Anda di halaman 1dari 89

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pengertian

ruang

sebagai

wadah

bagi

kegiatan

sosial-ekonomi

manusia, memiliki keterbatasan serta kesempatan ekonomi yang tidak


sama, berdampak pada sering timbulnya konflik dalam pemanfaatan
ruang

wilayah.

Konflik

atau

pertentangan

pemanfaatan

ruang

seringkali muncul akibat belum tertatanya ruang wilayah untuk


berbagai kegiatan secara optimal.
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kotawaringin Timur
sebagai suatu rencana penataan ruang wilayah yang dimaksudkan
sebagai alat untuk mengarahkan dan mengendalikan pembangunan
baik yang dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha serta swadaya
masyarakat sehingga tercapai keterpaduan program-program sektoral
dan daerah.
Pada hakekatnya penataan ruang adalah suatu rangkaian proses siklik,
dimulai dengan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang serta
pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan Rencana Tata Ruang
adalah hasil perencanaan tata ruang. Penataan ruang ini secara hukum
merupakan wewenang dan tugas pemerintah daerah, sebagaimana
ditegaskan dalam UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Sejalan

dengan

kebijakan

otonomi

daerah,

wewenang

penyelenggaraan penataan ruang mencakup kegiatan pengaturan,


pembinaan,
didasarkan

pelaksanaan,
pada

dan

pendekatan

pengawasan

wilayah

dengan

penataan

ruang,

batasan

wilayah

administratif dan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Pemerintah


daerah, dalam pelasanaan proses penyusunan rencana tata ruang

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-1

diberikan

kebebasan

untuk

meminta

bantuan

atau

memohon

pendampingan dari konsultan perencanaan.


Pelaksanaan
penataan

penataan

ruang

pemanfaatan
Perencanaan

ruang

melalui

ruang
tata

pelaksanaan

dan

ruang

adalah

upaya

perencanaan

pengendalian

wilayah

pencapaian
tata

pemanfaatan

Kabupaten

Kotawaringin

tujuan
ruang,
ruang.
Timur

sebagai subsistem perencanaan tata ruang diatasnya yaitu Rencana


Tata Ruang Nasional, Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.
Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu kabupaten di
Provinsi Kalimantan Tengah yang terletak di bagian barat Kota
Palangkaraya.

Kabupaten

Kotawaringin

Timur

telah

mengalami

pemekaran wilayah dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2002


Kabupaten Kotawaringin Timur terbagi dalam 10 kecamatan, kemudian
pada

tahun

2005

Kabupaten

Kotawaringin

Timur

menjadi

13

kecamatan yaitu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Teluk


Sampit, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Metaya Hilir Utara,
Kecamatan Mentaya Baru/Ketapang, Kecamatan Baamang, Kecamatan
Seranau, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Cempaga, Kecamatan
Cempaga Hulu, Kecamatan Parenggean, Kecamatan Mentaya Hulu,
Kecamatan Antang Kalang. Kemudian pada tahun 2008 menjadi 15
kecamatan, setelah Kecamatan Telawang dan Kecamatan Bukit Santuai
masuk ke dalam bagian Kabupaten Kotawaringin Timur.
Arahan kebijakan Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan Kabupaten
Kotawaringin Timur sebagai kawasan andalan pariwisata, pertanian
dan kelautan, serta ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
Sehingga membutuhkan perencanaan pengembangan daerah yang
tepat ntuk mendorong dan menangani ketiga kegiatan tersebut diatas.
Lahirnya Undang-undang Penataan Ruang Nomor 26 tahun 2007
sebagai

pengganti

Undang-undang

24

Tahun

1992

membawa

perubahan yang cukup mendasar bagi pelaksanaan kegiatan penataan


ruang, salah satunya pada aspek pengendalian pemanfaatan ruang,
selain pemberian insentif dan disinsentif juga pengenaan sanksi yang
merupakan salah satu upaya sebagai perangkat tindakan penertiban

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-2

atas pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
dan peraturan zonasi.
Pengenaan sanksi ini tidak hanya diberikan kepada pemanfaat ruang
yang tidak sesuai dengan ketentuan perizinan pemanfaatan ruang,
tetapi dikenakan pula kepada pejabat pemerintah yang berwenang
yang menerbitkan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang. Disamping itu, lahirnya Undang-undang 26 Tahun
2007 memberikan amanat bahwa perlu adnya penyesuaian terhadap
substansi materi dari RTRW Kabupaten dan penyeselesaian RTRW
Kabupaten harus bisa diselesaikan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun
setelah UU Penataan Ruang diterbitkan. Dengan mengacu pada
batasan waktu yang telah ditetapkan maka Kementerian Pekerjaan
Umum melakukan percepatan penyelesaian RTRW Kabupaten/ Kota di
seluruh Indonesai, termasuk Kabupaten/ Kota di Provinsi Kalimatan
Tengah tepatnya Kabupaten Kotawaringin Timur yaitu paling lambat
sampai akhir tahun 2011.
Melihat limit waktu yang sangat urgen tersebut, maka pada tahun
2011

Dinas

Pekerjaan

Umum

Provinsi

Kalimantan

Tengah

Dekonsentrasi Pekerjaan Umum Bidang Penataan Ruang Kabupaten


Kotawaringin

Timur

mengadakan

Penyusunan

Rencana

Tata

kegiatan

Ruang

Pendampingan

Wilayah

(RTRW)

Teknis

Kabupaten

Kotawaringin Timur dalam rangka penyelesaian dan penyesuaian


substansi materi RTRW dan Ranperda RTRW Kabupaten Kotawaringin
Timur Provinsi Kalimantan Tengah.

1.2 Dasar Hukum Penyusunan RTRW Kabupaten


Dasar hukum yang digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam
kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Kotawaringin Timur, antara lain adalah:
1.

Undang-Undang

No.

41

Tahun

2009

tentang

Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan


2.

Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang Kawasan


Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-3

3.

Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang;

4.

Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)

5.

Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional;

6.

Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

7.

Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar


Budaya;

8.

Undang-undang No. 9 Tahun 1990 tentang Ketentuan


Kepariwisataan;

9.

Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

10.

Undang-undang No. 5 Tahun 1983 Landasan Kontinen


Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia;

11.

Undang-undang No. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan


Pokok-pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia;

12.

Peraturan

Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;


13.

Peraturan
Tahapan,

Tata

Cara

Pemerintah

No.

Penyusunan,

Tahun

Pengendalian

2008

tentang

dan

Evaluasi

Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;


14.

Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2008 tentang Tata


Hutan

dan

Penyusunan

Rencana

Pengelolaan

Hutan

serta

Pemanfaatan Hutan;
15.

Peraturan

Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah


Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
16.

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2006 tentang Tata


Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

17.

Peraturan

Pemerintah No. 16 Tahun 2003 tentang

Penatagunaan Tanah;
18.

Peraturan

Pemerintah No. 10 Tahun 2000 tentang

Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah;


Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-4

19.

Peraturan

Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang

Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran
Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang;
20.

Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa;

21.

Peraturan

Pemerintah No. 28 Tahun 1985 tentang

Perlindungan Hutan;
22.

Peraturan

Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang

Perencanaan Hutan;
23.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun


2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional;

24.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun


1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung

25.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun


1989 tentang Kriteria Kawasan Budidaya;

26.

Peraturan Menteri PU Nomor 11/PRT/M/2009 tentang


Pedoman Persetujuan Substansi Dalam Penetapan Rancangan
Peraturan daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, beserta rencana
rincinya.

27.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998


tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang daerah.

28.

Kepmen 15 /PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyusunan


Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.

29.

Peraturan Menteri PU Nomor 16/PRT/M/2009 tentang


Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.

30.

Peraturan Menteri PU Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis


Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan
Sungai dan Bekas Sungai.

31.

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

1.3 Profil Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur


Pada sub bab ini akan disajikan profil wilayah Kabupaten Kotawaringan
Timur meliputi letak gografis dan batas administrasi, kondisi fisik

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-5

wilayah, kependudukan, potensi ekonomi wilayah , ketersedian sarana


dan

prasarana,

kodisi

permukiman

serta

perkembangan

isu-isu

strategis di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.


1.3.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi
Kabupaten

Kotawaringin

Timur

merupakan

salah

satu

dari

13

kabupaten/kota yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah. Secara


geografis berkedudukan pada 1127 29 - 113 14 22 Bujur Timur
dan 1 11 504 - 3 18 51 Lintang Selatan, dengan luas wilayah
16.496 Km. Adapun batas-batas administrasi wilayahnya adalah
sebagai berikut :
Sebelah Utara

: Kabupaten Katingan;

Sebelah Timur

: Kabupaten Katingan;

Sebelah Selatan : Laut Jawa;


Sebelah Barat

: Kabupaten Seruyan.

Pada tahun 2011 Kabupaten Kotawaringin Timur terbagi atas 17


kecamatan, yang terdiri dari 15 kecamatan definitif dan 2 kecamatan
hasil

pemekaran.

Untuk

mengetahui

lebih

jelasnya

mengenai

pembagian wilayah administrasi di Kabupaten Kotawaringin Timur,


dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Nama Kecamatan dan Luas Wilayah Kabupaten
Kotawaringin Timur
Kecamatan
Mentaya Hilir
Selatan
Teluk Sampit

Ibukota
Kecamatan
Samuda
Ujung Pandaran

Jumlah
Desa

Luas (km)

10

318,00

610,00

10

619,00

Pulau Hanaut

Bapinang

Mentaya Hilir Utara

Bagendang

723,00

Mtw. Baru Ketapang

Ketapang

11

357,50

Baamang

591,00

547,50

Kota Besi

Baamang
Mentaya
Seberang
Kota Besi

Cempaga

Cempaka Mulia

Cempaga Hulu

Seranau

11

1.860,21

1.241,00

Pundu

11

1.183,00

Parenggean

Parenggean

24

1.774,00

Mentaya Hulu

Kuala Kuayan

17

1.766,00

Keterangan

11 desa masuk
Kec. Tualan Hulu
2 desa masuk
Kec. Telaga Antang

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-6

Kecamatan

Ibukota
Kecamatan

Jumlah
Desa

Luas (km)

Antang Kalang

Tumbang Kalang

30

2.975,00

Bukit Santuai

Tb. Penyahuan

14

1.614,00

Telawang

Sebabi
Tumbang
Mangkup

Telaga Antang
Tualan Hulu

Luwuk Sampun

15 desa masuk
Kec. Telaga Antang

316,79

18

11

Luas Total
147
Sumber: Kabupaten Kotim Dalam Angka, 2011

Keterangan

Kecamatan baru
hasil pemekaran
Kecamatan baru
hasil pemekaran

16.496,00

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-7

Gambar 1.1. Peta orientasi Kab. Kotim

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-8

Gambar 1.2 Peta Administrasi Kab. Kotim

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-9

1.3.2 Kondisi Fisik Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur


A.

Topografi
Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki topografi yang
bervariasi, dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok lereng yaitu 0
2%, 2 15 % dan 15 40%, wilayah Kabupaten ini tidak memiliki
lahan dengan tingkat kemiringan lebih dari 40%, sebagian besar
merupakan dataran rendah 0 2% dengan luasan 496.367,68
Ha yang meliputi bagian selatan dan di sepanjang sungai-sungai
utama, sedangkan kelas lereng 2-15% terdapat di bagian
tengah,

di

belakang

wilayah

sungai-sungai

besar

dan

di

sepanjang sungai-sungai kecil dengan luas kawasan lereng


503.331,89 Ha. Sedangkan Kelas lereng 15-40% terdapat di
bagian utara, terutama di wilayah yang tidak dialiri sungai.
Dilihat dari topografinya Kabupaten Kotawaringin Timur dapat
dibagi dalam 3 (tiga) zona daerah, yaitu :

Daerah pegunungan dengan ketinggian 100 500 m dpl.

Daerah bergelombang / berbukit dengan ketinggian 100 200 m


dpl

Daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 50 m dpl.

Daerah berbukit hingga pegunungan yang terdiri dari batuan


intrusi masam terdapat dibagian utara wilayah ini, sedangkan
bagian tengah sampai selatan banyak di dominasi oleh dataran
rendar. Dataran bagian tengan terdiri dari dome gambut serta
dataran rendah endapan sungai (fluvial) serta backswamp atau
rawa belakang di sepanjang aliran sungai. Dibagian selatan,
dataran rendah didominasi oleh dataran rendah endapan pantai
(fluvio

marine)

dan

pesisir

pantai.

Lebih

jelas

topografi

Kabupaten Kotawringin Timur dapat dilihat pada gambar 1.3.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-10

Gambar 1.3 Peta Topografi Kab. Kotim

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-11

B.

Kondisi Hidro-Oceanografi
B.1

Kedalaman (Batimetri)

Berdasarkan

Peta

Fisik

Dasar

Wilayah

Laut

dan

Pesisir

Kalimantan Tengah yang dikeluarkan oleh Archiegama tahun


2001, diperoleh bahwa perairan laut Propinsi Kalimantan Tengah
secara umum memiliki kondisi batimetri yang relatif dangkal
dengan kedalaman rata-rata kurang dari 30 m.
Kedalaman yang lebih dari 30 m hanya ditemui di bagian barat
dari wilayah laut Kalimantan Tengah, yaitu pada jarak sekitar 75
km ke arah laut dari Kabupaten Kotawaringin Barat atau pada
lintang 3o45 LS. Sedangkan ke arah timur wilayah perairan,
kedalaman ini berkurang pada garis lintang yang sama.
Kondisi

batimetri

perairan

laut

di

wilayah

Kabupaten

Kotawaringin Timur, umumnya dangkal dan memiliki gradasi


landai, dimana garis isobath (garis khayal yang menghubungkan
kedalaman perairan yang sama) 10 meter ditemui sekitar 10
20 km dari pantai. Kedalaman perairan laut dangkal rerata pada
kisaran 0,5 4 meter. Kondisi batimetri yang paling dalam hanya
terdapat di sekitar 70 km ke arah luar muara sungai Mentaya
dengan kedalaman sekitar 25 meter. Gradasi kedalaman pantai
bagian Timur Tenggara Selatan Relatif sangat landai dibanding
bagian Utara Barat, akibat pengaruh tingkat sedimentasi
ambang Sungai Mentaya yang lebih besar. Pantai dengan
gradasi relatif tajam terdapat di bagian Timur (dekat mulut
muara), sebagai akibat pengaruh gelombang laut Jawa dan arus
muara sungai yang menggeser sedimen transport ke arah lepas
pantai. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 1.4.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-12

Gambar 1.4 Peta Batimetri Kabupaten Kotawaringin


Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-13

B.2

Pasang Surut

Berdasarkan hasil peramalan pasang surut terhadap beberapa


stasiun lokasi di perairan pantai Kalimantan Tengah, dapat
diinformasikan variasi tunggang pasut. Hasil studi menunjukkan
tunggang pasut berkisar antara 47,35 cm di Tanjung Keluang
(Tanjung Penghujan), hingga 321,54 cm di Teluk Sampit. Secara
umum tunggang pasut terendah di perairan pantai bagian barat
dan semakin tinggi ke arah timur (lihat Tabel 1.2).
Perairan Kalimantan Tengah secara umum mempunyai tipe
pasang surut (pasut) campuran cenderung diurnal (mixed tide
prevailing diurnal). Pola kemunculan pasang surut tipe ini adalah
dalam 1 hari bisa terjadi 1 kali saat air pasang dan 1 kali saat air
surut, tetapi bisa juga terjadi 2 kali saat air pasang dan 2 kali
saat air surut dengan ketinggian antar puncak yang jauh
berbeda. Perbedaan elevasi muka laut akibat pasang surut
mampu menggerakan arus, dimana arus pasut yang sangat
umum terjadi di perairan Asia Tenggara yang berkedalaman 25 100 meter rata-rata kecepatannya 18,7 cm/detik untuk tipe
pasut semidiurnal, dan 11,6 cm/detik untuk tipe pasut diurnal
(Wyrtki, 1961).

Tabel 1.2
Hasil Peramalan Air Pasang Tertinggi, Air Surut Terendah dan
Tunggang Maksimum Pasang Surut di Perairan Pantai Kalimantan
Tengah
(PPK-ITB,2002)

1.

Tanjung Keluang (032930 LS & 1104000 BT)

+27,81

Air Surut
Terendah
(cm)
-19,54

2.

PPI Kuala Pembuang (032427,9 LS & 1123333


BT)

+98,90

-67,76

166,66

3.

Tanjung Buaya (032905 LS & 1123049 BT)

+97,60

-66,49

164,09

4.

Teluk Kotawaringin (030030 LS & 1112220 BT)

+60,26

-33,42

93,68

5.

Pantai Sei Bakau (025919,3 LS & 1113531,4


BT)

+69,78

-39,27

109,05

6.

Pantai Kubu (025900 LS & 1104500 BT)

+76,53

-43,60

120,13

7.

Percabangan S. Kumai & S. Sekonyer (024626,8


LS & 1114250,9 BT)

+75,15

-42,64

117,79

8.

Pelabuhan Ujungpandaran (030917,58 LS &


1130033,6 BT)

+188,79

-132,53

321,32

No

Air Pasang
Tertinggi (cm)

Stasiun

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

Tunggang
Maksimum
(cm)
47,35

I-14

Teluk Sampit (030010 LS & 1132848 BT)

+188,92

Air Surut
Terendah
(cm)
-132,62

10.

Teluk Sebangau (030124 LS & 1133030 BT)

+188,91

-132,62

321,53

11.

Pelabuhan Pulang Pisau (024552 LS &


114151,8 BT)

+113,66

-103,9

217,56

12.

Gosong Rining (030224 LS & 1140117 BT)

+117,44

-98,87

216,31

13.

Batanjung (032119,1 LS & 1141459,1 BT)

+113,67

-103,90

217,57

No
9.

Air Pasang
Tertinggi (cm)

Stasiun

Tunggang
Maksimum
(cm)
321,54

Catatan: Air pasang terendah dan surut terendah dihitung dari Mean
Sea Level (MSL).

Pasang surut (pasut) kawasan pesisir Desa Ujung Pandaran


secara umum merupakan tipe pasut campuran dengan tenggang
pasut sekitar 31,25 cm/ jam.
Selisih pasang harian tertinggi dan terendah yang didasarkan
pada informasi penduduk setempat memperlihatkan adanya
perbedaan dalam rentang yang kecil untuk berbagai lokasi.
Kisaran selisih pasang harian tertinggi dan terendah berkisar
antara 0,80 m sampai 2,50 m.
Rerata Air Tinggi Tertinggi (ATT) perairan sekitar Ujung Pandara
berkisar antara 2,17 2,34 m dan rerata Air Rendah Terendah
(ART) berkisar antara 0,54 0,61. Kisaran selisih pasang surut
harian menunjukkan fluktuasi yang relatif besar, yaitu berkisar
antara 1,5 m 2,5 m.
B.3

Gelombang

Kondisi gelombang suatu perairan sebagian besar dipengaruhi


oleh energi yang dihasilkan oleh tiupan angin. Kuat lemahnya
gelombang ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan
angin, lamanya angin berhembus (duration), dan jarak tiupan
angin pada perairan terbuka (fetch). Tipe pantai umumnya
landai berpasir, tinggi gelombang berkisar antara 35 100 cm,
pecahan gelombang 300 850 dan periode gelombang 0,75 s/d
1 75/gel. Aktivitas gelombang telah mengakibatkan abrasi
lingkungan pantai, dengan didasarkan pada temuan-temuan
lapangan antara lain terkikisnya pondasi bangunan pantai
hingga robohnya sebagian bangunan. Tinggi gelombang rerata
pada perairan pesisir berkisar antara 1 2 meter pada bulan
Oktober.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-15

Pengaruh monsun (musim barat dan timur) terhadap kondisi


gelombang dengan jelas terlihat di perairan Kalimantan Tengah.
Berdasarkan sumbernya, gelombang dapat dibedakan menjadi
dua jenis yaitu gelombang swell (gelombang rambat yang telah
keluar dari daerah pembangkitnya, yaitu: angin) dan sea
(gelombang yang berada pada daerah pembangkitnya, yaitu:
angin). Pola umum penjalaran gelombang pada kedua musim
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Musim Timur
Pola umum arah penjalaran gelombang laut di perairan
Kalimantan Tengah mengikuti kecenderungan angin musim
yang berlaku, yaitu angin musim timur. Hasil simulasi model
menunjukkan

bahwa

gelombang

bergerak

bersesuaian

dengan pergerakan angin musim timur, yaitu dari timur


menuju barat dengan kecenderungan untuk bergerak dalam
arah tegak lurus pantai ketika gelombang mendekati pantai,
dengan tinggi gelombang perairan dalam terletak pada
kisaran 0.75 1 m.
Hasil simulasi spektrum gelombang pada lokasi / koordinat
(3010

LS-1132848

BT)

yang

mewakili

perairan

Kalimantan Tengah, mendukung pola umum karakteristik


tinggi gelombang dan arah penjalarannya seperti yang telah
dipaparkan

sebelumnya.

Gelombang

di

perairan

Spektrum
Kalimantan

dua

dimensi

Tengah

(2D)

memberikan

informasi tinggi gelombang signifikan musim timur sebesar


0,74 m, dengan arah rata-rata datang gelombang sebesar
311 (relatif terhadap utara).
Tinjauan lebih lanjut dari spektrum 2D, memberikan informasi
perihal signifikansi gelombang sea maupun gelombang swell
terhadap pembentukan gelombang total yang terjadi pada
masing-masing

perairan

kajian.

Di

perairan

Kalimantan

Tengah, kontribusi gelombang swell cukup signifikan sehingga


menyamai kontribusi gelombang sea. Informasi besar tinggi
gelombang dan arah datang, untuk gelombang sea dan swell
diberikan pada Tabel 1.3 berikut ini:

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-16

Tabel 1.3.
Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang untuk Gelombang
Sea dan Swell di Kalimantan Tengah pada Musim Timur
Gelombang Sea
Hs(m)
(Tinggi
Gelombang)
0.51

()
(Arah
Gelombang)
326

Hs(m)
(Tinggi
Gelombang)
0.55

()
(Arah
Gelombang)
300

Sumber: PPK-ITB, 2002, Gelombang Swell

2. Musim Barat
Secara umum, karakteristik gelombang perairan dalam di
perairan Kalimantan Tengah menguat bersesuaian dengan
angin musim barat yang cenderung bertiup lebih kencang
dibandingkan

dengan

musim

timur.

Tinggi

gelombang

signifikan di perairan Kalimantan Tengah berkisar diantara


0,75 2 m, dengan arah penjalaran dari barat ke timur.
Seperti halnya pada musim timur, hasil simulasi spektrum
gelombang pada musim barat untuk lokasi/koordinat yang
mewakili perairan Kalimantan Tengah mendukung pola umum
karakteristik

tinggi

gelombang

dan

arah

penjalarannya.

Spektrum 2D Gelombang di perairan Kalimantan tengah


memberikan informasi tinggi gelombang signifikan musim
barat sebesar 1,11 meter, dengan arah rata-rata datang
gelombang sebesar 81 (relatif terhadap utara). Pada musim
barat peran gelombang swell dan sea cukup berimbang
kontribusinya membentuk gelombang perairan dalam di
perairan

Kalimantan

Tengah.

Informasi

besar

tinggi

gelombang dan arah datang, untuk gelombang sea dan swell


pada musim barat diperlihatkan pada Tabel 1.4.
Tabel 1.4
Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang untuk Gelombang
Sea dan Swell di Perairan Kalimantan Tengah pada Musim
Barat

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-17

Gelombang Sea
Hs(m)

()

Hs(m)

()

(Tinggi
Gelombang)
0.73

(Arah
Gelombang)
51

(Tinggi
Gelombang)
0.84

(Arah
Gelombang)
100

Sumber: PPK-ITB, 2002, Gelombang Swell

B.4 Arus Laut


Perairan Indonesia mempunyai pola arus permukaan yang
sangat dipengaruhi oleh monsun barat daya (Oktober Maret)
dan monsun tenggara (April September). Pengaruh kedua
monsun ini jelas terlihat di Pantai Kalimantan Tengah yang
tepatnya

berada

di

bagian

selatan

dari

daratan

Pulau

Kalimantan. Pola arus di perairan laut Kalimantan Tengah yang


mewakili empat musim yang berbeda, dapat diuraikan sebagai
berikut:
a.

Musim Barat Musim ini terjadi pada bulan Desember sampai


dengan bulan Februari. Pada saat ini angin bertiup dari Barat
ke Timur. Pola arus musim ini diwakili oleh simulasi arus
bulan Februari. Pergerakan arus di daerah sekitar pantai
jelas mengarah ke Timur akibat angin Barat, dan arus
bergerak ke arah barat menuju Laut Flores dan sebagian
membelok ke arah Selat Makasar. Kecepatan arus pada
bulan ini berkisar antara 0,02 3,0 m/detik.

b. Musim Peralihan I Musim ini terjadi pada bulan Maret sampai


dengan bulan Mei. Pada musim ini mulai terjadi peralihan
arah angin yang bergerak dari Timur ke Barat. Pola arus di
musim ini diwakili oleh simulasi arus di bulan Mei. Arah arus
menuju ke Barat walaupun nilainya masih kecil. Kondisi ini
diakibatkan oleh kekuatan angin yang relatif masih lemah,
Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,01
2,6m/detik.
c.

Musim Timur Musim ini terjadi dari bulan Juni sampai dengan
bulan Agustus. Kondisi angin bertiup dari Timur ke Barat.
Pada laporan ini pola arus hasil simulasi pada musim timur
diwakili oleh pola arus pada bulan Agustus. Hasil simulasi
model memperlihatkan bahwa kecepatan arus permukaan di
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-18

sekitar pantai lebih kuat dibandingkan arus yang terjadi pada


bulan Mei dengan arah dari Timur ke Barat. Kecepatan arus
pada bulan ini berkisar antara 0,01 2,0 m/detik.
d. Musim Peralihan II Musim ini terjadi pada bulan September
sampai

dengan

bulan

November.

Kondisi

angin

mulai

membelok ke arah Timur atau mulai terjadi peralihan dari


musim timur ke musim barat. Dengan demikian arus
permukaan di sekitar pantai yang pada awalnya bergerak ke
Barat mulai melemah dan kemudian akan membelok ke arah
Timur. Proses perubahan ini akan diikuti oleh pergerakan
massa air. Kecepatan arus permukaan pada bulan ini
berkisar antara 0,01 1 m/detik ( ITB 2002).
Pengukuran

kecepatan

arus

di

perairan

laut

Kabupaten

Kotawaringin dikakukan pada 14 titik pengamatan. Pengamatan


dilakukan pada bulan Juli 2004, dengan hasil pengamatan
seperti pada Tabel 1.5. Berdasarkan data tabel dibawah, kisaran
kuat arus di perairan laut Kabupaten Kotawaringin Timur antara
0,050 02,50 m/sekon.
Tabel 1.5.
Kecepatan Arus di Pesisir Kabupaten Kotawaringin
Timur
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kecepatan
Arus (m/dtk)
0.250
0.215
0.050
0.150
0.050
0.200
0.200
0.210
0.050
0.333
0.125
0.118
0.083
0.154

Titik Pengamatan
X_easting

Y_northing

74.298.305.133
74.196.419.024
73.104.782.141
72.653.572.229
72.304.248.427
72.740.903.180
71.706.463.278
73.566.161.541
72.783.256.587
72.362.600.000
73.402.500.000
71.108.500.000
72.051.700.000
72.399.900.000

964.711.020.484
965.562.497.253
966.392.141.284
966.828.796.037
966.122.870.852
965.125.842.499
964.151.700.502
965.972.292.961
965.936.450.486
964.373.900.000
965.462.100.000
963.903.800.000
965.547.300.000
967.816.600.000

Sumber : Hasil pengukuran bulan juli 2004

B.5 Temperatur Air Laut


Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-19

Berdasarkan hasil observasi bulan Juli 2004 dengan pengukuran


insitu, nilai temperatur pada titik lokasi pengamatan berkisar
dari 27,50-28,90* C. Hasil penelitian yang pernah dilakukan pada
bual oktober tahun 2000, temperatur air di perairan Kalimantan
Tengah berkisar 25,1 33 C. Sedangkan menurut Wyrtki (1961)
temperatur perairan Kalimantan Tengah dan Laut Jawa hanya
berkisar 25 31 C. Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No.
Kep-02/MENKLH/1988

tentang

baku

mutu

air

yang

direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi laut,


maka

perairan

temperatur

Kotawaringin

yang

cukup

baik.

Timur

mempunyai

Kondisi

kisaran

kisaran

temperatur

tersebut akan mendukung kehidupan organisme air, dimana


temperatur optimum untuk fotosistesis tumbuhan air adalah
berkisar 25 35 C (Sheridan dan Ulik, 1976 dalam Denie, 2000).
B.6 Salinitas
Pengukuran salinitas di lakukan secara insitu pada 14 titik lokasi
pengamatan.

Besaran

salinitas

peraliran

Kabupaten

Kotawaringin Timur berkisar 0,60 26,25. Penelitian terdahulu


menggambarkan nilai salinitas pada saat surut di muara sungai
besar dan pantai pesisir Kalimantan Tengah, berkisar 0 0,31
. Baku mutu salinitas air untuk kegiatan budidaya dan konservasi
biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988
adalah 10 % alami.

C.

Geologi
Geologi daerah Kabupaten Kotawaringin Timur tersusun oleh 5
jenis formasi yaitu Formasi Dahor, Formasi Kuayan, Formasi
Mentaya, Formasi Pembuang dan endapan Aluvial. Untuk lebih
jelasnya mengenai kondisi masing-masing formasi tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.

Formasi Dahor dapat ditemui di sebagian besar selatan


wilayah kabupaten Kotawaringin Timur tepatnya pada bagian
belakang disepanjang Daerah Aliran Sungai Mentaya. Satuan
batuan (satuan litologi) penyusun formasi Dahor ini terdiri
dari konglomerat dengan komponen fragmen kuarsif dan

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-20

basal berselingan dengan batu pasir, batu lempung. Umur


formasi ini diperkirakan Miosen Tengah sampai Pleistosen,
berdasarkan korelasi dengan formasi Dahor dilembar Tewah
(Sumintadipura, 1976). Tebal formasi ini diperkirakan 300 m
yang diendapkan dilingkungan paralik.
b. Formasi Kuayan terletak di bagian tengah wilayah Kabupaten
Kotawaringin

Timur

tepatnya

di Utara.

Satuan

batuan

(satuan litologi) penyusun formasi Kuayan ini terdiri dari


breksi dengan komposisi andesit dan basal, aliran lava, batu
pasir tufaan dan tuf. Formasi ini tidak dapat ditentukan
umurnya, tetapi di Kalimantan Barat, Van Emmichoven
(1939) op. Cit. Margono U, dkk (1995) menemukan fosil di
formasi ini berumur Trias.
c.

Formasi Mentaya terletak disekitar Kota Kuala Kuayan.


Satuan batuan (satuan litologi) penyusun Formasi Mentaya
ini dibagian bawah didominasi oleh batu pasir sedangkan
dibagian

atas

batu

pasir

arkosa

berbutir

halus-kasar,

terdapat struktur silang siur (cross bedding) dan gelembur


gelombang. Setempat terdapat sisipan konglomerat kuarsa
dan

batu

lempung

yang

kadang-kadang

mengandung

batubara. Formasi ini diendapkan pada kala Eosen-Oligosen


dalam lingkungan pengendapan litoral, setempat berupa
rawa-rawa.
d. Formasi

Pembuang

Kabupaten

terletak

Kotawaringin

dibagian

Timur,

selatan

terutama

wilayah

di

sekitar

Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau


Hanaut. Satuan batuan (satuan litologi) penyusun Formasi
Pembuang ini terdiri dari batupasir karbonan (carbonaceous
sandstone),

konglomerat

(conglomerate),

batulanau

(siltstone), batu lempung (claystone) dan gambut (peat).


e. Endapan aluvial, tersusun oleh endapan delta (deltaic
deposit)

dan

endapan

klastika

tak

terpisahkan

(undifferenttiated clastic deposit). Endapan delta terdiri dari


pasir kasar-halus (coarse to fine grained sands), lanau (silt)
dan

lumpur

(mud).

Sedangkan

endapan

klastika

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

tak

I-21

terpisahkan terdiri dari pasir (sand), lanau (silt), lempung


(clay) dan gambut (peat). Struktur geologi yang terdapat di
Kabupaten Kotawaringin Timur adalah struktur sesar/patahan
(fault) dan kekar (join). Struktur patahan dapat memicu
terjadinya bencana alam geologi. Daerah yang rawan
terhadap bencana alam geologi ini antara lain Kecamatan
Mentaya Hulu karena pada daerah ini terdapat struktur
sesar/patahan. Potensi pertambangan bahan galian yang
terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur antara lain
batubara, bijih besi, emas primer (dengan asosiasi mineral
perak dan atau mineral tembaga timah hitam atau seng),
emas sekunder, kwarsa kristal (termasuk kecubung atau
amethist), bentonit, kaolin, pasir kwarsa, granit, basalt,
gambut, dan tanah liat.
Selain itu, Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari berbagai
macam batuan, endapan, dan di beberapa bagian terdapat
sesar. Struktur geologi tersebut mengakibatkan wilayah ini
memiliki cukup banyak potensi bahan galian tambang yang
dapat dimanfaatkan, baik bahan galian A, B, maupun C. Bahanbahan galian yang banyak terdapat di wilayah ini meliputi
batubara, air raksa, emas, kaolin, bijih besi, pasir kwarsa, granit,
gambut, bauksit, dan lain-lain. Potensi bahan galian ini tersebar
hampir di seluruh wilayah.

Gambar 1.5 Peta Geologi Kabupaten Kotawaringin Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-22

D.

Fisiografi
Kabupaten Kotawaringin Timur dapat dibagi ke dalam beberapa
wilayah fisiografis, yaitu:
1. Dataran rendah, endapan pantai
Wilayah ini terdapat di tepi pantai, tepatnya pantai yang
berbatasan dengan Laut Jawa, yang berjarak 2-5 km dari
pantai. Dataran ini terbentuk dari hasil pengendapan pantai,
yang berupa tanah kering atau sedikit tergenang dan
memiliki tekstur kasar.
2. Dataran rendah, endapan sungai
Wilayah ini terdapat di tepian sungai yang berbelok-belok
(meander) atau danau kecil. Letaknya agak tinggi, namun
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-23

kadang-kadang tergenang dan banjir akibat limpahan air


sungai. Dataran ini bertekstur tanah sedang sampai halus.
Seluruh wilayah dataran rendah, baik yang berupa endapan
sungai maupun endapan pantai, masih dipengaruhi oleh
pasang surut air laut.
3. Lahan gambut
Wilayah ini terletak di belakang wilayah endapan sungai
(levee), yang terbentuk akibat hutan rawa monoton telah
mencapai

klomaks,

sehingga

terbentuk

gambut

yang

cembung (dome).
4. Dataran rendah, batuan endapan pantai
Wilayah ini terletak agak ke hilir/tengah, terutama di sekitar
Sungai Mentaya. Dataran ini membentang dari Pangkalan
Bun sampai Palangkaraya terus ke timur. Pada wilayah ini air
sulit mengalir keluar karena wilayah ini sangat datar,
sehingga pada beberapa tempat drainase agak terhambat.
Dataran ini memiliki tekstur tanah yang kasar.
5. Pegunungan/perbukitan batuan intrusi masam
Wilayah ini merupakan daerah patahan (told) dan lipatan
(fault), terdapat di bagian hulu. Bentuk wilayah ini berbukit
dan bergunung, yang didominasi oleh batuan endapan pasir
dan liat dan diselingi dengan batuan intrusi yang umumnya
masam.

6. Delta/Pulau
Merupakan daratan dengan luasan yang kecil di tengah laut
maupun sungai.
7. Lain-lain
Bagian yang termasuk lain-lain adalah tubuh air, diantaranya
danau dan rawa, yaitu merupakan depresi atau cekungan
yang airnya masih dalam. Pada daerah ini belum sempat
terbentuk gambut.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-24

Kabupaten Kotawaringin Timur didominasi oleh pegunungan/


perbukitan intrusi masam dan dataran rendah batuan pantai.
Pegunungan atau perbukitan terdapat pada bagian utara
wilayah

Kabupaten

Kotawaringin

Timur.

Pegunungan/perbukitan tersebut terdiri dari batuan intrusi


dan endapan masam, sehingga memiliki kendala dalam
pembudidayaan lahan.
Dataran rendah endapan pantai banyak ditemui pada bagian
tengah

dan

pesisir

Kabupaten

Kotawaringin

Timur.

Selain

dataran rendah dengan batuan pantai, pada bagian tengah


Kabupaten Kotawaringin Timur juga memiliki kondisi fisiografis
yang terdiri dari dome gambut, serta dataran rendah endapan
sungai dan backswamps di sepanjang aliran sungai. Sedangkan
pada bagian selatan, fisiografis wilayahnya merupakan dome
gambut dan dataran rendah endapan sungai. Pada bagian pesisir
fisiografis wilayahnya terdiri dari dataran rendah endapan
pantai. Kendala yang dihadapi Kabupaten Kotawaringin Timur
terutama dalam membangun saluran air, dimana air sulit
mengalir keluar serta kadang-kadang tergenang dan banjir.

E.

Klimatologi
Kondisi iklim Kabupaten Kotawaringin Timur termasuk beriklim
tropis basah (lembab) dengan tipe B (menurut Schmidt dan
Ferguson) dengan kelembaban nisbi berkisar antara 82% 89%
dan suhu rata-rata bulanan berkisar antara 27C - 36C.
Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan kabupaten dengan
curah hujan bervariasi. Pada daerah pedalaman kecenderungan
curah hujannya tinggi sedang dikawasan pantai memiliki curah
hujan

sedang.

Jumlah

curah

hujan

rata-rata

di

wilayah

kabupaten ini berkisar antara 1.934 mm/tahun.


F.

Jenis Tanah
Untuk seluruh wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri
dari tiga jenis tanah yang terbagi dalam tiga bagian geografis.
Di pesisir atau di bagian Selatan terdiri dari Alluvial Marine yang

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-25

memiliki kandungan hara rendah. Sedang di bagian tengah


sebagian besar jenis tanahnya adalah Podsol air tanah, Podsol
Kuning dan Alluvial Gleihumus yang berada di sepanjang sungai.
Wilayah ini memiliki kendala pada drainase yang terhambat.
Sedang di bagian utara sebagian besar jenis tanahnya adalah
Podsolik Merah Kuning, Regosol dan Litosol. Wilayah ini terdiri
dari batuan, sebagian bersibat masam.

Memiliki kandungan

hara yang rendah dan berbukit-bukit.


Kemampuan tanah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu kondisi lereng, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah,
drainase erosi serta faktor pembatas lainnya. Secara umum
kondisi kemampuan tanah di Kabupaten Kotawaringin Timur
dapat diuraikan sebagai berikut :
a.

Sepanjang aliran Sungai Mentaya memiliki kedalaman efektif


tanah lebih dari 90 cm, bertekstur sedang, tergenang secara
periodik dan tidak ada erosi.

b. Dibagian barat wilayah kabupaten yang meliputi Kecamatan


Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Baamang dan
Kotabesi memiliki kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm,
bertekstur sedang, tidak pernah tergenang dan tidak ada
erosi.
c.

Semakin

ke

utara

kemampuan

tanah

di

Kabupaten

Kotawaringin Timur memiliki kedalaman efektif tanah lebih


dari 90 cm, bertekstur halus, tidak pernah tergenang dan
tidak ada erosi.
Jenis tanah yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur adalah
sebagai berikut :

Bagian Selatan
Sebagian besar jenis tanahnya adalah organosol dan alluvial
glei humus yang memiliki kendala pada drainase yang
terhambat namun memiliki kandungan unsur hara yang baik.
Di bagian pesisir terdiri dari alluvial marine yang memiliki
kandungan unsur hara rendah.

Bagian Tengah
Sebagian besar jenis tanahnya adalah podsol air tanah,
podsol kuning dan alluvial gleihumus yang berada di
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-26

sepanjang sungai. Wilayah ini memiliki kendala drainase


yang terhambat.

Bagian Utara
Sebagian besar jenis tanahnya adalah podsolik merah
kuning, regosol dan litosol. Wilayah ini terdiri dari batuan,
sebagian bersifat masam, memiliki kandungan harayang
rendah dan berbukit-bukit.

Gambar 1.6Peta Jenis Tanah Kabupaten Kotawaringin


Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-27

G.

Hidrologi
Secara umum pola sungai di Kotawaringin Timur adalah pola
dendritik dimana salah satu sifat utamanya adalah apabila
terjadi hujan merata di seluruh daerah aliran sungai, maka
puncak banjirnya akan demikian tinggi hingga mempunyai
potensi besar untuk menggenangi daerah-daerah yang ada di
sekitar aliran sungai, khususnya di bagian hilir sungai.
Dalam Wilayah Kotawaringin Timur terdapat 6 buah sungai besar
yang mengalir dari utara ke selatan dan bermuara di laut Jawa,
yang dapat digunakan sebagai sumber air maupun sebagai
prasarana transportasi. Keenam sungai tersebut dapat dilayari
oleh sarana perhubungan seperti kapal, speed boat, dan long
boat. Air sungai tersebut telah dimanfaatkan oleh penduduk
untuk mandi, cuci, kakus (mck), air minum, serta persawahan.
Selain air sungai, penduduk juga memanfaatkan air tanah.
Menurut RUTR Kotawaringin Timur Tahun 1992 kedalaman air
tanah berkisar antara 1 sampai 7 meter pada sistem lahan
dataran (wilayah pengamatan pada Kecamatan Parenggean,
Seruyan Hilir, dan Mentawa Baru), sedangkan pada sistem lahan
perbukitan kedalaman air tanah lebih dari 7 meter.
Tabel 1.6
Nama-nama Sungai Besar di Kabupaten Kotawaringin Timur
N

No

Nama Sungai

Panjang
(Km)

Panjang yang
dapat dilayari
(Km)

Kedalaman
(Km)

Lebar (m)

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-28

Mentaya

400

270

400

Cempaga

42

38

250

Sampit

46

40

200

Kuayan

48

40

200

Kalang

18

18

200

Seranau

21

21

200

Sumber: RTRW Pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001

Diantara keenam sungai tersebut Sungai Mentaya merupakan


sungai terbesar Kotawaringin Timur. Sungai ini mengandung
Podsolik di bagian atasnya, terdiri dari batuan sedimen, pasir,
dan alluvium. Pada daerah pesisir berrawa dengan permeabilitas
tinggi. Panjang Sungai Mentaya adalah 350 Km, yang dapat
dilayari 300 Km, kedalaman rata-rata 6 meter dan lebar adalah
300 meter dengan anak sungai :
Anak sungai Sampit panjang 75 Km
Anak sungai Cempaga panjang 100 Km
Anak sungai Seranau panjang 75 Km
Anak sungai Tualan panjang 80 Km
Anak sungai Kuayan panjang 100 Km
Anak sungai Kalang panjang 65 Km
Sungai Mentaya merupakan sumber air bagi penduduk di sekitar
aliran Sungai Mentaya. Namun sungai ini dapat menimbulkan
genangan pada daerah sekitarnya, baik tergenang secara
periodik maupun tergenang sepanjang tahun.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-29

Gambar 1.7................................................................................
Peta Hidrologi di Kabupaten Kotawaringin Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-30

H.

Penggunaan Lahan
Pola Penggunaan Lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur
meliputi pertambangan, sawah, ladang, kebun campuran, rawa
semak belukar, rawa belukar, tanah tebuka, lahan transmigrasi,
tubuh air dan lainlain. Hingga saat ini penggunaan lahan
terbesar di Kabupaten Kotawaringin Timur meliputi Hutan
sebesar 411.898 Ha atau 24,97% dari luas wilayah kabupaten
dan semak belukar sebesar 372.713 Ha (22,59%). Penggunaan
untuk permukiman relatif sangat kecil yaitu hanya 4.148 Ha
(0,25%), sawah sebesar 39.762 Ha (2,41%) dan perkebunan
174.186 Ha (10,56%). Permukiman yang ada pada umumnya
tersebar di kota, pusat-pusat kecamatan dan desa sepanjang
aliran sungai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta 1.8.
Dari tahun 2002-2004 tidak ada perubahan pada pemanfaatan
lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, pemanfaatan lahan
terbesar

masih

hutan

belantara

yakni

69,52%

dari

luas

Kalimantan Tengah kemudian pertanahan 21,72% dari luas


Kalimantan Tengah, diikuti rawa-rawa, sungai, danau dan air
lainnya. Pada tahun 2008 pemanfaatan lahan pada Kabupaten
Kotawaringin Timur lebih bervariasi dari 4 jenis pemanfaatan
lahan menjadi 15 jenis pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan
yang paling mendominasi pada tahun 2008 adalah hutan
belantara yakni 24,97% dan semak belukar 22,59% kemudian
perkebunan, hutan rawa, rawa belukarsekitar 10% terhadap luas
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-31

Kalimantan Tengah. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel


1.7.
Tabel 1.7
Luas Penggunaan Lahan Tahun 2011

Hutan
Hutan Mangrove
Hutan Rawa
Perkebunan
Permukiman
Pertambangan
Sawah
Ladang
Kebun
Campuran
Semak Belukar
Rawa Belukar
Tanah Terbuka
Transmigrasi
Tubuh Air
Lain-lain

411.898
10.001
187.766
174.186
4.148
7.534
39.762
12.411

% Terhadap Luas
Kabupaten Kotim
27,91
0,68
12,72
0,01
0,28
0,51
2,69
0,84

31.419

2.12

372.713
174.359
83.599
25.719
12.898
101.187

25,26
11,82
5,67
1,74
0,87
6,86

Jumlah

1.475.588

Uraian

Luas (Ha)

100,00

Sumber : Kotim Dalam Angka

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-32

Gambar 1.8Peta Tutupan Lahan Kabupaten Kotawaringin


Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-33

I.

Ekosistem Wilayah Pesisir


I.1 Ekosistem Mangrove
Ekosistem

Hutan

mangrove

di

Pesisir

Kotawaringin

Timur

meliputi type/bentuk pantai; bentuk muara sungai/laguna dan


bentuk pulau. Hutan mangrove ini merupakan habitat alami ikan
dimana berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan atau biota laut
lainnya, perlindungan terhadap kehidupan pantai dan laut
disamping sebagai pelindung pantai dari pengikisan air laut dan
pelindung usaha budidaya di belakangnya. Sebaran hutan
mangrove di pesisir Kotawaringin Timur terdiri dari hutan
mangrove primer terdapat di Kecamatan Teluk Sampit seluas
7.295 Ha (82,51 %) dan kecamatan Pulau Hanaut seluas 1.546
Ha (17,49 %), sedangkan hutan mangrove sekunder hanya
terdapat di Kecamatan P. Hanaut seluas 1.160 Ha (100 %).
Di wilayah Pesisir dan Laut Kotawaringin Timur mempunyai jenis
jenis flora dan fauna yang beragam baik ukuran maupun jenis.
Jenis-jenis flora diantaranya adalah bakau, cemara laut, jambu
mete, kelapa, nipah dan galam serta jenis tumbuhan yang hidup
sebagai semak belukar. Tumbuhan yang hidup di perairan yang
tergolong

plankton

terutama

chlorophyta,

cyanophyta,

diatomae, pyropphyta.
Jenis fauna yang ditemukan antara lain : Bekantan, siamang,
ular rawa, burung elang, udang (Penaeus monodon), udang
manis

(Penaeus

semisulcatus),

udang

putih

Penaeus

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-34

merguensis),

kepiting

(Sclla

serrata),

rajungan

(Portunos

pelagicus), dan kerang-kerangan. Jenis ikan yang ditemukan


antara lain : ikan kakap (Lates calcarifer), tembang (Sardinella
longicep), tenggiri (Scomberomerus commerson), bambangan
(Lutjanus malabaricus), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta),
kembung

perempuan

(Rastrelliger

neglectus),

belanak

(Valamugil speigleri), bawal putih (Pampus argentus), tongkol


(Auxis thazard), pari kembang (Orygon sepha), pari burung
(Actomyles

nichofie),

cucut

hiu

(Hermigaleus

balfouri),

sembilang (Plotosus cavius), telang (Scomberomerus guttalus),


selungsungan

(Scomberomerus

australosius),

selangat

(Dhorosoma chacunda) dan bandeng (Channos channos).


Ekosistem mangrove dapat dibedakan dalam tiga tipe utama,
bentik antai/delta, bentuk muara sungai/laguna, dan bentuk
pulau. Ketiga tipe tersebut terwakili di sebagian besar wilayah
Kabupaten Kotawaringin Timur. Hutan mangrove merupakan
ekosistem yang paling produktif dan merupakan sumber hara
untuk perikanan pantai.

Hutan ini menyokong kehidupan

sejumlah besar sepesies binatang dengan menyediakan tempat


berbiak,

berpijah,

dan

makan.

Spesies

tersebut

meliputi

berbagai jenis burung, ikan, kerang dan krustasea seperti udang,


kepiting. Hutan bakau juga berfungsi sebagai pelindung pantai
dan penstabilisasi serta berperan sebagai penyangga pencegah
erosi yang disebabkan oleh arus, gelombang, dan angin. Mereka
juga memainkan peranan penting sebagai pengendali banjir dan
pemelihara permukaan air di bawah tanah.
Ada tiga tipe akar yang biasa dijumpai pada hutan mangrove,
yaitu akar lutut, akar nafas dan akar tunjang. Jenis hutan
mangrove (bakau) yang ditemukan di pesisir wilayah Kabupaten
Kotawaringin Timur. Secara langsung atau tidak langsung, hutan
mangrove

melindungi

dan

menyediakan

makanan

bagi

komunitas binatang, termasuk burung-burung pantai dan banyak


organisme laut. Hutan mangrove mempunai fauna yang kaya
akan udang-udangan yang besar dan moluska, juga merupakan
tempat yang penting untuk memijah dan pembibitan bagi udang
dan banyak jenis ikan pelagis bernilai komersil penting.
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-35

Jenis mangrove yang dominan ditemukan pada kawasan pesisir


pantai kotawaringin Timur terdapat disebelah timur (pesisir teluk
sampit) antara lain Api-api (Avicennia alba) dan baku-bakauan
(Rhizophora spp.). Sementara dibagian ujung timur didominasi
jenis cemara laut. Pada pantai sebelah barat jenis nipah
(Nympae, sp.) mendominasi vegetasi mangrove sebelah dalam,
sementara pada arah keluar mendekati pantai, jenis Api-api
(Avicennia alba) dan bakau-bakauan (Rhizophora spp.). yang
lebih

dominan.

Bagian

kawasan

pantai

paling

luar

yang

berbatasan dengan laut umumnya berpasir dan tidak ditumbuhi


vegetasi.
Pada

kawasan

Timur

Selatan

tidak

ditemukan

komunitas

mangrove yang berarti, sedangkan pada sebelah utara teluk


sampit terdapat endapan/sedimen lumpur yang mulai ditumbuhi
oleh vegetasi mangrove secara alamiah dari jenis Api-api dan
bakau. Dipantai barat, sedimenasi yang cukup kuat juga terjadi
sehingga mendangkalkan lingkungan dermaga tradisional milik
masyarakat setempat dan pertumbuhan komunitas mangrove
yang cukup besar dari jenis api-api, bakau, rambai. Bibit
mangrove yang tumbuh disebelah utara teluk sampit berpeluang
besar berasal dari pantai barat teluk sampit yang cukup rapat
ditumbuhi beberapa mangrove.
I.2 Ekosistem Terumbu Karang (Coral Reefs)
Komunitas terumbu karang tidak ditemukan pada perairan laut
dangkal (pesisir) dalam wilayah kajian. Berdasarkan informasi
nelayan, komunitas terumbu karang ditemukan sekitar 3 mil dari
pantai, namun demikian keberadaan terumbu karang harus
diperhatikan karena selain sebagai komunitas penting dalam
ekositem perairan laut (sebagai habitat berbagai jenis biota laut,
nursery area, pawning area serta feeding area dan bernilai
ekonomi penting, juga memiliki nilai ekologis penting sebagai
natural barrier bagi daratan karena fungsinya menjadi breaker
water yang melindungi daratan dari peluang abrasi gelombang.
I.3 Estuaria

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-36

Estuaria adalah daerah litoral yang agak tertutup (teluk) di


pantai, tempat sungai bermuara dan air tawar dari sungai
becampur dengan air asin dari laut, biasanya berkaitan erat
dengan pertemuan perairan sungai dengan air laut. Produktivitas
estuaria dan lautan dangkal sekitar pantai menunjang perikanan
pantai yang sangat kaya. Sungai Mentaya secara terus menerus
membawa endapan, mineral dan zat-zat hara ke dalam estuaria,
memperbaharui bahan-bahan yang hilang untuk memelihara
produktivitas yang tinggi. Produktivitas estuaria lebih dari dua
kali yang didapatkan kebanyakan ekosistem darat dan dua puluh
kali lebih besar dari pada samudra terbuka (laporan ITB tahun
2002).
J.

Potensi Rawan Bencana


J.1

Banjir

Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki daerah yang berpotensi


rawan bencana banjir, yaitu Kecamatan Baamang, Mentawa
Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan
Teluk Sampit. Kecamatan-kecamatan ini terletak di dataran
rendah yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Selain
itu, kecamatan-kecamatan ini terletak bagian hilir sungai,
dimana pola sungai di Kotawaringin Timur adalah pola dendritik
dimana salah satu sifat utamanya adalah apabila terjadi hujan
merata di seluruh daerah aliran sungai, maka puncak banjirnya
akan demikian tinggi hingga mempunyai potensi besar untuk
menggenangi daerah-daerah yang ada di sekitar aliran sungai,
khususnya di bagian hilir sungai.Selain kecamatan-kecamatan di
daerah hilir sungai, kecamatan yang berpotensi rawan bencana
banjir yaitu Kecamatan Cempaga Hulu, Mentaya Hulu, dan
Parenggean.
Lokasi genangan yang terjadi di sekitar Kota Sampit meliputi :
1. Jalan MT. Haryono, daerah sekitar RSUD Dr. Murjani, sekitar
BKKBN dan Jalan Jeruk;
2. Jalan Semangka, Jalan Nangka dan Jalan Plautan;
3. Jalan Nanas, Jalan Manggis, Jalan Pinang dan Jalan Anggur;
4. Jalan DI. Panjaitan, Jalan Sirsak, dan Jalan Langsat;

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-37

5. Serta Jalan H. Imbran, Jalan Tembaga Kuning, Jalan Kuningan


dan Jalan Kopi Selatan.
J.2

Kebakaran Hutan dan Lahan

Bencana alam yang kerap terjadi di Kabupaten Kotawaringin


Timur adalah kebakaran lahan. Dari tahun 2005 hingga tahun
2009 terdapat sejumlah titik kebakaran yang tersebar di seluruh
kecamatan. Puncaknya terjadi pada tahun 2006, terdapat 2002
hotspot, yang terbesar terjadi di Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Namun pada tahun 2009 terjadi penurunan menjadi 366 hotspot.
Untuk tahun 2009 Kecamatan Antang Kalang, Bukit Santui, Teluk
Sampit dan Cempaga Hulu mempunyai titik hotspot lebih
dibanding kecamatan-kecamatan lain.

Jumlah hotspot per

kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1.8.


Tabel 1.8
Jumlah Hotspot per Kecamatan Tahun 2005 2009
Kecamatan
Antang Kalang
Bukit Santui
Mentaya Hulu
Parenggean
Cempaga Hulu
Cempaga
Telawang
Baamang
MB. Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Mentaya Hilir
Selatan
Pulat Hanaut
Teluk Sampit
Kota Besi
Jumlah

2005
13
5
17
43
8
0
6
0
2
0
7
2
5
0
0
108

Jumlah Hot Spot


2006 2007 2008
227
112
46
189
67
21
76
55
10
114
71
22
108
41
4
56
18
25
147
29
4
58
9
1
228
10
5
26
20
3
387
23
0
96
27
202
61
2002

1
5
0
21
482

0
0
0
17
158

2009
61
55
12
24
31
9
9
29
15
8
25
14
28
30
16
366

Sumber : Dinas Kehutanan

H.3 Rawan Abrasi


Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki daerah yang berpotensi
rawan bencana abrasi, yaitu kawasan pesisir pantai di wilayah
Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Teluk Sampit. Indikasi
terjadinya abrasi pantai Ujung Pandaran secara visual ditemukan
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-38

pada bagian pantai sebelah selatan tenggara, yang antara lain


dicirikan

dengan

kerusakan

terbukanya

sistem

perakaran

tumbuhan pantai serta bangunan wisata pantai (digerusnya


potensi pondasi bangunan tersebut) oleh aktivitas gelombang.

1.3.3 Kependudukan dan Sumberdaya Manusia


Suatu perencanaan selalu melihat dan mempertimbangkan faktorfaktor pendukungnya, sehingga dapat mewujudkan output rencana
yang dapat mengakomodasi kebutuhan yang diharapkan, kondisi
penduduk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keluarnya
suatu output rencana. Dalam menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah
faktor penduduk menjadi salah satu pertimbangan, sehingga disajikan
data kependudukan dalam bentuk time series.
A.

Jumlah dan Sebaran Penduduk


Berdasarkan

data

statistik,

jumlah

penduduk

Kabupaten

Kotawaringin Timur pada tahun 2009 sebesar 328.816 jiwa atau


82.694 kepala keluarga (KK), sehingga rata-rata ukuran keluarga
(size of family) adalah3.98 jiwa per kepala keluarga (KK).
Kecamatan

dengan

jumlah

penduduk

terbanyak

adalah

kecamatan Mentaya Baru/Ketapang dengan jumlah penduduk


68.199 jiwa dan jumlah KK sebanyak 16.411 KK, Kecamatan
Baamang menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar
kedua

sebanyak

40.133

jiwa.

Kecamatan

dengan

jumlah

penduduk terkecil adalah Kecamatan Bukit Santui dengan jumlah


penduduk sebanyak 7.434 jiwa dengan 1.769 KK.

Persebaran

penduduk pada setiap kecamatan dapat dilihat pada Tabel 1.9.


Tabel 1.9
Rincian Jumlah Penduduk Dan Ukuran Keluarga
Di Kotawaringin Timur Per Kecamatan, Tahun 2009
Kecamatan
Mentaya Hilir Selayan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa Baru Ketapang
Seranau

Jumlah Penduduk
Jiwa
KK
22370
5921
8485
2233
18956
5138
68199
16411
11644
2930

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-39

Jumlah Penduduk
Jiwa
KK
13698
3661
17166
4285
9955
2399
40133
9717
19004
4868
15317
3840
27504
6776
22893
6044
7434
1769
26058
6702
*
*
*
*
328.816
82.694

Kecamatan
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
Telaga Antang
Tualan Hulu
Jumlah

Sumber: BPS Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009


Ket : * Data belum tersedia, masih ikut kecamatan induk

B.

Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk Kotawaringin Timur dari tahun 2006 hingga
2009

mengalami

digunakan

peningkatan.

sebagai

dasar

Data

kependudukan

pengamatan

yang

kecenderungan

pertumbuhan penduduk adalah data kependudukan dalam kurun


waktu 20022008, data pertambahan jumlah penduduk dari
tahun 2002 hingga 2008 selalu meningkat dengan rata-rata
pertumbuhan 0,032.

Tabel 1.10
Jumlah Penduduk Tahun 2002-2008
Kecamatan

Jumlah Penduduk (Jiwa)


2002

2003

2004

2005

2007

2008

30.445

26.928

27.299

25.834

21.796

21.948

Teluk Sampit

10.230

8.421

8.458

Pulau Hanaut

22.824

16.735

16.771

23.020

19.060

19.138

Mentaya Hilir Utara

19.434

11.110

11.138

14.714

12.319

12.358

Mentaya Baru
Ketapang

79.874

62.223

62.511

75.663

65.699

67.373

Baamang

45.975

40.696

40.767

47.923

40.127

39.522

13.827

11.364

11.438

Mentaya Hilir Selatan

Seranau

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-40

Kecamatan

Jumlah Penduduk (Jiwa)


2002

2003

2004

2005

2007

2008

Kota Besi

19.214

24.304

24.381

31.446

27.053

17.384

Cempaga

34.961

31.448

31.501

22.808

19.036

19.145

17.172

14.934

15.181

Cempaga Hulu
Parenggean

29.594

22.650

22.691

30.034

25.725

25.995

Mentaya Hulu

26.702

27.600

27.662

35.432

29.588

22.894

Antang Kalang

33.383

23.467

23.560

31.877

26.959

27.129

Bukit Santuai

6.910

Telawang

9.990

Sumber : Kabupaten Kotim Dalam Angka, 2009

C.

Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk rata-rata Kabupaten Kotawaringin Timur
adalah sebesar 19.93 jiwa/km2 atau rata-rata 1.993 jiwa per
desa. Data yang lebih rinci mengenai kepadatan penduduk
Kabupaten Kotawaringin Timur dapat dilihat pada Tabel 1.11.
Tabel 1.11
Tingkat Kepadatan Penduduk Kabupaten
Kotawaringin Timur Per Kecamatan, Tahun 2009
Kepadatan Penduduk
Kecamatan

Densita
s

Rata-Rata Per
Desa

Rata-Rata Per
KK

Mentaya Hilir Selayan

70,35

2.237

3,78

Teluk Sampit

13,91

2.121

3,80

Pulau Hanaut

30,62

1.896

3,69

Mentawa Baru
Ketapang

190,77

8.525

4,16

Seranau

21,27

2.329

3,97

Mentaya Hilir Utara

18,95

1.957

3,74

Kota Besi

9,23

1.561

4,01

Telawang

31,42

1.659

4,15

Baamang

67,91

10.033

4,13

Cempaga

15,31

2.376

3,90

Cempaga Hulu

12,95

1.702

4,06

Parenggean

15,50

1.196

4,00

Mentaya Hulu

12,96

1.431

3,79

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-41

Kepadatan Penduduk
Kecamatan

Densita
s

Rata-Rata Per
Desa

Rata-Rata Per
KK

Bukit Santuai

4,61

531

4,20

Antang Kalang

8.76

869

3,89

19,93

1.993

3,98

Jumlah

Sumber: BPS Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009

Dari Tabel 1.9 dapat diketahui bahwa kecamatan yang paling


padat penduduknya dalah kecamatan Mentawa baru Ketapang
(190,77 jiwa per km2). Kota Sampit terletak di Kecamatan
Mentawa

baru

Ketapang,

sehingga

dapat

dimengerti

bila

penduduknya lebih padat dibandingkan kecamatan lainnya.


Kecamatan Baamang lebih padat yakni sebesar 67,91 jiwa per
km2.

Kecamatan-kecamatan

lainnya

relatif

lebih

jarang

penduduknya, dan yang paling jarang adalah kecamatan Bukit


Santui dan Antang Kalang masing-masing sebesar 4,61 jiwa/km2
atau 531 jiwa per desa dan 8,76 jiwa/km2 atau 869 jiwa per
desa.

Gambar 1.9

Peta Kepadatan Penduduk Kabupaten


Kotawaringin Timur

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-42

D.

Struktur Penduduk
D.1 Struktur penduduk menurut kelompok umur
Struktur penduduk berdasarkan kelompok umur bahwa jumlah
laki-laki lebih besar dibandingkan dengan jumlah perempuan
dengan ratio sebesar 109. Data lebih rinci dapat dilihat pada
Tabel.1.12.
Tabel 1.12
Jumlah Penduduk Kotawaringin Timur Menurut Kelompok
Umur,
Jenis Kelamin dan Sex Ratio Tahun 2009
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-43

Jenis Kelamin

Kelompok
Umur

Laki-laki

Perempuan

04

16.478

16.029

59

16.815

16.07

32.885

105

10 14

16.856

15.859

32.715

106

15 19

16.401

15.634

32.035

105

20 24

16.169

15.452

31.621

105

25 29

16.291

15.488

31.78

105

30 34

15.875

14.819

30.694

107

35 39

14.476

12.873

27.349

112

40 44

12.256

10.421

22.677

118

45 49

9.762

7.898

17.66

124

50 54

7.204

5.69

12.893

127

55 59

4.956

3.894

8.85

127

60 64

3.314

2.68

5.995

124

65 69

2.234

1.88

4.114

119

70 74

1.38

1.237

2.618

112

75 ke atas

1.243

1.182

2.425

105

Jumlah

171.709

157.107

328.816

109

Jumla
h
32.506

Sex Ratio
103

Sumber: Badan Pusat Statistik Kotawaringin Timur, 2009

D.2 Struktur Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Tenaga kerja adalah penduduk pada usia kerja yakni pada
kelompok umur 10 sampai dengan 64 tahun. Tenaga kerja ini
terdiri dari angkatan kerja yakni angkatan kerja yang mencari
kerja, bukan angkatan kerja yakni tenaga kerja yang masih
sekolah atau mengurus rumah tangga atau tenaga kerja
penerima pendapatan.
Berdasarkan Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional Kalimantan
Tengah Tahun 2009 diketahui jumlah tenaga kerja di Kabupaten
Kotawaringin Timur sebanyak 206.709 orang terdiri dari 108.434
orang laki-laki dan 98.275 orang perempuan.
Dari Tabel 1.13 dapat diketahui bahwa potensi tenaga kerja yang
sudah

diserap

lapangan

kerja

mencapai

135.403

orang

(56,13%), dan pengangguran sebanyak 9.490 orang (3,93%).


Sedangkan tenaga kerja yang tidak menawarkan dirinya untuk
bekerja sebanyak 96.346 orang yakni masih sekolah sebanyak
46.968 orang (19,47%), mengurus rumah tangga 40.783 orang
(16,91%) dan lainnya sebanyak 8.595 orang (3,56%).
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-44

Tabel 1.13
Penduduk Kotawaringin Timur Umur 10 tahun ke Atas dan
Jenis Kegiatan Utamanya Tahun 2009
NO

URAIAN

.
I

Angkatan Kerja
a. Bekerja
b. Pengangguran
Bukan Angkatan Kerja
a. Sekolah
b. Mengurus Rumah
Tangga
c. Lainnya
Jumlah

II

JUMLAH

PERSENTASE

(ORANG)

(%)

135.403
9.490

56,13
3,93

46.968
40.783

19,47
16,91

8.595
241.239

3,56
100,00

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Tengah, 2009

Pencari kerja yang mendaftar ke Dinas Tenaga Kerja setempat


umumnya

berpendidikan

SLTA/sederajat

dan

sarjana

muda/sarjana. Lebih jelasnya terdapat pada Tabel 1.14.


Tabel 1.14
Banyaknya Pencari Kerja Menurut Jenis Pendidikan
dan Jenis Penempatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009
Jenis/tingkat
pendidikan
Tidak Tamat SD
SD dan Setingkat
SLTP dan
Setingkat
SLTA dan
Setingkat
DI/DII
Sarjana Muda/DIII
Sarjana/SI

Belum
ditempatk
an tahun
lalu
12

Pendaftar
an tahun
ini

Ditempatk
an tahun
ini

Dihapuska
n

12

23

Sisa/belum
ditempatk
an tahun
ini
0

28

11

23

23

41

25

29

10

652

1.18

206

679

947

622

523

122

530

493

611

635

81

469

696

1.708

1.616

158

1.266

1.9

Jumlah
3.656
4.018
638
Sumber: Badan Pusat Statistik Kotawaringin Timur, 2009

2.983

4.053

Berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi


Kalimantan Tengah Tahun 2009, nilai IPM Kotawaringin Timur
adalah 72,7 meningkat dibanding tahun 2005 dengan nilai IPM
72,5.

Bila dibandingkan dengan nilai IPM kabupaten/kota se-

Provinsi Kalimantan Tengah, nilai IPM Kabupaten Kotawaringin


Timur adalah relatif tinggi dan berada pada posisi ke 3 (tiga)
diantara 14 kabupaten/kota, hal ini mengindikasikan pembinaan
SDM di wilayah ini sudah cukup baik. Peringkat secara nasional
berada pada posisi ke 87.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-45

Ukuran yang digunakan dalam menilai IPM adalah meliputi


indeks kesehatan yang dilihat dari angka harapan hidup, indeks
pendidikan yang dilihat dari rata-rata lama sekolah penduduknya
dan angka melek huruf, serta indeks daya beli yang dilihat dari
pengeluran riil per kapita penduduk. Perkembangan IPM dan
Komponen Penyusun IPM di Kotawaringin Timur Tahun 20052009 diperlihatkan pada Tabel. 1.15.
Tabel 1.15
Indek Pembangunan Manusia (IPM) dan Komponen Penyusun IPM
Kotawaringin Timur Tahun 2005 2009
Kotawaringin Timur

IPM & Komponen

2005

Angka Harapan Hidup (tahun)


Rata-rata Lama Sekolah (Tahun)
Angka Melek Huruf (persen)
Pengeluaran Riil Per Kapita disesuaikan
(Rp.000)
IPM
Peringkat Nasional

2009

68,9

79,0

8,0

8,0

98,7

98,7

622,7

624,7

72,5

72,7

80

87

Reduksi shortfall

0,81

Peringkat Kalteng

Sumber: IPM Kalimantan Tengah 2009

D.3 Struktur Penduduk Menurut Agama


Jumlah pemeluk agama terbesar di Kabupaten Kotawaringin
Timur adalah Islam yaitu sebesar 260.633 jiwa (83,33%), diikuti
oleh Agama Hindu sebesar 21.884 jiwa (6,997%). Jumlah
pemeluk Agama Kristen Protestan berjumlah 16.396 jiwa dan
Kristen Katolik sebesar 12.659 jiwa, pemeluk Agama Budha
sebesar 1.187 jiwa.

Tabel 1.16
Jumlah Penduduk Menurut Agama Tahun 2009
Kecamatan

Agama
Islam

Kriten

Katholi

Hind

Jumlah
Budha

Lainny

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-46

Mentaya Hilir Selatan

24.679

Protestan
102

k
36

u
2

82

a
70

24.971

Teluk Sampit

9.694

11

38

9.745

Pulau Hanaut

19.262

72

29

19.363

Mentawa Baru Ketapang

77.446

4.848

1.436

297

1.089

292

85.408

Seranau

12.079

102

127

13

12.326

Mentaya Hilir Utara

12.870

344

218

620

88

14.143

Kota Besi

16.100

935

348

268

107

17.765

Telawang

11.311

1.009

928

3.154

20

39

16.461

Baamang

50.269

2.863

570

262

93

116

54.173

Cempaga

19.273

796

436

579

42

21.127

Cempaga Hulu

10.289

2.154

410

4.232

10

84

17.179

Parenggean

26.153

1.961

1.090

2.144

24

171

31.543

Mentaya Hulu

19.073

1.133

353

1.565

100

22.232

Bukit Santuai

1.300

1.165

129

4.698

87

7.380

12.580

4.546

604

5.730

13

841

24.314

322.37
8

22.041

6.687

23.55
6

1.351

2.117

Antang Kalang
Telaga Antang
Tualan Hulu
Jumlah 2009

E.

378.130

Perkiraan Penduduk
Perhitungan penduduk akan berpengaruh pada penentuan dan
perhitungan kebutuhan sarana dan prasarana permukiman
sampai dengan tahun proyeksi yang direncanakan. Pada bagian
ini didiskripsikan proses untuk memperkirakan jumlah penduduk
Kabupaten Kotawaringin Timur dengan menggunakan data
kependudukan 7 tahun ke belakang supaya dihasilkan proyeksi
penduduk yang lebih tepat untuk 20 tahun mendatang.

Tabel 1.17
Proyeksi Jumlah Penduduk
Kabupaten Kotawaringin Timur Sampai Tahun 2030
Eksisting

Pertumbuha
n

Proyeksi

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-47

Tahun

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

(r)

Tahun

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

2002

270.015

0,064

2016

376.029

2003

287.161

0,004

2021

427.195

2004

288.281

0,058

2026

478.361

2005

305.067

0,025

2031

529.527

2006

312.756

0,030

2007

322.081

0,009

2008

324.863

0,032

Sumber: Kabupaten Kotim Dalam Angka dan Hasil Analisa 2011

1.3.4 Potensi Ekonomi Wilayah


A.

Struktur Perekonomian
Kabupaten Kotawaringin Timur, justru Sektor Pertanian masih
merupakan

sektor yang paling dominan dan menjadi andalan

utama dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto.


Setelah tiga tahun terakhir sempat mengalami penurunan, pada
tahun 2009 kontribusinya mengalami peningkatan sebesar 34,54
persen. Peningkatan kontribusi Sektor Pertanian pada tahun
2009 terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kontribusi Sektor
Perkebunan dan Sektor Peternakan dan hasil-hasilnya.
Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran merupakan sektor kedua
terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Kotawaringin
Timur.

Sejak

tahun

2005

sektor

ini

terus

mengalami

peningkatan, dimana pada tahun ini kontribusinya mencapai


27,65 persen. Meningkatnya Sektor Perdagangan, Hotel &
Restoran berkaitan dengan naiknya output Sub Sektor Tanaman
Perkebunan serta Sub sektor Peternakan dan Hasil-hasilnya. Sub
Sektor Perdagangan Besar dan Eceran memiliki andil terbesar
dalam pembentukan sektor ini, termasuk peranannya dalam
pembentukan

Produk

Domestik

Regional

Bruto

Kabupaten

Kotawaringin Timur secara keseluruhan.


Gambar 1.1
Peranan Sektor Ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur
dalam PDRB adh. Berlaku Tahun 2009 (%)

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-48

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009

Sektor Industri Pengolahan menempati posisi ketiga terbesar


dalam struktur perekonomian Kabupaten Kotawaringin Timur
tahun 2009. Meskipun demikian, secara umum kontribusi sektor
ini terus menurun dari tahun-tahun sebelumnya, walau pada
tahun 2005 sempat mengalami peningkatan sebesar 17,29
persen, namun pada tahun 2009 kontribusinya hanya sebesar
14,82

persen.

Menurunnya

Sektor

Industri

Pengolahan

disebabkan menurunnya jumlah produksi bahan baku terutama


kayu yang berasal dari Sub Sektor Kehutanan.
Tabel 1.18
Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB
Atas Dasar Harga Berlaku, 2003 2009 (Persen)
Sektor

2003

2004

2005

2006

2007

2008*

2009**

(1)
(2)
1. Pertanian
36,68
2.
Pertambangan
& 0,64
Penggalian
3. Industri Pengolahan
17,61
4. Listrik, Gas & Air Bersih
0,37
5.Bangunan
2,67
6.Perdagangan , Hotel & 23,39
Restoran
7.
Pengangkutan
& 9,81
Komunikasi
8.Keuangan
2,34
9. Jasa-jasa
6,49
Total
100
*) angka sementara
**) angka sangat sementara

(3)
37,23
0,61

(4)
38,43
0,58

(5)
37,11
0,55

(2)
36,47
0,58

(3)
34,04
0,79

(4)
34,54
0,7

16,82
0,41
2,58
23,99

17,29
0,42
2,37
23,1

16,97
0,4
2,53
24,71

15,71
0,43
2,93
25,21

15,48
0,42
3,39
27,07

14,82
0,36
3,71
27,65

9,45

9,01

9,28

9,84

9,9

8,9

2,3
6,61
100

2,19
6,61
100

2,18
6,28
100

2,58
6,26
100

2,68
6,22
100

2,89
6,42
100

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009

Posisi

keempat

dan

kelima

dalam

struktur

perekonomian

Kotawaringin Timur pada tahun 2009 masing-masing ditempati


Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-49

oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Jasa-jasa.


Sektor

Pengangkutan

dan

Komunikasi

memiliki

kontribusi

sebesar 8,90 persen, dimana sedikit menurun dibanding tahun


sebelumnya.
Penurunan ini dipengaruhi oleh jumlah penumpang dan muat
barang yang berasal dari Sub Sektor Angkutan Sungai, Danau
dan Penyeberangan. Sementara Sektor Jasa-jasa pada tahun ini
memiliki andil sebesar 6,42 persen. Angka tersebut mengalami
peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Empat posisi terkecil
kontribusinya terhadap pembentukan PDRB tahun 2009 masingmasing ditempati oleh Sektor Bangunan, Sektor Keuangan,
Persewaan dan Jasa Perusahaan, Sektor Pertambangan dan
Penggalian serta Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Dari masingmasing sektor tersebut yang kontribusinya meningkat pada
tahun ini adalah Sektor Bangunan dan Sektor Keuangan,
Persewaan dan Jasa Perusahaan yaitu masing-masing sebesar
3,71 persen dan 289 persen. Sementara Sektor Pertambangan
dan Penggalian dan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mengalami
penurunan masing-masing sebesar 2,89 persen dan 0,36 persen.
B.

Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat
penting

dalam

melakukan

analisis

tentang

pembangunan

ekonomi yang terjadi pada suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi


menunjukkan

sejauh

mana

aktivitas

perekonomian

akan

menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu


periode tertentu, karena pada dasarnya aktivitas perekonomian
adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk
menghasilkan output, maka proses ini pada gilirannya akan
menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor produksi
yang dimiliki oleh masyarakat. Diharapkan dengan adanya
pertumbuhan ekonomi maka pendapatan masyarakat sebagai
pemilik faktor produksi juga akan turut meningkat.
Perekonomian dianggap mengalami pertumbuhan bila seluruh
balas jasa riil terhadap penggunaan faktor produksi pada tahun
tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya. Dengan kata

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-50

lain, perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan bila


pendapatan riil masyarakat pada tahun tertentu lebih besar
daripada pendapatan riil masyarakat pada tahun sebelumnya.
Indikator

yang

digunakan

untuk

mengukur

pertumbuhan

ekonomi adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik Regional


Bruto (PDRB).
Secara umum pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotawaringin
Timur setelah Kabupaten Katingan dan Seruyan memisahkan diri
secara

definitive,

Dampak

krisis

selalu

mengalami

ekonomi

yang

pertumbuhan

melanda

positif.

Indonesia

sejak

pertengahan tahun 1997 dan pertikaian etnis di Kabupaten


Kotawaringin Timur pada awal tahun 2001 secara perlahan mulai
teratasi. Pada tahun 2009 laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Kotawaringin

Timur

sedikit

melambat

dibanding

tahun

sebelumnya, akan tetapi masih mengalami pertumbuhan yang


positif sebesar 6,38 persen dan angkanya berada di atas laju
pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah.
Tabel 1.19
Pertumbuhan Sektor Ekonomi PDRB Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2000 Kab. Kotawaringin Timur Tahun 2003-2009 (Persen)
Sektor

200
3

200
4

200
5

2006

2007

2008*

2009**

1. Pertanian
2.
Pertambangan
&
Penggalian
3. Industri Pengolahan
4. Listrik, Gas & Air Bersih
5.Bangunan
6.Perdagangan , Hotel &
Restoran
7.
Pengangkutan
&
Komunikasi
8.Keuangan
9. Jasa-jasa

7,49
4,67

6,74
4,53

7,43
8,72

7,08
4,28

3,26
12,18

1,9
43,59

5,03
-2,54

2,84
4,53
4,91
4,81

2,46
4,52
3,68
5,38

3,42
6,01
6,04
4,35

1,45
13,89
6,91
8,47

1,64
13,81
18,42
9,41

2,58
1,69
22,7
10,73

5,14
8,13
15,97
11,1

7,81

4,92

5,65

4,28

9,22

13,25

1,54

5,28
4,26

5,26
5,41

6,9
3,45

5,13
5,36

24,94
8,59

9,42
5,56

12,57
3,07

Total

5,78

5,28

5,61

5,93

6,27

6,51

6,38

*) angka sementara
**) angka sangat sementara

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, 2009

Sebagaimana tabel 1.17 memperlihatkan pertumbuhan ekonomi


Kabupaten

Kotawaringin

Timur

cenderung

mengalami

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-51

peningkatan setiap tahunnya, tahun 2003 sebesar 5,78 persen


hingga tahun 2008 sebesar 6,51 dan tahun 2009 sedikit
mengalami

penurunan

menjadi

pertumbuhan ekonomi ini

6,38

persen.

Penurunan

sebagai imbas dari krisis ekonomi

global yang melanda hampir seluruh negara.


Dampak krisis ekonomi ini tentu berimbas pula bagi Indonesia,
namun begitu saat ini kondisi ekonomi fiskal dan moneter
nasional cukup siap dan kuat bila dibandingkan dengan krisis
ekonomi pada tahun 1997 sehingga pengaruh krisis ini tidak
berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Penurunan

pertumbuhan

ekonomi

Kabupaten

Kotawaringin

Timur lebih disebabkan oleh menurunnya nilai investasi dan


ekspor bagi komoditi daerah serta menurunnya daya beli
masyarakat akibat inflasi, selanjutnya terjadinya pemutusan
hubungan kerja oleh perusahaan yang terkena imbas krisis
ekonomi global.
Jika

dilihat

dari

pertumbuhan

per

sektor,

hanya

Sektor

Pertambangan dan Penggalian yang mengalami pertumbuhan


negatif. Hal ini dipengaruhi turunnya produksi bahan tambang
sebagai dampak dari krisis global yang menyebabkan turunnya
permintaan terhadap bahan tambang terutama bijih besi. Selain
itu

diperketatnya

kepemilikan

Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan (AMDAL) bagi penambang menyebabkan tidak


semua orang bebas menambang di suatu lahan. Sehingga hanya
perusahaan-perusahaan

yang

memiliki

AMDAL

saja

yang

diijinkan melakukan kegiatan pertambangan.


Sektor yang paling besar pertumbuhannya dimiliki oleh Sektor
Bangunan,
pertumbuhan

namun
sektor

demikian

jika

ini

selaju

tidak

melihat

kebelakang

tahun

sebelumnya.

Pertumbuhan terbesar kedua dimiliki oleh Sektor Keuangan,


Persewaan dan Jasa Perusahaan, dimana jika dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan sektor ini melaju
cukup pesat. Selanjutnya yang memiliki pertumbuhan terbesar
ketiga adalah Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar
11,10 persen sedikit melaju dibanding tahun 2008.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-52

Sementara itu, selain Sektor Pertambangan dan Penggalian,


sektor yang mengalami pertumbuhan di bawah 10 persen
adalah Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 8,13 persen,
Sektor

Industri

Pengolahan

sebesar

5,14

persen,

Sektor

Pertanian sebesar 5,03 persen, Sektor Jasa-jasa sebesar 3,07


persen dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 1,54
persen.
C.

Kemampuan Anggaran
Kemampuan anggaran Kabupaten Kotawaringin Timur dapat
diketahui dari realisasi APBD Kabupaten, realisasi penerimaan
daerah (otonom) serta realisasi belanja daerah (otonom). Seperti
terlihat pada Tabel 1.16, bahwa sumber penerimaan terbesar
Kabupaten Kotawaringin Timur adalah dana perimbangan, bila
dispesifikkan yaitu dana alokasi umum. Dana Alokasi Umum
(DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap
daerah otonom (propinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap
tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah
satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu
komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai
pemerataan

kemampuan

keuangan

antar

daerah

untuk

mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan


desentralisasi.
Berdasarkan

Tabel

1.20

dapat

dilihat

bahwa

tingkat

ketergantungan Kabupaten Kotawaringin Timur terhadap dana


perimbangan

DAU

sangat

tinggi,

sebesar Rp 632.480.777.002,69
sebesar

Rp

dari

jumlah

pendapatan

sebagian besar 88,58% atau

560.255.215.577,00

bersumber

dari

dana

perimbangan, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya


sekitar

6,46%

saja

(Rp

40.842.946.205,69)

sedangkan

pendapatan lainnya hanya sekitar 4,96% .


Tabel 1.20
Realisasi APBD Tahun 2008
Keterangan
Pendapatan

Realisasi

Prosentas
e (%)

632.480.777.002,
69

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-53

Keterangan

Realisasi

1. Pendapatan Asli Daerah

Prosentas
e (%)

40.842.946.205,69

6,46

560.255.215.577,00

88,58

31.382.615.220,00

4,96

1. Belanja Operasi

660.906.480.639,
50
421.613.193.647,00

35,96

2. Belanja Modal

237.643.261.992,50

0,12

3. Belanja Tak Terduga

796.725.000,00

0,13

4. Transfer

853.300.000,00

4,30

28.425.703.636,81

14,66

2. Dana Perimbangan
3. Lain-lain pendapatan daerah yang
sah
Belanja

Surplus (defisit)

96.888.425.616,0
5

Pembiayaan Daerah
1. Penerimaan Pembiayaan Daerah

126.861.925.616,05

2. Pengeluaran Pembiayaan Daerah

29.973.500.000,00

Pembiayaan Netto

96.888.425.616,05

100,00

68.462.721.979,2
4

Sisa Lebih Pembiayaan


Sumber : Kotim Dalam Angka Tahun 2008

Tabel 1.21
Realisasi Penerimaan Daerah Tahun 2008
Jenis Penerimaan
1. Pendapatan Asli Daerah
1.1 Pajak Daerah
1.2 Retribusi Daerah
1.3 Bagian Laba BUMD
1.4 Penerimaan Lain-lain

Jumlah
Penerimaan
(rupiah)
40.842.946.205,6
9
6.789.035.793,00

Prosentas
e (%)

16,62

17.611.788.564,00
1.778.799.313,67
14.663.322.535,02
560.255.215.577,
00

43,12
4,36
35,90

2.1 Bagi Hasil Pajak

38.842.080.257,00

6,93

2.2 Bagi Hasil bukan Pajak

34.266.314.695,00
445.665.199.800,0
0

6,12

2. Dana Perimbangan

2.3. Dana Alokasi Umum (DAU)


2.4 Dana Alokasi Khusus (DAK)
3. Lain-lain pendapatan yang sah
3.1 Dana Darurat
3.2 Bagi Hasil Pajak dari Propinsi
3.3 Dana Penyesuaian dan otonomi
khusus
Jumlah Penerimaan Daerah

79,55

41.481.620.825,00
31.382.615.220,0
0
3.750.000.000,00

7,40

25.645.015.220,00

0,01

1.987.600.000,00
632.480.777.002,
69

0,00

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

0,00

I-54

Sumber: BPS Kotawaringin Timur 2008

Tabel 1.22
Realisasi Belanja Daerah Tahun 2008
JumlahPengeluara
n (rupiah)
421.613.193.647,
Belanja Operasi
00
1.1. Belanja Pegawai
238.683.086.213,00
1.2. Belanja Barang
148.273.886.768,00
1.3. Belanja Bunga, Subsidi, Hibah
1.6. Belanja Bantuan Sosial
14.627.430.666,00
1.7. Belanja Bantuan Keuangan
20.028.790.000,00
237.643.261.992,
Belanja Modal
50
2.1. Belanja Tanah
5.204.296.300,00
2.2. Belanja Peralatan dan Mesin
36.189.873.652,00
2.3. Belanja Gedung dan Bangunan
91.690.346.921,00
2.4. Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
89.741.469.076,50
2.5. Belanja Aset Tetap Lainnya
2.526.666.950,00
2.6. Belanja Aset Lainnya
12.290.609.093,00
Belanja Tidak Terduga
796.725.000,00
3.1. Belanja Tidak Terduga
796.725.000,00
Transfer
853.300.000,00
4.1. Bagi Hasil Pajak Daerah
426.650.000,00
4.2. Bagi Hasil Retribusi Daerah
426.650.000,00
660.906.480.639,
Jumlah Belanja Daerah
50
Sumber: BPS Kotawaringin Timur 2008
Jenis Belanja

C.

Prosentas
e (%)

56,61
35,17
3,47
4,75

2,19
15,23
38,58
37,76
1,06
5,17
100,00
50,00
50,00

Identifikasi Sektor Ekonomi


C.1 Sektor Pertanian Tanaman Pangan

Komoditas Padi
Produksi padi di Kabupaten Kotawaringin Timur dari tahun ke
tahun berfluktuasi, terutama untuk jenis padi sawah. Pada
tahun

2007

Kotawaringin
selanjutnya

hasil

produksi

Timur
2008

sebanyak

turun

padi

sawah

21.564

menjadi

di

ton,

17.756

Kabupaten
pada

ton

tahun

kemudian

meningkat menjadi 19.107 ton pada tahun 2009. Komoditas


padi yang terdiri dari padi sawah dan padi ladang merupakan
komoditas yang paling banyak diusahakan dengan luas panen
dan produksi terbesar di antara komoditas lainnya.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-55

Luasan panen dan jumlah produksi padi sawah berfluktuasi.


Sejak tahun 2006 dengan jumlah produksi sebesar 14.787 ton
meningkat pada tahun 2007 kemudian menurun pada tahun
2008 dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi
sebesar

19.107

ton.

Selain

padi

sawah,

Kabupaten

Kotawaringin Timur juga menghasilkan padi ladang meskipun


secara kuantitas tidak sebanyak padi sawah. Pada tahun 2006
produksi padi ladang Kabupaten Kotawaringin Timur adalah
38.801 ton, jumlah tersebut terus mengalami penurunan
hingga pada tahun 2009 menjadi 17.728 ton.

Tabel 1.23
Luas Panen dan Produksi Padi Menurut Kecamatan
Padi Sawah
Kecamatan
Mentaya Hilir
Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa Baru
Ketapang

Padi Ladang
Produ
Produ
Luas
k
ksi
tivitas

Total

Produ
ksi

Produk
tivitas

453
1.66
6
1.50
1

1.858

41,02

773

1.415

18,31

1.226

3.273

26,70

5.092

0,00

385

497

12,91

2.051

5.589

0,00

4.914

32,74

506

544

10,75

2.007

5.458

27,19

321

1.197

37,29

323

510

15,79

644

1.707

26,51

Luas

Luas

Produ
ksi

Produk
tivitas

Seranau
Mentaya Hilir
Utara

24

156

0,00

359

844

23,51

383

1.000

26,11

103

478

0,00

374

796

21,28

477

1.274

26,71

Kota Besi

290

1.074

0,00

845

1.962

23,22

1.135

3.036

26,75

Telawang

75

397

0,00

299

579

19,36

374

976

26,10

Baamang

75

332

0,00

309

670

21,68

384

1.002

26,09

Cempaga

78

334

42,82

964

2.449

25,40

1.042

2.783

0,00

Cempaga Hulu

63

285

45,24

748

1.897

25,36

811

2.182

26,91

Parenggean

134

547

40,82

477

1.073

22,49

611

1.620

26,51

Mentaya Hulu

341

1.276

37,42

763

1.676

21,97

1.104

2.952

26,74

Bukit Santuai

78

335

0,00

497

1.189

23,92

575

1.524

26,50

Antang Kalang
221
832
37,65
700
1.627
23,24
200
5.42
19.10
9
3
7
35,23
8.322
17.728
21,30
200
4.81
17.74
8
2
6
36,88
8.611
18.201
21,14
Jumlah
200
6.17
21.56
13.36
7
5
4
34,92
2
30.385
22,74
200
4.00
14.78
14.46
6
8
7
36,89
8
38.801
26,82
Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009

921

2.459

26,70

13.745

36.835

26,80

13.423

35.947

26,78

19.537

51.949

26,59

18.476

53.588

29,00

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-56

Palawija
Untuk produksi palawija pada tahun 2006 didominasi oleh
komoditas ubi kayu sebesar 5.707 ton kemudian disusul
berturut-turut oleh ubi jalar sebanyak 892 ton dan jagung 81
ton. Semua komoditas palawija setiap tahunnya mengalami
peningkatan produksi hingga pada tahun 2009 produksi ubi
kayu sebesar 6.394 ton, ubi jalar sebesar

1.136 ton dan

produksi jagung menjadi 102 ton. Komoditas yang terbatas


pengusahaannya adalah kedelai dan kacang hijau yang hanya
terdapat di beberapa kecamatan. Kecamatan-kecamatan yang
memiliki luas pertanian tanaman pangan cukup besar adalah
Kecamatan Pulau Hanaut, Cempaga, Parenggean dan Antang
Kalang. Produksi padi dan palawija di Kabupaten Kotawaringin
Timur seperti tertera pada Tabel berikut ini.

Hortikultura
Produksi tanaman sayur yang relatif besar di Kabupaten
Kotawaringin Timur adalah kacang panjang dengan total
produksi 945 ton. Disusul cabe dengan total produksi 828 ton.
Produksi sayur yang relatif banyak lainnya adalah ketimun
dengan jumlah produksi 729

ton. Jika dilihat tingkat

perkembangan produksi selama 4 tahun, semua komoditas


mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Dari berbagai
komoditas sayur-sayuran, cabai, kacang panjang dan ketimun
memiliki persebaran produksi paling banyak yaitu tersebar di
semua

kecamatan.

Kecamatan

produksi

sayur-sayuran

memiliki

Mentawa

Baru

terbesar

di

Ketapang
Kabupaten

Kotawaringin Timur. Produksi sayur-sayuran menurut jenis dan


kecamatan dapat dilihat pada Tabel berikut ini.
Tabel 1.24
Produksi Sayur-Sayuran Menurut Jenis Dan Kecamatan (Ton)
Kecamatan

Kacang
Bawang
Teron
Labu
Kang
Tomat Cabe
Sawi Panjan
Ketimun Bayam
Buncis
daun
g
Siam
kung
g

Mentaya Hilir
Selatan

14

64

62

17

118

86

45

17

Teluk Sampit

35

21

29

38

Pulau Hanaut

46

44

38

15

12

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-57

Mentawa Baru
Ketapang

13

74

124

80

98

136

17

133

59

68

77

Seranau
Mentaya Hilir
Utara

30

38

25

16

10

15

70

33

10

95

89

22

19

15

Kota Besi

12

47

47

81

92

19

Telawang

28

25

42

12

32

27

17

30

Baamang

35

60

34

60

23

15

16

Cempaga

18

57

35

40

11

22

10

Cempaga Hulu

25

40

28

17

10

47

70

75

115

125

24

135

74

93

51

Mentaya Hulu

80

40

71

15

16

27

Bukit Santuai

11

12

18

18

Antang Kalang

83

32

11

49

13

18

10

2009

50

262

828

641

263

945

83

729

284

326

200

2008

47

278

788

630

265

114

109

717

285

313

171

2007

91

137

709

721

90

90

98

860

261

337

172

1.347

205

263

111

Parenggean

Jumla
h

2006
105
312
443
370
233
123
92
Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009

Produk

buah-buahan

Kotawaringin

Timur

yang

menjadi

andalan

Kabupaten

adalah

pisang.

Produksi

pisang

di

Kabupaten Kotawaringin Timur relatif stabil sepanjang tahun


2006 hingga 2009 karena masa panen pisang tidak terlalu
bergantung

pada

musim.

Jumlah

total

produksi

pisang

Kabupaten Kotawaringin Timur tahun 2009 sebesar 819 ton.


Setelah pisang, peringkat beringkutnya dalam jumlah produksi
adalah buah Cempedak yang pada tahun 2009 menghasilkan
612 ton dan Nenas dengan jumlah produksi 556 ton pada
tahun 2009. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan memiliki
produksi buah-buahan terbesar di Kabupaten Kotawaringin
Timur. Produksi buah-buahan menurut jenis dan kecamatan
dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 1.25
Produksi Tanaman Buah - Buahan Menurut Jenis Dan
Kecamatan (Ton)
Sa
wo

Pe
pa
ya

Pi
Ne
sang nas

Sa
lak

Cem
pe
dak

Macam
Jam
bu

Ram
bu
tan

Du
ri
an

Je
ruk

Mentaya Hilir
Selatan

147

35

17

42

67

30

Teluk Sampit

47

10

10

Kecamatan

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

Mang Du
ga
ku

I-58

Pulau Hanaut
Mentawa Baru
Ketapang

83

12

115

25

13

10

76

57

98

57

72

26

41

Seranau
Mentaya Hilir
Utara

25

37

17

96

10

32

21

Kota Besi

13

158

39

34

131

12

Telawang

23

12

21

Baamang

55

117

63

36

20

16

Cempaga

47

72

21

27

37

10

Cempaga Hulu

21

10

76

27

17

21

Parenggean

0
1
6

89

50

115

43

68

68

70

20

Mentaya Hulu

50

21

12

49

11

15

Bukit Santuai

14

12

29

400

253

402

67

62

72

366

254

346

78

49

29

360

384

424

360

78

40
326
Angka 2009

139

219

58

81

Antang Kalang
6
0
39
25
11
10
200
9
7
37 819 556 263
612
200
8
8
1
46 681 486 265
559
Jumlah
200
4
7
9
30 981 255
90
397
200
6
10
6
4
7
719 203 233
325
Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam

C.2 Sektor Perkebunan


Potensi

sub

sektor

tanaman

perkebunan

di

Kabupaten

Kotawaringin Timur meliputi karet, kelapa dalam, kopi, lada dan


kelapa sawit. Untuk tanaman perkebunan rakyat, karet dan
kelapa dalam merupakan komoditas yang memiliki luas terbesar.
Kelapa dalam terkonsentrasi di wilayah pesisir Kabupaten
Kotawaringin Timur dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
mempunyai luas terbesar diikuti Kecamatan Pulau Hanaut. Untuk
perkebunan karet terutama berkembang di wilayah tengah
sampai utara Kabupaten Kotawaringin Timur dengan luas
terbesar di Kecamatan Mentaya Hulu. Untuk perkebunan kelapa
sawit diusahakan oleh perkebunan besar swasta dengan pola inti
atau plasma dengan kelompok tani atau Koperasi Unit Desa
(KUD). Selengkapnya data perkembangan luas perkebunan
rakyat dapat dilihat pada Tabel 1.26.
Tabel 1.26
Luas Areal Tanaman Perkebunan Rakyat
Menurut Jenis Tanaman Dan Kecamatan (Ha) Tahun 2009

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-59

Karet

Kopra

Kopi

Lada

Kelapa
Sawit

Jambu
Mete

1.368

16.890

416

51

Teluk Sampit

498

8.440

73

Pulau Hanaut

2.023

13.307

215

Mentawa Baru
Ketapang

1.245

42

58

23

817

88

54

Mentaya Hilir Utara

2.508

244

64

12

300

Kota Besi

5.466

290

283

133

9.106

Telawang

na

na

na

na

na

Baamang

1.172

58

45

71

Cempaga

4.539

390

254

94

11.761

Cempaga Hulu

4.797

375

145

155

4.799

Parenggean

9.521

494

124

256

23.626

Mentaya Hulu

7.077

530

338

118

181

Bukit Santuai

na

nq

na

na

na

na

6.272

329

126

56

242

50.015

45

Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan

Seranau

Antang Kalang

47.30
41.47
2.19
955
3
7
5
Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009
Jumlah

Produksi yang dominan dari sub sektor tanaman perkebunan


meliputi komoditas karet, kelapa dalam dan kelapa sawit. Produk
karet terbesar pada tahun 2009 ada di Kecamatan Parenggean
dan kelapa dalam ada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Data
produksi komoditas perkebunan dapat dilihat pada tabel 1.27.
Tabel 1.27
Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat
Menurut Jenis Tanaman Dan Kecamatan (Ton) Tahun 2009
Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa Baru Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu

Karet

Kopra

Kopi

Lada

800,00
190,00
1.388,00
1.169,00
427,00
1.515,00
3.437,00
na
998,80
2.548,40
2.554,00
6.116,00
5.007,00

18.463,20
10.543,40
13.092,50
15,60
57,20
315,00
202,80
na
28,60
256,00
256,80
418,80
315,90

235,20
28,90
72,15
23,80
33,00
14,40
173,40
na
15,30
101,20
41,50
34,45
144,80

11,40
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
31,60
na
7,00
38,40
19,80
99,90
24,75

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-60

Kecamatan
Bukit Santuai
Antang Kalang
Jumlah

Karet

Kopra

Kopi

Lada

na
4.524,00

na
184,60

na
63,20

na
22,05

30.674,20

44.150,40

981,30

254,90

Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009

C.3 Sektor Kehutanan


Produksi kayu di Kabupaten Kotawaringin Timur tahun dari tahun
2006 semakin meningkat hingga puncaknya tada tahun 2008
sebanyak 328.059 m3 kemudian tahun 2009 menurun menjadi
181.180 m3.
Puncak produksi kayu olahan berupa Plywood dan moulding
douwel terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 8.429,18 m3 dan
terus menurun produksinya hingga tahun 2009 dicapai angka
produksi sebesar 3.331,16 m3. Sedangkan Rotan sebagai hasil
hutan jumlahnya semakin menurun dari 14.159 m3 pada tahun
2006 menjadi 5.964 m3 pada tahun 2009.

Tabel 1.28
Produksi Kayu Bulat (Log), Kayu Gergajian,Dan Kayu Olahan
(M)
Rincian Detil

2006

2007

2008

2009

31,978.2
3
-

194,292.
83
1,382.81

328,058.
97
603.70

181,180.
15
-

16,933.7
5

33,678.8
6

55,946.0
8

681.36

11,941.3
6
Kayu Gergajian
47,376.3
54,089.8
4
2
Kayu Olahan *)
8,429.18
5,990.14
*) Kayu olahan terdiri dari Plywood dan Moulding Dowel

2,313.28

5,526.99

29,181.5
6
5,385.71

22,555.7
8
3,331.16

Kayu Log
- Produksi RKT HPH
- Kayu Bulat Kecil
(limbah pembalakan)
- Produksi IPK
(Land Clearing & HTI Trans)
- Produksi Trace Jalan

1,445.42

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-61

Seiring dengan penurunan jumlah produksi hasil hutan berupa


rotan sejak tahun 2006 hingga 2009, ekspor untuk produk rotan
ini juga mengalami penurunan. Ekspor rotan yang tercatat pada
KPPBC Sampit pada tahun 2006 sebesar 2.567.862,00 Kg
dengan nilai sebesar 2.282.513,46 $ US menurun menjadi
197.917,00 Kg dengan nilai 162.291,94 $ US pada tahun 2009
Tabel 1.29
Netto Dan Nilai Ekspor Rotan Yang Dilayani
Di KPPBC Sampit (2006 2009)
Bulan

Netto

Nilai

Negara Tujuan

Januari
Februari
Maret
68.823
56.434,86
China
April
Mei
70.972
58.197,04
China
Juni
Juli
Agustus
September
58.122
47.660,04
China
Oktober
November
Desember
Jumlah
200
197.917
162.291,94
9
200
470.922
378.041,61
8
200
492.437
394.321,31
7
200
2.282.513,
2.567.862
6
46
Sumber: Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Sampit,

C.4 Sektor Peternakan


Komoditas

peternakan

jenis

non-unggas

yang

diusahakan

meliputi sapi potong, kambing/domba dan babi. Komoditas


peternakan ini dikembangkan terutamanya di bagian tengah
sampai utara Kabupaten Kotawaringin Timur di mana babi
merupakan populasi terbanyak yang diusahakan mengalami
peningkatan dari tahun 2006-2009. Ternak babi paling banyak
dibudidayakan di Kecamatan Antang Kalang. Populasi ternak sapi
potong juga mengalami peningkatan jumlah selama 4 tahun dari

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-62

tahun 2006 hingga tahun 2009. Sedangkan populasi ternak yang


mengalami penurunan jumlahnya adalah ternak kambing dan
domba. Populasi kambing pada tahun 2007 sejumlah 4.211 ekor
menurun menjadi 3.905 pada tahun 2008 dan sedikit meningkat
pada tahun 2009 sejumlah 4.020 ekor. Penurunan jumlah
populasi yang cukup tajam adalah ternak domba yang pada
tahun 2006 sejumlah 755 ekor menjadi 373 ekor pada tahun
2009.
Tabel 1.30
Populasi Jenis Ternak Menurut Kecamatan (Ekor)
Di Kabupaten Kotawaringin Timur 2006-2009
Kecamatan
Mentaya Hilir
Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa baru
Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang

Sapi Potong

Kerbau

257

Kambing Domba

321

Babi

14

234
171

27
0

148
120

0
0

296
0

339

45

522

112

1.318

114
370
114
0
313
113
113
257
257
0
1714

0
10
0
0
0
0
0
0
0
0
0

159
361
241
0
482
160
422
422
402
0
520

16
37
0
0
113
0
0
22
0
0
59

2009

2.851

91

4.020

373

2008

2.774

80

3.905

304

2007

2.695

80

4.211

460

2006

2.497

74

2.863

755

732
0
1.173
200
1.171
1.464
1.465
1.758
2.197
239
2.636
14.64
9
13.95
0
12.57
6
11.33
9

Jumlah

Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009

Untuk populasi unggas meliputi ayam (ras petelur, buras dan


pedaging) dan itik/entok. Populasi yang terbesar adalah ayam
pedaging/broiler

dengan

konsentrasi

peternakan

ada

di

Kecamatan Parenggean diikuti Kecamatan Mentaya Hulu dan


Kecamatan Baamang. Dilihat dari jumlah populasi unggas ini,
kecuali ayam pedaging/broiler, hampir semuanya mengalami
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-63

peningkatan jumlah populasi selama tahun 2006-2009 seperti


terlihat pada tabe seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1.31
Populasi Unggas (Ekor)
Di Kabupaten Kotawaringin Timur 2006-2009
Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa baru Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
2009
2008
Jumlah
2007
2006

Ayam Ras
Petelur
0
0
0
1.315
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Ayam
Buras
89.870
49.460
69.242
59.350
59.351
79.134
49.459
0
98.918
39.458
49.458
138.485
108.809
239
98.920
990.023
834.500
823.335
618.699

Ayam
Pedaging
80.870
24.063
24.261
202.175
32.348
32.348
40.435
0
196.001
24.260
24.360
64.696
48.522
0
24.621
808.600
703.717
611.450
521.705

Itik
2.461
1.539
2.154
2.770
1.847
2.769
1.846
0
2.155
1.538
1.537
3.385
3.076
3.692
30.769
18.109
15.155
10.554

Sumber: BPS, Kab. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2009

C.5 Sektor Perikanan dan Kelautan


Potensi

perikanan

di

Kabupaten

Kotawaringin

Timur

baik

perikanan budidaya maupun perikanan tangkap sebenarnya


cukup

besar.

Perikanan

laut

dihasilkan

oleh

kecamatan-

kecamatan yang mempunyai pantai yaitu kecamatan Mentaya


Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Selain perikanan
laut,

Kabupaten

Kotawaringin

Timur

juga

menghasilkan

perikanan darat baik yang berasal dari perairan sungai danau


dan rawa maupun yang berasal dari kolam-kolam budidaya.
Untuk jenis perairan darat baik sungai, danau dan rawa, produksi
terbesar disumbang oleh kecamatan Mentaya Hulu dengan
jumlah produksi pada tahun 2009 untuk sungai sebanyak 195,6
ton, danau sebanyak 127,4 ton dan rawa sebanyak 102,7 ton.
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-64

Tabel 1.32
Produksi Perikanan Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Ton Basah)

Kecamatan

Perikanan
Laut

Perikanan Darat
Perairan
Jumlah
Budidaya
Umum
Total
120.30
4.50
124.80

Mentaya Hilir Selatan

1,806.00

Teluk Sampit

2,719.30

112.70

14.50

127.20

Pulau Hanaut
Mentawa Baru
Ketapang
Seranau

2,125.60

125.70

3.50

129.20

83.50

32.00

115.50

84.40

0.00

84.40

Mentaya Hilir Utara

344.30

4.70

349.00

Kota Besi

521.90

32.00

553.90

Telawang

0.00

0.00

0.00

Baamang

95.30

9.60

104.90

Cempaga

259.20

0.00

259.20

Cempaga Hulu

119.00

0.00

119.00

Parenggean

251.20

0.00

251.20

Mentaya Hulu

425.70

0.00

425.70

Bukit Santuai

0.00

0.00

0.00

Antang Kalang

25.60

0.00

6,650.90

2,568.80

100.80

8,678.50

2,604.00

101.00

8,425.70

2,460.80

95.30

8,157.80

2,460.80

96.60

7,405.10

3,139.20

71.30

25.60
2,669.6
0
2,705.0
0
2,556.1
0
2,557.4
0
3,210.5
0

2009
2008
Jumlah

2007
2006
2005

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kotim.


Kotawaringin Dalam Angka 2009

Tabel 1.33
Produksi Perikanan Umum (Darat) Menurut Kecamatan Dan
Jenis Perairan (Ton)
Kecamatan

Jenis Perairan

Jumlah

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-65

Sungai
Mentaya Hilir Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa Baru
Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
2009
2008
2007
Jumlah
2006
2005

Danau

71,00

Rawa

0,00

Total

49,30

75,70
100,30
83,50

0,00
0,00
0,00

37,00
25,40
0,00

84,40
187,80
255,60
0,00
95,30
136,60
70,70
156,60
195,60
0,00
25,60
1.538,70
1.550,40
1.507,40
11.501,40
1.169,20

0,00
0,00
141,00
0,00
0,00
20,20
0,00
94,60
127,40
0,00
0,00
383,20
385,60
387,80
381,80
777,90

0,00
156,60
125,30
0,00
0,00
102,40
48,30
0,00
102,70
0,00
0,00
647,00
668,00
584,80
577,60
1.192,10

120,3
0
112,70
125,70
83,50
84,40
344,40
521,90
0,00
95,30
259,20
119,00
251,20
425,70
0,00
25,60
2.568,90
5.017,50
9.922,30
19.718,90
39.354,30

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kotim.


Kotawaringin Dalam Angka 2009

C.6 Sektor Industri


Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur tidak
dapat dipisahkan dari peranan Sektor Industri Pengolahan. Pada
saat ini, industri pengolahan yang berkembang adalah industri
pengolahan CPO, karet, dan rotan. Industri pengolahan CPO
tersebar di lokasi-lokasi perkebunan kelapa sawit.
C.7 Sektor Pertambangan
Sektor ini mencakup Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi, Sub
Sektor pertambangan Non Migas dan Sub Sektor Penggalian. Di
Kabupaten Kotawaringin Timur hanya terdapat Sub Sektor
Pertambangan Non Migas dan Sub Sektor Penggalian namun
tidak terdapat Sub Sektor Pertambangan Migas.
Kontribusi

Sektor

perekonomian

Pertambangan

Kabupaten

dan

Kotawaringin

Penggalian
Timur

terhadap

tahun

2009

kembali menurun setelah tahun sebelumnya sempat meningkat.


Pada tahun 2008 sektor ini memiliki laju pertumbuhan tertinggi
namun pada tahun 2009 Sektor Pertambangan dan Penggalian
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-66

mengalami pertumbuhannya negatif sebesar -2,54 persen.


Pertumbuhan negatif ini dikarenakan pertumbuhan negatif yang
cukup besar pada Sub Sektor Pertambangan Non Migas. Hal ini
dipengaruhi turunnya produksi bahan tambang sebagai dampak
dari krisis global yang menyebabkan turunnya permintaan
terhadap

bahan

diperketatnya

tambang

terutama

kepemilikan

bijih

Analisis

besi.

Selain

Mengenai

itu

Dampak

Lingkungan (AMDAL) bagi penambang menyebabkan tidak


semua orang bebas menambang di suatu lahan. Sehingga hanya
perusahaan-perusahaan

yang

memiliki

AMDAL

saja

yang

diijinkan melakukan kegiatan pertambangan.


Produksi tambang yang dihasilkan Kabupaten Kotawaringin
Timur adalah bijih besi, emas dan zircon. Ketiga komoditi selama
tahun 2007 sampai 2008 mengalami penurunan kecuali bijih
besi yang justru meningkat hingga dua kali lipat, pada tahun
2007 komoditi bijih besi sebesar 1.375.698 ton sedang pada
tahun

2008

meningkat

menjadi

2.640.881

ton.

Mengenai

produksi komoditi pertambangan, potensi bahan galian tambang


serta potensi sumberdaya mineral dapat dilihat pada Tabel 1.34
sampai Tabel 1.35.
Tabel 1.34
Produksi Komoditi Tambang Tahun 2007 - 2008
Komoditi
Bijih besi (ton)

Produksi Tambang
Tahun
Tahun
2007
2008
1.375.698

2.640.881

Emas rakyat (kg)

31.907.000

13.718.000

Zirkon

28.924.871

24.514.000

Sumber : Dinas Pertambangan

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-67

Tabel 1.35
Potensi Bahan Galian Tambang dan Jenisnya
Kecamatan

Potensi Bahan Galian

Mentaya hilir
selatan
Pulau hanaut
Mentaya hilir utara
Mtw baru/ketapang
Beamang
Kota besi
Cempaga
Parenggean
Mentaya hulu
Antang kalang

Pasir urug
Zircon
Pasir urug
Pasir urug
Pasir urug
Emas, zircon, pasir kuarsa,
gambut, batu granit, biji besi
Pasir urug, biji besi, kaolin
Emas, zircon, batu bara
Emas, zircon, batu bara, pasir
kuarsa, timah hitam
Emas, zircon, batu bara, biji
besi

Jenis Bahan
Galian
Golongan C
Golongan
Golongan
Golongan
Golongan
Golongan

B
C
C
C
B

Golongan C dan
B
Golongan B
Golongan B
Golongan B

Sumber : Distamben Kab. Kotawaringin Timur

Berdasarkan

Tabel

1.30

dapat

diketahui

bahwa

wilayah

Kabupaten Kotawaringin Timur yang memiliki potensi bahan


galian tambang dengan jenis yang beragam yakni bahan galian
B (zircon, emas, pasir kuarsa, batu granit, bijih besi, batu bara,
timah hitam) dan bahan galian C (pasir urug, ).
Bahan galian tambang ini tersebar di beberapa kecamatan,
antara lain: pasir urug di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan,
Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru/Ketapang, Baamang; zircon
terdapat di Kecamatan Pulau Hanaut, Kota Besi, Parenggean,
Mentaya Hulu, dan Antang Kalang; emas di Kecamatan Kota
Besi, Parenggean, Mentaya Hulu dan Antang Kalang; Pasir Kuarsa
di Kecamatan Kota Besi dan Mentaya Hulu; batubara terletak di
Kecamatan Parenggean, Mentaya Hulu dan Antang Kalang;
sedangkan potensi bahan galian bijih besi terdapat di Kecamatan
Kota Besi, Cempaga dan Antang Kalang.
Namun data hasil produksi yang didapat hanyalah data produksi
pertambangan bijih besi, emas dan sirkon. Dari data tersebut
dipaparkan

bahwa

produksi

komoditi

tambang

Kabupaten

Kotawaringin Timur pada tahun 2007 2008 menunjukkan


jumlah produksi emas dan zircon mengalami penurunan. Emas

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-68

turun

menjadi

24.514.000.

13.718.000

kg,

dan

zircon

turun

menjadi

Sedangkan produksi bijih besi hasil produksinya

justru meningkat hingga 100%.


C.8 Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata di Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri dari
atas :
1.

Pariwisata budaya, yaitu : Rumah Adat


Betang Tumbang Gagu di Kecamatan Antang Kalang dan
Festival upacara Tewah di Kecamatan Kota Besi.

2.

Pariwisata buatan, yaitu

: Taman Kota

Sampit, Museum Kayu Sampit, dan Komplek bekas pabrik


NV Bruynzeel di Sampit.
3.

Pariwisata alam, yaitu : Pantai Ujung


Pandaran, Danau Burung, dan ekowisata hutan mangrove
(perlindungan Bekantan) di Kecamatan Teluk Sampit, serta
wisata susur Sungai Mentaya.

1.3.5 Ketersedian Fasilitas Sosial dan Umum


A.

Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur pada tahun
2009 berjumlah 546 dimulai dari tingkat Taman Kanak-kanak
(TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) dan pesantren. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.36.

Tabel 1.36
Sebaran Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur
2009
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentaya Hilir Utara
Mentawa Baru
Ketapang
Baamang
Seranau
Kota besi
Cempaga
Cempaga Hulu

TK

SD

SDL
B

SLT
P

SLT
A

SM
K

P
T

Pesantre
n

8
0
8
30
4

22
7
19
41
12

0
0
0
0
0

2
3
4
11
4

1
0
0
6
1

1
0
2
4
1

0
0
0
0
1

1
0
0
0
1

3
7
0
12
5

11
24
15
21
20

1
0
0
0
0

3
8
6
4
4

1
1
0
2
1

0
0
0
2
0

3
0
0
0
0

1
0
0
0
0

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-69

N
o
11
12
13

Kecamatan
Parengeaan
Mentaya Hulu
Antang Kalang
Jumlah

TK

SD

3
17
5
10
3

22
35
29
32
8

SDL
B

SLT
P

SLT
A

SM
K

P
T

Pesantre
n

0
0
0
1

3
8
9
77

1
1
2
19

0
1
0
11

0
0
0
4

0
0
0
3

Sumber: Badan Pusat Statistik Kotawaringin Timur, 2009

B.

Fasilitas Peribadatan
Fasilitas

peribadatan

didominasi

oleh

di

Kabupaten

fasilitas

peribadatan

Kotawaringin
umat

islam,

Timur
karena

mayoritas penduduk Kabupaten Kotawaringin Timur adalah


beragama islam. Persebaran tempat ibadah menurut kecamatan
di Kabupaten Kotawaringin Timur dapat dilihat pada tabel 1.37.
Tabel 1.37
Banyaknya Tempat Ibadah Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Kotawaringin Timur
Kecamatan

Masjid

Langgar/
Mushola

Mentaya
Hilir
33
Selayan
Teluk Sampit
9
Pulau Hanaut
20
Mentawa Baru
44
Ketapang
Seranau
10
Mentaya
Hilir
14
Utara
Kota Besi
24
Telawang
Baamang
32
Cempaga
18
Cempaga Hulu
9
Parenggean
34
Mentaya Hulu
22
Bukit Santuai
Antang Kalang
8
Jumlah 2009
277
2008
286
Sumber : Kotawaringin

Rumah
Gereja
Gereja
Kebaktia
Katholik Protestan
n

Vihar
a

Pura

52
4
33
94
5
18
13
10
14
4
53
30
18
348
385
31
84
Timur dalam Angka, 2009

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-70

1
42

C.

Fasilitas Kesehatan
Keberadaan fasilitas kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur
terdiri dari 1 (satu) unit Rumah Sakit Umum (RSU), 20 unit
Puskesmas, 113 Puskesmas pembantu, 255 Posyandu, 80
poliklinik desa (polindes), desa siaga 106 buah yang tersebar di
13 kecamatan. Sebaran fasilitas kesehatan dapat dilhat pada
Tabel 1.38.

Tabel 1.38
Sebaran Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun
2009

Kecamatan
Mentaya Hilir
Selayan
Teluk Sampit
Pulau hanaut
Mentawa Baru/
Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir
Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
Jumlah

Puskesm
Desa
as
Polinde Poskesd Posyand
Siag
Pembant
s
es
u
a
u

RSU

Puskesm
as

0
0
0

1
1
1

7
3
9

5
3
4

5
1
1

12
6
22

10
4
7

1
0

3
1

7
5

3
6

2
1

29
7

7
6

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
20

6
8
6
6
7
7
16
6
4
16
113

6
8
4
2
9
4
8
6
4
8
80

6
0
0
2
1
1
2
2
0
5
29

13
15
0
15
15
22
38
22
0
39
255

7
14
0
4
8
8
12
8
0
11
106

Sumber: Badan Pusat Statistik Kotawaringin Timur, 2009

D.

Fasilitas Pemerintahan serta Pertahanan dan Keamanan


Kegiatan pemerintahan skala regional di Kabupaten Kotawaringin
Timur dipusatkan di Kota Sampit. Perkantoran pemerintah
daerah dan instansi vertikal terdapat di sepanjang ruas jalan
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-71

utama. Sedangkan kegiatan pemerintahan skala lokal tersebar di


setiap ibukota kecamatan dan ibukota desa di wilayah.
Kegiatan pertahanan dan keamanan skala regional, khususnya
pertahanan dan keamanan darat

di Kabupaten Kotawaringin

Timur dipusatkan di Kota Sampit. Kegiatan pertahanan dan


keamanan wilayah perairan dan laut dipusatkan di Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan.
Fasilitas

pertahanan

dan

keamanan

darat

di

Kabupaten

Kotawaringin Timur antara lain :


- Markas Kodim 1015 Sampit
- Polres Kotawaringin Timur
- Yonif Antang
- Markas Brimob di ruas Jalan Jenderal Sudirman km 18
- Lapangan tembak di ruas Jalan Jenderal Sudirman km 18
- Polsek dan Koramil yang tersebar di hampir seluruh kecamatan
E.

Fasilitas Perdagangan dan Jasa


Fasilitas perdagangan dan jasa skala regional di Kabupaten
Kotawaringin Timur terpusat di Kota Sampit. Sektor Perbankan
mulai berkembang di Kabupaten Kotawaringin Timur. Di Kota
Sampit terdapat kantor Bank Indonesia, namun pada saat ini
berhenti

beroperasi.

Bank

BRI,

Bank

BNI,

dan

Bank

Pembangunan Kalteng bahkan telah memiliki kantor cabang


pembantu di kecamatan.

Tabel 1.39
Infratruktur Jasa Keuangan dan Perhotelan Kab. Kotawaringin
Timur
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Lembaga Keuangan Bukan Bank


Perum Pegadaian
Asuransi Bumi Putera
Asuransi Jiwa Raharja
Asuransi Jasindo
Asuransi Bumi Asih
Asuransi ACA
Asuransi Simas Mobil
Asuransi Prudential
C.U.Eka Pambelum Itah

Perbankan
Bank
Bank
Bank
Bank
Bank
Bank
Bank
Bank
Bank

Mandiri
Negara Indonesia
Pembangunan Kalteng
Rakyat Indonesia
Danamon
Internasional Indonesia
Central Asia
Mega
Muamalat

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-72

No.
10
11

Lembaga Keuangan Bukan Bank


Kantor-kantor pembiayaan lainnya

Perbankan
Bank BTN
Bank Mandiri Syariah

Sumber : Profil Potensi Investasi dan Dunia Usaha Kotim Tahun 2008 dan hasil
olahan 2011

Persebaran bank yang beroperasi di Kabupaten Kotawaringin


Timur dapat dilihat pada tabel 1.40.

Tabel 1.40
Jumlah Bank yang Beroperasi di Kabupaten Kotawaringin
Timur
Nama Bank

Bank Pemerintah
& Swasta
KC
1

PT. BRI

KU

KCP

Bank
Pembangunan
Daerah
KC
KU
KCP

Sampit
Sampit
Samuda
Kuala Kuayan
Parenggean
Sampit
Samuda
Sampit
Sampit
Sampit
Samuda
Sampit
Sampit

2
1
1
1
PT. BNI 46

PT. Mandiri
BPD
Bank Danamon

1
1
1

BII
1
Bank Mega
1
Jumlah
6
5
3
1
Sumber : Kotawaringin Timur dalam Angka, 2009

Lokasi

Fasilitas hotel dan penginapan di Kabupaten Kotawaringin Timur


dapat dilihat pada tabel 1.41.
Tabel 1.41
Sebaran Hotel dan Penginapan
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-73

Di Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2009


Kecamatan
Mentaya Hilir
Selayan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut
Mentawa Baru
Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir
Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
Jumlah

Penginapan & Hotel (buah)


Hotel&Penginap Kama Tempat
an
r
Tidur
1
1.
2
18
0
0
0
0
0
0
29.
0

652
0

886
0

0
2.
0
8.
0
2.
3.
2.
0
1.
51

0
16
0
173
0
11
22
17
0
33
921

0
24
0
252
0
14
26
26
0
48
1.282

Sumber: Badan Pusat Statistik Kotawaringin Timur, 2009

F.

Fasilitas Olahraga dan Rekreasi


Fasilitas olah raga dan rekreasi yang terdapat di Kabupaten
Kotawaringin Timur dapat dilihat pada tabel 1.42.
Tabel 1.42
Banyaknya Fasilitas Olah Raga di Kabupaten Kotawaringin
Timur
Fasilitas

Jumlah

Gedung Serba Guna

Lapangan Voli

73

Lapangan Basket

13

Lapangan Sepak Bola

38

Lapangan Bulu Tangkis

57

Taman Bermain

Tenis Meja

112

Sanggar Senam

Sumber : Kotawaringin Timur dalam Angka, 2009

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-74

Selain itu, di Kabupaten

Kotawaringin Timur terdapat 1 buah

stadion olah raga yag sekaligus dipergunakan untuk acara-acara


tertentu, 1 buah GOR, dan Sport Center yang sedang dalam
tahap pengembangan.
1.3.6 Kondisi Permukiman
Kondisi permukiman yang salah satunya bisa dilihat dari kondisi
bangunan perumahan yang terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur
dapat dilihat pada tabel 1.43.
Tabel 1.43
Jumlah Bangunan Permanen, Semi Permanen, dan Tidak
Permanen Menurut Kecamatan di Kabupaten Kotawaringin
Timur
Kecamatan

Permanen

Semi
Permanen

Tidak Permanen

Mentaya Hilir
Selayan

2.141

1.232

1.707

Teluk Sampit

203

943

952

Pulau Hanaut

41

2.179

1.208

Mentawa Baru
Ketapang

13.527

3.912

604

700

1.667

487

1.230

824

760

Kota Besi

441

2.669

392

Telawang

42

2.275

102

Baamang

2.944

3.674

1.819

Cempaga

1.497

1.377

1.365

Cempaga Hulu

831

1.797

931

Parenggean

493

3.253

4.329

Mentaya Hulu

993

2.530

498

Bukit Santuai

157

1.104

203

Antang Kalang

178

4.238

1.028

Seranau
Mentaya Hilir Utara

Jumlah
25.418
33.674
Sumber : Kotawaringin Timur dalam Angka, 2009

16.385

1.3.7 Kondisi Utilitas dan Prasarana Wilayah


A.

Air Bersih
Air bersih merupakan salah satu dari kebutuhan pokok manusia,
air bersih dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga,
social dan kebutuhan industry. Untuk memenuhi kebutuhan air
bersih di Kabupaten Kotawaringin Timur sumber yang digunakan
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-75

berasal dari PDAM, untuk melihat jumlah pelanggan dan jumlah


air yang disalurkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.44
Disitribusi Air Bersih Kabupaten Kotawaringin Timur
Tahun 2008
Pelangga
n
17.861

Disalurkan
(m3)
6.247.429

58

306.350

Kantor Pemerintahan

728

263.425

Badan Sosial dan lain-lain

424

319.206

19.071

7.136.410

Kategori Pelanggan
Rumah Tangga
Perusahaan/Niaga/Hotel/Rest
oran

Jumlah
Sumber: Data dan Analisa, Tahun 2009

Pada tahun 2009 telah didistribusikan sebanyak 5.987.364 m3


air bersih di kabupaten Kotawaringin Timur, di mana 3.131.707
m3 melalui sambungan induk sebesar rata-rata 61.868 m3 per
hari. Dari total distribusi yang disalurkan 3.309.444 m3, yang
disalurkan ke pelanggan rumah tangga sebesar 18.965, ke
pelanggan perusahaan/hotel/restoran sebanyak 613 pelanggan
sebesar 232.726 m3, sejumlah 222.265 m3 disalurkan ke 352
pelanggan kantor pemerintahan dan 155.362 m3 disalurkan ke
362 pelanggan badan sosial, sehingga secara keseluruhan
disalurkan dengan jumlah 20.292 pelanggan.
Cakupan pelayanan PDAM pada tahun 2009 hanya mampu
melayani atau memenuhi kebutuhan akan 66.912 jiwa atau baru
18,7% dari penduduk dengan jumlah sambungan sebanyak
10.492 sambungan. Cangkupan pelayanan terbanyak berada di
kota

Sampit

sambungan.

dengan
Untuk

jumlah
lebih

pelanggan

jelasnya

sebanyak

mengenai

7.006

cangkupan

pelayanan PDAM Kabupaten Kotawaringin Timur lihat Tabel 1.45.


Tabel 1.45
Cakupan Pelayanan PDAM Kabupaten Kotawaringin Timur
Tahun 2009
No
1

Unit kerja
Sampit

Penduduk
(jiwa)
83.267

Cangkupan Pelayanan
(jiwa)
%
45.036
54,0

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-76

No
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0

Unit kerja
Pelangsian
Kota besi
Cempaka Mulia
Pundu
Parengeaan
Kuala Kuayan
Samuda
Mentaya Sebrang

Penduduk
(jiwa)
17.413
6.605
3.541
3.307
5.045
5.042
18.450
4.073

Bagendang
Jumlah

Cangkupan Pelayanan
(jiwa)
%
1.104
6,3
2.052
31,0
1.272
36,0
984
19,7
1.500
19,7
2.724
54,0
1.998
10,8
1.614
39,6

2.791

414

14,8

184.563

66.912

28,7

Sumber: Corporate Plan 2001-2009, PDAM Kabupaten Kotawaringin Timur, 2007

Selain jaringan PDAM, di Kabupaten Kotawaringin Timur juga


terdapat fasilitas air bersih lainnya yang terdapat di beberapa
kecamatan.
Tabel 1.46
Fasilitas Air Bersih UPTD Pengelola Air Bersih Pemerintah
Kabupaten Kotawaringin Timur
LOKASI

VOLUME

SATUAN

TAHUN

JENIS
BANGUNAN

KEC. MB. KETAPANG


1.

Sumur Bor Artesis Desa Bapeang

Unit

2005

2.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bapanggang

Unit

2006

Beton

Unit

2007

Beton

Unit

2007

Beton

KECAMATAN BAAMANG
Sumur Bor Pompa Dangkal Taman Miniatur
1.
Budaya
2.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Tanah Mas

KECAMATAN SERANAU
1.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Terantang

Unit

2009

Beton

2.

Sumur Bor Pompa Dangkal UPT Seragam Jaya

Unit

2010

Beton

Unit

2006

Beton

KECAMATAN KOTA BESI


Sumur Bor Pompa Dangkal Komp. W.A.
1.
Pratama
2.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Kandan

Unit

2006

Beton

3.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Camba

Unit

2009

Beton

4.

Profil Tank 1100 Liter di Desa Tinduk (PAH)

Unit

2009

Beton

KECAMATAN TELAWANG
1.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Sei Babi

Unit

2005

Beton

2.

Unit

2005

Beton

Unit

2006

Beton

4.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Ranting Tada


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Simpang Sei
Babi
Sumur Bor Pompa Dangkal Jl. Jendral
Sudirman Km. 35

Unit

2006

Beton

5.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Tanah Putih

Unit

2008

Beton

3.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-77

LOKASI

VOLUME

SATUAN

TAHUN

JENIS
BANGUNAN

6.

Sumur Bor Pompa Dangkal Jl. Jendral


Sudirman Km. 40

Unit

2008

Beton

7.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Biru Maju

Unit

2009

Beton

8.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Sei Babi

Unit

2009

Beton

9.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Biru Maju


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bukit
Makmur

Unit

2010

Beton

Unit

2010

Beton

10.

KECAMATAN CEMPAGA
1.

Sumur Bor Artesis Desa Luwuk Ranggan

Unit

2005

Kayu Ulin

2.

Sumur Bor Artesis Desa Patai

Unit

2006

Kayu Ulin

3.

Sumur Bor Artesis Desa Sei Paring

Unit

2006

Kayu Ulin

4.

Sumur Bor Artesis Desa Jemaras

Unit

2006

Kayu Ulin

5.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Sei Paring


Jaringan Pipa Induk Distribusi Pipa PVC Dia 6
"
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa
Sei Paring

Unit

2007

Beton

4000

2010

Unit

2011

Jaringan Pipa

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Plantaran


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Pantai
Harapan

Unit

2005

Beton

Unit

2005

Beton

Unit

2006

Beton

4.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Pundu


Sumur Bor Pompa Dangkal Dusun Trobos
Desa Bukit Raya

Unit

2008

Beton

5.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bukit Batu

Unit

2008

Beton

6.

Sumur Bor Artesis Desa Bukit Raya

Unit

2008

Kayu

7.

Penangkap Mata Air


Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa
Pelantaran

Unit

2009

Kayu

Unit

2009

Jaringan Pipa

6.
7.

KECAMATAN CEMPAGA HULU


1.
2.
3.

8.

KECAMATAN PARENGGEAN
1.

Sumur Bor Artesis Desa Karang Sari

Unit

2005

2.

Sumur Bor Artesis Desa Mekar Jaya

Unit

2005

3.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Kabuau

Unit

2005

4.

Sumur Bor Artesis Desa Karang Tunggal

Unit

2006

5.

Sumur Bor Artesis Desa Harapan Sari

Unit

2006

6.

Sumur Gali Desa Karang Tunggal


Sumur Bor Pompa Dangkal RT. 18 Jl. Sumber
Parenggean

Unit

2009

Unit

2009

Beton

Unit

2009

Beton

Unit

2010

Kayu

Unit

2008

Jaringan Pipa

Unit

2008

Jaringan Pipa

Unit

2005

Beton

Unit

2005

Beton

7.

KECAMATAN ANTANG KALANG


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Beringin
1.
Agung
Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Tumbang
2.
Boloi
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa
3.
Tumbang Kalang
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Desa
4.
Tumbang Sangai
KECAMATAN MENTAYA HILIR UTARA
Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bagendang
1.
Permai
Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Pondok
2.
Damar

Beton

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-78

VOLUME

SATUAN

TAHUN

JENIS
BANGUNAN

Unit

2006

Beton

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Ramban


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Suluh
Bakung

Unit

2006

Beton

Unit

2008

Beton

Unit

2008

Beton

7.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Natai Baru


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bagendang
Hulu

Unit

2009

Beton

8.

Terminal Air Profil Tank 2.200 Ltr 2 Bh

Bh

2009

Beton

10

Bh

2008

Kayu

10

Bh

2009

Kayu

Unit

2010

Beton

Unit

2008

Beton

Unit

2008

Beton

10

Bh

2009

Kayu

20

Bh

2010

Kayu

Bh

2008

Beton

10

Bh

2008

Kayu

10

Bh

2009

Kayu

Bh

2009

Unit

2010

Beton

LOKASI
3.
4.
5.
6.

Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Bagendang


Hilir

KECAMATAN MENTAYA HILIR SELATAN


Profil Tank 1100 Liter TERSEBAR DI
1.
Kecamatan MH. Selatan
2.

Profil Tank 1100 Liter di Desa Jaya Karet (PAH)

3.

Terminal Air Profil Tank 2.200 Ltr 2 Bh

KECAMATAN PULAU HANAUT


Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Babaluh
1.
Kecil
Sumur Bor Pompa Dangkal Desa Babaluh
2.
Besar
3.
4.

Profil Tank 1100 Liter di Desa Satiruk (PAH)


Profil Tank 1100 Liter di Desa Bapinang Hilir
(PAH)

KECAMATAN PULAU HANAUT


1.

4.

Terminal Air Bersih 8.000 Ltr di Desa Parebok


Profil Tank 1100 Liter di Lampuyang Kecil
(PAH)
Profil Tank 1100 Liter di Desa Besawang
(PAH)
Kolam Pengendap Air Bumi Perkemahan
Ujung Pandaran

5.

Terminal Air Profil Tank 2.200 Ltr 2 Bh

2.
3.

B.

Listrik
Menurut data penjualan

tenaga listrik

pada tahun

2009,

diketahui bahwa hampir seluruh kecamatan di Kabupaten


Kotawaringin Timur telah menjadi pelanggan listrik.
Pelayanan

listrik

mengandalkan

di

Kabupaten

tenaga

diesel.

Kotawaringin
Pada

tahun

Timur
2009

masih
jumlah

pelanggan listrik adalah 41.579. Nilai penjualan tenaga listrik di


Kabupaten Kotawaringin Timur dapat dilihat pada tabel 1.47.
Tabel 1.47
Nilai Penjualan Tenaga Listrik Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Kotawaringin Timur
Kecamatan

Jumlah
Pelanggan

Daya
Tersambung

Kwh Terjual

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-79

Mentaya Hilir Selatan/Teluk


Sampit/Mentaya Hilir Utara
Pulau Hanaut

4.999

3.746.625

1.195

Mentawa Baru Ketapang

7.067.389

821.550

1.200.51
9

14.957

18.629.184

40.715.093

Baamang / Seranau

9.972

12.419.456

27.143.395

Kota Besi

2.625

1.789.150

2.989.804

Cempaga / Cempaga Hulu

2.333

1.674.350

3.072.416

Parenggean

2.470

2.098.650

4.552.290

Mentaya Hulu

1.567

1.137.600

1.424.187

Antang Kalang

1.461

1.272.750

1.532.284

41.579

43.589.315

89.697.377

Jumlah

Sumber : Kotawaringin Timur dalam Angka, 2009

C.

Telepon
Telepon sebagai sarana komunikasi modern menjadi kebutuhan
utama masyarakat, tersedianya sambungan telepon dapat
menjamin kelancaran komunikasi antara seseorang dari daerah
satu ke daerah yang lain.
Telekomunikasi di Kabupaten Kotawaringin Timur telah dilakukan
dengan jaringan telepon PTSN maupun telepon seluler, yang
dapat

tersambung

dengan

jaringan

internet.

Kabupaten

Kotawaringin Timur mempunyai 2.618 sambungan telepon yang


tersebar

di

Kabupaten

Kotawaringin

Timur.

Fasilitas

telekomunikasi umum yang terdapat di Kabupaten Kotawaringin


Timur dapat dilihat pada tabel 1.48.

Tabel 1.48
Persebaran Fasilitas Telekomunikasi Menurut Kecamatan
di Kabupaten Kotawaringin Timur
Kecamatan
Mentaya Hilir Selayan
Teluk Sampit
Pulau Hanaut

Warte
l
1
0
0

Komunikasi
Warne
Tlp
t
3
0
0

Umum
0
0
0

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-80

Kecamatan

Warte
l

Mentawa Baru
Ketapang
Seranau
Mentaya Hilir Utara
Kota Besi
Telawang
Baamang
Cempaga
Cempaga Hulu
Parenggean
Mentaya Hulu
Bukit Santuai
Antang Kalang
Jumlah

15
0
0
1
0
6
0
0
1
0
0
0
24

Komunikasi
Warne
Tlp Umum
t
10
0
0
0
0
12
0
0
0
0
0
0
25

2
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
0
5

Sumber : Kotawaringin Timur dalam Angka, 2009

D.

Air Limbah
Pengelolaan air limbah permukiman di Kabupaten Kotawaringin
Timur sebagian besar dilakukan dengan sistem pengelolaan air
limbah setempat (on-Site System), yaitu sistem penanganan air
limbah domestik yang dilakukan secara individual dan/atau
komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa
bangunan, yang pengolahannya diselesaikan secara setempat
atau di lokasi sumber. Sistem ini ada yang terbentuk dengan
pola sederhana dan cubluk.
Jumlah penggunaan MCK di sungai (jamban/on-site) mulai
berkurang, diasumsikan tinggal 20 % dari total penduduk.
Selebihnya menggunakan MCK pada rumah tangga masingmasing, namun belum ada yang terhubung dengan sarana
pembuangan limbah (septic tank).

Tabel 1.49
Tingkat Pelayanan PS Air Limbah On-Site System
Kecamatan

Jumla

Jumlah PS Sanitasi On-Site System

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-81

Pengumpulan

Pengolahan
Tangki
Septik
Cublu LainStanda
k
lain
r
4.432
-

h
Ruma
h
Tangg
a
5.540

Jamban
Terapun
g

Jamban
Keluarg
a

Lainlain

1.108

4.432

Teluk Sampit

2.099

420

1.679

1.679

Pulau Hanaut

4.964

993

3.971

3.971

Mty. Hilir Utara

3.072

614

2.458

2.458

15.910

3.182

12.728

12.728

Baamang

9.777

1.955

7.822

7.822

Seranau

2.922

584

2.338

2.338

Mentaya
Selatan

Hilir

MB Ketapang

Sumber : RPIJM Bidang Cipta Karya, 2008

E.

Sampah
Pengelolaan sampah di Kabupaten Kotawaringin Timur masih
menggunakan mekanisme lama, yaitu open dumping. Saat ini
terdapat 3 buah TPA yang melayani kebutuhan pembuangan
akhir sampah, yaitu TPA di Kota Sampit, Bagendang, dan
Parenggean.
Ketiga TPA tersebut secara eksisting belum mampu melayani
kebutuhan pemrosesan sampah secara luas. Di luar pelayanan
ketiga TPA ini, masih menggunakan pola sederhana (dibakar,
ditimbun, maupun dibuang ke sungai).
Kondisi sistem persampahan di Kabupaten Kotawaringin Timur :
I.

TPS
:
1

Jalan S. Parman

11

TPS

11

TPS

9
7
7
6
6
5
3
4
5
6
7
8
9

TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS

:
2

Jalan Muchran Ali


:

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Jalan MT. Haryono


Jalan HM. Arsyad
Jalan DI. Panjaitan
Jalan Gatot Subroto
Jalan Pemuda/ Rel
Jalan Christopal Mihing
Jalan Pelita
Jalan Cilik Riwut
Jalan H. Mansyur
Jalan Walter Concrad
Jalan Ir. H. Juanda
Khusus Taman Kota
Jalan Jendr. Sudirman

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-82

16
17
18
19
20
21
22
23

Jalan Kapten Mulyono


Jalan H. Imbran
Jalan P. Antasari
Jalan H. Akhmad
Jalan Kopi
Jalan Tambun Bungai
Jalan Pepabri
Jalan Kembali

:
:
:
:

10
11
12
13
14
15
16
17

TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS
TPS

18

TPS

19
20
21

TPS
TPS
TPS

22

TPS

23

TPS

98

TPS

Unit

Unit

Unit

Unit

Unit

Unit

Unit

Unit

Unit

:
24

Jalan Usman Harun


:

25
26
27

Jalan Cut Nyak Dien


Jalan RA. Kartini
Jalan KH. Dewantara

28

Jalan Sawit Raya

:
:
:

29

Jalan Pelelangan
TOTAL JUMLAH TPS

II.
KONTAINER
:
1

Exs. THR
:

Perumahan Bukit Permai


:

PPM

Lembaga Permasyarakatan

:
:
5

Pemda
:

RSUD Dr. Murjani


:

Jendral Sudirman Km. 6


:

Samuda

TOTAL JUMLAH CONTAINER


III
IV
V
VI
VI
I

F.

DUMPTRUCK BERJUMLAH 7
BUAH
TRUCK CONTAINER 2 BUAH
TRUCK TAMAN BERJUMLAH 2
BUAH
TRUCK TANGKI 3 BUAH
KAPASITAS SAMPAH YANG TERANGKUT PER
HARI 80 M.

Irigasi
Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-83

Untuk memaksimal pelayanan pengamat pengairan, maka di


Kabupaten Kotawaringin Timur dibagi menjadi empat wilayah
kerja pengamat pengairan (WKPP), yaitu:
1) WKPP Mentaya Hulu meliputi:
a. Kecamatan Seranau
b. Kecamatan Baamang
c. Kecamatan Kota Besi
d. Kecamatan Cempaga
e. Kecamatan Cempaga Hulu
f. Kecamatan Mentaya Hulu
g. Kecamatan Antang Kalang
h. Kecamatan Parenggean.
2) WKPP Mentaya Hilir meliputi:
a. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang
b. Kecamatan Mentaya Hilir Utara
c. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
d. Kecamatan P. Hanaut
e. Kecamatan Teluk Sampit.
3) WKPP Pulau Hanaut.
4) WKPP Teluk Sampit.

G.

Transportasi
G.1 Transportasi Darat
1. Terminal
Terminal yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur adalah
Terminal Patih Rumbih terdapat di Kota Sampit dengan
pelayanan terminal tipe B, dan memiliki kegiatan dominan
sebagai terminal transit dari Palangkaraya ke Pangkalanbun
dan ke Banjarmasin. Sedangkan terminal penumpang tipe C
terdapat di Sampit, Samuda dan Parenggean.
2. Jaringan Jalan
Kondisi jalan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur
secara umum prasarana jalan akses antar kabupaten atau ke
Ibukota Propinsi maupun antar Kecamatan sudah ada, akan
tetapi sebagian besar masih merupakan jalan tanah, dengan

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-84

kondisi jalan yang umumnya rusak. Berikut jaringan jalan


yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur, meliputi :
a.

Jaringan jalan arteri primer yang ada di Kabupaten


Kotawaringin Timur, terdiri atas :
- ruas jalan Kasongan Pelantaran sepanjang 61,963 km
- ruas jalan Batas Kota Sampit - Pelantaran/Km. 65
sepanjang 57,389 km
- ruas jalan Jl. Cilik Riwut (Sampit) sepanjang 17,971 km
- ruas jalan Batas Kota Sampit km 65.00 (Sp. Bangkal)
sepanjang 60,824 km
- ruas jalan Jl. A. Yani (Sampit) sepanjang 2,456 km
- ruas jalan Jl. Sudirman (Sampit) sepanjang 3,219 km

b.

Jaringan jalan kolektor primer K2 yang ada di


Kabupaten Kotawaringin Timur, terdiri atas :
- ruas jalan Sampit Samuda sepanjang 32,35 km
- ruas jalan Jl. HM. Arsyad (Sampit) sepanjang 6,45 km
- ruas jalan Samuda Ujung Pandaran sepanjang 49,00
km
- ruas jalan Pelantaran Parenggean sepanjang 34,75 km
- ruas jalan Parenggean Tumbang Sangai sepanjang
51,20 km
- ruas jalan lingkar utara (Sampit) sepanjang 12 km
- ruas jalan lingkar selatan (Sampit) sepanjang 7,50 km

c.

Jaringan jalan lokal dan sekunder yang ada di


Kabupaten Kotawaringin Timur

d.

Alur pelayaran sungai, terdiri atas :


- Sungai Mentaya : Sampit Cempaga Hulu;
- Sungai Mentaya : Sampit Teluk Sampit;
- Sungai Mentaya : Sampit Mentaya Hulu Antang
Kalang;
- Sungai Cempaga : Pantai Harapan Cempaka Mulia
Kota Besi; dan Terusan Hantipan : Samuda Pagatan.

e.

Dermaga sungai dan penyeberangan, terdiri atas :


- Dermaga Antang Kalang, Tumbang Kalang Seberang,
Tumbang Jaringau, Tumbang Turung, Rantau Katang,

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-85

Sangai,

Sangai

Kota,

dan

Sangai

Seberang

di

Kecamatan Antang Kalang;


- Dermaga Bajarum, Kandan Seberang, Hanjalipan, Kota
Besi Hilir, Kota Besi Hulu, Pasar Desa Sebabi, dan
Pamalian di Kecamatan Kota Besi;
- Dermaga Rubung Buyung, dan Pasar Desa Baninan di
Kecamatan Cempaga;
- Dermaga Pasar Desa Parit, Pasar Desa Sudan di
Kecamatan Cempaga Hulu;
- Dermaga

Kuala

Kuayan

Seberang

di

Kecamatan

Mentaya Hulu;
- Dermaga Kabuau di Kecamatan Parenggean;
- Dermaga Habaring Hurung, Pelangsian, Mesjid Jami di
Kecamatan Mentawa Baru Ketapang;
- Dermaga Pasar Desa Runting Tada di Kecamatan
Telawang;
- Dermaga Mentaya Seberang Hilir, Mentaya Seberang
Hulu, Ganepo, dan Mesjid Taqwa di Kecamatan Seranau;
- Dermaga Pasar Desa Bagendang Hilir, Pasar Desa
Ramban, Pasar Sabtu Bagendang, dan Sei Lancang di
Kecamatan Mentaya Hilir Utara;
- Dermaga Pasar Samuda di Kecamatan Mentaya Hilir
Selatan;
- Dermaga

Bapinang

Hilir,

Babaluh,

Bapinang,

Pelangsian, dan Satiruk di Kecamatan Pulau Hanaut;


dan
- Dermaga Desa Ujung Pandaran di Kecamatan Teluk
Sampit.
G.2 Transportasi Laut
Pelabuhan utama di Kabupaten Kotawaringin Timur :
-

Pelabuhan Sampit, sebagai pelabuhan penumpang

Pelabuhan

Bagendang,

sebagai

pelabuhan

CPO

dan

Multipurpose
-

Pelabuhan pengumpan : Pelabuhan Samuda di Kecamatan


Mentaya Hilir Selatan

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-86

Terminal khusus, terdiri atas :


-

Pelabuhan PT Windu Nabatindo Lestari, PT Bumi Hutan


Lestari, PT Sarana Prima Multi Niaga, PT Hutan Sawit Lestari,
PT Duta Borneo Pratama,

PT Fajar Mentaya Abadi, dan PT

Mirah Labuan Berlian di Kecamatan Cempaga Hulu;


-

Pelabuhan PT Kotabesi Iron Mining, PT Feron Tambang


Kalimantan, dan PT Sukajadi Sawit Mekar di Kecamatan
Telawang;

Pelabuhan

PT

Bisma

Dharma

Kencana

di

Kecamatan

Cempaga;
-

Pelabuhan PT Tunas Agro Subur Kencana dan PT Sylva Sari di


Kecamatan Kota Besi

Pelabuhan PT Mentaya Iron Ore Mining, PT Uni Primacom, PT


Katingan Indah Utama, PT Surya Inti Sawit Kahuripan, dan PT
Unggul Lestari di Kecamatan Parenggean

Alur pelayaran, terdiri dari :


a.

alur pelayaran internasional, yaitu Sampit Luar Negeri

b. alur pelayaran nasional :


-

Sampit - Semarang;

Sampit Surabaya;

Sampit Jakarta;

Sampit Banjarmasin;

Sampit Pangkalan Bun

G.3 Transportasi Udara


Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki sebuah bandar udara
dengan nama Bandara H. Asan, yang terletak di Kecamatan
Baamang.
Bandara H. Asan mempunyai panjang landasan pacu (Run Way)
: 1.850 m X 30 m yang memungkinkan untuk didarati oleh
pesawat sejenis Boeing. Pada saat ini beroperasi 2 buah
maskapai penerbangan, yaitu PT Merpati Nusantara Airlines
(MNA) dan PT Kalstar, dengan rute penerbangan tujuan : Jakarta,
Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Pangkalan Bun.
1.4 Isu- Isu Strategis

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-87

Mencermati data fakta lapangan yang terlihat saat obervasi, informasi


yang tersampaikan pada saat lokakarya serta hasil analisis terhadap
data-data sekunder memberikan gambaran beberapa isu penting
terkait rencana penataan ruang Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kabupaten Kotawaringin Timur,

mengalami dinamika perkembangan

yang cukup dinamis. Dinamika perkembangan sangat dipengaruhi


pembangunan fisik atau aktifitas baru yang memberikan dampak
terhadap aktifitas lainnya. Dalam konteks pengembangan Kabupaten
Kotawaringin Timur ke depan, perlu diamati dan dikaji lebih mendalam
beberapa hal yang mengemuka (issues), karena hal

tersebut dapat

saja menjadi titik-tolak untuk merencanakan atau mengembangkan


suatu komponen ruang atau komponen kota.
Isu Strategis yang berkembang di Kabupaten Kotawaringin Timur
adalah :

Kota Sampit sebagai kawasan perkotaan yang harus didorong


pertumbuhannya. Sebagai PKW, letak Kota Sampit dilalui oleh
jalan arteri primer yaitu Jalan Kalimantan Poros Selatan yang
melintasi Palangka Raya - Kasongan Sampit Pangkalan Bun.
Hal tersebut menjadi pendorong bagi pengembangan Kabupaten
Kotawaringin Timur.

Perkebunan besar swasta (PBS) yang beroperasi di Kabupaten


Kotawaringin Timur sangat banyak, namun sebagian besar
produknya langsung dikirim keluar daerah hanya dalam wujud
CPO, bukan turunannya.

Areal perkebunan besar swasta (PBS) sangat besar namun belum


dapat

memberikan

manfaat

yang

maksimal

baik

untuk

masyarakat maupun pemerintah daerah.

Tingkat kerusakan ruas jalan di Kabupaten Kotawaringin Timur


sangat tinggi dengan faktor penyebab utama yaitu muatan
kendaraan yang melebihi tonase yang dianjurkan.

Potensi pertambangan yang melimpah, namun semuanya dikirim


langsung keluar daerah dalam kondisi mentah.

Seringnya konflik yang terjadi akibat sengketa lahan antara


perkebunan besar swasta dengan masyarakat setempat.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-88

Terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan RI No : SK.292/MenhutII/2011, dimana dijadikan sebagai acuan perijinan pemanfaatan
ruang di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Ketidaktepatan pemanfaatan ruang yang terjadi sebagai akibat


perbedaan

acuan

yang

digunakan

dalam

pemberian

ijin

pemanfaatan ruang.

Banyaknya pelanggaran kawasan hutan oleh aktivitas budidaya


non kehutanan yang dilakukan oleh pengusaha, masyarakat,
maupun

pemerintah

daerah

tanpa

melalui

prosedur

dan

ketentuan yang berlaku.

Jumlah obyek pariwisata yang kurang dan dukungan sarana dan


prasarana yang kurang memadai.

Kurang berkembangnya kawasan pertanian tanaman pangan.

Adanya perbedaan kepentingan antara kepentingan konservasi


dengan kepentingan bisnis atau pertumbuhan ekonomi yang
terjadi pada suatu kawasan.

Meningkatnya bencana alam yang terjadi terutama banjir dengan


tudingan utama akibat pengelolaan kawasan dan penataan ruang
yang tidak tepat sehingga mengganggu kestabilan lingkungan.

Terbatasnya ruang budidaya non kehutanan pada kawasan APL


(Areal

Penggunaan

Lain)

berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kehutanan RI No : SK.292/Menhut-II/2011 setelah dikurangi


kawasan budidaya yang sudah eksisting, sehingga memerlukan
kebijakan yang tepat berdasarkan prioritas dan ketersediaan
anggaran.

Materi Teknis
RTRW KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

I-89