Anda di halaman 1dari 12

WASIAT DAN PERMASALAHANNYA

A. Pengertian Wasiat, Hukum dan Dasar Hukum Wasiat


1. Pengertian Wasiat
Kata wasiat (washiyah) diambil dari kata washshaitu asy-syaia, uushiihi,
artinya aushaltuhu (aku menyampaikan sesuatu). Maka muushii (orang yang
berwasiat) adalah orang yang menyampaikan pesan diwaktu dia hidup untuk
dilaksanakan sesudah dia mati (Sayyid Sabiq, 1987 : 230).
Menurut Amir Syarifuddin secara sederhana wasiat diartikan dengan:
penyerahan harta kepada pihak lain yang secara efektif berlaku setelah mati
pemiliknya.
Menurut istilah syara wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain
baik berupa barang, piutang ataupun manfaaat untuk dimiliki oleh orang yang
diberi wasiat sesudah orang yang berwasiat mati (Sayyid Sabiq, 1987 : 230).
Menurut Hukum Islam pasal 171 huruf f wasiat adalah pemberian suatu
benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah
pewaris meninggal dunia (Elimartati, 2010 : 59).
Wasiat adalah amanah yang diberikan seseorang menjelang ajalnya atau dia
membuat dan berwasiat dalam keadaan sedang tidak sehat, artinya bukan ketika
menjelang ajal. Wasiat dapat dipandang sebagai bentuk keinginan pemberi wasiat
yang ditumpahkan kepada orang yang diberi wasiat. Oleh karena itu, tidak semua
wasiat itu berbentuk harta. Adakalanya wasiat itu berbentuk nasihat, petunjuk
perihal tertentu, rahasia orang yang memberi wasiat, dan sebagainya (Beni Ahmad
Saebani, 2009 : 343).
Dari berbagai definisi tersebut dapat di jelaskan bahwa wasiat adalah
pemberian seseorang pewaris kepada orang lain selain ahli waris yang berlaku
setelah pewaris meninggal dunia.

2. Hukum Wasiat
Menurut Sayyid sabiq, hukum wasiat itu ada beberapa macam yaitu :
a) Wajib
Wasiat itu wajib dalam keadaan jika manusia mempunyai kewajiban syara
yang dikhawatirkan akan disia-siakan bila dia tidak berwasiat, seperti adanya
titipan, hutang kepada Allah dan hutang kepada manusia. Misalnya dia
mempunyai kewajiban zakat yang belum ditunaikan, atau haji yang belum
dilaksanakan, atau amanat yang harus disampaikan, atau dia mempunyai hutang
yang tidak diketahui sselain dirinya, atau dia mempunyai titipan yang tidak
dipersaksikan.
b) Sunah
Wasiat itu disunatkan bila diperuntukkan bagi kebajikan, karib kerabat,
orang-orang fakir dan orang-orang saleh.
c) Haram
Wasiat itu diharamkan jika ia merugikan ahli waris. Wasiat yang maksudnya
merugikan ahli waris seperti ini adalah batil, sekalipun wasiat itu mencapai
sepertiga harta. Diharamkan juga mewasiatkan khamar, membangun gereja, atau
tempat hiburan.
d) Makruh
Wasiat itu makruh jika orang yang berwasiat sedikit harta, sedang dia
mempunyai seorang atau banyak ahli waris yang membutuhkan hartanya.
Demikian pula dimakruhkan wasiat kepada orang yang fasik jika diketahui atau
diduga keras bahwa mereka akan menggunakan harta itu di dalam kefasikan dan
kerusakan.
e) Jaiz
Wasiat diperbolehkan bila ia ditujukan kepada orang yang kaya, baik orang
yang diwasiati itu kerabat ataupun orang jauh (bukan kerabat).

3. Dasar Hukum Wasiat


a) Al-Quran

Q.S Al-Baqarah ayat 180 :

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tandatanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak
dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang
yang bertakwa.
Q.S Al-Baqarah ayat 283 :

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan


meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi
nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan
tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris
dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri
mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
b) Hadits
) :


, , , ( ,
,
Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memberi
hak kepada tiap-tiap yang berhak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris."

Riwayat Ahmad dan Imam Empat kecuali Nasa'i. Hadits hasah menurut Ahmad
dan Tirmidzi, dan dikuatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu al-Jarud
(Bulughul Maram digital, 2008 : 987)

: :

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir, dia berkata: Telah bersabda
Rasulullah SAW : barang siapa yang mati dalam keadaan berwasiat, maka dia
telah mati di jalan Allah dan Sunnah, mati dalam keadaan taqwa dan syahid, dan
dia mati dalam keadaan diampuni dosanya.
c) Ijma
Kaum muslimin sepakat bahwa tindakan wasiat merupakan syariat Allah
dan RasulNya. Ijma didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan Hadits.
B. Rukun, dan Syarat Wasiat
1. Rukun wasiat
Menurut Sayyid Sabiq rukun wasiat itu adalah dari orang yang
mewasiatkan.Menurut Ibnu Rusyd wasiat ada 4 yaitu : orang yang berwasiat,
orang yang menerima wasiat, barang yang diwasiatkan, dan sighat (Elimartati,
2010 : 61).
2. Syarat wasiat
a) Syarat orang yang berwasiat
Menurut Sayyid Sabiq diisyaratkan agar orang yang memberi wasiat itu
adalah orang yang ahli kebaikan, yaitu orang yang mempunyai kompetensi
(kecakapan) yang sah.
b) Syarat orang yang menerima wasiat
Dia bukan ahli waris dari orang yang berwasiat.
Orang yang diberi wasiat disyaratkan ada dan benar-benar ada disaat
wasiat dilaksanakan baik ada secara nyata maupun secara perkiraan,
seperti berwasiat kepada anak dalam kandugan, maka kandungan itu
harus ada diwaktu wasiat diterima.

Orang yang diberi wasiat bukan lah orang yang membunuh orang yang
memberi wasiat.
C. Syarat Benda Yang Diwasiatkan
Pada dasarnya benda yang menjadi objek wasiat adalah benda-benda atau
manfaat yang bisa dimiliki dan dapat digunakan untuk kepentingan manusia
secara positif (Elimartati, 2010 : 64).
Menurut pasal 194 Kompilasi Hukum Islam menentukan bahwa harta benda
yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewaris (ayat 2) (Abdul Shomad,
2010 : 355).
Menurut Amir Syrifuddin harta yang diwasiatkan itu tidak boleh melebihi
sepertiga dari harta yang dimiliki oleh pewasiat (Amir Syarifuddin, 2010 : 237).
Menurut pasal 195 bahwa wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya
sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujuinya
(pasal 195 ayat 2). Pernyataan persetujuan dibuat secara lisan dihadapan dua
orang saksi atau tertulis dihadapan dua orang saksi

atau dihadapan notaris

(pasal195 ayat 4). Apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta warisan, sedangkan
ahli waris ada yang tidak menyetujuinya maka wasiat hanya dilaksanakan sampai
batas sepertiga harta warisan (Abdul Shomad, 2010 : 356).
D. Permasalahan Tentang Wasiat
1.Yang tidak boleh menerima Wasiat
Dari uraian yang terdahulu bahwa yang boleh menerima wasiat adalah
orang-orang yang tidak menjadi ahli waris. Jadi intinya orang yang telah menjadi
ahli waris tidak berhak untuk menerima wasiat karena wasiat itu hanya
diperuntukkan kepada selain orang yang menjadi ahli waris.
Rincian tentang yang tidak boleh menerima wasiat dijelaskan dalam KHI
pasal 207 dan 208. Pasal 207 wasiat tidak diperbolehkan kepada orang yang
melakukan pelayanan perawatan bagi seseorang dan kepada orang yang memberi
tuntunan kerohanian sewaktu ia menderita sakit hingga meninggalnya, kecuali
ditentukan dengan tegas dan jelas untuk membalas jasanya. Pasal 208 wasiat
tidak berlaku bagi notaris dan saksi-saksi pembuat akta tersebut. Peraturan

tersebut di atas dimaksudkan agar tidak terjadi penyimpangan dalampelaksanaan


wasiat, mengingat orang-orang yang disebut dalam pasal 207, 208 tersebut terlihat
langsung dalam kegiatan wasiat tersebut (Elimartati, 2010 : 67).
1. Batalnya wasiat
Menurut Sayyid Sabiq wasiat itu batal dengan hilangnya salah satu syarat
dari syarat yang ada pada wasiat, misalnya sebagai berikut.
a) Bila orang yang berwasiat itu menderita penyakit gila yang parah yang
menyampaikannya pada kematian.
b) Bila orang yang diberi wasiat mati sebelum orang yang memberi wasiat itu
mati.
c) Bila yang diwasiatkan itu barang tertentu yang rusak sebelum diterima oleh
orang yang diberi wasiat
Menurut KHI pada pasal 197 :
1) Wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan
hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dihukum karena :
a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya
berat pada pewasiat.
b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan bahwa pewasiat telah
melakukan suatu

kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun

penjara atau hukuman yang lebih berat.


c. Dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk
membuat atau mencabut atau mengubah wasiat untuk kepentingan calon
penerima wasiat.
d. Dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat
wasiat dari pewasiat.
2) Wasiat itu menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat
itu :
a. Tidak mengetahuui adanya wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia
sebelum meninggalnya sipewasiat.
b. Mengetahui adanya wasiat tersebut, tetapi ia meolak untuk menerimanya.
c. Mengetahui adanya wasiat itu tetapi tidak pernah mengatakan menerima
atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat.
3) Wasiat menjadi batal apabila barang yang diwasiatkan musnah.

3. Pencabutan wasiat
Pencabutan wasiat diatur dalam pasal 199 KHI yang berbunyi :
1) Pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum
mengatakan persetujuannya atau mengatakan persetujuannya tetapi
kemudian menarik kembali.
2) Pencabutan wasiat dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh
dua orang saksi atau bebrdasarkan akte notaris bila wasiat terdahulu dibuat
secara lisan.
3) Bila wasiat dibuat secara tertulis, maka hanya dapat dicabut dengna cara
tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte
notaris.
4) Bila wasiat dibuat berdasarkan akte notaris, maka hanya dapat dicabut
berdasarkan akte notaris.
Apabila wasiat yang telah dilaksanakan itu dicabut, maka surat wasiat yang
dicabut diserahkan kembali kepada pewasiat sebagaimana diatur dalam pasal 203
ayat (2) KHI (Elimartati, 2010 : 69-70).
4. Wasiat wajibah
Wasiat wajibah adalah tindakan yang dilakukan oleh penguasa atau hakim
sebagai aparat Negara untuk memaksa atau memberi putusan wajib wasiat bagi
orang yang telah meninggal yang diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan
tertentu (Elimartati, 2010 : 70).
Orang-orang yang mendapat wasiat wajibah adalah cucu-cucu yang orang
tuanya telah mati mendahului atau berbarengan dengan pewaris. Mereka diberi
wasiat wajibah sebesar bagian orang tuanya dengan ketentuan tidak melebihi dari
1/3 peninggalan. Oleh karena besar kecilnya bagian orang tuanya itu tergantung
dengan sedikit atau banyaknya saudara orang tuanya, maka ada kemungkinan
bahwa bagian orang tuanya 1/5, 1/4, 1/3 atau 1/2 peninggalan, kelebihannya itu
harus dikembalikan kepada ahli waris. Walaupun cucu tersebut dapat menduduki
kedudukan orang tuanya dalam memperoleh harta warisan, namun jumlah yang
diterimanya itu bukan semata-mata berdasarkan memusakai (dengan fardh atau

ushubah), tetapi berdasarkan wasiat wajibah. Oleh karena itu, memberikan


bagiannya harus didahulukan daripada memberikan bagian kepada ahli waris
(Abdul Shomad, 2010 : 365).
Dasar hukum penentuan wasiat wajibah adalah kompromi dari pendapatpendapat ulama salaf dan khalaf yang menurut Fathur Rahman adalah :
Tergantung kewajiban berwasiat kepada kerabat, kerabat yang tidak dapat
menerima pusaka ialah diambil dari pendapat-pendapat fuqaha dan Tabiin besar
ahli fiqih dan ahli hadits antara lain Sain bin Musayyad, Hasan Al-Basyri,
Thawus, Ahmad Ishak bin Rahawib dan Ibnu Hazmin.
Pemberian sebagian harta simati kepada kerabat-kerabat yang tidak dapat
menerima pusaka yang berfungsi wasiat wajibah, bila simati tdak berwasiat adalah
diambil dari pendapat mazhab Ibnu Hazmin yang dinukilkan dari fuqaha, tabiin
dan pendapat Ahmad.
Pengkhususan kerabat-kerabat yang tidak menerima pusaka kepada cucu dan
pembatasan penerimaan sebesar 1/3 peninggalan adalah didasarkan kepada Ibnu
hanzim, dan kaedah yang berbunyi pemegang kekuasaan mempunyai wewenang
perkara mubah karena ia berpendapat bahwa hal itu membawa kemaslahatan
umum. Bila penguasa memrintahkan demikian wajiblah ditaati.
5. Ketentuan Teknis
Dalam KHI juga diatur beberapa ketentuan teknis untuk mengantisipasi dan
menyelesaikan masalah yang timbul, antara lain pasal 204 yang menyebutkan :
Jika pewasiat meninggal dunia maka surat wasiat yang tertutup dan disimpan pada
notaris, dibuka olehnya dihadapan ahli waris, disaksikan dua orang saksi dan
dengan membuat berita acara pembukaan surat wasiat tersebut.
Jika surat wasiat yang tertutup disimpan bukan pada notaris maka penyimpan
harus menyerahkan kepada notaris setempat dan selanjutnya notaris atau kantor
urusan agama membuka sebagaimana ditentukan dalam ayat (1) pasal ini.
Setelah semua isi serta maksud surat wasiat itu diketahui maka oleh notaris
atau kantor urusan agama diserahkan kepada penerima wasiat guna menyelesaikan
wasiat guna penyelesaian selanjutnya.

Pasal 205 menyatakan dalam waktu perang, para anggota tentara dan mereka
yang termasuk dalam golongan tentara dan berada dalam daerah pertempuran atau
yang berada disuatu tempat yang ada dalam kepungan musuh, dibolehkan
membuat surat wasiat dihadapan seorang komandan atasannya dengan dhadirkan
oleh dua orang saksi.
Pasal 206 mengatur orang yang sedang dalam perjalanan melalui laut
dibolehkan membuat surat wasiat di hadapan nahkoda atau mualim kapal jika
pejabat tersebut tidak ada maka dibuat dihadapan seorang penggantinya dengan
dihadiri dua orang saksi.
E. Membedakan Wasiat dengan Wasiat Wajibah
No.
1.

Perbedaan
Dari segi
orang

Wasiat biasa
Wasiat wajibah
yang Orang lain selain orang Diberikan kepada anak angkat

menerima yang

wasiat.

menjadi

ahli yang tidak mendapat wasiat

waris.

biasa.
Cucu laki-laki maupun cucu
perempuan yang orang tuanya
mati mendahului atau bersamasama kakek

Dari segi hukum

sunah

atau

neneknya

(pewasiat).
wajib

DAFTAR PUSTAKA
Elimartati, 2010. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Batusangkar : STAIN
Batusangkar Press.
Abdul Shomad, 2010. Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam
Hukum Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Sayyid Sabiq,1987. Fiqih Sunnah

KESIMPULAN
Dari uraian di atas kami dapat menyimpulkan bahwa, wasiat itu bukanlah
kewajiban atas setiap orang yang meninggalkan harta, dan bukan pula kewajiban
terhadap kedua orang tua dan karib kerabat yang tidak mendapat harta warisan
(pendapat kedua): tetapi wasiat itu hukumnya berbeda-beda menurut keadaan.
Wasiat itu terkadang wajib, terkadang sunat, terkadang haram, terkadang makruh,
dan terkadang mubah (boleh).
Wasiat itu di serahkan setelah pemberi wasiat meninggal dunia, wasiat
tersebut bisa berupa pemberian seseorang kepada orang lain baik berupa barang,

piutang maupun manfaat untuk dimiliki oleh orang yang diberi wasiat itu secara
sepihak dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun serta secara sukarela.
Bagian atau besarnya wasiat yang di terima oleh penerima wasiat tidak
boleh lebih dari 1/3 dari harta nya. Berwasiat kepada ahli waris menurut kami
boleh yakni dengan ada izin dari pihak ahli waris lainya.

MAKALAH FIQHI
WASIAT DAN PERMASALAHANNYA

MIFTAHUL JANNAH
NIM. 004-01-01-2013
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM
TAKALAR
2015