Anda di halaman 1dari 8

A.

Muhammad Syafar, Studi Keandalan Distance Relay Jaringan 150 kV GI Tello GI Pare-Pare

STUDI KEANDALAN DISTANCE RELAY JARINGAN 150 kV


GI TELLO - GI PARE-PARE
\

A. Muhammad Syafar
Dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Islam Makassar

Abstrak
Pada Penelitian ini mengangkat judul tentang Studi Keandalan Distance Relay Jaringan 150
kV G.I Tello G.I Pare-Pare. Dimana distance relay merupakan salah satu jenis alat proteksi atau
pengaman yang sering digunakan pada saluran transmisi 150 KV. Pada penelitian ini dibatasi
permasalahan pada GI.Tello GI.Pare-Pare. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan
Distance Relay jaringan 150 kV, menganalisis tingkat selektivitas distance relay terhadap jarak
gangguan dengan relay tersebut, menghitung setting impedansi distance relay. Hasil pengamatan dan
analisis pada penelitian tersebut adalah bahwa keandalan distance relay ini sangat baik untuk
melindungi sistem yang ada karena mampu memproteksi jaringan transmisi dengan baik dengan cara
membandingkan impedansi saluran yang terganggu dengan impedansi distance relay. Kemudian
berdasarkan hasil perhitungan didapatkan adanya pembagian daerah proteksi akibat adanya distance
relay yang selektif.pada tingkat zone I dapat mendeteksi 80-90 % lokasi gangguan pada jaringan
transmisi gardu induk. Zone II memproteksi 50% lokasi gangguan berikutnya dan tingkat/ zone III
dapat menjangkau 25% gangguan pada jaringan transmisi gardu induk berikutnya.
Kata kunci: Keandalan, Distance Relay, Jaringan 150 kV

.
Sistem transmisi memegang peranan yang
sangat penting dalam proses penyaluran daya.
Oleh karena itu pengaman pada saluran
transmisi perlu mendapat perhatian yang serius
dalam perencanaannya.Sistem transmisi sendiri
merupakan sistem dinamis kompieks yang
parameterparameter dan keadaan sistemnya
berubah secara terus menerus. Rele jarak
(Distance Relay) digunakan sebagai pengaman
pada saluran transmisi karena kemampuannya
dalam menghilangkan gangguan (fault clearing)
dengan cepat dan penyetelannya yang relatif
mudah. Kordinasi rele jarak selama ini
berdasarkan parameter saluran transmisi dengan
kompensasi perkiraan besarnya gangguan yang
dihitung secara offline.Tetapi dengan keadaan
sistem yang berubahubah yang mengakibatkan
parameter saluran transmisi juga berubah serta
adanya gangguan yang tidak bisa diperkirakan
besarnya, maka seting rele yang ada bisa
menjadi tidak selektif. Oleh karena itu
diperlukan kordinasi rele yang lebih baik yang
dapat menyesuaikan dengan keadaan sistem
tersebut. Dengan cara ini dimungkinkan untuk
memperbaiki kinerja pengamanan.

Keandalan dan kemampuan suatu sistem


tenaga listrik dalam melayani konsumen sangat
tergantung pada sistem proteksi yang digunakan.
Oleh sebab itu dalam perencangan suatu sistem
tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisikondisi gangguan yang mungkin terjadi pada
sistem, melalui analisa gangguan
Relay proteksi berfungsi mendeteksi
kondisi abnormal dalam suatu rangkaian listrik
dengan mengukur besaran listrik yang berada
dalam kondisi normal dan gangguan.

Gambar 1. Contoh Sistem Proteksi

MEDIA ELEKTRIK, Volume 5, Nomor 2, Desember 2010

Dalam upaya meningkatkan keandalan


penyediaan energi listrik, kebutuhan sistem
proteksi yang memadai tidak dapat dihindarkan.
Sistem proteksi terdiri dari peralatan CT, PT,
PMT, catu daya DC/ AC, relay proteksi, dan
teleproteksi yang diintegrasikan dalam suatu
rangkaian wiring. Disamping itu, diperlukan
juga peralatan pendukung untuk kemudahan
operasi dan evaluasi seperti sistem recorder,
sistem
SCADA
dan
indikasi
relay
(announciator).

Syarat-Syarat Umum Relay Proteksi


Relay proteksi ditinjau dari jenis dan
dalam penggunaannya harus memiliki syaratsyarat yang penting dalam pengoperasiannya
sehingga dapat bekerja sesuai dengan fungsinya
secara maksimal. Syarat tersebut terdiri dari
bebeapa hal yakni:
1.

Kecepatan kerja
Tujuan terpenting dari relay proteksi
adalah memisahkan bagian yang terkena
gangguan, dari sistem jaringan yang normal
dengan cepat (speed) agar tidak menimbulkan
kerugian yang lebih besar. Dan untuk dapat
meningkatkan keandalan (reliable) operasi dari
sistem, digunakan proteksi dengan kecepatan
kerja yang lebih tinggi dan dipadukan dengan
pemutus jaringan kecepatan tinggi. Adakalanya
relay
proteksi
dikehendaki
dengan
perlambatan waktu (time delay) yang
digunakan pada koordinasi proteksi dan
beberapa daerah proteksi yang berturut-turut
bilamana kondisi sistem memungkinkan adanya
perlambatan waktu kerja dari relay tersebut.
2.

Sensitifitas ( Kepekaan)
Sensitifitas relay proteksi yang digunakan
harus mampu untuk memberikan respon
terhadap gangguan yang timbul dalam sistem
yakni dapat bekerja pada awal kejadian
gangguan.
3.

Selektifitas
Adalah kemampuan sistem proteksi
untuk mengetahui letak terjadinya gangguan,
dan memilih pemutus jaringan yang terdekat
dan
tempat
gangguan
untuk
membuka.Selektifitas dari relay ini akan
menentukan bahwa yang mengalami gangguan
saja yang harus dipisahkan dari sistem.
4.

Andal (Reliable)
Keandalan dari sistem proteksi adalah

kemampuan suatu relay untuk dapat bekerja


dengan baik dan benar pada berbagai kondisi
sistem. Keandalan sistem proteksi ini dibagi
atas dua unsur yakni :
a. Kemampuan relay yang selalu bekerja
dengan baik pada kondisiabnormal (saat
terjadi gangguan), dan
b. Kemampuan relay untuk tidak bekerja pada
kondisi normal.

Peranan Relay Proteksi


Peralatan listrik pada suatu pembangkit
listrik dan jaringan transmisi memiliki nilai
investasi yang sangat besar, sehingga perhatian
yang khusus harus diutamakan agar setiap
peralatan tidak hanya beroperasi dengan efisien
dan optimal, tetapi juga teramankan dari
gangguan dan kerusakan yang fatal.Untuk itu,
relay proteksi sangat diperlukan pada jaringan
proteksi saluran transmisi. Adapunperanan relay
proteksi antara lain:
1. Memutuskan hubungan sistem (tripping)
pada jaringan transmisi yang terganggu
dengan cepat, guna menjaga stabilitas,
kontinuitas, dan pelayanan kerja dari
sistem.
2. Memberikan sinyal untuk melepaskan
kontak pemutus tenaga/ circuit breaker
dengan tujuan mengisolir gangguan atau
kondisi yang tidak normal yakni hubung
singkat.
3. Melokalisir daerah yang terganggu untuk
mencegah meluasnya pengaruh dan akibat
yang timbul bagi peralatan lainnya.
4. Mengurangi kerugian produksi
5. Menempatkan dan memisahkan peralatan
dari gangguan
6. Mengetahui jenis dari gangguan
7. Melindungi keseluruhan dari sistem (primer
sampai sini)
8. Mengurangi kerusakan dan memperbaiki
harga
9. Mengurangi waktu produksi
10. Mencegah panas dan medan magnetic yang
berlebihan pada peralatan dari akibat
kegagalan yang terjadi
11. Melindungi dari jatuh tegangan untuk
mempertahankan kestabilan
12. Untuk melindungi keselamatan dari
pegawai yang bekerja.

Pemberian Sifat Selektif pada Relay


Untuk pemberian sifat selektif pada relay
proteksi yaitu sifat untuk membedakan atau

A.Muhammad Syafar, Studi Keandalan Distance Relay Jaringan 150 kV GI Tello GI Pare-Pare

menentukan bagian mana dari sistem yang


mengalami gangguan dapat dilakukan dengan
dua cara yakni :

Dimana : Zf = Impedansi (ohm)


Vf = Tegangan (Volt)
If = Arus gangguan

1. Sistem Pilot Relaying


Kata pilot berarti pada ujung saluran
transmisi dipasang saluran informasi yang
dapat menyalurkan informasi timbal balik.
Prinsip kerja dari relay pilot ini adalah
pemberian
informasi
lewat
penghantarpenghantar suatu rangkaian telepon sebagai
media fisik, sinyal-sinyal frekuensi tinggi yang
digandengkan pada saluran transmisi daya itu
sendiri dari relay ke relay yang lainnya. Alat ini
dikenal sebagai PLC atau Power Line Carier.
2. Sistem Kelambatan Waktu Kerja Relay
Yaitu dengan memberikan kelambatan
waktu kerja yang berlainan bagi setiap relay,
sehingga diperoleh koordinasi kerja yang lebih
baik antar relay. Jadi, untuk mendapatkan
selektifitas pada sistem proteksi digunakan
kelambatan waktu yang bertingkat (stepped
delay time).

DistanceRelay (Relay Jarak)


Distance relay merupakan salah satu jenis
relay proteksi yang digunakan
sebagai
pengaman pada saluran transmisi karena
kemampuannya
dalam
menghilangkan
gangguan (fault clearing) dengan cepat dan
penyetelannya yang relatif mudah. Pada
prinsipnya, distance relay adalah mengukur
nilai arus dan nilai tegangan pada suatu titik
tertentu sehingga diperoleh nilai impedansinya
(Z=V/I), kemudian membandingkannya dengan
nilai setting impedansi tertentu dari distance
relay tersebut untuk menentukan apakah relay
harus bekerja atau tidak. Pada waktu SUTT
terganggu, maka distance relayakan melihat
turunnya impedansi dari SUTT, kemudian
distance relay pun akan bekerja. Blok diagram
distance relay dapat dilihat pada gambar 2.
Prinsip Kerja Distance Relay
Distance relay mengukur tegangan pada
titik relay dan arus gangguan yang terlihat dari
relay, dengan membagi besaran tegangan dan
arus, maka impedansi sampai titik terjadinya
gangguan dapat ditentukan. Perhitungan
impedansi dapat dihitung menggunakan rumus
sebagai berikut :
Zf = Vf / If

Gambar 2.Blok diagram distance relay

Distance relay akan bekerja dengan cara


membandingkan impedansi gangguan yang
terukur dengan setting impedansi pada distance
relay, dengan ketentuan :
a. Jika harga impedansi gangguan lebih kecil
daripada setting impedansi distance relay,
maka distance relay akan bekerja.
b. Jika harga impedansi gangguan lebih besar
atau sama dengan setting impedansi distance
relay, maka distance relay
tidak akan
bekerja.
Penyetelan Distance Relay
Penyetelan
distance
relay
artinya
mengatur nilai Z distance relay sampai berapa
jauh mampu melindungi bagian dari SUTT,
dalam praktek biasa disebut dengan penyetelan
zone protection dari distance relay. Distance
relay pada umumnya mempunyai 3 elemen
pengukur dan setiap elemen pengukur
mempunyai zone protection sendiri, sehingga
distance relay memiliki 3 zone protection. Hal
ini dapat diamati pada gambar 3
Zone satu bertujuan melindungi seksi
pertama dari SUTT, yaitu antara rel G.I dimana
distance relay berada sampai rel G.I berikutnya
terhadap relay.
Begitu seterusnya, zone 2 untuk
.(2.1)
seksi ke 2 dan zone 3 untuk seksi ke 3.

MEDIA ELEKTRIK, Volume 5, Nomor 2, Desember 2010

Umumnya, untuk zone 1 dan zone 2 relay


bersifat directional (mengenal arah) sedangkan
untuk zone 3 bersifat non directional (tidak
mengenal arah).
Dengan
mempertimbangkan
adanya
kesalahan-kesalan (errors) pengukuran pada
transformator tegangan dan transformator arus
serta adanya kesalahan pada penyetelan relay
maka umumnya penyetelan zone protection
tidak dibuat sama dengan impedansi seksi SUTT
yang diliindungi relay melainkan berselisih kirakira 15%. Apabila selisih ini negatif maka
dikatakan penyetelannya under reach dan apabila
positif
dikatakan
penyetelannya
over
reach.Ketelitian pengukuran impedansi saluran
transmisi banyak dipengaruhi oleh ketelitian
trafo arus, trafo tegangan, serta oleh relay
pengamannya
sendiri.
Dengan
mempertimbangkan pengaruh tersebut, maka
distance relay biasanya dibuat atas 3 daerah
proteksi.

proteksi II, dengan waktu operasi yang lebih


lambat (t3), di samping itu, di daerah proteksi III
masih dapat menjangkau 25% jaringan
berikutnya. Impedansi yang digunakan sebagai
dasar penyetelan distance relay adalah
impedansi urutan positif, dan impedansi saluran
transmisi pada sisi sekunder trafo arus (CT) dan
trafo tegangan (VT) dapat dihitung dengan
rumus:

Zs

Perbanding anCT
xZp
Perbanding anVT

Dimana:
Perbandingan CT

Perbandingan VT

Arus Pr imer
ArusSekunder
Tegangan Pr imer
TeganganSe kunder

(a)

Dimana:
Zs = Impedansi sisi sekunder CT dan VT
(impedansi yang terukur oleh distance
relay)
Zp = Impedansi sisi primer CT dan VT
(impedansi saluran transmisi)
CT = Current Transfrmator (trafo arus).
VT = Voltage Transformator (trafo tegangan)

(b)

Dengan menggunakan rumus di atas,


maka besar atau nilai impedansi sekunder untuk
ketiga daerah proteksi dapat ditentukan.

Gambar 3.(a) Seksi-seksi SUTT yang


diamankan distance relay, (b) Penyetelan
waktu untuk setiap zone protection
Daerah proteksi/ zone I berfungsi sebagai
proteksi utama untuk saluran yang dilindunginya
dan tergolong sebagai instantaneous relay
karena reaksinya yang cepat. Daerah proteksi
distance relay ini sejauh 80%- 90% dari panjang
saluran gardu induk. Penyetelan perlambatan
waktu untuk daerah proteksi ini (t1) umumnya
tanpa perlambatan waktu dengan maksud bahwa
penyetelan waktu adalah nol. Daerah proteksi II
berfungsi untuk melindungi 15%- 20% bagian
dari jaringan yang tidak diproteksi oleh daerah
proteksi I ditambah 50% dari saluran berikutnya
dengan perlambatan waktu (t2).
Daerah proteksi III mencakup 50% dari
saluran yang tidak terjangkau oleh daerah

Faktor Yang Mempengaruhi Distance Relay


a. Infeed
Yang dimaksud infeed yaitu adanya
pengaruh penambahan atau pengurangan arus
yang melalui titik terhadap arus yang ditinjau.
Adanya pengaruh infeed ini akan membuat
impedansi yang dilihat distance relay seolaholah menjadi lebih besar atau menjadi lebih
kecil.
b. Mutual impedance
Bila SUTT menggunakan satu tower yang
digunakan untuk sirkit-1 dan sirkit-2, maka akan
timbul mutual inductive kopling di antara dua
sirkit tersebut. Untuk pengukuran impedansi
urutan positif dan negatif pengaruh mutual
kopling sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Namun, untuk pengukuran impedansi urutan nol
maka pengaruh mutual kopling tidak bisa
diabaikan. Proteksi penghantar yang hanya
menggunakan
pengukuran
arus,
seperti

A.Muhammad Syafar, Studi Keandalan Distance Relay Jaringan 150 kV GI Tello GI Pare-Pare

pembanding fase atau pilot wire tidak


dipengaruhi oleh mutual kopling.
c. PowerSwing
Power swing adalah variasi aliran daya
dimana distance relay mendeteksi ada lokus
impedan yang bergerak dari daerah beban
memasuki daerah kerja distance relay.
d. Pengaruh Impedansi Sumber
Pada dasarnya impedansi sumber akan
mempengaruhi besar arus dan tegangan yang
terbaca oleh distance relay.
e. Pengaruh Tahanan Gangguan
Tahanan gangguan merupakan tahanan
murni, bila bertambah secara vektoris dengan
impedansi saluran maka akan menggeser lokus
impedan menjadi lebih besar sehingga relay
menjadi lebih lambat (Z2,Z3) atau tidak trip sama
sekali (di luar jangkauan setting). Penyebab dari
tahanan gangguan pada SUTT adalah terjadi
hubung singkat yang menimbulkan busur api
akibat terkena pohon, layangan, binatang,
manusia dan sambaran petir.

Dimana,
ZR = Impedansi terbaca oleh relay
VR = Tegangan fase ke netral
IR = Arus fase
2. Gangguan Hubung Singkat Dua Fase
Untuk mengukur impedansi pada saat
terjadi gangguan hubung singkat dua fase,
tegangan yang masuk ke komparator relay
adalah tegangan fase yang terganggu, sedangkan
arusnya adalah selisih (secara vektoris) arus-arus
yang terganggu. Maka pengukuran impedansi
untuk hubung singkat antara fase S dan T adalah
sebagai berikut :
Vrelay = VS VT
Irelay = IS - IT
sehingga,
ZR = ( VS VT ) / ( IS IT )
Tabel.1.Tegangan dan arus masukan relay untuk
gangguan hubung singkat dua fase

Pengukuran Impedansi Gangguan oleh


Distance Relay

Fase yang
terganggu

Tegangan

Arus

Menurut jenis gangguan pada sistem


tenaga listrik, gangguan terdiri dari gangguan
hubung singkat tiga fase, dua fase, dua fase ke
tanah dan satu fase ke tanah. Distance relay
sebagai pengaman utama harus dapat
mendeteksi semua jenis gangguan dan kemudian
memisahkan sistem yang terganggu dengan
sistem yang tidak terganggu. Untuk dapat
melakukan fungsi tersebut, distance relay harus
mampu mengukur impedansi gangguan yang
terjadi
pada
saluran
transmisi
untuk
dibandingkan dengan setting impedansi pada
distance relay. Sehingga distance relay
membutuhkan
komponen
bantu
untuk
melakukan pengukuran impedansi gangguan,
antara lain trafo arus dan trafo tegangan.

R-S
S- T
T- R

VR- VS
VS-VT
VT-VR

IR- IS
IS- IT
IR- IT

1. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fase


Pada saat terjadi gangguan tiga fase yang
simetris maka amplitudo tegangan fase
VR,VS,VT turun dan beda fase tetap 120
derajat. Impedansi yang diukur distance relay
pada saat terjadi gangguan hubung singkat tiga
fase adalah sebagai berikut :
Vrelay = VR
Irelay = IR
ZR = VR /IR

3. Gangguan Hubung Singkat Satu Fase Ke


Tanah
Untuk mengukur impedansi pada saat
hubung singkat satu fase ke tanah, tegangan
yang dimasukkan ke relay adalah tegangan yang
terganggu, sedangkan arus fase terganggu
ditambah arus sisa dikali faktor kompensasi.
Misalnya terjadi gangguan hubung singkat satu
fase R ke tanah, maka pengukuran impedansi
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Tegangan pada relay Vrelay = VR
Arus pada relay
Irelay = IR+K0.In
Arus netral
In=IR+IS+IT
Kompensasi urutan nol :
K0=1/3 (Z0-Z1/Z1)
Z1 = VR/ (IR+K0.In)
Impedansi urutan nol akan timbul pada
gangguan tanah. Adanya K0 adalah untuk
mengkompensasi adanya impedansi urutan nol
tersebut.Sehingga impedansi yang terukur
menjadi benar.

MEDIA ELEKTRIK, Volume 5, Nomor 2, Desember 2010

Tabel 2. Tegangan dan arus masukan relay


untuk gangguan hubung singkat satu fase
ke tanah
Fase yang
terganggu

Tegangan

Arus

R-N

VR

IR+ K0.In

S- N

VS

IS+ K0.In

T- N

VT

IT+ K0.In

METODE
1. Tempat dan Objek Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di PT.
PLN (Persero) Area Pengatur dan Penyalur
Beban (AP2B) Sul-Sel Makassar
Objek penelitian ini adalah distance relay
yang ada di jaringan transmisi mulai dari gardu
induk Tello sampai di gardu induk Pare- pare.
Tabel 3. Data Penyetelan Impedansi Zone
Protection
Penyetelan Impedansi (Ohm)
Gardu
Induk
Parepare
Pangkep
Bosowa

Zone
Protection
I

Zone
Protection
II

Zone
Protection
III

2,76

4,04

4,86

0,94
0,73

1,635
1,374

2,32
-

2. Teknik Analisis Data


Data-data yang diperoleh pada penelitian ini
adalah data kualitatif sehingga data tersebut
dituangkan/ ditranskripkan secara tertulis dan
setelah proses transkip selesai, data tersebut
dianalisis sesuai dengan prinsip- prinsip data
kualitatif. Alur penelitian dapat dilihat pada
gambar 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil perhitungan impedansi distance
relay dapat diamati dalam tabel di bawah ini,
yang akan dibandingkan dengan setting
impedansi distance relay dari PLN.
Tabel 3. Hasil perhitungan impedansi distance
relay arah G.I Pare- pare G.I Tello pada
penghantar 1

Tabel 4.Hasil perhitungan impedansi distance


relay arah G.I Pare- pare G.I Tello pada
penghantar 2

Tabel 5 Hasil perhitungan impedansi distance


relay arah G.I Tello - G.I Pare- pare pada
penghantar 1

Tabel 6. Hasil perhitungan impedansi distance


relay arah G.I Tello - G.I Pare- pare pada
penghantar 2
Penyetelan Impedansi (Ohm)
Gardu
Induk
Tello
Pangkep

Zone
Protection
I

Zone
Protection
II

Zone
Protection
III

1,37

3,44

6,027

2,76

5,18

A.Muhammad Syafar, Studi Keandalan Distance Relay Jaringan 150 kV GI Tello GI Pare-Pare

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan:
1. Keandalan distance relay sangat baik untuk
melindungi sistem yang ada karena mampu
memproteksi jaringan transmisi dengan baik
dengan cara membandingkan impedansi
saluran yang terganggu dengan impedansi
setting distance relay.
2. Distance relay merupakan salah satu relay
proteksi yang selektif karena adanya
pembagian
daerah
proteksi/zone
protection, pada tingkat zone I dapat
mendeteksi 80-90 % lokasi gangguan pada
jaringan transmisi gardu induk. Zone II
memproteksi
50%
lokasi
gangguan
berikutnya dan tingkat/ zone III dapat
menjangkau 25% gangguan pada jaringan
transmisi
gardu
induk
berikutnya,
sehingga
distance
relay
mampu
mengetahui letak dan jarak terjadinya
gangguan, serta memilih pemutus jaringan
yang terdekat dari tempat gangguan untuk
membuka. Jadi kemungkinan kegagalan
relay proteksi ini sangatlah kecil.
3. Adanya selisih hasil perhitungan impedansi
distance relay dengan setting impedansi
distance relay dari pihak PT. PLN (Persero)
pada saluran transmisi antara G.I Tello - G.1
Pare-pare disebabkan oleh adanya tingkat
ketelitian pengukuran impedansi saluran
transmisi yang banyak dipengaruhi oleh
ketelitian trafo arus, trafo tegangan, serta
oleh relay pengamannya sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan
kepada Pihak PLN hendaknya senantiasa
memperhatikan keandalan, selektifitas dan
setting impedansi distance relay yang digunakan
agar bisa tetap relevan dengan kondisi saluran
yang diproteksi. Dengan demikian, gangguan
pada saluran transmisi bisa diatasi dengan baik
dan ketersediaan tenaga listrik bagi konsumen
bisa tetap terjamin.

DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar,
Kuwahara.
1993.
Buku
Pegangan Teknik Tenaga Listrik II.
Jakarta: Pradnya Paramita.
Halomoan Tobing, Cristof Naek. 2008. Rele
Jarak
Sebagai
Proteksi
Saluran
Transmisi. Depok: Departemen Elektro
Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
(http://qtop.files.wordpress.com/2008/04/r
ele-jarak-di-saluran-transmisi1.pdf,
diakses 25 Juli 2010).
Marsudi, Djiteng. 2006. Operasi Sistem Tenaga
Listrik. Jogjakarta: Graha Ilmu.
PT. PLN. 1982. Hand Out Relay Proteksi
Saluran Jilid 1-4. Jakarta: Pusat
Pendidikan dan Latihan Perusahaan
Umum Listrik Negara.
PT. PLN (Persero) P3B. 2006. Pelatihan O&M
Relai Proteksi Jaringan. http://bops.plnjawabali.co.id/artikel/ProteksiPenghantar.pdf,
diakses 25 Juli 2010).
Tobing, Bonggas L. 2003. Peralatan Tegangan
Tinggi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.

MEDIA ELEKTRIK, Volume 5, Nomor 2, Desember 2010

Anda mungkin juga menyukai