Anda di halaman 1dari 60

pendidikan dan pelatihan dalam bidang pesan

untuk media massa, public relation, periklan-


an, marketing, penyuluhan dan kampanye. Be-
berapa konsultan Humas, instansi pemerintah
dan partai politik menjadi mitranya dalam soal
yang satu ini.

Selain mengajar di Program Ilmu Komu-


nikasi FISIP UI, ia juga memberi kuliah di sejum- Disengaja atau tidak, hampir setiap saat kita terpapar oleh informasi,
lah Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi baik berita atau pesan, baik yang datang dari surat kabar, majalah, radio, Prof. Dr. Ibnu Hamad, MSi. lahir di Pandeg-
di Jakarta dan di luar Jakarta. Ia kerap menjadi
televisi, internet, maupun percakapan sehari-hari. Mungkin diantara lang, Banten, 5 April 1966. Selepas menyelesai-
pembimbing dan penguji ahli (reader) maha- kan SMA di kampung halamannya, tahun 1985
siswa yang meneliti tentang wacana. kita tak semuanya menyadari bahwa informasi, berita, atau pesan yang ia masuk ke Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI
sampai kepada kita itu adalah wacana. Belum tentu kita juga menyadari dan lulus pada tahun 1991. Bersamaan dengan
Artikel-artikelnya pernah dimuat di ko- apa yang terdapat dalam wacana. diangkatnya sebagai Dosen Tetap di Jurusan
ran dan majalah seperti: Republika, Kompas, Ilmu Komunikasi FISIP UI pada tahun 1994 ia di-
Media Indonesia, Suara Pembaruan, Gatra, terima pada Program Master Ilmu Komunikasi
Cakram, maupun jurnal seperti Thesis, Pacivis, Buku ini membekali pembaca dengan metode dan teknik mengung- UI dan lulus pada awal Maret 1997. Pada akhir
Pantau, Mediator dan Asia Pacific Media Educa- kap muatan yang dikandung wacana. Ragam metode analisis wacana Maret tahun itu juga ia sudah terdaftar sebagai
tor (APME) University of Wollongong Australia. (discourse analysis) dijabarkan secara singkat namun jelas dalam buku peserta Program Doktor Ilmu Komunikasi UI.
Di samping itu ia menulis buku Perencanaan
ini. Dengan adanya contoh-contoh penerapan, menambah kemudahan Dan sewaktu lulus pada September 2002, ia
Program Komunikasi (Universitas Terbuka, dinyatakan doktor termuda dalam bidang Ilmu
2007); Konstruksi Realitas Politik di Media bagi pembaca untuk memahami dan memeraktikan metode-metode Komunikasi. Pada Maret 2008, ia diangkat se-
Massa sebuah Studi Critical Discourse Analysis analisis wacana tersebut. bagai guru besar tetap di FISIP UI.
(GRANIT, 2004); ko-penulis untuk Kebencian,
Prasangka Agama di Media Massa, (ISAI, 2001)
Small is beautiful. Kecil itu indah. Buku ini memang tipis saja. Tetapi Minat utamanya dalam Ilmu Komunikasi
dan kontributor untuk beberapa buah buku: adalah kajian tentang pesan dan wacana. Ia
Menggugat Partai Politik (Lab Politik UI, 2003), isinya sangat padat; mencakup tiga isu dalam kegiatan penelitian ilmu- menilai pesan baik verbal maupun non-verbal
Menyelamatkan Indonesia (Pustaka Pelajar, ilmu sosial dengan metode analisis wacana, yaitu: teori, metode, dan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam
1999), Refleksi Karakter Bangsa (FKAI, 2008). praktik. Bagi mereka yang menyukai teori dan analisis wacana, niscaya komunikasi. Pesan bukan hanya alat untuk me-
buku ini sangat membantu dan sangat bermanfaat. nyampaikan makna (transmission of meaning);
Perhatiannya terhadap masalah-masalah tetapi juga bisa untuk mencipta makna (gener-
sosial diwujudkan bersama teman-temannya ating of meaning). Karenanya sejak skripsinya
dengan mengembangkan Institute for Democ- di S-1, tesisnya di S-2, hingga disertasinya di S-3
racy and Communication Research (INDICA- ia membahas tema-tema tentang pesan dalam
TOR), sebuah lembaga kajian yang memberi berbagai konteksnya.
perhatian pada persoalan interaksi antara ko-
munikasi dan demokrasi. Di samping, ia juga Perhatiannya yang besar pada kajian peng-
aktif dalam majalah BIOGRAFI POLITIK dan gunaan bahasa dalam komunikasi membuat-
majalah BISNIS&CSR serta jejaring lembaga- nya banyak terlibat dalam riset ilmiah dan tera-
lembaga swadaya masyarakat lainnya untuk pan, seminar nasional dan internasional, serta
pemberdayaan masyarakat.
(Sambung di kuping belakang)
Kata Pengantar i

Wacana

Depok, 17 Januari 2010


ii Wacana

Wacana
Penulis: Prof Dr Ibnu Hamad
Penyunting: Novita Hifni
Design: Denni N Ja, Feriyawi
Edisi Pertama, Januari 2010

@ Hak penerbitan edisi ini: La Tofi Enterprise

Wacana
Ibnu Hamad
ISBN 978-979-99513-4-2
Jakarta, La Tofi Enterprise, 2010

La Tofi Enterprise
www.latofienterprise.com
Jl. Tebet Barat Raya 102
Blok 1A Lantai Dasar No. 5
Jakarta, 12810

Telp 021-8314360
Fax 021-83706499
E-mail: latofienterprise@yahoo.com
Kata Pengantar iii

Untuk mereka yang sadar pentingnya wacana


Kata Pengantar v

Daftar Isi

Kata Pengantar vii


BAGIAN Pertama
TEORI WACANA 1
1. Arti Wacana 3
2. Proses Terjadinya Wacana 7
3. Jenis dan Bentuk Wacana 43

BAGIAN kedua
ANALISIS WACANA 51
4. Arti dan Tujuan Analisis Wacana 53
5. Metode-Metode dalam Analisis Wacana 59
6. Peran Paradigma Penelitian dalam Analisis Wacana 75
7. Teknik Melakukan Analisis Wacana 83
8. Menjaga Kualitas Analisis Wacana 91

BAGIAN ketiga
PRAKTIK ANALISIS WACANA 99
9. Discourse Analysis: Semiotika Iklan 101
10. Critical Discourse Analysis: CDA Berita Politik 131
Kata Pengantar vii

Kata Pengantar

vii
Kata Pengantar ix

B
uku ini merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari buku saya mengenai wacana, berjudul Komu-
nikasi sebagai Wacana. Boleh dikatakan ibarat satu
mata uang dengan dua sisinya. Jika dalam buku tersebut saya
menguraikan teori komunikasi sebagai wacana (communica-
tion as discourse) beserta contoh-contoh penerapannya, maka
dalam buku ini saya lebih menekankan pada analisis wacana
sebagai salah satu metode penelitian khususnya dalam ilmu
komunikasi.
Saya tambahkan, dalam buku yang pertama itu kita da-
pat melihat proses pembentukan wacana; sedangkan dalam
buku yang kedua ini kita dapat membongkar isi wacana.
Dengan teori komunikasi sebagai wacana kita dapat melihat
cara seseorang “mengisi” wacana yang dibuatnya dengan
muat­an apapun yang ia kehendaki. Sebaliknya, melalui me-
tode analisis wacana kita menyingkap muatan yang terdapat
suatu wacana.
Seperti kita ingin tahu isi atau muatan “container” perta-
x Wacana

ma-tama kita harus paham apa yang disebut “container”; bah-


kan bentuk, ukuran, dan fungsinya. Begitupun jika kita ingin
mengetahui isi atau muatan wacana, sebaiknya terlebih dahulu
kita memahami makna wacana; proses pembuatannya, ragam
jenis dan bentuknya. Bila kita sudah jelas apa yang dimaksud
wacana, niscaya akan lebih mudah mengetahui isi wacana.
Berdasarkan pertimbangan itu pula, teori wacana yang
telah diuraikan dalam buku pertama diulang lagi dengan
cara penyajian yang berbeda. Saya berharap, pembaca tidak
menganggapnya pengulangan, melainkan demi peneguhan.
Oleh sebab itu, sistematisasi buku inipun didasarkan atas
keterkaitan teori dan analisis wacana tersebut, disamping
untuk mempermudah penggunaannya. Buku ini disusun
kedalam tiga bagian. Setiap bagian dipilah lagi kedalam be-
berapa bab.
Bagian Kesatu menguraikan teori wacana. Bab-bab yang
terdapat dalam bagian ini mencakup arti wacana, proses ter-
jadinya wacana, serta bentuk, jenis, dan bentuk wacana. Da-
lam bagian inilah dilakukan penyajian ulang teori wacana
yang telah diuraikan dalam buku pertama.
Bagian Kedua membahas analisis wacana. Uraiannya
mencakup arti dan tujuan analisis wacana; metode-metode
analisis wacana; peran paradigma penelitian dalam analisis
wacana; teknik melakukan analisis wacana; dan isu kualitas
riset yang memakai metode analisis wacana. Harapan saya,
Kata Pengantar xi

dengan penjabaran seperti ini, para pembaca lebih siap un-


tuk melakukan riset dengan metode analisis wacana.
Bagian Ketiga menunjukkan contoh-contoh penerapan
metode analisis wacana. Ada dua contoh dalam buku ini.
Pertama, contoh penerapan untuk analisis wacana pada level
teks. Metode yang digunakan adalah semiotika dengan teks
iklan sebagai obyek kajian. Kedua, contoh penerapan anali-
sis wacana kritis (critical discourse analysis) pada berita-berita
politik.
Perlu dijelaskan pula bahwa untuk dapat melakukan ana­
lisis wacana dalam lingkup kajian ilmu sosial (sosial science),
kita perlu menguasai metode penelitian ilmu sosial dengan
pendekatan kualitatif. Sebagaimana diketahui, dalam pe-
nelitian ilmu sosial kita harus bisa menunjukan data dan
bukti. Demikian pula manakala kita melaksanakan peneli-
tian dengan analisis wacana dalam tradisi riset ilmu sosial
harus bisa menunjukkan data dan bukti untuk menjawab
pertanya­an penelitian. Hal ini berbeda, misalnya dengan
tradisi riset dalam ilmu-ilmu humaniora, kerapkali kita tak
perlu menujukkan data dan bukti untuk menjawab pertan-
yaan penelitian.
Untuk pemberitahuan awal, yang dimaksudkan data dan
bukti dalam analisis wacana dengan tradisi riset ilmu sosial,
adalah “tanda yang ada di dalam wacana” atau “bagian yang
terdapat dalam wacana”. Misalnya jika dikatakan bahwa
xii Wacana

dalam berita ini koran X menyokong penguasa atau dalam


berita itu koran Y menghujat penguasa, maka peneliti harus
bisa menunjukkan “tanda-tanda mana saja yang terdapat di
dalam wacana” atau “bagian mana saja yang terdapat dalam
wacana” sebagai datanya atau buktinya. Tanda yang dimak-
sud di sini adalah tanda-tanda bahasa baik verbal maupun
npn-verbal sebagai instrument utama dalam pembuatan wa-
cana. Dalam contoh penerapan di bagian ketiga, kita bisa
melihat caranya.
Harus diakui bahwa buku ini tidak rinci dalam mengurai-
kan setiap metode analisis wacana. Pertimbangannya adalah
karena literatur analisis wacana sudah banyak beredar. Saya
cenderung mengingatkan dua hal: (1) isu utama yang men-
jadi pusat perhatian setiap metode; yang dengan demikian,
peneliti dapat dengan mudah memilih salah satu metode
analisis wacana yang akan ia gunakan; (2) cara penggunaan
masing-masing metode, sehingga peneliti dapat terbantu
untuk menerapkan sebuah metode sesuai karakter metode
tersebut. Konsekuesinya adalah para pembaca harus mem-
perdalam sendiri sebuah metode yang Anda pilih dari litera-
tur lain. Mudahan-mudahan bukan perkara yang sukar.
Gagasan untuk menulis buku ini sudah lama sesung-
guhnya. Tetapi mewujudkan buku kedua ini hampir
mustahil jika tidak menjadikan buku pertama terlebih
dahulu. Untuk kesekian kalianya, saya sampaikan terima
Kata Pengantar xiii

kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Saudara La Tofi


yang telah bersedia me­ner­bitkan buku kedua ini, sebagai­
mana telah menerbitkan buku pertama.
Untuk isteriku yang tercinta, Ratu Iim Hikmah, ketiga
puteraku Mawla, Najiyy, dan Latofa, saya haturkan terima
yang tak terhingga atas dukungan kalian yang tak mengenal
kata selesai. Alhamdulillah robbil ’alamin.
Tiada gading yang tak retak. Tiada karya manusia
yang tidak memuat kekurangan baik atas kealpaan atau-
pun kesalahpahaman. Untuk ini saya dengan senang hati
menerima dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan
saran yang konstruktif untuk perbaikan-perbaikan selan-
jutnya.[]
Teori Wacana 1

BAGIAN Kesatu

Teori Wacana

1
2 Wacana
Teori Wacana 3

1
Arti Wacana

S
ecara singkat dapat dikatakan bahwa wacana
(discourse) adalah susunan data dan atau fakta
dengan memakai sistem tanda yang membentuk
cerita dan mengandung makna. Dari definisi ini, terdapat
beberapa hal yang terkait dengan wacana: (1) wacana ada-
lah hasil dari proses penyusunan atas data atau fakta keda-
lam cerita yang bermakna; (2) sistem tanda merupakan alat
utama untuk membuat wacana; (3) sebelum tersusun, data
dan atau fakta itu tentulah berserakan; (4) dalam wacana itu
terdapat “aturan” yang bekerja yang menyatukan satu data
dengan data lain atau fakta dengan fakta lain sehingga mem-
bentuk cerita yang bermakna; (5) boleh jadi aturan yang
berlaku untuk satu wacana berbeda dengan aturan yang ber-
laku untuk wacana lainnya bergantung pada faktor-faktor
yang mempe­ngaruhi pembuatannya; (6) aturan yang berla-
ku pada sebuah wacana menentukan informasi dan makna
yang dikandung oleh wacana tersebut.
Pengertian wacana yang ringkas seperti itu kiranya akan
4 Wacana

lebih jelas jika kita memahami proses terjadinya wacana,


seperti akan dibahas setelah ini. Dari Gambar I-1 beserta
penjelasannya kita dapat menyimpulkan bahwa wacana
(discourse) adalah pesan (message) yang memuat realitas
yang telah dikonstruksikan. Alat untuk mengkonstruksikan
realitas itu adalah sistem tanda (system of sign). Dalam ranah
linguistik, yang juga diadopsi dalam kajian komunikasi, sistem
tanda ini adalah bahasa baik verbal maupun non-verbal.
Dalam mengkonstruksikan realitas hingga menjadi wa-
cana, pembuat wacana dipengaruhi oleh sejumlah faktor
baik internal maupun eksternal. Keadaan ini berpengaruh
kepada pemakaian bahasa untuk mengemas realitas. Kare-
nanya kita dapat memamahi bahwa: (1) wacana itu bukanlah
susunan tanda yang kosong melainkan berisi pilihan fakta;
(2) penggunaan sistem tanda (bahasa) dalam pesan (wacana)
tidak­lah bersifat arbitrer (sembarang) melainkan berdasar-
kan pilihan sadar atas dasar alasan-alasan yang jelas.
Sebagai “wadah” realitas yang dikonstruksikan, dengan
demikian, wacana mengandung banyak data, fakta, dan
informasi. Di dalam wacana itu juga, bahasa tidak hanya
dipakai sesuai kaidah tata-bahasa tetapi penggunaan yang
melibatkan unsur-unsur bahasa. Pemakaian bahasa dalam
wacana bersifat beyond pragmatic. Disini, tanda-tanda ba-
hasa dipakai lebih dari sebagai alat menggambarkan realitas
melainkan pula sebagai sarana untuk memperjuang­kan
Teori Wacana 5

kepentingan.
Uraian mengenai wacana seperti itu sangat dekat dengan
definisi wacana yang diberikan James Paul Gee, dalam hal ini
discourse dengan D besar. Dalam bukunya, Gee (2005 : 26)
memang membedakan discourse dalam dua jenis: Pertama,
“discourse” (d kecil) yang melihat bagaimana bahasa digunakan
pada tempatnya (“on site”) untuk memerankan kegiatan, pan-
dangan, dan identitas atas dasar-dasar linguistik.
Kedua, “Discourse” (D besar) yang merangkaikan unsur
linguistik pada “discourse” (dengan d kecil) bersama-sama
unsur non-linguistik (non-language “stuff”) untuk memeran-
kan kegiatan, pandangan, dan identitas. Bentuk non-lang-
uage “stuff” ini dapat berupa kepentingan ideologi, politik,
ekonomi, dan sebagainya. Komponen non-language “stuff”
itu juga yang membedakan cara beraksi, berinteraksi, ber-
perasaan, kepercayaan, penilaian satu komunikator dari
komunikator lainnnya dalam mengenali atau mengakui diri
sendiri dan orang lain.[]
6 Wacana
Teori Wacana 7

2
Proses Terjadinya Wacana

T
idak perlu ditegaskan lagi, mengacu pada
pengerti­an wacana di atas, bahwa wacana bukan-
lah barang yang terbentuk dengan sendirinya. Wa-
cana itu ada karena telah melalui proses pembentukannya.
Se­perti apa­kah proses pembuatan wacana tersebut? Gambar
1 memperlihatkan proses terjadinya wacana.
Namun, sebelum menjabarkan prosesnya, izinkan saya
menceritakan kembali latar belakang munculnya gambar
atau model tersebut, yang kemudian mendorong lahirnya
teori komunikasi sebagai wacana (communication as dis-
course). Model dan teori ini bermula dari penulisan diser-
tasi pada tahun 2000-2002 sebagaimana telah dibukukan
(Ibnu Hamad, 2004). Ketika itu saya menerapkan analisis
wacana kritis (critical discourse analysis) terhadap berita-
berita 9 (sembilan) partai politik selama kampanye Pemilu
1999: PDIP, PG, PPP, PKB, PAN, PBB, PK, PDKB, dan
PKP di 10 surat kabar: Fajar (Makassar), Bali Post, Jawa
Pos (Surabaya), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Kompas,
8 Wacana

Repu­blika, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Rakyat


Merdeka, dan Haluan (Padang). Tujuan dari analisis ini
adalah untuk menunjukkan bentuk konstruksi realitas par-
tai politik yang dibuat oleh masing-masing surat kabar be-
serta alasan yang melatar-belakanginya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum setiap
koran memiliki konstruksi tersendiri atas partai politik yang
diberitakannya. Tapi secara spesifik masing-masing koran
mengkonstruksikan ke arah positif sebuah partai politik jika
ia menganggap ada kesamaan orientasi dengan partai politik
yang bersangkutan; dan sebaliknya koran-koran itu meng-
konstruksikan ke arah negatif jika mereka tidak menaruh
kepercayaan kepada partai politik tersebut. Hal ini terjadi
karena setiap koran memiliki pertimbangan sendiri atas
dasar kepentingan internal ataupun eksternal. Ringkasan
penelitian ini akan saya sajikan pada Bagian Ketiga buku ini
sebagai contoh penerapan analisis wacana.
Berdasarkan hasil penelitian itu saya menyimpulkan bah-
wa berita-berita partai politik di sebuah surat kabar tiada
lain adalah wacana (discourse) sebagai hasil konstruksi para
pekerja media bersangkutan atas partai-partai politik yang
diberitakannya. Berita-berita di koran itu ternyata bukan-
lah representasi realitas, melainkan konstruksi realitas atas
obyek yang diberitakannya.
Untuk memudahkan penjelasan atas proses konstruksi
Teori Wacana 9

realitas partai-partai politik ini, saya membuat model ko-


munikasi sebagai wacana (communication as discourse model)
seperti tampak dalam Gambar I-1 tersebut. Ketika itu yang
menempati realitas pertama adalah partai politik sejak para
tokoh dan pengurusnya, program dan kegiatannya hingga
massa beserta prilakunya. Tentu saja pada akhirnya, wacana
yang terbentuk pun adalah berita-berita politik karena pro­
ses konstruksi yang terjadi saat itu dalam rangka peliputan
partai-partai politik dalam masa kampanye pemilu.

Gambar I-1: Proses Konstruksi Realitas (Model Utama)

Realitas Pertama: Keadaan, Benda, Pikiran, Orang, Peristiwa, ... (1)

Dinamika Sistem Komunikasi Strategi


Internal dan Eksternal yang Berlaku Mengkonstruksi
Pelaku Konstruksi (4) (3) Realitas (6)

Proses
Faktor Innocently Konstruksi Strategi Signing
Faktor Internality Realitas oleh Strategi Framing
Faktor Externality Pelaku Strategi Priming
(5) (2) (7)

Discourse atau
Realitas yang Dikonstruksikan
(Text, Talk, Act dan Artifact)
(8)

Makna, Citra, dan Kepentingan di Balik Wacana


(9)
10 Wacana

Tanpa mengubah pola pikir yang terdapat didalamnya,


model ini telah mengalami pengembangan hingga ben-
tuknya seperti sekarang. Tujuannya agar model ini dapat
dipergunakan secara lebih luas bukan hanya terbatas untuk
menjelaskan proses konstruksi partai politik tetapi menca­
kup pula kegiatan-kegiatan komunikasi lainnya yang dida-
lamnya berlangsung proses konstruksi realitas.
Dari Gambar I-1 itu kiranya dengan mudah kita mema-
hai proses terjadinya wacana. Pekerjaan utama dalam proses
pembuatan wacana adalah mengkonstruksikan relitas. Da-
lam mengkonstruksi realitas itu, prosesnya dimulai dengan
adanya realitas pertama berupa keadaan, benda, pikiran,
orang, atau pristiwa, atau yang lainnya (1). Realitas pertama
inilah yang dikonstruksikan oleh pelaku konstruksi (2). Da-
lam membuat wacana ini, pelaku konstruksi dipengaruhi
berbagai faktor. Secara umum, sistem komunikasi adalah
faktor yang mempengaruhi sang pelaku dalam membuat wa-
cana (3). Dalam sistem komunikasi yang bebas (libertarian),
wacana yang terbentuk akan berbeda dalam sistem komuni-
kasi yang dibatasi (otoritarian). Secara lebih khusus, dinami-
ka internal dan eksternal pelaku konstruksi mempengaruhi
wacana yang terbentuk beserta maknanya (4). Di satu sisi,
hal ini menunjukkan bahwa pembentukan wacana tidak be-
rada dalam ruang vakum, di sisi lain pelaku konstruksi sen-
diri bukanlah orang yang sepenuhnya mampu mengendali-
Teori Wacana 11

kan realitas. Setidaknya ada tiga sebab mengenai lemahnya


kendali pelaku konstruksi. Pertama, faktor innocently yang
mencakup kekurang-mampuan dan kesalah-pahaman; fak-
tor internality karena adanya minat dan kepentingan; dan
faktor externality karena adanya sponsor dan pasar (5).
Struktur dan makna wacana juga dipengaruhi oleh stra-
tegi konstruksi realitas yang dipakai pelaku konstruksi (6).
Seraya mempertimbangkan faktor internal dan eksternal
yang mempengaruhi dirinya, pelaku konstruksi memakai
tiga alat untuk mengkonstruksikan suatu realitas: strategi
signing yaitu strategi memakai kata, idiom, kalimat dan
paragraf; strategi framing yaitu upaya memilih fakta yang
akan dimasukkan atau dikeluarkan dari wacana; dan strategi
priming yaitu teknik menampilkan wacana di depan publik
berdasarkan waktu, tempat, dan jenis khalayak (7).
Sebagai hasil dari proses konstruksi adalah wacana (discourse)
atau realitas yang dikonstruksikan. Sesuai dengan jenis kegiat­
an komunikasinya, wacana yang terbentuk bisa berupa tulisan
(text), ucapan (talk), tindakan (act) atau peninggalan (artifact)
(8). Oleh karena discourse yang terbentuk ini telah dipengaruhi
oleh berbagai faktor, kita dapat mengatakan bahwa dibalik wa-
cana itu terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepen-
tingan yang sedang di-endors oleh si konstruktor (9).
Kendati dalam praktiknya proses pembuatan wacana
bisa sangat cepat, dalam penjelasan teoritiknya bisa cukup
12 Wacana

panjang. Hal ini disebabkan adanya tiga elemen dasar pem-


bentukan wacana: (1) elemen prasyarat, (2) elemen strategi,
dan (3) elemen faktor-faktor pemengaruh.
Elemen prasyarat itu adalah sistem komunikasi yang ber-
laku dimana praktik membuat wacana akan dilakukan. Ele-
men ini menentukan terhadap laju atau mandeknya proses
konstruksi realitas. Elemen ini bahkan memengaruhi bentuk
dan isi wacana. Keberlakuan disini tidak harus selalu dalam
konteks bernegara, melainkan pula dalam konteks berorga-
nisasi, berkomunitas, berkelompok dan berkeluarga.
Ada dua ekstrim sistem komunikasi yang berlaku: liber-
tarian dan otoritarian. Di dalam kontinum dua sistem inilah
hidup dan berkembang jenis-jenis sistem komunikasi yang
lain, seperti sistem tanggung jawab sosial, sistem komuni-
kasi pembangunan, sistem komunis-totalitarian, dan seba-
gainya. Walaupun pembahasan ini berada dalam domain
komunikasi massa, saya kira dua sistem utama ini berlaku
pula untuk kegiatan komunikasi non-media massa.
Dalam setiap sistem itu cara orang berkomunikasi (baca,
melakukan konstruksi realitas) berbeda satu sama-sama lain
(Merril, 1974; Fred. Siebert, at.al., 1986; McQuail, 1996).
Perbedaan itu meliputi: Komunikator utama, akses terhadap
saluran, isi atau pesan, posisi khalayak dan norma hukum
yang berlaku. Perbedaan di antara dua sistem utama dapat
disederhanakan dalam Tabel I-1.
Teori Wacana 13

Tabel I-1: Perbedaan antara Otoritarian dan Libertarian

Otoritarian Libertarian
Komunikator Penguasa dan atau pihak yang diberi izin Pengusaha dan atau siapa saja yang
utama oleh pihak otoritas mempunyai modal
Akses terhadap Penguasa dan atau pihak Pengusaha dan atau siapa
saluran yang dekat dengan dan saja yang mempunyai akses
atau diberi izin penguasa terhadap media
Isi atau pesan Harus selalu mendukung Berisi kritik terhadap kekuasaan
kekuasaan
Posisi khalayak Hanya menerima apa yang disampaikan Bisa mengajukan keberatan
komunikator terhadap komunikator
Norma hukum Disensor atau dicabut izinnya Diselesaikan di pengadilan
jika terjadi pelanggaran jika terjadi pelanggaran

Dari Tabel I-1 ini kita dapat menyimpulkan bahwa kon-


struksi realitas dalam sistem libertarian bisa lebih bebas
ketimbang dalam sistem otoritarian. Dalam
���������������������
sistem otorita-
rian, konstruksi realitas harus tunduk pada kehendak pe­
nguasa. Penggunaan bahasa (strategi signing), pemilihan
fakta (strategi framing), dan pengaturan pemublikasian
(strategi priming) ditentukan oleh sikap penguasa.
Dalam sebuah negara yang otoriter dengan demikian da-
patlah dibayangkan bahwa wacana yang terbentuk adalah
wacana yang tunduk pada penguasa. Pada masa Orde Baru
pers Indonesia pernah mengalaminya. Pemberitaan di me-
dia massa tidak boleh berbeda apalagi menentang sikap pe-
merintah ketika itu. Suara-suara kritis terhadap penguasa
dibungkam; vokalisnya dipenjara bahkan ada yang diculik
dan dibunuh.
14 Wacana

Pemimpin yang otoriter dalam kelompok atau keluarga


melarang anggota kelompok atau anggota keluarganya ber-
pendapat secara bebas; melainkan harus manut pada kata
sang pemimpin. Biasanya tanpa alasan yang jelas, pemimpin
otoriter sangat dominan dalam menentukan realitas yang
akan menjadi kesepakatan para anggotanya.
Adapun dalam sistem libertarian, konstruksi realitas ber-
gantung pada kehendak pasar. Pemakaian bahasa, pemuat­
an fakta, dan pengaturan penyebaran disesuaikan dengan
keinginan pasar. Dalam negara dengan sistem komunikasi
yang libertarian, masyarakatnya bebas membuat wacana
apapun yang mereka sukai, termasuk menggambarkan pe-
mimpin negaranya dengan gambaran yang buruk.
Walaupun menjamin kebebasan, bukan berarti kon-
struksi realitas dalam sistem ini akan menghasilkan wacana
yang utuh. Kekuatan pasar atau pengaruh pemilik (peng­
usaha media) yang mendikte bisa mempengaruhi proses
konstruksi realitas beserta wacana yang dihasilkannya. Da-
lam sistem libertarian yang murni, pengekangan kebebasan
berpindah dari tangan penguasa (rezim yang berkuasa) ke
tangan pengusaha (para pemilik modal).
Untuk strategi pengonstruksian, seperti tampak dalam
Gambar 1, ada tiga strategi yang digunakan dalam membu-
at wacana: strategi signing, strategi framing, dan strategi pri-
ming. Sesungguhnya ketiga strategi ini saling berkait. Tanda
Teori Wacana 15

bahasa yang dipergunakan (signing) dipengaruhi oleh fakta


yang akan diungkapkan (framing) serta tempat dan waktu
wacana akan dilontarkan (priming). Begitu pula dengan hal
yang sebaliknya, fakta yang akan diungkap serta waktu dan
tempat pemuatan akan menentukan tanda bahasa yang di-
pergunakan.
Yang dimakasud dengan strategi signing disini adalah
strategi penggunaan tanda-tanda bahasa, baik bahasa verbal
(dalam bentuk kata-kata) maupun nonverbal (dalam bentuk
gambar, grafik, gerakan, dan sebagainya). Dalam pembuatan
wacana sistem tanda merupakan alat utama dalam proses
konstruksi realitas. Mengacu pada pemikiran Berger, Peter L
dan Thomas Luckman dalam buku mereka, The Social Con-
struction of Reality, A Treatise in the Sociology of Knowledge,
(New York : Anchor Books, 1967 : 34-46.), sistem tanda
merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas.
Mereka mengatakan, proses konstruksi realitas dimulai ke-
tika seorang konstruktor melakukan obyektivikasi terhadap
suatu kenyataan yakni melakukan persepsi terhadap suatu
obyek. Selanjutnya, hasil dari pemaknaan melalui proses
persepsi itu diinternalisasikan kedalam diri seorang kons­
truktur. Dalam tahap inilah dilakukan konseptualisasi ter-
hadap suatu obyek yang dipersepsi. Langkah terakhir adalah
melakukan eksternalisasi atas hasil dari proses permenungan
secara internal tadi melalui pernyataan-pernya­taan. Alat
16 Wacana

membuat pernyataan tersebut tiada lain adalah kata-kata


atau konsep atau bahasa. Tampak dalam proses ini bahasa
menempati peranan yang sangat sentral. Begitu pentingnya
bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun ilmu pengetahu­
an tanpa bahasa.
Selanjutnya, penggunaan bahasa (simbol) tertentu me-
nentukan format narasi (dan makna) tertentu (Tuchman,
1980 : 104-132; Faules dan Alexander, 1978). Sedangkan
jika dicermati secara teliti, seluruh proses komunikasi baik
melalui media ataupun tatap muka menggunakan bahasa,
baik bahasa verbal (kata-kata tertulis atau lisan) maupun
bahasa non-verbal (gambar, foto, gerak-gerik, grafik, angka,
dan tabel).
Lebih jauh dari itu, terutama dalam media massa, ke-
beradaan bahasa ini tidak lagi sebagai alat semata untuk
mengkonstruksikan realitas, melainkan bersama-sama fung-
si kekuatan kultivasi dan fungsi agenda setting, bahasa bisa
menentukan gambaran (citra) mengenai suatu realitas yang
akan muncul di benak khalayak. Terdapat berbagai cara
komunikator (media massa) memanfaatkan bahasa untuk
mempengaruhi realitas: mengembangkan kata-kata baru
beserta makna asosiatifnya; memperluas makna dari istilah-
istilah yang ada; mengganti makna lama sebuah istilah de­
ngan makna baru; memantapkan konvensi makna yang telah
ada dalam suatu sistem bahasa (DeFleur dan Ball-Rokeach,
Teori Wacana 17

1989: 265-269).
Justru karena terdapat persoalan makna itulah, maka
penggunaan bahasa sangat berpengaruh terhadap proses
konstruksi realitas berikut wacana yang dihasilkannya be-
serta makna dan citranya. Padahal, manakala kita meng-
konstruksikan atau menceritakan suatu realitas kepada
orang lain, sesungguhnya esensi yang ingin kita sampaikan
adalah makna. Padahal setiap kata, angka, dan simbol lain
dalam bahasa yang kita pakai untuk menyampaikan pesan
pada orang lain tentulah mengandung makna. Begitu juga,
rakitan antara satu (angka) dan kata (angka) lain mengha-
silkan suatu makna. Penampilan secara keseluruhan sebuah
wacana bahkan bisa menimbulkan makna tertentu (Fiske,
1990; Carey, 1988).
Sebagai konsekuensinya, penggunaan bahasa tertentu
berimplikasi pada munculnya makna dan citra tertentu. ���
Pi-
lihan kata, susunan kata, dan cara menyusun kalimat yang
tertentu dalam melakukan konstruksi realitas dapat menen-
tukan makna dan citra tertentu tentang realitas. Bahkan,
dalam banyak kasus bahasa bukan cuma sebagai alat meng-
konstruksikan realitas, tapi sekaligus dapat menciptakan
realitas itu sendiri. Kuatnya hubungan antara bahasa dan
realitas sebagaimana dirumuskan Christian and Christian
seperti dapat dilihat dalam Gambar I-2 (Grimshaw dalam
Pool et.al (editors) 1973: 63).
18 Wacana

Gambar I-2: Hubungan antara Bahasa, Realitas, dan Budaya


Bahasa

Realitas Menciptakan Menciptakan Menciptakan Realitas

Budaya

Begitu dahsyatnya bahasa dalam menentukan ‘bentuk


dan warna’ gambar sosial yang dibuat seseorang, tak urung
menjadi perhatian para filsuf bahasa yang terdahulu mau-
pun yang sekarang. Di antaranya adalah Ludwig Wittgen-
stein yang menelorkan Teori Gambar, yang pada pokoknya
menyatakan mengenai sentralnya posisi bahasa dalam mem-
buat gambaran tentang realitas. Kata-kata dan struktur ba-
hasa menentukan makna (gambaran) suatu realitas (Drs.
Kaelan, MS, 1998: 114-118). Malahan menurut Langer
(1955) pokok bahasan filsafat sendiri sudah bergerak ke
pembahasan masalah bahasa atau populer disebut filsafat
simbol.
Lantas, bagaimana seorang konstruktor melakukan
strategi signing dalam praktiknya membuat sebuah wacana?
Adalah dengan cara memilih kata-kata, angka, gambar, dan
lain-lain tanda bahasa dan merangkainya hingga memben-
Teori Wacana 19

tuk wacana yang dianggapnya mampu mengkonstruksikan


realitas. Sehubungan dengan pemilihan tanda-tanda bahasa
ini, secara disadari atau tidak mereka menggunakan cara
kerja tanda (sign) secara semiotis. Sebab dilihat dari semi-
otika –ilmu yang mempelajari sistem tanda dan makna—
setiap tanda itu mempunyai cara kerja (silakan periksa Tabel
I-2) selain memiliki makna masing-masing (Zoest, 1993 : 1;
Noth, 1990 : 13; Cobley, 1997: 4; Zoest dalam Panuti Sudji-
man dan Aart van Zoest, 1992: 5)

Tabel I-2 : Pembagian Tanda beserta Cara Kerjanya (Berger, 2000 : 14)

Jenis Tanda Ditandai dengan Contoh Proses Kerja


Ikon • Persamaan (kesamaan) Gambar, foto, patung • Dilihat
• Kemiripan
Indeks • Hubungan sebab-akibat • Asap  Api • Diperkirakan
• Keterkaitan • Gejala  Penyakit
Simbol • Konvensi atau kesepakatan • Kata-kata, isyarat • Dipelajari
social

Tentu saja pembagian seperti yang dilakukan Charles


Sanders Pierce (1839-1914) itu dalam praktiknya tidak
dapat dilakukan secara mutually exclusive. Dalam konteks-
konteks tertentu ikon dapat menjadi simbol. Banyak sim-
bol yang berupa ikon. Disamping menjadi indeks, sebuah
tanda sekaligus juga bisa berfungsi sebagai simbol. Yang
jelas, tanda-tanda itulah yang digunakan oleh setiap kon-
20 Wacana

struktor realitas. Hanya penekanannya yang berbeda-beda


sebagaimana tampak dalam pembahasan mengenai jenis
dan bentuk wacana (Lihat juga Tabel 2).
Untuk membuat sebuah wacana tentu saja para kons­
truktor itu tidak sembarangan menggunakan sebuah tanda
bahasa, melainkan telah mempertimbangkannya secara ma-
tang mengingat setiap tanda bahasa memiliki makna, walau-
pun boleh jadi tidak semua menyadarinya atau justru tidak
mempedulikannya. Padahal dalam pandangan semiotika,
setiap penggunaan tanda mulai dari pemakaian kata atau is-
tilah, frase, angka, foto dan gambar, bahkan cara mengemas-
nya pun adalah tanda. Secara semiotis, fakta yang tersurat
maupun tersirat juga merupakan tanda. Pemilihan sebuah
sumber berita dan mengabaikan yang lain juga adalah tanda.
Dalam semiotika, segala sesuatu yang dapat diamati atau di-
buat dapat teramati, mengacu pada hal yang dirujuknya, dan
dapat diinterpretasikan, adalah tanda (sign). Benda, peristiwa,
atau kebiasaan, yang dapat memberikan hubungan segitiga
dengan sebuah ground, sebuah denotatum, dan dengan sebuah
interpretannya adalah tanda (Zoest, 1993: 18).
Hubungan segitiga ini dalam semotika dijelaskan oleh
teori segi tiga makna (triangle meaning theory). Menurut
teori ini, setiap tanda (sign) mengacu pada obyek yang di-
tandainya; dan setiap tanda memiliki makna. Menurut teori
ini, makna adalah hasil dari proses pertemuan antara peng-
Teori Wacana 21

gunaan tanda yang merujuk pada obyek (yang ditandai) dan


akal pikiran yang mencerna tanda tersebut. Makna yang
muncul akan berbeda (berubah) jika tanda yang digunakan
juga berbeda (berubah). Syaratnya, tanda itu harus ada yang
mencerapnya. Ketika ketiga unsur ini bertemu terjadilah
makna.
Ada dua versi mengenai teori segi tiga makna ini. (lihat
Gambar I-3 dan Gambar I-4). Pada dasarnya cara kerja ke­
dua teori ini sama saja. Dalam model I.A.Richard (Gambar
4, diambil dari Fiske, 1990 : 42) reference menunjuk pada
peristiwa munculnya kembali ingatan masa lalu tentang
suatu realitas dalam konteks yang sekarang. Kurang lebih
komponen ini sama dengan interpretan dalam model Pierce
(Gambar 3). Referent ialah obyek yang dipersepsikan dan
menimbulkan kesan dalam ingatan. Symbol adalah kata-ka-
ta yang dipakai untuk menyebut referent atau obyek. Garis
putus-putus menunjukkan bahwa hubungan antara simbol
dan referent (obyek) bisa bersifat tidak langsung. Obyek
yang dirujuk oleh simbol tidak selamanya harus hadir ke-
tika obyek itu dibicarakan (Richard, I.A. dalam Foss at.all,
1985: 24-25).
Menurut semiotika, fungsi tanda pertama-tama adalah
alat untuk membangkitkan makna. Itu karena tanda selalu
dapat dipersepsi oleh perasaan (sense) dan pikiran (reason).
Dengan menggunakan akal sehatnya seseorang biasanya
22 Wacana

Gambar I-3 : Elemen Makna Pierce Gbr I-4 : Semantic Triangle Richard

Sign Reference or Thought

Object Interpretan Symbol Referent

menghubungkan sebuah tanda pada rujukannya (reference)


untuk menemukan makna tanda itu (Noth, Ibid, : 79-92).
Mengenai makna memang bisa berbeda dari satu orang ke
orang lain. Beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara
lain (1) konteks dimana tanda itu bekerja. Konteks inilah
yang menimbulkan makna konotatif dan denotatif dari tan-
da; (2) cara tanda diciptakan yang menghasilkan metafor dan
metonimi; dan (3) cara memahami tanda yang terdiri dari
analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik (Berger, 1982:
19-34).
Fungsi lainnya dari tanda adalah mencapai suatu tujuan.
Untuk kepentingan si pembicara (komunikator), fungsi tanda
berfungsi (1) untuk menyadarkan (sense) pendengarnya akan
sesuatu yang dinyatakannya untuk selanjutnya supaya me-
mikirkannya, (2) untuk menyatakan perasaan (feeling) atau
sikap dirinya terhadap suatu obyek, (3) untuk memberitahu-
kan (convey) sikap sang pembicara terhadap khalayaknya, dan
Teori Wacana 23

(4) untuk menunjukkan tujuan atau hasil yang diinginkan


oleh si pembicara atau penulis, baik disadari atau tidak disa-
dari (Berger, 1982 : 19-34).
Bagi kepentingan pendengar (receiver), tanda berfungsi (1)
menunjukkan (indicating) pusat perhatian, (2) memberi ciri
(characterizing), (3) membuat dirinya sadar akan permasalah-
an (realizing), (4) memberi nilai (valuing) positif atau negatif,
(5) mempengaruhi (influencing) khalayak untuk menjaga
atau mengubah status-quo, (6) untuk mengendalikan suatu
kegiatan atau fungsi, dan (7) untuk mencapai suatu tujuan
(purposing) yang ingin dicapainya dengan memakai kata-kata
tersebut (Berger, 1982 : 19-34).
Dalam praktiknya, tidak berlebihan jika disimpulkan
bahwa penggunaan tanda itu tiada lain karena kita memiliki
tujuan. Karena kita ingin menyampaikan dan atau menca-
pai sesuatu, dalam kegiatan komunikasi tentunya, maka kita
gunakan tanda. Terkait dengan ini saya merumuskan bahwa
hubungan antara penggunaan tanda (lambang), obyek (se-
bagai rujukan) dan tujuan dalam sebuah formula yang saya
sebut formula Larutan, seperti tampak dalam Gambar I-5.
Oleh karena setiap tanda cenderung memiliki makna
yang berbeda-beda apalagi jika dikaitkan dengan konteks-
nya, bahkan penggunaannya memiliki tujuan, maka men-
urut perspektif komunikasi sebagai wacana penggunaan
tanda (ikon, indeks, simbol) harus dipertimbangkan secara
24 Wacana

Gambar I-5: Hubungan antara lambang, rujukan, dan tujuan (Larutan)


RUJUKAN

LAMBANG TUJUAN

cermat sesuai dengan makna yang hendak diciptakan dan


tujuan yang akan dicapai. Lebih-lebih jika hal ini dikaitkan
dengan pengembangan posisioning produk (untuk dunia
pemasaran) dan citra lembaga (untuk dunia public relations),
misalnya.
Itulah sebabnya kita dapat memahami mengapa dunia
komunikasi pemasaran umumnya dan periklanan khusus-
nya yang memiliki tujuan promotif paling banyak memakai
perspektif komunikasi yang satu ini. Dalam rangka men-
ciptakan posisioning suatu produk, mereka memilih ben-
tuk, logo, dan merek produk tertentu. Mereka hanya meng-
gunakan tanda termasuk gambar, kata, kalimat, lagu, dan
musik yang dianggap mewakili selera target pasar mereka.
Para pengiklan menyadari betul bahwa komunikasi pe-
masaran tidaklah dimaksukan sebatas mengirimkan pesan
tentang adanya produk; melainkan lebih ditujukan untuk
menanamkan makna tertentu di benak khalayak mengenai
Teori Wacana 25

produknya tersebut.
Baik juga diketahui bahwa semiotika juga menaruh per-
hatian pada isu ideologi. Yang dimaksud ideologi di sini
tidaklah selalu ideologi dalam bentuk teori besar semacam
susunan filsafat yang diterima secara umum, tetapi ideologi
dalam arti semiotik, yakni titik tolak orang (term of refer-
ence) untuk melakukan produksi dan interpretasi pesan.
Pierce yang menamakannya dengan leading principle, yakni
sesuatu yang dianggap sebagai nilai moral dari suatu sim-
bol. Prinsip inilah yang mengatur mekanisme penalaran
seseorang (Zoest, ibid.). Sedangkan Barthes menyebutnya
dengan mitologi (Barthes, 1993: 111).
Dalam perspektif semiotika, “ideologi” itu diasumsikan
menguasai budaya sebuah kelompok pemakai tanda. Dalam
ideologi itu terdapat sejumlah anggapan dasar yang meng-
atur penggunaan tanda. Ideologi itulah yang menentukan
visi atau pandangan suatu kelompok budaya terhadap reali-
tas yang diwujudkan melalui pemakaian tanda. Karenanya
berbicara tanda (simbol) juga berbicara tentang ideologi.
Untuk menemukan ideologi (baca, leading principle atau
mitologi) dalam suatu sistem tanda perlu diketahui konteks
dimana tanda itu berada berdasarkan budaya si pemakai
tanda. Sebab, sebuah tanda dapat berubah-ubah maknanya
sesuai konteksnya, baik konteks kalimat, waktu, tempat,
maupun budaya si pemakai tanda. Sebuah simbol akan
26 Wacana

berubah maknanya bahkan dalam salah satu konteks (waktu


atau tempat) yang relatif sama tapi dalam konteks budaya
pemakaian tanda yang berbeda. Konteks di sini juga dapat
berupa konteks bahasa verbal dan non-verbal; linguistik dan
non-lingusitik (Sudjiman dan Zoest, Ibid, hal. 94)
Untuk strategi framing atau praktik pemilahan dan
pemilihan fakta yang (tidak) akan dimasukkan kedalam
wacana merupakan hal yang tak terelakkan dalam mem-
buat wacana. Penyebabnya, di satu sisi, karena fakta yang
terkait dengan realitas sering lebih banyak dibandingkan
dengan tempat dan waktu yang tersedia. Karena itu fakta
harus dipilah dan dipilih mana yang akan dimasukkan
kedalam wacana dan mana yang dikeluarkan dari wacana.
Di sisi lain, pemilah­an dan pemilihan itu dilakukan ber-
dasarkan pertimbangan tertentu yang digunakan oleh si
pembuat wacana, baik faktor internal maupun eksternal
sebagaimana akan dibahas nanti.
Dari aspek teknis, di dunia media massa, pemilahan dan
pemilihan fakta pertama-pertama dilandasi oleh pertimbang­
an waktu dan tempat. Media cetak memiliki keterbatasan-
keterbatasan kolom dan halaman; sementara pada media
elektronik terbatas dalam durasi dan jadwal siaran. Karena
itu jarang ada media yang mewacanakan peristiwa secara
utuh mulai dari detik pertama kejadian hingga ke detik pa­
ling akhir.
Teori Wacana 27

Iklan cetak ini merupakan wacana dari


jenis tulisan (text) Foto: istimewa

Poster film, sebagai wacana dari jenis teks


(text). Foto: istimewa
28 Wacana

Salah satu bentuk wacana dari jenis ucapan (talk) adalah pembicaraan yang disampai-
kan dalam pidato. Foto: istimewa
Teori Wacana 29

Untuk pemberitaan, atas nama kaidah jurnalistik, peris-


tiwa yang panjang, lebar, dan rumit, dicoba “disederhana-
kan” berdasarkan kelaziman yang berlaku pada pembuatan
berita, dalam kemasan struktur piramida terbalik. Dalam
kegiatan promosi seperti periklanan, pembiangkaian fakta
dilakukan sesuai kebiasaan dalam komunikasi pemasaran,
yang menonjolkan keunggulan-keunggulan produk dan
menutupi kelemahan-kelemahannya.
Begitulah seterusnya, dalam setiap kegiatan pembuatan
wacana kita membingkai fakta sesuai aturan yang berlaku
dalam bentuk dan jenis wacana tersebut. Kita memilah dan
memilih fakta tatkala kita membuat wacana dalam bentuk,
jenis dan wujud apapun.
Pertanyaannya: kesatu, fakta-fakta apa saja yang diseleksi
dalam proses strategi framing ini? Inilah jawabannya. Per-
tama, setiap jenis wacana memiliki tuntutan atas fakta yang
dimasukkan atau dikeluarkan dari wacana. Kedua, jika fak-
ta itu sudah tersedia sesuai dengan tuntutan jenis wacana,
sikap si pembuat wacana ikut menentukan dimasukkan atau
dikeluarkannya fakta dari wacana. Ketiga, jika fakta yang di-
tuntut sebuah wacana yang akan dibuatnya belum tersedia,
si pembuat wacana akan berniat dan berusaha mencari fakta
yang akan dimasukkan atau dikeluarkannya dari wacana.
Untuk penulisan berita misalnya, fakta-fakta itu sekurang-
kurangnya meliputi 5W + 1H, yakni apa (what), siapa (who),
30 Wacana

dimana (where), kapan (when), kenapa (why) dan bagaimana


(how). Fakta inilah yang akan dimasukkan kedalam wacana.
Walaupun demikian, si pembuat wacana tidak akan me-
masukkan semua fakta itu, melainkan masih akan memilih­
nya dari setiap fakta tersebut. Ambillah kegiatan seminar
sebagai contoh peristiwa yang akan dikonstruksikan. Fakta
yang terjadi di seputar peristiwa seminar ini tentu amatlah
banyak:
• Fakta terkait apa (what): tema seminar, makalah, peralatan
seminar, hasil seminar,
• Fakta terkait siapa (who): para pembicara, moderator, pe-
serta, panitia, wartawan, dsb.
• Fakta terkait dimana (where): tempat seminar (gedung
pertemuan, hotel, atau square) dan lokasi (jalan, kota).
• Fakta terkait kapan (when): jam, hari, bulan, tahun, saat
pendaftaran peserta, waktu pembukaan, jeda ishoma, kala
penutupan, dsb.
• Fakta terkait mengapa (why): latar belakang seminar, tu-
juan, sasaran, dsb.
• Fakta terkait bagaimana (how): situasi berlangsungnya
seminar, kejadian khusus, jumlah yang hadir, dsb.

Dari sekian banyak fakta tersebut, secara otomatis se­


orang wartawan akan menyeleksi fakta apa saja yang akan
dimasukkan kedalam berita yang dibuatnya. Berdasarkan
Teori Wacana 31

alasan teknis jurnalistik, hanya fakta yang memiliki news


values yang akan dimasukkan kedalam naskah berita. Dari
contoh fakta-fakta itu, biasanya yang dimasukkan kedalam
berita adalah tema seminar dan hasil seminar (tidak untuk
peralatan seminar); pembicara-pembicara yang sudah kon­
dang saja yang dikutip (kasihan yang belum punya nama);
nama kota dan gedung publik (jarang sekali nama-nama
tempat komersial disebutkan); nama hari, bulan, dan tahun
(tidak jam dan menitnya), tujuan seminar (jarang disebut-
kan sasarannya) dan masalah yang banyak disorot (ditambah
dengan cerita kejadian khsusus seperti debat seru, kehadiran
orang penting atau terkenal, peristiwa lucu jika ada)
Tetapi jika keberpihakan yang menjadi alasan maka fakta
yang dipilih pun lain lagi. Bisa saja dalam seminar itu ha-
dir seorang pembicara yang cukup terkenal. Tetapi karena
wartawan dan atau editornya tak suka dengan orang itu,
pendapat sang pembicara tidak dikutip sama sekali. Bahkan
namanya saja kadang tidak dicantumkan. Itulah yang na-
manya praktik framing berdasarkan pemihakan.
Kalau ditanyakan kepada para pembuatnya, apakah be-
rita yang mereka hasilkan sudah obyektif, maka dapat dipas­
tikan bahwa mereka akan menyatakan bahwa berita yang
dibuatnya telah memenuhi prinsip-prinsip etika jurnalistik
sambil menolak jika dikatakan tidak etis. Betulkah jawaban
mereka?
32 Wacana

Dalam kejadian sesungguhnya, tidak jarang media massa


memihak pada salah satu pihak. Dalam sebuah kejadian
yang melibatkan dua pihak yang berkepentingan, sebagai
sebuah ilustrasi, terdapat fakta yang menunjukkan bahwa
kebenaran dan kesalahan yang dimiliki A dan B sama-sama
10 buah. Namun dalam pemberitaannya, koran X memuat
9 kebenaran si A, dan 1 kesalahannya; sementara untuk si
B dilakukan hal yang sebaliknya. Adapun koran Y meng­
ungkapkan kebenaran si B sebanyak 9 sedangkan untuk ke-
salahannya 1 buah; sedangkan untuk si A, koran Y melaku-
kan hal yang sebaliknya. Kalau diukur dari faktualitas dan
cover both side, jelas sudah memenuhi dua kriteria ini. Tapi
bagaimana dengan makna jumlah penyajian fakta yang ber­
beda di antara kedua koran ini? Di sinilah menarik penting-
nya memahami komunikasi sebagai wacana.
Bagaimana jika seorang wartawan berencana membuat
berita mengenai suatu perkara, katakanlah mengenai pen-
tingnya pluralisme keberagamaan di Indonesia? Jelas di sini
wartawan akan mencari fakta yang cocok secara teknik jur-
nalistik di satu sisi, dan cocok dengan kepentingan internal
dan eksternal medianya di sisi lain. Dia akan memilih satu
atau lebih nara sumber yang dianggapnya memenuhi per-
syararatan frame yang ia miliki; dan dia juga akan memilih
pendapat-pendapat nara sumber yang menyokong penting-
nya pluralisme tersebut. Pendapat yang tidak memenuhi
Teori Wacana 33

frame topik tulisan ini, tidak dimasukkan. Apalagi nara


sumber yang tidak setuju dengan pluralisme, untuk dipilih
sebagai calon nara sumber berita saja mungkin tidak ada da-
lam daftar si penulis.
Secara prinsip, praktik framing seperti ini terjadi pula
dalam pembuatan wacana-wacana lain. Para pembuatnya
senantiasa terlibat dalam pemilihan fakta baik atas dasar
tuntutan teknis wacana yang akan diciptakannya, maupun
karena faktor motivasi internal dan tekanan eksternal ter-
hadap si pembuat wacana. Si pembuat wacana hanya akan
memasukkan fakta yang cocok dengan format wacana yang
akan dibuatnya.
Kedua, dalam bentuk apakah fakta yang akan diseleksi da-
lam proses strategi framing ini untuk sebuah wacana? Jawa-
bannya, secara garis besar bisa berupa fakta verbal dan fakta
non-verbal. Dalam wacana berbentuk text dan talk, fakta
yang dominan adalah fakta verbal. Untuk wacana tulisan,
faktanya berupa nama-nama dan pernyataan yang tertulis.
Untuk wacana yang ucapan, faktanya berupa nama-nama
dan pernyataan yang diucapkan. Sedangkan dalam wacana
berbentuk act dan artefact, fakta yang dominan adalah fakta
non-verbal. Untuk wacana tindakan, faktanya berupa gera-
kan-gerakan yang dilakukan. Untuk wacana jejak, faktanya
berupa ikon dan simbol yang ditinggalkan.
Konsep framing sendiri pada awalnya dipakai untuk me-
34 Wacana

mahami anggota masyarakat mengorganisasikan pengalaman-


nya sewaktu melakukan interaksi sosial. Yang menjadi acuan
dalam frame itu tiada lain adalah aturan dan norma sosial.
Dalam hidup ini, berdasarkan nilai dan norma sosial kita me-
nangkap apa yang terjadi, memberinya arti, dan atas dasar itu
kita melakukan tindakan sosial (Lebih lanjut, lihat Poloma,
1994 : 247-248; atau selengkapnya baca, Goffman, 1974).
Selain konsep framing, dunia media massa, mengenal juga
konsep ”strategi informasi” terutama dalam pembuatan be­
rita. Dalam bukunya, News As Discourse (1988) van Dijk,
menggunakan istilah ini ketika wartawan memilih informasi
dalam pembuatan berita. Apapun konsep yang digunakan,
jelas kiranya bahwa karena fakta atau informasi yang ada da-
lam sebuah wacana merupakan hasil seleksi, maka fakta yang
terdapat di dalam wacana itu merupakan fakta pilihan–atas
dasar frame tertentu— dan telah menyisihkan fakta lain yang
tidak dimasukkan kedalamnya.
Adapun strategi priming adalah strategi mengatur ruang
atau waktu untuk pemublikasian wacana di hadapan kha-
layak. Masalah utama dalam strategi priming adalah apakah
sebuah wacana akan dipublikasikan atau tidak? Jika ya, be-
berapa isu ikutannya adalah:
Terkait dengan ruang, di ruang mana wacana itu dipu­
blikasikan? Seberapa luas wacana itu diberi tempat? Apakah
wacana itu dipublikasikan di ruang utama dan mudah di-
Teori Wacana 35

Aksi demontrasi mahasiswa merupakan salah satu bentuk wacana


dalam bentuk gerak (act). Foto: istimewa.

Aksi demontrasi merupakan salah satu bentuk wacana dalam bentuk


gerak (act). Foto: istimewa.
36 Wacana

Bangunan/gedung sebagai salah satu bentuk wacana jenis artefak.


Foto: istimewa.
Teori Wacana 37

jangkau ataukah di ruang yang tersembunyi dan sulit di­


lihat? Apakah wacana itu yang dipublikasikan ulang di tem-
pat yang sama dan atau di tempat lain baik dalam versi yang
sama ataupun dengan versi yang berbeda?
Terkait dengan waktu kapan wacana itu akan dipubli­
kasikan? Berapa durasi yang diberikan untuk wacana itu?
Apakah wacana itu dipublikasikan dalam waktu luas sehing-
ga khalayak banyak memperhatikannya ataukah pada waktu
sempit yang membuat khalayak luput untuk memperhati-
kannya? Apakah wacana itu yang dipublikasikan ulang di
waktu lain baik dalam versi yang sama ataupun dengan versi
yang berbeda?
Dalam praktik media massa, praktik penonjolan isu ini
terlebih dahulu dikenal dengan teori agenda setting (DeFleur
dan Ball-Rekoeach, 1989 : 264-265). Asumsi teori ini adalah
perhatian masyarakat terhadap suatu isu sangat bergantung
pada kesediaan media massa memberi tempat pada isu itu.
Semakin besar tempat yang diberikan oleh media massa se-
makin besar pula perhatian yang diberikan oleh khalayak.
Menurut teori ini, media dianggap mampu menentukan
agenda yang diperhatikan khalayak, sehingga media dinilai
memiliki peran sebagai agenda setter. Bila satu media apa­lagi
sejumlah media menaruh sebuah isu sebagai head-line maka
diasumsikan isu itu pasti memperoleh perhatian yang sangat
besar dari khalayak. Pemandangan ini tentu berbeda jika isu
38 Wacana

itu dimuat di halaman dalam, di pojok bawah pula. Fak-


tanya pula, khalayak jarang memperbincangkan isu yang
tidak dimuat oleh media, yang boleh jadi isu itu justru
sangat penting untuk masyarakat.
Karena itu dalam teori agenda setting, media massa di­
pandang berkekuatan besar (powerfull) dalam mempenga-
ruhi persepsi masyarakat. Apa saja yang disajikan media, hal
itu pula yang menjadi ingatan mereka.
Peran agenda setter ini sesungguhnya berlaku lebih luas
dari sekadar apa yang bisa dilakukan media massa. Setiap
konstruktor realitas, dari level individu, kelompok, organi-
sasi, hingga masyarakat, dapat menonjolkan atau menyem-
bunyikan suatu isu. Jika seseorang sebagai contoh tidak mau
membicarakan suatu topik, yang berarti tidak memberinya
waktu dan tempat untuk topik tersebut, maka topik itu ti-
dak akan menjadi perhatian dengan kawan/lawan komuni-
kasinya. Hal ini akan terjadi pula jika kelompok, organisasi,
dan masyarakat melakukannya.
Adapun mengenai faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi pembuatan wacana itu mencakup tiga fak-
tor. Seperti telah disinggung (lihat kembali Gambar I-1)
pengolahan bahasa, pengungkapan fakta dan pengaturan
pemblikasian banyak dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) fak-
tor innocently yang mencakup kekurang-mampuan dan ke-
salah-pahaman; (2) faktor internality karena adanya minat
Teori Wacana 39

dan kepentingan; dan (3) faktor externality karena adanya


sponsor dan pasar.
Faktor innocently adalah faktor human error. Manusia
itu memiliki keterbatasan dalam menguasai realitas. Selaku
konstruktor, misalnya wartawan dan peneliti, belum ten-
tu bisa mendapatkan fakta mengenai sebuah realitas secara
lengkap tanpa ada yang terlewatkan barang secuilpun. Hal
ini disebabkan karena kekurang-mampuan kita untuk me­
ngendalikan realitas sepenuhnya di tangan kita. Panca indra
kita juga memiliki keterbatas untuk menangkat realitas,
disamping realitas itu sendiri boleh memiliki banyak dimen-
si. Selain itu, kerap kali karena kekurangan pengetahuan
dan pengalaman membuat kita salah memahami fakta-fakta
tentang suatu realitas.
Faktor internality terjadi karena ada minat dan kepen-
tingan untuk memihak pada seseorang atau sekelompok
orang. Minat dan kepentingan mungkin saja ada kaitannya
de­ngan nilai dan norma sosial yang dianut sang konstruktor.
Sebagai pribadi, seorang konstruktor tak dapat dipungkiri
jika memiliki minat dan kepentingan. Yang jelas, jika kedua
aspek ini muncul dalam pembuatan wacana, maka bahasa,
fakta, dan pemublikasian yang dipilih akan bersifat pembe-
laan kepada pihak yang mendapatkan simpati; bersifat me-
mojokkan kepada pihak yang tidak disukai.
Sedangkan faktor eksternality berupa tekanan dari luar.
40 Wacana

Dalam komunikasi antar individu, tekanan itu bisa datang


dari lingkungan sekitarnya atau justru dari kawan/lawan bi-
cara. Dalam lingkungan yang nyaman, pilihan bahasa, fakta
dan penyampaian cenderung lebih natural dibandingkan jika
lingkungannya menekan. Begitu pula dalam meng­hadapi ka-
wan/lawan bicara yang rasional dan argumentatif, pilihan ba-
hasa, fakta dan penyampaian akan berbeda kalau menghadapi
teman/lawan bicara yang emosional lagi konfrontatif.
Dalam praktik komunikasi melalui media massa (tepat-
nya dalam industri media) faktor eksternal itu berupa pemi-
lik modal, sponsor, dan tuntutan pasar. Seorang wartawan
sebuah media massa (surat kabar, majalah, radio, tv) misal-
nya tidak akan memilih bahasa, fakta dan cara pemublika-
sian yang memojokkan si pemilik media tersebut. Ia juga
tak akan sembarang menyerang pihak yang mensponsori
dan pemasang iklan di media tersebut. Setali tiga uang, ia
tidak akan menjelek-jelekkan konsumen media tersebut ka-
rena khalayak juga menjadi elemen penting dalam industri
media. Berkembang atau matinya sebuah media tergantung
pada besar kecilnya sponsor, pengiklan, dan konsumen;
disamping kuat lemahnya modal dari pemilik atau investor.
Dari uraian di atas kita bisa menegaskan dua hal. Perta-
ma, tidak ada wacana baik dalam bentuk text, talk, act, mau-
pun artefact, yang tidak bermaksud karena semuanya meru-
pakan hasil seleksi. Dalam pandangan komunikasi sebagai
Teori Wacana 41

wacana (communication as discourse) tidak ada discourse yang


terbentuk secara sembarang; melainkan merupakan hasil
pekerjaan sadar sejak dalam pemilihan kata, gambar, jenis
huruf, data, fakta, hingga waktu dan tempat pemublikasian.
Sedangkan argumen yang sering dilontarkan para pembuat
wacana, terutama setelah muncul pro-kontra di tengah ma-
syarakat, adalah apa yang telah dilakukannya semata-mata
hanya melaksanakan hak asasinya dalam mengekspresikan
kebebasan menyatakan pendapat.
Kedua, dibalik setiap wacana yang dihasilkan dari proses
konstruksi realitas tersebut terdapat tanda-tanda bahasa ha-
sil pilihan. Juga data atau fakta yang terpilih. Tak ketingga-
lan waktu dan tempat pemublikasian yang terpilih. Pilihan
ini merupakan indikasi adanya kepentingan dari pembuat
wacana. Realitas dibalik wacanalah yang mengantarkan kita
kepada analisis wacana, seperti yang akan dipaparkan pada
Bagian II buku ini.[]
42 Wacana
Teori Wacana 43

3
Jenis dan Bentuk Wacana

T
elah beberapa kali disebutkan ketika mengurai-
kan proses pembuatan wacana, bahwa wacana itu
mempunyai jenis dan bentuk. Ada empat jenis wa-
cana dengan beragam bentuknya:
• Text (teks) yaitu jenis wacana dalam wujud tulisan/grafis.
Bentuk-bentuk dari wacana jenis teks ini antara lain ��� su-
rat, e-mail, berita, features, artikel opini, puisi, lagu, cer-
pen, novel, iklan cetak (print ad), komik, dsb.
• Talk (percakapan) yaitu wacana dalam wujud ucapan.
Bentuk-bentuk dari wacana jenis percakapan ini antara
lain monolog, dialog, wawancara, obrolan, diskusi, iklan
radio, pidato, dsb.
• Act (tindakan) yaitu wacana dalam wujud gerak atau ke­
giatan. Bentuk-bentuk dari wacana jenis ini antara lain
pantomim, drama, tarian, film, defile, ���������������
iklan film, ���
de-
monstrasi, dsb.
• Artefact (artifak) yaitu wacana dalam wujud jejak sebagai
hasil perbuatan. Bentuk-bentuk dari wacana jenis ini antara
44 Wacana

lain bangunan, lanskap, fashion, patung, puing, dsb.


Keberadaan bermacam bentuk wacana ini dapat kita temu-
kan dalam media cetak (seperti novel), media audio (seperti
pidato), media visual (seperti lukisan), media audiovisual
(seperti film), di alam (seperti lanskap dan bangunan), atau
discourse/Discourse yang dimediasikan (seperti drama yang
difilmkan). Jadi tak selamanya discourse/Discourse itu berada
dalam bentuk media massa, apalagi hanya media cetak.
Yang penting disadari dari perspektif komunikasi sebagai
wacana adalah penggunaan tiga strategi pengkonstruksian
realitas (signing, framing, priming) manakala seorang kon-
struktor membuat satu atau lebih wacana. Menurut pers­
pektif ini semua aspek yang terdapat dalam wacana: bahasa,
fakta, penyiaran, telah diperhitungkan secara matang. Pers­
pektif ini percaya bahwa pembuatan wacana adalah perbua-
tan yang disadari oleh kreatornya.
Untuk penggunaan sistem tanda (verbal dan non-verbal), se-
perti tampak pula dalam Tabel 2, dalam wacana jenis teks (text)
dan percapakan (talk) kita akan banyak menggunakan simbol.
Dalam wacana berbentuk kegiatan (act) kita akan banyak mema-
kai tanda dalam bentuk indeks. Sedangkan dalam wacana dalam
bentuk jejak (artefact) kita akan banyak menggunakan tanda da-
lam bentuk ikon untuk membuat wacana. Mengenai jenis dan
bentuk-bentuk wacana ini kita akan bahas nanti.
Mengacu pada Tabel I-3 ini pula, sekarang kita dapat
Teori Wacana 45

Tabel I-3 : Penggunaan Tanda oleh Konstruktor Realitas (Dominan)


Ikon Indeks Simbol
Text Dalam bentuk kata,
angka dan gambar
tertulis
Talk Dalam bentuk kata,
angka, dan ilustrasi
terucapkan
Act Gerakan atau tindakan yang
menunjukkan makna obyek
yang dirujuknya
Artifact Jejak yang identik atau
serupa dengan obyek
yang dirujuknya

memahami bahwa bentuk tanda dalam surat, e-mail, berita,


features, artikel opini, puisi, lagu, cerpen, novel (bebera-
pa dari ragam wacana text) banyak dipenuhi oleh simbol
berupa kata tertulis; sedangkan dalam komik, kartun, buku
biologi merupakan beberapa dari ragam wacana text yang
banyak menggunakan simbol gambar. Adapun buku-buku
matematika, statistik, kimia, fisika, dan lagu banyak me-
makai simbol dalam bentuk angka.
Sudah jelas dalam monolog, dialog, wawancara, obro-
lan, diskusi, pidato (beberapa dari ragam wacana talk) di-
gunakan simbol-simbol dalam bentuk kata-kata, angka, dan
ilustrasi yang diucapkan. Sedangkan pantomim, drama, tar-
ian, film, defile, demonstrasi (beberapa dari ragam wacana
act) didominasi oleh gerakan yang menunjukkan makna
dari obyek yang dirujuknya. Dalam banyak aspek sebuah
46 Wacana

bangun­an, lanskap, fashion, puing, patung (beberapa dari


ragam wacana artefact) merupakan ikon dari suatu obyek
yang dirujuknya. Tetapi dalam beberapa aspek mereka men-
jadi indeks bahkan simbol dari realitas yang diwakilinya.
Seperti telah disinggung bahwa pemilihan tanda-tanda
bahasa untuk pembuatan wacana dipengaruhi oleh berba-
gai faktor internal maupun eksternal di pembuat wacana.
Tanda-tanda bahasa itu dipakai untuk mengemas fakta yang
akan dimuat kedalam wacana. Hal ini memberi kita penger-
tian bahwa dibalik bahasa yang dipakai (dibalik wacana) ter-
dapat realitas yang mengacu kepada kepentingan pemakai
bahasa atau pembuat wacana. Pengungkapan realitas dibalik
wacana inilah yang merupakan salah satu pekerjaan analisis
wacana.[]
Teori Wacana 47

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 1993. Mythologies, London : Vintage Books.


Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-Tanda dalam Kebudayaan
Kontemporer (terjemahan). Yogyakarta : Tiara Wacana.
Berger, Charles R. and Steven H. Chaffee, 1987. Handbook of
Communication Science. Newbury Park : Sage Publication.
Berger, Peter L. and Thomas Luckmann. 1967. The Social Con-
struction of Reality, NY : A Double Day Anchor Book
Cobley, Paul dan Litza Jansz. 1997. Semiotics for Beginners,
Cambridge : Icon Books.
Deaux, Kay and Gina Philogene. 2001. Representation of the
Social. Oxfor – NY: Blackwell Publisher.
DeFleur, Melvin dan Ball-Rokeach, Sandra. 1989. Theories of
Mass Communication (5th Edition) New York : Longman.
Eco, Umberto.1979. .A Theory of Semiotics, Bloomington :
Indiana University Press.
Fairclough, Norman. 1995b. Media Discourse. London : Ed-
ward Arnold.
Faules, Don F and Dennis C. Alexander. Communication and
48 Wacana

Social Behavior: A Symbolic Interaction Perspective, Reading,


Massachusetts: Addison Wesley Publishing Company
Fiske, John, 1990. Introduction to Communication Studies.
London and New York: Routledge
Foss, Sonja K, at.all. 1985. Contemporary Perspectives on Re-
thoric, Illinois : Waveland.
Gee, James Paul. 2005. An Introduction to Discourse Analysis,
Theory and Method. London – New York : Routledge.
Goffman, Erving. 1974. Frame Analysis, An Essay on the Or-
ganization of Experience, NY: Harper Colophon Books,
Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik di Media
Massa sebuah Study Critical Discourse Analysis Discourse.
Jakarta: Granit.
Kaelan, MS, Drs. 1998. Filsafat Bahasa, Masalah dan
Perkem­bangan­nya. Yogyakarta : Paradigma.
Langer, Sussane K. 1955. Philosophy in A New Key, Mentor Book.
Lippman, Walter. 1998. Opini Umum (terjemahan), Jakarta
: Yayasan Obor Indonesia,
Merril, Jhon C. 1974. The Imperative of Freedom, A Philosophy
Journalistic Autonomy (New York : Hastings House Publisher,
Mills, Sara.1997. Discourse. London and New York : Routledge.
Noth, Winfried, Handbook of Semiotic, 1990. Bloomington:
Indiana University Press.
O’Brien, Jodi and Peter Kolloc. 2001. The Production of Re-
ality, Boston: Pine Forge Press.
Teori Wacana 49

Ogden, C.K. and I.A Richard. 1989. The Meaning of Mean-


ing, Sandiego-New York-London: HJB Book.
Poloma, Margaret M. 1994. Sosiologi Kontemporer, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Pool, Ithiel de Sola at.al (editors) .1973. Handbook of Com-
munication. Chicago: Rand McNally.
Schiffrin, Deborah, at.al. editors. 2003. The Handbook of
Discourse Analysis. Oxford: Blackwell Publishing.
Shoemaker, Pamela J. dan Reese, Stephen D. 1996. Medi-
ating The Message, Theories of Influence on Mass Media
Content, (2nd Edition), NY: Longman Publisher.
Siebert, Fred S. at.al, 1986. Empat Teori Pers (alihbahasa
Putu Laxman Senjaya Pendit). Jakarta : PT. Intermasa.
Sudjiman, Panuti dan Aart van Zoest (ed.), Serba-Serbi Se-
miotika, Jakarta : Gramedia, 1992.
Tuchman, Gaye. 1980. Making News, A Study in the Construc-
tion of Reality, NY : The Free Press.
Zoest, Aart van, Semiotika, Jakarta : Yayasan Sumber Agung 1993.

Anda mungkin juga menyukai