Anda di halaman 1dari 68

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

HALAMAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN HALAMAN JUDUL LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN PENGAMATAN PROSEDUR

JUDUL

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PENGAMATAN PROSEDUR PELAPORAN

PAJAK PENGHASILAN FINAL WAJIB PAJAK UMKM

DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SEMARANG GAYAMSARI

Diajukan oleh:

DIMAS RAFI RAMAHARMUZI NPM 131020001201

Mahasiswa Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Pajak

Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Dinyatakan Lulus Program DiplomaI Keuangan pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

2014

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PKL TANDA PERSETUJUAN LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

NOMOR POKOK MAHASISWA : 131020001201 DIPLOMA I KEUANGAN

SPESIALISASI BIDANG PKL JUDUL LAPORAN

:

DIMAS RAFI RAMAHARMUZI

: PAJAK

: PPh BADAN

: PENGAMATAN PROSEDUR PELAPORAN

PAJAK PENGHASILAN FINAL WAJIB PAJAK UMKM DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SEMARANG GAYAMSARI

Mengetahui, Kepala Bidang Akademis Pendidikan Pembantu Akuntan

Kepala Bidang Akademis Pendidikan Pembantu Akuntan Widya Novita, S.Psi. NIP 197103171996032001 Tangerang

Widya Novita, S.Psi.

NIP 197103171996032001

Tangerang Selatan,

September 2014

Menyetujui Dosen Pembimbing,

Tangerang Selatan, September 2014 Menyetujui Dosen Pembimbing, Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E. NIP 196810151990031001 ii

Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E.

NIP 196810151990031001

ii

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

TANGERANG SELATAN

HALAMAN PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI LAPORANPKL

PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

NOMOR POKOK MAHASISWA : 131020001201

DIPLOMA I KEUANGAN

SPESIALISASI

BIDANG PKL

JUDUL LAPORAN

:

DIMAS RAFI RAMAHARMUZI

: PAJAK

:

PPh BADAN

: PENGAMATAN PROSEDUR PELAPORAN

PAJAK PENGHASILAN FINAL WAJIB

PAJAK UMKM DI KANTOR PELAYANAN

PAJAK PRATAMA SEMARANG

GAYAMSARI

Tangerang Selatan,September2014

PRATAMA SEMARANG GAYAMSARI Tangerang Selatan,September2014 1. Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E. NIP196810151990031001

1. Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E.

NIP196810151990031001

1. Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E. NIP196810151990031001 Dosen Pembimbing/Penilai I 2. Basri Musri Dosen

Dosen Pembimbing/Penilai I

2.

Basri Musri

Dosen Penilai II

NIP

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas perkenan

limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulisan Laporan Praktik Kerja

Lapangan ini dapat selesai sesuai pada waktunya. Laporan Praktik Kerja Lapangan ini

merupakan salah satu syarat untuk dapat dinyatakan lulus dari Program Diploma I

Keuangan Spesialisasi Pajak Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Laporan dengan judul “PENGAMATAN PROSEDUR PELAPORAN PAJAK

PENGHASILAN FINAL WAJIB PAJAK UMKM DI KANTOR PELAYANAN

PAJAK PRATAMA SEMARANG GAYAMSARI” ini penyusunannya berdasarkan

pengalaman dan pengamatan selama PKL di KPP Pratama Semarang Gayamsari.

Dalam menyusun laporan ini tidak terlepas dari berbagai hambatan dan

kesulitan,

namun

karena

tekad

yang

kuat

dan

upaya

terus-menerus

untuk

menyelesaikan laporan ini dan berkat dorongan, bimbingan, serta saran yang penulis

terima dari berbagai pihak akhirnya dapat terselesaikan.Oleh karena itu dalam

kesempatan

ini

penulis

ingin

menyampaikan

ucapan

terimakasih

kepada

yang

terhormat:

1. Ayahanda Abdul Salam dan ibunda Sri Sujati, beserta adik-adikku Rindang

Sekarwangi Jingga, Aden Wildan Baihaqi, dan Gilang Raya Pamungkas yang

senantiasa mendoakan, memberi dorongan dan semangat terus menerus serta

sumber inspirasi bagi penulis.

2. Bapak Triyono Hajid Riyanto, Ak., M.E. selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan konsultasi kepada penulis

dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan.

iv

3.

Bapak Kusmanadji Ak., MBA., selaku Direktur STAN dan seluruh staf pengajar

yang memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis.

4. Bapak Bayari, S.P., M.H., M.Tax., selaku Kepala Kantor serta seluruh pegawai di

KPP Pratama Semarang Gayamsari yang telah memberi izin untuk melaksanakan

Praktik Kerja Lapangan serta menerima penulis dengan baik.

5. Bapak Isman Sutarno, S.E., Ak., M.M. selaku pembimbing lapangan di KPP

Pratama Semarang Gayamsari yang telah memberi bimbingan

6. Adi, Eko,Fahri, Fatimah, Imam, Intan, Venino, dan Wildanselaku teman-teman

Praktik Kerja Lapangan di KPP Pratama Semarang Gayamsariserta Adlan, Arif,

Chairul, Malik, Indry, dan Yuza selaku teman-teman satu bimbingan yang banyak

memberi bantuan, saran dan motivasi.

7. Teman-teman Mandat STAN dan Kos Kumlodyang telah mewarnai hariku.

8. Teman-teman mahasiswa spesialisasi D1Pajak STAN 2013khususnya teman-

teman di kelas J(Justice) yang saling memberikan dukungan.

9. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, sehingga Penulis menyadari bahwa

penulisan laporan ini jauh dari sempurna. Akhirnya penulis berharap semoga Laporan

Praktik Kerja Lapangan ini dapat berguna bagi pembacanya.

Tangerang Selatan,

September 2014

Dimas Rafi Ramaharmuzi NPM 131020001201

v

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa yang tertulis

dalam Laporan Praktik Kerja Lapangan ini seluruhnya benar-benar hasil karya saya

sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

Pendapat dan kutipan yang terdapat dalam laporan Praktik Kerja Lapangan ini,

telah dikutip berdasarkan kode etik ilmiah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kemudian dalam laporan ini ditemui sebagian atau seluruh isinya

merupakan jiplakan dari karya orang lain maka sesuai dengan Bab II A No. 7 dan Bab

II B No. 3 Keputusan Direktur STAN No. KEP-100/PP.7/2001, saya bersedia untuk

dinyatakan tidak lulus/kelulusan dibatalkan dan dikeluarkan dari Program Diploma I

Keuangan Spesialisasi Pajak.

Tangerang Selatan,September 2014

Yang membuat pernyataan,

Dimas Rafi Ramaharmuzi NPM 131020001201

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN

JUDUL

i

HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PKL

ii

HALAMAN PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI LAPORANPKL

iii

KATA PENGANTAR

iv

SURAT PERNYATAAN

vi

DAFTAR

ISI

vii

DAFTAR

TABEL

x

DAFTAR

GAMBAR

xi

DAFTAR

LAMPIRAN

xii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan Penulisan

2

C. Ruang Lingkup Pembahasan

2

D. Metode Pengumpulan Data

3

E. Sistematika Penulisan

3

BAB II URAIAN PERMASALAHAN

4

A. Gambaran

Umum

4

1. Gambaran umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang

4

2. Struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari

6

vii

3.

Wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari

9

4. Sumber daya manusia Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari

10

5. Rencana dan realisasi penerimaan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang

Gayamsari.

 

11

6.

Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang

12

B.

Landasan Teori

14

1.

Pengertian Wajib Pajak UMKM

14

2.

Pengertian

Pajak Final

17

3.

Penyetoran dan Pelaporan Pajak Final

18

4.

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dan Peraturan Terkait

22

C.

Pembahasan

29

1.

Penerapan PP 46 Tahun 2013

29

2.

Prosedur Pelaporan PPh Final Berdasarkan PP 46 Tahun 2013

36

3.

Kesesuaian Prosedur dengan Praktik di Lapangan

39

4.

Permasalahan yang Timbul

43

5.

Upaya Mengatasi Permasalahan

46

BAB III SIMPULAN

49

A.

Simpulan

49

DAFTAR PUSTAKA

52

LAMPIRAN

viii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR TABEL

Tabel II-1 Daftar Pegawai KPP Pratama Semarang Gayamsari/Seksi

11

Tabel II-2 Jumlah Wajib Pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari

14

Tabel II-3 Jumlah Wajib Pajak yang Menyetor Pajak UMKM

40

Tabel II-4 Jumlah Setoran Pajak Final UMKM Per Bulan

41

Tabel II-5 Data Permohonan Surat Keterangan Bebas

43

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar II-1 Struktur Organisasi KPP Pratama Semarang Gayamsari

7

Gambar II-2 Wilayah Kerja KPP Pratama Semarang Gayamsari

10

Gambar II-3 Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak (dalam Milyar rupiah)

12

Gambar II-4 Contoh Surat Setoran Pajak Final

21

Gambar II-5 Persentase Jumlah Wajib Pajak UMKM

31

Gambar II-6 Contoh Surat Permohonan SKB

34

Gambar II-7 Contoh Surat Pernyataan WP UMKM

35

Gambar II-8 Contoh Pengisian SSP PP 46

37

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 Ayat (2)

Lampiran II Lampiran IV SPT Tahunan Badan

Lampiran III Lampiran III SPT Tahunan Orang Pribadi

xii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

PerananUsaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di banyak negara, dan

UMKM Indonesia memainkan peranan signifikan bagi perekonomian nasional. Di

Indonesia, jumlah UMKM mencapai

56 juta unit dan menyumbang sekitar 60

persen dari total GDP dan menampung 97 persen dari total tenaga kerja pada tahun

2012. (Fany Inasius dalam harian Kompas, 7 Maret 2014)

Meskipun tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor

46 Tahun 2013, sulit dipungkiri bahwa yang menjadi target pemajakan dalam

ketentuan perpajakan baru ini adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

karena batasan peredaran bruto 4,8 miliar rupiah dalam Peraturan Pemerintah No.

46 Tahun 2013 termasuk dalam pengertian UMKM menurut UU No. 20 Tahun

2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.Dengan penerapan Peraturan

Pemerintah

Nomor

46

Tahun

2013

yang

benar

di

Kantor

Pelayanan

Pajak

diharapkan tujuan peraturan ini dapat tercapai dengan maksimal. Oleh karena itu

penulis mengamati kesesuaian penerapan peraturan ini dengan keadaan di lapangan.

1

2

B. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja

Lapangan ini adalah :

1. Untuk memenuhi sebagian dari syarat dinyatakan lulus dari program Diploma I

Keuangan

Spesialisasi

Perpajakan

yang

Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.

diselenggarakan

oleh

Badan

2. Untuk mendeskripsikan praktik prosedur pelaporan Pajak Penghasilan final

Wajib Pajak UMKM berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013

di KPP Pratama Semarang Gayamsari.

3. Untuk mendeskripsikan kesesuaian antara prosedur penanganan pelaporan

Pajak Penghasilan bertarif final dengan praktik pelaporan di KPP Pratama

Semarang Gayamsari.

4. Untuk

mendeskripsikan

permasalahan

yang

timbul

terhadap

penerapan

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 di KPP Pratama Semarang

Gayamsari.

5. Untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan

yang timbul terhadap penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013

di KPP Pratama Semarang Gayamsari.

C. Ruang Lingkup Pembahasan

Dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini, penulis melakukan

pembatasan masalah hanya pada pelaksanaan prosedur pelaporan Pajak Penghasilan

Final Wajib Pajak UMKM di KPP Pratama Semarang Gayamsari.

3

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam menyusun dan menyelesaikan tugas Laporan Praktik Kerja Lapangan

inipenulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, antara lain :

1. Penelitian Kepustakaan

Yaitu mengumpulkan data melalui buku-bukuilmiah, undang-undang, petunjuk

pelaksanan undang-undang, peraturan terkait, dan sumber tertulis lainnya.

2. Penelitian Lapangan

Yaitu mengumpulkan data dengan mengadakan pengamatansecara langsung

peristiwa, keadaan, serta proses yang berkaitan dengan obyek penelitian.

3. Wawancara

Yaitu

meminta

penjelasan,

keterangan-keterangan,serta

informasi

secara

langsung kepada pihak-pihak yang memilikikompetensi.

E. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi

tentang

latar

belakang

penulisan,

tujuan

penulisan,

ruanglingkup

pembahasan, metode pengumpulan data, dan sistematikapenyajian Laporan PKL.

BAB II URAIAN PERMASALAHAN

Berisi landasan teori dan hukum yang dipakai dalam penulisan, data dan

fakta, deskripsi penerapan peraturan PP 46/2013 di KPP Pratama Semarang

Gayamsari, permasalahan yang timbul serta upaya untuk mengatasi masalah.

BAB III PENUTUP

Berisi kesimpulan dari pembahasan dan saran untuk pihak-pihak yang terkait.

BAB II

URAIAN PERMASALAHAN

A. Gambaran Umum

1. Gambaran umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari.

Reformasi birokrasi Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2002 membawa

banyak perubahan di tubuh Direktorat Jenderal Pajak. Perubahan itu antara lain

terjadi

peningkatan

kualitas

sumber

daya

manusia,

penggunaan

teknologi

informasi

dalam

administrasi

perpajakan,

dan

restrukturisasi

organisasi.

Restrukturisasi

telah

dilakukan

oleh

meleburkan

Kantor

Pelayanan

Pajak,

Direktorat

Jenderal

Pajak

dengan

Kantor

Pelayanan

Pajak

Bumi

dan

Bangunan, dan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (Karipka) menjadi

Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama).

KPP Pratama Semarang Gayamsari sebagai kantor pajak modern merupakan

hasil peleburan dari beberapa instansi antara lain KPP Semarang Selatan, KPP

Semarang Timur, Kantor Pemeriksaan dan Pendidikan Pajak Semarang Dua, dan

Kantor Pelayanan PBB Semarang Dua. KPP Pratama Semarang Gayamsari

berlokasi di Gedung Keuangan Negara Semarang I Jalan Pemuda Nomor 2 Kota

4

5

Semarang,

mulai

beroperasi

pada

tanggal

6

November

2007

berdasarkan

Keputusan Direktorat Jenderal Pajak Nomor KEP-171/PJ/2007.

 

KPP

Pratama

Semarang

Gayamsari

menempati

dua

lantai

di

Gedung

Keuangan Negara Semarang I. Ruang seksi pelayanan, TPT, dan ruang arsip

pelayanan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari yang terletak di

lantai 2 (dua) Gedung Keuangan Negara Semarang I bersebelahan dengan TPT

KPP Madya Semarang dan KPP Pratama Semarang Tengah Satu. Ruang Kepala

Kantor,

Ruang

Subbag

Umum,

Seksi

Pengawasan

dan

Konsultasi,

Seksi

Pemeriksaan, Seksi Penagihan, dan Seksi Pengolahan Data Informasi berada di

lantai 4 (empat) Gedung Keuangan Negara Semarang I.

Berikut

ini

adalah

visi

KPP

Pratama

Semarang

Gayamsari,menjadiinstitusiteladanbagiinstitusilaindalamberkaryaberkinerjadanber

negara.

Berikut ini adalah misi KPP Pratama Semarang Gayamsari:

a. MengamankanpenerimaanpajakyangditargetkanolehDirektoratJenderalPajak

b. MengimplementasikanNilai-

nilaiKementerianKeuanganmelaluikreativitas,inovasidanpengembanganSDM

c. MemberikanpelayananprimakepadaWP

d. MenumbuhkankesadaranWP yangtinggibagiWP

KPP

Pratama

Semarang

Gayamsarimempunyai

motto

pelayanan,

yaitu

BekerjaKeras,CerdasdanIkhlas”. Adapun janji pelayanan KPP Pratama Semarang

Gayamsari adalah “Tekadkamipelayananprima”. Dan berikut ini adalah maklumat

pelayanan

KPP

Pratama

Semarang

Gayamsari

:

6

“Denganinikamimenyatakansanggupmenyelenggarakanpelayanansesuaistandarpel

ayananyangtelahditetapkandanapabilatidakmenepatijanjiinikamisiapmenerimasan

ksisesuaiperaturanperundang-undanganyangberlaku”.

2. Struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari.

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari dipimpin oleh seorang

kepala kantor yang membawahi 9 (sembilan) seksi yaitu Seksi Pelayanan, Seksi

Pengolahan Data dan Informasi (PDI), Seksi Penagihan, Seksi Ekstensifikasi,

Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) I, Seksi Waskon II, Seksi Waskon

III, Seksi Waskon IV, Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal, serta Subbagian

Umum dan Kelompok Jabatan Fungsional Pemeriksa.

Adapun pegawai yang menduduki jabatan kepala kantor hingga kepala seksi

antara lain:

Kepala Kantor

:

Bayari, S.P., M.H., M.Tax.

Kasubbag Umum

:

Teguh Ribawanto, S.E., M.T.

Kasi Pelayanan

:

Panca Kurniawan, S.E., M.M., M.Ed.

Kasi PDI

:

Riyo Widodo, S.E., M.T.

Kasi Penagihan

:

Eko Budiharjo, S.Sos., M.T.

Kasi Ekstensifikasi

:

Baskoro Nugroho, S.T., M.T.

Kasi Waskon I

:

Isman Sutarno, S.E., Ak., M.M.

Kasi Waskon II

:

Agung Putranto H. A. N., S.E., M.M.

Kasi Waskon III

:

Agus Tulasmono, S.E., Ak., M.M.

Kasi Waskon IV

:

Nanda Andito, S.E., M.M.

Kasi RIKI

:

Thomas Rusdwianto, S.H., M.Si.

7

Fungsional Pemeriksa :

Agus Sigit Nugroho

Aka Riyanto

Setya Aji Wijayanto

Sunardi

Waslim

Struktur organisasi KPP Pratama Semarang Gayamsari dapat dilihat dari Gambar II-1

Gambar II-1 Struktur Organisasi KPP Pratama Semarang Gayamsari Kepala Kantor Subbag Umum Seksi Seksi Seksi
Gambar II-1 Struktur Organisasi KPP Pratama Semarang Gayamsari
Kepala Kantor
Subbag Umum
Seksi
Seksi
Seksi
Seksi
Seksi
Seksi
Pelayanan
Pengolahan
Pengawasan
Pemeriksaan
Ekstensifikasi
Penagihan
Data dan
dan
dan
Perpajakan
Informasi
Konsultasi
Kepatuhan
I-IV
Internal
Kelompok
Fungsional
Pemeriksa
Pajak

Sumber: Subbagian Umum KPP Pratama Semarang Gayamsari 2014

Setiap bagian memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun tetap

saling mendukung demi tercapainya tujuan organisasi. Uraian tugas masing-masing

seksi dan Subbagian Umum adalah sebagai berikut:

a. Subbagian Umum

Mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha, dan

rumah tangga kantor.

b. Seksi Pelayanan

8

Mempunyai tugas melakukan urusan penetapan dan penerbitan produk hukum

perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan

pengolahan

Surat

Pemberitahuan,

serta

penerimaan

surat

lainnya,

penyuluhan

perpajakan,

pelaksanaan

registrasi

Wajib

Pajak,

serta

melakukan

kerjasama

perpajakan.

c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi

Mempunyai tugas melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data,

penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha

penerimaan perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e-

SPT dan e-Filing serta penyiapan laporan kinerja.

d. Seksi Pengawasan dan Konsultasi

Mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib

Pajak, bimbingan/himbauan kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan,

penyusunan

profil

Wajib

Pajak,

rekonsiliasi

data

Wajib

Pajak

dalam

rangka

intensifikasi usulan pembetulan ketetapan pajak, serta evaluasi hasil banding.

e. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal

Mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan

pelaksanaan

aturan

pemeriksaan,

penerbitan

dan

penyaluran

Surat

Perintah

Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya, pemantauan

pengendalian internal, pengelolaan resiko, kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin,

dan tindak lanjut hasil pengawasan, serta penyusunan rekomendasi perbaikan proses

bisnis.

f. Seksi Penagihan

9

Mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan

angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak, serta

penyimpanan dokumen penagihan.

g. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

Mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi perpajakan, pendataan objek

dan subjek pajak, pembentukan dan pemutakhiran nilai objek pajak dalam menunjang

ekstensifikasi.

3. Wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari.

Secara administrasi wilayah kerja KPP Pratama Semarang Gayamsari meliputi

3 kecamatan yaitu

(1) Kecamatan Genuk (luas 2.738,443 Ha). Kecamatan Genuk memiliki

daerah yang paling luas terdiri dari 13 kelurahan yaitu Kelurahan Bangetayu Kulon,

Bangetayu

Wetan,

Banjardowo,

Gebangsari,

Genuksari,

Karangroto,

Kudu,

Muktiharjo Lor, Penggaron Lor, Sembungharjo, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, dan

Trimulyo.

(2) Kecamatan Gayamsari (luas 518,33 Ha) terdiri dari 7 kelurahan yaitu

Kelurahan Gayamsari, Kaligawe, Pandean Lamper, Sambirejo, Sawah Besar, Siwalan,

dan Tambakrejo, dan

(3) Kecamatan Pedurungan (luas 2.071,02 Ha) terdiri dari 11 kelurahan yaitu

Kelurahan Tlogomulyo, Pedurungan Tengah, Pedurungan Lor, Pedurungan Kidul,

Penggaron Kidul, Plamongansari, Palebon, Gemah, Kalicari, Tlogosari Kulon, dan

Muktiharjo Kidul.

10

Gambar II-2 Wilayah Kerja KPP Pratama Semarang Gayamsari

Keterangan: 1= Kecamatan Genuk 2 = Kecamatan Gayamsari 3= Kecamatan Pedurungan
Keterangan:
1= Kecamatan Genuk
2 = Kecamatan Gayamsari
3= Kecamatan Pedurungan

Sumber: Diolah dari KPP Pratama Semarang Gayamsari

Batas wilayah kerja KPP Pratama Semarang Gayamsari meliputi:

Sebelah utara

: Laut Jawa

Sebelah timur

: Kabupaten Demak

Sebelah selatan : Kecamatan Tembalang

Sebelah barat

: Kecamatan Semarang Timur dan Kecamatan Semarang Selatan

4. Sumber daya manusia Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang

Gayamsari.

KPP Pratama Semarang Gayamsari memiliki 78 pegawai yang terdiri dari 1

orang kepala kantor, 1 orang kepala subbagian umum, 9 orang kepala seksi, 24 orang

Account Representative, 29 orang pelaksana, 2 orang juru sita, 9 orang pemeriksa, 1

orang bendahara, dan 1 orang sekertaris. Pada tabel II-1 dapat dilihat komposisi

pegawai KPP Pratama Semarang Gayamsari berdasarkan seksi atau sub bagian.

11

Tabel II-1 Daftar Pegawai KPP Pratama Semarang Gayamsari/Seksi

No.

Seksi

Jumlah

1.

Kepala Kantor

1

2.

SubBagian Umum

7

3.

Seksi Pengolahan Data dani Informasi

4

4.

Seksi Pelayanan

13

5.

Seksi Penagihan

5

6.

Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal

4

7.

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

5

8.

Seksi Pengawan dan Konsultasi I

8

9.

Seksi Pengawan dan Konsultasi II

7

10.

Seksi Pengawan dan Konsultasi III

8

11.

Seksi Pengawan dan Konsultasi IV

7

12.

Fungsional Pemeriksa

9

Sumber: Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Semarang Gayamsari

5. Rencana dan realisasi penerimaan Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Semarang Gayamsari.

Rencana penerimaan pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari pada tahun

2010 sebesar 222,4 miliar. Realisasi penerimaan pajak hanya sebesar 215,1 miliar.

Pada tahun 2011 rencana penerimaan pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari

sebesar 213,4 miliar. Realisasi penerimaan pajak sebesar 250,4 miliar.

Rencana penerimaan pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari pada tahun

2012 sebesar 276,6 miliar. Realisasi penerimaan pajak tahun 2012 sebesar 290,3

miliar. Tahun 2013 rencana penerimaan pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari

12

sebesar 328,2 miliar. Realisasi penerimaan tahun 2013 mencapai 360miliar. Tahun

2014 rencana penerimaan pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari sebesar 499,2

miliar. Realisasi penerimaan sampai dengan bulan September tahun 2014 mencapai

272,6 miliar. Rencana dan realisasi penerimaan pajak Kantor Pelayanan Pajak

Pratama Semarang Gayamsari seperti tertuang dalam gambar II-3.

Gambar II-3 Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak (dalam Milyar rupiah)

Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak (dalam Milyar rupiah) 600 499,2 500 400 360 328,2 276,6 290,3
600 499,2 500 400 360 328,2 276,6 290,3 300 272,6 Rencana 222,4 250,4 215,1 213,4
600
499,2
500
400
360
328,2
276,6
290,3
300
272,6
Rencana
222,4
250,4
215,1
213,4
Realisasi
200
100
0
2010
2011
2012
2013
2014
Sumber: Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Semarang Gayamsari

6. Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Gayamsari.

KPP Pratama Semarang Gayamsari pada tahun 2010 terdaftar Wajib Pajak

sebanyak

47.384

Wajib

Pajak

dengan

komposisi

4.648

Wajib

Pajak

Badan,

42.513Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 223 Bendahara. Namun, yang aktif melakukan

pelaporan pajak sebanyak 45.549 Wajib Pajak dengan komposisi 3.672 Wajib Pajak

Badan, 41.663 Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 214 Bendahara.

13

KPP Pratama Semarang Gayamsari pada tahun 2011 terdaftar Wajib Pajak

sebanyak 53.180 Wajib Pajak dengan komposisi 5.006 Wajib Pajak Badan, 47.946

Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 228 Bendahara. Namun, yang aktif melakukan

pelaporan pajak sebanyak 50.919 Wajib Pajak dengan komposisi 3.960 Wajib Pajak

Badan, 46.740 Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 219 Bendahara.

Tahun 2012 terdaftar Wajib Pajak sebanyak 58.665 Wajib Pajak dengan

komposisi 5.483 Wajib Pajak Badan, 52.948 Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 234

Bendahara. Namun, yang aktif melakukan pelaporan pajak sebanyak 56.365 Wajib

Pajak dengan komposisi 4.427 Wajib Pajak Badan, 51713 Wajib Pajak Orang Pribadi,

dan 225 Bendahara.

Tahun 2013 terdaftar Wajib Pajak sebanyak 63.533 Wajib Pajak dengan

komposisi 5.946 Wajib Pajak Badan, 57.348 Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 239

Bendahara. Namun, yang aktif melakukan pelaporan pajak sebanyak 61.209 Wajib

Pajak dengan komposisi 4.888 Wajib Pajak Badan, 56.091 Wajib Pajak Orang

Pribadi, dan 230 Bendahara.

Tahun 2014 terdaftar Wajib Pajak sebanyak 66.339 Wajib Pajak dengan

komposisi 6.188 Wajib Pajak Badan, 59.911 Wajib Pajak Orang Pribadi, dan 240

Bendahara. Namun, yang aktif melakukan pelaporan pajak sebanyak 64.014 Wajib

Pajak dengan komposisi 5.130 Wajib Pajak Badan, 58.653 Wajib Pajak Orang

Pribadi, dan 231 Bendahara.

Persebaran Wajib Pajak paling banyak terdapat di Kecamatan Pedurungan,

Kecamatan Genuk dan Kecamatan Gayamsari. Jumlah Wajib Pajak di KPP Pratama

Semarang Gayamsari seperti tertuang dalam tabel II-2.

14

Tabel II-2 Jumlah Wajib Pajak KPP Pratama Semarang Gayamsari

Tahun

Badan

Wajib Pajak OP

Bendahara

Jumlah

Pajak

Daftar

Aktif

Daftar

Aktif

Daftar

Aktif

Daftar

Aktif

2010

4.648

3.672

42.513

41.663

223

214

47.384

45.549

2011

5.006

3.960

47.946

46.740

228

219

53.180

50.919

2012

5.483

4.427

52.948

51.713

234

225

58.665

56.365

2013

5.946

4.888

57.348

56.091

239

230

63.533

61.209

2014

6.188

5.130

59.911

58.653

240

231

66.339

64.014

Sumber: Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Semarang Gayamsari

B. Landasan Teori

1. Pengertian Wajib Pajak UMKM

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, UMKM

didefinisikan sebagai berikut:

a. Usaha mikro adalah usaha ekonomi produktif milik orang perorang dan/atau

badan usaha perorangan

yang memiliki hasil penjualan tahunan 300 juta

rupiahdan memiliki kekayaan bersih (tidak termasuk tanah/bangunan) paling

banyak 50 juta rupiah;

b. Usaha

kecil

adalah

usaha

ekonomi

produktif

yang

berdiri

sendiri,

yang

dilakukan oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan anak

15

perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi

bagian baik langsung maupun tidak langung dari usaha menengah atau usaha

besar yang memiliki hasil penjualan antara 300 juta rupiah sampai dengan 2,5

miliar rupiah dan memiliki kekayaan bersih antara 50 juta rupiah sampai dengan

500 juta rupiah;

c. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorang atau badan usaha yang bukan merupakan anak

perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi

bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha

besar dengan penjualan tahunan mencapai 2,5 miliar rupiah sampai dengan 50

miliar rupiah dan memiliki kekayaan bersih lebih besar dari 500 Juta rupiah.

Selain

definisi

menurut

UU

UMKM

tersebut,

Bank

Indonesia

juga

mendefinisikan UMKM berdasarkan kriteria plafond besarnya kredit, yaitu:

a. Usaha mikro dengan plafond kredit maksimal 50 juta rupiah;

b. Usaha kecil dengan plafond kredit 50 juta rupiah sampai dengan 500 juta rupiah;

dan

c. Usaha menengah dengan plafond kredit lebih dari 500 juta rupaih.

Sedangkan

definisi

UMKM

menurut

Badan

Pusat

Statistik

(BPS)

lebih

ditekankan pada kriteria jumlah tenaga kerja, sebagai berikut:

a. Jenis usaha rumah tangga (mikro) adalah usaha yang mempunyai 1-4 orang

tenaga kerja;

b. Jenis usaha kecil adalah usaha yang mempunyai 5-19 tenaga kerja; dan

16

Definisi UMKM di negara-negara lain didasarkan pada aspek-aspek jumlah

tenaga kerja, pendapatan, dan jumlah.

Sebagai contoh, Malaysia menetapkan definisi UMKM sebagai usaha yang

memiliki jumlah karyawan yang bekerja penuh (full time worker) kurang dari 75

orang atau yang modal pemegang sahamnya kurang dari M $2,500,000. Definisi

ini dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Small Industry (SI), dengan kriteria jumlah karyawan 5-50 orang atau jumlah

modal saham sampai sejumlah M $500,000.

b. Medium Industry (MI), dengan kriteria jumlah karyawan 50-75 orang atau

jumlah modal saham sampai sejumlah M $500,000 - M $2,500,000.

Adapun World Bank, membagi UMKM ke dalam tiga kriteria, yaitu:

a. Micro Enterprise, dengan kriteria:

1) Jumlah karyawan kurang dari 10 orang

2) Pendapatan setahun tidak melebihi $100,000

3) Jumlah aset tidak melebihi$100,000

b. Small Enterprise, dengan kriteria:

1) Jumlah karyawan kurang dari 30 orang

2) Pendapatan setahun tidak melebihi $3,000,000

3) Jumlah aset tidak melebihi $3,000,000

c. Medium Enterprise, dengan kriteria:

1) Jumlah karyawan maksimal 300 orang

2) Pendapatan setahun hingga sejumlah $15,000,000

3) Jumlah aset hingga sejumlah $15,000,000

17

Dari beberapa definisi diatas, karakteristik UMKM secara umum antara lain

sebagai berikut:

a. Kepemilikan oleh perseorangan atau keluarga. Kalaupun dalam bentuk badan,

saham yang dimiliki ketika awal pendiriannya tidak begitu besar.

b. Jumlah

karyawan,

pendapatan

setahun

kekayaan setahun tidak terlalu besar.

(bruto

perusahaan

setahun),

dan

c. Tingkat pendidikan, keahlian, dan keterampilan Sumber Daya Manusia (SDM)

tergolong rendah.

d. Teknologi yang digunakan dalam usaha UMKM biasanya teknologi rendah.

e. Biasanya tidak memiliki agunan sehingga sulit mendapat kredit dari bangk

(Bankable) atau Creditable.

2. Pengertian Pajak Final

Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah pajak yang dikenakan dengan tarif

dan dasar pengenaan pajak tertentu atas penghasilan yang diterima atau diperoleh

selama

tahun

berjalan.

Pembayaran,

pemotongan

atau

pemungutan

Pajak

Penghasilan Final (PPh Final) yang dipotong pihak lain maupun yang disetor

sendiri bukan merupakan pembayaran dimuka atas PPh terutang akan tetapi

merupakan pelunasan PPh terutang atas penghasilan tersebut, sehingga wajib pajak

dianggap telah melakukan pelunasan kewajiban pajaknya.Pengenaan PPh secara

final mengandung arti bahwa atas penghasilan yang diterima atau diperoleh akan

dikenakan PPh dengan tarif tertentu dan dasar pengenaan pajak tertentu pada saat

penghasilan tersebut diterima atau diperoleh. PPh yang dikenakan, baik yang

18

dipotong fihak lain maupun yang disetor sendiri, bukan merupakan pembayaran di

muka atas PPh terutang tetapi sudah langsung melunasi PPh terutang untuk

penghasilan tersebut. Dengan demikian, penghasilan yang dikenakan PPh final ini

tidak akan dihitung lagi PPh nya di SPT Tahunan untuk dikenakan tarif umum

bersama-sama dengan penghasilan lainnya. Begitu juga, PPh yang sudah dipotong

atau dibayar tersebut juga bukan merupakan kredit pajak di SPT Tahunan.

Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan, Undang-

undang memberikan mandat kepada Pemerintah untuk mengenakan PPh final atas

penghasilan-penghasilan

tertentu.

Berdasarkan

ketentuan

ini

Pemerintah

mengeluarkan Peraturan Pemerintah untuk mengenakan PPh final atas penghasilan

tertentu

dengan

pertimbangan

kesederhanaan,

kemudahan,

serta

pengawasan.Pengenaan PPh Final sebagian berasal dari ketentuan Pasal 4 ayat (2)

ini. Namun demikian, ada juga pengenaan PPh final berdasarkan Pasal lain yaitu

Pasal 15, Pasal 19, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 dan Pasal 26 Undang-undang PPh.

Dengan demikian, penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan Final

(PPh final) ini tidak akan dihitung lagi Pajak Penghasilannya pada SPT Tahunan

dengan penghasilan lain yang non final untuk dikenakan tarif progresssif (pasal 17

UU PPh). Namun, atas pelunasan pemotongan atau pembayaran PPh final tersebut

juga bukan merupakan kredit pajak pada SPT Tahunan.

3. Penyetoran dan Pelaporan Pajak Final

Prosedur pelaporan merupakan tindak lanjut atas penyetoran pajak oleh Wajib

Pajak.Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kantor pos atau

19

bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan Surat Setoran

Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak

(SSP), yang telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara

(NTPN), paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak

berakhir.

Wajib Pajak atau Penyetor harus menuliskan NPWP, Nama Wajib Pajak, dan

alamat Wajib Pajak dalam SSP. Untuk NOP (Nomor Objek Pajak) dan alamat

objek pajak diisi hanya apabila terdapat transaksi yang terkait dengan tanah

dan/atau bangunan yaitu transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan

dan kegiatan membangun sendiri.

Untuk Pajak Final Pasal 4 ayat (2)kode akun pajak adalah 411128. Dan harus

mengisi kode jenis jenis, yaitu

a. 404 untuk bunga deposito/tabungan, diskonto sbi dan jasa giro

b. 407 untuk transaksi penjualan saham

c. 401 untuk bunga/diskonto obligasi dan surat berharga negara

d. 405 untuk hadiah undian

e. 403 untuk persewaan tanah dan/atau bangunan

f. 409 untuk jasa konstruksi

g. 402 untuk wajib pajak yang melakukan pengalihan hak atas tanah/bangunan

h. 417 untuk bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota wajib

pajak orang pribadi

i. 418 untuk transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yangdiperdagangkan di

bursa

20

j. 419 dividen yang diterima/diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri

Kode akun pajak dan kode jenis setoran harus benar dan lengkap

agar

kewajiban perpajakan yang telah dibayar dapat diadministrasikan dengan tepat.

Uraian pembayaran diisi sesuai dengan uraian dalam kolom "Jenis Setoran"

yang berkenaan dengan Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran.Khusus PPh

Final Pasal 4 ayat (2) atas transaksi Pengalihan Hak atas Tanah dan Bangunan,

dilengkapi dengan nama pembeli.Khusus PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas transaksi

Persewaan Tanah dan Bangunan yang disetor oleh yang menyewakan, dilengkapi

dengan nama penyewa.

Masa Pajak diisi dengan memberi tanda silang pada salah satu kolom Masa

Pajak untuk masa pajak yang dibayar atau disetor. Pembayaran atau penyetoran

untuk lebih dari satu masa pajak dilakukan dengan menggunakan satu SSP untuk

setiap masa pajak. Untuk Wajib Pajak dengan kriteria tertentu, dapat menyetorkan

PPh Pasal 25 untuk beberapa Masa Pajak dalam satu SSP.

Tahun Pajak diisi tahun

terutangnya saja.Nomor ketetapan diisi nomor ketetapan yang tercantum pada surat

ketetapan pajak (SKPKB,SKPKBT) atau Surat Tagihan Pajak (STP) hanya apabila

SSP digunakan untuk membayar atau menyetor pajak yang kurang dibayar/disetor

berdasarkan surat ketetapan pajak, STP atau putusan lain.

Jumlah pembayaran diisi dengan angka jumlah pajak yang dibayar atau

disetor dalam rupiah penuh. Terbilang diisi jumlah pajak yang dibayar atau disetor

dengan huruf latin dan menggunakan bahasa Indonesa.

Diterima

oleh

Kantor

Penerima

Pembayarandiisi

tanggal

penerimaan

pembayaran atau setoran oleh Kantor Penerima Pembayaran, tanda tangan, dan

21

nama jelas petugas penerima pembayaran atau setoran, serta cap/stempel Kantor

Penerima Pembayaran.Wajib Pajak/Penyetordiisi tempat dan tanggal pembayaran

atau penyetoran, tanda tangan, dan nama jelas Wajib Pajak/Penyetor serta stempel

usaha.

Ruang

Validasi

Kantor

Penerima

Pembayarandiisi

Nomor

Transaksi

Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank (NTB) atau Nomor

Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Pos (NTP) oleh

Kantor Penerima Pembayaran.Untuk lebih jelas mengetahui contoh pengisian Surat

Setoran Pajak dapat dilihat pada Gambar II-4.

Gambar II-4 Contoh Surat Setoran Pajak Final

Gambar II-4. Gambar II-4 Contoh Surat Setoran Pajak Final Sumber: Seksi Pelayanan KPP Pratama Semarang Gayamsari

Sumber: Seksi Pelayanan KPP Pratama Semarang Gayamsari

Setelah pengisian Surat Setoran Pajak dengan benar dan lengkap. Lembar

pertama disimpan Wajib Pajak sebagai arsip. Lembar kedua untuk KPPN. Lembar

ketiga untuk dilaporkan Wajib Pajak ke KPP. Lembar keempat untuk Bank

persepsi atau Kantor Pos.

Wajib Pajak yang telah melakukan pembayaran Pajak Penghasilan wajib

menyampaikan

Surat

Pemberitahuan

Masa

Pajak

Penghasilan

Final

Pasal

22

4(2)paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. Formulir SPT

Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2) dapat diminta di Tempat Pelayanan Terpadu. KPP

Pratama Semarang Gayamsari memiliki petugas Tempat Peyanan Terpadu (TPT)

yang handal dan ramah. Contoh formulir SPT Masa PPh Final Pasal 4 (2) dapat

dilihat dalam Lampiran I.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dan Peraturan Terkait

Dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013Tentang Pajak

Penghasilan Atas Penghasilan Dari UsahaYang Diterima Atau Diperoleh Wajib

PajakYang Memiliki Peredaran Bruto Tertentuadalah Pasal 4 ayat (2) huruf e UU

PPh:

“Atas penghasilan tertentu lainnya dapat dikenai PPh yang bersifat final yang

diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah”

juga Pasal 17 ayat (7) UU PPh :

“Dengan PP dapat ditetapkan tarif pajak tersendiri atas penghasilan tertentu yang pajaknya bersifat final, dimana tarif final tersebut tidak boleh melebihi tarif tertinggi PPh OP dan berdasar pertimbangan kesederhanaan, keadilan dan perluasan partisipasi masyarakat dalam pembayaran pajak”

Peraturan

Pemerintah

No.

46/2013Tentang

Pajak

Penghasilan

Atas

Penghasilan Dari UsahaYang Diterima Atau Diperoleh Wajib PajakYang Memiliki

Peredaran Bruto Tertentumempunyai beberapa tujuan. Pertama, kemudahan bagi

masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Dengan tarif final 1%

diharapkan pengusaha UMKM dapat melaksakan kewajiban perpajakan dengan

mudah dan tidak ada beban administrasi dalam pembukuan dan laporan keuangan.

23

Kedua,

meningkatnya

pengetahuan

tentang

manfaat

perpajakan

bagi

masyarakat.

Dengan

logika

sederhana,

pajak

yang

disetor

digunakan

untuk

pembangunan negara, dan dengan kemudahan penyetoran dan pelaporan PPh Final

ini diharapkan dapat meningkatkan tax compliance (kepatuhan pajak) pembayar

pajak

UMKM,

tetapi

juga

meningkatkan

daya

saing

UMKM

yang

berarti

menunjang perekonomian nasional

 

Ketiga,

terciptanya

kondisi

kontrol

sosial

dalam

memenuhi

kewajiban

perpajakan. Pengawasan atas kewajiban pajak UMKM serta kebijakan yang pro

UMKM

akan

menekan

tax

compliance

cost

(biaya

kepatuhan

pajak)

dan

mendorong kepatuhan pembayar pajak. Peningkatan kepatuhan pembayaran pajak

berarti

peningkatan

pembayar pajak.

penerimaan

pajak

dan

penurunan

tingkat

ketidakjujuran

Subjek pajak PP 46 Tahun 2013 adalah Wajib Pajak yang memiliki peredaran

bruto tertentuyang memenuhi kriteria sebagai berikut: Orang pribadi dan Badan

tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima penghasilan dari usaha

dengan peredaran bruto tidak melebihi 4,8 miliar rupiah.

Yang dikecualikan dari subjek pajak adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang

melakukan

kegiatan

usaha

perdagangan

dan/atau

jasa

yang

dalam

usahanya

menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik menetap

maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk

kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan,

misalnya pedagan makanan keliling, pedagang asongan,warung tenda di trotoar,

dan sejenisnya.

24

Wajib Pajak Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam

jangka

waktu

satu

tahun

setelah

beroperasi

peredaran bruto melebihi4,8 miliar rupiah.

secara

komersial

memperoleh

Objek Pajak Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013adalah penghasilan

dari usaha yang diterima atau diperoleh WP dengan peredaran bruto tidak melebihi

4,8 miliar rupiah dalam satu Tahun Pajak. Peredaran bruto merupakan peredaran

bruto dari usaha, termasuk dari usaha cabang. Sedangkan yang dimaksud dengan

pengertian usaha adalah usaha perdagangan atau jasa.

Tidak

termasuk

objek

pajak

peraturan

ini

sehubungan dengan pekerjaan bebas, yaitu:

adalah

penghasilan

dari

jasa

a. Pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;

b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,

bintang

sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati,

pemain drama, dan penari;

c. Olahragawan;

d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;

e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;

f. Agen iklan;

g. Pengawas atau pengelola proyek;

h. Perantara;

i. Petugas penjaja barang dagangan;

j. Agen asuransi; dan

25

k.

Distributor

perusahaan

pemasaran

berjenjang

(multilevel

marketing)

atau

penjualan.

Sebuah UMKM akan terkena pajak jika penghasilan bruto dalam setahun

tidak melebihi 4,8 miliar rupiah. Dalam peraturan pemerintah nomor 46 tahun 2013

ini tidak disebutkan secara eksplisit UMKM dikenai pajak, hanya disebutkan

peredaran bruto tertentulah yang dikenai pajak. Dari definisi UMKM yaituusaha

ekonomi produktif yang memiliki kekayaan bersih di bawah 50 miliar rupiah.

Sehingga untuk memudahkan sosialisasi PP 46 ini sering disebut sebagai pajak

UMKM.

Dalam kasus penentuan bruto UMKM, ada beberapa cara dalam penentuan

peredaran bruto Wajib Pajak yaitu

a. Bagi Wajib Pajak yang sudah terdaftar sebelum tahun 2013, maka penentuan

peredaran burto berdasarkan peredaran bruto

yang dilaporkan dalam SPT

Tahunan Pajak Tahun Pajak 2012. Apabila Wajib Pajak tidak menyampaikan

SPT Tahnan PPh, maka dianggap peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar.

b. Bagi Wajib Pajak yang sudah terdaftar pada Tahun 2013 tetapi sebelum tanggal

1 Juli 2013, maka penentuan peredaran bruto berdasarkan jumlah peredaran

bruto bulanannya yang disetahunkan.

c. Bagi Wajib Pajak yang baru terdaftar setelah Juli 2013, maka penentuan

peredaran

bruto

disetahunkan.

berdasarkan

peredaran

bruto

bulan

pertamanya

yang

26

Untuk tarif pajak UMKM ini tarif tunggal 1% dari peredaran bruto setiap

bulannya dan bersifat final. Apabila Wajib Pajak memiliki cabang usaha, maka

perhitungan pajaknya dilakukan pada setiap cabang usaha.

Setelah Wajib Pajak melakukan penghitungan sendiri pajaknya, maka langkah

selanjutnya adalah membayar pajak. Membayarkan pajaknya ke kantor pos atau

bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dengan menggunakan Surat Setoran

Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak

(SSP), yang telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara

(NTPN), paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak

berakhir.

Pajak UMKM ini bersifat final dan dalam akun pajak adalah 411128 dengan

akun jenis pajaknya 420 maka prosedur penyetoran pajaknya

mengikuti prosedur

pajak final. Namun tidak perlu melakukan pelaporan SPT Massa PPh Final Pasal 4

ayat (2) apabila Surat Setoran Pajak (SSP) telah divalidasi dengan NTPN.

Apabila Wajib Pajak menyetor pajak UMKM “Nihil” atau tidak ada omzet

sama sekali atau menyetor pajak UMKM tidak online sehingga tidak ada NTPN,

tetap melapor SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2). Contoh SPT Masa PPh Final

Pasal 4 ayat (2) dapat dilihat dalam Lampiran I.

Apabila Wajib Pajak yang dikenai Pajak UMKM, tetapi ada penghasilan atas

usahanya yang wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan oleh pihak lain,

maka atas pemotongan/pemungutan tersebut dapat dibebaskan. Berdasarkan Pasal

6, PMK 107/PMK.011/2013, atas penghasilan dari usaha yang diterima atau

diperoleh Wajib Pajak UMKM yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak

27

Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan dan/atau

pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final, dapat dibebaskan dari

pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain.Pembebasan

dari pemotongan dari/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak laindiberikan

melalui Surat Keterangan Bebas.Surat Keterangan Bebas diterbitkan oleh Kepala

Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atas nama Direktur Jenderal

Pajak berdasarkan permohonan Wajib Pajak

Berdasarkan

tentang

tata

cara

Peraturan

Direktur

pembebasan

dari

Jenderal

Pajak

nomor

PER-32/PJ/2013

pemotongan

dan/atau

pemungutan

pajak

penghasilan

bagi

Wajib

Pajak

yang

dikenai

Pajak

Penghasilan

berdasarkan

Peraturan

Pemerintah

Nomor

46

Tahun

2013,

Wajib

Pajak

yang

Memiliki

Peredaran Bruto Tertentu yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dapat

mengajukan permohonan

pembebasan

dari

pemotongan

dan/atau

pemungutan

Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final kepada Direktur Jenderal Pajak melalui

Surat Keterangan Bebas. Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak

melaporkan SPT Tahunan atas nama Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat

Keterangan Bebas.

Adapun permohonan Surat Keterangan Bebas harus memenuhi syarat-sayrat

berikut:

a. telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun

Pajak sebelum Tahun Pajak diajukan permohonan, untuk Wajib Pajak yang telah

terdaftar pada Tahun Pajak sebelum Tahun Pajak diajukannya Surat Keterangan

Bebas;

28

b. menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani Wajib Pajak atau kuasa

Wajib Pajak yang menyatakan bahwa peredaran bruto usaha yang diterima atau

diperoleh termasuk dalam kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan bersifat final

disertai lampiran jumlah peredaran bruto setiap bulan sampai dengan bulan

sebelum diajukannya Surat Keterangan Bebas, untuk Wajib Pajak yang terdaftar

pada Tahun Pajak yang sama dengan Tahun Pajak saat diajukannya Surat

Keterangan Bebas;

c. menyerahkan dokumen-dokumen pendukung transaksi seperti Surat Perintah

Kerja,

Surat

Keterangan

Pemenang

Lelang dari

dokumen pendukung sejenis lainnya.

Instansi

Pemerintah,

atau

d. ditandatangani oleh Wajib Pajak, atau dalam hal permohonan ditandatangani

oleh

bukan

Wajib

Pajak

harus

dilampiri

dengan

Surat

Kuasa

Khusus

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.

Permohonan Surat Keterangan Bebas tersebut hanya dapat diajukan untuk

setiap pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21, Pasal 22,

Pasal 22 impor, dan/atau Pasal 23. Atas permohonan pembebasan dari pemotongan

dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus

menerbitkan:

a. Surat Keterangan Bebas; atau

b. Surat penolakan permohonan Surat Keterangan Bebas,

Dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan

diterima secara lengkap.Apabila dalam jangka waktu tersebut Kantor Pelayanan

Pajak

belum

memberikan

keputusan,

permohonan

Wajib

Pajak

dianggap

29

diterima.Dalam hal Surat Keterangan Bebas dianggap diterima, Kepala Kantor

Pelayanan Pajak wajib menerbitkan Surat Keterangan Bebas dalam jangka waktu

2 (dua) hari kerja setelah jangka waktu 5 (lima) hari terlewati.

Surat Pemberitahuan Tahunan Badan dalam Lampiran IV sebagai tempat

mengisi pajak final yang telah dibayar, telah dipotong dan/atau telah dipungut

selama satu tahun pajak. Begitu pula dengan Pajak UMKM yang telah dibayarkan

Wajib Pajak Badan khususnya pada kolom lain-lain dituliskan “penghasilan usaha

Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu”. Untuk Wajib Pajak Orang

Pribadi

setoran

PP

46

dianggap

sebagai

pengganti

setoran

pasal

25

tetap

melaporkannya dalam SPT Tahunan Orang Pribadi pada Lampiran III dengan

menuliskan

“penghasilan

usaha Wajib

Pajak yang memiliki

peredaran

bruto

tertentu. Untuk contoh lebih detail bentuk Lampiran IV SPT Tahunan Badan dapat

dilihat pada lampiran II, dan contoh lebih detail bentuk Lampiran III SPT Tahunan

Orang Pribadi dapat dilihat pada lampiran III.

C. Pembahasan

1. Penerapan PP 46 Tahun 2013

Wajib Pajak yang dulunya setiap bulan menyetor Pajak Penghasilan Pasal 25,

sekarang hanya sebagian saja yang tetap menyetor Pajak Pasal 25 karena omzet

usahanya tidak melebihi Rp4,8 miliar. Sehingga Wajib Pajak yang beromzet

kurang dari Rp4,8 miliar harus menyetor pajak pasal 4 ayat (2).

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 mulai berlaku sejak tanggal 1

Juli 2013. Artinya setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria harus segera

30

menyetor pajaknya yang semula dari Pajak Pasal 25 beralih ke Pajak Final pasal 4

ayat (2).Pada awal berlakunya peraturan ini, menurut narasumber (Bapak Isman)

Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria banyak yang salah setor ke akun pajak

pasal 25. Sehingga banyak Wajib Pajak yang melakukan pemindahbukuan dari

setoran pasal 25 ke pasal 4 ayat (2).

Namun,

penulis

tidak

dapat

menemukan

data

pemindahbukuan

akibat

kekurang pahaman Wajib Pajak terhadap peraturan yang baru. Hal itu dikarenakan

banyaknya dokumen pemindahbukuan

tanpa

menyebutkan sebab

pemindahan

selain salah setor. Dalam logika sederhana, kalau pemindahbukuan dalam bulan

Juli 2013 sampai dengan Desember 2013 mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan

Wajib Pajak terhadap peraturan baru ini.

Tujuan dibuatnya PP 46 Tahun 2013 adalah memberikan kemudahan dan

penyederhanaan aturan perpajakan bagi Wajib Pajak. Sehingga Wajib Pajak yang

telah terlanjur menyetor Pajak Pasal 25 itu dapat dipindahbukukan ke Pajak Final

pasal 4 ayat (2) dan dapat dikompensasikan ke bulan berikutnya apabila pajak

pasal 25 yang telah dibayarkan lebih bayar dari penghitungan pajak UMKM.

Contohnya, PT ABC telah menyetor pajak pasal 25 sebesar Rp 10.500.000 dan

ternyata pajak UMKM yang terutang adalah Rp 5.000.000 maka Rp 5.500.000

yang lebih bayar tersebut dikompensasikan ke pajak bulan berikutnya. Apabila

bulan berikutnya ternyata pajak terutang pasal 4 ayat (2) sebesar Rp 5.000.000

maka Rp 500.000 dikompensasikan ke bulan berikutnya lagi. Apabila bulan

berikutnya ternyata pajak terutang pasal 4 ayat (2) sebesar Rp 6.500.000 maka

31

Wajib

Pajak

terutangnya.

tersebut

harus

menyetor

Rp

1.000.000

untuk

melunasi

pajak

Jumlah Wajib Pajak yang beromzet dibawah 4,8 miliar rupiah dapat diketahui

dari pelaporan SPT Tahunan Tahun Pajak 2013 dan pemantauan setoran per bulan

di

Modul

Penerimaan

Pajak

(MPN).

MPN

ini

merupakan

jaringan

intranet

Direktorat Jenderal Pajak untuk mengetahui setoran tiap hari dari Wajib Pajak, di

laman MPN selalu diperbaharui setiap hari. Pengolahan data MPN menghasilkan

data seperti tertera pada Gambar II-5, Wajib Pajak Badan sejumlah 2.004 Wajib

Pajak (58%), dan Wajib Pajak Orang Pribadi sejumlah 2.746 Wajib Pajak (42%)

yang diambil dari bulan Juli 2013 sampai dengan bulan Agustus 2014.

Namun, data jumlah Wajib Pajak ini merupakan Wajib Pajak yang menyetor

Pajak UMKM pasal 4 ayat (2).Adapun yang tidak melakukan penyetoran dan

beromzet dibawah 4,8 miliar rupiah tidak terdata dalam MPN. Seksi PDI pun

belum mempunyai data lengkap terhadap jumlah Wajib Pajak UMKM karena

perekaman SPT Tahunan Tahun Pajak 2013 belum lengkap.

Gambar II-5 Persentase Jumlah Wajib Pajak UMKM

WP OP WP Badan 42% 58%

WP OP

WP OP WP Badan 42% 58%

WP Badan

42% 58%
42%
58%

Sumber: Diolah dari Seksi Waskon KPP Pratama Semarang Gayamsari

32

Penyampaian

Surat

Pemberitahuan

(SPT)

Tahunan

Tahun

Pajak

2013

memberikan ruang bagi AR untuk melakukan pengawasan bagi Wajib Pajak yang

berpenghasilan bruto tertentu. Wajib Pajak Badan harus melaporkan penghasilan

brutonya dalam SPT Tahunan. Maka akan terlihat Wajib Pajak yang seharusnya

masuk kriteria Peredaran Bruto Tertentu dengan tarif final dan Wajib Pajak yang

seharusnya menggunakan penghitungan Pajak Penghasilan tarif progresif. Dan

Wajib Pajak baru akan diawasi oleh seksi ekstensifikasi selama dua tahun sejak

terdaftar aktif di KPP Pratama Semarang Gayamsari, administrasi perpajakan

Wajib Pajak UMKM yang baru juga diawasi seksi ekstensifikasi.

Setoran Wajib Pajak baru maupun lama yang memiliki peredaran bruto

tertentu tetap bisa dipantau dan diawasi oleh Account Representative dalam Modul

Penerimaan Negara (MPN) dan laman intranet PADI (Pengolahan, Analisis Data

dan Infomasi). Laman PADI ini merupakan produk seksi PDI KPP Pratama

Semarang Tengah Satu bekerjasama dengan seksi PDI KPP Pratama Semarang

Gayamsari untuk memudahkan pengawasan perpajakan.

Berdasarkan informasi narasumber (Bapak Isman/Kasi Waskon 2) bahwa

pengawasan pajak final khususnya bagi Wajib Pajak dengan peredaran bruto

tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 melalui laman

PADI sebenarnya sudah cukup membantu memantau penerimaan, namun untuk

keakuratan penerimaan setoran setiap hari dan setiap bulan sehingga setiap AR

wajib memantau juga laman MPN setiap hari dan direkapitulasi setiap bulan.

KPP Pratama Semarang Gayamsari telah menerapkan Peraturan Pemerintah

Nomor 46 Tahun 2013 dengan baik, terbukti dengan formulir permohonan Surat

33

Keterangan Bebas yang disediakan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Penulis

menemukan data jumlah Wajib Pajak pemohon SKB dan jumlah SKB Pemotongan

dan/atau Pemungutan PPh Pasal 22 dan/atau 23 yang telah diterbitkan atas

diterapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013.

Adapun contoh

formulir permohonan Surat Keterangan Bebas dapat diliha pada Gambar II-6.

Permohonan SKB sesuai Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-

32/PJ/2013

Tentang

Tata

Cara

Pembebasan

Dari

Pemotongan

Dan/Atau

Pemungutan Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Yang Dikenai Pajak Penghasilan

Berdasarkan

Peraturan

Pemerintah

Nomor

46

Tahun

2013

Tentang

Pajak

Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib

Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu harus menyertakan syarat-syarat

yang banyak antara lain:

a. telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun

Pajak sebelum Tahun Pajak diajukan permohonan, untuk Wajib Pajak yang telah

terdaftar pada Tahun Pajak sebelum Tahun Pajak diajukannya Surat Keterangan

Bebas;

b. menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani Wajib Pajak atau kuasa

Wajib Pajak yang menyatakan bahwa peredaran bruto usaha yang diterima atau

diperoleh termasuk dalam kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan bersifat final

disertai lampiran jumlah peredaran bruto setiap bulan sampai dengan bulan

sebelum diajukannya Surat Keterangan Bebas, untuk Wajib Pajak yang terdaftar

pada Tahun Pajak yang sama dengan Tahun Pajak saat diajukannya Surat

Keterangan Bebas;

34

c. menyerahkan dokumen-dokumen pendukung transaksi seperti Surat Perintah

Kerja,

Surat

Keterangan

Pemenang

Lelang dari

dokumen pendukung sejenis lainnya.

Instansi

Pemerintah,

atau

d. ditandatangani oleh Wajib Pajak, atau dalam hal permohonan ditandatangani

oleh

bukan

Wajib

Pajak

harus

dilampiri

dengan

Surat

Kuasa

Khusus

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.

Namun, Penulis menemukan dalam praktik di lapangan bahwa berdasarkan

wawancara dengan petugas TPT (Hiro Zaki), permohonan SKB cukup membawa

bukti Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh Pasal 22 dan/atau Pasal 23 dan

mengisi formulir yang telah disediakan. Wajib Pajak akan mendapat jawaban atas

permohonan tersebut sesuai peraturan (maksimal lima hari).

Gambar II-6 Contoh Surat Permohonan SKB

lima hari). Gambar II-6 Contoh Surat Permohonan SKB Sumber: Lampiran IPER-32/PJ/2013 Sebelum mengisi permohonan

Sumber: Lampiran IPER-32/PJ/2013

Sebelum mengisi permohonan Surat Keterangan Bebas tersebut, Wajib Pajak

harus mengisi Surat Pernyataan Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto

35

Tertentu Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang telah

disediakan KPP Pratama Semarang Gayamsari dalam satu set dengan permohonan

Surat

Keterangan

Bebas.

Petunjuk

pengisian

formulir

tersebut

telah

ada

di

formulir, jika ada kesulitan dalam pengisian Wajib Pajak bisa menanyakan ke

petugas TPT. Contoh Surat Pernyataan Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran

Bruto Tertentu Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dapat

dilihat pada Gambar II-7.

Formulir pernyataan ini tidak dicatat dalam arsip seperti pengarsipan Surat

Keterangan

Bebas

yang

telah

diterbitkan.

Jika

formulir

ini

diarsipkan

akan

memudahkan dalam pendataan Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu

menurut Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Sehingga pengawasan dan

pendataan terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan lebih efektif dan lebih akurat.

Gambar II-7 Contoh Surat Pernyataan WP UMKM

dilakukan lebih efektif dan lebih akurat. Gambar II-7 Contoh Surat Pernyataan WP UMKM Sumber: Lampiran IIPER-32/PJ/2013

Sumber: Lampiran IIPER-32/PJ/2013

36

2. Prosedur Pelaporan PPh Final Berdasarkan PP 46 Tahun 2013

Berdasarkan

pasal

10

PMK

107/PMK.011/2013tentang

tata

cara

penghitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan atas penghasilan dari

usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto

tertentu. Wajib Pajak harus menyetor Pajak Penghasilan terutang (pajak UMKM)

ke

kantor

pos

atau

bank

yang

ditunjuk

oleh

Menteri

Keuangan,

dengan

menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan

dengan

Surat

Setoran

Pajak,

yang

telah

mendapat

validasi

dengan

Nomor

Transaksi

Penerimaan

Negara,

paling

lama

tanggal

15

(lima

belas)

bulan

berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

Pajak UMKM ini bersifat final dan dalam akun pajak adalah 411128 dengan

akun jenis pajaknya 420 maka prosedur penyetoran pajaknya

mengikuti prosedur

pajak final. Uraian pembayaran diisi sesuai dengan uraian dalam kolom "Jenis

Setoran" yaitu untuk pembayaran PPh dari penghasilan bruto tertentu.

Masa Pajak diisi dengan memberi tanda silang pada salah satu kolom Masa

Pajak untuk masa pajak yang dibayar atau disetor. Pembayaran atau penyetoran

untuk lebih dari satu masa pajak dilakukan dengan menggunakan satu SSP untuk

setiap masa pajak. Tahun Pajak diisi tahun terutangnya saja.

Wajib Pajak yang telah melakukan pernbayaran Pajak Penghasilan Pasal 4

ayat (2) wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling

lama

dua

puluh

hari

setelah

Masa

Pajak

berakhir.Wajib

Pajak

yang

telah

menyetoran

Pajak

Penghasilan

UMKM

dianggap

telah

menyampaikan

Surat

Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4ayat (2) sesuai dengan tanggal

37

validasi Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang tercantum pada Surat Setoran

Pajak.

Apabila Wajib Pajak menyetor pajak UMKM “Nihil” atau tidak ada omzet

sama sekali atau menyetor pajak UMKM tidak online sehingga tidak ada NTPN,

tetap melapor SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2).

Wajib Pajak yang melakukan pembayaran secara online otomatis langsung

mendapatkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang telah divalidasi dan

pembayaran tersebut langsung tercatat dalam Modul Penerimaan Pajak (MPN).

Pembayaran online ini memudahkan pengawasan Account Representative terhadap

penyetoran pajak final oleh Wajib Pajak.

Gambar

II-

berikut

adalah

contoh

simulasi

pengisian

SSP

dari

Bahan

Sosialisasi PP 46 tahun 2013 oleh Direktorat Jenderal Pajak

Gambar II-8Contoh Pengisian SSP PP 46

pengisian SSP dari Bahan Sosialisasi PP 46 tahun 2013 oleh Direktorat Jenderal Pajak Gambar II-8Contoh Pengisian

38

Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber (Bapak Isman) bahwa KPP

Pratama Semarang Gayamsari menerapkan prosedur pelaporan bagi Wajib Pajak

yang mempunyai peredaran bruto tertentu sebagai berikut:

a. Wajib Pajak UMKM menyetor pajak terutang ke kas negara melalui bank

persepsi atau kantor pos.

b. Wajib Pajak mengisi Surat Setoran Pajak (SSP) dan mendapat Nomor Transaksi

Penerimaan Negara (NTPN) dari sistem pemabayaran tersebut.Wajib Pajak

secara langsung telah tercatat dalam sistem Modul Penerimaan Negara (MPN)

dan

tercatatnya

setoran

ini

dianggap

sebagai

validasi

SSSP.

Account

Representative dapat memantau setoran Wajib Pajak.

c. Wajib Pajak tidak perlu melaporkan SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat

(2) karena setoran yang telah mendapat NTPN dantelah divalidasi.

d. Untuk Wajib Pajak yang mempunyai penghasilan lain yang bersifat final, maka

tetap harus melaporkan SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2).

e. Untuk Wajib Pajak yang telah dipotong dan/atau dipungut PPh Pasal 22

dan/atau Pasal 23 dapat mengajukan permohonan SKB.

f. Wajib Pajak Badan melaporkan pajak final atas peredaran bruto yang telah

disetor di SPT Tahunan pada lampiran penghasilan final. Wajib Pajak OP

setoran per bulan Pajak UMKM ini sebagai pengganti Pajak Pasal 25.

Penulis

telah

mengamati

prosedur

pelaporan

Pajak

UMKM

ini

dengan

seksama, dan telah memahami tujuan prosedur pelaporan tersebut yaitu kemudahan

dalam administrasi perpajakan bagi Wajib Pajak dan kemudahan pengawasan oleh

Account Representative yang menangani Wajib Pajak tersebut.

39

3. Kesesuaian Prosedur dengan Praktik di Lapangan

Prosedur

pelaporan

Pajak

Penghasilan

Final

bagi

Wajib

Pajak

yang

mempunyai peredaran bruto tertentu tidak tertuang dalam SOP di KPP Pratama

Semarang

Gayamsari.

Penulis

mencari

tahu

prosedur

pelaporan

dengan

mewawancarai narasumber, yaitu bapak Isman Sutarno. Beliau adalah Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) 2.

Penulis telah membahas hasil wawancara tentang prosedur dengan bapak

Isman

pada

membuktikan

pembahasan

sebelumnya.

Serangkaian

bahwa

prosedur

yang

diterapkan

di

tahapan

tersebut

telah

KPP

Pratama

Semarang

Gayamsari telah sesuai prosedur dari pasal 10 PMK 107/PMK.011/2013tentang

tata

cara

penghitungan,

penyetoran,

dan

pelaporan

pajak

penghasilan

atas

penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki

peredaran bruto tertentu dan telah sesuai dengan prosedur SE-42/PJ/2013 tentang

pelaksanaan

Peraturan

Pemerintah

Nomor

46

Tahun

2013

tentang

pajak

penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak

yang memiliki peredaran bruto tertentu.

Pembuktian kesesuaian ini dengan tidak adanya Wajib Pajak yang melaporkan

Surat Setoran Pajak ke KPP Pratama Semarang Gayamsari. Begitulah yang penulis

dapatkan ketika melakukan pengamatan dan wawancara dengan pegawai seksi

pelayanan, yaitu Mas Hiro Zaki dan Bu Fajar. Bu Fajar menjelaskan bahwa Wajib

Pajak memang tidak perlu melaporkan SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat

(2) cukup menyetor saja, namun untuk pajak final selain PP 46 harus tetap

melaporkan SPT Masa dengan melampirkan SSP yang telah divalidasi.

40

Jumlah Wajib Pajak Badan yang memiliki peredaran bruto tertentu lebih

sedikit dari Wajib Pajak OP seperti terlihat pada Gambar II-5 sehingga dapat

diketahui pula perkiraan jumlah Wajib Pajak yang menyetor pajak UMKM.

Berdasarkan data dari MPN dan dipadukan dengan data PADI kemudian diolah

seksi PDI KPP Pratama Semarang Gayamsari. Semua data disortir berdasarkan

kode akun pajak 411128 dan kode jenis setoran 420 sehingga didapat pajak yang

telah

disetorkan

dari

WP

UMKM.Adapun

jumlah

Wajib

Pajak

yang

telah

melakukan penyetoran setiap bulan dapat dilihat pada Tabel II-3.

Tabel II-3Jumlah Wajib Pajak yang Menyetor Pajak UMKM

Bulan

WP Badan

WP OP

Juli '13

519

1.092

Agust '13

535

1.191

Sept '13

567

1.238

Okt '13

568

1.249

Nov '13

593

1.254

Des '13

622

1.284

Jan '14

474

1.063

Feb '14

496

1.050

Mar '14

511

1.024

Apr '14

512

1.029

Mei '14

519

1.018

Jun '14

514

992

Juli '14

493

964

Agust '14

454

826

Sumber: Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Semarang Gayamsari

Jumlah Wajib Pajak Badan yang relatif lebih sedikit dari Wajib Pajak Orang

Pribadi tidak membuat WP Badan melakukan penyetoran dalam jumlah pajak yang

sedikit. Penulis mendapat data jumlah pajak yang telah dibayarkan setiap bulan

oleh Wajib Pajak Badan dan Wajib Pajak Orang Pribadi. Jumlah setoran Wajib

41

Pajak Badan lebih besar daripada jumlah setoran Wajib Pajak Orang Pribadi. Hal

itu dikarenakan omzet Badan lebih besar daripada omzet Orang Pribadi.Data

diambil dari MPN dan dipadukan dengan data PADI kemudian diolah seksi PDI

KPP Pratama Semarang Gayamsari. Semua data disortir berdasarkan kode akun

pajak 411128 dan kode jenis setoran 420 sehingga didapat jumlah setoran pajak

final UMKM. Adapun jumlah setoran pajak final UMKM setiap bulan dapat dilihat

pada Tabel II-4.

Tabel II-4Jumlah Setoran Pajak Final UMKM Per Bulan

Bulan

Pembayaran WP Badan

Pembayaran WP OP

Juli '13

Rp

561.380.029

Rp

162.431.578

Agust '13

Rp

434.098.003

Rp

169.788.796

Sept '13

Rp

560.288.530

Rp

180.659.095

Okt '13

Rp

711.484.281

Rp

190.573.855

Nov '13

Rp

706.727.171

Rp

194.835.539

Des '13

Rp

972.108.456

Rp

212.981.625

Jan '14

Rp

473.541.179

Rp

182.842.228

Feb '14

Rp

496.520.250

Rp

190.784.974

Mar '14

Rp

521.039.080

Rp

204.988.839

Apr '14

Rp

530.192.600

Rp

211.135.488

Mei '14

Rp

620.434.384

Rp

220.257.724

Jun '14

Rp

639.224.219

Rp

219.469.602

Juli '14

Rp

643.962.851

Rp

289.510.075

Agust '14

Rp

595.438.294

Rp

268.697.136

Sumber: Diolah dari Seksi PDI KPP Pratama Semarang Gayamsari

Penulis juga mendapatkan data jumlah permohonan Surat Keterangan Bebas

yang

diajukan

Wajib

Pajak.

Data

didapatkan

dari

arsip

dokumen

di

seksi

pelayanan. Penulis menghitung secara manual dari buku arsip dokumen karena

42

tidak adanya data dalam bentuk excel. Dalam buku arsip tersebut SKB dibagi

dalam dua macam yaitu SKB atas pemotongan dan/pemungutan Pasal 22/23 dan

SKB lain (misal SKB pajak tanah). Wajib Pajak pemohon SKB dari bulan Juli

2013 sampai dengan 15 September 2014 sejumlah 405 Wajib Pajak yang terdiri

dari 315 Wajib Pajak pemohon SKB Pemotongan dan/atau Pemungutan Pasal

22/23, dan 63 Wajib Pajak pemohon SKB Lain-lain.

Permohonan

SKB

oleh

Wajib

Pajak

dapat

diterima

dan

dapat

ditolak.

Permohonan yang diterima akan diterbitkan SKB, namun ada 13 SKB yang telah

dikirimkan ke Wajib Pajak sebagai jawaban permohonan dikembalikan ke KPP

Pratama Semarang Gayamsari oleh Kantor Pos atau kurir biasanya disebut Kempos

(kembali Pos). Pengembalian surat ini karena banyak alasan, antara lain alamat

tidak ditemukan, alamat pindah, penerima tidak mau menerima, dan sebagainya.

Ada 99 permohonan SKB yang ditolak karena syarat tidak memenuhi atau

salah permohonan. Misalnya Wajib Pajak tidak melampirkan bukti pemotongan

dan/atau

pemungutan.

Salah permohonan

biasanya

disebabkan

penggabungan

permohonan SKB pemotongan dan/atau pemungutan dengan permohonan SKB

pajak tanah. Jumlah SKB yang ditolak karena tidak memenuhi syarat lebih banyak

daripada salah permohonan.

Jumlah SKB pemotongan dan/atau pemungutan pasal 22 dan/atau pasal 23

yang telah diterbitkan oleh KPP Pratama Semarang Gayamsari sejumlah 347 surat.

Surat tersebut tidak kembali pos, artinya Surat Keterangan Bebas tersebut diterima

Wajib Pajak dengan

alamat

yang benar.

Padahal jumlah Wajib Pajak

yang

memohon Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan adalah 315,

43

dari perbedaan angka ini berarti setiap satu permohonan diterbitkan dua sampai

empat Surat Keterangan Bebas yang disampaikan ke Wajib Pajak.Adapun data

lengkap setiap bulan dapat dilihat pada Tabel II-5.

Tabel II-5 Data Permohonan Surat Keterangan Bebas

 

JUMLAH

WP

Jumlah

     

BULAN

WP

Pemohon

SKB

SKB

Kembali

Tolak

Pemohon

SKB Pot-Put

Pot-Put

Lain

Pos

SKB

(yang diterima)

Terbit

Juli '13

6

0

0

5

1

0

Agust '13

12

10

12

2

0

0

Sept '13

69

64

80

1

2

1

Okt '13

45

29