Anda di halaman 1dari 94

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

OPTIMALISASI PEMBELAJARAN DENGAN MODIFIKASI PERMAINAN


UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR LOMPAT
TINGGI GAYA STRADDLE PADA SISWA KELAS VI SD
NEGERI 1 BANGSALAN TERAS BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Oleh:
KURNIAWAN IS RAHARJO
K4606007

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2010

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

OPTIMALISASI PEMBELAJARAN DENGAN MODIFIKASI PERMAINAN


UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR LOMPAT
TINGGI GAYA STRADDLE PADA SISWA KELAS VI SD
NEGERI 1 BANGSALAN TERAS BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh:
KURNIAWAN IS RAHARJO
K 4606007

Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana
Pendidikan Program Pendidikan Jasmani Kesehatan Rekreasi Jurusan
Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2010

ii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji


Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Pembimbing I

Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd


NIP. 19651128 199003 1 001

Pembimbing II

Drs. Bambang Wijanarko, M.kes


commit to user NIP. 19620518 198702 1 001

iii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas


Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari

: Senin

Tanggal : 18 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi :


(Nama Terang)

(Tanda Tangan)

Ketua

: Drs. H. Sunardi, M.Kes

Sekretaris

: Drs. H. Wahyu Sulistyo, M.Kes

Anggota I

: Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd

Anggota II

: Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes

Disahkan oleh :
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan,

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.


commit to user
NIP. 19600727 198702 1 001
iv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

Kurniawan Is Raharjo. OPTIMALISASI PEMBELAJARAN DENGAN


MODIFIKASI PERMAINAN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR LOMPAT TINGGI GAYA STRADDLE PADA
SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 BANGSALAN TAHUN PELAJARAN
2010/2011, Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sebelas Maret Surakarta, September 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui bagaimana efektifitas penerapan
pembelajaran dengan modifikasi permainan untuk meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar lompat tinggi gaya straddle pada siswa kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan tahun pelajaran 2010/2011.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif.
Intack Group dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 18 siswa. Data hasil belajar lompat
tinggi gaya straddle diperoleh melalui tes unjuk kerja kemampuan psikomotorik,
lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data aktivitas belajar siswa di
dalam mengikuti proses pembelajaran lompat tinggi gaya straddle melalui
penerapan pendekatan bermain, sedangkan angket digunakan untuk memperoleh
data hasil belajar secara kognitif.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: bahwa hasil
keterampilan lompat tinggi gaya straddle meningkat dari 33,33 % pada kondisi
awal menjadi 61,11 % pada akhir siklus I dan meningkat menjadi 77,78% pada akhir
siklus II. Sedangkan aktivitas belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
lompat tinggi gaya straddle dari 42,7% pada kondisi awal menjadi 62,22% pada
akhir siklus I dan meningkat menjadi 86,7% pada akhir siklus II. Sementara hasil
belajar secara tes tertulis atau angket pada kondisi awal sebesar 36,1% meningkat
menjadi 61,67% pada akhir siklus dan meningkat menjadi 82,2% pada akhir
siklus II. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa penerapan
pembelajaran dengan modifikasi permainan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar lompat tinggi gaya straddle pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
tahun pelajaran 2010 /2011.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

MOTTO
Sesungguhhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
( Surat Asy-Syarh, 94: 6)
OLAHRAGA adalah sahabat sejati,

sahabat bukan MATEMATIKA

yang dapat dihitung dengan rumus, EKONOMI yang mengharapkan


materi, PPKN yang dituntut oleh undang-undang, FISIKA yang hanya
memikirkan logika. Tiada hari tanpa OLAHRAGA.
( Penulis )
Kau mungkin saja kecewa jika percobaanmu gagal, tetapi kau pasti
takkan berhasil jika tidak mencoba. Dan kegagalan adalah kesuksesan
yang tertunda.
( Beverly Hills)

commit to user

vi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN
Kucurahkan segala pikiran dan doaku untuk membuat hasil karya skripsi ku ini,
dan kupersembahkan sebagai bukti cintaku kepada:
Ayah dan ibuku tercinta
Dengan kasih sayang, doa, dukungan dan pengorbanannya berusaha memberikan yang
terbaik untuk putera puterinya
Adik ku tersayang (Gunaning Epinasti)
Kamu yang selalu aku cari saat senang dan sedih sehingga mengerti makna saudara
Pembimbingku
Terima kasih atas waktu, bantuan ide, motivasi, nasehat, dan Doanya
Pendamping hidupku kelak
If it is love true.. it is so easy semoga engkau dapat menjadi pendamping hidupku
selamanya di dunia dan akherat. Amin
Sahabat-sahabatku
Genk masjid, kost kuda, n genk gembel CS, terima kasih untuk nasehat,kritik, saran,
semangat, serta kenangan manis dan pahit kita di kampus Manahan tercinta
POK Jaya.
Teman-teman FKIP UNS POK khususnya Penjaskesrek 06
Terima kasih untuk kebersamaanya selama menempuh kuliah di UNS
Almamaterku
Tempat dimana mengajariku belajar, berkenalan, dengan teman-teman berjuang bersama-sama
mencari ilmu untuk bekal dimasa depan.

commit to user

vii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Dengan diucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya, sehingga dapat diselesaikan
penulisan skripsi ini. Disadari bahwa penulisan skripsi ini banyak mengalami
hambatan, tetapi berkat bantuan dari beberapa pihak maka hambatan tersebut
dapat diatasi. Oleh karena itu penulis ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Pendidikan Jasmani Kesehatan Rekreasi Jurusan Pendidikan
Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
4. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd sebagai pembimbing I yang dengan sabar
memberikan

petunjuk,

membimbing,

mengarahkan,

menuntun,

serta

menyarankan penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.


5. Drs. Bambang Wijanarko, M.Kes sebagai pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
6. Ibu Herning Suprapti, S.Pd selaku Kepala Sekolah dan Ibu. Sri Satiti, S.Pd
Guru Penjasorkes SD Negeri 1 Bangsalan yang telah memberikan ijin dan
membantu peneliti, serta Siswa kelas VI yang bersedia menjadi subyek
penelitian.
7. Bapak, ibu, adik serta segenap keluarga yang senantiasa memberikan
dorongan, motivasi dan semangat sehingga skripsi ini dapat terwujud.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya hanya ungkapan terima kasih yang begitu besar dan berharap
semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat. Semoga segala amal
baik tersebut mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
commit to user

viii

Surakarta, September 2010

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

JUDUL ..............................................................................................................

PENGAJUAN ...................................................................................................

ii

PERSETUJUAN ...............................................................................................

iii

PENGESAHAN ................................................................................................

iv

ABSTRAK ........................................................................................................

MOTTO ............................................................................................................

vi

PERSEMBAHAN ............................................................................................. vii


KATA PENGANTAR ...................................................................................... viii
DAFTAR ISI .....................................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................

xi

DAFTRAR TABEL DAN GRAFIK ................................................................ xii


DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiv
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................

A. Latar Belakang Masalah ..................................................................

B. Identifikasi Masalah ........................................................................

C. Pembatasan Masalah .......................................................................

D. Rumusan Masalah ...........................................................................

E. Tujuan Penelitian ............................................................................

F. Manfaat Penelitian ..........................................................................

BAB II. LANDASAN TEORI ..........................................................................

A. Tinjauan Pustaka ..............................................................................

1. Hakikat Aktivitas Belajar ..............................................................

2. Pendidikan Jasmani ......................................................................

13

3. Pembelajaran .................................................................................

15

4. Bermain .........................................................................................

22

5. Lompat Tinggi ..............................................................................

26

B. Kerangka Berpikir ............................................................................

32

C. Perumusan Hipotesis ........................................................................


commit
to user
BAB III. METODE PENELITIAN
..................................................................

34

ix

35

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

A. Setting Penelitian ..............................................................................

35

1. Tempat Penelitian ........................................................................

35

2. Waktu Penelitian ..........................................................................

35

3. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) .....................................

35

B. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ....................................

36

C. Subjek Penelitian ..............................................................................

36

D. Sumber Data ...................................................................................

36

E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ................................................

37

F. Analisis Data ....................................................................................

37

G. Prosedur Penelitian ...........................................................................

39

1. Rancangan Siklus I ......................................................................

39

2. Rancangan Siklus II .....................................................................

41

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................

42

A. Deskripsi Kondisi Awal ...................................................................

42

B. Deskripsi Hasil Tindakan .................................................................

48

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN ................................................................

78

A. Simpulan ...........................................................................................

78

B. Saran .................................................................................................

78

Daftar Pustaka ...................................................................................................

80

Lampiran ...........................................................................................................

82

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Awalan Lompat Tinggi Gaya Straddle ...........................................

30

Gambar 2. Tolakan Lompat Tinggi Gaya Straddle ..........................................

30

Gambar 3. Sikap Badan Diatas Mistar Lompat Tinggi Gaya Straddle .............

31

Gambar 4. Pendaratan Lompat Tinggi Gaya Straddle ......................................

32

Gambar 5. Kerangka Berpikir ...........................................................................

34

Gambar 6. Bagan Teknik Analisis Data Model Interaktif ................................

38

Gambar 7. Strategi Penelitian ..........................................................................

39

Gambar 8. Grafik Aktivitas Belajar Lompat Tinggi Siswa Kelas VI SD


Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal .........................................

commit to user

xi

46

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel
1. Rincian Kegiatan Waktu dan Jenis Kegiatan ..............................................

35

2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian .........................................................

37

3. Prosentase Indikator Pencapaian Keberhasilan Penelitian..........................

41

4. Daftar Nilai Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas


VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal .......................................... 42
5. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Stradde
Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal. ....................

43

6. Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada


Kondisi Awal ..............................................................................................

45

7. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa


Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal ..............................

46

8. Angket Tes Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada


Kondisi Awal ..............................................................................................

47

9. Hasil Observasi Aktivitas dan Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya


Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan ......................................

55

10. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan Siklus I Pertemuan Pertama dan Pertemuan
Kedua .........................................................................................................

56

11. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Siswa Kelas VI SD


Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus I Pertemuan Pertama. .............................

57

12. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI Pada Siklus I Pertemuan Kedua..................................................

57

13. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan


Pada Siklus I Pertemuan Pertama ..............................................................

59

14. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan


Pada Siklus I Pertemuan Kedua .................................................................

60

15. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD


commit
to user Pertama ..............................
Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus
I Pertemuan

61

xii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

16. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri


1 Bangsalan Pada Siklus I Pertemuan Kedua ............................................

59

17. Diskripsi Angket Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan ...............................................................

62

18. Hasil Observasi Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I dan II ...

70

19. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas VI SD


Negeri 1 Bangsalan Siklus II Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua .

71

20. Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas
VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Pertama .................

71

21. Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas
VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Kedua ...................

72

22. Diskipsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan


Pada Siklus II Pertemuan Pertama .............................................................

73

23. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan


Pada Siklus II Pertemuan Kedua ................................................................

74

24. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri


1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Pertama ........................................

75

25. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri


1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Kedua ...........................................

75

26. Diskripsi Angket Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus II .......................................

commit to user

xiii

76

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
1. Hasil Wawancara Dengan Guru ..................................................................

82

2. Daftar Nama Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran


2010/2011 ...................................................................................................

83

3. Lembar Observasi Keaktifan Siswa Saat Pembelajaran Lompat Tinggi


Gaya Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan .............................

84

4. Angket Soal Tes Hasil Belajar Siswa Pra Siklus ........................................

85

5. Angket Soal Tes Hasil Belajar Siswa Siklus I ............................................

86

6. Angket Soal Tes Hasil Belajar Siswa Siklus II ...........................................

87

7. Daftar Nilai Siswa PTK Pembelajaran Penjasorkes Kelas VI SD


Negeri 1 Bangsalan .....................................................................................

88

8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ...................................

89

9. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ..................................

98

10. Diskripsi Angket Hasil Belajar Siklus I Pertemuan 1 Lompat Tinggi Gaya
Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran
2010/2011 ................................................................................................... 107
11. Diskripsi Angket Hasil Belajar Siklus I Pertemuan 2 Lompat Tinggi Gaya
Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran
2010/2011 ................................................................................................... 108
12. Diskripsi Angket Hasil Belajar Siklus II Pertemuan 1 Lompat Tinggi Gaya
Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran
2010/2011 ................................................................................................... 109
13. Diskripsi Angket Hasil Belajar Siklus II Pertemuan 2 Lompat Tinggi Gaya
Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran
2010/2011 .................................................................................................. 110
14. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas
VI SD

Negeri 1 Bangsalan Siklus I Pertemuan Pertama ........................ 111

15. Hasil Kemampuan Lompt Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas
commit
to user Kedua ............................... 112
VI SD Negeri 1 Bangsalan Siklus
I Pertemuan

xiv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

16. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan Siklus II Pertemuan Pertama ................................ 113
17. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan Siklus II Pertemuan Kedua .................................. 114
18. Dokumentasi Penelitian .............................................................................. 115

commit to user

xv

1
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan

merupakan

proses

yang

berkesinambungan

yang

mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi,


pendidikan, politik dan budaya dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan
tersebut peranan pendidikan amatlah strategis. Untuk itu sekolah sebagai salah
satu pendidikan formal berusaha meningkatkan kualitas lulusannya agar dapat
berperan serta dan bersaing di kancah internasional, termasuk didalamnya adalah
pendidikan jasmani. Pendidikan dalam situasi moderen dituntut untuk
menyiapkan warga negara yang mampu berpartisipasi dalam zaman globalisasi
sekarang ini.
Dalam rangka pendidikan nasional, Sekolah Dasar (SD) merupakan satu
jenjang pendidikan yang paling penting keberadaanya. Sehingga peningkatan
mutu pendidikan harus dimulai dengan peningkatan mutu pendidikan di Sekolah
Dasar. Pendidikan yang berorientasi pada kualitas ini menghadapi berbagai
tantangan yang tidak dapat ditanggulangi dengan menggunakan paradigma lama.
Perkembangan ilmu dan teknologi tidak dapat dikejar kalau pembelajaran di
sekolah masih menggunakan cara-cara lama. Paradigma pembelajaran harus
diubah dari paradigma mengajar menjadi paradigma belajar, sehingga fungsi guru
juga berubah dari pengajar menjadi fasilitator. Hal diatas juga dikemukakan Toho
Cholik, Rusli Lutan (2001: 3) gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam
praktek pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model metode-metode praktek
ditekankan pada Teacher Centered dimana para siswa melakukan latihan fisik
berdasarkan perintah yang dilakukan oleh guru.
Dewasa ini hampir semua orang mengukur tingkat keberhasilan
pendidikan berdasarkan hasil saja. Pembelajaran yang baik hendaknya bersifat
menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek, baik aspek
commit to sehingga
user
kognitif, afektif, maupun psikomotorik,
dalam pengukuran tingkat
1

perpustakaan.uns.ac.id

2
digilib.uns.ac.id

keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dilihat dari kualitas yang
telah dilakukan di sekolah-sekolah. Oleh sebab itu pembelajaran yang aktif
ditandai adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara
langsung. Akan tetapi hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru
lebih mementingkan pada pencapaian tujuan dan target kurikulum dibandingkan
dengan prosesnya.
Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pembelajaran melalui
aktivitas jasmani yang dirancang dan disusun secara sistematik untuk kebugaran
jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup
sehat dan aktif, sikap sportif (fair play), serta kecerdasan emosi. Tujuan yang
ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pembangunan individu secara
menyeluruh antara lain aspek kognitif, afektif, psikomotor, mental, emosional,
sosial dan spiritual, oleh karena itu pendidikan jasmani telah diajarkan dari tingkat
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas bahkan di
Perguruan Tinggi.
Usaha untuk meningkatkan pembelajaran dan proses pendidikan jasmani
belum berjalan seperti apa yang diharapkan, hal ini terlihat dari kesulitan siswa
dalam memahami konsep penguasaan teknik dasar olahraga yang dikarenakan
aktivitas belajarnya sangat kurang, sehingga berakibat rendahnya hasil belajar
siswa. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa model pembelajaran yang
digunakan guru masih kurang ideal. Dalam setiap pembelajaran perhatian siswa
kurang terpusat karena materi yang disampaikan kurang menarik dan tidak diolah
secara baik misalnya dalam cabang olahraga atletik yang setiap guru hanya
menitik beratkan pada penilaian hasil bukan proses pembelajarannya, sehingga
dalam belajar siswa tidak menggunakan kesempatan untuk berlatih dan
beraktivitas gerak secara aktif. Hal ini terjadi dalam mata pelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) pada materi lompat tinggi gaya
straddle pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran 2010/2011.
Belum maksimalnya cara atau model pembelajaran atletik disekolah
akan berdampak terhadap rendahnya hasil belajar lompat tinggi di sekolah dengan
commit
to userdan berakibat kurang efektifnya
jumlah peserta didik yang cukup
banyak

3
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

pembelajaran. Disamping banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil


belajar siswa antara lain kurang efektifnya guru Penjasorkes disekolah dalam
membuat

dan

mengembangkan

media

pembelajaran

juga

model-model

pembelajaran yang belum banyak mengenal PAIKEM (pembelajaran aktif,


inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan) membuat proses pembelajaran
pendidikan jasmani khususnya materi lompat tinggi dilaksanakan dalam situasi
monoton.
Dengan adanya upaya peningkatan aktivitas belajar siswa maka akan
dihasilkan sumber daya manusia yang lebih berpotensi dan kompetensi tinggi
sehingga juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Namun perbedaan sumber
daya manusia atau individu seseorang sangat berpengaruh dalam aktivitas belajar
siswa saat kegiatan belajar di sekolah. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Sri
Satiti, S.Pd mengungkapkan sebagian siswanya merasa malas dan bosan saat
pelajaran Penjasorkes. Selain itu kebanyakan siswa beranggapan pelajaran
Penjasorkes adalah pelajaran yang membosankan dan melelahkan. Seperti yang
diungkapkan salah satu siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan yang bernama
Aziz dan beberapa siswa mengungkapkan pelajaran Penjasorkes membosankan
dan cabang olahraganya sangat banyak tetapi tidak pernah ada permainan.
Menanggapi permasalahan tersebut sehingga perlu adanya strategi atau
pendekatan yang dapat membuat anak lebih tertarik dalam pelajaran Penjasorkes.
Dilain pihak, melalui hasil observasi pada siswa kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan tahun pelajaran 2010/2011. Pada mata pelajaran pendidikan jasmani
dalam materi lompat tinggi ketersediaan sarana dan prasarana belum bisa
dioptimalkan untuk pembelajaran lompat tinggi yang efektif. Selain itu siswa
terkadang mengalami kesulitan dalam mempraktikkan teknik gerakan lompat
tinggi. Siswa kurang paham dalam setiap tahap pembelajaran karena kurang
mampu memahami secara penuh teknik gerakan lompat tinggi yang benar seperti
yang dicontohkan. Kombinasi gerakan awalan, tolakan, saat berada di atas mistar
dan saat jatuh atau mendarat belum dapat dipahami oleh siswa, karena siswa
merasa bosan dan kesulitan mengikuti proses pembelajaran yang diberikan oleh
commit to user
guru selama ini.

perpustakaan.uns.ac.id

4
digilib.uns.ac.id

Dalam penyampaian mata pelajaran pendidikan jasmani sebenarnya


banyak metode yang dapat digunakan oleh guru, salah satu adalah model
permainan (gaming). Model permainan (gaming) adalah kegiatan belajar yang
menghendaki siswa berkompetisi atau berlomba baik fisik maupun mental sesuai
dengan aturan permainan yang telah ditetapkan. Dalam model pembelajaran
permainan ini harus ada menang atau kalah.

Karena dunia anak lebih peka

dengan situasi permainan dari pada serius, dan mereka juga akan merasa
tertantang untuk berkompetisi. Didalam pembelajaran disajikan banyak variasivariasi supaya tidak mudah jenuh sebab siswa kerap kali juga cepat bosan dalam
melaksanakan kegiatannya.
Sesuai dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar yang tidak bisa
dipisahkan dari aktvitas bermain, maka pembelajaran lompat tinggi gaya straddle
di Sekolah Dasar juga tidak bisa dipisahkan dari aktivitas bermain dan
disesuaikan dengan kondisi siswa. Perlu diketahui oleh seorang guru bahwa siswa
Sekolah Dasar mempunyai karakter cepat bosan, oleh karena itu dengan
permainan membuat siswa keluar dari kegiatan rutinitas dikelas dan merasa
senang saat pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Selain itu
permainan dapat memberikan siswa peluang agar lebih mengenal materi dalam
suatu hubungan yang baik, untuk jenis pelajaran yang membosankan. Dengan
model permainan ini siswa akan berkompetisi atau berlomba untuk mendapatkan
hasil yang terbaik. Salah satu teori belajar menegaskan bahwa sesulit apapun
materi pelajaran apabila dipelajari dalam suasana yang menyenangkan, maka
pelajaran tersebut akan mudah dipahami.
Berdasarkan uraian pendekatan bermain yang telah diungkapkan diatas
menggambarkan bahwa, model permainan merupakan salah satu model atau
pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan pada materi lompatan tinggi gaya
straddle, namun pencapaian hasil belajar tidak hanya dipengaruhi oleh model
pembelajaran bermain saja, masih ada faktor lain seperti kemampuan kondisi
fisik.
Upaya untuk mengatasi permasalahan dalam pencapaian hasil belajar
commit tomaka
user perlu dikaji dan diteliti lebih
lompat tinggi gaya straddle tersebut,

5
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

mendalam baik secara teoritik maupun praktik melalui Penelitian Tindakan Kelas.
Sebagai subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan Tahun Pelajaran 2010/2011.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, pembelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang telah dilaksanakan di SD Negeri 1
Bangsalan masih banyak kendala yang dihadapi, misalnya siswa kurang senang
dengan pelajaran atletik, siswa tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti pelajaran
dan fasilitas yang terbatas. Disamping hal tersebut model pembelajaran yang
diterapkan oleh guru belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini terlihat dari
ketrampilan gerak, aktivitas belajar yang rendah, serta hasil belajar dan
kemampuan siswa dalam melakukan lompatan yang masih rendah dikarenakan
pembelajaran yang masih monoton. Kondisi-kondisi ini harus diperhatikan dan
perlu ditelusuri faktor-faktor penyebabnya. Berdasarkan masalah yang telah
dikemukakan diatas yang melatar belakangi judul penelitian Optimalisasi
Pembelajaran Dengan Modifikasi Permainan Untuk Meningkatkan Aktivitas dan
Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan Tahun Pelajaran 2010/2011

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas


masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Banyak kendala yang dihadapi dalam pembelajaran lompat tinggi gaya
straddle, pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan Tahun
Pelajaran 2010/2011.
2. Siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran 2010/2011
belum menguasai teknik lompat tinggi gaya straddle dengan benar.
3. Aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle pada siswa Sekolah
Dasar Negeri 1 Bangsalan masih rendah.
4. Model pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan
commit
to user
belum menunjukkan hasil yang
optimal.

6
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

5. Adanya sarana dan prasana belum mendukung hasil belajar lompat tinggi gaya
straddle yang optimal.
6. Belum diketahui efektifitas model pembelajaran bermain terhadap hasil
belajar lompat tinggi lompat tinggi gaya straddle.

C. Pembatasan Masalah

Banyaknya masalah yang muncul dalam penelitian sehingga perlu


dibatasi agar tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pembatasan masalah dalam
penelitian sebagai berikut :
1. Siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan belum menguasai teknik
lompat tinggi gaya straddle dengan benar.
2. Efektifitas pembelajaran dengan modifikasi bermain terhadap hasil belajar
lompat tinggi gaya straddle.
3. Aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle siswa kelas VI Sekolah
Dasar Negeri 1 Bangsalan yang masih rendah.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan

latar

belakang

masalah,

identifikasi

masalah

dan

pembatasan masalah, masalah yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut :


Bagaimanakah penerapan pembelajaran dengan modifikasi permainan dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle pada
siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan

Tahun Pelajaran

2010/2011.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah disampaikan diatas, tujuan


penelitian ini adalah :
commit to user

7
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Ingin mengetahui efektivitas pembelajaran dengan modifikasi permainan


untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle
pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Bangsalan Tahun Pelajaran
2010/2011.

F. Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini selesai, diharapkan mempunyai manfaat sebagai


berikut :
1. Bagi guru pendidikan jasmani dapat dijadikan pedoman untuk menentukan
dan memilih pendekatan pembelajaran yang lebih efektif untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle untuk siswanya.
2. Bagi siswa dapat meningkatkan kemampuan lompat tinggi gaya straddle serta
mendapatkan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan.

commit to user

8
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Hakikat Aktivitas Belajar

a. Pengertian Aktivitas
Aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang. Kegiatan ini
bisa saja dilakukan sekali-sekali, bisa saja dilakukan berkali-kali dan terusmenerus (http://www.wikimu.com). Sedangkan menurut Haditono dkk tahun 1983
(http://uin-suka.info/ ejurnal/ index.php?option=com), aktivitas adalah melakukan
suatu kegiatan tertentu secara aktif. Aktivitas menunjukkan adanya kebutuhan
untuk aktif bekerja atau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
W.J.S Poerwadarminta (1991 : 108) mengatakan bahwa aktivitas adalah
keaktifan, kegiatan, kesibukan kerja atau salah satu kegiatan kerja yang
dilaksanakan ditiap bagian kerja diperusahaan. Sedangkan menurut Oemar
Hamalik (2009: 171) dalam pengajaran modern lebih menitikberatkan kepada
aktivitas sejati, yaitu siswa belajar dengan bekerja untuk memperoleh
pengetahuan, pemahaman, dan aspek-aspek tingkah laku lain, serta dapat
mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat.
Dalam Martinis Yamin (2007: 76) disebutkan bahwa dalam diri siswa
terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Prinsip inilah
yang dapat mengendalikan siswa. Dengan kata lain, untuk dapat mengendalikan
(mengarahkan) siswa, dibutuhkan suatu aktivitas. Dimyati juga menambahkan
bahwa aktivitas pembelajaran siswa dapat merangsang dan mengembangkan bakat
yang dimilikinya, berfikir kritis, dan dapat memecahkan masalah (Martinis, 2007:
77). Sehingga aktivitas siswa sangat berperan dalam pembelajaran.
Siswa belajar aktif ditandai bukan hanya aktif secara fisik tetapi juga
aktif secara mental. Dan biasanyacommit
aktif secara
to usermental inilah yang sangat penting
8

9
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dan utama dalam pembelajaran. Karena dengan aktivitas pembelajaran dapat


tersimpan dalam memori sampai siswa dewasa.
Dari beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan aktivitas
merupakan kegiatan yang dilakukan secara aktif untuk memperoleh pengetahuan,
pemahaman, atau keterampilan lain untuk hidup di masyarakat.

b. Pengertian Aktivitas Belajar


Terdapat kesalahan pengertian yang sering muncul bahwa aktivitas
dalam pembelajaran disamakan dengan menyuruh siswa melakukan sesuatu.
Tetapi aktivitas yang dimaksud itu jika siswa sendiri melakukan sesuatu kearah
perkembangan jasmani dan kejiwaan. Sehingga ia tidak hanya menggunakan
telinga saja tetapi juga mata, tangan, ikut memikirkan, merasakan sesuatu, dan
sebagainya.
Gagne dan Briggs (1979) dalam Martinis Yamin (2007: 83) menjelaskan
rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas yang meliputi 9
aspek guna menumbuhkan aktivitas siswa. Masing masing diantaranya :
1) Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2) Menjelaskan tujuan instruksional ( kemampuan dasar ) kepada siswa
3) Mengingatkan kompetensi prasyarat
4) Memberikan stimulus ( masalah, topik dan konsep) yang akan dipelajari
5) Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya
6) Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran
7) Memberikan umpan balik ( feed back )
8) Melakuakan tagihan-tagihan terhadap siswa berupa tes sehingga kemampuan
siswa selalu terpantau dan terukur
9) Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan di akhir pembelajaran
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah
serangkaian kegiatan yang melibatkan beberapa indra agar memperoleh
commit to user

10
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

pengetahuan , pemahaman , aspek perilaku lain , dan memajukan keterampilan


yang dimiliki.
c. Jenis-Jenis Aktivitas Belajar Siswa
Menurut S. Nasution (1988: 93) yang dikutip H.J. Gino (1998: 52-53)
macam-macam keaktifan belajar siswa antara lain: Visual activities, oral
activitis, listening activities, drawing activities, motor activities, mental activities,
emotional activities.
Sedangkan menurut Getrude M Whipple dalam Oemar Hamalik (2009:
173) membagi 7 kegiatan aktivitas belajar yaitu:
1) Bekerja dengan alat-alat visual
a) Mengumpulkan gambar dan bahan ilustrasi lainnya
b) Mempelajari gambar, streograph slide film, khusus mendengarkan
penjelasan, mengajukan pertanyaan
c) Mengurangi pameran
d) Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang menarik minat, sambil mengamati
bahan visual
e) Memilih alat-alat visual ketika memberikan laporan lisan
f) Menyusun pameran, menulis tabel
g) Mengatur file material yang akan digunakan kelak
2) Ekskursi dan trip
a) Mengunjungi museum, akuarium, dan kebun binatang
b) Mengundang lembaga yang dapat memberikan keterangan dan bahan
c) Menyaksikan demonstrasi, seperti proses produksi di pabrik sabun, proses
penerbitan surat kabar, dan proses penyiaran televisi
3) Mempelajari masalah-masalah
a) Mencari informasi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penting
b) Mempelajari ensiklopedi dan referensi
c) Membawa buku-buku dari rumah dan perpustakaan umum untuk
melengkapi seleksi sekolah
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

11
digilib.uns.ac.id

d) Mengirim surat kepada badan-badan bisnis untuk memperoleh informasi


dan bahan-bahan
e) Melaksanakan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Guidance yang telah
disiarkan oleh guru
f) Membuat catatan-catatan sebagai persiapan diskusi dan laporan
g) Menafsirkan peta, menentukan lokasi-lokasi
h) Melakukan ekperimen, misalnya membuat sabun
i) Menilai informasi dari berbagai sumber, menentukan kebnenaran atas
pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan
j) Mengorganisasi bahan bacaan sebagai persiapan diskusi atau laporan lisan
k) Mempersiapkan dan memberikan laporan-laporan lisan yang menarik dan
bersifat informatif
l) Membuat rangkuman, menulis laporan dengan maksud tertentu
m) Mempersiapkan daftar bacaan yang digunakan dalam belajar
n) Men-skin bahan untuk menyusun subjek yang menarik untuk studi lebih
lanjut.
4) Mengapresiasi literatur
a) Membaca cerita-cerita yang menarik
b) Mendengarkan bacaan untuk kesenangan dan informasi
5) Ilustrasi dan konstruksi
a) Membuat chart dan diagram
b) Membuat blue print
c) Menggambar dan membuat peta, relief map, pictorial map
d) Membuat poster
e) Membuat ilustrasi, peta, dan diagram uuntuk sebuah buku
f) Menyusun rencana permainan
g) Menyiapkan suatu frieze
h) Membuat artikel untuk pameran
6) Bekerja menyajikan informasi
a) Menyarankan cara-cara penyajian informasi yang menarik
commit
to user
b) Mengedit bahan-bahan dalam
buku-buku

12
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c) Menyusun bulletin board secara up to date


d) Merencanakan dan melaksanakan suatu program assembly
e) Menulis dan menyajikan dramatisasi
7) Cek dan tes
a) Mengerjakan informal dan standardized test
b) Menyiapkan tes-tes untuk murid lain
c) menyusun grafik perkembangan

d. Manfaat Aktivitas Belajar


Aktivitas belajar siswa dapat memberikan banyak manfaat. Oemar
Hamalik (2009: 91) menyatakan adanya 8 manfaat aktivitas belajar yaitu:
1) Siswa mencari dan mendapatkan pengalaman sendiri.
2) Dapat mengembangkan seluruh aspek diri siswa.
3) Dapat meningkatkan kerjasama dengan siswa lain.
4) Dapat mengatasi perbedaan individual karena siswa belajar dan bekerja sesuai
dengan minat dan kemampuannya.
5) Menumbuhkan sikap-sikap positif seperti disiplin belajar dan musyawarah.
6) Dapat memupuk kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa yang
bermanfaat dalam pendidikan siswa.
7) Dapat mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis sehingga
pembelajaran dilaksanakan secara realistik dan konkrit.
8) Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih hidup.
Hal ini sesuai pendapat H.J. Gino (1998:52) bahwa, dari semua unsur
belajar, boleh dikatakan keaktifan siswalah prinsip yang terpenting, karena belajar
sendiri merupakan suatu kegiatan. Tanpa adanya kegiatan tidak mungkin seorang
belajar.

commit to user

13
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2. Pendidikan Jasmani

a. Pengertian Pendidikan Jasmani


Pendidikan jasmani adalah terjemahan dari phsysical education yang
digunakan di Amerika. Pengertian dari pendidikan jasmani adalah pendidikan
mengenai fisik dan mental seseorang. Jadi pendidikan adalah proses pengubahan
sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha untuk
mendewasakan anak melalui pengajaran dan pelatihan. Dengan demikian
pendidikan jasmani adalah suatu proses aktivitas jasmani, yang dirancang dan
disusun secara sistematik untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan,
meningkatkan

kemampuan

dan

ketrampilan

jasmani,

kecerdasan

dan

pembentukan watak, serta nilai dan sikap yang positif bagi setiap warga negara
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (Syarifudin dan Muhadi, 1992 : 04).
Sedangkan menurut H.J.S. Husdarta (2009: 18) Penjas adalah proses pendidikan
melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai
tujuan pendidikan.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas
jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
ketrampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap
sportif, dan kecerdasan emosi (Samsudin, 2008: 2). Pendidikan jasmani dapat
didefinisikan sebagai salah satu proses pendidikan, yang ditujukan untuk
mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik (Toho Cholik, Rusli Lutan,
2001: 2). Selain dari berbagai pendapat diatas salah satu definisi pendidikan
jasmani yang patut dikemukakan adalah yang dilontarkan dalam Lokakarya
Nasional tentang Pembangunan Olahraga pada tahun 1981 (Abdul Gafur, 1983: 89) yang dikembangkan oleh penulis (Cholik Mutohir, 1992) dikutip dari Toho
Cholik, Rusli Lutan (2001: 27) adalah sebagai berikut:
.......pendidikan jasmani adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar
dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani, kesehatan dan
kesegaran jasmani, kemampuan dan ketrampilan, kecerdasan dan
perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

14
digilib.uns.ac.id

membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan


Pancasila
Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain, itu
menyamakan pendidikan jasmani dengan setiap usaha atau kegiatan yang
mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building),
kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities) dan
pengembangan keterampilan (skill development). Pengertian ini memberikan
pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang
sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan
tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan
itu tidak mengandung unsur-unsur pembelajaran.

b. Tujuan Pendidikan Jasmani


Jika dicermati secara mendalam perumusan pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan, merupakan bagian dari pendidikan nasional secara
keseluruhan melalui aktivitas jasmani seseorang. Untuk itu seiring dengan tujuan
pendidikan secara umum maka pendidikan jasmani dan olahragapun harus
ditingkatkan, sebab banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui pendidikan
jasmani. Sedangkan untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan, maka
pendidikan jasmani haruslah dilaksanakan dengan baik dan benar dalam instansi
dan lembaga pendidikan. Tujuan utama pengajaran pendidikan jasmani di sekolah
dasar adalah membantu peserta didik agar meningkat keterampilan gerak mereka,
di samping agar mereka merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai
aktivitas (Toho Cholik, Rusli Lutan, 2001: 54).
Pendidikan jasmani merupakan salah satu bagian pendidikan yang
mempunyai peran penting untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Pendidikan jasmani mempunyai manfaat penting bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak, meningkatkan ketrampilan gerak anak, berkembangnya
kecerdasan dan pembentukan watak dan sikap sportif yang semuanya penting
untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional seperti dikemukakan
commit
to user(Samsudin, 2008: 3) antara lain :
tercapainya tujuan pendidikan jasmani
menurut

15
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1) Meletakkan landasan karakter yang dibuat melalui internalisasi nilai dalam


pendidikan jasmani.
2) Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial
dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis dan agama.
3) Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran
pendidikan jasmani.
4) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab,
kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani.
5) Mengembangkan ketrampilan teknis serta strategi berbagai permainan dan
olahraga, aktivitas pengembangan senam, aktivitas, ritmis, akuatik (aktivitas
air).
6) Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan
dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai
aktivitas jasmani.
7) Mengembangkan ketrampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan
orang lain.
8) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi
untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat.
9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat kreatif.
3. Pembelajaran

a. Definisi Pembelajaran
Istilah pembelajaran berasal dari kata instruction, menunjuk pada
kegiatan, yaitu bagaimana peserta didik belajar dan peserta didik mengajar atau
dapat dikatakan proses belajar mengajar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2003: 17) pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau
makhluk hidup belajar. Hal ini juga dikemukakan Wina Sanjaya (2006: 74)
bahwa mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi dari guru
kepada siswa. Selanjutnya menuurut Undang-Undang RI. No 20 tahun 2003
pasal 1 ayat 20 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Berdasarkan pernyataan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa
pengertian pembelajaran yaitu upaya yang direncanakan dan dilakukan untuk
memungkinkan terjadinya kegiatan belajar pada diri warga berguna untuk
mencapai tujuan belajar. Dengan melalui kegiatan pembelajaran, pendekatan
commit
to user
pembelajaran merupakan aspek yang
sangat
penting dan mempunyai hubungan

16
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

fungsional untuk mencapai tujuan instruksional. Untuk itu seorang guru harus
memilih atau menentukan pendekatan pembelajaran mana yang sesuai untuk
pembelajaran yang tepat dan dapat memberikan peluang untuk terjadinya proses
pembelajaran secara efektif dalam kegiatan interaksional. Pembelajaran yang
tepat ditentukan berdasar analisis terhadap hal-hal tertentu. Dengan demikian
kegiatan pembelajaran dengan sendirinya harus memperhatikan faktor-faktor
internal dan eksternal yang merupakan faktor yang penting dalam menentukan
pembelajaran.

b. Ciri-ciri Dalam Pembelajaran


Pembelajaran

merupakan suatu proses

kegiatan menyampaikan

informasi atau pengetahuan dari seorang guru kepada siswa. Berdasar hal tersebut,
maka dalam pembelajaran terdapat ciri-ciri tertentu.
Ciri-ciri pembelajaran pada dasarnya merupakan tanda-tanda upaya guru
mengatur unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran, sehingga dapat mengaktifkan
siswa dalam kegiatan belajar mengajar agar terjadi proses belajar dan tujuan
belajar dapat tercapai. Menurut H.J Gino (1998: 36) menyatakan, ciri-ciri
pembelajaran terletak pada adanya unsur-unsur dinamis dalam proses belajar
siswa yaitu (1) motivasi belajar, (2) bahan belajar, (3) alat bantu belajar, (4)
suasana belajar dan (5) kondisi subyek belajar.
Berdasarkan

pendapat

tersebut

menunjukkan

bahwa,

ciri-ciri

pembelajaran terdiri dari lima macam yaitu, motivasi belajar, bahan belajar, alat
bantu belajar, suasana belajar, dan kondisi siswa belajar. Ciri-ciri pembelajaran
tersebut harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar. Secara singkat ciri-ciri
pembelajaran dijelaskan sebagai berikut:
1) Motivasi belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar bila seorang siswa tidak dapat
melakukan tugas pembelajaran, maka perlu dilakukan upaya untuk
menemukan sebab-sebabnya dan kemudian mendorong siswa tersebut mau
melakukan tugas ajar dari guru.dengan kata lain siswa tersebut perlu diberi
commit
user
rangsangan agar tumbuh motivasi
padatodirinya.

17
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Motivasi

dapat

dikatakan

sebagai

serangkaian

usaha

untuk

menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin


melakukan sesuatu dan bila tidak suka, maka akan berusaha untuk
mengelakkan perasaan tidak suka tersebut. Jadi motivasi dapat dirangsang
oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu tumbuh dalam diri seseorang. Dalam
kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak didalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar yang
menjalin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga
tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai.
2) Bahan belajar
Bahan belajar merupakan isi dalam pembelajaran. Bahan atau materi
belajar perlu berorientasi pada tujuan yang akan dicapai siswa dan
memperhatikan karakteristik siswa agar dapat diminati siswa.
Bahan pengajaran merupakan segala informasi yang berupa fakta,
prinsip

dan

konsep

yang

diperlukan

untuk

mencapai

tujuan

pembelajaran.selain bahan yang berupa informasi, maka perlu diusahakan isi


pengajaran dapat merangsang daya cipta atau yang bersifat menantang agar
menumbuhkan dorongan pada diri siswa untuk menemukan atau memecahkan
masalah yang dihadapi dalam pembelajaran.
3) Alat bantu belajar
Alat bantu belajar atau media belajar merupakan alat-alat yang dapat
membantu siswa belajar untuk mencapai tujuan belajar. Alat bantu
pembelajaran adalah semua alat yang digunakan dalam kegiatan belajar
mengajar dengan maksud menyampaikan pesan dari guru kepada siswa. Guru
harus berusaha agar materi yang disampaikan atau disajikan mampu diserap
dengan mudah oleh siswa. Apabila pengajaran disampaikan dengan bantuan
alat-alat yang menarik, maka siswa akan merasa senang dan pembelajaran
dapat berlangsung dengan baik.
4) Suasana belajar
Suasana belajar sangat penting dan akan berpengaruh terhadap
commit to user
pencapaian tujuan pembelajaran.suasana
belajar akan berjalan dengan baik,

perpustakaan.uns.ac.id

18
digilib.uns.ac.id

apabila terjadi komunikasi dua arah yaitu antara guru dengan siswa.
Disamping itu juga, adanya kegairahan dan kegembiraan belajar. Suasana
belajar mengajar akan berlangsung dengan baik, dan isi pelajaran disesuaikan
dengan karakteristik siswa, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan
baik.
5) Kondisi siswa yang belajar
Siswa atau anak memiliki sifat yang unik atau sifat yang berbeda,
tetapi juga memiliki kesamaan yaitu memiliki langkah-langkah perkembangan
dan memliki potensi yang perlu diaktualisasikan melalui pembelajaran.
Dengan kondisi siswa yang demikian akan dapat berpengaruh pada partisipasi
siswa dalam proses belajar. Untuk itu, kegiatan pengajaran lebih menekankan
pada peranan dan partisipasi siswa bukan peran guru yang dominan, tetapi
lebih berperan sebagai fasilitator, motivator, dan sebagai pembimbing.

c.

Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan


(PAIKEM)
PAIKEM adalah suatu akronim yang digunakan dalam konteks

pembelajaran. Akronim sejenis yang digunakan yakni ASIK yang berarti Aktif,
Senang, Inovatif dan Kreatif. Secara umum memang dikenal dengan sebutan
PAKEM yakni Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Tetapi
seiring dengan perkembangannya ditambah dengan pengembangan dari
pembelajaran kreatif yakni pembelajaran yang inovatif. Dan sekarang lebih
dikenal dengan PAIKEM yaitu Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan.
Adapun maksud dari masing-masing kata PAIKEM menurut Suparlan
dkk, (2008: 70) yaitu :
1) Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus
menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif
mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan memecahkan
masalah.
2) Inovatif yaitu guru harus menciptakan kondisi belajar dan kegiatan
pembelajaran yang baru sesuai tuntutan dan perkembangan pendidikan.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

19
digilib.uns.ac.id

3) Kreatif yaitu guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga


memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
4) Efektif yaitu menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses
pembelajaran yakni mencapai tujuan/kompetensi yang ditetapkan.
5) Menyenangkan yaitu guru harus mampu menciptakan suasana belajarmengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya
tinggi.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa dituntut untuk mandiri dan aktif
dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan guru bertugas sebagai motivator dan
fasilitator. Setiap kegiatan yang dilakukan siswa selalu dipantau dan setiap
kesulitan yang dihadapi siswa memberi selalu memberi solusi.
Secara garis besar Suparlan, dkk (2008: 71) menggambarkan PAIKEM
sebagai berikut:
1) Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan
pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar
melalui berbuat.
2) Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan
semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi
siswa.
3) Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
4) Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasan dan
melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
Berdasarkan pendapat tersebut menggambarkan bahwa PAIKEM
diantara guru dan siswa merupakan hubungan timbal balik. Guru berusaha
merancang pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus aktif dalam kegiatan
belajar-mengajar. Dengan kata lain, antara guru dan siswa terjalin koordinasi
pembelajaran yang interaktif dan setiap kegiatan yang dilakukan siswa selalu
dipantau oleh guru.
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
(PAIKEM) merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

20
digilib.uns.ac.id

Suparlan, dkk (2008: 74) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan PAIKEM yaitu :
1) Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi.
Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi perkembangan sikap
berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu
lahan yang harus diolah guru sehingga subur bagi perkembangan kedua
sifat tersebut.
2) Mengenal anak secara perorangan
Masing masing siswa/anak berasal dari lingkungan keluarga yang
bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM
perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam
kegiatan pembelajaran. Dengan mengenal kemampuan anak, guru dapat
membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak menjadi
optimal.
3) Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam
pengorganisasian belajar. Dengan duduk berkelompok akan
memudahkan mereka untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran
dalam menyelesaikan tugasnya.
4) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif dan kemampuan
memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Kemampuan
berpikir kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan
alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut berasal dari
rasa ingin tahu dan berimajinasi oleh karena itu tugas guru adalah
mengembangkannya dengan sering-sering memberikan tugas atau
mengajukan pertanyaan yang terbuka.
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik.
Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajang untuk dapat memberi motivasi
siswa bekerja lebih baik lagi dan menimbulkan inspirasi bagi siswa
lainnya. Dan juga dapat dijadikan rujukan bagi guru ketika membahas
suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) sebagai bahan dan sumber
belajar perlu dimanfaatkan oleh guru, agar anak menjadi lebih senang,
dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati,
mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi,
membuat tulisan, membuat gambar dan lainnya.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan
belajar
Umpan balik merupakan interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik
hendaknya lebih mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa
commit to user

21
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dan diberikan secara santun untuk menanamkan rasa percaya diri. Guru
harus konsisten memeriksa dan memberikan hasil pekerjaan siswa.
8) Membedakan antara aktif fisikal dan aktif mental
Aktif mental lebih diutamakan daripada aktif secara fisikal. Hal ini
dimaksudkan untuk menimbulkan keberanian dari siswa. Guru
hendaknya mampu menghilangkan perasaan penyebab rasa takut
tersebut.
Hal-hal di atas jika diperhatikan dengan baik maka akan memberi
peluang Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
(PAIKEM) akan berhasil. Ciri-ciri PAIKEM berhasil, Menurut Suparlan, dkk
(2008: 95) adalah aktif, kritis, kreatif, kematangan emosional sosial meningkat,
produktif dan siap menghadapi perubahan. Dan tidak diragukan lagi jika
PAIKEM benar-benar dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya maka tujuan
pendidikan seperti apa yang diharapkan dalam Undang-Undang yakni membentuk
watak dan mengembangkan potensi anak didik akan tercapai.

d. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan dapat diartikan sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk
mendekati sesuatu. Sedangkan pembelajaran merupakan kegiatan mengatur faktor
eksternal dalam suatu kegiatan belajar yang menjaga dan mendorong tercapainya
tujuan pengajaran. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses
membuat orang belajar atau memanipulasi lingkungan sehingga memberikan
kemudahan kepada orang lain untuk belajar. Berkaitan dengan pembelajaran,
Sukintaka (1992: 55) menyatakan, pembelajaran mengandung pengertian,
bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi disamping
itu juga terjadi peristwa bagaimana peserta didik mempelajarinya.
Jadi didalam pembelajaran terjadi dua kejadian secara bersama yaitu (1)
ada satu pihak yang memberi, dalam hal ini guru atau pelatih, (2) pihak lain yang
menerima yaitu, peserta didik atau siswa. Dengan demikian dalam peristiwa
pembelajaran dapat dikatakan terjadi proses interaksi edukatif antara guru dan
siswa.
commit to user

22
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Dalam kegiatan pembelajaran, pendekatan pembelajaran merupakan


aspek yang sangat penting, dan mempunyai hubungan fungsional untuk mencapai
tujuan instruksional. Untuk itu seorang guru harus memilih dan menentukan
pendekatan yang tepat dan dapat memberikan peluang untuk terjadinya proses
pembelajaran secara efektif dalam kegiatan interaksional.
Pendekatan pembelajaran yang tepat ditentukan berdasarkan analisis
terhadap hal-hal tertentu. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dengan
sendirinya harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang
merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pendekatan
pembelajaran. Berkaitan dengan pendekatan pembelajaran Wahjoedi (1999: 121)
menyatakan bahwa, pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan
belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga
dapat meperoleh hasil belajar secara optimal.
Berdasarkan

pendapat

tersebut

menunjukan

bahwa,

pendekatan

pembelajaran adalah cara kerja yang mempunyai system tertentu untuk


memudahkan pelaksanaan proses proses pembelajaran dengan membelajarkan
siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4.

Bermain

a. Pengertian Bermain
Bermain sangat disukai oleh anak karena sifat dari bermain sendiri
menyenangkan. Yudha M. Saputra (2001:6) menyatakan bermain adalah
kegiatan yang menyenangkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:
698) bahwa bermain adalah melakukan sesuatu untuk bersenang-senang.
Sedangkan menurut Agus Mahendra (2004: 4) yaitu bermain adalah dunia anak,
sambil bermain mereka belajar, dalam belajar, anak-anak adalah ahlinya.
Selanjutnya menurut M. Furqon (2008: 4) menyatakan bahwa:
Bermain adalah aktifitas yang menyenangkan, serius dan sukarela, di
mana anak berada dalam dunia yang tidak nyata atau sesungguhnya.
Bermain bersifat menyenangkan
commitkarena
to useranak diikat oleh sesuatu hal yang
menyenangkan, dengan tidak banyak memerlukan pemikiran. Bermain

perpustakaan.uns.ac.id

23
digilib.uns.ac.id

juga bersifat serius karena bermain memberikan kesempatan untuk


meningkatkan perasaan anak untuk menguasai sesuatu dan memunculkan
rasa untuk menjadi manusia penting. Bermain bersifat tidak nyata karena
anak berada di luar kenyataan, dengan memasuki suatu dunia imajiner.
Bermain memberikan suatu arena di mana anak masuk dan terlibat untuk
menghilangkan dirinya, namun secara berlawanan asas anak kadangkadang menemukan dirinya dari bermain.
Bermain memberikan suatu arena dimana anak masuk dan terlibat untuk
menghilangkan dirinya, namun secara berlawanan asas anak kadang-kadang
menemukan dirinya dari bermain. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa aktifitas siswa yang dilakukan dengan rasa senang dan mempunyai tujuan
pengembangan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga melalui bermain
dapat memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga untuk siswa.
Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemenelemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya. Bermain pada intinya
adalah aktivitas yang digunakan sebagi hiburan (Husdarta, 2009: 6). Dilain pihak
olahraga adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan,
dan ketiganya dapat menjadi satu secara pas dalam konteks pendidikan jika
digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan.
Siswa dan bermain merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Bermain bagi siswa merupakan kebutuhan hidup seperti halnya
kebutuhan akan makan, minum, tidur dan lain-lain. Melalui bermain anak dapat
mengaktualisasikan diri dan mempersiapkan diri untuk menjadi dewasa. Seperti
halnya atletik adalah nuansa permainan menyediakan pengalaman gerak yang
kaya yang membangkitkan motivasi pada siswa untuk berpartisipasi. Menurut
Yudha M. Saputra (2001: 9-10) kegiatan atletik bernuansa permainan
mengandung beberapa ciri sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Siswa terlibat dalam tugas gerak yang bervariasi dengan irama tertentu.
Mengakibatkan kegemaran berlomba atau bersaing secara sehat.
Menyalurkan hasrat siswa untuk mencoba menggunakan alat-alat berlatih.
Tugas gerak yang mengandung resiko yang sepadan dengan kemampuan
siswa dan menjadi tantangan.
commit
to user tugas-tugas gerak yang baru.
5) Menguji ketangkasan untuk
melaksanakan

24
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Dari pengertian diatas ditarik kesimpulan yang dimaksud bermain adalah


dunia anak yang menjadi aktivitas jasmani dengan cara melakukan sesuatu untuk
bersenang-senang.
b. Fungsi Bermain
Anak yang bermain akan melakukan aktivitas bermain dengan sukarela
dan akan melakukan aktivitas bermain tersebut dengan kesungguhan, demi untuk
memperoleh kesenangan dari aktivitas tersebut. Menurut Sukintaka (1992: 7)
bermain dengan rasa senang, untuk memperoleh kesenangan, kadang
memerlukan kerjasama dengan teman, menghormati lawan, mengetahui
kemampuan lawan, patuh pada peraturan, dan mengetahui kemampuan dirinya.
Selanjutnya menurut Yudha M. Saputra (2001:6) dengan bermain dapat
memberikan pengalaman belajar sangat berharga bagi siswa. Selain itu kegiatan
bermain dapat meningkatkan siswa dengan sasaran aspek yang dapat
dikembangkan menurut lima aspek. Aspek-aspek tersebut adalah:
1) Manfaat bermain untuk perkembangan fisik
2) Manfaat bermain untuk perkembangan motorik
3) Manfaat bermain untuk perkembangan sosial
4) Manfaat bermain untuk perkembangan emosional
5) Manfaat bermain untuk perkembangan ketrampilan olahraga
c. Dorongan Dasar Anak Dalam Bermain
Dorongan dasar bagi anak sangat penting terutama anak dalam masa
pertumbuhan maupun perkembangan. Menurut Agus Mahendra (2004: 8)
dorongan dasar adalah suatu keinginan untuk melakukan dan menghasilkan
sesuatu. Semua anak memiliki perasaan seperti ini yang kemungkinan besar
merupakan sifat keturunan atau pengaruh lingkungan. Dorongan dasar dikaitkan
dengan pengaruh masyarakat, guru, orang tua dan teman-teman sendiri. Biasanya
dorongan besar akan berpola sama pada setiap anak dan tidak dipengaruhi oleh
sifat kematangan.
commit to user

25
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Selanjutnya menurut Agus Mahendra (2004: 8-9) dorongan tersebut


niscaya mengarahkan pengembangan kurikulum pendidikan jasmani dan untuk
menciptakan program yang sesuai dengan sifat-sifat anak. Dorongan-dorongan
tersebut adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Dorongan untuk bergerak


Dorongan untuk berhasil dan mendapatkan pengakuan.
Dorongan untuk mendapatkan pengakuan teman dan masyarakat.
Dorongan untuk bekerja sama dan bersaing.
Dorongan untuk kebugaran fisik dan daya tarik.
Dorongan untuk bertualang.
Dorongan untuk kepuasan kreatif.
Dorongan untuk menikmati irama.
Rusli Lutan dan Adang Suherman (2000: 35-36) menyatakan, manakala

guru menyadari bahwa rendahnya kualitas permainan disebabkan oleh rendahnya


kemampuan skill, maka guru mempunyai beberapa pilihan sebagai berikut:
1)
2)

3)

Guru dapat terus melanjutkan aktivitas permainan untuk beberapa lama


sehingga siswa menangkap gagasan umum permainan yang dilakukannya.
Guru dapat kembali pada tahapan belajar yang lebih rendah dan
membiarkan siswa berlatih mengkombinasikan keterampilan tanpa tekanan
untuk menguasai strategi.
Guru dapat merubah keterampilan pada level yang lebih simpel dan lebih
dikuasai sehingga siswa dapat konsentrasi belajar strategi bermain.
Petunjuk seperti di atas harus dipahami dan dimengerti oleh seorang

guru. Jika dalam pelaksanaan permainan kurang menarik dan peranan siswa
dalam pembelajaran permainan tersebut kurang optimal karena teknik yang masih
rendah, maka seorang guru harus dengan segera mampu mengatasinya. Selama
pembelajaran berlangsung seorang guru harus mencermati kegiatan pembelajaran
sebaik mungkin. Guru selalu memberikan semangat atau motivasi untuk semua
siswa untuk berusaha sebaik mungkin supaya tidak banyak mengalami kesulitan
dan kesalahan dalam teknik gerakan maupun tujuan pembelajaran. Kesalahankesalahan yang dibiarkan selama pembelajaran berlangsung akan mengakibatkan
tujuan pembelajaran tidak tercapai.

commit to user

26
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

5. Lompat Tinggi

a. Pengertian Lompat Tinggi


Lompat tinggi adalah suatu gerakan yang diawali dengan lari, menolak,
melayang untuk melewati mistar dan mendarat. Berkaitan dengan lompat tinggi
Aip Syarifudin (1992: 106) menyatakan lompat tinggi adalah suatu bentuk
gerakan melompat keatas dengan cara mengangkat kaki kedepan keatas dalam
upaya membawa titik berat badan setinggi mungkin dan secepat mungkin jatuh
(mendatar) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan
pada salah satu kaki untuk mencapai suatu ketinggian tertentu. Menurut
Mochamad Djumidar A. Widya (2004: 85) lompat tinggi adalah suatu rangkaian
gerakan untuk mengangkat tubuh keatas dengan melalui proses lari, menumpu,
melayang, dan mendarat.
Berdasarkan pengertian lompat tinggi yang dikemukkan dua ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa, lompat tinggi merupakan suatu gerakan yang
diawali dengan lari, menumpu dan menolak dengan menggunakan salah satu kaki
setingi-tingginya untuk melewati mistar yang telah dipasang diatas penompang
tiang lompat dengan gaya tertentu.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Lompat tinggi
Dalam cabang olahraga lompat tinggi tujuan utama adalah mencapai
lompatan yang setingi-tingginya. Untuk mencapai lompatan yang setinggitingginya dipengaruhi oleh banyak faktor. Unsur-unsur dasar dalam prestasi
lompat tinggi tersebut adalah, (1) faktor-faktor kondisi: perkembangan khusus
dan tenaga lompat yang mutlak, perasaan irama, ketrampilan reaksi dan gerakan
bagi lebarnya langkah serta penyebaran. (2) faktor-faktor teknik : dalam
hubungannya dengan perkembangan kondisi, pengambilan secara tuntas fase-fase
gerakan yang sangat penting (ancang-ancang, persiapan lompatan dan
pemindahan, perjalanan dengan bilah dan dan pendaratan. Menurut Aip
Syarifudin dan Muhadi (1992: 76) bahwa, untuk dapat mencapai hasil lompatan
commit to user

27
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

yang setinggi-tingginya (optimal), selain memiliki kecepatan, ketepatan,


kekuatan, kelentukan dan koordinasi gerakan, juga harus menguasai tekniknya.
Berdasarkan dua pendapat tersebut menunjukan bahwa, untuk mencapai
prestasi lompat tinggi dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik dan faktor teknik
melompat. Ditinjau dari kondisi fisik, unsur-unsur yang mendukung dalam lompat
tinggi adalah daya ledak, kecepatan, kekuatan, kelincahan, koordinasi dan
kelentukan. Ditinjau dari segi teknik lompat tinggi meliputi awalan, menumpu
untuk menolak, sikap badan diatas mistar dan pendaratan. Dari kedua faktor
tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mencapai prestasi
lompat tinggi seoptimal mungkin.
c. Pengertian Lompat Tinggi Gaya Straddle
Dalam lompat tinggi terdapat beberapa macam gaya atau cara melompat.
Hal ini dapat diamati dari sikap tubuhnya pada waktu melewati mistar. Dengan
menggunakan salah satu cara melompat dimaksudkan agar dapat melewati mistar
setinggi-tingginya. Sikap tubuh saat melewati mistar dalam lompat tinggi penting
sekaliagar dapat membawa atau mengangkat titik berat badan yang setinggitingginya.
Salah satu gaya lompat tinggi yang popular dan masih diajarkan
disekolah adalah gaya straddle. Lompat tinggi gaya straddle atau the western rool
style mulai dikenal sejak tahun 1930 yang pertama kali diperkenalkan oleh Jim
Stewart dari Amerika Serikat.
Lompat tinggi gaya straddle sering juga disebut dengan lompat tinggi
gaya kangkang karena pada saat melewati mistar berposisi kangkang. Dalam
perkembangannya gaya straddle lebih cepat tersebar keberbagai Negara termasuk
Indonesia. Lompat tinggi gaya straddle ini memberikan beberapa keuntungan jika
dibandingkan dengan gaya gunting dan guling sisi. Tamsir Riyadi (1985: 81)
menyatakan bahwa secara teknis lompat tinggi gaya straddle memiliki beberapa
keuntungan karena:
1) Berat tubuh dapat dibawa keatas dengan segera.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

28
digilib.uns.ac.id

2) Saat diatas mistar sikap tubuh tidur telungkup, sehingga jarak antara titik
berat badan dengan mistar relatif kecil atau dekat.
3) Gerakan kangkang saat melewati mistar merupakan gerakan yang wajar,
mudah dilakukan dan tidak banyak menuntut tenaga.
4) Saat diatas mistar pelompat sempat melihat mistar, sehingga dapat
mengendalikan gerakan yang perlu saja.
Banyaknya kentungan yang dimiliki dari gaya straddle ini, sehingga
cepat berkembang jika dibandingkan dengan gaya guling sisi atau gaya gunting.
Dan bahkan hampir diduga gaya ini merupakan gaya terakhir dari gaya lompat
tinggi. Namun dugaan itu belum tepat karena pada tahun 1986 diciptakan gaya
lompat tinggi baru yang diciptakan oleh Richard Fusbury Flop dan kemudian
disebut dengan gaya Flop. Dengan demikian gaya straddle merupakan gaya yang
efektif kedua untuk mencapai lompatan tertinggi dalam lompat tinggi.
d. Teknik Pelaksanaan Lompat Tinggi Gaya Straddle
Teknik merupakn rangkuman metode yang digunakan dalam melakukan
gerakan dalam suatu cabang olahraga. Teknik juga merupakan suatu proses
gerakan dan pembuktian dalam suatu cabang olahraga. Atau dengan kata lain,
teknik merupakan pelaksanaan suatu kegiatan secara efektif dan rasional yang
hasil yang optimal dalam latihan atau pertandingan.
Dalam lompat tinggi terdapat beberapa macam gaya atau cara melompat,
yaitu bila dilihat dari sikap tubuhnya pelompat pada waktu melewati mistar yang
dipasang pada saat ketinggian tertentu. Dipilihnya atau digunakanya salah satu
mistar yang setinggi-tingginya. Sikap tubuh dalam melewati mistar lompat tinggi
penting sekali diperhatikan agar dapat membawa atau mengangkat titik berat
badan setinggi-tingginya.
Berdasarkan sikap tubuh diatas mistar tersebut, maka dalam peaksanaan
lompat tinggi dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu, lompatan secara
gunting dan lompatan secara guling (Aip Syarifudin, 1992: 107). Lompatan secara
gunting yaitu, pelompat melakukan tolakan dengan kaki yang terjauh dari mistar,
sedangkan pada lompatan secaracommit
guling,topelompat
melakukan lompatan dengan
user

29
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

kaki yang terdekat dengan mistar. Namun pada dasarnya teknik daras lompat
tinggi tersebut adalah sama yang terdiri dari awalan, tolakan, sikap badan diatas
mistar dan pendaratan. Aip Syarifudin (1992: 107) menyatakan, teknik
pelaksanaan lompat tinggi terdiri dari empat bagian yaitu: (1) awalan atau
ancang-ancang (approach run), (2) tolakan atau take off, (3) sikap badan diatas
mistar (clearance of the bar) dan (4) sikap mendarat atau sikap jatuh (landing).
Untuk lebih jelasnya teknik pelaksanaan lompat tinggi gaya straddle diuraikan
secara singkat sebagai berikut:
1) Awalan atau Ancang-Ancang (Aproach Run)
Arah awalan pada lompat tinggi gaya straddle dengan sudut antara 350
sampai 450 terhadap letak mistar. Panjang awalan atau jarak awalan
tergantung dari masing-masing pelompat, menyesuaikan ketinggian mistar.
Seperti dikemukakan Syarifudin dan Muhadi (1992: 77) bahwa, pengambilan
awalan dalam lompat tinggi biasanya dengan menggunakan langkah misalnya
3 langkah, 5 langkah, 7 langkah dan seterusnya sesuai dengan ketinggian
mistar yang akan dilompatinya. Kecepatan awalan dalam lompat tinggi
biasanya dilakukan secara berangsur-angsur, artinya mulai dari pelan makin
lama makin cepat.
Pada dasarnya jarak awalan dalam lompat tinggi menyesuakan
ketinggian mistar. Hal terpenting yaitu, pada tiga atau empat langkah terakir
saat akan melakukan tolakan langkah harus lebih panjang dan cepat serta
badan agak direndahkan dan agak dicondongkan kebelakang. Agar selalu
bertumpu pada titik tumpu yang tepat dianjurkan menggunakan tanda atau
check mark. Kalau tumpuan dilakukan dengan kaki kiri, maka awalan
dilakukan dari sebelah kiri bak lompat. Untuk lebih jelasnya berikut ini
disajikan ilustrasi awalan lompat tinggi gaya straddle sebagai berikut:

commit to user

30
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Gambar 1. Awalan Lompat Tinggi Gaya Straddle


(Soenaryo Basoeki, 2000: 29)
2) Tolakan (Take Off)
Tolakan adalah perpindahan gerakan dari gerakan horisontal kearah
vertikal yang dilakukan secara cepat. Tolakan kaki tumpu harus kuat agar
menghasilkan gerakan naik yang maksimal. Untuk mencapai hal tersebut, maka
langkah terakir agak lebar dengan sikap badan agak mengadah disertai gerakan
ayunan ke atas untuk membantu mengangkat titik berat badan lebih tinggi.
Sikap badan yang agak mengadah menyebabkan sudut tumpuan yang
besar sehingga akan mempermudah gerakan mengayun kaki yang juga
membantu gerakan keatas. Gerakan kaki ayun dalam keadaan lurus tetapi tidak
kaku. Setelah kaki kanan diayunkan keatas dan badan terangkat dengan kaki
tumpu lepas dari tanah, kaki ayun tidak lurus lagi. Ayunan kaki lebih tinggi dari
kepala dan melewati mistar lebih dulu dari bagian badan yang lain. Agar
diusahakan lengan kiri tidak sampai menyentuh mistar. Untuk lebih jelasnya
berikut ini disajikan ilustrasi gerakan tolakan atau menumpu pada saat lompat
tinggi gaya straddle sebagai berikut:

Gambar 2. Tolakan Lompat Tinggi Gaya Straddle


commit
to user2000: 30)
(Soenaryo
Basoeki,

31
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3) Sikap Badan Di Atas Mistar (Clearance Of The Bar)


Sikap badan diatas mistar sangat erat kaintannya dengan sudut awalan
pada waktu akan melakukan tolakan. Setelah mencapai titik tinggi
maksimum badan diputar ke kiri penuh (bertumpu kaki kiri) dengan kepala
mendahului melewati mistar, perut dan dada menghadap ke bawah. Kaki
tumpuan yang semula bergantung, ditarik dalam sikap kangkang. Pada saat
ini kaki kanan sudah turun dan tangan bersiap-siap membantu pendaratan.
Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan ilustrasi sikap badan diatas mistar
lompat tinggi gaya straddle sebagai berikut:

Gambar 3. Sikap Badan Diatas Mistar Lompat Tinggi Gaya Straddle


(Soenaryo Basoeki, 2000: 31)
4) Sikap Mendarat (Landing)
Sikap mendarat merupakan fase terakir dalam lompat tinggi. Jika
tempat pendaratan dari karet busa yang tebal, maka pendaratan langsung jatuh
pada punggung. Tetapi kalau tempat pendaratan bak pasir, pendaratan
dilakukan dengan kaki kanan (kaki ayun) dan dabantu oleh kedua tangan.
Kalau badan terpaksa dijatuhkan, terlebih dahulu pundak bagian kanan
dilanjutkan berguling. Yang terpenting dalam lompat tinggi adalah
berhasilnya melampaui mistar. Pendaratan tidak jadi masalah, bagaimanapun
caranya asal tidak menimbulkan bahaya bagi pelompat. Untuk lebih jelasnya
commit to user

32
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

berikut ini disajikan ilustrasi gerakan mendarat lompat tinggi gaya straddle
sebagai berikut:

Gambar 4. Pendaratan Lompat Tinggi Gaya Straddle


(Aip Syarifudin, 1992: 113)

B.

Kerangka Berfikir

Berdasarkan kajian teori yang dikemukakan di atas maka dapat disusun


suatu kerangka pemikiran. Pada awal pembelajaran guru yang masih
menggunakan menggunakan pembelajaran konvensional menjadikan siswa lebih
mudah bosan dan informasi yang disampaikan sulit diserap oleh siswa serta tidak
merangsang aktivitas dan partisipasi siswa. Guru lebih menekankan pada
terselesainya materi pelajaran daripada tingkat kemampuan siswa dalam
memahami materi, komunikasi pembelajaran hanya satu arah sehingga membuat
keaktifan siswa kurang dalam pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran merupakan suatu cara yang diterapkan seorang
guru untuk memberikan materi pelajaran dengan cara-cara tertentu yang efektif
agar materi pelajaran dapat diterima atau dikuasai dengan baik oleh siswa. Banyak
pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar
commit to user

33
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

siswa, diantaranya dengan pendekatan bermain. Pendekatan bermain dapat


diterapkan dalam semua cabang olahraga termasuk lompat tinggi.
Pembelajaran lompat tinggi dengan pendekatan bermain merupakan cara
belajar, dimana tugas ajar yang diberikan disajikan dalam bentuk permainan.
Dalam hal ini teknik-teknik lompat tinggi dipelajari melalui bentuk permainan.
Permainan untuk lompat tinggi telah dikonsep oleh guru. Konsep permainan
lompat tinggi dapat menggunakan alat bantu pembelajaran atau tanpa alat bantu
yang mengarah pada pola gerakan lompat tinggi.
Maksud dan tujuan pembelajaran lompat tinggi dengan pendekatan
bermain adalah untuk memenuhi hasrat gerak anak, dapat menimbulkan rasa
senang dan gembira, meningkatkan hasil belajar juga aktivitas siswa. Disamping
itu juga, melalui pendekatan bermain siswa dituntut untuk memiliki kreatif dan
inisiatif untuk dapat melakukan tantangan dari permainan tersebut. Kemampuan
siswa untuk memahami konsep permainan, dapat meningkatkan penguasaan
teknik lompat tinggi. Dengan menguasai teknik lompat tinggi diharapkan siswa
dapat melakukan lompat tinggi gaya straddle dengan benar dan aktivitas serta
hasil belajar siswa dapat meningkat.
Berdasarkan ciri-ciri dari pendekatan bermain tersebut menunjukan
bahwa, pendekatan bermain merupakan metode pembelajaran yang dapat
memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak. Pengaruh yang ditimbulkan
dari pendekatan bermain bersifat menyeluruh baik fisik, teknik maupun sosial.
Dengan demikian diduga pendekatan bermain memiliki pengaruh terhadap
peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar lompat tinggi. Dari pemikiran di
atas dapat digambarkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut:

commit to user

34
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Kondisi awal
Pembelajaran
Konvensional

Tindakan

Aktivitas dan hasil


belajar Lompat
Tinggi rendah

Pembelajaran dengan modifikasi


permainan

Siklus I
Dengan target, aktivitas
dan hasil belajar siswa
dapat meningkat
mencapai 60%

Kondisi akhir

Siklus II
Dengan target, aktivitas
dan hasil belajar siswa
dapat meningkat
mencapai 70%

Aktivitas belajar lompat tinggi meningkat


sehingga hasil belajar siswa juga meningkat

Gambar 5. Kerangka Berpikir


C. Perumusan Hipotesis
Melalui kerangka pemikiran yang telah disusun sebelumnya maka dapat
dirumuskan hipotesis terhadap penelitian adalah sebagai berikut:
Optimalisasi

pembelajaran

dengan

modifikasi

permainan

untuk

meningkatkan aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya stradlle pada siswa
kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan tahun pelajaran 2010/2011

commit to user

35
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1) Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 1
Bangsalan, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.
2) Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan mulai bulan Juni sampai
Agustus 2010.
3) Siklus (Penelitian Tindakan Kelas) PTK
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan pada dua siklus untuk melihat
peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran
lompat tinggi melalui pendekatan bermain.
Tabel 1. Rincian Kegiatan Waktu dan Jenis Kegiatan
No

Rencana Kegiatan

Persiapan
a. Observasi
b. Identifikasi Masalah
c. Penentuan Tindakan
d. Pengajuan Judul
e. Penyusunan Proposal
f. Pengajuan Ijin Penelitian
Pelaksanaan
a. Seminar Proposal
b. Pengumpulan data
penelitian dan pelaksanaan
tindakan
Penyusunan Laporan
a. Penulisam Laporan

Mar
2010

Apr
2010

Waktu (Bulan)
Mei Juni Juli
2010 2010 2010

Agt
2010

Sep
2010

commit to user
35

36
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

B. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Persiapan sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dan
dibuat berbagai instrumental yang akan dikenakan untuk memberikan perlakuan
dalam PTK, yaitu:
1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Dengan Kompetensi Dasar mempraktekan gerakan lompat tinggi gaya
straddle dengan menggunakan peraturan-peraturan yang sesungguhnya serta
nilai kerjasama, kejujuran, semangat, dan percaya diri.
2) Perangkat Pembelajaran yang berupa: lembaran pengamatan siswa berupa
lembaran penilaian dan lembaran Observasi
3) Dalam persiapan juga akan diurutkan siswa sesuai absen namun saat penilaian
dibagi kelompok putra dan putri.
C. Subyek Penelitian
Subyek Penilaian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas VI Sekolah
Dasar Negeri I Bangsalan tahun pelajaran 2009/ 2010, yang berjumlah 18 siswa.
Dengan komposisi siswa putra 9 anak dan siswa putri 9 anak.
D. Sumber Data
Sumber data dalam Penilaian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah sebagai
berikut:
1) Siswa, untuk mendapatkan data tentang lompat tinggi gaya straddle dengan
pendekatan bermain pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri I Bangsalan
tahun pelajaran 2009/ 2010.
2) Guru sebagai kolaborator, untuk melihat tingkat keberhasilan penerapan
pendekatan bermain dalam pembelajaran lompat tinggi gaya straddle Sekolah
Dasar Negeri I Bangsalan tahun pelajaran 2009/ 2010.

commit to user

37
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam Penelitian tindakan Kelas (PTK) ini


terdiri dari tes dan observasi.
1) Tes: dipergunakan untuk mendapatkan tentang hasil gerakan lompat tinggi
gaya straddle siswa SD Negeri 1 Bangsalan.
2) Observasi: dipergunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang
aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar mengajar saat penerapan
pendekatan bermain dalam pembelajaran lompat tinggi.
Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
sebagai berikut:
Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
No Sumber
Data
1
Siswa

Jenis Data

Siswa

Siswa

Kemampuan melakukan
rangkaian gerakan
ketrampilan lompat tinggi dan
sikap saat aktivitas
pembelajaran
Pengetahuan siswa dalam
pembelajaran lompat tinggi

Hasil ketrampilan lompat


tinggi

Teknik
Instrumen
Pengumpulan
Tes Praktek
Tes
Ketrampilan
lompat tinggi
Unjuk kerja
Pedoman
praktek dan
Observasi
pengamatan

Tes tertulis

Angket

F. Analisis Data
Menurut Mattew B. Miles dan A. Michael Huberman dalam Iskandar,
(2008: 222) dalam proses analisa ada tiga komponen yang harus disadari oleh
peneliti. Tiga komponen tersebut adalah 1) data reduksi, 2) Penyajian data, 3)
penarikan simpulan. Langkah-langkah tersebut adalah:
1) Reduksi data
Reduksi data adalah suatu proses pemilihan perhatian pada penyederhanaan,
pengabstrakan dan informasi data yang telah muncul dari beberapa catatan
commit to
user data merupakan bentuk analisis
tertulis yang diperoleh di lapangan.
Reduksi

38
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

yang

menajamkan,

membuang

yang

tidak

perlu,

mengarahkan,

menggolongkan, dan mengorganisasi data sehingga diperoleh suatu


kesimpulan.
2) Penyajian data (display data)
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang telah tersusun dan
memberikan kemungkinan adanya penarikan suatu kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Penyajian data tersebut dengan menggabungkan
berbagai informasi yang telah didapat selama kejadian berlangsung.
3) Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan suatu proses peninjauan kembali pada
benar tidaknya data yang diperoleh dalam pelaksanaan penelitian.
Sajian Data

Pengumpulan data

Penarikan Kesimpulan

Reduksi data

Gambar 6. Bagan Teknik Analisis Data: Model Interaktif


(Mattew B. Miles dan A. Michael Huberman dalam Iskandar, 2008: 222)
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan
siklus PTK dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik prosentase
untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
1) Hasil ketrampilan lompat tinggi gaya straddle dengan menganalisis rata-rata
tes lompat tinggi. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi skor yang telah
ditentukan.
2) Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan lembar observasi siswa saat
pembelajaran.
commit to user

39
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3) Hasil belajar siswa dengan angket tes tertulis hasil belajar lompat tinggi gaya
straddle
G. Prosedur Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2008 : 16) dalam pelaksanaan PTK ini,
mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus

yang tercakup empat

kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.


perencanaan
refleksi

Siklus I

pelaksanaan

pengamatan
perencanaan
refleksi

Siklus II

pelaksanaan

pengamatan
?
Gambar 7. Strategi Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatnya
hasil belajar lompat tinggi kelas VI Sekolah dasar Negeri I Bangsalan tahun
pelajaran 2010/ 2011. Setiap tindakan upaya pencapaian tujuan tersebut dirancang
dalam satu unit sebagai satu siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap yaitu: (1)
perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interprestasi,
(4) analisis dan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya.penelitian ini
direncanakan dalam dua siklus:
1) Rancangan siklus I
a)

Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti dan guru kelas menyusun skenario
pembelajaran yang terdiri commit
dari: to user

perpustakaan.uns.ac.id

40
digilib.uns.ac.id

1. Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui


kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dalam
pembelajaran penjasorkes.
2. Membuat rencana pembelajaran dengan mengacu pada tindakan
(treatment) yang diterapkan dalam PTK, yaitu pembelajaran lompat
tinggi.
3. Menyusun instrumen yang digunakan dalam siklus PTK, yaitu
penilaian lompat tinggi.
4. Menyiapkan media yang diperlikan untuk membantu pengajaran.
5. Menyusun alat evaluasi pembelajaran.
b)

Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilakukan dengan melaksanakan skenario
pembelajaran yang telah direncanakan, sebagai berikut:
1. Menjelaskan kegiatan belajar mengajar secara umum.
2. Melakukan pemanasan.
3. Permainan dengan alat bantu pembelajaran.
4. Melakukan teknik dasar lompat tinggi.
a. Awalan atau ancang-ancang (aproach run)
b.Tolakan (take off)
c. Sikap badan diatas mistar (clereance of the bar)
d. Sikap mendarat (landing)
5. Melakukan rangakaian gerakan lompat tinggi.
6. Melaksanakan pendinginan (cooling down)

c). Pengamatan tindakan


Pengamatan dilakukan terhadap: (1) hasil ketrampilan lompat
tinggi, (2) kemampuan melakukan rangkaian gerakan lompat tinggi, (3)
aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.
d). Tahap evaluasi (refleksi)
Refleksi merupakan uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil
penelitian dan refleksi berkaitan dengan proses dan dampak tindakan
commit to user

41
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

perbaikan yang dilaksanakan serta kriteria dan rencana bagi siklus


tindakan berikutnya.
Prosentase indikator pencapaian keberhasilan penilitian pada tabel
berikut:
Tabel 3. Prosentase Indikator Pencapaian Keberhasilan Penelitian
Aspek yang
diukur
Hasil
ketrampilan
lompat tinggi

Prosentase target pencapaian


Kondisi
Siklus
Siklus
awal
1
2
33,33 %
60 %
70 %

Aktivitas
siswa saat
pembelajaran

42,7%

60 %

70 %

Pemahaman
siswa dalam
lompt tinggi

36,1%

60%

70%

Cara mengukur

Diamati saat guru


memberikan materi
lompat tinggi pada awal
pembelajaran
Diamati saat proses
belajar mangajar dengan
menggunakan lembar
observasi penelitian.
Soal tes dengan angket.

2) Rancangan Siklus II
Pada rancangan siklus II tindakan dikaitkan dengan hasil yang telah
dicapai pada tingkatan siklus I sebagai upaya perbaikan dari siklus tersebut
dengan materi pembelajaran sesuai dengan silabus mata pelajaran pendidikan
jamani. Demikian juga termasuk perwujudan tahap pelaksanaan, observasi,
dan interprestasi, serta analisis, dan refleksi yang juga mengacu pada siklus
sebelumnya.

commit to user

42
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal

Peneliti melakukan kegiatan survey awal pada siswa kelas VI SD Negeri


1 Bangsalan sebelum melaksanakan tindakan penelitian. Kegiatan survey awal ini
dilakukan untuk mengetahui keadaan sebenarnya serta mencari informasi dan
menemukan berbagai kendala yang dihadapi sekolah dalam proses pembelajaran
lompat tinggi gaya straddle di sekolah tersebut khususnya kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan. Selain itu survey awal ini dilakukan untuk menggali data observasi
awal untuk mengetahui dan mengukur seberapa besar aktivitas dan hasil belajar
siswa sebelum diberi tindakan berupa pembelajaran dengan modifikasi
permaianan. Kondisi awal penelitian diukur dengan lembar observasi, angket, dan
tes unjuk kerja kemampuan lompat tinggi gaya straddle. Setelah peneliti
melakukan pendekatan dengan guru kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan dan
mengamati keadaan siswa melalui observasi pembelajaran dan pengisian angket
di kelas, peneliti menemukan bahwa pembelajaran atletik nomor cabang lompat
tinggi gaya straddle masih sulit oleh siswa. Hal ini menyebabkan aktivitas dan
hasil belajar siswa menjadi kurang sehingga nilai pelajaran masih belum
memuaskan.
Berdasarkan nilai tes lompat tinggi gaya straddle sebelum tindakan,
dapat diketahui bahwa prosentase hasil belajar siswa tergolong rendah seperti
terlihat pada tabel 4 berikut ini:

commit to user
42

43
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4. Daftar Nilai Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal.
No

Nama Siswa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi PM
Binti Nafiah
Digna Yona Ramadhani
Fredika Ari Prastyawan
Ircha Ajeng Rahmawati
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri Atmojo
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum Pambudi

Jenis
Hasil
Kelamin Capaian (cm)
Putera
95
Putera
90
Putera
80
Putera
80
Puteri
70
Putera
90
Putera
90
Puteri
70
Puteri
75
Putera
90
Puteri
75
Putera
80
Putera
80
Puteri
80
Puteri
65
Puteri
60
Puteri
60
Puteri
65

Nilai

Keterangan

70
65
55
55
55
65
65
55
60
65
60
55
55
65
50
45
45
50

Tuntas
Tuntas
TT
TT
TT
Tuntas
Tuntas
TT
TT
Tuntas
TT
TT
TT
Tuntas
TT
TT
TT
TT

Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dibuat tabel distribusi frekuensi hasil


kemampuan tes lompat tinggi gaya straddle siswa kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan sebagai berikut :
Tabel 5. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal.
No Nilai (x)
1
45
2
50
3
55
4
60
5
65
6
70
7
75
8
80
Jumlah

Frekuensi (fi) fi.Xi Prosentase (%)


Keterangan
2
90
11,11%
Dibawah KKM
2
100
11,11%
Dibawah KKM
6
330
33,33%
Dibawah KKM
2
120
11,11%
Dibawah KKM
5
325
27,78%
Diatas KKM
1
70
5,56%
Diatas KKM
0
0
0%
Diatas KKM
0
0
0%
Diatas KKM
18
1035
100%
Nilai Rata-Rata = 1035 : 18 = 57,5
Prosentase Ketuntasan
= 6to: 18
X 100% = 33,33%
commit
user

44
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Dari tabel distribusi frekuensi di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar
keterampilan lompat tinggi gaya straddle siswa SD Negeri 1 Bangsalan masih
sangat kurang yaitu hanya mencapai 33,33% siswa yang nilainya 65 keatas (diatas
KKM) atau sejumlah 6 siswa. Standar ketinggian ketuntasan bagi putera adalah 90
centimeter dan puteri 80 centimeter. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa dari
seluruh siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan yang berjumlah 18, masih banyak
siswa yang nilainya dibawah KKM yaitu sebanyak 12 siswa atau 66,67%.
Selain hasil kemampuan lompat tinggi gaya stradlle, peneliti juga
melakukan observasi dan mengamati siswa untuk mengetahui aktivitas belajar
siswa sesuai dengan indikator perilaku yang diharapkan. Dari observasi yang
dilakukan peneliti maka dapat diketahui bahwa keseluruhan aktivitas belajar
lompat tinggi gaya straddle siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan masih sangat
rendah.
Rendahnya aktivitas belajar ditunjukan dengan angka prosentase dari
seluruh aktivitas belajar siswa hanya mencapai 42,7%. Dari indikator perilaku
siswa yang diinginkan, aspek bertanya dan keingintahuan adalah yang masih
belum optimal. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel 6 dan 7. Dari tabel 7
skor aktivitas belajar lompat tinggi siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada
Kondisi Awal dapat disajikan dalam bentuk gambar 8 berupa grafik.

commit to user

45
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 6. Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada


Kondisi Awal.

commit to user

Kerjasama

- -
- -
- -
-
- -
- -
-
- -
- -
- -
- -
-
- -
- -
-
- -
- -
- -
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi P M
Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P

Kompetisi

Keterlibatan

Percaya Diri

Besungguh -sungguh

Kemauaan

Jml
Keingintahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Bertanya

Indidikator Aktivitas

Motivasi

Nama Siswa

Perhatian

No

4
3
4
6
5
3
4
4
6
5
6
3
4
3
4
3
5
5
77
4,27
42,7

46
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 7. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Kondisi Awal.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Aktivitas Yang diinginkan


Perhatian
Motivasi
Bertanya
Kemauan
Bersungguh-sungguh
Percaya Diri
Keterlibatan
Keingintahuan
Kompetisi
Kerjasama

Frekuensi
11
6
4
9
9
5
18
5
7
4

Prosentase
61,11%
33,33%
22,22%
50%
50%
27,78%
100%
27,78%
38,89%
22,22%

18

20

Frekuensi

15
11
9

10

6
5

Jumlah Siswa

Aktivitas yang diinginkan

Gambar 8. Aktivitas Belajar Lompat Tinggi Siswa Kelas VI SD Negeri 1


Bangsalan Pada Kondisi Awal

Pada kondisi awal ini peneliti juga menggali data dengan angket untuk
mengetahui hasil belajar siswa secara tertulis atau kognitif tentang pelajaran
lompat tinggi gaya straddle. Dari angket dan pertanyaan yang diberikan, diperoleh
commit to user
data hasil belajar siswa seperti tabel di bawah ini:

47
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 8. Angket Tes Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada
Kondisi Awal.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama Siswa

Nomor Item Soal

1 2 3 4 5 6 7
Dwi Purwanto
- - - -
Agung Cahyo
- - - -
Choliq Noto Negoro
- - - -
Muhammad Sholeh
- -
Umi Rodliyah
- - -
Andrea Aji Lupito
- - - - -
Aziz Fan Fauzi P M
- - - -
Binti Nafiah
- - -
Digna Yona R
- -
Fredika Ari P
- - -
Ircha Ajeng R
- -
Joko Untung Wahyudi
- - - - -
Muhammad Tri A
- - - -
Putri Sri Ruwantini
- - - -
Titik Istiqomah
- - - -
Marviani Indri Astuti
- - - -
Anisa Rena Hapsari
- - -
Titonika Arum P
- - - -
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Jml
9

10

4
3
4
3
4
2
4
4
2
5
4
3
4
3
4
3
4
3
65
3,61
36,1

Hasil angket tes hasil belajar siswa menunjukan hasil yang


masih sangat rendah. Hal ini dipengaruhi tidak terlepas dari rendahnya
aktivitas belajar siswa. Prosentase nilai rata-rata hasil belajar siswa hanya
mencapai 36,1%.
Berdasarkan data pada observasi kondisi awal dapat diketahui bahwa
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan pada mata
pelajaran Penjasorkes pada materi lompat tinggi gaya straddle tergolong kurang
sekali. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti berusaha untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Penjasorkes khususnya pada materi
lompat tinggi gaya straddle penelitian di kelas VI yang menerapkan Pendekatan
Modifikasi Permainan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
commit to user

48
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

belajar siswa yang masih rendah sehingga hasil pembelajarannya akan lebih
optimal dan memuaskan.
B. Deskripsi Hasil Tindakan
Di dalam deskripsi hasil penelitian ini akan diungkapkan mengenai
proses penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing siklus
terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) tahap perencanaan tindakaan, (2) tahap
pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi, (4) tahap analisis dan refleksi. Berikut
ini adalah deskripsi tindakan siklus I dan siklus II.
1. Tindakan Siklus I
Tindakan siklus I dilaksanakan selama 2 kali pertemuan. Tiap-tiap
pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran (2 X 35 menit) yang dilaksanakan setiap
jam pelajaran Penjasorkes yaitu pada hari sabtu tanggal 17 Juli 2010 dan 24 Juli
2010, yang diikuti oleh siswa kelas VI sebanyak 18 siswa. Dalam penelitian ini
peneliti berperan langsung sebagai guru yang melaksanakan pembelajaran
Penjasorkes dalam materi lompat tinggi gaya straddle dengan menerapkan
pendekatan modifikasi permainan dan dibantu oleh seorang observer yaitu guru
kelas VI yang bernama Ibu Sri Satiti, S.Pd. Adapun tahapan-tahapan yang
dilaksanakan dalam siklus I adalah sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan tindakan, peneliti melakukan observasi terhadap
proses pembelajaran yang meliputi kegiatan guru dan siswa. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui proses pembelajaran yang berlangsung, penggunaan metode,
model, strategi, serta media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Peneliti juga
melakukan wawancara dengan guru guna mencatat hasil belajar yang diperoleh
oleh masing-masing siswa khususnya nilai Penjasorkes.
Berdasarkan observasi dan hasil wawancara terhadap pembelajaran serta
hasil belajar tersebut diperoleh informasi sebagai data kondisi awal. Hasil
pencatatan tersebut menunjukkancommit
bahwatodari
user18 siswa kelas VI SD Negeri 1

49
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Bangsalan , hanya 6 siswa atau 33,33 % siswa yang mencapai ketuntasan belajar
(mendapat nilai di atas KKM 65) dalam hal ketrampilan hasil lompat tinggi.
Sedangkan sebanyak 12 siswa atau 66,67% belum mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yaitu 65. Sedangkan berdasarkan hasil obsevarsi aktivitas
belajar siswa (afektivitas siswa) peneliti mendapatkan hasil kondisi awal aktivitas
belajar siswa yang masih rendah yaitu sebesar 42,7% dari kriteria atau indikator
keaktifan siswa. Selain hasil kemampuan lompat tinggi gaya straddle
(psikomotor) dan observasi aktivitas belajar siswa (afektif), peneliti juga menggali
data tentang hasil belajar siswa pengetahuan lompat tinggi gaya straddle
(kognitif) yaitu dengan angket, dan didapatkan data kondisi awal sebesar 36,1%.
Berdasarkan semua data kondisi awal peneliti mencari alternatif yang dapat
digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar lompat tinggi gaya
straddle siswa yaitu menggunakan pendekatan modifikasi permainan.
Selanjutnya peneliti melakukan langkah langkah berikutnya. Dengan
berpedoman pada Silabus Sekolah Dasar Kelas VI maka peneliti melakukan
langkah - langkah sebagai berikut :
1) Memilih dan menetapkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan
Indikator
2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
3) Mempersiapkan alat dan bahan pembelajaran
4) Mempersiapkan evaluasi pembelajaran
5) Mempersiapkan lembar observasi dan angket hasil belajar siswa
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tahap ini dilaksanakan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dan
pertemuan kedua selama 2 x 35 menit. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai
peneliti dan pelaksana Penelitian Tindakan Kelas. Sedangkan guru tetap
melaksanakan pembelajaran dengan peneliti juga membantu dalam proses
pembelajaran sekaligus Penelitian Tindakan Kelas. Dalam pembelajaran guru
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan modifikasi permainan.
commit to user

50
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2010 pada jam
pelajaran pertama dan kedua yaitu pukul 07.00-08.20 WIB. Pada pertemuan ini
materi yang diajarkan adalah lompat tinggi gaya straddle. Pada kegiatan awal,
guru memeriksa kesiapan siswa dan mengkondisikan kelas, kemudian guru
memberi salam, memimpin berdoa, dan melakukan presensi kehadiran siswa.
Pada hari tersebut tidak ada siswa yang absen. Selanjutnya, guru memberikan
pemanasan pada siswa. Pemanasan dialokasikan selama 15 menit terdiri dari lari
mengelilingi lapangan, pemanasan statis, dinamis, dan satu permainan. Permainan
tersebut adalah memindahkan kardus tiap orang satu dari ujung barat ke timur.
Sebelumnya siswa dibagi dua kelompok dan mereka berkompetisi berusaha cepatcepatan. Setelah selesai pemanasan guru melakukan apersepsi yaitu tanya jawab
tentang cabang olahraga Atletik. Guru bertanya Siapa yang tau apa sajakah
cabang olahraga atletik itu? Siapa yang pernah melihat perlombaan Atletik?
Kemudian guru menjelaskan bahwa lari, lompat, dan lempar merupakan cabang
dari olahraga atletik. Kegiatan dilanjutkan dengan guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yaitu lompat tinggi gaya straddle. Supaya lebih bersemangat guru
memberi motivasi kepada siswa dan mengajak siswa bernyanyi Halo-Halo
Bandung sambil lompat-lompat ditempat.
Kegiatan inti dimulai dengan guru memberikan pertanyaan macammacam teknik dasar lompat tinggi gaya straddle. Kemudian siswa ditunjukkan
oleh guru teknik dasar lompat tinggi gaya straddle. Berikutnya adalah siswa
mempraktikan secara berkelompok teknik dasar tersebut. Dalam hal ini, siswa
dituntut keaktifanya.
Pembelajaran kegiatan inti dimulai dengan permainan yaitu formasi
siswa berbaris dua berbanjar atau menjadi dua kelompok, kemudian siswa
berkompetisi melewati bilah yang ditata diatas kardus untuk siswa yang kalah
akan mendapatkan hukuman adalah lompat sebanyak 15 kali. Setelah itu formasi
zig-zag dengan kardus (ditata dengan menggunakan kardus bekas untuk
permainan kegiatan lari zig-zag).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

51
digilib.uns.ac.id

Setelah selesai permainan formasi siswa berbaris tiga bersaf, kemudian


merentangkan kedua lengan untuk mengatur jarak. Kemudian baris pertama
melakukan gerakan bolak-balik dari barat sampai ke timur dan kembali lagi ke
barat, dan setelah selesai diikuti oleh barisan kedua dan ketiga sesuai contoh
gerakan yang dipraktikan guru. Aktivitas gerakan tersebut antara lain:
a) Berlari santai atau jogging.
b) Berlari sambil mengangkat paha kedepan tinggi sejajar perut.
c) Berlari sambil menyentuhkan kaki ke pantat.
d) Berlari dua langkah kemudian lompat dengan satu kaki setinggi-tingginya
salah satu paha ditekuk untuk melatih teknik tumpuan.
e) Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
mengayunkan kaki kanan ke depan setinggi-tingginya, disertai gerakan
tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat
dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
f) Melakukan dengan awalan tiga langkah dan lompat, sama dengan teknik
gerakan gaya straddle tanpa awalan.
g) Aktivitas gerakan diatas dinamakan satu season atau pengulangan, maka
gerakan tersebut dilakukan dua season atau dua kali.
Setelah selesai melaksanakan pembelajaran teknik dasar lompat tinggi
sebelum menuju ketiang dan mistar yang sebenarnya, siswa diberikan permainan
lagi untuk mengasah daya ingat dan respon gerak mereka. Permainanya adalah
permainan angka, yaitu apabila guru mengucapkan angka 1 maka siswa melompat
dengan dua kaki kekanan, angka 2 siswa melompat kekiri, angka 3 siswa
melompat ke depan, angka 4 siswa melompat kebelakang, dan angka 5 berputar
. Dan bagi siswa yang salah mendapatkan hukuman melompat
sebanyak 3 kali tiap satu kesalahan.
Pada saat pelaksanaan keterampilan lompat tinggi gaya straddle pada
mistar dan tiang sebenarnya siswa dibagi menjadi dua kelompak putera dan puteri.
Untuk kelompok putera melakukan latihan pembelajaran lompat tinggi gaya
commit
to user
straddle dengan posisi mistar dibuat
miring
atau dengan ketinggianyang berbeda.

52
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Kemudian setelah selesai latihan maka akan didata hasil lompatannya. setelah
siswa putera melakukan kemudian siswa puteri melakukan pembelajaran yang
sama dengan putera dan didata hasilnya diakhir pembelajaran.
Selama pembelajaran guru mendampingi siswa dan bertindak sebagai
fasilitator. Guru mengamati kinerja siswa dalam mengerjakan tugas guna
memantau perkembangan siswa. Selama pembelajaran berlangsung kemudian
guru

merefleksikan,

pembelajaran

menyimpulkan,

berlangsung.

Setelah

dan
selesai

memberikan
guru

evaluasi

menutup

selama

kelas

dan

memberitahukan kegiatan pembelajaran untuk pertuemuan berikutnya.


2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Juli 2010 pada jam
pelajaran pertama dan kedua yaitu pada pukul 07.00-08.40 WIB. Pada pertemuan
ini guru memberikan pembelajaran dengan melanjutkan materi yang telah lalu,
yaitu lompat tinggi gaya straddle.
Pembelajaran dimulai dengan guru membuka pelajaran dengan salam,
dilanjutkan dengan mengkondisikan kelas, memeriksa kesiapan siswa, memimpin
berdoa dan presensi. Kemudian guru memberikan pemanasan seperti minggu lalu
yaitu lari mengeliligi lapangan, pemansan statis, pemanasan dinamis, dan
permainan. Setelah pemanasan guru melakukan apersepsi tentang materi yang lalu
dengan tanya jawab tentang materi yang lalu. Guru bertanya tentang Adakah
yang tau apa saja macam gaya dalam lompat tinggi? kemudian guru
menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu identifikasi teknik-teknik dasar dan
proses pelaksanaan lompat tinggi gaya straddle. Guru memberi motivasi
menyanyikan lagu Topi Saya Bundar dengan diikuti gerakan, supaya perhatian
siswa menjadi lebih fokus dalam pembelajaran sambil lompat ditempat saat
menyebutkan kata bundar.
Kegiatan inti dimulai dengan siswa memperhatikan demonstrasi guru
secara bagian-bagian memperaktekan teknik dasar lompat tinggi gaya straddle.
Kemudian siswa dan guru bertanya jawab mengenai macam macam teknik dasar
lompat tinggi gaya straddle. Siswa menyebutkan dan mendeskripsikan macam
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

53
digilib.uns.ac.id

macam teknik dasar lompat tinggi gaya straddle. Kemudian guru menjelskan
secara lengkap bagaimana pelaksanaan lompat tinggi gaya straddle.
Pembelajaran kegiatan inti dimulai dengan permainan yaitu formasi
siswa berbaris dua berbanjar atau menjadi dua kelompok, kemudian siswa
berkompetisi melewati bilah yang ditata diatas kardus untuk siswa yang kalah
akan mendapatkan hukuman adalah lompat sebanyak 15 kali. Setelah selesai
permainan formasi siswa berbaris tiga bersaf, kemudian merentangkan kedua
lengan untuk mengatur jarak. Kemudian baris pertama melakukan gerakan bolakbalik dari barat sampai ke timur dan kembali lagi ke barat, dan setelah selesai
diikuti oleh barisan kedua dan dan ketiga sesuai contoh gerakan oleh yang
dipraktikan guru. Aktivitas gerakan tersebut antara lain:
a) Berlari santai atau jogging.
b) Berlari sambil mengangkat paha kedepan tinggi sejajar perut.
c) Berlari sambil mengangkat kaki kebelakang sampai menyentuh pantat.
d) Berlari dua langkah kemudian lompat dengan satu kaki setinggi-tingginya
salah satu paha ditekuk untuk melatih teknik tumpuan.
e) Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
mengayunkan kaki kanan ke depan setinggi-tingginya, disertai gerakan
tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat
dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
f) Melakukan dengan awalan tiga langkah dan lompat, sama dengan teknik
gerakan gaya straddle tanpa awalan.
g) Aktivitas gerakan diatas dinamakan satu season atau pengulangan, maka
gerakan tersebut dilakukan dua season atau dua pengulangan.
Setelah selesai melaksanakan pembelajaran dengan teknik dasar lompat
tinggi gaya straddle, sebelum menuju ketiang dan mistar yang sebenarnya, siswa
diberikan permainan lagi untuk mengasah daya ingat dan respon gerak mereka.
Permainannya adalah permainan angka, yaitu apabila guru mengucapkan angka 1
maka siswa melompat dengan dua kaki ke kanan, angka 2 siswa melompat kekiri,
commitangka
to user4 siswa melompat kebelakang, dan
angka 3 siswa siswa melompat kedepan,

54
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

. Dan bagi siswa yang salah mendapatkan


hukuman melompat sebanyak 3 kali setiap satu kesalahan.
Untuk pertemuan kedua kali ini siswa melakukan latihan lompat tinggi
gaya straddle bersama-sama putera dan puteri. Selama pelaksanaan lompat tinggi
gaya straddle guru memberikan motivasi, evaluasi, dan penghargaan (reward)
bagi siswa dengan hasil dan teknik lompatan yang baik. Evaluasi diberikan secara
individu maupun secara kelompok saat pembelajaran berlangsung.kemudian
setelah melakukan latihan siswa putera malaksanakan tes kemampuan lompat
tinggi gaya straddle dan didata hasilnya begitu juga siswa puteri melakukan
aktivitas yang sama setelah siswa putera selesai.
Pembelajaran diakhiri dengan guru menyimpulkan pembelajaran yang
telah dilaksakan. Guru memberi penghargaan (reward) kepada siswa terbaik.
Guru menutup pelajaran dengan menyanyikan lagu Sayonara bersama siswa.
c. Tahap Observasi Tindakan
Observasi dilaksanakan saat pembelajaran Penjasorkes materi pelajaran
lompat tinggi gaya straddle dengan menggunakan modifikasi permainan.
Pertemuan pertama berlangsung pada hari Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 07.00-08.40
WIB. Pertemuan kedua, pada hari Sabtu, 24 Juli 2010 pukul 07.00-08.40 WIB.
Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas dalam melaksanakan observasi terhadap
aktivitas dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Alat
yang digunakan adalah lembar observasi,angket dan kamera.
Pada pertemuan pertama, suasana kelas belum tertib karena ada
beberapa siswa yang masih berada dikamar ganti pakaian. Guru meminta siswa
tersebut segera kumpul bersama siswa yang lain. Pada saat guru menerangkan,
ada siswa malah asyik berbicara sendiri. Hal ini menyebabkan suasana kelas
menjadi gaduh. Pada saat guru meminta beberapa siswa menjelaskan cabangcabang olahraga atletik siswa cenderung malu hanya beberapa siswa yang berani
merespon pertanyaan guru. Selain itu guru juga menunjuk beberapa siswa untuk
berinteraksi. Pada saat pembelajaran guru dan peneliti berkolaborasi mengamati
commit to user

55
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

aktivitas belajar siswa dan menajadikan sebuah data pada akhir kegiatan, siswa
mengerjakan tes angket dalam waktu 10 menit.
Pada pertemuan kedua ini, suasana kelas belum tertib karena ada
beberapa siswa yang masih gaduh sendiri meskipun jam pelajaran sudah mulai.
Saat guru memulai pelajaran dengan melakukan tanya jawab tentang
pembelajaran yang telah lalu, beberapa siswa tunjuk jari menjawab pertanyaan
dari guru. Hal ini membuktikan bahwa siswa masih ingat dengan pembelajaran
sebelumnya. Saat pembelajaran kegiatan inti berlangsung ada beberapa siswa
sangat aktif hingga guru memberikan hukuman kartu kuning atau peringatan. Hal
ini terjadi saat guru sedang memberikan demonstrasi kepada siswa namun siswa
sudah ikut melakukan ketika belum diperintah. Hal tersebut tidak diinginkan guru
harena siswa saat diberikan materi harus memperhatikan dulu dan setelah ada
perintah baru mereka melakukan.
Pada pertemuan kedua ini ketika melakukan latihan lompat tinggi gaya
straddle dengan mistar dan tiang sebenarnya banyak siswa merasa antusias dan
ingin segera melakukan lompatan. Namun mereka melakukan satu persatu harus
urut sesuai absen. Pada akhir kegiatan, siswa mengerjakan tes dalam waktu 10
menit.
Guru membagikan angket dan guru mengisi lembar observasi dilakukan
untuk memperoleh data mengenai tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa.
Observasi ini dilakukan oleh guru kelas dalam rangka mengamati aktivitas belajar
siswa pada proses belajar mengajar. Hasil observasi aktivitas dan hasil belajar
siswa pada siklus I ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 9. Hasil Observasi Aktivitas dan Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya
Straddle Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan.
Aspek

Kondisi Awal

Hasil kemampuan
lompat tinggi
Aktivitas belajar siswa
Hasil belajar kognitif

33,33%

Siklus 1
Pertemuan 1
55,56%

Siklus 1
Pertemuan 2
61,11%

42,7%

5,33%

62,22%

36,1%
48,9%
commit to user

61,67%

56
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil hasil kemampuan lompat tinggi gaya straddle pada siswa kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan, Siklus 1 Pertemuan pertama dan kedua dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 10. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Pada Siswa Kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan Siklus I Pertemuan Pertama dan Pertemuan
Kedua.
No Nama Siswa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi PM
Binti Nafiah
Digna Yona Ramadhani
Fredika Ari Prastyawan
Ircha Ajeng Rahmawati
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri Atmojo
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum Pambudi

Jenis
Kel
Pa
Pa
Pa
Pa
Pi
Pa
Pa
Pi
Pi
Pa
Pi
Pa
Pa
Pi
Pi
Pi
Pi
Pi

Siklus 1
Pertemuan Pertama
Cm
Nilai Ket

Siklus 1
Pertemuan Kedua
Cm Nilai Ket

100
90
85
80
80
90
90
70
80
90
80
90
80
80
65
70
65
70

100
90
90
80
80
90
90
70
80
90
80
95
85
80
70
75
70
75

commit to user

75
65
60
55
65
65
65
55
65
65
65
65
55
65
50
55
50
55

T
T
TT
TT
T
T
T
TT
T
T
T
T
TT
T
TT
TT
TT
TT

75
65
65
55
65
65
65
55
65
65
65
70
60
65
55
60
55
60

T
T
T
TT
T
T
T
TT
T
T
T
T
TT
T
TT
TT
TT
TT

perpustakaan.uns.ac.id

57
digilib.uns.ac.id

Tabel 11. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Siswa Kelas VI SD
Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus I Pertemuan Pertama.
No Nilai (x)
1
45
2
50
3
55
4
60
5
65
6
70
7
75
8
80
Jumlah

Frekuensi (fi) fi.Xi Prosentase (%)


Keterangan
0
0
0%
Dibawah KKM
2
100
11,11%
Dibawah KKM
5
330
33,33%
Dibawah KKM
1
60
5,56%%
Dibawah KKM
9
585
50%
Diatas KKM
0
0
0%
Diatas KKM
1
75
5,56%
Diatas KKM
0
0
0%
Diatas KKM
18
1150
100%
Nilai Rata-Rata = 1150 : 18 = 63,89
Presentase Ketuntasan = 10 : 18 X 100% = 55,56%

Tabel 12. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI Pada Siklus I Pertemuan Kedua
No Nilai (x)
1
45
2
50
3
55
4
60
5
65
6
70
7
75
8
80
Jumlah

Frekuensi (fi) fi.Xi Prosentase (%)


Keterangan
0
0
0%
Dibawah KKM
0
0
0%
Dibawah KKM
4
220
22,22%
Dibawah KKM
3
180
16,67%
Dibawah KKM
9
585
50%
Diatas KKM
1
70
5,56%
Diatas KKM
1
75
5,56%
Diatas KKM
0
0
0%
Diatas KKM
18
1130
100%
Nilai Rata-Rata = 1130 : 18 = 62,77
Presentase Ketuntasan = 11 : 18 X 100% = 61,11%

Hasil observasi kemampuan lompat tinggi yang dilakukan dengan tes


ketrampilan lompat tinggi gaya straddle pada siklus I pertemuan pertama dari
tabel diatas menunjukan bahwa baru 10 siswa yang berhasil tuntas dengan nilai
65 yaitu sesuai KKM. Dari 10 siswa tersebut dapat dilihat prosentasenya adalah
55,56% siswa tuntas belajar, sehingga mengalami peningkatan dari kondisi awal
sebesar 22,23% yang sebelumnya 33,33% menjadi 55,56%. Peningkatan ini
dikarenakan siswa antusuias dalam pembelajaran lompat tinggi gaya straddle.
commitmenunjukan
to user
Namun dari hasil yang diperoleh belum
hasil yang optimal. Sehingga

58
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

pada siklus I pertemuan kedua dilakukan observasi kemampuan lompat tinggi


gaya straddle lagi. Hasil observasi menunjukan adanya peningkatan siswa tuntas
belajar yaitu menjadi 11 siswa. Dilihat dari prosentasenya adalah 61,11% siswa
tuntas belajar untuk kemampuan lompat tinggi gaya straddle. Peningkatan
tersebut sebesar 5,56% dari siklus I pertemuan pertama.
Selain observasi tentang hasil kemampuan lompat tinggi gaya straddle
guru juga melakukan observasi untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar
siswa sesuai dengan indikator atau perilaku yang diharapkan. Hasil observasi pada
siklus 1 pertemuan pertama dan kedua dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

commit to user

59
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 13. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
Pada Siklus I Pertemuan Pertama.

commit to user

Kompetisi

Kerjasama

Keterlibatan

Percaya Diri

Besungguh sungguh

Kemauaan

-
- -
-
-
- -
- -
- -
- -
-
-
-
-
- -
- -
-
- -
- -
-
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi P M
Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P

Jml
Keingintahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Bertanya

Indikator

Motivasi

Nama Siswa

Perhatian

No

6
5
4
6
5
5
6
5
6
7
7
6
4
3
4
4
6
7
96
5,33
53,3

60
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 14. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
Pada Siklus I Pertemuan Kedua
No

Nama Siswa

Indikator

commit to user

Kompetisi

Kerjasama

Keterlibatan

Percaya Diri

Besungguh -sungguh

Kemauaan

Bertanya

-
- -
- -
-
- -
- - -
- -
- -
- -
-
- -
-
- - -
- -
-
-
- -
-
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi P M
Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P

Keingintahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Motivasi

Perhatian

Jml

7
5
7
6
5
7
6
5
6
8
7
6
5
5
6
6
7
8
112
6,22
62,2

61
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 15. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri
1 Bangsalan Pada Siklus I Pertemuan Pertama.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Indikator Keaktivan Yang Diinginkan Frekuensi


Perhatian
12
Motivasi
8
Bertanya
5
Kemauan
11
Bersungguh-sungguh
13
Percaya Diri
9
Keterlibatan
18
Keingintahuan
5
Kompetisi
8
Kerjasama
7

Prosentase
66,67%
44,44%
27,78%
61,11%
72,22%
50%
100%
27,78%
44,44%
38,89%

Tabel 16. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri
1 Bangsalan Pada Siklus I Pertemuan Kedua.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Indikator Keaktifan Yang Diinginkan


Perhatian
Motivasi
Bertanya
Kemauan
Bersungguh-sungguh
Percaya Diri
Keterlibatan
Keingintahuan
Kompetisi
Kerjasama

Frekuensi
13
9
5
13
15
10
18
5
11
13

Prosentase
72,22%
50%
27,78%
72,22%
83,33%
55,56%
100%
27,78%
61,11%
72,22%

Angket digunakan oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana hasil


belajar siswa dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah
disediakan. Angket ini diisi oleh siswa secara individu. Pengisian angket ini
dilakukan setelah pembelajaran selesai. Nilai hasil belajar siswa dari angket dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

commit to user

62
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 17. Diskripsi Angket Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan.
No
1
2

Nama
Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito

3
4
5
6

Aziz Fan Fauzi P M


Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x
100% ( 10 x 100%)

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Pertemuan 1
4
6

Pertemuan 2
7
6

4
6
5
5

6
6
5
5

6
4
6
5
6
3
4
3
5
5
6
5
88
4,89
48,9%

6
4
6
7
8
7
6
7
5
7
6
7
111
6,16
61,6%

Indikator ketercapaian pada siklus I ini adalah 60%. Dari hasil angket
hasil belajar kognitif siswa didapat bahwa pada siklus 1 pertemuan pertama hasil
belajar siswa meningkat masih sangat rendah yaitu 12,8% dari kondisi awal yaitu
36,1% menjadi 48,9%. Setelah siklus 1 pertemuan pertama hasilnya kurang
optimal maka dilakukan siklus 1 pertemuan kedua dan hasil belajar siswa dari
hasil angket mengalami peningkatan yaitu menjadi 61,6% atau mengalami
peningkatan 12,7%. Pada siklus 1 pertemuan pertama rata-rata nilai siswa masih
rendah yaitu 4,89, sedangkan pada siklus 1 pertemuan kedua rata-rata siswa sudah
mencapai nilai 6,61.
commit to user

63
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Dari tabel nilai angket hasil belajar siswa tersebut dapat ditemukan
bahwa kegiatan siswa pada siklus I ini siswa sudah dapat memahami materi saat
guru menyampaikan pelajaran dilapangan dan memperhatikan penjelasan guru,
terutama penjelasan dari guru mengenai lompat tinggi gaya straddle. Namun
ketika mendapatkan angket atau tugas tertulis tersebut siswa masih belum bisa
sepenuhnya menjelaskan dalam bentuk jawaban angket hasil belajar siswa.
d. Tahap Refleksi
Data hasil observasi yang diperoleh dari kolaborasi dengan guru kelas,
peneliti memperoleh temuan bahwa aktivitas belajar yang masih jarang dilakukan
oleh sebagian besar siswa adalah pada aspek bertanya dan keingintahuan yakni 1)
Siswa belum terlihat adanya keberanian bertanya tentang materi yang sedang
diajarkan, 2) Siswa belum berani dalam menjawab pertanyaan dari guru terutama
pertanyaan yang dilontarkan secara spontan dan secara lisan, 3) masih ada
beberapa siswa yang belum menunjukkan keberanian dalam bertanya. Aspek ini
memang sangat berpengaruh bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka.
Berdasarkan data tersebut, peneliti bekerjasama dengan guru kelas membahas
solusi dari permasalahan tersebut yakni peneliti memberikan penjelasan kepada
siswa. Peneliti juga harus memonitor siswa yang berada di bagian belakang, agar
mereka juga ikut aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Selain kendala yang diadapi pada siklus 1 namun ada keberhasilan yang
juga didapat yaitu keberhasilan guru atau siswa dalam penerapan pendekatan dengan
modifikasi permainan dapat memotivasi siswa untuk belajar. Pendekatan bermain
lebih menantang siswa untuk mengikuti pembelajaran lompat tinggi gaya straddle,
karena pembelajarannya bersifat kompetisi sehingga anak tidak merasa bosan dalam
mengikuti pelajaran.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian dalam siklus I perlu
dilanjutkan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Berkaitan dengan hal
tersebut maka peneliti mengadakan tindakan untuk siklus berikutnya.
commit to user

64
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2. Tindakan Siklus II
Tindakan siklus II dilaksanakan selama 2 kali pertemuan. Tiap-tiap
pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran (2 X 35 menit) yang dilaksanakan pada
jam pelajaran Penjasorkes yaitu Sabtu, tanggal 31 Juli dan 7 Agustus 2010 yang
diikuti oleh siswa kelas VI sebanyak 18 siswa. Dalam penelitian ini peneliti
berperan langsung sebagai guru yang melaksanakan pembelajaran Penjasorkes
dengan menerapkan Pendekatan Modifikasi Permainan dan dibantu oleh seorang
observer yaitu guru kelas VI yang bernama Ibu. Sri Satiti, S.Pd. Adapun tahapantahapan yang dilaksanakan dalam siklus II adalah sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan pada siklus I telah diketahui
bahwa ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 1
Bangsalan tetapi belum maksimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan masih ada 8
siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran lompat tinggi gaya straddle. Dengan
berpedoman pada analisis dan hasil refleksi pada siklus I maka tahap perencanaan
pada siklus II ini meliputi:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
2) Mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung
3) Mempersiapkan evaluasi pembelajaran
4) Mempersiapkan lembar observasi dan angket hasil belajar siswa
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Tahap ini dilaksanakan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dan
pertemuan kedua selama 2 x 35 menit. Pada tahap ini peneliti bertindak sebagai
peneliti dan pelaksana Penelitian Tindakan Kelas. Sedangkan guru tetap
melaksanakan pembelajaran dengan peneliti juga membantu dalam proses
pembelajaran sekaligus Penelitian Tindakan Kelas. Dalam pembelajaran guru
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan modifikasi permainan.
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2010 pada jam
pelajaran pertama dan ke dua yaitu pukul 07.00-08.20 WIB. Pada pertemuan ini
commit
to user
materi yang diajarkan adalah lompat
tinggi
gaya straddle. Pada kegiatan awal,

perpustakaan.uns.ac.id

65
digilib.uns.ac.id

guru memeriksa kesiapan siswa dan mengkondisikan kelas, kemudian guru


memberi salam, memimpin berdoa, dan melakukan presensi kehadiran siswa.
Pada hari tersebut tidak ada siswa yang absen. Selanjutnya, guru
memberikan pemanasan pada siswa. Pemanasan dialokasikan selama 15 menit
terdiri dari lari mengelilingi lapangan, pemanasan statis, dinamis, dan satu
permainan. Permainan tersebut adalah siswa membentuk 4 kelompok, 2 saling
berhadap-hadapan. Kemudian salah satu menjadi kucing dan satu menjadi tikus,
permainanya kucing mengejar tikus, dan tikus boleh berhenti di barisan terdepan
tiap kelompok kemudian orang yang paling belakang itu menjadi tikus. Supaya
lebih bersemangat guru memberi motivasi kepada siswa dan mengajak siswa
bernyanyi Halo-Halo Bandung sambil lompat-lompat ditempat.
Kegiatan inti dimulai dengan siswa ditunjukkan oleh guru teknik dasar
lompat tinggi gaya straddle. Berikutnya adalah siswa mempraktikan secara
berkelompok teknik dasar tersebut. Dalam hal ini, siswa dituntut keaktifanya.
Pembelajaran inti kali ini langsung mengarah pada teknik dasar lompat tinggi
gaya straddle yang di dalamnya ada unsur permainan, antara lain:
a) Awalan atau ancang-ancang.
Pada pembelajaran awalan, pola pembelajaran adalah gerakan bersifat
kompetisi antar regu. Caranya siswa dibagi menjadi dua regu dengan
jumlah anggota sama banyak. Masing-masing anggota akan berlari
mengitari barisannya dari samping kiri ban kemudian melewati samping
kanan ban dengan kecepatan maksimal, anak paling depan lebih dulu
berlari setelah selesai kembali ke barisan dilanjutkan anak di belakangnya
demikian seterusnya. Gerakan ini dilakukan secara bersama-sama antara
dua regu, regu yang pelari terakhirnya lebih dulu tiba kembali ke barisan
regu itulah keluar sebagai pemenangnya.
b) Tolakan (take off)
Permainan berikutnya adalah permainan yang mengandung unsur
pembelajaran menumpu. Pola permainannya adalah berlari melompati
empat kardus yang sudah disusun dengan jarak dan tinggi kardus yang
commit
to kekuatan
user
sama. Latihan ini bertujuan
melatih
otot kaki tumpu dan melatih

66
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

daya ledak kaki tumpu. Setelah selesai permainan kemudian siswa


melakukan teknik gerakan tolakan yaitu berlari dua langkah kemudian
lompat dengan satu kaki setinggi-tingginya salah satu paha ditekuk untuk
melatih teknik tumpuan.
c) Posisi melayang di udara dan sikap mendarat.
Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
mengayunkan kaki kanan ke depan setinggi-tingginya, disertai gerakan
tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat
dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
d) Melakukan rangkaian gerakan lompat tinggi gaya straddle
Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
mengayunkan kaki kanan ke depan setinggi-tingginya, disertai gerakan
tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat
dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
Setelah selesai melaksanakan pembelajaran teknik dasar lompat tinggi
gaya straddle sebelum menuju ketiang dan mistar yang sebenarnya, siswa
diberikan permainan Kuda Bisik melatih indera pendengaran, melatih kerja
sama, dan melatih kontrol emosi. Jumlah siswa satu kelas dibagi 2 kelompok,
kemudian pilih salah seorang siswa menjadi ketua kelompok. Kedua kelompok
berbaris berbanjar, membelakangi pemimpin, jarak antar pemain 1-2 m, jarak
antara kedua kelompok berkisar 3 meter. Kedua pemimpin membisikkan kata-kata
atau pesan kepada pemain pertama masing-masing kelompoknya, pemain kedua
berbalik dan menerima pesan serta menyampaikannya kepada pemain ketiga dan
seterusnya. Pemain terakhir berlari ke depan (dekat pemimpin) dan menyebutkan
pesan atau kata-kata sekeras-kerasnya. Kelompok pertama yang lebih dulu
berhasil menyebutkan kata atau pesan dengan benar dinyatakan sebagai
pemenang. Permainan dapat dilanjutkan kembali dan pemain terakhir dijadikan
pemain pertama.

commit to user

67
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Pada saat pelaksanaan keterampilan lompat tinggi gaya straddle pada


mistar dan tiang sebenarnya siswa dibagi menjadi dua kelompok putera dan
puteri. Untuk kelompok putera melakukan latihan pembelajaran lompat tinggi
gaya straddle dimulai dengan posisi mistar dibuat miring atau dengan ketinggian
yang berbeda. Kemudian setelah selesai latihan maka akan didata hasil
lompatannya. Setelah siswa putera melakukan pembelajaran lompat tinggi
dilanjutkan dengan siswa puteri dengan pembelajaran yang sama.
Selama pembelajaran guru mendampingi siswa dan bertindak sebagai
fasilitator. Guru mengamati kinerja siswa

dalam mengerjakan tugas guna

memantau perkembangan siswa. Selama pembelajaran berlangsung kemudian


guru merefleksikan, menyimpulkan, dan mengevaluasi untuk pertemuan
berikutnya.
2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 pada
jam pelajaran pertama dan ke dua yaitu pada pukul 07.00-08.20 WIB. Pada
pertemuan ini guru memberikan pembelajaran dengan melanjutkan materi yang
telah lalu, yaitu lompat tinggi gaya straddle.
Seperti pertemuan sebelumnya pembelajaran dimulai dengan guru
membuka pelajaran dengan salam, dilanjutkan dengan mengkondisikan kelas,
memeriksa kesiapan siswa, memimpin berdoa dan presensi. Kemudian guru
memberikan pemanasan. Setelah pemanasan guru melakukan apersepsi tentang
materi yang lalu dengan tanya jawab tentang materi yang lalu. Guru bertanya
tentang Siapa yang mengalami kesulitan dalam lompat tinggi gaya straddle?
kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu identifikasi teknikteknik dasar dan proses pelaksanaan lompat tinggi gaya strddle. Guru memberi
motivasi menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung supaya perhatian siswa
menjadi lebih fokus dalam pembelajaran sambil lompat-lompat ditempat.
Kegiatan inti dimulai dengan siswa ditunjukkan oleh guru teknik dasar
lompat tinggi gaya straddle. Berikutnya adalah siswa mempraktikan secara
berkelompok teknik dasar tersebut. Dalam hal ini, siswa dituntut keaktifanya.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

68
digilib.uns.ac.id

Pembelajaran inti kali ini langsung mengarah pada teknik dasar lompat tinggi
gaya straddle yang di dalamnya ada unsur permainan, antara lain:
a) Awalan atau ancang-ancang.
Pada pembelajaran awalan, pola pembelajaran adalah gerakan bersifat
kompetisi antar regu. Caranya siswa dibagi menjadi dua regu dengan
jumlah anggota sama banyak. Masing-masing anggota akan berlari
mengitari barisannya dari samping kiri simpai kemudian melewati
samping kanan simpai dengan kecepatan maksimal, anak paling depan
lebih dulu berlari setelah selesai kembali ke barisan dilanjutkan anak di
belakangnya demikian seterusnya. Gerakan ini dilakukan secara bersamasama antara dua regu, regu yang pelari terakhirnya lebih dulu tiba kembali
ke barisan regu itulah keluar sebagai pemenangnya.
b) Tolakan (take off)
Permainan berikutnya adalah permainan yang mengandung unsur
pembelajaran menumpu. Pola permainannya adalah berlari melompati
empat kardus yang sudah disusun dengan jarak dan tinggi kardus yang
sama. Latihan ini bertujuan melatih kekuatan otot kaki tumpu dan melatih
daya ledak kaki tumpu. Setelah selesai permainan kemudian siswa
melakukan teknik gerakan tolakan yaitu berlari dua langkah kemudian
lompat dengan satu kaki setinggi-tingginya salah satu paha ditekuk untuk
melatih teknik tumpuan.
c) Posisi melayang di udara dan sikap mendarat.
Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
mengayunkan kaki kanan ke depan setinggi-tingginya, disertai gerakan
tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat
dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
d) Melakukan rangkaian gerakan lompat tinggi gaya straddle
Melakukan teknik gerakan lompat tinggi gaya straddle tanpa awalan, yaitu
menghadap serong kanan jika tumpuan dengan kaki kiri. Kemudian
to user
mengayunkan kaki kanancommit
ke depan
setinggi-tingginya, disertai gerakan

69
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

tubuh memutar seolah-olah melompat diatas mistar dan sikap mendarat


dengan tumpuan kedua tangan serta kaki.
Untuk pertemuan kedua kali ini siswa melakukan latihan lompat tinggi
gaya stradde bersama-sama putera dan puteri. Selama pelaksanaan lompat tinggi
gaya straddle guru memberikan motivasi, evaluasi, dan penghargaan bagi siswa
dengan teknik lompatan yang baik. Evaluasi diberikan secara individu maupun
secara kelompok saat pembelajarn berlangsung. Kemudian setalah selesai
melakukan latihan siswa putera melaksanakan tes kemampuan hasil lompat tinggi
gaya straddle dan didata hasilnya begitu juga siswa puteri melakukan setelah
siswa putera selesai.
Pembelajaran
menyimpulkan
reward

diakhiri

dengan

pembelajaran

(penghargaan)

yang

kepada

guru

telah

siswa

mengumpulkan

dilaksanakan.

terbaik.

Guru

siswa

dan

Guru

memberi

menutup

pelajaran

dengan menyanyi Sayonara bersama siswa.


c. Tahap Observasi
Observasi dilaksanakan saat pelajaran Penjasorkes materi pelajaran
lompat tinggi gaya straddle dengan menggunakan modifikasi permainan.
Pertemuan pertama berlangsung pada hari Sabtu, 31 Juli 2010 pukul 07.00-08.45
WIB. Pertemuan kedua, pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 pukul 07.00-08.20
WIB. Peneliti berkolaborasi dengan guru kelas dalam melaksanakan observasi
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Alat yang digunakan adalah lembar observasi, angket, dan kamera.
Pada pertemuan pertama, siswa sudah menempatkan diri di lapangan.
Guru mengkondisikan kelas dan memeriksa kesiapan siswa. Saat guru membuka
pelajaran dengan mengucapkan salam, siswa sangat bersemangat menjawabnya.
Pada saat kegiatan tanya jawab dengan guru tentang materi yang lalu, siswa sudah
mulai berebut menjawab. Hal ini menunjukkan siswa masih ingat materi yang
lalu. Sehingga menyebabkan suasana kelas menjadi lebih kondusif dari
sebelumnya.

commit to user

70
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Pada pertemuan kedua ini, suasana kelas sudah tertib. Kemudian saat
guru memulai pelajaran dengan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran
yang telah lalu, terlihat lebih banyak siswa berebut tunjuk jari menjawab
pertanyaan dari guru. Hal ini membuktikan bahwa siswa selalu mengingat
pembelajaran sebelumnya. Sehingga dimungkinkan pada akhir kegiatan, siswa
mengerjakan tes akan lebih mudah dan cepat.
Guru membagikan angket dan guru mengisi observasi dilakukan untuk
memperoleh data mengenai tingkat keaktifan dan hasil belajar siswa. Observasi
ini dilakukan oleh guru kelas dalam rangka mengamati aktivitas dan hasil belajar
siswa pada proses belajar mengajar.
Tabel 18. Hasil Observasi Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I dan
Siklus II.
Aspek

Kondisi
Awal

Siklus 1
Pertemuan 1

Siklus 1
Pertemuan 2

Hasil
kemampuan
lompat tinggi
Aktivitas
belajar siswa
Hasil belajar
kognitif

33,33%

55,56%

61,11%

66,67%

77,78%

42,7%

5,33%

62,22%

68,9%

86,7%

36,1%

48,9%

61,67%

69,4%

82,2%

commit to user

Siklus II
Siklus II
Peertemuan 1 Pertemuan 2

71
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 19. Hasil Kemampuan Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa Kelas VI SD
Negeri 1 Bangsalan Siklus II Pertemuan Pertama dan Pertemuan Kedua
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama Siswa

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi PM
Binti Nafiah
Digna Yona Ramadhani
Fredika Ari Prastyawan
Ircha Ajeng Rahmawati
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri Atmojo
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum Pambudi

Jenis
Kel

Pa
Pa
Pa
Pa
Pi
Pa
Pa
Pi
Pi
Pa
Pi
Pa
Pa
Pi
Pi
Pi
Pi
Pi

Siklus 2
Pertemuan Pertama

Siklus 2
Pertemuan Kedua

Cm

Nilai

Ket

Cm

Nilai

Ket

105
95
90
85
80
95
90
75
85
90
85
100
90
80
75
75
75
75

80
70
65
60
65
70
65
60
70
65
70
75
65
65
60
60
60
60

T
T
T
TT
T
T
T
TT
T
T
T
T
T
T
TT
TT
TT
TT

110
95
95
85
80
100
95
75
85
90
85
105
90
80
75
80
75
80

85
70
70
60
65
75
70
60
70
65
70
80
65
65
60
65
60
65

T
T
T
TT
T
T
T
TT
T
T
T
T
T
T
TT
T
TT
T

Tabel 20. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Pertama
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nilai (x) Frekuensi (fi) fi.Xi


Persentase (%)
Keterangan
55
0
0
0%
Dibawah KKM
60
6
360
33,33%
Dibawah KKM
65
6
390
33,33%
Diatas KKM
70
4
280
22,22%
Diatas KKM
75
1
75
5,56%
Diatas KKM
80
1
80
5,56%
Diatas KKM
85
0
0
0%
Diatas KKM
90
0
0
0%
Diatas KKM
Jumlah
18
1185
100%
Nilai Rata-Rata = 1185 : 18 = 65,83
Prosentase Ketuntasan = 12 : 18 X 100% = 66,67%
commit to user

72
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 21. Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Kedua
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nilai (x) Frekuensi (fi) fi.Xi


Persentase (%)
Keterangan
55
0
0
0%
Dibawah KKM
60
4
240
22,22%
Dibawah KKM
65
6
390
33,33%
Diatas KKM
70
5
350
27,78%
Diatas KKM
75
1
75
5,56%
Diatas KKM
80
1
80
5,56%
Diatas KKM
85
1
85
5,56%
Diatas KKM
90
0
0
0%
Diatas KKM
Jumlah
18
1220
Nilai Rata-Rata = 1220 : 18 = 67,78
Prosentase Ketuntasan = 14 : 18 X 100% = 77,78%
Dari tabel hasil kemampuan lompat tinggi gaya Straddle dan tabel

distribusi frekuensi nilai lompat tinggi gaya Straddle menunjukan adanya


peningkatan pada siklus II. Hal ini dilihat dari hasil ketuntasan siswa pada siklus
II pertemuan pertama 12 siswa yang tuntas, dan pada siklus II pertemuan kedua
meningkat menjadi 14 siswa yang tuntas. Prosentase dari nilai ketuntasan siswa
tersebut pada siklus II pertemuan pertama adalah 66,67%, dan pada siklus II
pertemuan kedua adalah 77,78% peningkatanya sebesar 11,11%. Dengan
demikian target capaian yang telah ditetapkan pada siklus II ini sebesar 70%
sudah tercapai.
Selain observasi tentang hasil kemampuan lompat tinggi gaya straddle
guru juga melakukan observasi untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar
siswa sesuai dengan indikator atau perilaku yang diharapkan. Hasil observasi pada
siklus I pertemuan pertama dan kedua telah mencapai target capaian yaitu 60%,
namun hasil tersebur belum optimal sehingga masih dilajutkan dengan siklus II.
Hasil dari observasi aktivitas belajar lompat tinggi gaya straddle siswa kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan siklus II pertemuan pertama dan kedua dapat dilihat dari
tabel dibawah ini.

commit to user

73
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 22. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
Pada Siklus II Pertemuan Pertama.
No

Nama Siswa

Indikator

commit to user

Kerjasama

Keterlibatan

Percaya Diri

Kompetisi

Besungguh -sungguh

Kemauaan

Bertanya


- -
-
-
-
- -
- -
- -
-
-
-
-
- -
- -
-

- -
-
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi P M
Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P

Keingintahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Motivasi

Perhatian

Jml

8
7
6
8
8
6
7
6
8
7
7
8
6
6
5
8
6
7
124
6,89
68,9

74
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 23. Diskripsi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan
Pada Siklus II Pertemuan Kedua
No

Nama Siswa

Indikator

commit to user

Kerjasama

Keterlibatan

Percaya Diri

Kompetisi

Besungguh -sungguh

Kemauaan

Bertanya




-
-
-
-
- -
-
-
-

-
-


-

Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x 100% ( 10 x 100%)

Dwi Purwanto
Agung Cahyo
Choliq Noto Negoro
Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito
Aziz Fan Fauzi P M
Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P

Keingintahuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Motivasi

Perhatian

Jml

9
10
9
8
8
9
8
8
9
7
9
9
8
9
9
10
8
9
156
8,67
86,7

75
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 24. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri
1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Pertama.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Indikator Keaktivan Yang Diinginkan Frekuensi


Perhatiabn
12
Motivasi
15
Bertanya
8
Kemauan
11
Bersungguh-sungguh
16
Percaya Diri
12
Keterlibatan
18
Keingintahuan
8
Kompetisi
11
Kerjasama
13

Prosentase
66,67%
83,33%
44,44%
61,11%
88,89%
66,67%
100%
44,44%
61,11%
72,22%

Tabel 25. Distribusi Frekuensi Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri
1 Bangsalan Pada Siklus II Pertemuan Kedua.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Indikator Keaktivan Yang Diinginkan Frekuensi


Perhatian
16
Motivasi
16
Bertanya
13
Kemauan
15
Bersungguh-sungguh
17
Percaya Diri
16
Keterlibatan
18
Keingintahuan
13
Kompetisi
17
Kerjasama
15

Prosentase
88,89%
88,89%
72,22%
83,33%
94,44%
88,89%
100%
72,22%
94,44%
83,33%

Angket digunakan oleh peneliti untuk mengetahui sejauh mana hasil


belajar siswa dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah
disediakan. Angket ini diisi oleh siswa secara individu. Pengisian angket ini
dilakukan setelah pembelajaran selesai. Nilai hasil belajar siswa dari angket dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

commit to user

76
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 26. Diskripsi Angket Hasil Belajar Lompat Tinggi Gaya Straddle Siswa
Kelas VI SD Negeri 1 Bangsalan.
No
1

Pertemuan 1
9
6

Pertemuan 2
9
8

Choliq Noto Negoro


Muhammad Sholeh
Umi Rodliyah
Andrea Aji Lupito

6
8
5
5

8
8
7
8

Aziz Fan Fauzi P M


Binti Nafiah
Digna Yona R
Fredika Ari P
Ircha Ajeng R
Joko Untung Wahyudi
Muhammad Tri A
Putri Sri Ruwantini
Titik Istiqomah
Marviani Indri Astuti
Anisa Rena Hapsari
Titonika Arum P
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata/Nilai Maksimal x
100% ( 10 x 100%)

7
6
7
7
9
9
7
9
5
7
6
7
125
6,94
69,4

8
9
8
8
9
9
7
9
9
9
8
7
148
8,22
82,2

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Nama
Dwi Purwanto
Agung Cahyo

Indikator ketercapaian pada siklus II ini adalah 70%. Dari hasil angket
hasil belajar kognitif siswa didapat bahwa pada siklus II pertemuan pertama hasil
belajar siswa meningkat dengan rata-rata nilai 6,94, sedangkan pada siklus II
pertemuan kedua dengan rata-rata 8,22. Dari nilai rata-rata tersebut diketahui
bahwa prosentasenya adalah 69,4% pada siklus II pertemuan pertama dan 82,2%
pada siklus II pertemuan kedua. Dari data iatas dapat diketahui peningkatanya
adalah 12,8%. Tercapainya hasil belajar dala aspek kognitif diatas sangat
ditunjang dengan aktivitas belajar siswa yang juga meningkat.
commit to user

77
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

d. Tahap Refleksi
Hasil analisis data dan diskusi antara peneliti dan guru kelas terhadap
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modifikasi permainan pada
siklus II, secara umum telah menunjukkan perubahan yang signifikan, dimana
aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran pada materi lompat tinggi gaya
straddle dengan menggunakan modifikasi permainan semakin dapat mengaktifkan
siswa. Aktivitas pembelajaran siswa khususnya bertanya dan keingintahuan juga
meningkat, mereka lebih berani bertanya dan menjawab pertanyaan guru, tanpa
ditunjuk oleh guru, bahkan para siswa juga lebih berani untuk berbicara dan
beraktivitas di depan kelas. Dengan aktivitas pembelajaran siswa yang semakin
meningkat maka proses kegiatan belajar mengajarpun lebih menyenangkan.
Dari analisis hasil observasi pada siklus II diketahui bahwa tingkat
ketuntasan siswa dalam nilai kemampuan lompat tinggi gaya straddle
menunjukan 77,78% siswa telah tuntas, sedangkan dalam hal keaktifan siswa
sudah mencapai 86,7%, dan hasil belajar kogitif siswa sudah mencapai 82,22%.
Dan hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II tersebut sudah di atas indikator
ketercapaian.
Atas dasar ketentuan tersebut dan melihat hasil yang diperoleh pada data
observasi dan angket siswa, maka pembelajaran yang menggunakan modifikasi
bpermainan dilaksanakan pada siklus II dikatakan berhasil, sehingga tidak perlu
dilanjutkan pada siklus berikutnya.

commit to user

78
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ), dapat disimpulkan
sebagai berikut:
Penerapan pembelajaran dengan modifikasi permainan sangat efektif
dalam meningkatkan hasil belajar lompat tinggi gaya straddle pada siswa kelas VI
SD Negeri 1 Bangsalan tahun pelajaran 2010/2011. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa hasil keterampilan lompat tinggi gaya straddle meningkat dari
33,33% pada kondisi awal menjadi 61,11% pada akhir siklus I dan meningkat
77,78% pada akhir siklus II. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada kondisi awal
42,7% meningkat menjadi 62,22% pada akhir siklus I dan mencapai 86,7% pada
akhir siklus II. Selain aspek kemampuan lompat tinggi gaya straddle dan aktivitas
belajar siswa diatas hasil penelitian juga diperoleh dari angket siswa hasil belajar
kognitif yaitu pada kondisi awal 36,1% meningkat menjadi 61,67% pada akhir siklus
I dan pada akhir siklus II meningkat menjadi 82,2%.
B. Saran
1) Bagi Guru
a) Hendaknya pembelajaran dengan modifikasi permainan dapat dikembangkan
dan digunakan dalam pembelajaran lompat tingi gaya straddle di sekolah.
b) Dalam proses pembelajaran harusnya guru memperhatikan kondisi siswa dan
menggunakan strategi mengajar yang bervariasi. Dengan demikian akan
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
pendidikan jasmani.
2) Bagi Siswa
a) Siswa harus siap untuk mengikuti pembelajaran dengan strategi pembelajaran
apapun yang diberikan guru dan selalu bersedia dengan kesadaran sendiri
commit to user
untuk mengikuti petunjuk dan arahan yang diberikan guru.
78

79
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b) Siswa perlu lebih meningkatkan berbagai aktivitas dan mengembangkan


berbagai metode belajar sekaligus sebagai sarana memperluas pengetahuan
dan wawasannya. Belajar secara mandiri, mengerjakan tugas-tugas dari guru
untuk berlatih mempraktikan teknik dan gerakan yang ada dalam pelajaran.
3) Bagi Peneliti Berikutnya
Disarankan

bagi

peneliti

di

masa

mendatang

untuk

dapat

mengembangkan penelitian tentang pendekatan pembelajaran, sebab pada


dasarnya terdapat beberapa pendekatan pembelajaran lain yang dapat digunakan
untuk memodifikasi teknik pembelajaran pendidikan jasmani.

commit to user