Anda di halaman 1dari 95

0|P age

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam UU No 29 tahun 2009 tentang perubahan atas UndangUndang No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan RPP,
mengamanatkan bahwa Pembangunan transmigrasi berbasis kawasan
yang memiliki keterkaitan dengan kawasan disekitarnya, membentuk satukesatuan dalam sistem pengembangan ekonomi wilayah. Pembangunan
kawasan transmigrasi dirancang secara holistik dan komprehensif sesuai
dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW).Pembangunan Kawasan
Transmigrasi dapat berbentuk Wilayah Pengembangan Transmigrasi
(WPT)

atau

Lokasi

Permukiman

Transmigrasi

(LPT).Pembangunan

Wilayah Pengembangan Transmigrasi diarahkan untuk mewujudkan pusat


pertumbuhan baru atau sebagai kawasan perkotaan baru. Sedangkan
Lokasi Permukiman Transmigrasi diarahkan untuk mendukung pusat
pertumbuhan yang telah ada atau yang sedang berkembang sebagai
kawasan perkotaan baru.
Penyusunan Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) adalah sebagai
dasar

untuk

mewujudkan

pembangunan

kawasan

transmigrasi,

pengembangan masyarakat dan kawasan transmigrasi. Dalam RPP


pelaksanaan UU 15/1997 yang telah diubah dengan UU 29/2009,
Penyusunan RKT dilaksanakan secara bertahap mulai dari perencanaan
WPT dan LPT, kemudian dilanjutkan dengan Penyusunan Rencana Satuan
Kawasan Pengembangan (RSKP) dan secara lebih rinci dibuat Rencana
Teknis Satuan Permukiman.
Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP)menghasilkan dokumen
perencanaan sebagai pedoman dan arahan untuk pembukaan lahan dan
pembangunan permukiman transmigrasi. Disamping itu agar kawasasn
transmigrasi

tidak

jalan

untuk

dengan

pusat

Kedepan untuk lebih memeratakan hasil pembangunan

dan

menghubungkan

terisolir

pemukiman

diperlukan
/kawasan

Perencanaan
transmigrasi

pertumbuhan terdekat.

mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam di permukiman yang


sudah ada di luar Jawa,Sumatera dan Bali,pembangunan transmigrasi
tidak hanya merencanakan pembangunan pemukiman-pemukiman baru

1|P age

saja (SP baru), namun sudah saatnya direncanakan pula pembangunan SP


pugar. Konsep dan pendekatannya adalah, satuan pemukiman baru yang
direncanakan

akan

diintegrasikan

dengan

permukiman

penduduk

lokal/setempat yang akan dipugar menjadi satu kesatuan pemukiman (SP


Pugar). Disamping itu

dalam rangka mewujudkan satu kesatuan

pengembangan ekonomi wilayah, pemukiman - pemukiman transmigrasi


akan di integrasikan dengan desa setempat (SP tempatan) masuk dalam
satu kesatuan SKP.
Penyusunan RTSP dan Rencana Teknis Jalandiperlukan untuk
mendukung program pembangunan pemukiman transmigrasi pada tahun
berikutnya.

1.2. Maksud ,Tujuan Dan Sasaran Penyusunan RTSP dan RTJ


Maksud dari penyusunan RTSP dan RTJ adalah mengoptimalkan
pemanfaatan

sumberdaya

alam

oleh

sumberdaya

manusia

yang

berkualitas, mengacu kepada keterbatasan lingkungan yang sekaligus


mendukung

terciptanya

terintegrasi

dengan

lingkungan

penduduk

permukiman

lokal

secara

transmigrasi

aman,

yang

produktif

dan

berkelanjutan.
Tujuannya adalah menyusun :
1. Rencana detail pemanfaatan ruang SP.
2. Rencana Teknis Jalan (struktur dan geometrik jalan) penghubung/poros.
3. Rencana detail pola usaha pokok dan pengembangan usaha yang dapat
dikembangkan.
4. Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan.
5. Rencana Kebutuhan Pembangunan SP dan Pembangunan Jalan Poros.
Sasaran dari perencanaan ini adalah untuk :
1. Terarahnya pemerataan pembangunan di permukiman transmigrasi.
2. Terbangunnya jalan penghubung (kolektor primer)/poros (lokal primer)
sesuai dokumen perencanaan teknis jalan yang disyaratkan secara
efektif dan efisien.

2|P age

3. Tersedianya informasi mengenai

jumlah penduduk lokal dan Jumlah

Transmigran yang bisa ditempatkan.


4. Berkembangnya komoditas unggulan/potensial di calon permukiman
transmigrasi untuk mendukung pengembangan ekonomi kawasan.
5. Terciptanya keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan

permukiman transmigrasi dan desa-desa setempat dalam kawasan.


Adapun fungsi /manfaatRTSP ini adalah ;
1. Mengetahui jumlah transmigran yang dapat ditempatkan di calon
pemukiman transmigrasi
2. Mengetahui jumlah rumah untuk transmigran yang perlu dibangun,
rumah penduduk lokal yang harus dipugar dan dibangun untuk pecahan
KK.
3. Sebagai

arahan

pembukaan

lahan

pembangunan

jalan

dan

pembangunan rumah untuk calon permukiman transmigrasi


4. Mengetahui

jenis dan volume saprotan yang diperlukan untuk

pengembangan usaha pertanian sesuai dengan kondisi lahan calon


permukiman transmigrasi
5. Mengetahui

perkiraan

kualifikasi

SDM

yang

dibutuhkan

untuk

pembangunan dan pengembangan permukiman transmigrasi


1.3. Ruang Lingkup Wilayah
Lokasi yang akan direncanakan adalah sebagai berikut :
1. Lokasi Sungai Tekam SP.1, Kab. Sanggau, Prov. Kalimantan Barat.
2. Lokasi Batubi Jaya SP.2, Kab. Natuna, Prov. Kepulauan Riau.
3. Lokasi Lito SP.2, Kab. Boalemo, Prov. Gorontalo.
4. Lokasi Raut Muara SP.1, Kab. Sanggau, Prov. Kalimantan Barat.
5. Lokasi Desa Kabera, Kab. Morowali, Prov. Sulawesi Tengah.
6. Lokasi Rantekarua SP.3, Kab.Toraja Utara, Prov.Sulawesi Selatan.
7. Lokasi Desa Meok, Kab.Bengkulu Utara, Prov.Bengkulu.
8. Lokasi Sepa, Kab.Maluku Tengah, Prov.Maluku.
9. Lokasi Desa Manyoe Peramba, Kab.Morowali Utara, Prov.Sulawesi Tengah.
10. Lokasi Patlean SP.6, Kab.Halmahera Timur, Prov.Maluku Utara

3|P age

1.4. Luaran
Hasil penyusunan RTSP dan RTJ ada 2 (dua) produk yaitu :
1. RTSP, terdiri atas :
a. Dokumen Laporan,
b. Album Peta dan,
c. Pilok
d. RAB
e. CD
2. RTJ, terdiri atas :
a. Dokumen Laporan akhir,
b. Gambar kerja,
c. RKS dan Spesifikasi Teknis,
d. RAB

1.5. Landasan Hukum


Landasan hukum untuk penyusunan RTSP ini adalah:
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan UndangUndang No.15 Tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 131);
2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian
(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3682,
Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 37);
4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3472);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Transmigrasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999

4|P age

Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor


3800).
II.

KRITERIA PEMILIHAN TIPE SP


Untuk mengetahui type SP yang akan direncanakan terlebih dahulu perlu
diketahui kriteris untuk setiap type SP.

2.1. Kriteria Pemilihan SP Baru


1. Lahan Potensial

Lahan potensial seluas antara 1.000 Ha 1.600 Ha, yang bisa


dikembangkan untuk 300 500 KK.
2. Aspek Legalitas

1. Desa yang diusulkan SP masuk ke dalam SK Pencadangan Areal


yang berada diluar kawasan hutan atau ijin lokasi/HGU
perusahaan;
2. Diterbitkan SK-HPL;
3. Lokasi yang dipilih sesuai urutan prioritas dari Rencana Rinci SKP.

2.2. Kriteria pemilihan SP Pugar


1. Jumlah Penduduk
Desa yang dipilih untuk SP Pugar, berpenduduk minimal 100 KK dan
maksimal 200 KK.
2. Lahan Potensial
a. Ada lahan potensial seluas antara 250 Ha 500 Ha, yang bisa
dikembangkan untuk 100 200 KK;
b. Jarak lahan potensial maksimal 1,5 km dari permukiman penduduk
setempat (dusun/desa yang di pugar);
c. Areal survai mencakup desa yang dipugar dan areal lahan
potensial calon permukiman baru, yang mencakup sebagian atau
seluruh dari wilayah administrasi desa dengan luasan antara 1.000
1.600 Ha.

5|P age

3. Aspek Legalitas
a. Desa yang diusulkan SP Pugar masuk ke dalam SK Pencadangan
Areal yang berada diluar kawasan hutan atau ijin lokasi/HGU
perusahaan;
b. Penduduk setempat

menginginkan dan mengusulkan

adanya

transmigran di desanya dan telah menyerahkan lahan nya


(berdasarkan Surat Keterangan Tanah) yang ditanda tangani
minimal oleh 85 % pemilik tanah dan mencakup luas 85 % dari luas
yang akan diserahkan yang dituangkan dalam BA;
c. Telah ada hasil konsolidasi lahan yang diterbitkan oleh Kantor
Pertanahan Kabupaten dan telah diterbitkan SK HPL untuk
pembangunan pemukiman transmigrasi.

2.3. Kriteria Pemilihan SP Tempatan


1. Lokasi terisolir;
2. Tidak memiliki lahan untuk pemukiman transmigrasi;
3. Dapat digabung dengan pemukiman transmigrasi dalam satu satuan
SKP dengan jarak antara pemukiman /desa penduduk setempat
dengan pemukiman transmigrasi terdekat < 7 km;
4. Penyusunan Rencana SP Tempatan berdasarkan hasil kesepakatan
musyawarah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah dengan Kepala
Desa dan masyarakat setempat.
III.

RUANG LINGKUP KEGIATAN

Secara singkat penyusunan RTSP dan RTJ mengikuti tahapan sebagai berikut:

Persiapandata sekunder dan peta-peta pendukung

Koordinasi

Musyawarah I

Orientasi Lapangan

Survai lapangan :
Untuk penyusunan RTSP
o

Survai pendahuluan
- Survai dan pemetaan seluruh areal survai;

6|P age

- Survai dan pemetaan penduduk peserta pugar (untuk survai


pugar);
- Survai tanah dan evaluasi kesesuaian lahan ;
- Survai penggunaan lahan dan sumber daya hutan;
- Survai iklim dan hidrologi ;
- Survai kependudukan dan sosial budaya;
- Survei

dan

pemetaan

rumah

penduduk,sarana

prasaranayang harus dipugar (untuk SP Pugar);


- Survai agro ekonomi:
o

Musyawarah II;

Survai detail di calon areal permukiman :


- Survai topografi
- Survai tanah
- Survai penggunaan lahan dan sumber daya hutan
- Pembuatan sumur uji

Pengolahan data dan analisa lapang;

Penyusunan RTSP Tentative;

Rencana pembukaan lahan ;

Musyawarah III.

Untuk penyusunan RTJ

Reconaissance Survei;

PemasanganBench Mark dan patok-patok sementara;

Pengukuran Polygon/Traverse;

Pengamatan matahari/azimuth geografis;

Pengukuranbedatinggi;

Pengukuran Cross Section;

Pengukuran situasi sungai/jembatan;

Pembuatan peta tentatif Alinemen Horizontal Jalan

Staking Out;

Penelitian mekanika tanah dan sumber material;

Survei hidrologi dan lingkungan ;

Survei sosial dan ekonomi;

Foto lapangan.

Pengolahan data, analisa dan penyusunan RTSP di Lapangan

7|P age

dan

Penilaian Aksesibilitas;
Penilaian fisik lahan;
Penilaian status lahan;
Penilaian ketersediaan air dan resiko banjir;
Penilaian Kesesuian permukiman;
Penilaian kependudukan dan sosial budaya.

Penyusunan Rencana Teknis SP Tentative


Penataan desa pugar;
Penyusunan rencana tata ruang pemukiman .

Musyawarah III

Penajaman Analisa dan penyusunan Rencana


Untuk pekerjaan RTSP
o

Penajaman pengolahan Data dan Analisa


- Telaahan Kebijakan;
- Identifikasi kedudukan SP dalam hirarki pusat;
- Penilaian Aksesibilitas;
- Penilaian fisik lahan;
- Penilaian status lahan ;
- Penilaian ketersediaan air dan resiko banjir;
- Penilaian Kesesuian permukiman ;
- Penilaian kependudukan dan sosial budaya.

Penyusunan RTSP Definitive


- Luasan SP ;
- Rencana Detail Pemanfaatan ruang SP;
- Rencana Pembukaan lahan SP ;
- Rencana Penyiapan bangunan SP :

Rencana detail pola usaha pokok dan pengembangan usaha yang


dapat dikembangkan;

Perhitungan Kelayakan usaha transmigran;

Telaahan Lingkungan ;

Rencana Daya Tampung Penduduk SP ;

Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;

Rencana Kebutuhan Pembangunan SP .

Untuk pekerjaan RTJ

8|P age

Perhitungan Volume Pekerjaan Pelaksanaan Fisik Pembuatan


Jalan;

IV.

Penyempurnaan Desain Jalan sesuai Standar Geometrik Jalan;

Analisis Data;

Estimasi Volume Pekerjaan dan Biaya.

RINCIAN KEGIATAN

4.1. Persiapan
Persiapan meliputi:
1. Literatur
Studi literatur

dimaksudkan untuk mengetahui informasi awal

mengenai kawasan yang akan di studi.


2. Peta-peta yang harus dikumpulkan oleh konsultan pada pekerjaan ini
adalah:

Peta orientasi lokasi skala 1 : 500.000/1.1.000.000;

Peta alinemen horisontal jalan berikut struktur WPT/LPT dengan


batasan administrasi dan SKP/SP yang dilalui skala 1 : 250.000;

Peta alinemen harisontal jalan berikut striktiur dan SKP yang dilalui
atau yang berdekatan pada skala 1 : 50.000;

Hasil

studi

rencana

terdahulu

yang

berhubungan

dengan

penyusunan RTSP dan RTJ seperti : identifikasi wilayah potensi,


rencana kerangka jaringan transportasi pemukiman, rencana
jaringan jalan, Peta RKT, peta RSKP, dll;

Peta-peta lainnya.

3. Pembuatan Peta Dasar


Pembuatan Peta dasar diperlukan agar Peta Tematik yang disajikan
mempunyai koordinat yang sama dan memiliki unsur dasar yang sama
seperti garis pantai/pulau, permukiman,sungai, jalan

dan

batas

desa / batas administrasi. Pembuatan Peta Dasar menggunakan citra


penginderaan jauhyang mempunyai ketelitian skala 1: 5.000 namun
ditampilkan dalam peta 1:10.000.
4. Interpretasi Citra Satelit

9|P age

Untuk mengetahui kondisi penutupan lahan awal areal studi,


drainase dan informasi awal

mengenai

landform

secara

pola
perlu

dilakuakn interpretasi citra satelit.


5. Pembuatan Peta Rencana Kerja
Berdasarkan hasil studi literatur, interpretasi citra satelit dan hasil
pembuatan peta dasar , maka dibuat peta rencana kerja survei di
lapangan.
a. Untuk RTSP skala 1 : 10.000 yang meliputi rencana survai:

Rencana survai topografi;


Rencana survei posisi rumah-rumah serta lahan penduduk yang
akan dipugar, serta jalan dan Fasum desa eksisting (bila SP pugar);
Rencana survai tanah;
Rencana survai hidrologi;
Rencana survai penggunaan lahan;
Rencana survei potensi hutan (bila ada);
Rencana Chek posisi areal yang telah dllakukankonsolidasi tanah
untuk pemukiman transmigran.
b. Untuk RTJ skala 1 : 5.000 mencakup informasi-informasi antara lain :
Data kemiringan/slope (land unit slope) dan punggung bukit;
Pola drainase;
Alinemen horisontal rencana jalan;
Pusat-pusat pemukiman yang dilalui, nama kampung/kotanya bila
diketahui;
6. Persiapan peralatan survai lapangan baik alat, chek list dan persiapan
administrasi.
Konsultan harus menyiapkan peralatan survei dan bahan yang memadai
baik dari segi kualitas maupun kuantitas serta telah mendapat persetujuan
dari pihak Pemberi Tugas. Konsultan juga harus menyiapkan tenaga
personil sesuai dengan bidang tugas dan keahliannya.
4.2. Koordinasi
Koordinasi dimaksudkan sebagai upaya agar pekerjaan lapang berjalan
dengan lancar sesuai dengan rencana. Untuk itu perlu disiapkan
kelengkapan administrasi koordinasi dengan instansi terkait baik intern

10 | P a g e

maupun ekstern di tingkat pusat, diantaranya Dinas Transmigrasi Provinsi


dan Kabupaten, Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi/Kab, Dinas
Perhubungan Prov/Kab, ASDP setempat sehubungan dengan prasarana
dan pemukiman transmigrasi yang akan direncanakan. Kegiatan ini dapat
dibantu oleh pengawas lapangan atau asisten pengawas lapangan.
Hal-hal yang perlu dikoordinasikan:
1) Pemantapan lokasi kegiatan;
2) Pencapaian lokasi;
3) Program Dinas yang menangani Transmigrasi terhadap pembangunan
fisik yang direncanakan dan UPT-UPT di sekitar lokasi proyek;
4) Program Pemda dan lintas sektor terkait;
5) Informasi kemampuan kontraktor di daerah tersebut;
6) Personil Dinas yang akan mengantar ke lokasi proyek.
4.3. Musyawarah I
Musyawarah dilakukan tiga kali bersama dengan kepala desa, tokoh
masyarakat dan masyarakat, aparat desa dan kecamatan, dinas yang
membidangi ketransmigrasian kabupaten/kota, pelaksana pekerjaan dan
wakil dari pusat. Musyawarah dilakukan sebanyak 3 kali:
Musyawarah tahap I dilaksanakan pada waktu tiba di lapangan :Pada
tahap ini merupakan pemantapan hasil sosialisasi sebelumnya yang
dilakukan oleh dinas kabupaten/kota.
Untuk SP baru, hasil musyawarah ini dituangkan dalam bentuk berita
acara yang antara lain berisi :

Persetujuan untuk dilakukan penyusunan tata ruang permukiman;

Kesepakatan terhadap data atau dokumen legalitas serta pernyataan


masyarakat;

Kesediaan menerima warga transmigran dari luar daerah tersebut


beserta dengan informasi lain yang diperlukan;

Penentuan waktu survai pendahuluan (inventarisasi calon peserta TPS,


identifikasi FU, identifikasi prasarana jalan dan identifikasi areal calon
permukiman baru) beserta pendamping baik dari tingkat kecamatan,
desa, dan warga desa yang berkepentingan;

11 | P a g e

Penentuan waktu musyawarah II.

Untuk SP Pugar :

Sosialisasi konsep pemugaran;

untuk

mengkonfirmasi

sebelummnya,

atas

kesepakatam

kesediaannya

yang

masyarakat

telah

dilakukan

untuk

menerima

transmigran dalam satu kesatuan pemukiman dan ;

Kesepakatan terhadap data atau dokumen legalitas serta surat


penyerahan tanah yang telah mereka tandangani dan telah diterbitkan
surat persetujuannya dari BPN;

Menginventariir data rumah yang perlu dipugar;

Inventarisasi calon TPS ;

Usulan calon TPA;

persetujuan dilakukan penyusunan tata ruang permukiman yang


terintegrasi dengan desa tersebut;

Pembuatan Berita Acara.

4.4. OrientasiLapangan
Orientasi lapang meliputi Batas areal studi , Batas areal survai sesuai peta
rencana

kerja

dan

disempurnakan

di

lapangan,

Orientasi

calon

permukiman, penentuan untuk patok awal.

4.5.

SurvaiLapangan

4.5.1. Untuk Kegiatan Penyusunan RTSP


Survai Pendahuluan di Seluruh Areal Survai (untuk SP pugar batas
administrasi desa)
1.

Survai topografi meliputi :


o

Penentuan BM 0 dan baseline;

Survai kelerengan pada jalur rintisan per 500 m;


Untuk SP baru

survei kelerengan diseluruh areal survai

sedangkan untuk SP pugar terbatas pada areal hasil konsolidasi


lahan untuk SP Pugar, survai dan Pemetaan topografi ada
tambahan yaitu:
Pemetaan posisi rumah penduduk, sarana dan prasarana
yang harus dipugar;

12 | P a g e

Pemetaan posisi FU dan jalan yang akan diperbaiki


(fungsional).
2.

Survai Tanah pada jalur rintisan per-500 m di seluruh areal survai;

3.

Survai Penggunaan Lahan Dan Sumber Daya Hutan pada jalur


rintisan per-500 m di seluruh areal survai;

4.

Survai Iklim dan Hidrologi ;

5.

Survai dan pemetaan penduduk peserta pugar :


o Inventarisasi nama-nama penduduk yang akan dipugar rumahnya;
o Inventarisasi pecahan KK dan lahan miliknya untuk dibangunkan
rumah;
o Identifikasi FU dan jalan yang akan diperbaiki (fungsional).

6.
4.5.1.1.
A.

Survai Agro Ekonomi di desa calon pugar.


Survai Pendahuluan Topografi
Survai Kerangka dan Kelerengan ( SP baru di seluruh areal
survai , SP Pugar di Areal hasil konsolidasi lahan)
Survai pendahuluan topografi mengacu pada peta dasar sementara
dibuat Peta Kerja 1: 10.000 yang memuat:
o Jalur-jalur pengamatan guna penetuan titik-titik sampling lapangan;
o Patok-patok RSKP (BM dan Patok Areal Terekomendasi);
o Sejumlah GCP (Ground Control Point) titik control lapangan yang
menyebar di area survai;
o Kerangka pemetaan;
o Letak desa eksisting, jalur rintisan per 500 m dan kelas kemiringan
lahan sementara.

B.

Pengukuran Pengikatan
Kerangka pemetaan /Base line harus diikatkan kepada titik referensi
berupa Titik Kontrol Nasional yang berada didekat lokasi. Apabila
tidak ditemukan titik kontrol nasional, maka dapat dipilih suatu titik
pada peta dasar yang dapat dikenali pada peta dan mudah dicari di
lapangan.

13 | P a g e

o Berdasarkan Peta Rencana Kerja Topografi, pengukuran harus


diikatkan terhadap patok hasil RSKP titik tetap (BM) dan Patok
areal terekomendasi.
o Pengukuran Pengikatan menggunakan theodolite ketelitian 30,
pengukuran sudut horizontal dilakukan bersamaan pengukuran
vertical (tachimetry).
o Datum vertikal dapat menggunakan ketinggian permukaan air laut
rata-rata atau ketinggian Baromatrik atau ketinggian patok BM
RSKP.
o Pada setiap BM, GCP dan titik penting lainnya di cek koordinatnya
dengan GPS.
o Ketelitian Pengukuran Pengikatan disyaratkan sebagai berikut:

Ketelitian sudut: 4n (n= jumlah titik polygon)

Ketelitian linier jarak: 1/2000

Ketelitian beda tinggi: 60 mmDKm (D= jumlah jarak dalam


Km).

C.

Pengukuran Kerangka Pemetaan/ Base Line


o Kerangka Pemetaan/Base line direncanakan sedemikian rupa
diatas Peta Kerja sehingga membagi areal survai menjadi dua
bagian yang sama besar.
o Jarak base line ke batas areal survai tidak boleh lebih dari 3 Km,
bila lebih harus dibuat base line yang sejajar dengan base line
pertama.
o Pemasangan Patok Beton (BM) setiap jarak 3 Km atau sekitar 60
titik polygon, sebagai titik control pengukuran. Sebagai titik control
bantu dibuat dari Bahan PVC di cor beton (BL), dipasang setiap
jarak 1 Km.
o Patok BM dibuat dengan ukuran 15 cm x 15 cmx 80 cm, ditanam
dengan bagian didalam tanah 60 cm. Patok BL menggunakan pipa
PVC diameter 4 inchi, panjang 80 cm, ditanam dengan bagian
didalam tanah 50 cm
o Pengukuran Base line menggunakan alat ukur theodolite dengan
kelengkapannya. Ketelitian pembacaan theodolite untuk sudut

14 | P a g e

horizontal minimal 30". Untuk pengecekan koordinat BM, BL dan


titik penting lainnya di cek dengan GPS.
o Pengukuran base line dilakukan pulang pergi atau merupakan loop
tertutup.
o Sudut horizontal diamati dengan pembacaan ke target belakang
bacaan biasa, lalu ke target depan bacaan biasa, lalu dengan
posisi teropong luar biasa target depan dibaca luar biasa, kemudian
diarahkan ke target belakang bacaan luar biasa (B B,LB LB)..
o Bersamaan dengan pengukuran horizontal dilakukan pengukuan
beda tinggi dengan metoda tachymetry. Selisih beda tinggi
pembacaan Biasa dan Luar Biasa ke target belakang tidak boleh
lebih dari 2 mm, demikian juga untuk target depan.
o Pengukuran jarak dilakukan dengan pita ukur pulang pergi.
o Jarak antara dua titik polygon yang berurutan 50 m maksimum
100m.
o Tingkat ketelitian pengukuran base line disyaratkan sebagai
berikut:

Ketelitian sudut: 4n (n= jumlah titik polygon)

Ketelitian linier jarak: 1/2000

Ketelitian beda tinggi: 60 mmDKm (D= jumlah jarak dalam


Km).

D.

Pengecekan data Kemiringan Lahan


o Hasil digitasi citra satelit stereo yang telah melalui proses
pengolahan citra diperoleh data dalam bentuk DEM selanjutnya
dikonversi menjadi data kemiringan lahan.
o Selanjutnya dibuat kelas-kelas kemiringan lahan sementara pada
seluruh areal survai RTSP pada peta kerja.
o Berdasarkan peta kerja dilakukan pengecekan kelas kemiringan
lahan sementara di lapangan, pengamatan merata pada setiap
kelas kemiringan lahan dan menyebar di seluruh areal survai.
Setiap kelas kemiringan minimal diamati sebanyak 5 titik.

15 | P a g e

o Pengecekan kemiringan lahan dilakukan pada titik-titik tertentu


dalam jalur rintisan per 250m sesuai dengan peta kerja dengan
memperhatikan kelas kemiringan yang akan dicek.
o Pengamatan

dilakukan

dengan

menggunakan

alat

ukur

clinometer, kompas , pita ukur dan GPS.


o Pengamatan kemiringan dilakukan dengan jarak 50 m ke depan,
ke kanan dan kiri. Dari data prosentase kemiringan (%) yang
didapat baik positif/tanjakan maupun negatip/lereng, akan diambil
nilai yang maksimum.
o Tempat berdiri pengamatan dan titik target diamati koordinatnya
dengan menggunakan GPS, koordinat dalam UTM .
o Berdasarkan hasil pengamatan kemiringan lahan tadi di lakukan
perbaikan terhadap peta kemiringan lahan.
o Pengelompokan

kemiringan

lahan

berdasarkan

bentuk

topografinya terbagi atas beberapa kelas kemiringan lahan :


-

Datar
Landai/ berombak
Bergelombang
Agak Berbukit
Berbukit
Bergunung

03%
38%
8 15 %
15 25 %
25 40 %
> 40 %.

o Keberadaan detail alam pada jalur rintisan dan sekitarnya seperti


sungai, alur, rawa jalan dan sebagainya harus diukur koordinatnya
menggunakan GPS dan dimensinya di catat. Selanjutnya,
keberadaan detail-detail tersebut harus dicatat dan dibuat sketsa
lapangannya dalam buku ukur.
E.

Pemetaan Posisi Rumah Penduduk , Sarana dan Prasarana Yang


Harus Dipugar
Dengan menggunakan hasil interpretasi citra satelit resolusi tinggi
skala 1: 10.000 namun dengan ketajaman skala 1 : 5.000, sangat
membantu dalam pemetaan tata letak permukiman dan fasilitas
umum, sebab permukiman akan terlihat jelas namun masih diperlukan
pengecekan di lapangan yaitu:

16 | P a g e

1. Pengecekan tata letak/posisi obyek yang ada di peta dengan skala


dilakukan:
Melakukan pengukuran on screen koordinat obyek-obyek yang
mudah diidentifikasi dengan mencatat dan membuat daftar
koordinat obyek tersebut.
Dengan menggunakan peta rencana kerja, posisi obyek-obyek
tersebut di cek koordinatnya di lapangan dengan menggunakan
GPS.
Berdasarkan hasil pengecekan bila terjadi perbedaan, maka
koordinat di peta disesuaikan dengan koordinat lapangan.
2. Pengukuran obyek di lapangan menyangkut:
Luas bangunan dan luas tanah/ lahan pekarangan dengan
menggunakan GPS melakukan pengukuran pada setiap pojok
bangunan

dan

setiap

pojok

tanah/

lahan

pekarangan.

Pengukuran ini harus melibatkan pemilik rumah dan tetangga


yang bersebelahan (sebelah Kanan, kiri dan belakang). Hal ini
dikaitkan nantinya dengan pemberian sertifikat hak milik atas
tanah melalui program Transmigrasi dengan luas maksimum 2
Ha.
Dengan GPS perlu di ukur letak/posisi, luas dan batas sawah,
empang, ladang, kebun di permukiman
Dengan menggunakan alat ukur

theodolit dan waterpass

dilakukan pengukuran panjang dan lebar jalan di permukiman,


panjang dan lebar sungai/ saluran di permukiman.
3. Hasil pengukuran lapangan setelah melalui proses pengolahan
data akan disajikan peta tata letak permukiman desa eksisting
dengan menggunakan GIS.
4.5.1.2.

Survai Pendahuluan Tanah


Survai Pendahuluan Tanah seperti halnya survai topografi untuk
perencanaan SP baru dilakukan di seluruh areal survai , Sedangkan
untuk perencanaan SP Pugar

terbatas di areal hasil kesepakatan

konsolidasi lahan ditambah mengambil beberapa sampel mewakili di

17 | P a g e

Lahan yang diusahakan penduduk setempat.

Survei tanah merupakan kegiatan pengumpulan data kimia, fisik, dan


biologi dilapangan maupun dilaboratorium, dengan tujuan pendugaan
penggunaan lahan umum maupun khusus.
Tujuan survei tanah adalah mengklasifikasikan, menganalisis dan
memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah-tanah, yang
mempunyai kesamaan sifatkedalam satuan peta tanah tertentu. Sifat
dari satuan peta secara singkat dicantumkan dalam legenda,
Sedangkan uraian lebih detail dicantumkan dalam laporan survei
tanah yang selalu menyertai peta tanah tersebut (Hardjowigeno,
1995). Hasil survei tanah ini selanjutnya akan digunakan dalam
proses penilaian kesesuaian lahan.
Survei tanah akan memiliki kegunaan yang tinggi jika teliti dalam
memetakannya, hal itu berarti :

Tepat mencari site yang representatif, tepat meletakkan site


pada peta yang harus didukung oleh peta dasar yang baik;

Tepat dan benar dalam mendeskripsi profil serta menetapkan


sifat-sifat morfologinya;

Tepat dalam mengambil contoh tanah yang representatif;

Benar dalam melakukan analisis laboratorium.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam survei tanah:


1. Metoda Grid Kaku (Rigid Grid)

a.

Diterapkan pada survei tanah semi detil sampai dengan


detil, dimana tidak tersedia foto udara.

b.

Kalaupun foto udaranya tersedia, mungkin skalanya terlalu


kecil dan mutunya sangat rendah

c.

Daerah yg disurvei tertutup awan/kabut

d.

Kenampakan permukaan tidak jelas atau daerahnya sangat


homogen dan datar

e.

18 | P a g e

Daerah yang disurvei tertutup vegetasi yg rapat dan lebat

f.

Daerah survei berrawa, padang rumput atau savana yang


tidak menampakkan gejala permukaan.

Dalam metoda ini, pengamatan dilakukan dalam pola teratur pada


interval titik pengamatan yang berjarak sama dalam kedua arah.
Sangat cocok diterapkan pada daerah-daerah di mana posisi
pemeta, sukar ditentukan dengan pasti.
Keuntungan Metoda Grid-Kaku: Tidak memerlukan

tenaga

surveyor yang berpengalaman, karena lokasi titik-titik pengamatan


sudah di plot pada peta rintisan (peta rencana-pengamatan).
Kerugian Metoda Grid-Kaku: Perlu waktu sangat lama, terutama
untuk kondisi lokasi / medan yang berat. Penggunaan titik
pengamatan tidak efektif. Sebagian dari lokasi pengamatan,
tidak mewakili satuan peta yang dikehendaki (misal pada tempat
pemukiman, daerah peralihan satuan lahan dll).
2. Metoda Fisiografik (dengan bantuan foto udara)

a. Sangat efektif pada survei tanah berskala < 1 : 25.000, dan


tersedia foto udara berkualitas cukup tinggi.
b. Hampir semua batas satuan peta diperoleh dari IFU,
sedangkan kegiatan lapangan hanya untuk mengecek batas
satuan peta dan mengidentifikasi sifat dan ciri tanah masing
masing satuan peta.
c. Pengamatan dilakukan pada tempat-tempat tertentu pada
masing-masing satuan peta.
Gambar Lokasi titik observasi pada metode fisiografik : jumlah
pengamatan pada tiap-tiap satuan peta tergantung Ketelitian IFU (
intepretasi foto udara) dan keahlian serta kemampuan surveyor
dalam

memahami

hubungan

fisiografi

dan

keadaan

tanah.Kerumitan (kompleks tidaknya) satuan peta tersebut. Makin


rumit dan makin banyak luasan satuan peta sehingga jumlah
pengamatannya pun semakin banyak.

19 | P a g e

3. Metoda Grid Bebas

a. Perpaduan metoda grid-kaku dengan metoda fisiografi.


b. Digunakan pada survei detil sampai dengan semi-detil, yang
kemampuan foto udara dianggap terbatas dan di tempattempat yang orientasi lapangan cukup sulit.
c. Pengamatan lapangan dilakukan pada titik-titik seperti pada
grid-kaku, tapi jarak titik-titik pengamatan tidak perlu sama
dalam dua arah, tetapi tergantung keadaan fisiografi.
d. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak
dekat pengamatan akan lebih rapat.
e. Jika bentuk-lahan relatif seragam maka pengamatan akan
renggang.
f.

Sangat

baik

diterapkan

oleh

surveyor

yang

belum

berpengalaman dalam IFU.

Variasi Penentuan Titik Observasi Dalam Survei Tanah


1. Penentuan titik observasi dalam Daerah Kunci (Key Area). Fungsi
Key Area adalah :
a. Untuk mempelajari tanah secara lebih detil daripada skala
peta final.
b. Untuk membuat definisi satuan peta dengan

menyusun

legenda peta sementara.


c. Untuk membuat korelasi antara SPT dg citra foto.
d. Untuk mengumpulkan data SDL (pola tanam, LU, produksi,
dosis pupuk dll) secara lebih lengkap. Beberapa syarat
daerah kunci adalah :
-

Dapat mewakili sebanyak mungkin satuan yg ada dibuat


pada daerah yang hubungan tanah-landskap dapat
dipelajari dengan mudah.

20 | P a g e

Tidak boleh sejajar dengan batas landform.

Usahakan mencakup semua satuan peta yang ada.

Jumlahnya harus memadai.

Aksesibilitasnya tinggi

2. Penentuan Titik Observasi Dalam Transek

juga merupakan

daerah pewakil sederhana dalam bentuk jalur/rintisan yang


mencakup satuan landform, sebanyak mungkin.
Key Area Metode survei tanah menggunakan dua pendekatan
utama, yaitu pendekatan sintetik dan analitik:
o Pendekatan Sintetik Untuk membagi permukaan tanah
sebagai suatu satuan peta tanah adalah dengan cara
mengamati, mendeskripsikan dan mengklasifikasikan profilprofil tanah sesuai dengan taksonomi yang digunakan
sebagai acuan untuk memberi batas pada peta tanah yang
ada, batas tersebut dapat digunakan untuk menggabungkan
daerah sekitar pengamatan yang memiliki profil serupa atau
yang berbeda dengan yang lain seusai denga klasifikasi
taksonomi yang digunakan.
o Pendekatan analitik dilakukan di daerah survei tersebut
dengan cara: Hal yang dilakukan pertama adalah interpretasi
foto udara yang ada atau didapat dari citra satelit, gunakan
acuan

sifat-sifat

tanah

yang

dapat

dilihat

dengan

menggunakan foto udara seperti jenis topografi, vegetasi dan


bahan induk ( warna ) sehingga dapat menentukan jenis
landformnya. Kemudian memberi batas-batas permukaan
tanah yang memiliki sifat-sifat tanah yang dianggap berbedabeda.

Melaksanakan karakterisasi satuan-satuan yang

dihasilkan melaluipengamatan dan pengambilan contoh tanah


di lapangan.
Pemetaan tanah yang akan dilakukan adalah untuk menghasilkan
peta tanah di wilayah perencanaan pada skala 1: 10.000 dengan
menggunakan klasifikasi tanah sistem taksonomi tanah USDA/FAO
pada kategori famili atau seri dengan fasenya. Satuan peta yang
diperoleh adalahKonsosiasi, beberapa kompleks dan asosiasi, satuan
tanah yang ditampilkan adalah Famili atau Seri. Pola penyebaran
tanah berdasarkan homogenitas karakteristiknya sehingga terbentuk

21 | P a g e

soil mapping unit atau satuan peta tanah (SPT).


Survei Pemetaan dan pengamatan tanah ini dilakukan dengan
menggunakan unsur-unsur satuan-unsur satuan peta tanah yang
terdiri dari satuan tanah, landform, relief dan bahan induk. Untuk
mempermudah dalam pemetaan dan pengamatan tanah serta
mempercepat waktu pelaksanaan survei , digunakan citra satelit yang
jenisnya sama dengan digunakan untuk survei topografi yaitu data
SPOT 5 atau Allos, untuk melakukan identifikasi satuan-satuan peta
tanah.Sebelum dilakukan survei pengamatan tanah terlebih dahulu
dibuatkan peta kerja pengamatan tanah/Peta Satuan Lahan Homogen
sementara yang selanjutnya akan dipergunakan sebagai dasar
evaluasi lahan setelah dilakukan revisi delineasi berdasarkan kondisi
lapangan. Unsur-unsur pembentuk satuan lahan homogen adalah
suatu lokasi wilayah yang mempunya satuan tanah yang homogen
terdiri dari relief, landform, bahan induk (peta geologi), penggunaan
tanah. Peta satuan Lahan Homogen ini selanjutnya akan dilakukan
proses evaluasi kesesuaian lahan.Peta satuan lahan homogen
disusun terdiri dari landform, relief, bahan induk dan penggunaan
tanah.
Tatacara survei tanah :
1. Tujuan survei tanah ini dilakukan untuk mengklasifikasikan jenisjenis tanah diwilayah perencanaan pada skala 1:10.000 dan
mengumpulkan karekteristik dan kualitas tanah untuk tujuan
evaluasi lahan. Karakteristik lahan yang merupakan gabungan
dari sifat-sifat lahan danlingkungannya diperoleh dari data yang
tertera pada legenda peta tanah danuraiannya, peta/data iklim
dan peta topografi/elevasi.
2. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi
lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama, yaitu
topografi, tanah dan iklim. Karakteristik lahan tersebut (terutama
topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta
tanah.

22 | P a g e

3. Penentuan titik Pengamatan dilakukan dengan berdasarkan


satuan peta lahan homogen dengan jumlah titik pengamatan
dilakukan proporsional dengan luasan dan tingkat homogenitas
karakteristik tanah pada masing-masing satuan peta tanah.
4. Pengamatan

tanah

dilakukan

dengan

cara

pengamatan

penampang profil dan pengeboran pada masing-masing titik


pengamatan yang mewakili masing-masing satuan peta tanah
homogeny
5. Pengamatan tanah dilapangan dilakukan berdasarkan petunjuk
survei soil survey staff/Dokumen Petunjuk Pengamatan

tanah

dari Balai Besar Sumberdaya Lahan/Puslittanak tahun 1993.


Contoh Tabel deskripsi profil dan pengeboran lihat lampiran.
Sedangkan

pengamatan

pengujian

kesuburan

dilapangan

dilakukan dengan mengunakan soil test kit kesuburan tanah.


6. Jumlah profil pewakil masing-masing SPT minimal 2 profil dan
jumlah titik pengeboran mengikuti jalur transek (sedikitnya
dilakukan pada beberapa lokasi yaitu pada bagian lereng bawah,
lereng tengah, lereng atas/puncak, sehingga akan diperoleh 3-5
titik setiap satuan lahan), atau minimal 1 titik pengamatan untuk
luasan 12,5 ha di seluruh areal survai ..
7. Jika extrapolasi berdasarkan kesamaan karakteristik landform,
bahan induk dan relief.
8. Setiap SPT akan diambil sampel tanah komposit minimal 2
sampel komposit, pada kedalaman 0-30 dan 30-60 cm yang
selanjutnya akan dilakukan analisa laboratorium untuk penilaian
kesuburan tanah dan penilaian kesesuaian lahan.
9. Laboratorium analisis disarankan dilakukan dilaboratorium yang
sudah terakreditasi, misalnyaLaboratorium BBSDL, Laboratorium
Riset Perkebunan atau Laboratorium Tanah Perguruan Tinggi.
10. Sebelum dilakukan analisis laboratorium, sampel tanah dan air
perlu dilakukan pengecekan ulang misalnya, data deskripsi,
penomoran/label, kondisi contoh tanah utuh.
11. Untuk tanah gambut hendaknya dilakukan pemboran dengan
menggunakan bor gambut terhadap kedalamannya sampai

23 | P a g e

dijumpai batuan /lapisan tanah mineral denganserta diamati


ketebalandan tingkat kematangan bahan organik(Fibrist, Hemist,
Saprist) serta potensi gambut dengan melakukan analisa Kadar
Abu di laboratorium.Untuk Gambut di daerah pasang surut dan
rawa lebak perlu itu diukur kedalaman pirit ( FeS2) serta sifat
drainasenya.
Pengamatan

pemboran

dan

diskripsi

profil

mengikuti

pedoman Soil survai manual (Soil Survai staff, 1951, 1961)


atau Pedoman Pengamatan tanah di lapang (Dok LPT,
1969).
Pemetaan

tanah/satuan

lahan

dilakukan

pada

tingkat

semidetail untuk seluruh areal survai dan tingkat detail untuk


calon lahan pekarangan/pangan fasilitas umum dengan
klasifikasi menurut terminologi dari Pusat Penelitian Tanah
(PPT, 1983) dan disebutkan padanannya menurut sistem Soil
Taxonomy (USDA, Eighth Edition 1999). Pada setiap macam
tanah sekurang-kurangnya dibuat 2 profil, salah satu profil
pewakil diambil contoh tanah setiap lapisan/horizon untuk
dianalisa di laboratorium.
Peta Satuan Tanah/satuan lahan disajikan pada skala 1:
10.000 untuk seluruh areal survai berdasarkan pengamatan di
lapangan dan jika ada dilengkapi hasil interpretasi foto udara.
Peta tanah (Peta tanah dan kesesuaian lahan) Skala 1:10.000
dilengkapi dengan klasifikasi menurut 3 sistem tersebut di
atas dan penilaian kesesuaian lahan untuk setiap Satuan Peta
Lahan (SPL) tersebut. Peta Satuan Lahan skala 1 : 10.000
dan 1 : 5000 dilengkapi dengan legenda satuan tanah/lahan
dengan menunjukkan deskripsi (skema) yang meliputi

kedalaman efektif, tekstur lapisan atas dan bawah, drainase


tanah, struktur, konsistensi, reaksi tanah (pH), kapasitas tukar
kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB).P2O5, K2O serta C
organik. Setiap titik observasi tanah baik pemboran, profil,

24 | P a g e

komposit dan contoh fisik/undistrub-sample (jika ada) di


plotkan pada peta yang disajikan.
Contoh tanah komposit untuk penilaian kesuburan diambil
pada lokasi yang dicalonkan untuk pekarangan (LP) dan
Lahan Usaha I (LU.I), dengan kerapatan satu contoh untuk
setiap blok/kelompok lahan pekarangan atau minimal per 25
ha (50 KK) diambil dari kedalaman 0-30 cm. Sedangkan untuk
Lahan Usaha II dengan kerapatan satu contoh per 50 Ha
pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm.
Jenis analisa yang perlu dilakukan untuk contoh profil dan
kesuburan adalah :
Tabel
Analisa Tanah di Lokasi Transmigrasi
JENIS ANALISA

CONTOH
PROFIL

Tekstur dalam 3 fraksi

CONTOH
KESUBURAN
V

pH (H2O dan Kel 1 : 1)


V
V
Total P
V
V
Total K
V
V
Kapasitas Tukar Kation
V
V
(KTK)
Kejenuhan Basa (KB)
V
V
Ca, Mg, K, Na dapat ditukar
V
V
Total N
C Organik
V
V
P Tersedia
V
V
Toksisitas & kekahatan *
V
Al, H dapat ditukar
V
V
Ket : V =
Dilakukan
-=
Tidak dilakukan
*=:
Dilakukan terutama untuk tanah-tanah bermasalah

KETERANGAN

Contoh
kesuburan
secara kwalitatif dapat
dilakukan di lapangan
(Soil Test Kit)

Penyajian Satuan Peta Lahan (SPL)


Disajikan pada skala 1 : 10 .000 untuk seluruh areal
survai
Dilengkapi

dengan

Legenda

Satuan

Lahan

yang

menunjukkan deskripsi yang meliputi : macam tanah,

25 | P a g e

kedalaman efektif, tekstur lapisan atas dan bawah,


struktur, konsistensi, reaksi tanah (pH), Kapasitas Tukar
Kation (KTK), Kejenuhan Basa (KB), drainase tanah,
P2O5, K2O, C organik,status kesuburan dan kondisi
factor pembatas yang menonjol seperti : kejenuhan
alumunium, gambut, banjir, erosi, sulfat masam dan
sebagainya.
Setiap titik pengamatan tanah dan pemboran profil di
plotkan pada peta SPL yang dilengkapi dengan macam
tanah, kedalaman efektif, tekstur lapisan atas dan bawah
serta kedalaman drainase.
Evaluasi Kesesuaian Lahan
Penilaian kesesuaian lahan harus dilakukan berdasarkan
prinsip sesuai seperti yang diterapkan dalam A Frame Work
Land Evaluation (FAO.1976).
Kesesuaian lahan dinilai pada tingkat Sub Kelas dan tingkat
Unit. Tingkat Sub kelas untuk 3 tipe penggunaan lahan yaitu
padi sawah, tanaman pangan lahan kering dan tanaman
tahunan terhadap seluruh areal survai (Skala 1 : 10.000).
Penilaian ini dimaksudkan untuk :
Penentuan lahan-lahan yang memiliki potensi Tanaman
Pangan dan Tanaman Tahunan.
Evaluasi

kesesuaian

lahan

tanaman

Pangan

dan

Tahunan (jika berdasarkan perhitungan analisa ekonomi


terhadap alternatif tanaman pangan dan tahunan memiliki
kelayakan yang lebih tinggi, Konsultan dapat menyusun
evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman lain sesuai
yang direkomendasikan).
Penilaian kesesuaian lahan pada tingakt unit, khusus dinilai
tipe penggunaan komoditi tanaman pangan pokok dan
tanaman pangan yang diusulkan dinilai secara aktual dengan

26 | P a g e

masukan input teknologi, tingkat rendah yang diperlukan


sehingga didapat kesesuaian lahan potensial. Begitu pula
untuk tipe penggunaan lain, juga untuk tanaman tahunan
yang diusulkan. Kesesuaian lahan tingkat unit disajikan pada
peta skala 1 : 10.000.
Jika dari hasil evaluasi kesesuaian lahan seperti tersebut
diatas

(standar

rata-rata)

lokasi

studi

tidak

dapat

dikembangkan untuk usaha tani tanaman pangan konsultan


diharuskan membuat penilaian kesesuaian lahan secara
standar

tidak

di

rata-rta

(STR)

atau

dengan

mempertimbangkan input teknologi pada tingkat sedang. Hasil


evaluasi kesesuaian lahan disajikan pada peta skala 1 :
10.000 untuk seluruh daerah survai
Penilaian kesesuaian lahan secara spesifik untuk setiap
komoditi tanaman pangan pokok dan tanaman lainnya pangan
pokok dan tanaman lainnya yang direkomendasikan oleh
konsultan

berpedoman

menurut

sistem

Atlas

Format

Procedures (CSR/FAO-Staff, 1983).


Penilaian Kesesuaian Lahan
Penilaian kesesuaian lahan dilakukan pada masingmasing SPL di seluruh areal survai.
Konsultan

diharuskan

untuk

memilih

Pedoman

Pengelompokkan Kelas Kesesuaian Lahan tersebut untuk


berbagai komoditas yang direkomendasikan dengan
disesuaikan kondisi fisik lokasi. Jika masih diperlukan
Pedoman
dikonsultasikan
Perencanaan

Pengelompokkan
terlebih

lainnya,

dahulu

Pembangunan

dengan

dan

harap
Direktorat

Pengembangan

Kawasan Transmigrasi.
Penilaian kesesuaian lahan tersebut minimal diarahkan
untuk penggunaan Padi Sawah (PS), Tanaman Pangan
Lahan Kering (TPLK) dan Tanaman Tahunan (TT) dan

27 | P a g e

Tanaman Perkebunan. Selanjutnya dilakukan penilaian


kesesuaian lahan untuk beberapa komoditi, sehingga
dapat ditentukan jenis komoditi yang paling sesuai.
Penilaian kesesuaian lahan dinilai terhadap :
a.

Kesesuaian Lahan Aktual


Yaitu dinilai berdasarkan kondisi saat ini dengan
berdasarkan

kriteria

standar

dari

Pedoman

Pengelompokkan Kelas Kesesuaian Lahan.


b.

Kesesuaian Lahan Potensial


Yaitu dinilai setelah mempertimbangkan masukan
(input) baik Rendah, Sedang atau Tinggi (Low Input,
Medium Input, High Input). Dalam hal ini (pembatas
utama) yang perlu diperhatikan adalah faktor kunci
penentuan kelas kesesuaian lahan yang secara
potensial dapat ditingkatkan menjadi kelas yang
lebih tinggi.

Lahan yang dapat direkomendasikan untuk perencanaan


tata ruang adalah yang memiliki kelas sesuai secara
aktual.

Dalam

hal

tertentu

jika

Konsultan

akan

merekomendasikan lahan kelas sesuai secara potensial,


terlebih dahulu perlu mendapat persetujuan dari Direktorat
Perencanaan

Pembangunandan

Pengembangan

Kawasan Transmigrasi, Ditjen PKP2Trans.


Penyajian Peta Kesesuaian Lahan pada skala 1 : 10.000
untuk seluruh areal survai dengan kesesuaian lahan
actual dan potensial.

4.5.1.3.

Survai Penggunaan Lahan Dan Sumber Daya Hutan

A. Penggunaan Lahan

Survai penggunaan lahan mengikuti survai Topografi dan Tanah

Peta penggunaan lahan harus disajikan pada skala 1:10.000 yang


menunjukkan jenis penggunaan lahan. Peta harus berdasarkan

28 | P a g e

pengamatan yang terbaru di lapangan dan data-data penunjang lain


yang ada.

Pengamatan di lapangan harus dibuat dan dicatat pada semua


katagori yang diidentifikasikan dengan satu pengamatan setiap 50
meter sepanjang semua rintisan dan poligon yang dipakai untuk
survai tanah.

Peta penggunaan lahan harus menunjukkan juga batas-batas HPH,


Long Yard dan Camp serta jalan angkutan kayu utama (main
logging road) dengan cabang-cabangnya, dan jembatan yang ada;
kesemuanya meliputi yang sedang direncanakan maupun yang
sudah ada.

Untuk

kelengkapan

data,

harus

menghubungi

Instansi

Perhubungan, Pertanian, BPN, Kehutanan, Pekerjaan Umum serta


Camat setempat mengenai keadaan lahan pada saat diadakan studi
serta rencana dari instansi-instansi tersebut yang berkaitan dengan
masalah penggunaan lahan daerah studi. Wawancara dengan lurah
dan petani-petani setempat diperlukan antara lain untuk mengetahui
status pemilikan lahan di aerah studi. Wawancara dengan lurah dan
petani-petani setempat diperlukan antara lain untuk mengetahui
status pemilikan lahan di daerah tersebut.
B. Sumber Daya Hutan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tegakan kayu, kelas
hutan dan status hutan, serta penelitian jenis flora dan fauna. Hasil
penelitian potensi/tegakan kayu dimaksudkan untuk menjadi masukan
dalam penentuan kelas hutan yang berguna dalam pengurusan Ijin
Pemanfaatan

Kayu.

Penelitian

kelas

hutan

dimaksudkan

untuk

mengetahui kelas hutan dikaitkan dengan biaya pembukaan lahan


(menurut standar pembukaan lahan pemukiman transmigrasi) serta
dalam penentuan kelas hutan yang akan dibuka. Penelitian status hutan
dimaksudkan sebagai masukan bagi penyelesaian status calon lokasi
(pelepasan hutan).

29 | P a g e

Penelitian flora dan fauna dimaksudkan sebagai masukan dalam


telaahan lingkungan.

Hasil penelitian hutan harus dipetakan yang dapat menunjukkan


potensi tegakan;

Status dan fungsi kawasan hutan menunjukkan sebagai hutan


produksi, hutan produksi konservasi dan hutan lindung serta izin-izin
kehutanan. Data tersebut harus dikonsultasikan dengan Dinas
Kehutanan dan atau Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH)
Setempat;

Inventarisasi hutan primer harus memberikan data jumlah volume


kayu yang biasa digunakan, untuk semua spesies yang mempunyai
DBH

sama dengan atau lebih dari 35 cm, dengan kesalahan

penarikan contoh 10% atau kurang pada tingkat kenyataan 95%;

Bila klasifikasi ini cukup baik, maka persentase penarikan contoh


tersebut bisa dicapai dengan contoh kurang dari 1% luasnya, tetapi
harus ada lebih dari 0,5% luasnya;

Dalam setiap satuan contoh, semua pohon yang hidup, dengan


DBH 35 cm atau lebih harus dicatat bersama dengan pohon yang
lebih jelas sudah rusak. Pohon-pohon harus dicatat menggunakan
nama jenis (spesies), atau kelompok jenisnya dan 6 (enam) kelas
garis tengah 35-50 cm, 51-60 cm, 60-70-80, 81-90 cm dan lebih
besar dari 91 cm ditambah 20% dari hasil satuan pencatatan
inventarisasi kecuali yang mempunyai DBH 10-34 cm, untuk
perhitungan ongkos pembukaan lahan;

Inventarisasi terperinci tidak perlu untuk hutan sekunder, kecuali


survai pendahuluan menunjukkan bahwa ada 20 M3 per ha atau
lebih kayu yang bisa dipakai dengan DBH lebih dari 60 cm. Untuk
perhitungan ongkos pembukaan lahan, data yang diperlukan pada
hutan sekunder adalah jumlah batang, dalam 9 (sembilan) kelas
garis tengah: 10-20, 21-30, 31-40, 41-50, 51-60 cm, 61-70 cm, 7180 cm, 81-90 cm dan > 91. Data ini adalah data garis tengah saja
dan klasifikasi dalam jenis tidak diperlukan.

30 | P a g e

Penelitian potensi tegakan kayu dilakukan dengan cara sampling,


yaitu dengan membuat plot sample 0,1 Ha (50 x 20 meter),
mengikuti jalur rintisan Topografi dilakukan secara random (acak).
Penelitian ini dilakukan hanya meliputi 1% dari areal yang akan
digunakan bagi peruntukan transmigrasi. Penentuan pembuatan
plot sample dengan cara lain diperbolehkan setelah dikonsultasikan
dengan Direktorat Perencanaan Pembangunan dan Pengembangan
Kawasan Transmigrasi.

Garis tengah pohon yang diukur adalah 1,3 meter di atas


permukaan tanah (DBH)/10 Cm di atas banjir, untuk semua jenis
pohon yang tidak rusak dan dikelompokkan dengan garis tengah :
7-30 Cm, 31-60 Cm, 61-90 Cm, 91-120 Cm dan di atas 120 Cm.
Kesalahan penarikan contoh 10% atau kurang pada tingkat
kenyataan 95%. Kelas hutan 1 s.d 10 dikelompokkan menjadi kelas
hutan primer, sekunder.

Inventarisasi terinci tidak perlu untuk hutan sekunder, kecuali survai


pendahuluan menunjukkan bahwaada 20 M3/Ha atau lebih kayu
yang bisa dipakai dengan DBH lebih dari 60 Cm. Untuk keadaan itu
cukup dihitung jumlah pohon beserta diameternya.

Buku Hijau Departemen Kehutanan sangat diperlukan konsultan


untuk masukan identifikasi jenis pohon dan sebagai panduan untuk
mentransfer nama pohon lokal ke mana botanisnya.

Dalam penentuan klasifikasi hutan tersebut perlu diinformasikan


kondisi lahan (basah, kering, rawa) sebagai masukan cara apa yang
terbaik dalam rangkaian pembukaan lahan (cara mekanis, manual
dan sebagainya).

Status hutan perlu diinformasikan menurut Peta Kawasan Hutan


dan Perairan , Kategori hutan (basah,kering,rawa) dan pemegang
konsesi hutan (HPH).

Penelitian flora dilakukan berdasarkan pengamatan jenis flora yang


terdapat selama penelitian potensi tegakan kayu, sedangkan
penelitian fauna dilakukan berdasarkan wawancara dengan dinas
kehutanan setempat dan penduduk/tokoh masyarakat setempat.

31 | P a g e

Konsultan hatus mencatat jenis-jenisnya yang dominant, spesifik


dan yang dilindungi sebagai masukan dalam telaahan lingkungan.

Pengamatan flora dan fauna.


Flora dan faunan (perlu diamati apakah ada flora dan faunan
langka yang dilindungi, yang merupaka makanan satwa liar dan
yang potensial

untuk pengembangan ekonomi masyarakat)

perekonomian.
4.5.1.4.
A.

Survai Iklim danHidrologi


Iklim

Data dan analisa iklim yang dibuat pada tahap RSKPharus dilihat
lagi dan dipertimbangkan kembali hubungannya dengan model
usaha tani (Farm Model) yang diusulkan pada daerah tersebut;

Tipe iklim lokasi studi dianalisa berdasarkan Koppen, Schmidth dan


Fergusson dan Oldeman;

Analisa curah hjan bulanan dan variasi mengenai awal dan akhir
musim kering;

Analisa data-data curah hujan harian untuk mendapatkan frekuensi


hari hujan (> 1 mm) tiap bulan dan terjadinya periode kering selama
5, 10, 15 dan 20 hari (< 5 mm hujan/hari);

Suatu perkiraan evaporasi potensial dalam batas-batas data-data


yang ada dan di plot terhadap curah hujan bulan rata-rata. Suatu
perkiraan harus dibuat mengenai kegawatan masa keringd alam 1
dan 5 tahun kering.

B.

Hidrologi

Penyelidikan sumber daya air perlu melihat semua Sub Wilayah


Aliran Sungai yang akan mempengaruhi daerah studi tersebut,
berdasarkan pada Laporan tahap RSKP, Interpretasi Foto Udara
dan peta WAS.

Penyelidikan hidrologi harus dilakukan untuk semua daerah aliran


sungai yang akan mempengaruhi daerah tersebut, berdasarkan
pada Laporan tahap RSKP, Interpretasi Foto Udara, dan peta yang
ada.

32 | P a g e

Peta harus disajikan pada skala 1: 10.000 dimana pada peta


tersebut digambarkan pola drainase, batas daerah sungai utama,
daerah genangan dan daerah bahaya banjir. Semua sungai harus
diteliti mengenai lebar, kedalaman, dan debitnya yang kemudian
diplot pada peta.

Daerah bahaya banjir harus diperkirakan berdasarkan data luas


daerah sungai, perkiraan penyaluran, bentuk sungai, dan informasi
dari survai topografi, tanah, dan tata guna lahan;

Pada survai pendahuluan ketersediaan bersih dilakukan dengan


mengecek sumur air dangkal dari pemukiman penduduk setempat,

Daerah bahaya banjir harus diperkirakan berdasarkan data luas


daerah sungai, perkiraan pengaliran, bentuk sungai dan informasi
dari survai topografi, tanah dan tata guna lahan serta informasi
penduduk-penduduk daerah sekitar.

4.5.1.5. Survai prasarana dan sarana

Berdasarkan hasil pencermatan terhadap perencanaan SKP,

di

lapangan dilihat kembali interaksi SP yang direncanakan dengan SP


SP lainnya dan melakukan pengecekan dilapangan sehingga
dapat dipastikan arah orientasi dari SP yang direncanakan

Juga diiidentifikasi prasarana dan sarana sosial budaya dan sosial


ekonomi yang ada di desa pugar.

Mengidentifikasi rumah-rumah yang perlu dipugar

Mengidentifiksi kelengkapan rumah nya. apakah pemukiman


penduduk setempat sudah meiliki jamban keluarga pada setiap
rumahnya

4.5.1.6.

Survai Agro Ekonomi


Survei agro ekonomi meliputi:
a. Cara pengalokasian sumberdaya alam dan membuat kebijakan
untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
b. Potensi penguatan modal ekonomi dengan memfokuskan upaya
membuat sesuatu kelebihan dari kekurangan sumberdaya alam dan

33 | P a g e

sumberdaya manusia eksisting, sehingga nilai guna di SP Pugar


menjadi maksimal.
c. Identifikasi potensi limbah menjadi barang yang mempunyai nilai
tambah. Penggunaan limbah sebagai sumber ekonomi antara lain;
kompos, biogas, biomass, dan pupuk organik.
Data yang dikumpulkan antara lain:

Luas dan jenis pemilikan lahan usaha dan;

Cara mengusahakannya (pola tanam termasuk rotasi tanam dan


intensitas tanam bercocok tanam yang umum dsb);

Cara memperoleh bibit dan saprotan lainnya;

Jenis-jenis tanaman serta tingkat produktifitas/Ha yang memberi


indikasi dapat dikembangkan dan alasannya;

Kendala-kendala yang pernah dialami dan berapa besar kerugian


tanaman karena hama penyakit disertai habitat hama dsb;

Teknik budidaya pertanian yang sudah diterapkan oleh penduduk


setempat. Ketersediaan sarana produksi pertanian;

Kegiatan pasca pertanian yang telah dikembangkan;

Pemasaran hasil pertanian yang ada, Bagaimana jalur pemasaran


hasil-hasil usaha tani dan bagaimana keadaan prasarana dan
sarana angkutan;

Peranan KUD;

penyuluhan pertanian yang ada;

Hasil-hasil uji coba pertanian lapangan yang telah ada/demplot;

Keadaan swasembada pangan daerah studi;

Data sekunder yang mendukung/melengkapi data-data tersebut


dalam butir-butir dapat diperoleh dari :
o Desa/kampung yang bersangkutan;
o Kecamatan-kecamatan yang bersangkutan;
o Tingkat kabupaten.

Survai Agro Ekonomi di desa calon pugar


Survei agro-ekonomi meliputi :
a. cara pengalokasian sumberdaya alam dan membuat kebijakan untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat.

34 | P a g e

b. Potensi penguatan modal ekonomi dengan memfokuskan upaya


membuat sesuatu kelebihan dari kekurangan sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia eksisting, sehingga nilai guna di SP Pugar
menjadi maksimal.
c. Identifikasi potensi limbah menjadi barang yang mempunyai nilai
tambah. Penggunaan limbah sebagai sumber ekonomi antara lain;
kompos, biogas, biomass, dan pupuk organic.

4.5.1.7.

Survai dan Pemetaan penduduk peserta TPS/Pugar

Survai dan pemetaan penduduk dimaksudkan untuk mengetahui jumlah


penduduk yang akan akan menjadi peserta TPS atau yang masuk dalam
SP pugar dan mengetahui kualitas SDM yang ada, survai ini dilakukan
dengan caramelakukan:
a. Inventarisasi nama-nama penduduk yang rumahnya (SP Pugar), atau
inventarisasi penduduk setempat yang akan masuk sebagai TPS ke
pemukiman transmigrasi ( SP Baru);
b. Inventarisasi pecahan KK dan lahan miliknya untuk dibangunkan
rumah (SPPugar);
c. Inventarisasi penduduk yang memiliki lahan dan tidak memiliki lahan;
d. Jumlah penduduk dan kepadatan per Km2;
e. Komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, dengan tekanan
pada kelompok usiakerja;
f. Tingkat perkembangan jumlah penduduk;
g. Komposisi penduduk berdasarkan agama/kepercayaan;
h. Komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan/mata pencaharian;
i.

Kemungkinan pemanfaatan tenaga kerja penduduk lokal untuk


pembangunan lokasi transmigrasi.

4.5.1.8.

Survei Sosial Budaya

Maksud dan tujuan survei aspek sosial budaya adalah untuk mengetahui
adat istiadat penduduk setempat serta transmigran yang sudah ada, baik
di dalam maupun sekitar daerah penelitian sebagai masukan di dalam
memprediksi akan terjadi gesekan sosial atau konflik sosial dengan akan

35 | P a g e

disatukannya penduduk pendatang dengan penduduk setempat dan juga


sebagai

masukan

di

dalam

penyusunan

rekomendasi

penyiapan

pemukiman, penempatan, pengembangan pertanian transmigran dan


telaahan lingkungan.
Penelitian ini dilakukan dengan cara kuesioner terhadap penduduk
setempat ditambah wawancara serta survai instansional di desa dan
Kecamatan. Data yang diambil berupa:

Suku bangsa yang ada di desa studi saat ini

Adat istiadat dan hukum adat atas pemilikan/penggunaan lahan;

Tanggapan penduduk terhadap rencana transmigrasi.

Fasilitas pelayanan sosial yang ada (seperti fasilitas Pendidikan,


Kesehatan, Peribadatan, KUD dsb),

Identifikasi FU dan jalan yang akan diperbaiki (fungsional

Penelitian kegiatan sosial-ekonomi dimaksudkan untuk mengetahui antara


lain :

Jenis pekerjaan utama dan sampingan penduduk

Rata-rata tingkat pengeluaran keluarga,

Harga sembilan bahan pokok

Harga produksi pertanian di pasar terdekat

Analisa usaha tani saat ini

4.5.1.9.

Musyawarah tahap II

Musyawarah tahap II merupakan penyampaian hasil inventarisasi dan


identifikasi yang telah dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan pada
musyawarah I dan hasil penyusunan RTSP tentative.
a. Untuk Perencanaan SP baru ditujukan untuk:

Membuat kesepakatan nama-nama calon peserta TPS yang tidak


pindah dan yang pindah ke permukiman baru;

Kesepakatan letak lahan yang diserahkan untuk permukiman


baru;

36 | P a g e

Penentuan waktu survai lapang (topografi, kemiringan, tanah,


jalan, penggunaan lahan, sumber daya air, kehutanan, sosial
ekonomi dan budaya) beserta pendamping dari desa dan warga
yang berkepentingan;

Penentuan waktu musyawarah III.


Hasil musyawarah II dituangkan dalam bentuk berita acara.

b. Untuk Perencanaan SP pugar, ditujukan untuk :

Mensosialisasikan hasil survai lapangan

Menyepakati peserta pugar baik yang berasal desa pugar sendiri


maupun dari luar desa.

Persetujuan objek pemugaran ( Rumah penduduk setempat,


SaranaFU dan SAB Desa, Prasarana (Jalan dan Jembatan,serta
pendukung lainnya) Desa dan Lahan penduduk setempat
(sertifikasi)

Persetujuan pengelompokan tingkat pemugaran (Perlakuan yang


akan diberikan pada penduduk setempat)

Persetujuan volume pemugaran (Jumlah rumah yang akan


dipugar beserta nama pemikiknya dan Jumlah transmigran yang
akan ditempatkan)

Kesesuaian lahan yang diberikan untuk transmigran

Hasil musyawarah II dituangkan dalam bentuk berita acara

4.5.1.10. Survai Detail Di Calon Permukiman Transmigran Dan LU - I


Survei detail di calon permukiman transmigran dan LU I dilakukan baik
untuk SP maupun SP Pugar, meliputi:

Survai Topografi

Survai Tanah

Survai penggunaan Lahan

Survei Hidrologi

A. Survai Detail Topografi

Survai detail topografi terdiri survei kelerengan di rintisan per 250 M dan
pengukuran situasi. Survaiini dilakukan baik untuk perencanaan SP bar u
maupun

37 | P a g e

perencanaan

SP

pugar.Untuk

SP

Pugar

ditambah

survai

pengukuran jalan desa yang menghubungkan desa induk dengan calon


permukiman baru transmigran.
1. Survai Detail Topografi Terdiri Survei Kelerengan Di Rintisan Per 250 M
Dan Pengukuran Situasi

Berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah II maka selanjutnya


dilakukan Survai topografi detail dilakukan pada lokasi calon LP, LU I,
PD pemukiman transmigrasi baru dengan skala perencanaan 1:
5.000, untuk mendapatkan data lebih akurat,sehingga peletakan calon
Lahan Pekarangan dan Pusat Desa sesuai kriteria perencanaan
permukiman transmigrasi.. Survai topografi detail dilakukan ebagai
berikut:
a. Membuat

Peta

Rencana

Kerja

skala

1:

5.000

yang

menggambarkan letak calon LP, LU I, PD dan desa eksisting,


arah dan panjang rintisan 250 m;
b. Rintisan

direncanakan

sedemikian

rupa

sehingga

dapat

mengcover calon LP, LU I, PD dan Desa Eksisting. Rintisan 250


m mengcover calon LP,dan PD di areal permukiman baru;
c. Berdasarkan base line yang ada, dibuat rintisan tegak lurus base
line dan saling sejajar satu sama lain berupa loop tertutup agar
memudahkan interpolasi data di atas peta. Bila letak calon LP, LU
I dan PD jauh dari base line, maka harus dibuat kerangka
pengukuran tersendiri berupa polygon tertutup/loop, yang terikat
kepada base line;
d. Survai topografi detail menggunakan alat ukur theodolite untuk
pengukuran situasi sehingga dapat diketahui leatak/posisi detaildetail topografinya dan bentuk kontur, agar peletakkan LP dan
Pusat desa benar-benar pada daerah datar, bukan pada areal
yang curam/terjal;
e. Jarak antara dua titik pengamatan yang berurutan maksimum 50
meter Pada awal jalur rintisan, di tengah jalur rintisan dan tepi
batas LP dilakukan pengukuran koordinat dengan GPS;
f.

Tingkat ketelitian pengukuran rintisan disyaratkan sebagai berikut:

38 | P a g e

Ketelitian sudut: 4n (n= jumlah titik polygon)

Ketelitian linier jarak: 1/2000

Ketelitian beda tinggi: 60 mmDKm (D= jumlah jarak dalam


Km).

2. Identifikasi

DanPemetaan

Alinemen

Jalan

Desa

Yang

Menghubungkan Desa Induk Dengan Permukiman Baru


Oleh karena pada pekerjaan RTSP hanya menyajikan trace jalan
poros tidak sampai kepada pengukuran profil memanjang, profil
melintang, situasi jalan dan daya dukung tanah, maka untuk
memperoleh trace jalan poros yang menghubungkan desa induk
dengan permukiman baru dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Pada Peta rencana kerja diidentifikasi letak pusat desa induk,
letak pusat desa permukiman baru dan trace jalan poros yang
menghubungkan desa induk dengan permukiman baru;
b. Melakukan pengukuran on screen koordinat titik pusat desa induk,
koordinat pusat desa permukiman baru dan melakukan identifikasi
trace jalan desa dengan mempertimbangkan tingkat kelandaian
jalan, daerah yang sedikit dilalui sungai, mencari jarak terpendek,
menghindari bangunan-bangunan dan menghindari areal enclave;
c. Melakukan pengukuran dengan menggunakan GPS di lapangan
terhadap titik pusat desa induk, titik pusat permukiman baru dan
perpotongan dengan sungai pada kedua tepi sungai;
d. Bila terjadi perbedaan antara peta rencana kerja hasil identifikasi
peta citra dengan keadaan lapangan, maka peta tersebut
diperbaiki sesuai keadaan lapangan.
3. Penghitungan Dan Penggambaran
a. Penghitungan titik-titik pada kerangka pemetaan, titik titik tetap
serta titik-titik dalam jalur rintisan 500

m dan rintisan 250

dalam system koordinat UTM harus diselesaikan di lapangan;


b. Penggambaran detail topografi (sungai, jalan, permukiman dan
sebagainya),pengeplotan titik tinggi (dalam jalur base line, jalur

39 | P a g e

rintisan 500 m, jalur rintisan 250 m) dan penarikan kontur harus


dilakukan di lapangan;
c. Hasil survai detail rintisan 500

m dan rintisan 250

m harus

menghasilkan:
Peta Topografi skala 1: 5.000 dengan interval kontur 2,5m
sebagai

dasar

untuk

Peta

Detail

Tata

Ruang

yang

menggambarkan peletakkan LP,LU I, PD


Peta topografi 1: 2.500 dengan interval 1m, sebagai dasar
untuk Peta Pusat Desa yang menggambarkan tata letak
bangunan di Pusat Desa.
B. Survai Detail Tanah
1. Survai detail tanah dilakukan di lahan calon LP dan LU I, :dengan titik
pengamatan1/6,25 Ha.
2. Contoh tanah komposit untuk penilaian kesuburan diambil pada lokasi
yang dicalonkan untuk pekarangan (LP) dan Lahan Usaha I (LU.I),
dengan kerapatan satu contoh untuk setiap blok/kelompok lahan
pekarangan atau minimal per 25 ha (50 kk) diambil dari kedalaman 030 cm. Sedangkan untuk Lahan Usaha II dengan kerapatan satu
contoh per 50 Ha pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm.Jenis
analisa yang perlu dilakukan untuk contoh profil dan kesuburan
adalah:
Tabel
Analisa Tanah di Lokasi Transmigrasi
JENIS ANALISA
Tekstur dalam 3 fraksi
pH (H2O dan Kel 1 : 1)
Total P
Total K
Kapasitas Tukar Kation
(KTK)
Kejenuhan Basa (KB)
Ca, Mg, K, Na dapat
ditukar

40 | P a g e

CONTOH
PROFIL
V

CONTOH
KESUBURAN
V

V
V
V
V

V
V
V
V

V
V

V
V

KETERANGAN
Contoh
kesuburan
secara kwalitatif dapat
dilakukan di lapangan
(Soil Test Kit)

Total N
C Organik
P Tersedia
Toksisitas & kekahatan *
A1, H dapat ditukar
Ket :

=
-=
*=:

V
V
V
-

V
V
V
V
V

Dilakukan
Tidak dilakukan
Dilakukan terutama untuk tanah-tanah bermasalah

Laboratorium analisis disarankan dilakukan dilaboratorium yang sudah


terakreditasi,

misalnya,

Laboratorium

BBSDL,

Laboratorium

Riset

Perkebunan, atau Laboratorium Tanah Perguruan Tinggi.Sebelum


dilakukan analisis laboratorium, sampel tanah dan air perlu dilakukan
pengecekan ulang misalnya, data deskripsi, penomoran/label, kondisi
contoh tanah utuh.
3. Peta Satuan Tanah/satuan lahan untuk LP dan LU I disajikan pada skala
1:

5.000dilengkapi

dengan

legenda

satuan

tanah/lahan

dengan

menunjukkan deskripsi (skema) yang meliputi kedalaman efektif, tekstur


lapisan atas dan bawah, struktur, konsistensi, reaksi tanah (pH), kapasitas
tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB). Drainase tanah, P2O5, K2O
serta

C Organik. Setiap titik observasi tanah baik pemboran, profil,

komposit dan contoh fisik/undistrub-sample (jika ada) di plotkan pada peta


yang disajikan.
C. Survai Detail Penggunaan Lahan
Survei detail penggunaan lahan dilakukan bersama sama dengan survei
topografi.
D. Survei Hidrologi
Survei detail hidrologi dimaksudkan untuk

mengetahui kepastian

Ketersediaan Air Bersih di Lahan Pekarangan /pemukiman. Ketersediaan


air bersih dapat berupa air permukaan , air tanah atau air hujan
1. Air tanah yang dapat diperoleh dari air sumur yang dangkal harus
diuji, yaitu dengan membuat sumur uji pada lahan pekarangan dan
pusat SP, sekurang-kurangnya 2 buah pada tempat yang mewakili
daerah yang diteliti. Sumur uji dibuat sampai kedalaman 10 meter

41 | P a g e

dengan menggunakan Portable Hand bor/borhydral/peralatan lain


yang

memungkinkan

untuk

mengetahui

kedalaman

aquifer.

Sedangkan untuk menghitung debit sumur uji digunakan metode


Recovery Test, kondisi setempat pada waktu pembuatan sumur
dicatat (misal: keadaan hujan, dekat sungai, dsb).
2. Posisi/letak sumur uji ditandai dengan patok pralon/PVC dicat merah
dan diberi nomor urut, dan diikatkan kerintisan T0 terdekat. Air sumur
uji harus di ukur DHL-nya untuk membedakan air jebakan atau air
tanah dangkal.
3. Variasi kedalaman air tanah harus ditentukan dengan alat portable
hand bor/borhydral/peralatan lain yang memungkinkan dan dengan
mengamati permukaan air selama studi untuk dapat mengetahui
fluktuasi air tanah.

Jika sumur air tanah dangkal tidak tersedia, maka sumur air lain
yang biasanya digunakan untuk pemukiman transmigrasi harus
diteliti , seperti:
o Kolam tandon air atau yang berasal dari mata air. Jika
Konsultan merekomendasikan pemanfaatan sumber-sumber
ini, maka harus digambarkan letak air permukaan yang akan
digunakan sebagai sumber (dalam text map), ditentukan cara
pengambilan sumbernya, manual atau pompanisasi dan
pipanisasi. Jika bersifat pipanisasi dan pompanisasi maka
harus jelas letak Bendalinya, perkiraan panjang pipa yang
dibutuhkan, jenis pompa dan perkiraan biaya dan sumber
untuk operasional dan harus diteliti kualitas, kuantitas dan
kontinuitasnya.
o Sumber air yang berasal dari air hujan pada dasarnya tidak
dihendaki sebagai sumber utama, karena sifatnya (yang tidak
mengandung mineral) yang dalam penggunaan jangka
panjang dapat merusak kesehatan transmigrasi. Sumber air
atap ini sifatnya hanya merupakan pelengkap dari sumber air
lain yang direkomendasikan.

42 | P a g e

Analisis terperinci data hujan harus dibuat untuk menentukan


volume air yang harus dikumpulkan dari atap rumah
transmigran yang standar (+36 m2) Kebutuhan penerimaan
air harus dihitung, bentuk dan spsesifikasi standar harus
disiapkan untuk suatu sistem pengumpulan dan penyimpanan
air atap;

Jika sumber-sumber tersebut di atas tidak tersedia, atau tersedia


tapi tidak mencukupi, maka Konsultan harus merekomendasikan
perlunya

penelitian

sumber

air

tanah

dalam,

dan

direkomendasikan penelitian lebih lanjut. Dalam kaitan ini perlu


ditekankan bahwa rencana tata ruang yang disusun tidak dapat
diprogramkan pembangunannya sebelum penelitian air tanah
dalam (pada tahap yang telah lanjut) menjamin ketersediaan
sumber air untuk transmigran.

Hasil

Analisa

Laboratorium

kualitas

air

minum

yang

direkomendasikan dibandingkan terhadap: Peraturan Menteri


Kesehatan RI Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002. Dalam hal
kualitas air minum kurang memenuhi syarat konsultan harus
merekomendasikan penanganan pengelolaan air minum yang
dapat diterapkan di lokasi Transmigrasi.

Sedangkan untuk air pertanian dibandingkan terhadap standar


kriteria FAO dan US Salinity Staf. Laboratorium air diarahkan ke
Balai POM dan Pusat POM (Pengawasan Obat dan Makanan).
Hasil

lab

yang

asli

dikirim

ke

Direktorat

Perencanaan

Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi


Ditjen PKP2Trans.

Untuk daerah studi yang terpengaruh oleh adanya intrusi air laut
konsultan harus meneliti batas intrusinya. Penelitian EC harus
dilakukan secara lebih mendalam. Pengukuran kualitas air (EC
dan pH) harus dilakukan di lapangan dan di laboratorium untuk
sumber-sumber air tanah dan air permukaan.

Dalam hal lokasi survai terpengaruh pasang surut konsultan


harus mencatat fluktuasi pasang surut selama survai.

43 | P a g e

Perlu

penelitian

lokasi-lokasi

sumber

air

yang

dapat

dilaksanakan untuk mikro hidro.

Perkiraan terinci biaya harus disiapkan untuk sistem pengadaan


air yang direncanakan

Penyimpanan air hujan dari atap harus diteliti. Analisis terperinci


data hujan harus dibuat untuk menentukan volume air yang
harus dikumpulkan dari atap rumah transmigran yang standar (+
36 m2) Kebutuhan penerimaan air harus dihitung, bentuk dan
spsesifikasi standar harus disiapkan untuk suatu sistem
pengumpulan dan penyimpanan air atap;

Jika ada kemungkinan sistem pengadaan air bersih yang lebih


baik harus dikemukakan untuk pemakaian yang akan datang;

Perkiraan terinci biaya harus disiapkan untuk sistem pengadaan


air yang direncanakan.

4.5.1.11. Pengolahan Data dan Analisa Sementara di Lapangan


Kegiatan pengolahan data dan analisa di lapangan sebagai masukan
untuk penyusunan Rencana Tata Ruang SP Pendahuluan / tentative.
A. Penilaian Fisik Lahan
Untuk perencanaan calon pemukiman baru baik untuk SP baru
maupun SP pugar salah satu penilaian fisik lahan utama adalah Kelas
kesesuaian

lahan

untuk

pengembangan

pertanian.

Yang

direkomendasikan untuk penggunaan lahan pangan dan tanaman


keras diperbolehkan sampai kelas kesesuaian lahan S3. Kesesuiaian
lahan untuk mengetahui areal mana saja yang dapat dibangun untuk
pemukiman transmigrasi, berdasarkan hasil kesesuaian lahan di
deliniasi :

SPL

yang sesuai untuk segala jenis penggunaan (Lahan

Pekarangan, Lahan Usaha I / lahan pangan dan Lahan Usaha II/


bisa lahan pangan lagi atau lahan perkebunan)

SPL yang sesuai Lahan Pekarangan dan Lahan Usaha I/lahan


pangan

44 | P a g e

SPL yang hanya sesuai Lahan Perkebunan

SPL yang tidak sesuai untuk pengguna apapun saat ini, dan dapat
sesuai bila terlebih dahulu diperbaiki kondisi lahannya (misalnya
perlu dibuat saluran drainase terlebih dahulu, lahan harus dibuat
teras bangku, dll)

SPL yang selamanya tidak dapat digunakan apapun, harus


dikonservasi
Kesesuaian lahan yang direkomendasikan untuk pemukiman
transmigrasi adalah Kesesuaian lahan actual, namun kesesuaian
lahan potensial dapat direkomendasikan sepanjang perbaikan yang
diusulkan dapat dikerjakan oleh sektor terkait.

Untuk perencanaan SP Pugar , kondisi fisik yang menjadi perhatian


utama adalah kondisi rumah penduduk

di desa yang di studi.

berdasarkan hasil survei kondisi rumah penduduk , dinilai dan

di

hitung berapa jumlah rumah yang harus dipugar .


B. Penilaian Status Lahan
Tahap kedua adalah melakukan penilaian areal calon pemukiman
ditinjau dari status lahannya. Menurut kriteria perencanaan,areal yang
direncanakan untuk areal pemukiman baru transmigran adalah areal
yang terbebas dari penggunaan lain, seperti penggunaan HPH, ladang
penduduk dan sebagainya. Secara status Hutan harus merupakan
Araeal Penggunaan lain (APL). Dalam hal menggunakan Hutan
Produksi yang dapat di Konversi (HPK) harus ada persetujuan dari
Kementerian Kehutan (IPPKH);
Namun bila SP merupakan SP Pugar Ladang penduduk tidak
dikeluarkan,

karena

transmigrasi

untuk

akan

bersama-sama

dikembangkan

dengan

sebagai

satu

pemukiman
kesatuan

pegembangan pertanian, namun tetap harus di deliniasi lahan yang


diberikan untuk pemukiman transmigrasi baru dan lahan yang tetap
merupakan lahan milik penduduk setempat. Berdasarkan kriteria
tersebut dikaji ldan didelineasi ; lahan mana yang dapat dikembangkan
dan dapat disusun RTSP Pugar.
C. Penilaian Ketersediaan Air dan Resiko Banjir.

45 | P a g e

Berdasarkan hasil pembuatan sumur uji yang telah dilakukan pada


saat penyusunan RK-SKP apakah potensi air yang terdapat di areal
studi dapat memenuhi kebutuhan air penduduk secara terus menenrus
yaitu sebesar 300 liter/hari/KK dan apakah di areal calon LP
merupakan daerah yang aman , bukan daerah rawan banjir.
D. Penilaian Kesesuian Permukiman / Analisa Tata Ruang
Penilaian kesesuaian pemukiman dilakukan dengan mensuper impose
hasil penilaian fisik lahan, penialain status lahan dan penilaian
ketersediaan air . Berdasarkan hasil super impose akan dihasilkan
Lahan sesuai dikembangkan untuk pemukiman transmigrasi:

Lahan yang akan direncanakan untuk PD, LP dan LU I baik


untuk transmigran maupun untuk penduduk desa setempat
yang ada, berada pada Lahan kemiringan < 8 %, lahan diatas 8
15 % dapat direkomendasikan namun harus ada perlakuan
teknis.

Kesesuaian lahan dapat dikembangkan tanaman pangan


termasuk klas kesesuaian S1 S3,

bukan daerah rawan banjir dan tersedia air bersih untuk


keperluan Rumah tangga secara terus menerus minimal 300
liter/hari/KK.

Lahan yang akan direncanakan untuk LU II . baik

untuk

transmigran maupun untuk penduduk desa setempat yang ada,


berada pada Lahan kemiringan < 15 %, lahan antara 16 25
dapat

direkomendasikan

untuk

pengembangan

areal

perkebunan namun lahan yang kemiringan diatas 15 % harus


dilakukan terasering dan kelas Kesesuaian lahan S1 S3,
Hasil penilaian sudah harus memprediksi daya tampung SP antara
300 500 KK minimal yang dapat diterima adalah 200 KK, dengan
pertimbangan jumlah tersebut dinilai cukup memenuhi syarat untuk
pembangunan 1 unit Sekolah Dasar.
E. Penilaian Kependudukan dan Sosial Budaya.
Berdasarkan hasil survai kependudukan dan sosbud disimpulkan
apakah ada kemungkinan konflik antara penduduk setempat dengan

46 | P a g e

transmigran. Bila ada disusun rekomendasi untuk mengantisipasi


terjadinya konflik tersebut.
4.5.1.12. Penyusunan RTSPPendahuluan /Tentative
Berdasarkan hasil survai lapangan dan analisa kesesuaian pemukiman
disusun Rencana pemanfaatan ruang SP Pugar tentative mengacu pada
prinsip dan kriteria perencanaan.
A. Prinsip Perencanaan
Prinsip Perencanaan dalam menyusun Rencana Detail pemanfaatan
ruang SP , adalah sebagai berikut:
Penggunaan lahan direncanakan untuk Lahan pekarangan, Lahan
Usaha untuk lahan tanaman Pangan dan Tanaman Tahunan) harus
berdasarkan kesesuaian lahan;
Pemukiman harus menyediakan suatu lingkungan sosial yang serasi
dan sesuai dengan kebutuhan pemukiman;
RTSP

disusun

dengan

mempertimbangkan

aksesibilitas

(kemudahan hubungan), baik hubungan di dalam SP maupun


hubungan SP dengan daerah luar;
Prasarana harus efisien dan mengutamakan kemudahan fungsi
pelayanan;
Harus mempertimbangkan kelestarian alam antara lain dengan
merencanakan penggunaan lahan untuk konservasi alam pada
lokasi yang kritis;
Areal yang direncanakan hurus memiliki ketersediaan air bersih yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan air transmigran dengan kapasitas
60 liter/orang/hari;
Pola pemukiman harus mempertimbangkan:
o

Kemudahan transmigran dalam mencapai pusat fasilitas umum;

Kemudahan transmigran dalam mencapai lahan usaha

Kemudahan

transmigran

untuk

melakukan

mobilitas

baik

didalam maupun ke luar permukiman.


Alokasi lahan
Lahan pada SP Pugar terdiri dari lahan yang diberikan kepada
transmigran (kapling) dan lahan yang dialokasikan kepada fasiliats

47 | P a g e

umum atau penggunaan masyarakat (tabel 1) dan Lahan penduduk


setempat.
Lahan yang diserahkan menjadi milik tansmigran terdiri dari :
o

Lahan Pekarangan 0,1 - 0,25 Ha/KK;

Lahan Usaha I 0,75 0,9 Ha/KK;

o Lahan Usaha II 1,00 Ha /KKuntuk transmigran.


Sedangkan alokasi lahan penduduk setempat tidak ditentukan
mengikuti kepemilikan yang ada, kecuali mereka bersedia dilakukan
konsolidasi lahan sehingga alokasi lahan penduduk setempat akan
sama dengan alokasi lahan untuk transmigran.
Lahan yang tidak diserahkan menjadi milik transmigran terdiri dari:
o Lahan Fasilitas Umum di Pusat desa, 8-12 Ha/SP;
o Lahan Kas Desa, 10 Ha/SP;
o Lahan Kuburan, 2 Ha/SP;
o Test Farm, 4 Ha/SP;
o Seed Farm, 4 6 Ha/SP (pusat SKP);
o Lahan Penggembalaan, 10 Ha/SP
B. Kriteria Perencanaan RTSP
Dalam penyusunan RTSP tentative ini yang perlu diperhatikan :
KemiringanLahan
Batas kemiringan maksimum untuk setiap penggunaan yang
diperkenankan adalah sebagai berikut:
Peruntukan

Standar Rata-Rata

LP

08%

LU I

LU II

8%

0 15 %

Standar tidak RataRata


0 15 %

Keterangan
Diatas 8 %

0 15 %

memerlukan

0 25 %

perlakuan
Diatas 8 % perlu
dibuat teras bangku

Lahan

25 %

Konservasi

Diatas 15 % perlu
dibuat teras bangku

Di pemukiman penduduk setempat bila ditemukan berada pada lahan


>8 % dan kondisinya membahayakan perlu di relokasi ke daerah aman.
Kesesuaian lahan

48 | P a g e

Kesesuaian lahan yang dapat direkomendasikan untuk pengembangan


usaha transmigran masuk kedalam klas S1 S3. Lahan yang
dikategorikan N1 dapat direkomendasikan, namun perlu harus ada
perbaikan terlebih dahulu menjadi klas S, sebelum dilakukan
penyiapan lahan dan pembangunan rumah (Lihat lampiran ).
Ukuran Kapling
Bentuk kapling harus persegi empat,denganukuran kapling yang efektif
dan efisien dari segi pengadaan prasarana disarankan:

LP

25 m X 40 m

1.000 m2

25 m x 100 m

2.500 m2

I 75 m x 100 m =

7.500 m2

90 m X 100 m

9.000 m2

LU

LU II
100 m X 100 m =

10.000 m2

Jarak Tempuh
Jarak

sasaran

maksimum

dari

lahan

pekarangan

kebeberapa

penggunaan sebagai berikut, dari lahan pekarangan ke:


Fasilitas Umum / Pusat Desa, 0,5 - 1,5 km
Lahan Usaha I,

1,5 2,5 Km

Lahan Usaha II, 2,5 3,5 Km


Daya Tampung
Jumlah kepala keluarga pada setiap Satuan Permukiman (SP) 300 500 Kepala Keluarga. Jumlah tersebut dipertimbangkan sebagai
jumlah yang ideal, karena jumlah ini membenarkan adanya 1 unit
Sekolah Dasar. Jumlah lebih kecil bisa diterima dengan permukiman
baru sebanyak 200 KK dan yang terintegrasi 100 KK, sehingga daya
tampung menjadi 300 KK
Bedasarkan hasil super impose direkomendasikan :
Blok areal untuk Pusat SP;
Areal untuk permukiman transmigran;

49 | P a g e

Areal untuk pemukiman transmigran yang menunjukkan areal


LU I dan LU II;
Arah jalan poros untuk menghubungkan SP/desa pugar dengan
desa utama dan desa sekitranya;
Areal pemukiman yang harus dipugar (untuk perencanaan SP
Pugar);
Areal penggunaan lahan milik penduduk desa pugar (untuk
perencanaan SP Pugar ).
Dalam pengaturan tata ruang :
Usahakan Pusat Desa berada di tengah-tengah antara blok LP
transmigran dan Pemukiman Penduduk yang akan dipugar ,
agar pelayanan ditinjau dari segi jarak dapat diberikan secara
berkeadilan;
Blok-blok ditunjukkan pada RTSP ; blok I, blok II, dst untuk
masing LP, LU I dan LU II;
Rencana Jalan Poros dan Jalan Desa;
Perkiraan Jumlah Kapling tiap blok disebutkan;
Lahan-lahan yang harus dikonservasi sudah ditandai.

4.5.1.13. Rencana Pembukaan Lahan SP


Setelah mendapat persetujuan Peta penataan ruang SP pugar pada
Musayawarah III, batas Blok-blok yang direkomendasikan untuk dibuka (
batas

LU

I,

batas

lahan

pekarangan,

pusat

desa

dan

jalan

poros/penghubung) perlu dibuat dan di[asang beberapa patok permanen


yang dapat mewakili batas lahan di Pilar/patok permanen tersebut harus
diikatkan pada patok jalur rintisan dan posisinya dapat mudah
diidentifikasikan di lapangan (misalnya pada ujung-ujung blok, di dekat
sungai dan lain sebagainya). Pengukuran pilar-pilar permanen tersebut
dilakukan dengan spesifikasi sebagai berikut :
Spesifikasi pengukuran poligon dan sebagai berikut :

Sudut horizontal/poligon diukur dengan theodolite To atau yang


sederajat sebanyak 1 seri ganda (B-B-LB-LB).

Jarak titik-titik poligon diukur dengan pita untuk seraha dan di cek
dengan jarak optis ke muka dan ke belakang.

50 | P a g e

Salah penutup sudut tidak lebih dari 4

n; (n = jumlah titik

polygon).

Ketelitian linier tidak lebih dari 1/2.500.

Salah penutup beda tinggi tachimetri 60 mm D Km (D = Jumlah


jarak jalur pengukuran beda tinggi).

Syarat Pemasangan Patok Batas Pembukaan Lahan (BPL) :

Tentukan koordinat sementara patok-patok BPL di atas Peta BPL;

Hitung Azimuth dan Jarak dari Patok BM terdekat terhadap patokpatok BPL di peta BPL;

Dengan menggunakan alat ukur T0 dan Pita Ukur dilakukan


pengukuran staking out dari BM terdekat ke patok-patok BPL sesuai
azimuth dan jarak. Harus diperhatikan besar deklinasi magnetis di
daerah tersebut.

Peta BPL disajikan pada peta berskala 1 : 5.000 yang menyjikan:

Batas lahan yang akan dibuka yaitu LP, LU I, PD dan jalan poros;

Patok-patok BM, BPL beserta garis batas pembukaan lahan sesuai


dengan arah azimuth dan jaraknya;

Besar volume pembukaan lahan sesuai dengan tutupan lahan untuk


masing-masing LP,LU I dan PD;

Sebagai pengikat titik poligon BPL, diambil titik Bench Mark (BM)
pada baseline terdekat.

C. Pemasangan Patok Batas Pembukaan Lahan (BPL)


Berdasarkan Peta Detail Tata Ruang yang menggambarkan letak LP, LU I
dan PD, maka pada peta BPL digambarkan posisi patok BPL harus terikat
pada titik tetap(BM). Untuk pemasangan Patok-patok BPL perlu dilakukan
hal-hal berikut:
1. Tentukan koordinat sementara patok-patok BPL di atas Peta BPL;
2. Hitung Azimuth dan Jarak dari Patok BM terdekat terhadap patokpatok BPL di peta BPL;
3. Dengan menggunakan alat ukur T0 dan Pita Ukur dilakukan
pengukuran staking out dari BM terdekat ke patok-patok BPL sesuai

51 | P a g e

azimuth dan jarak. Harus diperhatikan besar deklinasi magnetis di


daerah tersebut;
4. Peta BPL disajikan pada peta berskala 1 : 5000 yang menyajikan:

Batas lahan yang akan dibuka yaitu LP, LU I PD dan jalan poros;

Patok-patok BM, BPL beserta garis batas pembukaan lahan


sesuai dengan arah azimuth dan jaraknya;

Besar volume pembukaan lahan sesuai dengan tutupan lahan


untuk masing-masing LP,LU I dan PD.

4.5.1.14. Musyawarah Tahap III


Musyawarah tahap III dillaksanakan setelah survei detail selesai dilakukan
untuk menginformasikan dan menyepakati hasil akhir dari kondisi calon
SP yang dituangkan dalam bentuk Berita Acara:
a. Untuk Sp baru, Berita Acara berisi antara lain:

Kesepakatan hasil pemantapan nama-nama TPS yang pindah ke


permukiman baru;

Kesepakatan perlakuan yang diberikan kepada TPS.

b. Untuk SP Pugar, Berita Acara berisi antara lain:

Persetujuan penataan ruang di pemukiman desa pugar;

Persetujuan tata ruang di Pemukiman baru;

Persetujuan jenis pemugaran;

Persetujuan objek pemugaran;

Persetujuan volume pemugaran;

Persetujuan peserta Pugar.

Hasil pertemuan musyawarah tahap I, II dan III yang telah disepakati oleh
masyarakat selanjutnya akan menjadi acuan pembangunan permukiman
dan penempatan transmigrasi.
4.5.2. Survai Lapangan untuk RTJ
4.5.2.1. Survai Pendahuluan RTJ
Survai pendahuluan RTJ dilakukan setelah RTSP tentative di lapangan
selesai dibuat.
Dengan bantuan data peta rencana kerja yang ada dilaksanakan
pengenalan lapangan di sekitar rencana jalan untuk mendapatkan

52 | P a g e

gambaran kondisi medan secara menyeluruh. Kegiatan yang dilakukan


dari tahapan pekerjaan ini meliputi :
1. Menentukan titik awal dan titik akhir dari rencana jalan tersebut di
lapangan, sejauh yang telah ditentukan di atas peta dasar/peta kerja;
2. Mencatat

keterangan

penting

di

sepanjang

jalan

seperti

rawa/kebun/ladang dengan batas-batasnya, sungai atau saluran


dengan ukuran karakteristiknya, jembatan atau gorong-gorong
dengan dimensinya, dll;
3. Mengadakan

pencatatan

lokasi

sumber

material

yang

dapat

digunakan untuk pekerjaan penimbunan dan pavement/struktur


perkerasan yang lokasi-lokasinya digambarkan di atas peta dasar dan
dilampirkan pada gambar rencana;
4. Merintis dan menetapkan trase jalan yang akan digunakan sebagai
pedoman bagi tim pengukuran;
5. Bila melalui desain RTSP/RSKP yang belum dibuka harus mengikuti
koridor jalan yang ditentukan dalam peta RTSP/RSKP tersebut.
4.5.2.2.

PemasanganBench Mark dan Patok-Patok Sementara.

1. Bench Mark (BM)


Patok Benchmark (BM) adalah patok yang dibuat sebagai tanda tetap
dan berfungsi sebagai titik kontrol baik kontrol horisontal maupun
kontrol vertikal.
Patok ini dipasang dengan ketentuan sebagai berikut:

Diletakkan di tempat yang tidak mudah terganggu, mudah dicari


dan pada tanah yang cukup stabil. Apabila tidak terdapat tanah
keras maka dibagian bawah dipasang cerucuk. Untuk daerah rawa,
konsultan harus membuat tanda pembantu sebagai penunjuk lokasi
BM diletakkan;

Patok terbuat dari beton bertulang dengan campuran beton adalah


1 pc : 2 psr : 3 kr, dengan tulangan 8 mm -15 mm serta dibuat di
lapangan;

Ukuran patok adalah 20 x 20 x 75 cm dicat warna kuning serta


ditanam sedalam 50 cm atau muncul 25 cm dari permukaan tanah;

53 | P a g e

Dibagian atas patok BM dipasang baut dengan ukuran diameter


3/8" atau 4 mm;

Patok BM diberi nomor urut pada sisi depan da n sisi samping diberi
label JL TRANS dan pada sisi atas diberi label BM TRANS;

Patok BM dipasang pada awal dan akhir Jalan dan setiap 5 km


jalan.

2. Patok Sementara
Patok sementara dipakai sebagai patok pengukuran atau tempat
berdirinya alat, dengan ketentuan sebagai berikut :

Patok dibuat dari kayu dengan ukuran diameter 5 cm 7 cm


dengan panjang 60 cm;

Patok dipasang pada setiap jarak maksimum 100 m;

Patok diberi nomor urut dan dicat warna kuning serta ditanam
sedalam 40 cm (atau muncul 20 cm di atas permukaan tanah);

4.5.2.3.

Di bagian atas patok dipasang paku seng.

Pengukuran Polygon/Traverse

Pengukuran topografi dilakukan pada jalur lintas jalan yang telah dirintis
dan dipatok.
1. Polygon
a. Polygon diukur dengan menggunakan alat Theodolite (T0) atau
sejenisnya dan perhitungannya menggunakan metode Bowdith.
b. Pengukuran polygon harus diikatkan pada titik tetap yang
diketahui koordinatnya dan titik ikat hasil pengukuran tata ruang.
Bilamana kedua titik ikat tersebut di atas tidak ada di sekitar lokasi
maka

pengukuran

dan

perhitungan

polygon

menggunkan

koordinat lokal (0,0) yang dimulai di awal proyek.


2. Jarak ukur dengan meteran baja, dalam satu arah dan dikontrol
dengan azimuth jarak optis, dibaca ke muka dan ke belakang.
3. Kontrol azimuth dilakukan pada setiap titik pengikat tetap (BM)
dengan menggunakan azimuth hasil pengamatan matahari atau
dengan polygon tertutup.
4. Ketelitian yang disyaratkan :

54 | P a g e

a. Ketelitian pengukuran sudut maksimum adalah 10 (detik) untuk


setiap titik polygon;
b. Kesalahan penutup jarak linier < 1/2000.L (L = Jarak).
4.5.2.4.

Pengamatan Matahari/Azimuth Geografls

Azimuth

geografis

disini

sebagai

kontrol

dari

kesalahan

sudut

horisontal.Untuk mendapatkan azimuth matahari dipergunakan metode


pengamatan data tinggi matahari dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Lintang tempat pengamatan diinterpolasikan dari peta topografi
minimum skala 1 : 250.000 atau peta skala yang lebih besar.
2. Tinggi matahari atau sudut zenith yang dipergunakan dalam
perhitungan harus sudah dikoreksi terhadap refleksi dan paralaks.
3. Pengamatan matahari bila memungkinkan diamati setiap hari, pada
pagi dan sore hari.
4. Di setiap titik pengamatan dilakukan 4 (empat) kali pengamatan, yaitu
kedudukan B (biasa) LB (luar biasa) LB B menggunakan
Theodolite (T0).
5. Pada laporan akhir harus dilampirkan hasil hitungan azimuth matahari
4 (empat) pengamatan di titik yang berbeda.
4.5.2.5.

Pengukuran Beda Tinggi

1. Pengukuran beda tinggi dilakukan dengan cara Double Stand (2 x


tempat berdiri alat).
2. Alat pengukur beda tinggi menggunakan alat-alat sipat datar
automatic yang sejenis Wild Nak2 dan Zeis Ni2.
3. Patok beda tinggi dan tititk ikatnya diambil sama dengan yang
digunakan pada pengukuran polygon (BM).
4. Kesalahan penutup 25D mm.
5. D = Jarak dalam Km.
4.5.2.6.

Pengukuran Cross Section

1. Alat ukur yang dipergunakan alat T0 atau sejenisnya;


2. Pengukuran dilakukan untuk setiap jarak 50 m pada jalur trase;
3. Pengukuran harus lebih rapat pada daerah-daerah yang rolling. Lebar
pengukuran meliputi daerah koridor sejauh 25 m sebelah kanan dan

55 | P a g e

kiri sumbu jalan pada sebagai jalan yang lurus 25 m ke sisi luar dan 50
m ke sisi dalam pada jalan menikung;
4. Untuk daerah pegunungan yang pada saat pengukuran masih belum
dapat ditentukan rencana center line jalannya, koridor perlu diperlebar
sehingga diperoleh jangkauan medan yang lebih luas.
4.5.2.7.

Pengukuran Situasi Sungai/Jembatan

1. Pengukuran situasi sungai meliputi daerah sejauh 50 m ke hilir dan 50


m ke hulu dengan profil 25 m dari masing-masing tepi sungai;
2. Pada setiap tepi sungai/saluran, 7,5 m sebelah kiri dari rencana as
jalan dipasang patok pralon/beton dengan ukuran panjang 75 cm dan
diameter 10 cm;
3. Gambar detail sungai harus meliputi keadaan topografi, dasar, tebing
dan tepi sungai serta daerah sekitarnya;
4. Ketinggian muka air banjir, muka air normal dan muka air terendah
harus dicatat;
5. Jembatan/gorong-gorong yang direncanakan harus dibuat skets dan
dicantumkan material yang dipakai beserta ukuran-ukurannya.
4.5.2.8.

Pembuatan Peta TentativeAlinemen Horizontal Jalan

Pekerjaan ini masih termasuk pekerjaan lapangan dan harus dikerjakan di


lapangan dimana peta tersebut berisikan informasi sebagai berikut :
1. Peta situasi jalan skala 1 : 2000 dibuat di atas kertas millimeter blok
dengan interval garis tinggi 1 (satu) meter dan mencakup :
a. Semua patok dan titik dibuat detail dengan dilengkapi tanda/nomor,
ketinggian dan koordinatnya.
b. Dibuat catatan situasi yang ada, seperti batas rawa/kebun/ladang
di sekitar trase jalan, lebar sungai/saluran, ukuran jembatan atau
gorong-gorong dan lain-lainnya yang penting
2. Diatas peta situasi ini, dibuat alinemen horizontal dan bentuk tikungan
Full Circle

56 | P a g e

4.5.2.9.

Staking Out

Pekerjaan staking out atau uitzet dilakukan dengan menggunakan alat ukur
Theodolite T0 atau alat ukur yang sederajat dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Dilakukan pada titik awal, titik akhir dan titik simpul pada sumbu
berdasarkan perhitungan rencana as jalan dan PI (Point Intersection);
2. Patok terbuat dari paralon dengan ukuran diameter 3 inch dan panjang
75 cm;
3. Ditanam sedalam 55 cm atau muncul setinggi 20 cm di atas
permukaan tanah;
4. Diisi dengan beton tumbuk;
5. Dicat warna merah;
6. Diberi tanda yang jelas dan nomor urut;
7. Jarak maksimum antar patok 250 m.
4.5.2.10. Penelitian Mekanika Tanah dan Sumber Material
Kegiatan penelitian mekanika tanah dan sumber material bertujuan untuk
mengetahui daya dukung tanah beserta karakteristiknya. Kegiatan yang
dilakukan yaitu:

1. Penyelidikan tanah menggunakan DCP dilakukan setiap 200 m;


2. Penyelidikan menggunakan hand boring;
Analisa yang digunakan adalah Analisa AASHTO dengan hasil
sebagai berikut :
a. CBR Lapangan;
b. CBR Laboratoruim;
c. Indek Propertis;
d. Pemadatan;
e. Konsolidasi;
f. Gradasi.
4.5.2.11. Survei Hidrologi dan Lingkungan
Survei hidrologi dan lingkungan ini bertujuan untuk mengetahui ketinggian
permukaan air yang mempengaruhi terhadap perencanaan teknis jalan.
Kegiatan yang dilakukan yaitu :
1. Mengumpulkan data curah hujan;

57 | P a g e

2. Mengamati data air banjir secara visual dilapangan.

Hasil yang diharapkan adalah menentukan daerah banjir dan


tinggi banjir/genangan pada areal survei.
4.5.2.12. Survei Sosial Dan Ekonomi
Survei sosial dan ekonomi bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial
ekonomi masyarakat sekitar yang dipergunakan dalam memprediksi
perkembangan jalan yang direncanakan.
4.5.2.13. Foto Lapangan
Foto lapangan diperlukan untuk memberikan gambaran kondisi medan di
sekitar rencana jalan, seperti rawa, kebun, ladang, alang-alang, hutan,
pedesaan, bukit, batu-batuan, sungai, dsb antara lain :
1. Titik awal dan titik akhir jalan penghubung (kolektor primer)/poros
(lokal primer)beserta tanda-tandanya;
2. Titik pusat SP, SKP, WPP;
3. Patok BM (setiap 5 Km);
4. Patok paralon/beton (250 m);
5. Tikungan beserta patok stake out-nya;
6. Titik lokasi jembatan atau gorong-gorong beserta papan tandanya
diambil dari arah survei/kembali dan hulu/hilir;
7. Spot-spot yang memerlukan perhatian khusus.

4.6. Penajaman Analisa dan Penyusunan Rencana


4.6.1. Untuk penyusunan RTSP
A. AnalisaTata Ruang Lanjutan.
Hasil analisa

dan perencanaan tata ruang di lapangan perlu

disempurnakan, antara lain untuk penilaian kesesuaian pemukiman


dilengkapi dengan :
a. Telaahan Kebijakan
Telaahan kebijakan dimaksudkan untuk mereview kebijakan yang
digariskan untuk pengembangan daerah studi sesuai dengan kondisi
lapang. Kebijakan yang perlu direview antara lain;

58 | P a g e

Fungsi dan peran calon SP yang distudi apakah sudah sesuai


dengan kondisi lapangan; lapangan memang secara posisi
geografis dibandingkan dengan SP-SP atau desa-desa dalam
SKP dan pola jaringan jalan yang menghubungkan calon SP ada
, memang sesuai dijadikan pusat kawasan;
Kondisi lahan calon SP sesuai dikembangkan kan untuk
komoditas unggulan yang disarankan dalam Rencana rinci SKP.
b. Penilaian Aksesibilitas
Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemudahan
pencapaian dari calon SP ke desa/pusat pertumbuhan yang ada.
Pada penilaian ini dilakukan :
Analisis keterkaitan SP dengan pusat SKP;
Analisis keterkaitan SP dengan pusat WPT/LPT;
Analisis keterkaitan SP dengan pusat pusat pemerintahan
(kecamatan dan kabupaten).
Idealnya calon SP dapat dicapai dengan waktu tempuh 1 2 jam
perjalanan dari pusat pertumbuhan terdekat. Namun bila lebih dari 2
jam

perlu dievaluasi apakah karena kondisi jalannya jelek atau

memang jaraknya yang terlalu jauh.

Tingkat kemudahan ini perlu

dipertimbangkan, agar para transmigran dan penduduk setempat tidak


terkendala dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
B. Rencana Detail Tata Ruang
Rencana detil tata ruang disempurnakan dengan melengkapi:
a. Alokasi lahan penduduk setempat

Alokasi lahan penduduk setempat

tidak ditentukan mengikuti

kepemilikan yang ada, kecuali mereka bersedia dilakukan konsolidasi


lahan sehingga alokasi lahan penduduk setempat akan sama dengan
alokasi lahan untuk transmigran.
b. Rencana posisi

lahan yang tidak diserahkan menjadi milik

transmigran terdiri dari:


Lahan Fasilitas Umum di Pusat desa, 8-12 Ha/SP;
Lahan Kas Desa, 10 Ha/SP;
Lahan Kuburan, 2 Ha/SP;

59 | P a g e

Test Farm, 4 Ha/SP;


Seed Farm, 4 6 Ha/SP (pusat SKP);
Lahan Penggembalaan, 10 Ha/SP.
c. Rencana Blok-blok
RTSP menunjukkan blok-blok. PenggunaanBlok-blok antara 25
50KK berdasarkan faktor-faktor yang sebagai berikut:
Faktor Sosial
Penting sekali rencana dibuat dengan memperhatikan kebutuhan
untuk mengembangkan prasarana sedemikian rupa sehingga
menimbulkan keadaan yang dapat memungkinkan kehidupan
masyarakat bermasyarakat yang baik. Jadi sebagian besar lahan
pekarangan harus diusahakan menghadap ke jalan desa, bukan ke
jalan penghubung atau ke jalan poros.
Batas Blok
Batas-batas blok untuk setiap penggunaan yang diusulkan harus
sesederhana yaitu garis lurus, jalan atau ciri-ciri alam, misalnya
sungai. Untuk lebih mengenali batas-batas dilengkapi dengan
batas-batas kapling. Blok LP disajikan dalam peta 1:2.500 dan LU
disajikan dalam peta 1:5.000.
d. Rencana Fasilitas Umum
Rencana terinci untuk pusat desa disajikan dalam peta 1 2.500. Peta
tersebut menuju batas kapling masing-masing bangunan FU,
Konsultan harus tahu fasilitas umum yang akan diberikan sebagai
standard.
Fasilitas Umum tersebut harus dibuat daftarnya seperti pada tabel 1
(Rincian Penggunaan Lahan Pemukiman Transmigrasi) beserta luas
tiap blok. Fasilitas yang akan ditambah didaftar juga. Fasilitas
diberikan dalam dua tahap, yaitu fasilitas yang diberikan sebelum
kedatangan transmigran dan fasilitas yang diberikan selama tiga
tahun pertama. Luas yang cukup untuk semua fasilitas yang harus
diberikan dalam rencana.

60 | P a g e

Desain dan spesifikasi yang standar untuk semua fasilitas tersebut


adalah yang disiapkan oleh Dit. Perencanaan Pembangunan dan
Pengembangan

Kawasan

Kementerian

Desa,

Transmigrasi.

Konsultan

Transmigrasi,

Pembangunan
tidak

Ditjen.

Daerah

harus

PKP2Trans

Tertinggal

mendesain

lagi

dan
rumah

transmigran atau sekolah.


Lahan untuk fasilitas umum diletakkan di Pusat Desa atau diletakkan
di Pusat Satuan Permukiman (SP) berasarkan pertimbangan
perencanaan dan kriteria jarak capai, luasnya disesuaikan dengan
daya tampung atau KK yaitu 8 12 Ha. di pusat Satuan Permukiman
(SP).
Tabel
Rincian Penggunaan Lahan di Permukiman Transmigrasi
NO

JENIS FASILITAS

Pusat SKP

SP Biasa
0,1-0,25Ha/KK

LC /
NON LC
LC

0 15%

LC

0 15%

SLOPE

1.

LP

2.

Lahan Usaha I

0,1-0,25 Ha
/KK
0,75-0,9 Ha/KK

3.

Lahan Usaha II

1,0 Ha/KK

1,0 Ha/KK

Non LC

0 25%

4.

Fasilitas Umum Pusat Desa


1 Balai Desa
1 Pustu
2 Gudang Pupuk
2 Gudang Beras
2 Sekolah Dasar
2 Rumah Ibadah
1 Rumah Kep Unit / Desa
1 Rumah Petugas (kopel)
2/1 Rumah Perawat (kopel)
2/1 Rumah Kepala Sekolah
7/4 Rumah Guru (kopel)
2/1 Rumah Penjaga Sek.
1 Lapangan
1 Kantor / gedung KUD
1 Pasar dan Toko-toko
1 Lantai Pengeringan
1 Stasion Bis
1 Taman Kanak-kanak
1 Asrama
1 Puskesmas
1 Rumah Dokter
1 Sekolah Lanjutan
1 Bank Rakyat Indonesia
1 Kantor Pos
Fasilitas Umum Lainnya :

8 - 12 Ha/KK
2
650 m

8,0 Ha/KK
2
150 m
2
200 m
2
400 m
2
400 m
2
10000 m
2
5000 m
2
250 m
2
1250 m
2
250 m
2
250 m
2
1000 m
2
100 m
2
4000 m
2
250 m
2
750 m
2
600 m

LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC
LC

0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0 8%
0-8 %

5.

61 | P a g e

400 m
2
400 m
2
10.000 m
2
5.000 m
2
250 m
2
1.250 m
2
500 m
2
500 m
2
1.750 m
2
200 m
2
4.000 m
2
250 m
2
4.000 m
2
600 m
2
20.000 m
2
1.000 m
2
200 m
2
450 m
2
250 m
2
10.000 m
2
400 m
2
400 m

0,75-0,9 Ha/KK

1000 m
-

KETERANGAN
Diatas 8 % harus ada
perlakuan teknis
Diatas 8 % BHarus
Dibuat Teras Bangu
Diatas 15 % BHarus
Dibuat Teras Bangu

Kuburan
Pangonan / Penggembalaan
Test Farm
Seed Farm (lokasi menyatu
dengan test farm)
Tanah Bengkok
- Kepala Desa
- Staf Desa
- Bondo Desa
Jalan Penghubung
- Jalan Poros
( 20 m )
- Jalan Desa
( 10 m )
- Jalan Lahan
( 5m)

2,00 Ha
10
Ha
4
Ha
4, 0 6 Ha

2,00 Ha
10
Ha
4
Ha
-

LC
Non LC
LC
LC

0 15%
0 15%
0 3%
0 3%

10
10
10

Ha
Ha
Ha

10
10
10

LC
Non LC
Non LC

0 8%
0 8%
0 8%

Ha

6 Ha

LC

0 15%
0 15%

Ha
Ha
Ha

a. Lahan dengan kemiringan 0-8% diperbolehkan jika masih sesuai untuk tanaman Lahan
Pekarangan. * LC = Land Clearing

e. Lahan Konservasi
Untuk menjaga kelestarian lingkungan lokasi-lokasi dibawah ini harus
diperuntukan sebagai lahan konservasi yang tidak boleh dibuka,
sebagai berikut:

50 meter dari kiri dan kanan sungai besar atau 2 kali dalam
lereng yang curam dari pinggir lereng;

25 meter dari kiri dan kanan sungai kecil;

Lahan dengan kemiringan di atas 25%;

Lahan yang merupakan daerah genangan atau rawa yang tidak


sesuai untuk daerah pertanian.

Pekerjaan konservasi tanah yang sederhana misalnya penanaman


rumput sepanjang kontur, dibuat oleh petani sendiri yang tidak
mempengaruhi alokasi lahan.
f. Kualitas Air Minum Dan Air Bersih
Air yang direkomendasikan untuk air bersih memenuhi persyaratan
Permenkes RI No. 907/ Menkes/ SK/ VII/2002.
Tabel
Penentuan Kualitas Air
No
I

Parameter
Fisika
Bau
Rasa

62 | P a g e

Satuan

Kadar Maksimum yang


Diperbolehkan
Air Minum
Air Bersih
Tidak Berbau
Tidak Berasa

Tidak Berbau
Tidak Berasa

Tidak berwarna

Skala NTU
Mg/L

5
1.000

Tidak
berwarna
25
1.000

Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L
Mg/L

0,3
500
250
0,1
10
1,0
6,5 8,5
250
1,0

0,02
75,00
2,25
0,00
0,64
0,20
7,80
2,05
<0,004

Warna

II

Kekeruhan
TDS
Kimia
Besi
Kesadahan (CaCO3)
Klorida
Mangan
Nitrat + sbg N
Nitrit + sbg N
pH
Sulfat
Raksa

Sumber: Permenkes RI No. 907/ Menkes/ SK/ VII/2002

C. Rencana Penyiapan Bangunan SP PUGAR


Penyiapan bangunan merupakan kegiatan lanjutan setelah penyiapan
lahan. Dalam RTSP perlu diinformasikan jenis dan jumlah bangunan yang
harus disiapkan untuk pembangunan transmigrasi.
Jenis bangunan yang diusulkan sebagai rumah transmigran harus
mempertimbangkan kondisi lahan apakah lahan kering atau lahan basah.
Bila lahan kering adalah usulan jenis bangunan yang sesuai adalah
bangunan rumah non panggung;
Bila lahan basah adalah usulan jenis bangunan yang sesuai adalah
bangunan rumahpanggung;
Sedangkan bangunan fasilitas umum di Pusat Desa untuk setiap
Satuan

PemukimanTransmigrasipada

umumnya

sudah

bertipe

standar, baik daiam bentuk, ukuran maupunbahan bangunannya.


Perbedaan fasilitas umum antar pusat SP ditentukan dari besarnya
daya tampung SP yang bersangkutan. Untuk SP yang berdaya
tampung lebih besar dari 400 termasuk SP besar,sehingga jenis
fasilitas yang disediakan harus mampu menunjang pelayanan SP itu
sendiri maupun pemukiman lain di sekitarnya.
Tabel: Indikasi Progran Pembangunan Fasilitas Umum
No
1.
2.

63 | P a g e

Jenis Fasilitas Umum


Lapangan Olah Raga
Balai Desa

Waktu
Pelaksanaan
II
I

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Kantor KUPT/Desa
Rumah KUPT/Kades
Rumah Petugas
Gudang Pupuk
Gudang Beras
Rumah Perawat
Pustu
Rumah Kepala Sekolah
Rumah Guru
Rumah Penjga Sekolah
Sekolah Dasar / Sekolah Menengah Pertama
Taman Kanak-kanan
Masjid
Lantai Pengeringan
KUD
Pasar/Toko

I
I
I
I
I
I
I
II
I
II
I
II
I
II
II
III

Sumber : Hasil Analisa dan Standar Perencanaan

Keterangan :
-

Prioritas pembangunan I / dibangun tahun pertama

Prioritas pembangunan II/ dibangun tahun ke-2 atau ke-3 penempatan

Prioritas pembangunan III/ dibangunan tahun ke->3 penempatan

Type Bangunan
Bangunan rumah transmigrasi adalah salah satu fasilitas yang diberikan
oleh

Kementerian

Desa,

Pembangunan

Daerah

Tertinggal,

dan

Transmigrasi, kepada setiap transmigran. Bangunan rumah akan


dibangun di kapling lahan pekarangan berukuran R 36 .
Setiap rumah transmigran diusahakan menghadap jalan desa. Bangunan
rumah transmigran umumnya terdiri dari atas 4 ruang dengan fungsi
ruang tamu, kamar tidur, ruang makan dan dapur. Dinding rumah dibuat
dari papan dan atapnya dari seng atau asbes. Jamban keluarga
diletakkan di belakang bangunan rumah, dinding lubang pembuangan
bagian atas dilapis asbes. Lantai rumah di floor, serta di samping itu juga
perlu disediakan gentong plastik berkapasitas 300 liter per KK untuk
menampung air hujan.
Sedangkan bangunan fasilitas umum di Pusat Desa untuk setiap Satuan
Pemukiman Transmigrasi pada umumnya sudah bertipe standar, baik
daiam bentuk, ukuran maupun bahan bangunannya. Perbedaan fasilitas

64 | P a g e

umum antar pusat SP ditentukan dari besarnya daya tampung SP yang


bersangkutan. Untuk SP yang berdaya tampung lebih besar dari 400
termasuk SP besar, sehingga jenis fasilitas yang disediakan harus mampu
menunjang pelayanan SP itu sendiri maupun pemukiman lain di
sekitarnya.
D. Rencana Detail Pola Usaha Pokok Dan Pengembangan Usaha Yang
Dapat Dikembangkan
Dalam penyusunan RTSP diperlukan rencana pengembangan usaha
pemukiman sebagai arahan pola usaha pokok masyarakat di pemukiman.
Secara

bertahap

dan

berkelanjutan

diharapkan

dapat

memenuhi

kebutuhan jangka pendek berupa pemenuhan penganekaragaman


pangan dan kebutuhan jangka menengah berupa pemenuhan sandang
dan pendidikan serta kebutuhan jangka berupa pemenuhan papan/rumah
tinggal yang lebih layak. Untuk mewujudkan pola usaha pokok
berkelanjutan harus mempertimbangkan 9 aspek teknis :
1. Pemilihan komoditas, pengembangan komoditas di pemukiman
mengacu pada hasil studi RSKP (khususnya mengenai rencana
pengembangan usaha pokok) , yang telah mempertimbangkan arahan
pengembangan komoditas unggulan di kawasan / wilayah yang lebih
luas, dengan maksud lebih memperkuat sentra pengembangan
agribisnis komoditas unggulan di kawasan. Arahan pengembangan
komoditas unggulan di pemukiman sesuai yang diuraikan pada bab II
merupakan mixed farming dapat berupa :
a. Komoditi primer pangan- peternakan;
b. Perkebunan peternakan;
c.

Perikanan;

d. Komoditi olahan/turunannya yang memiliki prospek ekonomi baik


dan sesuai kebijakan pemerintah.
2. Bentuk Usaha Tani
Bentuk usaha tani di LP, LU I dan LU II memegang peranan penting
dalam penjadualan produksi, perencanaan tenaga kerja, input,
pembiayaan, proses produksi, penanganan pasca panen, serta sistem

65 | P a g e

distribusi dan pemasaran hasil, terutama untuk tanaman pangan dan


hortikultura yang memerlukan penanganan cepat. Pemilihan bentuk
usaha tani di pemukiman harus berdasarkan kesesuaian agroekologi
wilayah, nilai strategis, potensi komersial/pasar, keunggulan spesifik
dan memperhatikan kearifan lokal, agar pendapatan usaha tani dapat
mencapai target.
3. Pola dan Jadwal Tanam
Pola dan jadual tanam di LP, LU I dan LU II didasarkan pada
lingkungan bio-fisik dan ketersediaan air pertanian (irigasi dan
drainase) lingkup pemukiman dengan variasi pola tanam sebagai
berikut :
Lingkup pemukiman yang tidak ada jaringan air irigasi, pada
musim hujan di LP dan LU I ditanam padi, jagung dan atau ubi
kayu. Pada musim kemarau di LU I diusahakan tanaman yang
lebih tahan kering seperti kacang tanah, kedele, ubi kayu, ubi dan
talas, sedangkan di LP sayur-sayuran dan tanaman obat dapat
diusahakan sepanjang waktu dengan memberikan penyiraman
secukupnya pada musim kemarau. Pada wilayah dataran rendah
(0 300) mdpl, sepanjang tahun LU II dengan drainase yang baik
dapat diusahakan komoditi kelapa sawit dan atau karet,
sedangkan pada wilayah dataran lebih tinggi (300 1.000) mdpl,
LU II sebaiknya diusahakan komoditi coklat dan atau kopi untuk
investasi jangka panjang.
Lingkup pemukiman yang mempunyai jaringan air irigasi,
sepanjang waktu di LP dan LU I diatur penanaman tanaman
pangan seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran secara bergilir
untuk meningkatkan produktivitas lahan dan memutus siklus
biologis hama dan penyakit tanaman. Luas tanam padi untuk
memenuhi kebutuhan keluarga petani diperhitungkan dengan
kebutuhan konsumsi/kapita/ tahun.
Pola tanamannya dapat secara tunggal (monokultur), komoditas
ganda (tumpangsari), dan multi komoditas (integrated farming)

66 | P a g e

atau sistem produksi, yaitu: pergiliran tanaman dan produksi


massal (serentak).
4. Penyerapan tenaga kerja (HOK)
Sesuai bentuk usaha tani dan pola jadwal tanam yang diusulkan, jiuga
tergantung nilai IP. usaha tani yang direncanakan. Kebutuhan tenaga
kerja per ha untuk pengembangan setiap tanaman dapat mengacu
pada kebuthan HOK yang dikeluarjan oleh Kementeria Pertanian.
Sehingga penyerapan tenaga kerja untuk usaha tani yang diusulkan
dapat diketahui, kemudian dibandingkan dengan ketersediaan tenaga
yang dimiliki oleh tiap KK transmigran. Kebutuhan tenaga kerja untuk
waktu-waktu puncak perlu dihitung, bila terjadi kekurangan tenaga
kerja perlu diibuat rekomendasi agar seluruh lahan tarnsmigran dapat
dikembangkan secara optimal.
5. Masukan sarana produksi pertanian
Masukan sarana produksi pertanian (saprotan) usaha tani di LP, LU I
dan LU II bertujuan meningkatkan produktivitas lahan yang akan
berpengaruh terhadap produksi pertanian. Penggunaan masukan
saprotan harus memperhatikan 4 tepat, yaitu :
Jenis

saprotan

yang

digunakan

sesuai

rekomendasi

setempat/lokal dan petunjuk teknis budidaya jenis tanaman;


Waktu penggunaan saprotan sesuai dengan

masa umur

pertumbuhan tanaman;
Jumlah dan dosis penggunaan saprotan sesuai rekomendasi
setempat/lokal dan masa umur pertumbuhan tanaman;
Cara pemberian saprotan sesuai dengan petunjuk teknis budidaya
jenis tanaman.
Pengadaan Masukan Sarana Produksi Pertanian atau istilah yang
lebih dikenal adalah input saprodi/saprotan untuk pengembangan
lahan usaha para transmigran sangat diperlukan. Untuk bibit
tanaman,

disarankan

menggunakan

bibit

unggul,

dengan

menggunakan varietas bibit unggul akan diperoleh hasil panen


yang optimal dan tahan terhadap hama dan penyakit tanaman.

67 | P a g e

6. Prakiraan produksi pertanian


Prakiraan produksi pertanian diperlukan sebagai arahan dan target
produksi sekaligus evaluasi dan

pengendalian kegiatan produksi

pertanian. Dalam menyusun prakiraan produksi pertanian yang


optimal

sebaiknya

berdasarkan

upaya

peningkatan

mutu

intensifikasi lahan pertanian.


7. Prasarana pasca panen dan pengolahan hasil
Penanganan

pasca

panen

dan

pengolahan

memerlukan prasarana yang beraneka

ragam

hasil

pertanian

baik

bentuk,

konstruksi maupun kapasitas operasional peralatan karena setiap


jenis komoditi pertanian yang dihasilkan memerlukan proses pasca
panen dan pengolahan hasil yang berbeda-beda. Oleh
prasarana

pasca

panen

direkomendasikan harus

dan

pengolahan

karena

hasil

panen

itu
yang

memperhatikan potensi lahan lokasi

yang direncanakan.
8. Pemasaran hasil
Dalam

penyusunan

Rencana

Pengembangan

Usaha

perlu

merekomendasikan mengenai pemasaran hasil.


9. Biaya Pengembangan Usaha
Perhitungan

biaya

pengembangan

dimaksudkan

untuk

memperkirakan besarnya biaya yang akan dikeluarkan dalam


pengembangan satuan pemukiman, sesuai dengan volume kegiatan
terkait dari RTSP yang disusun semakin besar daya tampung SP,
semakin besar pula biaya pengembangannya,

demikian pula

sebaliknya.Biaya pengembangan pertanian meliputi biaya untuk


pengadaan seperti

pupuk, bibit / benih, pestisida dan hand

sprayer. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada


Berdasarkan kebutuhan sarana produksi pertanian yang dibutuhkan,
dengan menggunakan harga input pertanian

di daerah, dihitung

kebutuhan

untuk

biaya

pengembangan

pertanian

setiap

KK

tranmigran. Dengan mengalikan jumlah daya tampung akan diketahui


perkiraan kebutuhan biaya untuk pengembangan usaha.

68 | P a g e

E. Perhitungan Kelayakan usaha transmigran


Kelayakan usaha transmigran merupakan tingkat keberhasilan usahatani
Transmigran, dalam hal ini pendapatan dari usaha tani setelah dikurangi
dengan biaya produksi, setara dengan kebutuhan minimum yang telah
ditentukan melalui Peraturan Menteri Transmigrasi Per.25/Men/IX/2009
tentang

Tingkat

Perkembangan

Permukiman

Transmigrasi

dan

Kesejahteraan Transmigran. Apabila berdasarkan hasil perhitungan


pendapatan

transmigran

tersebut

tidak

layak

untuk

kehidupan

transmigran, konsultan perlu membuat usulan pemecahan/alternatif


pengembangan pertanian di daerah studi tersebut.
F. Telaahan Lingkungan
Pelaksanaan pembangunan kawasan transmigrasi sebagai suatu sistem
terdiri dari subsistem perencanaan kawasan transmigrasi, subsistem
pembangunan kawasan transmigrasi dan subsistem pengembangan
msyarakat dan kawasan transmigrasi. Dokumen RTSP sebagai bagian
dari subsistem perencanaan kawasan transmigrasi harus

memuat

telaahan lingkungan yang holistik dan komprehensif, mencakup aspek


biofisik, sosial budaya dan ekonomi, supaya pelaksanaan pembangunan
kawasan

transmigrasi

pembangunan

berkelanjutan.

kawasan

transmigrasi

Karena

pada

merupakan

hakekatnya

turunan

dari

pembangunan berkelanjutan (sustainable development).


Dokumen RTSP, merupakan produk akhir yang sangat teknis dari
subsistem perencanaan kawasan transmigrasi, yang memuat berbagai
gambar atau rencana teknis seperti; rencana teknis jalan, jembatan,
sarana air bersih, metode

pembukaan lahan, bangunan rumah dan

fasilitas umum, kegiatan usaha, dan faktor-faktor kehidupan lainnya.


Dokumen RTSP yang sifatnya sangat teknis tersebut merupakan upaya
untuk mengelola sumber daya alam, dan membangun sumber daya
buatan oleh sumber daya manusia, agar dapat menekan dampak negatif
terhadap lingkungan.
Dalam upaya menekan dampak negatif terhadap lingkungan tersebut,
maka dibutuhkan Telaahan Lingkungan

di setiap Satuan Permukiman

Transmigrasi. Adapun telaahan lingkungan tersebut mencakup:

69 | P a g e

Aspek Lingkungan Biofisik.


Dalam

melaksanakan

metode

pembukaan

lahan,

terutama

pembukaan lahan usaha transmigran harus merekomendasikan


pembukaan

lahan

yang

relatif

dapat

menekan

atau

tidak

menyebabkan dampak terjadinya erosi. Dan harus memakai metode


pembukaan lahan yang tetap menjaga kesuburan tanah dengan
mempertahankan ketebalan humus yang ada pada permukaan tanah,
misalnya pembukaan lahan tanpa tanpa bakar. Pada lahan-lahan
marginal yang ketebalan humusnya tipis pembukaan lahan secara
manual sangat dianjurkan.
Dalam mengelola sumber daya air, baik air permukaan maupun air
tanah untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan sehari-hari serta air
pertanian, dibutuhkan rekomendasi tentang water manajemen.
Pengelolaan air tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi banjir dan
timbulnya

penyakit

akibat

dari

pencemaran

air.Dalam

mengembangkan potensi energi terbarukan, telaahan mencakup


kemungkinan mengembangkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga
Surya (PLTS), dan sumber energi terbarukan lainnya dari pengolahan
limbah dan biomas.
Dalam mengembangkan infrastruktur jalan dan jembatan, aligment
jalan harus memenuhi kriteria cut and fill serta kemiringan dan
tikungan yang tidak membahayakan.
Pada kiri kanan jalan desa harus direkomendasikan penanaman
pohon pelindung yang bermanfaat untuk warga masyarakat baik
berupa lindungan maupun hasil tanamannya.
Pada kiri kanan sungai harus disisakan area untuk mencegah
terjadinya banjir, pembukaan lahan permukiman hendaknya dimulai
dari paling tidak 25 sd 50 m dari kiri kanan sungai, tergantung dari
lebar sungai.
Aspek Lingkungan Sosial Budaya.
Dalam menyeleksi calon transmigran harus mempertimbangkan latar
belakang adat istiadat, budaya, dan agama dengan adat istiadat,
budaya dan agama penduduk lokal.

70 | P a g e

Persebaran dan penataan ruang antara transmigran dan penduduk


lokal harus mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi terjadinya
proses pembauran agar dapat berlangsung secara harmonis dan
alamiah, serta menjunjung tinggi keragaman budaya.
Sosialisasi hasil konsolidasi lahan, sebagai dasar adanya potensi
penambahan transmigran harus benar-benar intensif dan betul-betul
dipahami baik oleh penduduk lokal maupun transmigran, agar tidak
menimbulkan konflik masalah tanah dikemudian hari. Terutama
apabila ada kehadiran investor yang akan mendapat lahan berupa
hak guna usaha di sekitar permukiman Satuan Permukiman tersebut.
Harus menjunjung tinggi tentang keberadaan atas tanah hak
masyarakat adat. Kondisi konflik tanah masyarakat adat yang terjadi
di beberapa kawasan permukiman transmigrasi harus dijadikan
pengalaman yang kurang baik, dan dilakukan penyempurnaan di
waktu yang akan datang.
Rekomendasi

dokumen

RTSP

mengarahkan masyarakat untuk


pembangunan
lingkungan

permukiman
adalah

pada

Pugar

harus

memuat

dan

betul-betul memahami bahwa

transmigrasi

yang

berwawasan

dasarnya

harus

benar-benar

mempertimbangkan, menganalisis, dan mengkalkulasi secara cermat


dan cerdas setiap potensi sumber daya alam dan sumber daya
buatan yang dikelola oleh sumber daya manusia.
Dokumen RTSP juga harus memuat rekomendasi tentang cara atau
metode meningkatkan pelatihan dan pendidikan yang difokuskan
kepada; pendidikan, kesehatan, nutrisi, meelek huruf, kebersamaan,
untuk meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja.
Aspek Lingkungan Ekonomi.
Dokumen

RTSP

harus

merekomendasikan

bagaimana

cara

pengalokasian sumber daya alam dengan membuat kebijakan yang


aplikableuntuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Harus merekomendasikan bagaimana caranya menarik investasi
dengan menyajikan formula-formula perhitungan ekonomi agar
investasi

71 | P a g e

di

kawasan

transmigrasi

dapat

berlangsung

secara

konsisten
Harus merekomendasikan cara-cara penguatan modal ekonomi
terutama memfokuskan kepada upaya membuat sesuatu kelebihan
dari kekurangan, memaksimumkan nilai guna dari sumber daya
eksisting. Upaya-upaya tersebut antara lain; penggunaan limbah
sebagai sumber ekonomi seperti kompos, biogas, biomass, pupuk
organik, memperlancar pergerakan uang dimasyarakat, memproduksi
barang dan jasa untuk ekspor dan kebutuhan sendiri, pengembangan
kelembagaan keuangan.
Dokumen RTSP

harus menyajikan akan terjadinya transformasi

ekonomi dari yang semula kegiatan usaha primer berupa hasil


pertanian di hulu secara berangsur-angsur ke barang dan jasa berupa
kegiatan uasaha sekunder dan tersier yang membutuhkan fasilitas
pasar dan kelembagaan ekonomi yang berbeda.
Pembangunan pertanian di setiap satuan permukiman transmigrasi
secara bertahap diarahkan untuk mengurangi penggunaan pupuk
buatan dan meningkatkan penggunaan pupuk organik. Rekomendasi
untuk

pembinaan

masyarakat

transmigrasi

diarahkan

untuk

mengembangkan pertanian organik, dalam upaya untuk menekan


terjadinya kerusakan tanah.
Untuk mencegah terjadinya konflik antara penduduk lokal dan
transmigran, karena disebabkan oleh adanya ketidak seimbangan
pendapatan antara warga masyarakat, maka dalam mengembangkan
pola

usaha

pokok

dan

kegiatan

usaha,

harus

benar-benar

berdasarkan keahlian dan kesesuaian potensi sumber daya alam di


setiap kawasan transmigrasi yang beragam.
Eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang
tidak terbarukan harus betul dianalisis dampak langsung maupun
dampak yang tidak langsung.
Kedepan yang sangat penting juga adalah rekomendasi mengenai
green business, bagaimana membangun masyarakat untuk diarahkan
menjadi ecopreneuer.

72 | P a g e

G. Rencana Daya Tampung Penduduk SP


Daya Tampung Penduduk SP menurut hasil penyusunan RTSP,
merupakan pejumlahan dari:
1.

Jumlah KK di blok pemukiman penduduk setempat saat ini;

2.

Jumlah KK yang dihasilkan penyusunan Rencana blok pemukiman


untuk transmigran.

H. Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan


Jenis transmigran yang akan dillaksanakan tergantung pola pemukiman
yang direncanakan, bila mengacu pada UU 29 /2009 menyebutkan ada 3
(tiga) jenis transmigrasi, yaitu :
Transmigrasi Umum adalah jenis transmigrasi yang dilaksanakan oleh
Pemerintah

dan/atau

pemerintah

daerah

bagi

penduduk

yang

mengalami keterbatasan dalam mendapatkan peluang kerja dan usaha.


Transmigrasi Swakarsa Berbantuan adalah jenis transmigrasi yang
dirancang oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan
mengikutsertakan badan usaha sebagai mitra usaha transmigran bagi
penduduk yang berpotensi berkembang untuk maju.

Transmigrasi Swakarsa Mandiri adalah jenis transmigrasi yang


merupakan prakarsa transmigran yang bersangkutan atas arahan,
layanan, dan bantuan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi
penduduk yang telah memiliki kemampuan.

I. Rencana Kebutuhan Pembangunan SP


Kebutuhan pembangunan SPakan mengikuti tahapan sebagai berikut:
Pembukaan lahan untuk rumah transmigran dan pecahan KK;
Pembangunan jalan penghubung-poros , jalan desa , jembatan dan
gorong-gorong;
Pembangunan rumah dan jamban keluarga;
Pemugaran rumah penduduk setempat (untuk SP Pugar);
Penyediaan air bersih;
Penyediaan sarana produksi pertanian;
Seleksi transmigran;
Mobilisasi/pemindahan transmigran dari daerah asal ke pemukiman
SP .

73 | P a g e

4.6.2. Analisa dan Rencana untuk RTJ.


A. Analisa data lapangan
Analisa data lapangan bertujuan untuk mendukung proses perhitungan
konstruksi yang akan direncanakan. Kegaiatan yang dilakukan yaitu :
Mengolah dan menggambar data topografi (kontur dan trace);
Mengolah dan menggambarkan hasil pekerjaan DCP;

Mengolah data borlog.

B. Perhitungan Tebal Perkerasan


Perhitungan ini dimaksud untuk mengetahui tebal perkerasan yang akan
digunakan. Kegiatan yang dilaksanakan adalah :
Mengolah data CBR lapangan;
Mengolah data lalu lintas harian ratarata.
Analisa yang dipergunakan adalah Metode Fleksibilitas Perkerasan.
C. Desain Jalan
Desain jalan bertujuan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan
pengendara dan menghindari batasanbatasan kritis alinemen horizontal
dan vertikal. Kegiatan yang dilakukan adalah :
Penggambaran alinemen horizontal
Perhitungan dan penggambaran alinemen vertical
Dalam merencanakan jalan, sejauh mungkin berpegang pada buku
standar spesifikasi perencanaan geometrik jalan raya No.13/1970
dalam hal perencanaan konstruksi jalan Penghubung (kolektor
primer)/ Poros (lokal primer) ini diadakan penyesuaian dan modifikasi
sebagai berikut :
No
1.
2.
3.
4.

74 | P a g e

Uraian
Kecepatan Rencana
Jari-jari lengkung
Landai Max
Miring Tikungan Max
Lebar Daerah Milik Jalan
(ROW) minimum
Lebar
Konstruksi
Perkerasan
Lereng
Melintang
Bahu Jalan
Lebar

Satuan
Km/jam
M
%
%
M
M
%
M

Dataran
60
115
6

Golongan Daerah
Perbukitan
Pegunungan
40
30
50
30
8
10
10
20

4,5
Sub base material tebal 30 cm
4
1,5 m

Konstruksi
Lereng
Melintang

1. Standar Desain Jembatan


Material : Beton/besi/composite
Bentang :5 m, 10m, 15m, 20 m, dan 25 m
>25 m menggunakan konstruksi jembatan non standar.
2. Standar Desain GoronggoronG
Material :Beton
Jenis

:Box Culvert

Bentang :0.8 x 1 m dan 1.5 x 1.5 m


Dari hasil kegiatan ini adalah desain final rencana teknis jalan.
D. Perhitungan Volume Pekerjaan Pelaksanaan Fisik Pembuatan Jalan
1. Daftar volume pekerjaan disusun menurut item pekerjaan didalam
dokumen tender.
2. Kesalahan

yang

diizinkan

maximal

20%

dan

volume

yang

sebenarnya.
Perhitungan volume harus sudah dimulai selama kegiatan di
lapangan. Perhitungan dari

bersifat pengecekan kembali dan

penyempurnaan.
E. Estimasi Volume Pekerjaan dan Biaya
Estimasi volume pekerjaan dan biaya konstruksi dibuat dengan ketentuan
sebagai berikut :
1. Perkiraan volume pekerjaan dari bagian-bagian pekerjaan fisik
dihitung

berdasarkangambar-gambar

perencanaan

yang

telah

mendapat persetujuan dari Pihak Pemberi Tugas.


2. Estimasi biaya konstruksi dilakukan berdasarkan hasil analisa harga
satuan setiap pokok pekerjaan yang meninjau harga satuan bahan,
peralatan dan upah dilokasi proyek.
3. Harga bahan dan upah harus diambil langsung dari lokasi proyek
melalui wawancara maupun survei ke toko-toko bahan bangunan
terdekat. Sebagai pembanding harga satuan bahan dan upah dilokasi
proyek, maka konsultan harus mendapatkan Daftar Harga satuan

75 | P a g e

Bahan dan Upah (Basic Price) yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan
Umum setempat.
4. Bila pencapaian lokasi sulit, untuk keperluan pelaksanaan fisik
konsultan harus memberikan rekomendasi pencapaian lokasi untuk
mobilisasi personil dan alat lengkap dengan cara, jadwal dan biaya
transportasinya.

V.

TENAGA AHLI

1. Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan

Koordinasi pelaksanaan kegiatan dapat digambarkan seperti berikut:


DIREKTORAT P3KTrans

DIREKSI KONSULTAN

PENGAWAS LAPANG

KETUA TIM
AHLI PERENCANAAN
WILAYAH

TENAGA AHLI
Ahli Tanah
Ahli Geodesi
Ahli Hidrologi
Ahli Teknik Sipil Jalan
Ahli Teknik Sipil Estimator
Ahli Kehutanan
Ahli Sosek Pertanian
Ahli Sosiologi

TENAGA PENDUKUNG
Operator Komputer
Juru Gambar/Draftman
Surveyor Tanah
Surveyor Topografi

Keterangan:
Garis Koordinasi
Garis Komando

76 | P a g e

PEJABAT
PEMBUAT KOMITMEN

DINAS/INSTANSI
TERKAIT DI DAERAH

2. Kebutuhan Tenaga Ahli


Tabel
Kebutuhan Tenaga Ahli
No

Profesi/Keahlian

1
2
3
4
5

TENAGA AHLI
Ahli Perencanaan Wilayah
Ahli Geodesi
Ahli Tanah
Ahli Teknik Sipil (jalan)
Ahli Teknik Sipil (estimator)

Ahli Hidrologi

7
8
9

Ahli Kehutanan
Ahli Sosial Ekonomi
Ahli Sosiologi
SURVEYOR
- Topografi
- Mekanika Tanah
- Sosial
PENDUKUNG
- Juru gambar
- Operator Komputer

Latar Belakang Pendidikan

S1 Planologi
S1 Geodesi
S1 Ilmu Tanah
S1 Teknik Sipil + SKA
S1 Teknik Sipil + SKA
S1 Geologi/ Agrometerologi/
Geografi
S1 Kehutanan
S1 Sosial Ekonomi
S1 Sosiologi

Pengalaman
Kerja
(Tahun)

Jabatan Dalam
Proyek

4
3
3
3
3

Ketua Tim
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota

Anggota

2
3,5
2,5

Anggota
Anggota
Anggota

3. Tugas tenaga ahli antara lain:

a. Ahli Perencanaan Wilayah (ketua tim)

Mengkoordinasikan penyusunan laporan dari berbagai disiplin


ilmu;

Menganalisis keterkaitan pengembangan SP dengan pusat


pertumbuhan kawasan;

Melakukan analisis tata ruang satuan permukiman;

Melakukan analisis jaringan transportasi dan analisis kebutuhan


sarana

dan

prasarana

untuk

menunjang

rencana

pengembangan kawasan transmigrasi;

Bertanggungjawab terhadap peta RSWPT, peta analisis tata


ruang dan peta RSSKP.

77 | P a g e

b. Ahli geodesi

Melakukan analisis kelerengan untuk mendapatkan informasi


klasifikasi kelerengan beserta posisi dan luasannya;

Melakukan koordinasi di bidang kegiatan topografi;

Bertanggungjawab terhadap pemasangan patok BM, BPL, BM


Jalan dan patok lainnya;

Mengkoordinasikan penggambaran semua peta;

Bertanggungjawab terhadap peta orientasi, peta topografi, peta


BPL dan peta kemiringan lereng.

c. Ahli tanah

Mengarahkan, mengevaluasi dan memberi petunjuk kepada


surveyor tanah;

Bekerjasama dengan tenaga ahli lainnya dalam melakukan


pekerjaan penilaian kondisi fisik dan kimia tanah;

Bertanggungjawab terhadap analisa tanah dan kesesuaian lahan


serta penyusunan peta kesesuaian lahan dan peta satuan lahan.

d. Ahli teknik sipil jalan

Membantu mengarahkan rencana alinemen jalan,

Menyusun

perkiraan

kebutuhan

pembukaan

lahan

dan

pembangunan permukiman;

Bertanggungjawab terhadap peta-peta alinemen jalan, jaringan


jalan.

e. Ahli teknik sipil estimator

Melakukan estimasi volume kebutuhan pembukaan lahan, sarana air


bersih, rumah transmigran, fasilitas umum dan prasarana jalan.

Melakukan estimasi biaya kebutuhan pembukaan lahan, sarana air


bersih, rumah transmigran, fasilitas umum dan prasarana jalan.

Menyusun RAB

f. Ahli hidrologi

Mengidentifikasi daerah-daerah bahaya banjir, pengamatan


pasang surut dan intrusi air laut serta genangan-genangan yang
ada di daerah survai;

78 | P a g e

Mengevaluasi ketersediaan sumber daya air untuk keperluan air


minum transmigran dan keperluan lainnya;

Menganalisa data iklim, minimal 10 tahun terakhir;

Bertanggungjawab terhadap perhitungan dan peta sumber daya


air.

g. Ahli kehutanan

Melakukan survai tentang flora dan fauna;

Menghitung perkiraan potensi kayu;

Melakukan deliniasi status dan fungsi kawasan, serta kelas


hutan;

Bertanggungjawab terhadap analisa penggunaan lahan dan


status hutan serta penyusunan peta-peta penggunaan lahan dan
sumber daya hutan.

h. Ahli sosial ekonomi pertanian

Melakukan survai ekonomi masyarakat setempat;

Melakukan analisa pasar terhadap komoditas yang akan


dikembangkan;

Menyusun usulan pengembangan usahatani transmigran;

Bertanggungjawab terhadap evaluasi kelayakan pengembangan


satuan permukiman.

i.

Ahli Sosiologi

Melakukan survei sosial budaya masyarakat setempat

Melakukan analisa gejala-gejala kemasyarakatan, permasalahanpermasalahan kemasyarakatan;

Menyusun alternatif pemenuhan kebutuhan masyarakat dan aspirasi


masyarakat terhadap program transmigrasi;

Bertanggung jawab terhadap rekomendasi alokasi daya tampung


TPA,

asal

TPA,

dan

penyelesaian

kemasyarakatan penduduk setempat.

79 | P a g e

permasalahan

sosial

VI.

JADWAL PELAKSANAAN
1.

Jadwal Pelaksanaan Penugasan Tenaga Ahli

Tabel
Jadwal Pelaksanaan Penugasan Tenaga Ahli
No.

Profesi/Keahlian

JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Bulan I
Bulan II
Bulan III
Bulan IV

OB

Ahli Perencanaan
Wilayah

Ahli Geodesi

Ahli Tanah

Ahli Teknik Sipil Jalan

Ahli Teknik Sipil


Estimator
Ahli Hidrologi

Ahli Kehutanan

Ahli Sosial Ekonomi


Pertanian

3,5

Ahli Sosiologi

2,5

2.

Jadwal Waktu Pelaksanaan Kegiatan


Jadwal pelaksanaan kegiatan penyusunan RTSP dan RTJ adalah selama
120 hari kalender atau 4 bulan

No.

JENIS KEGIATAN

Tahap Persiapan

Presentasi Laporan
Pendahuluan

Tahap Survai Lapang

4
5
6

Presentasi Laporan
Lapang
Penyusunan Draft
Laporan Akhir
Presentase Draft
Laporan Akhir

Penyempurnaan Lap.

Penyerahan Laporan

80 | P a g e

JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Bulan I
Bulan II
Bulan III
Bulan IV

VII. PERALATAN
Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan meliputi :
1.

Bahan-bahan alat tulis kantor;

2.

Theodolite, Waterpass;

3.

Compass/Clinometer;

4.

Munsell Soil Chart;

5.

Soil Test Kit;

6.

pH Meter;

7.

GPS;

8.

Hagameter;

9.

Current Meter.

10. Bor Tangan


11. Tabung Tanah
12. Roll Meter (pita ukur)

VIII. KELUARAN
7.1. Keluaran Hasil Penyusunan RTSP

RTSP memuat Dokumen laporan dan peta-peta : Produk Rencana


detal -SP mempunyai skala perencanaan 1: 10.000 dan 1 : 5.000
A. Gambaran umum lokasi studi;
B. Analisa lokasi Studi;
C. Muatan Dokumen Rencana RTSP ;
a. Luas SP Pugar (mencakup luasan administratif desa);
b. Rencana

Detail

Pemanfaatan

Ruang

SP

Pugar

pemukiman penduduk setempat dan pemukiman baru);


c. Rencana Detail pola usaha pokok dan pengembangan
usaha yang dapat dikembangkan;
d. Rencana jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;
e. Rencana daya tampung penduduk;
f.

Rencana Kebutuhan Biaya Pembangunan SP.

D. Muatan Peta RTSP;

81 | P a g e

a. Peta dasar dapat menggunakan sumber hasil foto udara,


citra satelit, dan RBI;
b. Format peta dalam disajikan dalam album berukuran A1
A0 (full color), terkecuali pada laporan akhir dilengkapi petapeta dalam format A-3;
c. Peta-peta yang disajikan dalam album meliputi:
Tabel
Daftar Peta
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Jenis Peta
Daftar Isi
Peta Orientasi
Peta RWPT
Peta RSKP
Peta Situasi Desa
(Pugar dan baru)
sebaran FU
Peta Kemiringan Lahan
Peta Penggunaan dan
Penguasaan Lahan
Peta Satuan Tanah /
Lahan

Peta Kesesuaian
Lahan
Peta Potensi Sumber
Daya Air
Peta Topografi
Peta Satuan Tanah /
Lahan (LP dan LU I)
Peta Kesesuaian
Lahan (LP dan LU I)
Peta Analisa Tata
Ruang
Peta Rencana Tata
Ruang
Peta Detil Tata Ruang
Peta Pusat Desa
Peta BPL
Peta Alinemen Jalan
Peta Jaringan Jalan

Skala
1 : 1.000.000 / 1 : 500.000

1 : 50.000
1 : 25.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 10. 000 dan 1: 5.000
1 : 5.000
1 : 5.000
1 : 5.000
1 : 10.000
1 : 5.000
1 : 1.000
1 : 10.000
1 : 10.000
1 : 25.000 s/d 50.000

7.2. Keluaran Hasil RTJ


Keluaran hasil RTJ berupa dokumen laporan dan gambar rencana.
A.

82 | P a g e

Laporan Akhir/Final ( 10 eks )

Laporan akhir merupakan draft final yang telah dipaparkan dan


diperbaiki terdiri dari:
a. Jilid A : Laporan Akhir
b. Jilid B : Perhitungan Konstruksi
c. Jilid C: Rencana Anggaran Biaya.
d. Laporan Ringkasan Eksekutif (executive summary)

B.

Gambar Rencana
Peta dan gambar yang harus disajikan dalam album gambar
rencana meliputi:
a. Peta Orientasi Proyek, skala 1 : 250.000
b. Peta Lokasi Sumber Material, skala 1 : 250.000 atau 1 :
100.000
c. Peta Lokasi Proyek, skala 1 : 250.000 atau 1 : 100.000
d. Peta Lay Out Jaringan Jalan, skala 1 : 10.000
e. Peta situasi trase jalan dan alinemen horisontal, skala 1 :
2.000 dan 1 : 200
Data Tikungan;
Kontur Topografi;
Interval kontur 0,25 m untuk daerah datar dan 0,50 m
sampai 1,0 m untuk daerah bukit/pegunungan;
Stationing Jalan;
Arah/Azimuth Jalan;
Patok BM;
Situasi existing.
f. Alinemen vertikal, skala 1 : 2.000 dan 1 : 200
Data lengkung vertikal;
Diagram superelevasi;
Kemiringan memanjang;
Elevasi tanah asli dan permukaan jalan rencana;
Posisi gorong-gorong dan jembatan.
g. Gambar

potongan

memanjang

trase

jalan

dengan

skalahorisontal 1 : 500 s.d. 1 : 1.000 dan skalavertikal 1 :


100 s.d. 1 : 200.

83 | P a g e

h. Gambar potongan melintang trase jalan dengan skala 1 : 50


s.d.1 : 100
i.

Gambar konstruksi jalan, skala 1 : 50 s.d. 1 :100


Dokumen Lelang;
Soft Copy;
Buku Data Ukur:
a.

Album Peta

b.

Gambar Rencana Teknis

c.

Softcopy (CD)

Gambar kerja disajikan dengan ukuran A1 sejumlah 3 eksemplar


dan ukuran A3 sejumlah 7 eksemplar, buku-buku produk
ditempatkan dalam kotak kardus khusus untuk menyimpan diberi
label pada bagian badan dan tutupnya, dengan format tertentu.

IX.

Tahap Pelaporan
1. Laporan Pendahuluan sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar.
Memuat antara lain tentang pemahaman / persepsi terhadap pekerjaan
yang akan dilaksanakan, lingkup pekerjaan, rencana kerja dan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang disusun berdasarkan hasil studi literatur
dan hasil interpretasi citra satelit. Laporan ini di presentasikan , untuk
mendapat masukan penyempurnaan.
2. Laporan Sementara / Interim Report sebanyak 10 (sepuluh) eks
Merupakan hasil analisis awal / analisis sementara dari hasil
Penyusunan RTSP hasil lapang sebagai materi yang harus
dipresentasikan di kabupaten.
3. Draft Laporan Akhir sebanyak 10 eksemplar
Memuat keseluruhan hasil kegiatan penyusunan RTSP termasuk
didalamnya Rencana Penyiapan Lahan dan Rencana pembangunan
pemukiman,
Lingkungan.

84 | P a g e

Rencana

Pengembangan

Usaha

dan

telaahan

4. Laporan Akhir sebanyak 10 eksemplar


Merupakan laporan final sebagai penyempurnaan dari draft laporan
akhir yang telah diperbaiki dan disempurnakan berdasarkan hasil
diskusi. Laporan akhir ini sebanyak 20 eksemplar yang dilengkapi
dengandokumentasi

lainnya,

Ringkasan

Eksekutif

(Executive

Summary) merupakan ringkasan yang menjadi titik perhatian (high


light) dokumen RTSP.

X.

Biaya Yang Diperlukan


Biaya yang diperlukan dalam melaksanakan Kegiatan Penyusunan RTSP
dan RTJ dibebankan pada DIPA Satuan Kerja Direktorat Perencanaan
Pembangunan

dan

PengembanganKawasan

Transmigrasi

Tahun

Anggaran 2015 dengan rincian sebagai berikut :

No.

Uraian

Biaya (Rp)

Lokasi Desa Bambakaenu SP.1 Kecamatan


Penimbani Kabupaten Donggala Provinsi
Sulawesi Tengah
Lokasi Desa Larea, Desa Dampala
Kecamatan Wawotobi Kabupaten Morowali
Provinsi Sulawesi Tengah
Lokasi Lito SP. 2 Kabupaten Boalemo
Provinsi Gorontalo
Lokasi
Desa
Bambakaenu
SP.
2
Kecamatan
Penimbani
Kabupaten
Donggala Provinsi Sulawesi Tengah
Lokasi Desa Kabera Kabupaten Morowali
Provinsi Sulawesi Tengah
Lokasi Rantekarua SP 3 Kabupaten Toraja
Utara Provinsi Sulawesi Selatan
Lokasi Desa Bungi Kecamatan Waloa
Kabupaten
Buton
Provinsi
Sulawesi
Tenggara
Lokasi Desa Tirawonua Kecamatan Routa
Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi
Tenggara
Lokasi Desa Manyoe Peramba Kabupaten
Morowali Utara Provinsi Sulawesi Tengah

Rp. 698,152,400

Lokasi Patlean SP 6 Kabupaten Halmahera


Timur Provinsi Maluku Utara

Rp. 737,014,300

3
4

5
6
7

9
10

85 | P a g e

Rp. 694,879,900

Rp. 693,594,000
Rp. 695,649,900

Rp. 692,762,400
Rp. 683,976,700
Rp. 674.775.200

Rp. 677,855,200

Rp. 672,632,400

XI.

Penutup
Demikian kerangka acuan kerja kegiatan Penyusunan RTSP untuk
dipedomani, sehingga menghasilkan manfaat yang maksimal, efektif sesuai
dengan yang diharapkan.

Direktur
Perencanaan Pembangunan
Dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi
ttd
Jajang Abdullah, SPd, M.Si
NIP. 19620704 198503 1 002

86 | P a g e

LAMPIRAN I
OUTLINE LAPORAN RTSP
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PETA
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Dan Sasaran
1.3. Metode Pelaksanaan
1.4. Lingkup Wilayah Dan Type SP
1.5. Susunan Tim

BAB II

LINGKUNGAN FISIK DAN SOSIAL


2.1. Daerah Studi
2.1.1. Letak Administrasi
2.1.2. Letak Geografis
2.1.3. Aksesibilitas (Termasuk Informasi Kondisi Jalan Yang
Ada Dan Usulan Penanganan, Letak Trase Terhadap
Jaringan Jalan Dan Lain-Lain).
2.2. Topografi
2.2.1. Kerangka Dasar Pengukuran
2.2.2. Kemiringan Lahan
2.3. Hidrologi
2.3.1. Iklim
2.3.1.1. Keadaan Umum Dan Klasifikasi Iklim
2.3.1.2. Curah Hujan
2.3.2. Sub Wilayah Aliran Sungai (Debit, Tinggi Muka Air,
Kualitas)
2.3.3. Sumberdaya Air (Debit Dan Kualitas)

87 | P a g e

2.3.4. Air Tanah


2.3.4.1. Air Tanah Dangkal
2.3.4.2. Air Tanah Dalam
2.3.4.3. Detail Topografi
2.3.5. Sumber Air Minum
2.3.6. Kemungkinan Pengairan/Irigasi
Resiko Banjir
2.4. Vegetasi
2.4.1. Jumlah Dan Potensi Tegakan
2.4.2. Status Hutan
2.4.3. Penggunaan Lahan
2.4.4. Flora Dan Fauna
2.5. Kondisi Kependudukan Dan Sosial Budaya
2.5.1. Jumlah

Penduduk,

Kepadatan

Dan

Tingkat

Perkembangan Penduduk Desa


2.5.2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Struktur
Umur , Tingkat Pendidikan , Jenis Pekerjaan Dan
Agama,
2.5.3. Mata Pencaharian Penduduk
2.5.4. Harga Sembilan Bahan Pokok
2.5.5. Pendapatan Dan Pengeluaran Penduduk
2.5.6. Suku Bangsa , Adat Istiadat , Hukum Adat
2.5.7. Kesehatan Lingkungan Masyarakat
2.5.8. Tanggapan Masyarakat Terhadap Transmigrasi
2.5.9. Perkiraan Jumlah Penduduk Yang Terkena Proyek Dan
Jumlah Calon Tps Yang Ingin Bermukim Di Lahan
Masing-Masing/ Desa/Dusun.
2.5.10. Potensi Tps Dan Komposisi Tps : Tpa Serta Daerah
Asal Tpa Yang Diinginkan.
2.6. Sumberdaya Lahan
2.6.1. Diskripsi Dan Klarifikasi Tanah
2.6.2. Bahan Induk, Geomorfologi, Geologi, Macam Tanah

88 | P a g e

2.6.3. Satuan Peta Lahan


2.6.4. Kesuburan Tanah
2.6.5. Penilaian Kesesuaian Lahan
2.7. Kegiatan Pertanian,
2.7.1. Kondisi Pertanian (Termasuk Periode Tanam)
2.7.2. Ketersediaan Dan Penggunaan Tenaga Kerja
2.7.3. Perkiraan Produksi Dan Swasembada Pangan
2.7.4. Harga Produksi Pertanian Di Pasar Terdekat
2.7.5. Analisa Usaha Tani Saat Ini
2.8. Kondisi pemukiman dan sarana prasarana
2.8.1. Kondisi kelayakan pemukiman yang akan dipugar
2.8.2. Sarana dan prasarana yang ada di desa (ada (seperti
fasilitas Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan, KUD
dsb),
2.8.3. FU dan jalan yang akan diperbaiki

BAB III

RENCANA TEKNIS SATUAN PEMUKIMAN (RTSP)


3.1. Arahan Pengembangan Kawasan
3.2. Hirarki Pusat-Pusat Pertumbuhan
3.3. Penilaian Kesesuaian Pemukiman
3.3.1. Penilaian Aksesibilitas Lokasi
3.3.2. Penilaian Fisik Lahan
3.3.3. Penilaian Status Lahan
3.3.4. Penilaian Ketersediaan Air Dan Resiko Banjir
3.3.5. Kesesuian Permukiman
3.4. Rencana Tata Ruang
3.4.1. Dasar-Dasar Perencanaan
3.4.2. Peruntukan Lahan
3.4.3. Penilaian Terhadap Tata Ruang Yang Terjadi
3.4.4. Usulan Pengembangan Kawasan
3.4.5. Fungsi Sp Dalam Hirarki Pusat Kawasan
3.4.6. Usulan Pembentukan Upt
3.4.7. Alinemen Jalan Dan Jaringan Jalan

89 | P a g e

3.5. Pembukaan Lahan


3.5.1. Batas Pembukaan Lahan (Termasuk Panjang Jalan)
3.5.2. Metode

Pembukaan

Lahan

(Termasuk

Perkiraan

Waktu Yang Dibutuhkan, Peralatan Dan Tenaga Kerja


Yang Dibutuhkan Dimana Peralatan Harus Mengacu
Kepada Perlatan Jalan)
3.5.3. Potensi Erosi Tanah
3.5.4. Persyaratan Teknis Penyiapan Lahan
3.5.5. Biaya Pembukaan Lahan (Mengikuti Standar Harga
Satuan Setempat)
3.6. Penyiapan Bangunan
3.6.1. Jenis, Jumlah Dan Tipe Bangunan
3.6.2. Sumber Material Dan Ketersediaan Kayu
3.6.3. Sumber

Air

Bersih

(Termasuk

Penyediaan

Kta/Bendali/Gentong Plastik)
3.6.4. Biaya Penyiapan Bangunan (Analisa RAB Mengacu
Standar Harga Satuan Setempat)
3.7. Usulan Pengembangan Pertanian
3.7.1. Bentuk Usaha Tani
3.7.2. Pola dan Jadwal Tanam
3.7.3. Alokasi Tenaga Kerja
3.7.4. Masukan Sarana Produksi Pertanian (Bukan berupa
Paket Standar, tetapi harus mengacu pada kondisi
tanah dan jenis usaha tani)
3.7.5. Perkiraan Produksi
3.7.6. Prasarana Pengolahan dan Pemasaran
3.7.7. Biaya Pengembangan Pertanian
3.8. Perkiraan Biaya Pengembangan
3.8.1. Biaya Penyiapan Lahan
3.8.2. Biaya Penyiapan Bangunan
3.8.3. Biaya Pembangunan Jalan
3.8.4. Biaya Pengerahan Transmigrasi
3.8.5. Biaya Pengadaan Paket Suplai

90 | P a g e

3.8.6. Biaya Pembangunan Test Farm


3.8.7. Biaya Pengembangan Pertanian
3.8.8. Biaya Pengadaan Dukungan Pelayanan Pemerintah
3.8.9. Rekapitulasi Biaya Pengembangan
3.9. Kelayakan Usaha Transmigran
3.9.1. Pendapatan Kotor Transmigran
3.9.2. Pengeluaran Transmigrasi
3.9.3. Pendapatan Bersih Transmigrasi
3.9.4. Kelayakan Usaha Transmigran
3.10.Telaahan Lingkungan
3.10.1. Dampak Lingkungan Fisik Dan Biologi
3.10.2. Dampak Lingkungan Sosial Dan Ekonomi
3.10.3. Alternatif Tindakan
3.11.Rencana Daya Tampung Penduduk SP
3.12.Rencana Jenis Transmigrasi Yang Akan Dilaksanakan
3.13.Rencana Kebutuhan Pembangunan SP

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


4.1 Kesimpulan
4.1.1 Umum
4.1.2 Pola usaha pokok
4.1.3 Kelayakan calon lokasi
4.1.4 Kendala khusus
4.2 Rekomendasi

DAFTAR RUJUKAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

91 | P a g e

LAMPIRAN II
LAPORAN RTJ
LAPORAN AKHIR ( JILID A)

PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Maksud Dan Tujuan

1.3

Sasaran

1.4

Metoda Pendekatan

GAMBARAN UMUM LOKASI PEKERJAAN


2.1

Status Administrasi Dan Pencapaian Lokasi

2.2

Kondisi Tata Guna Lahan(Land Use)

2.3

Kondisi Sosial Ekonomi (Jumlah SP-Daya Tampung)

2.4

Kondisi Topografi

2.5

Kondisi Tanah Dasar

2.6

Lokasi Sumber Material

PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1

Organisasi Kerja

3.2

Komposisi Tim

3.3

Jadwal Waktu Pelaksanaan

HASIL PEKERJAAN
4.1

Konstruksi Yang Diusulkan

4.2

Perkiraan Rencana Anggara Biaya (RAB)

4.3

Jadwal Waktu Pelaksanaan Fisik

KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

92 | P a g e

Lampiran Gambar/Peta

Lampiran Gambar Konstruksi

LAMPRAN III
LAPORAN AKHIR ( JILID B)

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Letak Administrasi

1.3

Pencapaian Lokasi

ANALISA DATA
2.1

Penentuan Lokasi Perencanaan

2.2

Data Topografi

2.3

Data Hidrologi dan Lingkungan

2.4

Data Tanah dan Sumber Material

PERHITUNGAN KONSTRUKSI
3.1

Standar yang digunakan

3.2

Perhitungan Kostruksi

KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

93 | P a g e

Lampiran Gambar/Peta

Lampiran Hasil Laboratorium

.LAPORAN AKHIR
JILID C

BAB I

REKAPITULASI ANGGARAN BIAYA

BAB II

PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

BAB III

ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN

BAB IV

ANALISA ALAT BERAT

BAB V

DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA SATUAN


A. DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA SATUAN BAHAN
B. DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA SATUAN UPAH
C. DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA SEWA ALAT

94 | P a g e