Anda di halaman 1dari 3

Taujih Pekanan Riayah Manawiyah

Kisah Burung Hud-hud dan Nabi Sulaiman


Seekor burung hud-hud berinisiatif melakukan kerja dakwah. Ia mengintai
aktivitas suatu kaum yang dengan sebab kabar itulah, sekumpulan umat mendapat
hidayah Allah.








( )











( )










( )











()








Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, Mengapa aku tidak melihat hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan
mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali
jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". Maka tidak lama
kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, Aku telah mengetahui sesuatu yang
kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita
penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang
memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai
singgasana yang besar. (An-Naml/27 :22-23)
Kisah ini menunjukkan bahwa pada diri seorang prajurit terdapat
ciri yaqdzah (selalu sadar akan misi), diqqah (teliti) dalam beramal dan semangat
untuk menyadarkan kaum. Hud-hud tidak keluar dari tujuan jamaah dan sarananya,
juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang
lebih utama. Tindakan Hud-hud harus dipahami positif, bahwa yang dilakukannya
merupakan tindakan memanfaatkan furshah (peluang) untuk menjalankan misi
dakwah, bukan untuk tasayyub (lepas control).
Selanjutnya dalam kisah ini juga ditunjukka bahwa pada diri pemimpin terdapat
sifat kontrol, ketegasan dan penyelesaian persoalan anggotanya, sekecil apapun
persoalan itu dan dilakukan oleh anggota serendah apapun jenjangnya.
Hud-hud telah manfaatkan kecemerlangan berfikirnya untuk mencari berita suatu
kaum karena ia berkeinginan menyampaikan risalah Islam dan mengajak mereka
mentauhidkan Allah disertai dengan tindakan yang bijak, presentasi yang gemilang
serta keberanian dalam mengemukakan uzur.
Seorang dai tentu lebih mulia dari seekor burung Hud-hud yang memiliki inisiatif
positif mencari-cari kebaikan. Seorang dai harus lebih terpanggil untuk berinisiatif
melakukan perbuatan baik tanpa harus menunggu perintah.
Memandang kepada para pemimpin dakwah bahwa tidak seluruh rencana dan
program dapat dikerjakan dan dapat dimutabaahi, karena itu pengarahan terhadap
semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan. Kita dapat menyimak bahwa
Nabi Sulaiman as. yang dikuatkan dengan wahyu Allah dan ditundukkan untuknya jin
dan burung-burung tidak mampu mengetahui semua perkara dan tidak mampu
menyerap semua informasi. Karenanya ia memerlukan sedikit informasi dari burung
yang kecil yang secara positif merupakan masukan besar bagi dakwah.

Pengecekkan atas keterlambatan burung Hud-hud. Dengan sikap positif yang


pada burung Hud-hud, maka alasannya itu diterima. Di lain pihak, Sulaiman berkata :



()







Akan kami lihat, apa kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang
berdusta.
(AN-Naml/27 : 27)
Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus menerima alasan keterlambatan
tersebut dan membatalkan hukuman yang telah ia janjikan karena alasan yang
disampaikan. Alasan burung Hud-hud tersebut mengandung dua kemungkinan: benar
atau dusta. Dan kenyataannya kabar burung hud-hud tersebut adalah benar. Dari
kabar itulah nabi Sulaiman as. kemudian menyerukan untuk berjihad.
Adanya itidzar lilqaid fi adail wajib. Jika kita jadikan kisah ini sebagai amal
positif, maka kita akan melihat bahwa dalam pemaafan dan menyampaikan alasan
terdapat sesuatu yang berharga, ketika pengetahuan burung Hud-hud memberikan
manfaat kepada pemimpin. Bahkan Hud-hud menyampaikan dengan ungkapan
nabayaqin (berita penting dan besar yang diyakini kebenarannya), Keberanian
burung Hud-hud untuk berbicara kepada nabi Sulaiman a.s. karena kabar yang
dibawanya merupakan kabar penting dan nabi Sulaiman a.s. belum mempunyai kabar
tersebut. Kalaulah keterlambatnya tanpa ada hal yang akan ia sampaikan, maka
dengan segala kelemahannya ia tidak akan mampu berbicara lantang di hadapan
pemimpinnya.
Hudhur (kehadiran) yang dapat menyelamatkan kita dari uzur kita di hadapan
pemimpin adalah hudhur dawi tarbawi. Sejalan dengan semangat meningkatkan diri
dan memperbanyak kader baru, maka kita dituntut untuk selalu hadir dalam kerangka
aktivitas dawah dan tarbiya. Boleh jadi seseorang tidak pernah absen untuk hadir di
setiap pertemuan, akan tetapi keikutsertaannya tidak membawa inisiatif positif untuk
melakukan aktivitas dakwah dan tarbiyah. Karenanya diantara sikap positif seorang
pemimpin adalah memperhatikan dan mengontrol binaanya agar kehadirannya dalam
dakwah dan tarbiyah tidak pernah absen. Karena itu kalaupun ia uzur untuk hadir
dipertemuan karena alasan syari maka tidak serta merta disimpulkan sebagai
ketidakhadirannya dalam dakwah, sebelum dilihat kehadirannya pada aktivitas
dakwah dan tarbiyah lainnya.
Adapun pelajaran spesifik untuk para pemimpin diantaranya:
a. Tafaqqudul amiir lil-athba (rasa kehilangan seorang pemimpin terhadap
pengikutnya). Seorang pemimpin memiliki perhatian terhadap kehadiran
binaannya dalam suatu aktifitas.
b. Akhdzul amri bilhazm (sangat perhatian terhadap perkara). Seorang pemimpin
memiliki wibawa di hadapan pengikutnya dengan menyatakan sikap tegasnya.
c. Muhasabah
(evaluasi).
Seorang
pemimpin
harus
berinisiatif
untuk
mengevaluasi proses dan hasil tarbiyah yang ia lakukan.
d. Tabayyunul udzr (klarifikasi uzur). Seorang pemimpin harus mengklarifikasi
alasan keuzuran binaan agar penyikapan yang akan diambil lebih berdampak
positif.
e. Taqdir kulli udhwin (menghargai masing-masing anggota). Sayyid Quthb
berkomentar: burung hud-hud itu satu ekor dari sekawanan burung hud-hud
yang lain dan dari sekian banyak burung yang menjadi pendukung
kerajaannya. Seorang anggota betapapun kondisinya harus dihargai sebagai
anggota dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Terakhir pelajaran yang kita lihat yaitu bahwa dengan kerja yang kelihatannya
kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat
menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan rakyatnya. Karena itu diantara
sikap positif seorang dai adalah tidak meremehkan perkara kecil. Allahu Alam.