Anda di halaman 1dari 9

PRINSIP STRATIGRAFI

informasi matakuliah prinsip stratigrafi akamigas balongan


indramayu angkatan 12 program studi teknik perminyakan
Dosen Bpk Ismanu Yudiantoro M.T

Galeri Stratigrafi

informasi Stratigraf

Materi Stratigrafi

Halaman standar

nilai

DOKUMENTIStratigrafi

PENGUMUMAN

HUBUNGI BANTUAN

Prinsip-prinsip Dasar Stratigrafi


Dalam pembelajaran stratigrafi permulaannya adalah pada prinsip-prinsip dasr yang
sangat penting aplikasinya sekarang ini.Sebagai dasar daari studi ini Nicolas Steno
membuat empat prinsip tentang konsep dasar perlapisan yamg sekarang dikenal
dengan Stenos Law.
4 prinsip steno tersebut adalah :
1.The Principles of Superpositin (Prinsip Superposisi)
Dalam suatu uruan perlapisan, lapisan yang lebih muda adalah lapisan yang berada
diatas lapisan yang lebih tua. pada waktu suatu lapisan terbentuk (saat terjadinya
pengendapan), semua massa yang berada diatasnya adalah fluida, maka pada saat
suatu lapisan yang lebih dulu terbentuk, tidak ada keterdapatan lapisan diatasnya.
Steno, 1669

2.Principle of Initial Horizontality


Jika lapisan terendapkan secara horizintal dan kemudian terdeformasi menjadi
beragam posisi.Lapisan baik yang berposisi tegak lurus maupun miring terhadap
horizon, pada awalnya paralel terhadap horizon. Steno, 1669

3.lateral Continuity
Dimana suatu lapisan dapat diasumsikan terendapkan secara lateral dan
berkelanjutan jauh sebelum akhirnya terbentuk sekarang. Material yang membentuk
suatu perlapisan terbentuk secara menerus pada permukaan bumi walaupun
beberapa material yang padat langsung berhenti pada saat mengalami transportasi.
Steno, 1669

4.Principle of Cross Cutting Relationship


Suatu struktur geologi seperti sesar atau tubuh intruksi yang memotong perlapisan
selalu berumur lebih muda dari batuan yang diterobosnya. Jika suatu tubuh atau
diskontinuitas memotong perlapisan, tubuh tersebut pasti terbentuk setelah
perlapisan tersebut terbentuk. Steno, 1669

William Smith (1769-1839) seorang peneliti dari inggris. Smith adalah seorang
insinyur yang bekerja disebuah bendungan, ia mengemukakan teori biostratigrafi dan
korelasi stratigrafi. Smith mengungkapkan dengan menganalisa keterdapatan fosil
dalam suatu batuan, maka suatu lapisan yang satu dapat dikorelasikan dengan
lapisan yang lain, yang merupakan satu perlapisan. Dengan korelasi stratigrafi maka
dapat mengetahui sejarah geologinya pula.
Dalam studi hubungan fosil antar perlapisan batuan, ia pun menyimpulkan suatu
hukum yaitu Law of Faunal Succession, pernyataan umum yang menerangkan
bahwa fosil suatu organisme terdapat dalam data rekaman stratigrafi dan dapat
digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui sejarah geologi yang pernah
dilaluinya. Jasanya sebagai pencetus biostratigrafi membuat ia dikenal dengan
sebutan Bapak Stratigrafi.
Ahli stratigrafi lainn seperti DOrbigny dan Albert Oppel juga berperan besar dalam
perkembangan ilmu stratigrafi. DOrbigny mengemukakan suatu perlapisan secara
sistematis mengikuti yang lainnyayang memiliki karakteristik fosil yang sama.
Sedangkan Oppel berjasa dalam mencetuskan konsep Biozone.Biozone adalah
satu unitskala kecil yang mengandung semua lapisan yang diendapkan selama
eksistensi/keberadaan fosil organisme tertentu.Kedua orang nilah yang juga
mencetuskan pembuatan standar kolom stratigraf.

Klasifikasi Batuan Sedimen Menurut Para Ah


On Selasa, 25 Februari 2014 Diposkan oleh sinta putri Label: Batuan, Tambang
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan
yang berupa bahan lepas. Hutton (1875; dalam Sanders, 1981) menyatakan
Sedimentary rocks are rocks which are formed by the turning to stone of sediments
and that sediments, in turn, are formed by the breakdown of yet-older rocks. ODunn
& Sill (1986) menyebutkan sedimentary rocks are formed by the consolidation of
sediment : loose materials delivered to depositional sites by water, wind, glaciers,
and landslides. They may also be created by the precipitation of CaCO3, silica, salts,
and other materials from solution (Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk
oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi
pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah
longsor. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium
karbonat, silika, garam dan material lain. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di
permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume
seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan
bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis.
Batuan sedimen klastika (detritus, mekanik, eksogenik) adalah batuan sedimen yang
terbentuk sebagai hasil pengerjaan kembali (reworking) terhadap batuan yang sudah
ada. Proses pengerjaan kembali itu meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan
kemudian redeposisi (pengendapan kembali). Sebagai media proses tersebut adalah
air, angin, es atau efek gravitasi (beratnya sendiri). Media yang terakhir itu sebagai
akibat longsoran batuan yang telah ada. Kelompok batuan ini bersifat fragmental,
atau terdiri dari butiran/pecahan batuan (klastika) sehingga bertekstur klastika.

Batuan sedimen non-klastika adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil
penguapan suatu larutan, atau pengendapan material di tempat itu juga (insitu).
Proses pembentukan batuan sedimen kelompok ini dapat secara kimiawi, biologi
/organik, dan kombinasi di antara keduanya (biokimia). Secara kimia, endapan
terbentuk sebagai hasil reaksi kimia, misalnya CaO + CO2 CaCO3. Secara
organik adalah pembentukan sedimen oleh aktivitas binatang atau tumbuhtumbuhan, sebagai contoh pembentukan rumah binatang laut (karang),
terkumpulnya cangkang binatang (fosil), atau terkuburnya kayu-kayuan sebagai
akibat penurunan daratan menjadi laut.

KSIFIKASI MENURUT PARA AHLI


Sanders (1981) dan Tucker (1991), membagi batuan sedimen
menjadi:

Batuan sedimen detritus (klastika)

Batuan sedimen kimia

Batuan sedimen organik, dan

Batuan sedimen klastika gunungapi.

Batuan sedimen jenis ke empat itu adalah batuan sedimen bertekstur klastika
dengan bahan penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi.

Graha (1987) membagi batuan sedimen menjadi 4 kelompok juga,


yaitu :

Batuan sedimen detritus (klastika/mekanis)

Batuan sedimen batubara (organik/tumbuh-tumbuhan)

Batuan sedimen silika.

Batuan sedimen karbonat

Batuan sedimen jenis kedua pada umumnya bertekstur non-klastika. Tetapi batuan
sedimen jenis ketiga dan keempat dapat merupakan batuan sedimen klastika
ataupun batuan sedimen non-klastika.

Komposisi Penyusun Utama batuan sedimen


klastika (bertekstur klastika)
1.

Batuan sedimen silisiklastika, adalah batuan sedimen klastika dengan mineral


penyusun utamanya adalah kuarsa dan felspar.

2.

Batuan sedimen klastika gunungapi adalah batuan sedimen dengan material


penyusun utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi (kaca, kristal dan atau
litik), dan

3.

Batuan sedimen klastika karbonat, atau batugamping klastika adalah batuan


sedimen klastika dengan mineral penyusun utamanya adalah material karbonat
(kalsit).

PENGELOMPOKAN BATU SENDIMEN


Berdasarkan tenaga pembawanya, antara lain:
1.

Batuan sedimen aquatic, yaitu batuan sedimen yang komponen


pembentuknya terbawa oleh air sungai

2.

Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang komponen


pembentuknya terbawa oleh air laut

3.

Batuan sedimen glacial, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya


terbawa oleh gletser

4.

Batuan sedimen aeris, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya


terbawa oleh udara yang berhembus (angin)

Berdasarkan proses pengendapannya, antara lain:

Batuan sedimen klasik, contoh: tanah pasir, batu pasir, tanah liat,
konglomerat.

Batuan sedimen organic, contoh: batu bara (coal), batu kapur (lime stone).

Batuan sedimen an-organik/kimiawi, contoh: batu pasir dan tanah liat.

Berdasarkan tempat pengendapannya, antara lain

Batuan sedimen limnik, yaitu batuan sedimen yang mengendap di rawa

Batuan sedimen fluvial, yaitu batuan sedimen yang mengendap di sungai

Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang mengendap di laut

Batuan sedimen teistrik, yaitu batuan sedimen yang mengendap di darat

Berdasarkan proses transportasinya, antara lain:


Batuan sedimen klasik, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari batuan lain yang
hancur, kemudian berpindah tempat dan kemudian mengalami proses sedimentasi.
Batuan sedimen non klasik, yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami
perpindahan tempat. Batuan jenis ini terbentuk melalui proses kimiawi dan organis.
Dari sekian banyak jenis batuan sedimen di atas, berikut adalah beberapa contoh
jenis batuan sedimen yang paling umum dijumpai di kehidupan sehari hari kita:
1. Batu konglomerat
2. Batu breksi
3. Batu pasir
4. Batu gamping
5. Batu shale
6. Batu kapur
Masing-masing jenis batuan sedimen memiliki sifat yang berbeda. Keberadaan
batuan sedimen tertentu juga bisa menunjukkan kondisi suatu lahan seperti status
gunung berapi atau kondisi patahan lempeng bumi.

Warna Batuan Sedimen


Pada umumnya, batuan sedimen berwarna terang atau cerah, putih, kuning atau
abu-abu terang. Namun demikian, ada pula yang berwarna gelap, abu-abu gelap
sampai hitam, serta merah dan coklat. Dengan demikian warna batuan sedimen
sangat bervariasi, terutama sangat tergantung pada komposisi bahan penyusunnya.

Tekstur
Seperti diuraikan di atas, maka batuan sedimen dapat bertekstur klastika atau non
klastika. Namun demikian apabila batuannya sudah sangat kompak dan telah terjadi
rekristalisasi (pengkristalan kembali), maka batuan sedimen itu bertekstur kristalin.

Batuan sedimen kristalin umum terjadi pada batugamping dan batuan sedimen kaya
silika yang sangat kompak dan keras.

Tekstur Permukaan
1.

Kasar, bila pada permukaan butir terlihat meruncing dan terasa tajam. Tekstur
permukaan kasar biasanya dijumpai pada butir dengan tingkat kebundaran
sangat meruncing-meruncing.

2.

Sedang, jika permukaan butirnya agak meruncing sampai agak rata. Tekstur
ini terdapat pada butir dengan tingkat kebundaran meruncing tanggung hingga
membulat tanggung.

3.

Halus, bila pada permukaan butir sudah halus dan rata. Hal ini mencerminkan
proses abrasi permukaan butir yang sudah lanjut pada saat mengalami
transportasi. Dengan demikian butiran sedimen yang mempunyai tekstur
permukaan halus terjadi pada kebundaran membulat sampai sangat membulat.

Ukuran Butir
Ukuran butir batuan sedimen klastika umumnya mengikuti Skala Wentworth (1922,
dalam Boggs, 1992) seperti tersebut pada Tabel 3.7.
Butir lanau dan lempung tidak dapat diamati dan diukur secara megaskopik. Ukuran
butir lanau dapat diketahui jika material itu diraba dengan tangan masih terasa ada
butir seperti pasir tetapi sangat halus. Ukuran butir lempung akan terasa sangat
halus dan lembut di tangan, tidak terasa ada gesekan butiran seperti pada lanau,
dan bila diberi air akan terasa sangat licin.

Kemas atau Fabrik


1.

Kemas tertutup, bila butiran fragmen di dalam batuan sedimen saling


bersentuhan atau bersinggungan atau berhimpitan, satu sama lain (grain/clast
supported). Apabila ukuran butir fragmen ada dua macam (besar dan kecil),
maka disebut bimodal clast supported. Tetapi bila ukuran butir fragmen ada tiga
macam atau lebih maka disebut polymodal clast supported.

2.

Kemas terbuka, bila butiran fragmen tidak saling bersentuhan, karena di


antaranya terdapat material yang lebih halus yang disebut matrik (matrix
supported).

Sistem pengendapan batuan sedimen dibedakan menjadi 3, yaitu


1. Sistem arus turbid, terjadi jika longsoran massa batuan melalui media air
membentuk endapan tertentu.
2. Sistem arus traksi, sistem ini tergantung pada aliran dan ukuran butirnya
sehingga membentuk suatu batuan sedimen yang spesifik
3. Sistem arus pekat, sistem ini tidak banyak terjadi di bumi. Dapat berupa gletser,
longsoran, dan aliran lahar.

Geology and
Geological Mindset
Share