Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN MITIGASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

PADA SEKTOR SUMBER DAYA AIR


Willem Sidharno 1,3, Ali Masduqi 1, Umboro Lasminto 2
1. Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh November
2. Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh November
3. Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum
email: willem_poenya@yahoo.com

Abstrak
Penggunaan energi yang bersumber dari fosil di muka bumi lebih dari 85%. Hasil gas
buang/emisi dari sumber energi fosil dari tahun ke tahun yang semakin meningkat
berkontribusi besar pada terjadinya anomali iklim, yang menyebabkan kenaikan temperatur
bumi sebesar 0,6oC - 1oC sejak 1900-2000, diprediksikan temperatur bumi akan terus
meningkat dari 1oC - 3oC pada tahun 2000-2100 jika penggunaan energi fosil tidak
terkontrol. Salah satu dampak perubahan iklim yang terjadi yaitu pada sektor sumber daya
air, seperti dengan naiknya temperatur maka curah hujan juga berubah, sehingga debit pada
sungai atau suatu DAS meningkat dan dapat menyebabkan banjir. Dalam penelitian ini
dilakukan simulasi penggunaan sumur resapan, parit resapan, injection well,dan
menambahn tutupan lahan sebesar 10%, 50%, 80% pada DAS Kolhua, dimana metode ini
bisa menjadi rekomendasi bentuk mitigasi dampak perubahan iklim (presipitasi dan
temperatur) pada sektor sumber daya air dengan kondisi volume air limpasan permukaan
berlebihan. Dari hasil simulasi, perubahan volume limpasan air yang terjadi setelah
menggunakan injection well pada skenario perubahan iklim A1F1 turun sebesar 84,8% dan
skenario B1 turun sebesar 76,67% dibanding debit sungai kondisi awal, sedangkan jika
menggunakan tambahan 80% tutupan lahan pada DAS, volume limpasan air skenario
A1F1 dan skenario B1 turun sebesar 34,29% dibanding debit sungai kondisi eksisting.
Kata kunci : Perubahan Iklim, sumur resapan, parit resapan, Injection Well, tutupan lahan
_________________________________________________________________________
1. PENDAHULUAN
Perubahan iklim yang terjadi di muka bumi, menyebabkan terjadi perubahan pada
temperatur bumi dan presipitasi yang berdampak pada sektor sumber daya air seperti
berubahnya curah hujan dan temperatur sehingga mempengaruhi sistem hidrologi pada
daerah aliran sungai (IPCC, 2007). Perubahan debit yang terjadi pada masa mendatang di
suatu DAS dapat berupa debit lebih sedikit dari debit eksisting atau debit lebih besar dari
debit eksisting. Dengan adanya perubahan curah hujan dan temperatur skenario A1F1 dan
B1 pada DAS Kolhua menunjukan bahwa terjadi kenaikan debit sebesar 51,1% atau
0,84m3/dtk pada periode 2070-2099 (sidharno et al, 2013). dengan adanya kenaikan debit
maka dapat menyebabkan kerugian atau dampak negatif pada lingkungan sekitar DAS,
oleh sebab itu dalam penelitian ini akan di analisa perubahan yang terjadi pada DAS
Kolhua dengan skenario menggunakan sumur resapan dan tambahan tutupan lahan sebagai
salah satu bentuk mitigasi perubahan iklim pada sektor sumber daya air.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Dari penelitian terdahulu, dengan menggunakan skenario perubahan iklim A1F1 dan B1
menunjukan bahwa dibanding debit andalan eksisiting terjadi kenaikan debit andalan
sampai tahun 2099 di DAS Kolhua sebesar 20,27% pada skenario A1F1 dan 25,81% pada
skenario B1 (sidharno et al, 2013).
3. DATA DAN METODE
Dalam penelitian ini, data yang dibutuhkan sebagai data dasar adalah debit andalan. Debit
andalan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada Sungai Laliba yang masuk dalam
DAS Kolhua dengan luas DAS 22,98 km2, tutupan lahan 70% yaitu 16,086 km2 yang
adalah hutan konservasi, koefisien infiltrasi C = 0,3 dengan kondisi debit eksisting (tabel
1) dan debit hasil simulasi perubahan iklim skenario A1F1 (tabel 2) dan B1 (tabel 3).
Tabel 1 Debit eksisiting
Debit
Andalan
(m3/dtk)
80 %

Jan

Feb

Mar

Apr

May

June

Jule

Aug

Sept

Oct

Nov

Dec

1,27

1,64

1,13

0,80

0,69

0,64

0,60

0,58

0,57

0,57

0,55

0,73

Sumber : Sidharno et al, 2013


Tabel 2 Debit A1F1
2013-2039
Debit
Andalan
(m3/dtk)
80 %

Jan

Feb

Mar

Apr

May

June

Jule

Aug

Sept

Oct

Nov

Dec

1,52

1,99

1,24

0,78

0,59

0,57

0,56

0,56

0,61

1,19

80 %

1,75

2,30

1,41

0,85

0,61

0,59

0,57

0,57

0,63

1,35

80 %

1,80

2,38

1,49

0,87

0,67 0,62
2040-2069
0,71 0,65
2070-2099
0,72 0,65

0,61

0,59

0,57

0,58

0,64

1,39

Sumber : Sidharno et al, 2013


Tabel 3 Debit B1
2013-2039
Debit
Andalan
(m3/dtk)
80 %

Jan

Feb

Mar

Apr

May

June

Jule

Aug

Sept

Oct

Nov

Dec

1,78

2,34

1,42

0,85

0,61

0,59

0,57

0,57

0,64

1,36

80 %

1,81

2,38

1,44

0,86

0,61

0,59

0,57

0,58

0,64

1,81

80 %

1,88

2,48

1,49

0,88

0,71 0,65
2040-2069
0,72 0,65
2070-2099
0,73 0,66

0,61

0,59

0,58

0,58

0,64

1,44

Sumber : Sidharno et al, 2013


Tabel 4. Nilai pereabilitas tanah (K)
Jenis Tanah
Kerikil
Kerikil halus/ Pasir
Pasir Sangat Halus, Pasir Lanau, Lanau tidak padat
Lanau Padat, Lanau Lempung, Lanau tidak murni
Lempung

K (cm/det)
>10-3
10-1 10-3
10-3 10-5
10-5 10-7
<10-7

Nama
High Permeability
Medium Permeability
Low Permeability
Very Low Permeability
Impervous (Rapat Air)

Sumber : Suripin, 2004


2

Setelah data debit tersedia dan data permeabilitas tanah diketahui, maka dilanjutkan ke
tahap analisa. Dalam penelitian ini penulis menggunakan model sumur resapan, parit
resapan dan injection well / sumur resapan dalam yang air nya langsung di masukkan pada
aquifer dalam. Alasan penggunaan model ini di karenakan pada umumnya kondisi daerah
di indonesia muka air tanah nya rendah sehingga tidak di mungkinkan untuk menggunakan
sumur resapan dangkal selain itu kapasitas sumur resapan dalam di mungkinkan dapat
mengurangi debit yang jauh lebih besar di banding sumur resapan dangkal. Untuk
mengetahui kapasitas injection well maka akan di analisa debit yang dapat di tampung
serta diameter sumur yang merupakan salah satu sarana untuk mengurangi debit yang
berlebihan atau sebagai satu bentuk mitigasi dampak perubahan iklim pada sektor sumber
daya air. Untuk menghitung kapasitas resapan sumur, parit dan injection well, digunakan
persamaan (Sunjoto, 2011) sebagai berikut :
Sumur resapan (recharge well) :
(

Parit resapan (trench well)

Sumur resapan dalan (injection well)

Untuk mencari nilai F di gunakan persamaan berikut :

Dimana: H = Tinggi air dalam sumur (m) ; Q = debit (m3/dtk) ; F = faktor geometrik
sumur ; K = koefisien permeabilitas tanah (cm/jam) ; T = waktu dominan hujan
(jam) ; b = lebar sumur (m) ; B = panjang sumur/parit (m) ; L = Tinggi dinding
resapan air dalam sumur/parit; h = Tinggi Potentiometric surface (m) ; Bq =
Tinggi aquifer dalam (m) ; r = Jari-jari sumur (m) ;
* untuk nilai awal b dan B pada parit digunakan cara coba-coba ; syarat ; L > H
Sedangkan pada skenario tambahan tutupan lahan, digunakan sekenario tambahan tutupan
lahan sebesar 10%, 50% dan 80% dari sisa luas DAS yang belum tertutup. Dari tambahan
luas tutupan dengan koefisien C = 0,3 maka analisa dilanjutkan dengan menghitung debit
3

limpasan permukaan, sehingga di peroleh debit setelah bertambahanya tutupan lahan. Dari
hasil perhitungan maka dapat di lihat besar penurunan limpasan setelah ada tambahan
tutupan lahan (gambar 4.) sehingga di peroleh efisiensi penurunan.
Penelitian Terdahulu
Pemanasan global
Perubahan Iklim

Perubahan
Temperatur dan
Presipitasi

Perubahan Debit,
Limpasan air pada
DAS

Data Debit
Andalan eksisiting
& dengan skenario
perubahan iklim

Perhitungan
Diameter Sumur
& jumlah sumur

Mitigasi Dampak
Perubahan Iklim
-Sumur resapan
-Parit resapan
- Injection Well
- Tambahan Tutupan DAS

Perubahan Debit
dan Volume Air
Perbandingan
Debit dan
Volume air hasil
simulasi dengan
kondisi eksisitng

Kesimpulan

Gambar 1. Bagan alir penelitian


4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisa diketahui bahwa dengan menggunakan 1 buah sumur resapan dalam
(injection well) dengan diameter r = 2 meter, dan asumsi tinggi aquifer B = 5 meter, tinggi
potentiometric surface H = 150 meter, dan K = 0,0000015 m/dtk (lanau tidak padat), debit
(Q) yang dapat diresapkan adalah sebesar 0,0088 m3/detik. Dengan menggunakan debit
yang sama pada sumur resapan dan parit resapan dengan nilai T = 2 jam, di ketahui
dimensi parit : panjang parit B = 19,5 meter, lebar parit b = 6,5 meter, tinggi dinding
resapan L = 2 meter (19,5 x 6,5 x 2) dan dimensi sumur resapan : panjang sumur B = 6,5
meter, lebar sumur b = 6 meter, tinggi dinding resapan L = 2 meter (6,5 x 6 x 2) dengan
perbandingan dimensi dan kapasitas yang dilihat pada tabel 5.
Selain itu dimensi hasil perhitungan, dapat diketahui bahwa dengan menggunakan
kapasitas yang dapat di tampung untuk mereduksi kelebihan air dengan debit
0,0088m3/dtk dan nilai K = 15.10-6 adalah sebesar 0,85% dan 0,76% gambar 2, sedangkan
pada debit 0,077 m3/dtk dan nilai K = 15.10-6 adalah sebesar 8,48% dan 7,65% gambar 3.
serta debit 0,771m3/dtk, nilai K = 15.10-4 efisiensi sebesar 84,8% dan 76,67% gambar 4.
Sedangkan dengan skenario tambahan tutupan lahan pada DAS, di ketahui bahwa
tambahan tutupan lahan 10% atau menjadi 16,775 km2 dapat menurunkan limpasan air
pemukaan menjadi 4,29% dari limpasan air skenario A1F1, B1 dan kondisi eksisting.
4

Tutupan lahan 50%, 19,533 km2 limpasan air dapat di reduksi hingga 21,43% atau kondisi
limpasan kembali normal seperti keadaan tidak adanya perubahan iklim dan dengan
skenario tutupan lahan 80% 21,602 km2 limpasan air yang dapat di reduksi adalah 34,29%
atau dengan kata lain sebagian besar air diresapkan.
Tabel 5. Nilai efisiensi yang diperoleh setelah ada tambahn tutupan lahan.
Efisiensi terhadap Tambahan tutupan Tambahan tutupan Tambahan tutupan
dengan kodisi
lahan 10%
lahan 50%
lahan 80%
4,06%
21,24%
34,13%
Eksisting
4,29%
21,429%
34,29%
A1F1
4,29%
21,429%
34,29%
B1
Tabel 6. Nilai kapasitas tampungan resapan dan dimensi
Sumur Resapan dalam
(Injection well)

Parit Resapan

Sumur Resapan

Debit yang
dapat
ditampung
(m3/dtk)

Dimensi
(2.r.t) meter

Jumlah
Sumur

Dimensi
(P x L x T) meter

Jumlah
Parit

Dimensi
(P x L x T)
meter

Jumlah
Sumur

0,0088

2 x 2 x 150

19,5 x 6,5 x 2

6,5 x 6 x 2

0,077

2 x 2 x 150

10

112,5 x 15 x 3

15 x 15 x 3

0,771

2 x 2 x 150

112,5 x 15 x 4,5

15 x 15 x 4,5

7,710

2 x 2 x 150

10

720 x 45 x 6,5

45 x 32 x 6,5

Keterangan

K=
0,0000015
m3/dtk
K=
0,0000015
m3/dtk
K = 0,00015
m3/dtk
K = 0,00015
m3/dtk

Sumber : Hasil hitungan

Gambar 1 Grafik Kumulatif Debit 0,0088 m3/dtk dengan nilai K 0,0000015 m3/dtk

Gambar 3 Grafik Kumulatif Debit 0,077 m3/dtkdengan nilai K 0,0000015 m3/dtk

Gambar 3 Grafik Kumulatif Debit 0,771 m3/dtk dengan nilai K 0,00015 m3/dtk

Gambar 4. Grafik Kumulatif Debit eksisting dan skenario B1, dengan tambahan tutupan
lahan.

Gambar 5. Grafik Volume air dengan sumur reapan dan tambahan tutupan lahan.

KESIMPULAN
Penggunaan sumur resapan dalam maupun sumur resapan atau parit, sangat bergantung
pada nilai permeabilitas tanah, dimana semakin tinggi nilai permeabilitas maka
kemampuan sumur untuk meresapkan air semakin besar, namun jika nilai permeabilitasnya
sangat rendah maka dimensi dan jumlah sumur / parit yang dibutuhkan akan sangat besar
agar kapasitasnya sama dengan kondisi permeabilitas tinggi. Dari hasil simulasi di
tunjukan bahwa efisiensi tertinggi dari sumur resapan adalah 84% menggunakan sumur
tipe injection well dari kondisi sebelum ada sumur resapan. Sedangkan dengan
menggunakan skenario tambahan tutupan lahan, resapan tertinggi adalah 34,29% dengan
tutupan lahan 80% atau tutpan lahan menjadi 21,602 km 2.
Dari hasil simulasi diketahui bahwa kapasitas sumur resapan jauh lebih besar di banding
tambahan tutupan lahan pada DAS, namun hal yang perlu diperhatikan jika ingin
menggunakan sumur resapan adalah faktor permeabilitas tanah, tinggi muka air tanah, dan
kualitas air yang akan masuk ke dalam sumur, karena hal tersebut akan sangat
mempengaruhi kapasitas, dimensi, kualitas air tanah, pelaksanaan di lapangan dan tentunya
biaya yang dibutuhkan. Sebaliknya dengan tutupan lahan, walaupun tidak banyak
membutuhkan kriteria namun sebelum menambahkan tutupan lahan, perlu diperhatikan
kelembaban tanah yang akan menjadi media untuk tanaman agar tanaman bisa tumbuh.
DAFTAR RUJUKAN
Bouwer, H., Groundwater Hydrology, McGraw-Hill Series in water resources and
enviromental engineering, McGraw-Hill Book Company, New York, 1978
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)., Climate Change 2001: Impacts,
Adaptation And Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Third
Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change,
Intergovernmental Panel on Climate Change, Cambridge. U.K. 2001
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)., Climate Change 2001:The Scientific
Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change, Intergovernmental Panel on Climate
Change, Cambridge. U.K. 2001
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)., Climate Change 2001: Mitigation.
Contribution of Working Group III to the Third Assessment Report of the
Intergovernmental Panel on Climate Change, Intergovernmental Panel on Climate
Change, Cambridge. U.K. 2001
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)., Climate change 2007: Impacts,
Adaptation And Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth
Assessment Report of the Intergovernmental Panel of Climate Change,
Intergovernmental Panel on Climate Change, Cambridge. U.K. 2007
Sidharno, W., Masduqi, A., Lasminto, U., Impact of Future Climate Change on Water
Availability in Kupang City, Proceeding ISEE 2013,ISBN 978-602-95595-6-9
Suripin., Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2004

Sunjoto., Teknik Drainase Pro-Air, Bahan Kuliah Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2011
Triatmodjo, B., Hidrologi Terapan, Beta Offset, Yogyakarta, 2010