Anda di halaman 1dari 8

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Long Case
OKTOBER 2012

INVAGINASI

OLEH :
Nasrun
A.Mutia
Andi Fitria Azis
Putri A.Michiko
Mahafendy S.Tukan
Anita Febriani
PEMBIMBING
dr. Agustinus
Supervisor
Prof . dr. Farid Nur Mantu, Sp.B, Sp.BA
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

INVAGINASI
Nasrun, A.Mutia, Andi Fitria Azis, Putri A.Michiko, Mahafendy S.Tukan, Anita Febriani,
Agustinus, Farid Nur Mantu

Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar


Abstrak
Invaginasi ialah suatu keadaan masuknya suatu segmen usus ke segmen bagian distalnya
yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. Biasanya bagian proksimal
masuk ke distal dan jarang terjadi sebaliknya. Bagian usus yang masuk disebut intussusceptum
dan bagian yang menerima dinamakan intussuscipiens. Oleh karena itu, invaginasi disebut juga
intussusception. Saat invaginasi terjadi, akan terbentuk obstruksi pada usus besar dimana
dinding usus akan menekan bagian lainnya. Invaginasi terjadi karena adanya sesuatu di usus
yang menyebabkan peristaltik berlebihan, biasanya terjadi pada anak-anak tetapi dapat juga
terjadi pada dewasa. Pada anak-anak 95% penyebabnya tidak diketahui, hanya 5% yang
mempunyai kelainan pada ususnya sebagai penyebabnya, misalnya diiverticulum Meckeli, polip,
hemangioma. Sedangkan invaginasi pada dewasa terutama disebabkan oleh tumor.
Perbandingan kejadian antara pria dan wanita adalah 3 : 2 , pada orang tua sangat jarang
dijumpai.
Kata Kunci : Invaginasi, peristaltic yang berlebihan, anak
Abstract
Invagination is condition to the entry of a segment of the bowel segment distal portion
generally will end up with intestinal strangulation obstruction. Usually the proximal and distal
into rare otherwise. Parts of the instetine and the incoming called instussusception. When
invagination occurs, would form an obstruction in the colon where the bowel wall will hit other
parts. Invagination occurs because that something in instestine that causes excessive peristaltic,
usually occur in children but can also occur in adults. In children 95 % of the cause is unknown,
only 5 % have abnormalities in the gut as a cause, for example diverticullum meckell, polyps,
hemangioma, when invagination in adults is mainly occur caused by tumor. Comparison of the
incidence between men and women is 3 : 2, the parents are very rarely encountered
Key word : invagination , excessive peristaltic, children

Laporan Kasus. Invaginasi, October 2012

I.

Pendahuluan

Invaginasi atau intususepsi adalah keadaan dimana suatu segmen usus masuk ke dalam
lumen usus lainnya yang merupakan penyebab tersering terjadinya obstruksi usus. Invaginasi
pada anak biasanya bersifat idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Sekitar 65% terjadi
pada bayi yang berusia kurang dari setahun, dengan insiden puncak terjadi antara bulan ke-5 dan

ke-9 kehidupan1. Sedangkan pada dewasa, invaginasi cukup jarang terjadi, kurang dari 5 % dari
kasus obstruksi usus.2
Invaginasi pertama kali ditemukan oleh Barbette pada tahun 1692. Hingga pertengahan abad
ke-19, invaginasi hampir berakibat fatal karena tidak adanya penanganan yang memadai. Sejak
zaman Hippocrates sudah dikenal pengobatan penyakit ini dengan enema atau memompakan
udara dalam anus. Pada tahun 1905 Hirschsprung membuat laporan tentang penggunaan tekanan
hidrostatik sebagai pengobatan invaginasi. Pengobatan dengan pembedahan yang dilaporkan
pertama kali berhasil adalah Thomson 1835 di Tennessee. 1
Invaginasi ini merupakan keadaan gawat darurat, dimana bila tidak ditangani segera dan
tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Hampir 70% kasus invaginasi terjadi pada
anak-anak umur kurang dari 1 tahun, paling sering dijumpai pada ileosekal. Invaginasi sangat
jarang dijumpai pada orang tua.3
Ada perbedaan etiologi yang mencolok antara anak-anak dan dewasa, pada anak-anak
etiologi terbanyak adalah idiopatik yang mana lesinya tidak ditemukan sedangkan pada dewasa
penyebab terbanyak adalah keadaan patologik intralumen oleh suatu neoplasma baik jinak
maupun ganas sehingga pada saat operasi lesinya dapat ditemukan. 3
II.

Laporan Kasus

Seorang anak perempuan 8 bulan masuk rumah sakit dengan keluhan utama BAB bercampur
darah dan lendir yang BAB bercampur darah serta lendir dialami sejak 2 hari SMRS,awalnya
pasien BAB encer 2 x sejak 3 hari SMRS. Pasien di bawa ke Rs.bulukumba selama 2 hari dan di
diagnosa invaginasi. Riwayat muntah (+) berwarna kuning. Riwayat demam (+) riwayat makan
bubur umur 7 bulan. Tidak ada kelainan dalam riwayat antenatal,intranatal dan postnatal
Dari pemeriksaan fisis didapatkan status generalis sakit sedang/gizi cukup/compos mentis.
Status vitalis HR 112x/mnt, RR : 28x/mnt, S : 36,8 oC. Status lokalis regio abdomen pada inpeksi
tampak cembung ikut gerak napas, distended (+), Auskultasi peristaltik (+) kesan meningkat,

palpasi : nyeri tekan (-) teraba massa di daerah lumbal dextra , perkusi : timpani. Hasil
pemeriksaan laboratorium menunjukkan semua test dalam batas normal. Dari pemeriksaan foto
BNO dijumpai gambaran distribusi udara dalam usus tidak merata dan terdapat gambaran air
fluid level (Gambar1). Pemeriksaan USG abdomen menunjukkan sesuai dengan invaginasi
colocolia (colon descendens) disertai ascites (minimal), (gambar 2).
Gambar 1. foto BNO

Kesan : Gambaran distribusi udara dalam usus tidak merata dan terdapat gambaran air fluid
level
Gambar 2. USG Abdomen

Kesan:
Sesuai dengan invaginasi colocolia (colon descendens) disertai ascites (minimal).
Dari hasil pemeriksaan penunjang tersebut maka disimpulkan anak menderita invaginasi

Untuk penatalaksanaan invaginasi pengobatannya perbaikan keadaan umum mutlak perlu


dilakukan sebelum melakukan tindakan apapun, yaitu : pemasangan Nasogastric tube untuk
dekompresi dan mencegah aspirasi, rehidrasi, khususnya pada pasien anak-anak, obat-obat
penenang untuk penahan sakit. Setelah keadaan umum baik, dilakukan tindakan pembedahan,
bila jelas terdapat tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi dengan barium
enema bila tidak terdapat kontraindikasi misalnya perforasi atau iskemik.
Jika reposisi konservatif ini tidak berhasil, terpaksa diadakan reposisi operatif. Sewaktu
operasi akan dicoba reposisi manual yaitu reduksi intraabdominal ). Invaginasi bila mungkin
direduksi intraabdominal dengan melakukan milking mulai dari usus distal sampai ke usus
bagian proksimal. Milking merupakan suatu tindakan pembedahan dengan cara melakukan
massage manual dengan mendorong inavaginatum secara perlahan dan terus menerus tanpa
tarikan dari distal usus yang mengalami invaginasi ke arah proksimal sampai terjadinya reduksi
ke posisi normalnya. Milking dilakukan secara perlahan terutama pada bagian proksimal usus
yang invaginasi.4
Tindakan operasi merupakan penatalaksanaan standar pada invaginasi yang terjadi pada
dewasa tanpa didahului oleh tindakan reduksi. Reseksi usus dilakukan apabila pada kasus yang
tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila viabilitas usus diragukan atau ditemukan
kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari
tepi tepi segmen usus yang terlibat, pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari
lesi. Setelah usus direseksi dilakukan anastomose end to end apabila hal ini memungkinkan, bila
tidak mungkin maka dilakukan enterostomi.5
III.

Pembahasan

Invaginasi adalah keadaan yang umumnya terjadi pada anak-anak, dan merupakan kejadian
yang jarang terjadi pada dewasa. Invaginasi pada dewasa kausa terbanyak adalah keadaan
patologi pada lumen usus, yaitu suatu neoplasma baik yang bersifat jinak dan atau ganas. Sebab
terbanyak invaginasi pada usus halus adalah neoplasma yang bersifat jinak (diverticle meckels,
polip) 12/25 kasus sedangkan pada kolon adalah bersifat ganas (adenocarsinoma)14/16 kasus.
Etiologi lainnya yang frekuensinya lebih rendah seperti tumor extra lumen seperti limfoma,
diare, riwayat pembedahan abdomen sebelumnya, inflamasi pada apendiks juga pernah
dilaporkan invaginasi terjadi pada penderita AIDS, trauma tumpul abdomen yang tidak dapat
diterangkan sebab terjadinya dan idiopatik.
Invaginasi paling sering menyebabkan obstruksi usus pada anak-anak antara 3-6 tahun. Lebih
dari 90 % adalah idiopatik 2 . Ileo-colica yang paling banyak ditemukan (75%), ileo-ileo colica
15%, lain-lain 10%, paling jarang tipe appendical-colica. Invaginasi sering dijumpai pada umur 3
bulan 2 tahun, paling banyak 5- 9 bulan. Prevalensi penyakit diperkirakan 1-2 penderita di
antara 1000 kelahiran hidup. Anak lelaki lebih banyak daripada perempuan, 3 : 1. Pada umur 5-9
bulan sebagian besar belum diketahui penyebabnya. Penderita biasanya bayi sehat, menyusui,
gizi baik dan dalam pertumbuhan optimal. Ada yang menghubungkan terjadinya invaginasi
karena gangguan peristaltik, 10% didahului oleh pemberian makanan padat dan diare. 6
Pada dewasa, invaginasi cukup jarang terjadi, kurang dari 5 % dari obstruksi usus. Dalam
populasi anak-anak, sekitar 90 % invaginasi pada orang dewasa disertai dengan lesi patologis
pada dinding usus. Penelitian terbaru menunjukkan 30 % dari invaginasi pada usus halus
disebabkan oleh keganasan. Dan sebagian besar invaginasi pada colon bersifat malignant (60%).2
Invaginasi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan penyebabnya yaitu : 1,2
Lokasi : ileoileal, Ileocolica, Ileocecal dan Colocolica
Penyebab : neoplasma, non-neoplasma dan idiopatik
Mekanisme invaginasi sebenarnya belum diketahui, diperkirakan terdapat lesi pada dinding
usus atau iritasi dalam lumen yang mempengaruhi aktivitas peristaltik normal usus yang dapat

memicu terjadinya invaginasi. Tempat yang paling sering terjadi invaginasi adalah pada
peralihan antara segmen yang bebas bergerak dan retroperitoneal atau segmen adhesi. 5
Secara umum, invaginasi terjadi karena bagian atas usus yang disebut intususeptum
mengalami invaginasi ke bawah, intususipiens sambil menarik mesenteriumnya bersama-sama
memasuki lumen yang pembungkusnya. Pada mulanya terdapat suatu konstriksi mesenterium
sehingga menghalangi aliran balik vena, selanjutnya terjadi pembengkakan invaginasi terjadi
akibat edema dan perdarahan mukosa yang menghasilkan tinja mengandung darah, kadang
kadang mengandung mukus (lendir). Puncak dari invaginasi dapat terbentang hingga kolon
tranversum desendens dan sigmoid bahkan ke anus pada kasus yang terlantar. Setelah suatu
invaginasi idiopatik dilepaskan, maka bagian usus yang membentuk puncaknya tampak edema
dan menebal, sering disertai suatu lekukan pada permukaan serosa yang menggambarkan asal
dari kerusakan tersebut. Kebanyakan invaginasi tidak menimbulkan strangulasi usus dalam 24
jam pertama, tetapi selanjutnya mengakibatkan gangren usus dan syok.3,4
Komplikasi pada invaginasi yaitu :

Perdarahan Gastrointestinal, baik dari ulserasi ileum atau dari trauma mekanik yang
menyebabkan invaginasi

Obstruksi yang bisa menyebabkan perforasi

Septikemia

Syok

IV.

Kesimpulan

Apabila ditemukan feses yang bercampur darah pada anak perlu dipikirkan kemungkinan
terjadinya suatu invaginasi. Melalui diagnosis dan terapi dini akan dicapai prognosis yang lebih

baik. Pemeriksaan penunjang lain seperti foto BNO dan USG Abdomen pada kasus kami,
diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti invaginasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arifin S.Z., Abbas N., Aziz T., Invaginasi [Online] 2005 [cited 2010 April 25].
Available from : URL :
http://www.yenisymposium.net/fulltext/2005(4)/ys2005_43_4_5.pdfhttp://www.kalbe.c
o.id/files/cdk/files/14_Invaginasi.pdf/14_Invaginasi.html
2. Waugh A., Grant A., Anatomy and Physiology in Health and Illness. Ninth edition.
Churchill Livingstone. 2004. British. p 331-32
3. Netter F.H., Atlas of Human Anatomy. Second edition. Learning system. 2001. USA.
p 261-67
4. Norton J.A, Bollinger R.R. et al. Surgery Basic Science and Clinical Evidence. 2000.
p 2080-81
5. Dolinak D., Matshes E.W., Lew E.O., [Online] [cited 2010 April 25]. Available from :
URL: http://emedicine.medscape.com/article/930708-diagnosis
6. Maconi G., Porro G.B.,Ultrasound of the Gastrointestinal Tract. 2007. Italy. p 48-52