Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

Nama

: Tn.H

Tanggal lahir

: 24-7-1991

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Demanggala, Pangkep

Agama

: Islam

No. RM

: 035421

Tanggal masuk : 22-2-2015


I. SUBJEKTIF
ANAMNESIS
Autoanamnesis
Keluhan Utama : Demam
Anamnesis Terpimpin : Demam dirasakan sejak 6 hari sebelum masuk rumah sakit, demam
dirasakan terus menerus dan lebih meningkat dimalam hari. Pasien tidak menggigil ataupun
keringat dingin, mual ada namun muntah disangkal, Tidak ada mimisan, gusi berdarah,
muntah darah, ataupun BAB berwarna hitam. Selama sakit, pasien hilang nafsu makan,
merasa pusing dan sulit tidur. Pasien telah mengkonsumsi obat paracetamol dan demam reda
setelah minum obat ini. Pasien juga minum obat tiamfenikol yang dibeli diapotik dan
dikonsumsi selama 1 hari. Batuk, sesak, dan flu disangkal. Riwayat bepergian ke daerah
endemis malaria tidak ada, pasien tinggal sendiri dimakassar dan disekitar rumah tidak ada
yang terkena demam berdarah. Riwayat sakit tifoid sebelumnya ada, riwayat sakit jantung
tidak ada, riwayat Hipertensi tidak ada.
II. STATUS PRESENT
Sakit sedang/gizi baik/compos mentis
Tinggi badan : 162 cm
Berat Badan : 49 kg
IMT : 18,7 kg/m2

Status Vitalis :
T : 110/80 mmHg
N :103 x/menit
P : 22 x/menit
S : 38C, axilla
III. PEMERIKSAAN FISIS
Kepala :
Ekspresi : Biasa
Simetris muka : simetris kiri = kanan
Deformitas : (-)
Rambut : hitam, sukar dicabut
Mata :
Eksoptalmus/Enophtalmus : (-)
Gerakan : ke segala arah
Kelopak mata : edema (-)
Konjungtiva : anemis (-)
Sklera : ikterus (-)
Kornea : jernih
Pupil : bulat isokor diameter 2,5 mm/2,5 mm
Telinga
Pendengaran : dalam batas normal
Tophi : (-)
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
Hidung :
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
Mulut:
Bibir : pucat (-), kering (-)
Lidah : kotor (+), tremor (-), tepi hiperemis (-)

Tonsil : T1 T1, hiperemis (-)


Faring : hiperemis (-)
Gigi geligi : caries dentis (-)
Gusi : hiperemis (-)
Leher :
Kelenjar getah bening : tidak ada pembesaran
Kelenjar gondok : tidak ada pembesaran
DVS : R+1 cmH2O
Pembuluh darah : tidak ada kelainan
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)
Dada :
Inspeksi :
Bentuk : simetris kiri = kanan, normochest
Pembuluh darah : bendungan vena sentral (-)
Sela iga : pelebaran sela iga (-)
Paru
Palpasi :
Fremitus raba : kesan normal
Nyeri tekan : (-)
Massa tumor : (-)
Perkusi :
Paru kiri : sonor
Paru kanan : sonor.
Batas paru-hepar : ICS VI dextra anterior,
Batas paru belakang kanan : CV Th. X dekstra
Batas paru belakang kiri : CV Th. XI sinistra
Auskultasi :
Bunyi pernapasan : vesikuler

Bunyi tambahan : Rh -/-, Wh -/Jantung :


Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : pekak
Batas kanan atas : ICS II linea parasternalis dextra
Batas kiri atas : ICS II linea midclavicularis sinistra
Batas Kanan bawah : ICS V linea parasternalis dextra
Batas Kiri bawah : ICS V linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I/II murni regular, bunyi tambahan (-)
Perut
Inspeksi : datar, ikut gerak napas, massa tumor (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), massa tumor (-)
hepar tidak teraba pembesaran
lien tidak teraba pembesaran
Perkusi : timpani
Auskultasi : peristaltik (+), kesan normal
Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan Rektum
Tidak dilakukan pemeriksaan
Punggung
Palpasi : nyeri tekan (-), massa tumor (-)
Nyeri ketok : (-)
Auskultasi : BP: vesikuler
Gerakan : dalam batas normal
Ekstremitas :
Edema : -/-

Laboratorium:
Darah Rutin
WBC
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT

Hasil
3.740/uL
5.270.000/uL
14,9 g/dL
41,7 %
79,1 pl
28,3 pg
35,7 g/dl
153.000 /uL

Nilai Rujukan
4000-11000/uL
4,55,5 x 106/uL
13 - 16 g/dL
40 50%
80 100 pl
27 34 pg
31 36 g/dl
150-450x 103/uL

Kimia Darah
Glukosa Sewaktu

Hasil
99

Nilai Rujukan
80-180

Pemeriksaan penunjang lainnya:


Imunoserologi :

IgM Salmonella Typhi 10 (positif)

Sedimen Urine
Eritrosit
Leukosit
Silinder
Epitel
Bakteri
Kristal
Silinder Hyaline

Hasil
0-2
0-2
negatif
0-2
negatif
negatif
negatif

Nilai rujukan
0-2/LPB
0-5/LPB
negatif
<10/LPK
negatif
negatif
0-2/LPK

Urine Rutin
Color
Blood
Bilirubin

Hasil
Kuning
Negative
Negative

Nilai Rujukan
kuning
negatif
negatif

Urobilinogen
Keton
Protein
Nitrit
Glukosa
Ph
SG
Leukosit
Vit.C

normal
(+++) 100 mg/dl
negatif
negatif
negatif
7,0
1,015
negatif
negatif

normal
negatif
negatif
negatif
negatif
4,5-8,0
1,005-1,035
negatif
negative

IV. ASSESSMENT
Demam typhoid
V. PLANNING

Diet biasa.

Pengobatan :

IVFD RL 28 tpm
Tiamfenikol 500 mg 2 tab/12 jam/oral
Paracetamol 500 mg/ 8jam/ oral (kalau perlu)

Rencana Pemeriksaan :
Urin rutin dan sedimen urin
SGOT/SGPT

VI. PROGNOSIS
Quad ad Functionam : Dubia ad Bonam
Quad ad vitam : Dubia ad Bonam
Quad ad sanationam: Dubia ad Bonam

FOLLOW UP TANGGAL

PERJALANAN

INSTRUKSI DOKTER

22/02/2015

PENYAKIT
S:

P:

T : 110/80 mmHg
N :103 x/menit
P : 22 x/menit
S : 38C, axilla
Hematologi rutin :
WBC 3.74
HGB 14,9
HCT 41,7
PLT 153

- Deman

(+)

meningkat - Diet rendah serat

menjelang malam hari


- Diet biasa
Menggigil (-)
- Bed rest
Keringat dingin (-)
Mual (+), muntah (-)
-Banyak minum air putih
Mimisan, gusi berdarah,
- IVFD RL 28 tpm
muntah darah, BAB hitam
-Thiamfenikol 500 mg 2
(-)
tab/12 jam/oral
- Pusing (+), sulit tidur (+)
(hari ke-2)
- Batuk, sesak, flu (-)
- BAB dan BAK : lancar
-Paracetamol 500 mg/8
seperti biasa
jam/oral.
O:
-

- SS / GC / CM
- Anemis -/-, ikterus -/-,
IgM Salmonella Typhi 10 - Lidah kotor (+) , hiperemis
Imunoserologi :
(positif)
Kimia darah :
GDS 99

(-), tremor (-)


- DVS R+1 cmH2O
- BP : vesikuler,
BT : Rh -/- , Wh -/- BJ : I/II murni regular
BT : murmur (-)
- Nyeri tekan (-), Peristaltik (+)
kesan normal,
- Hepar tidak teraba
- Lien tidak teraba
- Ext : Edema -/A : Demam Tifoid
S:

23/02/2015
T : 110/80
N : 84 x/i
P : 20 x/i
S : 37,6C

Kimia darah :
SGOT 24
SGPT 22
Sedimen urin :
Eritrosit 0-2
Leukosit 0-2
Silinder (-)
Epitel 0-2
Bakteri (-)

- Deman

(+)

P:
meningkat

- Diet rendah serat

menjelang malam hari


- Diet biasa
Menggigil (-)
- Bed rest
Keringat dingin (-)
-Banyak minum air putih
Mual (+), muntah (-)
Mimisan, gusi berdarah,
- IVFD RL 28 tpm
muntah darah, BAB hitam
-Paracetamol 500 mg/8
(-)
jam/oral.
- Pusing (+), sulit tidur (+)
- Ceftriaxone 3 gr/24 jam/
- Batuk, sesak, flu (+)
- BAB dan BAK : lancer
drips dalam NaCl 0,9%
seperti biasa
100 CC habiskan dalam
O:
30 menit (hari ke-1)
- SS / GC / CM
- Anemis -/-, ikterus -/-,
- Lidah kotor (+) , hiperemis
-

(-), tremor (-)


- DVS R+1 cmH2O
- BP : vesikuler,
BT : Rh -/- , Wh -/- BJ : I/II murni regular

RESUME
Seorang laki-laki umur 23 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan febris. Febris
dirasakan sejak 6 hari sebelum masuk rumah sakit, febris dirasakan terus menerus dan lebih
meningkat dimalam hari. Mual ada namun muntah disangkal. Selama sakit, pasien
mengalami anoreksia, cephalgia, dan insomnia. Riwayat konsumsi obat untuk mengurangi
gejala saat ini : tiamfenikol, dikonsumsi selama 1 hari dan paracetamol untuk menurunkan
febrisnya. Riwayat bepergian ke daerah endemis malaria tidak ada. Riwayat sakit tifoid
sebelumnya ada.
Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan TD: 110/80 mmHg , N :103 x/menit , P : 22
x/menit , S : 38C, axilla. Dan pada pemeriksaan fisis didapatkan lidah kotor.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kelainan pada WBC 3.74, HB 14,9, HCT
41,7, PLT 153, IgM Salmonella Typhi positif (10), GDS 99, SGOT 24, SGPT 22, Urin rutin
keton (+++)100 mg/dl.
DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesis, keluhan pada pasien yaitu deman 6 hari sebelum masuk
rumah sakit yang meninggi menjelang malam hari disertai dengan gejala gastrointestinal
berupa mual, dan pada pemeriksaan fisis didapatkan lidah kotor positif. Riwayat penyakit
terdahulu tifoid. Riwayat konsumsi obat untuk mengurangi gejala : paracetamol dan
tiamfenikol yang telah dikonsumsi sehari sebelum masuk rumah sakit. Setelah dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisis, hal ini mengarahkan ke suatu diagnosa demam tifoid
karena gejala demam tifoid adalah demam yang lebih meninggi terutama di sore/malam hari
disertai adanya gejala gastrointestinal berupa mual pada pasien ini. Dan setelah dilakukan
pemeriksaan imunoserologi (Uji Tubex) didapatkan IgM Salmonella 10 (positif), yang berarti
pasien memang telah terinfeksi Salmonella Typhi. Uji Tubex merupakan uji semi kuantitatif
kolometrik yang cepat dan mudah untuk dikerjakan. Uji tubex hanya dapat mendeteksi IgM
dan tidak dapat mendeteksi IgG. Adapun interpretasi hasil uji Tubex : skor <2 (negative)
tidak menunjukkan infeksi tifoid aktif, skor 3 (borderline), skor 4-5 (positif) menunjukkan
infeksi tifoid aktif, dan skor >6 (positif) yang artinya indikasi kuat infeksi tifoid.
Penatalaksaan yang diberikan pada pasien ini adalah bed rest, diet biasa, dan pemberian
antibiotik. Bed rest dimaksudkan agar tidak terjadi komplikasi, namun posisi pasien harus

tetap diawasi untuk mencegah dekubitus. Pasien sebelumnya telah mengkonsumsi obat
tiamfenikol selama 1 hari sebelum masuk rumah sakit, jadi pemberian tiamfenikol
dilanjutkan dan menunggu hasil laboratorium. Dan ternyata hasil laboratorium didapatkan
leukopenia,dengan kadar leukosit 3.740/uL, jadi obat tiamfenikol diganti dengan ceftriaxone
dengan pertimbangan efek samping hematologi dari tiamfenikol. Ceftriaxone merupakan obat
sefalosporin generasi ketiga yang terbukti efektif untuk demam tifoid, pemberian cefriaxone
pada pasien ini di drips dalam NaCl diberikan selama 3 sampai 5 hari
Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan WBC 3.740/UL,dan urin rutin didapatkan
keton (+++) 100 mg/dl yang berarti leukopenia dan ketonuria. Leukopenia pada pasien ini
dihubungkan dengan riwayat konsumsi obat tiamfenikol. Karena tiamfenikol selain
menyebabkan aplasia sumsum tulang, trombositopenia, peningkatan kadar serum iron, juga
menyebabkan leukopenia. Ketonuria adalah didapatkannya keton dalam urin, yang
sebenarnya tidak ada. Bila karbohidrat tidak tersedia, tubuh memetabolisme lemak untuk
mendapatkan energi yang dibutuhkan. Pemecahan lemak untuk energi menghasilkan zat yang
disebut keton. Ketonuria pada pasien ini dipikirkan akibat intake makanan yang kurang
karena nafsu makan berkurang sehingga tubuh memanfaatkan cadangan makanan tubuh dan
menghasilkan keton.

DEMAM TIFOID
Pendahuluan
Demam tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh
Salmonella typhi. Demam paratifoid adalah penyakit sejenis yang disebabkan Salmonella
paratyphi A, B, dan C. Gejala dan tanda kedua penyakit tersebut hampir sama, tetapi
manifestasi klinis paratifoid lebih ringan. Kedua penyakit diatas disebut tifoid. Terminology
lain yang sering digunakan adalah typhoid fever, paratyphoid fever, typhus, dan parathypus
abdominalis atau demam enteric.
Sejarah tifoid dimulai saat ilmuwan Perancis bernama Pierre Louis memperkenalkan
istilah typhoid pada tahun 1829. Typhoid atau typhus berasal dari bahasa Yunani typhos yang
berarti penderita demam dengan gangguan kesadaran. Kemudian Gaffky juga berhasil
membiakkan Salmonella typhi dalam media kultur pada tahun 1884. Pada tahun 1896 Widal
akhirnya menemukan pemeriksaan tifoid yang masih digunakan sampai saat ini. Selanjutnya,
pada tahun 1948 Woodward dkk.melaporkan untuk pertama kalinya bahwa obat yang efektif
untuk demam tifoid adalah kloramfenikol.
Epidemiologi
Demam tifoid menyerang penduduk disemua negara. Demam tifoid banyak ditemukan
di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan. Seperti penyakit menular lainnya, tifoid
banyak ditemukan dinegara berkembang dimana hygiene pribadi dan sanitasi lingkungannya
kurang baik. Prevalensi kasus bervariasi tergantung lokasi, kondisi lingkungan setempat, dan
perilaku masyarakat. Angka insidensi di seluruh dunia sekitar 17 juta pertahun dengan
600.000 orang meninggal karena penyakit ini. WHO memperkirakan 70% kematian terjadi di
Asia.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam tifoid di seluruh
dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian tiap tahunnya. Demam tifoid
merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Anak
merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid, walaupun gejala yang dialami anak
lebih ringan dari dewasa.
Di Amerika Serikat, pada tahun 1950 tercatat sebanyak 2.484 kasus demam tifoid.
Insidensi di Amerika Serikat menurun sejak tahun 1990 menjadi 300-500 kasus per tahun.
10

Penurunan ini sering dihubungkan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap


perilaku hidup bersih dan terutama dengan meluasnya pemakaian jamban yang sehat. Kasus
yang terjadi di Amerika sebagian besar adalah kasus impor dari Negara endemic demam
tifoid.
Prevalensi di Amerika Latin sekitar 150/100.000 penduduk setiap tahunnya, sedangkan
prevalensi di Asia jauh lebih baik yaitu sekitar 900/10.000 penduduk per tahun. Meskipun
demam tifoid menyerang semua usia, namun golongan terbesar tetap pada usia kurang dari
20 tahun.
Angka kejadian demam tifoid (typhoid fever) diketahui lebih tinggi pada negara yang
sedang berkembang di daerah tropis, sehingga tak heran jika demam tifoid atau tifus
abdominalis banyak ditemukan di negara kita. Di Indonesia sendiri, demam tifoid masih
merupakan penyakit endemik dan menjadi masalah kesehatan yang serius. Demam tifoid erat
kaitannya dengan higiene perorangan dan sanitasi lingkungan.
Indonesia merupakan Negara endemik demam tifoid. Diperkiran terdapat 800 penderita
per 100.000 penduduk setiap tahun yang ditemukan sepanjang tahun. Penyakit ini terbesar di
seluruh wilayah dengan insidensi yang tidak berbeda jauh antar daerah. Serangan penyakit
lebih bersifat sporadic dan bukan epidemik. Dalam suatu daerah terjadi kasus yang
berpencar-pencar dan tidak mengelompok. Sangat jarang ditemukan beberapa kasus pada
satu keluarga pada saat yang bersamaan.
Etiologi
Penyebab demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi. Salmonella adalah bakteri
Gram-negatif, tidak berkapsul, mempunyai flagella,dan tidak membentuk spora. Bakteri ini
akan mati pada pemanasan 57c selama beberapa menit. Kuman ini mempunyai tiga antigen
yang penting untuk pemeriksaan laboratorium, yaitu :

Antigen O (somatik)
Antigen H (flagella), dan
Antigen K (selaput)
Menurut nomenklatur yang baru, Salmonella dibedakan menurut adanya keterkaitan

dengan DNA-nya, sehingga sekarang hanya terdapat dua spesies Salmonella yaitu Salmonella
bongori dan Salmonella enterica. Salmonella yang menyerang manusia disebut sebagai strain
dalam subspecies I dan S.Enterica. Salmonella enteric mempunyai 2000 serovar atau strain
11

dan hanya sekitar 200 yang berhasil terdeteksi di Amerika serikat. Dari sekian banyak strain,
Salmonella yang menyerang manusia disebut strain dalam subspecies I dan S.Enterica.
Manifestasi klinis demam tifoid tergantung dari virulensi dan daya tahan tubuh. Suatu
percobaan pada manusia dewasa menunjukkan bahwa 10 7 mikroba dapat menyebabkan
penyakit. Masa inkubasinya adalah 10-20 hari, meskipun ada yang menyebut angka 8-14
hari. Adapun pada gejala gastroenteritis yang diakibatkan oleh paratifoid, masa inkubasinya
berlangsung lebih cepat, yaitu sekitar 1-10 hari.
Sumber

utama

yang terinfeksi

adalah manusia

yang selalu mengeluarkan

mikroorganisme penyebab penyakit,baik ketika ia sedang sakit atau sedang dalam masa
penyembuhan. Pada masa penyembuhan, penderita masih mengandung Salmonella spp
didalam kandung empedu atau di dalam ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak
akan menjadi karier sementara, sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang
menahun.Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal type)
sedang yang lain termasuk urinary type. Kekambuhan yang yang ringan pada karier demam
tifoid, terutama pada karier jenis intestinal,sukar diketahui karena gejala dan keluhannya
tidak jelas.
Patogenesis
Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran cerna (mulut,
esofagus, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dstnya). S typhi masuk ke tubuh
manusia bersama bahan makanan atau minuman yang tercemar. Cara penyebarannya melalui
muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat
(kaki-kaki lalat). Lalat itu mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buahbuahan segar. Saat kuman masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh
asam lambung dan sebagian kuman masuk ke usus halus. Dari usus halus itulah kuman
beraksi sehingga bisa menjebol usus halus. Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman
masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh darah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada
organ hati, empedu, dan lain-lain).Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita
bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui makanan
ataupun minuman yang dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman ini
namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di

12

kotoran dan air seni sampai bertahuntahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia.
Oleh karena itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang
menjaga kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan. Sekali bakteria S. thypi dimakan atau
diminum, ia akan masuk ke dalam saluran darah dan tubuh akan merespons dengan
menunjukkan beberapa gejala seperti demam.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, mulai dari gejala yang ringan sekali
sehingga tidak terdiagnosis, dengan gejala yang khas sampai dengan gejala klinis berat yang
disertai komplikasi. Gejala klinis demam tifoid pada anak cenderung tidak khas. Umumnya
perjalanan penyakit berlangsung dalam jangka waktu pendek dan jarang menetap lebih dari 2
minggu. Faktor risiko higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
Beberapa gejala klinis yang sering terjadi pada demam tifoid adalah sebagai berikut:
Demam. Demam atau panas merupakan gejala utama demam tifoid. Awalnya, demam
hanya samar-samar saja, selanjutnya suhu tubuh turun naik yakni pada pagi hari lebih rendah
atau normal, sementara sore dan malam hari lebih tinggi. Demam dapat mencapai 39-40 C.
Intensitas demam akan makin tinggi disertai gejala lain seperti sakit kepala, diare, nyeri otot,
pegal, insomnia, anoreksia, mual, dan muntah. Pada minggu ke-2 intensitas demam makin
tinggi, kadang terus-menerus. Bila pasien membaik maka pada minggu ke-3 suhu tubuh
berangsur turun dan dapat normal kembali pada akhir minggu ke-3. Perlu diperhatikan bahwa
tidak selalu ada bentuk demam yang khas pada demam tifoid. Tipe demam menjadi tidak
beraturan, mungkin karena intervensi pengobatan atau komplikasi yang dapat terjadi lebih
awal.
Gangguan saluran pencernaan. Sering ditemukan bau mulut yang tidak sedap karena
demam yang lama. Bibir kering dan terkadang pecah-pecah. Lidah terlihat kotor dan ditutupi
selaput kecoklatan dengan ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor. Umumnya penderita
sering mengeluh nyeri perut, terutama nyeri ulu hati, disertai mual dan muntah. Penderita
anak lebih sering mengalami diare, sementara dewasa cenderung mengalami konstipasi.
Gangguan kesadaraan. Umumnya terdapat gangguan kesadaran berupa penurunan
kesadaran ringan. Sering ditemui kesadaran apatis. Bila gejala klinis berat, tak jarang

13

penderita sampai somnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psikosis. Pada penderita
dengan toksik, gejala delirium (mengigau) lebih menonjol.
Hepatosplenomegali. Pada penderita demam tifoid, hati dan atau limpa sering
ditemukan membesar. Hati terasa kenyal dan nyeri bila ditekan.
Bradikardia relatif dan gejala lain. Bradikardi relatif adalah peningkatan suhu tubuh
yang tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi nadi. Patokan yang sering dipakai adalah
bahwa setiap peningkatan suhu 1C tidak diikuti peningkatan frekuensi nadi 8 denyut dalam
1 menit. Bradikardi relatif tidak sering ditemukan, mungkin karena teknis pemeriksaan yang
sulit dilakukan. Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada demam tifoid adalah rose spot
(bintik kemerahan pada kulit) yang biasanya ditemukan di perut bagian atas, serta gejala
klinis yang berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. Rose spot pada anak sangat jarang
ditemukan.
Pemeriksaan Penunjang
1. Darah perifer lengkap. Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni (<5000 per mm3),
limfositosis relatif, monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia ringan. Pada
minggu ketiga dan keempat dapat terjadi penurunan hemaglobin akibat perdarahan
hebat dalam abdomen.
2. Pemeriksaan serologi Widal. Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya adalah
demam tifoid. Reaksi widal negatif tidak menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis
demam tifoid dianggap pasti bila didapatkan kenaikan titer 4 kali lipat pada
pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari. Tes lain yang lebih sensitif dan spesifik
terutama untuk mendeteksi infeksi akut tifus khususnya Salmonella serogrup D
dibandingkan uji Widal dan saat ini sering digunakan karena sederhana dan cepat
adalah tes TUBEX. Tes ini menggunakan teknik aglutinasi dengan menggunakan uji
hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Suspek demam tifoid didukung dengan
gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.

14

Penatalaksanaan
Penderita demam tifoid dengan gejala klinik jelas sebaiknya dirawat di rumah sakit. Di
samping untuk optimalisasi pengobatan, hal ini bertujuan untuk meminimalisasi komplikasi
dan mencegahan pencemaran dan atau kontaminasi, yaitu :
Tirah baring, penderita yang dirawat harus tirah baring (bed rest) dengan sempurna
untuk mencegah komplikasi, terutama perdarahan dan perforasi. Bila gejala klinis berat,
penderita harus istirahat total.
Pemberian nutrisi :

Cairan Penderita harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun
parenteral. Cairan parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat, ada
komplikasi, penurunan kesadaran serta yang sulit makan. Cairan harus

mengandung elektrolit dan kalori yang optimal.


Diet. Diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya rendah
selulosa (rendah serat) untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
penderita demam tifoid, biasanya diklasifikasikan atas diet cair, bubur lunak, tim,
dan nasi biasa.

Terapi simptomatik. Terapi simptomatik dapat diberikan dengan pertimbangan untuk


perbaikan keadaan umum penderita, yakni vitamin, antipiretik (penurun panas) untuk
kenyamanan penderita, dan antiemetik bila penderita muntah hebat.
Antibiotik. Antibiotik segera diberikan bila diagnosis telah dibuat. Antibiotik
merupakan satu-satunya terapi yang efektif untuk demam tifoid. Antibiotik lini pertama untuk
demam tifoid adalah kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman untuk penderita yang
sedang hamil), atau trimetroprim-sulfametoxazole (kotrimoksazol). Bila pemberian salah satu
antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih
antibiotik lini kedua yaitu Ceftriaxone, Cefotaxime (diberikan untuk dewasa dan anak),
Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan
tulang).

15

Antibiotik
Kloramfenikol

Dosis
Dewasa: 4x500 mg selama

Keterangan
Merupakan obat yang sering

10 hari

digunakan dan telah lama

Anak 50-100 mg/kgBB/har, dikenal efektif untuk tifoid


maks 2 gr selama 10-14 hari

Murah dan dapat diberikan

dibagi 4 dosis

peroral

serta

sensitivitas

masih tinggi
Pemberian PO/IV
Tidak diberikan bila lekosis
Ceftriaxone

Dewasa: 2-4gr/hari selama 3-

<2000/mm3
Cepat menurunkan

5 hari

lama pemberian pendek dan

Anak:

Ampicillin & Amoksisilin

80

mg/kgBB/hari

suhu,

dapat dosis tunggal serta

dalam dosis tunggal selama 5

cukup aman untuk anak.

hari
Dewasa: (1.5-2) gr/hr selama

Pemberian PO/IV
Aman untuk penderita hamil

7-10 hari

Sering dikombinasi dengan

Anak: 50 100 mg/kgbb/hari

kloramfenikol pada pasien

selama 7-10 hari

kritis
Tidak mahal

Cotrimoxazole (TMP-SMX)

Dewasa: 2x(160-800) selama

Pemberian PO/IV
Tidak mahal

7-10 hari

Pemberian per oral

Anak:

TMP

6-19

mg/kgbb/hari atau SMX 3050 mg/kgbb/hari selama 10


Quinolone

hari
Ciprofloxacin

2x500

mg

selama 1 minggu
Ofloxacin
selama 1 minggu

Pefloxacin dan Fleroxacin


lebih cepat menurunkan suhu

2x(200-400)

Efektif mencegah relaps dan


kanker
Pemberian peroral
Pemberian pada anak tidak
16

dianjurkan

karena

efek

samping pada pertumbuhan


Cefixime

Thiamfenikol

Anak: 1.5-2 mg/kgbb/hari

tulang
Aman untuk anak

dibagi 2 dosis selama 10 hari

Efektif

Dewasa: 4x500 mg/hari

Pemberian per oral


Dapat dipakai untuk anak

Anak:

dan dewasa

50

mg/kgbb/hari

selama 5-7 hari bebas panas

Dilaporkan

cukup

sensitif

pada beberapa daerah


Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian
dicatat dengan baik di rekam medik pasien.
Komplikasi
Perdarahan usus dan perforasi. Perdarahan usus dan perforasi merupakan komplikasi
serius dan perlu diwaspadai dari demam tifoid yang muncul pada minggu ke-3. Sekitar 5
persen penderita demam tifoid mengalami komplikasi ini. Perdarahan usus umumnya
ditandai keluhan nyeri perut, perut membesar, nyeri pada perabaan, seringkali disertai dengan
penurunan tekanan darah dan terjadinya shock, diikuti dengan perdarahan saluran cerna
sehingga tampak darah kehitaman yang keluar bersama tinja. Perdarahan usus muncul ketika
ada luka di usus halus, sehingga membuat gejala seperti sakit perut, mual, muntah, dan terjadi
infeksi pada selaput perut (peritonitis). Jika hal ini terjadi, diperlukan perawatan medis yang
segera.
Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ
lain:

Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati). Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan
panas tinggi yang disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran menurun,
mulai dari delirium sampai koma.

Syok septik. Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala
toksemia yang berat. Selain itu, terdapat gejala gangguan hemodinamik seperti
tekanan darah turun, nadi halus dan cepat, keringat dingin dan akral dingin.

17

Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis). Komplikasi perdarahan ditandai


dengan hematoschezia. Dapat juga diketahui dengan pemeriksaan feses (occult blood
test). Komplikasi ini ditandai dengan gejala akut abdomen dan peritonitis. Pada foto
polos abdomen 3 posisi dan pemeriksaan klinis bedah didapatkan gas bebas dalam
rongga perut.

Hepatitis tifosa, kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.

Pankreatitis tifosa, terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase
dan amylase. Tanda ini dapat dibantu dengan USG atau CT Scan.

Pneumonia, didapatkan tanda pneumonia yang Diagnosisnya dibantu dengan foto


polos toraks.

Prognosis
Prognosis adalah bonam, namun ad sanationam dubia ad bonam, karena penyakit dapat
terjadi berulang.
Pencegahan
Kebersihan makanan dan minuman sangat penting dalam pencegahan demam tifoid.
Merebus air minum dan makanan sampai mendidih juga sangat membantu. Sanitasi
lingkungan, termasuk pembuangan sampah dan imunisasi, berguna untuk mencegah penyakit.
Secara lebih detail, strategi pencegahan demam tifoid mencakup hal-hal berikut :
1. Penyediaan sumber air minum yang baik
2. Penyediaan jamban yang sehat
3. Sosialisasi budaya cuci tangan
4. Sosialisasi budaya merebus air sampai mendidih sebelum diminum
5. Pemberantasan lalat
6. Pengawasan kepada para penjual makanan dan minuman
7. Sosialisasi pemberian ASI pada ibu menyusui
8. Imunisasi
Walaupun imunisasi tidak dianjurkan di AS (kecuali pada kelompok beresiko tinggi),
imunisasi pencegahan tifoid termasuk dalam program pengembangan imunisasi yang

18

dianjurkan di Indonesia. Oleh sebab itu, orangtua harus membayar biaya imunisasi untuk
anaknya. Jenis vaksinasi yang teredia adalah :

Vaksin parenteral utuh (berasal dari sel S.Typhi utuh yang sudah mati)

Vaksin oral Ty21a (vaksin oral yang mengandung S.Typhi strain Ty21a hidup)

Vaksin parenteral polisakarida (vaksin yang berasal dari polisakarida Vi dari kuman
Salmonella)

DAFTAR PUSTAKA

19

1. Nelwan R. Tata Laksana Terkini Demam Tifoid. Continuing Medical Education


2012:247-250.
2. Inawati. Demam Tifoid. Surabaya: Wijaya Kusuma Surabaya.
3. Wardana IMTN, Herawati S, Yasa IWPS. Diagnosis Demam Tifoid Dengan
Pemeriksaan Widal: Udayana; 1-13.
4. Mbol N. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. In. Jakarta; 2014. p. 9398.
5. Widodo D. Demam Tifoid. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K MS, Setiati S,
editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5 ed. Jakarta: Interna Publishing; 2009. p.
2797-2805.
6. Sri Rezeki S. Hadinegoro. Demam Tifoid pada Anak. In: www.itokindo.org; 2011.

20