Anda di halaman 1dari 28

BUPATI BLITAR

PERATURAN BUPATI BLITAR


NOMOR 33 TAHUN 2011
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL
TEMBAKAU DI KABUPATEN BLITAR TAHUN ANGGARAN 2011
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI BLITAR,
Menimbang

Mengingat

bahwa dalam rangka menggerakkan, mendorong


dan melaksanakan kegiatan yang memanfaatkan
dana bagi hasil cukai hasil tembakau agar dapat
memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan yang balk
dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan
peruntukannya
berdasarkan
Peraturan
perundangan yang berlaku, maka dipandang perlu
menyempurnakan Peraturan Bupati Blitar Nomor
16
Tahun
2010
tentang
Petunjuk
Teknis
Penggunaan
Dana
Bagi
Hasil
Cukai
Hasil
Tembakau di Kabupaten Blitar.
1.

2.

3.
4.

Undang-Undang
Nomor
12
Tahun
1950
tentang
Pembentukan
DaerahDaerah
Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa
Timur;
Undang-Undang
Nomor
11
Tahun
1995
tentang Cukai sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;
Undang-undang
Nomor
17
Tahun
2003
tentang Keuangan Negara;
Undang-Undang
Nomor
32
Tahun
2004

tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia 4437) sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
5. Undang-Undang
Nomor
33
Tahun
2004
tentang
Perimbangan
Keuangan
antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
7. Peraturan Menteri
Keuangan
Republik
Indonesia Nomor 20/PMK.07/2009 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan
Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan
Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana
Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau;
8. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 1
Tahun 2010 tentang Pembagian Dana Bagi
Hasil Cukai Hasil Tembakau kepada Provinsi
Jawa Timur dan Kabupaten/ Kota di Jawa
Timur Tahun 2010;
9. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 51
Tahun
2010
tentang
Perubahan
atas
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 51
Tahun
2009
tentang
Pedoman
Umum
Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau di Jawa Timur;
10. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 37
Tahun
2011
tentang
Penyempurnaan
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 51
Tahun
2010
tentang
Pedoman
Umum

Penggunaan Dana Bagi


Tembakau di Jawa Timur.

Hasil

Cukai

Hasil

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

PERATURAN BUPATI BLITAR TENTANG PETUNJUK


TEKNIS PENGGUNAAN DANA BAGI HASIL CUKAI
HASIL TEMBAKAU DI KABUPATEN BLITAR.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Pertama
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :
1. Dana bagi hasil cukai adalah dana bagi hasil cukai hasil tembakau
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
20/PMK.07/2009 tentang perubahan atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang penggunaan Dana Bagi
Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sangsi atas penyalahgunaan
alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau.
2. Bupati adalah Bupati Blitar.
3. SKPD Pelaksana adalah SKPD di Kabupaten Blitar yang
berdasarkan keputusan Bupati ditunjuk sebagai pelaksana teknis
penggunaan dana bagi hasil cukai.
4. Tim Teknis adalah Tim Koordinasi Kebijakan Penggunaan Dana Bagi
Hasil Cukai Hasil Tembakau yang dibentuk berdasarkan Keputusan
Bupati.
5. Laporan adalah dokumen tertulis yang berisi informasi tentang
Perencanaan,
pelaksanaan,
monitoring
dan
evaluasi
atas
penggunaan dana bagi hasil cukai yang disampaikan oleh SKPD
pelaksana kegiatan kepada Bupati dengan menggunakan format
dan waktu penyampaian yang telah ditetapkan oleh Bupati.
6. Penyakit akibat dampak hasil tembakau dan / atau asap rokok
adalah semua penyakit yang secara langsung disebabkan dan /
atau meningkat resikonya oleh paparan hasil tembakau dan / atau
asap rokok secara aktif maupun pasif.
7. Ruang lingkup wilayah Industri Hasil Tembakau adalah wilayah
kecamatan yang terdapat Industri Hasil Tembakau (IHT) dan
supportingnya.

Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
Maksud ditetapkannya Peraturan ini adalah sebagai Pedoman bagi
SKPD pelaksana dan pars pihak yang terkait dalam pelaksanaan
penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau di Kabupaten Blitar
agar memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan yang baik dan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Maksud ditetapkannya Peraturan ini adalah :
a. Sebagai acuan dalam penyusunan Perencanaan, monitoring dan
evaluasi pelaksanaan program/ kegiatan penggunaan dana bagi
hasil cukai hasil tembakau di Kabupaten Blitar.
b. Sebagai acuan dalam pelaksanaan koordinasi lintas sektor dalam
rangka pelaksanaan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil
tembakau.
c. Menjaga tertibnya administrasi pelaksanaan program / kegiatan
penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau sesuai dengan
peruntukan dan ketentuan yang berlaku.
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 3
Ruang lingkup Peraturan ini adalah berisi petunjuk teknis penggunaan
dana bagi hasil cukai hasil tembakau di Kabupaten Blitar yang meliputi
:
a. Perencanaan
b. Pelaksanaan program dan kegiatan
c. Pelaporan pelaksanaan program dan kegiatan
d. Monitoring dan evaluasi
BAB II
PERENCANAAN
Pasal 4
Dalam rangka optimalisasi penggunaan alokasi dana bagi hasil cukai
hasil tembakau diperlukan Perencanaan program/kegiatan yang
disusun oleh Tim Koordinasi Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau Kabupaten Blitar setiap Tahunnya dengan langkah-langkah
sebagai berikut :

a.

b.

c.

d.

Melakukan koordinasi dengan dinas / Satuan Kerja Perangkat


Daerah dan instansi di Kabupaten Blitar, Pemerintah Propinsi dan
Pemerintah Pusat yang terkait dengan penggunaan Dana Bagi Hasil
Cukai Hasil Tembakau;
Melakukan pendataan program / kegiatan Satuan Kerja Perangkat
Daerah dalam penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau
sebagai upaya pembagian alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terkait;
Melakukan sosialisasi alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau
sebagai upaya menjaring aspirasi stakeholders dalam penggunaan
Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Blitar;
Melakukan sinkronisasi program / kegiatan penggunaan Dana Bagi
Hasil Cukai Hasil Tembakau oleh masing-masing Satuan Kerja
Perangkat Daerah dan instansi terkait.

BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN
Bagian Kesatu
Peningkatan Kualitas Bahan Baku
Pasal 5
Peningkatan kualitas bahan baku digunakan untuk meningkatkan
kualitas bahan baku industri hasil tembakau yang meliputi :
a. Standarisasi kualitas bahan baku;
b. Pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin yang rendah,
kegiatan yang dapat dilakukan meliputi :
1. Penyediaan, pembinaan dan pengawasan benih dengan varietas
unggul serta bermutu;
2. Pengembangan dan peningkatan varietas lokal tembakau;
3. Membuat percontohan (pilot project) sistem intensifikasi
tembakau;
4. Pemberantasan penyakit dan harus tembakau secara terpadu
dan ramah lingkungan;
5. Pembinaan dan pendampingan penggunaan teknologi budidaya
tembakau;
6. Kajian, penelitian dan pengembangan pertembakauan.
c. Pengembangan sarana laboratorium uji tembakau dan
pengembangan metode pengujian di bidang pertembakauan;
d. Penanganan teknologi budidaya, panen dan pasca panen bahan
baku, kegiatan yang dapat dilakukan adalah :
1. Pengembangan
dan
peningkatan
kualitas
SDM
dalam

penanganan usahatani, panen dan pasca panen hasil tembakau;


Bantuan pinjaman untuk pengadaan saprodi, peralatan panen
dan pasca panen;
3. Pengembangan teknologi budidaya, penanganan panen dan
pasca panen;
4. Bantuan alat, mesin pertanian (alsintan);
Penguatan kelembagaan kelompok tani, petani, pedagang bahan
baku untuk industri dan hasil tembakau, meliputi :
1. Pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok tani /
gabungan kelompok tani / koperasi / asosiasi petani tembakau;
2. Perencanaan areal pengembangan sarana dan prasarana usaha
komoditi tembakau;
3. Penguatan permodalan melalui skema pembiayaan, hibah,
bantuan sosial dan modal kerja (berdasarkan usulan);
4. Fasilitasi kemitraan usaha tani tembakau.
2.

e.

Bagian Kedua
Pembinaan Industri Hasil Tembakau
Pasal 6
Pembinaan industri hasil tembakau meliputi kegiatan-kegiatan :
a.
Pendataan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau
(registrasi mesin/peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus;
b.
Penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI) :
1. Fasilitasi perlindungan indikasi geografis tembakau di
Kabupaten Blitar;
2. Fasilitasi perlindungan varietas tanaman tembakau;
3. Fasilitasi atas label dan merek dagang;
4. Fasilitasi perlindungan HAKI terhadap rokok kretek;
c.
Perencanaan dan pembentukan kawasan industri hasil tembakau :
1. Penyusunan Masterplan Kawasan Industri Hasil Tembakau;
2. Kajian
Perencanaan
dan
pengembangan
industri
hasil
tembakau;
d.
Pemetaan industri hasil tembakau :
1. Pendataan / pemetaan industri hasil tembakau di Kabupaten
Blitar;
2. Pembuatan database industri hasil tembakau;
e.
Fasilitasi kemitraan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan industri
besar dalam pengadaan bahan baku;
f.
Fasilitasi penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau;

g.

h.

i.

j.

k.

l.

Pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan


nikotin rendah melalui penerapan Good Manufacturing Practices
(GMP) :
1. Penyusunan dokumen sistem GMP, SRTP (Social Responsibility
Tobacco Programme);
2. Sosialisasi dokumen sistem GMP, SRTP dan SRP;
3. Pelatihan sistem GMP, SRTP dan SRP;
4. Fasilitasi, Bimbingan dan Pendampingan penerapan sistem GMP,
SRTP dan SRP;
Peningkatan legalitas industri rokok, sosialisasi ketentuan,
Peraturan dan perijinan yang berlaku bagi industri hasil tembakau,
kegiatan penunjang yang dapat dilaksanakan antara lain :
1. Fasilitasi perolehan ijin industri rokok;
2. Pelatihan pencegahan dan penanganan rokok ilegal;
Pembinaan dan fasilitasi industri hasil tembakau dan rokok,
kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain :
1. Bimbingan teknis industri hasil tembakau;
2. Fasilitasi sarana dan prasarana IKM hasil tembakau dan rokok;
3. Fasilitasi permodalan IKM hasil tembakau dan rokok;
4. Fasilitasi penumbuhan wirausaha baru di bidang industri di
lingkungan industri rokok dalam rangka alih profesi;
Peningkatan sistem jaminan mutu tembakau dan rokok, kegiatan
yang dapat dilaksanakan antara lain :
1. Sosialisasi sistem jaminan mutu;
2. Pelatihan sistem jaminan mutu;
3. Fasilitasi, bimbingan, penerapan sistem jaminan mutu;
4. Fasilitasi perolehan sertifikasi jaminan mutu;
5. Audit internal sistem jaminan mutu;
Peningkatan kompetensi laboratorium uji, kegiatan yang dapat
dilaksanakan antara lain :
1. Pengadaan sarana dan prasarana smoking machine;
2. Membangun dan memperluas jejaring antar laboratorium uji
MRA (Mutual Recocognition Arrangement);
3. Membangun jaringan dan kerjasama antar laboratorium pada
tingkat regional, Nasional dan Internasional;
Peningkatan kualitas, kompetensi dan manajerial SDM aparat dan
pelaku usaha, kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain;
1. Peningkatan kualitas SDM di bidang fumigasi, pengujian dan
inspeksi tembaku;
2. Peningkatan kualitas SDM aparat / pembina pelaku usaha

m.

n.

tembakau dan industri has tembakau (pelatihan, sekolah


lapang, study banding, dn.);
3. Pembinaan hubungan industrial;
4. Pembinaan perlindungan ketenagakerjaan;
Peningkatan dan pengembangan pasar dalam / luar negeri industri
hasil tembakau, kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain :
1.
Partisipasi dalam pameran tembakau di dalam / luar negeri;
2.
Pembuatan materi promo;
3.
Peningkatan promosi produk yang dihasilkan masyarakat
tembakau dari hasil usaha industri alih profesi;
Pengembangan dan penerapan standarisasi mutu tembakau,
kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain:
1. Penyusunan rancangan SNI tembakau;
2. Sosialisasi SNI tembakau;
3. Pelatihan SNI tembakau;
4. Fasilitasi, bimbingan, penerapan dan sertifikasi SNI tembakau;
5. Pertemuan teknis dan konvensi standard contoh tembakau.

Bagian Ketiga
Pembinaan Lingkungan Sosial
Pasal 7
Pembinaan Lingkungan Sosial digunakan untuk meminimalkan dampak
negatif kegiatan industri hasil tembakau dari hulu hingga hilir yang
meliputi :
a. Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di
lingkungan industri hasil tembakau dan / atau daerah penghasil
bahan baku industri hasil tembakau :
1. Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja bagi masyarakat
untuk perluasan kesempatan kerja dan penempatan kerja di
sektor formal;
2. Pembinaan
kemampuan
dan
ketrampilan
kerja
untuk
peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia
bagi tenaga kerja / masyarakat di sekitar industri hasil
tembakau;
3. Peningkatan pengawasan ketenagakerjaan dan perlindungan
tenaga kerja, termasuk pengembangan keselamatan dan
kesehatan kerja (K3);
4. Pengembangan hubungan industrial yang harmonis, dialogis,
adil dan bermartabat serta perbaikan upah, syarat kerja dan
kesejahteraan pekerja / buruh;

5.

Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan


penelitian pengembangan SDM aparatur dan sarana / prasarana
pendukung pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja serta
kesehatan di tempat kerja
6. Pembinaan / sosialisasi dan penegakan aturan norma
ketenagakerjaan bagi masyarakat dunia usaha di sektor industri
tembakau;
b.
Penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang
mengacu pada analisis dampak lingkungan (AMDAL), kegiatan yang
dapat dilakukan meliputi
1.
Sosialisasi kebijakan pengelolaan lingkungan hidup bagi
kegiatan perkebunan tembakau, industri hasil tembakau dan
supportingnya;
2.
Penerapan manajemen lingkungan kegiatan perkebunan
tembakau dan industri rokok yang mengacu pada analisis
dampak lingkungan;
3.
Fasilitasi sarana dan prasarana industri / domestik di
lingkungan industri rokok dan supportingnya;
4.
Inventarisasi dan identifikasi pengelolaan lingkungan industri
rokok dan supportingnya
5.
Pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan industri hasil
tembakau dan supportingnya;
6.
Pembinaan dan pemantauan kualitas air, udara, dan tanah,
pada kegiatan perkebunan tembakau, industri hasil tembakau
supportingnya;
7.
Pengadaan prasarana pemantauan lingkungan dalam rangka
pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan bagi kegiatan
perkebunan
tembakau,
industri
hasil
tembakau
dan
pendukungnya;
8.
Fasilitasi pengelolaan lingkungan bagi perkebunan tembakau,
industri hasil tembakau dan pendukungnya;
9.
Pembinaan dan pemantauan pelaksanaan dokumen lingkungan
(AMDAL, UKL / UPL, DPPL) pada kegiatan perkebunan
tembakau, industri hasil tembakau supportingnya;
10. Peningkatan kapasitas SDM pengelola kualitas lingkungan
hidup bagi aparatur, masyarakat dan kegiatan perkebunan
tembakau, industri hasil tembakau dan pendukungnya;
11. Penyusunan data base dan pemetaan profil dan potensi

pencemaran lingkungan pada kegiatan perkebunan tembakau,


industri hasil tembakau supportingnya;
12. Pembinaan dan pemantauan penggunaan bahan berbahaya dan
beracun (B3) pada kegiatan Perkebunan dan Pergudangan
tembakau;
13. Pengendalian pencemaran udara akibat kegiatan hasil
tembakau di lingkungan industri hasil tembakau dan
supportingnya;
14. Implementasi rencana pengendalian perubahan iklim;
15. Pengadaan prasarana pengolahan limbah (IPAL) pada rumah
sakit dan puskesmas;
c. Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat
khusus untuk merokok ditempat umum
1. Penetapan kawasan tanpa rokok dengan menyediakan
smooking area dan perlengkapannya;
2. Sosialisasi
penyakit-penyakit
akibat
merokok
kepada
masyarakat;
3. Kampanye stop merokok melalui media cetak dan elektronik;
d.
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan
fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap
rokok :
1. Penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat
dampak asap rokok;
2. Pengadaan peralatan kesehatan untuk perawatan penderita
baik di sarana pelayan kesehatan dasar dan rujukan;
3. Pengadaan peralatan penunjang untuk memantau kondisi
penderita akibat rokok;
4. Pendirian dan pengembangan poliklinik akibat rokok di
puskesmas dan rumah sakit;
5. Penelitian dampak kesehatan akibat rokok;
e.
Peningkatan pelayanan Keluarga Berencana kepada masyarakat
sekitar industri rokok dan petani penyedia bahan baku (tembakau),
kegiatannya meliputi :
1. Sosialisasi dampak merokok terhadap kesehatan reproduksi;
2. Pendirian klinik Keluarga Berencana di perusahaan rokok;
f.
Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil
tembakau
dalam
rangka
perluasan
kesempatan
kerja,
penanggulangan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan

mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan antara lain


melalui :
1. Bantuan permodalan untuk penunjang kegiatan usaha tani
tembakau dan produksi pasca panen;
2. Pelatihan teknologi tepat guna (TTG);
3. Pelatihan produktifitas tenaga kerja;
4. Kajian pemberdayaan masyarakat di sekitar industri hasil
tembakau;
5. Pemberdayaan masyarakat di sekitar industri hasil tembakau;
6. Penciptaan dan perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat,
tenaga kerja, dan / atau keluarganya di industri hasil tembakau
dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau
melalui : bantuan penguatan permodalan, bantuan sarana dan
prasarana;
7. Fasilitasi informasi pasar kerja bagi masyarakat, tenaga kerja
dan / atau keluarganya di industri hasil tembakau, lingkungan
sekitar industri hasil tembakau dan / atau daerah penghasil
bahan baku industri hasil tembakau untuk penempatan kerja
sektor formal.
Bagian Keempat
Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai
Pasal 8
Sosialisasi ketentuan di bidang cukai, kegiatan yang dapat
dilaksanakan meliputi :
a. Penyuluhan;
b. Seminar/Workshop;
c. Forum Diskusi atau Dialog Interaktif;
d. Penyebaran pamphlet, brosur, spanduk, stiker, billboard dan lainlainnya;
e. Iklan layanan masyarakat dan pemberitaan melalui media cetak
maupun media elektronik;
f. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi.
Bagian Kelima
Pemberantasan Barang Kena Cukai Ilegal
Pasal 9
Pemberantasan Barang Kena Cukai Ilegal, kegiatan yang dapat
dilaksanakan antara lain :
a. Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai

b.
c.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(1)

(2)

(3)

palsu dan atau yang tidak dilekati pita cukai diperedaran atau
tempat penjualan eceran;
Pengumpulan informasi barang kena cukai berupa etil alkohol (EA),
dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) yang ilegal
diperedaran atau tempat penjualan eceran;
Pengumpulan informasi terkait dengan barang kena cukai ilegal
dapat bekerjasama dengan instansi terkait yaitu Kantor Pelayanan
dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) Kabupaten Blitar.
BAB IV
PELAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN
Pasal 10
SKPD Pengelola membuat dan menyampaikan rancangan program
kegiatan dan penganggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau
sebagaimana dimaksud dalam BAB III kepada Bupati sebelum Tahun
anggaran berjalan.
Bupati membuat dan menyampaikan rancangan program kegiatan
dan penganggaran sebagaimana dimaksud dalam BAB III dan
konsolidasi rancangan program kegiatan dari SKPD Pengelola
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Gubernur Jawa Timur.
SKPD Pengelola membuat laporan alokasi penggunaan dana atas
pelaksanaan kegiatan kepada Bupati sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) setiap 6 (enam) bulan sekali.
Bupati
membuat
laporan
alokasi
penggunaan dana
atas
pelaksanaan kegiatan dan laporan konsolidasi dari SKPD Pengelola
setiap 6 (enam) bulan sekali sebagaimana ayat (2) kepada
Gubernur Jawa Timur.
Laporan
kegiatan
disusun
dengan
menggunakan
format
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Bupati ini.
Pasal 11
SKPD Pengelola menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud
dalam 10 ayat (3) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk semester pertama paling lambat tanggal 5 Juli dan
b. Untuk semester kedua paling lambat tanggal 5 Desember.
Bupati menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 ayat (4) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk semester pertama paling lambat tanggal 10 Juli dan
b. Untuk semester kedua paling lambat tanggal 10 Desember.
Dalam hal tanggal 5 atau tanggal 10 jatuh pada hari libur, batas
akhir penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dan (2) dilaksanakan pada hari kerja sebelumnya.


BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
Pasal 12
(1) Guna mengetahui perkembangan pelaksanaan penggunaan Dana
Bagi Hasil Cukai Hasil tembakau perlu dilakukan monitoring dan
evaluasi.
(2) Monitoring dan Evaluasi (Money) dilaksanakan untuk :
a. Mengetahui kemajuan dan perkembangan capaian program;
b. Menilai kesesuaian pelaksanaan program dengan kebijakan;
c. Tujuan dan mekanisme yang telah ditetapkan dan;
d. Mendokumentasikan berbagai kegiatan sebagai bahan untuk
menyusun tindakan perbaikan program.
(3) Tim Koordinasi Kebijakan Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau melakukan monitoring dan evaluasi Penggunaan Dana
Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau oleh SKPD Pelaksana.
Pasal 13
Bagi SKPD Pengelola yang terbukti tidak mentaati atau dinilai
telah melanggar ketentuan atas penggunaan alokasi dana bagi
hasil cukai hasil tembakau, dikenakan sanksi berupa pengurangan
sampai dengan pencabutan alokasi dana untuk Tahun anggaran
berikutnya.
(2) Apabila terjadi pelanggaran hukum oleh pengelola program atau
pihak lainnya, akan diselesaikan sesuai prosedur dan ketentuan
hukum yang berlaku.
(1)

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 14
(1) Secara lengkap Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai
Hasil Tembakau di Kabupaten Blitar disusun dalam lampiran yang
menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Peraturan
Bupati ini.
(2) Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah
Kabupaten Blitar.

Ditetapkan di Blitar
pada tanggal 13 September 2011
Bupati Blitar
ttd
HERRY NOEGROHO

Diundangkan di Blitar
Pada Tanggal 13 September 2011
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BLITAR
ttd

BACHTIAR SUKOKARJADJI
BERITA DAERAH KABUPATEN BLITAR TAHUN 2011 NOMOR : 33/E

LAMPIRAN

PERATURAN

BUPATI

BLITAR
NOMOR
TANGGAL

:
:

33 Tahun 2011
13 September 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sampai sejauh ini, penerimaan negara diperoleh dari Pendapatan
cukai semakin meningkat. Sedangkan, kontribusi Pendapatan cukai
terbesar adalah cukai rokok/tembakau. Berdasarkan Media Indonesia (23
Mei 2010), target APBN 2010 atas cukai sebesar 57,29 trilyun, dari
jumlah tersebut, sebesar 54,2 trilyun diharapkan dapat penuhi dari cukai
rokok/tembakau. Artinya sekitar 94% dari target penerimaan cukai
diperoleh dari cukai rokok.
Secara Nasional, Jawa Timur adalah wilayah penghasil utama
tembakau dan pusat berkembangnya industri rokok. 50% sampai dengan
60% produksi tembakau Nasional berasal dari Jawa Timur. Disisi lain, tiga
dari empat perusahaan besar industri rokok di Indonesia berada di Jawa
Timur dan menguasai 70% pangsa pasar Nasional (Muslim Et Wardani,
2008). Potensi penerimaan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) di
Jawa Timur cenderung meningkat, walaupun proporsi secara Nasional
tetap berkisar antara 2%. Demikian juga dengan Kabupaten Blitar. Perlu
diketahui bahwa wilayah Jawa Timur mendapatkan proporsi penerimaan
DBHCT yang paling besar, yaitu sebesar 62%.
Berdasarkan roadmap industri rokok dan tembakau di Indonesia
sampai dengan Tahun 2020, kebijakan pengendalian produksi industri
basil tembakau menggunakan instrumen tarif cukai. Di masa
mendatang, terdapat kecenderungan tarif cukai rokok yang terus
meningkat. Kebijakan tersebut tentunya akan berdampak negatif
terhadap perkembangan industri rokok yang bersifat intensif tenaga
kerja. Artinya penurunan produksi rokok dapat mengakibatkan
pengangguran yang cukup serius. Disamping itu, kebijakan peningkatan
tarif cenderung mengakibatkan peningkatan produksi rokok ilegal. Untuk
meminimalisir adanya kemungkinan dampak negatif tersebut,
pengoptimalisasian alokasi DBHCT menjadi sangat penting.
PERMENKEU. No. 20.PMK.07/2009 merupakan Peraturan
pemerintah yang bertujuan untuk meminimalisir penyimpangan

pengalokasian dana DBHCT. Secara garis besar, Peraturan ini


mengisyaratkan alokasi DBHCT terhadap dua pokok sasaran,
yaitu: 1). Pembinaan lingkungan sosial, dan 2). Pemberantasan
Barang Kena Cukai Regal. Dengan demikian, subtansi
PERMENKEU ini, pada dasarnya, bertujuan untuk mengantisipasi
adanya dampak pencapaian roadmap tembakau Indonesia Tahun
2020.
PERMENKEU, No. 20, PMK. 07/2009 yang memperbaiki
Peraturan sebelumnya, yaitu Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 84/PMK.07/2008 tentang alokasi penggunaan DBHCT,
menimbulkan adanya multi interpretasi bagi SKPD di Kabupaten
Blitar, Khususnya tentang pengusulan program pembangunan
yang menggunakan DBHCT. Dalam rangka menyelaraskan
pemahaman terhadap Permenkeu tersebut, telah dirumuskannya
Pedoman dan Petunjuk Teknis Penggunaan DBHCT serta sanksi
atas penyalahgunaan DBHCT. Namun sesuai hasil monitoring dan
evaluasi pendanaan dan informasi keuangan daerah Direktorat
Jenderal
Perimbangan
Keuangan
perlu
menyempurnakan
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 51 Tahun 2009
sebagaimana telah diubah Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 51 Tahun 2010 dan ditetapkan kembali Peraturan
Gubernur Jawa Timur Nomor 37 Tahun 2011 tentang Pedoman
Umum Penggunaan DBHCHT di Jawa Timur. Dengan demikian
perlu merevisi Peraturan Bupati Blitar Nomor 16 Tahun 2010
tentang Petunjuk Teknis Penggunaan DBHCHT di Kabupaten
Blitar.
1.2.

Maksud Dan Tujuan


1.2.1.
Maksud
Maksud dari penyusunan Pedoman dan petunjuk teknis
penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau
adalah sebagai Pedoman bagi pelaksanaan penggunaan
dana bagi hasil cukai hasil tembakau di Kabupaten Blitar
agar
sesuai
dengan
prinsip-prinsip
pengelolaan
keuangan yang baik dan benar serta tidak bertentangan
dengan undang-undang dan Peraturan yang berlaku.
1.2.2.
Tujuan
Tujuan dari penyusunan Pedoman dan petunjuk teknis
penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau
adalah sebagai berikut :

1.

2.

3.

1.3.

Sebagai Pedoman pelaksanaan program/kegiatan


penggunaan DBHCHT di lingkungan Pemerintah
Kabupaten Blitar.
Sebagai acuan dinas di lingkungan Pemerintah
Kabupaten Blitar dalam hat koordinasi pelaksanaan
program/kegiatan
penggunaan
DBHCHT
di
Kabupaten Blitar.
Menjamin
tertibnya
administrasi
pelaksanaan
program/kegiatan penggunaan DBHCHT sesuai
dengan Undang-undang dan Peraturan yang
berlaku.

Landasan Hukum
Landasan hukum yang digunakan sebagai dasar penyusunan
Pedoman dan petunjuk teknis penggunaan dana bagi hasil cukai
hasil tembakau adalah sebagai berikut:
1.
Undang-Undang
Nomor
12
Tahun
1950
tentang
Pembentukan
Daerah-daerah
Kabupaten
dalam
Lingkungan Propinsi Jawa Timur;
2.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;
3.
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara;
4.
Undang-Undang
Nomor
32
Tahun
2004
tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah;
5.
Undang-Undang
Nomor
33
Tahun
2004
tentang
Perimbangan
Keuangan
antara
Pemerintah
Pusat,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota;
6.
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
sebagai Daerah Otonom;
7.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah;
8.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2004
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
9.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

1.4.

20/PMK.07/2009 tentang Perubahan Atas Peraturan


Menteri
Keuangan
Nomor
84/PMK.07/2008
tentang
Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan
Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai
Hasil Tembakau;
10.
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2010
tentang Pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau
kepada Propinsi Jawa Timur dan Kabupaten/Kota di Jawa
Timur Tahun 2010;
11.
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 51 Tahun 2010
tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pedoman Penggunaan Dana
Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa Timur;
12.
Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 18 Tahun 2008
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas
Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar;
13.
Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 20 Tahun 2008
tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan-badan
di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar;
14.
Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 37 Tahun 2011
tentang Penyempurnaan Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 51 Tahun 2010 tentang Pedoman Umum
Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Jawa
Timur.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman dan petunjuk teknis penggunaan dana
bagi hasil cukai hasil tembakau di Kabupaten Blitar meliputi :
1. Perencanaan program/kegiatan penggunaan DBHCHT;
2. Pelaksanaan program/kegiatan penggunaan DBHCHT;
3. Pelaporan Pelaksanaan program/kegiatan penggunaan DBHCHT;
4. Monitoring dan Evaluasi program/kegiatan penggunaan DBHCHT.

BAB II
PERENCANAAN PROGRAM/KEGIATAN PENGGUNAAN DBHCHT
Dalam rangka optimalisasi penggunaan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai
Hasil Tembakau diperlukan Perencanaan program/kegiatan pelaksanaan
penggunaan DBHCHT. Adapun persiapan Perencanaan tersebut adalah:
1. Melakukan koordinasi dengan dinas (SKPD) dan instansi yang
terkait dengan penggunaan DBHCHT;
2. Melakukan pendataan program/kegiatan SKPD dalam penggunaan

3.
4.
5.

DBHCHT sebagai upaya pembagian alokasi DBHCHT setiap SKPD


yang terkait;
Melakukan sosialisasi alokasi DBHCHT sebagai upaya menjaring
aspirasi stakeholders dalam penggunaan DBHCHT di Kabupaten Blitar;
Melakukan sinkronisasi program/kegiatan penggunaan DBHCHT
antar SKPD dan instansi yang terkait;
Persiapan pelaksanaan program/kegiatan penggunaan DBHCHT oleh
masing-masing SKPD dan instansi yang terkait.

BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN
Mekanisme pokok pelaksanaan Program/kegiatan penggunaan DBHCHT
melalui:
3.1
Peningkatan Kualitas Bahan Baku, meliputi :
1. Standarisasi kualitas bahan baku.
2. Mendorong pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin
rendah, dengan kegiatan yang meliputi:
a. Pembinaan, penyediaan dan pengawasan benih unggul
bermutu;
b. Percontohan Intensifikasi tembakau;
c. Revitalisasi Tembakau ekspor;
d. Pengendalian hama dan penyakit tembakau secara terpadu
dan ramah lingkungan;
e. Bimbingan teknologi budi daya tembakau;
f. Pembinaan usaha tani tembakau.
3. Pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan
metode pengujian, dengan kegiatan yang meliputi:
a. Pembangunan sarana laboratorium uji komoditas tembakau;
b. Peningkatan kompetensi sumberdaya manusia uji laboratorium.
4. Penanganan panen dan pasca panen bahan baku, dengan
kegiatan yang meliputi:
a. Pengembangan teknologi panen dan pasca panen;
b. Pengembangan sarana dan prasarana usaha komoditi tembakau.
5. Penguatan kelembagaan kelompok tani, petani dan pedagang
bahan baku untuk industri dan hasil tembakau, dengan
kegiatan yang meliputi:
a.
Pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok
tani/gabungan kelompok tani/asosiasi petani tembakau;
b.
Fasilitasi kemitraan usaha tani tembakau;

c.
d.

3.2

Perencanaan areal pengembangan sarana dan prasarana


usaha komoditi tembakau;
Penguatan permodalan melalui skema pembiayaan hibah,
bantuan sosial, modal kerja.

Pembinaan industri digunakan untuk pembinaan industri hasil


tembakau, meliputi:
1.
Registrasi mesin pelinting sigaret (rokok) tembakau, dengan
kegiatan yang meliputi:
a. Pendataan;
b. Verifikasi;
c. Kodifikasi;
d. Sertifikasi mesin pelinting sigaret (rokok).
2.
Penerapan Ketentuan terkait hak atas kekayaan intelektual
(HAKI), dengan kegiatan yang meliputi:
a. Fasilitasi perlindungan indikasi geografis tembakau;
b. Fasilitasi perlindungan varietas tanaman tembakau;
c. Fasilitasi perlindungan atas paten Tembakau Bawah Naungan
(TBN);
d. Fasilitasi perlindungan atas label dan merek dagang;
e. Fasilitasi perlindungan HAKI terhadap merk rokok pada
industri hasil tembakau;
3.
Pembentukan Kawasan Industri Hasil Tembakau di masingmasing wilayah kecamatan yang terdapat Industri Hasil
Tembakau (IHT);
4.
Pemetaan Industri hasil tembakau, dengan kegiatan yang
meliputi:
a. Pendataan industri hasil tembakau (rokok);
b. Pembuatan sistem dan database industri hasil tembakau;
5.
Kemitraan antara Usaha Kecil Menengah (UKM) hasil
tembakau dan koperasi dengan industri besar hasil
tembakau;
6.
Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau/
rokok;
7.
Peningkatan dan Pengembangan proses industri hasil
tembakau dengan kadar tar dan nikotin rendah;
8.
Pembinaan
legalitas
industri
hasil
tembakau/rokok
sosialisasi ketentuan, Peraturan dan perijinan yang berlaku
bagi industri hasil tembakau/ rokok, dengan kegiatan yang
meliputi:

a.

9.

10.

11.

12.
13.

Bimbingan dan fasilitasi perolehan ijin industri hasil tembakau/


rokok;
b. Pelatihan pencegahan dan penanganan rokok ilegal;
c. Bimbingan dan fasilitasi legalitas usaha industri hasil tembakau/
rokok.
Pembinaan dan fasilitasi dalam rangka penguatan pedagang
dan industri hasil tembakau/rokok, dengan kegiatan yang
meliputi:
a. Bimbingan teknis manajemen industri hasil tembakau/
rokok;
b. Pembinaan dan fasilitasi pedagang hasil tembakau/rokok
dan industri hasil tembakau/rokok melalui bantuan
perkuatan permodalan dan sarana produksi;
c. Pembinaan kemampuan keterampilan karyawan industri
hasil tembakau/ rokok;
d. Penumbuhan wirausaha baru di bidang industri di
lingkungan industri rokok.
Peningkatan sistem jaminan mutu tembakau dan rokok,
dengan kegiatan yang meliputi :
a. Sosialisasi sistem manajemen mutu;
b. Pelatihan sistem manajemen mutu;
c. Fasilitasi, bimbingan, penerapan dan sertifikasi sistem
manajemen mutu;
d. Audit internal sistem manajemen mutu.
Peningkatan Kualitas, Kompetensi dan Manajerial SDM
aparat, pelaku usaha dan masyarakat di lingkungan industri
rokok, dengan kegiatan yang meliputi :
a. Peningkatan kualitas SDM di bidang fumigasi, pengujian
dan inspeksi tembakau,
b. Peningkatan kualitas SDM aparat/pembina, pelaku usaha
tembakau dan industri hasil tembakau;
c. Peningkatan keterampilan masyarakat dibidang industri
di lingkungan industri hasil tembakau.
Peningkatan dan Pengembangan pasar dalam negeri/luar
negeri Industri hasil tembakau;
Pengembangan dan Penerapan Standarisasi mutu tembakau,
dengan kegiatan yang meliputi:
a. Penyusunan rancangan Standar Nasional Indonesia (SNI)
tembakau;
b. Sosialisasi SNI tembakau;

14.
15.

16.

3.3

c. Pelatihan SNI tembakau;


d. Fasilitasi, bimbingan, penerapan dan sertifikasi SNI tembakau;
e. Pertemuan teknis dan konvensi standarisasi contoh tembakau.
Fasilitasi konseling industri rokok dan dampaknya;
Peningkatan pengawasan barang beredar dan perlindungan
konsumen, dengan kegiatan yang meliputi:
a. Pengawasan dan pengendalian produk hasil tembakau
impor;
b. Pelatihan penggunaan timbangan yang benar bagi petani
tembakau, pedagang tembakau dan industri hasil
tembakau dalam rangka transaksi hash tembakau;
Peningkatan dan pengembangan desain kemasan produk
industri hasil tembakau.

Pembinaan Lingkungan Sosial digunakan untuk meminimalkan


dampak negatif kegiatan industri hasil tembakau dari hulu hingga
hilir, yang meliputi:
1.
Pembinaan kemampuan, keterampilan dan peningkatan
Pendapatan masyarakat pada bidang Pertanian, Peternakan,
Perikanan, Perkebunan dan kehutanan di lingkungan industri
hash tembakau dan / atau daerah penghasil bahan baku
industri hasil tembakau;
a. Pembinaan
kemampuan,
keterampilan
dan
peningkatan
Pendapatan masyarakat pada bidang Pertanian, peternakan,
Perikanan, Perkebunan dan Kehutanan di lingkungan industri hasil
tembakau dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil
tembakau untuk perluasan kesempatan kerja dan penempatan
kerja di sektor formal;
b. Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja untuk peningkatan
kualitas dan produktifitas sumber daya manusia bagi tenaga
kerja/ masyarakat di sektor tembakau;
c. Peningkatan
pengawasan
ketenagakerjaan
dan
perlindungan tenaga kerja, termasuk pengembangan
keselamatan dan kesehatan kerja (K3);
d. Pengembangan hubungan Industrial yang harmonis, dialogic, adil
dan bermartabat serta perbaikan upah, syarat kerja dan
kesejahteraan pekerja/ buruh;
e. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan
penelitian, pengembangan SDM aparatur dan pengadaan sarana
prasarana lembaga latihan/unit;
f. Program penciptaan perluasan kesempatan kerja dengan

2.

3.

memberikan

Perkuatan permodalan

Bantuan sarana dan prasarana


g. Pelayanan
dan
rehabilitasi
sosial
penyandang
masalah
kesejahteraan sosial melalui peningkatan sarana dan prasarana
bimbingan sosial, keterampilan di daerah industri hasil tembakau
dan / atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau;
h. Pemberdayaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (eks
klien Panti) melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan
kerja di daerah industri hasil tembakau dan / atau daerah
penghasil bahan baku industri hasil tembakau.
Penerapan sistem manajemen Lingkungan Industri hasil
tembakau yang mengacu pada Analisis Dampak Lingkungan
(AMDAL);
a. Sosialisasi kebijakan pengelolaan lingkungan hidup bagi
kegiatan perkebunan tembakau, industri hasil tembakau
dan industri pendukungnya;
b. Pembinaan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) kegiatan
perkebunan tembakau dan industri hasil tembakau dan
pendukungnya;
c. Pengawasan dan pemantauan kinerja pengelolaan lingkungan
pada kegiatan Perkebunan Tembakau dan industri hasil tembakau
dan pendukungnya yang mengacu pada pelaksanaan dokumen
lingkungan (AMDAL, UKL/ UPL);
d. Pengadaan prasarana pemantauan lingkungan dalam rangka
pengawasan kinerja pengelolaan lingkungan bagi kegiatan
perkebunan
tembakau,
industri
hasil
tembakau
dan
pendukungnya;
e. Fasilitasi pengelolaan lingkungan bagi perkebunan tembakau,
industri hasil tembakau dan pendukungnya;
f. Peningkatan kualitas SDM pengelolaan lingkungan bagi aparatur,
masyarakat dan kegiatan perkebunan tembakau, industri hasil
tembakau dan pendukungnya;
g. Penyusunan database, pemetaan profit dan Inventarisasi serta
identifikasi potensi pencemaran lingkungan pada perkebunan
tembakau, industri hasil tembakau dan pendukungnya;
h. Pengadaan prasarana pengolah limbah (IPAL) pada rumah
sakit dan puskesmas.
Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat
khusus untuk merokok di tempat umum;

4.

5.

a. Penetapan kawasan tanpa rokok;


b. Penyediaan smoking area dan perlengkapannya.
Peningkatan
pelayanan
Keluarga
Berencana
kepada
masyarakat sekitar industri rokok dan petani penyedia bahan
baku (tembakau);
a. Sosialisasi dampak merokok terhadap kesehatan reproduksi;
b. Pendirian klinik Keluarga Berencana di perusahaan rokok.
Peningkatan
derajat
kesehatan
masyarakat
dengan
penyediaan pelayanan kesehatan akibat dampak hasil
tembakau dan atau asap rokok yang meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
a. Promotif

Melakukan penyuluhan;

Menyediakan sarana dan media promosi;

Menyediakan layanan masyarakat bidang kesehatan;

Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan edukasi


deteksi dini;

Pemasyarakatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


(PHBS).
b. Preventif

Pelatihan dan peningkatan kemampuan petugas dalam


penanggulangan akibat dampak industri tembakau dan
atau rokok;

Pembinaan, pemantauan, koordinasi dan evaluasi


upaya terkait akibat dampak hasil industri tembakau
dan atau rokok;

Pemeliharaan
kesehatan
melalui
screening
dan
pendampingan (Home care).
c. Kuratif

Penyediaan, pengembangan serta pemeliharaan


sarana dan prasarana fisik pelayanan kesehatan;

Pengadaan dan pemeliharaan peralatan kesehatan dan


kedokteran

Pengadaan obat-obatan dan bahan pakai habis bagi


fasilitas pemberi pelayanan kesehatan dasar dan
rujukan;

Pembiayaan perijinan alat-alat kedokteran dan


kesehatan;

Penyediaan,
pengembangan
serta
pemeliharaan
sarana dan prasarana penunjang pelayanan kesehatan,

d.

meliputi
radiologi
laboratorium,
gizi,
serta menyusun Dokumen Pengelolaan Lingkungan,
PAL dan Incinerator;

Pembiayaan kesehatan bagi pekerja industri rokok dan


petani penghasil tembakau.

tembakau.
Rehabilitatif

Penyediaan pelayanan kesehatan secara berkala dan


berkelanjutan bagi penderita;

Memfasilitasi eks penderita untuk meningkatkan


derajat kesehatannya.

3.4

Sosialisasi ketentuan di bidang cukai, kegiatan yang dapat


dilaksanakan meliputi :
1. Penyuluhan;
2. Seminar;
3. Forum Diskusi atau Dialog Interaktif;
4. Penyebaran pamflet, brosur, leaflet, spanduk, stiker, bilboard dan lainlain;
5. Pelayanan masyarakat.

3.5

Pemberantasan Barang Kena Cukai ilegal;


Adapun kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah pengumpulan
informasi peredaran hasil tembakau yang dilekati pita cukai
palsu, yang tidak dilekati pita cukai/polos, yang tidak sesuai
dengan peruntukkannya pada tempat penjual eceran.

4.1.

4.2.

BAB IV
PELAPORAN PELAKSANAAN
PROGRAM DAN KEGIATAN
Setiap SKPD yang terlibat dalam kegiatan DBHCHT membuat dan
menyampaikan rancangan program kegiatan dan penganggaran Jana
bagi hasil cukai hasil tembakau kepada Bupati melalui Bappeda
Kabupaten Blitar setiap 6 bulan sekali dengan ketentuan; a). untuk
semester pertama paling lambat tanggal 5 Juli; dan b) untuk semester
kedua paling lambat tanggal 5 Desember. Dalam hal tanggal 5 jatuh
pada hari libur, batas akhir penyampaian laporan dilaksanakan pada hari
kerja sebelumnya.
Bupati membuat laporan alokasi penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil

Tembakau atas pelaksanaan kegiatan dan laporan konsolidasi dari setiap


SKPD yang terlibat dalam kegiatan DBHCHT kepada Gubernur setiap 6
(enam) bulan sekali, dengan ketentuan: a). untuk semester pertama
paling lambat tanggal 10 Juli; dan b) untuk semester kedua paling
lambat tanggal 10 Desember. Dalam hal tanggal 10 jatuh pada hari libur,
batas akhir penyampaian laporan dilaksanakan pada hari kerja
sebelumnya.
BAB V
MONITORING DAN EVALUASI
5.1.

5.2.

Monitoring dan Evaluasi


Tujuan dilakukannya Monitoring dan evaluasi (money) adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui kemajuan dan perkembangan capaian program;
2. Menilai kesesuaian pelaksanaan program dengan kebijakan;;
3. Tujuan dan mekanisme yang telah ditetapkan dan;
4. Mendokumentasi berbagai kegiatan sebagai bahan untuk
menyusun tindakan perbaikan program.
Kegiatan secara partisipatif oleh pengelola Alokasi DBHCHT di
Kabupaten Blitar
Sanksi
1. Bagi semua pihak yang terbukti tidak mentaati atau dinilai
telah melanggar ketentuan atas penggunaan alokasi Dana
Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, dikenakan sanksi berupa
pengurangan sampai dengan pencabutan alokasi dana untuk
Tahun anggaran berikutnya.
2. Apabila terjadi pelanggaran hukum oleh pengelola program
atau pihak lainnya, akan diselesaikan sesuai prosedur dan
ketentuan hukum yang berlaku.
BAB VI
PENUTUP

Dalam pelaksanaan penggunaan DBHCHT ini harus terdapat pemahaman


yang sama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten, dan seluruh instansi yang terkait agar terdapat sinkronisasi dan
sinergi program/kegiatan yang dilaksanakan serta mampu mengakomodasi
kepentingan pelaku usaha industri hash tembakau (petani dan industri hasil
tembakau).

Pedoman dan Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bagi Hash Cukai Hash
Tembakau (DBHCHT) dan Saksi atas Penyalahgunaan DBHCHT ini disusun
sebagai landasan dan arah bagi pelaksana kegiatan penggunaan alokasi
DBHCHT.

Blitar, 13 September 2011


BUPATI BLITAR
ttd
HERRY NOEGROHO

28