Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan teori
1. Keluarga
a. Definisi
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat di
bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Jhonson & Leny, 2010).
Banyak

ahli

menguraikan

pengertian

tentang

keluarga

sesuai

dengan

perkembangan sosial yang terjadi dimasyarakat. Beberapa ahli tersebut diantaranya


sebagai berikut:
1) Friedman (1998) yang menyatakan bahwa keluarga adalah kumpulan dua
orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional
dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian
dari keluarga.
2) Duval dan Logan (1986) menguraikan bahwa keluarga adalah sekumpulan
orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk
menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan
fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga
3) Bailon dan Aracelis Maglaya (1978) menjelaskan bahwa keluarga adalah dua
atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi.
Dari ketiga pengertian para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
definisi keluarga adalah sebagai berikut:
a) Terdiri atas dua atau lebih individu yangdiikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi.
10

11

b) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain.
c) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai
peran sosial seperti suami, istri, anak, kakak dan adik.
d) Mempunyai tujuan menciptakan dan mempertahankan

budaya

serta

meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial.


b. Tugas perkembangan keluarga dengan remaja
Tiap tahapan perkembangan keluarga memiliki tugas perkembangan yang
harus dilalui termasuk keluarga dengan remaja. Tugas perkembangan keluarga
pada tahap ini menurut Jhonson dan Leny (2010) adalah sebagai berikut:
1) Pengembangan terhadap remaja dengan memberikan kebebasan yang seimbang
dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda yang
mulai memiliki otonomi.
2) Memilihara komunikasi terbuka.
3) Memilihara hubungan intim dengan keluarga.
4) Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan anggota keluarga untuk
memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.
Gunarsa dan Gunarsa (2008) menjelaskan bahwa orangtua memiliki peran
penting untuk mempersiapkan anak memasuki usia remaja dalam hal:
1) Pertumbuhan fisik anak
Memberikan perlakuan pengasuhan yang baik, lingkungan sehat,
pengetahuan praktis mengenai kadar gizi, pengetahuan kebutuhan dasar dan
minimal (istirahat, bermain, belajar) sesuai kebutuhan pribadi dan masa
perkembangan anak serta memberikan aturan sesuai dengan kondisi anak.
2) Perkembangan sosial anak
Orangtua harus mengerti bahwa pergaulan sebagai kebutuhan, tak
terkecuali bagi remaja. Pergaulan dengan teman sebaya yang secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi keperibadian anak. Sehingga orangtua

12

perlu memperhatikan siapa atau dengan kelompok mana anak boleh dianjurkan
atau menghindari.
3) Perkembangan mental
Memperbaiki proses komunikasi verbal orangtua dengan anak, berbicara
sambil membimbing, penyediaan sarana dan fasilitas sesuai kebutuhan anak.
4) Perkembangan spiritual
Membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku anak sesuai dengan
ajaran agama, mengikutsertakan dalam kegiatan keagamaan serta menciptakan
suasana keluarga yang harmonis, memberikan pengertian nilai dan norma
hukum seperti pelanggaran, tata tertib, dan peyesuaian diri.
5) Mengembangkan minat dan bakat
Memberikan kesempatan untuk berkembang, kerjasama orangtua-keluarga
besar-sekolah dengan mendorong anak memiliki kegiatan lain yang produktif
selain belajar. Ali dan Asrori (2010) berpendapat bahwa sangat penting bagi
remaja diberikan bimbingan agar keingintahuan yang tinggi dapat terarah
kepada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif. Melalui orangtua
anak beradaptasi dengan lingkungan dan mengenal dunia serta pola pergaulan
di lingkungan. Orangtua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi
anak. Bentuk-bentuk pola asuh erat hubungannya dengan kepribadian anak
setalah menjadi dewasa (Ramadhan, 2009).
2. Pola asuh
a. Definisi
Secara etiomologi pola berarti bentuk, tata cara sedangkan asuh berarti
menjaga, merawat dan mendidik. Pola asuh orangtua merupakan kecenderungan
yang relatif menetap dari orangtua dalam memberikan bimbingan, didikan serta
perawatan (Suwono, 2008). Pola asuh orangtua merupakan gambaran tentang
sikap, perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak, dan cara berkomunikasi

13

selama mengadakan kegiatan pengasuhan (Ismira, 2008). Menurut Hardywinoto


dan Setiabudhi (2006) pola asuh adalah pola pengasuhan yang berlaku dalam
keluarga yaitu cara keluarga membentuk perilaku anak sesuai dengan norma dan
nilai yang baik dan sesuai dengan kehidupan masyarakat. Berdasarkan beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua adalah cara
orangtua dalam memberikan bimbingan atau didikan kepada anak sesuai dengan
norma dan nilai yang ada di masyarakat.

b. Dimensi pola asuh


Hubungan orangtua dengan anak digambarkan dengan interaksi antara dua
dimensi perilaku orangtua, yaitu warmth atau responsiveness dan control atau
1)

demandingnes (Anisa, 2012)


Dimensi warmth atau responsiveness
Dimensi ini dikenal dengan istilah dimensi emosional, yaitu
beberapa penerimaan, respon atau kasih sayang orangtua. Orangtua yang
menerapkan warmth atau responsiveness yang tinggi sangat menerima,
responsif terhadap kebutuhan anak-anaknya, seringkali terlibat dalam diskusi
terbuka dengan anak, mendukung proses saling member dan menerima secara
verbal, dan berusaha untuk melihat sesuatu dari persfektif.
Orangtua yang menerapkan warmth atau responsiveness yang
tinggi juga menerapkan hukuman fisik dalam upaya membatasi tingkah laku
anak, akan tetapi dalam pemberian hukuman orangtua juga memberikan
penjelasan dan alasan yang mendasar pemberian hukuman tersebut. Orangtua
yang menerapkan warmth atau responsiveness yang rendah seringkali menolak,

14

tidak memperdulikan anak, tidak responsive terhadap kebutuhan anak


2)

(Hetherington & Parke, 1999 dalam Annisa, 2012).


Dimensi control atau demandingness
Menurut Hetherington dan Parke 1999 (dalam Annisa, 2012), kasih sayang
orangtua tentu tidak cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya
dalam aspek sosial. Orangtua perlu menerapkan sejumlah kontrol jika mereka
menginginkan anak mereka berkembang menjadi individu yang kompoten dalam
hal intelektual dan sosial.
Orangtua juga menerapkan kontrol tinggi, menetapkan standar yang tinggi
terhadap tingkah laku anaknya dan terus-menerus memonitor tingkah laku
anaknya untuk menyakinkan bahwa merka dapat memenuhi standar tersebut.
Selain itu juga cenderung menggunakan metode power assertive seperti hukuman
fisik untuk mengontrol tingkah laku anaknya, khususnya tingkah laku agresif.
Orangtua yang menerapkan kontrol yang rendah menuntut lebih sedikit dari anak,
kurang menghambat atau membatasi tingkah laku anak, memberi lebih banyak
kebebasan kepada anak dengan sedikit bimbingan atau arahan anak (Hetherington
& Parke, 1999 dalam Annisa, 2012).
c. Jenis-jenis pola asuh
Baumrind (1971) mengkategorikan pola asuh sebagai berikut:
1) Pola asuh Authoritative (demokratis)
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang mendorong anak untuk
mandiri namun masih menerapkan batas dan kendali pada tindakan anak.
Orangtua bersikap hangat dan penyayang terhadap anak. Orangtua dengan pola
asuh autoritatif menunjukkan kesenangan dan dukungan sebagai respon terhadap
perilaku konstruktif anak. Orangtua juga mengharapkan perilaku anak yang

15

dewasa, mandiri, dan sesuai dengan usianya. Ciri yang yang kental dari pola asuh
ini adalah adanya diskusi antara anak dan orangtua (Santrock, 2009). Orangtua
yang autoritatif mendorong anak untuk melihat anak dua sisi dari satu isu,
menerima keikutsertaan mereka dalam membuat keputusan, dan mengakui
terkadang anak-anak tahu lebih banyak dibandingankan orangtua. Para orangtua
memberikan respon dengan menyeimbangkan tuntutan anak. Anak-anak
menerima pujian dan hak istimewa jika mendapat nilai baik dan mendapat
dorongan untuk lebih kuat dan menawarkan bantuan jika anak mengalami
kegagalan (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).
Karakteristik anak-anak dengan pola asuh ini akan menghasilkan anak
yang memiliki rasa percaya diri, bersikap bersahabat, mampu mengendalikan diri,
bersikap sopan, mau bekerja sama, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,
mempunyai tujuan/arah hidup yang jelas dan berorientasi terhadap prestasi
(Yusuf, 2014).
2) Pola asuh Authoritarian (otoriter)
Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang membatasi dan menghukum
anak. Orangtua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghormati
pekerjaan dan upaya mereka. Orangtua dengan pola asuh otoriter menerapkan
batas dan kendali yang tegas pada anak dan meminimalisir perdebatan verbal.
Gaya pola asuh ini biasanya mengakibatkan perilaku anak yang tidak kompeten
secara sosial (Santrock, 2009).
Orangtua dengan pola asuh ini akan emosi dan marah jika anak melakukan
hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orangtuanya. Hukuman mental
dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap
patuh dan disiplin serta menghormati orangtua yang membesarkannya. Anak

16

biasanya akan menjadi tidak bahagia, paranoid, dan selalu berada dalam ketakutan
(Habibi, 2007). Karakteristik anak dengan tipe pola asuh otoriter adalah mudah
tersinggung, penakut, pemurung, tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stres,
tidak mempunyai arah masa depan yang jelas dan tidak bersahabat (Yusuf, 2014).
3) Pola asuh Permissive
Pola asuh permisif adalah pola asuh dengan gaya pengasuhan dimana
orangtua sangat terlibat dengan anak, namun tidak terlalu menuntut atau
mengontrol anak. Orangtua dengan pola asuh ini membiarkan anak melakukan
apa yang anak inginkan. Orangtua dengan tipe ini biasanya bersifat hangat,
sehingga seringkali disukai oleh anak. Pola asuh dengan tipe ini menghasilkan
anak dengan karakteristik anak bersikap impulsif dan agresif, suka memberontak,
kurang memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri, suka mendominasi, tidak
memiliki arah hidup yang jelas dan prestasi yang rendah (Yusuf, 2014).
4) Pola asuh campuran
Pola asuh campuran adalah pola asuh dengan orangtua yang tidak
konsisten dalam mangasuh anak. Orangtua terombang-ambing antara tipe
demokratis, otoriter atau permisif. Pola asuh ini orangtua tidak selamanya
memberikan alternatif seperti halnya pola asuh demokratis, akan tetapi juga tidak
selamanya melarang seperti halnya orangtua yang menerapkan otoriter dan juga
tidak secara terus menerus membiarkan anak seperti pada penerapan pola asuh
permisif. Pola asuh campuran orangtua akan memberikan larangan jika tindakan
anak menurut orangtua membahayakan, membiarkan saja jika tindakan anak
masih dalam batas wajar dan memberikan alternatif jika anak paham tentang
alternatif yang ditawarkan. Anak yang diasuh dengan metode pengasuhan ini

17

nantinya bisa berkembang menjadi anak yang tidak mempunyai pendirian tetap
karena orangtua yang tidak konsisten dalam mengasuh anaknya (Adelia, 2012).
d. Aspek-aspek pengukuran pola asuh
Menurut Respati, Yulianto dan widiana (2006), pola asuh orangtua dapat
ditunjukkan melalui aspek-aspek: peraturan, penerapan aturan yang harus dipatuhi
dalam kegiatan sehari-hari. Tanggapan, cara orangtua menanggapi sesuatu dalam
kaitannya dengan aktivitas dan keinginan anak. Mengemukakan ada beberapa
aspek dalam pola asuh orangtua, yaitu:
1) Kontrol, merupakan usaha mempengaruhi aktivitas anak secara berlebihan
untuk mencapai tujuan, menimbulkan ketergantungan pada anak, menjadikan
anak agresif, serta meningkatkan aturan orangtua secara ketat.
2) Tuntutan kedewasaan, yaitu menekan kepada anak untuk mencapai suatu
tingkat kemampuan secara intelektual, social dan emosional tanpa member
kesempatan pada anak untuk berdiskusi.
3) Komunikasi anak dan orangtua, kurangnya komunikasi anak dan orangtua,
yaitu orangtua tidak menanyakan bagaimana pendapat dan perasaan anak bila
mempunyai persoalan yang harus dipecahkan.
4) Kasih sayang, yaitu tidak adanya kehangatan, cinta, perawatan, dan perasaan
kasih sayang, serta keterlibatan yang meliputi penghargaan dan pujian terhadap
prestasi anak.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh

18

Pola asuh dalam merawat, mengatur, mengasuh dan mengendalikan anak


di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktorfaktor yang mempengaruhi pola asuh
menurut Habibi (2007) antara lain:
1) Peran orangtua
Peranan orangtua adalah fungsi yang dimainkan oleh orangtua yang
berada pada posisi atau situasi tertentu dengan karakteristik atau kekhasan
tertentu pula. Peran ibu sebagai orangtua yang merawat, mengendalikan anak
serta memenuhi kebutuahan anak, sedangkan ayah sebagai pelindung, pencari
nafkah dan pemberi rasa aman bagi anggota keluarga termaksut anak.
2) Budidaya di lingkungan keluarga
Orangtua harus memiliki sikap dan kebiasaan yang baik dan yang akan
diterapkan pula kepada anak-anaknya.
3) Pendidikan dan pengetahuan orangtua
Pendidikan dan pengetahuan orangtua yang tinggi akan mendukung dalam
interaksi dengan lingkungan, orangtua juga mampu memahami bagaimana
harus memposisikan diri dalam tahapan perkembangan anak (Habibi, 2007).
Pendidikan di keluarga, orangtua sangatlah berpengaruh terhadap pendidikan
anaknya. Bagi orangtua yang memiliki tingkat pendidkan lebih tinggi atau
memilki pengetahuan tentang pendidikan akan selalu memperhatikan hasil
belajar yang dicapai oleh anaknya di sekolah, sebaliknya jika tingkat
pendidkan

rendah,

kegiatan

belajar

anaknya

disekolah

kurang

diperhatikan(Sugiarto, 2011).
3. Remaja
a. Definisi
Remaja dikenal dengan adolescenceyang berasal dari kata dalam bahasa
latin adolescence (kata bendanya adolescence=remaja) yang berarti tumbuh
menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa (Desmita, 2010).

19

Istilah adolescence biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika


pubertas menunjukkan titik reproduksi terjadi. Perubahan hormonal pubertas
mengakibatkan perubahan penampilan, dan perkembangan mental mengakibatkan
kemampuan untuk menghipotesis dan berhadapan dengan abstraksi (Potter &
Perry, 2005). Remaja saat ini tidak lagi dibatasi oleh kenyataan yang aktual namun
juga memperhatikan interaksinya dengan lingkungan sekitar baik hubungan
dengan orangtua, teman sebaya dan sebagainya (Wong, 2008).
b. Penggolongan remaja
Potter dan Perry (2010) membagi remaja menjadi tiga golongan yaitu:
1) Remaja awal yaitu usia 11 sampai 14 tahun
2) Remaja pertengahan yaitu 15 sampai 17 tahun
3) Remaja akhir usia 18 sampai 20 tahun
c. Tugas-tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan
sikap dan perilaku kekanak-kanak serta berusaha untuk mencapai kemampuaan
bersikap dan berperilaku secara dewasa. Tugas-tugas perkembangan masa remaja
menurut Yusuf (2014) adalah sebagai berikut:
1) Menerima fisiknya sendiri dan keragaman kualitasnya.
2) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas.
3) Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul
dengan teman sebaya atau oranglain, baik secara individual maupun kelompok.
4) Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
5) Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya
sendiri.
6) Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skla nilai,
prinsp-prinsip atau falsafah hidup.

20

7) Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanakkanakan.


d. Perkembangan biologis remaja
Perubahan biologis remaja menurut Sarwono (2012) terjadinya perubahan
fisik dan hormonal, yang akan mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan
fisik serta kematangan seksual. Masa pubertas merupakan rangkaian kejadian yang
berawal dari prosuksi Gonadotrophin Releasing Hormon (GnRH) oleh hipotalamus
sehingga memunculkan tanda-tanda kematangan seksual seperti pada wanita
terjadi haid, pertumbuhan payudara, dan pada pria terjadi peningkatan produksi
sperma. Perubahan ini dapat mempengaruhi pandangan remaja pada dirinya dan
bagaimana mereka berperilaku seperti kelebihan berat badan, munculnya jerawat
sering membuat remaja merasa cemas dan rendah diri akan bentuk fisiknya yang
tidak ideal. Tugas perkembangan remaja terkait perkembangan biologi yaitu
menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubunya secara efektif (Ali &
Asrori, 2014).
e. Perkembangan psikologis remaja
Menurut Ali dan Asrori (2014) perkembangan psikologis pada remaja
antara lain sebagai berikut:
1) Perkembangan kognitif
Menurut piaget pada usia remaja terjadi perubahan pola pikir secara
konkrit menjadi formal operasional. Pemikiran formal operasional meliputi
kemampuan untuk berfikir abstrak, berpikir hipotesis, mampu membayangkan
berbagai kemungkinan. Perkembangan pola pemikiran juga berkembangnya
kemampuan membuat keputusan, mampu menghubungkan ide, menganalisis
dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Perkembangan kognitif berperan

21

penting dalam pencapaian identitasnya. Remaja yang telah sempurna pikiran


formal operasionalnya lebih mampu berpikir logis, membuat hipotesa,
berimajinasi untuk mencapai identitasnya pada masa mendatang dan lebih
mampu mengatasi masalah-masalah (Santrock, 2007).
2) Perkembangan peran sosial
Perkembangan hubungan social remaja adalah mengarahkan hasrat untuk
meningkatkan hubungan dekat dengan orang lain. Tugas perkembangan remaja
yaitu mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik
pria maupun wanita. Identitas seseorang akan tampak saat berhubungan dengan
orang lain. Kemampuan mempertahankan hubungan intim dengan orang lain
menunjukkan tercapainya identitas. Menurut Ali dan Asrori (2010) karakteristik
yang menonjol dari perkembangan sosial remaja yaitu: berkembangnya
kesadaran akan kesepian dan dorongan untuk bergaul serta cenderung memilih
karier tertentu terutama mamasuki masa remaja akhir.
3) Perkembangan moral, nilai dan sikap
Remaja pada tahap perkembangan moral yaitu dimana remaja mempunyai
kesadaran bahwa dirinya dan lingkungannya saling memberikan pengaruh
positif maupun negatif. Tugas perkembangan remaja adalah memperoleh
perangkat nilai dan system etik sebagai pengangan untuk berperilaku. Nilai dan
norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang
dikaguminya terutama tokoh masyarakat. Nilai dan norma yang diperoleh akan
membentuk identitasnya (Stuart & Laraia, 2005).
4) Perkembangan konsep diri (ideal diri, harga diri, identitas diri, peran dan citra
tubuh)
Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
membuat

seseorang

mengetahui

tentang

dirinya

dan

mempengaruhi

22

hubungannya dengan orang lain, termaksut persepsi individu akan sifat dan
kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungannya, nilai-nilai yang
berkaitan dengan tujuan serta keinginannya. Konsep diri yang positif termasuk
diantaranya hubungan yang positif dengan teman sebaya dan konsep diri negatif
seperti menolak pujian, menunjukkan kecemburuan yang berlebihan dan raguragu untuk mencoba hal baru (Hadley, Hair, & Moore, 2008).
4. Identitas diri
a. Definisi
Menurut Papalia, Olds dan Feldman (2009) identitas diri pada individu
akan melibatkan penjelasan mengenai siapa diri individu, apa yang menjadi nilai
individu, dan hal-hal yang dipilih individu tersebut untuk menjalani hidup.
Identitas diri merupakan suatu konsep mengenai diri, pembuatan suatu tujuan,
nilai, dan kepercayaan yang dipercayai sepenuhnya oleh yang bersangkutan dan
menjadi fokus selama masa remaja.
Marcia (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2009) juga menyatakan bahwa
identitas diri adalah suatu hal yang dimilki secara kuat oleh individu, adanya
kesadaran akan diri, dan pilihan-pilihan diri akan komitmen yang dimiliki terhadap
pekerjaan, seksualitas, idiologi agama, dan politik. Identitas diri merupakan
penggabungan dari keterampilan dan kepercayaan pada masa kanak-kanak, yang
mengalami pengidentifikasian sehingga membuat keterampilan dan kepercayaan
tersebut menjadi lebih jelas, serta merupakan hal yang membuat individu merasa
memiliki kelanjutan dari masa lalunya dan memiliki pandangan untuk masa
depannya.
Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat di peroleh
individu dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa

23

dirinya berbeda dengan oranglain. Individu yang mempunyai identitas diri yang
kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya
(Suliswati et al., 2005).
Beberapa pengertian identitas diri yang telah di kemukakan sebelumnya
maka dapat disimpulkan bahwa identitas diri adalah penghayatan yang berasal dari
apa yang remaja pikirkan tentang dirinya, adanya penentuan terhadap arah dan
tujuan hidup, serta remaja memiliki nilai-nilai yang diyakini, yang dapat dilihat
berdasarkan komitmen yang dimiliki yang terbentuk dari pemikiran remaja
mengenai siapa dirinya dan harapan masyarakat terhadap dirinya.
b. Pembentukan identitas diri
Pembentukan identitas diri dapat dilakukan remaja dengan melakukan
pencarian karakteristik-karakteristik yang menggambarkan diri yang dimiliki
remaja saat berada dimasa kanak-kanak dan mengkombinasikan hal tersebut
dengan kapasitas dan komitmen yang dimiliki remaja. Remaja akan menjadikan
hal ini menjadi bagian inti dari dalam diri yang kemudian akan menghasilkan
kematangan identitas diri (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).
Pembentukan identitas diri dapat digambarkan melalui status identitas
berdasarkan ada atau tidaknya eksplorasi (krisis) dan komitmen. Krisis adalah
suatu periode dimana remaja akan secara aktif bertanya, mengidentifikasi, mencari
tahu, menggali, dan menyelidiki berbagai alternatif yang ada untuk mencapai suatu
keputusan mengenai tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan keyakinan yang akan diambil.
Krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya identitas
(Santrock, 2007).

Kroger (2003) menyatakan bahwa dimensi eksplorasi (krisis) terdiri dari:

24

1) Sudah melalui eksplorasi (past crisis)


Seseorang dikatakan berada pada tahap eksplorasi di masa lalu (past
crisis) yaitu dimana pemikiran aktif terhadap sejumlah variasi dari aspek-aspek
identitas yang sudah berlalu. Individu mampu menyelesaikan krisis dan
memiliki pendangan yang pasti tentang masa depan.
2) Sedang dalam eksplorasi (in crisis)
Seseorang dikatakan sedang berada pada tahap eksplorasi yaitu ketika
seseorang sedang berusaha untuk mencari tahu dan menjawab pertanyaanpertanyaan mengenai identitas dan sedang berjuang untuk membuat keputusan
hidup yang penting.
3) Tidak adanya eksplorasi (absence of crisis)
Seseorang dikatakan tidak mengalami eksplorasi ketika seseorang tidak
pernah merasa penting untuk melakukan eksplorasi pada berbagai alternative
identitas tentang tujuan yang ingin dicapai, nilai maupun kepercayaan
seseorang.
Domain identitas yang terbentuk karena adanya kombinasi antara krisis
dan komitmen dalam diri individu akan semakin kuat ketika individu berada di
remaja akhir. Pembentukan identitas diri dalam masa remaja awal dilihat
sebagai masa perubahan dimana pemikiran-pemikiran, kondisi psikososial, dan
pemenuhan fisiologis yang dimilki individu sebelum memasuki usia remaja
mengalami perubahan bentuk yang lebih dewasa. Masa remaja tengah
merupakan periode terjadinya pembentukan kembali dimana pada usia ini
individu mengalami pengaturan baru pada keahlian-keahlian yang lama dan
yang

baru

dimiliki.

Masa

remaja

akhir

merupakan

usia

terjadinya

penggabungan, yaitu usia dimana susunan identitas diri dapat dibedakan, dan

25

terjadi pengujian identitas diri pada lingkungan. Masa remaja akhir merupakan
periode dimana identitas diri sudah benar-benar terbentuk (Santrock, 2007).
c. Status identitas
Kombinasi dari ada atau tidaknya krisis dan komitmen menghasilkan empat
status identitas yang dikemukakan oleh (Marheni, 2010) yaitu:
a) Identitas kabur/binggung (identity disffusion)
Identity disffusion yaitu suatu keadaan dimana remaja kehilangan arah,
remaja tidak melakukan eksplorasi dan tidak mempunyai komitmen terhadap
peran-peran tertentu, sehingga remaja tidak dapat menemukan identitas
dirinya. Menurut Stuart dan Laraia (2005) remaja beresiko tinggi mengalami
masalah dengan teman sebaya, keluarga, sekolah, perilaku antisocial,
kesehatan, gangguan emosi seperti depresi, kecemasan, gangguan fungsi (tidur,
makan, psikomatis), seksual, dan penyalahgunaan zat. Karakteristik lain
identitas binggung yaitu harga diri rendah dan kurang mandiri, mengisolasi
hubungan dengan orang lain, menjaga jarak dan menolak (Chase, 2001),
perilaku tidak bermoral,

perasaan yang berfluktasi

tentang

dirinya,

kebinggungan gender dan berperilaku tidak jujur. NANDA juga mencontohkan


gangguan identitas personal dapat berhubungan dengan harapan orangtua yang
tidak realistik dan penyalahan obat (Stuart & Laraia, 2005).
b) Identitas tertutup (identity foreclosure)
Identity foreclosure yaitu suatu keadaan dimana remaja dapat menemukan
identitas dan membuat komitmen namun tanpa melalui eksplorasi terlebih
dahulu. Remaja mempunyai pilihan-pilihan terhadap suatu pekerjaan,
pandangan keagamaan atau ideology namun tidak berdasarkan pertimbangan
yang matang dan lebih ditentukan oleh orangtua ataupun gurunya. Menurut

26

Papalia, Olds dan Feldman (2009) status identitas ini remaja tidak
menghabiskan waktunya untuk mempertimbangkan berbagai alternatif dan
berkomitmen untuk menjalani rencana oranglain untuk hidupnya sendiri.
c) Identitas tertunda (identity moratorium)
Identity moratorium yaitu suatu keadaan yang menggambarkan remaja
yang sedang sibuk-sibuknya mencari identitas diri, berada dalam keadaan
untuk menemukan identitas diri. Menurut Santrock (2007)

identitas ini

merujuk pada kondisi remaja yang berada dipertengahan krisis namun belum
memiliki komitmen yang jelas terhadap identitasnya. Karakteristik pada status
ini yaitu kecemasan lebih meningkat, hubungan dengan orang lain mudah
berubah dan kuat, tetapi masih belum ada komitmen, tidak mempercayakan
keputusan yang dibuat orang lain dan orang tua cenderung mendorong
kemandirian (Chase, 2001).
d) Identitas tercapai (identity achievement)
Identity achievement yaitu suatu keadaan dimana remaja telah menemukan
identitasnya dan membuat komitmen-komitmen setelah melalui eksplorasi
terlebih dahulu. Karakteristik pada status ini yaitu kemandiriannya meningkat,
tanggapan moralnya pada tingkat lebih tinggi, baik dalam menghadapi stress,
mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan (Chase, 2001). Menurut Stuart
dan Laraia (2005) karakteristik identitas tercapai yaitu individu mengenal
dirinya berbeda dengan oranglain, menghargai diri sendiri sama dengan
penghargaan lingkungan sosial, mempunyai tujuan yang realistis, dan
mempunyai kesadaran akan hubungan masa lalu, saat ini dan yang akan
datang.
Serafini dan Adams (2002) menyatakan bahwa status identitas diri
dibedakan dari rentang passive-constructed identity statuses (diffusion and

27

foreclosure

identity)

sampai

active

self-constructed

identity

statuses

(moratorium and achieved identity. Identitas pasif artinya tidak positif fungsi
identitasnya yang cenderung dipengaruhi oleh faktor luar seperti melakukan
imitasi, identifikasi yang menunjukkan kurang matangnya perkembangan
identitas,

sedangkan

identitas

aktif

artinya

aktif

mengorganisasi,

menstrukturisasi dan mengkonstruksi diri dalam rangka proses pembentukan


identitas diri.
d. Fungsi identitas diri
Identitas diri mempunyai lima fungsi menurut Serafini dan Adams (2002)
yaitu:
1) Struktur
Struktur artinya identitas diri membentuk struktur untuk memahami diri.
Identitas diri memberikan kesadaran tentang diri sebagai individu yang mandiri
dan unik. Memunculkan perasaan memahami diri adalah member struktur untuk
keyakinan diri dan harga diri serta fondasi terhadap sesuatu yang akan terjadi
dan keterbukaan diri. Pada fungsi ini orang aktif membangun status identitasnya
berhubungan positif dengan citra tubuh dan citra diri yang positif.
2) Tujuan
Tujuan artinya identitas diri member makna, arah, komitmen, nilai-nilai
dan tujuan. Identitas didasari oleh kapasitas komitmen terhadap keyakinan,
pilihan nilai-nilai, atau tujuan.
3) kontrol diri
Kontrol diri artinya memberikan perasaan kontrol diri dan keinginan
bebas. Identitas untuk membedakan antara yang pasif atau mengalah dengan
yang aktif atau sifat yang pantang menyerah. Identitas yang pasif didasari sifat
mengalah, imitasi, dan identifikasi. Sedangkan yang aktif didasari oleh sifat
eksperesi diri, pengembangan kemandirian, perasaan bebas dan otonomi.

28

4) Harmoni
Harmoni artinya identitas diri memberikan konsistensi, keeratan dan
keselarasan nilai-nilai, kepercayaan dan komitmen. Pembentukan identitas
berdasarkan pengoorganisasian dan sintesis atau integrasi pada satu tujuan dari
waktu kewaktu. Adanya keeratan antara nilai-nilai dan keyakinan serta
komitmen.
5) Masa depan
Masa depan artinya identitas diri memberikan kemampuan untuk
mengenali potensi masa depan dalam berbagai kemungkinan dan bermacam
pilihan. Kesadaran akan identitas akan didasarkan pada inisiatif diri dan
pemahaman tujuan yang akan dicapai sesuai rentang kapasitas seseorang.
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri
Menurut Singgih (2006) Pembentukan identitas diri pada masa remaja
merupakan awal dari pembentukan diri yang terjadi di sepanjang hidup dan
merupakan proses yang dinamis. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan identitas diri individu, yaitu:
1) Orangtua
Orangtua adalah tokoh yang berpengaruh dalam proses pencarian identitas
pada remaja. Studi yang mengaitkan perkembangan identitas dengan gaya
pengasuhan, ditemukan bahwa pola asuh orangtua sangat berpengaruh dalam
proses pembentukan identitas diri remaja.
Hubungan yang dekat antara anak dengan orangtua ditandai dengan
pemberian kebebasan kepada anak untuk menyampaikan pendapat yang ingin
diberikan, dukungan dan kehangatan dari orangtua, serta adanya komunikasi
yang terbuka antara orangtua dan remaja akan mempengaruhi pembentukan
identitas diri remaja. Gaya pengasuhan yang memberikan kesempatan kepada

29

remaja untuk berbeda pendapat dalam konteks yang saling mendukung akan
mengembangkan perkembangan identitas yang sehat.
2) Interaksi dengan teman sebaya
Interaksi dengan teman sebaya yang beragam akan menambah ide dan
nilai pada remaja. Dukungan secara emosi yang diperoleh dari teman dekat
akan membuat remaja saling membantu satu sama lain dalam mencari pilihanpilihan dan teman sebaya dapat menjadi model peran bagi remaja pada
perkembangan identitas. Hubungan dengan teman sebaya akan menuat remaja
belajar mengenai nilai yang mereka miliki dalam pertemanan, pilihan akan
pasangan hidup nantinya, pencarian informasi karir, serta pemilihan remaja
akan karir. Kelompok teman sebaya merupakan sumber bagi remaja untuk
memperoleh pandangan mengenai kasih sayang, rasa simpati, pemahaman akan
oranglain, mengetahui nilai-nilai moral, serta sebagai tempat remaja untuk
mempersiapakan diri menuju kehidupan dewasa nantinya (Papalia, Old, &
Feldman, 2009).
Peningkatan kedektan remaja dengan teman sebaya mencerminkan
kepedulian remaja untuk mengenal diri mereka sendiri, bercerita kepada teman
sebaya membantu menggali perasaan mereka sendiri dan mendefenisikan
identitas diri mereka dan meningkatkan harga diri mereka (Papalia, Old, &
Feldman, 2009).
3) Sekolah dan komunitas
Sekolah dan komunitas memberikan kesempatan yang luas dan beragam
dalam hal pencarian identitas diri dan mendukung perkembangan identitas.
Sekolah dapat membantu remaja dalam penyediaan kelas dan dapat memiliki
tingkat pemikiran yang tinggi, kegiatan ekstrakurikuler yang membuat remaja
memiliki tanggung jawab dalam peran yang diambilnya, tersedianya guru atau

30

konselor yang dapat mengarahkan remaja pada pemilihan akan bidang-bidang


yang diminatinya, seperti jurusan yang ingin diambilnya nanti, serta
tersedianya program-program pembelajaran yang dapat menjadi suatu sarana
dimana remaja dapat memperoleh gambaran mengenai dunia pekerjaan yang
sesungguhnya ketika remaja berada pada usia dewasa nantinya (Mahoney,
2001).
4) Kebudayaan
Budaya memiliki pengaruh besar dalam perkembangan identitas, dimana
budaya dapat membentuk adanya self-continuity disamping perubahan diri
yang terjadi. Perbedaan budaya yang terdapat dalam lingkungan individu akan
mempengaruhi bagaimana individu memandang peran-peran yang mereka
miliki dalam lingkungan masyarakat (Singgih, 2006).
f. Ciri-ciri identitas diri positif dan identitas diri negatif
Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan dan
konsistensi dari seseorang sepanjang waktu dan dari berbagai situasi. Konsep
tentang identitas mencakup konstansi dan kontinuitas. Identitas menunjukkan
menjadi lain dan terpisah daari orang lain, namun menjadi diri yang unik dan utuh
(Perry & potter, 2005).
Suliswati dkk (2005) mengemukakan cirri-ciri individu dengan identitas
yang positif, adalah sebagai berikut:
1) Mengenal diri sebagai organisme yang utuh terpisah dari orang lain.
2) Mengakui jenis kelamin sendiri.
3) Memandang berbagi aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan.
4) Menilai diri sendiri sesuai dengan penilaian masyarakat.
5) Menyadari hubungan masa lalu, sekarang dan yang akan datang.
6) Mempunyai tujuan yang bernilai yang dapat dicapai/direalisasikan.
Ciri-ciri identitas diri yang negatif (binggung identitas)
1) Tidak menemukan cirri khas (kekuatan dan kelemahan) dirinya.
2) Merasa binggung dan bimbang dengan peran dan tanggung jawabnya sendiri.

31

3) Tidak mempunyai rencana untuk masa depan.


4) Tidak mampu berinteraksi dengan lingkungannya.
5) Memiliki perilaku anti sosial, meleburkan dirinya dengan dunia teman sebaya
dan kehilangan identitas dirinya.
6) Sering merasa dirinya disalahkan dan merasa rendah diri.
7) Merasa dirinya dilayani secara tidak adil.
8) Sukar memahami emosinya sendiri dan dapat melakukan segala sesuatu
dengan impulsif tanpa berfikir secara matang.
9) Tidak menyukai dirinya sendiri.
10) Sulit mengambil keputusan dan menghindari penyelesaian konflik.
11) Tidak mempunyai minat.
12) Tidak mandiri
B. Kerangka konsep
Kerangka konsep merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang dilakukan
dan memberikan landasan kuat terhadap topik yang dipilih sesuai dengan identifikasi
masalahnya. Kerangka konsep harus didukung landasan teori yang kuat serta ditunjang
oleh informasi yang bersumber pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian, jurnal
penelitain, dan lain-lain (Hidayat, 2007). Kerangka konsep penelitian hubungan pola asuh
orangtua dengan proses pembentukan identitas diri remaja dapat dilihat pada skema 1.
Skema 1
Kerangka konsep penelitian
Variabel Independen

Variabel Dependen

(Variabel Bebas)

(Variabel Terikat)

Pola asuh orangtua


1.
2.
3.
4.

Demokratis
Otoriter
Permisif
campuran

Pembentukan status
identitas diri remaja
1.Identitas Pasif
2. Identitas Aktif

C. Hipotesis
Hipotesis berasal dari kata hipo (lemah) dan tesis (pernyataan), yaitu suatu
pernyataan yang masih lemah dan membutuhkan pembuktian untuk menegaskan apakah

32

hipotesis tersebut dapat diterima atau harus ditolak. Penerimaan atau penolakan ini harus
berdasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian. Hipotesis
juga merupakan sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua
variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris (Hidayat, 2007). Berdasarkan uraian
teoritis tersebut, maka hipotesis penelitian ini adalah:
a. Hipotesis Nol (Ho)
Tidak ada hubungan pola asuh orangtua dengan pembentukan status identitas diri
remaja
b. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada hubungan pola asuh orangtua dengan pembentukan status identitas diri remaja