Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan keanekaragaman hayati termasuk
tanaman obat. Tanaman obat telah digunakan sejak dahulu secara turun temurun untuk
mencegah, menyembuhkan serta memelihara kesehatan. Dewasa ini penggunaan obat
tradisional sebagai alternatif pengobatan mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan
kecenderungan masyarakat menerapkan gaya hidup back to nature atau kembali ke alam
serta ditunjang oleh efek samping obat tradisional yang relatif kecil dan harganya dapat
dijangkau oleh masyarakat luas. Keanekaragaman tumbuhan di Indonesia juga sangat
memungkinkan untuk ditemukannya beraneka jenis senyawa kimia berupa metabolit
sekunder seperti alkaloida, flavonoida, terpenoida, saponin, dan sebagainya. Tumbuhantumbuhan tersebut potensial untuk diteliti dan dikembangkan oleh para peneliti Indonesia
dalam rangka pencarian obat atau bahan baku obat (Fitriya et al., 2010). Tanaman
ceremai cukup dikenal sebagai tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat dan banyak
tumbuh di Indonesia. Bagian dari tanaman ceremai yang dapat dimanfaatkan sebagai obat
adalah daun, buah, batang dan akar. Daun, kulit batang, dan kayu mengandung saponin,
flavonoid, tanin, dan polifenol. Buah mengandung vitamin C dan akar mengandung
saponin, asam galus, zat samak, dan zat beracun (toksik). Air rebusan akar tanaman
ceremai biasanya digunakan untuk meredakan asma dan penyakit kulit. Penggunaan akar
tanaman ceremai sebagai obat, jarang digunakan karena sebagian besar senyawa yang
terkandung di dalamnya bersifat racun. Namun saponin yang terdapat pada akar ceremai
dapat dimanfaatkan untuk
B. Perumusan Masalah
1. Senyawa apa saja yang terkandung pada akar tanaman ceremai?
2. Apa manfaat senyawa yang terkandung dalam akar tanaman ceremai?
3. Bagaimana cara mengisolasi senyawa saponin pada akar tanaman ceremai?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kandungan senyawa yang terdapat pada akar tanaman ceremai.
2. Untuk mengetahui manfaat senyawa yang terkandung dalam akar tanaman ceremai.
3. Untuk mendapatkan senyawa saponin pada akar tanaman ceremai.
D. Kegunaan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum Tanaman Ceremai

2.1.1. Distribusi
Ceremai merupakan tanaman yang berasal dari India yang termasuk ke
dalam famili Euphorbiaceae. Ceremai dapat tumbuh hingga ketinggian 1 000

meter dpl dan bertahan hidup pada tanah dengan kondisi kekurangan air.
Ceremai sendiri diketahui tumbuh hampir di seluruh bagian kepulauan
Indonesia terutama di Sumatera, Jawa, Sulewesi, kepulauan Nusa Tenggara,
dan Maluku. Tanaman ceremai merupakan salah satu tanaman yang ada di
Indonesia dan memiliki beberapa sebutan yang berbeda pada berbagai daerah,
antara lain ceremoi (Aceh), cerme (batak), camin-camin (Minangkabau),
carmen (Bali), caramel (Makassar), ceremin (Ternate), chermai (Malaysia),
kamay (Filiphine), mayom (Thailand) dan lain-lain (Agus, 2007).

2.1.2. Morfologi dan Taksonomi


Klasifikasi Tumbuhan Ceremai
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Phyllanthus

Spesies

: Phyllanthus acidus (L.) Skeels.


Ceremai merupakan pohon, berumur panjang (perennial) yang

mempunyai tinggi 10 m. Batang tegak, silindris, berkayu, bagian dalam


solid, kulit tebal, mudah patah, kasar, dan berwarna coklat tua. Daun berupa
daun majemuk, lonjong, tersusun berseling, panjang 5-6 cm, lebar 2-3 cm, tepi
rata, ujung runcing, pangkal tumpul (obtusus), pertulangan menyirip (pinnate),
permukaan halus, tangkai silindris, panjang 2 cm, dan berwarna hijau tua.
Buah berbentuk bulat, permukaanya berlekuk, dan berwarna kuning keputihputihan. Biji berbentuk bulat pipih dan berwarna kuning muda, rasanya

masam. Akarnya berupa akar tunggang dan berwarna coklat muda (Anonim,
2009).
2.1.3. Kandungan, Manfaat, dan Efek Samping
Akar mengandung saponin, asam galus, zat samak, dan zat beracun
(toksik).
2.1.3.1. Saponin
a. Definisi Saponin
Saponin adalah glykosida yang steroidnya terdiri dari 27
karbon atau triterpen 30 karbon dan banyak terdapat pada tumbuhan.
Dijumpai pada bebagai bagian tumbuhan seperti, daun, batang, akar,
bunga, dan buah. Saponin dikarakterisasi dari rasa pahit dan
kemampuannya untuk melakukan hemolisa pada sel darah merah.
Saponin larut dalam air membentuk buih seperti buih sabun, hal ini
disebabkan karena saponin mempunyai amphiphilik. Sehingga
ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih
yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak
larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan
menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin
merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau
hemolisis pada darah. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah
dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan.
Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai
Sapotoksin.
b. Klasifikasi

Saponin steroid tersusun atas inti steroid (C27) dengan


molekul karbohidrat. Steroid saponin dihidrolisis menghasilkan satu
aglikon yang dikenal sebagai sapogenin. Tipe saponin ini memiliki
efek antijamur. Pada binatang menunjukan penghambatan aktifitas
otot polos. Saponin steroid diekskresikan setelah koagulasi dengan
asam glukotonida dan digunakan sebagai bahan baku pada proses
biosintetis obat kortikosteroid. Saponin jenis ini memiliki aglikon
berupa steroid yang diperoleh dari metabolisme sekunder tumbuhan.
Jembatan ini juga sering disebut dengan glikosida jantung, hal ini
disebabkan karena memiliki efek kuat terhadap jantung. Salah satu
contoh saponin jenis ini adalah Asparagosida (Asparagus
sarmentosus), Senyawa ini terkandung di dalam ttumbuhan
Asparagus sarmentosus yang hidup dikawasan hutan kering afrika.
Tanaman ini juga biasa digunkan sebagai obat anti nyeri dan rematik
oleh orang afrika (Anonim, 2009).

Saponin tritetpenoid tersusun atas inti triterpenoid


dengan molekul karbohidrat. Dihidrolisis menghasilkan suatu
aglikon yang disebut sapogenin ini merupakan suatu senyawa yang
mudah dikristalkan lewat asetilasi sehingga dapat dimurnikan. Tipe
saponin ini adalah turunan -amyrine (Amirt Pal,2002). Salah satu
jenis contoh saponin ini adalah asiatosida. Senyawa ini terdapat
pada tumbuhan gatu kola yang tumbuh didaerah India. Senyawa ini
dapat dipakai sebagai antibiotik (Anonim, 2009).

Triterpenoid Saponin dapat terjadi dalam bentuk bebas (Aglycon)


atau Sapogenin, akan tetapi Steroid Saponin selalu dalam bentuk
Saponin dan tidak pernah bebas sebagai Aglycon. Karbohidrat
residu terikat dengan Aglycon melalui ikatan eter atau ester. Saponin
pada hidrolisis menghasilkan suatu aglikon yang dikenal sebagai
sapogenin. Berdasarkan struktur aglikonnya (sapogeninnya),
saponin dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu tipe steroid dan
tipe triterpenoid. Kedua senyawa ini memilki hubungan glikosidik
pada atom C-3 dan memilki asal usul biogenetika yang sama lewat
asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid.
c. Sifat, Efek dan Toksisitas
1. Mempunyai rasa pahit
2. Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3. Menghemolisa eritrosit
4. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid
lainnya
6. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7. Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan
formula empiris yang mendekati
Efek saponin berdasarkan sistem fisiologis meliputi aktivitas
pada sistem kardiovaskular dan aktivitas pada sifat darah (hemolisis,
koagulasi, kolesterol), sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan
aktivitas lainnya. Saponin mampu berikatan dengan kolesterol,
sedangkan saponin yang masuk kedalam saluran cerna tidak diserap
oleh saluran pencernaan sehingga saponin beserta kolesterol yang
terikat dapat keluar dari saluran cerna. Hal ini menyebabkan kadar
kolesterol dalam tubuh dapat berkurang. (Lipkin, 1995).
Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan
permukaan (surface tension). Dengan hidrolisa lengkap akan
dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose, pentose dan
saccharic acid). Pada hewan ruminansia, saponin dapat digunakan
sebagai antiprotozoa, karena mampu berikatan dengan kolesterol
pada sel membran protozoa sehingga menyebabkan membrondisis
pada sel membrane protozoa. Saponin dapat beraktivitas sebagai
adjuvant pada vaksin antiprotozoa yang nantinya mampu

menghambat perkembangan sporozoit di dalam saluran pencernaan


(Cheeke,1999).
d. Manfaat Dan Efek Buruk yang Dapat Ditimbulkan Saponin
Manfaat
Saponin yang terdapat pada soap nuts dapat dipergunakan
sebagai insektisida dan secara tradisional dipergunakan untuk
menghilangkan kutu pada kepala. Senyawa ini juga mempunyai
sifat sebagai anti mikroba yang dapat dipergunakan sebagai anti
septik. Di india dan indonesia dipergunakan oleh tukang emas
untuk membersihkan perhiasan seperti emas, perak, dan logam
yang lain. Saponin juga dipergunakan pada pemisahan bijih
logam, photography, kosmetik, dan shampo.

Efek Buruk yang Ditimbulkan


a. Kesehatan Manusia
Saponin merupakan komponen bersifat pahit, yang menurut
BIRK (1969) dapat menyebabkan gangguan fungsional
saluran pencernaan sebagai akibat terhambatnya aktivitas
otot penggerak peristaltik. Saponin yang bersifat keras atau
racun biasa disebut sebagai Sapotoksin. Saponin juga
mampu menghemolisis eritrosit, sehingga dapat
menyebabkan iritasi saluran pencernaan. Dapat juga
menimbulkan reaksi alergi. Peningkatan permeabilitas
saluran pencernaan memungkinkan masuknya makromolekul
seperti allergen. Modifikasi transit dalam saluran
pencernaan. Kerusakan struktur dan peningkatan turn over
sel mukosa usus halus menyebabkan peningkatan kehilangan
energi dan protein. Peningkatan kehilangan zat makanan
merupakan sebagian penyebab penurunan pertumbuhan
akibat saponin. Saponin juga dapat menyebabkan kerusakan
hati dan ginjal.
b. Lingkungan
Saponin dapat mengikat oksigen air, sehingga kadar oksigen
dalam air turun, yang dapat menyebabkan kematian spesies
yang tinggal di dalam air. Saponin dapat menjadi racun kuat
untuk ikan dan amfibi.

2.1.3.2. Asam Galus


2.1.3.3. Zat Samak ( Asam Acardium)
2.1.3.4. Zat Toxic (Racun)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Materi yang digunakan berupa akar tumbuhan ceremai, spesies Phyllanthus acidus
(L.) Skeels. Dengan bahan pengisi berupa dekstrin. Bahan untuk ekstraksi berupa etanol 95%,
Etil Eter, etanol 50%, n-butanol pekat, aquades dan HCl. Bahan kimia yang diperlukan pada
uji kromatografi kolom, yaitu Na2SO4, Al2O3 (Alumina) dan silika gel G. Pada uji dengan
KLT diperlukan bahan, antara lain pengembang BEA (Butanol-Etanol-Air) (6:2:3) dan BAA
(Butanol-Asam Asetat- Air) (2:1:1). Guna penotolan, diperlukan pengembang BEA (2:4:4).
Pada penotolan diperlukan kombinasi reagen Lieberman-Burchad, asam anhidrida asetat
dan asam sulfat (1:1:1:1). Alat yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah oven, evaporator,
corong pemisah, sentrifuge, dan berbagai alat-alat gelas, seperti : tabung reaksi, kuvet, labu
erlenmeyer dan petri disk. Seperangkat alat kromatografi kolom, KLT, lampu UV.

Akar Ceremai

Akar Cermai Halus


Serbuk Akar Cermai

Ekstraksi dengan Etanol 95%

Disaring dan Di evaporasi

Filtrate

senyawa larut

tidak larut lemak

Kristal

+ n-butanol
pekat

Hasiln

Lapisan

Lapisan

atas

bawah

Larutan
hasil di
Sentrifugasi

supernat

endapa

Di

Saponin

Kromatografi
kolom

Elu

Endapan

Hasil uji KLT

Preparat

cairan

Larutan saponin

Di

Saponin

Isolasi dan identifikasi saponin dari akar ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels.)
dilakukan dengan menghaluskan akar ceremai dengan blender kemudian dikeringkan dengan
cara dijemur. Akar ceremai halus yang sudah kering (serbuk) kemudian diekstraksi. Ekstraksi
dilakukan dengan merendam serbuk akar ceremai sebanyak 100 gram dengan 660 mililiter
etanol 95%, selama 2 hari. Hasil perendaman disaring dan dievaporasi. Filtrat ditambah
dengan Etil Eter dan dimasukkan kecorong pemisah, sehingga diperoleh senyawa larut lemak
dan tidak larut lemak. Saponin, larutan tidak larut lemak yang berwarna hijau kekuningan
selanjutnya dilarutkan dalam etanol 50% panas. Larutan saponin didinginkan, sehingga
terbentuk kristal saponin. Cairan di atas kristal saponin ditampung dan dilarutkan lagi dengan
etanol 50% panas, didinginkan lagi, sehingga diperoleh kristal saponin maksimal. Kristal
saponin selanjutnya dikeringkan dengan oven vacuum, ditambahkan n-butanol pekat,
ditambahkan asam klorida, sampai pH sebesar 2. Hasilnya disaring dan dimasukkan ke
corong pemisah, sehingga terjadi 2 lapisan, lapisan atas, berupa butanol, dibuang dan lapisan
bawah diambil, dicuci dengan aquades untuk menghilangkan HCl. Larutan hasil disentrifuse
dengan kecepatan 8000 rpm, selama 10 menit. Endapan yang berwarna kekuningan yang
terbentuk diambil, sedangkan supernatan dibuang. Endapan diperlakukan lagi dengan
ditambah butanol, dipisahkan, serta disentrifuse, sehingga terbentuk endapan yang betul-betul
kering. Saponin kering diisolasi dengan kromatografi kolom, dengan urutan kolom dari atas

ke bawah : Na2SO4, Al2O3 (Alumina) dan silika gel G. Eluat yang dihasilkan dievaporasi,
sehingga diperoleh cairan dan endapan saponin. Endapan saponin yang dihasilkan diuji lebih
lanjut dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Pengembang yang digunakan adalah BEA
(Butanol-Etanol-Air) (6:2:3) dan BAA (Butanol-Asam Asetat- Air) (2:1:1). Guna penotolan,
diperlukan 100 g saponin dalam pengembang BEA (2:4:4). Hasil uji KLT ditambahkan
dengan kombinasi reagen Lieberman-Burchad, asam anhidrida asetat dan asam sulfat
(1:1:1:1). Preparat saponin dideteksi dengan lampu UV, hasil positif, jika berwarna ungu.
Larutan saponin pekat (70%) yang dihasilkan ditambahkan bahan pengisi dekstrin (30%),
dibekukan dengan frezeer dan vacum freeze dryer, sehingga diperoleh saponin serbuk.

DAFTAR PUSTAKA