam
Pembagian Kasta sebagai wujud
akulturasi budaya Hindu di
organisasi
politik
yaitu
Indonesia
dalam bidang sosial
sistem pemerintahan yang
kemasyarakatan
berkembang di Indonesia
setelah
masuknya
Sumber:
fannyndep.blogspot.com
pengaruh India. Dengan
adanya
pengaruh
kebudayaan India tersebut, maka sistem
pemerintahan yang berkembang di Indonesia
adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh
seorang raja secara turun temurun.
2453.
Raja di Indonesia ada yang dipuja
sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa
yang keramat, sehingga rakyat sangat
memuja raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan
dengan adanya raja-raja yang memerintah di
Singosari seperti Kertanegara diwujudkan
sebagai Bairawa dan pada masa Majapahit, R.
Wijaya diwujudkan sebagai Ha rahari (dewa
Syiwa dan Wisnu jadi satu).
2454.
Pemerintahan raja di Indonesia ada
yang bersifat mutlak dan turun-temurun
seperti di India dan ada juga yang
menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip
musyawarah diterapkan terutama apabila raja
tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti
yang terjadi di kerajaan Majapahit, pada
waktu pengangkatan Wikramawardana.
2455.
Wujud akulturasi di samping terlihat
dalam sistem pemerintahan juga terlihat
dalam
sistem
kemasyarakatan,
yaitu

Sejarah Indonesia | 383

pembagian lapisan masyarakat berdasarkan


sistem
kasta.
Sistem
kasta
menurut
kepercayaan
Hindu
terdiri
dari
kasta
Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria
(golongan Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya
(golongan pedagang) dan kasta Sudra
(golongan rakyat jelata). Kasta-kasta tersebut
juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu
Indonesia tetapi tidak sama persis dengan
kasta-kasta yang ada di India karena kasta
India benar-benar diterapkan dalam seluruh
aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia
tidak demikian, karena di Indonesia kasta
hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
2456.
2457.
2458.

Permasalahan Pembelajaran II

2459.
Berikanlah penjelasan wujud akulturasi
budaya dalam bidang sosial kemasyarakatan
dan contohnya pada peninggalan-peninggalan
masa Hindu-Buddha di Indonesia.
2460.
2461.

KARTU PERMASALAHAN III

2462.

Petunjuk Mengerjakan

1. Amati gambar disamping


2. Baca artikel dibawah
3. Jawab permasalahannya

2463.
2464.

Sistem Pengetahuan

2465.
Wujud
akulturasi
dalam
bidang
pengetahuan,
salah
satunya
yaitu
perhitungan waktu berdasarkan kalender
tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu.
Menurut perhitungan satu tahun Saka sama
dengan 365 hari dan perbedaan tahun saka
dengan tahun masehi adalah 78 tahun
sebagai contoh misalnya tahun saka 654,
maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M.

Sejarah Indonesia | 384

2466.
Di
samping
adanya
pengetahuan
tentang kalender Saka, juga ditemukan
perhitungan
tahun
Saka
dengan
menggunakan
Candrasangkala.
Candrasangkala adalah susunan kalimat atau
gambar yang dapat dibaca sebagai angka.
Candrasangkala banyak ditemukan dalam
prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan
menggunakan
kalimat
bahasa Jawa salah satu
contohnya yaitu kalimat
Sirna ilang kertaning
bhumi apabila diartikan
sirna = 0, ilang = 0,
kertaning = 4 dan
bhumi
=
1,
maka
kalimat
tersebut
diartikan dan belakang
Candi Jago, Malang, Jawa Timur
sama
dengan
tahun
Sumber; koleksi Labdik Sejarah
1400 saka atau sama
PPPPTK PKn dan IPS
dengan 1478 M yang
merupakan
tahun
runtuhnya Majapahit .
2467.

Peralatan Hidup dan Teknologi

2468.
Salah satu wujud akulturasi dari
peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam
seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi
tersebut memang mengandung unsur budaya
India tetapi keberadaan candi-candi di
Indonesia tidak sama dengan candi-candi
yang ada di India, karena candi di Indonesia
hanya
mengambil
unsur
teknologi
pembuatannya melalui dasar-dasar teoritis
yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu
sebuah kitab pegangan yang memuat
berbagai
petunjuk
untuk
melaksanakan
pembuatan arca dan bangunan. Dilihat dari
bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut
terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan
candi di Indonesia adalah punden berundakundak,
yang
merupakan
salah
satu
peninggalan kebudayaan Megalithikum yang
berfungsi
sebagai
tempat
pemujaan.
Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri

Sejarah Indonesia | 385

di Indonesia sesuai dengan asal kata candi


tersebut. Perkataan candi berasal dari kata
Candika Grha yang merupakan salah satu
nama dewi Durga atau dewi maut, sehingga
candi
merupakan
bangunan
untuk
memuliakan
orang
yang
telah
wafat
khususnya
raja-raja
dan
orang-orang
terkemuka. Di samping itu, dalam bahasa
kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya
yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan
didalam candi bukanlah mayat atau abu
jenazah melainkan berbagai macam benda
yang menyangkut lambang jasmaniah raja
yang disimpan dalam Pripih.
2469.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di
Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap
roh nenek moyang atau dihubungkan dengan
raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat
dari
adanya
lambang
jasmaniah
raja
sedangkan fungsi candi di India adalah untuk
tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya
seperti candi-candi yang terdapat di kota
Benares
merupakan
tempat
pemujaan
terhadap dewa Syiwa.
2470.
Candi Jago merupakan salah satu
peninggalan
kerajaan
Singosari
yang
merupakan
tempat
dimuliakannya
raja
Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248
1268. Dilihat dari gambar candi tersebut,
bentuk dasarnya adalah punden berundakundak dan pada bagian bawah terdapat kaki
candi yang di dalamnya terdapat sumuran
candi, di mana di dalam sumuran candi
tersebut tempat menyimpan pripih (lambang
jasmaniah raja Wisnuwardhana).
2471.
Candi
yang
bercorak
Buddha
fungsinya sama dengan
di India yaitu untuk
memuja
Dyani
Bodhisattwa
yang
dianggap
sebagai
perwujudan dewa.

Candi Borobudur, Jawa Tengah


Sumber: id.wikipedia.org

Sejarah Indonesia | 386

2472.
Candi Borobudur adalah candi Buddha
yang terbesar di Indonesia merupakan salah
satu peninggalan kerajaan Mataram dilihat
dari 3 tingkatan, pada tingkatan yang paling
atas terdapat patung Dyani Buddha. Patungpatung Dyani Buddha inilah yang menjadi
tempat pemujaan umat Buddha. Di samping
itu juga pada bagian atas, juga terdapat atap
candi yang berbentuk stupa.
2473.
Untuk Candi Buddha di India hanya
berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia
stupa merupakan ciri khas atap candi-candi
yang bersifat agama Buddha. Dengan
demikian seni bangunan candi di Indonesia
memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia
hanya mengambil intinya saja dari unsur
budaya India sebagai dasar ciptaannya dan
hasilnya tetap sesuatu yang bercorak
Indonesia.
2474.
2475.
Permasalahan III
2476.
Berikanlah penjelasan wujud akulturasi
budaya dalam bidang sistem pengetahuan
dan peralatan hidup serta contohnya pada
peninggalan-peninggalan masa Hindu-Buddha
di Indonesia (contoh minimal 5).
2477.
2478.
2479.
2480.
2481.
2482.
2483.
KARTU PEMBELAJARAN IV
2484.

Petunjuk Mengerjakan

2485.

Kesenian

1. Amati gambar disamping


2. Baca artikel dibawah
3. Jawab permasalahannya

2486.
Wujud akulturasi
dalam bidang kesenian
terlihat dari seni rupa,
seni sastra dan seni
Sejarah
Indonesia
| 387
Gambar
8. Relief Candi
Borobudur
Sumber:

arumsekartaji.wordpress.com

pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud


akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding
candi (gambar timbul), gambar timbul pada
candi tersebut banyak menggambarkan suatu
kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran
agama Hindu ataupun Buddha.
2487.
Dari
relief-relief
tersebut
apabila
diamati lebih lanjut, ternyata Indonesia juga
mengambil kisah asli cerita tersebut, tetapi
suasana kehidupan yang digambarkan oleh
relief tersebut adalah suasana kehidupan asli
keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia.
Dengan demikian terbukti bahwa Indonesia
tidak menerima begitu saja budaya India,
tetapi selalu berusaha menyesuaikan dengan
keadaan dan suasana di Indonesia.
2488.
Untuk wujud akulturasi dalam seni
sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu
ceritera/kisah yang berkembang di Indonesia
yang bersumber dari kitab Ramayana yang
ditulis oleh Walmiki dan kitab Mahabarata
yang ditulis oleh Wiyasa. Kedua kitab tersebut
merupakan kitab kepercayaan umat Hindu.
Tetapi setelah berkembang di Indonesia tidak
sama proses seperti aslinya dari India karena
sudah disadur kembali oleh pujanggapujangga Indonesia, kedalam bahasa Jawa
kuno. Tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut
ditambah dengan hadirnya tokoh punokawan
seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng.
Bahkan dalam kisah Bharatayuda yang
disadur
dari
kitab
Mahabarata
tidak
menceritakan perang antar Pendawa dan
Kurawa,
melainkan
menceritakan
kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan
Jenggala.
2489.
Di samping itu juga, kisah Ramayana
maupun Mahabarata diambil sebagai suatu
ceritera dalam seni pertunjukan di Indonesia
yaitu salah satunya pertunjukan Wayang. Seni
pertunjukan wayang merupakan salah satu
kebudayaan asli Indonesia sejak zaman
prasejarah dan pertunjukan wayang tersebut

Sejarah Indonesia | 388

sangat digemari terutama oleh masyarakat


Jawa. Wujud akulturasi dalam pertunjukan
wayang tersebut terlihat dari pengambilan
lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun
Mahabarata yang berasal dari budaya India,
tetapi tidak sama persis dengan aslinya
karena
sudah
mengalami
perubahan.
Perubahan tersebut antara lain terletak dari
karakter atau perilaku tokoh-tokoh ceritera
misalnya dalam kisah Mahabarata keberadaan
tokoh Durna, dalam cerita aslinya Dorna
adalah seorang maha guru bagi Pendawa dan
Kurawa dan berperilaku baik, tetapi dalam
lakon di Indonesia Dorna adalah tokoh yang
berperangai buruk suka menghasut.
2490.
2491.

Permasalahan IV

2492.
Berikanlah penjelasan wujud akulturasi
budaya dalam bidang kesenian dan contohnya
pada peninggalan-peninggalan masa HinduBuddha di Indonesia (contoh minimal 5).
2493.
2494.

KARTU PEMBELAJARAN V

2495.

Petunjuk Mengerjakan

1. Perhatikan gambar
2. Baca artikel dibawah
3. Jawab permasalahannya

Sejarah Indonesia | 389

2496.

2497.
2498.
Gambar 9. lingga yoni pada Candi
Badut, Kota Malang.
2499.
Sumber: Koleksi pribadi Labdik Sejarah
PPPPTK PKn dan IPS
2500.
2501.

Permasalahan V

2502.
Perhatikan kondisi Lingga Yoni pada
bangunan induk Candi Badut diatas!. Pada
lingga tersebut nampak kondisi lingga yang
sudah rusak yaitu adanya tambahan tulisan
oknum yang tidak bertanggungjawab. Sebagai
seorang siswa, apa yang kamu lakukan

Sejarah Indonesia | 390

apabila mengetahui perusakan peninggalan


budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia?
2503.
KUNCI
PERMASALAHAN

JAWABAN

KARTU

1. Wujud akulturasi budaya masa Hindu-Buddha di Indonesia dalam bentuk bahasa


dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat ditemukan
sampai sekarang. Bahasa Sanksekerta banyak berkembang di wilayah India bagian
selatan. Penggunaan bahasa Sansekerta di Indonesia pada awalnya banyak
ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu Buddha pada
abad 5 7 M. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di
gantikan oleh bahasa Melayu Kuno. Untuk aksara, dapat dibuktikan adanya
penggunaan huruf Pallawa, kemudian berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi)
dan huruf (aksara) Bali dan Bugis.

2504. Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum


agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang
berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme. Dengan masuknya agama
Hindu

Buddha
ke
Indonesia,
masyarakat
Indonesia
mulai
menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan

Buddha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan


dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain
mengalami Sinkritisme. Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi,
yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu.
Agama Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan
agama Hindu Buddha yang dianut oleh masyarakat India.
2.

Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat dilihat


dalam:
a.
Organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh India. Dengan adanya
pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang
berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang
raja secara turun temurun (konsep dewaraja). Raja di Indonesia ada yang dipuja
sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat
sangat memuja Raja tersebut. Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang
bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada juga yang
menerapkan prinsip musyawarah.
b.
Sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan
masyarakat berdasarkan sistem kasta. Sistem kasta menurut kepercayaan

Sejarah Indonesia | 391

Hindu terdiri dari kasta Brahmana (golongan Pendeta), kasta Ksatria (golongan
Prajurit, Bangsawan), kasta Waisya (golongan pedagang) dan kasta Sudra
(golongan rakyat jelata). Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh
umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang ada di
India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek
kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian, karena di Indonesia kasta
hanya diterapkan untuk upacara keagamaan.
3. Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan
waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu.
Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun
saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya tahun saka
654, maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M. Di samping adanya pengetahuan
tentang kalender Saka, juga ditemukan perhitungan tahun Saka dengan
menggunakan Candrasangkala. Candrasangkala adalah susunan kalimat atau
gambar yang dapat dibaca sebagai angka. Candrasangkala banyak ditemukan
dalam prasasti yang ditemukan di pulau Jawa, dan menggunakan kalimat bahasa
Jawa.
2505.
Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat
dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung
unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan
candi-candi yang ada di India, karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur
teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab
Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk
melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
2506.
Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut
terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden
berundak-undak, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan
Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sedangkan fungsi
bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut.
Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi
Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan
orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka.
2507.
Di samping itu, dalam bahasa kawi, candi berasal dari kata Cinandi
artinya yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah
mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut
lambang jasmaniah raja yang disimpan dalam Pripih.
2508.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk
pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah
meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi
candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti
candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan terhadap
dewa Syiwa.
4. Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa, seni sastra dan
seni pertunjukan. Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari
relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak
menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama
Hindu ataupun Buddha. Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut,
ternyata Indonesia juga mengambil kisah asli cerita tersebut, tetapi suasana
kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah suasana kehidupan asli
keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia.
5. Pemahaman sejarah memiliki arti lebih penting dari sekadar membentuk

Sejarah Indonesia | 392

kesadaran untuk merawat benda cagar budaya, yakni membentuk karakter, jati
diri, dan eksistensi kebangsaan, Cara menghargai peninggalan sejarah antara lain:
a. Turut menjaga agar benda-benda peninggalan sejarah tidak dirusak. Bendabenda peninggalan sejarah harus diamankan dari tangan-tangan jahil.
b. Mengunjungi museum, candi, makam pahlawan, istana dan lain-lain termasuk
salah satu cara menghargai peninggalan sejarah.
c. Benda-benda peninggalan sejarah adalah kekayaan negara. Kita harus
menggunakan secara benar. Benda-benda itu boleh digunakan untuk keperluan
penelitian. Benda-benda peninggalan sejarah juga boleh dikunjungi. Bendabenda peninggalan sejarah bukan milik pribadi. Kita tidak memanfaatkannya
untuk kepentingan pribadi. Misalnya, kita tidak boleh memperjualbelikan
benda-benda peninggalan sejarah.
d. Siswa dituntut tidak hanya sekedar paham akan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang diperoleh dari bangku sekolah/formal saja melainkan juga peduli
akan lingkungan alam (natural environment).

2509.
2510.
2511.

2512. SKENARIO KEGIATAN


PEMBELAJARAN
2513. MATERI PELATIHAN: 2.
ANALISIS MATERI AJAR
2514. ALOKASI WAKTU:
12 JP (@ 45
MENIT)
2515. JENJANG:
SMA/MA,
SMK/MAK
2516. MATA PELAJARAN:
SEJARAH
INDONESIA
2517.
2518.

2521.

2519. DESKRIPSI
KEGIATAN
2522.
Dilakukan
dengan
mengecek
kelengkapan
alat
pembelajaran, seperti
LCD Projector, Laptop,
File, Active Speaker,
dan
Laser
Pointer,
atau
media

Sejarah Indonesia | 393

2520.
2523.

pembelajaran lainnya.
2524.

2525.
Pengkondisian
Peserta
2528.

2526.

Perkenalan

2531.
Fasilitator
menjelaskan nama,
tujuan, kompetensi,
indikator, alokasi
waktu, dan skenario
kegiatan
pembelajaran materi
pelatihan Analisis
Materi Ajar.
2534.
Fasilitator
memotivasi
peserta
agar serius, antusias,
teliti,
dan
bekerja
sama
saat
proses
pembelajaran
berlangsung.
2536.

2537.
2.1
Konsep
Pendekatan
Scientific

2538.

2540.
Penayangan
Video pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan menggunakan
V-2.1/4.1.

2541.

2543.
Diskusi
kelompok
untuk
mengkaji pendekatan
scientific
yang
mengacu
pada
tayangan
video,
dilanjutkan
dengan
paparan materi oleh
fasilitator
tentang
konsep
pendekatan
scientific
dengan
menggunakan
PPT-

2544.

Sejarah Indonesia | 394

2.2-1
dan
contoh
penerapan
pendekatan scientific
dalam
pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan menggunakan
PPT-2.2.2
yang
disisipkan
dalam
kegiatan
diskusi
tersebut.
2546.
Diskusi
kelompok
tentang
konsep
pendekatan
scientific
dengan
menggunakan HO-2.11 dan contoh-contoh
penerapan
pendekatan scientific
dalam
pembelajaran
Sejarah
Indonesia
dengan
mengacu
pada hand out HO-2.12.
2549.
2.3 Modelmodel
Pembelajaran
2552.
Mengamati
tayangan tiga jenis
model pembelajaran
(Project Based
Learning, Problem
Based Learning, dan
Discovery Learning).

2547.

2550.

2554.

2553.

2556.
Menerapkan
Focus Group
Discussion untuk
mengidentifikasi
karakteristik tiga
model pembelajaran.
2557.

Sejarah Indonesia | 395

2558.

2560.
Kerja
kelompok untuk
mengidentifikasi
penerapan
Pendekatan Scientific
pada tiga model
pembelajaran.

2561.

2563. 2.3 Konsep Penilaian Autentik pada Proses


dan Hasil Pembelajaran

2564.

2566.
Kegiatan
interaktif
untuk
menyamakan persepsi
tentang
jenis
dan
bentuk
penilaian
autentik.

2567.

2569.
Diskusi tentang
konsep
penilaian
autentik pada proses
dan hasil belajar.

2570.

2572.
Presentasi
hasil diskusi kelompok

2573.

2575.
Paparan
materi
Konsep
Penilaian
Autentik
pada Proses dan Hasil
Belajar
dengan
menggunakan bahan
tayang PPT-2..2 dan
Contoh
Penerapan
Penilaian
Autentik
pada
Pembelajaran
Sejarah
Indonesia
menggunakan bahan
tayang PPT-2.2/3.2.

2576.

2578. ICE BREAKER

2579.

2581. 2.4 Analisis Buku Guru dan Buku Siswa


(Kesesuaian,

2583.

2582.

Kecukupan, dan Kedalaman Materi)

2585. Menilai buku dilakukan oleh peserta dengan

Sejarah Indonesia | 396

2586.

bimbingan fasilitator dilihat dari aspek kesesuaian,


kecukupan, dan kedalaman materi.

2597.

2588.
Diskusi
kelompok
hasil
penilaian
buku
dilanjutkan
dengan
pemaparan
materi
tentang Analisis Buku
Guru dan Buku Siswa
dengan menggunakan
PPT-2.3
yang
disisipkan
dalam
kegiatan
diskusi
tersebut.

2589.

2591.
Menyimpulkan
hasil
diskusi dan
menyampaikan format
lembar
kerja
yang
telah disiapkan.

2592.

2594.
Kerja
kelompok
untuk
menganalisis
kesesuaian buku guru
dan
buku
siswa
dengan tuntutan SKL,
KI, dan KD dengan
menggunakan LK-2.31 dan LK -2.3-2.

2595.

ICE BREAKER

2598.
2600.
Diskusi
kelompok
untuk
menganalisis
kesesuaian
proses,
pendekatan scientific,
serta strategi evaluasi
yang
diintegrasikan
dalam buku.

2601.

2603.
Kerja
kelompok
untuk
membuat
contohcontoh
penerapan

2604.

Sejarah Indonesia | 397

materi pelajaran yang


terdapat dalam buku
guru dan buku siswa
pada bidang/ ilmu lain
serta
kehidupan
sehari-hari.

2611.

2606.
Presentasi
hasil
kerja
kelompok.

2607.

2609.
Menyimpulkan
materi analisis buku
oleh fasilitator.

2610.

2612.
Membuat
rangkuman materi
pelatihan Analisis
materi Ajar.

2613.

2615.
Refleksi dan
umpan balik tentang
proses pembelajaran.
2618.
Fasilitator
mengingatkan peserta
agar membaca
referensi yang
relevan.
2621.
Fasilitator
menutup
pembelajaran
2623.

2624.
2625.

2626.

Sejarah Indonesia | 398

2627.
2628.

Submateri Pelatihan 3.1:


Penyusunan RPP

Langkah Kegiatan Inti

2632.

2635.

2637.

2639.

2649.

2651.

2640.
2641.

2647.

2652.
2653.

Aktivitas 1: Menilai RPP

2654.

Menilai RPP Peserta Lain

a. Setiap peserta diwajibkan membawa dua set RPP yang telah digunakan dalam
proses pembelajaran sesuai mata pelajaran yang diampu.
b. RPP tersebut dikumpulkan kepada panitia untuk kemudian dibagikan kembali ke
peserta untuk dinilai oleh peserta lainnya dengan menggunakan acuan
pengetahuan masing-masing peserta.
c. Hasil penilaian dituliskan langsung pada halaman depan RPP.

2655.
Hasil penilaian dipresentasikan oleh
peserta yang ditunjuk instruktur. Peserta
lainnya menyampaikan hasil penilaian yang
tidak sama dengan peserta lainnya. Instruktur
mencatat hasil penilaian yang dilaporkan
peserta.

2656.

Peserta menyimpulkan hasil penilaian


RPP dengan dipandu oleh Instruktur.

Sejarah Indonesia | 399

2657.
Diskusirambu-rambu
penyusunan
RPPyang mengacu pada Standar Proses dan
Pendekatan Scientific.

2658.

Paparan materi tentang Rambu-rambu


Penyusunan RPP mengacu pada Standar
Proses dan Pendekatan scientific dengan
mengggunakan PPT-3.1 oleh fasilitator yang
disisipkan dalam kegiatan diskusi tersebut.

2659.
2660.

Aktivitas 2: Kerja Kelompok

2661.
Kerja kelompokuntuk menyusun RPP
yang sesuai dengan SKL, KI, dan KD; Standar
Proses; dan pendekatan scientific (terutama
KD di awal semester 1).
2662.
2663.
Diskusi format telaah RPPdengan
mengacu pada bahan tayangPPT-3.1.
2664.
2665.

Aktivitas 3: Kerja Kelompok

2666.
Kerja Kelompokuntuk
yang
disusun
kelompok
menggunakan
2667.

menelaah RPP
lain
dengan

LK-3.1/3.2.

2668.

Sejarah Indonesia | 400

2669.

Sejarah Indonesia | 401

2670.

2671.

Sejarah Indonesia | 402

2672.

2673.
2674.

Sejarah Indonesia | 403

2675.

LEMBAR KERJA

LK 3.1/3.2

2676. PENELAAHAN RENCANA


PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
2677.
2678.
Identitas RPP yang ditelaah:

2679.
2680.
Berilah tanda cek ( V) pada kolom skor
(1, 2, 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera
pada kolom tersebut! Berikan catatan atau
saran untuk perbaikan RPP sesuai penilaian
Anda!
2681.
2683.
K

2685.
H

2682.
2684.
R

2687.

2688.

2686.

2689.

2690.

2691.

2695.

2696.

2697.

2693.
2694.
Identitas Mata
A
Pelajaran

2699.

2698.

2700.
1.

2701.
S

2702.

2703.

2704.

2706.

2707.
P

2708.

2709.

2710.
2711.
Sesuai Seluruhnya

2712.
2713.
1. Kesesuaian dengan SKL,KI dan
KD.

2714.

2715.

2716.

2717.

2718.
2719. Kesesuaian penggunaan
2. kata kerja operasional dengan
kompetensi yang diukur.

2720.
2721.

2722.

2723.

2727.

2728.

2729.

2724.
2725. Kesesuaian dengan aspek
3. sikap, pengetahuan, dan

2726.

Sejarah Indonesia | 404

2705.

2683.
K

2685.
H

2682.
2684.
R

2687.

2686.

2688.

2689.

2690.

2691.

2730.

2731.
P

2732.

2733.

2734.
2735.
Sesuai Seluruhnya

2736.
1.

2737.
K

2738.

2739.

2740.

2741.

2742.
2.

2743.
K

2744.

2745.

2746.

2747.

2748.

2749.
P

2750.

2751.

2752.
2753.
Sesuai Seluruhnya

2754.
1.

2755.
K

2756.

2757.

2758.

2759.

2760.
2.

2761.
K

2762.

2763.

2764.

2765.

2766.
3.

2767.
K

2768.

2769.

2770.

2771.

2772.

2773.
P

2774.

2775.

2776.
2777.
Sesuai Seluruhnya

2778.
1.

2779.
K

2780.

2781.

2782.

2783.

2784.
2.

2785.

2786.

2787.

2788.

2789.

keterampilan.

Sejarah Indonesia | 405

2683.
K

2685.
H

2682.
2684.
R

2686.

2687.

2688.

2689.

2690.

2691.

2790.
3.

2791.
K

2792.

2793.

2794.

2796.

2797.
P

2798.

2799.

2800.
2801.
Sesuai Seluruhnya

2802.
1.

2803.
K

2804.

2805.

2806.

2807.

2808.
2.

2809.

2810.

2811.

2812.

2813.

2814.
3.

2815.
K

2816.

2817.

2818.

2819.

2820.

2821.
M

2822.

2823.

2824.
2825.
Sesuai Seluruhnya

2826.
1.

2827.
K

2828.

2829.

2830.

2831.

2832.
2.

2833.
K

2834.

2835.

2836.

2837.

2838.

2839.
S

2840.

2841.

2842.
2843.
Sesuai Seluruhnya

2844.
1.

2845.
M

2846.

2847.

2848.

2849.

2850.
2.

2851.
K

2852.

2853.

2854.

2855.

Sejarah Indonesia | 406

2795.

2683.
K

2685.
H

2682.
2684.
R

2686.

2687.

2688.

2689.

2690.

2691.

2856.
3.

2857.
K

2858.

2859.

2860.

2861.

2862.
4.

2863.
K

2864.

2865.

2866.

2867.

2868.

2869.
P

2870.

2871.

2872.
2873.
Sesuai Seluruhnya

2874.
1.

2875.
K

2876.

2877.

2878.

2879.

2880.
2.

2881.
K

2882.

2883.

2884.

2885.

2886.
3.

2887.
K

2888.

2889.

2890.

2891.

2892.
4.

2893.
K

2894.

2895.

2896.

2897.

2898.
Jumla
h

2899.
2900.

2901.

2902.
2903.

Komentar terhadap RPP secara umum.


2904.
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
....................................................
Sejarah Indonesia | 407

2905.
2906.

RUBRIK

R3.1/3.2

2907. PENILAIAN TELAAH RENCANA


PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
2908.
2909.

Rubrik

penilaian

RPP

digunakan

fasilitator untuk menilai RPP peserta yang


digunakan peerteaching. Selanjutnya nilai RPP
dimasukkan ke dalam nilai portofolio peserta.
2910.

Langkah-langkah penilaian RPP sebagai

berikut.
1

Cermati format penilaian RPP dan RPP yang akan dinilai!

Berikan nilai setiap komponen RPP dengan cara membubuhkan tanda cek ()
pada kolom

pilihan skor

(1 ), (2) dan (3)

sesuai dengan penilaian Anda

terhadap RPP tersebut!


3

Berikan catatan khusus atau saran perbaikan

setiap komponen RPP jika

diperlukan!
4

Setelah selesai penilaian, jumlahkan skor seluruh komponen!

Tentukan nilai RPP menggunakan rumus sbb:


2911.

Nilai=

2912.

Skor yang diperoleh


x 100
75

2913.
2914.

2916.

2918.

2919.

2920.

2921.

2922.

2923.

Sejarah Indonesia | 408

2924.

2925.
2926.
2927.

Sejarah Indonesia | 409

2928.
Submateri Pelatihan : 3.2
Perancangan Penilaian Autentik pada
Proses dan Hasil Belajar
2929.
2930.

Langkah Kegiatan Inti

2931.

2941.

2943.

2945.

2938.

2940.

2947.

2949.

2950.
2951.

2952.

Diskusi dan tanya jawab tentang


penilaian autentik dalam bentuk tes dan
nontes
termasuk
portofolio,
dilanjutkan
dengan Pemaparan materi oleh fasilitator
tentang Contoh Penerapan Penilaian Autentik
pada Pembelajaran dengan menggunakan
PPT-2.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah
Rancangan Penilaian pada RPP dengan
menggunakan PPT-3.2 yang disisipkan dalam
kegiatan diskusi tersebut.

2953.

Kerja kelompok untuk menelaah


contoh penerapan penilaian autentik pada
pembelajaranyang
terdapat
dalam
HO2.3/3.2.

2954.

Kerja
kelompok
untuk
merevisi
rancangan penilaian pada RPP yang telah
disusun.

2955.

Presentasi hasil kerja kelompok.

2956.

Membuat
rangkuman
materi
pelatihan Model Rancangan Pembelajaran.

2957.

Refleksi dan umpan balik tentang


proses pembelajaran.

Sejarah Indonesia | 410

2958.
Fasilitator mengingatkan peserta agar
membaca referensi yang relevan.
2959.

Fasilitator menutup pembelajaran.

2960.

Bahan Tayang

2961.
Contoh Penerapan Penilaian Autentik
pada Pembelajaran dengan menggunakan
PPT-2.3/3.2 dan Panduan Tugas Menelaah
Rancangan Penilaian pada RPP dengan
menggunakan PPT-3.2-2.
2962.
2963.

Sejarah Indonesia | 411

2964.

2965.

Sejarah Indonesia | 412

2966.

2967.

2968.
2969.
2970.
2971.
2972.

Sejarah Indonesia | 413

2973.
2974.
2975.
2976.
2977.
2978.
2979.
2980.
2981.

MATERI PELATIHAN 4 : PRAKTIK


2982.
PEMBELAJARAN TERBIMBING (24 JP)
2983.

4.1 Simulasi Pembelajaran


2984.
4.2
Peer Teaching
2985.

Sejarah Indonesia | 414

2986.

Sub Materi Pelatihan 4 Praktik


Pembelajaran Terbimbing

2987.
A. KOMPETENSI

2988.

Peserta pelatihan dapat:

1. mengkaji pelaksanaan pembelajaranyang menerapkan pendekatan scientific


(mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta)
dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik,
moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual; dan
2. melaksanakan
pembelajaranyang
menerapkan
pendekatan
scientific
(mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta)
dengan tetap memperhatikan karakteristik peserta didik baik dari aspek fisik,
moral, sosial, kultural, emosional, maupun, intelektual.
2989.
B. LINGKUP MATERI

1. Simulasi Pembelajaran
2. Peer Teaching
2990.
C. KOMPETENSI PESERTA PELATIHAN
1. Ketelitian dan keseriusan dalam menganalisis simulasi pembelajaran.
2. Menganalisis simulasi pembelajaran melalui tayangan video pembelajaran.
3. Menyimpulkan alur pembelajaran
scientific dan penilaian autentik.

yang

berorientasi

pada

pendekatan

4. Merevisi RPP sehingga menerapkan pendekatan scientific dan penilaian


autentik untuk kegiatan peer teaching.
5. Kreatif dan komunikatif dalam melakukan peer teaching.
6. Melaksanakan peer teaching pembelajaranyang menerapkan pendekatan
scientific dan penilaian autentik.
7. Menilai pelaksanaan peer teaching peserta lain.
2991.
D. PERANGKAT PELATIHAN
1. Bahan Tayang
a. Strategi Pengamatan tayangan video.
b. Panduan tugas praktik pelaksanaan pembelajaran.
c. Garis besar instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran.
2. Lembar Kerja
a. Analisis pembelajaran pada tayangan video.

Sejarah Indonesia | 415

b. Instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran (Alat Penilaian Kinerja


Guru).
3. ATK

2992.

Sejarah Indonesia | 416

2993. SKENARIO KEGIATAN


PEMBELAJARAN
2994. MATERI PELATIHAN: 4.
PRAKTIK
TERBIMBING
2995. ALOKASI WAKTU:
22 JP (@ 45 MENIT)
2996. JENJANG:
SMA/MA, SMK/MAK
2997. MATA PELAJARAN:
SEJARAH INDONESIA
2998.
2999.

3000.

PEMBELAJARAN

DESKRIPSI
KEGIATAN

3001.

3002.

3003.
Dilakukan
dengan mengecek
kelengkapan alat
pembelajaran, seperti
LCD Projector, Laptop,
File, Active Speaker,
dan Laser Pointer, atau
media pembelajaran
lainnya.

3004.

3005.

3006.
Pengkondisian
Peserta

3007.

3009.

Perkenalan

3012.
Fasilitator
menjelaskan nama,
tujuan, kompetensi,
indikator, alokasi
waktu, dan skenario
kegiatan pembelajaran
materi pelatihan Praktik
Pembelajaran
Terbimbing.
3015.
Fasilitator
memotivasi
peserta,
mengajak berdinamika
agar saling mengenal,
serius, semangat, dan
bekerja
sama
saat
proses
pembelajaran

Sejarah Indonesia | 417

berlangsung.
3017.

3018.
4.1 Simulasi
Pembelajaran

3019.

3021.
Pemaparan
Strategi Pengamatan
Video Pembelajaran
dengan menggunakan
bahan tayang PPT-4.1oleh fasilitator.

3022.

3024.
Penayangan
video pembelajaran
Sejarah Indonesia
dengan menggunakan
V-2.1/4.1.

3025.

3027.
Kerja kelompok
untuk menganalisis
tayangan video
pembelajaran dengan
fokus pada penerapan
pendekatan scientific
dan penilaian autentik
dengan menggunakan
LK 4.1.

3028.

3030.
Mengkonfirmas
i penerapan
pendekatan scientific
dan penilaian autentik
mengacu pada
tayangan video
pembelajaran

3031.

3033.
Kerja kelompok
untuk merevisi RPP
sesuai dengan hasil
analisis tayangan video
pembelajaran.

3034.

3036.
Presentasi
contoh RPP yang akan
digunakan dalam
kegiatan
peer

3037.

Sejarah Indonesia | 418

teaching.
3039.

ICE BREAKER

3040.

3042.
4.2 Peer
Teaching

3043.

3045.
Paparan oleh
fasilitator tentang
Panduan Tugas Praktik
Pelaksanaan
Pembelajaran melalui
peer teaching dengan
menggunakan PPT- 4.21.

3046.

3048.
Paparan oleh
fasilitator tentang Garis
Besar Instrumen
Penilaian Pelaksanaan
Pembelajaran dengan
menggunakan PPT-4.22.

3049.

3051.
Persiapan peer
teaching.

3052.

3054.
Praktik peer
teaching pembelajaran
Sejarah Indonesia
secara individual, untuk
setiap peserta 30 menit
dipandu fasilitator.

3055.

3057.
Menilai
kegiatan peer
teaching
menggunakan
instrumen penilaian
pelaksanaan
pembelajaran LK -4.2.

3062.

3060.
Refleksi
terhadap pelaksanaan
peer teaching.

3061.

3063.

3064.

Membuat

Sejarah Indonesia | 419

rangkuman materi
pelatihan Praktik
Pembelajaran
Terbimbing.
3066.
Refleksi dan
umpan balik tentang
proses pembelajaran
3069.
Fasilitator
mengingatkan peserta
agar membaca
referensi yang relevan.
3072.
Fasilitator
menutup pembelajaran.
3074.
3075.
3076.
3077.
3078.

3079.
3080.

Submateri Pelatihan : 4.1


Simulasi Pembelajaran
3081.

3082.

3083.

3088.

Langkah Kegiatan Inti

3085.

3090.

3092.

Sejarah Indonesia | 420

3098.

3103.

3102.

3105.

3107.

3108.
3109.
3110.
Pemaparan
Strategi
Pengamatan
Video Pembelajaran dengan menggunakan
bahan tayang PPT-4.1 oleh fasilitator.
3111.
Penayangan
video
pembelajaran
dengan menggunakan V-2.1/4.1.
3112.
Kerja kelompok untuk menganalisis
tayangan video pembelajaran dengan fokus
pada penerapan pendekatan scientific dan
penilaian autentik dengan menggunakan LK
4.1.
3113.
Menyimpulkan alur pembelajaranyang
berorientasi pada pendekatan scientific dan
penilaian autentik.
3114.
Kerja kelompok untuk merevisi RPP
sesuai dengan hasil analisis tayangan video
pembelajaran.
3115.
Presentasi contoh RPP yang akan
digunakan dalam kegiatan peer teaching.
3116.
3117.
3118.
3119.
3120.
3121.

Sejarah Indonesia | 421

3122.

3123.

Sejarah Indonesia | 422

3124.

3125.

Sejarah Indonesia | 423

3126.

3127.

Sejarah Indonesia | 424

3128.

3129.
3130.
3131.
3132.

Sejarah Indonesia | 425

LK - 4.1

3133.
3134.
3135.
3136.

LEMBAR KERJA

ANALISIS PEMBELAJARAN
DALAM TAYANGAN VIDEO
PEMBELAJARAN
3137.
3138.

3139.

1. Nama Peserta
: ..............................................

3140.

2. Asal Sekolah
: ..............................................

3141.

3. Mata Pelajaran
: ..............................................

3142.

3. Tema
: ..............................................

3143.
3144.

3152.

3157.

3162.

3167.

Aspek yang
Diamati

3148.
Kegiatan
Pendahuluan
3153.
Melakukan
apersepsi
dan
motivasi.
3158.
Menyiapkan
fisik dan psikis
peserta didik
dalam mengawali
kegiatan
pembelajaran.
3163.
Mengaitkan
materi
pembelajaran
sekarang dengan
pengalaman
peserta didik
dalam perjalanan
menuju sekolah
atau dengan tema
sebelumnya.
3168.
Mengajukan
pertanyaan yang
ada keterkaitan

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak
3149.3150. 3151.
3154.3155. 3156.

3159.3160. 3161.

3164.3165. 3166.

3169.3170. 3171.

Sejarah Indonesia | 426

3144.

3172.

dengan tema yang


akan dibelajarkan.
3173.
Mengajak
peserta didik
berdinamika/melak
ukan sesuatu
kegiatan yang
terkait dengan
materi.
3177.

3181.
3186.

3191.

3196.

Aspek yang
Diamati

Kegiatan Inti

3182.
Guru
menguasai
materi yang
diajarkan.
3187.
Kemampuan
menyesuaikan
materi dengan
tujuan
pembelajaran.
3192.
Kemampuan
mengkaitkan
materi dengan
pengetahuan lain
yang
diintegrasikan
secara
relevandengan
perkembangan
Iptek
dankehidupan
nyata .
3197.
Menyajikan
materi dalam
tema secara
sistematis dan
gradual (dari yang
mudah ke sulit,
dari konkrit ke
abstrak)
3201.
Guru
menerapkan
strategi

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak

3174.3175. 3176.

3178.3179. 3180.
3183.3184. 3185.
3188.3189. 3190.

3193.3194. 3195.

3198.3199. 3200.

3202.3203. 3204.

Sejarah Indonesia | 427

3144.

3205.

3210.

3215.
3220.

3225.

3230.

3235.
3240.

3245.

3250.

Aspek yang
Diamati

pembelajaran yang
mendidik.
3206.
Melaksanakan
pembelajaran
sesuai dengan
kompetensi yang
akan dicapai.
3211.
Melaksanak
an pembelajaran
secara runtut.
3216.
Menguasai
kelas dengan baik.
3221.
Melaksanak
an pembelajaran
yang bersifat
kontekstual.
3226.
Melaksanak
an pembelajaran
yang
memungkinkan
tumbuhnya
kebiasaan positif
(nurturant effect).
3231.
Melaksanak
an pembelajaran
sesuai dengan
alokasi waktu yang
direncanakan.
3236.
Guru
menerapkan
pendekatan
scientific.
3241.
Memberikan
pertanyaan
mengapa dan
bagaimana.
3246.
Memancing
peserta didik
untuk peserta
didik bertanya.
3251.
Menyajikan
kegiatan peserta

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak

3207.3208. 3209.

3212.3213. 3214.

3217.3218. 3219.
3222.3223. 3224.

3227.3228. 3229.

3232.3233. 3234.

3237.3238. 3239.
3242.3243. 3244.

3247.3248. 3249.

3252.3253. 3254.

Sejarah Indonesia | 428

3144.

3255.

3260.

3265.
3270.

3275.

3280.

3285.

Aspek yang
Diamati

didik untuk
keterampilan
mengamati.
3256.
Menyajikan
kegiatan peserta
didik untuk
keterampilan
menganalisis.
3261.
Menyajikan
kegiatan peserta
didik untuk
keterampilan
mengkomunikasik
an.
3266.
Guru
melaksanakan
penilaian
autentik.
3271.
Mengamati
sikap dan perilaku
peserta didik
dalam mengikuti
pelajaran.
3276.
Melakukan
penilaian
keterampilan
peserta didik
dalam melakukan
aktifitas
individu/kelompok.
3281.
Mendokume
ntasikan hasil
pengamatan skap,
perilaku dan
keterampilan
peserta didik.
3286.
Guru
memanfaatan
sumber
belajar/media
dalam
pembelajaran.

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak

3257.3258. 3259.

3262.3263. 3264.

3267.
3268. 3269.
3272.3273. 3274.

3277.3278. 3279.

3282.3283. 3284.

3287.3288. 3289.

Sejarah Indonesia | 429

3144.
3290.

3295.

3300.

3305.

3310.

3315.

3320.

Aspek yang
Diamati

3291.
Menunjukka
n keterampilan
dalam
penggunaan
sumber belajar
pembelajaran.
3296.
Menunjukka
n keterampilan
dalam
penggunaan
media
pembelajaran.
3301.
Menghasilka
n pesan yang
menarik.
3306.
Melibatkan
peserta didik
dalam
pemanfaatan
sumber belajar
pembelajaran.
3311.
Melibatkan
peserta didik
dalam
pemanfaatan
media
pembelajaran.
3316.
Guru
memicu
dan/atau
memelihara
keterlibatan
peserta didik
dalam
pembelajaran.
3321.
Menumbuhkan
partisipasi aktif
peserta didik
melalui interaksi
guru, peserta
didik, sumber
belajar.

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak
3292.3293. 3294.

3297.3298. 3299.

3302.3303. 3304.

3307.3308. 3309.

3312.3313. 3314.

3317.3318. 3319.

3322.3323. 3324.

Sejarah Indonesia | 430

3144.
3325.

3330.

3335.

3340.

3345.

3350.

3355.

3360.

3366.

3371.

Aspek yang
Diamati

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak
3327.3328. 3329.

3326.
Merespon
positif partisipasi
peserta didik,
3331.
Menunjukka 3332.3333.
n sikap terbuka
terhadap respons
peserta didik,
3336.
Menunjukka 3337.3338.
n hubungan antar
pribadi yang
kondusif.
3341.
Menumbuhk 3342.3343.
an keceriaan dan
antusisme peserta
didik dalam
belajar.
3346.
Guru
menggunakan
bahasa yang
3347.3348.
benar dan tepat
dalam
pembelajaran
3351.
Menggunaka 3352.3353.
n bahasa lisan
secara jelas dan
lancar.
3356.
Menggunaka 3357.3358.
n bahasa tulis
yang baik dan
benar.
3361.
Menyampaik 3362.3363.
an pesan dengan
gaya yang sesuai.
3365.
Penutup Pembelajaran
3367.
Guru
3368.3369.
mengakhiri
pembelajaran
dengan efektif
3372.
Melakukan
3373.3374.
refleksi atau
membuat
rangkuman
dengan

3334.

3339.

3344.

3349.

3354.

3359.

3364.

3370.

3375.

Sejarah Indonesia | 431

3144.

3376.

Aspek yang
Diamati

melibatkan
peserta didik.
3377.
Melaksanakan
tindak lanjut
dengan
memberikan
arahan, atau
kegiatan, atau
tugas sebagai
bagian
remidi/pengayaan.
3381.

3146.
3145.
3147. Cata
Tid
Ya
tan
ak

3378.3379. 3380.

3382.

Sejarah Indonesia | 432

R - 4.1

3383.
3384.

RUBRIK

3385.

PENILAIAN HASIL ANALISIS


PEMBELAJARAN
3386. PADA TAYANGAN VIDEO

3387.

3392.
3398.
3399.

3388.
NAMA PESERTA DIKLAT
:
..
3389.
KELAS/
:
..
3390.
TANGGAL PENILAIAN
:
..
3391.
3393.
Krit
3394.
eria
3400.
Men
deskripsika
nhasilpeng
amatankeg
iatanawal,
kegiatanint
i,
dankegiata
npenutupd
enganleng
kapdanteri
nci yang
disertaicon
tohkongkrit
hasilpenga
matan.
3404.
Men
deskripsika
nhasilpeng
amatankeg
iatanawal,
kegiatanint
i,
dankegiata
npenutupd
enganleng
kapnamun
kurangteri
nci..
3408.
Men
deskripsika
nhasilpeng
amatankeg
Sejarah Indonesia | 433

3402.

3392.

3412.

3413.

3393.

Krit
eria
iatanawal,
kegiatanint
i,
dankegiata
npenutupn
amuntidakl
engkap.
3414.
Men
deskripsika
nsetiap
item
padalemba
rkerjaanali
sis proses
belajarmen
gajarsesuai
denganko
mpetensid
asar yang
disajikanda
lamtayang
an video
denganjela
s,
lengkapda
nbenar.
3418.
Men
deskripsika
nsetiap
item
padalemba
rkerjaanali
sis proses
belajarmen
gajarsesuai
denganko
mpetensid
asar yang
disajikanda
lamtayang
an video
denganjela
s.
3422.
Han
yamenand
aisetiap
item
padalemba
rkerjaanali
sis proses

3394.

Sejarah Indonesia | 434

3416.

3392.

3425.

3426.

3393.

Krit
eria
belajarmen
gajarsesuai
denganko
mpetensid
asar yang
disajikanda
lamtayang
an video.
3427.
Men
unjukkansi
kapantusia
s, teliti,
bersunggu
hsungguhde
nganpenuh
rasa
ingintahu
yang
disertaiden
ganpolaber
pikiranaliti
kdalamme
ngamatida
nberdiskusi
.
3439.
Men
unjukkansi
kapantusia
s, teliti,
bersunggu
hsungguhde
nganpenuh
rasa
ingintahu
danaktifdal
amberdisk
usi.
3443.
Men
unjukkansi
kapantusia
s, teliti,
bersunggu
hsungguhde
nganpenuh
rasa
ingintahu
saja.

3394.

Sejarah Indonesia | 435

3429.
3430.
3431.
3432.
3433.
3434.
3435.
3436.
3437.

3392.
3447.

3448.

3393.

Krit
eria
3449.
Mem
berikanko
mentar
yang
faktualdant
erstrukturs
esuaideng
anketerlak
sanaan
skenario
pembelajar
an
yangadada
lamtayang
an PBM
video
pembelajar
anyang
terdiridarip
engalaman
yang
dapatdiam
bildaritaya
ngan video
dankesimp
ulan.
3453.
Mem
berikanko
mentar
yang
faktualdant
erstrukturs
esuaideng
anketerlak
sanaan
skenario
pembelajar
an
yangadada
lamtayang
an PBM
video
pembelajar
anyang
terdiridarip
engalaman
yang
dapatdiam
bildaritaya
ngan

3394.

Sejarah Indonesia | 436

3451.

3392.

3393.

Krit
eria
video.
3457.
Mem
berikanko
mentarses
uaidengan
keterlaksa
naan
skenario
pembelajar
an
yangadada
lamtayang
an PBM
video
pembelajar
an.

3394.

3460.
3461.

3463.

3464.
3465.
3466.
3467.
3468.
, .. 2013
3469.
Fasilitator,
3470.
3471.
3473.

3472.
(.................................................)

3474.
3475.

3476.
3477.
3478.

Sejarah Indonesia | 437

3479.

Submateri Pelatihan : 4.2 Peer


Teaching

3480.
3481.

Langkah Kegiatan Inti

3482.

3483.

3489.

3485.

3487.

3491.

3493.

3507.

3509.

3510.
3511.
3512.
Paparan
oleh
fasilitator
tentang
Panduan
Tugas
Praktik
Pelaksanaan
Pembelajaran melalui peer teaching dengan
menggunakan PPT- 4.2-1.
3513.
Paparan oleh fasilitator tentang Garis
Besar
Instrumen
Penilaian
Pelaksanaan
Pembelajaran dengan menggunakan PPT-4.22.
3514.

Persiapan peer teaching.

3515.
Praktik peer teachingpembelajaran
secara individual, untuk setiap peserta
30menit dipandu fasilitator.
3516.
Menilai kegiatan peer teachingoleh
fasilitator dengan menggunakan instrumen
penilaian pelaksanaan pembelajaran LK-4.2.

Sejarah Indonesia | 438

3517.
Refleksi terhadap pelaksanaan peer
teaching.
3518.
3519.

Sejarah Indonesia | 439

3520.

3521.

Sejarah Indonesia | 440

3522.

3523.
3524.
3525.
3526.
3527.
3528.

Sejarah Indonesia | 441

3529.

3530.

Sejarah Indonesia | 442

3531.

3532.

3533.
3534.
3535.
3536.
3537.

Sejarah Indonesia | 443

3538.

Sejarah Indonesia | 444

LK - 4.2
3539.

LEMBAR KERJA

3540. INSTRUMEN PENILAIAN


PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
1. Nama Peserta
2. Asal Sekolah
3. Topik

:
:

3541.

.................................................

.................................................
:

.................................................
3542.
3543.
Aspek yang
Diamati

3555.
1

3560.
2
3565.
3
3570.
4

3547.
Kegiatan
Pendahuluan

3548. 3549. 3550.

3551.
Apersepsi dan
Motivasi

3552. 3553. 3554.

3556.
Mengaitk
an materi
pembelajaran
sekarang
dengan
pengalaman
peserta didik
atau
pembelajaran
sebelumnya.
3561.
Mengajuk
an pertanyaan
menantang.
3566.
Menyamp
aikan manfaat
materi
pembelajaran.
3571.
Mendemo
nstrasikan
sesuatu yang
terkait dengan
materi
pembelajaran.

3557. 3558. 3559.

3575.
Penyampaian
Kompetensi dan
Rencana Kegiatan
3579.
1

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak

3580.
Menyamp
aikan
kemampuan
yang akan
dicapai peserta

3562. 3563. 3564.


3567. 3568. 3569.

3572. 3573. 3574.

3576. 3577. 3578.

3581.3582. 3583.

Sejarah Indonesia | 445

3543.
Aspek yang
Diamati

3584.
2

didik.
3585.
Menyamp
aikan rencana
kegiatan
misalnya,
individual, kerja
kelompok, dan
melakukan
observasi.
3589.
Kegiatan Inti
3593.
Penguasaan
Materi Pelajaran

3597.
1

3602.
2

3607.
3

3612.
4

3598.
Kemampu
an
menyesuiakan
materi dengan
tujuan
pembelajaran.
3603.
Kemampu
an mengkaitkan
materi dengan
pengetahuan
lain yang
relevan,
perkembangan
Iptek , dan
kehidupan
nyata.
3608.
Menyajika
n pembahasan
materi
pembelajaran
dengan tepat.
3613.
Menyajika
n materi secara
sistematis
(mudah ke sulit,
dari konkrit ke
abstrak)
3617.
Penerapan
Strategi
Pembelajaran yang
Mendidik

3621.
1

3622.
Melaksan
akan
pembelajaran

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak
3586.3587. 3588.

3590. 3591. 3592.


3594. 3595. 3596.
3599. 3600. 3601.

3604. 3605. 3606.

3609. 3610. 3611.

3614. 3615. 3616.

3618. 3619. 3620.

3623. 3624. 3625.

Sejarah Indonesia | 446

3543.
Aspek yang
Diamati

3626.
2

3631.
3
3636.
4
3641.
5

3646.
6

3651.
7

sesuai dengan
kompetensi
yang akan
dicapai.
3627.
Menfasilit
asi kegiatan
yang memuat
komponen
eksplorasi,
elaborasi dan
konfirmasi.
3632.
Melaksan
akan
pembelajaran
secara runtut.
3637.
Menguasa
i kelas.
3642.
Melaksan
akan
pembelajaran
yang bersifat
kontekstual.
3647.
Melaksan
akan
pembelajaran
yang
memungkinkan
tumbuhnya
kebiasaan
positif
(nurturant
effect).
3652.
Melaksan
akan
pembelajaran
sesuai dengan
alokasi waktu
yang
direncanakan.
3656.
Penerapan
Pendekatan
scientific

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak

3628. 3629. 3630.

3633. 3634. 3635.

3638. 3639. 3640.


3643. 3644. 3645.

3648. 3649. 3650.

3653. 3654. 3655.

3657. 3658. 3659.

3660.
1

3661.
Memberik
an pertanyaan
mengapa dan
bagaimana.

3662. 3663. 3664.

3665.

3666.

3667. 3668. 3669.

Memancin

Sejarah Indonesia | 447

3543.
Aspek yang
Diamati
2

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak

g peserta didik
untuk bertanya.

3670.
3

3671.
Memfasilit
asi peserta didik
untuk mencoba.

3672. 3673. 3674.

3675.
4

3676.
Memfasilit
asi peserta didik
untuk
mengamati.

3677. 3678. 3679.

3680.
5

3681.
Memfasilit
asi peserta didik
untuk
menganalisis.

3682. 3683. 3684.

3685.
6

3686.
Memberik
an pertanyaan
peserta didik
untuk menalar
(proses berfikir
yang logis dan
sistematis).

3687. 3688. 3689.

3690.
7

3691.
Menyajikan
kegiatan
peserta didik
untuk
berkomunikasi.

3692. 3693. 3694.

3695.
Pemanfaatan
Sumber
Belajar/Media dalam
Pembelajaran

3696. 3697. 3698.

3699.
1

3700.
Menunjuk
kan
keterampilan
dalam
penggunaan
sumber belajar
pembelajaran.

3701. 3702. 3703.

3704.
2

3705.
Menunjuk
kan
keterampilan
dalam
penggunaan
media
pembelajaran.

3706. 3707. 3708.

Sejarah Indonesia | 448

3543.
Aspek yang
Diamati

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak

3709.
3

3710.
Menghasil
kan pesan yang
menarik.

3711. 3712. 3713.

3714.
4

3715.
Melibatka
n peserta didik
dalam
pemanfaatan
sumber belajar
pembelajaran.

3716. 3717. 3718.

3719.
5

3720.
Melibatka
n peserta didik
dalam
pemanfaatan
media
pembelajaran.

3721. 3722. 3723.

3724.
Pelibatan
Peserta Didik dalam
Pembelajaran

3725. 3726. 3727.

3728.
1

3729.
Menumbuhkan
partisipasi aktif
peserta didik
melalui interaksi
guru, peserta
didik, sumber
belajar.

3730. 3731. 3732.

3733.
2

3734.
Merespon
positif
partisipasi
peserta didik.

3735. 3736. 3737.

3738.
3

3739.
Menunjuk
kan sikap
terbuka
terhadap
respons peserta
didik.

3740. 3741. 3742.

3743.
4

3744.
Menunjuk
kan hubungan
antar pribadi
yang kondusif.

3745. 3746. 3747.

3748.
5

3749.
Menumbu
hkan keceriaan
atau antuisme
peserta didik
dalam belajar.

3750. 3751. 3752.

Sejarah Indonesia | 449

3543.
Aspek yang
Diamati

3544.3545. 3546. Cat


Ya
Tid
atan
ak

3753.
Penggunaan
Bahasa yang Benar
dan Tepat dalam
Pembelajaran

3754. 3755. 3756.

3757.
1

3758.
Menggun
akan bahasa
lisan secara
jelas dan lancar.

3759. 3760. 3761.

3762.
2

3763.
Menggun
akan bahasa
tulis yang baik
dan benar.

3764. 3765. 3766.

3767.

3772.
1

3777.
2
3782.
3

3787.
4

Kegiatan Penutup
3769.
3768.
Penutup
pembelajaran
3773.
Melakuka 3774.
n refleksi atau
membuat
rangkuman
dengan
melibatkan
peserta didik.
3778.
Memberih 3779.
an tes lisan atau
tulisan .
3783.
Mengump 3784.
ulkan hasil kerja
sebagai bahan
portofolio.
3788.
Melaksan 3789.
akan tindak
lanjut dengan
memberikan
arahan
kegiatan
berikutnya dan
tugas
pengayaan.
3793.
3792.
Jumlah

3770. 3771.
3775. 3776.

3780. 3781.

3785. 3786.

3790. 3791.

3794. 3795.

3796.
3797.
3798.

Sejarah Indonesia | 450

3799.

Sejarah Indonesia | 451

R - 4.2
3800.
3801.

RUBRIK

PENILAIAN PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN
3802.

3803.
Rubrik
Penilaian
Pelaksanaan
Pembelajaran ini digunakan fasilitator untuk
menilai kompetensi guru dalam melaksanakan
pembelajaran pada saat Peer Teaching.
Selanjutnya nilai PeerTeaching dimasukkan ke
dalam nilai portofolio peserta.
3804.
3805.

Langkah Kegiatan

1. Berikan tanda cek () pada kolom pilihan YA atau TIDAK sesuai dengan penilaian
Anda terhadap penyajian guru pada saat pelaksanaan pembelajaran!
2. Berikan catatan khusus atau saran perbaikan pelaksanaan pembelajaran!
3. Hitung jumlah nilai YA dan TIDAK !
4. Tentukan Nilai menggunakan rumus berikut ini!
3806.

3807.
M
ata
Pelaja
ran

3808.
I
PA

3809.

3811.

3810.

3812.

Nilai=

Jumlah YA
x 100
40

Nilai=

Jumlah YA
x 10
44

3813.
3814.
3815.

3817.

3819.

3820.

3821.

3822.

Sejarah Indonesia | 452

3823.

3824.

3825.
3826.
3827.

Sejarah Indonesia | 453