Anda di halaman 1dari 7

ISSN 2337-6686

ISSN-L 2338-3321

HUBUNGAN DISIPLIN DENGAN KINERJA GURU


SMA NEGERI DI TIGA KECAMATAN KOTA DEPOK
Sarah Wulan
STIE ISM
E-mail: sarahwulan@rocketmail.com
Abstrak Kinerja guru adalah sekumpulan perilaku guru yang memberi kontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. Masalah kinerja
merupakan hal penting dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi. Kinerja guru ditentukan
oleh beberapa faktor di antaranya adalah disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara disiplin dengan kinerja guru.
Penelitian ini dilakukan pada sekolah menengah negeri 3 kecamatan di Kota Depok, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah penelitian
survei. Populasi sasaran yaitu 109 orang guru-guru SMA Negeri Kota Depok yang berstatus Pegawai Negeri Sipil, dengan sampel 86 orang.
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) terdapat hubungan positif antara disiplin dengan
kinerja. Dengan disiplin yang lebih baik maka kinerja guru pun lebih meningkat. (2) kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin mempunyai
peranan penting untuk meningkatkan kinerja guru. (3) masih ada guru yang memiliki disiplin yang kurang sehingga mempengaruhi kinerjanya.
Kata kunci: disiplin, kinerja, guru.
Abstract: Job performance is formally defined as the value of the set of employee behaviors that contribute to the organizational goal
accomplishment. Performance is important in management because it is related to the productivity of the institution or organization. Teacher
performance is determined by several factors such as discipline. This study aims to determine: the relationship between the disciplines with
the performance of teachers. The research was conducted on the state senior high schools in three districts of Depok, West Java. The method
used was survey. The target population was 109 of the teachers with the State Civil Service status. The number of whole sample is 86
teachers. The instrument used is questioner. The results of research found that: (1) there is a positive relationship between the disciplines
with performance of teachers. The better the teachers discipline, the higher the performance of teacher will be. (2) The principals as
managers and leaders have an important role to improve teacher performance. (3) There are still teachers who have a lack of discipline
that affect performance.
Keywords: discipline, performance, teacher

PENDAHULUAN
Latar belakang penelitian ini adalah adanya masalah
yang sangat serius dalam bidang pendidikan di Indonesia
yaitu masih rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis
dan jenjang pendidikan. Salah satu masalah yang
mempengaruhi mutu pendidikan dasar di Indonesia adalah
faktor guru. Tugas guru erat kaitannya dengan
peningkatan sumber daya manusia melalui sektor
pendidikan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk
meningkatkan mutu guru untuk menjadi tenaga
profesional, agar peningkatan mutu pendidikan dapat
berhasil.
Guru memiliki peran dalam meningkatkan kualitas
pendidikan yang ditandai dengan kualitas lulusan yang
siap pakai. Kualitas tersebut dapat ditingkatkan melalui
peningkatan profesionalisme guru yang mengutamakan
tugas dengan penuh tanggung jawab serta memahami
Jurnal Ilmiah WIDYA

tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Kondisi demikian


dapat terjadi apabila guru memiliki kinerja yang baik.
Salah satu upaya yang dilakukan berkaitan dengan
faktor guru yaitu lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah
No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pada dasarnya undang-undang tersebut merupakan
kebijakan yang di dalamnya memuat usaha pemerintah
untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia.
Pasal 1 menyebutkan: guru adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu
memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan
semua pihak terutama masyarakat umum yang telah
106

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

yang tersebar di 3 (tiga) kecamatan di Kota Depok, yaitu

mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak


didik. Untuk meraih mutu pendidikan yang baik sangat
dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan
tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting
untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum
mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi
keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru.
Menurut anggota DPRD Depok Bidang Pendidikan,
guru SMA Negeri di Depok belum banyak menunjukkan
prestasinya. Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala
Bidang Pendidikan Menengah dan Kejuruan Dinas
Pendidikan Kota Depok (Hasil wawancara). Beberapa
temuan yang diperoleh yang berhubungan dengan kinerja
guru PNS di Depok antara lain: (a) tidak semua guru
membuat perencanaan kerja, (b) masih ada guru yang
belum dapat mengoperasikan komputer dengan mahir,
(c) belum semua guru rajin mengikuti seminar, (d) masih
adanya kendala dalam menjalin hubungan antar guru dan
kepala sekolah yang antara lain karena terbatasnya waktu.
Dinas Pendidikan Kota Depok yang berada di bawah
tanggung jawab Pemda Depok, merupakan salah satu
penyelenggara pendidikan yang terus berusaha dalam
peningkatan mutu pendidikan baik dari segi guru maupun
lulusan pada pendidikan dasar dan tingkat menengah.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian di antaranya
terkait: (a) sebaran guru yang belum merata, (b)
peningkatan kualitas guru, (c) pengadaan sumber dan alat
belajar yang belum sesuai dengan kebutuhan siswa, (d)
lokasi sekolah di lingkungan masyarakat yang beragam
dan tidak mudah dijangkau.
Data yang didapatkan tentang jumlah sekolah
yaitu: wilayah Kota Depok terdiri dari 14 kecamatan
memiliki 8 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri. Secara
demografi kondisi ini menyebabkan beberapa sekolah
terletak pada lokasi yang tidak mudah dijangkau dengan
cepat oleh guru. Hal ini merupakan salah satu permasalahan
yang berhubungan dengan kedisiplinan guru dalam hal
kehadiran atau ketepatan waktu tiba di sekolah.
Permasalahan rendahnya kedisiplinan dalam tugasnya
tentu berkaitan dengan kinerja guru.
Penelitian ini dilakukan pada guru-guru SMA Negeri

Jurnal Ilmiah WIDYA

kecamatan Sukmajaya, Pancoran Mas dan Limo. Meskipun


demikian hasil analisis data diharapkan dapat mewakili
karakteristik sekolah lain yang berada di Kota Depok.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Nopember 2011 sampai
Juni 2012. Penelitian ini menggunakan metode survei
melalui studi regresi, korelasional dan merupakan
penelitian kuantitatif non eksperimen dan bersifat menguji
hipotesis.
Populasi sasaran, yaitu guru-guru SMA Negeri Kota
Depok yang berstatus Pegawai Negeri Sipil. Populasi
terjangkau adalah guru-guru yang terdapat di sekolah
yang dijadikan objek penelitian, yaitu SMA Negeri di
3 kecamatan di Kota Depok dengan jumlah 109 orang
guru sebagai sampel frame. Jumlah sampel penelitian
seluruhnya adalah 86 orang guru.
PEMBAHASAN
Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik) yang
berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan)
mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan
pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
latihan. Berdasarkan pengertian tersebut maka pendidikan
sangatlah penting dalam rangka meningkatkan kualitas
peserta didik, sehingga pada akhirnya dapat memajukan
bangsa dan dapat bersaing dengan Negara-negara lainnya
di era globalisasi dewasa ini.
Undang-Undang No. 20/2003. Pasal 3, menyatakan
bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

107

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

pimpinan, hubungan kerja dengan publik, hubungan


dengan klien, mengatur dan mengembangkan bawahan,
equal employment opportunity (EEO) responsibilities.
Berdasarkan dari uraian di atas, dapat disintesiskan
bahwa yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil akhir
dari usaha pegawai dengan indikator sebagai berikut:
kualitas kerja, mempunyai prakarsa, dapat bekerjasama,
dan dapat diandalkan.

Untuk keberhasilan pencapaian tujuan Sistem


Pendidikan Nasional diperlukan kesungguhan dan
komitmen yang kuat dari berbagai pihak, baik Pemerintah
Pusat ataupun Pemerintah Daerah, sehingga kualitas SDM
Indonesia dapat ditingkatkan baik kualitas maupun
kuantitasnya, khususnya guru yang merupakan salah satu
komponen dalam pendidikan.
Kinerja
Menurut Bernardin (2007:173), kinerja adalah sebagai
catatan hasil keluaran pada fungsi kerja tertentu atau
aktifitas selama periode waktu tertentu. Menurut Colquitt,
LePine dan Wesson (2009:37), kinerja adalah nilai dari
sekumpulan perilaku pegawai yang memberi kontribusi
baik positif maupun negatif terhadap pencapaian tujuan
organisasi. Menurut Mathis dan Jackson (2009:378),
bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan
atau tidak dilakukan oleh karyawan. Menurut Irham Fahmi
(2010:2), kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu
organisasi baik organisasi itu berorientasi profit dan non
profit yang dihasilkan selama satu periode waktu. Kinerja
lebih menekankan pada hasil kerja seseorang. Hasil kinerja
yang diperoleh diukur dengan melihat standar aturan yang
telah ditetapkan pada suatu organisasi. Standar kerja yang
ditetapkan organisasi merupakan dasar dalam melakukan
penilaian kinerja seseorang. Setiap organisasi mempunyai
standar tersendiri, sesuai dengan obyek kerja yang
dilakukan. Standar kerja guru di sekolah dapat ditetapkan
berdasarkan jumlah materi yang diajarkan dalam periode
tertentu, jam mengajar, serta hasil belajar yang diperoleh
siswa.
Kinerja mempunyai hubungan erat dengan masalah
produktivitas karena merupakan indikator dalam
menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat
produktivitas yang tinggi dalam suatu organisasi.
Sehubungan dengan hal itu, maka upaya untuk
mengadakan penilaian terhadap kinerja di suatu organisasi
merupakan hal penting. Ukuran kinerja menurut Byars
and Rue (2003:293) adalah kualitas kerja, kuantitas kerja,
pengetahuan akan kerja, inisiatif, perencanaan, kontrol
harga, hubungan dengan sejawat, hubungan kerja dengan
Jurnal Ilmiah WIDYA

Disiplin
Menurut Schermerhorn (2010:470), disiplin adalah
tindakan mempengaruhi prilaku melalui teguran. Mathis
dan Jackson (2009:498) menyebutkan, disiplin adalah
suatu bentuk pelatihan yang memberlakukan aturan
organisasi. Selanjutnya menurut Snell dan Bohlander
(2010:590), disiplin diterapkan sebagai sarana yang
konstruktif untuk mendapatkan karyawan agar sesuai
dengan standar kinerja yang dapat diterima. Mondy
(1993:670) menyatakan, disiplin berarti status
pengendalian diri seseorang karyawan, sebagai tanda
ketertiban dan kerapihan dalam melakukan kerja sama
dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi.
Menurut Newstorm (2007:236), disiplin adalah kegiatan
manajemen untuk mendorong standar/tujuan suatu
organisasi. Menurut Wirawan (2009:138), disiplin adalah
sikap dan perilaku kepatuhan terhadap peraturan
organisasi, prosedur kerja, kode etik dan norma budaya
organisasi yang lainnya yang harus dipatuhi dalam
memproduksi suatu produk dan melayani konsumen
organisasi.
Hikmat (2009:142) menyatakan bahwa, disiplin
adalah suatu kondisi yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketenteraman, keteraturan
dan ketertiban. Dari pandangan tersebut tampak bahwa
masalah ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan
ketertiban merupakan hal penting, karena dengan adanya
pendisiplinan dari seluruh anggota organisasi maka
suatu organisasi dapat mencapai tujuan organisasi tersebut.
Kedisiplinan merupakan fungsi operatif manajemen
sumber daya manusia yang terpenting, karena semakin
baik disiplin karyawan semakin tinggi prestasi

108

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan


yang baik, sulit bagi organisasi mencapai hasil yang
optimal. Hal itu sesuai pendapat Hasibuan (2002:193),
kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang
mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma
sosial yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang
yang secara sukarela menaati peraturan dan sadar akan
tugas dan tanggung jawab. Jadi dia akan
mematuhi/mengerjakan semua tugasnya dengan baik
bukan atas paksaan. Kesediaan adalah suatu sikap, tingkah
laku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan
perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak. Kedisiplinan
harus ditegakkan dalam suatu organisasi. Tanpa dukungan
disiplin karyawan yang baik sulit bagi organisasi tersebut
untuk mewujudkan tujuannya sehingga kedisiplinan
karyawan merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu
organisasi/perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Secara umum dapat disebutkan bahwa tujuan utama
disiplin kerja adalah demi kelangsungan organisasi atau
perusahaan sesuai dengan motif organisasi atau perusahaan
yang bersangkutan baik hari ini maupun hari esok. Menurut
Wirawan (2009:7) beberapa tujuan disiplin adalah: (1)
memotivasi karyawan, (2) mempertahankan hubungan
saling menghormati, (3) meningkatkan kinerja karyawan,
(4) meningkatkan moril, semangat kerja, etos kerja, serta
efektifitas dan efisiensi kerja. (5) meningkatkan kedamaian
industrial dan kewargaan organisasi.
Dalam dunia pendidikan disiplin kerja adalah ketaatan
para pelaku pendidikan dan tanggung jawab yang
sebaiknya merupakan cermin dari kesadaran dan amanah
dalam menjalankan tugas sebagai pengabdian pada nilainilai kebenaran, baik untuk kepentingan negara, bangsa
maupun atas dasar kepentingan hidup beragama. Salah
satu aspek hubungan internal karyawan yang sulit
untuk dilaksanakan adalah tindakan disipliner. Terkait
konsep pendekatan tindakan disipliner, Mondy (2008:163164) menjelaskan tiga pendekatan yaitu: (1) aturan tungku
panas; menurut pendekatan ini tindakan disipliner harus
memiliki konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:
membakar dengan segera, memberikan peringatan,
memberikan hukuman yang konsisten dan membakar

Jurnal Ilmiah WIDYA

tanpa pandang bulu. (2) tindakan disipliner progresif;


dengan tujuan mengkomunikasikan secara formal isu-isu
permasalahan kepada karyawan secara langsung dan
tepat sehingga mereka dapat meningkatkan kinerjanya
(3) tindakan disipliner tanpa hukuman; proses memberi
karyawan cuti dibayar untuk memikirkan tentang mau
tidaknya ia mengikuti peraturan dan tetap bekerja untuk
perusahaan.
Pendisiplinan merupakan tindakan organisasi terhadap
para anggota organisasi sebagai reaksi terhadap
pelanggaran yang dilakukan para anggotanya. Newstorm
(2007:236) menjelaskan bahwa dua jenis disiplin yaitu:
(1) disiplin preventif adalah tindakan untuk mendorong
para karyawan untuk mengikuti aturan dan kebiasaan,
dengan demikian tidak akan terjadi pelanggaran. (2)
disiplin korektif adalah tindakan yang diikuti oleh
pelanggaran atas sebuah aturan. Hal ini mencari kelemahan
lebih jauh, sehingga tindakan di masa yang akan datang
akan sesuai dengan standar. Pendapat tersebut di atas
sesuai dengan pendapat Siagian (2009:305-306)
Uraian tersebut menunjukkan bahwa suatu lembaga
merupakan sistem yang harus melaksanakan prinsip
pembinaan dan pengendalian melalui penerapan
kedisiplinan preventif dan korektif, sehingga lembaga
pendidikan akan menjadi teladan bagi masyarakat. Menurut
Soebagio Atmodiwiryo (2005:236) beberapa aspek yang
merupakan inti dari disiplin, seperti: sikap mental
merupakan unsur atau aspek utama dari disiplin,
pengetahuan tentang sistem aturan, perilaku, norma,
kriteria dan standar. Pelaksanaan disiplin seseorang akan
berjalan secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan
untuk beradaptasi dan situasi serta kondisi lingkungan
kerjanya.
Bentuk disiplin yang baik akan tercermin pada: (1)
tingginya rasa kepedulian pegawai terhadap pencapaian
tujuan perusahaan, (2) tingginya semangat dan gairah
kerja dan inisiatif para pegawai dalam melakukan
pekerjaan, (3) besarnya rasa tanggung jawab para pegawai
untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, (4)
berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang
tinggi di kalangan karyawan, (5) meningkatkan efisiensi
109

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

dan prestasi kerja pegawai. Selanjutnya menurut Mulyasa

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Skor Kinerja

(2004:118) disiplin merupakan sesuatu yang penting

Frekuensi

untuk: (1) menanamkan rasa hormat terhadap kewenangan,

Interval Kelas

Absolut

(2) menanamkan kerja sama, (3) merupakan kebutuhan


untuk berorganisasi serta (4) untuk menanamkan rasa
hormat terhadap orang lain.
Dapat disintesiskan bahwa disiplin adalah perilaku
tertib kerja karyawan dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaan pada suatu organisasi dengan indikator sebagai

Relatif
(%)

Kumulatif
(%)

80 86
87 93
94 100
101 107
108 114
115 121
122 128

4
29
33
8
9
2
1

4.6
33.7
38.4
9,3
10,5
2.3
1,2

4.6
38.3
76.7
86
96,5
98,8
100,00

Jumlah

86

86

100

berikut: (1) ketertiban, (2) konsisten: ketaatan, kesetiaan,


keteraturan. Selanjutnya Wirawan (2009:138-139)
menyebutkan, beberapa tujuan disiplin adalah: (1)

Data penelitian tentang kinerja sebagaimana tabel

memotivasi karyawan untuk mematuhi standar kinerja

2 di atas, diperoleh rentang teoretik adalah 80 - 128.

perusahaan, (2) mempertahankan hubungan saling

Sedangkan skor empirik terendah adalah 80 dan tertinggi

menghormati antara bawahan terhadap atasan atau

adalah 122. Dengan demikian diperoleh rentang skor

sebaliknya, (3) meningkatkan kinerja karyawan.

adalah 42. Perhitungan statistik deskriptif diperoleh skor

Data Penelitian

rata-rata (M) sebesar 97,22, simpangan baku (SD) sebesar

Deskripsi data yang berhubungan dengan variabel-

8,2, modus (Mo) sebesar 92 dan median (Me) sebesar

variabel yang diteliti yaitu: variabel terikat: kinerja (Y),

96. Pada tabel 1 terlihat bahwa skor simpangan baku

dan variabel bebas: disiplin (X). Deskripsi data penelitian

sebesar 8,2 yang menunjukkan tingkat penyimpangan

ketiga variabel tersebut akan dinyatakan dalam skor rata-

skor kinerja dari nilai rata-rata.

rata (M), Median (Me), modus (Mo), Simpangan baku

Skor Disiplin

(SD) sebagai mana terlihat pada tabel 1 berikut ini:

Data mengenai variabel disiplin yang diperoleh dari


hasil penelitian, dapat disusun dalam bentuk distribusi

Tabel 1. Rangkuman Deskripsi Data Penelitian


Variabel Y
Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Variance
Range
Minimum
Maximum
Sum

97,22
96
92
8,21
67,47
42
80
122
8361

Variabel X

frekuensi sebagaimana tabel 3 berikut:

112,3
111
107
7,2872
53,1
30
99
129
9657

Tabel 3 Distribusi Frekuensi Disiplin


Frekuensi
Interval Kelas

Hasil dan Pembahasan


Skor Kinerja (Y)
Data mengenai variabel kinerja yang diperoleh dari
hasil penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 3, SMA
Negeri 4, SMA Negeri 6 yang ada di Kota Depok, Jawa
Barat dapat dilihat dalam bentuk distribusi pada
tabel 2 berikut ini:
Jurnal Ilmiah WIDYA

Absolut

Relatif
(%)

Kumulatif
(%)

99 103
104 108
109 113
114 118
119 123
124 128
129 133

6
21
29
14
6
9
1

6.98
24,4
42,65
20,6
8,8
13,2
1,5

6,98
31,40
65,12
81,40
88,38
98,84
100

Jumlah

86

100

Dari skor yang dikumpulkan tentang disiplin diperoleh


rentang teoretik adalah 99-133. Sedangkan skor empirik
terendah adalah 99 dan tertinggi 129. Dengan

110

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

demikian diperoleh rentang skor 30. Distribusi skor


tersebut diperoleh skor rata-rata (M) sebesar 112,29,
simpangan baku (SD) sebesar 7,29 modus (Mo) sebesar
107 dan median (Me) sebesar 111. Skor simpangan baku
(SD) sebesar 7,29 menunjukkan tingkat penyimpangan
skor disiplin dari nilai rata-ratanya.
Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian terhadap semua hipotesis yang
diajukan dapat disimpulkan bahwa keseluruhan hipotesis
penelitian yang dirumuskan diterima. Secara ringkas
hasil analisis regresi serta besarnya sumbangan efektif
masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat
disajikan pada tabel 4 berikut:

determinasi. Secara statistik memberikan pengertian


bahwa, kurang lebih dengan nilai koefisien determinasi,
variasi kinerja ditentukan/dijelaskan oleh disiplin dengan
pola hubungan fungsionalnya seperti yang ditunjukkan
oleh persamaan regresi.
Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan dapat
dijelaskan bahwa untuk meningkatkan kinerja guru, maka
setiap guru harus mendisiplinkan diri mereka sendiri,
dengan cara: hadir tepat waktu setiap hari kerja, mengisi
daftar hadir setiap hari kerja, pulang tepat waktu setiap
hari kerja, menyelesaikan tugas tepat waktu, mengajar
sesuai silabus pembelajaran, menginformasikan kepada
guru piket saat berhalangan hadir, mendahulukan
pelaksanaan tugas dari pada aktivitas lain dan menjalankan
tugas sesuai peraturan. Jika guru tidak bisa mendisiplinkan
diri mereka sendiri maka sekolahlah yang menerapkan
disiplin kepada para guru dengan cara: membuat peraturan
kerja yang jelas, menegakkan disiplin positif dengan
memberi peringatan, memberi cuti, mengevaluasi sampai
pada pemecatan.

Tabel 4. Hasil Analisis Regresi dan Nilai Koefisien Korelasi (r)

Variabel/Nilai
Regresi
Y atas X
Y = 38,1+0,526X

Koefisien thitung ttabel Keputusan Kesimpulan


Korelasi
0,467

4,84 2,39

Tolak H0

Disiplin
mempunyai
hubungan
yang positif
dan signifikan dengan
kinerja
sebesar
21,82%

PENUTUP
Kesimpulan
1. Terdapat hubungan positif antara disiplin dengan
kinerja. Hal ini berarti bahwa makin tinggi tingkat
disiplin, maka makin baik pula kinerja yang dimiliki oleh
guru. Sebaliknya makin rendah tingkat disiplin, maka
makin buruk pula kinerja yang dimiliki oleh guru. Oleh
karena itu disiplin yang tinggi merupakan variabel penting
untuk meningkatkan kinerja guru.
2. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin
mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kinerja
guru.
3. Masih terdapat guru-guru yang kurang memiliki disiplin
sehingga mempengaruhi kinerja mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin


merupakan variabel yang mempunyai hubungan dan
memberikan kontribusi positif terhadap kinerja. Temuan
penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja seseorang dapat
ditingkatkan dengan mengintensifkan penerapan disiplin.
Pengujian hipotesis menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan positif/signifikan antara disiplin dengan kinerja
yang ditunjukkan oleh nilai thitung yang lebih besar dari
ttabel. Pola hubungan antara kedua variabel ini dinyatakan
oleh persamaan regresi yang memberikan informasi bahwa
setiap perubahan satu satuan tingkat disiplin akan dapat
mengakibatkan terjadinya perubahan pada kinerja.
Nilai koefisien korelasi memberikan pengertian
bahwa keterkaitan antara disiplin dengan kinerja adalah
signifikan atau positif. Artinya, semakin tinggi tingkat
disiplin, akan semakin tinggi pula kinerja tersebut.
Besarnya sumbangan atau kontribusi variabel disiplin
terhadap kinerja dapat diketahui melalui nilai koefisien
Jurnal Ilmiah WIDYA

Saran-saran
1. Kepala sekolah hendaknya: (a) meningkatkan berbagai
pengetahuan dan keterampilan terutama dalam bidang
pengetahuan tentang manajemen, baik melalui pelatihan
(Diklat) atau membaca berbagai macam literatur,
111

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013

Hubungan Disiplin dengan Kinerja


Guru Sma Negeri di Tiga Kecamatan Kota Depok

Sarah Wulan, 106 - 112

(b) memberikan kesempatan kepada setiap guru untuk


mengikuti pedidikan dan pelatihan, seminar, dan lokakarya
untuk meningkatkan kompentensinya dalam
melaksanakan tugas yang diembannya.
2. Kepada guru-guru SMA Negeri yang ada di wilayah
se-Kota Depok hendaknya aktif mengikuti kegiatan
pendidikan dan pelatihan, seminar, diskusi untuk
meningkatkan kinerjanya.
3. Kepada para peneliti, untuk penelitian lebih lanjut
disarankan dilakukan penelitian tentang kinerja dengan
melibatkan berbagai variabel dengan menggunakan
pendekatan lain.

Hasibuan, Malayu SP, Manajemen Sumber Daya Manusia: Bumi Aksara,


Jakarta,2002
Hikmat, Manajemen Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung,2009
Irham Fahmi, Manajemen Kinerja Teori dan Aplikasi. Alfabeta,
Bandung,2010
Jason A Colquitt, Jeffery A. Lepine, Michael J. Wesson, Organizational
Behavior, Mc-Graw-Hill, New York 2009
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah.: Rosdakarya, Bandung 2004
Newstrom John W, Organizational Behavior, Twelfth Edition. Mc. Graw
Hill Internasional Edition, New York,2007
Pelita.Presiden Kritik Kinerja Guru,Pelita Online. 8 Desember 2011).
Robert L. Mathis, John H. Jackson, Human Resource Management.
Terjemahan: Salemba Empat, Jakarta,2009
Schermerhorn John R, Introduction to Management 10 th Edition. Hoboken,
John Wiley & Sons Asia International Student Verson,2010.
Schermerhorn John R., JR, Management.,John Wiley and Sons, Inc, New
York,2005
Scot Snell and John Bohlander, Principles of Human Resource Management.
South Western, Cengange Learning,2010
Siagian, Sondang P, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara,
Jakarta,2009.
Soebagio Atmodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia, Ardadizya
Jaya, Jakarta,2005
Wayne, Mondy R , Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi 10.: Erlangga,
Jakarta,2008
Wirawan, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Salemba Empat,
Jakarta,2009

DAFTAR PUSTAKA
Byars, Loyd L., and Leslie W. Rue, Human Resources Management, Mc
Graw-Hill/Irwin, New York,2003.
H. John Bernandin, Human Resources Management, McGrawHill/Irwin,New York,2007

Jurnal Ilmiah WIDYA

112

Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013