Anda di halaman 1dari 6

Mengidentifikasi perubahan paradigma yang terjadi dalam program studi Teknik Geodesi

Dari kelima prinsip, mana yang paling banyak dilanggar menurut anda?
Apakah perubahan tersebut terjadi secara sebagian atau total?
PERUBAHAN PARADIGMA DALAM PEMANTAUAN DINAMIKA SISTEM BUMI
Dahulu orang menganggap bumi bersifat statis. Seiring dengan adanya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, paradigma bumi statis berubah menjadi bumi dinamis, yang
mana memang secara riil bahwa bumi merupakan sistem yang dinamis. Dinamika pergerakan
bumi mempunyai spektrum yang sangat luas, dari skala galaksi sampai skala pergerakan lokal
pada kerak bumi.
Bumi bergerak bersama-sama galaksi kita relatif terhadap galaksi-galaksi lain. Bumi
berputar besama sistem matahari kita di dalam galaksi kita. Bumi mengorbit mengelilingi
matahari bersama planet-planet lainnya. Bumi berputar terhadap sumbu rotasinya, dan kerakkerak bumi juga bergerak (relatif sangat lambat) relatif satu terhadap lainnya. Akibat
pergerakan kerak bumi ini muncul gunung, gunungapi, dan pegunungan, serta mengakibatkan
terjadinya letusan gunungapi, gempa bumi, longsor, dan bencana alam lainnya.
Kita tahu bahwa mantel bumi bersifat mobile dan terus menerus bergerak. Hal inilah yang
memacu pergerakan dari lempeng tektonik tersebut. Teori Continental Drift Pertama kali
dikemukakan oleh Alfred Wegner. Beliau mengatakan bahwa bumi ini terdiri dari super
continental yang bernama Pangea, lalu terpecah menjadi 2 bagian, yaitu Gondwanaland dan
Laurasia, yang kini terbagi lagi menjadi 12 lempeng yang tersebar.
Beliau melihat adanya persamaan antara bagian selatan Amerika dengan Afrika. Tetapi
pendapat beliau ditentang pada zaman itu karena beliau tidak dapat menjelaskan gaya apa
yang mengakibatkan hal tersebut dapat terjadi. Beliau kemudian meninggal dalam misinya
mencari jawaban ketika di Antartika.
Akhirnya pada tahun 1970an, para ahli geologi dunia akhirnya mendeklamasikan teori
Tektonik Lempeng yang merupakan perkembangan dari Teori Super Continental berikut gaya
yang mengakibatkannya.
Melalui metode penghitungan waktu geologi dan magnetisasi perekaan perubahan muka
bumi bisa diketahui.

Berikut merupakan beberapa bukti bahwa bumi itu bersifat dinamis.


Bukti pertama adalah adanya bermacam siklus di bumi. Siklus tersebut antara lain adalah
siklus batuan (Rock Cycle) dan siklus Air.

Siklus batuan.

Jika ditelaah lebih dalam, akan sulit untuk menemukan titik awal suatu siklus. Untuk
memudahkan kita mempelajari siklus ini, kita mulai bahasannya dari sebuah gunung berapi.
Ketika gunung berapi meletus, akan keluar lahar yang suhunya sangat panas. Lama kelamaan
lahar tersebut membeku dan membentuk batuan beku (igneous rock).
Jika terkena suhu dan tekanan yang tinggi, batuan beku tersebut akan berubah menjadi batuan
metamorf (metamorphic rock). Sedangkan jika terkena gaya eksogen (erosi, pelapukan), dan
mengalami pengompakan dan sementasi, akan menjadi batuan sedimen (sedimentary rock).
Batuan sedimen jika terkena suhu dan tekanan yang tinggi juga akan berubah menjadi batuan
metamorf.
Pada saat terjadi subduksi (penunjaman, lempeng benua dan lempeng samudra beradu.
Karena lempeng benua lebih keras, lempeng samudra menunjam ke bawah), batuan
metamorf yang terkubur di sekitar zona subduksi akan meleleh maka terjadilah magma. Lama
kelamaan terbentuk gunung berapi. Jika gunung berapi itu meletus, akan keluar lahar.

Siklus itu terjadi berulang-ulang.

Siklus Air (Daur Hidrologi)

Ketika matahari sedang dengan teriknya menyinari bumi, sebagian air di lautan menguap. Di
kemudian uap tersebut mengalami kondensasi (pengembunan). Terjadilah awan. Karena
perbedaan tekanan, awan tersebut bergerak ke daratan.
Di daratan, awan yang membawa uap air itu turun ke bumi menjadi hujan. Air hujan itu
sebagian ada yang meresap ke tanah -menjadi air tanah- dan mengalir melalui aliran-aliran
tertentu (sungai). Aliran sungai itu akan berakhir di muara. Begitulah siklus air berlangsung.
Bukti yang lain adalah seringnya terjadi gempa bumi.
Kita tahu bahwa permukaan bola bumi ini tidak bulat mulus, melainkan retak-retak seperti
telur. Retakan-retakan ini disebut lempeng (crust). Ada lempeng benua (continental crust) dan
ada lempeng samudra (oceanic crust). Banyak lempeng di bumi ini. Lempeng tersebut
berinteraksi satu sama lain. Interaksi lempeng tersebut dikendalikan oleh arus konveksi yang
ada pada lapisan mantel Bumi. Jika dua buah lempeng berinteraksi, terjadilah gempa bumi.
Interaksi dua buah lempeng juga lah yang menyebabkan terbentuknya gunung berapi (proses
subduksi).

Salah satu domain dari geodesi adalah pemantauan sistem bumi, dalam hal ini ditujukan
seperti untuk pendefinisian sistem koordinat, dan dinamika sistem koordinat. Selain itu peran
serta geodesi dalam memantau dinamika sistem bumi yaitu ikut berkontribusi dalam
pemantauan potensi dan mitigasi bencana alam seperti aktivitas vulkanis gunungapi, gempa
bumi, longsor (landslide), penurunan tanah (land subsidence), dan lain-lain.
Kini di dalam ruang lingkup ilmu geodesi kita mengenal Geodesi Satelit, yaitu sub-bidang
ilmu geodesi yang menggunakan bantuan satelit (alam ataupun buatan manusia) untuk
menyelesaikan problem-problem geodesi. Pemanfaatan sistem-sistem pengamatan geodesi
satelit pada saat ini sudah sangat luas spektrumnya. Spektrum pemanfaatannya mencakup
skala lokal sampai global, dari masalah-masalah teoritis sampai aplikatif, dan juga mencakup
matra darat, laut, udara, dan luar angkasa. Bentuk teknologi geodesi satelit diantaranya
Global Positioning System (GPS), Glonass, Galileo, Interferometric Synthetic Aperture Radar
(InSAR), Satelit Altimetri, Satelit Gravimetri, SLR, LLR, VLBI, dan lain-lain. Di
Indonesia,teknologi GPS mulai di aplikasikan secara luas mulai tahun 1992, satelit altimetri
dan InSAR mulai di geluti sekitar tahun 1998.

Menurut saya, prinsip yang paling sering dilanggar adalah prinsip Scope yang
menyatakan bahwa ilmuwan boleh berpikir bahwa teori yang lebih bernilai itu akan sangat
menegangkan. Ketegangan itu disebabkan penekanan yang berbeda serta akan mengarah
pada evaluasi dan tindakan yang berbeda pula. Dengan demikian sepanjang ilmu normal
maka sebuah paradigma tidak dapat dievaluasi atau diuji. Konsekuensinya, 5 nilai kunci
tersebut tersembunyi. Prinsip tersebut sering dilanggar karena pada kasus ini dapat kita lihat
bahwa perkembangan pemantauan dinamika sistem bumi pada ilmu geodesi sangat terbuka
dan diterima oleh para ahli geodesi. Sehingga jelas bahwa 5 nilai kunci tersebut tidak
tersembunyi.
Selain itu, menurut pandangan saya perubahan paradigma yang terjadi adalah secara
sebagian. Dengan berkembangnya batasan-batasan ilmu geodesi, maka akan berkembang

sub-sub bidang yang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa berkembangnya perubahan
paradigma di satu sisi maka akan berdampak untuk perkembangan di sub bidang lain.

REFERENSI
http://geodesy.gd.itb.ac.id/?page_id=12
http://morishige.wordpress.com/2007/09/30/bumi-itu-dinamis-apa-buktinya/
http://ribkafac.wordpress.com/2010/11/24/dinamika-bumi-dan-perkembangan-planet/
(diakses tanggal 8 Mei 2014 pukul 07.00 WIB)

TUGAS FILSAFAT DAN PENCIPTAAN ILMU

IDENTIFIKASI PERUBAHAN PARADIGMA DALAM


PEMANTAUAN DINAMIKA SISTEM BUMI

Oleh:
MADE NGURAH ADHIWANGSA WIGRAHA
11/319030/TK/38168

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014