Anda di halaman 1dari 5

BEDAH BUKU:

Tidak ada pengertian secara harfiah dari bedah buku. Namun demikian mengutip dari
beberapa sumber, bedah buku atau yang dikenal dengan resensi buku (a book review)
secara sederhana dapat diartikan sebuah kegiatan mengungkapkan kembali isi suatu
buku secara ringkas dengan memberikan saran terkait dengan kekurangan dan kelebihan
buku tersebut menurut aturan yang berlaku umum atau yang telah ditentukan.
Dalam konteks ini yang dimaksud dengan "Bedah Buku", tidak berbeda jauh dengan
pengertian diatas dimana buku yang dimaksud adalah catatan yang berisi tentang
informasi keuangan dari seluruh aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok
atau lembaga dalam suatu rentang periode tertentu.
"Bedah Buku" merupakan kegiatan simultan (secara terus-menerus/ berkelanjutan) yang
mengungkapkan isi dari sebuah laporan pertanggungjawaban keuangan dari suatu
aktivitas individu/kelompok/lembaga (dengan periode tertentu/terbatas) melalui
penelusuran atas catatan mengenai informasi keuangan menurut aturan yang berlaku
umum atau yang telah ditentukan guna mencari solusi terkait dengan kekurangan dan
kelebihan yang ada.
Apa manfaat dari "Bedah Buku" ?
Tidak jauh dari manfaat bedah buku secara umum yaitu memahami secara mendalam isi
dari buku sehingga dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dari buku tersebut serta
dapat membandingkannya dengan teori atau wacana yang baku. Adapun beberapa
manfaat yang dapat diperoleh dari "Bedah Buku" adalah :

Tranparansi. Dengan "Bedah Buku", informasi mengenai proses - proses


keuangan

yang

terjadi

dalam

suatu

aktivitas

yang

dilakukan

oleh

individu/kelompok/lembaga dapat diperoleh, dipahami dan dimonitor oleh pihak


yang membutuhkan/berkepentingan (stakeholders)

Akuntabilitas. "Bedah Buku", memberikan ruang yang lebih luas bagi para
pembuat keputusan baik dalam pemerintahan, sektor swasta maupun masyarakat
(civil society) bertanggungjawab kepada publik dan lembaga stakeholder.

Taat pada aturan (rule of law). Dengan "Bedah Buku", publik dan
para stakeholder dapat mengetahui dan memahami dan mengevaluasi apakah
kerangka hukum yang ada sudah dilaksanakan dengan adil dalam pelaksanaan
kegiatan.

Partisipasi. "Bedah

Buku",

memberikan

akses

kepada

publik

untuk

menyampaikan saran dan solusi (kebebasan berbicara) dalam pembuatan


keputusan/kebijakan baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi
legitimasi yang mewakili kepentingannya bagi pencapaian hasil yang lebih baik.

Visi Strategis. Dengan "Bedah Buku", para pemimpin dan publik akan selalu
dituntut mempunyai perspektif tata kelola yang baik (good governance) dalam
pendayagunaan sumber daya yang dimiliki sejalan dengan apa yang diperlukan
untuk pembangunan.

Pengertian Indikator Pembelajaran Menurut Para Ahli


Setiap memasuki bab baru dalam suatu materi pembelajaran, kita pasti akan dihadapkan pada
indikator pembelajaran. Darwin Syah mendefisikan indikator pembelajaran sebagai tanda
atau ciri siswa sudah mampu memenuhi kompetensi dasar yang ditetapkan. Jadi dalam
mengajarkan suatu bab, guru diharapkan melakukan penilaian secara berkesinambungan
untuk mengetahui apakah setiap siswa sudah mencapai indikator minimal. Salah satu
pertimbangan dalam menentukan indikator tersebut adalah karakteristik dari mata pelajaran.
Pembelajaran bahasa memiliki indikator yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang
ingin diukur. Seorang siswa yang hanya dituntut untuk mengerjakan soal pilihan ganda tidak
akan memiliki pemikiran yang berkembang karena hanya terkotak-kotak pada opsi yang
tersedia. Meskipun nilai yang didapatkan sudah memenuhi indikator, namun kemampuan lain
tidak ikut terukur. Jadi diperlukan cara pengetesan yang lain contohnya dengan memberikan
soal untuk menguji kecakapan siswa dalam menggunakan bahasa lisan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa dalam pembelajaran bahasa diperlukan teknik penilaian yang beragam.
Pengertian Indikator Pembelajaran Menurut Para Ahli
Indikator tidak dibuat secara semabarangan tetapi ada pedoman untuk merancangnya
sehingga

kompetensi

siswa

bisa diketahui

secara

obyektif.

Ketidaktepatan

dalam

merumuskan indikator akan menjadi kendala dalam menilai peserta didik. Setiap indikator
pembelajaran harus terus dikembangkan dan direvisi agar sesuai dengan kurikulum terbaru
dengan memperhatikan:

Tuntutan kompetensi peserta didik.

Karakter yang dimiliki siswa dan sekolah.

Potensi yang ingin dikembangkan.

Kebutuhan murid, lingkungan, dan masyarakat.

Pengajaran di dalam kelas tidak hanya berfokus pada pencapaian indikator tetapi juga
seberapa banyak pengalaman belajar yang bisa didapatkan oleh para siswa. Beragam metode
pembelajaran bisa diaplikasikan agar siswa tidak merasa jenuh dan lebih mudah dalam
memahami materi. Guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran tetapi siswa yang memegang

peranan utama dalam proses transfer ilmu. Guru diharapkan lebih bertindak sebagai fasilitator
dalam kegiatan kelas. Setiap siswa dituntut untuk memenuhi indikator tersebut dengan cara
yang sudah ditentukan oleh pengajar namun materi pembahasan bisa diperoleh dari luar
kelas. Indikator pembelajaran yang baik meliputi ranah psikomotorik, kognitif, dan afektif.
Pengertian Indikator dalam pendidikan Menurut E Mulyasa indikator merupakan penjabaran
dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda perbuatan dan respon yang dilakukan
atau ditampilkan oleh peserta didik. Indicator juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik
satuan pendidikan potensi daerah dan peserta didik dan juga dirumuskan dalam rapat kerja
operasional yang dapat diukur dan diobservasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam
penyusunan alat penilaian.
Sedangkan menurut Darwin Syah indicator pembelajaran adalah karakteristik, ciri-ciri, tandatanda perbuatan atau respon yang dilakuakan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa
telah memiliki kompetensi dasar tertentu. Jadi indikator adalah merupakan kompetensi dasar
secara spesifik yang dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran dan juga
dijadikan tolak ukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pokok bahasan atau mata
pelajaran tertentu.
Adapun dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
1. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam
Kompetensi Dasar.
2. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan
3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan atau daerah.
Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: Setiap
KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator Keseluruhan indikator
memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK
dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan
melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik Indikator
yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan
materi pembelajaran. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran

sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai. Rumusan indikator dapat
dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif,
dan/atau psikomotorik