Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Ovarium merupakan sepasang organ pada sistem reproduktif wanita. Berlokasi di


pelvis, di samping uterus, yang mana adalah cekungan, berbentuk seperti buah peer pada bayi
yang sedang tumbuh. Masing-masing ovarium ukuran dan bentuknya seperti buah kenari.
Ovarium menghasilkan sel telur dan hormon wanita. Hormon merupakan bahan kimia yang
mengontrol jalannya fungsi dari sel dan organ tertentu.
Setiap bulan, selama siklus menstruasi, sebuah sel telur dikeluarkan dari satu ovarium
dalam proses yang disebut ovulasi. Perjalanan sel telur dari ovarium melalui tuba falopii
menuju ke uterus. Ovarium juga merupakan sumber utama dari hormon wanita yaitu estrogen
dan progesteron. Hormon-hormon ini mempengaruhi perkembangan dari payudara wanita,
bentuk tubuh, dan rambut tubuh. Hormon-hormon ini juga mengatur siklus menstruasi dan
kehamilan.
Kista adalah rongga patologis yang biasanya berdinding jaringan ikat dan berisi cairan
kental atau semi liquid. Kista dapat berada dalam jaringan lunak atau pun keras seperti
tulang. Rongga kista di dalam rongga mulut selalu dibatasi epitel.
Kista merupakan kantung yang berisi cairan dan dapat berlokasi di bagian mana saja
dari tubuh. Pada ovarium, tipe kista yang berbeda dapat terbentuk. Tipe kista ovarium yang
paling umum dinamakan kista fungsional, yang biasanya terbentuk selama siklus menstruasi
normal. Setiap bulan, ovarium seorang wanita tumbuh kista kecil yang menahan sel telur.
Ketika sebuah sel telur matur, kantung membuka untuk mengeluarkan sel telur, sehingga
dapat berjalan melewati tuba falopii untuk melakukan fertilisasi. Kemudian kantung pecah.
Salah satu tipe dari kista fungsional, ada yang dinamakan kista folikular, kantung ini tidak
terbuka untuk mengeluarkan sel telur tapi terus tumbuh. Kista tipe ini biasanya akan
menghilang setelah satu sampai tiga bulan. Kista korpus luteum, bentuk lain dari kista
fungsional, terbentuk apabila kantung kista ini tidak menghilang. Malahan kantung kista
menutup lagi setelah sel telur dikeluarkan.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau
kanker. Tingginya angka kematian karena penyakit ini sering tanpa gejala dan tanpa
menimbulkan keluhan, sehingga tidak diketahui dimana sekitar 60% - 70% penderita datang
1

pada stadium lanjut. Perjalanan penyakit ini sering disebut sillent killer atau secara diam
diam menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista
ovarim dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau
membesar. Di Amerika Serikat pada tahun 2001 diperkirakan jumlah penderita kanker
ovarium sebanyak 23.400 dengan angka kematian sebesar 13.900 orang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Ovarium


Terletak di belakang ligamentum latum, di belakang dan bawah tuba fallopi. Ovarium
adalah badan oval yang mempunyai panjang 3 cm. Pada saat lahir ovarium mengandung
ratusan sel-sel yang sangat kecil atau ova. Ovarium dan tuba fallopi disebut adneksa.
Pada saat pubertas (usia antara 12-14) ova mulai matang. Selama periode yang
dikenal dengan fase folikular. Sebuah ovum membesar seperti sejenis kista yang dikenal
sebagai folikel graafian sampai ia mencapai permukaan ovarium, kemudian ruptur, ovum
dikeluarkan kedalam rongga peritoneal. Periode pelepasan ovum matang ini disebut ovulasi.

Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya


pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium. Pinggir bawahnya
bebas.
Permukaan belakangnya pinggir keatas dan belakang, sedangkan permukaan
depannya ke bawah dan depan.Ujung yang dekat dengan tuba terletak lebih tinggi daripada
ujung yang dekat pada uterus, dan tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari
infundibulum.
Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan ligamentum
ovarii proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada
diligamentum rotundum. Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernakulum.

Gambaran Ovarium dengan berbagai perkembangan folikelnya.


Struktur ovarium terdiri atas:
1. Korteks disebelah luar yang diliputi oleh epitelium germinativum yang berbentuk
kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta folikel-folikel primordial ;
2. Medulla di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan pembuluhpembuluh darah, , serabut-serabut saraf dan sedikit otot polos.
Diperkirakan pada wanita terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan satu
folikel akan keluar, kadang-kadang dua folikel, yang dalam perkembangannya akan
menjadi folikel de Graff.
Folikel-folikel ini merupakan badian terpenting dari ovarium dan dapat dilihat di
korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam dan pula dalam tingkat-tingkat
perkembangan dari satu sel telur dikelilingi oleh satu lapisan sel-sel saja sampai menjadi
folikel de Graff yang matang terisi dengan likuor folikulli, mengandung estrogen dan siap
untuk berovulasi.
Folikel de Graff yang matang terdiri atas :
Ovum, yakni suatu sel besar dengan diameter 0,1 mm, yang mempunyai nukleus
dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan satu nukleolus pula.
Stratum granulosum yang terdiri atas sel-sel granulosa, yakni sel-sel bulat kecil
dengan inti yang jelas pada pewarnaan dan mengelilingi ovum ; pada perkembangan
lebih lanjut terdapat ditengahnya suatu rongga terisi likuor follikuli;
Teka interna, suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan sel-sel yang
lebih kecildaripada sel granulosa;
Teka eksterna, terbentuk oleh stroma ovarium yang terdesak.

Pada ovulasi, folikel yang yang matang dan yang mendekati permukaan ovarium
pecah dan melepaskan ovum ke rongga perut. Sel-sel granulosa yang melekat pada ovum dan
yang membentuk korona radiata bersama-sama ovum ikut dilepas. Sebelum dilepas, ovum
mulai mengalami pematangan dalam dua tahap sebagai persiapan untuk dapat dibuahi.
Setelah ovulasi, sel-sel stratum granulosum di ovarium mulai berproliferasi dan masuk ke
ruangan bekas tempat ovum dan likuor follikuli. Demikian pula jaringan ikat dan pembuluhpembuluh darah kecil yang ada di situ.
Ovarium memiliki tiga fungsi :
1)

Memproduksi ovum
Hormon gonodotrofik dari kelenjar hipofisis bagian anterior mengendalikan (melalui

aliran darah) produksi hormon ovarium. Hormon perangsangfolikel (FSH) penting untuk
awal pertumbuhan folikel de graaf, hipofisis mengendalikan pertumbuhan ini melalui
Lutenizing Hormon (LH) dan sekresi luteotrofin dari korpus lutenum.
2) Memproduksi hormon estrogen,
Dikeluarkan oleh ovarium dari mulai anak-anak sampai sesudah menopause (hormon
folikuler) karena terus dihasilkan oleh sejumlah besar folikel ovarium dan seperti hormon
beredar dalam aliran darah. Estrogen penting untuk pengembangan organ kelamin wanita dan
menyebabkan perubahan anak gadis pada masa pubertas dan penting untuk tetap adanya sifat
fisik dan mental yang menandakan wanita normal. (Evelin, 2000: 262)
3) Memproduksi hormon progesterone,
Disekresi oleh luteum dan melanjutkan pekerjaan yang dimulai oleh estrogen terhadap
endometrium yaitu menyebabkan endometrium menjadi tebal, lembut dan siap untuk
penerimaan ovum yang telah dibuahi. (Bobak, 1995: 28)

2.2

Definisi Kista Ovarium


Kista ovarium adalah suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau

padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering
ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor ovarium yang cukup besar dapat
menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya
kepala ke dalam panggul (Winkjosastro, et. all, 1999).
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf atau
korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium ovarium (
Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang
membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2008).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur
atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk
dari lapisan terluar dari ovarium.

2.3

Epidemiologi
Perjalanan penyakit ini sering disebut sillent killer atau secara diam diam

menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista
ovarim dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar atau
membesar. Di Amerika Serikat pada tahun 2001 diperkirakan jumlah penderita kanker
ovarium sebanyak 23.400 dengan angka kematian sebesar 13.900 orang.
Angka kejadian kanker ovarium di Indonesia belum diketahui secara pasti karena
pencatatan dan pelaporan di negeri kita kurang baik. Sebagai gambaran di RSU, kanker
Dharmais ditemukan penderita kanker ovarium sebanyak 30 kasus setiap tahun. Study
epidemologie menyatakan beberapa faktor resiko nullipata, melahirkan pertama kali pada
usia di atas 35 tahun dan wanita yang mempunyai keluarga dengan riwayat kehamilan
pertama terjadi pada usia di bawah 25 tahun. Penggunaan pil kontrasepsi dan menyusui akan
menurunkan kanker ovarium sebanyak 3060%.(Dharmais, 2007).

2.4 Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon
pada hipotalamus, hipofise, atau indung telur itu sendiri. Kista indung telur timbul dari folikel
yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak sampai saat
menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen sebagai respon terhadap
hipersekresi folikel stimulation hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH) normalnya
ditemui saat menopause berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran maximum 2,5 cm);
berasal dari folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal meresorpsi cairan.
Dapat multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur yang
fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang
berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi.
Kista theka-lutein biasanya bersifat bilateral dan berisi cairan bening, berwarna
seperti jerami biasanya berhubungan dengan tipe lain dari tumor indung telur, serta terapi
hormon.
Faktor resiko terjadinya kista ovarium :

Riwayat kista ovarium sebelumnya


Siklus menstruasi yang tidak teratur
Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
Menstruasi dini (usia 11 tahun atau lebih muda)
Tingkat kesuburan
Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang
Terapi tamosifen pada kanker mamma

2.5 KLASIFIKASI
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non neoplastik. Tumor
neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan
solid.

A. Tumor Non Neoplastik


1. Tumor akibat radang
a. Abses ovarial
b. Abses tubo-ovarial
7

c. Kista tubo- ovarial


2. Tumor lain
a. Kista folikel
b. Kista korpus luteum
c. Kista lutein
d. Kista inklusi germinal
e. Kista endometrium
f. Kista stein leventhal
B. Tumor Neoplastik Jinak
1. Kistik
a. Kistoma ovarii simpleks
b. Kistadenoma ovarii musinosum
c. Kistadenoma ovarii serosum
d. Kista endometroid
e. Kista dermoid
2.

Solid
a. Fibroma , leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma
b. Tumor Brenner
c. Tumor sisi adrenal (makulinovo- blastoma)

Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium
yang kecil. Sebagian besar tanda dan gejala adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas
endokrin, atau komplikasi dari tumor tersebut.

A. TUMOR OVARIAN NON NEOPLASTIK


1.Tumor Akibat Radang
Abses Ovarium
Abses ovarii dan ooforitis primer jarang terjadi. Abses ditemukan primer pada penderita
yang telah menjalani histerektomi. Gejala klasik dari abses ovarii terdiri dari suhu badan yang
meningkat dan menetap setelah operasi dengan nyeri pelvis yang tidak spesifik dan drainase
purulen yang lama dari vagina.

Diagnosis bandingnya terdiri dari tumor radang tubo-ovarium, benda asing dan
komplikasi intestinal.
Pada penatalaksanaan, yang tepat, ovarii yang terinfeksi diangkat oleh karena tidak
dapat diobati dengan antibiotik yang memerlukan konsentrasi adekuat supaya terjadi resolusi.

2.Tumor lain
a. Kista folikel
Kista fungsional yang paling sering terjadi adalah kista folikuler. Kista ini sering
diketemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvis, walaupun bisa pecah dan
menimbulkan rasa nyeri dan tanda-tanda peritonitis. Kista folikel ovarium ini biasanya
asimptomatik. Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi , namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah tumbuh di
bawah pengaruh esterogen tidak mengalami proses atresianya, melainkan membesar menjadi
kista.
Bisa didapati satu kista atau beberapa dan biasanya bilateral serta tumbuh di permukaan
ovarii sebagai gelembung yang berisi cairan. Folikel berisi dengan cairan yang jernih dan
seringkali mengandung esterogen. Diameter jarang lebih dari 6-8 cm. Tidak jarang terjai
perdarahan yang masuk kedalam rongga kista, sehingga terjadi suatu hematoma folikuler .

Sebagian besar kista folikel lambat laun mengecil dan regresi pada siklus haid berikutnya dan
dapat menghilang spontan.

b. Kista Korpus Luteum


Dalam keadaan normal, korpus luteum (granuilosa lutein) lambat laun mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus
luteum persisten); pendarahan yang sering terjadi didalamnya menyebabkan terjadinya kista,
berisi cairan yang berwarna merah coklat karena darah tua. Dinding kista terdiri atas lapisan
berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel teka. Kista lutein lebih besar
daripada kista folikel, cenderung lebih keras dan padat dalam konsistensi, dan lebih mudah
menyebabkan nyeri atau tanda-tanda iritasi peritoneum.
Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa amenorhea diikuti oleh
perdarahan tak teratur. Adanya kista dapat menyebabkan rasa berat perut bagian bawah.
Pendarahan yang berulang dalam kista dapat menyebabkan ruptur. Kista korpus luteum dapat
mengakibatkan ovarium terpuntir dan menimbulkan nyeri yang hebat.

10

Rasa nyeri yang mendadak di dalam perut yang mendadak dengan adanya amenorhea
sering menimbulkan kesulitan dalam diferential diagnosis dengan kehamilan ektopik yang
terganggu.
Penanganan kista korpus luteum adalah menunggu sampai kista hilang sendiri, biasanya
dalam waktu 2 bulan pada wanita tidak hamil dan mengecil perlahan-lahan pada trimester
terakhir pada wanita hamil.

c. Kista Teka Lutein


Ukuran dari kista ini sangat bervariasi umumnya kista ini terjadi bilateral, dan berisi
cairan jernih dan didapati berhubungan dengan mola hidatidosa atau koriokarsinoma. Pada
pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi, akan tetapi sering sekali sel-sel menghilang
karena atresia. Tumbuhnya kista ini adalah akibat pengaruh hormon HCG yang berlebihan,
dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma kista ovarium mengecil dengan spontan.
Tetapi apabila kista besar sekali, sudah tentu harus dilakukan ekstirpasi.

d. Kista Inklusi Germinal


Kista ini terjadi karena invaginasi dan sosialisasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Tumor ini lebih banyak terdapat pada wanita lanjut
umurnya dan besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara kebetulan
ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi. Kista terletak

11

dibawah permukaan ovarium dan berisi cairan jernih dan serous. Kista ini tidak pernah
memberikan gejala-gejala yang berarti.
e. Kista Endometriosis
Kista ini terdapat pada endometriois yang berlokasi di ovarium yang disebut sebagai
kista endometrial atau kista coklat. Dalam ovarium berukuran kecil sampai sebesar tinju yang
berisi darah sampai coklat.
Darah tersebut dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista yang dapat
menyebabkan perlengketan antara permukaan ovarium dan uterus. Kadang dapat mengalir
dalam jumlah yang banyak kedalam rongga peritoneum dan menimbulkan akut abdomen.
f. Kista Stein Leventhal
Kista ini ditandai oleh pembesaran bilateral dari polikistik ovarium, amenorea atau
oligomenorea sekunder. 50 % dari penderita gemuk dan mengalami hirsutisme tanpa
maskulinisasi. Sindroma ini terjadi pada wanita antara usia 15-30 tahun. Ovarium pucat,
membesar, polikistik, permukaan licin, dan kapsulnya menebal.
Kelainan ini disebabkan gangguan keseimbangan homonal. Umumnya pada wanita
tersebut terdapat gangguan ovulasi oleh karena endometrium hanya dipengaruhi oleh
esterogen, hiperplasia endometrii juga sering ditemukan.

B. TUMOR OVARIUM NEOPLASTIK JINAK


1.Kistik
a. Kistoma ovarii simpleks
Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
bilateral, dan dapat menjdi besar. Dinding kista tipis dan cairan dalam ista jernih, serous, dan
berwarna kuning. Berhubung dengan adanya tangkai, maka dapat terjadi torsi (putaran
tangkai) dengan gejala-gejala mendadak.
b. Kistadenoma Ovarii Musinosum

12

Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti, tumor ini mungkin muncul sebagai tumor
unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia mucinosum dari mesothelium. Tumor
mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada penderita yang muda.
Paling sering ada wanita berusia antara 20-50 tahun dan jarang sekali pada masa
prapubertas. Tumor ovarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma
ovarii serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60% dari seluruh ovarium.sedang
kistadenoma ovarii musinosum merupakan 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan berbagala (lobulated) dan
umumnya multilokular dan odematosa; lokular yang mengandung niukosa ini kelihatan biru
dari peregangan kapsulnya.kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada
tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi.tumor biasanya unilateral, akan
tetapi dapat juga dijumpai bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih, keabuan terutama apabila terjadi
perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada permukaan terdapat cairan lendir
yang khas, kental seprti gelatin, melekat dan berwarna kuning, sampai coklat tergantung dari
percampurannya dengan darah,. Pemeriksaan mikroskopik : tampak dinding kista dilapisi
oleh epitel torak tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang terdapat dalam
satu lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi untuk tumbuh seperti struktur
kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista menjadi
molekuler. Jika terjadi suatu sobekan pada dinding kista (spontan ataupun pada saat operasi),
maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum rongga perut, dan sekresinya
menyebabkan kista menjadi multiokuler. Jika terjadi suatu sobekan pada dinding kista
(spontan ataupun pada saat operasi), maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan
peritoneum rongga perut, dan sekresinya menebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat
pseudomiksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan musin terus bertambah dan
menyebabkan banyak perlengketan. Akhirnya penderita meninggal karena ileus. Pada kista
kadang-kadang ditemukan daerah padat dan pertumbuhan papiler.
Tempat-tempat terebut harus diteliti karena kemungkinan adanya tanda-tanda ganas
(kira-kira 5-10% dari kistadenoma musinosum).

13

c. Kistadenoma Ovarii Serosum


Kista ini ditemukan dalam frekuensi yang hampir sama dengan kistadenoma
musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama. Kista ini sering ditemukan
bilateral (10-20%) daripada kistadenoma musinosum. Tumor serosa dapat membesar
sehingga memenuhi ruang abdomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma
musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi juga dapat lobulated karena kista
serosum pun dapat berbentuk multikular, meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista
putih keabuan. Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler kedalam rongga
kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning dan
kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sensiri kecil, tetapi
permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma).
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran makroskopis
kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak, bahkan pemeriksaan
mikroskopis pun tidak selalu memberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi epitel kubik atau
torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan gelap warnanya.
Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal epithelium), maka bentuk
epitel pada papil dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar terdiri atas epitel bulu getar
seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan kalsium dan
stromanya yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma menunjukkan bahwa kista adalah
kistadenoma ovarium serosum papiliferum, tetapi bukan ganas.

14

Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatif. Kebanyakan
ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa
ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massaabdomen maupun
ascites. Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium kecuali pada
stadium terminal.
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta
anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara makroskopis digolongkan
kedalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan
keganasan.

Bila

terdapat

implantasi

pada

peritoneum

disertai

dengan

acites,

prognosispenyakit adalah kurang baik. Meskipun diagnosis histopatologis pertumbhan tumor


tersebut mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus dianggap
sebagai neoplasma ovarium ganas (clinically malignant).
Terapi pada ummnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh karena berhubung dengan
besarnya kemungkinan keganasan perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap tumor
yang dikeluarkan.
Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa sediaan yan dibekukan (frozen section) pada
saat operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada waktu operasi.
d.Kista Endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam terdapat satu
lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista ini yang ditemkan oleh
Sartesson pada tahun 1969, tidak ada hubungannya dengan endometriosis ovarii.

e.Kista Dermoid

15

Tumor ini merupakan 10% dari seluruh neoplasma ovarium yang kistik, dan paling
sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25% dari semua kista dermoid bilateral,
lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor
ini dapat mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram.
Kista ini tidak mempunyai ciri yang khas. Dinding kista kelihatan putih keabuan dan
agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, dibagian lain padat. Dapat ditemukan
kulit,rambut, kelenjar sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat
(mesodermal) dan mukosa traktus gastrointestinal, epitel saluran kista terdapat produk
kelenjar sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut.
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut
bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran
isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5%
dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita lewat menopause.
2. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma, tetapi tidak berarti bahwa
semuanya neoplasma ganas, meskipun semuanya mempunyai potensi maligna.
a. Fibroma Ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium. Kurang dari 1%. Fibroma
ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim yang multipoten.
Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan pada
penderita menopause.

16

Tumor ini mencapai diameter 2-30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan 90% unilateral.
Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu keabuan. Apabila konsistensi
sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak disebut fibroma molle. Neoplasma ini
terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel di tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas
kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar
biasanya mempunyai tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan
sindroma Meigs (tumor ovarii, ascites, hidrotoraks).
b. Tumor Brenner
Merupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan, biasanya pada
wanita dekat atau sesudah menopause. Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium.
Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa kilogram.
Lazimnya tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning muda seperti fibroma,
dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini diteukan sindrom Meigs. Gambar
mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri
atas epitel-epitel, yang dikelilingi jaringan ikat yang luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas dan jika masih kecil,
biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik ovarium. Meskipun
jinak, dalam beberapa kasus tumor ini menunjukkan keganasan pada histopatologi dan
klinisnya.
C. Kista ovarium pada kehamilan
Kista ovarium biasanya terdiagnosa pada kehamilan karena penggunaan USG secara
rutin. Kista ini harus di evaluasi dengan cara yang sama dengan wanita tidak hamil, dengan
USG, dan tes CA 125. MRI lebih dipilih daripada CT scan. Namun keduanya harus dihindari
pada trimester pertama. Tumor yang besar dapat menghambat pertumbuhan janin sehingga
menyebabkan abortus, partus prematurus. Tumor yang bertangkai, karena pembesaran atau
pengecilan uterus, terjadi torsi dan menyebabkan rasa nyeri, nekrosis dan infeksi yang disebut
abdomen akut . Dapat juga menyebabkan kelainan-kelainan letak janin. Tumor kistik dapat
pecah karena trauma luar atau persalinan. Tumor besar dan berlokasi dibawah dapat
menghalangi persalinan.

17

Kista simpleks benigna di monitor dan sebagian besar dapat mengecil dengan
sendirinya.
Kista persisten yang lebih besar dari 10 cm atau kista yang berisiko ganas harus
diangkat secara bedah, lebih dipilih pada trimester kedua, terutama pada usia kehamilan
16-20 minggu.
D. Kista ovarium pada anak-anak
Bila ditemukan massa abdominopelvik simptomatik yang tersering berasal dari ovarium.
Walaupun angka kejadiannya jarang, persentasi keganaannya lebih tinggi daripada usia yng
lebih tua. Yang sering adalah tumor sel germinosa, diikuti dengan tumor epitel dan sel
granulosa. Beberapa tumor adalah kistik

2.6 GEJALA KLINIS


Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium
yang kecil, adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut. Rasa sakit atau tidak
nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut
terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut.
Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan
miksi, dan defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadap kandung kemih sehingga
menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.
Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus terganggu atau
juga dapat terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering.
Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam koitus, yaitu pada penetrasi yang
dalam. Pada tumor besar dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa sesak.
Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor tersebut
mengeluarkan hormon. Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan vagina yang abnormal
dapat terjadi. Pada anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih awal.
Polikistik ovarii menimbulkan sindroma polistik ovari, terdiri dari hirsutisme,
infertilitas, oligomenorrhea, obesitas, akne.
18

Pada keganasan dapat ditemukan penurunan berat badan yang drastis.


2.7 Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita
premenopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah abnormal jika
terdapat pada wanita premenopause. Perabaan menjdi sulit pada pasien yang gemuk. Teraba
massa

yang kistik, mobile, permukaan mass umumnya rata. Cervix dan uterus dapat

terdorong pada satu sisi.


Dapat juga teraba massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada ligamentum uteroskral,
ini merupakan keganasan atau endometriosis. Pada perkusi mungkin didapatkan ascites yang
pasif.
2.8 Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen 125 (CA
125) adalah protein yng dihasilkan oleh membran sel ovarium normal dan karsinoma
ovarium.
Level serum kurang dari 35 U/ml. Kadar CA 125 ditemukan meningkat pada 85%
pasien dengan karsinoma epitel ovarium. Terkadang CA 125 ditemukan meningkat
pada kasus jinak dan pada 6% pasien sehat.
b.Laparoskopi
Mengetahui asal tumor dari ovarim atau tidak dan menentukan sifat tumor.
c.Ultrasonografi
Menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam rongga perut yang
bebas dan tidak.
USG adalah alat diagnostik alat imaging yang utama untuk kista ovarium. Kista uknya
unilokular, dindingnya tipis, satu cavitas yang yang didalamnya tidak terdapat internal
echo. Biasanya jenis kista seperti ini tidak ganas, dan merupakan kista fungsional, kista
luteal atau mungkin juga kistadenoma serosa atau kista inklusi. Kista kompleks
multilokular, dindingnya menebal terdapat papul kedalam lumen. Kista seperti biasanya
19

maligna atau mungkin juga kista neoplasma benigna. USG sulit membedakan kista
ovarium dengan hidrosalfing, paraovarian dan kista tuba. USG endovaginal dapat
memberikan pemeriksaan morfologi yang jelas dari struktur pelvis. Pemeriksaan ini
tidak memerlukan kandung kemih yang penuh. USG transabdominal lebih baik dari
endovaginal untuk mengevaluasi massa yang besar dan organ intraabdomen lain,
seperti ginjal, hati dan ascites. Ini memerlukan kandung kemih yang penuh.
d.MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan, dapat
memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI ini biasanya tidak
diperlukan.
e..CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan kurang baik bila
dibanding dengan MRI. CT Scan dapat dipakai untuk mengindentifikasi organ intraabdomen
dan retroperitoneum dalam kasus keganasan ovarium.
f.Foto Rontgen
Menentukan hidrotoraks. Pada kista dermoid kadang dapat terlihat gigi.
g.Parasentesis
Pungsi pada asites berguna untuk menentukan sebab asites.
h.Tes Kehamilan
HCG negatif, kecuali bila terjadi kehamilan.

2.9 Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan bila ditemukan hal-hal berikut yaitu :
Anamnesis :
1. Timbul benjolan diperut dalam waktu relatif
2. Keluhan rasa berat dalam perut

20

3. Kadang disertai gangguan BAK dan BAB, edema pada tungkai, tidak nafsu makan,
rasa serak dan lain-lain
4. Kadang disertai gangguan haid apabila tumor itu mengeluarkan hormon
5. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah
Pemeriksaan Fisik
1. Ditemukan tumor di rongga perut bagian depan dengan ukuran > 5cm
2. Pada pemeriksaan dalam letak tumor di parametrium kiri atau kanan atau mengisi
kavum douglasi
3. Konsistensi kistik, mobile, pemukaan tumor umumnya rata.

2.10 Diagnosis Banding

Kehamilan
Mioma uteri
Tumor kolon sigmoid
Ginjal ektopik
Limpa bertangkai
Ascites e.c penyakit lain
Tuberculosis peritonei
Infeksi pelvis
Appendisitis akut

2.11 Penatalaksanaan
Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor
non neoplastik biasanya besarnya tidak melebihi 5 cm. Tidak jarang tumor-tumor tersebut
mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan
tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Tetapi jika
tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan
pengangkatan tuba.
Seluruh jaringan hasil pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi untuk
diperiksa.
Pasien dengan kista ovarium simpleks, biasanya tidak membutuhkan terapi. Penelitian
menunjukkan bahwa pada wanita postmenopaus, kista yang berukuran kurang dari 5 cm dan
21

kadar CA 125 dalam batas normal, aman untuk tidak dilakukan terapi, namun harus
dimonitor dengan pemeriksaan USG serial. Sedangkan untuk wanita premenopause, kista
berukuran kurang dari 8 cm dianggap aman untuk tidak dilakukan terapi.
Terapi bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yang lebih besar 10 cm
dan kista ovarium kompleks. Laparoskopi digunakan pada pasien dengan kista benigna, kista
fungsional atau simpleks yang memberikan keluhan. Laparotomi harus dikerjakan pada
pasien dengan kista benigna yang tidak dapat diangkat dengan laparoskopi.
Eksisi kista dengan konservasi ovarium dikerjakan pada pasien yang menginginkan
ovarium tidak diangkat untuk fertilitas di masa mendatang.
Pengangkatan ovarium sebelahnya harus dipertimbangkan pada wanita postmenopause/
perimenopause, dan wanita premenopause yang lebih tua dari 35 tahun yang tidak
menginginkan anak lagi serta yang beresiko menyebabkan karsinoma ovarium.
Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi dan infertilitas untuk
endometrioma dan sindrom ovarium polikstik. Konsultasi dengan onkologi ginekologi
diperlukan untuk kista ovarium kompleks dengan serum CA 125 lebih dari 35 U/ml dan pada
pasien dengan riwayat karsinoma ovarium pada keluarga.
Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yan
dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk mendapat kepastian
tumor ganas atau tidak.
Untuk tumor ganas ovarium, pembedahan merupakan pilihan utama. Prosedurnya
adalah total abdominal histerektomi, bilateral salfingo-ooforektomi, dan appendiktomi
(optional). Tindakan hanya mengangkat tumornya saja (ooforektomi atau ooforokistektomi)
masih dapat dibenarkan jika pasien masih muda, belum mempunyai anak, derajat keganasan
tumor rendah seperti pada fow potential malignancy (borderline).
Radioterapi hanya efektif untuk jenis tumor yang peka terhadap radiasi, disgerminoma
dan tumor sel granulosa. Kemoterapi menggunakan obat sitostatika seperti agens alkylating
(cyclophosphamide, chlormbucyl) dan anti metabolit (andriamycin). Follow up tumor ganas
sampai 1 tahun setelah penanganan setiap 2 bulan, kemudian 4 bulan selama 3 tahun, setiap 6
bulan sampai 5 tahun dan seterusnya setiap setahun sekali.

2.12 PENCEGAHAN
22

Pemakaian kontrasepsi oral mencegah pertumbuhan kista ovarium fungsional.


Penggunaan selama 15 tahun mengurangi resiko kistadenokarsinoma epitel ovarium. Setiap
wanita harus melakukan pemeriksaan ginekologis tahunan. Pada wanita dengan resiko tinggi
dengan riwayat keluarga atau riwayat kanker payudara terdahulu harus melakukan
pemeriksaan USG dan CA 125 tahunan.
Pada wanita dengan resiko tinggi kistadenokarsinoma ovarium, dapat dilakukan
ooforektomi profilaktik untuk mencegah pertumbuhan karsinoma ovarium.

2.13 KOMPLIKASI
Perdarahan

kedalam

kista,

biasanya

terjadi

sedikit-sedikit,

berangsur-angsur,

menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala klinik yang minimal. Tetapi
bila dalam jumlah banyak akan terjadi distensi cepat nyeri perut mendadak.
Putaran tangkai menimbulkan rasa sakit yang berat akibat tarikan melalui ligamentum
infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale. Robekan dinding kista terjadi pada torsi
tangkai, tetapi dapat pula akibat trauma yaitu jatuh, pukulan pada perut dan koitus. Bila kista
hanya mengandung cairan serosa, rasa nyeri akibat robekan akan segera berkurang. Namun
bila terjadi hemoragi yang timbul secara akut, perdarahan bebas dapat berlangsung terus
menerus dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tandatanda abdomen akut.
Infeksi dapat terjadi, jika dekat tumor terdapat sumber kuman patogen, seperti
appendicitis, divertikulitis, atau salpingitis akuta.
Perubahan keganasan dapat terjadi pada kista jinak, misalnya pada kistadenoma ovarii
serosum, kistadenoma ovarii musinosum dan kista dermoid.
Sindroma Meigs ditemukan pada 40% dari kasus fibroma ovarii yaitut tumor ovarium
disertai asites dan hidrotoraks.

2.14 PROGNOSIS
Prognosis untuk kista benigna baik. Dapat residual dan terjadi di ovarium kontralateral.

23

Mortalitas pada karsinoma ovarium berhubungan dengan stadium saat diagnosis, dan
biasanya terdeteksi pada stadium lanjut. Angka harapan hidup secara umum adalah 41,6 %
bervariasi antara 86,9% pada stadium II dan 11,1% pada stadium IV.

BAB III
KESIMPULAN

24

Kista ovarium merupakan pertumbuhan jaringan otot polos yang dapat menimbulkan
pembengkakan yang dapat berisi cairan maupun berbentuk padat. Penemuan terbaru untuk
penanganan kista ovarium dapat dilakukan laparoskopi.Satu-satunya pengobatan untuk
neoplasma dari ovarium adalah operasi, tergantung pada jenis usia wanita dan perlu atau
tidaknya wanita hamil lagi, sebaiknya isi kista segera dibuka, sebelum perut ditutup kembali.
Pada wanita yang lebih tua (lebih dari 40 tahun) jalan yang baik adalah hysterectomytotalis
dan salping oophorectomy bilateral walaupun tidak terdapat tanda-tanda keganasan.
Diperlukan deteksi dini terhadap semua keganasan penyakit kandungan terutama kista
ovarium yang kebanyakan dapat menjadi ganas.Penyakit ini disebut juga silent killer karena
gejala penyakitnya yang lambat terdeteksi oleh penderita dan kebanyakan diketahui saat kista
sudah besar.Menghindari faktor pemicu timbulnya kista ovarium dan peningkatan status gizi
sangatlah penting karena dari tubuh yang sehat akan memperkecil kemungkinan untuk
terjangkit penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Tumor Ovarium


Neoplastik Jinak. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000.
2. Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S. Standar Pelayanan Medik Obstetri
dan Ginekologi. Jakarta : Perkumpulan Obstetri dan GinekologiIndonesia; 2006.
3. Sastrawinata,

Sulaiman.

dkk.

2004.

Ilmu

Kesehatan

Reproduksi:

Obstetri

Patologi.Edisi 2. Jakarta: EGC.


4. Wiknjosastro H. Tumor Jinak Pada Alat Genital Dalam Buku Ilmu Kandungan Edisi
2, editor: Saifuddin A.B, dkk. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2005
5. Wiknjosastro, Hanifa. dkk. 2007. Ilmu Kandungan. Edisi 2.Cetakan 5. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

26